• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi masalah utama kejadian medication errors fase administrasi dan drug therapy problems pada pasien Rumah Sakit Bethesda periode Agustus-September 2008 [Kajian terhadap pengguna obat gangguan sistem endokrin] - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Evaluasi masalah utama kejadian medication errors fase administrasi dan drug therapy problems pada pasien Rumah Sakit Bethesda periode Agustus-September 2008 [Kajian terhadap pengguna obat gangguan sistem endokrin] - USD Repository"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI MASALAH UTAMA KEJADIAN MEDICATION ERRORS

FASE ADMINISTRASI DAN DRUG THERAPY PROBLEMS

PADA PASIEN RUMAH SAKIT BETHESDA PERIODE AGUSTUS-SEPTEMBER 2008

(Kajian terhadap Penggunaan Obat Gangguan Sistem Endokrin)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh : Sekar Candra Dewi

NIM : 058114015

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN,

maka Ia akan memelihara engkau!

Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya

orang benar itu goyah.

(Mazmur 55:23)

 

Kupersembahkan karya ini bagi:

Tuhan Yesusku yang dahsyat, sebab kasih dan penyertaanNya

membuatku mampu bertahan

Kedua orang tuaku, sebab doa dan kasih sayang mereka

senantiasa menyertaiku

(5)

Orang-orang yang mengenal mengapa dia harus berhasil, akan lebih tahan terhadap gangguan-gangguan ketidakpastian

di dalam proses bekerja, di dalam proses hidup

Orang-orang yang mengerti alasan mengapa dia harus bekerja keras, akan tahan terhadap sulitnya bekerja keras

Orang-orang yang tahu mengapa, akan lebih mudah menangani pertanyaan bagaimana caranya

Orang-orang yang tidak tahu mengapa, akan berhenti waktu tidak tahu caranya

(6)
(7)

Prakata

Puji dan syukur penulis panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kasih dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Evaluasi Masalah Utama Kejadian Medication Errors Fase Administrasi dan Drug Therapy Problem pada Pasien Rumah Sakit Bethesda Periode Agustus-September 2008 (Kajian terhadap Penggunaan Obat Gangguan Sistem Endkrin)” ini dengan baik.

Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana farmasi pada program studi Ilmu Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini bukanlah suatu hal yang mudah, banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancer. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebsar-besarnya kepada:

1. Direktur Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang telah memberikan ijin bagi penulis untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Bethesda.

2. Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi dan dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, saran, semangat, dan dukungan dalam proses penyusunan skripsi.

(8)

4. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan yang berharga dalam proses penyusunan skripsi ini.

5. Dra. L. Endang Budiarti, M.Pharm., Apt. yang telah memberikan bimbingan selama penulis melakukan pengambilan data untuk penelitian ini.

6. Ibu Ana dan semua perawat yang bertugas di bangsal kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta atas bantuan dan kesabaran selama proses pengambilan data penelitian ini.

7. Pak Rustam dan semua perawat bangsal D yang tidak akan dapat saya lupakan atas kebaikan, kebersamaan, dan keceriaan yang diberikan.

8. Pak Sis selaku Kepala Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta beserta semua staf atas bantuan yang diberikan selama penulis melakukan pengambilan data penelitian.

9. Ayahanda Suwito Lemboro dan Ibunda Siwi Dwi Lestari yang telah melahirkan, merawat, menjaga, mengasihi, serta mendukung penulis dalam setiap waktu di kehidupan penulis.

10. Kakakku yang terkasih Firman Ade Pramono dan Rose Wita Afriani atas kasih sayang, perhatian, serta dukungan yang telah diberikan kepada penulis. 11. Mas Sis yang telah memberikan kasih, sayang, cinta dan dukungan selama

proses penyusunan skripsi ini.

(9)

13. Teman-teman UKKA atas kebersamaan, kekompakan dan keceriaan selama penulis kuliah dan proses penyusunan skripsi ini.

14. Anna, Tami, Lina, dan teman-teman FKK 2005 atas kebersamaan dan kekompakan yang diberikan selama ini.

15. Maria, Martha, Mbak Herma atas sms-sms pendongkrak semangatku.

16. Teman-teman di Modist Home atas kebersamaan, keceriaan, dan dukungan yang diberikan kepada penulis.

17. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Akhirnya, penulis menyadari bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Keterbatasan pikiran, waktu, dan tenaga membuat penulisan skripsi ini tidak sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini lebih baik lagi. Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, 20 Januari 2009

(10)
(11)

INTISARI

Medication Errors (ME) merupakan suatu kesalahan dalam proses pengobatan yang seharusnya dapat dicegah dan proses tersebut masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab profesi kesehatan. Drug Therapy Problems (DTP) perlu diidentifikasi dan dicari solusinya, sebab merupakan tanggung jawab pharmaceutical care. ME dan DTP dapat terjadi dalam berbagai penggunaan obat, antara lain pada penggunaan obat gangguan sistem endokrin. Maka sangat penting untuk mengetahui ME dan DTP pada pasien yang menggunakan obat gangguan sistem endokrin.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui masalah utama kejadian ME fase administrasi dan DTP pada penggunaan obat gangguan sistem endokrin pada pasien di Rumah Sakit Bethesda periode Agustus-September 2008. Penelitian ini termasuk jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat prospektif.

Seluruh pasien yang menerima obat gangguan sistem endokrin berjumlah 23 pasien. Kejadian ME yang ditemukan sebesar 52%, sedangkan DTP yang ditemukan sebesar 44%. Jenis DTP yang terjadi yaitu: interaksi obat sebesar 42,8%, dosis terlalu tinggi sebesar 28,6%, dosis terlalu rendah 14,3%, dan butuh obat tambahan 14,3%. Jenis ME yang terjadi yaitu: administration error 17%, kegagalan mencek instruksi 25%, kontraindikasi 8%, dosis keliru 50%. Masalah utama kejadian ME fase administrasi dan DTP pada pasien yang menggunakan obat gangguan sistem endokrin yaitu terbatasnya waktu dan frekuensi visit bangsal oleh apoteker di bangsal kelas III Rumah Sakit Bethesda, sehingga pelaksanaan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab apoteker pun terbatas.

(12)

ABSTRACT

MedicationErrors (ME) is an error in a medical process and it must be prevented and the process itself is still in the monitoring and the responsibility of medical profession. Drug Therapy Problems (DTP) is needed to be identified and to be found the solution, because it is the responsibility of pharmaceutical care. ME and DTP can be found in various medicine use, among them is in the use of endocrine system disorder medicine. Therefore, it is very important to know the ME and the DTP in patient who use drug of endocrine system disorder medicine.

The aim of this research is to know the main problem of ME in administration phase and DTP in the use of endocrine system disorder medicine on Bethesda Hospital’s patient in August-September 2008. This research is categorized in non experimental research with evaluative descriptive design which is prospective.

The whole patient who receive endocrine system disorder medicine is 23 patients. ME which is found is 52%, while DTP which is found 44%. Kinds of DTP which happened are 42,8% drug interaction; 28,6% dose too high; 14,3 % dose too low; and 14,3% need for additional drugs. ME which was happened 17% administration error, 25% instruction check failure; 8% contraindication; and 50% wrong dose. The main problem of ME in administration phase and DTP in the patient who use endocrine system disorder medicine is the lack of time to visit and frequency of ward visitation by the pharmacist in the third class ward in Bethesda Hospital. Therefore, the pharmacist’s responsibility is limited.

(13)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PRAKATA ... vii

PERNYATAAN KEASLIANKARYA ... xi

INTISARI ... xii

ABSTRACT ... xiii

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR GAMBAR ... xxi

DAFTAR LAMPIRAN ... xxii

BAB I PENGANTAR ... 1

A. Latar Belakang ... 1

1. Permasalahan ... 2

2. Keaslian penelitian ... 3

3. Manfaat penelitian ... 4

B. Tujuan Penelitian ... 4

1. Tujuan umum ... 4

(14)

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA ... 6

A. Medication Error ... 6

B. Drug Therapy Problems ... 7

C. Sistem Endokrin ... 8

D. Diabetes Mellitus ... 9

1. Definisi ... 9

2. KLasifikasi ... 9

3. Diagnosis diabetes ... 10

4. Patogenesis ... 10

E. Penatalaksanaan Terapi ... 10

1. Outcome terapi ... 13

2. Tujuan terapi ... 13

3. Sasaran terapi ... 13

4. Penatalaksanaan terapi ... 13

F. Keterangan Empiris ... 16

BAB III METODE PENELITIAN ... 17

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 17

B. Definisi Operasional ... 17

C. Subyek Penelitian ... 19

D. Bahan Penelitian ... 19

E. Alat Penelitian ... 19

F. Lokasi Penelitian ... 20

(15)

