• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PERBEDAAN PENDIDIKAN NASIONAL DA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PERBEDAAN PENDIDIKAN NASIONAL DA"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PERBEDAAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN PENDIDIKAN

ISLAM

Di Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM Dengan Judul Materi PERBANDINGAN PENDIDKAN NASIONAL DAN

PENDIDIKAN ISLAM

Dosen Pengampu : Dr. Muh. Idris, S.Ag.,

Di Sususn Oleh

Harlis Biya NIM. 15.2.4.015

PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISALAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

MANADO

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hubungan pendidikan Islam dan pendidikan Nasional tidak dapat dipisahkan, keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini dikaitkan dengan konsep penyusunan sistem pendidikan nasional tersebut. Suatu sistem pendidikan nasional harus mementingkan masalah eksistensi umat manusia pada umumnya dan elcsistensi bangsa Indonesia khususnya dalam hubungan masa lalu, masa kini dan kemungkinan perkembangan masa depan.

Pendidikan Islam merupakan suatu Lembaga sesuai dengan peraturan pemerintah No. 28 tahun 1990, No. 60 tahun 1999 dan No. 73 tahun 1991. Pendidikan keagamaan diselenggarakan pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan dimana Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat serta pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, non formal dan informal, pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman. Pendidikan Islam juga Sebagai Mata Pelajaran dimana jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat pendidikan pancasila, pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian di atas penulis merumuskan maslah sebagai berikut : 1. Apa Pengertian Pendidikan Islam ?

2. Apa Pengertian Pendidikan Nasional ?

3. Apa Hubungan Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional ? 4. Bagaimana Pendidikan Islam didalam Sistem pendidikan nasional ? 5. Apa Perbedaan Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional ?

BAB II

(3)

A. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan Islam menurut Zarkowi Soejoeti terbagi dalam tiga pengertian. Pertama, “Pendidikan Islam” adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk menjewantahkan nilai-nilai Islam, baik yang tercermin dalam nama lembaganya, maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Di sini kata Islam ditempatkan sebagai sumber nilai yang akan diwujudkan dalam seluruh kegiatan pendidikan. Kedua, jenis pendidikan yang memberikan perhatian sekaligus menjadikan ajaran Islam sebagai pengetahuan untuk program studi yang diselenggarakan. Di sini kata Islam ditempatkan sebagai bidang studi, sebagai ilmu, dan diperlakukan sebagai ilmu yang lain. ketiga, jenis pendidikan yang mencakup kedua pengertian di atas. Di sini kata Islam ditempatkan sebagai sumber nilai sekaligus sebagai bidang studi yang ditawarkan melalui program studi yang diselenggarakan.1

Ciri khas pendidikan Islam itu ada dua macam :

a. Tujuannya : Membentuk individu menjadi bercorak diri tertinggi menurut ukuran Allah.

b. Isi pendidikannya : ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al Qur’an yang pelaksanaannya dalam praktek hidup sehari-hari dicontohkan oleh Muhammad Rasulullah SAW.

Teori-teori pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia secara umum mendefinisikan pendidikan Islam dalam dua tataran : idealis dan pragmatis. Pada tataran idealis, pendidikan Islam diandaikan sebagai suatu sistem yang independen (eksklusif) dengan sejumlah kriterianya yang serba Islam. Definisi ini secara kuat dipengaruhi oleh literatur Arab yang masuk ke Indonesia baik dalam bentuk teks asli, terjemahan, maupun sadurannya. Sedangkan pada tataran pragmatis, pendidikan Islam ditempatkan sebagai identitas (ciri khusus) yang tetap berada dalam konteks pendidikan nasional. Perkembangan-perkembangan aktual di Indonesia khususnya selama tiga dekade terakhir sangat mempengaruhi munculnya definisi pragmatis ini.

Penulis-penulis Indonesia kontemporer berusaha menjelaskan definisi pendidikan Islam dengan melihat tiga kemungkinan hubungan antara konsep

(4)

pendidikan dan konsep Islam. Dilihat dari sudut pandang kita tentang Islam yang berbeda-beda, istilah pendidikan Islam tersebut dapat dipahami sebagai :

1. Pendidikan (menurut) Islam, 2. Pendidikan (dalam) Islam, 3. Pendidikan (agama) Islam.

Dalam hubungan yang pertama, pendidikan Islam bersifat normatif, sedang dalam hubungan yang kedua, pendidikan Islam lebih bersifat sosio-historis. Adapun dalam hubungan yang ketiga, pendidikan Islam lebih bersifat proses-operasional dalam usaha pendidikan ajaran-ajaran agama Islam. Dalam kerangka akademik, pengertian yang pertama merupakan lahan filsafat pendidikan Islam, dan pengertian yang ketiga merupakan kawasan ilmu pendidikan Islam teoritis.2

Ilmu Pendidikan Islam Ilmu Pengetahuan Perbedaan dengan Ilmu pengetahuan yang lain penggongan-penggolongan suatu masalah dan pembahasan masalah demi masalah di dalam pendidikan. pendidikan Islam memerlukan beberapa metodologi pengembangan, antara lain: test, pendidik memberikan test kepada anak didiknya untuk mengetahui perkembangan anak didik.

Dari berbagai literatur terdapat berbagi macam pengertian pendidikan Islam. Menurut Athiyah Al-Abrasy, pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola pikirnya teratur dengan rapi, perasaannya halus, profesiaonal dalam bekerja dan manis tutur sapanya.

Sedang Ahmad D. Marimba memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

Sedangkan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah suatu proses penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode dan sistem penamaan secara bertahap, dan kepada manusia penerima proses dan kandungan pendidikan tersebut.

Jadi definisi pendidikan Islam adalah, pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia, tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian. Jadi pendidikan ini hanyalah untuk manusia saja.

