• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Subang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki potensi wisata yang tak kalah dengan potensi wisata lainnya di wilayah tersebut, seperti Bandung, Bogor, Purwakarta, Sumedang, Kuningan, Garut dan lain-lain. Menurut beberapa artikel yang beredar, selama ini yang dijadikan primadona atau andalan kunjungan wisata untuk Jawa Barat adalah Bandung. Subang yang berbatasan langsung dengan Bandung masih dipandang sebelah mata seperti ada anggapan kalau tidak ke Tangkuban Perahu atau Sari Ater rasanya tidak pergi ke Bandung, padahal yang namanya tempat wisata tersebut masuk wilayah kabupaten Subang. Selain wisata Tangkuban Perahu dan Sari Ater, masih banyak tempat wisata yang tak kalah menariknya. Kabupaten Subang sendiri memiliki banyak destinasi wisata, baik wisata alam, sejarah, dan budaya serta kuliner. Wilayah Subang yang teduh dan sejuk serta dengan kontur geografis yang lengkap memiliki pegunungan dan pantai memberikan keunikan tersendiri bagi wisatawan dalam memilih tempat wisata yang diinginkan.

Menurut Data dan Potensi Pariwisata Kabupaten Subang tahun 2015 (2016:3) potensi-potensi wisata Kabupaten Subang selain Tangkuban Perahu dan Sari Ater, ada tempat-tempat wisata yang bernama seperti Capolaga, merupakan air terjun dari aliran sungai Cimuja dan terdiri dari air terjun Cimuja, air terjun Karembong dan air terjun Sawer. Tempat ini memiliki keindahan alam yang unik seperti daerah masih sejuk, asri dan masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan serta akses jalan yang cukup menantang sehingga banyak diminati oleh wisatawan khususnya yang memiliki jiwa petualang. Curug Cjialu, merupakan tujuan wisata bagi pecinta alam yang senang melakukan kegiatan di alam terbuka khususnya berkemah. Sebelumnya curug ini dinamakan Curug Cikondang, namun setelah datang seorang pendekar (jawara) atau orang yang dianggap memiliki taji/jalu (seperti senjata pada kaki ayam atau disebut siih dalam bahasa sunda) maka menjadi Curug Cjialu. Curug Cileat, merupakan salah satu objek wisata yang masih alami mempunyai ketinggian kurang lebih 100 meter. Iklimnya yang sejuk dan panoramanya yang indah membuat pengunjung betah untuk berlama lama. Kampung Jatimas, merupakan Kampung wisata yang terletak didaerah Tambak Mekar, memiliki wisata alam yang asri dan pemandangan yang indah. Tempat ini cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta. Selain tempat

(2)

wisata alam yang berada di wilayah Kabupaten Subang. Terdapat juga wisata agro di Kabupaten Subang seperti perkebunan nanas yang dikenal dengan nanas simadu. Demikian juga dengan oleh-olehnya seperti Krupuk Miskin, Oncom Dawuhan dan oleh-oleh khas lainnya.

Mengenai wisata budaya Subang memiliki beberapa kesenian seperti Gotong Singa atau dikenal Sisingaan, merupakan kesenian tradisional yang di pertunjukan untuk hajatan sunatan, kawinan dan digunakan juga sebagai penyambutan tamu. Kesenian Toleat merupakan alat musik khas Kabupaten Subang yang terbuat bambu (awi dalam bahasa sunda) yang ditiup seperti suling namun suara yang dihasilkan mirip saksofon. Alat musik ini terinspirasi dari alat musik

empet-empetan dan ole-olean yang terbuat dari jerami atau batang padi sisa panen. Toleat biasanya

dimainkan ketika mengembala namun kini sudah menjadi seni pertunjukkan untuk mengiri alat musik .

