• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA SISTEM PERTAMBAHAN NILAI KAYU JATI DI KPH BANTEN PERUM PERHUTANI UNIT III JAWA BARAT DAN BANTEN ABDUL LATIF E

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DINAMIKA SISTEM PERTAMBAHAN NILAI KAYU JATI DI KPH BANTEN PERUM PERHUTANI UNIT III JAWA BARAT DAN BANTEN ABDUL LATIF E"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA SISTEM PERTAMBAHAN NILAI KAYU JATI

DI KPH BANTEN PERUM PERHUTANI

UNIT III JAWA BARAT DAN BANTEN

ABDUL LATIF

E 14103040

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

(2)

ABDUL LATIF (E14103040). Dinamika Sistem Pertambahan Nilai Kayu Jati di KPH Banten Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. Di bawah bimbingan HERRY PURNOMO dan DODIK RIDHO NURROCHMAT.

Studi dinamika sistem pertambahan nilai kayu jati bertujuan untuk menggambarkan sistem pengusahaan kayu jati dalam sebuah model simulasi, diperolehnya informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai produk kayu jati dan tersusunnya rekomendasi skenario kebijakan masa depan yang sesuai dan menguntungkan bagi para aktor yang berperan. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan sistem dinamik, yaitu dengan menganalisis komponen dari sistem secara keseluruhan. Dari studi ini diperoleh hasil bahwa secara umum nilai jati mengalami penurunan yang dikarenakan produksi bahan baku yang tidak stabil dan cenderung menurun, sehingga jika tidak diantisipasi dapat mempengaruhi industri hilir seperti industri furnitur. Pertambahan nilai kayu jati juga diperankan oleh banyak aktor, dan masing-masing aktor yang berperan memiliki nilai yang berbeda-beda.

Pertambahan nilai dari hasil studi ini menunjukkan bahwa pertambahan nilai yang dihasilkan dari bahan yang digunakan, Perum Perhutani sebagai pemasok bahan baku menikmati sekitar 40,61% dari total pertambahan nilai sebesar Rp 1.933.000. Sedangkan pada pertambahan nilai dari produk, aktor yang menikmati pertambahan nilai terbesar adalah produsen furnitur dengan 21,63% dari total pertambahan nilai produk sebesar Rp 3.639.000. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penurunan jumlah potensi hutan dan penurunan pertambahan nilai kayu jati, maka dibuatlah skenario masa depan yang dikembangkan untuk membantu meningkatkan pertambahan nilai jati diantaranya dengan peningkatan efisiensi produksi, meningkatkan volume tebang dengan membuka investasi penanaman lahan kosong dan memberikan perhatian khusus bagi penjual domestik dan mancanegara dengan memberi insentif pemasaran. Dari skenario yang dibuat dapat diprediksi bahwa skenario dengan membuka investasi penanaman lahan kosong dapat meningkatkan pertambahan nilai kayu jati.

(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Dinamika Sistem Pertambahan Nilai Kayu Jati di KPH Banten Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2008

Abdul Latif NRP E14103040

(4)

Judul Penelitian : Dinamika Sistem Pertambahan Nilai Kayu Jati di KPH Banten Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten Nama Mahasiswa : Abdul Latif

NRP : E 14103040

Departemen : Manajemen Hutan Fakultas : Kehutanan

Menyetujui :

Dosen Pembimbing1 Dosen Pembimbing 2

Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp Dr. Ir. Dodik R. Nurrochmat, M.Sc NIP. 131 795 793 NIP. 132 130 468

Mengetahui : Dekan Fakultas Kehutanan

Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr NIP. 131 578 788

(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada hari Kamis tanggal 26 Desember 1985, putra kedua dari empat bersaudara, dari pasangan Bapak Mabaryanto dan Ibu Hayati. Pendidikan formal penulis dimulai di Madrasah Ibtidaiyyah Darul Muqinin Jakarta pada tahun 1991 dan lulus pada tahun 1997 kemudian melanjutkan studi di SLTP Negeri 127 Jakarta dan lulus pada tahun 2000. Penulis melanjutkan ke SMU Negeri 112 Pesanggrahan, Jakarta dan lulus pada tahun 2003. Pada tahun 2003 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor Fakultas Kehutanan Program Studi Manajemen Hutan melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

Pada tahun 2006 penulis telah melaksanakan Praktek Pengenalan Hutan di KPH Banyumas Barat, KPH Banyumas Timur, Batu Raden dan Praktek Pengelolaan Hutan di kampus Getas UGM gelombang II. Pada bulan Juni-Agustus 2007 penulis melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di IUPHHK PT. Diamond Raya Timber, Kec. Bangko Kab. Rokan Hilir Provinsi Riau.

Selama masa studi penulis aktif di DKM Ibadurrahman pada tahun 2004-2005 sebagai anggota Dept. PSDM Ibadurrahman dan 2004-2005-2006 sebagai Ketua pada salah satu Biro di Dept. PSDM Ibadurrahman. Pada tahun 2004-2006 penulis diamanahkan sebagai asisten praktikum mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Pada tahun 2006 menjadi asisten praktikum mata kuliah Ilmu Informatika. Pada tahun 2006-2007 menjadi koordinator salah satu event Dompet Dhuafa pada bulan Ramadhan yaitu Zakat Goes to Mall.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di IPB, penulis menyusun skripsi dengan judul “Dinamika Sistem Pertambahan Nilai Kayu Jati di KPH Banten Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten” di bawah bimbingan Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp dan Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.

(6)

Alhamdulillahirabbil‘alamin. Segala Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala curahan rahmat dan kasih sayang-Nya, yang telah memilih kita sebagai ummat Sayyidina Muhammad saw. Segala Puji bagi Allah Dzat Pemberi Hidayah, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan Rahmat dan Kemudahan dari-Nya SWT. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw beserta keluarga, para sahabatnya, serta para pengikutnya yang tetap setia dan istiqomah dalam mengikuti jejak perjalanannya. Kami datang pada panggilanmu wahai Nabi saw yang telah membimbing kami dan menyatukan kami, kami datangi panggilanmu wahai Rasulullah.

Skripsi ini berjudul Dinamika Sistem Pertambahan Nilai Kayu Jati di KPH Banten Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini menggambarkan pertambahan nilai kayu jati, informasi faktor dan aktor yang berperan dan menggambarkan kedinamisan sebuah sistem serta membuat skenario-skenario peningkatan pertambahan nilai kayu jati.

Penulis menyadari keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam tulisan ini. Karena itu, masukan, kritikan dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan tulisan ini. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp dan Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan, masukan dan saran terhadap penulisan penelitian ini.

Akhir kata, semoga tulisan ini dapat bermanfaat serta menjadi pendorong bagi penulis untuk mengkaji dan menggali lebih dalam pengetahuan yang telah diperoleh.

Bogor, Agustus 2008

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan yang tiada terhitung dan atas anugerah yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Sayyidina Muhammad saw. yang teramat mencintai ummatnya sehingga mengajarkan kepada kita kebaikan.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada :

1. Dr. Ir. Herry Purnomo, M.Comp dan Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc sebagai dosen pembimbing skripsi atas keikhlasannya dalam meluangkan waktu, berbagi ilmu, bimbingan dan nasihat serta motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Semoga Allah SWT membalasnya dengan sebaik-baik balasan.

2. Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS sebagai dosen penguji wakil Departemen Hasil Hutan dan Dr. Ir. Yeni A. Mulyani, M.Sc sebagai dosen penguji wakil Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata yang telah memberikan arahan, masukan dan pengalaman berharga untuk penyempurnaan skripsi ini.

3. Ayah dan Ibu tersayang atas setiap do’a yang tercurah, setiap kebaikan yang terlimpah, kasih sayang dan pengorbanan yang senantiasa diberikan serta motivasi untuk penulis. Aa’ Hadi dan adik-adikku tersayang Evi dan Doni, tiada kebaikan yang tersia-siakan, semoga Allah SWT mencurahkan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan selalu.

4. Habibana Munzir bin Fuad al Musawa, Bang Emil Fadli, Wisnu, Febi Muryanto, Sandrio dan kawan Lingkaran Pengokoh Ruhiyah terima kasih atas do’a, ilmu, perhatian dan bantuan. Semoga Allah menguatkan ukhuwah kita, semoga kita dapat berkumpul di surga-Nya nanti di bawah Panji Rasulullah saw.

5. Kepala, Staf dan Pegawai KPH Banten Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten dan KBM Wilayah II bogor atas bantuan penelusuran data dan kemudahan yang diberikan.

(8)

6. Sahabatku dalam kebaikan : Arizia, Jati, Hadi, Agus, Nuralim, Dwi, Arul, Nur, Sofwan, Azam, Ncep, Nurban, dan teman-teman MNH 40 atas do’a, motivasi dan dukungan. Semoga kalian dalam kebahagian selalu.

7. Ibu Riksawati atas bantuan, pinjaman komputernya dan keluarga besar Lab. Biometrika Hutan atas ilmu, pengalaman dan dukungan.

8. Keluarga besar DKM ‘Ibaadurrahman, saudaraku di Rotan 40 dan FMNC (Forum Management Ngaji Club) yang telah memberikan banyak pelajaran untuk selalu memperbaiki diri dan cerdas dalam memaknai kehidupan, semoga tetap Ikhlas dan Profesional dalam berdakwah.

9. Sahabatku di Angka1 Event Organizer untuk setiap waktu dan kebersamaan yang telah terjalin. Semoga semakin sukses dan mendapatkan apa yang kalian selama ini cari.

