PENGARUH WAKTU PENGASINAN TERHADAP PENURUNAN KADAR NaCl
PADA MEDIA PENGASINAN TELUR DAN TERHADAP TINGKAT KESUKAAN
KONSUMEN
(THE EFFECT OF SALTING TIME ON DECREASING OF NaCl CONTENT IN EGG
SALTING MEDIA AND THE CONSUMER PREFERENCE LEVEL)
Nur Hidayati
1, Mardiyono
2, Ika Lailla Rahmawati
1 1Fakultas Biologi,
2Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi
Jl. Let. Jen. Sutoyo, Mojosongo, Surakarta 57127
ABSTRAK
Telur merupakan salah satu produk peternakan yang dihasilkan oleh unggas. Telur termasuk bahan yang mudah rusak, salah satu cara pengawetan telur adalah dengan pengasinan. Prosesnya sangat sederhana, hanya dengan waktu pemeraman 10-15 hari pada media yang merupakan campuran garam, serbuk bata merah dan air. Semakin lama telur disimpan, maka rasa telur akan semakin asin, dan kadar NaCl yang ada pada media akan mengalami penurunan karena sebagian NaCl terabsorbsi ke dalam telur. Penetapan kadar NaCl pada sampel media pengasinan telur asin menggunakan metode Argentometri Mohr yaitu penetapan kadar NaCl dengan menggunakan larutan standar AgNO3 dan
menambahkan indikator K2CrO4 5%. Titik akhir titrasi ditandai dengan terbentuknya endapan
merah bata muda. Sampel yang digunakan adalah media pengasinan 0 minggu dan madia pengasinan setelah digunakan untuk pengasinan 1, 2, dan 3 minggu. Uji statistik yang digunakan adalah uji statistik ANOVA satu jalan, apabila ada beda nyata dilanjutkan uji SNK. Dari hasil percobaan didapatkan prosentase penurunan kadar NaCl pada media pengasinan telur dari minggu ke-1, 2 dan 3 berturut-turut adalah 34,91%, 38,67%, dan 40,43%. Dari hasil uji statistik ANOVA satu jalan dan dilanjutkan uji SNK dapat disimpulkan bahwa ada beda nyata kadar NaCl pada media pengasinan telur terhadap waktu pengasinan. Dan dengan pengujian organoleptik dari uji statistik terhadap kesukaan konsumen didapatkan telur yang disukai konsumen adalah telur dengan waktu pengasinan 2 minggu.
Kata kunci : telur, waktu pengasinan, kadar NaCl ABSTRACT
Egg is one of breed product that produced by fowls. Egg is easily damage, one way to preserve is by salting. The process is very simple, only by ripening for 10-15 days in media of a mixture containing salt, red bricks powder and water. The longer it is ripened, it will be more salty, and NaCl content the media will decrease because some salt are absorbed into the egg. Determination of NaCl content in the salting media sample used Mohr Argentometric method i.e. the use of AgNO3 standart solution and K2Cr4 5% indicator. The
end point was indicated by the form of light brown precipitates, The used sample were salting media week-0, 1, 2 and 3. The statistic used was one way ANOVA, and if there was significant continued with SNK test. The result of study found out decreasing percentage of NaCl contents in salting media week-1, 2 and 3 were 34,91 %, 38,67 %, and 40,43 %. respectively. After statistically tested by one way ANOVA and continued by SNK test it could be concluded that there was significant difference of NaCl content in salting media toward salting time. And the organoleptic test of statistical test on the consumer’s preference, it was foud that the most preferred by consumers was the egg with 2 weeks ripening time.
PENDAHULUAN
Telur adalah salah satu hasil peternakan dan merupakan bentuk produk yang dihasilkan oleh unggas. Telur termasuk bahan makanan yang paling praktis digunakan, tidak memerlukan pengolahan yang sulit, telur juga merupakan hasil ternak yang mempunyai andil besar dalam mengatasi masalah gizi masyarakat, karena telur sarat akan zat gizi yang diperlukan untuk kehidupan yang sehat (Hadiwiyoto, 1983).