1. Tahap orientasi ... 20

2. Tahap pengambilan data ... 20

3. Tahap penyelesaian data ... 21

H. Tata Cara Analisis Hasil ... 22

I. Kesulitan Penelitian ... 24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

A. Profil Pasien ... 26

1. Berdasarkan kelompok umur ... 26

2. Berdasarkan jenis kelamin ... 26

3. Berdasarkan tingkat pendidikan pasien ... 27

4. Berdasarkan pekerjaan pasien ... 28

5. Berdasarkan diagnosis penyakit ... 28

B. Profil Terapi Pasien ... 29

1. Profil terapi secara umum ... 30

2. Profil terapi secara khusus ... 43

C. Evaluasi ME Fase Administrasi dan DTP ... 39

1. ME Fase Administrasi ... 39

a. ME administrasi error ... 40

b. ME kegagalan mencek instruksi ... 41

c. ME kontraindikasi ... 42

d. ME dosis keliru ... 43

(16)

b. DTP dosis terlalu tinggi ... 49

c. DTP dosis terlalu rendah ... 50

d. DTP butuh obat tambahan ... 51

D. Evaluasi Masalah Utama ME Fase Administrasi dan DTP ... 52

1. Wawancara dengan dokter ... 52

2. Wawancara dengan apoteker ... 52

3. Wawancara dengan perawat ... 53

E. Rangkuman Pembahasan ... 55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 57

A. Kesimpulan ... 57

B. Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

LAMPIRAN ... 61

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel I Bentuk-bentuk Medication Error ... 6

Tabel II Penyebab-penyebab Drug Therapy Problems (DTP)... 7

Tabel III Kriteria Diagnosis DM ... 10

Tabel IV Tujuan Terapi ... 13

Tabel V Pengelompokan Umur Pasien ... 26

Tabel VI Pengelompokan Jenis Kelamin Pasien ... 26

Tabel VII Profil Jumlah Obat yang Diterima oleh Pasien ... 30

Tabel IX Profil Jumlah Obat yang Diterima oleh Pasien ... 30

Tabel X Golongan dan Jenis Obat Gangguan Sistem Endokrin yang Digunakan Pasien ... 34

Tabel XI Pengelompokan Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September berdasarkan Jenis Obat ... 36

Tabel XII Pengelompokan Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 Berdasarkan Rute Pemberian Obat ... 37

(18)

Tabel XIV Kelompok ME Administration Error pada Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 ... 40 Tabel XV Kelompok ME Kegagalan Mencek Instruksi pada Pasien di Bangsal

Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008... 41 Tabel XVI Kelompok ME Kontraindikasi pada Pasien di Bangsal Kelas III RS

Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 ... 43 Tabel XVII Kelompok ME Dosis Keliru pada Pasien di Bangsal Kelas III RS

Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 ... 43 Tabel XVIII Pengelompokan Kejadian DTP pada Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 ... 45 Tabel XIX Kejadian DTP Interaksi Obat pada Pasien di Bangsal Kelas III RS

Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 ... 46 Tabel XX Contoh Analisis DTP pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit

(19)

Tabel XXI Kejadian DTP Dosis Terlalu Tinggi pada Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 ... 49 Tabel XXII Kejadian DTP Dosis Terlalu Rendah pada Pasien di Bangsal Kelas III

RS Bethesda ... 50 Tabel XXIII Kejadian DTP Butuh Obat Tambahan pada Pasien di Bangsal Kelas

(20)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Sistem Endokrin ... 8 Gambar 2 Persentase Tingkat Pendidikan ... 27 Gambar 3 Persentase Tingkat Pekerjaan Pasien ... 28 Gambar 4 Persentase Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang

Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 berdasarkan Jenis Obat ... 36 Gambar 5 Persentase Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang

Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 berdasarkan Rute Pemberian Obat ... 37 Gambar 6 Persentase Kejadian ME Fase Administrasi pada Pasien di Bangsal

Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008... 39 Gambar 7 Persentase Jenis ME yang Terjadi pada Pasien di Bangsal Kelas III RS

Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008 ... 40 Gambar 8 Persentase DTP pada Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda

(21)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Rekam Medik Pasien ... 62

Pasien 1 ... 62

Pasien 2 ... 63

Pasien 3 ... 64

Pasien 4 ... 66

Pasien 5 ... 67

Pasien 6 ... 69

Pasien 7 ... 70

Pasien 8 ... 72

Pasien 9 ... 75

Pasien 10 ... 76

Pasien 11 ... 77

Pasien 12 ... 78

Pasien 13 ... 79

(22)

Pasien 15 ... 82 Pasien 16 ... 83 Pasien 17 ... 85 Pasien 18 ... 86 Pasien 19 ... 88 Pasien 20 ... 89 Pasien 21 ... 90 Pasien 22 ... 92

Pasien23 ... 94 Lampiran 2 Hasil Wawancara dengan Apoteker yang Bertugas di Bangsal Kelas

III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ... 95 Lampiran 3 Rangkuman Hasil Wawancara dengan Dokter yang Bertugas di

Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ... 96 Lampiran 4 Rangkuman Hasil Wawancara dengan Perawat yang Bertugas di

Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta ... 97 Lampiran 5 Daftar Obat Gangguan Sistem Endokrin yang Digunakan oleh

(23)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ yang memiliki fungsi utama menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai organ tubuh. Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalam darah dapat menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh. Terapi obat gangguan sistem endokrin pun menjadi perlu dan penting dalam menanggulangi gangguan fungsi tubuh akibat kelainan fungsi kelenjar endokrin. Obat gangguan sistem endokrin meliputi antidiabetes, antitiroidisme (antihipertiroidisme dan antihipotiroidisme), obat gangguan kelenjar adrenal, obat gangguan kelenjar pituitari.

Medication error (ME) adalah suatu kesalahan dalam proses pengobatan yang seharusnya dapat dicegah dan proses tersebut masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab profesi kesehatan (Anonim, 1998). ME yang terjadi pada antidiabetik agent sebesar 3,6% (Pote 2007). Drug therapy problems (DTP) merupakan beberapa kejadian yang tidak diinginkan yang dialami pasien dalam masa pengobatan yang dapat mengganggu tercapainya tujuan terapi (Cipolle and Strand, 2004).

(24)

dilakukan kajian mengenai evaluasi masalah utama terjadinya medication errors dan drug therapy problems pada pasien tersebut.

Penelitian ini dilakukan sebagai bentuk kerjasama antara Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma dan pihak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta sebagai kelanjutan penelitian Patient Safety tahun 2007. RS Bethesda merupakan rumah sakit swasta Tipe B dengan akreditasi ISO 9000 dan merupakan salah satu rumah sakit swasta terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Rumah sakit ini mempunyai 7 apoteker yang telah menjalankan beberapa kegiatan pelayanan farmasis klinis.

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan utama sebagai berikut: ”Apakah yang menjadi masalah utama terjadinya medication errors fase adminstrasi dan drug therapy problems pada penggunaan obat gangguan sistem endokrin pada pasien di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta periode Agustus-September 2008?” serta beberapa sub permasalahan tambahan yaitu:

a. Bagaimana profil pasien (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, diagnosis penyakit) yang menerima obat gangguan sistem endokrin di Rumah Sakit Bethesda Agustus-September 2008?

(25)

c. Bagaimanakah ME dan DTP yang terjadi dengan profil pasien dan profil terapi pasien?

2. Keaslian penelitian

Penelitian mengenai Evaluasi Masalah Utama Kejadian Medication Errors Fase Adinistrasi dan Drug Therapy Problems pada Pasien Rumah Sakit Bethesda Periode Agustus-September 2008 (Kajian terhadap Penggunaan Obat Gangguan Sistem Endokrin) belum pernah dilakukan. Penelitian yang terkait dengan masalah ME dan DTP telah dilakukan oleh beberapa peneliti lain dengan judul sebagai berikut ini :

a. Potensi medication error dalam resep anak di 10 apotek di Kota Yogyakarta periode Januari-Maret 2005 dan persepsi pembaca resep yang menanganinya (Tinjauan aspek kelengkapan dan kejelasan resep) oleh (Pramudiarja, 2006). Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada fase ME yang diteliti, tujuan penelitian, dan waktu pelaksanaan penelitian.

b. Evaluasi Drug Related Problems pada Pengobatan Pasien Stroke di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Tahun 2005 (Krismayanti, 2007). Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada tujuan penelitian, rancangan penelitian, dan waktu pelaksanaan penelitian.

(26)

3. Manfaat penelitian

Manfaat teoritis penelitian ini, diharapkan dapat menjadi sumber referensi untuk mendeskripsikan ME dan DTP terjadi pada pasien di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta serta menjadi sumber informasi bagi peneliti lain. Manfaat praktis penelitian ini, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan oleh farmasis dalam mempraktekkan pharmaceutical care di rumah sakit (secara khusus Rumah Sakit Bethesda dan secara umum rumah sakit di Indonesia) demi meningkatkan kualitas pelayanan terapi.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Secara umum penelitian ini bertujuan mengevaluasi masalah utama terjadinya ME fase adminstrasi dan DTP pada penggunaan obat gangguan sistem endokrin pada pasien di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta periode Agustus-September 2008.