10. Sahabatku di kost-an : Aliy Cool, Sarwo, Santo, Mamo, Ramdhan. Makasih atas PGT-annya, sehingga masih bisa numpang hingga penulis lulus, semoga kebaikan kalian menjadi anugerah yang mendekatkan kalian kepada Rabb yang teramat mencintai hamba-Nya.

11. Seluruh staf pengajar Fakultas Kehutanan IPB khususnya Departeman MNH atas ilmu yang diberikan, semoga menjadi ilmu yang manfaat dunia dan akhirat. Staf administrasi Departeman MNH atas bantuan dan kerjasamanya, Terima kasih banyak.

12. Teman-teman satu almamater Fakultas Kehutanan IPB dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga senantiasa kebaikan kalian semua menjadi kebaikan di sisi Allah SWT.

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ...i

UCAPAN TERIMA KASIH ...ii

DAFTAR ISI ...iv

DAFTAR TABEL ...vi

DAFTAR GAMBAR ...vii

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Pendekatan masalah ... 2

D. Tujuan Penelitian ... 3

E. Output Yang Diharapkan... 3

F. Manfaat Penelitian... 4

TINJAUAN PUSTAKA ... 5

A. Hutan dan Jati ... 5

B. Teori Sistem, Analisis dan Dinamika Sistem ... 7

C. Analisis dan Desain Sistem... 8

D. Sistem Dinamik... 9

E. Rantai Nilai dan Nilai Tambah ... 9

METODE PENELITIAN... 14

A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 14

B. Alat dan Bahan... 14

1. Alat ... 14

2. Bahan... 14

C. Metode Pengumpulan Data... 15

D. Metode analisis ... 15

E. Pengolahan Data, Pembuatan Model, dan Analisis Data ... 16

KONDISI UMUM PERTAMBAHAN NILAI JATI ... 20

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24

A. Pengembangan Model ... 24

(10)

2. Konseptualisasi ... 25

3. Pertambahan Nilai Jati KPH Banten ... 28

4. Spesifikasi Model... 31

B. Evaluasi ... 37

C. Penggunaan Model ... 39

1. Simulasi Dasar ... 39

2. Pembuatan skenario ... 45

KESIMPULAN DAN SARAN ... 50

A. Kesimpulan ... 50

B. Saran ... 50

DAFTAR PUSTAKA ... 51

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Harga jual kayu bundar di Myanmar pada tahun 1994-1998 ... 20

Tabel 2 Harga rata-rata gergajian kayu jati Myanmar (April-Mei 2007) ... 21

Tabel 3 Volume penjualan kayu bulat jati dan penerimaan Perhutani (1998-2002)... 22

Tabel 4 Nilai Kayu gergajian jati di berbagai negara ... 23

Tabel 5 Pertambahan nilai kayu jati di tiap aktor dan produk (Rp x 1.000/m3)... 29

Tabel 6 Pertambahan nilai kayu jati (Rp x 1000/m3)... 29

Tabel 7 Pertambahan nilai kayu jati pada bahan dan produk hasil (Rp x 1000) .. 30

Tabel 8 Analisis sensitivitas dengan total pertambahan nilai (Rp) ... 39

Tabel 9 Jumlah pohon tiap KU pada akhir tahun simulasi dasar ... 40

Tabel 10 Stok kayu dan volume penjualan tahun (simulasi dasar) ... 41

Tabel 11 Total pertambahan nilai tahun ke-7, 31 dan 100 (simulasi dasar) ... 42

(12)

Gambar 2 Rantai nilai sederhana oleh Kaplinsky dan Morris (2000) ... 11

Gambar 3 Tahapan Pemodelan... 18

Gambar 4 Konseptualisasi model yang dikembangkan ... 27

Gambar 5 Diagram sebab akibat alir kayu jati KPH ... 28

Gambar 6 Submodel areal hutan ... 32

Gambar 7 Submodel penjualan kayu KPH ... 33

Gambar 8 Submodel perantara (broker) ... 34

Gambar 9 Submodel penggergajian... 35

Gambar 10 Submodel furnitur... 36

Gambar 11 Submodel Finishing dan penjual ... 36

Gambar 12 Analisis sensitivitas model terhadap perubahan total pertambahan nilai... 38

Gambar 13 Dinamika tegakan kelas umur (simulasi dasar)... 40

Gambar 14 Pertambahan nilai dari KPH... 42

Gambar 15 Pertambahan nilai broker (simulasi dasar)... 43

Gambar 16 Pertambahan nilai kayu pada penggergajian (simulasi dasar) ... 43

Gambar 17 Pertambahan nilai kayu pada industri furnitur (simulasi dasar)... 44

Gambar 18 Pertambahan nilai kayu pada industri finishing dan penjual furnitur (simulasi dasar)... 45

Gambar 19 Total pertambahan nilai pada skenario I... 46

Gambar 20 Total pertambahan nilai pada skenario II... 47

(13)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Hutan jati di Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan secara baik dan dikelola menurut asas kelestarian secara ekonomi, ekologi dan sosial. Hutan jati di Indonesia saat ini merupakan tegakan yang tidak normal, yang didominasi oleh pohon-pohon muda yang seharusnya tidak dipanen dalam jangka waktu puluhan tahun.

Permasalahan yang terjadi dalam pengusahaan hutan jati begitu kompleks, mulai dari kegiatan produksi (pembuatan tanaman), pemeliharaan sampai dengan pemasaran hasil hutannya. Permasalahan ini tidak hanya dari segi teknis tanam-menanam saja tetapi juga menyangkut aspek ekonomi, sosial budaya sampai dengan kebijakan pemerintah. Permasalahan tersebut menjadi menarik sebagian orang untuk terus belajar dan mencari tahu. Ada dua permasalahan penting yang berkaitan dengan pengusahaan kayu jati, yaitu: pertama, batas etat yang diperbolehkan dalam penebangan dan kedua, nilai jual. Jika batas pasokan yang pada etat tersebut selalu memperoleh tekanan untuk memenuhi kebutuhan industri, maka yang terjadi adalah penurunan daya produksi hutan dan kerusakan sumberdaya hutan dan lingkungan. Ini berarti menjadikan produktivitas hutan sebagai penjaga gawang terakhir bagi keberlanjutan produksi bahan baku, produksi industri kerajinan dan kebutuhan konsumen.

Dalam pengembangan pengusahaan kayu jati, informasi tentang pasar komoditi (kayu) yang dihasilkan hutan, baik yang dikelola pemerintah maupun rakyat sangatlah penting sehingga pasar sangat berperan dalam menentukan harga jual, begitu juga faktor kelestarian hutan mutlak dibutuhkan untuk memengaruhi pasar. Untuk itu diperlukan kajian mengenai sistem pengusahaan hutan dan bisnis perkayuan, khususnya jati, yang menguntungkan dengan tetap memerhatikan produktivitas hutan, karena bagaimanapun juga penanam dan aktor bisnis perkayuan mengharapkan keuntungan dari penjualan kayunya.

(14)

B. Rumusan Masalah

Penjualan dan perkembangan bisnis kayu jati memiliki andil dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemasukan kas negara. Namun demikian, pada umumnya keuntungan yang diperoleh petani dalam penjualan kayu yang dihasilkan masih tergolong rendah dibanding pelaku pasar lainnya. Selama ini, disinyalir sistem pemasaran yang kurang menguntungkan dipengaruhi oleh kinerja pengusahaan hutan dan bisnis perkayuan.

Terdapat hubungan tarik menarik antara struktur, perilaku dan kinerja pengusahaan hutan rakyat dalam batasan kelestarian ekosistem, sosial dan ekonomi serta sistem pemanenan yang tebang butuh. Hubungan ini membentuk suatu permasalahan sistemik dimana antara satu dengan yang lainnya saling terkait dan saling memberikan pengaruh. Untuk itu penelitian ini ingin menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana penggambaran sistem pengusahaan kayu jati dan simulasi model dinamik komponen pertambahan nilai dalam sistem pengusahaan kayu jati?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan nilai produk kayu jati?

3. Skenario apa yang mendorong bagi kelangsungan kelestarian hutan dan industri furnitur?

C. Pendekatan masalah

Pengusahaan hutan dapat dipandang sebagai sebuah sistem yang terbentuk dari subsistem-subsistem yang mendukungnya dan saling berhubungan. Sistem yang membentuk pengusahaan hutan dan bisnis perkayuan terdiri dari tiga subsistem yaitu subsistem produksi, subsistem pengolahan hasil hutan, dan subsistem pemasaran. Hubungan antar elemen atau subsistem ini kemudian menimbulkan suatu permasalahan yang kompleks, yang mengarah pada permasalahan sistemik dan saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain

Ruang lingkup kajian ini adalah analisis structure (struktur), conduct (perilaku), performance (kinerja) pengusahaan hutan rakyat. Dengan menganalisis ketiga aspek tersebut (struktur, perilaku dan kinerja) yang terjadi dalam

(15)

3

pengusahaan hutan jati maupun sifat hubungan antar ketiga aspek tersebut diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi atau acuan dalam pengambilan keputusan dalam penentuan kebijakan pengusahaan hutan dan hasil hutan, khususnya jati, baik dari sisi produksi, pemeliharaan, maupun pemasaran. Permasalahan ini akan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu, sehingga pendekatan yang kemudian digunakan dan dianggap sesuai dalam penelitian ini adalah dengan melalui pendekatan sistem.

Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan sistem dinamik, yaitu pendekatan dalam pembuatan model yang menekankan hubungan sebab akibat antar variabel dan pola-pola tingkah laku yang dibangkitkan dengan bertambahnya waktu. Software yang digunakan untuk membantu analisis dalam pendekatan sistem dinamik adalah STELLA. Penggunaan pendekatan ini lebih ditekankan kepada tujuan-tujuan peningkatan pemahaman tentang bagaimana tingkah laku muncul dari struktur kebijakan dalam suatu sistem.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Tergambarkannya sistem pengusahaan kayu jati dalam sebuah model simulasi serta mempelajarinya dengan pendekatan sistem dinamik.

2. Diperolehnya informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan rantai nilai produk kayu jati.

3. Tersusunnya rekomendasi skenario kebijakan yang sesuai dan menguntungkan bagi para pelaku pada sistem pengusahaan hutan dan hasil hutan, khususnya usaha furnitur kayu jati.

E. Output Yang Diharapkan

1. Informasi mengenai keterkaitan antar komponen pada proses pengusahaan hutan dan hasil hutan, khususnya jati.

2. Tersedianya simulasi model sistem pengusahaan hutan dan hasil hutan, khususnya jati.

3. Tersedianya dokumen yang berisi gambaran mengenai perilaku dan kinerja pasokan bahan baku industri furnitur.

(16)

F. Manfaat Penelitian 1. Bagi Pemerintah Daerah

Tersedianya informasi mengenai alternatif peningkatan potensi dan kesejahteraan bagi masyarakat di daerah yang bisa digunakan sebagai acuan dalam perumusan kebijakan, khususnya untuk pengembangan hutan rakyat. 2. Bagi masyarakat

Tersedianya informasi mengenai pengembangan pengusahaan hutan dan industri furnitur kayu jati (furnitur) agar tetap sukses bertahan pada pasar global.

3. Bagi KPH (Perhutani)

Tersedianya informasi bagi KPH dalam upaya menyeimbangkan rasio kelestarian hutan dengan produksi yang dihasilkan serta masukan pengembangan usaha lainnya.

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hutan dan Jati

Dalam UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan dijelaskan bahwa hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

Jati merupakan tanaman tropika dan subtropika yang sejak abad ke-9 telah dikenal sebagai pohon yang memiliki kualitas tinggi dan bernilai jual tinggi. Di Indonesia, jati digolongkan sebagai kayu mewah (fancy wood) dan memiliki kualitas awet tinggi yang tahan gangguan rayap serta jamur dan mampu bertahan hingga 500 tahun (Sumarna, 2003).

Dalam sistem klasifikasi, tanaman jati mempunyai penggolongan sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta

Kelas : Angiospermae Sub-kelas : Dicotyledone Famili : Verbenaceae Genus : Tectona

Spesies : Tectona grandis Linn. F

Jati menyebar luas mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, sampai ke Indonesia khususnya Pulau Jawa. Jati tumbuh di hutan yang menggugurkan daun di musim kemarau. Menurut sejumlah ahli botani, jati merupakan spesies asli di Myanmar, yang kemudian menyebar ke semenanjung India, Muangthai, Filipina, dan Jawa. Sebagian ahli botani lain menganggap jati adalah spesies asli di Myanmar, India, Thailand dan Laos. Sekitar 70% kebutuhan jati dunia pada saat ini dipasok oleh Myanmar. Sisa kebutuhan itu dipasok oleh India, Thailand, Indonesia, Srilangka, dan Vietnam. Pasokan dunia dari hutan jati alam satu-satunya berasal dari Myanmar. Sedangkan lainnya berasal dari hasil hutan tanaman jati (Wikipedia Indonesia, 2007).

(18)

 Jati paling banyak tersebar di Asia. Selain di keempat negara asal jati (Myanmar, India, Thailand dan Laos) dan Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680), Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan Malaysia (1909). Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl. Tegakan jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya terdiri dari satu jenis pohon. Ini dapat terjadi di daerah beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu. Tidak demikian dengan jati. Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran karena kulit kayunya tebal. Tanah yang sesuai adalah yang agak basa, dengan pH antara 6-8, sarang (memiliki aerasi yang baik), mengandung cukup banyak kapur (Ca) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang air. Pada masa lalu, jati sempat dianggap sebagai jenis asing yang dimasukkan (diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu.

Di Jawa, hutan jati tercatat menyebar di pantai Utara Jawa, mulai dari Kerawang hingga ke ujung Timur pulau ini. Namun, hutan jati paling banyak menyebar di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu sampai ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Hanya di daerah Besuki jati tumbuh tidak lebih dari 200 meter di atas permukaan laut. Di kedua provinsi ini, hutan jati sering terbentuk secara alami akibat iklim muson yang menimbulkan kebakaran hutan secara berkala. Hutan jati yang cukup luas di Jawa terpusat di daerah alas roban Rembang, Blora, Grobogan, dan Pati. Bahkan, jati jawa dengan mutu terbaik dihasilkan di daerah tanah perkapuran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Saat ini, sebagian besar lahan hutan jati di Jawa dikelola oleh Perhutani, sebuah perusahaan umum milik negara di bidang kehutanan. Pada 2003, luas lahan hutan Perhutani mencapai hampir seperempat luas Pulau Jawa. Luas lahan hutan jati Perhutani di Jawa mencapai sekitar 1,5 juta hektar. Ini nyaris setara dengan setengah luas lahan hutan Perhutani atau sekitar 11% luas Pulau Jawa (Wikipedia Indonesia, 2007). Di Indonesia sendiri, selain di pulau Jawa dan pulau Muna, jati

(19)

7

juga dikembangkan di pulau Bali dan Nusa Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, ada upaya untuk mengembangkan jati di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan, namun hasilnya kurang menggembirakan.

B. Teori Sistem, Analisis dan Dinamika Sistem

Menurut Amirin (1992), istilah sistem berasal dari istilah Yunani “systema” yang mengandung arti keseluruhan (a whole) yang tersusun dari sekian banyak bagian; berarti pula hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen secara teratur. Istilah sistem dipergunakan untuk menunjukkan banyak hal diantaranya untuk menunjukkan suatu himpunan bagian yang saling berkaitan; keseluruhan organ-organ tubuh tertentu; sehimpunan ide-ide, prinsip dan sebagainya; hipotesis atau teori; metode atau tata cara (prosedur); skema atau metode pengaturan susunan sesuatu.

Sedangkan menurut Simatupang (1995), sistem adalah kumpulan obyek-obyek yang saling berinteraksi dan bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu dalam lingkungan yang komplek. Obyek yang dimaksud disini adalah bagian-bagian dari sistem, seperti input, proses, output, pengendalian umpan balik, dan batasan-batasan dimana setiap bagian ini mempunyai beberapa nilai atau harga yang bersama-sama menggambarkan keadaan sistem pada suatu saat tertentu. Interaksi disini menghasilkan suatu ikatan antar obyek-obyek dalam proses sistem, antara sistem dengan subsistem, sehingga dihasilkan suatu perilaku sistem tertentu. Lima unsur utama dalam sistem, yaitu elemen-elemen atau bagian-bagian yang meliputi:

a. Adanya interaksi atau hubungan antar elemen-elemen atau bagian-bagian b. Adanya sesuatu yang mengikat elemen-elemen atau bagian-bagian tersebut

menjadi suatu kesatuan

c. Terdapat tujuan bersama, sebagai hasil akhir d. Berada dalam suatu lingkungan yang kompleks.

Studi teori sistem dapat didefinisikan sebagai studi transdisiplin tentang abtraksi organisasi fenomena, yang independen dari substansinya, tipe maupun skala spasial dan temporal dari keberadaannya. Studi ini menginvestigasi prinsip-prinsip umum dari entitas-entitas kompleks, dan biasanya menggunakan model

(20)

matematika untuk menggambarkan prinsip-prinsip tersebut (Heylighen dan Joslyn, 1992).

Purnomo (2005) menyebutkan bahwa teori sistem erat hubungannya dengan sibernetika dan dinamika sistem (system dynamics), yaitu model-model yang terdiri dari jaringan peubah yang berubah dengan waktu; seperti model-model “world dynamics” dari Jay Forrester dan Club of Rome. Dijelaskan pula bahwa model adalah abstraksi dari sebuah sistem. Sistem adalah sesuatu yang terdapat di dunia nyata (real world). Sehingga pemodelan adalah kegiatan yang membawa seluruh dunia nyata ke dalam dunia tak nyata atau maya tanpa kehilangan sifat-sifat utamanya. Melalui model tersebut beragam percobaan dan perlakuan bisa dimplementasikan, sehingga dampak dari beragam implementasi tersebut dapat segera diketahui.

C. Analisis dan Desain Sistem

Analisis sistem berguna mendekati masalah yang secara intuitif dapat digolongkan ke dalam organized complexities atau kompleksitas yang terorganisasi. Analisis sistem berguna untuk membahas sistem kompleks yang terorganisasi baik yang terlihat atau tidak terlihat (Purnomo, 2005).

Analisis sistem juga mempersyaratkan adanya dasar pemahaman terhadap sistem tersebut baik sedikit atau banyak. Pemahaman tersebut dapat dicari melalui perenungan atau sejumlah pustaka yang ada.