Menurut data wawancara dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Subang sendiri terbagi menjadi 3 zone yaitu Subang Selatan, Subang Tengah dan Subang Utara. Bagian selatan merupakan daerah dataran tinggi dan pegunungan, Bagian tengah berupa dataran dan menjadi pusat kota, sedangkan bagian utara merupakan dataran rendah yang menuju Laut Jawa. Sedangkan menurut data lain disebutkan bahwa sebagian besar daerah Kabupaten Subang merupakan perkebunan, baik milik negara maupun milik masyarakat setempat, lalu ada hutan dan tentunya lokasi Pariwisata yang ada di sekitar Kabupaten Subang. Sebenarnya wisata disuatu tempat di daerah Kabupaten Subang itu sudah mencakup semuanya baik wisata alamnya, budayanya, kulinernya, bahkan sejarahnya pun ada , itu dalam satu tempat wisata. Kabupaten Subang juga sering dimanfaatkan sebagai jalur alternatif untuk pergi ke tempat lain, seperti Bandung, Sumedang, Cirebon, Tasikmalaya, maupun Jakarta. Selain jalannya yang bebas hambatan, Kabupaten Subang memiliki Tol yang mengarah ke Jakarta, yaitu Tol Cipali yang merupakan Tol perbatasan antara Cikampek ke Palimanan.

Informasi mengenai wisata Kabupaten Subang sudah ada namun tidak terlalu gencar, dalam sebuah artikel disebutkan bahwa Kabupaten Subang sendiri kurang gencar dalam berpromosi sehingga Kabupaten Subang kurang dikenal oleh masyarakat luar, untuk buku panduan wisata dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga sudah ada namun masih banyak tempat baru yang belum terdata atau terdaftar, sehingga para wisatawan hanya berkunjung ke daerah atau tempat yang itu-itu saja, informasi yang ditampilkan masih kurang lengkap

(3)

dikarenakan pada tahun 2016 sampai 2017 ini banyak tempat wisata yang baru muncul atau sudah tidak beroperasi lagi. Kota Subang sendiri sebenarnya memiliki potensi-potensi dalam berbagai bidang terutama dalam bidang pariwisata, masih banyak tempat di Kabupaten Subang yang belum ter-explore, sehingga perlu diangkat perlunya dibuat Buku Panduan Wisata. Buku sendiri dipilih karena memuat banyak informasi, data yang akurat serta Buku memiliki kesan tersendiri bagi penggunanya. Biasanya para wisatawan biasa mengandalkan internet namun masih banyak tempat wisata yang belum tercantum di dalam internet atau para wisatawan biasanya bertanya pada masyarakat sekitar namun terkadang beberapa masyarakat masih belum tahu atau kurang tahu jelas tempat wisata tersebut. Jadi dapat ditarik kesimpulan, Buku dipilih karena dapat memuat informasi yang lebih banyak, selain itu Buku dapat dibawa kemana-mana, dan juga tidak perlu mengandalkan sinyal seperti Internet. Selain itu Buku juga tidak membuat mata cepat lelah. Buku juga membuat kita fokus pada satu sumber yang kita baca kalau dibandingkan dengan internet yang bisa saja saat membaca kita mendapat notif pesan, pop up dan sebagainya. Lalu keunggulan buku yang lain adalah sensasi tersendiri ketika kita membuka buku tersebut, dari membuka plastik pembungkus, halaman demi halaman, aroma kertas dari buku tersebut, bahkan ada beberapa buku yang memilki kertas yang wangi atau berbahan unik yang bisa kita rasakan langsung tekstur dan sebagainya disbanding gadget yang layarnya rata rata berbahan tempered glass atau gorilla glass. Karena beberapa tempat wisata masih susah sinyal internet, ini terjadi pada pengalaman pribadi penulis.

Menurut Data dan Potensi Pariwisata Kabupaten Subang tahun 2015 (2016:20) terlihat jumlah pengunjung cukup banyak dari beberapa tempat namun ada juga yang masih sedikit yang mengunjungi. Selain itu Menurut data wawancara dengan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga adanya program pengembangan 6 Desa Wisata di Kabupaten Subang, yaitu Desa Wisata Cibuluh, Desa Wisata Cibeusi, Desa Wisata Bunihayu, Desa Wisata Cisaat, Desa Wisata Cirangkong, dan Kampung Adat Banceuy. Juga akan diadakannya Program Pengembangan Lokasi Wisata yaitu Wisata Bahari Gagara Menyan, Wisata Edukatif Situs Makam Candrawulan, Objek Wisata Cirewang, Objek Edukatif Situs Makam Syekh Jamaludin dan Kampung Wisata Cikendung.

