I. PENDAHULUAN
(dr. Armein Sjuhary Rowi, M.Kes)
Sejak pertama kali didirikan dan terselenggara,
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) berbentuk
sebagai suatu organisasi. Walaupun tidak mencari
keuntungan (profit) karena Puskesmas adalah fasilitas
Pemerintah, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa
pengelolaan Puskesmas menyerupai perusahaan, yang
membutuhkan pendapatan, agar dapat meningkatkan
mutu penyelenggaraannya. Oleh karena itu Puskesmas
bukan sekedar perkumpulan yang ditunjang oleh
fasilitas dan operasional saja, melainkan suatu wadah
yang memiliki sistem.
Sistem yang berjalan di Puskesmas menentukan
bagaimana penyelenggaraannya. Jika sistem sudah
terbentuk
dengan
baik,
maka
penyelenggaraan
Puskesmas akan berlangsung dengan baik pula.
Penyelenggaraan
Puskesmas
sebagaimana
yang
dimaksud telah diatur dalam Peraturan Menteri
Kesehatan
Nomor
75
Tahun
2014,
yaitu
Penyelenggaraan yang meliputi pelayanan kesehatan
atau upaya kesehatan. Karena ruang kerja Puskesmas
adalah suatu wilayah, maka penyelenggaraan upaya
kesehatan mencakup upaya kesehatan terhadap
masyarakat di wilayahnya. Kemudian Puskesmas turut
menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara klinis
atau perorangan, sehingga upaya kesehatan juga
mencakup upaya kesehatan perorangan.
Tidak boleh diabaikan bahwa penyelenggaraan
Puskesmas harus memiliki tata kelola yang baik agar
sistem dapat berjalan dengan seharusnya, sehingga
memerlukan adanya pengadministrasian manajemen.
Dengan
demikian
jika
disimpulkan,
maka
penyelenggaraan
Puskesmas
akan
mencakup
Administrasi Manajemen (Admen), Upaya Kesehatan
Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan
(UKP). Ketiga penyelenggaraan ini membentuk sistem
yang berjalan di Puskesmas.
Untuk mengetahui apakah sistem penyelenggaraan
Puskesmas sudah berjalan seperti yang diharapkan,
maka
dilakukan
standarisasi
penyelenggaraan
Puskesmas baik Admen, UKM atau UKP. Standarisasi
yang dimaksud adalah penetapan indikator-indikator
yang seharusnya dicapai oleh Puskesmas.
Indikator-indikator ini juga mengalami peningkatan seiring
berkembangnya Puskesmas yang menunjukkan bahwa
standar Puskesmas akan mencapai suatu kualitas atau
mutu. Puskesmas dikatakan telah memenuhi standar
dalam penyelenggaraannya apabila terjadi peningkatan
mutu secara terus menerus (continous of quality).
Bagaimana mengetahui bahwa Puskesmas sudah
memenuhi standar dalam penyelenggaraannya, atau
apakah Mutu Penyelenggaraan di Puskesmas selalu
meningkat dari waktu ke waktu? Cara yang paling baik
untuk mengetahuinya adalah melakukan audit
terhadap penyelenggaraan Puskesmas. Audit yang
dilakukan secara berkala, diharapkan akan menjadi
pengontrol sehingga standar atau pencapaian mutu
Puskesmas tetap berjalan.
Jika melihat suatu proses audit, maka akan
didapatkan gambaran bahwa audit adalah kegiatan
mencari kesenjangan atau hal-hal yang tidak berjalan
sebagaimana mestinya. Puskesmas merupakan fasilitas
kesehatan yang tidak serta merta didirikan sesempurna
mungkin, sehingga konsep audit yang dibutuhkan
bukan sekedar mencari-cari kesalahan Puskesmas.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Kesehatan RI
telah mengeluarkan tata cara mengaudit Puskesmas
dengan Konsep yang dinamakan Akreditasi. Akreditasi
adalah bentuk audit terhadap Puskesmas yang sudah
terstandar, sehingga diharapkan memberikan efek
perbaikan yang signifikan dan terencana.
Keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46
tahun 2015 tentang Akreditasi menjelaskan bagaimana
metode dan teknisnya. Secara operasional, Akreditasi
berarti pengakuan yang diberikan oleh Kementerian
Kesehatan lewat Badan atau Komisi Akreditasi terhadap
fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, yang
dianggap telah memenuhi standar mutu pada
manajemen dan layanannya. Pengakuan ini diberikan
dalam secarik kertas yang berbentuk sertifikat. Bukan
melihat bentuknya, tetapi makna akreditasi sendiri
yang perlu dipahami, terutama efek perbaikannya bagi
Puskesmas. Pelaksanaan akreditasi tidak seperti audit
biasa, karena terdapat pembinaan dan bimbingan
terhadap Puskesmas. Oleh karena itu audit Akreditasi
disebut dengan survei dan pelaksanaan akreditasi
Puskesmas adalah survei akreditasi bagi Puskesmas.
