• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 1.1 Statistik Wisatawan Nusantara4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gambar 1.1 Statistik Wisatawan Nusantara4"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1. Latar Belakang

Visit Indonesia Years yang merupakan salah satu kebijakan pariwisata di Indonesia dikatakan telah berhasil menambah jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Namun yang menjadi perhatian ialah apakah kontribusi pemuda telah dimaksimalkan. Hal ini mengingat data yang menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun angka pertumbuhan devisa dari sektor pariwisata terus meningkat dan pada tahun 2012 tercatat sebesar 8,55 milyar dolar1. Selain devisa, sektor pariwisata juga menyumbang sebesar 6,87% terhadap ketersediaan lapangan tenaga kerja di Indonesia2. Dengan begitu, pariwisata menjadi potensi devisa yang harus selalu

dikembangkan setiap tahun.

Terdapat data yang menarik dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Lakip) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bahwa penerimaan dari pengeluaran wisatawan nusantara atau wisatawan lokal yang mengunjungi daerah-daerah di Indonesia sebesar Rp 158 Triliun3. Angka ini merupakan angka fantasis apalagi didukung dengan jumlah pendapatan perkapita penduduk Indonesia yang selalu meningkat

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011, jumlah wisatawan nusantara atau wisatawan domestik yang melakukan perjalanan sebesar 236.752 dan jumlah tersebut selalu meningkat dari tahun 2007. Begitu juga dengan pengeluaran yang dikeluarkan kurang lebih Rp 662.000,- setiap perjalanan.

Gambar 1.1 Statistik Wisatawan Nusantara4

1 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2011. Maret 2012

2 Ibid 3 Ibid 4http://www.budpar.go.id/budpar/asp/detil.asp?c=110&id=1312 Bagaimana Peran Pemuda ?

(2)

Bertambahnya jumlah wisatawan nusantara dan meningkatnya jumlah devisa Negara tidak merupakan suatu jaminan telah suksesnya pengembangan pariwisata di Indonesia karena akan membutuhkan regenerasi. Hal ini bedasarkan fakta bahwa jumlah pemuda lebih besar dibandingkan dengan populasi usia tua dan anak. Perbandingan ini diistilahkan sebagai ‘dependency ratio.’ Persentase usia produktif (15-64 tahun) adalah 60% dari total populasi Indonesia di tahun 2010.

Lebih jauh lagi, regenerasi ini akan membutuhkan peran pemuda sebagai pelaku wisata dan pengelola wisata. Pemuda sebagai pelaku wisata berarti pemuda yang berwisata di berbagai daerah di Indonesia. Dalam hal ini, terkait kontribusi pemuda untuk lebih memilih berwisata dalam negeri atau di luar negeri. Sementara itu, pemuda sebagai pengelola wisata ialah pemuda yang menjalankan usaha wisata dan bersifat berkesinambungan sehingga dapat dikatakan tourism entrepreneur. 2. Perumusan Masalah

Adapun perumusan masalah dalam penelitian dan kajian ini adalah : 1. Bagaimana pola motivasi berwisata bagi pemuda ?

2. Bagaimana karakteristik jasa wisata yang dikelola pemuda ? 3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian dan kajian ini adalah :

1. Bagaimana pola motivasi berwisata bagi pemuda ?

2. Bagaimana karakteristik jasa wisata yang dikelola pemuda ? 4. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual yang digunakan untuk menjelaskan kontribusi pemuda dalam pengembangan pariwisata nasional antara lain pariwisata & motivasi berwisata, karakteristik berwisata, pemuda & pelaku wisata, dan pemuda &penyedia jasa wisata.

(3)

4.1 Pariwisata & Motivasi Berwisata Bagi Anak Muda

Menurut UU nomor 10 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 3 tentang Kepariwisataan, pariwisata ialah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. Sementara itu, industri

pariwisata menurut UU nomor 10 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 9 adalah

kumpulan usaha pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan

wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata5.

