Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan Perusahaan Publik

27 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam melakukan kegiatan bisnis, para pengusaha membutuhkan suatu

wadah untuk dapat bertindak melakukan perbuatan hukum dan bertransaksi.

Pemilihan jenis badan usaha ataupun badan hukum yang akan dijadikan sebagai

sarana untuk melakukan kegiatan usaha tergantung pada keperluan para

pendirinya. Salah satu badan usaha yang paling populer digunakan adalah

Perseroan Terbatas (Limited Liability Corporation, Stock Company) dan untuk

selanjutnya disebut perseroan). Pertumbuhan dan pertambahan badan usaha yang

berbentuk Perseroan Terbatas semakin hari semakin meningkat jumlahnya.1 Peningkatan ini sangat beralasan karena perseroan memiliki sifat, ciri khas

dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bentuk badan usaha lainnya. Yakni

berbadan hukum, merupakan kumpulan modal/saham, memiliki kekayaan yang

terpisah dari kekayaan para perseronya, tanggung jawab yang terbatas bagi

pemegang saham, pemisahan fungsi antara pemegang saham dan pengurus atau

direksi, memiliki komisaris yang berfungsi sebagai pengawas dan Rapat Umum

Pemegang Saham (RUPS) sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu

perseroan.

1

(2)

Suatu perusahaan dapat disebut sebagai badan hukum, apabila memenuhi

persyaratan yang ditentukan oleh Undang-Undang. Kitab Undang-Undang Hukum

Dagang (KUHD) tidak memberi ketegasan kapan satu perusahaan dinyatakan

sebagai badan hukum, akan tetapi di Negeri Belanda yang merupakan tempat asal

mula KUHD telah lama dinyatakan bahwa naamloze vennootschap (NV) telah

menjadi badan hukum manakala telah diperoleh pengesahan Menteri kehakiman.2 Dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan terbatas hal

tersebut tidak perlu diragukan lagi, karena dalam Pasal 7 ayat 4 dengan tegas

dinyatakan bahwa perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal

diterbitkannya keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum perseroan.

Ciri dan karakteristik perseroan sebagai asosiasi modal memberikan

kemudahan bagi pemegang saham perseroan untuk mengalihkan sahamnya

kepada orang lain. Sedangkan sebagai badan hukum yang mandiri mengacu pada

Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas (untuk selanjutnya disebut UUPT), menentukan bahwa

pertanggungjawaban pemegang saham perseroan sebatas nilai saham yang

dimiliki dalam perseroan tersebut. Terbatasnya pertanggungjawaban pemegang

saham ini merupakan umpan bagi kesediaan para calon penanam modal

(pemegang saham) untuk menanamkan modalnya dalam suatu perseroan.3

2

Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995), hal.166.

3

(3)

Pada awalnya perseroan diatur dalam Pasal 36 sampai dengan Pasal 56

Buku I Titel III KUHDagang yang merupakan terjemahan dari Wetboek Van

Koophandel, Staatsblad 1847 : 23 dan perubahannya terakhir dengan

Undang-undang No. 4 Tahun 1971 dan STB.569 dan No. 717 Tahun 1939 tentang

Ordonansi Maskapai Andil Indonesia.4 Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan dunia usaha yang semakin pesat mengakibatkan aturan dalam KUHD sudah

tidak sesuai, kemudian diundangkan Undang-undang No.1 Tahun 1995 tentang

Perseroan Terbatas dan terakhir diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun

2007 yang diundangkan pada tanggal 16 Agustus 2007 yang mengakibatkan

ketentuan sebelumnya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Perseroan terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan

modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal

dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang

ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.5 Dari definisi tersebut perseroan badan usaha yang berbadan hukum.6 Badan hukum

4

Abdulkadir Muhamad, Hukum Perusahaan Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hlm.65

5

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas 6

(4)

diartikan sebagai badan/organisasi yang oleh hukum diperlakukan sebagai subyek

hukum yakni sebagai pemegang hak dan kewajiban7 sehingga kapasitas dan kewenangan yang dimiliki oleh individu/orang perorangan untuk bertindak dalam

hukum juga dimiliki oleh badan hukum. Dari ketentuan tersebut secara eksplisit

disebutkan bahwa perseroan merupakan badan hukum.8 Perseroan merupakan suatu bentuk (legal form) yang didirikan atas fiksi hukum (legal fiction) bahwa

perseroan memiliki kapasitas yuridis yang sama dengan orang perseorangan

(natural person).

Dalam perusahaan perseroan direksi merupakan pihak yang paling

memiliki peranan penting, baik dalam mengatur perusahaan, mengelola maupun

untuk memajukannya.9 Setiap jabatan memiliki tugas dan kewajiban serta wewenang. Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk

kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun

di luar pengadilan (persona standi in judicio). Setiap anggota direksi wajib

dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk

kepentingan dan usaha perseroan. Anggota direksi juga bertanggung jawab secara

penuh apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya.10

7

AF. Elly Erawati & JS Badudu, Kamus Hukum Ekonomi Inggris Indonesia, (Jakarta: Proyek Elips, 1996), hlm.78

8

Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, (Bandung: Alumni, 2004), hlm.50. Dalam kaitannya perseroan sebagai badan hukum memiliki ciri-ciri yakni terpisahnya harta kekayaan perseroan dengan harta pribadi pendirinya, mempunyai tujuan tertentu, melakukan hubungan hukum sendiri dan mempunyai organisasi yang teratur.

