BAB II
ARAHAN PERENCANAAN BIDANG CIPTA KARYA
Rencana Tata Ruang Wilayah m emuat arahan struktur ruang d an pola ruang. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi s ebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara h irarkis memiliki h ubungan fungsional, sedangkan pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Pembangunan bidang Cipta Karya harus memperhatikan arahan struktur dan pola ruang yang tertuang dalam RTRW, selain untuk mewujudkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan juga dapat mewujudkan tu juan dari penyelenggaraan penataan ruang yaitu keharmonisan antara lingkungan alam dan l ingkungan buatan, keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya b uatan dengan memperhatikan sumber daya manusia, serta pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) 2.1.
Rencana Tata R uang Wilayah Nasional (RTRWN) disusun melalui Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 te ntang Renca na Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang dijadikan sebagai pedoman untuk:
Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional, a.
Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional, b.
Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional, c.
Perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antarwilayah d.
provinsi, serta keserasian antarsektor,
Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi, e.
Penataan ruang kawasan strategis nasional, dan f.
Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. Arahan yang harus diperhatikan g.
dari RTRWN u ntuk d itindaklanjuti ke d alam RPI2-JM kabupaten/kota adalah sebagai berikut:
h.
Penetapan Pusat Kegiatan Nasional (PKN) a.
Kriteria:
kawasan perkotaan yang berfungsi a tau berpotensi sebagai simpul utama i.
Kawasan perkotaan yang berfungsi at au berpotensi sebagai p usat k egiatan ii.
industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi, dan/atau Kawasan perkotaan yang berfungsi at au berpotensi sebagai s impul u tama iii.
transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi.
Penetapan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) b.
Kriteria:
Kawasan Perkotaan yang berfungsi at au b erpotensi sebagai simpul kedua i.
kegiatan ekspor-impor yang mendukung PKN,
Kawasan perkotaan yang berfungsi at au berpotensi sebagai pusat kegiatan ii.
industri dan jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten, dan/atau Kawasan perkotaan yang berfungsi at au berpotensi sebagai simpul transportasi iii.
yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten.
Penetapan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) c.
Kriteria:
Pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas batas dengan i.
negara tetangga,
Pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang ii.
menghubungkan dengan negara tetangga,
Pusat perkotaan yang merupakan simpul utama tra nsportasi yang iii.
menghubungkan wilayah sekitarnya, dan/atau
Pusat perkotaan yang merupakan p usat p ertumbuhan e konomi yang dapat iv.
mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya.
Penetapan Kawasan Strategis Nasional (KSN) d.
Penetapan kawasan strategis nasional dilakukan berdasarkan kepentingan: Pertahanan dan keamanan,
i.
diperuntukkan bagi kepentingan pemeliharaan keamanan dan pertahanan a.
negara berdasarkan geostrategi nasional,
diperuntukkan bagi basis militer, daerah latihan militer, daerah pembuangan b.
amunisi dan p eralatan pertahanan lainnya, gudang amunisi, d aerah uji coba sistem persenjataan, dan/atau kawasan industri sistem pertahanan, atau
merupakan wilayah kedaulatan negara termasuk pulau-pulau kecil terluar yang c.
berbatasan langsung dengan negara tetangga dan/atau laut lepas. Pertumbuhan ekonomi,
ii.
Memiliki potensi ekonomi cepat tumbuh, a.
Memiliki sektor u nggulan yang d apat menggerakkan pertumbuhan ekonomi b.
nasional,
Memiliki potensi ekspor, c.
Didukung jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi, d.
Memiliki kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi, e.
Berfungsi untuk mempertahankan t ingkat produksi p angan nasional d alam f.
rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional,
Berfungsi untuk mempertahankan t ingkat produ ksi sumber energi dalam g.
rangka mewujudkan ketahanan energi nasional, atau
Ditetapkan untuk mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal. h.
Sosial dan budaya iii.
Merupakan tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya a.
nasional,
merupakan prioritas peningkatan kualitas sosial d an budaya serta jati diri b.
bangsa,
merupakan aset nasional atau internasional yang harus dilindungi dan c.
dilestarikan,
merupakan tempat perlindungan peninggalan budaya nasional, d.
memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya, atau e.
memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial skala nasional. f.
Pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi iv.
Diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu a.
Pengetahuan dan teknologi berdasarkan lokasi sumber daya alam strategis b.
nasional, pengembangan antariksa, serta tenaga atom dan nuklir Memiliki sumber daya alam strategis nasional
c.
Berfungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan antariksa d.
Berfungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir, atau e.
Berfungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis. f.
Fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. v.
Merupakan tempat perlindungan keanekaragaman hayati, a.
Merupakan aset nasional berupa kawasan lindung yang b.
Ditetapkan bagi perlindungan ekosistem, flora d an/atau fauna yang hampir c.
punah atau d iperkirakan a kan punah yang harus dilindungi d an/atau dilestarikan,
Memberikan perlindungan keseimbangan tata g una air yang setiap tahun d.
berpeluang menimbulkan kerugian negara,
Memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro e.
Menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup f.
Rawan bencana alam nasional g.
Sangat menentukan dalam perubahan rona a lam dan mempunyai h.
dampak luas terhadap kelangsungan kehidupan.
Tabel 2.1
Penetapan Kawasan Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Berdasarkan PP Nomor 26 Yahun 2008 Tetang RTRWN
NO PROVINSI PKN PKW
(1) (2) (3) (4)
1 Sumatera Selatan
Palembang Muara Enim, Kayuagung, B aturaja, Prabumulih, Lubuk Linggau, Sekayu, Lahat
Tabel 2.2
Penetapan Kawasan Strategis Nasional (KSN) Berdasarkan PP Nomor 26 Tahun 2008 tetang RTRWN
NO STRATEGIS KAWASAN NASIONAL SUDUT KEPENTINGAN KOTA/ KABUPATEN *) PROVINSI STATUS HUKUM (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Kawasan Lingkungan Hidup T aman Nasional Kerinci Seblat
Lingkungan Hidup Kab. Kerinci, Kota Padang, Kab. Lubuk Linggau, Kab. Rejang Lebong Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan
RTRW Kawasan Strategis Nasional (KSN) 2.2.
Beberapa arahan yang harus diperhatikan dari RTRW KSN d alam penyusunan RPI2-JM Cipta Karya Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:
Cakupan delineasi wilayah yang ditetapkan dalam KSN. a.
Arahan kepentingan penetapan KSN, yang dapat berupa: b. Ekonomi i. Lingkungan Hidup ii. Sosial Budaya iii.
Pendayagunaan Sumberdaya alam dan Teknologi Tinggi iv.
Pertahanan dan Keamanan v.
Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup: c.
Arahan pengembangan pola ruang: i.
Arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya a.
Arahan pengembangan pola ruang terkait b idang Cipta Karya seperti b.
pengembangan RTH.
Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti ii.
pengembangan prasarana sarana air minum, air li mbah, persampahan, dan drainase
Indikasi program sebagai operasionalisasi rencana p ola ruang dan struktur ruang iii.
khususnya untuk bidang Cipta Karya.
Adapun RTRW KSN yang telah ditetapkan sampai saat ini adalah sebagai berikut:
Perpres No.54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan J akarta, Bogor, a.
Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur;
Perpres No. 45 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan b.
Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan;
Perpres No. 55 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan c.
Makassar, Maros, Sungguminasa, Takalar;
Perpres No. 62 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan d.
Medan, Binjai, Deli Serdang, dan Karo;
Perpres No. 86 Tahun 2011 tentang Pengembangan Kawasan Strategis dan e.
Infrastruktur Selat Sunda;
Perpres No. 87 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Batam, Bintan, f.
Arahan Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau 2.3.
Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau merupakan rencana rinci dan operasionalisasi dari RTRWN. Adapun arahan yang harus diperhatikan dari RTR Pulau untuk penyusunan RPI2-JM Kabupaten/Kota adalah:
Arahan pengembangan pola ruang dan s truktur ruang a ntara lain mencakup a.
arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya, serta arahan pengembangan pola ruang terkait bidang Cipta Karya seperti pengembangan RTH.
Arahan pengendalian pemanfaatan ruang yang memberikan arahan batasan wilayah b.
mana yang dapat dikembangkan dan yang harus dikendalikan.
Strategi operasionalisasi rencana pola ruang dan struktur ruang k hususnya u ntuk c.
bidang Cipta Karya seperti pengembangan prasarana sarana air minum, air limbah, persampahan, drainase, RTH, rusunawa, agropolitan, dan lain-lain.
Hingga saat ini RTRW Pulau yang telah ditetapkan adalah:
Perpres No. 88 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sulawesi; a.
Perpres No. 3 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan; b.
Perpres No. 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera; c.
Perpres No. 28 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Jawa-Bali. d.
Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi 2.4.
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi ditetapkan melalui P eraturan Daerah Provinsi, dan beberapa arahan yang harus diperhatikan dari RTRW Provinsi untuk penyusunan RPI2-JM Kabupaten/Kota adalah:
Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup:
i.