Tahapan pemodelan yang berbasis komputer telah dikemukakan dalam banyak literatur, salah satunya dikemukakan oleh Grant et al. (1997) yang menjelaskan tahapan tersebut sebagai berikut:

1. Menentukan batasan sistem yang akan diteliti dan mengidentifikasi komponen-komponen dari sistem berupa parameter dan peubah sistem. 2. Pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif.

3. Menentukan model matematika yang nenyatakan hubungan fungsional antar komponen tersebut.

4. Evaluasi model, dimana model dimantapkan dengan percobaan-percobaan melalui komputer dan dibandingkan dengan keadaan sistem yang sebenarnya atau melalui komputer dan dibandingkan dengan

(21)

9

keadaan sistem yang sebenarnya atau melalui uji stastistik dan observasi.

5. Eksperimen model dengan komputer, termasuk uji kepekaan (sensitivity analysis).

6. Implementasi hasil simulasi (aplikasi model).

D. Sistem Dinamik

Ford (1999) dalam Purnomo (2005) menjelaskan bahwa sistem dinamik atau system dynamics secara formal mulai dikenal tahun 1960-an melalui kerja Jay W. Forrester dan koleganya dari Sloan School of Management di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat. Mereka mengembangkan ide-ide penerapan konsep teori kontrol umpan balik terhadapa sistem-sistem industri. Ide-ide ini kemudian dikenal sebagai industrial dynamics yang diimplementasikan dengan perangkat lunak DYNAMO.

Forrester (1999) dalam Purnomo (2005) mendefinisikan dinamika sistem sebagai sebuah bidang untuk memahami bagaimana sesuatu berubah menurut waktu. Dinamika sistem berakar dari atau dibentuk oleh persamaan-persamaan difference dan diferensial. Purnomo (2005) juga menjelaskan bahwa dinamika sistem merupakan studi mengenai perubahan sistem menurut waktu dengan memperhatikan faktor umpan balik.

E. Rantai Nilai dan Nilai Tambah

Istilah value chain (rantai nilai) pertama kali dikemukakan oleh Michael Porter dalam bukunya berjudul "Competitive Advantage: Creating and Sustaining superior Performance" pada tahun 1985. Analisis rantai nilai ini, menguraikan aktivitas di dalam dan sekitar organisasi dan menghubungkannya pada posisi dan suatu analisa organisasi pesaing yang kuat (Recklies, 2001).

Gambar 1 berikut merupakan model dasar rantai nilai dari Porter (1985). Gambar tersebut menjelaskan bahwa istilah margin (keuntungan) menyiratkan bahwa kemampuan organisasi atau perusahaan untuk mendapatkan profit margin tergantung kepada kemampuan mengelola hubungan antar semua aktivitas dalam rantai nilai, dengan kata lain sebuah organisasi atau perusahaan akan mampu

(22)

memberikan sebuah barang atau jasa kepada konsumen dengan kemampuan membayar lebih (willingness to pay) dari jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rantai nilai tersebut.

Inbound Logistics > Operations > Outbound Logistics > Marketing and Sales > Service > M A R G I N Firm Infrastructure HR Management Technology Development Procurement M A R G I N Sumber : Porter (1985)

Gambar 1 Model dasar value chain

Gambar 1 di atas juga menjelaskan bahwa kegiatan transformasi input menjadi output yang meliputi inbound logistik, operasional, outbound logistik, pemasaran dan penjualan, dan jasa serta berbagai pendukung perusahaan seperti infrastruktur perusahaan, SDM, pengembangan teknologi, dan pengadaan yang dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaannya merupakan kegiatan yang saling terkait dalam value chain.

Menurut sebuah artikel dalam www.quickmba.com, tujuan aktivitas transformasi yang digambarkan Porter (1985) adalah untuk menciptakan nilai yang melebihi biaya yang dikeluarkan dalam menyediakan produk atau jasa, dengan demikian dapat meningkatkan keuntungan. Dalam artikel tersebut juga menjelaskan proses primer value chain, yaitu :

1. Inbound logistik, proses ini meliputi penerimaan, pergudangan, dan pengendalian persediaan masukan material

2. Operasional merupakan aktivitas yang berhubungan dengan proses pembentukan nilai yang mengubah input kepada produk akhir

3. Outbound logistik adalah aktivitas yang diperlukan untuk mendapatkan produk jadi kepada konsumen, termasuk pergudangan dan pemenuhan pesanan

(23)

11

4. Pemasaran dan penjualan adalah aktivitas yang berhubungan dengan pembeli yang potensial termasuk di dalamnya pemilihan saluran penjualan, iklan dan penetapan harga

5. Jasa atau layanan merupakan aktivitas pemeliharaan dan peningkatan nilai produk termasuk di dalamnya menjaga kepuasan konsumen dan perbaikan pelayanan.

Rantai nilai menguraikan cakupan aktivitas yang diperlukan untuk membawa produk atau jasa (layanan) dari konsepsi, sampai tahap produksi yang berbeda (menyertakan suatu kombinasi perubahan bentuk fisik dan masukan berbagai produsen jasa), penyerahan ke konsumen akhir, dan penjualan akhir setelah penggunaannya (Kaplinsky dan Morris, 2000). Empat mata rantai nilai secara sederhana menurut Kaplinsky dan Morris (2000) dapat dilihat pada Gambar 2 berikut :

Gambar 2 Rantai nilai sederhana oleh Kaplinsky dan Morris (2000) Kaplinsky dan Morris (2000) juga menjelaskan bahwa, dunia produksi dan pertukarannya yang sering diteliti bersifat kompleks dan heterogen. Tidak hanya berbeda rantai nilai (keduanya berada di dalam dan antar sektor), tetapi juga dilakukan dalam konteks lokal dan nasional. Tidak ada metodologi mekanis yang digunakan melainkan dengan metode rantai nilai. Tiap rantai masing-masing mempunyai karakteristik tertentu, peneliti dapat membedakan dan mengaitkan objek penelitiannya lebih luas dan dapat secara efektif ditangkap dan diteliti dengan pemahaman yang luas pula. Metode rantai nilai dimulai dengan pemahaman alami pasar akhir (final markets), serta dipengaruhi:

1. Titik masukan untuk rantai nilai analisa. 2. Pemetaan rantai nilai.

3. Segmen produk dan faktor sukses kritis pasar akhir.

Desain Produksi Konsumsi dan

pendauran ulang Pemasaran

(24)

4. Bagaimana produsen mengakses pasar akhir. 5. Benchmarking efisiensi produksi.

6. Penguasaan berharga rantai. 7. Meningkatkan mutu rantai nilai. 8. Distribusi.

Schmitz (2005) dalam Purnomo (2006) menjelaskan bahwa analisa rantai nilai sangat efektif digunakan pada aliran perdagangan produk, dapat menunjukan tahapan pertambahan nilai dan mengidentifikasi aktor kunci dan kerjasama terhadap aktor lainnya dalam sistem.

Menurut Schiebel (2007) Analisis rantai nilai didefinisikan sebagai sebuah satu kesatuan yang terintegrasi (aktivitas struktur harga dasar, biaya kepemilikan, biaya eksternal dan internal) dan proses yang digunakan untuk menggambarkan capaian dan biaya-biaya pada saat ini, seperti halnya dalam menilai dampak potensi yang diusulkan oleh ECR (Efficient Consumer Response) pada peningkatan konsep keseluruhan rantai persediaan untuk kategori produk konsumsi.

Sedangkan dalam artikel yang dimuat oleh www.mindtools.com disebutkan definisi analisa rantai nilai yaitu suatu alat analisis untuk mendapatkan bagaimana kemungkinan nilai terbesar bagi konsumen, sebagaimana mendapatkan nilai keuntungan maksimal bagi produsen/penjual. Pada artikel tersebut juga menyebutkan tahapan proses analisa rantai nilai yaitu:

1. Analisa aktivitas, langkah pertama yang dilakukan dalam analisa rantai nilai adalah mengidentifikasi yang dilakukan untuk menciptakan suatu barang atau jasa.

2. Analisa nilai, langkah kedua adalah menilai aktivitas yang dilakukan agar mendapat nilai terbesar bagi konsumen

3. Evaluasi dan perencanaan, langkah ketiga adalah mengevaluasi apakah barang atau jasa yang dihasilkan mengalami perubahan nilai atau tidak, kemudian merencanakan tindakan kedepan.

Samuelson (1980) dan Gordon (1981) dalam Prahasto (1990) menjelaskan konsep nilai tambah (value added) pada awalnya merupakan metoda yang digunakan dalam perhitungan produk nasional kotor (GNP), dengan konsep ini,

(25)

13

maka total nasional adalah penjualan dari nilai tambah setiap sektor. Perhitungan GNP dengan metoda ini terutama ditunjukkan untuk menghindarkan terjadinya double counting product akibat dihitungnya produk antara (intermediate product) dalam GNP padahal sebenarnya termasuk pada perhitungan produk akhir.

Nilai tambah adalah seluruh tambahan biaya yang mencakup upah, bunga, sewa, dan keuntungan akibat bertambahnya rantai kegiatan ekonomi atau tahapan produksi (Samuelson, 1980 dalam Prahasto, 1990). Perubahan dari ekspor kayu bulat menjadi ekspor kayu gergajian, selain menambah panjang rantai pengolahan produk sebelum diekspor juga menambah biaya yang diperlukan untuk pengolahan yang merupakan nilai tambah.

(26)

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di KPH Banten Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, Propinsi Banten. KBM Wilayah II Bogor, dan Industri pengolahan kayu jati wilayah sekitar Jakarta pada bulan November hingga Desember 2007.