Menurut UU nomor 10 Tahun 2009 Pasal 5, Kepariwisataan

diselenggarakan dengan prinsip6:

a) Menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai

pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa, hubungan antara manusia dan sesama manusia, dan hubungan antara manusia dan lingkungan;

b) Menjunjung tinggi hak asasi manusia, keragaman budaya, dan

kearifan lokal;

c) Memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat, keadilan,

kesetaraan, dan proporsionalitas;

d) Memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup;

e) Memberdayakan masyarakat setempat;

f) Menjamin keterpaduan antar sektor, antar daerah, antara

pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan sistemik dalam kerangka otonomi daerah, serta keterpaduan antar pemangku kepentingan;

g) Mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan

internasional dalam bidang pariwisata; dan

h) Memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5

www.budpar.go.id/.../4636_1364-UUTentangKepariwisataannet1.pdf - 6 Ibid

(4)

Sementara itu, motivasi wisatawan termasuk di dalamnya ialah motivasi pemuda untuk berwisata akan terkait 4 aspek7 :

a. Pshysical or physiological motivation b. Cultural motivation

c. Social motivation

d. Fantasy motivation (ego-enhacement)

RW Mc Intosh mengungkapkan bahwa motivasi untuk berwisata termasuk juga motivasi berwisata untuk anak muda adalah sebagai berikut8:

a) Pleasure (bersenang-senang)

b) Relaxation, rest and recreation (beristirahat untuk menghilangkan stress) c) Health (kesehatan), yaitu berkunjung ke tempat-tempat yang dapat membantu

menjaga kesehatan

d) Participation in sports (olah raga yang bersifat rekreasi)

e) Curiosity and culture (rasa ingin tahu dan motivasi yang berkaitan dengan kebudayaan)

f) Spiritual and religious (alasan yang bersifat spiritual dan keagamaan); g) Status and prestige (menunjukkan status sosial dan gengsi)

h) Professional or business 4.2 Pemuda & Pelaku Wisata

Karakteristik berwisata dari masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Secara harfiah dapat dibagi menjadi faktor penarik dan faktor pendorong perjalanan wisata seperti yang terdapat pada tabel 4.1 di bawah ini.

Tabel 4.1 Faktor Penarik & Pendorong Perjalanan Bewisata9

Faktor Penarik Faktor Pendorong

1. Location climate 2. National promotion 1. Escape 2. Relaxation 7 Lihat Cohen (1979)

8Bhatia, A.K. 2002. Tourism Development: Principles and Practices. New Delhi:

Sterling Publishers Private Limited: 49-52.

(5)

3. Retail advertising 4. Wholesale marketing 5. Special events 6. Incetive schemes 7. Visiting friends 8. Visiting realitves 9. Tourist attraction 10.Culture

11.Natural man-made environment

3. Play

4. Strengthening family bonds 5. Prestige 6. Social interaction 7. Romance 8. Educational oppurtunity 9. Self-fulfilment 10.Whis-fulfilment

Faktor penarik dan faktor pendorong ini yang mempengaruhi kecenderungan pemuda di Indonesia untuk berwisata. Dalam hal ini, nilai-nilai lokal dan nasionalisme akan memiliki peran dalam keputusan pemuda untuk berwisata sehingga terdapat pertimbangan untuk berwisata di dalam negeri atau luar negeri.

Gambar 4.1 Pilihan Pemuda Untuk Berwisata

Mengingat pariwisata menyumbang devisa yang besar bagi negara maka menjadi krusial untuk memetakan fakta bahwa pemuda di Indonesia dengan nasionalisme’nya cenderung berwisata di dalam negeri atau di luar negeri karena terpengaruh oleh globalisasi. Hal ini dikarenakan dua-duanya dijalankan oleh pemuda di Indonesia

4.3 Pemuda & Penyedia Jasa Wisata

Pengolalaan jasa wisata dapat dikatakan sebagai industri wisata. Pengertian industri pariwisata lainnya ialah suatu organisasi baik pemerintah maupun swasta terkait dalam pengembangan produk dan pemasangan produk suatu layanan yang memenuhi kebutuhan orang yang sedang berpergian, dan kepariwisataan

Pemuda Nasionalisme Globalisasi Wisata Dalam Negeri Wisata Luar Negeri

(6)

sebagai sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan

pariwisata10.