Arahan pengembangan pola ruang: i.
Arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya a)
Arahan pengembangan pola ruang terkait b idang Cipta Karya seperti b)
pengembangan RTH.
Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti ii.
pengembangan prasarana sarana air minum, air li mbah, persampahan, dan drainase
Strategi operasionalisasi rencana pola ruang dan struktur ruang khususnya untuk
ii.
bidang Cipta Karya.
Perda No. 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali; a.
Perda No. 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten; b.
Perda No. 2 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi c.
Bengkulu;
Perda No. 2 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah d.
Istimewa Yogyakarta;
Perda No. 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah e.
Khusus Ibukota Jakarta;
Perda No. 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi f.
Gorontalo;
Perda 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa g.
Barat;
Perda No. 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa h.
Tengah;
Perda No. 5 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa i.
Timur;
Perda No. 1 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi j.
Lampung;
Perda No. 3 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nusa k.
Tenggara Barat;
Perda No. 1 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Nusa l.
Tenggara Timur;
Perda No. 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi m.
Sulawesi Selatan;
Perda No. 13 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi n.
Sumatera Barat.
Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota 2.5.
Sesuai dengan amanat UU No. 26 Tahun 2007, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Adapun arahan dalam RTRW Kabupaten/Kota yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPI2-JM Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:
Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) yang didasari sudut a. kepentingan: Pertahanan keamanan i. Ekonomi ii. Lingkungan hidup iii. Sosial budaya iv.
Pendayagunaan sumberdaya alam atau teknologi tinggi v.
Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup: b.
Arahan pengembangan pola ruang: i.
Arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya a)
Arahan pengembangan pola ruang terkait bidang Cipta Karya seperti b)
pengembangan RTH.
Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti ii.
pengembangan prasarana sarana air minum, air limbah, persampahan, drainase, RTH, Rusunawa, maupun Agropolitan.
Ketentuan zonasi bagi pembangunan prasarana sarana b idang Cipta c.
Karya yang harus diperhatikan mencakup ketentuan u mum peraturan zonasi untuk kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem perkotaan, dan jaringan prasarana.
Indikasi program sebagai operasionalisasi rencana pola ruang dan d.
BAB III
ARAHAN STRATEGIS NASIONAL BIDANG CIPTA KARYA
Kawasan Strategis Nasional (KSN)3.1.
Sesuai dengan arahan pada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan Strategis Nasional (KSN) adalah wilayah yang penataan ruangnya d iprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Penetapan Kawasan Strategis Nasional dilakukan berdasarkan beberapa kepentingan, yaitu:
pertahanan dan keamanan a.
pertumbuhan ekonomi b.
sosial dan budaya c.
pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi d.
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup e.
Adapun daftar lengkap Kawasan Strategis Nasional (KSN) telah dipaparkan pada bab sebelumnya.
Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) 3.2.
Sesuai dengan ara han pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Renca na Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan Strategis Nasional atau PKSN adalah kawasan perkotaan yang d itetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara. Penetapan
PKSN dilakukan berdasarkan beberapa kriteria yang terdapat pada pasal 15, yaitu sebagai berikut:
a. pusat perkotaan yang berpotensi sebagai pos pemeriksaan lintas b atas dengan negara tetangga
b. pusat perkotaan yang berfungsi sebagai pintu gerbang internasional yang menghubungkan dengan negara tetangga
c. pusat perkotaan yang merupakan simpul utama transportasi yang menghubungkan wilayah sekitarnya
d. pusat perkotaan yang merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat mendorong perkembangan kawasan di sekitarnya. Adapun daftar lengkap Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) telah dipaparkan pada bab sebelumnya.
Pusat Kegiatan Nasional (PKN) 3.3.
Sesuai dengan ara han pada PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Renca na Tata Ruang Wilayah Nasional, Pusat Kegiatan N asional atau PKN adalah kawasan perkotaan yang berfungsi u ntuk m elayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi. Penetapan PKN dilakukan berdasarkan beberapa kriteria yang terdapat pada pasal 14, yaitu sebagai berikut:
a. kawasan p erkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul ut ama k egiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional
b. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi
c. kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi
PKN suatu wilayah dapat berupa kawasan m egapolitan, kawasan metropolitan, kawasan perkotaan besar, kawasan perkotaan sedang, atau kawasan perkotaan kecil. Adapun daftar lengkap Pusat Kegiatan Na sional (PKN) telah dipaparkan pada bab sebelumnya.
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 3.4.