9

Business Law, Direksi Perseroan, No. 05/Th. 1 Desember 2002, hal.46. 10

(5)

Dengan ketentuan mengenai tugas direksi seperti ini maka direksi mempunyai dua

tugas terhadap perseroan (dan pemegang sahamnya) yaitu duty of loyality dan duty

of care.

Berdasarkan fungsinya, pada dasarnya direksi menjalankan

kepentingan-kepentingan para pemegang saham termasuk untuk secara terus menerus dan

sekuat tenaga mengelola perseroan dengan baik untuk mencapai tujuan perseroan,

termasuk dalam hal memberitahu para pemegang saham mengenai perkembangan

perseroan, meskipun kemudian informasi yang diberikan oleh perseroan tersebut

digunakan untuk melakukan pengambilan keputusan keluar dari perseroan.

Pemegang saham adalah pemilik perusahaan yang dijalankan oleh direksi.

Tanggung jawab direksi pada dasarnya dilandasi oleh 2 (dua) prinsip

penting, yaitu prinsip yang lahir karena tugas dan kedudukan yang dipercayakan

kepadanya oleh perseroan (fiduciary duty) dan prinsip yang merujuk kepada

kemampuan serta kehati-hatian tindakan direksi (duty of skill and care). Kedua

prinsip ini menuntut direksi untuk bertindak secara hati-hati dan disertai dengan

itikad baik, semata-mata untuk kepentingan dan tujuan perseroan.11

Terdapat sedikit perbedaan antara Emiten dan Perusahaan Publik di mana

Perusahan Publik belum tentu melakukan penawaran umum (listing) di bursa

(sahamnya aktif diperdagangkan di bursa (secondary market) sedangkan Emiten

11

(6)

adalah perusahaan publik dengan didasari pada tolak ukur jumlah pemegang

saham dan modal yang disetor.12

Penawaran umum adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh

Emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur

dalam undang-undang ini dari peraturan pelaksanaannya. Berkaitan dengan

mekanisme penawaran umum ada tiga tahap yang harus dilakukan oleh perseroan

yakni tahap pra-emisi, tahap emisi dan tahap setelah emisi.13 Dalam tahap pra-emisi ada beberapa hal yang dilakukan yakni:

1. Perseroan melakukan legal audit (due diligence) terhadap keuangan, aset,

kewajiban kepada pihak lain sampai kepada rencana penghimpunan dana.

2. Diadakan RUPS dengan pokok pembicaraan penawaran umum (go public)

yang akan dilakukan perseroan kemudian menunjuk penjamin emisi

(underwriter), profesi penunjang (akuntan publik, notaris dan konsultan

hukum) serta lembaga penunjang.

3. Perseroan menyiapkan semua dokumen dan perjanjian yang diperlukan untuk

melakukan penawaran umum.

4. Perseroan membuat kontrak pendahuluan dengan bursa efek.

5. Perseroan melakukan public expose.

6. Perseroan menyampaikan pernyataan pedaftaran kepada Bapepem dan dalam

waktu 45 (empat puluh lima) hari pernyataan pendaftaran dinyatakan telah

12

M. Irsan Nasaruddin & Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 155.

13

(7)

efektif oleh Bapepem, setelah meneliti kelengkapan dokumen, cakupan dan

kejelasan informasi dan keterbukaan menurut aspek hukum, akutansi,

keuangan dan manajemen. Dalam tahap emisi yang dilakukan adalah:

a. Penawaran oleh sindikasi penjamin emisi dan agen penjual di pasar

primer;

b. Penjatahan kepada pemodal oleh sindikasi penjamin emisi dan emiten di

pasar primer;

c. Penyerahaan efek kepada pemodal di pasar primer;

d. Emiten mencatatkan efeknya di pasar sekunder (di bursa) dan;

e. Perdagangan efek di pasar sekunder. Tahap yang terakhir adalah tahap

setelah emisi di mana emiten berkewajiban untuk menyampaikan

informasi dalam bentuk laporan berkala dan laporan mengenai peristiwa

material yang dapat mempengaruhi harga efek kepada Bapepam dan

mengumumkannya kepada masyarakat.14

Pada saat Emiten atau Perusahaan Publik mempersiapkan

dokumen-dokumen yang diperlukan untuk keperluan pendaftaran maka ketentuan di bidang

pasar modal mulai berlaku. Terhadap perseroan berlaku undang-undang ini,

anggaran dasar perseroan dan peraturan perundang-undangan lainnya.15 Dalam arti bagi Emiten atau Perusahaan Publik selain tunduk pada ketentuan dalam