Survei yang dimaksud adalah tinjauan terhadap kondisi
atau keadaan Puskesmas, apakah sudah sesuai dengan
standar mutu. Akreditasi wajib dilaksanakan secara
terus menerus untuk mempertahankan standar
tersebut, dengan tingkatan status akreditasi. Tingkatan
status ini disusun secara berjenjang dengan sebutan
strata, dimulai dari yang terendah yaitu Akreditasi
Dasar, kemudian Akreditasi Madya, Akreditasi Utama
dan yang tertinggi adalah Akreditasi Purnama.
Strata-strata ini juga menjadi bukti sampai dimana standar
yang sudah dicapai Puskesmas.
Untuk melaksanakan kegiatan survei akreditasi,
diperlukan suatu alat (tools) dalam pelaksanaannya.
Alat yang dimaksud disebut dengan Instrumen
Akreditasi. Karena alat ini adalah pengukur bagaimana
penyelenggaraan Puskesmas yang sudah sesuai dengan
standar, maka instrumen akreditasi wajib dipahami
dengan sebaik-baiknya. Instrumen Akreditasi sendiri
disusun dengan Pola Klausul seperti instrumen audit
pada
ISO
(audit
manajemen
mutu)
dengan
pengembangan yang lebih cocok untuk puskesmas,
terutama penambahan konsep layanan mutu. Ada
sembilan Bab dalam instrumen akreditasi. Tiga Bab
pertama (Bab I, Bab II dan Bab III) adalah instrumen
untuk Admen, tiga Bab selanjutnya (Bab IV, Bab V dan
Bab VI) adalah instrumen untuk UKM dan tiga bab
terakhir (Bab VII, Bab VIII dan Bab IX) adalah
instrumen untuk UKP. Bab-bab ini juga dikelompokkan
dalam pola Bab Operasional (Bab I, Bab IV dan Bab VII),
Bab Penunjang (Bab II, Bab V dan Bab VIII) dan Bab
Mutu (Bab III, Bab VI dan Bab IX).
Pelaksanaan Akreditasi Puskesmas bukan sekedar
kegiatan survei selama tiga hari saja, tetapi bagaimana
mempersiapkan puskesmas sedemikian rupa agar
benar-benar layak untuk diakreditasi atau mendapat
pengakuan. Persiapan puskesmas tidak boleh sesaat
saja,
tetapi
harus
kontinyu,
terstruktur
dan
menyeluruh hingga ke sistemnya. Oleh karena itu perlu
adanya komitmen Puskesmas mulai dari Kepala
Puskesmas hingga staf terkecil, kemudian pembinaan
dan pendampingan yang dilaksanakan oleh Dinas
Kesehatan. Apabila Puskesmas benar-benar telah siap,
maka akan diusulkan untuk dilakukan survei
Akreditasi.
Barang siapa pada hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia
mendapatkan rahmat Allah SWT
II. AKREDITASI SEBAGAI SURVEI STANDAR MUTU
PUSKESMAS
1. Apa itu Akreditasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan?
Lihat Permenkes No. 46 Tahun 2015
2. Bagaimana membuat Puskesmas memenuhi Standar
Akreditasi?
3. Bagaimana memahami Puskesmas?
Lihat Permenkes No. 75 Tahun 2014
Definisi Puskesmas :
•
Fasilitas Pelayanan Kesehatan
(Fasyankes)
•
Penyelenggara UKM dan UKP tingkat I
•
Prioritas promotif dan preventif
4. Bagaimana memahami Fasyankes sesuai konsep
Akreditasi
5. Bagaimana memahami Penyelenggaraan Puskesmas
6. Apa saja yang termasuk dalam Upaya Kesehatan
Masyarakat (UKM)
7. Apa saja yang termasuk dalam Upaya Kesehatan
Perorangan (UKP)
8. Bagaimana membuat penyelenggaraan Puskesmas
sesuai Standar
9. Bagaimana memperbaiki Sistem dan mengelola
Sarpras/Alkes termasuk Fisik Puskesmas?