2. Tujuan khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

a. Menggambarkan profil pasien (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, diagnosis penyakit) yang menerima obat gangguan sistem endokrin di RS Bethesda Agustus-September 2008.

(27)
(28)

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. MedicationError

Medication error adalah suatu kesalahan dalam proses pengobatan yang seharusnya dapat dicegah dan proses tersebut masih berada dalam pengawasan dan tanggung jawab profesi kesehatan (Cohen, 1991).

Dwiprahasto dan Kristin (2008) berpendapat bahwa medication error dapat terjadi dalam setiap langkah penyiapan obat mulai dari proses pemilihan obat, permintaan melalui resep, pembacaan resep, formulasi obat, penyerahan obat kepada pasien hingga penggunaanya oleh pasien atau petugas kesehatan. Kesalahan yang dimaksud dapat berasal dari manusia maupun lemahnya sistem yang ada.

Tabel I. Bentuk-bentuk Medication error (Dwiprahasto dan Kristin, 2008) Prescribing Transcribing Dispensing Administration

ƒ Kontraindikasi

ƒ Duplikasi

ƒ Tidak terbaca

ƒ Instruksi tidak jelas

ƒ Instruksi keliru

ƒ Instruksi tidak lengkap

ƒ Penghitungan dosis keliru

ƒ Copy error

ƒ Dibaca keliru

ƒ Ada instruksi yang terlewatkan

ƒ Mis-stamped

ƒ Instruksi tidak dikerjakan

ƒ Instruksi verbal diterjemahkan salah

ƒ Kontraindikasi

ƒ Extra dose

ƒ Kegagalan mencek instruksi

ƒ Sediaan obat buruk

ƒ Instruksi penggunaan obat tidak jelas

ƒ Salah menghitung dosis

ƒ Salah memberi label

ƒ Salah menulis instruksi

ƒ Dosis keliru

ƒ Pemberian obat di luar instruksi

ƒ Instruksi verbal dijalankan keliru

ƒ Administration

error

ƒ Kontraindikasi

ƒ Obat tertinggal di samping bed

ƒ Extra dose

ƒ Kegagalan mencek instruksi

ƒ Tidak mencek identitas pasien

ƒ Dosis keliru

ƒ Salah menulis instruksi

ƒ Patient off unit

ƒ Pemberian obat di luar instruksi

ƒ Instruksi verbal dijalankan keliru

(29)

B. Drug TherapyProblem

Tabel 2. Penyebab-penyebab Drug Therapy Problems (DTP) (Cipolle and

Strand, 2004)

No Jenis DTP Contoh Penyebab DTP

1

Ada indikasi tetapi tanpa obat

(need for additional drug

therapy)

• Timbulnya kondisi medis baru memerlukan tambahan obat baru

• Kondisi kronis memerlukan terapi lanjutan terus-menerus

• Kondisi yang memerlukan terapi kombinasi

• Pasien potensial timbul kondisi medis baru yang perlu dicegah atau terapi profilaksi.

2

Ada obat tanpa indikasi (unnecessary

therapy)

• Terapi yang diperoleh sudah tidak valid saat itu

• Terapi dengan dosis toksik

• Penyalahgunaan obat, merokok, dan alkohol

• Terapi sebaiknya non-farmakologi

• Polifarmasi yang sebaiknya terapi tunggal

• Terapi efek samping akibat suatu obat yang sebenarnya dapat digantikan dengan yang lebih aman

3

Pemilihan obat salah (wrong

drug)

• Obat yang digunakan bukan yang efektif / paling efektif

• Pasien alergi atau kontraindikasi

• Obat efektif tetapi relative mahal atau bukan yang paling aman

• Obat sudah resisten terhadap infeksi

• Kondisi sukar sembuh dengan obat yang sudah pernah diperoleh perlu mengganti obat

• Kombinasi obat yang salah. 4

Dosis terlalu rendah (dose too

low)

• Dosis terlalu rendah

• Waktu pemberian yang tidak tepat, misalnya profilaksis antibiotika untuk operasi

• Obat, dosis, rute, atau formulasi yang kurang sesuai untuk pasien

5

• Obat diberikan terlalu cepat

• Risiko yang sudah teridentifikasi karena obat tertentu

• Pasien alergi atau reaksi indiosinkrasi

• Bioavalibilitas atau efek obat diubah oleh obat lain atau makanan.

• Interaksi obat karena induksi atau inhibisi enzim, penggeseran dari tempat ikatan, atau dengan hasil laboratorium

6

Dosis terlalu tinggi (dose too

high)

• Dosis terlalu besar, kadar obat dalam plasma melebihi rentang terapi yang diharapkan

• Dosis dinaikkan terlalu cepat

• Obat terakumulasi karena terapi jangka panjang

• Obat, dosis, rute, atau formulasi yang kurang sesuai untuk pasien

• Dosis dan interval pemberian misalnya analgesik bila perlu diberikan terus

• Pasien gagal menerima obat yang sesuai karena medicationerror • Pasien tidak menuruti aturan yang ditetapkan secara sengaja

maupun karena tidak mengerti maksudnya

• Pasien tidak sanggup menebus obat karena biaya

(30)

problems adalah kejadian yang tidak diinginkan atau tidak diharapkan terjadi pada pasien selama terapi penggunaan obat, sehingga dapat mengganggu tercapainya tujuan terapi (Cipolle and Strand, 2004).

C. Sistem Endokrin

Sistem endokrin adalah produsen hormon; kimia tubuh yang dibawa aliran darah dan mengontrol berbagai proses di bagian-bagian tubuh. Proses-proses itu mencakup metabolisme (reaksi kimia yang terus terjadi dalam tubuh), tanggapan terhadap stress, pertumbuhan, dan perkembangan seksual. Sistem ini terdiri dari berbagai kelenjar dan sel pembuat hormon. Kelenjar, misalnya pituitari, adrenal, dan tiroid, adalah yang fungsinya hanya membuat hormon tertentu. Organ dan jaringan lain, misalnya indung-telur, testis, jantung, serta ginjal, juga mengandung sel-sel pembuat hormon (Smith and Davidson, 2005).

(31)

D. Diabetes Mellitus 1. Definisi

Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolik yang dikarakterisasi dengan resistensi insulin, berkurangnya sekresi insulin, atau keduanya. Manifestasi klinis dari gangguan tersebut yaitu hiperglikemia (DiPiro, 2005).

2. Klasifikasi

Klasifikasi diabetes melitus berdasarkan etiologinya dibedakan menjadi: a. Diabetes Melitus tipe 1 (DM tipe 1)

Diabetes tipe ini merupakan hasil dari rusaknya autoimun pada sel β pankreas. Diabetes tipe ini biasanya terjadi pada anak-anak dan remaja, namun dapat juga terjadi pada berbagai umur yang lain (DiPiro, 2005).

b. Diabetes Melitus tipe 2 (DM tipe 2)

Tipe dari diabetes ini dikarakterisasi oleh resistensi insulin dan sekresi insulin yang relatif kurang. Sebagian besar individu dengan diabetes tipe 2 menunjukkan obesitas abdomen dan hal tersebutlah yang menyebabkan resistensi insulin. Sebagai informasi tambahan, hipertensi, dislipidemia (trigliseride yang tinggi dan kolesterol HDL yang rendah), dan peningkatan inhibitor plasminogen activator-1 (PAI-1) sering dijumpai pada individu dengan diabetes tipe 2 (DiPiro, 2005).

c. DM gestasional

(32)

dari semua kehamilan. Deteksi klinis merupakan hal yang penting, sebagai terapi untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas perinatal (DiPiro, 2005).

d. Diabetes tipe lain

Maturity onset diabetes of youth (MODY) dikarakterisasi oleh terganggunya sekresi insulin dengan tidak atau sedikit resistensi insulin. Pasien tersebut menunjukkan hiperglikemia pada usia yang muda. Ketidakmampuan genetik umtuk mengubah proinsulin menjadi insulin menyebabkan hiperglikemia ringan dan ini diwariskan dalam pola/susunan autosomal yang dominan (DiPiro, 2005).