UUPT juga terhadap ketentuan di bidang pasar modal. Salah satu ciri perusahaan

14

Pasal 86 ayat (1). Ibid, 15

(8)

terbuka adalah perlunya keterbukaan (disclosure) atas informasi perusahaan

kepada publik, sehingga hukum pun mengatur masalah perusahaan terbuka

termasuk tentang keterbukaan informasi ini secara sangat detail.16 Keterbukaan atau disclosure merupakan komponen terpenting dalam industri sekuritas (pasar

modal). Keterbukaan bukan saja merupakan kewajiban bagi perusahaan publik

yang akan dan telah melakukan penawaran umum tetapi juga merupakan hak

investor dapat dilakukan dan oleh karenanya merupakan kewajiban yang mutlak

harus dilaksanakan oleh perusahaan publik. Melalui keterbukaan yang diwujudkan

dengan dipaparkannya keadaan, peristiwa dan fakta yang ada dalam perusahaan

maka investor dapat mengambil keputusan untuk melakukan investasi atau efek

perusahaan baik untuk membeli, menjual atau menahan efek tersebut.

Karena pentingnya masalah keterbukaan ini maka sekali emiten tergabung

dalam pasar modal maka kewajiban untuk melakukan keterbukaan tersebut wajib

dilakukan sepanjang usia perusahaan tersebut.17 Dengan kata lain direksi diwajibkan mempunyai informasi dan fakta materil tanpa memperhatikan apakah

informasi tersebut bermanfaat atau tidak untuk kepentingan harga saham emiten.18 Oleh karena itu, kewajiban perseroan melakukan keterbukaan terus menerus

dalam rangka memenuhi kewajiban yang dibebankan kepada direksi perseroan.19

16

Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis modern di Era Global, (Bandung: PT. Citra Aditya bakti, 2002), hal.51.

17

Hamud M. Balsfast, Sedikit Tentang Disclosure dan Corporate Governance, Jurnal Hukum Bisnis Volume 22, Januari-Februari 2003, hal.96.

18

Ibid., hal.97 19

(9)

Prinsip keterbukaan sifatnya mutlak dalam arti akan diberikan sanksi

administratif dan sanksi pidana bagi emiten yang melanggar prinsip keterbukaan

oleh Bapepam selaku pengawas pasar modal.20 Pelaksanaan keterbukaan informasi oleh emiten terdiri dari 3 (tiga) tahap yakni:

1. Keterbukaan pada saat melakukan penawaran umum (primary market level)

yang didahului dengan pengajuan pernyataan pendaftaran kepada Bapepem;

2. Keterbukaan setelah emiten mencatat dan memperdagangkan efeknya di bursa

(secondary market level) dengan menyampaikan laporan berkala kepada

Bapepam dan Bursa;

3. Keterbukaan terhadap peristiwa penting yang terjadi yang berpengaruh

terhadap keputusan pemodal/investor terhadap efek atau harga efek.

PT. United Capital Indonesia Tbk merupakan perseroan dalam

menjalankan kegiatan usaha di bidang perantara pedagang efek lebih menitik

beratkan pada nasabah ritel lokal dan terus berupaya meningkatkan peran pemodal

individu dan kelembagaan dalam negeri. Dalam usaha menjaring nasabah tersebut

perseroan lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas nasabah. Salah satu

strategi perseroan untuk meningkatkan kinerjanya sebagai perantara pedagang

efek adalah dengan menyelenggarakan fasilitas perdagangan marjin bagi nasabah

perseroan. Untuk mencapai tujuan tersebut, perseroan telah mempersiapkan

infrastruktur seperti sistem informasi dan teknologi serta sumber daya manusia

yang handal dan pengalaman.

20

(10)

Aktivitas perseroan dalam bidang penjamin emisi efek mencakup kegiatan

penjaminan emisi untuk efek yang bersifat ekuitas dan hutang. Selanjutnya,

perseroan juga melakukan kegiatan dalam bidang penasehat keuangan (financial

advisory) dalam rangka restrukturisasi hutang, merger, dan akuisisi, pendanaan

proyek (project finance) maupun investasi langsung. Awal diketahuinya

pelanggaran yang dilakukan oleh PT. United Capital Indonesia Tbk, bermula dari

laporan dari Biro Pemeriksaan dan penyelidikan Bapepam-LK, bahwa PT United

Capital Indonesia Tbk terlambat menyampaikan laporan keuangan tahun 2004

kepada Bapepam-LK. Biro pemeriksaan dan penyidikan yang menerima laporan

tersebut, kemudian menurunkan tim pemeriksa. Pada awalnya, PT United Capital

Indonesia Tbk diduga telah melakukan pelanggaran terhadap peraturan

Bapepam-LK Nomor X.K.4. tentang realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum, dan

terlambat menyampaikan realisasi penggunaan dana tersebut kepada

Bapepam-LK. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya keterlambatan

menyampaikan laporan keuangan tahunan 2004, dan ternyata pada saat

pemeriksaan dilakukan tim pemeriksa menduga jika PT United Capitl indonesia

Tbk, telah melakukan tindakan manipulasi terhadap laporan keuangan tahunan

2004. Kecurigaan tim pemeriksa berawal ketika memeriksa laporan keuangan

tahunan perseroan. Perseroan melaporkan memiliki deposito sebesar Rp.