Berdasarkan permasalahan diatas penulis melihat perlunya dibuat Perancangan Buku Wisata Kabupaten Subang, sebagai penunjang informasi agar wisatawan tertarik mengunjungi

(4)

Kabupaten Subang sehingga lebih dikenal oleh masyarakat luar, dan juga dikenal apa yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut dan terutama bisa mengenalkan kembali wisata yang berpotensi dan memiliki daya tarik yang menarik. Selain itu Kabupaten Subang sendiri diangkat karena selain memiliki potensi yang belum ter-explore, Kabupaten Subang juga memiliki alam yang indah dan juga sejuk juga asri dan cocok dikunjungi bagi masyarakat yang berasal dari luar kota terutama yang berasal dari kota besar, karena Kabupaten Subang sendiri daerah nya di dominasi oleh perkebunan, pesawahan, pantai dan sebagainya yang jarang ada di kota-kota besar. Selain menampilkan Objek Wisata yang berpotensi di Kabupaten Subang, buku tersebut akan memberikan informasi tentang daerah Kabupaten Subang itu sendiri secara singkat dan menampilkan infografis / peta daerah Kabupaten Subang. Buku ini akan terbagi menjadi buku seri yaitu Buku Wisata Alam, Buku Wisata Kebudayaan, dan Buku Wisata Kuliner atau dalam satu buku sudah mencakup semuanya yang berupa panduan.

1.2 Permasalahan

1.2.1 Identifikasi Masalah

1. Banyak potensi wisata Kabupaten Subang belum dikenal terutama wisata alamnya.

2. Kurang gencarnya media informasi terutama tentang Buku Panduan Wisata Kabupaten Subang, sehingga kurang dikenal oleh masyarakat luar kota.

1.2.2 Rumusan Masalah

Bagaimana merancang Buku Panduan Wisata Alam Kabupaten Subang yang menarik dan efektif untuk wisatawan lokal dan luar kota.

(5)

1.2.3 Ruang Lingkup Masalah

Dari identifikasi masalah dan rumusan masalah diatas maka didapatkan beberapa poin ruang lingkup masalah sebagai berikut.

1. Apa

Perancangan Buku Panduan Wisata Alam Kabupaten Subang, Jawa Barat. 2. Siapa

Masyarakat lokal dan luar kota, yang memiliki gaya hidup senang tempat-tempat yang baru, memiliki jiwa petualang. Berusia sekitar 20 – 35 tahun yang memiliki semangat jiwa muda. 3. Bagaimana

Buku ini akan menampilkan Wisata Alam Kabupaten Subang ditambah beberapa Wisata Lainnya seperti Wisata Buatan, Wisata Kuliner, dan sebagainya dalam bentuk buku panduan. 4. Tempat

Kabupaten Subang, Jawa Barat. 5. Kapan

Antara Februari 2017 hingga Juni 2017.

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk membuat satu Buku Panduan Wisata Alam Kabupaten Subang, sebagai yang bermanfaat untuk lebih mengenalkan lagi Wisata Kabupaten Subang kepada wisatawan lokal maupun luar kota.

1.4 Cara Pengumpulan Data 1.4.1 Studi Pustaka

Studi pustaka adalah proses peneliti membaca buku agar referensi yang dimilikinya semakin luas dan untuk mengisi frame of mind. Dengan studi pustaka juga dapat memperkuat perspektif dan kemudian meletakkannya di dalam konteks. (Soewardikoen, 2013:16)

(6)

Studi pustaka dilakukan penulis terhadap Wisata Kabupaten Subang untuk mengkonfirmasi data dengan membaca buku dari Perpustakaan, Pasar Buku Bekas, Toko Buku yang berhubungan dengan Kabupaten Subang, Pariwisata Kabupaten Subang, Data dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olahraga lalu literatur yang mendukung .

1.4.2 Wawancara

Menurut Koentjaraningrat (1980:165), dalam Soewardikoen disebutkan Wawancara adalah intsrumen penelitian. Mencoba mentdapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari narasumber, dengan bercakap cakap dan berhadapan muka (Soewardikoen, 2013:30). Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang tidak menggunakan daftar pertanyaan tertulis karena semua pertanyaan disimpan di dalam otak pewawancara, dan pertanyaan dikeluarkan dengan sangat memperhitungkan suasana pembicaraan (Soewardikoen, 2013:32).

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang menggunakan daftar pertanyaan tertulis yang telah direncanakan sebelumnya, diajukan kepada setiap narasumber dengan urutan yang sama (Soewardikoen, 2013:32). Wawancara dilakukan kepada Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Subang dan Pengurus / Pengelola Tempat Wisata.