3. Diagnosis diabetes

Rekomendasi American Diabetes Association (ADA) yaitu dengan mengukur gula darah puasa (GDP) sebagai pengukuran yang utama pada orang dewasa yang tidak hamil. Kriteria diagnosis diabetes dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel III. Kriteria Diagnosis DM (DiPiro, 2005) Gejala diabetes dan gula darah sewaktu ≥200 mg/dl

atau

Gula darah puasa ≥126 mg/dl atau

Gula darah 2 jam setelah makan ≥200 mg/dl 4. Patogenesis

a. DM tipe 1

(33)

merupakan empat (4) ciri-ciri yang dapat menjadi bukti: (1) periode praklinik yang lama yang ditandai dengan adanya penanda imun saat kerusakan sel β pankreas terjadi. (2) hiperglikemia saat 80% - 90% sel β pankreas rusak. (3) remisi sementara (yang juga disebut fase “honeymoon”), dan (4) merupakan penyakit yang berhubungan dengan risiko komplikasi dan kematian. Tidak diketahui apakah satu atau lebih faktor-faktor pendukung (seperti susu sapi; atau virus, makanan yang dikonsumsi, atau paparan lingkungan yang lain) yang mengawali proses autoimun (DiPiro, 2005).

(34)

b. DM tipe 2

1) Aksi normal insulin. Pada saat puasa, metabolisme atau pembuangan 75% dari total glukosa tubuh bertempat pada jaringan yang tidak tergantung insulin yaitu otak dan jaringan splanchnic (hepar dan gastrointestinal). Sisa 25% lainnya bertempat pada otot yang tergantung pada insulin. Pada saat puasa, rata-rata 85% dari produksi glukosa berasal dari hepar dan sisanya diproduksi oleh ginjal. Pada saat tidak puasa, konsumsi karbohidrat akan meningkatkan konsentrasi glukosa plasma dan menstimulasi pelepasan insulin dari sel β pankreas. Hiperinsulinemia menghasilkan (1) penekanan produksi glukosa hepatik dan (2) menstimulasi uptake glukosa oleh jaringan peripheral (DiPiro, 2005).

Meskipun jaringan lemak hanya bertanggung jawab pada sedikit dari jumlah total metabolisme glukosa tubuh, jaringan lemak memiliki peran yang sangat penting dalam pemeliharaan homeostasis total glukosa tubuh. Sedikit peningkatan konsentrasi insulin dalam plasma dapat mendesak efek antilipolisis secara poten, menyebabkan penurunan jumlah free fatty acid (FFA) yang berarti (DiPiro, 2005).

(35)

E. Penatalaksanaan Terapi 1. Outcome terapi

a. mengurangi resiko komplikasi penyakit mikrovaskuler dan makrovaskuler b. memperbaiki simptom

c. mengurangi mortalitas

d. memperbaiki kualitas hidup (DiPiro, 2005) 2. Tujuan terapi

Tabel IV. Tujuan Terapi

*ADA : American Diabetes Association

** ACE: American College of Endocrinology; AACE: American Association of Clinical Endocrinologists

3. Sasaran terapi

Kadar gula darah dan komplikasi. 4. Penatalaksanaan terapi

a. Terapi non farmakologi

1) Diet. Terapi nutrisi medis direkomendasikan untuk semua penderita DM. Melalui terapi nutrisi medis diharapkan dapat mencapai outcome metabolik yang optimal dan pencegahan serta terapi komplikasi. Untuk orang dengan diabetes tipe 1, fokus terutama pada pemberian insulin dan diseimbangkan dengan diet untuk mencapai dan menjaga berat badan yang ideal. Meskipun masih menjadi perdebatan, sebagian orang diabetes mendapatkan perencanaan pola Daftar Biokimia ADA* ACE dan AACE**

(36)

makan yang mengandung korbohidrat dalam jumlah sedang dan rendah lemak jenuh. Pada orang dengan diabetes tipe 2 sering dilakukan pembatasan kalori untuk mencapai penurunan berat badan. Penurunan berat badan dapat menurunkan faktor resiko pada orang diabetes tipe 2 (DiPiro, 2005).

2) Beraktivitas. Secara umum sebagian besar orang diabetes dapat memperoleh keuntungan dengan peningkatan aktivitas. Kegiatan aerobik memperbaiki resistensi insulin dan kontrol glikemik pada sebagian besar orang, dan menurunkan faktor resiko serta berperan dalam penurunan berat badan. Pada beberapa komplikasi (neuropati autonomik, insensate feet, dan retinopati) direkomendasikan untuk melakukan pembatasan aktivitas (DiPiro, 2005).

b. Terapi farmakologi

1). Insulin. Insulin merupakan hormon anabolik dan antikatabolik. Peran utama insulin yaitu dalam metabolisme protein, karbohidrat, dan lemak. Dosis dan pemberian: Dosis insulin untuk setiap orang dengan perubahan metabolisme glukosa harus diberikan secara individu (dosis masing-masing orang berbeda). Pada DM tipe 1, rata-rata dosis harian insulin adalah 0,5 sampai 0,6 unit/kg, dengan kira-kira 50% diberikan sebagai insulin basal dan sisa 50% yang lain ditujukan untuk meng-cover makanan. Selama fase honeymoon, dosis insulin diturunkan 0,1 sampai 0,4 unit/kg. Selama menderita penyakit akut atau dengan ketosis atau pada keadaan resistensi insulin relatif, dianjurkan dosis insulin yang lebih tinggi (DiPiro, 2005).

(37)

awal 2,5-5 mg/hari, diberikan saat sarapan atau saat pertama “makan utama” di hari tersebut. Pada pasien yang sensitif terhadap obat hipoglikemik, dosis dimulai dengan 1,25 mg/hari. Peningkatan dosis tidak lebih dari 2,5 mg/hari dalam interval mingguan dengan berdasar pada respon gula darah pasien. Dosis maintenance: 1,25-20 mg/hari diberikan sebagai dosis tunggal atau terbagi; dosis maksimum 20 mg/hari (Lacy, et.al., 2006).

3). Glimepirid. Kategori farmakologi: sulfonilurea. Mekanisme aksi: menstimulasi pelepasan insulin dari sel β pankreas. Dosis untuk dewasa: dosis awal 1-2 mg sekali sehari, diberikan saat sarapan atau saat pertama “makan utama” di hari tersebut. Dosis maintenance: 1-4 mg sekali sehari. Peningkatan dosis 2 mg dalam interval 1-2 minggu dengan berdasar pada respon gula darah pasien. Dosis maksimum: 8 mg sekali sehari. Jika dengan dosis maksimum belum menunjukkan respon yang diinginkan, maka dapat digunakan kombinasi dengan metformin (Lacy, et.al., 2006).

4). Glikazid. Kategori farmakologi: sulfonilurea. Dosis awal: 40-80 mg sehari, diatur berdasarkan respon; sampai 160 mg sebagai dosis tunggal bersama makan pagi. Dosis yang lebih tinggi diberikan terbagi. Dosis maksimum 320 mg sehari (Anonim, 2006).

(38)

6). Metformin. Kategori farmakologi: biguanide. Mekanisme aksi: menurunkan produksi glukosa hepatik, menurunkan absorpsi glukosa oleh usus halus, dan meningkatkan sensitivitas insulin. Dosis untuk dewasa: dosis awal 500 mg dua kali sehari (diberikan saat makan pagi dan sore) atau 850 mg sekali sehari. Peningkatan dosis 500 mg tablet: 1 tablet/hari, dengan interval mingguan; dosis 850 mg tablet: 1 tablet/hari pada minggu yang lain. Dosis maksimal 2250 mg/hari (Lacy, et.al., 2006).

F. Keterangan Empiris

(39)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai Evaluasi Masalah Utama Kejadian Medication Errors Fase Administrasi dan Drug Therapy Problems pada Pasien Rumah Sakit Bethesda Periode Agustus-September 2008 (Kajian terhadap Penggunaan Obat Gangguan Sistem Endokrin) merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat prospektif.

Penelitian non eksperimental merupakan penelitian yang observasinya dilakukan terhadap sejumlah ciri (variabel) subyek tanpa ada manipulasi dari peneliti (Pratiknya, 2007). Rancangan penelitian deskriptif evaluatif karena data yang diperoleh dari lembar catatan medik pasien kemudian dievaluasi dan digambarkan (dideskripsikan) dalam bentuk tabel. Penelitian ini bersifat prospektif karena data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dengan mengamati keadaan pasien selama mendapatkan perawatan di rumah sakit dengan melihat lembar catatan mediknya.

B. Definisi Operasional

(40)

2. Obat gangguan sistem endokrin yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah obat anti diabetes (insulin dan anti diabetik oral), sebab digunakan oleh hampir semua subyek penelitian.

3. Drug Therapy Problems (DTP) yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah DTP yang terjadi selama proses administrasi, yaitu butuh tambahan obat, dosis terlalu rendah, efek samping dan interaksi obat, dosis terlalu tinggi, serta kepatuhan pasien.

4. Diagnosis pasien yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi diagnosis sementara (diketahui saat pasien masuk Rumah Sakit Bethesda) dan diagnosis utama (diketahui setelah pasien keluar Rumah Sakit Bethesda).