90.350.000.000,00 (sembilan puluh miliar tiga ratus lima puluh juta rupiah). Pada

saat melakukan penawaran umum terbatas I hanya diperoleh dana sebesar Rp.

(11)

rupiah), dan pada saat dilakukan penawaran umum perdana diperoleh dana

sebesar Rp. 19.000.000.000,00 (sembilan belas miliar rupiah), dimana sampai

dengan Maret 2004, dana yang telah digunakan adalah sebesar Rp.

17.000.000.000,00 (tujuh belas miliar rupiah) untuk modal kerja dan masih

terdapat sisa dana dari hasil penawaran umum saham sebesar Rp. 2.

000.000.000,00 (dua miliar rupiah) yang disimpan dalam bentuk deposito.21 Dengan memperhatikan laporan keuangan dan prospektus penawaran umum

terbatas I, tim pemeriksa mencurigai bahwa perseroan telah melakukan tindakan

manipulasi dalam laporan keuangan tahunan 2004, maka Bapepam-LK pada

Tanggal 18 Agustus 2005 membentuk suatu tim penyidik untuk menyelidiki

dugaan manipulasi laporan keuangan tahunan 2004 yang dilakukan PT United

Capital Indonesia Tbk.

Sebagai badan hukum atau artificial person, perseroan mampu bertindak

untuk melakukan perbuatan hukum melalui salah satu organ perseroan yakni

Direksi. Definisi direksi dalam Pasal 1 angka 5 juncto Pasal 92 (1) juncto Pasal 98

(1) UUPT adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh

atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan sesuai dengan maksud

dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar

pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar. Dari definisi tersebut, direksi

memiliki 2 (dua) tugas yakni tugas kepengurusan (manajemen) dan tugas

21

(12)

perwakilan (representasi). Maksud dari tugas representasi adalah mewakili

perseroan baik di luar pengadilan (misalkan mewakili perseroan dalam transaksi

bisnis dengan pihak ketiga, hubungan dengan Bapepam, Bursa Efek Indonesia

(BEI) dan Bank Indonesia maupun di dalam pengadilan (misalkan bertindak

sebagai penggugat/tergugat/pemohon/termohon dalam pengadilan).

Laporan keuangan merupakan bagian dari laporan tahunan sebagai

pertanggungjawaban direksi atas pengelolaan keuangan perseroan. Sebelum

diserahkan kepada RUPS untuk disahkan akuntan publik wajib melakukan

audit/pemerikasaan laporan keuangan terhadap: 22

a. Perseroan yang kegiatan usaha perseroan adalah menghimpun dan/atau

mengelola dana masyarakat;

b. Perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat;

c. Perseroan merupakan Perseroan terbatas;

d. Perseroan merupakan persero;

e. Perseroan mempunyai aset dan/atau jumlah peredaran usaha dengan jumlah

nilai paling sedikit Rp.50.000.000.000,- (lima puluh milyar); atau

f. Diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan.

Setelah akuntan publik melakukan audit/pemerikasaan laporan keuangan

yang dituangkan dalam bentuk Laporan Atas Hasil Audit yang dilekatkan bersama

dengan laporan keuangan dan bagian-bagian lain dari laporan tahunan diajukan

22

(13)

oleh direksi23 kepada RUPS untuk memperoleh pengesahan. Setelah memperoleh pengesahan dari RUPS dalam waktu 7 (tujuh) hari direksi wajib mengumumkan

Neraca dan Laporan Laba-Rugi (bagian dari laporan keuangan) dalam 1 (satu)

surat kabar untuk perseroan yang kegiatan usahanya adalah menghimpun dan/atau

mengelola dana masyarakat (misalkan bank, reksa dana, dan perusahaan asuransi),

perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat, dan

merupakan perseroan terbuka.24 Tujuannya adalah memenuhi prinsip akuntabilitas dan prinsip transparansi yang merupakan bagian dari prinsip-prinsip Good

Corporate Governance (tata kelola perusahaan yang baik) yang menjadi pedoman

bagi perseroan dalam melakukan kegiatan usahanya.25

Laporan keuangan yang memperoleh pengesahan dari RUPS apabila

terdapat informasi yang tidak benar dan/atau menyesatkan, anggota direksi dan

anggota Dewan Komisaris secara tanggung renteng bertanggung jawab terhadap

pihak yang dirugikan26 terhadap perseroan terbuka berlaku ketentuan UUPT dan ketentuan di bidang Pasar Modal. Pasal 86 ayat (1) UUPM mewajibkan Emiten

atau perusahaan publik menyampaikan laporan berkala mengenai kegiatan usaha

dan keadaan keuangan dan segala peristiwa yang dapat mempengaruhi harga efek

dan mengumumkannya kepada masyarakat. Keadaan keuangan Emiten atau

23

Pasal 68 ayat (3), Ibid, 24

Ibid. 25

Sofyan Djalil, dalam makalah yang disampaikan dalam seminar Good Corporate Governance di Jakarta tahun 2000 bahwa untuk mewujudkan adanya suatu Good Corporate Governance atau tata kelola perusahaan yang baik maka ada 4 prinsip yang harus dipenuhi yakni Prinsip Transparansi (disclosure), Prinsip Keadilan (fairness), Prinsip Akuntabilitas (accountability) dan Prinsip Responsibilitas (responsibility).