(5)

Selama ini buku-buku ilmu pendidikan islam telah memperkenalkan paling kurang tiga kata yang berhubungan dengan pendidikan islam yaitu, al-tarbiyah, al-ta’lim dan al ta’dib. Jika ditelusuri ayat-ayat al-Quran dan matan as-Sunah secara mendalam dan komperhensif sesungguhnya selain tiga kata tersebut masih terdapat kata-kata lain tersebut, yaitu tazkiyah, muwa’idzah, tafaqqu, tilawah, tahzib, irsyad, tafakkur, ta’aqqul dan al-tadabbur. Deskripsi selengkapnya terhadap kata-kata tersebut dapat dikemukakan sebagi berikut:

1. AL-Tarbiyah

Kata al-tarbiyah berasal dari kata rabba atau rabaa didalam al-Quran disebutkan lebih dari dalapan ratus kali, dan sebagian besar atau bahkan seluruhnya dengan Tuhan, yaitu terkadang dihubungkan dengan alam jagat raya (bumi, langit, bulan, bintang, matahari, tumbu-tumbuhan, binatang, gunung, laut dan sebagainya), dengan manusia seperti pada kata rabbuna (Tuhan kami), rabbuhu (Tuhannya), rabbuhum (Tuhan mereka semua), rabbiy (Tuhan-ku). Karena demikian lausnya pengertian al-tarbiyah ini, maka ada sebagian pakar pendidikan, seperti Naquid al-Attas yang tidak sependapat dengan pakar pendidikan lainnya yang menggunakan kata al-tarbiyah dengan arti pendidikan. Menurutnya, kata al-tarbiyah terlalu luas arti dan jangkauannya. Kata tersebut tidak hanya menjangkau manusia melainkan juga menjaga alam jagat raya sebagaimana tersebut. Benda-benda alam selain manusia, menurutnya tidak dapat dididik, karna benda-benda alam selain manusia itu tidak memiliki persyaratan potensial, seperti akal, pancaindra, hati nurani, insting, dan fitrah yang memungkinkan untuk dididik. Yang memiliki potensi-potensial diatas itu hanya manusia. Untuk itu Naquid al-Attas lebih memilih kata al-ta’dib (sebagaimana nanti akan dijelaskan) untuk adti pendidikan, dan bukan kata al-tarbiyah.

2. Al-Ta’lim

Kata al-ta’lim atau asal katanya, yaitu ‘allam, yu’allimu, ta’liman dijumpai dalam hadis sebagai berikut.

“Pengetahuan adalah kehidupan islam dan pilar islam, dan barang siappa yang mengajarkan ilmu Allah akan menyempurnakan pahala baginya, dan barang siapa yang mengajarkan ilmu dan ia mengamalkan ilmu yang diajarkan itu, maka Allah akan mengajarkan kepadanya sesuatu yang belum ia ketahui.” (HR. Abu Syaikh).

(6)

pahala dari Tuhan. Kata al-ta’lim dalam arti pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat nonformal, sepeti majelis taklim. Kata al-ta’lim dalam pendidikan sesungguhnya merupakan kata yang paling dahulu digunakan daripada kata al-tarbiyah. Kegiatan pendidikan dan pengajaran pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dirumah Al-Aqram di mekkah, dapat juga disebut majelis al-ta’lim.3

3. Al-Ta’dib

Kata al-ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diban yang dapat berarti education (pendidikan), discipline (disiplin), punishment(peringatan atau hukuman) dan chastisement (hukuman-penyucian). kata al-ta’dib berasal dari kata adab yang berarti beradab, bersopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral dan etika.

Kata al-ta’dib dalam arti pendidikan sebagaimana disinggung di atas, ialah kata yang dipilih oleh Naquid al-Attas. Dalam hubungan ini ia mengartikan al-ta’dib sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangssur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tenpat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan.4

4. Al-Tahdzib

Kata al-tahdzib secara harfiah berarti pendidikan akhlak atau menyucikan diri dari perbuatan akhlak yang buruk, dan berarti pula terdidik atau terpelihara dengan baik, dan berarti pula beradab sopan.

Dari berbagai pengertian tersebut, tampak bahwa secara keseluruhan kata al-tahzib terkait dengan perbaikan mental sepiritual, moral dan akhlak, yaitu memperbaiki mental seseorang yang tidak sejalan dengan ajaran atau norma kehidupan menjadi sejalan dengan ajaran atau norma, memperbaiki perilakunya agar menjadi baik dan terhormat, serta memperbaiki akhlak dan budi pekertinya agar manjadi akhlak mulia. Berbagai kegiatan tersebut termasuk dalam bidang kegiatan pendidikan. Itulah sebabnya, kata al-tahzib juga berati pendidikan.5 5. Al-Wa’dz atau Al-Mau’idzah

3 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Ke-1, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008 ), h. 20

4

(7)

Al-wa’dz berasal dari kata wa’aza yang berarti to preach (mengajar), conscience (kata hati, suara hati, hati nurani), to admonish (memperingatkan atau mengingatkan), exhort (mendesak), dan to warn (memperingatkan). 6 inti al-wa’dz atau al-mau’idzah adalah pendidikan dengan cara memberikan penyandaran dan pencerahan batin, agar timbul kesadaran untuk berubah menjadi orang yang baik.

6. Al-Riyadhah

Al-Riyadhah berasal dari kata raudha, yang mengandung arti to tame (menjinakan), domesticate (menjinakan), to break in (mendobrak atau membongkar), train (latihan), to train (melatih), coach (melatih), to pacify (menenangkan atau menenteamkan), placate (mendamaikan, menentramkan), to practice (memperagakan), exercise (melatih), regulate (mengatur), to seek to make tractable (menemukan untuk membuat mudah dikerjakan), dan try to bring round (mencoba membawa keliling).5

Dalam pendidikan, kata al-riyadhah diartikan mendidik jiwa anak dengan akhlak mulia. Didalam Al-Quran maupun as-Sunah kata al-riyadhah secara eksplisit tidak dijumpai, namun inti dan hakikat al-riyadhah dalam arti mendidik atau melatih mental spiritual agar senantiasa mematuhi ajaran Allah SWT amat banyak dijumpai.

7. Al-Tazkiyah

Al-tazkiyah berasal dari kata zakka, yuzakki, tazkiyatan yang berarti purification (pemurnian atau pembersihan), chastening (kesucian dan kemurnian), pronouncement of (pengumuman atau pernyataan), integrity of a witness (pengesahan atau kesaksian), honorable record (catatan yang dapat dipercaya dan dihormati).

Dari penjelasan tersebut terlihat, bahwa kata al-tazkiyah ternyata juga digunakan untuk arti pendidikan yang bersifat pembinaan mental spiritual dan akhlak mulia.6

8. Al-Talqin

Kata al-talqin berasal dari laqqana yulaqqinu talqina yang dapat berarti pengajaran atau mengajarkan, dan dapat berarti pula insruction (perintah atau anjuran), direction (pengarahan), dictation (pengimlaan atau perintah), dictate (mendikte atau memerintah), inspiration (ilham, inspirasi), insinuation (sindiran atua tuduhan tidak langsung), suggestion (dorongan), suborning of witness (pengimlaan atau perintah).