B. Alat dan Bahan 1. Alat

Alat yang digunakan meliputi :

a. Seperangkat komputer, software STELLA 8.0 dan Minitab 14 b. Panduan penelitian

c. Kuisioner pertanyaan

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder untuk proses simulasi dan pemodelan :

a. Data primer, meliputi: catatan lapangan (field report) sebagai hasil pengamatan langsung, lembar jawaban kuisioner dan hasil wawancara dari setiap aktor yang terlibat dalam rantai nilai serta sumber informasi penting lainnya.

b. Data sekunder, meliputi: berbagai dokumentasi administratif bidang kehutanan, seperti blangko data (form) monografi kehutanan pada berbagai tingkat pemerintahan, blangko administrasi kayu meliputi daftar penjualan, daftar harga jual dasar kayu bundar jati, data biaya pengelolaan, data potensi luasan dan volume, data sosial ekonomi serta sebaran jenis hutan serta data penunjang lainnya yang dianggap perlu.

(27)

15

C. Metode Pengumpulan Data

Data sekunder diperoleh dari KPH Banten dan KBM Wilayah II Bogor yang meliputi data luasan hutan kelas perusahaan jati, volume dan luasan tebang, potensi hutan, data pembiayaan pengelolaan hutan, daftar penjualan, dan daftar harga jual dasar kayu bundar jati. Pengumpulan informasi lainnya yaitu melalui wawancara terstruktur dan studi pustaka.

a. Wawancara terstruktur dengan menggunakan kuisioner. Kuisioner adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk tujuan mengumpulkan data dan pendapat dari responden yang ada hubungannya dengan studi penelitian. Teknik kuisioner dipilih untuk menggali informasi terkait dengan objek penelitian dengan mengumpulkan informasi dari broker, dan industri pengolahan kayu jati yang menggunakan kayu KPH Banten sebagai bahan baku.

b. Studi pustaka. Studi pustaka merupakan teknik pengumpulan data dari sumber-sumber yang relevan. Studi dokumenter mencakup dokumentasi administratif dari lembaga yang besangkutan, juga berbagai literatur dan hasil penelitian lain yang berhubungan. Studi pustaka adalah mempelajari pustaka yang terkait dengan penelitian untuk lebih memahami kondisi riil lapangan. Pustaka yang dipilih difokuskan pustaka-pustaka yang masih terkait dengan tema penelitian.

D. Metode analisis

Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan sistem. Pendekatan sistem digunakan sebagai metode untuk mengintegrasikan ragam pengetahuan yang didapat dari beragam metode untuk menyelesaikan masalah yang kompleks (Purnomo, 2005). Pendekatan sistem menekankan pada sebuah analisis dan desain secara keseluruhan, dari sebuah komponen atau bagian-bagian. Pendekatan sistem melihat suatu permasalahan dari luar dan memperhitungkan dari setiap segi dan variabel, dan hubungan sosial dengan aspek-aspek teknologi.

(28)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pemodelan sistem yang merupakan bagian dari pendekatan sistem. Pendekatan ini dilakukan untuk menghadapi permasalahan yang kompleks dan tidak mungkin diselesaikan dengan pendekatan analitis. Pendekatan analitis adalah suatu pendekatan yang memanfaatkan persamaan-persamaan deduktif untuk menggambarkan keseluruhan sistem dan dinamikanya. Purnomo (2005) menyebutkan bahwa analisis sistem mendasarkan pada kemampuan untuk memahami fenomena dari jumlah data yang tersedia. Analisis sistem adalah sebuah pemahaman yang berbasis pada proses, sehingga sangat penting untuk berusaha memahami proses-proses yang terjadi. Analisis sistem juga menguraikan suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, kesempatan-kesempatan, hambatan-hambatan dan kebutuhan-kebutuhan yang terjadi pada dunia nyata yang diharapkan menjadi umpan balik informasi, sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya.

E. Pengolahan Data, Pembuatan Model, dan Analisis Data 1. Identifikasi isu, tujuan dan batasan.

Identifikasi isu, tujuan dan batasan penting dilakukan untuk mengetahui dimana sebenarnya pemodelan perlu dilakukan. Membuat tujuan secara spesifik agar semakin memudahkan proses pembuatan model, dalam hal ini peneliti membatasi ruang lingkup penelitian pada produk-produk furnitur kayu jati yang berasal dari satu KPH. Sedangkan isu yang diangkat adalah mencari model pertambahan rantai nilai serta pihak yang berperan dalam meraih keuntungan. 2. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

a. Pengolahan data wawancara terstruktur (kuisioner). Pengolahan data tahap ini bertujuan untuk membuat data input model, data diolah menjadi data kuantitatif (tabulasi) baik dalam bentuk tabel, grafik ataupun diagram.

b. Pengolahan data sekunder, seperti data produksi, data penjualan kau bulat Perhutani dan volume. Pengolahan data sekunder ini

(29)

17

bertujuan untuk membuat data input model dari sumber yang relevan yang selanjutnya data tersebut diolah menjadi data kuantitatif (tabulasi) baik dalam bentuk tabel maupun grafik atau diagram.

c. Studi pustaka digunakan sebagai bahan tambahan, dasar perhitungan yang relevan untuk studi ini.

3. Konseptualisasi Model

Pemodelan dinamik merupakan pemodelan yang menggambarkan perubahan yang terjadi pada suatu sistem berdasarkan waktu (bersifat dinamis). Dalam pemodelan ini satuan waktu yang digunakan adalah tahun. Fase ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh tentang model yang dibuat. Memasukkan data yang telah diolah ke dalam model (sebagai input) dan membuat simulasi.

4. Spesifikasi Model

Melakukan perumusan yang lebih detil dari setiap hubungan yang ada dalam model konseptual. Jika pada model konseptual, hubungan dua komponen dapat digambarkan dengan anak panah, maka pada fase ini anak panah tersebut dapat berupa persamaan numerik dengan satuan-satuan yang jelas. Peubah waktu yang dapat digunakan dalam pemodelan juga harus ditentukan.

5. Evaluasi Model

Fase ini bertujuan untuk melihat apakah relasi yang dibuat telah logis sesuai dengan harapan atau perkiraan. Tahapan dalam fase ini adalah:

a. Pengamatan model dan membandingkan dengan kenyataan pada dunia nyata

b. Mengamati perilaku model, apakah sesuai dengan harapan/ kenyataan yang digambarkan pada fase konseptualisasi model c. Membandingkan perilaku model dengan data yang didapat dari

sistem atau dunia nyata

Proses pengujian kewajaran dan kelogisan model adalah melakukan pembandingan dunia nyata dengan model yang dibuat. Perbandingan dilakukan dengan uji Khi Kuadrat (χ2) (Walpole, 1995) dengan rumus berikut :

(30)

dengan hipotesis = Ho : ymodel = yriil

H1 : yriil ≠ ymodel

Dengan kriteria hitung uji = χ2 hitung < χ2 tabel : terima Ho

χ2 hitung > χ2 tabel : tolak Ho

6. Penggunaan Model

Model dapat dipakai untuk mengevaluasi ragam skenario atau kebijakan dan pengembangan perencanaan dan agenda bersama antar pihak. Dalam penggunaan model ini diperlukan kegiatan:

o Membuat daftar panjang skenario dari semua skenario yang mungkin dapat dibuat dan akan dikembangkan

o Menganalisis hasil dari daftar pendek skenario

o Merumuskan skenario tersebut menjadi pilihan kebijakan.

Tahapan pemodelan dan analisis data pada studi ini disajikan pada Gambar 3 berikut:

Gambar 3 Tahapan Pemodelan Identifikasi Isu, tujuan dan batasan

Konseptualisasi model Spesifikasi model Evaluasi model Penggunaan model

(31)

19

Dalam penelitian ini, analisis rantai nilai dilakukan dengan :

1. Penelusuran rantai nilai tataniaga kayu dari produsen (Perhutani) sampai ke pedagang dan konsumen, serta melakukan pemetaan aliran produk yang mencakup: a) nilai output kotor, b) nilai input, dan c) aliran fisik dari produk

2. Analisa nilai tambah dan distribusi nilai tambah yang diterima masing-masing aktor yang dirumuskan sebagai berikut :

π = Hj – B

Dimana:

π = Keuntungan yang diterima oleh aktor Hj = Harga jual produk

B = Total biaya

3. Selanjutnya memasukkan nilai-nilai yang telah dicari ke dalam model simulasi.

(32)

Jati merupakan salah satu komoditi berasal dari hutan yang baik dan bernilai jual tinggi, karena memiliki nilai fisik dan estetika yang tinggi. Di Indonesia jati banyak diperoleh di Pulau Jawa. Selain di Indonesia jati juga banyak ditemukan di Kamboja, Thailand, Myanmar dan India. Nilai jati terus mendapat perhatian karena perannya dalam peningkatan devisa negara serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di Kamboja, pengelolaan hutan jati yang dikelola oleh negara dengan rotasi 30 tahun dengan perlakuan penjarangan menghasilkan nilai keuntungan bagi perusahaan sebesar US$ 1.000/Ha pada tahun ke-3, US$ 2.000/Ha pada tahun ke-8 dan US$ 4.000/Ha pada tahun ke-15 dan 20 sedangkan pada tahun ke-30 pada pengelolaan tersebut mengasilkan keuntungan US$ 30.000/Ha. Nilai yang hampir sama didapat pada pengelolaan tanpa penjarangan, yaitu sebesar US$ 30.000/Ha, dengan nilai estimasi pohon berdiri sebesar US$ 100/pohon dan terdapat 300 pohon/Ha (Agrifood Consulting International, 2005). Pengelolaan hutan jati tanpa penjarangan memiliki nilai NPV/Ha/Tahun sekitar US$ 55 pada tingkat suku bunga 10%, sedangkan penjualan kayu persegi oleh lahan miliki pribadi, dijual seharga US$ 300/m3, sehingga pada waktu panen perusahaan pengelola hutan jati menjual kayu yang dipanennya kepada perusahaan penggergajian pribadi untuk meningkatkan nilai kayu tersebut (Agrifood Consulting International, 2005).