10. Bagaimana menata dan mengelola sistem di Puskesmas
Analisis Kebutuhan dan Harapan
11. Step by step Pelaksanaan Akreditasi
NO KEGIATAN TUJUAN HASIL
1 Lokakarya
Akreditasi Menyatukan pemahaman akreditasi KAK, undangan, Notulen, Laporan Kegiatan, Absensi 2 Penggalangan Komitmen Kesepakatan untuk menyiapkan puskesmas terakreditasi Dokumen dan Dokumentasi Komitmen 3 Membentuk Panitia Persiapan Akreditasi
Terbentuknya panitia yang mengatur jalannya
akreditasi, termasuk revisi dokumen Panitia : Koordinator Perlengkapan dan Dokumen, Revisi Dokumen 4 Pembentukan/
penguatan Pokja Tugas dan Fungsi Pokja, pemahaman instrumen Pembagian penanggungjawab per EP
NO KEGIATAN TUJUAN HASIL 5 Pertemuan/
Workshop Meningkatkan pemahaman (konsentrasi Elemen Penilaian) Staf menguasai Elemen Penilaian 6 Pemahaman Tupoksi dan Kompetensi
Staf memahami Tupoksi dan
kompetensi Staf paham Tupoksi dan
kompetensi sesuai perannya dalam penyelenggaraan Puskesmas 7 Pemahaman Sistem di Puskesmas (RPJMD, Renstra, Visi, Misi Dinkes)
Semua staf paham dan dapat menyesuaikan tugas dengan Kebijakan Menyelaraskan kebijakan dengan tugas masing2 8 Pembenahan Struktur Organisasi Puskesmas Struktur sesuai PMK 75 (SK
Kadinkes) Struktur sesuai PMK 75 (SK Kadinkes) 9 Pembenahan regulasi dan dasar hukum penyelenggaraan Puskesmas Diperoleh acuan/regulasi
penyelenggaraan Puskesmas UU Kesehatan UU Nakes UU Pradok Permenkes 75 Permenkes 5 10 Staf membuat rencana kegiatannya Sesuai dengan penyelenggaraan
Puskesmas, diajukan untuk Rencana 5 thn, RUK, RPK Rencana Kegiatan mulai dari kebijakan, kerangka acuan, SOP, capain/target dan sasaran kinerjanya 11 Pelaksanaan kegiatan sesuai program (buat pencatatan kegiatan sehari-hari (buku log dan buku visum
Sebagai bahan masukan kegiatan untuk menetapkan program/ penyelenggaraan puskesmas Masukan staf (buku log/visum) di periksa Kapus, menjadi data/bahan kegiatan puskesmas 12 Melaksanakan
Lokmin Hasil kegiatan dan temuan dimasukkan dalam Lokmin Analisis masalah, perencanaan pemecahan, evaluasi, rekomendasi, tindak lanjut (date line, kapan di closing)
NO KEGIATAN TUJUAN HASIL 13 Masukan hasil
kegiatan Puskesmas
Sebagai bahan untuk
pembuatan RUK/RPK tahun selanjutnya
Bahan RUK/RPK
14 Masukan pada kegiatan
Musrembang
Sebagai bahan untuk mengintegrasikan kegiatan secara lintas sektor
Bahan masukan musrembang 15 Umpan balik ke Puskesmas dan Dinas Kesehatan Mengintegrasikan program penyelenggaraan di Puskesmas Puskesmas menetapkan penyelenggaraan Program yang terstandar dan sesuai Kebutuhan dan harapan Masyarakat, didukung oleh Dinas Kesehatan 16 Monitoring dan
Evaluasi Pengawasan terhadap semua kegiatan Puskesmas Hasil evaluasi, rekomendasi dan tindak lanjut dan bahan untuk PKP
III. MEMAHAMI INSTRUMEN AKREDITASI
1. Apa itu Instrumen Akreditasi?
Alat (tools) yang disusun untuk melaksanakan survei
akreditasi, yang menjadi pedoman apa saja yang
dinilai/disurvei pada penyelenggaraan Puskesmas,
sesuai dengan Permenkes No. 46 Tahun 2015
No JUDUL JML STDR JML KRIT JML EP I Penyelenggaraan Pelayanan Puskesmas. (PPP) 3 13 59 II Kepemimpinan & Manajemen Puskesmas. (KMP) 6 29 121 III Peningkatan Mutu & Manajemen Risiko (PMMR) 1 7 32 IV Upaya Kes. Masy, yg Berorientasi Sasaran (UKMBS) 3 1 53 V K’pemimpinan & M’jemen Upaya Kesmas (KMUKM) 7 22 101
VI Sasaran Kinerja UKM 1 6 29
VII Layanan Klinis yg Berorientasi Pasien (LKBP) 10 33 151 VIII M’najemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK) 7 36 172 IX Peningkt. Mutu Klinis & Keselamatan Pasien (PMKP) 4 12 58
TOTAL 42 168 776
3. Memahami Esensi tiap Bab
Instrumen Akreditasi merekomendasikan apa saja yang
wajib dipenuhi oleh Puskesmas untuk layak
terakreditasi, semua rekomendasi tersebut telah
diuraikan mulai dari Bab hingga Elemen Penilaian.