(8)

Dari sekian kata tersebut terlihat bahwa kata talqin juga digunakan untuk arti pengajaran. Dari penjelasan tersebut terlihat, bahwa kata al-talqin ternyata digunakan pula untuk arti pendidikan dan pengajaran yang diberlakukan tidak hanya kepada orang yang masih hidup melainkan kepada orang sudah meninggal. 9. Al-Tadris

Kata al-tadris berasal dari kata darrasa yudarrisu tadrisan, yang dapat

berarti teaching (pengajaran atau

mengajarkan), instruction (perintah), tution (kuliah, uang kuliah).

Selain kata al-tadris juga berarti baqa’ atsaruha wa baqa al-atsar yaqtadli inmihauhu fi nafsihi, yang artinya sesuatu yang pengaruhnya membekas dan sesuatu yang pengaruhnya membekas menghendaki adanya perubahan pada diri seseorang. intinya kata al-tadris berarti pengajaran, yakni, menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang selanjutnya memberi pengaruh dan menimbulkan perubahan pada dirinya.

10. Al-Tafaqquh

Kata al-tafaqquh berasal dari kata tafaqqaha yatafaqqohu tafaqquhan yang berarti mengerti dan memahami. Selanjutnya Ar-Raghib al-Asfaniy mengartikan kata tafaqquh sebagain berikut: menghubungkan pengetahuan yang abstrak dengan ilmu yang konkret, sehingga menjadi ilmu yang khusus. Dari kata al-tafaqquh muncul kata al-fiqh yang selanjutnya menjadi sebuah nama bagi ilmu yang mempelajari hukum-hukum syariah yang disandarkan pada dalil-dalil terperinci. Kata al-tafaqquh selanjutnya lebih digunakan untuk menunjukan pada kegiatan pendidikan dan pengajaran ilmu agama islam.

11. Al-Irsyad

Kata al-irsyad dapat mengandung arti yang berhubungan dengan pengajaran dan pendidikan yaitu bimbingan, pengarahan, pemberitahuan, nasihat, dan bimbingan sepiritual. Dengan demikian kata al-irsyad layak dipertimbangkan untuk dimasukan dalam arti kata pendidikan dan pengajaran.

Pengertian pendidikan islam menurut istilah, istilah atau terminologis pada dasarnya merupakan kesepakatan yang dibuat para ahli dalam bidangnya masing-masing terhadap pengertian tentang sesuatu. Adapun yangdi maksud dengan pendidikan islam saangat beragam, hal ini terlihat dari definisi pendidikan islam yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pendidikan berikut:

(9)

(Asy-Syaibany, 1979:339). Pengertian tersebut memfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada pendidikan etika. Selain itu, pengertian tersebut menekankan pada aspek-aspek produktivitas dan kreatif manusia dalam kehidupan masyarakat dan alam semesta.

Dr. Muhammad SA Ibrahimy (Banglades) mengemukakan pengertian pendidikan islam sebagai berikut : “Islamic education in true sense of the term, is a system education which enables a man to lead his life accourding to the Islamic ideology, so that he may easily mould his life in accourding with tenent of islam”.

Pendidikan dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu system pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan agama islam.

Pengertian itu mengacu pada perkembangan kehidupan manusia masa depan tanpa menghilangkan prinsip-prinsip islam yang diamanahkan oleh Allah kepada manusia, sehinnga manusia mampu memenuhi kebutuhan dan tuntunan hidupnya seiring dengan perkembangan iptek.

Dr. Muhammad Fadhli Al-Jamali memberikan pengertian pendidikan islam sebagai uapya menggembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan.7

B. Pengertian Pendidikan Nasional

Menurut Sunarya, Pendidikan nasional adalah sistem pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh falsafah hidup suatu bangsa dan tujuannya bersifat mengabdi kepada kepentingan dan cita-cita nasional bangsa tersebut.

Sementara itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, merumuskan bahwa pendidikan nasional ialah suatu usaha yang membimbing para warga negara Indonesia menjadi Pancasila, yang berpribadi, berdasarkan akan Ketuhanan berkesadaran masyarakat dan mampu membudayakan alam sekitar.

Dalam Undang-undang RI No. 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab I Pasal 2 berbunyi: Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar dari pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila

(10)

dan UUD 1945. Dasar ini dapat dilihat dari Pembukaan UUD 1945 alinea 4 batang tubuh UUD 1945 Bab XIII Pasal 31.8

C. Dasar Pendidikan Nasional

Pancasila menjadi dasar sistem nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila sehingga pendidikan nasional Indonesia adalah pendidikan Pancasila. Melalui sistem pendidikan nasional diharapkan setiap rakyat Indonesia mempertahankan hidupnya, mengembangkan dirinya dan secara bersama-sama membangun masyarakatnya. Pendidikan di Indonesia mempunyai landasan ideal adalah Pancasil, landasan konstitusional ialah UUD 1945, dan landasan operasional ialah ketetapan MPR tentang GBHN.

1. Landasan Ideal

Dalam Undang-Undang Pendidikan No. 4 Thun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dab Pengajaran Sekolah pada Bab III Pasal 4 tercantum bahwa landasan ideal pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negar yang demokratis serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan Tanah Air.

2. Landasan Konstitusional

Pendidikan Nasional didasarkan atas landasan konstitusional/Undang-Undang Dasar 1945 pada Bab XIII Pasal 31 yang berbunyi:

a. Ayat 1 : Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.

b. Ayat 2 : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang ditetapkan dengan Undang-Undang.

Pasal 32 berbunyi: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Dalam pembukaan UUD 1945 dapat dilihat bahwa pemerintah:

1) Memajukan kesejahteraan umum. 2) Mencerdaskan kehidupan bangsa.

3) Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan kaedilan sosial.

3. Landasan Operasional

Dalam GBHN 1988 dirumuskan tujuan pendidikan, yaitu untuk membentuk manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, bekepribadian, berdisiplin, bekerja keras dan tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohaani.