26

(14)

perusahaan publik terwujud dalam bentuk laporan keuangan. Dalam angka 1 huruf

a Peraturan Bapepam-LK Nomor X.K.2 dengan salinan Keputusan Ketua

Bapepam Nomor: KEP-36/PM/2003 tentang kewajiban Penyampaian Laporan

Keuangan Berkala (untuk selanjutnya disebut Peraturan X.K.2) mewajibkan

emiten atau perusahaan publik menyampaikan laporan keuangan berkala sebanyak

2 (dua) kali dalam tahun buku berjalan yakni Laporan Keuangan Tengah Tahunan

dan Laporan Keuangan Tahunan.27

Pertanggung jawaban direksi atas laporan keuangan yang disampaikan

Emiten atau Perusahaan Publik kepada Bapepam dan masyarakat diatur dalam

Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.7 dengan salinan Keputusan Ketua Bapepam

Nomor: KEP-06/PM/2000 yang telah disempurnakan dengan salinan Keputusan

Ketua Bapepam Nomor: KEP-554/BL/2010 dan telah disempurnakan dengan

salinan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan

Nomor : Kep-347/BL/2012 tanggal 25 Juni 2012 tentang tentang Penyajian dan

Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten Atau Perusahaan Publik (untuk

selanjutnya disebut Peraturan VIII.G.7) yang menyatakan bahwa ”Manajemen

emiten atau perusahaan publik bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian

laporan keuangan.”28

Tanggung jawab direksi Emiten atau Perusahaan Publik atas

27

Peraturan Nomor 1 huruf G angka 1 tentang Pencatatan Efek sebagaimana tercantum dalam Lampiran 1 Keputusan Direksi PT. Bursa Efek Jakarta Nomor KEP-01/BEJ/1992 tentang Peraturan Bursa Efek Jakarta dinyatakan bahwa emiten yang efeknya telah tecatat di bursa wajib untuk menyampaikan laporan keuangan sebanyak 3 (tiga) kali dalam tahun buku berjalan yakni dalam bentuk laporan Keuangan tahunan, laporan keuangan tengah tahunan dan laporan triwulan.

28

(15)

laporan keuangan sebagaimana tercantum dalam Pasal 69 ayat (3) UUPT dan

angka 8 Peraturan VIII.G.7. Ketentuan ini lebih dipertegas dengan Peraturan

Bapepam Nomor VIII.G.11 dengan salinan keputusan ketua Bapepam Nomor:

KEP-40/PM/2003 tanggal 22 Desember 2003 tentang Tanggung jawab Direksi

atas Laporan keuangan (untuk selanjutnya disebut Peraturan VIII.G.11). Dalam

angka 2 peraturan VIII.G.11 ini mewajibkan direksi Emiten atau Perusahaan

Publik untuk membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa direksi

bertanggung jawab atas laporan keuangan. Surat Pernyataan Direksi ini

merupakan tambahan bukti tertulis selain laporan keuangan apabila terdapat

informasi yang tidak benar atau menyesatkan yang dapat dijadikan dasar tuntutan

bagi stakeholders terhadap kelalaian/kesalahan direksi dalam menyusun dan

menyajikan laporan keuangan ataupun dalam memberikan informasi dalam

laporan keuangan.

Direksi emiten atau perusahaan publik wajib membuat surat pernyataan

sesuai dengan Formulir Lampiran I Peraturan ini.29 Dalam surat pernyataan direksi tersebut dinyatakan bahwa direksi emiten atau perusahaan publik (dalam

teknis pelaksanaannya oleh direktur utama dan direktur keuangan) menyatakan:30 1) Bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan

Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor : Kep-554/BL/2010 yang telah disempurnakan dengan salinan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor : Kep-347/BL/2012 tanggal 25 Juni 2012 tentang Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten Atau Perusahaan Publik, angka 8.

29

Peraturan Bapepam-LK Nomor VIII.G.11 dengan Salinan Keputusan Ketua Bapepam Nomor: KEP-40/PM/2003 tentang Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan, angka 2.

30

(16)

2) Laporan keuangan perusahaan telah disusun dan disajikan sesuai dengan

prinsip akuntansi yang berlaku umum

3) a. Semua informasi dalam laporan keuangan perusahaan telah dimuat secara

lengkap dan benar

b. Laporan keuangan perusahaan tidak mengandung informasi atau fakta

material yang tidak benar dan tidak menghilangkan informasi atau fakta

material

4) Bertanggung jawab atas sistem pengendalian intern dalam perusahaan.

Yang menjadi pokok permasalahan dalam tesis ini adalah dengan

ditandatanganinya surat pernyataan direksi tersebut hanya oleh 2 (dua) orang

anggota direksi apabila terjadi pelanggaran terhadap salah satu ketentuan dalam

peraturan VIII.G.11 dalam hal ini pernyataan tersebut menimbulkan kerugian

kepada pihak di luar perseroan apakah tanggung jawab hanya dibebankan pada 2

(dua) direktur yang menandatangani surat pernyataan direksi tersebut ataukah

seluruh anggota direksi bertanggung jawab untuk menanggung kerugian kepada

pihak di luar perseroan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan

(17)

1. Bagaimana kriteria untuk menentukan direksi telah melakukan pelanggaran

dalam hal penandatanganan pernyataan yang merugikan pihak di luar

perseroan?