Untuk bisa melaksanakan dan menyediakan apa yang
direkomendasikan oleh Instrumen Akreditasi, maka
harus paham Esensi tiap Bab.
Pembagian 9 Bab Instrumen Akreditasi
•
3 Bab Pertama Administrasi Manajemen
•
3 Bab Kedua Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
•
3 Bab Ketiga Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)
Pengelompokan Tiga Bab terdiri atas :
•
Bab Awal Operasional (penyelenggaraan) (Bab 1,4,7)
•
Bab Pertengahan Kepemimpinan manajemen (pengelolaan) (Bab 2,5,8)
•
Bab Terakhir Mutu (peningkatan) (Bab 3,6,9)
Esensi Bab I :
1. Perencanaan sesuai kebutuhan masyarakat:
• Ketersediaan Pelayanan Puskesmas sesuai prioritas kebutuhan masyarakat
• Perencanaan Puskesmas berdasarkan hasil analisis kebutuhan
masyarakat (community health analysis), keterlibatan aktif masyarakat melalui SMD & MMD
• Inovasi peluang pengembangan berdasarkan kebutuhan prioritas • Disusun perencanaan lima tahunan/perencanaan strategi bisnis
(BLUD)
• Perencanaan Operasional yang terintegrasi (RUK & RPK) (RBA & RPK, untuk BLUD)
2. Akses dan Pelaksanaan Kegiatan Puskesmas:
• Akses terhadap Informasi ttg ketersediaan pelayanan • Akses terhdap pelayanan
• Penjadwalan kegiatan yang disepakati bersama
• Mekanisme kerja, komunikasi dan koordinasi dalam memberikan pelayanan
• Upaya mengatasi jika terjadi permasalahan dalam pelayanan • Keluhan dan umpan balik terhadap keluhan
3. Evaluasi Kinerja Puskesmas Esensi Bab II :
1. Tata kelola sarana Puskesmas:
• Pemenuhan terhadap persyaratan perijinan
• Pemenuhan terhadap persyaratan bangunan dan ruangan • Pemenuhan terhadap persyaratan prasarana (system utilitas) • Pemenuhan terhadap persyaratan peralatan
• Pemenuhan terhadap persyaratan ketenagaan 2. Kegiatan Pengelolaan Puskesmas
• Pengorganisasian: struktur organisasi, kejelasan tugas tanggung jawab dan kewenangan, kaji ulang struktur
• Persyaratan kompetensi untuk pengelola • Orientasi karyawan baru
• Penyelenggaraan puskesmas sesuai dengan visi, misi, tujuan, tata nilai • Arah strategi dalam penyelenggaraan puskesmas
• Peran puskesmas sbg fasilitator pembangunan berwawasan kesehatan • Akuntabilitasi pengelola
• Pendelegasian wewenang
• Hubungan kerjssama lintas sector dan lintas program • Komunikasi internal
• Sistem pendokumentasian
• Pengamanan lingkungan dari risiko • Penilaian kinerja
• Pengelolaan keuangan
• Pengelolaan data dan infromasi • Hak dan kewajiban pengguna • Kontrak dengan pihak ketiga
Esensi Bab III :
1. Peningkatan mutu dan kinerja Puskesmas:
• Penanggung jawab manajemen mutu harus ditetapkan dengan kejelasan tugas tanggung jawab dan wewenang
• Pedoman peningkatan mutu dan kinerja • Perencanaan perbaikan mutu dan kinerja
• Pengukuran mutu dan kinerja dengan indicator yang jelas
• Perbaikan mutu dan kinerja yang berkesinambungan berdasarkan penilaian mutu dan kinerja
• Peran pimpinan dan seluruh karyawan dalam peningkatan mutu dan kinerja
• Evaluasi perbaikan kinerja melalui audit internal
• Pemberdayaan pengguna dalam perbaikan mutu dan kinerja • Kajibanding jika dimungkinkan
Esensi Bab IV :
1. Perencanaan kegiatan Upaya Puskesmas:
• Kegiatan dalam setiap Upaya Puskesmas disusun berdasar analisis kebutuhan dan harapan masyarakat dituangkan dalam perencanaan Upaya
• Pembahasan konsultatif dengan masyarakat dan sasaran, upaya untuk memperoleh umpan balik dari masyarakat/sasaran
• Peluang inovatif upaya puskesmas
2. Akses masyarakat dan sasaran terhadap Upaya Puskesmas:
• Akses masyarakat, lintas program, lintas sector terhadap informasi: jadual kegiatan
• Kesepakatan penjadualan
• Akses masyarakat/sasaran terhadap kegiatan Upaya Puskesmas 3. Pelaksanaan kegiatan Upaya Puskesmas:
• Pelaksanaan kegiatan tepatan waktu, tepatan sasaran, • pencapaian target kinerja Upaya Puskesmas