(11)

Berikut ini dikemukakan Ketetapan MPR tentang GBHN sejak tahun 1966-1988 sebagai landasan operasional pendidikan nasional dan tujuan pendidikan nasional.

a. TAP MPRS No. XXVII/1966 Bab II Pasal 3 b. TAP MPR No. IV / MPR/1973

c. TAP MPR No. IV / MPR/ 1978 d. TAP MPR No. II / MPR/1983 e. TAP MPR No. II / MPR/1988

f. Bab II Pasal 4 UU RI No. 2 Tahun 1989.9

D. Unsur-unsur Pokok dan Asas-asas Pelaksanaan Pendidikan Nasional 1. Unsur-unsur Pokok

Unsur-unsur pokok Pendidikan Pancasila terdiri dari Pendidikan Moral Pancasila berdasarkan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, pendidikan agama, pendidikan watakdan kepribadian, pendidikan bahasa, pendidikan jasmani, pendidikan kesenian, pendidikan ilmu pengetahuan, pendidikan keterampilan, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan kesadaran bersejarah.

2. Asas-asas Pelaksanaan

Pendidikan Nasional dilaksanakan dengan memperhatikan asas-asas pelaksanaan seperti berikut:

a. Asas semesta menyeluruh dan terpadu b. Asas pendidikan seumur hidup

c. Asas pendidikan berlangsung dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat

d. Asas tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah e. Asas keselarasan dan keterpaduan dengan ketahanan nasional dan wawasan

nusantara

f. Asas Bhineka Tunggal Ika

g. Asas keselarasan, keserasian, keseimbangan dan kebulatan yang utuh dalam seluruh kegiatan pendidikan

h. Asas manfaat, adail dan merata yang memandang manusia Indonesia seutuhnya tanpa deskriminasi antara rakyat kota, desa, daerah-daerah, suku-suku bangsa, jennis kelamin, agama, dan lain-lain.

i. Asas Ing Ngarso Sung Tuludo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani

j. Asas mobilitas, efisiensi dan efektivitas, yang memungkinkan kesempatan yang seluas-luasnya bagi manusia Indonesia untuk memperoleh pendidikan.

(12)

3. Asas kepastian hukum

Pada asas pendidikan di atas, pendidikan nasional diharapkan memungkinkan setiap rakyat Indonesia mempertahankan hidupnya, mengembangkan dirinya, dan secara bersama-sama membangun masyarakatnya.10

E. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, agar berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.11

Fungsi pendidikan nasional sebagai berikut:

1. Alat membangaun pribadi, pengembangan warga negara, pengembangan kebudayaan, dan pengembangan bangsa Indonesia.

2. Menurut Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1989 Bab II Pasal 3 “Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat bangsa Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional”.

Perbedaan tujuan pendidikan Islam dengan pendidikan nasional adalah sebagai berikut.(Saebani.dkk,2009:149):

a. Pendidikan Islam sumber dan dasar pijakannya adalah Al – Quran dan As – Sunnah.

b. Pendidikan nasional sumber dan dasarnya adalah Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional, sebagaimana dikatakan oleh Made Pidarta (2004:6) bahwa tujuan pendidikan bangsa Indonesia tertera dalam Undang – Undang Ri nomor 20 tahun 2003 sebagai berikut: “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

c. Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional mengacu pada Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945.

10 Fuad Ihsan, Dasar Dasar Kependidikan, hal.124-126

(13)

d. Al – Quran dan As – Sunnah dapat dijadikan sumber inspirasi dan ide dasar untuk semua pendidikan, tidak terkecuali pendidikan nasional. Persamaan antara pendidikan Islam dan pendidikan nasional adalah tujuannya yang mengarahkan anak didik atau membentuk manusia yang beriman dan bertakwa, memiliki kecerdasan intelektual, memiliki ketrampilan yang profesional, dan memberikan manfaat bagi dirinya, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Pendidikan Islam bertujuan membentuk pribadi muslim yang menjalankan keimanan dalam bentuk amal saleh yang berwujud dalam akhlak mulia pada kehidupan sehari – hari. Pendidikan Islam berpatokan pada nilai – nilai ketauhidan yang mengembangkan perilaku Nabi Muhammad SAW. sebagai suri tauladan dalam kehidupan anak didik melalui pelaksanaan pendidikan yang berbasis pada Al – Quran dan As – Sunnah, tanpa menafikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pendidikan nasioal di Indonesia secara esensial mengikuti pendidikan yang berbasis nilai – nilai ketuhanan karena tujuan utamanya adalah terciptanya anak didik yang beriman dan bertakwa. Dengan demikian, pendidikan Islam dengan pendidikan nasional harus selalu diintegralisasikan secara harmoni.12 F. Visi dan Misi Pendidikan Nasional

Visi Pendidikan Nasional: terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Misi Pendidikan Nasional:

1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.

2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. 3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk

mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.

4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan. keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global.

(14)

5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Inonesia.13

G. Hubungan Pendidikan Islam dengan Pendidikan Nasional

Dari bunyi UU No. 2 tahun 1989 beserta peraturan yang menyertai jelas bahwa pendidikan agama islam adalah kurikulum wajib bagi yang harus diberikan. Jika pendidikan agama (islam) tidak diberikan, berarti tujuan pendidikan nasional tidak akan pernah tercapai secara maksimal, karena ada sebagian siswa, khususnya yang berada pada satuan pendidikan tertentu tidak mendapat pendidikan agam islam. Karena itu kehadiran guru pendidikan agama islam yang prefesional sangat dibutuhkan.

Di dalam GBHN tahun 1988 tujuan pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap tuhan yang maha esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.14

Hubungan pendidikan Islam dan pendidikan Nasional tidak dapat dipisahkan,keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini dikaitkan dengan konsep penyusunan sistem pendidikan nasional tersebut. Suatu sistem pendidikan nasional harus mementingkan masalah eksistensi umat manusia pada umumnya dan eksistensi bangsa Indonesia khususnya dalam hubungan masa lalu, masa kini dan kemungkinan perkembangan masa depan.

Dari bunyi UU No. 2 tahun 1989 beserta peraturan yang menyertai jelas bahwa pendidikan Agama Islam adalah kurikulum wajib bagi yang harus diberikan. Jika pendidikan agama (islam) tidak diberikan, berarti tujuan pendidikan nasional tidak akan pernah tercapai secara maksimal, karena ada sebagian siswa, khususnya yang berada pada satuan pendidikan tertentu tidak mendapat pendidikan agam islam. Karena itu kehadiran guru pendidikan agama islam yang prefesional sangat dibutuhkan.

13 Zhalabe: Reading Is Fundamental, “Visi dan Misi Pendidikan Nasional),

http://zhalabe.blogspot.com/2012/03/visi-dan-misi-pendidikan-nasional.html#.UaTB_dIVMZY, (diakses pada 11 Desember 2017, 21:05)

(15)

Dan jika kita menengok kepada tujuan pendidikan sebagaimana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional ( pasal 4 UU no. 2 tahun 1989) yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kepada masyarakat dan bangsa. Sedangkan tujuan pendidikan islam adalah sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran islam.