Telur mudah rusak, untuk dapat mengonsumsi maka perlu pengawetan. Salah satu pengawetan telur adalah telur asin. Telur asin merupakan satu produk olahan telur yang pembuatannya mudah dikerjakan. Awalnya masyarakat kita mengenal pengasinan sebagai salah satu
upaya untuk mengawetkan telur
(memperpanjang masa simpan), dan sebagai usaha untuk menghilangkan bau amis terutama telur itik yang diolah menjadi telur asin.
Dalam makanan NaCl berfungsi sebagai penyedap rasa makanan dan sekaligus bahan pengawet karena dapat mengurangi kelarutan oksigen (oksigen diperlukan oleh bakteri, garam juga berfungsi menyerap air dari dalam telur. Berkurangnya kadar air menyebabkan telur menjadi lebih awet (Winarno, 2002).
NaCl pada media diukur guna mengetahui berapa kadar NaCl (garam) pada media yang hilang atau terserap pada telur asin sehingga apabila media akan digunakan lagi untuk pengasinan maka cukup menambahkan NaCl yang dibutuhkan tanpa harus membuat media pengasinan yang baru, sehingga bisa efesiensi biaya. Dengan perbandingan 1:5 yaitu 1 bagian NaCl berbanding dengan 5 bagian media serbuk bata merah. (Hadiwiyoto, 1983), sudah mewakili untuk proses pembuatan telur asin.
Uji kadar NaCl dalam makanan atau minuman bisa dilakukan dengan metode
Argentometri Mohr yaitu dengan
menggunakan larutan standart AgNO3 dan indikator K2CrO4. Titik akhir titrasi ditandai dengan terbentuknya endapan merah
coklat atau merah bata muda (Harjadi, 1986).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah : a. Mengetahui besarnya kadar NaCl pada
media pengasinan sebelum digunakan untuk pengasinan (0 minggu)
b. Mengetahui penurunan kadar NaCl pada media pengasinan setelah digunakan untuk pengasinan 1 minggu, 2 minggu dan 3 minggu
c. Mengetahui ada pengaruh waktu pengasinan terhadap kadar NaCl pada media pengasinan
d. Mengetahui ada beda nyata antar waktu pengasinan terhadap kadar NaCl pada media pengasinan
e. Mengetahui waktu pengasinan yang diperlukan untuk menghasilkan telur asin yang disukai konsumen.
Dari uraian diatas didapatkan hipotesis : ada pengaruh waktu pengasinan terhadap kadar NaCl pada media pengasinan, ada beda nyata antar waktu pengasinan terhadap kadar NaCl pada media pengasinan dan waktu pengasinan yang digunakan untuk menghasilkan telur asin yang disukai konsumen adalah 2 minggu.
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi penurunan kadar NaCl pada media pengasinan sehingga dapat mengetahui berapa NaCl yang ditambahkan pada media untuk digunakan sebagai media pengasinan selanjutnya.
METODE PENELITIAN Bahan
a. Bahan yang digunakan untuk pembuatan telur asin adalah:
Telur bebek : 80 butir, 2,4 liter serbuk garam (1 liter serbuk garam = 0,8 kg), 12 liter serbuk bata merah (1 liter serbuk bata merah = 1,7 kg) dan air secukupnya. b. Bahan untuk penetapan kadar NaCl adalah media pengasinan serbuk bata merah sebelum pengasinan (0 minggu) dan setelah pengasinan (1 minggu, 2 minggu, 3 minggu) secara terperinci dapat dilihat sebagai berikut :
1) Sampel B0 : Media pengasinan 0 minggu
2) Sampel B1 : Media pengasinan 1 minggu
3) Sampel B2 : Media pengasinan 2 minggu
4) Sampel B3 : Media pengasinan 3 minggu
Peralatan
a. Alat yang digunakan untuk pembuatan telur asin :
Kain bersih, bak/ember plastik, busa pencuci, batang penumbuk bata, ayakan dan timbangan.
b. Alat yang digunakan untuk
penetapan kadar NaCl :
Beaker glass, buret, corong, Erlenmeyer
100 ml, gelas ukur 10 ml dan 50 ml, kertas saring, klem, kaki tiga, kasa aluminium, labu takar 100 ml, pipet tetes, pipet volume 2 ml dan 10 ml, statif, syringe, timbangan elektrik.
