Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Kinerja Pembangunan Pertanian Pedesaan di Sulawesi Utara
274
ANALISIS KINERJA PEMBANGUNAN PERTANIAN PEDESAAN DI SULAWESI UTARA
Joula Sondakh, Rita Novarianto, Z.Mantau
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara Jl. Kampus Pertanian Kalasey, Sulut
ABSTRAK
PENDAHULUAN
Sektor pertanian hingga beberapa dekade mendatang masih tetap menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi daerah Provinsi Sulawesi Utara. Pendapatan sebahagian besar masyarakat di daerah ini masih sangat tergantung pada sektor pertanian yaitu melibatkan sekitar 50-60% dari tenaga kerja yang tersedia. Kontribusi sektor ini terhadap PDRB selang 5 tahun terakhir hanya sekitar 25-30%, memberi indikasi bahwa pengelolaan sumberdaya pada sektor ini dibandingkan dengan sektor lain belum optimal, disebabkan antara lain karena andalan nilai ekonominya masih terfokus pada produk primer dengan sistem pengelolaan usahatani umumnya masih secara tradisional.
Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Kinerja Pembangunan Pertanian Pedesaan di Sulawesi Utara
276
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Lokasi kajian ditentukan secara sengaja (purposive sampling) yaitu 3 (tiga) Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara, dan masing-masing kabupaten/kota diwakili oleh 2 desa sehingga total desa kajian berjumlah 6 (enam) desa. Untuk efisien dan efektifitas maka dilakukan stratifikasi atau regrouping berdasarkan agroekosistem dan aksessibilitas. Untuk lebih terinci dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Penentuan lokasi pengkajian, 2007. Kab/Kota /
AGROEKOSISTEM
LOKASI KOMODITAS
UNGGULAN
Kab. Minahasa Selatan Lahan Kering Dataran Rendah (LKDR)
Desa Pakuure 2, Kec. Tenga Kelapa, Cengkih, Jagung, Sapi
Lahan Kering Dataran Rendah (LKDR)
Desa Ongkaw 2 Kec. Sinonsayang
Kelapa, Cengkih, Jagung
Kab. Bolaang Mongondow
Lahan Sawah (LS) Desa Cempaka Kec. Sangtombolang
Padi sawah
Lahan Sawah (LS) Desa Kembang Merta Kec. Dumoga Timur
Padi sawah
Kabupaten Minahasa Lahan Kering Dataran Tinggi (LKDT)
Desa Kanonang 1, Kec. Kawangkoan
Jagung, Kacang tanah, Tomat
Lahan Kering Dataran Tinggi (LKDT)
Desa Panasen, Kec. Langowan Jagung, Ubi Jalar, Itik
Lokasi-lokasi tersebut merupakan tempat yang memiliki aksesbilitas terutama terhadap keberadaan infrastruktur jalan dan kedekatan dengan ibukota kabupaten/kota setempat. Waktu pelaksanaan terhitung Januari – Desember 2007.
Metoda Pengumpulan Data
a. Sumber Data
melalui pengumpulan langsung kepada responden (petani, pedagang, pemilik kios, atau kelompok tani) melalui metode survei.
Data primer terdiri dari : struktur dan pendapatan setahun rumah tangga di desa contoh, struktur dan pengeluaran pangan dan non pangan rumah tangga di desa contoh, data produksi dan pendapatan dari setiap cabang usahatani yang diusahakan, data upah pertanian dan non pertanian yang berlaku di desa contoh. Semua sumber data primer dituangkan dalam kuisioner.
b. Pengumpulan Data
Metoda pengumpulan data dari data pendapatan dan pengeluaran rumah tangga petani serta data produksi dan pendapatan dari seluruh cabang usahatani, dikumpulkan dengan kuisioner terstruktur yang telah dipersiapkan. Pengumpulan data dilakukan melalui metoda survei, petani contoh diambil berdasarkan stratified random sampling. Untuk mengetahui keragaan petani di desa contoh, petani dibagi ke dalam tiga strata yaitu petani dengan pendapatan rendah, sedang dan tinggi. Setiap strata di ambil 5 petani contoh, sehingga jumlah petani contoh setiap desa menjadi 15 orang. Data dari 15 petani contoh ini kemudian diagregasi untuk menduga keragaan petani di desa contoh. Unit analisis indikator pembangunan ekonomi pedesaan adalah desa, dalam hal ini direpresentasikan oleh desa contoh yang dipilih.