Di Myanmar, produksi kayu bulat jati pada tahun 1971-1997 yang diizinkan oleh pemerintah adalah rata-rata sebesar 609.500 m3/tahun. Nilai jual kayu bundar jati berbeda tiap tahunnya. Berikut ini harga jual kayu bundar di Myanmar pada beberapa tahun :

Tabel 1 Harga jual kayu bundar di Myanmar pada tahun 1994-1998

Tahun 1994/1995 1995/1996 1996/1997 1997/1998

Harga (US$/log) 1.438 1.363 1.233 1.304

Perusahaan perkayuan di Myanmar memiliki efisiensi produksi produk dari pemanenan dengan nilai tingkat sisa produksi (limbah) sampai produk akhir sebesar 25%, sehingga pada produk akhir di pasar 100 m3 membutuhkan kayu

(33)

21

yang dipanen sebanyak 125 m3 (Castrén, 1999). Ekspor produk hasil hutan di Myanmar memiliki peran yang cukup penting. Perputaran kayu banyak didominasi oleh kayu bundar yaitu sebesar 80-85%, hanya sekitar 1/5 dari total pendapatan ekspor hasil hutan diisi oleh produk pengolahan kayu. Produk olahan primer seperti penggergajian, kayu lapis, dan kayu vinir mencapai 10-15% serta pertambahan nilai pada industri kayu lainnya seperti moulding, flooring dan furnitur hanya 5% dari total ekspor hasil hutan.

Saat ini Myanmar banyak menggunakan hutan alam sebagai penghasil kayu bulat jati. Harga log kayu jati pada bulan Januari hingga Juni tahun 2007 bervariasi. Harga Kualitas II dihargai sebesar € 4.515/m3, harga kualitas III dihargai sebesar € 4.288/m3 dan kualitas IV dengan harga € 3.944/m3.

Tabel 2 Harga rata-rata gergajian kayu jati Myanmar (April-Mei 2007) Harga Rata-rata € perhoppus* Ton Kualitas Kayu Gergajian

April Mei Kualitas I 2.461 2.836 Kualitas II 2.016 2.094 Kualitas III - -Kualitas IV 1.687 1.661 Kualitas V 1.325 1.350

Sumber: ITTO (2007); *Hoppus ton = 1,8 m3 (1 US$ = € 0,726 = Rp 9.042) Furnitur di negara Cina memiliki peran penting bagi pendapatan negara tersebut. Asosiasi furnitur Cina secara formal menganugerahi sebuah sebutan furnitur klasik Eropa pada daerah Yuhuan di Provinsi Zheijiang. Daerah ini dapat menghasilkan 90% industri furnitur yang memproduksi furnitur klasik Eropa, dengan rata-rata kapasitas produksi sebesar 900.000 set furnitur pertahun. Hal ini merupakan produksi terbesar di Cina bagian Timur dan memiliki andil 30% dari pasar nasional Cina, serta 70% produk furnitur telah dijual kepada 30 negara. Harga kayu gergajian jati dengan panjang 4 meter dari Cina dihargai sebesar 10.000-12.000 Yuan/m3 atau sebesar 1321-1585 US$/m3 dengan nilai tukar sebesar 1 US$ = 7,57 Yuan (ITTO, 2007).

Di Amerika Utara, pertumbuhan konsumsi furnitur di Amerika sejalan dengan pendapatan bersih pajak pada tingkat 6,1% pada tahun 2006, meningkat

(34)

dari 4,7% dari tahun sebelumnya. Peningkatan pertumbuhan konsumsi di Amerika ini, kemungkinan besar membawa peningkatan pada nilai pasar dunia sekitar US$ 88,58 milyar pada tahun 2007 dibandingkan pada tahun sebelumnya dengan nilai US$ 83,82 milyar. Sedangkan harga kayu jati gergajian (yang kasar) di Amerika Utara merupakan kayu impor dari Taiwan bernilai US$ 2.125/m3 (ITTO, 2007).

Indonesia memiliki peran yang sangat penting bagi persediaan kayu jati. Indonesia memiliki 31% dari sekitar 94% total luas tanaman jati tropis di Asia (Bhat, 2003). Di Indonesia, peran yang besar tersebut didominasi oleh pemegang hak pengelolaan kawasan jati khususnya di Jawa yaitu Perhutani. Perhutani sebagai pengelola kawasan jati terbesar di Indonesia, memperkirakan penerimaan pada tahun 2007 sebagai perusahaan pengelolaan hutan negara sebesar Rp 2,415 triliun, suatu kenaikan sebesar Rp 500 milyar dibanding tahun 2006. Pemasukan terbesar didapat dari hasil hutan kayu sebesar 75% dan 25% dari hasil hutan non kayu (ITTO, 2007).

Tabel 3 Volume penjualan kayu bulat jati dan penerimaan Perhutani (1998-2002) Penerimaan (Rp x 1000) Tahun Volume (m3) Total Rata-rata/m3 1998 703.005 550.602.273 783 1999 567.715 656.779.314 1.156 2000 726.653 675.994.415 930 2001 645.041 813.704.787 1.261 2002 613.219 836.439.281 1.364 Sumber: Siswamartana (2003)

Rata-rata harga kayu bulat jati di atas ditentukan beberapa faktor sebagai berikut :

o Komposisi kayu menurut kelas diameter dan kualitas.

o Illegal loging yang membuat kelebihan persediaan kayu dan menurunkan harga.

o Krisis ekonomi yang menyebabkan merosotnya daya beli konsumen.

Setiap meter kubik kayu jati yang dijual oleh Perhutani menyangkut kepada hal berikut ini :

(35)

23

o Pertambahan nilai pada pajak sebesar 10% dari harga kayu o Bagian sumberdaya hutan

o Retribusi kepada pemerintah daerah o Fee lelang dan kepedulian sosial

Setiap meter kubik diprediksi bagian wajib pajak sebesar Rp 450.000 untuk penjualan langsung dan Rp 650.000 untuk penjualan melalui lelang (Siswamartana, 2003).

Berikut ini tabel perbandingan nilai kayu gergajian jati di berbagai negara pada tahun 2007 :

Tabel 4 Nilai Kayu gergajian jati di berbagai negara

Nama Negara Kualitas Nilai Kayu Jati (US$)

I 2.026 II 1.572 IV 1.280 Myanmar V 1.027 Cina* - 1.453 Taiwan - 2.125 I 809 II 753 Indonesia (penjualan dalam negeri) III 677

(36)

1. Identifikasi Isu, Tujuan, dan Batasan

Tingkat kebutuhan kayu semakin meningkat dan diiringi dengan semakin bertumbuhnya industri pengolahan kayu. Permintaan kebutuhan kayu yang tinggi tidak diimbangi dengan persediaan sumber daya hutan terutama kayu. Hutan tanaman yang banyak berdiri menggantikan hutan alam yang kian berkurang juga berperan sebagai pendukung persediaan kayu bulat untuk memenuhi pasar. Perhutani sebagai perusahaan pengelolaan hutan tanaman terbesar di pulau Jawa memiliki andil besar dalam penyediaan kayu jati yang diminta oleh pasar.

Total luas kawasan hutan yang dikelola Perhutani adalah seluas 3.009.771 ha yang meliputi hutan produksi, hutan lindung, hutan konservasi, dan taman nasional, dengan luas 1.083.925 ha berupa kawasan hutan jati. Pada 2003, sekitar 76% lahan hutan jati Perhutani di Jawa dikukuhkan sebagai hutan produksi, yaitu kawasan hutan dengan fungsi pokok memproduksi hasil hutan (terutama kayu). Hanya kurang dari 24% hutan jati Perhutani dikukuhkan sebagai hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, dan cagar alam. Sedangkan KPH Banten yang berada dibawah pengelolaan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten memiliki luas kawasan hutan jati sebesar 36.438,55 Ha atau sebesar 1,21% dari total luas hutan Perum Perhutani dan sebesar 3,36% dari luas kawasan jati Perum Perhutani. Mengingat lahannya yang relatif cukup luas, hutan jati dipandang memiliki fungsi-fungsi non-ekonomis yang penting. Memiliki nilai yang besar dan penting untuk pendapatan negara. Begitu juga dengan industri hilir yang berada setelahnya, seperti penggergajian kayu, industri mebel dan lainnya. Nilai-nilai tersebut mengalir dari produsen hingga ke konsumen, dengan nilai yang berbeda.

Pada penelitian ini penulis membatasi lingkup penelitian hanya pada jati yang berasal dari KPH Banten. Selanjutnya melakukan penelusuran aliran kayu hingga ke industri pengolahan kayu jati (furnitur) di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Pengelolaan hutan yang dilakukan oleh Perhutani memiliki banyak tujuan, selain sebagai pemasok kebutuhan bahan baku kayu, juga dapat meningkatkan

(37)

25

kesejahteraan masyarakat dan membuka peluang kerja bagi masyarakat, mendukung dan berperan serta dalam pembangunan wilayah dan perekonomian nasional. Dalam rangka pengelolaan hutan lestari, pengelolaan hutan Perum Perhutani jugs bertujuan meningkatkan produktivitas, kualitas dan nilai sumber daya hutan. Isu yang diangkat dalam pemodelan ini adalah mencari dinamika sistem pertambahan nilai jati di KPH Banten melalui penelusuran produk lanjutan kayu jati.

Pemodelan ini dibuat dengan tujuan untuk menggambarkan sistem pengusahaan kayu jati, menggambarkan sistem tersebut dalam sebuah model simulasi serta mempelajarinya dengan pendekatan sistem dinamis, diperolehnya informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai produk kayu, serta tersusunnya rekomendasi skenario kebijakan yang sesuai dan menguntungkan bagi pelaku pada sistem pengusahaan hutan dan kayu jati. Berdasarkan model tersebut diharapkan dapat menjadi informasi mengenai alternatif peningkatan potensi dan kesejahteraan bagi masyarakat di daerah, dapat memberikan masukan mengenai pengembangan pengusahaan hutan dan industri pengolahan kayu jati (furnitur) agar tetap sukses bertahan pada pasar global, serta dapat memberikan masukan bagi KPH agar dapat menyeimbangkan rasio kelestarian hutan dengan produksi yang dihasilkan serta masukan pengembangan usaha lainnya. Batasan sistem terkait dengan sumber bahan baku kayu jati yang dalam hal ini adalah KPH Banten, lingkup pemasaran produk lanjutan kayu jati di daerah Jakarta dan sekitarnya seperti broker dan industri pengolahan kayu jati. Batasan sistem ditetapkan dengan tujuan untuk memisahkan komponen yang berada di dalam sistem dan komponen yang berada di luar sistem. Komponen yang berada di dalam sistem dibatasi sebagai berikut : (1) Harga jual dasar kayu bundar jati Perhutani, (2) Harga beli dan harga jual broker, (3) Biaya industri pengolahan kayu jati dan harga jual produk, (4) Satuan produk dan (5) Keuntungan.

2. Konseptualisasi

Model konseptual yang dikembangkan dideskripsikan melalui aliran dan stok. Model yang dibuat terdiri dari beberapa submodel antara lain: areal hutan

(38)

dan produksi kayu KPH Banten, penjualan kayu, industri pengolahan kayu serta pasar produk furnitur. Pemodelan dinamik merupakan pemodelan yang menggambarkan perubahan yang terjadi pada suatu sistem berdasarkan waktu (bersifat dinamis). Dalam pemodelan ini satuan waktu yang digunakan adalah tahun. Fase ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh tentang model yang dibuat.

Kebutuhan akan kayu yang terus meningkat dapat dilihat dari besarnya permintaan kayu di pasar. Pasar dapat menjadi penentu besaran produksi yang dihasilkan dari hutan sebagai penghasil kayu (bahan baku), dalam hal penghasil kayu KPH Banten berperan sebagai penghasil kayu bulat yang dihasilkan dari kegiatan pemanenan. Kegiatan pemanenan merupakan rangkaian kegiatan pengelolaan hutan, dimana kegiatan pengelolaan hutan biasanya dimulai dengan kegiatan penanaman, lalu diikuti oleh kegiatan lainnya seperti pemeliharaan, penanaman dan sebagainya. Banyaknya penanaman akan mempengaruhi dinamika tegakan yang akan berhubungan dengan banyaknya penebangan. Jika yang ditanam banyak memungkinkan akan dapat banyak menebang pada waktu yang akan datang, yang akan mengahsilkan kayu bulat. Kayu bulat yang dihasilkan tersebut selanjutnya diolah melalui industri pengolahan kayu primer yang akan menghasilkan produk kayu olahan.

Pengelolaan hutan lestari diharapkan mampu menghasilkan produk yang dapat menyeimbangkan permintaan kayu khususnya jati yang menguntungkan secara sosial ekonomis, produktif, dan berwawasan lingkungan. Sehingga selain dapat meningkatkan nilai perolehan dari kayu yang dihasilkan juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan pendapatan masyarakat lainnya melalui industri pengolahan kayu. Konseptualisasi model dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4 berikut :

(39)

27 (+) (+) (+) (+) (+) (+) (+)

Pengolahan kayu bulat

(+) (+) (+) (+) (+) Penjualan produk (+) Gambar 4 Konseptualisasi model yang dikembangkan

Gambar 5 di bawah ini merupakan diagram sebab akibat alir kayu KPH Banten. Diagram ini meliputi aktor, peran aktor dan aliran kayu. KPH Banten sebagai salah satu sumber penghasil kayu bulat Perum Perhutani menghasilkan kayu tiap tahunnya, dengan jumlah volume yang berbeda. Aktor selanjutnya adalah Broker yang memiliki peran dalam aliran pertambahan nilai kayu KPH Banten, selanjutnya kayu bulat tersebut akan diproses pada industri pengolahan kayu yang terdiri dari penggergajian, pembuatan furnitur (produsen), dan terakhir finishing untuk mempertinggi nilai kualitas furnitur. Selanjutnya produk furnitur tersebut dijual kepada konsumen.

pemanenan Konsumsi domestik Ekspor Jati KPH Penanaman Kayu bulat Produk kayu olahan Industri furnitur pasar Hutan jati penjualan

(40)

Pasar ekspor +

+ Penanaman

Pemanenan

Hutan jati Jati KPH

Kayu bulat broker Penjualan langsung Lelang Penggergajian Produsen furnitur Pertumbuhan Jati Finishing Penjual Konsumsi domestik Tegakan jati + + + + -+ + + + + + + + + + + +

Gambar 5 Diagram sebab akibat alir kayu jati KPH

3. Pertambahan Nilai Jati KPH Banten

Dari hasil studi ini, diperoleh pertambahan nilai jati KPH Banten dengan nilai yang berbeda pada setiap aktor, perolehan pertambahan nilai dapat dilihat pada Tabel 4. Nilai output diperoleh dari nilai produk akhir. Nilai pertambahan kayu yang diperoleh ditentukan dari masukan bahan baku sejumlah 1 m3 yang akan terus menjadi produk akhir sebanyak 0,285 m3. Tiap aktor memiliki peran berbeda dalam pertambahan nilai kayu jati, penyumbang terbesar diprediksi dari perhutani. Sedangkan aktor dalam industri pengolah kayu sebagai penyumbang pertambahan nilai terbesar dipegang oleh produsen furnitur. Berikut ini pertambahan nilai kayu per meter kubik jati pada setiap aktor.

(41)

29

Tabel 5 Pertambahan nilai kayu jati di tiap aktor dan produk (Rp x 1.000/m3) Aktor Nilai Output Nilai Input Output bersih

Perhutani 2.496 1.711 785 Broker 497 200 297 Penggergajian 1.011 500 511 Produsen furnitur 2.047 1.260 787 Finishing 1.360 680 680 Penjual 1.052 474 578

Nilai pada tabel di atas masih memerlukan perhitungan kembali untuk mendapatkan hasil nyata yang diperoleh dari 1 m3 produk kayu bulat sebagai bahan baku yang akan menjadi produk akhir sebesar 0,285 m3. Sehingga diperlukan faktor konversi sebagai pembantu perhitungan, karena tiap aktor menghasilkan produk tinggal yang berbeda. Tabel 6 berikut ini merupakan perhitungan yang dilakukan untuk mendapat nilai pada produk akhir :

Tabel 6 Pertambahan nilai kayu jati (Rp x 1000/m3)

Aktor Faktor Konversi Produk Tinggal Nilai Output Input Biaya Pertambahan Nilai (bahan) % m3 Rp Rp Rp Perhutani 100 1 2.496 1.711 785 Broker 100 1 497 200 297 Penggergajian 50 0,5 505 250 255 Produsen furnitur 60 0,3 614 378 236 Finishing 95 0,285 387 193 193 Penjual 100 0,285 299 135 164 Total 4.801 2.868 1.933

Sumber : Departemen Kehutanan dan Perkebunan (1999), Hidayat (2007), Purnomo (2006)

Produk tinggal merupakan perkalian antara faktor konversi yang digunakan dari aktor kepada aktor yang selanjutnya. Tabel di atas menunjukan bahwa untuk mendapatkan produk tinggal berupa produk furnitur sebesar 0,285 m3 yang telah difinishing dan siap jual membutuhkan kayu bulat sebagai bahan baku sebanyak 1

(42)

m3, dengan harga akhir sebesar Rp 4.801.000 yang membutuhkan biaya sebesar Rp 2.868.000 serta pertambahan nilai dari bahan yang digunakan sebesar Rp 1.933.000. Sedangkan pertambahan nilai yang dihasilkan dari produk satu ke produk selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.

Tabel 7 Pertambahan nilai kayu jati pada bahan dan produk hasil (Rp x 1000) Aktor Pertambahan Nilai (bahan) Pertambahan Nilai (produk)

Rp/m3 % Rp/m3 % Perhutani 785 40,61 785 21,57 Broker 297 15,41 297 8,18 Penggergajian 255 13,23 511 14,05 Produsen furnitur 236 12,21 787 21,63 Finishing 193 10,03 680 18,69 Penjual 164 8,52 578 15,88 Total 1.933 100,00 3.639 100,00

Total pertambahan nilai bahan per meter kubik sampai produk akhir adalah sebesar Rp 1.933.000/m3, dengan aktor yang menikmati pertambahan nilai bahan terbesar adalah Perum Perhutani sebesar 40,61%. Hal ini diprediksi karena dipengaruhi faktor konversi dan volume penjualan yang besar. Tetapi dengan melihat waktu yang dibutuhkan untuk memeroleh nilai tersebut broker memiliki peluang yang cukup besar dibanding Perhutani. Sedangkan pertambahan nilai yang dihasilkan dari produk adalah sebesar Rp 3.639.000/m3. Pertambahan nilai produk dari Tabel 5 di atas diperoleh bahwa produsen furnitur mendapat persentase pertambahan nilai produk terbesar, yaitu sebesar 21,63% atau sebesar Rp 787.000 dari total pertambahan nilai produk sebesar Rp 3.639.000. hal ini disebabkan karena pertambahan nilai produk tidak dipengaruhi faktor konversi, melaikan lebih dipengaruhi oleh keuntungan yang didapat oleh tiap aktornya.

Besaran jumlah pertambahan nilai yang diperoleh aktor terdistribusi secara bervariasi. Aktor industri pengolahan kayu (penggergajian, produsen furnitur dan finishing) mendapatkan 35,46% dari pertambahan nilai jati, sedangkan perhutani

(43)

31

sebagai produsen mendapatkan 40,61%. Broker mendapatkan 15,41% dan penjual memperoleh 8,52% dari pertambahan nilai jati dari bahan yang diproduksi. 4. Spesifikasi Model

Pemodelan dinamika sistem pertambahan nilai kayu jati KHP Banten ini menggunakan software sistem dinamik STELLA 8, terdiri dari beberapa submodel :

1. Areal Hutan

Submodel areal hutan menggambarkan sumber daya hutan sebagai tempat produksi kayu jati dari kawasan hutan KPH Banten sebagai sumber kebutuhan kayu bulat di berbagai daerah. KPH Banten telah memiliki komitmen bersama dengan direksi Perum Perhutani tentang pembebasan wilayah hutan dari tanah kosong, sehingga KPH Banten telah melakukan pengawalan tanaman secara serius yaitu dengan membentuk brigade hijau dimana persentase tumbuh tanaman minimal 95% dan laju kerusakan hutan tidak lebih dari 2% per tahun. KPH Banten tidak hanya berkonsentrasi pada pembuatan tanaman tetapi juga pada pemeliharaannya. Dalam submodel ini diasumsikan bahwa penananaman dilakukan dan disesuaikan dengan luasan kawasan hutan yang dipanen. Ingrowth merupakan jumlah tanaman yang hidup saat penanaman yang akan masuk menjadi kelas umur (KU) 1. Sedangkan pembalakan liar dianggap tidak ada (nol). Jumlah pohon pada tiap kelas umur didekati dengan persamaan yang digunakan oleh Sopari (2007) :

N = (L KUi x 10.000) : (0,5 x JT2 x 1,73)

Dimana:

N = Jumlah pohon tiap KU.

L KUi = Luas kelas umur yang akan dicari jumlah pohon.

JT = Jarak tanam

Tabel 8 Persen penjarangan dan persen tumbuh terhadap jumlah pohon

Jenis persentase 1 2 3

Penjarangan 0,021 1,217 1,39

Tumbuh 98,6 98,0 99,0

(44)

Persen penebangan di KPH Banten pada setiap tahunnya berbeda, penebangan rata-rata pada 5 tahun terakhir adalah sebesar 11.342,97 m3; sedangkan etat luas dan etat volume masing-masing sebesar 242 Ha/tahun dan 21.983 m3/tahun (KPH Banten, 2008). Pada submodel areal hutan, penebangan didekati dengan jumlah pohon yang ditebang pada setiap tahunnya dengan menggunakan persen tebang terhadap jumlah pohon yaitu sebesar 0,85% - 1% penebangan kelas umur (KU) 4 dan 1,988% penebangan pada kelas umur (KU) 5 setiap tahunnya. Simulasi model yang dapat digambarkan pada submodel ini dapat dilihat pada Gambar 6 berikut :

penjarangan1 mortaliti1 penebangan2 penebangan1 penjarangan2 mortaliti2 mortaliti3 persen tumbuh3 ingrowth out growt1

jml phn

KU I jml phn

KU 3 jml phn

KU 2

out growt2 out growt3 out growt4 jml phn KU 4 jml phn KU 5 persen tumbuh1 persen tumbuh2 penjarangan3 jml tanam persen tebang2 persen tebang1 persen penj 1 total tebang luas tebang persen penj 2 persen penj 3 luas tanam Table 9 Lahan kosong teg tinggal5 Graph 6 total penjarangan Areal hutan

Gambar 6 Submodel areal hutan 2. Penjualan Kayu Perhutani

Submodel ini menggambarkan aliran kayu jati yang dipasarkan dan dijual dari KPH Banten melalui Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) wilayah II Bogor. Penjualan dalam negeri hasil hutan kayu jati dan rimba pada perum perhutani, dalam kondisi dan situasi saat ini telah banyak mengalami perubahan. Pejabat yang ditunjuk dan diberikan wewenang untuk memasarkan dan melayani penjualan kayu bundar di wilayah kerjanya adalah General manajer, dalam hal ini wilayah II Bogor melayani penjualan kayu jati yang berasal dari KPH Banten.

(45)

33

Kayu jati bundar yang dipasarkan dan dijual, dilakukan dengan beberapa macam penjualan, yaitu penjualan melalui lelang, penjualan langsung dan penjualan dengan kontrak. Penjualan melalui lelang adalah penjualan hasil hutan kayu bundar yang dilaksanakan di depan umum dengan cara penawaran terbuka. Penjualan melalui lelang ini dilakukan di kantor pemasaran Perhutani Unit III Bandung. Penjualan lelang ini juga masih dibagi lagi menjadi lelang kecil dan lelang besarnya volume penjualan hasil hutan melaui saluran lelang pada masing-masing general manager ditetapkan oleh kepala unit. Penjualan langsung merupakan penjualan hasil hutan kayu bundar yang dilakukan dengan menerbitkan Surat Izin Pembelian (SIP), penjualan langsung ini merupakan penjualan terbanyak yang sering dilakukan oleh para pengguna kayu bulat, baik industri penggergajian, pengrajin dan masyarakat umum yang membeli kayu. Sedangkan penjualan dengan kontrak adalah penjualan hasil kayu bundar yang dilakukan oleh Perum Perhutani dengan pihak pembeli yang dituangkan dalam suatu perjanjian jual beli. Penjualan semacam ini biasanya dilakukan dalam kapasitas yang besar dan dilakukan oleh industri-industri pengolahan kayu dengan kapasitas besar (>6000 m3/tahun). Kayu yang dipasarkan untuk keperluan industri pengolah kayu (furnitur) kebanyakan berasal dari jenis tebangan A. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh rasio volume tebang sebesar 0,824 m3/pohon, sedangkan rasio penjarangan sebesar 0,0268 m3/pohon (KPH Banten 2007-2008). Submodel penjualan KPH ini disimulasikan pada Gambar 7 di bawah ini:

v ol tebang penjualan stok kay u sisa Table 1 pengeluaran HJ PP perkubik pertmbh nilai dari KPH persen penjualan biay a tanam biay a pengelolaan biay a tebang Graph 4 total

tebang v olumerasio

luas tanam luas tebang

total penjarangan rasio penjarangan pendapatan Penjualan KPH

Gambar

Gambar 1  Model dasar value chain
Gambar 2  Rantai nilai sederhana oleh Kaplinsky dan Morris (2000)  Kaplinsky dan Morris (2000) juga menjelaskan bahwa, dunia produksi dan  pertukarannya  yang  sering diteliti  bersifat  kompleks  dan heterogen
Gambar 3  Tahapan Pemodelan Identifikasi Isu, tujuan dan batasan
Tabel 1  Harga jual kayu bundar di Myanmar pada tahun 1994-1998
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sehingga dapat disimpulkan bahwa peranan musik merupakan sesuatu yang sangat penting dan harus diperhatikan, karena memiliki peran yang cukup besar dalam sebuah

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein kecap kara benguk dan kualitas kecap kara benguk melalui uji organoleptik dengan penambahan volume

Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 tercatat sebesar 5,1 persen (angka sementara), lebih rendah dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja

Kelompok Kerja (Pokja) Barang/ Jasa Lainnya Pada Unit Layanan Pengadaan (ULP) Barang/ Jasa Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal. Kementerian Desa, PDT Dan Transmigrasi

Dua pernyataan majemuk p dan q dikatakan ekivalen jika memiliki nilai kebenaran yang sama, ditulis p ≡ q.. Salah satu cara untuk membuktikan ekivalensi ini adalah

Perilaku prososial dapat ditanamkan pada anak dengan cara bermain peran prososial agar anak juga dapat merasakan langsung respon positif dan penerimaan sosial yang dapat

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui informasi mendasar apa mengenai pemilu yang harus diketahui oleh pemilih pemula dan mendapatkan bentuk pengemasan informasi

Dapat mengetahui waktu produksi yang ada dalam perusahaan guna mencukupi waktu produksi yang diperlukan berdasarkan hasil peramalan permintaan konsumen pada masa mendatang