Pereaksi
Pereaksi yang digunakan untuk penetapan kadar NaCl pada media pengasinan serbuk bata merah adalah : larutan standart AgNO3 ± 0,01 N, larutan NaCl 0,0100 N, Indikator K2CrO4 5%, aquadest.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisa Makanan dan Minuman Universitas Setia Budi Surakarta.
Prosedur
Teknik Sampling
Sampel telur yang digunakan dalam pembuatan telur asin diambil secara acak dan dianggap mewakili seluruh sampel. Cara pengambilan sampel, yaitu telur bebek yang diambil setiap hari dari kandang bebek, kemudian dikumpulkan jadi satu dalam boks tempat telur, dan dipilih telur bebek yang kondisi fisiknya bagus tanpa memperhatikan warna, bentuk dan ukuran sampai mencapai jumlah 80 butir.
Cara pengambilan sampel untuk penetapan kadar NaCl pada media pengasinan minggu ke-0 adalah dari campuran serbuk bata merah, garam dan air dibuat bentuk kerucut, kemudian dibelah menjadi 4 bagian. Dari setiap ke-4 bagian itu
masing-masing diambil sesuai dengan kebutuhan, kemudian dihomogenkan dalam satu wadah. Sedangkan pengambilan sampel media pengasinan yang telah digunakan untuk pengasinan minggu ke-1, 2 dan 3 adalah dengan cara mengambil telur yang sudah dibalut dengan media pengasinan secara acak sebanyak 3-4 butir telur (Hidayat, 1983), kemudian mengupas media pengasinan dari telur. Media ditempatkan dalam satu wadah kemudian dihomogenkan.
Prosedur Pembuatan Telur Asin Penyortiran Telur
Menyiapkan 80 butir telur bebek yang akan di asinkan, memasukkan telur-telur kedalam air, bila telur mengapung, itu pertanda kualitasnya jelek, maka harus disingkirkan. Telur yang berkualitas baik dicuci dengan air hingga bersih dan dilap dengan kain bersih satu per satu. Telur yang retak pada saat basah akan kelihatan, maka harus disingkirkan juga. Setelah selesai dicuci semua, telur ditiriskan dan diangin-anginkan.
Pembuatan Adonan
Menyiapkan 2,4 liter garam yang sudah ditumbuk halus (1 liter serbuk garam = 0,8 kg, berarti 2,4 liter serbuk garam = 1,92 kg) dan 12 liter bubuk bata merah (I liter serbuk bata merah = 1,7 kg, berarti 12 liter serbuk bata merah = 20,4 kg). Memasukkan bahan ke dalam ember plastik, kemudian mencampurkan kedua bahan secara merata, dan menambahkan air sedikit demi sedikit sehingga membentuk adonan agak lembek agar mudah dilekatkan pada telur.
Penggaraman
Membungkus telur dengan adonan yang telah disiapkan setebal kira-kira 1,5 cm, menata telur dalam tempat yang telah dipersiapkan (taplak plastik), diperam dengan variasi waktu (1, 2, dan 3 minggu)
Pengupasan Adonan
Mengupas adonan dari 4 butir telur setelah proses pemeraman waktu yang diinginkan selesai, adonan/media yang digunakan diperiksa NaCl-nya dan telur yang di asin dilakukan pengujian organoleptis tahap I, setelah pengasinan 2
minggu pengujian organoleptis tahap II dan setelah semua telur selesai pengasinan uji organoleptis tahap III.
Prosedur Standarisasi AgNO3 0,01N dengan NaCl 0,0100N
Memipet 10 ml larutan NaCl 0,0100 N, memasukkan dalam bejana Erlenmeyer 100 ml, menambahkan Indikator K2CrO4 5% sebanyak 0,5 ml dititrasi dengan larutan AgNO3 standart ± 0,01 N hingga terbentuk endapan coklat merah muda.
Prosedur Penetapan Kadar NaCl pada sampel
Menimbang bahan, dimasukkan dalam
beaker glass 50 ml, menambahkan
aquadest sebanyak 30 ml, memanaskan sebentar agar semua garam larut (jangan sampai mendidih), mendinginkan dan memasukkan kedalam labu takar 100 ml
secara kuantitatif, menambahkan aquadest sampai tanda batas, kemudian larutan dikocok hingga homogen, menyaring larutan dengan kertas saring sampai mendapat filtrat yang jernih. Filtrat ditampung dalam bejana Erlenmeyer 250 ml. Memipet 2 ml filtrat, memasukkan kedalam Erlenmeyer 100 ml, menambahkan 0,5 ml Indikator K2CrO4 5%, menitrasi dengan larutan AgNO3 standart ± 0,01 N sampai terbentuk endapan coklat merah muda, titrasi dilakukan dengan 3 kali ulangan.