• Umpan balik dan tindak lanjut terhadap keluhan
• Identifikasi masalah dalam pelaksanaan kegiatan analisis dan tindak lanjut
Esensi Bab V :
1. Tanggung jawab pengelolaan Upaya:
• Penetapan tujuan, sasaran dan tata nilai dan informasi kepada pihak terkait
• Komunikasi dan koordinasi dalam pencapaian tujuan, pencapain kinerja, dan pelaksanaan
• Penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif • Minimalisasi risiko terhadap lingkungan
• Tanggung jawab dalam memfasilitasi pemebrdayaan masyarakat mulai dari pelrencanaan sd evaluasi
2. Perencanaan Kegiatan Upaya Puskesmas:
• Perencanaan upaya yang terintegrasi dengan RUK, yang dilakukan melalui kajian kebutuhan masyarakat
• Revisi perencanaan jika diperlukan 3. Pengorganisasi upaya:
• Kejelasan tugas wewenang dan tanggung jawab yang dituangkan dalam uraian tugas dari penanggung jawab dan pelaksana
4. Komunikasi dan koordinasi
5. Kebijakan dan prosedur dalam pelaksanaan Upaya Puskesmas 6. Kebijakan dan prosedur evaluasi kepatuhan pelaksanaan terhadap
peraturan, kerangka acuan, prosedur
7. Pengarahan Kepala Puskesmas, Penanggung jawab terhadap pelaksana 8. Ketetapan dan pelaksanaan evaluasi kinerja Upaya
9. Akuntabilitas pengelolaan dan pelaksanaan upaya: • Kejelasan indicator kinerja Upaya
• Monitoring dan evaluasi berdasar indicator
10. Penyelenggaraan upaya yang memperhatikan hak dan kewajiban sasaran 11. Aturan main dalam penyelenggaraan upaya
Esensi Bab VI :
1. Budaya perbaikan kinerja Upaya
2. Perbaikan keinrja yang berkesinambungan yang terdokumentasi
3. Peran Kepala Penanggung jawab, Pelaksana dalam perbaikan mutu dan kinerja Upaya
4. Pemberdayaan sasaran dalam perbaikan kinerja
• Access (Akses/pendaftaran) • Entry (Masuk) • Assess (Pengkajian) • Plan (Perencanaan) • Implementation (Pelaksanaan) • Evaluation (Penilaian) • Discharge (Pemulangan) 2. Pendaftaran :
• Proses pendaftaran sesuai kebutuhan dan keselamatan • Informasi yang harus ada di pendaftaran:
• Sarana pelayanan: Jenis pelayanan, tariff, ketersediaan layanan, rujukan, dsb
• Hak dan kewajiban pasien • Tahapan pelayanan
• Pendaftaran memperhatikan kendala yang dimiliki oleh pasien 3. Pengkajian :
• Paripurna, mengakomodasi kebutuhan dan harapan pasien • Berisi kajian: medis, keperawatan, kajian kesehatan yang lain • Dicatat dalam rekam medis
• Pemberian prioritas pada pasien dengan kedaruratan
• Keputusan layanan klinis dilakukan oleh tenaga yang kompeten • Pengkajian dilakukan dengan peralatan dan sarana memadai 4. Rencana
• Dipandu dengan kebijakan dan prosedur yang efektif
• Disusun bersama dengan pasien dengan memerhatikan kebutuhan biopsikososiospiritual, dan tata nilai budaya
• Disusun secara komprehensif oleh tim kesehatan jika diperlukan • Rencana layanan disusun dengan mempertimbangkan risiko • Rencana layanan memuat pendidikan pasien
• Rencana layanan didokumentasikan dalam rekam medis • Persetujuan tindakan medis
5. Rencana Rujukan :
• Dipandu prosedur yang jelas • Informasi rujukan
• Kerjasama dengan fasilitas rujukan
• Kewajiban membuat resume tertulis tentang kondisi klinis • Didampingi oleh staf yang kompeten
6. Pelaksanaan Layanan
• Dipandu oleh pedoman pelayanan klinis
• Kebijakan dan Prosedur khusus untuk kasus gawat darurat dan berisiko tinggi
• Kebijakan dan prosedur penanganan pemberian darah atau produk darah (jika dilakukan)
• Sesuai dengan rencana layanan • Mempertimbangkan hak pasien
• Menghindari pengulangan yang tidak perlu
• Hak pasien untuk menolak/tidak melanjutkan pengobatan
• Jika melakukan anestesi, sedasi, dan pembedahan: dipandu oleh standar yang baku
• Termasuk pendidikan kesehatan dan konseling kepada pasien/keluarga • Rawat inap: pengelolaan nutrisi sesuai standar