Metode Analisis
Data input-output usahatani komoditas dominan diolah dengan analisis finansial untuk melihat profitabilitas usahatani, efisiensi usahatani, struktur biaya, distribusi penggunaan tenaga kerja berdasarkan sumber tenaga keluarga luar keluarga dan jenis kelamin (sex), nilai imbalannya terhadap tenaga keluarga serta menganalisis tingkat teknologi usahatani yang dilakukan. Sedangkan pendapatan dan pengeluaran rumah tangga petani dengan analisis tabulasi, untuk melihat jumlah pendapatan dan pengeluaran, struktur pendapatan dan pengeluaran rumah tangga serta sumbangan masing-masing sumber pendapatan keluarga terhadap total pendapatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Geografis Sulawesi Utara
Sektor masih merupakan kontributor utama dalam PE Sulut (y on y) dengan kontribusi sebesar 1,35 % diikuti sektor bangunan 1,32 % dan sektor perdagangan, hotel dan restoran 1,29 % (lihat trend y on y pada Tabel 2 kaitan dengan Grafik 2). Kinerja sektor ini, masih menjadi harapan besar penyumbang devisa daerah dan negara. Trend (laju pertumbuhan) PDRB secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Laju Pertumbuhan PDRB menurut Lapangan Usaha Sulut tahun 2007 (%)
SEKTOR Laju
Pertumbuhan Berantai Triwulan IV
2007 thd Triwulan III
2007 (q to q)
Laju Pertumbuhan Tahun 2007 thd
Tahun 2006 (y on y)
C to C
SoG y on y
Pertanian 6.48 7.22 6.55 1.35
Pertambangan 14.72 7.94 7.58 0.34
Industri Pengolahan
6.06 8.18 6.05 0.67
Listrik, Gas, dan Air Bersih
8.11 6.58 6.31 0.06
Bangunan 11.60 8.43 7.41 1.32
PHR 35.22 8.52 7.47 1.29
Pengangkutan dan Kom
49.76 7.22 6.88 1.06
Keuangan Persewaan
6.50 8.03 7.58 0.44
Jasa-Jasa 7.45 3.37 3.30 0.57
PDRB 16.51 7.21 6.42 7.21
Sumber : BPS Sulut dalam Manado Pos, Pebruari 2008 dan Berita Resmi Statistik, 2008. No. 23/02/71/Th.II, 15 Februari 2008. BPS Sulut.
Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Kinerja Pembangunan Pertanian Pedesaan di Sulawesi Utara
280
Tabel 3. PDRB Atas Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha selang 2002 – 2007, (Jutaan Rupiah)
No Lapangan Usaha
2002 2003 2004 2005 2006 200
7 1 Pertanian 2.794.252,8
4
855.990,90 823.583,73 813.843,18 846.566,61 967.317,56
3 Industri
96.605,05 110.916,84 115.287,40 181.907,81 194.927,29
5 Bangunan 1.828.599,4 1
812.017,62 892.278,35 966.992,73 1.056.729,8 9
1.280.750,6 1
9 Jasa-Jasa 2.118.371,8 0
2.052.370 2.135.520 2.158.597 2.128.780 2.160.641
PDRB per Kapita
6.371.107 6.631.584 7.286.098 8.814.194 9.952.462
Sumber : BPS, 2007. Sulut Dalam Angka 2006.
Tabel 3 dan 4, menunjukkan bahwa sektor pertanian masih tetap memberikan kontribusi yang lebih tinggi dibanding sektor lainnya. Sebelum 2003, PDRB sektor pertanian masih berada pada angka 20-an %. Kondisi ini menurun di bawah 20 %, dan tetap berfluktuatif (2003-2006) pada angka 19%.