Dengan melihat kedua tujuan pendidikan diatas, baik tujuan pendidikan nasional maupun tujuan pendidikan islam ada kesamaan yang ingin di wujudkan yaitu: dimensi transcendental (ukhrowi) dan dimensi duniawi (material).15

Pendidikan Islam dan pendidikan nasional terdapat 3 segi yang dapat ditelusuri Pertama dari konsep penyusunan sistem pendidikan nasional indonesia itu sendiri. Kedua, dari hakikat pendidikan islam dan kehidupan beragama kaum muslimin di Indonesia. Ketiga, dari segi kedudukan pendidikan islam dalam sistem pendidikan nasional.

Pendidikan Islam merupakan suatu Lembaga sesuai dengan peraturan pemerintah No. 28 tahun 1990, No. 60 tahun 1999 dan No. 73 tahun 1991. Pendidikan keagamaan diselenggarakan pemerintah sesuai peraturan perundang-undangan dimana Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat serta pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, non formal dan informal, pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman. Pendidikan Islam juga Sebagai Mata Pelajaran dimana jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat pendidikan pancasila, pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Dalam pasal 3 isi kurikulum pendidikan dasar memuat sekurang-kurangnya bahan kajian dan pelajaran (PP 28 Bab. VII pasal 14 ayat 2) meliputi :

a. pendidikan pancasila b. pendidikan agama

c. pendidikan kewarganegaraan d. bahsa indonesia

e. membaca dan menulis

f. matematika (termasuk berhitung) g. pengantar sains dan teknologi h. ilmu bumi

i. kerajinan tangan dan kesenian

(16)

j. pendidikan jasmani dan kesehatan k. menggambar

l. bahasa inggris

Pada PP 29 tahun 1990 Bab VIII pasal (15) ayat (2) isi kurikulum pendidikan menengah wajib memuat bahan kajian dan mata pelajaran tentang:

a. pendidikan pancasila b. pendidikan agama

c. pendidikan kewarganegaraan.16

Dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 dicantumkan tentang beberapa hal yang berkenaan dengan pendidikan agama. Pasal 37 (1): kurikulum

Selain itu kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat: a. pendidikan agama

b. pendidikan kewarganegaraan c. bahasa

Ada beberapa pokok-pokok pikiran nilai-nilai yang terkandung dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003, yaitu:

a. pendidikan nasional adalah pelaksanaan pembangaunan nasional dibidang pendidikan

b. asas dan dasar pendidikan berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945

c. tujuan pendidikan nasional bertujuan berkembangnya potensi peserta didik d. pendidikan nasional bersifat demokratis dan humanis yakni memberikan

kesempatan kepada setiap negara untuk memperoleh pendidikan

e. memberikan kesempatan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kelainan fisik atau mental

f. menekankan pentingnya pendidikan keluarga merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan seumur hidup

g. pendidikan keagamaan merupakan satu jenis pendidikan yang khusus mengajarkan agama tertentu.17

16Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam (Jakarta:Prenada Media. 2004), h. 10-12

(17)

Berdasarkan hal di atas dapat dikatakan bahwa suatu sistem pendidikan nasional tidaklah berlaku umum. Maksudnya adalah pola penyusunan sistem pendidikan nasional harus berdasarkan keberadaan umat manusia dan latar belakang sejarah bangsa masa lalu, sekarang dan masa depan.

Dalam laporan komisi pembaharuan pendidikan nasional dikatakan bahwa pengembangan bangsa merupakan kriteria dasar dalam membangun suatu sistem pendidikan nasional dengan mewujudkan keselarasan, keseimbangan dan keserasian antara pengembangan kwantitatif dan pengembangan kwalitatif serta antara aspek lahiriah dan aspek rohaniah.

Dari keterangan tersebut dikatakan bahwa penyusunan sistem pendidikan nasional harus berdasarkan dan pertimbangan faktor bangsa dan masyarakat Indonesia serta aspek lahiriah dan rohaniah bangsa Indoneisa, sebab bangsa Indonesia telah menjalani penindasan dan perjuangan melawan penjajah, tentu dalam hal ini ada keterkaitan dengan masa awal perkembangan dan pendidikan Islam di tanah air sampai sekarang ini.

Ditinjau dari segi hakikat pendidikan Islam, kegiatan mendidik merupakan bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan agama Islam di Indoneisa dengan sistem pendidikan Islam dan usaha-usaha penyiaran agama di masyarakat. Islam dapat tersebar di seluruh masyarakat Indonesia. Ditambah lagi dengan kebutuhan akan pendidikan di masyarakat akan semakin meningkat. Karena pendidikan adalah suatu usaha yang teratur, rinci dan terarah dalam pemeliharaan, pengembangan dan peningkatan kebudayaan bangsa baik dalam bidang pendidikan formal maupun non formal.

(18)

pendidikan nasional yang akan disusun bangsa Indonesia yang sudah merdeka, bersatu dan berdaulat.

H. Fungsi Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional

Secara eksplisit fungsi pendidikan agama telah dituangkan dalam penjelasan pasal 39 ayat (2) UU Nomor 2 Tahun 1989, yang menyebutkan “pendidikan agama merupakan usaha untuk memperkuat iaman dan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut peserta didiknya yang bersangkutan, dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.18

Dari rumusan tersebut, tampaknya terdapat konsistensi dan keterkaitan langsung antara rumusan fungsi pendidikan agama dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang pada pasal 4 UU Nomor 2 tahun 1989 yaitu: “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa…”

Dalam upaya membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa, maka pendidikan agama memiliki peranan yang sangat penting. Untuk itulah maka pendidikan agama wajib diberikan pada semua satuan, jenjang dan jenis pendidikan, baik melalui jalur sekolah maupun jalur luar sekolah.

Gambaran tentang peranan madrasah dan pondok pesantren adalah sebagai berikut:

1. Madrasah dan pondok pesantren telah menunjukan kemampuanya untuk tumbuh dan berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, serta kemampuanya untuk memasuki pelosok daerah terpencil disamping kemampuanya untuk tetap tumbuh dan berkembang di daerah perkotaan yang modern dan sangat maju.