7. Pemulangan dan Tindak Lanjut : • Dipandu oleh prosedur
• Ada kriteria pemulangan • Prosedur tindak lanjut
• Umpan balik antar sarana kesehatan
• Prosedur untuk pasien yang memerlukan rujukan tetapi tidak mungkin dilakukan
• Prosedur rujukan sesuai dengan kebutuhan dan pilihan pasien) Esensi Bab VIII :
1. Pelayanan Laboratorium :
• Jenis pemeriksaan yang tersedia dan prosedurnya • Pelaksanaan pemeriksaan dan pemantauannya
• Petugas yang kompeten untuk melakukan pemeriksaan
• Pengelolaan reagen, labeling, penyimpanan, ketersediaan reagen esensial • Penetapan nilai normal dan rentang nilai
• Interpertasi oleh tenaga yang kompeten • Penanganan specimen berisiko tinggi
• Penanganan B3B dan pembuangan limbah • Ketepatan waktu penyerahan hasil
• Penyampaian hasil yang kritis
• PMI dan PME: kalibrasi, validasi internal, dan pemantapan mutu eksternal • Program peningkatan mutu dan keselamatan: indicator pelayanan, analisis,
upaya peningkatan mutu dan keselamatan dan tindak lanjutnya • Program pemeliharaan alat: inventarisasi alat dan pemeliharaan 2. Pengelolaan Obat :
• Jenis dan jumlah obat yang tersedia, formularium • Prosedur peresepan obat dan pelayanan obat • Bgm menjamin ketersediaan obat
• Pengelolaan obat psikotropik dan narkotik
• Kebersihan, keamanan penyimpanan, penyiapan dan penyampaian obat kepada pasien
• Penyimpanan dan prosedur penanganan obat LASA • Penanganan obat kedaluwarsa
• Penanganan efek samping obat dan alergi
• Pelaporan dan tindak lanjut jika terjadi medication error • Ketersediaan obat-obat emergensi
• Program peningkatan mutu dan manajemen risiko pada pelayanan obat: indicator pelayanan obat, analisis dan tindak lanjut, identifikasi risiko pelayananan obat, analisis dan tindak lanjut
Esensi Bab VIII :
3. Pelayanan Radiodiagnostik :
• Jenis pelayanan, prosedur pelayanan, dan pemantauannya
• Program pengamanan radiasi baik bagi masyarakat maupun petugas • Pembuangan limbah dari pelayanan radiologi
• Pelaksanaan dan interpertasi oleh tenaga yang kompeten • Menjamin ketersediaan alat/BHP, foto
• Penyampaian hasil pemeriksaan
• Pemeliharaan alat dan kalibrasi: inventarisasi, jadual pemeliharaan, pelaksanaan, monitoring dan tindak lanjut, kalibrasi
• Perijinan alat
• Pengendalian mutu pelayanan radiodiagnostik 4. Manajemen Informasi :
• Pembakuan klasifikasi diagnosis, kode diagnosis, symbol, specimen tanda tangan dan inisial dokter/perawat
• Prosedur pelayanan rekam medis • Proses pengelolaan rekam medis
• Cara identifikasi pasien agar tidak terjadi kesalahan • Pengaturan isi rekam medis
• Kelengkapan isi rekam medis • Tenaga yang kompeten
5. Manajemen Lingkungan dan Prasarana • Kondisi fisik lingkungan/bangunan
• Manajemen prasarana: instalasi listrik, kualitas air, ketersediaan gas medis, ventilasi, dan system utama yang lain
• Penanganan B3B • Penanganan limbah
• Rencana penanggunangan bencana • Rencana penanggulangan kebakaran
• Monitoring, evaluasi, tindak lanjut kondisi fisik • Program pemeliharaan lingkungan fisik
• Program penanggulangan bencana dan kebakaran dan bagaimana pelaksanaannya
• Tenaga yang bertanggung jawab untuk pengelolaan lingkungan dan kalau terjadi bencana/kebakaran
6. Manajemen Peralatan
• Prosedur penyiapan alat medis
• Prosedur sterilisasi dan pelaksanaannya • Bagaiamana memastikan peralatan sterial
• Inventarisasi, jadual pemeliharaan alat medis, prosedur dan pelaksanaan. • Kalibrasi peralatan medis
• Monitoring peralatan yang rusak dan penggantiannya • Bagaimana memastikan ketersediaan alat medis
• Penghitungan kebutuhan tenaga kesehatan (klinis), peta kompetensi • Penilaian kinerja tenaga klinis
• Proses kredensial, rekredensial dan penetapan kewenangan klinis • Upaya peningkatan kompetensi