Tabel 4. Distribusi Persentase PDRB Atas Harga Berlaku tahun 2002 - 2006
Sektor 2002 2003 2004 2005 2006
Pertanian 21.37 19.36 19.19 19.27 19.39
Pertambangan & Galian 6.55 5.82 5.17 4.51 4.5 Industri Pengolahan 8.58 9.36 9.32 8.44 8.84
listrik 0.74 0.78 0.73 0.97 0.91
Sektor 2002 2003 2004 2005 2006 Perdag, Htl& Resto 13.4 14.2 14.83 15.33 15.29 Pengangkutan&Kom 12.97 12.56 12.59 14.33 13.41 Keuangan, Persewaan, Js
Perus
6.22 16.15 16.93 16.2 16.6
Jasa-Jasa 16.2 16.15 16.93 16.2 16.81
Sumber : BPS Sulut dalam Sulut Dalam Angka, 2007.
b. Nilai Tukar Petani (NTP)
NTP dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan, karena mengingat sebagian besar pendapatan rumah tangga pedesaan berasal dari kegiatan usaha pertanian. Grafik berikut dapat menunjukkan pergerakan NTP selang tahun 1996-2006.
Grafik 2. Indeks NTP Sulut tahun 1996 – 2006
Fluktuatif, mungkin ini yang bisa dinilai dari pergerakan NTP selang 11 tahun terakhir. Data yang cukup akurat untuk mempelajari sejauhmana tingkat kesejahteraan petani Sulut. Namun demikian perlu disyukuri bahwa, tingkat kesejahteraan mengacu pada indikator ini mengalami perubahan dimulai tahun 1998 sampai tahun 2006, dimana nilai NTP berada di atas 100.. Tahun 1999-2002 petani Sulut pernah mengalami kejayaan (terutama petani cengkih) dengan nilai NTP cukup signifikan dibanding tahun sebelum dan sesudahnya.
93.34 96.74118.02
224.04241.55 383.1
275
131.6161.57161.22142.54
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 TAHUN
Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Kinerja Pembangunan Pertanian Pedesaan di Sulawesi Utara
282
Kondisi ini dilatarbelakangi dengan naiknya harga jual cengkih yang mencapai puncaknya pada tahun 2001 sekitar Rp. 100.000/kg.
NTP tahun 2006 sebesar 142,54 persen menunjukkan bahwa perkembangan indeks harga yang diterima petani lebih besar dari indeks harga yang dibayar petani. Hal ini memiliki arti bahwa kemampuan/daya beli petani selama 2006 lebih baik dibanding tahun dasar yaitu tahun 2003. Harapan bahwa NTP pedesaan sampel berada pada sekitar nilai yang dicapai tersebut.
Kinerja Sektor Pertanian
Pedesaan memegang peranan penting pembangunan di sektor pertanian. Unit terkecil pemerintahan ini merupakan sentra produksi komoditas pertanian. Oleh karenanya, sebagai pemegang unit produksi, kajian ini mengambil 6 desa di tiga kabupaten dengan karakter komoditas spesifik berbeda tiap kabupaten (lihat alokasi komoditas mengacu pada agroekosistem pada Tabel 1). Dari desa-desa tersebut, 2 desa diantaranya yaitu Cempaka dan Ongkaw 2, merupakan lokasi Prima Tani yang menjadi Program Litbang saat ini.
Analisis Peubah Penjelas Indikator Pertanian Pedesaan
a. Karakteristik Umum Petani Sampel (Umur, Pendidikan, dan Produktifitas Petani)
Ketiga komponen ini cukup memberikan pengaruh penting dalam menunjang kinerja pembangunan pertanian. Untuk lebih jelasnya karakteristik ketiga komponen tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5.Karakteristik Anggota Rumah Tangga Petani Contoh, 2007.