2. Bagaimana bentuk pertanggung jawaban direksi atas laporan keuangan

menurut ketentuan UUPT dan Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.11 tentang

Tanggung Jawab Direksi Atas Laporan Keuangan ?

C. Tujuan Penelitian

Mengacu pada perumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian

dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui dan memahami kriteria yang menentukan direksi telah

melakukan pelanggaran dalam hal penandatanganan pernyataan yang

merugikan pihak di luar perseroan.

2. Untuk mengetahui, memahami dan menganalisis bentuk pertanggung jawaban

dalam hal pelanggaran, apakah dibebankan hanya kepada direksi atau menjadi

tanggung jawab renteng.

D. Manfaat Penelitian

Ditetapkannya permasalahan-permasalahan, maka diharapkan akan

membawa sejumlah mafaat yang berguna secara teoritis dan praktis, sehubungan

(18)

1. Manfaat Teoritis, memberikan sumbangan pemikiran dan pengetauan bagi

penulis dan para akedemis pada khususnya dan masyarakat pada umumnya

serta membuka wawasan dan paradigma berpikir dalam memahami, mengerti,

dan mendalami permasalahan hukum khususnya di bidang hukum perusahaan.

2. Manfaat Praktis, memberikan tambahan materi/pengetahuan sekaligus

masukan bagi para akademisi dan rekan mahasiswa yang sedang/akan

menyelesaikan tugas akhir yang materinya berkaitan dengan materi tesis

peneliti serta menambah dan mengembangkan pengetahuan masyarakat

mengenai keberadaan hukum korporasi.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa berdasarkan

informasi yang ada, melalui penelusuran yang ada di perpustakaan Universitas

Sumatera Utara dan Program Studi Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas

Sumatera Utara, maupun di perpustakaan di luar kampus Universitas Sumatera

Utara serta intitusi lain, penelitian dengan judul Tanggung Jawab Direksi atas

Laporan Keuangan Perusahaan Publik, belum pernah dilakukan oleh peneliti lain

sebelumnya. Walaupun ada beberapa kesamaan dalam membahas topik tentang

tanggung jawab direksi. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentu sangat

berbeda dengan penelitian yang penulis tulis. Sehingga penulisan penelitian ini

dapat dikatakan asli dan keaslian secara akademis keilmuan dapat dipertanggung

(19)

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Perseroan merupakan badan hukum yang tidak memiliki kehendak untuk

melakukan perbuatan hukumnya sendiri oleh salah satu organ perseroan yakni

direksi. Direksi merupakan satu-satunya organ perseroan yang bertanggung jawab

penuh atas pengurusan perseroan dan merupakan wakil perseroan bagi pihak di

luar perseroan.31 Kepengurusan perseroan meliputi pengurusan sehari-hari yang dilakukan oleh direksi. Menurut I.G. Rai Widjaja bahwa ”keberadaan direksi

dalam suatu perseroan merupakan suatu keharusan atau dengan kata lain

perseroan wajib memiliki direksi karena perseroan sebagai artificial person yang

tidak dapat berbuat apa-apa tanpa adanya bantuan dari anggota direksi sebagai

natural person.”32 Dalam melaksanakan fiduciary duty yang dibebankan kepadanya, direksi beritikad baik dan penuh tanggung jawab.33 Setiap kesalahan atau kelalaian dari salah seorang anggota direksi mengakibatkan

pertanggungjawaban secara pribadi atas setiap kerugian perseroan.34 Prinsip fiduciary duty merupakan doktrin yang berasal dari sistem hukum common law.35 Prinsip ini merupakan hubungan kepercayaan antara direksi dengan perseroan di

mana direksi bertindak sebagai seorang trustee atau agen semata dari perseroan

yang diberikan wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan kepengurusan

31

Pasal 1 angka 5. Op. Cit., 32

I.G. Rai Widjaja, Hukum Perusahaan: Berbagai Peraturan dan Pelaksanaan Undang-Undang di Bidang Usaha, (Jakarta: Megapoin, 2002), hlm.208

33

Pasal 97 ayat (2). Ibid, 34

Pasal 97 ayat (3). Ibid, 35

(20)

perseroan demi maksud tujuan perseroan dengan itikad baik, loyalitas, dan penuh

tanggung jawab, kejujuran serta kepedulian dan kemampuan tinggi.36

Seseorang direktur tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban secara

pribadi atas tindakan yang dilakukannya dalam kedudukannya sebagai direktur

yang diyakininya sebagai tindakan terbaik untuk perseroan dan dilakukan secara

jujur, beritikad baik dan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku (Business

Judgement Rule).37 Dalam melaksanakan tugas yang berdasarkan hubungan kepercayaan (fiduciary duties-trust and confidence) harus:

1. Dilakukan secara itikad baik (bona fides);

2. Dilakukan dengan proper purpose;

3. Dilakukan tidak dengan kebebasan yang tidak bertanggungjawab (unfettered

discretion);

4. Tidak memiliki benturan tugas dan kepentingan (conflict of duty and

interest).38

Sebagai bahan pertanggungjawaban direksi atas kepengurusannya dalam

kaitannya dengan keadaan keuangan perseroan terwujud dalam bentuk laporan

keuangan.39 Dalam hal laporan keuangan yang disediakan tidak benar dan/atau menyesatkan, anggota direksi dan anggota dewan komisaris secara tanggung

36

Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corparate Law & Eksistensinya Dalam Corporate Law dan Eksistensinya Dalam Hukum Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002), hlm. 15.