• Peluang/kesempatan pendidikan dan pelatihan
• Kelengkapan perijinana tenaga klinis: STR, SIP, SIK, dsb. Esensi Bab IX :
1. Kebijakan mutu dan keselamatan pasien:
• Mewajibkan semua praktisi klinis berperan aktif dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien
• Penetapan area prioritas dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien • Penetapan indicator-indicator mutu dan keselamatan pasien
• Penetapan standar/panduan pelayanan klinis
• Penetapan budaya/tata nilai mutu dan keselamatan pasien
• Diterapkannya manajemen risiko dalam upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien
2. Dibentuk tim mutu dan keselamatan pasien dengan kejelasan tanggung jawab dan uraian tugas, yang anggotanya adalah praktisi klinis
3. Adanya komitmen (terdokumentasi) praktisi klinis untuk peningkatan mutu dan keselamatan pasien secara berkelanjutan
4. Pemahaman praktisi klinis thd mutu dan keselamatan pasien (melalui sosialisasi, workshop, pelatihan)
5. Keterlibatan praktisi klinis dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien yang ditunjukkan dalam:
• Peran aktif dalam penyusunan, pengumpulan, analisis dan tindak lanjut terhadap pencapaian indicator klinis
• Penilaian terhadap perilaku dalam pemberian pelayanan klinis (sesuai dengan budaya dan tata nilai keselamatan pasien (contoh: kebiasaan cuci tangan, kebiasaan melakukan chek ulang untuk menghindari kekeliruan, budaya tidak saing menyalahkan)
• Ide-ide perbaikan pelayanan klinis
• Penyusunan rencana, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi perbaikan mutu dan keselamatan pasien
6. Dilakukan monitoring mutu dan keselamatan pasien melalui penyusunan indicator mutu dan keselamatan pasien (dengan target yang jelas), pengumpulan data dan analisis thd pencapaian indicator.
7. Indikator meliputi:
• Indikator mutu pada penilaian oleh pasien, asuhan pasien (mulai dari patient assessment dan pelaksanaan asuhan), pelayananan penunjang medis, penggunaan antibiotika.
• Indikator keselamatan pasien: tidak terjadinya salah identifikasi pasien, kesalahan pemberian obat, kesalahaan prosedur klinis, pengendalian infeksi, dan tidak terjadinya pasien jatuh, dilakukan kebiasaan cuci tangan 8. Layanan klinis dilaksanakan berdasarkan standar/panduan pelayanan klinis 9. Disusun Perencanaan mutu dan keselamatan pasien berdasar:
• Area prioritas (3H + 1P)
• Hasil monitoring dan pengukuran indicator-indicator mutu dan keselamatan pasien
• Identifikasi Risiko dan Analisis risiko
Esensi Bab IX :
10. Rencana peningkatan mutu dan keselamatan pasien memuat:
• Program-program mutu dan keselamatan pasien berdasarkan area prioritas • Kejelasan penanggung jawab tidap program
• Kebutuhan sumber daya • Jadual pelaksanaan
• Rencana monitoring dan evaluasi
11. Penyediaan sumber daya untuk melaksanakan rencana peningkatan mutu dan keselamatan pasien
12. Pelaksanaan peningkatan mutu dan keselamatan pasien: • Tindak lanjut dari hasil pengukuran indicator dan jika ada
permasalahan/complain, maupun KTD, KTC, dan KNC • Program-program yang ada pada rencana
13. Monitoring, evaluasi dan tindak lanjut thd pelaksanaan peningkatan mutu dan keselamatan pasien sesuai dengan yang direncanakan yang dikomunikasikan kepada semua praktisi klinis dan dilaporkan pada pimpinan
3H + 1P = High Risk, High Volume, High Cost, Potensial Problem
yaitu Kajian terhadap resiko (risk assessment), volume/ketersediaan, biaya dan kemungkinan masalah untuk menentukan perlunya tindakan perbaikan atau koreksi
KTD = Kejadian Tidak Diharapkan KTC = Kejadian Tidak Cedera KNC = Kejadian Nyaris Cedera KPC = Kejadian Potensial Cedera
IV. MEMPERSIAPKAN PUSKESMAS
MENJADI LAYAK TERAKREDITASI
1. Bagaimana mempersiapkan Puskesmas agar layak
terakreditasi?