2. Madrasah dan pondok pesantren sebagian besar adalah perguruan swasta yang berkemampuan tinggi untuk berswakarsa dan berswakarya dalam menyelenggarakan pendidikan. Dengan kata lain, madrasah dan pondok pesantren telah menunjukan kemampuanya untuk tumbuh dan berkembang diatas kemampuan kekuatan sendiri, dengan memobilisasi sumber daya yang tersedia di masyarakat pendukungnya.

(19)

3. Madrasah dan pondok pesantren yang memiliki ciri khas sebagai pusat pendidikan, pengembangan dari penyebaran agama Islam, diharapkan dan telah membuktikan diri dapat menghasilkan keluaran atau out put yang berkualitas dan potensial untuk menjadi pendidik, khususnya di bidang pendidikan agama Islam.

4. Madrasah dan pondok pesantren memiliki potensi yang cukup besar untuk bersama-sama satuan pendidikan lainnya di dalam system pendidikan nasional untuk menuntaskan wajib belajar tingkat SLTP dan pelaksana pendidikan dasar 9 tahun. Dan atas dasar inilah Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah merupakan lembaga pendidikan dasar.

Adapun madrasah umumnya didirikan atas inisiatif masyarakat Islam yang tujuan umumnya adalah untuk mendidik para peserta didik memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik. Dengan dikeluarkanya PP Nomor 28 tahun 1990 dimana pada pasal 4 ayat (2) disebutkan bahwa SD dan SLTP yang berciri khas agama Islam yang dikelola oleh Departemen Agama disebut Madrasah Ibtidaiah dan Madrasah Tsanawiyah. Dengan kenyataan ini, tugas dan fungsi MI dan MTs menjadi ganda, yaitu:

1. Sebagai sekolah pendidikan Islam 2. Sebagai sekolah pendidikan dasar.

Karenanya, keberdayaan fungsi Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah makin kuat dan penting.

Dengan keadaan yang demikian, orang tidak bisa lagi menomor duakan lembaga-lembaga pendidikan agama, terlebih-lebih bila lembaga pendidikan agama terutama madrasah mampu memacu diri dengan berupaya maksimal meningkatkan kualitas dalam berbagai aspeknya, tidak mustahil madrasah nantinya akan menjadi alternative pertama, pilihan masyarakat untuk memasukan anak-anaknya. Sebab bagaimanapun disaat globalisasi melanda dunia seperti sekarang ini, nilai-nilai etik dan moral sudah mulai luntur dan bergeser. Dalam konteks ini madrasah sangat strategis untuk membendung arus demoralisasi yang sangat merugikan.19

I. Perbedaan Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional

Antara pendidikan Islam dan pendidikan nasional Indonesia tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal ini dapat ditelusuri dari dua segi, pertama dari konsep penyusunan system pendidikan nasional Indonesia itu sendiri, dan

(20)

yang kedua dari hakikat pendidikan Islam dalam kehidupan beragama kaum muslimin di Indonesia.

Penyusunan suatu sistem pendidikan nasional harus mementingkan masalah-masalah eksistensi umat manusia pada umumnya dan eksistensi bangsa Indonesia pada khususnya dalam hubungannya dengan masa lampau, masa kini dan kemungkinan-kemungkinan perkembangan masa depan.

Eksistensi bangsa Indonesia terwujud dengan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana Indonesia sebagai Negara yang merdeka, bersatu dan yang berdaulat penuh. Indonesia sebagai Negara yang merdeka, bersatu dan yang berdaulat penuh. Indonesia sebagai negara yang merdeka telah dengan tegas menyatakan kepribadiannya, tujuan dan pandangan hidupnya sebagaimana tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Bangsa Indonesia telah bertekad bulat unutk membangun dan mengembangkan bangsa dengan Pancasila sebagai landasan ideology dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusionalnya.

Pancasila sebagai landasan ideologis dalam pembangunan bangsa mengundang arti bahwa setiap usaha pembangunan dan pengembangan bangsa Indonesia, harus selalu menjaga keselarasan, keseimbangan dan keserasian dalam hidup manusia Indonesia sebagai pribadi, dalam hubungnnya manusia dengan Tuhannya, dalam hubungan manusia dengan masyarakat, dalam hubungan manusia dengan alam, dan dalam hubungann bangsa dengan bangsa-bangsa lain dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.Untuk itu maka, bangsa Indonesia harus menghayati cita-cita dan dasar hidup kebngasaannya secara terus menerus, dapat mengamalkan dan mewujudkan cita-cita dan dasar hidup tersebut secara nyata, dan melestarikannya dengan mewariskan nilai-nilai moral ediologi, tata nilai budaya, nilai-nilai moral keagamaan yang menjadi sumber aspirasi yang tak ternilai harganya dalam pemangunanan bangsa dan tanah air. Oleh karena itulah maka pengembangan bangsa merupakan criteria dasar dalam membangun satu sistem pendidikan nasional dengan mewujudkan keselarasan, keseimbangna dan keserasian antara pengembangan kuantitatif dan pengembnagna kualitatif serta antara aspek lahiriah dan aspek rohaniah.

(21)

seperti langgar, suaru atau masjid yang dikelola oleh seorang prtugas yang sekaligus sebagai guru agama.

Disurau atau dilanggar itu pendidikan terutama ditekankan pada pelajaran agama yang bersifat elementer berupa pengajian Al-Qur’an murid-mudir di ajar baik secara individual (sorogan) maupun secara semi klasikal atau (bandongan). Pada tingkat yang lebih tinggi pengajar adalah seorang kyai, sedangkan sistem penyampaiannya tidak hanya sorogan dan bandungan tetapi juga masal.

Sejarah mencatat, bahwa dengan sistem pendiidikan islam sepeerti yang tersebut diatas, ditam bah dengan usaha-usaha penyiaran agam di masyarakat, hasilnya sangat memuaskan dan bahkan menakjubkan. Agama islam dapat tersebar keseluruh pelosok tanah air Indonesia. Di dorong oleh kebutuhan akan pendidikan yang makin meningkat, maka timbullah lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang berupa madrasah dan pondok pesantren. Dalam perkembangan selanjutnya, tumbuh pula lembaga pendidikan umum yang berdasarka keagamaan dimana disamping diberikan mata pelajaran agama juga diajarkan pengetahuan umum dan kejujuran.

Dengan adanya gerakan pembaharuan Islam dan dengan datangya sistem pendidikan Barat yang program belajar mengajarkannya lebih terkoordinir dan lebih sistematis, meskipun dengan tujuan yang sangat menguntungkan sistem pendidikan namun member pengaruh pula pada keharusan memperbaharui sistem pendidikan islam pada madrasah, pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidika yang berdasar keagamaan, kearah isitem yang lebih sempurna.