Pengujian Organoleptik
Penelitian uji organoleptik telur asin dengan variasi waktu pemeraman meliputi : kenampakan/warna, bau, rasa, dan tekstur dengan menggunakan uji panelis sebanyak
20 panelis.
Rumus Perhitungan
Kadar NaCl ( % ) = ( V x N ) AgNO3 x 58,46_x Pengenceran x 100% Berat sampel x 1000 Keterangan : V = Volume AgNO3 N = Normalitas AgNO3 P = Pengenceran sampel 58,46 = BM NaCl
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian di Laboratorium Kimia Analisis Makanan dan Minuman
Universitas Setia Budi , didapatkan data sebagai berikut:
Kadar NaCl pada Media Asal Serbuk Bata Merah
Tabel 1. Data Penetapan Kadar NaCl Media Asal Serbuk Bata Merah
Sampel Berat Sampel (g) Volume titran AgNO3 0,0091N (ml) Kadar NaCl (%) Kadar NaCl Rata-rata (%) 1 2 3 10,1549 10,1428 10,0572 0,50 0,50 0,50 0,03 0,03 0,03 0,03 Kadar NaCl pada media asal serbuk bata merah adalah 0,03 %
Kadar NaCl pada Kemurnian Garam
Tabel 2. Data Penetapan Kadar NaCl pada Kemurnian Garam
Sampel Berat Sampel (g) Volume titran AgNO3 0,0091N (ml) Kadar NaCl (%) Kadar NaCl Rata-rata (%) G1 G2 G3 1,0263 1,0247 1,0285 17,73 17,70 17,77 91,90 91,89 91,91 91,90 Kemurnian garam untuk pengasinan adalah 91,90 %.
Kadar NaCl pada Media Awal Pengasinan
Tabel 3. Data Penetapan Kadar NaCl Pada Media Awal Pengasinan
Sampel Berat Sampel (g) Volume Titran AgNO3 0,0091N (ml) Kadar NaCl (%) Kadar NaCl Rata-rata (%) B0 1 2 3 2,0008 2,0100 2,0052 13,63 13,70 13,67 18,12 18,13 18,13 18,13 Keterangan
Sampel B0 : Serbuk bata merah minggu ke-0 (sebelum pengasinan)
Kadar NaCl Pada Sampel (Media Pengasinan)
Tabel 4. Data Penetapan Kadar NaCl pada Media Pengasinan
Sampel Berat Sampel (g) Volume AgNO3 untuk Titrasi Sampel (ml) Kadar NaCl (%) Kadar NaCl Rata-rata (%) Penurunan Kadar NaCl (%) Prosentase Penurunan NaCl (%) B0 1 2 3 2,0008 2,0100 2,0052 13,63* 13,70 13,67 18,11 18,12 18,11 18,13 - B1 1 2 3 2,0147 2,0058 2,0164 8,93 * 8,90 8,93 11,79 11,80 11,78 11,80 6,33 34,91 B2 1 2 3 2,0073 2,0056 2,0179 8,50** 8,47 8,53 11,14 11,10 11,12 11,12 7,01 38,67 B3 1 2 3 2,0271 2,0236 2,0369 8,33** 8,30 8,37 10,81 10,79 10,81 10,80 7,33 40,43 Keterangan :
Sampel B0 : Serbuk bata merah minggu ke-0 (sebelum pengasinan) Sampel B1 : Serbuk bata merah pengasinan 1 minggu
Sampel B2 : Serbuk bata merah pengasinan 2 minggu Sampel B3 : Serbuk bata merah pengasinan 3 minggu * : AgNO3 0,0091 N
Dari data diperoleh rata-rata kadar NaCl pada sampel B0, B1, B2, dan B3 berturut-turut adalah 18,13 %; 11,80 %; 11,12 % dan 10,80 %. Berdasarkan hasil uji statistik dengan analisis varian satu jalan (Anova) dan dilanjutkan dengan uji SNK (Student Newman-Keuls) ada beda nyata terhadap kadar NaCl tiap variasi waktu
pengasinan, dimana F = 72182,33 > (Fkritis = 4,07).