37

I. G. Widjaja, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, (Jakarta: Kesaint Blanc, 2003), hlm. 2.

38

Ibid, hlm. 2. 39

(21)

renteng bertanggung jawab terhadap pihak yang dirugikan.40 Dan apabila dapat dibuktikan bahwa keadaan tersebut bukan karena kesalahannya maka dapat

dibebaskan dari tanggung jawab tersebut (acquit de charge).41 Tanggung renteng didefinisikan bahwa pengaturan tentang besarnya bagian masing-masing kepada

salah seorang dari mereka atau kepada seorang pihak ketiga.42

Perseroan publik atau emiten merupakan perseroan terbuka.43 Terhadap perseroan berlaku undang-undang ini, anggaran dasar perseroan dan ketentuan

peraturan perundang-undangan lainnya termasuk di dalamnya asas itikad baik,

asas kepantasan, asas kepatutan dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik

(Good Corporate Governance) dalam menjalankan perseroan44 sehingga terhadap perseroan terbuka berlaku juga ketentuan dalam bidang pasar modal di mana yang

mewajibkan emiten atau perusahaan publik untuk menyampaikan laporan secara

berkala mengenai kegiatan usaha dan keadaan keuangan kepada Bapepam dan

selambat-lambatnya pada akhir kerja ke-2 apabila setelah terjadi peristiwa

material yang dapat mempengaruhi harga efek wajib disampaikan kepada

Bapepam dan keduanya wajib diumumkan kepada masyarakat melalui surat

kabar.45 Ketentuan ini mulai berlaku sejak pernyataan pendaftaran emiten untuk melakukan penawaran umum atau pernyataan pendaftaran perusahaan publik telah

dinyatakan efektif oleh Bapepam. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan adanya

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 1634 ayat (1). 43

Pasal 1 angka 7. Op. Cit 44

Pasal 4 berikut penjelasannya. Op. Cit., 45

(22)

prinsip keterbukaan di mana menjadi pedoman bagi emiten, perusahaan publik,

dan pihak lain yang tunduk kepada ketentuan pasar modal untuk

menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi

materil mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap

keputusan pemodal terhadap efek dan atau harga efek tersebut.46

Prinsip keterbukaan menjadi salah satu prinsip dari Good Corporate

Governance (tata kelola perusahaan yang baik) di samping prinsip-prinsip lainnya

yakni keadilan (fairness), akuntabilitas (accountability) dan responsibilitas

(responsibility).47 Pada saat menyampaikan laporan berkala dan informasi fakta material tersebut kepada Bapepam dan mengumumkannya kepada masyarakat,

direksi sedang menjalankan tugasnya sebagai wakil bagi pihak di luar perseroan di

mana dalam hal anggota direksi terdiri lebih dari 1 (satu) orang yang berwenang

mewakili perseroan adalah setiap anggota direksi kecuali ditentukan lain dalam

anggaran dasar.48 Sebagai suatu organ dengan pertanggunggjawaban kolegial, tidak tertutup kemungkinan bahwa satu orang anggota direksi akan berbeda

pendapat dengan anggota direksi lainnya dalam hal memutuskan suatu persoalan

sehubungan dengan tugas pengurusan dan wakil perseroan bagi pihak di luar

46

Pasal 1 angka 25. Ibid, 47Sofyan Djalil, ”

Good Corporate Governance” (Makalah disampaikan dalam Seminar Good Corporate Governance, (Jakarta: September, 2000), hlm. 53.

48

(23)

perseroan sehingga anggota direksi yang satu menjadi koreksi dan check and

balance atas tindakan anggota direksi lainnya.49 2. Landasan Konsepsi

Berikut ini adalah definisi operasional dan istilah-istilah yang dipakai

dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

a. Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatu apabila

ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan.50

b. Direktur/Direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung

jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai

dengan maksud dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik di dalam

maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.51

c. Laporan keuangan adalah catatan tertulis tentang status keuangan dari

individu, asosiasi, atau organisasi bisnis. Dalam laporan keuangan termasuk

neraca dan laporan laba-rugi atau laporan operasional. Di dalamnya dapat

juga termasuk laporan arus kas, laporan dari perubahan dalam laba yang

ditahan dan analisis lain. Laporan tertulis mengenai keadaan keuangan suatu

perusahaan yang terdiri dari neraca, perhitungan laba-rugi, atau perhitungan

49

Gunawan Widjaja, Tanggung Jawab Direksi Atas Kepailitan Perseroan, (Jakarta: Raja Grafindo, 2003), hlm. 4.