Sejak Belanda menerapkan politik etis, maka disamping lembaga-lembaga pendidikan Islam, madrasah, pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan yang berdasarkan keagamaan, maka mulai muncul lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sekolah-sekolah nasional swasta dengan menggunakan sistem sekolah Barat yang berorientasi demi kepentingan nasional dan semangat kebangsaan.

(22)

Indonesia, sekolah umum yang berdasarkan kebangsaan. Lembaga-lembaga pendidikan semacam inilah ynag nantinya menjadi modal dasar dan modal pokok dari pendidikan nasional yang akan disusun bangsa Indonesia yang sudah merdeka, bersatu dan berdaulat penuh.

Kaitan antara pendidikan Islam dengan pendidikan nasional akan semakin Nampak dalam rumusan pendidikan nasional hasil rumusan Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional, yaitu bahwa pendidikan nasional ialah usaha dasar untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan mengusahakan perkembangan kehidupan beragama, kehidupan yang berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, nilai, budaya, pengetahuan, ketrampilan, daya estetik, dan jasmaninya, sehingga ia dapat mengembangkan dirinya dan bersama-sama dengan sesame manusia membangun masyarakatnya,serta membudayakan alam sekitarnya.

(23)

dapat menjadi dasar kepribadian, sehingga ia dapat menjadi manusia yang utuh”. Disinilah pendidikan agama merupakan bagian yang penting dari pendidikan nasional yang berkenan dengan pembinaan aspek-aspek sikap, nilai moral dan nilai akhlaq keagamaam.

Dan sejak awal Insonesia merdeka, pemerintah telah menempatkan agama sebagai fondasi dalam membangun bangsa dan negara. Hal ini dapat kit abaca dalam Undang-Undang 1945. Dalamm pembukaan UUD 1945 alinea ketiga dinyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah semata-mata atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dan pada alinea ke empat dinyatakan bahwa pancasila menjadi dasar negara.

Kemudian dalam pasal 29 UUD 1945 ayat 1 dan 2 dinyatakan:  Ayat 1 : Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.  Ayat 2 : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk

untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Selanjutnya eksistensi pendidikan agama sebagai komponen pendidikan nasional juga telah dituangkan dalam Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Pengajaran No. 4 Tahun 1950, yang sampai sekarang masih berlaku, dimana dinyatakan bahwa belajar di sekolah-sekolah agama yang telah memenuhi kewajiban belajar.

Pada era pembangunan sekarang ini, pendidikan agama di masyarakat tetap dibina dan digalakkan dalam usaha untuk mengembangkan kehidupan beragama. Pendidikan agama dalam arti sebagai salah satu bidang studi telah diintegrasikan dalam kurikulum sekolah-sekolah negeri. Hal-hal tersebut diatas ditegaskan dalam Tap. MPR 1983 tentang GBHN bidang Agama, point 1 c dan 1 d, sebagai berikut:

1. Dengan semakin meningkatkannya dan meluanya pembangunan, maka kehidupan keagamaan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus semakin diamalkan bain di dalam kehidupan pribadi maupun dalam hidup social kemasyarakatan.

2. Diusahakan supaya terus bertambah sarana-sarana yang diperlukan bagi pengembangan kehidupan keagamaan dan kehidupan lepercayaan terhadap Tuhan Ynag Maha Esa, termasuk pendidikan agama yang dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas-universitas negeri.

(24)

perhatian serius dari pemerintah. Khusus untuk madrasah telah dikeluarka Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri, antara Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Menteri P dan K (1976), mengenai peningkatan mutu madrasah. Dalam SKB3M tersebut dinyatakan bahwa ijazah madrasah disamakan dengan ijazah sekolah umum yang sederajat.

Demikianlah kaitan antara pendidikan antara pendidikan Islam dan pendidikan nasional yang ternyata tak dapat dipisahkan satu sama lain. Pendidikan Islam merupakan bagian yang integral dari sistem pendidikan nasional.20

J. Kedudukan dan Peran Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan Nasional Kedudukan pendidikan islam dalam sistem Pendidikan Nasional adakalanya sebagai mata pelajaran dan adakalanya sebagai lembaga (satuan pendidikan).

1. Sebagai Mata Pelajaran

Istilah “Pendidikan Agama Islam “ di Indonesia dipergunakan untuk nama suatu mata pelajaran di lingkungan sekolah-sekolah yang berada di bawah pembinaan Departemen Pendidikan Nasional Pendidikan Agama dalam hal ini agama Islam termasuk dalam struktur kurikulum. Ia termasuk ke dalam kelompok mata pelajaran wajib dalam setip jalur jenis dan jenjang pendidikan, berpadanan dengan mata pelajaran lain seperti pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, social dan budaya (pasal 37 ayat 1). Memang semenjak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai terwujudnya undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 rentang System Pendidikan Nasional dan disempurnakan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional eksistensi Pendidikan Islam sudah diakui oleh pemerintah sebagai mata pelajaran wajib di sekolah (SD s.d PT).

2. Sebagai Lembaga

Apabila Pendidikan agama Islam di lingkungan Iembaga Pendidikan yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional terwujud sebagai mata pelajaran, maka di lingkungan Departemen Agama terwujud segai satuan Pendidikan yang berjenjang naik mulai dari Taman Kanak-Kanak (Raudhot al-Athfal), sampai perguruan tinggi (Al-Jamiat). Pengertian Pendidikan Keagamaan Islam disini mengacu kepada satuan pendidikan keagamaan atau Iembaga Pendidika Keagamaan Islam.

(25)

Kalau dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang system Pendidikan Nasional, Lembaga Pendidikan Keagamaan yang diakui eksistensinya hanya yang berada pada jalur Pendidikan formal (sekolah). Namun dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional , Lembaga Pendidikan Keagamaan ini diakui dan dapat dilaksanakan pada jalur Pendidikan non formal ( Pesantren, madrasah diniyah) dan dalam jalur Pendidikan in-formal (keluarga).

Peran Pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional adalah: a) Sebagai mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran wajib di seluruh sekolah di Indonesia berperan :

1) Mempercepat proses pencapaian tujuan pendidikan Nasional

Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Secara sederhana dapat dirinci point-point yang terdapat dalam tujuan Nasional:

1) Berkembangnya potensi anak didik

2) Beriman dan Bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa 3) Berakhlak mulia, shat, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri. 4) Menjadi warga Negara yang demokratis.