5. Periode Agustus-September 2008 yang dimaksud pada penelitian ini yaitu tanggal 4 Agustus 2008-27 September 2008.

6. Interaksi obat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah interaksi antar obat yang satu dengan yang lain dan dievaluasi berdasarkan sumber referensi Drug Interaction Fact (Tatro, 2006) serta acuan tambahan www.mims.com

7. Evaluasi dosis berdasarkan sumber referensi Drug Information Handbook (Lacy, et.al., 2006) serta acuan tambahan British National Formularium 53 (Anonim, 2006).

(41)

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah pasien yang dirawat inap di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta dan menerima obat gangguan sistem endokrin periode Agustus-September 2008. Kriteria inklusi subyek adalah pasien wanita/pria dewasa (≥17 tahun), dirawat inap di Bangsal Kelas III (Ruang B, C, D, E, F, J, dan H) RS Bethesda Yogyakarta periode Agustus-September 2008, menerima obat gangguan sistem endokrin. Kriteria eksklusi subyek adalah pasien yang tidak bersedia bekerja sama. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah subyek penelitian sebanyak 23 pasien.

D. Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan adalah lembar catatan medik pasien yang menerima obat gangguan sistem endokrin dan dirawat di bangsal kelas III RS yang dilayani oleh farmasis klinis Rumah Sakit Bethesda periode Agustus-September 2008 yang ditulis oleh dokter, perawat, dan apoteker mengenai data klinis pasien. Hasil wawancara dengan dokter, apoteker, perawat, dan pasien digunakan untuk membantu menggambarkan latar belakang terjadinya ME fase administrasi dan DTP.

E. Alat Penelitian

(42)

F. Lokasi Penelitian

Penelitian Evaluasi Masalah Utama Kejadian ME Fase Administrasi dan DTP pada Pasien RS Bethesda Periode Agustus-September 2008 (Kajian terhadap Penggunaan Obat Gangguan Sistem Endokrin) dilakukan di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta dan di tempat tinggal pasien untuk pasien yang bersedia dilaksanakannya home visit.

G. Tata Cara Pengumpulan Data

Ada tiga tahapan yang dijalani dalam penelitian ini, yaitu tahap orientasi, tahap pengambilan data, dan tahap penyelesaian data.

1. Tahap orientasi

Pada tahap ini penelitian dimulai dengan mencari informasi mengenai penggunaan obat gangguan sistem endokrin di bangsal Rumah Sakit Bethesda, berdiskusi dengan pihak mitra (Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta), serta mencari tehnik pengambilan data yang sesuai agar tidak mengganggu aktivitas di bangsal terkait. Dalam tahap ini, peneliti juga telah melakukan presentasi proposal penelitian di hadapan tim patient safety (dokter dan apoteker) Rumah Sakit Bethesda serta melakukan validasi bahasa yang akan digunakan pada form wawancara pasien, dokter, apoteker, dan perawat.

2. Tahap pengambilan data a. Pengumpulan data

(43)

Data yang dikumpulkan meliputi identitias pasien, riwayat keluarga, riwayat penyakit, riwayat pengobatan, keluhan saat masuk rumah sakit, lama tinggal di rumah sakit, diagnosis dan terapi, serta data laboratorium. Data tersebut dicatat setiap hari (kecuali hari Minggu) selama periode penelitian (Agustus-September 2008). Teknik pengambilan sampel penelitian ini merupakam non random (non probability sampling) tipe consecutive sampling.

b. Tahap wawancara

Pada proses ini dilakukan wawancara terhadap pasien, dokter yang bertugas di bangsal kelas III, perawat yang bertugas di bangsal kelas III, dan apoteker yang bertugas di bangsal kelas III. Data hasil wawancara digunakan sebagai data penunjang untuk membantu mendeskripsikan hasil penelitian.

3. Tahap Penyelesaian Data a. Pengolahan data

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dengan beberapa keterangan, yaitu diagnosis penyakit, jenis dan golongan obat yang diberikan, dosis serta cara pemakaian obat, tanggal pemberian obat, data laboratorium, serta tanda vital pasien. Data tersebut digunakan untuk identifikasi ME fase administrasi dan DTP yang terjadi serta digunakan untuk identifikasi masalah utama kejadian MEfase administrasi dan DTP.

b. Evaluasi data

(44)

endokrin yang digunakan oleh pasien dilakukan dengan mengidentifikasi kejadian MEfase administrasi dan DTP yang terjadi dengan menggunakan referensi Drug Information Handbook, British National Formulary 53, Drug Interaction Fact, dan www.mims.com. Evaluasi tersebut dilakukan per pasien.

H. Tata Cara Analisis Hasil Data dibahas secara evaluatif dengan bantuan tabel:

1. Persentase umur pasien dikelompokkan menjadi dewasa (17 - <65 tahun) dan geriatri/tua (≥65 tahun), dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien pada tiap kelompok umur dibagi jumlah pasien yang dirawat dan mendapatkan obat gangguan sistem endokrin kemudian dikalikan 100%.

2. Persentase jenis kelamin pasien dikelompokkan menjadi pasien dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien pada tiap kelompok jenis kelamin dibagi dengan jumlah keseluruhan pasien yang dirawat dan mendapatkan obat gangguan sistem endokrin kemudian dikalikan 100%.

3. Persentase tingkat pendidikan pasien dikelompokkan berdasarkan masing-masing pendidikan pasien, dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien pada tiap kelompok tingkat pendidikan dibagi dengan jumlah keseluruhan pasien yang dirawat dan mendapatkan obat gangguan sistem endokrin kemudian dikalikan 100%.

(45)

kelompok pekerjaan, dibagi dengan jumlah keseluruhan pasien yang dirawat dan mendapatkan obat gangguan sistem endokrin kemudian dikalikan 100%. 5. Persentase dignosa penyakit dihitung dengan cara menghitung jumlah pasien

setiap diagnosis penyakit kemudian dibagi dengan jumlah keseluruhan pasien yang dirawat dan mendapatkan obat gangguan sistem endokrin kemudian dikalikan 100%.

6. Persentase jumlah obat yang digunakan oleh pasien dihitung berdasarkan jumlah seluruh obat yang diterima pasien dibagi jumlah pasien dikali 100%. 7. Persentase jenis obat (selain obat gangguan sistem endokrin) yang digunakan

oleh pasien dihitung berdasarkan jumlah penggunaan suatu jenis obat dibagi jumlah pasien dikali 100%.

8. Obat gangguan sistem endokrin yang digunakan dihitung berdasarkan jumlah pasien yang menggunakan jenis obat tertentu dibagi jumlah seluruh pasien kemudian dikalikan 100%.

9. Persentase jumlah kejadian ME dan DTP dihitung berdasarkan jumlah pasien yang mengalami ME dan DTP dibagi jumlah seluruh pasien kemudian dikalikan 100%.

10.Persentase jenis MEdan DTP dihitung dengan cara menjumlahkan berapa kali ME dan DTP tersebut ditemukan pada pasien kemudian dibagi dengan jumlah ME dan DTP yang terjadi pada seluruh pasien yang dirawat dan mendapat obat gangguan sistem endokrin kemudian dikalikan 100%.

(46)

terhadap dokter, perawat, apoteker, dan pasien, atau dapat juga melihat lembar catatan medik pasien sebagai pelengkap informasi.

I. Kesulitan Penelitian

Dalam proses pengambilan data pada penelitian ini, peneliti menemui beberapa kesulitan, antara lain kurangnya pengalaman peneliti dalam membaca tulisan dokter yang ada pada lembar catatan medis, kurangnya ketrampilan peneliti dalam menafsirkan beberapa terminologi pada lembar catatan medis. Hal tersebut dapat diatasi dengan bertanya kepada perawat yang bertugas jaga di bangsal kelas III saat itu. Selain itu, peneliti juga mengalami kesulitan saat mengikuti perkembangan pasien secara langsung setiap hari di bangsal yang dilakukan dengan wawancara singkat dengan pasien/keluarga pasien. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal antara lain kondisi pasien yang masih lemah, pasien sedang tidur, keluarga pasien/pengunjung yang penuh sesak di ruangan, sehingga tidak memungkinkan dilakukannya wawancara. Kesulitan tersebut tidak sepenuhnya dapat diatasi oleh peneliti, karena adanya keterbatasan waktu saat pengambilan data (bersamaan dengan periode kuliah).

(47)
(48)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil Pasien 1. Berdasarkan kelompok umur

Umur pasien yang menerima obat gangguan sistem endokrin dan dirawat di bangsal kelas III Rumah Sakit Bethesda dikelompokkan menjadi dewasa (17- <65 tahun) dan geriatri ( 65 tahun) (DiPiro, 2005). Umur pasien tidak dikelompokkan berdasarkan presentasi klinis pasien DM, yaitu umur <30 tahun (DM tipe 1) dan umur >30 tahun (DM tipe 2). Hal tersebut dikarenakan semua pasien yang dirawat di bangsal kelas III dan menerima obat gangguan sistem endokrin merupakan pasien DM tipe 2 dan berumur >30 tahun.