1.4.3 Observasi

Menurut Margono (2007:157), pada dasarnya teknik observasi digunakan untuk melihat dan mengamati perubahan fenomena–fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang yang kemudian dapat dilakukan perubahan atas penilaian tersebut, bagi pelaksana observaser untuk melihat obyek moment tertentu, sehingga mampu memisahkan antara yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan. Observasi dilakukan dengan mengunjungi tempat tempat wisata yang ada di Kabupaten Subang.

1.5 Analisis Data / Visual

1.5.1 Matriks Perbandingan

Matriks perbandingan atau Analisis matriks terdiri dari kolom dan baris yang masing-masing mewakili dua dimensi yang berbeda, dapat berupa konsep atau kumpulan informasi. Pada

(7)

prinsipnya analisis matriks adalah juxtaposition atau membandingkan dengan cara menjajarkan. Obyek visual apabila dijajarkan dan dinilai menggunakan satu tolak ukur yang sama maka akan terlihat perbedaannya (Soewardikoen, 2013:60).

Menurut Rohidi (2011:247), dalam Soewardikoen, Matriks merupakan alat yang rapi baik bagi pengelolaan informasi maupun analisis (Soewardikoen, 2013:61).

1.6 Kerangka Penelitian

Latar Belakang Masalah

Kabupaten Subang masih hanya sekedar di lewati saja dan banyak potensi wisata yang masih belum dikenal terutama wisata alamnya. Media informasi yang masih

kurang terutama dalam bentuk buku panduan.

Studi Literatur Mencari buku di perpustakaan, pasar

buku bekas, toko buku.

Wawancara Wawancara dengan Dinas

Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga Kabupaten Subang dan

Masyarakat sekitar.

Observasi

Tempat Wisata yang ada di Kabupaten Subang.

Analisis Data /Visual Membuat Matriks Perbandingan.

(8)

1.7 Pembabakan

BAB I PENDAHULUAN

Berisi kata pengantar, latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat, waktu dan tempat pelaksanaan, metodologi penelitian, kerangka teori dan pembabakan.

BAB II DASAR PEMIKIRAN

Teori yang digunakan terkait dengan Pariwisata maupun Kabupaten Subang, sebagai pijakan / landasan untuk menganalisis permasalahan yang diteliti

BAB III URAIAN DATA HASIL SURVEY & ANALISIS Gambar 1.1 Kerangka Penelitan

(Sumber : Dokumen Pribadi)

Perancangan

Membuat rancangan dari sketsa, hingga penerapan kedalam media.

Final

(9)

Berisi hasil survey / pengumpulan data yang diuraikan dengan didapatkan di lapangan. Disusun secara sistematis dan beraturan.

BAB IV KONSEP DAN HASIL PERANCANGAN

Berisi Konsep yang berhubungan dengan Perancangan Buku Pariwisata Kabupaten Subang dan Hasil Perancangan berupa Sketsa dan Penerapan pada media.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan berdasarkan Tujuan Penelitian. Saran sebagai solusi prmasalahan. Daftar Pustaka yakni Literatur yang dipakai untuk Teroi. Sumber lain seperti Jurnal, Artikel dan sebagainya.

Referensi

Dokumen terkait

Data pada penelitian ini diperoleh dari instrumen berupa angket tentang ekstrakurikuler tapak suci yang diberikan kepada seluruh peserta didik SMA Muhammadiyah 3

Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan perencanaan pelatihan mamaos, metode pelatihan mamaos, dan materi pelatihan mamaos pada usia remaja di Padepokan

Empat palang terhubung terdiri dari rangka belakang yang tidak miring, rangka depan yang miring dan 2 palang terhubung yang menghubungkan rangka depan dan belakang

yang muncul setiap hari Dan diharapakan setelah dilakukannya perbaikan terhadap modus permasalahan yang tertinggi, angka prioritas resiko akan berkurang sehingga prioritas

Adapun tujuan diadakannya PK2MABA FIB UB 2018 adalah untuk memberi pengenalan yang layak kepada para mahasiswa tentang kehidupan kampus agar mahasiswa baru bisa beradaptasi

Suatu tantangan bahwa secara kompetensi & tanggung jawab maka SE sdh bisa dikatakan sebagai profesi namun sampai dengan hari ini belum ada semacam pengakuan secara resmi belum

Berdasarkan hasil uji ANOVA atau uji F pada tabel 4.7 terlihat bahwa nilai F hitung sebesar 31,442 dan nilai signifikansi sebesar 0,000, dengan menggunakan