5) Bertanggung jawab.

2) Memberikan nilai terhadap mata pelajaran umum

Seperti kita ketahui mata pelajaran umum yang diajarkan di sekolah adalah ilmu pengetahuan produk Barat yang bebas dari nilai (values free). Agar mata pelajaran umum yang diajarkan di sekolah/madrasah mempunyai nilai maka pendidikan agama Islam dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran tersebut-apabila dalam kurikulum sekolah mata pelajaran pendidikan agama terletak pad urutan pertama. Nilai-nilai yang terdapat dalam pelajaran Islam inilah yang diinternalisasikan dalam proses pembelajaran kepada peserta didik.

b) Sebagai lembaga ( institusi)

Madrasah sebagai sub sistem pendidikan nasional tidak hanya dituntut untuk dapat menyelenggarakan pendidikan dasar dan menengah yang bercirikan keagamaan, tetapi lebih jauh madrasah dituntut pula memainkan peran lebih besar yaitu sebagai basis dan benteng tangguh yang akan menjaga dan memperkokoh etika dan moral bangsa. Maka dalam hal ini madrasa memainkan perannya sebagai berikut:

(26)

2. Memelihara tradisi keagamaan 3. Membentuk akhlak dan karakter 4. Benteng moralitas bangsa 5. Lembaga pendidikan alternatif

K. Peran Sistem Pendidikan Nasional Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam

1. memperkuat kedudukan pendidikan agama islam dalam SISDIKNAS 2. memperluas jangkauan dan sasaran pendidikan agama

3. memberikan jaminan secara yuridis formal bahwa peserta didik akan mendapatkan pengajaran agama sesuai dengan agama yang diyakininya dan diajarkan oleh guru yang seagama

4. memberi peluang dan kesempatan untuk berkembangnya pendidikan islam secara terintegrasi dalam sistem pendidikan nasional.21

L. Manfaat Pendidikan Agama dan Pendidikan Umum

Berdasarkan penjelasan mengenai pendidikan agama, perlu dipelajari dan diajarkan kepada para peminat atas dasar itu, yaitu :

1. Hakikat pendidikan agama Islam ialah proses membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik agar menjadi manusia dewas sesuai dengan tujuan pendidikan Islam.

2. Asas pendidikan Islam ialah asas perkembangan dan pertumbuhan dalam kehidupan yang berkesinambungan antara kehidupan duniawi dan ukrawiah, jasmaniah dan rohaniah atau antara kehidupan material dan mental spiritual. 3. Model pendidikan Islam ialah kemampuan dasar (fitrah) untuk berkembang bagi

masing-masing pribadi muslim sebagai karunia Tuhan.

4. Sasaran strategis pendidikan Islam ialah menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai agama dan nila-nilai-nilai ilmu pengetahuan secara mendalam dan meluas dalam pribadi anak didik .

Secara umum manfaat pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara.22

21 Ramayulis, ilmu pendidikan islam (Jakarta: kalam mulia,2002), h. 74-80

(27)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari beberapa rumusan masalah di atas, maka penulus merumuskan kesimpulan sebagai berikut :

1. Pendidikan Islam menurut Zarkowi Soejoeti terbagi dalam tiga pengertian. Pertama, “Pendidikan Islam” adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk menjewantahkan nilai-nilai Islam, baik yang tercermin dalam nama lembaganya, maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.

2. Menurut Sunarya, Pendidikan nasional adalah sistem pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh falsafah hidup suatu bangsa dan tujuannya bersifat mengabdi kepada kepentingan dan cita-cita nasional bangsa tersebut. 3. Hubungan pendidikan Islam dan pendidikan Nasional tidak dapat

(28)

4. Secara eksplisit fungsi pendidikan agama telah dituangkan dalam penjelasan pasal 39 ayat (2) UU Nomor 2 Tahun 1989, yang menyebutkan “pendidikan agama merupakan usaha untuk memperkuat iaman dan ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut peserta didiknya yang bersangkutan, dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Hasan, M. Ali dan Mukti Ali, Kapita Selekta Pendidikan .Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.2003.

Departemen Agama RI, Himpunan Peraturan Perundang-undangan Sistem Pendidikan Nasional .Jakarta: Dirjen. Binbaga Islam, 1992.

Ihsan, Fuad. Dasar Dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2008. Hasbullah. Kapita Selekta Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. 1996.

Abdul Mujid dan Jusuf Mudzhakir, Ilmu Pendidikan Islam, cet. Ke-1, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Muhammad Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta: PT Hidakrya Agung, 2005. Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam. Jakarta:Prenada Media. 2004.

A Kholiq, Ismail. dan Nurul Huda. Paradigma Pendidikan Islam. Semarang: Pustaka Pelajar.2001.

(30)

http://muchsin115.blogspot.co.id/2016/02/antara-pendidikan-islam-dan-pendidikan.html

http://rahayukusumapratiwi.blogspot.com/2013/01/makalah-sistem-pendidikan-nasional.html

http://zhalabe.blogspot.com/2012/03/visi-dan-misi-pendidikan-nasional.html#.UaTB_dIVMZY

http://ukhiuswah.blogspot.co.id/2016/06/perbandingan-antara-tujuan-pendidikan.html

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammad Abduh menawarkan sebuah pembaharuan dalam dunia pendidikan Islam bahwa dengan menggunakan akal, manusia akan lebih mudah

Ahmadi, guru besar ilmu pendidikan Islam IAIN Wali Songo Semarang, menjelaskan relevansi substansial antara sistem pendidikan nasional sekarang dengan konsep tarbiyah dalam

Dari upaya pembaharuan pendidikan yang dilaksanakan KH Hasyim Asy’ari tersebut merup akan bagian pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi pada kekeyaan

Sedangkan misi pendidikan nasional adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat

Pendidikan Luar Sekolah memiliki sifat tidak formal – dalam arti tidak ada keseragaman pola yang bersifat nasional – dan modelnya sangat beragam. Dalam hubungan ini, pendidikan

Tujuan pendidikan nasional secara formal di Indonesia telah beberapa kali mengalami perumusan atau perubahan, dan rumusan tujuan pendidikan nasional yang terakhir seperti

Hasil yang diharapkan dari Analisis Kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan, akan memperjelas kaitan antara pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, dengan peningkatan kinerja

Pendidikan Islam juga memiliki hubungan yang erat dengan pendidikan nasional, di mana pendidikan Islam memberikan kontribusi penting dalam membentuk peserta didik yang berakhlak mulia