Variabel
Bolmong Minahasa Minahasa Selatan
Kembang Merta
Cempaka Kanonang
1
(Thn)
Anggota RT Produktif
3 3 3 2 2 3
Anggota RT Non Produktif
1 2 1 1 0 1
Sumber : Data Primer, 2007.
Karakteristik petani dan anggota RT di tiap lokasi contoh dari keseluruhan variabel, terlihat cukup baik menunjang keberhasilan berusahatani. Dalam hal berproduksi, umur KK dan istri cukup menunjang karena berada dalam kategori umur produktif (antara 43-55 tahun). Selain itu, jumlah anggota RT yang produktif yang cukup besar dari pada yang non-produktif (2-3 anggota produktif : 0-2 anggota non produktif), dapat menjadi harapan sebagai penyumbang tenaga tidak hanya dalam usahatani tapi juga sektor lain dalam membantu mencari nafkah KK. Anggota produktif ini dapat menjadi kontributor dalam usaha pertanian baik sebagai TKDK (tenaga kerja dalam keluarga) maupun TKLK (tenaga kerja luar keluarga/buruh tani). Mengacu pada pendidikan yang rata-rata berada pada tingkat SMP, baik KK, istri dan anak-anak cukup menunjang dalam penyerapan teknologi (ditunjang dengan umur yang masih memiliki kecerdasan ingatan).
Kondisi umur, pendidikan, dan masih produktif dapat menjadi peluang yang cukup besar dalam memajukan kegiatan berusaha tani. Pemerintah yang selalu dinamis karena selalu memiliki program dalam memajukan kegiatan pertanian dengan tawaran inovasi maupun renovasi teknologi, pada kondisi ini bisa terbantu. Namun demikian perlu ditunjang dengan adanya karakter petani dan anggotanya yang mau menerima pembaharuan dalam berusahatani. Selain karakter pribadi, budayapun dapat menjadi faktor pembatas ditermanya tawaran inovasi atau sekalipun renovasi. Suatu tantangan terbesar bila menanam suatu jenis komoditas dan dengan cara-cara (teknologi) yang tidak meningkatkan produktifitas telah menjadi karakter budaya petani setempat.
b. Pekerjaan
Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Kinerja Pembangunan Pertanian Pedesaan di Sulawesi Utara
284
Tabel 6. Jenis Pekerjaan KK Petani Contoh, 2007 (%).
Variabel
Bolmong Minahasa Minahasa Selatan
Kembang Merta
Cempaka Kanonang 1
Panasen Pakuur e 2
Ongka w 2
RA NRA NRA RA RA NRA
Pertanian 100 100 100 100 100 100
Buruh Pertanian 11 15 23 25 37 33
Non Pertanian 7 5 11 9 12 9
Sumber : Data Primer.
Tabel di atas dapat dilihat, bahwa 90 sampel (100%) bergerak dalam usaha pertanian dan buruh pertanian. Namun demikian, usaha di luar bidang pertanian masih ditekuni oleh beberapa petani sampel. Walaupun jumlah petani yang memiliki pekerjaan ganda cukup kecil, tak dapat dipungkiri bila bidang pertanian yang ditekuninya hanya dapat menempati urutan berikutnya sebagai kontributor pendapatan rumah tangga.
c. Penguasaan Lahan
Aset pertanian yang sangat berpengaruh pada keberhasilan usaha pertanian adalah lahan. Bila petani memiliki lahan, maka kepastian akan keberlangsungan usaha dalam kondisi aman. Penguasaan lahan petani sampel dapat diihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Penguasaan Lahan Pertanian Petani Contoh, 2007 (Ha).
Variabel
Bolmong Minahasa Minahasa Selatan
Kembang Merta
Cempaka Kanonang 1
Panasen Pakuure 2 Ongkaw 2
RA NRA NRA RA RA NRA
Digarap sendiri
1.82 1.71 0.7 0.4 0.9 0.8
Digarap orang lain
- 0.7 0.5 0.3 - 0.7
Sumber : Data Primer.