50

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1983), hlm.1014

51

(24)

tambahan atau penyajian data keuangan lainnya yang berasal dari

pembukuan.52

d. Perusahaan Publik adalah perseroan yang sahamnya telah dimiliki

sekurang-kurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal disetor

sekurang-kurangnya Rp. 3.000.000.000 (tiga miliar rupiah) atau suatu jumlah

pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan dengan Peraturan

Pemerintah.53

e. Informasi atau Fakta Material adalah informasi atau fakta penting dan relevan

mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek

pada bursa efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak lain

yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut.54

f. Tanggung renteng adalah suatu perikatan tanggung menanggung atau

perikatan tanggung renteng terjadi antara beberapa orang berpiutang, jika di

dalam perjanjian secara tegas kepada masing-masing diberikan hak untuk

menuntut pemenuhan seluruh utang sedang pembayaran yang dilakukan

kepada salah satu membebaskan orang yang berutang meskipun perikatan

menurut sifatnya dapat dipecah dan dibagi di antara beberapa orang

berpiutang tadi.55

52

Viktor, Laporan Keuangan, Kamus Umum Pasar Modal, (Jakarta: UI Press, 2000), hlm.252.

53

Pasal 1 butir 22 UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal 54

Pasal 1 butir 7, Ibid., 55

(25)

g. Informasi tidak benar adalah data yang telah diproses ke dalam bentuk yang

lebih berarti yang tidak sesuai atau tidak berhubungan dengan realitas dan

mengakibatkan penerima informasi mempercayai dalam mengambil

keputusan.

h. Informasi menyesatkan adalah data yang telah diproses menjadi bentuk yang

memiliki arti dengan tidak mencerminkan maksudnya dengan jelas.56

G. Metode Penelitian 1. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analisis, di mana jenis penelitian yang

bertujuan melukiskan permasalahan hukum57 yaitu penelitian ini hanya menggambarkan yang telah dikemukakan, dengan tujuan untuk membatasi

kerangka studi kepada suatu pemberian, suatu analisis atau suatu klasifikasi tanpa

secara langsung bertujuan untuk menguji hipotesa-hipotesa atau teori-teori.58 2. Sumber Data

Dalam penelitian hukum normatif, data yang diperlukan adalah data

sekunder. Data sekunder tersebut mempunyai ruang lingkup yang sangat luas.59

56

http://prastowo.staff.ugm.ac.id/?modul=baca&dir=artikel&artikel=Dasar-Dasar-Sistem-Informasi

57

Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Gramedia, 1997), hlm.16.

58

Alvi Syahrin, Pengaturan Hukum dan Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Pemukiman Berkelanjutan, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2003), hal.17.

59

(26)

Dari sudut informasi, maka bahan pustaka dapat dibagi dalam tiga kelompok

sebagai berikut:60

a. Bahan hukum primer, bahan-bahan hukum yang mengikat dari sudut norma

dasar, peraturan dasar dan peraturan perundang-undangan. Dan merupakan

landasan utama untuk dipakai dalam rangka penelitian ini, yaitu

Undang-Undang No.40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, UU No.8 Tahun

1995 Tentang Pasar Modal dan Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.11 dengan

Salinan Keputusan Ketua Bapepam Nomor:KEP-40/PM/2003 tentang

Tanggung Jawab Direksi.

b. Bahan hukum sekunder, bahan-bahan yang memberikan penjelasan mengenai

bahan hukum primer, seperti hasil-hasil seminar atau pertemuan ilmiah

lainnya, atau pendapat dari kalangan pakar hukum sepanjang relevan dengan

objek telaah penelitian ini.

c. Bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang, bahan yang memberikan

petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder yang

berupa kamus, ensiklopedia, majalah, surat kabar, dan jurnal-jurnal ilmiah

3. Tekhnik Pengumpulan Data

Tekhnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

melalui penelitian kepustakaan (library research) untuk mendapatkan konsepsi

teori atau doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian terdahulu

60

(27)

yang berhubungan dengan objek telaahan penelitian ini, yang dapat berupa

peraturan perundang-undangan, buku-buku, dan karya ilmiah lainnya.

4. Alat Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, pengumpulan data yang dilakukan dengan studi

dokumen yang dikumpulkan dengan mempergunakan studi pustaka sebagai alat

pengumpulan data yang dilakukan di Perpustakaan, baik melalui penelusuran

katalog maupun browsing internet.

Pada tahap awal pengumpulan data dilakukan inventaris seluruh data dan

atau dokumen yang relevan dengan topik pembahasan. Selanjutnya dilakukan

pengkategorian data-data tersebut berdasarkan rumusan permasalahan yang telah

ditetapkan.

5. Analisis Data

Analisis merupakan hal terpenting dalam suatu penelitian dalam rangka

memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Setelah diperoleh data

sekunder yakni berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan

hukum tertier, maka dilakukan pengklasifikasian data, kemudian data disusun

secara sistematis untuk mempermudah proses analisa. Analisa data dilakukan

dengan pendekatan kualitatif. Selanjutnya ditarik suatu kesimpulan yang bersifat

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...