Pengujian Organoleptik
Berdasarkan yang penguji berikan kepada 20 panelis untuk memberi penilain terhadap telur asin, maka didapatkan deskripsi terhadap telur asin, yang dapat dilihat seperti dibawah ini :
Tabel 5. Deskripsi Telur Asin
Telur Asin Waktu
Pengasinan Keterangan
A Telur 0 minggu
Putih telur berwarna putih, kuning telur berwarna kuning pucat, bau amis, rasa tidak asin, tekstur tidak masir dan tidak berminyak
B Telur 1 minggu
Putih telur berwarna putih, kuning telur berwarna kuning, bau sedikit amis, rasa kurang asin, tekstur kurang masir dan kurang berminyak
C Telur 2 minggu
Putih telur berwarna putih sampai putih agak kecoklatan, kuning telur berwarna kuning agak kemerahan, bau tidak amis, rasa cukup asin, tekstur masir dan berminyak
D Telur 3 minggu
Putih telur berwarna putih sampai putih agak kecoklatan, kuning telur berwarna kuning agak kemerahan, bau tidak amis, rasa cukup asin sampai sangat asin, tekstur masir dan berminyak
Uji Panelis
Hasil penilaian telur asin berdasarkan uji
organoleptik yang meliputi uji
kenampakan/warna, bau, rasa, dan tekstur
dapat dilihat pada tabel dibawah ini dengan penilaian parameter : 5 = sangat suka 4 = lebih suka 3 = suka 2 = kurang suka 1 = tidak suka
Tabel 6. Penilaian Kenampakan/Warna Putih Telur Asin
Telur asin Angka kualitas Keterangan
A B C D 3,4 3,2 3,5 3,5 Diatas suka Diatas suka Diatas suka Diatas suka
Tabel 7. Penilaian Kenampakan/Warna Kuning Telur Asin
Telur asin Angka kualitas Keterangan
A B C D 2,5 2,8 3,9 3,9 Sedikit suka Sedikit suka Diatas suka Diatas suka Tabel 8. Penilaian Bau Telur Asin
Telur asin Angka kualitas Keterangan
A B C D 2,6 3,4 3,9 3,9 Sedikit suka Diatas suka Diatas suka Diatas suka Tabel 9. Penilaian Rasa Telur Asin
Telur asin Angka kualitas Keterangan
A B C D 1,5 3,4 3,5 2,9 Tidak suka Diatas suka Diatas suka Sedikit suka Tabel 10. Penilaian Tekstur Telur Asin
Telur asin Angka kualitas Keterangan
A B C D 1,5 2,2 3,4 3,4 Tidak suka Sedikit suka Diatas suka Diatas suka Tabel 11. Penilaian Total Uji Panelis
Telur asin Angka kualitas Keterangan
A B C D 2,3 3,0 3,6 3,5 Sedikit suka Suka Lebih suka Lebih suka Dari tabel-tabel diatas telur A (telur
dengan pengasinan 0 minggu) mempunyai angka kualitas 2,3. Angka tersebut menunjukkan selera konsumen sedikit suka terhadap penilaian telur 0 minggu. Sedangkan telur B (telur pengasinan 1 minggu konsumen cenderung menilai suka terhadap telur asin tersebut. Angka kualitas dari telur B adalah 3,0. Sedangkan telur C (telur pengasinan 2 minggu) mempunyai angka kualitas tertinggi yaitu 3,6 dari pada telur D (telur pengasinan 3 minggu) yang mempunyai angka kualitas 3,5 meskipun angka kualitas tersebut sudah mempunyai
arti penilaian diatas suka terhadap selera konsumen, tetapi angka kualitas yang dimiliki telur C lebih besar dari pada telur D. Maka telur yang cenderung disukai menurut selera konsumen adalah telur yang diperam selama 2 minggu.