Penuhi semua bukti telusur yang disyaratkan oleh
Akreditasi
2. Bagaimana memenuhi semua bukti telusur yang
disyaratkan
a. Tampilan Fisik
c. Dokumen dan Dokumentasi
3. Bagaimana mempersiapkan dokumen
Tahap Mempersiapkan Dokumen :
Dokumen sebagai bukti telusur yang cukup penting dan
segera dapat disurvei, sehingga harus disediakan
sedemikian rupa sesuai sistem penyelenggaraan
Puskesmas.
Dalam pelaksanaan Survei Akreditasi, bukan sekedar
tersedianya dokumen, tetapi sistem yang sudah
4. Bagaimana cara pembuatan dokumen
5. Pembagian Dokumen Akreditasi :
1. Dokumen Internal
6. Jenis Dokumen Akreditasi, berdasarkan status dan
pengendalian
1. Induk (Master)
2. Terkendali
3. Tidak terkendali
4. Kadaluarsa
7. Dokumen berdasarkan penyelenggaraan puskesmas
1. Dokumen Admen
2. Dokumen UKM
8. Dokumen dan dokumentasi telusur bagi setiap program
9. Dokumen dan dokumentasi telusur bagi setiap kegiatan
11. Pengendalian Dokumen di Puskesmas
1. Prosedur
3. Tatacara Penyimpanan Dokumen
4. Penataan Dokumen
V. DOKUMEN-DOKUMEN STANDAR AKREDITASI
Dokumen-dokumen Standar Akreditasi harus disediakan
sebagai bukti telusur baik yang tersurat dalam Instrumen
Akreditasi, maupun yang tersirat, tetapi
dokumen-dokumen yang tidak disebutkan secara jelas di Instrumen
Akreditasi tetap harus disediakan sebagai pelengkap,
penunjang bahkan penentu nilai saat pelaksanaan
Akreditasi Puskesmas.
Beberapa dokumen yang dimaksud baik yang tersurat
atau tersirat adalah :
1. Kebijakan
2. Manual Mutu
3. Rencana Kerja Lima Tahun Puskesmas
4. Perencanaan Tingkat Puskesmas Tahunan
5. Pedoman/Panduan
6. Pedoman/Manual Mutu
7. SOP
8. Dokumen Program
9. Dokumen Kegiatan
10. Dokumen Pelengkap
Pembuatan Dokumen-dokumen
1. KEBIJAKAN
3. RENCANA KERJA LIMA TAHUN PUSKESMAS
Langkah-langkah Penyusunan Rencana Kerja Lima
Tahun Puskesmas
Format Rencana Kerja Lima Tahun Puskesmas
Format Umum
Matrikulasi Rencana Kerja Lima Tahun Puskesmas
4. PERENCANAAN TINGKAT PUSKESMAS (PTP) TAHUNAN
Mekanisme menyusun PTP :
6. PEDOMAN/MANUAL MUTU
8. DOKUMEN PROGRAM
9. DOKUMEN KEGIATAN
Format Dokumen Program dan Dokumen Kegiatan
1. Kerangka Acuan
2. Pointer Kegiatan
3. Undangan Kegiatan
5. Notulensi Kegiatan
7. Rekomendasi dan Tindak Lanjut
9. Dokumen Identifikasi Masalah
Contoh :
No
Program
Kegiatan
Masalah
1.
2.
Promosi
Kesehatan
Program KIA
Cakupan
Tidak
Merokok di
Rumah
Cakupan
Linakes
Masih Rendah,
banyak yang
merokok di
rumah
Masih rendah,
banyak yang
bersalin ke Non
Nakes (paraji)
Menentukan prioritas masalah
1. USG (Urgensi, Seriousness, Grouth)
2. Diagram Bone
3. Pohon Masalah
Melakukan pemecahan masalah (problem solving)
a. Adanya masalah yang dipandang penting
b. Merumuskan masalah
c. Analisa hipotesa
d. Mengumpulkan data
e. Analisa data
f. Mengambil kesimpulan
g. Aplikasi (penerapan) dari kesimpulan yang diperoleh
h. Menilai kembali seluruh proses pemecahan masalah
10. Evaluasi
Evaluasi semua pelaksanaan kegiatan wajib
dilakukan untuk menentukan kegiatan selanjutnya.
No Rincian
Kegiatan Terlaksana sepenuhnya Sebagian besar Terlaksana
Sebagian kecil
Terlaksana
Tidak
Terlaksana Alasan/ Ket. Tindak lanjut
1 2 3 4