Tabel V. Pengelompokan Umur Pasien

Umur Jumlah Persentase (%)

≥17 tahun- <65 tahun 19 82,6

≥65 tahun 4 17,4

Berdasarkan tabel V, yang lebih banyak menerima obat gangguan sistem endokrin adalah pasien dengan kelompok umur ≥17 tahun-<65 tahun (dewasa). Range umur pasien yang menerima obat gangguan sistem endokrin yaitu 56,6±8,5 tahun.

2. Berdasarkan jenis kelamin

Tabel VI. Pengelompokan Jenis Kelamin Pasien

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

Laki-laki 12 52,2

(49)

Pasien yang menerima obat gangguan sistem endokrin di bangsal kelas III dikelompokkan berdasarkan jenis kelaminnya, yaitu kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Pasien yang menerima obat gangguan sistem endokrin dan dirawat di bangsal kelas III lebih banyak berjenis kelamin laki-laki, walaupun jumlahnya hanya berbeda 1 pasien dengan kelompok perempuan. Penelitian ini tidak dapat dihubungkan antara jenis kelamin pasien dengan penggunaan obat gangguan sistem endokrin, sebab tidak ada perbedaan penggunaan obat gangguan sistem endokrin antara laki-laki dengan perempuan. Pengelompokan jenis kelamin ini digunakan untuk menggambarkan pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda yang menerima obat gangguan sistem endokrin periode Agustus-September 2008.

3. Berdasarkan tingkat pendidikan pasien

 

Gambar 2. Persentase Tingkat Pendidikan Pasien

Pasien yang dirawat di Bangsal Kelas III Bethesda dan yang memperoleh obat gangguan sistem endokrin dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan seperti tertera pada gambar 2. Data tingkat pendidikan yang diperoleh merupakan

Profil Tingkat Pendidikan Pasien   17%

36% 13%

17% 4%

13%

tanpa keterangan SLTA 

SD  SLTP

(50)

pendidikan akhir pasien. Berdasarkan gambar 2, sebagian besar pasien memiliki pendidikan akhir SLTA (36%), sedangkan yang paling sedikit adalah pasien dengan pendidikan akhir akademi (4%).

4. Berdasarkan pekerjaan pasien

Pada gambar 3 menggambarkan profil pekerjaan pasien yang dirawat di Rumah Sakit Bethesda dan menerima obat gangguan sistem endokrin. Berdasarkan gambar tersbut, diketahui pasien yang bekerja sebagai karyawan Rumah Sakit Bethesda 4%, buruh 9%, petani 13%, PNS 9%, pedagang 9%, karyawan swasta 39% dan 17% tanpa keterangan data pekerjaan pasien. 

Profil Pekerjaan Pasien 9% 4%

39% 9%

17% 9%

13%

Buruh Karyawan RS Bethesda

Swasta Pedagang

tanpa keterangan PNS

Petani

 

Gambar 3. Persentase Tingkat Pekerjaan Pasien 5. Berdasarkan diagnosis pasien

(51)

kelompok pasien dengan dua diagnosis sebanyak 12 pasien, kelompok pasien dengan tiga diagnosis sebanyak 5 pasien, dan kelompok pasien dengan empat diagnosis sebanyak 1 pasien.

Tabel VII. Pengelompokan Diagnosis Pasien

No. Diagnosis pasien Jumlah

pasien (n=23)

Persentase (%) Dengan satu diagnosis

1. Gangrene DM 3 13,0

2. Obstruksi Cefalgia ditandai dengan Psikosomatis

(pada pasien DM)

1 4,3

3. Fraktur cruris (D) 1/3 tengah tertutup suspect fraktur

costae 4-6 (D) (pada pasien DM)

1 4,3

Dengan dua diagnosis

4. DM, kolesistiasis 1 4,3

5. Chest pain, DM 1 4,3

6. CVA non hemoragi, DM 1 4,3

7. DM, Vulvo vaginitis 1 4,3

8. Obstruksi Contusio pulmonal kanan, DM 1 4,3

9. DM, neuropati 1 4,3

Dengan tiga diagnosis

16. DM, erythroderma, syok septic 1 4,3

17. Fraktur clavicula kiri terbuka, lesi plexux bronchitis, DM

1 4,3

18. Anemia, gangrene DM, IHD 1 4,3

19. Suspect hepatitis, melena, anemia (pada pasien DM) 1 4,3

20. DM, CRF, glaucoma 1 4,3

Dengan empat diagnosis

21. COPD, pulmonolisis, dyspnea, DM 1 4,3

 

B. Profil Terapi Pasien

(52)

pembahasan profil terapi pasien ini akan dibahas mengenai terapi yang didapatkan pasien secara umum/keseluruhan dan terapi secara khusus (obat gangguan sistem endokrin).

1. Profil terapi pasien secara umum

Terapi pasien secara umum yang akan dibahas adalah jumlah obat yang diterima oleh pasien dan jenis obat yang diterima oleh pasien (selain obat gangguan sistem endokrin) selama pasien dirawat di Bethesda. Jumlah dan jenis obat dihitung berdasarkan nama zat aktif obat. Berdasarkan tabel VIII diketahui jumlah obat yang pasien dapatkan yaitu minimal 4 macam obat dan maksimal adalah 18 macam obat. Banyaknya obat yang diterima pasien tidak menunjukkan tingkat keberhasilan suatu terapi, sebab jumlah obat yang diterima oleh pasien bergantung pada penyakit serta kondisi klinis pasien.

Tabel VIII. Profil Jumlah Obat yang Diterima oleh Pasien

Jumlah Obat yang Digunakan  Jumlah Pasien  Persentase (%) 

4  1  4,4

5  1  4,4

7  5  21,7

8  1  4,4

9  3  13,4

10  6  26,1

11  1  4,4

12  2  8,7

13  1  4,4

15  1  4,4

18  1  4,4

(53)

 

Tabel IX. Jenis Obat yang Diterima Pasien selain Obat Golongan Endokrin

Jenis Obat yang Digunakan Jumlah Pasien Persentase

allopurinol 1 4,3

alpha tocopherol 1 4,3

alprazolam 5 21,7

alprazolam 1 4,3

ambroxol 1 4,3

amikasin sulfat 1 4,3

amilodipin 1 4,3

amitriptilin 1 4,3

amlodipin 1 4,3

amoxicillin 1 4,3

asam asetilsalisilat 2 8,7

asam askorbat 1 4,3

asam folat 5 21,7

asam mefenamat 1 4,3

asam traneksamat 1 4,3

asetilsistein 1 4,3

asetosal 2 8,7

atapulgit 2 8,7

beta karoten 1 4,3

biotin 1 4,3

bromheksin-HCl 1 4,3

CaCO3 2 8,7

ceftisoksim-Na 1 4,3

ceftriaxone 4 17,4

cetirizin 2 8,7

cholecalciferol 2 8,7

cinchocaine HCl 1 4,3

ciprofloxacin 1 4,3

citicoline 1 4,3

(54)

Lanjutan tabel IX 

Jenis Obat yang Digunakan Jumlah Pasien Persentase

cocarboksilase tetrahidrat 1 4,3

dekspantenol 1 4,3

dekstrosa 1 4,3

dexametason 1 4,3

diazepam 1 4,3

difenhidramin 1 4,3

ekstrak grapeseed 1 4,3

erythropoietin 1 4,3

Fe-fumarat 1 4,3

fenitoin-Na 1 4,3

flunarizine 1 4,3

fluocortolone caproate 1 4,3

fluocortolone pivalate 1 4,3

fluoksetin HCl 2 8,7

flutikason propionat 1 4,3

furosemid 2 8,7

imidapril-HCl 1 4,3

sucralfate 1 4,3

ipratropium bromida 1 4,3

irbesartan 1 4,3

isosorbid dinitrat 4 17,4

itrakonazol 1 4,3

ketoprofen 3 13,0

ketorolak 6 26,1

klindamisin 3 13,0

kloramfenikol 1 4,3

kompleks sukrosa Fe(OH)3 1 4,3

leucosselect phytosome 1 4,3

levofloksasin 3 13,0

likopen 2 8,7

lisinopril 1 4,3

loperamida-Hcl 1 4,3

mekobalamin 2 8,7

(55)

Lanjutan tabel IX

Jenis Obat yang Digunakan Jumlah Pasien Persentase

metoklopramid 7 30,4

metronidazol 4 17,4

nadroparin-Ca 1 4,3

NaOH 1 4,3

parasetamol 8 34,8

pentoksifilin 1 4,3

piridoksin 1 4,3

sefazolin-Na 3 13,0

sefiksim 2 8,7

selenium 1 4,3

sianokobalamin 1 4,3

silostazol 4 17,4

simvastatin 1 4,3

soya lecithin 1 4,3

spironolakton 1 4,3

sulbenicillin disodium 1 4,3

(56)

Berdasarkan tabel IX diketahui jenis obat (selain obat gangguan sistem endokrin) yang diterima oleh pasien. Jenis obat yang paling banyak diterima oleh pasien adalah parasetamol yaitu sebesar 34,8%.

2. Profil terapi pasien secara khusus a. Berdasarkan golongan dan jenis obat

Obat gangguan sistem endokrin yang diterima oleh pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta dikelompokkan berdasarkan golongan obat, jenis obat, jumlah serta persentasenya. Golongan obat gangguan sistem endokrin yang diterima pasien terdiri dari 4 golongan, yaitu golongan sulfonilurea, biguanide, inhibitor α -glucosidase, dan insulin. Golongan obat yang paling banyak digunakan oleh pasien adalah sulfonilurea, sedangkan jenis obat yang banyak digunakan adalah Insulin.

Tabel X. Golongan dan Jenis Obat Gangguan Sistem Endokrin yang Digunakan Pasien

No. Golongan Obat Jenis Obat Jumlah

(n=44) Persentase(%)

1. Sulfonilurea glibenklamid 5 11,4

glimepirid 9 20,4

glikazid 2 4,5

glikuidon 1 2,3

2. Biguanide metformin 8 18,2

3 Inhibitor α-glucosidase acarbose 4 9,1

4 insulin Human insulin 14 31,8

Insulin glargin 1 2,3

(57)

obat tersebut yang paling banyak digunakan oleh pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda adalah human insulin, dengan persentase 31,8%.

2) Biguanide. Biguanide merupakan obat antidiabetes yang memiliki mekanisme aksi menurunkan produksi glukosa hepatik, menurunkan absorpsi glukosa di usus halus, dan memperbaiki sensitivitas insulin (meningkatkan uptake dan utilization glukosa periferal). Jenis obat yang digunakan pada golongan ini adalah metformin, dengan persentase 18,2% dari total obat gangguan sistem endokrin yang diterima pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

3) Inhibitor α-glucosidase. Jenis obat pada golongan ini yang digunakan oleh pasien adalah acarbose. Penggunaan obat ini sebesar 9,1% dari total obat gangguan sistem endokrin yang diterima pasien.

4) Insulin. Insulin yang digunakan oleh pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta terdiri atas insulin glargin (Lantus) dan human insulin (Mixtard, Actrapid, dan Insulatard). Penggunaan insulin ini sebesar 34,1 % dari total obat gangguan sistem endokrin yang diterima pasien.

b. Berdasarkan jumlah dan macam/jenis antidiabetik yang diberikan

Pasien yang menerima obat gangguan sistem endokrin dikelompokkan menjadi 4, yaitu pasien yang menerima 1 jenis obat antidiabetik; pasien yang menerima 2 jenis obat antidiabetik; pasien yang menerima 3 jenis obat antidiabetik; dan pasien yang menerima 4 jenis obat antidiabetik.

(58)

berikutnya berdasarkan besarnya persentase yaitu: kelompok pasien yang menerima 2 jenis obat (39%), kelompok pasien yang menerima 3 jenis obat (17%), dan terakhir kelompok pasien yang menerima 4 jenis obat (4%).

Tabel XI. Pengelompokan Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode

Agustus-September 2008 Berdasarkan Jenis Obat

Persentase Pasien yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin berdasarkan Jenis

Obat

Gambar 4. Persentase Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode

Agustus-September 2008 berdasarkan Jenis Obat

Jenis Obat yang Diterima Jumlah pasien Persentase (%) 1 jenis obat

glibenklamid, insulin glimepirid, insulin glikazid, insulin glikuidon, acarbose

insulin, glimepirid, metformin insulin, glibenklamid, metformin acarbose, metformin, glikazid metformin, acarbose, glimepirid

1 4,4 1 4,4 1 4,4 1 4,4 4 jenis obat

(59)

c. Berdasarkan rute pemberian obat

Rute pemberian obat gangguan sistem endokrin dibagi menjadi dua yaitu rute parenteral dan non parenteral. Rute non parenteral lebih banyak digunakan, yaitu sebanyak 65,9% sedangkan penggunaan rute parenteral sebesar 34,1%. Persentase rute pemberian ini merupakan perbandingan (dalam persen) masing-masing jumlah rute pemberian dengan total obat gangguan sistem endokrin yang digunakan.

Gambar 5. Persentase Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin Periode

Agustus-September 2008 Berdasarkan Rute Pemberian Obat

Tabel XII. Pengelompokan Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin

Periode Agustus-September 2008 Berdasarkan Rute Pemberian Obat Rute Pemberian Jumlah Penggunaan

(44)

Persentase (%) Parenteral

insulin 15 34,1

Non parenteral

glimepirid 9 20,4

glibenklamid 5 11,4

(60)

d. Berdasarkan aturan pakai

Pengelompokan pasien berdasarkan aturan pakai obat gangguan sistem endokrin meliputi dosis obat dan frekuensi penggunaan obat tersebut. Pengelompokan ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan obat gangguan sistem endokrin oleh pasien.

Tabel XIII. Pengelompokan Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin

Periode Agustus-September 2008

Berdasarkan Jenis Obat Gangguan Sistem Endokrin Jenis Obat Dosis

(61)

C. Evaluasi ME Fase Administrasi dan DTP 1. Evaluasi ME fase administrasi

ME fase administrasi pada pembahasan ini merupakan ME fase administrasi yang ditemukan selama periode Agustus-September 2008, baik saat pengamatan pasien di bangsal ataupun saat home visit. Kejadian ME fase administrasi yang ditemukan sebanyak 14 dari 23 pasien atau sebesar 61%.

   

Gambar 6. Persentase Kejadian ME Fase Administrasi pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat

Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008

Evaluasi ME fase administrasi yang dibahas pada penelitian ini hanya ME pada penggunaan obat gangguan sistem endokrin saja. Evaluasi ME tersebut dilakukan satu per satu pada setiap pasien, kemudian ditentukan jenis ME nya. Pada penelitian ini ditemukan 4 jenis ME fase administrasi yaitu adminitration error, kontraindikasi, kegagalan mencek instruksi, dan dosis keliru.

(62)

Gambar 7. Persentase Jenis ME yang Terjadi pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat

Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008

a. ME administration error

ME administration error yang dimaksud pada pembahasan ini adalah ME yang terjadi pada saat penyerahan obat kepada pasien. Pada penelitian ini, dijumpai 2 kejadian ME adminitration error yaitu pada pasien 1 dan pasien 17.

Tabel XIV. Kelompok ME Administration Error pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat

Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008

Pasien ME yang ditemukan

1 Pada tanggal 20 September insulin dengan aturan pakai 3x1 hanya diberikan 1x sehari, padahal GDS pasien masih tinggi. Tanggal 21 September insulin tidak diberikan, padahal GDS pasien masih tetap di atas batas normal.

17 Berdasarkan sisa obat di rak, pada tanggal 23 Agustus glimepirid tidak diberikan kepada pasien.

(63)

administration error ini dapat mengakibatkan tidak tercapai atau tertundanya outcome terapi, yang pada akhirnya juga akan merugikan pasien.

Kejadian ME administration error pada pasien 17 diketahui berdasarkan data sisa obat di rak. Pada tanggal 22 Agustus 2008 (sore) sisa glimepirid di rak adalah 4 tablet, namun esok sorenya (23/8/2008) jumlah sisa glimepirid di rak tetap 4 tablet. Hal tersebut menunjukkan pada tanggal 23 Agustus2008 pasien tidak mendapat glimepirid. Hal tersebut dapat merugikan pasien sebab dapat mengakibatkan tidak tercapai atau tertundanya outcome terapi yang diharapkan.

b. ME kegagalan mencek instruksi

Kejadian ME kegagalan mencek instruksi yang terjadi pada pasien dikarenakan tenaga kesehatan (apoteker dan atau perawat) gagal mencek atau melihat ulang instruksi mengenai obat yang akan diberikan kepada pasien.

Tabel XV. Kelompok ME Kegagalan Mencek Instruksi pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat

Gangguan Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008

Pasien  ME yang ditemukan 

4  Tanggal 19 September insulin diberikan 2x sehari, namun instruksi yang  diminta insulin 3x sehari.  

8  Glimepirid digunakan 1x1/2 tablet sehari, padahal berdasarkan instruksi  yang diminta glimepirid 1x1 sehari.  

16  Glimepirid diberikan 1x1 pada tanggal 22 Agustus (berdasarkan sisa obat di  rak), padahal GDS pasien dalam batas normal dan keterangan di etiket  adalah glimepirid 1x1/2 tablet sehari.  

(64)

Pertama, insulin telah diberikan 3 kali sehari pada 19 September 2008 (siang, sore, malam), namun perawat lupa menuliskannya pada DPO. Kedua, pasien hanya mendapat injeksi insulin 2 kali sehari. Jika yang terjadi kemungkinan kedua, maka pencapaian gula darah target pada pasien dapat tertunda.

Kejadian ME pada pasien 8, diketahui dengan melihat data DPO, rekam medik (kolom instruksi dokter) pasien dan hasil wawancara pasien. Berdasarkan data tersebut, diketahui permintaan akan pemberian glimepirid adalah 1x1 tablet sehari (pada pagi hari). Namun, pada DPO dan hasil wawancara pasien diketahui glimepirid diberikan 1x1/2 tablet. Namun berdasarkan hasil laboratorium, kadar gula darah pasien normal. Hal tersebut menunjukkan bahwa ME yang terjadi tidak berdampak buruk bagi pasien.

Kejadian ME pada pasien 16 diketahui berdasarkan data sisa obat di rak. Pada tanggal 21 Agustus 2008 sisa glimepirid di rak adalah 1,5 tablet, kemudian esok hari (22/8/08) sisa glimepirid di rak 0,5 tablet, sehingga pasien mendapatkan 1 tablet glimepirid pada tanggal 22 Agustus 2008. Informasi yang tertera di etiket mengenai glimepirid adalah glimepirid 1x1/2 tablet sehari (pagi, sesaat sebelum makan). Berdasarkan data pemeriksaan laboratorium, diketahui gula darah pasien (18 dan 21 Agustus) dalam batas normal.

c. ME kontraindikasi

(65)

Tabel XVI. Kelompok ME Kontraindikasi pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem

Endokrin Periode Agustus-September 2008

Pasien ME yang ditemukan

2 Berdasarkan data hasil laboratorium diketahui nilai AST dan ALT pasien berada di atas nilai normal yang menandakan adanya gangguan hepar. Metformin kontraindikasi pada gangguan hepar. Kejadian ME pada pasien 2 diketahui berdasarkan DPO dan rekam medik pasien. Pada DPO diketahui pasien mendapat terapi metformin 1x1 tablet sehari (pagi), berdasarkan data pemeriksaan laboratorium diketahui nilai AST dan ALT pasien berada di atas batas normal. Hal tersebut menunjukkan adanya gangguan fungsi hepar pada pasien. Pada pasien dengan gangguan fungsi hepar, penggunaan metformin sebaikknya dihindari sebab berisiko berkembangnya asidosis laktat selama terapi metformin.

d. ME dosis keliru

Tabel XVII. Kelompok ME Dosis Keliru pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem

Endokrin Periode Agustus-September 2008

Pasien ME yang ditemukan

3 Frekuensi penggunaan glimepirid 2x1 tidak tepat mengingat durasi glimepirid yang panjang, yaitu 24 jam.

9 Frekuensi penggunaan glibenklamid 2x1/2 tidak tepat, mengingat durasi obat tersebut sampai 24 jam.

12 Pasien dengan gangguan hepar menerima glibenklamid tanpa pengaturan dosis. Berdasarkan drug information handbook, pasien dengan gangguan fungsi hepar perlu mendapat pengaturan dosis glibenklamid.

18 Dosis glimepirid perlu diatur, sebab pasien mengalami gangguan fungsi ginjal.

21 Frekuensi penggunaan metformin 1x1 tidak tepat. Berdasarkan drug information handbook, frekuensi penggunan metformin 2x1 sehari. 23 Frekuensi penggunaan metformin 1x1/2 tidak tepat. Berdasarkan

(66)

Kejadian ME dosis keliru yang ditemukan pada penelitian ini sebagian besar karena ketidaktepatan frekuensi penggunaan obat. Kejadian ME dosis keliru ditemukan pada 8 pasien.

Kejadian ME pada pasien 3 dan 9, diketahui berdasarkan DPO. Pasien 3 mendapatkan terapi glimepirid 2 mg 2x1 tablet sehari. Berdasarkan drug information handbook, frekuensi penggunaan glimepirid adalah 1x1 sehari sebab glimepirid memiliki durasi yang panjang, yaitu 24 jam. Pada pasien 9 mendapatkan terapi glibenklamid2x1/2 tablet sehari. Durasi glibenklamidsampai 24 jam, sehingga sebaiknya glibenklamid diberikan satu kali sehari. Pemberian glimepirid atau glibenklamid yang berlebih pada pasien dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia, meskipun secara nyata hal tersebut tidak terjadi pada pasien.

Pada pasien 21 dan 23 terjadi ketidaktepatan frekuensi pemberian metformin. Pasien mendapatkan metformin satu kali sehari, namun berdasarkan drug information handbook metformin sebaiknya diberikan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari.

(67)

2. Evaluasi DTP

Evaluasi DTP pada penelitian ini berdasarkan literatur seperti yang telah disebutkan pada definisi operasional. Kejadian DTP pada pasien sebesar 43% (10 pasien), dan tidak terjadi DTP sebesar 57% (13 pasien). Jenis DTP yang ditemukan yaitu: interaksi obat sebesar 42,8%; dosis terlalu tinggi sebesar 28,6%; dosis terlalu rendah sebesar 14,3%; dan butuh obat tambahan sebesar 14,3%.

Persentase kejadian DTP

43%

57%

terjadi DTP tidak terjadi DTP

Gambar 8. Persentase DTP pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin

Periode Agustus-September 2008

Tabel XVIII. Pengelompokan Kejadian DTP pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menerima Obat Gangguan

Sistem Endokrin Periode Agustus-September 2008

Jenis DTP Jumlah DTP yang Terjadi Persentase (%)

Interaksi obat 6 42,8

Dosis terlalu tinggi 4 28,6

Dosis terlalu rendah 2 14,3

(68)

a. DTP interaksi obat

Tabel XIX. Kejadian DTP Interaksi Obat pada Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda yang Menerima Obat Gangguan Sistem Endokrin

Periode Agustus-September 2008

Pasien Keterangan Interaksi

Penilaian Rekomendasi

8 ketorolak, glimepirid

Ketorolak memiliki interaksi dengan glimepirid dengan severity level:4 atau moderate (MIMS Indonesia), yang dapat meningkatkan efek glimepirid sehingga dapat terjadi risiko hipoglikemia

Penggunaan glimepirid dengan ketorolak perlu dilakukan dengan berhati-hati atau waspada terhadap terjadinya hipoglikemia akibat interaksi obat. Walaupun dalam kenyataannya hal tersebut (hipoglikemia) tidak terjadi pada pasien. 9 acarbose,

glibenklamid

Acarbose memiliki interaksi dengan glibenklamid dengan

severity level:4 atau moderate (MIMS Indonesia), yang dapat meningkatkan efek glibenklamid sehingga dapat terjadi risiko hipoglikemia

Tidak menggunakan kombinasi kedua antidiabetik tersebut, dan menggantinya dengan antidiabetik lain.

11 acarbose, glikazid Acarbose memiliki interaksi dengan glikazid dengan severity level:4 atau moderate4. Acarbose akan meningkatkan efek glikazid, sehingga dapat terjadi hipoglikemia

Mengganti acarbose atau

glikazid dengan antidiabetik lain.

19 metamizole-Na, glibenklamid

Glibenklamid memiliki interaksi dengan metamizole-Na dengan severity level:4 atau moderate.

metamizole-Na dapat meningkatkan efek glibenklamid,

sehingga dapat terjadi hipoglikemia. Namun, dokumentasi mengenai interaksi

ini masih terbatas.

Lanjutkan terapi glibenklamid, namun jika

pasien masih menggunakan

metamizole-Na maka penggunaan glibenklamid sebaiknya dihindari. Acarbose atau insulin dapat menjadi pilihan terapi, karena tidak memiliki interaksi dengan dan metamizole-Na. asam mefenamat,

glibenklamid

Glibenklamid memiliki interaksi dengan asam mefenamat dengan

severity level:4 atau moderate. Asam mefenamat dapat meningkatkan efek glibenklamid, sehingga dapat terjadi hipoglikemia. Namun, dokumentasi mengenai interaksi

ini masih terbatas.

Lanjutkan terapi glibenklamid, namun jika

Gambar

Tabel XVI Kelompok ME Kontraindikasi pada Pasien di Bangsal Kelas III RS
Tabel XXIII Kejadian DTP Butuh Obat Tambahan pada Pasien di Bangsal Kelas
Gambar 1 Sistem Endokrin ............................................................................
Tabel I. Bentuk-bentuk Medication error (Dwiprahasto dan Kristin, 2008)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi adanya drug therapy problems penggunaan antibiotik pada pasien kanker serviks yang menjalani kemoterapi di RS