Tingkat penguasaan lahan menunjukkan suatu fenomena ke arah petani gurem. Hai ini dicirikan dengan jumlah penguasaan lahan yang sebagian besar telah berada di bawah 1 ha. Padahal bila dicermati, desa-desa sampel di Minahasa Selatan adalah sentra penghasil kelapa yang pemilikan lahan pada survey-survey sebelumnya oleh BPTP Sulut di bawah tahun 2006 rata-rata > 1 ha.
terbagi, selain untuk usahatani, juga bangunan rumah tinggal. Hal yang dapat menjadi ancaman rendahnya produksi dan produktifitas usahatani.
d. Teknologi, Produktifitas dan Efisiensi Usahatani
Keuntungan suatu usahatani bila mampu menggunakan teknologi (cara berusahatani) unggulan yang akhirnya mampu meningkatkan produktifitas dan memberikan suatu keuntungan (tingkat efisiensi yang tinggi). Untuk lebih jelasnya, penggunaan teknologi, produktifitas dan dan tingkat efisiensi usahatani baik padi sawah maupun jagung dan kacang tanah dapat dilihat padaTabel 8.
Tabel 8. Teknologi, Produktivitas dan Efisiensi Usahatani Padi Sawah per Ha, 2007.
Komponen Kabupaten Bolaang Mongondow
MH MK
Nilai Nilai
I. Biaya
Saprodi (Kg) Benih Urea ZA SP-36 KCL NPK Kandang II. Produktifitas
Analisis Keuntungan (R/C)
114 186 -77
-61
-5612
1.5
88 143
-60
-47
-4317
1.82
Sumber : Diolah dari data primer.
Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Kinerja Pembangunan Pertanian Pedesaan di Sulawesi Utara
286
pupuk, obat-obatan) menjadi faktor berpengaruh terhadap capaian keuntungan usahatani ini.
Hal yang hampir menunjukkan kondisi yang sama adalah pada usahatani pangan lainnya yaitu jagung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Teknologi, Produktivitas dan Efisiensi Usahatani Palawija per Ha, 2007.
Komponen Kabupaten Minahasa dan Minahasa Selatan
Kacang Tanah Jagung
Nilai Nilai
I. Biaya
Saprodi (Kg) Benih Urea ZA SP-36 KCL NPK Kandang II. Produktifitas
III. Analisis Keuntungan (R/C)
31 82 -55 32 26 -2613
2.63
57 149
-100
58 47 -4762
1.46
Sumber : Diolah dari data primer.
Usahatani palawija pada Tabel 8, memberikan hasil yang bervariasi. Keuntungan (tingkat efisiensi) hanya dicapai oleh usahatani kacang tanah dengan R/C 2.63, sebaliknya pada usahatani jagung. Penggunaan input produksi pada kacang tanah terutama pupuk memberikan pengaruh pada hasil tersebut.
e. Struktur Pendapatan dan Pengeluaran RT
Tabel 10. Pendapatan Rumah Tangga Setahun berdasarkan Sumber Pendapatan, 2007.
Sumber Kabupaten
Bolmong Minahasa Minsel
Sektor Pertanian (On-Farm)
15.032.012 (72) 6.126.767 (32) 8.079.342 (43)
Luar Usahatani (Off-Farm)
2.410.333 (11) 1.020.000 (5) 1.360.000 (7)
Non-Pertanian (Non-Farm)
3.388.571 (17) 12.240.000 (63)
9.390.000 (50)
TOTAL 20.830.916 (100) 19.386.767
(100)
18.829.342 (100) Sumber : Diolah dari data primer.
Tabel 11. Pengeluaran Rumah Tangga Setahun, 2007.
Jenis Pengeluaran Kabupaten
Bolmong Minahasa Minsel
I. Pangan 8.397.807 (43) 11.246.535
(62)
II. Non Pangan 11.264.666 (57) 6.888.296 (38) 11.813.178
(59)
TOTAL 19.662.473 (100) 18.134.831
(100)
20.073.501 (100) Sumber : Diolah dari data primer.
Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Kinerja Pembangunan Pertanian Pedesaan di Sulawesi Utara
288
dari 2 kabupaten lainnya) terserap untuk pangan. Pada sisi sumber pendapatan memberikan suatu gambaran bahwa sektor pertanian pada tahun-tahun mendatang bisa tergantikan dengan sektor lainnya di luar pertanian jika tidak dilakukan pembenahan secepatnya, dan pada sisi alokasi pengeluaran RT kebutuhan non-pangan paling besar di dua kabupaten menunjukkan bahwa RTP petani mulai berada pada kondisi mulai menggeser perhatian dari sektor pertanian bila efisiensi usaha kurang menguntungkan.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
Mengacu pada hasil pengkajian, beberapa hal penting yang dapat diusulkan untuk dijadikan suatu rumusan kebijakan dalam kerangka pembangunan pertanian pedesaan. Usulan ini akan ditindak lanjuti kemudian, jika dijadikan suatu kebijakan daerah/nasional, dengan penyusunan suatu langkah operasional yang lebih terinci dalam pelaksanaannya, yaitu:
1. Kebijakan Sosialiasi dan Penggunaan Inovasi Teknologi yang dilaksanakan oleh BPTP dan Dinas lingkup pertanian (penggunaan pupuk sesuai anjuran, penggunaan bibit unggul terutama padi sawah, jagung, dan kedelai, penggunaan alsintan) menjadi mudah untuk ditawarkan karena rata-rata anggota RTP memiliki umur produktif dan tingkat pendidikan SMP ke atas. Peluang dan tantangan bagi pemerintah untuk melihat keunggulan petani dan anggota keluarganya.
2. Kaitan antara sumber pendapatan dan pekerjaan petani, menjadi ancaman bagi keberlangsungan usahatani. Petani mulai menggantungkan kehidupan pada pendapatan non-farm. Strategi pemerintah adalah meningkatkan produktifitas dengan intensifikasi lahan (mengingat luas lahan yang dikuasai terbesar hanya < 1 ha) dengan kebijakan pemberian bantuan benih/bibit unggul padi sawah, jagung dan kedelai yang memiliki produksi tinggi dan tahan hama/penyakit. Selain itu kebijakan subsidi pupuk terutama pupuk dasar perlu setiap tahunnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan nilai efisiensi usahatani R/C di atas 2 yang berdampak positif pada peningkatan nilai tambah RTP.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1989. Agribisnis di Indonesia. Warta LPP No. 5/6, Agustus/September. Forum Komunikasi. LPP-Sub Sektor Perkebunan Yogyakarta.
Arifin, Bustanul, 2003. dekomposisi Pertumbuhan Pertanian Indonesia. Makalah pada Seminar Khusus Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian, 14 Nopemebr 2003 di Bogor.
BPS Sulut, 2007. Sulut Dalam Angka.
BPS Sulut, 2007. Statistik Nilai Tukar Petani Provinsi Sulawesi Utara 2007. BPS- Sulut. Katalog 730571.
BPS Sulut, 2008. dalam Manado Pos, Pebruari 2008
BPS Sulut, 2008. Berita Resmi Statistik, 2008. No. 23/02/71/Th.II, 15 Februari 2008.
Danim, S., 1997. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan. Bumi Aksara, Jakarta.
Hutabarat. B.Yusdja, 1999. Sektor Pertanian dalam Perspektif Perubahan Struktur Ekonomi dan Globalisasi Pasar. Dinamika Inovasi Sosial Ekonomi dam Kelembagaan Pertanian (Buku 2). Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Litbang Pertanian.
Nasution, M. 1997. Visi Pembangunan Ekonomi Rakyat yang Berbasis Agrobisnis dalam Prakarsa, Majalah Pusat Dinamika Pembangunan UNPAD. Edisi V Mei 1997, Bandung.
Soekartawi, 1993. Agribisnis, Teori dan Aplikasinya. PT Raja Grafindi Persada , Jakarta.
Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Analisis Kinerja Pembangunan Pertanian Pedesaan di Sulawesi Utara
290