(MP3EI)
Berdasarkan arahan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi In donesia 2011-2025, Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan
arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 dan melengkapi dokumen perencanaan.
Pengembangan MP3EI difokuskan pada Kawasan Perhatian Investasi (KPI) yang diidentifikasikan sebagai satu atau lebih kegiatan ekonomi at au sentra produksi yang terikat atau terhubung dengan satu atau lebih faktor konektivitas dan SDM IPTEK. Pendekatan KPI dilakukan u ntuk mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi
atas kegiatan ekonomi at au sentra produksi yang terikat dengan faktor konektivitas dan SDM IPTEK yang sama.
KPI dapat menjadi KPI prioritas dengan kriteria sebagai berikut: Total nilai investasi pada setiap KPI yang bernilai signifikan a.
Keterwakilan Kegiatan Ekonomi Utama yang berlokasi pada setiap KPI b.
Dukungan Pemerintah dan Pemerintah Daerah terhadap sentra- sentra produksi di c.
masing-masing KPI
Kesesuaian terhadap beberapa kepentingan strategis (dampak sosial, dampak d.
ekonomi, dan politik) dan arahan Pemerintah (Presiden RI)
Adapun KPI berdasarkan arahan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2 011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 dipaparkan pada Tabel 3.1
Tabel 3.1
Penetapan Lokasi Kawasan Perhatian Investasi (KPI) Berdasarkan Arahan Perpres Nomor 32 Tahun 2011
NO KORIDOR KPI
(1) (2) (3)
1 Koridor Ekonomi (KE) Sumatera
Sei Mangkei Tapanuli Selatan Dairi
Dumai
Tj Api-Api – Tj Carat Muaraenim – Pendopo Palembang
Prabumulih
Bangka Barat, Babel Batam
Bandar Lampung Lampung Timur Besi Baja Cilegon 2 Koridor Ekonomi (KE) Jawa Banten
DKI Jakarta Karawang Bekasi Purwakarta Cilacap Surabaya Gresik Lamongan Pasuruan 3 Koridor Ekonomi (KE) Bali –
Nusa Tenggara
Badung Buleleng Lombok Tengah Kupang Sumbawa Barat Aegela
Nusa Penida Sumbawa
4 Koridor Ekonomi (KE) Kalimantan Kutai Kertanegara
Kutai Timur Rapak dan Ganal Kotabaru Ketapang Kotawaringin Barat
Kapuas Pontianak Bontang Tanah Bumbu Sanggau Penajam Paser Utara
5 Koridor Ekonomi (KE) Sulawesi Makassar Palopo (Luwu) Mamuju-Mamasa Parepare
Kendari Kolaka Konawe Utara Morowali Parigi Moutang
Banggai Bitung 6 Koridor Ekonomi (KE) Papua –
Kep. Maluku Merauke (Mifee) Timika HalmaheraTeluk Bintuni Morotai Ambon Manokwari
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 3.5.
Sesuai dengan arahan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 te ntang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Ekonomi K husus atau KEK adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang d itetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona, a ntara lain pengolahan e kspor, logistik, industri, pengembangan te knologi, pariwisata, energi, dan ekonomi lainnya. Pembentukan KEK tersebut dapat melalui usulan dari Badan Usaha yang didirikan di Indonesia, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah provinsi, yang ditujukan kepada Dewan Nasional. Selain itu, Pemerintah Pusat juga da pat menetapkan suatu wilayah sebagai KEK yang dilakukan b erdasarkan usulan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian. Sedangkan lokasi KEK yang diusulkan dapat merupakan area baru maupun perluasan dari KEK yang sudah ada.
Usulan lokasi KEK harus memenuhi beberapa kriteria antara lain :
sesuai dengan Rencana T ata Ruang Wilayah dan tidak berpotensi mengganggu a.
kawasan lindung;
adanya dukungan dari pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota b.
yang bersangkutan;
terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional atau c.
dekat dengan jalur pelayaran internasional di In donesia atau terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan;
mempunyai batas yang jelas. d.
Adapun KEK berdasarkan arahan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus dipaparkan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2
Penetapan Lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Berdasarkan Arahan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011
NO LOKASI KAWASAN EKONOMI KHUSUS
(1) (2) (3)
1 Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara
Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangke
2 Kabupaten Pandeglang,
Banten Kawasan Ekonomi Khusus TanjungLesung 3 Kabupaten Kutai Timur,
Kalimantan Tmur Kawasan Ekonomi Khusus Maloy 4 Kota Bitung, Sulawesi Utara Kawasan Ekonomi Khusus Bitung