Telur adalah salah satu hasil peternakan dan merupakan bentuk produk yang dihasilkan oleh unggas. Karena salah satu sifat telur yang mudah rusak maka
dilakukan pengawetan untuk
memperpanjang umur telur agar tetap bisa dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh. Salah satu cara untuk memperpanjang umur telur dilakukan pengasinan dengan garam, karena garam mempunyai sifat mencegah bakteri tumbuh dalam telur, selain itu garam juga bisa
mengubah rasa telur menjadi asin, sehingga akan memberi rasa yang berbeda dibandingkan dengan telur tanpa olahan.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, didapatkan penurunan kadar NaCl pada media pengasinan telur asin sebagai berikut secara berturut-turut : 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu adalah 6,33%; 7,01%; 7,33%.
Dari data diatas terlihat kadar NaCl dari minggu ke-1 sampai minggu ke-3 mengalami penurunan. Hal itu disebabkan karena NaCl yang ada pada media terserap ke dalam telur sehingga menyebabkan telur menjadi asin. Pada minggu ke-0 hingga minggu ke-1 diperoleh prosentase penurunan kadar NaCl pada media pengasinan 34,91%, sedangkan pada minggu ke-1 hingga minggu ke-2 prosentase kadar NaCl-nya menjadi 38,67%. Dan pada minggu ke-2 hingga minggu ke-3 prosentase penurunan kadar NaCl pada media pengasinan sebesar 40,43%. Jadi apabila konsumen menyukai telur asin yang diperam selama 2 minggu maka kadar NaCl masuk kedalam telur sebesar 38,67%, jadi untuk dapat menggunakan media pengasinan lagi maka perlu di tambah NaCl sebanyak 38,67% ke dalam media, agar menghasilkan telur asin yang mempunyai rasa yang sama.
Dari uji statistik pada variasi waktu pengasinan didapatkan beda nyata terhadap kadar NaCl pada media pengasinan. Kadar NaCl-nya mengalami penurunan dari minggu ke-1 sampai minggu ke-3 sehingga dapat mengetahui waktu pengasinan yang tepat untuk menghasilkan telur yang disukai oleh konsumen.
Waktu yang di gunakan untuk proses pengasinan berpengaruh kepada kadar NaCl pada media pengasinan, semakin lama proses pengasinan maka semakin banyak kadar NaCl yang terserap ke dalam telur sehingga semakin lama telur di peram maka rasa telur semakin asin, karena kadar NaCl pada media terabsorbsi ke dalam telur.
KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
a. Kadar NaCl pada media pengasinan serbuk bata merah sebelum pengasinan (minggu ke-0) adalah 18,13 %
b. Penurunan kadar NaCl pada media pengasinan setelah digunakan untuk pengasinan 1 minggu, 2 minggu dan 3 minggu berturut-turut adalah 6,33%;
7,01% dan 7,33%. Prosentase
penurunannya berturut-turut adalah 34,91%, 38,67% dan 40,43%
c. Ada pengaruh waktu pengasinan terhadap kadar NaCl pada media pengasinan
d. Ada beda nyata waktu pengasinan terhadap kadar NaCl pada media pengasinan
e. Waktu pengasinan yang digunakan untuk menghasilkan telur yang banyak disukai konsumen adalah waktu pengasinan 2 minggu
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1989. Kimia Makanan dan Minuman. Jakarta : Departemen
Pendidikan Nasional.
Buckle, K. A., Edward R.A., Fleet G.H., 2007. Ilmu Pangan. Terjemahan
oleh Purnomo. Jakarta :
Universitas Indonesia Press. Fatah, A.M. dan Mursyidi, A., 1987.
Pengantar Kimia Farmasi Analisa Volumetri dan Gravimetri.
Yogyakarta : Fakultas Farmasi UGM.
Hadiwiyoto, Soewedo, 1983. Hasil-hasil
Olahan Susu, Ikan, Daging dan Telur, Yogyakarta : Liberty.
Harjadi W., 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Gramedia.
Haryoto, 1996. Membuat Telur Asin. Yogyakarta : Kanisius.
Hidayat, Kerebet, 1983. Petujuk Praktek
Pengawasan Mutu Hasil Pertanian.
Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.
Oetoyo, S., 1978. Diktat Kimia Teknologi.
Jogjakarta : Akademi
Perindustrian.
Suprapti Lies, 2002. Pengawetan Telur. Yogyakarta : Kanisius.
Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan