• Tidak ada hasil yang ditemukan

RINGKASAN PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RINGKASAN PENELITIAN"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

i

RINGKASAN PENELITIAN

Kesehatan merupakan hak setiap manusia dan sehat adalah harapan setiap orang. Sebagai manusia yang mempunyai sifat yang holistik, kesehatan fisik, psikologis dan rohani merupakan beberapa aspek saling mempengaruhi dan saling berkaitan satu sama lain. Jika kondisi fisik manusia terganggu, maka pasti akan mempengaruhi kondisi psikologis dan rohani manusia dan begitu juga sebaliknya. Sementara itu, sumber daya manusia yang sehat jasmani dan rohani sangat diperlukan dalam pembangunan suatu negara. Dengan demikian, pembangunan kesehatan menjadi bagian pokok dari pembangunan nasional.

Yang menjadi permasalahan dalam kesehatan masyarakat adalah jumlah tarif pelayanan yang dibebankan kepada masyarakat. Tarif rumah sakit merupakan suatu elemen yang amat esensial bagi rumah sakit yang tidak dibiayai penuh oleh pemerintah atau pihak ketiga. Tarif merupakan critical factor organisasi termasuk organisasi rumah sakit di dalam mengadaptasi lingkungan sekitar dan dinamika pasar yang ada.

Hasil wawancara dengan bagian perencanaan RSUD Arifin Achmad diketahui bahwa tarif yang dibebankan kepada masyarakat berupa jasa layanan masih menggunakan peraturan Gubernur Riau tahun 2012 dimana masih merupakan tarif lama pada waktu RSUD Arifin Achmad baru berstatus BLU dan atau masih berbasis Askes dan pada saat ini di era BPJS memakai tarif kapitasi dan non kapitasi. Tujuan penelitian ini (1) untuk mengidentifikasi, mengolah dan menganalisis data unit cost berbasis tarif kapitasi pada RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dan aebagai salah satu pertimbangan pada manajemen RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dalam pengambilan keputusan tentang penetapan tarif. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Jln. Diponegoro No. 2 Pekanbaru, Provinsi Riau. Adapun yang menjadi sampelnya adalah bagian pelayanan yang memiliki clinical pathway yakni standar prosedur pengobatan pasien mulai dari masuk hingga pasien dipulangkan. Adapun waktu pelaksanaan adalah mulai tanggal 1 Mei 2016 hingga 30 November 2016. Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data Primer yaitu data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak rumah sakit serta pihak terkait yang berhubungan dengan masalah rumah sakit (key-informan) di lapangan serta data Sekunder yaitu data yang diperlukan berupa guna analisis lebih lanjut seperti tindakan pada rumah sakit serta komponen laporan keuangan yang dianggap diperlukan sebagai penunjang pelaksanaan unit cost berdasarkan layanan ini. dapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu berupa pengumpulan data yang dibutuhkan sesuai dengan kerangka penelitian seperti laporan keuangan, laporan laba rugi, biaya per departemen. Di samping itu pula metode pengumpulan data menggunakan pendekatan kualitatif yakni berupa wawancara dengan angket terbuka serta pengamatan. Dalam hal ini wawancara dilaksanakan minimal dua kali yakni pada saat bersamaan pengambilan data kuantitatif dan setelah analisis data kuantitatif. Tujuannya adalah mensinkronkan penghitungan hasil data kuantitatif dengan hasil di lapangan.Tekhnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kuantitatif yaitu analisis berdasarkan penilaian obyektif.

(4)

ii

hasil penghitungan unit cost ABC dengan tarif yang berlaku saat ini, hal ini disebabkan karena adanya kenaikan harga listrik dan pemeliharaan biaya bangunan misalnya. Tarif jasa sarana tidak perlu dilaksanakan penghitungannya lagi karena di dalam prinsip ABC sudah tercakup komponen biaya pembentuk tarif jasa sarana seperti biaya pemeliharaan. Sedangkan untuk biaya bahan medis habis pakai adalah salah satu komponen yang terpisah akan tetapi merupakan pembentuk tarif non kapitasi pada RSUD Arifin Achmad. Minim dan sulitnya informasi clinical pathway menyebabkan sulitnya informasi sebagai pembentuk unit cost. Adapun bagian yang dijadikan sampel adalah bagian haemodialisa, radiologi, poli gigi serta bagian kebidanan dan kandungan. Hasil analisis pada bagian kebidanan dan kandungan serta bagian poli gigi bahwa pelayanan yang diberikan hanyalah bagian rawat jalan, bukan pelayanan rawat inap. Sehingga peneliti hanya bisa menganalisis pada bagian haemodialisa dan radiologi. Pada bagian haemodialisa biaya yang terendah adalah sebesar Rp. 7.356 dan biaya tertinggi adalah sebesar Rp. 575.289. Pada bagian radiologi biaya yang terendah adalah sebesar Rp. 9.524 dan biaya tertinggi adalah sebesar 1.956.227. Strategi penghitungan unit cost tarif non kapitasi yaitu (tarif kelas x jumlah hari rawat ) + (unit cost tarif non kapitasi per layanan). Di dalam menentukan tarifnya RSUD Arifin Achmad harus melakukan bisnis yang sehat dengan melakukan penetapan tarif melalui Ability to Pay dan Willingnes to Pay.

(5)

iii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdullillah, penulis ucapkan hingga terbentuknya laporan penelitian ini. Penelitian ini merupakan penelitian dosen muda dan pendanaannya berasal dari dana DIPA UR Tahun 2016. Adapun judul penelitian ini adalah “Strategi Penetapan Unit Cost Berbasis Tarif Non Kapitasi Pada Rumah Sakit Arifin Achmad Provinsi Riau“.

Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis tidak lepas dari pertolongan baik secara moril maupun materiil dari berbagai pihak. Harapan saya sebagai peneliti bahwa hasil yang telah diperoleh dilaksanakan selanjutnya guna penentuan efektivitas pelaksanaan pelayanan sehingga dapat terciptanya RSUD yang akuntabel dan dipercaya oleh masyarakat.

Di samping itu pula, dalam menulis ini tidak terlepas dari kesalahan dan khilaf dalam penelitian ini sehingga peneliti mengharapkan kritik yang konstruktif. Dalam hal ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada ;

1. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Bapak Prof. Dr. H. Almasdi Syahza, SE., MP

2. Bapak Dr. H. Nuzelli selaku Direktur RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau

3. Bapak Dr. Mohammad Yusuf, SPOG (K) sebagai Wakil Direktur Keuangan RSUD Arifin Achmad

4. Teman – teman sekalian dan staff RSUD Arifin Achmad yang telah membantu peneliti dalam pengambilan data.

Akhirnya, saya berharap penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, 21 November 2016

(6)

iv Sampul

Lembar Pengesahan

Ringkasan Penelitian ________________________________________________ i Kata Pengantar _____________________________________________________ iii Daftar Isi __________________________________________________________ iv Daftar Tabel _______________________________________________________ vi Daftar Gambar _____________________________________________________ vii

BAB I : PENDAHULUAN ___________________________________________ 1 1.1 Latar Belakang Penelitian __________________________________________ 1 1.2 Perumusan Masalah ______________________________________________ 6 1.3 Maksud Dan Dan Tujuan Penelitian __________________________________ 6 1.4. Manfaat Kegiatan _______________________________________________ 7

BAB II Tinjauan Pustaka Dan Kerangka Pemikiran ________________________ 8 2.1 Akuntansi ______________________________________________________ 8 2.2 Tipe Akuntansi __________________________________________________ 8 2.3 Akuntansi Manajemen ____________________________________________ 8 2.4 Harga Pokok Penjualan ___________________________________________ 9 2.5 Harga Pokok Produk ______________________________________________ 10 2.6 Pengertian Biaya _________________________________________________ 10 2.7 Klasifikasi Biaya ________________________________________________ 11 2.8 Analisis Biaya ___________________________________________________ 11 2.9 Pengertian Activity Based Costing System _____________________________ 12 2.10 Klasifikasi Aktivitas _____________________________________________ 13 2.11 Cost Pool _____________________________________________________ 14 2.12 Cost Driver ____________________________________________________ 15 2.13 Total Financial Requirement ______________________________________ 15

(7)

v

2.14 Penyusunan Tarif Layanan Kesehatan _______________________________ 16 2.15 Penyusutan Tarif Berdasarkan Biaya Layanan Kesehatan ________________ 17 2.16 Tarif Menurut Peraturan Menteri ___________________________________ 17 2.17 Penelitian Terdahulu _____________________________________________ 18

BAB III : METODE PENELITIAN _____________________________________ 21 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian _______________________________________ 21 3.2 Populasi dan Sampel ______________________________________________ 21 3.3 Jenis dan Sumber Data ____________________________________________ 21 3.4 Tekhnik Pengumpulan Data ________________________________________ 21 3.5 Tekhnik Analisis Data ____________________________________________ 22

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penentuan Unit Cost Jasa Rawat Inap ________________________________ 23 4.2 Biaya Variabel Unit Cost Per Pelayanan ______________________________ 33 4.3 Penentuan Tarif Non Kapitasi ______________________________________ 33 4.4 Pembahasan ____________________________________________________ 34

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN _________________________________ 36 5.1 Kesimpulan _____________________________________________________ 36 5.2 Saran __________________________________________________________ 37

DAFTAR PUSTAKA ________________________________________________ 38

(8)

vi

Tabel Hal

4.1 : Identifikasi Aktivitas ____________________________________________ 24 4.2 : Pengelompokan Biaya Rawat Inap dan Cost Driver ____________________ 25 4.3 : Pengelompokan Biaya Rawat Inap dan Cost Driver ____________________ 26 4.4 : Pengelompokan Biaya Rawat Inap dan Cost Driver ____________________ 26 4.5 : Dasar Penentuan Tarif ___________________________________________ 28 4.6 : Tarif Penghitungan Jasa Rawat Inap ________________________________ 30 4.7 : Perbandingan Unit Cost dengan Tarif Berlaku ________________________ 34

(9)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

(10)

1 1.1 Latar Belakang Penelitian

Kesehatan merupakan hak setiap manusia dan sehat adalah harapan setiap orang. Sebagai manusia yang mempunyai sifat yang holistik, kesehatan fisik, psikologis dan rohani merupakan beberapa aspek saling mempengaruhi dan saling berkaitan satu sama lain. Jika kondisi fisik manusia terganggu, maka pasti akan mempengaruhi kondisi psikologis dan rohani manusia dan begitu juga sebaliknya. Sementara itu, sumber daya manusia yang sehat jasmani dan rohani sangat diperlukan dalam pembangunan suatu negara. Dengan demikian, pembangunan kesehatan menjadi bagian pokok dari pembangunan nasional.

Yang menjadi permasalahan dalam kesehatan masyarakat adalah jumlah tarif pelayanan yang dibebankan kepada masyarakat. Tarif rumah sakit merupakan suatu elemen yang amat esensial bagi rumah sakit yang tidak dibiayai penuh oleh pemerintah atau pihak ketiga. Rumah sakit swasta, baik yang bersifat mencari laba maupun yang nirlaba harus mampu mendapatkan biaya untuk membiayai segala aktifitasnya dan untuk dapat terus memberikan pelayanan kepada masyarakat sekitarnya. Rumah sakit (RS) pemerintah yang tidak mendapatkan dana yang memadai untuk memberikan pelayanan secara cuma-cuma kepada masyarakat, juga harus menentukan tarif pelayanan. Di Indonesia, praktis seluruh rumah sakit, apakah itu RS umum ataupun RS perusahaan atau RS swasta, harus mencari dana yang memadai untuk membiayai pelayanannya. Jadi semua rumah sakit di Indonesia, harus mampu menetapkan suatu tarif pelayanan. Jadi dapat kita katakan bahwa penetapan tarif pelayanan rumah sakit akan sangat bervariasi tergantung dari sifat rumah sakit itu sendiri. Lebih-lebih lagi jika kita kaji bahwa rumah sakit juga memiliki misi sosial, khususnya RS umum dan rumah sakit pemerintah lain, yang di dalam penetapan tarif tidak hanya bergantung pada

revenue requirement. Pertimbangan kondisi komunitas di sekitarnya atau komunitas yang menjadi target pelayanan seringkali sangat dominan di dalam penetapan tarif

(11)

2

rumah sakit. Hal ini terkait dengan fungsi sosial dan aspek komoditas umum (publik) pada berbagai pelayanan kesehatan. Oleh karenanya sering kita saksikan bahwa tarif rumah sakit umum ditetapkan oleh Peraturan Daerah, yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Akan tetapi untuk rumah sakit tertentu seperti RS ABRI dan RS swasata nirlaba, apakah perlu ditetapkan dengan peraturan daerah? Tentu saja tidak, akan tetapi tarif pelayanan tersebut beberapa pelayanan masih harus terikat oleh peraturan pemerintah. Kini dengan maraknya arus swastanisasi, banyak rumah sakit pemerintah diswadanakan. Salah satu komponen penting dari swadana adalah penetapan tarif, dengan tujuan mencapai cost recovery yang memadai. Rumah sakit swadana juga perlu bersaing dengan RS swasta yang lebih leluasa menetapkan tarif dan mempunyai keharusan penyediaan tempat tidur bersubsidi (kelas III) yang lebih besar. Jika RS swasta nirlaba diharuskan menyediakan 25% tempat tidurnya untuk masyarakat yang kurang mampu, maka di RS Swadana diharuskan tersedia 50% untuk golongan ekonomi lemah. Sementara RS Swadana juga diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan dan memberikan subsidi silang kepada masyarakat yang tidak mampu. Faktanya, kebanyakan RS Swadana menerima subsidi pemerintah lebih besar dari masa mereka belum swadana. Mengapa demikian? Kesalahan menetapkan tarif? Bisa jadi.

Berbagai penerapan metode dilaksanakan oleh RS sebagai akibat kurangnya pengetahuan atau tidak kompetennya tenaga yang dimiliki. Hasil penelitian Hutapea (2009) menyatakan bahwa pendapatan atau penghasilan seseorang menentukan kelas perawatan yang digunakan yaitu dimana makin tinggi pendapatan atau penghasilan seseorang, maka semakin tinggi tuntutan pelayanan yang diminta oleh pasien dan atau keluarganya.

Sedangkan menurut Dewi, Semiarty dan Lita (2012) menyatakan bahwa tarif RS Jiwa Puti Bungsu selama tahun 2010 lebih besar jika dihitung metode ABC, meskipun demikian penggunaan metode ABC disarankan. Penggunaan metode akuntansi biaya tradisional hanya dibebankan pada satu cost driver saja. Sedangkan pada metode ABC, biaya overhead dibebankan pada banyak cost driver. Adapun penyebab rendah penghitungan pada akuntansi biaya tradisional karena biaya perawatan tidak

(12)

mencerminkan yang sebenarnya sehingga mengakibatkan distorsi dalam penentuan biaya perawatan dan laba rumah sakit. Menurut Nur Fatiah (2007) bahwa unit cost yang diperoleh dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan penentuan tarif pelayanan kesehatan dengan mempertimbangkan aspek lainnya seperti tingkat pendapatan masyarakat.

Pada pengendalian biaya, pihak rumah sakit memerlukan suatu sistem akuntansi yang tepat khususnya pada metode perhitungan harga pokok dalam rangka menentukan tarif pelayanan untuk menghasilkan informasi biaya yang akurat sesuai dengan aktivitasnya. Penentuan harga jual jasa pelayanan rumah sakit bukanlah seperti pada perusahaan manufaktur atau industri, karena rumah sakit memiliki misi sosial dan laba dalam mengembangkan rumah sakit (Zinia, 2013).

Tarif merupakan critical factor organisasi termasuk organisasi rumah sakit di dalam mengadaptasi lingkungan sekitar dan dinamika pasar yang ada. Tarif RS ditentukan dalam hubungannya mengelola sumber daya yang dimiliki sehingga tarif dapat menggambarkan kesepakatan sosial antara rumah sakit dengan pasar industri kesehatan. Tarif yang ditentukan oleh rumah sakit pasti mempunyai tujuan tertentu yang berkaitan dengan kelangsungan kinerja rumah sakit dalam menjalankan operasionalnya. Pada RS pemerintah, tarif telah ditentukan, hal ini disebabkan karena gaji, biaya operasional dan sebagian bahkan seluruh investasi ditanggung oleh pemerintah. Sedangkan pada RS Swasta maupun swadana, tarif merupakan hal yang penting. Jika penghitungan tarif didasarkan pada perhitungan “kasar” maka dapat menyebabkan tarif pelayanan yang cukup tinggi atau terlalu rendah.

Hal ini tentu saja melatarbelakangi penentuan tarif dan unit cost pelayanan dengan menganalisis semua komponen biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit dalam memproduksi suatu paket pelayanan. Berbagai macam model penghitungan yang dimiliki oleh RS, ada yang menggunakan full costing, variabel costing, ABC model

maupun ABC Modified. Hal ini tentu saja tanpa mengeyampingkan cost driver yang ada.

Saat ini jumlah di Kota Pekanbaru terdapat beberapa rumah sakit yang merupakan sentral pengobatan dan merupakan rujukan bagi masyarakat umum

(13)

4

khususnya di Kota Pekanbaru dan sekitarnya. Mulai dari rumah sakit yang dianggap berkapasitas kelas “merakyat” atau low end sampai dengan kapasitas rumah sakit kelas

high end sudah tersedia pada saat ini. Tentu saja perbedaan ini menjadi merupakan pilihan masyarakat. Yang menjadi persoalan pada saat ini, apakah pelayanan yang diberikan oleh masing-masing rumah sakit apakah telah sesuai dengan tarif yang seharusnya diberikan kepada pasien?. Lalu apakah dasar penetapan atau penghitungan tarif terhadap pelayanan yang diberikan. Tentu saja hal ini haruslah menjadi acuan bagi manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Provinsi Riau. Dengan ditetapkan RSUD Arifin Achmad dengan tipe B Pendidikan dan berstatus Badan Layanan Umum (BLU) mulai tahun 2010, maka RSUD Arifin Achmad seharusnya mengembangkan juga model yang menjadi dasar penetapan tarif jasa pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Jika salah manajemen RSUD Arifin Achmad salah meletakkan tarif maka dapat mengakibatkan jumlah pendapatan akan menurun atau jika tarif yang diberikan terlalu mahal dan tidak sebanding dengan kualitas pelayanan yang diberikan, maka masyarakat akan enggan berobat. Hasil wawancara dengan bagian perencanaan RSUD Arifin Achmad diketahui bahwa tarif yang dibebankan kepada masyarakat berupa jasa layanan masih menggunakan peraturan Gubernur Riau tahun 2012 dimana masih merupakan tarif lama pada waktu RSUD Arifin Achmad baru berstatus BLU. Hal ini diperkuat dengan wawancara dengan Wakil Direktur Keuangan, dr. Mochammad Yusuf, SP.OG (K) yang menyatakan bahwa penyusunan tarif pada saat itu hanya dengan melihat tarif RS lainnya. Hasil pengamatan peneliti, seharusnya tarif yang ada apada saat ini disesuaikan dengan keadaan pada saat ini dimana pada hingga akhir tahun 2013 adalah era Askes (Asuransi Kesehatan) dan pada awal tahun 2014 adalah era BPJS (Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial) yang diiringi dengan perubahan tarif RS sudah 3 (tiga) kali mengalami perubahan. Dengan adanya perubahan tersebut seharusnya RSUD Arifin Achmad mengikuti dan mengupdate peraturan yang ada.

Peraturan tarif yang pertama yang dikeluarkan oleh surat keputusan (SK) Menteri Kesehatan No. 1165/SK/X/2007 tanggal 31 Oktober 2007 tentang pola tarif RS Badan Layanan Umum, dimana pada pasal 1 (28) yang menyatakan unit cost adalah

(14)

besaran biaya satuan dari setiap kegiatan pelayanan RS yang dihitung berdasarkan Standar Akuntansi RS dan pasal 2 (7) yang menyatakan tarif Askes sedapat mungkin disesuaikan dengan tarif RS. Lalu pada tanggal 30 Januari 2013 terbitlah peraturan Kementrian Kesehatan No. 12 Tahun 2013 tentang pola tarif BLU RS di Kementrian Kesehatan yang menyatakan bahwa tarif RS meliputi komponen jasa sarana dan jasa pelayanan dan besarnya jasa pelayanan sama besarnya untuk semua jenis perawatan. Seiring dengan kemajuan zaman, maka Menteri Kesehatan mengeluarkan Peraturan Menteri No. 69 Tahun 2013 tanggal 1 November 2013 yang berlaku mulai 1 Januari 2014 sebagaimana telah diubah Keputusan Menteri Kesehatan No. 59 Tahun 2014 tanggal 22 Agustus 2014 yang memuat bahwa pelayanan menggunakan tarif kapitasi dan non kapitasi.

Dari uraian perubahan peraturan yang ada dapat disimpulkan bahwa antara tahun 2007 dan 2013 terdapat perbedaan yang nyata dimana seharusnya RSUD Arifin Achmad melakukan penyesuaian tarif terlebih dengan keluarnya peraturan yang terbaru pada tahun 2014 yang menganut tarif kapitasi dan non kapitasi. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2007, prosedur katerisasi jantung sedang pada kelas II di RSUD dikenakan tarif sebesar Rp. 32.780.000 dengan jangka waktu lamanya perawatan (Length of Stay / LoS) selama 5 hari. Akan tetapi mulai tahun 2013 untuk penyakit yang sama dikenakan sebesar Rp. 13.240.973,- tanpa memandang lamanya hari perawatan. Pada tahun 2014 terdapat perbedaan tarif dengan penyakit yang sama yakni sebesar Rp. 10.639.000,- tetapi terdapat tambahan biaya yang bisa dibebankan untuk penyakit khusus yakni sebesar Rp. 5.000.000,- untuk penyakit yang sama. Informasi dari BPJS menyatakan meskipun mereka telah menerapkan tarif, akan tetapi RSUD Arifin Achmad tetap harus memiliki tarif juga sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan. Di lain sisi terjadinya perkembangan penyakit dan kebutuhan masyarakat untuk pelayanan yang baru meskipun belum ditanggung oleh BPJS akan tetapi karena belum dilakukan penghitungan akibatnya inovasi tersebut harus dihentikan oleh RSUD Arifin Ahmad, contohnya adalah pada klinik obgyn yakni pelayanan ingin memiliki anak. Akibat terjadi selisih tarif RS dengan tarif BPJS juga mengakibatkan pembagian jasa bagi hasil

(15)

6

berbasis renumerasi juga salah penghitungannya, hal ini karena pola jasa bagi hasil berbasis renumerasinya didasarkan tarif RSUD Arifin Ahmad Provinsi Riau bukan pada hasil yang diterima dari BPJS.

Banyak peneliti yang menyarankan menggunakan ABC pada penelitian di rumah sakit seperti Anis Tri Sugiyarti (2013), Zinia (2013); Aris dkk (2012), Riadi (2012); Jeina (2013), Danang (2013), Tabita (2013), Shita dan Syarifah (2014) sedangkan Ronnie, 2009 menyatakan bahwa jumlah biaya perawatan berdasarkan Diagnosis Related Groups (DRG) lebih baik. Penelitian Asri (2012) juga memberikan cara baru yakni menggunakan metode modified activity based costing yang merupakan perpaduan metode step down costing dan activity based costing. Dian dkk (2011) menyatakan bahwa pada Rumah Sakit Pku Muhammadiyah Unit I menerapkan metode real cost

dalam menentukan tarifnya. Primadinta dkk (2011) menyarankan perlunya cost sharing

agar harga tarif tidak terlalu murah atau jauh di bawah harga real cost. Ryryn dkk (2013), menggunakan model double distribution yang didasarkan pada relative value unit (RVU) dalam penelitiannya.

Pada penelitian ini, peneliti mencoba melaksanakan penghitungan berdasarkan ABC tetapi dengan “warna” yang berbeda yakni dengan mengkombinasikan berdasarkan acuan tarif non kapitasi sesuai dengan model pelayanan dan aturan pemerintah yang berdasarkan BPJS pada saat ini. Peneliti mencoba menemukan salah satu alternatif dalam penentuan tarif pada RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengambil judul ; “Strategi Penetapan Unit Cost Berbasis Tarif Non Kapitasi Pada RSUD Arifin Ahmad Provinsi Riau”

1.2 Perumusan Masalah

Adapun perumusan masalah dari penelitian ini adalah ;

Bagaimana penghitungan unit cost yang berbasis tarif non kapitasi bagi Rumah Sakit Arifin Ahmad Provinsi Riau?

1.3 Maksud dan Dan Tujuan Penelitian

(16)

1. Untuk mengetahui model penghitungan unit cost yang dapat dilakukan oleh RSUD Arifin Achmad (RSUD AA) Provinsi Riau dengan penyesuaian tarif non kapitasi

Adapun tujuan penelitian ini ;

1. Untuk mengidentifikasi, mengolah dan menganalisis data unitcost berbasis tarif kapitasi pada RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau

2. Sebagai salah satu pertimbangan pada manajemen RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dalam pengambilan keputusan tentang penetapan tarif.

1.4 Luaran / Manfaat Kegiatan

Adapun manfaat kegiatan adalaah ;

1. Sebagai upaya update dan perbaikan tarif pelayanan sesuai dengan tuntutan zaman RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau.

2. Sebagai salah satu alat ukur bagi manajemen guna mengetahui selisih tarif yang sering terjadi dan dasar pemberian pola jasa bagi hasil berbasis renumerasi pada RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau

(17)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Akuntansi

Peran akuntansi pada umumnya dan akuntansi manajemen khususnya sangat penting dalam menyediakan informasi bagi masyarakat secara keseluruhan miterutama bagi pengambil keputusan, para manajer dan profesional. Di samping menyediakan informasi bagi pemakainya, keterampilan khusus dalam pengolahan data akuntansi penting pula dipahami.

Hongrein dan Harrison (2007) menyatakan bahwa akuntansi adalah sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, memproses data menjadi laporan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pengambil keputusan. Fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan bagi organisasi. Dari laporan akuntansi kita bisa melihat posisi keuangan suatu organisasi beserta perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya oleh pihak manajemen untuk membantu membuat keputusan suatu organisasi.

2.2 Tipe Akuntansi

Akuntansi manajemen sebagai suatu tipe akuntansi dapat dibandingkan dengan akuntansi keuangan karena mempunyai karateristik yang berlainan disebabkan oleh perbedaan pemakai/pengguna informasi keuangan. Akuntansi Keuangan di perlukan untuk memenuhi informasi keuangan yang di butuhkan oleh manajemen puncak dan pihak luar perusahaan. Akuntansi Manajemen diperlukan untuk memenuhi keperluan manajemen (laporan yang berbeda untuk Manajer yang berbeda) dalam melaksanakan perencanaan dan pengendaliaan perusahaan. Informasi akuntansi manajemen tidak di distribusikan untuk pihak luar perusahaan.

2.3 Akuntansi Manajemen

Akuntansi dapat di pandang sebagai suatu sistem yang mengolah masukan berupa data operasi dan data keuangan untruk menghasilkan keluaran berupa akuntansi

(18)

informasi yang di butuhkan oleh pemakai. Akuntansi dapat di pandang dari dua sudut akuntansi manajemen sebagai salah satu tipe akuntansi dan akuntansi manajemen sebagai salah satu tipe informasi. Sebagai salah satu tipe akuntansi, akuntansi manajemen merupakan suatu sistem pengolahan informasi keuangan yang di gunakan untuk menghasilkan informasi keuangan bagi kepentingan pemakai intern organisasi. Akuntansi manajemen merupakan cabang akuntansi yang memasok informasi yang di butuhkan oleh para manajer guna menentukan bagaimana sumber daya di peroleh dan di gunakan dalam setiap jenis bisnis, baik berskala kecil maupun besar. Para manajer merupakan orang-orang di dalam organisasi, dan yang bertanggung jawab mengarahkan serta mengendalikan kegiatan-kegiatannya. Akuntansi manajemen berbeda dengan akuntansi keuangan yang berkaitan dengan penyediaan informasi bagi para pemegang saham, kreditor, investor, dan pihak lainnya di luar organisasi. Karena berorientasi kepada manajer, maka setiap kajian atas akuntansi manajemen dan organisasi di mana manajer tersebut berkiprah. Pengertian akuntansi manajemen adalah bagian dari pengertian akuntansi yang bertujuan membantu manajer untuk menjalankan tiga fungsi pokoknya, yaitu perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan. Kehadiran akuntansi manajemen atau sistem informasi manajemen dalam perusahaan merupakan suatu sistem yang akan memberikan informasi kepada manajemen untuk membantu pihak-pihak internal untuk mencapai tujuan organisasinya.

2.4 Harga Pokok Penjualan

Harga pokok penjualan (HPP) adalah salah satu komponen dari laporan laba rugi, yang menjadi perhatian manajemen perusahaan dalam mengendalikan operasional perusahaan. Umumnya terdapat temukan 3 macam harga pokok, yaitu harga pokok persediaan, harga pokok produksi dan harga pokok penjualan. Ketiganya adalah penting, namun dalam pengambilan keputusan perlu jelas harga pokok mana yang dimaksud. Permasalahan itu timbul karena perbedaan kebutuhan masing-masing tingkat manajemen. Manajer bagian pembelian (Purchase Manager) lebih fokus pada harga pokok persediaan, manajer produksi (production manager)

(19)

10

atau manajer operasional (Operation Manager) lebih fokus pada harga pokok produksi. Manajemen tingkat puncak tentunya akan lebih cenderung fokus pada harga pokok penjualan. Komponen yang paling besar dalam operasional perusahaan pada perusahaan dagang maupun perusahaan industri adalah persediaan. Karena harga pokok persediaan adalah bagian dari persediaan yang telah digunakan, jadi perhatian lebih besar di tujukan pada harga pokok persediaan cukup beralasan. Namun hal itu tidak cukup bagi manajer operasional karena komponen biaya produksi baik biaya tenaga kerja langsung maupun biaya overhead pabrik juga merupakan komponen penting yang berada dalam ruang lingkup tugasnya. Karena itu manajer produksi atau manajer operasional pada perusahaan industri akan fokus pada harga pokok produksi yaitu harga pokok persediaan di tambah biaya produksi. Perusahaan jasa tidak memiliki kedua komponen tersebut sehingga pada perusahaan jasa jelas hanya harga pokok yang terdiri dari biaya operasional.

2.5 Harga Pokok Produk

Harga pokok produk (Putikadea,2011) , adalah penjumlahan dari biaya yang dibagikan ke produk untuk tujuan tertentu. Harga pokok produk merupakan salah satu hal penting yang perlu di perhatikan oleh perusahaan baik perusahaan manufaktur, perusahaan jasa maupun perusahaan dagang. Penetapan harga pokok produk yang tepat akan memberikan manfaat bagi perusahaan itu sendiri. Harga pokok produksi adalah seluruh biaya baik secara langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk memproduksi barang atau jasa yang merupakan operasi utama perusahaan dalam suatu periode tertentu. Harga pokok produksi meliputi biaya pemakaian bahan baku (raw material), biaya tenaga kerja langsung (direct labor), dan biaya overhead pabrik (factory overhead).

2.6 Pengertian Biaya

Hansen dan Mowen (2009), mendefinisikan biaya sebagai: Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang di harapkan memberi manfaat saat ini atau di masa datang bagi organisasi. Di katakan

(20)

sebagai ekuivalen kas karena sumber non-kas dapat di tukar dengan barang atau jasa yang di inginkan. Jadi, kita dapat menganggap biaya sebagai ukuran dollar dari sumber daya yang digunakan untuk mencapai keuntungan tertentu. Perusahaan mengeluarkan biaya (cost) jika menggunakan sumber daya untuk tujuan tertentu (Blocher,et al

2011:102).

2.7 Klasifikasi Biaya

Klasifikasi biaya sangat di perlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu pihak manajemen dalam mencapai tujuannya. Untuk tujuan perhitungan biaya produk dan jasa, biaya dapat diklasifikasikan menurut tujuan khusus atau fungsi-fungsi. Keberhasilan dalam merencanakan dan mengendalikan biaya bergantung pada pemahaman yang menyeluruh atas hubungan antara biaya dengan aktivitas bisnis. Studi dan analisis yang hati-hati atas dampak aktivitas bisnis terhadap biaya umumnya akan menghasilkan klasifikasi dari setiap pengeluaran sebagai biaya tetap, variable atau biaya semi variable. Carter (2009) menjelaskan biaya umum di klasifikasikan kedalam 3 kategori, sebagai berikut ;

a. Biaya Tetap di definisikan sebagai biaya yang secara total tidak berubah ketika aktivitas bisnis meningkat atau menurun.

b. Biaya Variabel di definisikan sebagai biaya yang totalnya meningkat secara proporsional terhadap peningkatan dalam aktivitas dan menurun secara proporsional terhadap penurunan dalam aktivitas.

c. Biaya Semivariabel di definisikan sebagai biaya yang memperlihatkan baik karakteristik-karakteristik dari biaya tetap maupun biaya variabel.

2.8 Analisis Biaya

Menurut Indra Bastian (2015) analisis biaya adalah suatu kegiatan menghitung biaya untuk berbagai jenis pelayanan yang ditawarkan baik secara total maupun per pelayanan per klien dengan cara menghitung seluruh biaya pada seluruh unit yang ada dimana biaya yang terdapat pada unit yang tidak menghasilkan produk (pusat biaya) didistribusikan kepada unit-unit yang menghasilkan produk dan menghasilkan pendapatan (pusat pendapatan). Ada beberapa cara proses analisis biaya yakni;

(21)

12

a. Simple distribution adalah cara langsung membagi habis biaya di unit-unit pusat biaya ke unit pusat pendapatan berdasarkan bobot tertentu

b. Step down method adalah cara membagi di pusat biaya ke unit pusat pendapatan melalui 2 tahap yaitu mula-mula dilakukan alokasi antara pusat biaya kemudian biaya yang diterima pusat biaya dibawahnya digabung dengan biaya asli pusat biaya, baru dialokasikan ke pusat pendapatan dengan dasar pemboboton

c. Double distribution adalah cara membagi biaya dari pusat biaya ke pusat pendapatan melalui 2 tahap yaitu mula-mula dilakukan alokasi antar pusat biaya ke pusat biaya lain dan pusat pendapatan, baru langkah kedua dilakukan alokasi dari pusat biaya ke pusat pendapatan

d. Dan ABC adalah cara suatu sistem perhitungan biaya setiap aktivitas serta membebankan biaya ke objek biaya seperti produk dan jasa berdasarkan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan tiap produk dan jasa 2.9 Pengertian Activity Based Costing System

Horngren, et al (2008:167), mendefinisikan ABC sebagai berikut, “ABC (Activity Based Costing) sebagai suatu sistem perhitungan biaya setiap aktivitas serta membebankan biaya ke objek biaya seperti produk dan jasa berdasarkan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan tiap produk dan jasa.” Activity Based Costing merupakan sistem yang menerapkan konsep-konsep akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok yang lebih akurat. Namun, dari prespektif manajerial, sistem ABC tidak hanya menawarkan lebih dari sekedar informasi biaya produk yang akurat akan tetapi juga menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke objek biaya selain produk, misalnya pelanggan dan saluran distribusi. Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas merupakan pendekatan perhitungan biaya yang membebankan biaya sumber daya ke objek biaya seperti produk, jasa, atau pelanggan berdasarkan aktivitas yang di lakukan untuk objek biaya tersebut. Blocher, et al (2011:222) menyatakan bahwa fokus utama activity based costing adalah aktivitas. Mengidentifikasi biaya aktivitas dan kemudian ke produk merupakan langkah dalam

(22)

menyusun activity based costing system (Hansen dan Mowen,2009). Activity based costing mengakui hubungan sebab akibat atau hubungan langsung antara biaya sumber daya, penggerak biaya, aktivitas, dan objek biaya dalam membebankan biaya pada aktivitas dan kemudian pada objek biaya. Yulianti (2011) menyatakan bahwa hal-hal yang perlu di perhatikan dalam penerapan Activity Based Costing pada perusahaan jasa adalah sebagai berikut:

a. Identifying and Costing Activities

Mengidentifikasi dan menghargai aktivitas dapat membuka beberapa kesempatan untuk pengoperasian yang efisien.

b. Special Challenger

Perbedaan antara perusahaan jasa dan perusahaan manufaktur akan memiliki permasalahan-permasalahan yang serupa. Permasalahan itu seperti sulitnya mengalokasikan biaya ke aktivitas. Selain itu jasa tidak dapat menjadi suatu persediaan, karena kapasitas yang ada namun tidak dapat digunakan menimbulkan biaya yang tidak dapat dihindari.

c. Output Diversity

Perusahaan jasa juga memiliki kesulitan-kesulitan dalam mengidentifikasi output yang ada. Pada perusahaan jasa, diversity yang menggambarkan aktivitas-aktivitas pendukung pada hal-hal yang berbeda mungkin sulit untuk dijelaskan atau ditentukan.

2.10 Klasifikasi Aktivitas

Sistem Activity Based Costing (ABC) pada dasarnya mencari suatu metode atau cara untuk menghasilkan informasi biaya yang lebih akurat dengan melakukan identifikasi atas berbagai aktivitas. Untuk

mengidentifikasi biaya sumber daya pada berbagai aktivitas, perusahaan perlu mengelompokkan seluruh aktivitas menurut cara bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut mengkonsumsi sumber daya. Sistem ABC

membagi aktivitas kedalam 4 tingkatan, yaitu sebagai berikut ; a. Aktivitas tingkat unit (Unit-Level Activities)

(23)

14

Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai contoh, menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan, karena tenaga tersebut cenderung di konsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang di produksi.

b. Aktivitas tingkat kelompok unit (Batch-Level Activities)

Aktivitas di lakukan setiap kelompok unit di proses, tanpa memperhatikan berapa unit yang ada pada kelompok unit tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti membuat order produksi dan pengaturan pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel kelompok unit.

c. Aktivitas pendukung produk/jasa (Product/Service-Sustaining Activities)

Aktivitas ini mendukung produksi produk/jasa spesifik dan biasanya di kerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau unit yang di produksi atau di jual. Aktivitas ini di lakukan karena di butuhkan untuk menopang produksi setiap jenis produk/jasa yang berlainan. Sebagai contoh merancang produk atau mengiklankan produk.

d. Aktivitas pendukung fasilitas (Facility-Sustaining Activities)

Aktivitas ini tidak dapat di hubungkan secara langsung dengan produk/jasa yang di hasilkan tetapi untuk mendukung organisasi secara keseluruhan. Pengelompokan untuk level ini sulit di cari hubungan sebab akibatnya dengan produk/jasa yang di hasilkan tetapi di butuhkan untuk kelancaran kegiatan perusahaan yang berhubungan dengan proses produksi barang/jasa. Contoh : biaya keamanan dan biaya kebersihan.

2.11 Cost Pool

Ahmad (2007) menjelaskan biaya yang terjadi jika sumber daya digunakan untuk tujuan tertentu. Kadang-kadang biaya di kimpilkan ke dalam kelompok tertentu yang di sebut cost pool. Cost pool digunakan untuk mempermudah manajemen dalam membebankan biaya-biaya yang timbul. Cost pool berisi aktivitas yang biayanya memiliki korelasi positif antara cost driver dengan biaya aktivitas. Tiap-tiap cost pool menampung biaya-biaya dari transaksi-transaksi yang homogen. Semakin tinggi

(24)

tingkat kesamaan aktivitas yang dilaksanakan dalam perusahaan, semakin sedikit

cost pool yang di butuhkan untuk membebankan biaya-biaya tersebut. Sistem biaya yang menggunakan beberapa cost pool akan lebih menjelaskan hubungan sebab-akibat antara biaya yang timbul dengan produk yang dihasilkan. Cost pool berguna untuk menentukan cost pool rate yang merupakan tarif biaya overhead pabrik per unit cost driver yang di hitung untuk setiap kelompok aktivitas. Tarif kelompok di hitung dengan rumus total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu di bagi dasar pengukuran aktivitas kelompok tersebut.

2.12 Cost Driver

Blocher, et al (2011) menyatakan Cost Driver atau Pengerak Biaya merupakan faktor yang memberi implikasi pada perubahan tingkat total biaya. Horngren, et al (2008) menyatakan Cost Driver adalah variabel, seperti tingkat aktivitas atau volume, yang menjadi dasar timbulnya biaya dalam rentang waktu tertentu. Ada dua jenis biaya cost driver, yaitu sebagai berikut ;

a. Cost driver berdasarkan unit

Cost driver berdasarkan unit membebankan biaya overhead pada produk melalui penggunaan tarif overhead tunggal oleh seluruh departemen.

b. Cost driver berdasarakan non-unit

Cost driver berdasarkan non unit merupakan faktor-faktor penyebab selain unit yang menjelaskan konsumsi overhead.

2.13 TotalFinancial Requirement

Sebelum penyusunan tarif maka perlu dipertimbangkan kebutuhan biaya lain yaitu dengan pendekatan Financial Requirement (Indra Bastian, 2015) yaitu suatu pendekatan dengan memperhitungkan kebutuhan biaya secara total yaitu;

a. Biaya pelaksanaan kegiatan;

1) Biaya langsung dan tidak langsung layanan 2) Biaya tagihan yang tidak dilunasi

(25)

16

4) diskon

b. biaya bertahan dalam kegiatan; 1) modal kerja

2) pengembangan sumber daya manusia dan penelitian 3) peremajaan investasi

4) pengadaan tekhnologi baru c. biaya pengembangan kegiatan;

1) biaya perubahan layanan 2) biaya pengadaan layanan baru d. biaya pengembalian investasi;

1) bunga pinjaman

2) pengembalian pinjaman pokok e. biaya ketidakpastian;

1) biaya tuntutan hokum 2) politis

3) dan lain-lain

2.14 Penyusunan Tarif Layanan Kesehatan

Dalam menentukan tarif perlu diperhatikan beberapa pertimbangan yaitu ; a. Break Even Point yaitu

Jumlah biaya = total pendapatan atau

Jumlah total biaya tetap + jumlah total biaya variable = tarif dikali jumlah produk atau

Unit cost dikali jumlah produk = tarif x jumlah produk.

Secara umum unit cost tidak selalu sama dengan tarif. Perkiraan jumlah produk yang akan terjual setahun dimana semakin banyak produk yang dijual kemungkinan tarif yang diberlakukan makin rendah (adanya pengaruh komponen biaya tetap).

(26)

b. Adanya pertimbangan lain dengan menggunakan total financial requirement

c. Tingkat kemampuan masyarakat yang diukur dengan ability to pay dan

willingness to pay

d. Pesaing yang dapat memberikan jenis pelayanan yang sama e. Subsidi silang antar pelayanan

2.15 Penyusunan Tarif berdasarkan Biaya Layanan Kesehatan

Menurut Indra Bastian (2015) terdapat 3 (tiga) dalam sistem penghitungan biaya guna penentuan tarif pada layanan kesehatan yaitu;

a. Activity Cost System yaitu biaya berdasarkan aktivitas yang diterima oleh pasien b. Case mix yang berbasiskan biaya langsung dan biaya tidak langsung yaitu biaya

disesuaikan dengan diagnosis penyakit (aspek kompleksitas klinis) dan perhitungan biaya dilakukan terhadap biaya langsung dan biaya tidak langsung per kasus per pasien

c. Case mix yang berbasiskan sistem ABC yaitu biaya disesuaikan dengan diagnosis penyakit (aspek kompleksitas klinis) dan perhitungan biaya dimulai dari pencatatan biaya berdasarkan natural classification menurut pusat pertanggungjawaban dan aktivitas, kemudian pembebanan biaya aktivitas ke produk/jasa.

2.16 Tarif Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 59 Tahun 2014

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 59 Tahun 2014 terdapat 3 (tiga) jenis tarif yakni;

a. Tarif Kapitasi adalah besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpamemperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.

b. Tarif Non Kapitasi adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.

(27)

18

a. Tarif Indonesian - Case Based Groups yang selanjutnya disebut Tarif INA-CBG’s adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatankepada Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit dan prosedur.

2.17 Penelitian Terdahulu

Menurut Agus (2006) untuk menetapkan pola tarif pada rumah sakit umum dapat digunakan model Double Distribution Method yaitu dengan cara membagi biaya dari unit penunjang kepada unit produksi. Menurut Anis dkk (2013) pada Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung Kabupaten Jember dengan menggunakan penghitungan ABC guna menentukan unit cost sangatlah diperlukan. Karena dengan adanya ABC maka dapat diketahui mana pelayanan yang memiliki unit cost diatas tarif dan unit cost

dibawah tarif.

Lain halnya dengan Asri (2012) menyatakan, pada Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak di Kotamadia Malang (RSIAM), penghitungan unit costnya menggunakan

modified activity based costing yang merupakan perpaduan antara step down costing dan ABC. Akan tetapi tetap memerlukan rapat manajemen guna memahami kemampuan dalam mengakomodasi tarif INA CBG’s. Hasil penghitungan unit cost dan tarif kelas III untuk persalinan normal lebih tinggi daripada tarif INA CBG’s. Hasil FGD (Focus Group Discussion) menyatakan bahwa pasien yang melahirkan normal dapat diberikan tarif INA CBG’s dengan beberapa penyesuaian dan kebijakan. Akan tetapi dalam hal ini RSIA mengalami kendala penerapan INA CBG’s pada pasien SC (seksio sesarea). Menurut Primandita (2011) menyimpulkan bahwa pada Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Unit I di Yogyakarta, dengan menggunakan metode real cost pada pelayanan hemodialysis dengan tarif yang digunakan pada saat penelitian terdapat selisih yang cukup besar sehingga bisa dikatakan RSU PKU mengalami kerugian karena yang ditetapkan lebih kecil dari jumlah hasil penghitungan unit cost.

Penelitian Riadi (2012) menunjukkan bahwa dari hasil penghitungan tarif RS pada RS XYZ menggunakan ABC jika dibandingkan dengan metode tradisional didapati

(28)

hasil yang lebih besar kecuali pada kelas VIP dan kelas I. Menurut Ronnie (2009) dalam pengembangannya penghitungan unit cost menggunakan DRG (Diagnosis Related Group’s) atau kelompok diagnosis terkait yang mengacu kepada Australian DRG. INA-DRG disini, yang dimaksud dengan penetapan tarif seharusnya adalah total biaya per penyakit rawat inap yang telah dihitung berbasis clinical pathway tadi ditambah dengan kemungkinan margin yang diharapkan oleh rumah sakit atau cukup dengan pola Break Even Point (BEP) saja dimana tarif yang di tetapkan cukup sama dengan nilai biaya yang telah dikeluarkan oleh rumah sakit. Atau dengan istilah singkatnya penentuan unit cost adalah menggunakan metode ABC dengan metode simple distribution.

Hasil penelitian Jeina (2013) menyimpulkan bahwa tarif rawat inap pada BLU RSUP PROF. DR. R. D. Kandou menggunakan ABC lebih tinggi dari tarif yang diberikan selama ini terkecuali untuk kelas VVIP. Hal ini disebabkan karena dalam penghitungan sebelumnya tidak menggunakan sumber daya yang digunakan. Hasil penelitian Zinia (2013) menyimpulkan bahwa penghitungan menggunakan ABC pada RSU Pancaran Kasih GMIM melibatkan driver yang ada sehingga lebih tepat digunakan. Sebagai hasilnya, penghitungan ABC pada kelas VVIP dan kelas VIP lebih dari jumlah yang telah ditetapkan oleh rumah sakit. Sedangkan pada kelas I, II dan III memberikan hasil yang lebih besar daripada tarif yang berlaku pada saat itu.

Ryryn dkk (2013) menyatakan bahwa menggunakan double distribution bisa juga dilaksanakan disertai dengan analisis unit cost berdasarkan Relative Value Unit (RVU) disertai dengan Ability to Pay dan Willingnes to Pay. Selain itu juga analisis unit cost seharusnya dilaksanakan satu tahun sekali karena jumlah biaya yang selalu berubah meskipun setiap tahun. Dwi (2010) dalam penelitiannya untuk menentukan tarif maka perlu disusun clinical pathway sesuai kondisi yang ada sebagai salah satu acuan dalam standar pelayanan pasien.

(29)

20

II. KERANGKA PEMIKIRAN

Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Permasalahan ;

- Masih menggunakan tarif Pergubri No. 20 Tahun 2012, sementara model pelayanan sudah berubah

dari model Askes ke model BPJS

- Terjadinya varians (penyimpangan) antara tarif BPJS dengan tarif RSUD

Pemecahan;

- Perlunya tarif baru berdasarkan model pelayanan dan penentuan tarif berdasarkan tarif non kapitasi untuk RSUD Arifin Ahmad

Langkah-Langkah Pemecahan ;

- Mengidentifikasi aktivitas yakni berupa clinical pathway dari pelayanan di RSUD Arifin Ahmad - Mengklasifikasi biaya berdasar aktivitas ke dalam berbagai aktivitas (biaya langsung dan biaya tidak

langsung)

- Mengidentifikasi cost driver - Menentukan tarif per unit cost driver

- Menentukan tarif per unit cost driver non kapitasi - Strategi penentuan tarif non kapitasi pelayanan

(30)

21 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Adapun yang menjadi lokasi dalam penelitian ini adalah RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Jln. Diponegoro No. 2 Pekanbaru, Provinsi Riau. Waktu penelitian dilaksanakan dari Bulan Juli hingga September 2016.

3.2 Populasi dan Sampel

Adapun yang menjadi sampelnya adalah bagian pelayanan yang memiliki

clinical pathway yakni standar prosedur pengobatan pasien mulai dari masuk hingga pasien dipulangkan. Adapun bagian yang memiliki clinical pathway untuk penyusunan tarif non kapitasi adalah bagian haemodialisa dan bagian radiologi.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah ;

a. Data Primer yaitu data yang diperoleh dari hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak rumah sakit serta pihak terkait yang berhubungan dengan masalah rumah sakit (key-informan) di lapangan

b. Data Sekunder yaitu data yang diperlukan berupa guna analisis lebih lanjut seperti tindakan pada rumah sakit serta komponen laporan keuangan yang dianggap diperlukan sebagai penunjang pelaksanaan unit cost berdasarkan layanan ini.

3.4 Tekhnik Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu berupa pengumpulan data yang dibutuhkan sesuai dengan kerangka penelitian seperti laporan keuangan, laporan laba rugi, biaya per departemen.

(31)

22 Di samping itu pula metode pengumpulan data menggunakan pendekatan kualitatif yakni berupa wawancara dengan angket terbuka serta pengamatan. Dalam hal ini wawancara dilaksanakan minimal dua kali yakni pada saat bersamaan pengambilan data kuantitatif dan setelah analisis data kuantitatif. Tujuannya adalah mensinkronkan penghitungan hasil data kuantitatif dengan hasil di lapangan.

3.5 Tekhnik Analisis Data

Tekhnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kuantitatif yaitu analisis berdasarkan penilaian obyektif. Langkah-langkah analisis dalam penelitian ini antara lain;

Tahap I : Tahap analisis tindakan yaitu mengidentifikasi layanan yang diberikan pada RSUD Arifin Achmad berdasarkan clinical pathway

Tahap II : Tahap pengumpulan data berupa biaya-biaya bahan medis habis pakai dan bahan habis pakai yang digunakan berdasarkan tindakan yang ada.

Tahap III : Pengumpulan data dan analisis Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung pada layanan yang memiliki clinical pathway

Tahap IV : Tahap analisis data dan penentuan unit cost RSUD AA Berdasarkan Tindakan

(32)

23

4.1 Penentuan Unit Cost Jasa Rawat Inap Menggunakan ABC Costing

Untuk perhitungan harga pokok rawat inap yang dilakukan oleh RSUD AA dilakukan menggunakan ABC Costing (Activity Based Costing) agar tidak terjadi distorsi dalam membebankan biaya sehingga dapat membantu manajemen dalam mengambil keputusan sebagai dasar penetapan tariff rawat inap. Untuk itu peneliti melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Klasifikasi aktivitas biaya ke dalam berbagai aktivitas a. Berdasarkan unit level activity cost

Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Aktivitas yang termasuk dalam kategori ini adala penyediaan tenaga listrik, air dan biaya konsumsi / gizi.

b. Berdasarkan Batch related activity cost

Aktivitas ini dilakukan setiap kali batch diproses tanpa memperhatikan berapa unit yang ada pada batch tersebut. Aktivitas ini tergantung pada jumlah batch yang dihasilkan. Biaya yang ada di aktivitas ini antara lain biaya administrasi atau rekam medic, biaya perawatan pasien dan biaya kebersihan.

c. Berdasarkan Facility suistaning activity cost

Aktivitas ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan fasilitas yang dimiliki. Aktivitas yang termasuk dalam kategori ini antara lain biaya penyusutan gedung, biaya penyusunan fasilitas, biaya laundry dan biaya pemeliharaan gedung.

(33)

24

2. Mengidentifikasi Cost Driver

Setelah aktivitas-aktivitas ini diidentifikasi sesuai dengan kategorinya, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi cost driver dari biaya aktivitas. Pengidentifikasian ini dimaksudkan dalam penentuan kelompok dan tarif/unit cost driver.

3. Menentukan tarif per unit Cost Driver

Setelah mengidentifikasi cost driver kemudian menentukan tariff per unit cost driver. Karena setiap aktivitasnya memiliki cost driver dengan cara membagi jumlah biaya dengan cost driver. Tariff per unit cost driver dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Tarif per unit cost driver (TCD) = Jumlah Aktivitas (JA) : Cost Driver (CD).

Berikut merupakan identifikasi aktivitas pada rawat inap berdasarkan laporan keuangan.

Tabel 4.1 Identifikasi Aktivitas

No Aktivitas

1 Biaya Jasa Pelayanan Medis 2 Biaya Konsumsi

3 Biaya Laundry

4 Biaya Pemeliharaan Gedung

5 Biaya Pemeliharaan Alat Kesehatan 6 Biaya Perlengkapan Rawat Inap 7 Biaya Lainnya yang Relevan Sumber : Data Olahan, 2016

Setelah diidentifikasi berdasarkan aktivitas maka pengelompokan biaya rawat inap didasarkan kepada Unit-Level Activity Cost yang dapat dilihat berdasarkan tabel 4.2

(34)

Tabel 4.2 Pengelompokan Biaya Rawat Inap dan Cost Driver – Unit Level

Activity Cost.

No Aktivitas Banyak Satuan Cost Driver Jumlah Biaya

1 Biaya Jasa Pelayanan Medis 138.200 hari 41.398.879.656

a. Royal VIP / VIP 15.699 hari

b. Kelas I 13.799 hari

c. Kelas II 21.935 hari

d. Kelas III 73.460 hari

e. ICU 1.422 hari

f. CVCU 1.235 hari

g. PICU 1.280 hari

h. SCN 6.152 hari

i. HCU 3.218 hari

2 Biaya Konsumsi 138.200 hari 5.746.452.967 a. Royal VIP / VIP 15.699 hari 2.618.338.068

b. Kelas I 13.799 hari

c. Kelas II 21.935 hari 3.128.114.899

d. Kelas III 73.460 hari

e. ICU 1.422 hari

f. CVCU 1.235 hari

g. PICU 1.280 hari

h. SCN 6.152 hari

i. HCU 3.218 hari

Sumber : Data Olahan, 2016

Setelah itu diindentifikasi penentuan tarif per unit Cost Driver Rawat Inap dengan menggunakan metode ABC Batch-Related Activity Cost yang dapat dilihat pada tabel 4.3

(35)

26

Tabel 4.3 Pengelompokan Biaya Rawat Inap dan Cost Driver – Batch

Related Activity Cost.

No Aktivitas Banyak Satuan Cost

Driver Jumlah Biaya

1 Biaya Administrasi (Rekam Medik) 29.338 pasien 744.000.000

a. Royal VIP / VIP 3.562 pasien

b. Kelas I 3.038 pasien

c. Kelas II 4.778 pasien

d. Kelas III 15.162 pasien

e. ICU 456 pasien

f. CVCU 557 pasien

g. PICU 214 pasien

h. SCN 798 pasien

i. HCU 773 pasien

Sumber : Data Olahan, 2016

Setelah itu baru ditentukan penentuan ABC Driver-Facility Suistaining Activity Cost yang dapat dilihat pada Tabel 4.4

Tabel 4.4 Pengelompokan Biaya Rawat Inap dan Cost Driver – Facility

Suistaning Activity Cost.

No Aktivitas Banyak Satuan Cost Driver Jumlah Biaya

1 Biaya Laundry 29.338 pasien 496.685.201

a. Royal VIP / VIP 3.562 pasien

b. Kelas I 3.038 pasien

c. Kelas II 4.778 pasien

d. Kelas III 15.162 pasien

e. ICU 456 pasien

f. CVCU 557 pasien

g. PICU 214 pasien

h. SCN 798 pasien

(36)

No Aktivitas Banyak Satuan Cost Driver Jumlah Biaya

2 Biaya Pemeliharaan Gedung 138.200 hari 793.678.700

a. Royal VIP / VIP 15.699 hari

526.552.200

b. Kelas I 13.799 hari

c. Kelas II 21.935 hari

d. Kelas III 73.460 hari 267.126.500

e. ICU 1.422 hari f. CVCU 1.235 hari g. PICU 1.280 hari h. SCN 6.152 hari i. HCU 3.218 hari

3 Perlengkapan Rawat Inap 29.338 pasien 198.937.750

a. Royal VIP / VIP 3.562 pasien

b. Kelas I 3.038 pasien

c. Kelas II 4.778 pasien

d. Kelas III 15.162 pasien

e. ICU 456 pasien

f. CVCU 557 pasien

g. PICU 214 pasien

h. SCN 798 pasien

i. HCU 773 pasien

4 Pemeliharaan Alat Kesehatan 138.200 hari 185.717.219

a. Royal VIP / VIP 15.699 hari

b. Kelas I 13.799 hari

c. Kelas II 21.935 hari

d. Kelas III 73.460 hari

e. ICU 1.422 hari

f. CVCU 1.235 hari

g. PICU 1.280 hari

h. SCN 6.152 hari

i. HCU 3.218 hari

Sumber : Data Olahan, 2016

Berdasarkan hasil analisis biaya berdasarkan ABC pada RSUD Arifin Ahmad tersebut, maka dapat dasar penentuan tariff jasa rawat inap berdasarkan Tabel 4.5.

(37)

28

Tabel 4.5 Dasar Penentuan Tarif

No Aktivitas

Banyak Satuan Cost

Driver

Jumlah Biaya Tarif / Unit 1 Biaya Jasa Pelayanan Medis 138.200 hari 41.398.879.656 299.558 a. Royal VIP / VIP 15.699 hari 4.702.756.959

b. Kelas I 13.799 hari 4.133.597.253 c. Kelas II 21.935 hari 6.570.799.025 d. Kelas III 73.460 hari 22.005.511.574 e. ICU 1.422 hari 425.971.106 f. CVCU 1.235 hari 369.953.809 g. PICU 1.280 hari 383.433.907 h. SCN 6.152 hari 1.842.879.216 i. HCU 3.218 hari 963.976.807

2 Biaya Konsumsi 29.338 pasien 5.746.452.967 195.871 a. Royal VIP / VIP 3.562 pasien 697.691.236

b. Kelas I 3.038 pasien 595.055.018 c. Kelas II 4.778 pasien 935.869.939 d. Kelas III 15.162 pasien 2.969.790.711 e. ICU 456 pasien 89.317.014 f. CVCU 557 pasien 109.099.949 g. PICU 214 pasien 41.916.318 h. SCN 798 pasien 156.304.774 i. HCU 773 pasien 151.408.008

3 Biaya Laundry 29.338 pasien 496.685.201 16.930 a. Royal VIP / VIP 3.562 pasien 60.303.793

b. Kelas I 3.038 pasien 51.432.601 c. Kelas II 4.778 pasien 80.890.377 d. Kelas III 15.162 pasien 256.688.971 e. ICU 456 pasien 7.719.969 f. CVCU 557 pasien 9.429.874 g. PICU 214 pasien 3.622.968 h. SCN 798 pasien 13.509.946 i. HCU 773 pasien 13.086.702

4 Biaya Pemeliharaan Gedung 138.200 hari 793.678.700 5.743

a. Royal VIP / VIP 15.699 hari 90.158.914 b. Kelas I 13.799 hari 79.247.268 c. Kelas II 21.935 hari 125.972.086 d. Kelas III 73.460 hari 421.878.707

(38)

No Aktivitas

Banyak Satuan Cost

Driver

Jumlah Biaya Tarif / Unit e. ICU 1.422 hari 8.166.506 f. CVCU 1.235 hari 7.092.570 g. PICU 1.280 hari 7.351.004 h. SCN 6.152 hari 35.330.762 i. HCU 3.218 hari 18.480.883

5 Perlengkapan Rawat Inap 29.338 pasien 198.937.750 6.781

a. Royal VIP / VIP 3.562 pasien 24.153.530 b. Kelas I 3.038 pasien 20.600.344 c. Kelas II 4.778 pasien 32.399.092 d. Kelas III 15.162 pasien 102.811.854 e. ICU 456 pasien 3.092.086 f. CVCU 557 pasien 3.776.956 g. PICU 214 pasien 1.451.110 h. SCN 798 pasien 5.411.150 i. HCU 773 pasien 5.241.628

6 Pemeliharaan Alat Kesehatan 138.200 hari 185.717.219 1.344

a. Royal VIP / VIP 15.699 hari 21.096.777 b. Kelas I 13.799 hari 18.543.501 c. Kelas II 21.935 hari 29.476.897 d. Kelas III 73.460 hari 98.717.706 e. ICU 1.422 hari 1.910.925 f. CVCU 1.235 hari 1.659.629 g. PICU 1.280 hari 1.720.102 h. SCN 6.152 hari 8.267.238 i. HCU 3.218 hari 4.324.443

Sumber : Data Olahan, 2016

Dari dasar penentuan tarif tersebut diperoleh harga tarif jasa rawat inap yang seharusnya disesuaikan dengan keadaan pada saat ini pada penghitungan berdasarkan tabel 4.6

(39)

30

Tabel 4.6 Tarif Penghitungan Jasa Rawat Inap.

Kelas Jumlah Hari Aktivit as Jumlah Biaya Aktivitas Tarif ABC Jumlah Pasien / Kamar Tarif Jasa Rawat Inap a. Royal VIP / VIP 15.699 5.596.161.209 356.466 1 356.466 b. Kelas I 13.799 4.898.475.984 354.988 2 177.494 c. Kelas II 21.935 7.775.407.417 354.475 3 118.158 d. Kelas III 73.460 25.855.399.522 351.966 4 87.991 e. ICU 1.422 536.177.606 377.059 1 377.059 f. CVCU 1.235 501.012.787 405.678 1 405.678 g. PICU 1.280 439.495.409 343.356 1 343.356 h. SCN 6.152 2.061.703.087 335.127 1 335.127 i. HCU 3.218 1.156.518.471 359.390 1 359.390

Sumber : Data Olahan, 2016

Adapun asumsi jumlah pasien per kamar adalah disesuaikan dengan jumlah normal pasien yang ada selayaknya di RSUD disamping itu pula harga diatas merupakan unit cost bukan merupakan harga jual ditambah keuntungan yang

diharapkan yang diinginkan oleh RSUD Arifin Ahmad.

4.2 TARIF JASA SARANA

Dalam BAB II (Dua) pasal 4 (empat) dan 5 (lima) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Pola Tarif Badan Layanan Umum

(40)

Rumah Sakit Di Lingkungan Kementerian Kesehatan yang membahas masalah tarif. Adapun bunyi pasal tersebut adalah ;

BAB II KEBIJAKAN TARIF

Pasal 4

(1) Semua kegiatan pelayanan dan kegiatan non pelayanan di Rumah Sakit dikenakan tarif layanan.

(2) Tarif layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan seluruh biaya yang dibebankan kepada masyarakat atas penyelenggaraan kegiatan di BLU Rumah Sakit.

(3) Tarif layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan berdasarkan asas gotong royong, adil dengan mengutamakan kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah, dan tidak mengutamakan untuk mencari keuntungan.

Pasal 5

Dalam penyusunan tarif layanan di BLU Rumah Sakit, perhitungan jasa sarana untuk: a. kelas III (tiga) lebih kecil dari titik impas (break even point);

b. kelas II (dua) sesuai titik impas (break even point); dan

c. kelas selain huruf a dan huruf b, lebih besar dari titik impas (break even point) dengan besaran yang ditetapkan berdasarkan asas kepatutan oleh Direktur Rumah Sakit. Di dalam BEP terdapat unsur-unsur yakni ;

1. Total Biaya Tetap adalah keseluruhan biaya tetap yang dikeluarkan selama satu periode tertentu. Biaya tetap yakni biaya yang dikeluarkan sehubungan proses produksi atau jasa yang ada pada pelayanan RSUD AA tanpa mempengaruhi jumlah kuantitas jasa yang dikeluarkan. Biaya tetap tersebut antara lain, biaya penyusutan, biaya pemeliharaan gedung biaya listrik pada RSUD AA

2. Total Biaya Variabel adalah keseluruhan biaya variabel yang dikeluarkan pada satu periode tertentu. Biaya variabel adalah biaya yang keluar sehubungan dengan pelayanan yang diberikan di RSUD AA. Makin tinggi jumlah kuantitas

(41)

32

pelayanan yang diberikan maka makin tinggi juga biaya variabel yang akan dikeluarkan, sebaliknya jika makin rendah jumlah kuantitas pelayanan yang diberikan maka makin rendah juga biaya variabel yang akan dikeluarkan. Contoh biaya Bahan Medis Habis Pakai

3. Total Biaya adalah penjumlahan antara total biaya tetap dengan total biaya variabel

4. Harga jual per unit adalah total keseluruhan pendapatan yang diberikan kepada masyarakat atau konsumen pada periode tertentu dan pada layanan atau bagian tertentu dibagikan dengan jumlah kuantitas pelayanan jasa yang diberikan pada pelayanan tertentu pula.

Gambar 4.3 Cara Penentuan Jasa Sarana

Dari laporan keuangan RSUD Arifin Ahmad pada Tahun 2015, maka peneliti mengadakan perbaikan laporan keuangan berdasarkan jenis biaya tetap dan biaya variabel berdasarkan operasional yang ada.. Adapun jenis biaya variabel pada RSUD Arifin Ahmad untuk biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang sehubungan dengan pelayanan yang diberikan dan berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan biaya tetap adalah biaya sehubungan dengan proses pelayanan pasien.

Berdasarkan pengertia n BEP tersebut peneliti tidak perlu menghitung jasa sarana lagi karena di dalam penghitungan tarif jasa rawat inap sudah termasuk biaya tetap. Yang perlu lakukan adalah menghitung biaya variabel per pelayanan yang diberikan.

Break Even Point (Unit) = Total Biaya Tetap

Gambar

Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Permasalahan ;
Tabel 4.1 Identifikasi Aktivitas
Tabel  4.2  Pengelompokan  Biaya  Rawat  Inap  dan  Cost  Driver  –  Unit  Level
Tabel  4.4  Pengelompokan  Biaya  Rawat  Inap  dan  Cost  Driver  –  Facility
+4

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer sendiri adalah data yang didapatkan dari hasil pengamatan. Data primer yang diperoleh adalah

Data Primer adalah data utama yang diperoleh secara langsung dari lapangan. Data primer diperoleh dari wawancara dengan pihak-pihak terkait yang mengetahui

Adapun data primer pada penelitian ini adalah data yang diperoleh Peneliti dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi kepada pihak atau instansi terkait

(Hilman, 1995) Dalam penelitian ini yang menjadi data primer adalah data yang diperoleh dari hasil interview (wawancara) dan pengamatan (observasi) dengan subyek penelitian

Data primer diperoleh melalui wawancara dan obser vasi dengan para Kepala SMU Swasta yang menjadi sampel penelitian dan didukung dengan informasi dari berbagai pihak yang terkait

Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh secara langsung dari penelitian lapangan, melalui wawancara dengan pihak-pihak yang terkait

Sumber data primer dalam penelitian ini berupa hasil wawancara secara langsung dengan pihak yang terkait yaitu bagian Keuangan, Bagian Akuntansi, dan Superholding serta pengamatan

Data yang dikumpulkan adalah data primer yang berasal dari wawancara dengan pihak rumah sakit atau bagian forensik serta pengambilan beberapa data yang terkait dengan format dan tata