Industri pariwisata termasuk industri pariwisata yang dikelola pemuda dapat mengurangi tingkat kemiskinan karena karakteristiknya yang khas sebagai berikut11:

a) Konsumennya datang ke tempat tujuan sehingga membuka peluang bagi penduduk lokal untuk memasarkan berbagai komoditi dan pelayanan

b) Membuka peluang bagi upaya untuk mendiversifikasikan ekonomi lokal yang dapat menyentuh kawasan-kawasan marginal

c) Membuka peluang bagi usaha-usaha ekonomi padat karya yang berskala kecil dan menengah yang terjangkau oleh kaum miskin

d) Tidak hanya tergantung pada modal, akan tetapi juga tergantung pada modal budaya (cultural capital) dan modal alam (natural capital) yang seringkali merupakan asset yang dimiliki oleh kaum miskin

Pemuda dalam menjalankan kontribusinya sebagai penyedia jasa wisata akan berperan sebagai tourism entrepreneur. Tourism entrepreneur dapat mendayagunakan investasi sosial dimana difokuskan pada upaya penjaminan agar tiap-tiap individu punya kemampuan dan kualitas yang diperlukan untuk bekerja, bertahan hidup, dan menjalankan fungsinya sebagai warga negara atau singkatnya dapat berfungsi secara sosial ekonomi. Oleh karena itu, tourism entrepreneur yang dijalankan oleh pemuda dapat dikatakan sebagai agent of change dan berbeda dengan entrepreneur biasa.

Modal Sosial

=

=

Gambar 4.2 Tourism entrepreneur Berperan Sebagai Agent of Change

10

http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=0&submit.y=0&qual=high&fname=/jiunkpe/s1 /mpar/2008/jiunkpe-ns-s1-2008-35403033-9443-majapahit-chapter2.pdf

11Basuki, “Sosialisasi dan Gerakan Sadar Wisata”, yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan

Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, di Solok, 12 Oktober 2011.

Pemuda Agent of

Change

Pertumbuhan dan

(7)

Dari gambar 4.2 maka dapat dilihat bahwa terdapat perbandingan yang jelas antara tourism entrepreneur dengan entrepreneur, dimana entrepreneur biasa sebagai aktor pembangunan ekonomi atau intelektual ekonomi tidak akan bisa melakukan upaya pertumbuhan dan pemerataan secara bersamaan. Berbeda dengan tourism entrepreneur yang mendayagunakan investasi sosial ekonomi dengan melibatkan modal sosial dan bukan investasi ekonomi biasa.

Kegiatan bisnis yang dilakukan tourism entrepreneur terkait upaya pertumbuhan, sementara itu melibatkan modal sosial yang terdapat di suatu masyarakat atau komunitas ialah bentuk lain dari pemerataan itu sendiri. Trust dan norm dalam modal sosial akan mempercepat upaya pemerataan dibandingkan trust dan norm dalam bisnis seperti yang dilakukan entrepreneur.

5. Meteodologi 5.1 Pendekatan

Penelitian ini berjenis penelitian eksploratorif, yaitu penelitian untuk medapatkan gambaran awal tentang motivasi pemuda sebagai pelaku wisata dan karakteristik usaha wisata yang penyedia jasa wisata-nya pemuda. Penelitian ini didesain sebagai penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran motivasi berwisata serta karakteristik usaha yang dijalankan dan dimiliki pemuda.

Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Metode Kuatitatif untuk mengukur motivasi berwisata dan Metode Kualitatif untuk mengkaji karakteristik usaha wisata. Walaupun menggunakan Metode Kuantitatif, penelitian ini tidak berusaha untuk mengidentifikasi keterkaitan antar variable yang diteliti. Kedalaman dan kelengkapan hasil penelitian menjadi tujuan utama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian.

5.2 Metode Pengumpulan Data (Lokasi, Populasi & Sampel)

Penelitian ini akan berusaha menjelaskan mengenaik motivasi berwisata pemuda dan karakteristik usaha wisata dimana pemuda sebagai penyedia layanan wisata nasional. Agar didapat memenuhi kriteria pertanyaan tersebut, ditetapkan tempat wisata di empat kota agar dapat mewakili karakteristik wilayah Indonesia antara lain, tempat wisata di Provisnsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai wakil wilayah Indonesia bagian barat, tempat wisata di Provinsi Bali sebagai wakil wilayah

(8)

Indonesia bagian tengah, Provinsi Sulawesi Utara sebagai wakil wilayah Indonesia bagian timur, dan Provinsi DKI Jakarta sebagai ibukota negara.

Populasi adalah seluruh objek penelitian yang sesuai dengan criteria yang telah ditetapkan dalam penelitian (Polit & Hungler, 1999). Populasi untuk pertanyaan motivasi pemuda sebagai pelaku wisata merupakan infinite population, sehingga sulit untuk menerapkan metode penarikan sampel dimana setiap anggota populasi mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi sampel (probability sampling). Metode penarikan sampel yang akan diterapkan adalah penarikan acak dengan kuota tertentu (quota sampling). Berikut kuota yang akan diambil pada tiap-tiap tempat seperti yang terdapat pada tabel 5.1

Tabel 5.1 Sampling Area Provinsi (Tempat Wisata) Jumlah Sampel

DI Yogyakarta 250

Bali 250

Sulawesi Utara 250

DKI Jakarta 250

Sedangkan untuk pertanyaan karakteristik usaha wisata dimana pemuda sebagai penyedia layanan wisata, akan dipilih pemuda yang memiliki usaha layanan wisata di masing-masing provinsi. Penerapan probability sampling juga terkendala dengan karakteristik sampel dimana usaha layanan wisata yang menjadi populasi penelitian adalah pemuda. Oleh karena itu ditetapkan untuk menarik sampel secara acak sebanyak tiga usaha layanan wisata pada masing-masing wilayah. Untuk kedalaman kajian akan ditelusuri juga perbedaan-perbedaan usaha tersebut berdasarkan kriteria lama usaha berdiri, omset yang didapat per tahun, jumlah konsumen yang dilayani dan lainnya.

5.2.1 Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data merupakan penjamin validitas dan reabilitas dalam menilai hasil penelitian (Burn & Grove, 2001). Untuk itu, penelitian ini akan menggunakan beberapa alat untuk mengumpulkan data lapangan, antara lain:

1. Kuesioner: untuk mendapatkan data motivasi berwisata pemuda

2. Panduan wawancara: sebagai panduan wawancara untuk pemilik tempat usaha 3. Form observasi: untuk menggambarkan proses usaha wisata yang dilakukan

(9)

Ketiga alat ini akan dikembangkan sesuai dengan hasil supervise selanjutnya

5.2.2 Prosedur Pengambilan Data

Pengambilan data akan dilakukan pada beberapa provinsi yang telah disebutkan sebelumnya, melalui beberapa prosedur, antara lain:

1. Peneliti mengunjungi tempat wisata pada provinsi yang dimaksud

2. Peneliti memilih responden yang sesuai dengan karakteristik subjek penelitian 3. Peneliti menjelaskan maksud pengambilan data

4. Peneliti meminta responden mengisi kuesioner yang dimaksud, apabila ada yang tidak jelas dapat langsung ditanyakan pada peneliti

5. Setelah kuesioner telah terisi, langsung dikumpulkan oleh peneliti

Sedangkan untuk usaha layanan wisata, prosedur yang dilakukan, antara lain: 1. Peneliti menelusuri usaha wisata yang dimiliki oleh pemuda

2. Peneliti meminta izin wawancara dan observasi

3. Setelah mendapatkan izin, wawancara dan observasi dapat dilakukan.

Target group dari kajian dan penelitian ialah empat area yang berbasis pada dinamika pemuda dalam berwisata baik itu sebagai pelaku maupun pengelola. Motif, kecenderungan dan pola berwisata pemuda akan dapat dipetakan sehingga terlihat apakah kecenderungan nasionalisme atau globalisasi dalam berwisata. Begitu juga, dengan pengelolaan usaha pariwisata yang dijalankan oleh pemuda serta berbagai tantangannya akan juga dapat dilihat gambarannya. Masing-masing dari target group ini dioperasionalisasikan sejalan dengan sistem dan dinamika mahasiswa di Makasar seperti yang terdapat dalam gambar 5.1.

Dinas Pariwisata Dinas Pemuda & Olahraga

Pemuda èTourism Entrepreneur Pemuda Pelaku Wisata Pengelola Tempat Wisata

Pemerintah

Tempat Wisata Usaha Jasa Wisata

(10)

Gambar 5.1 Sistem dari Target Group

6. Rencana Kerja, Timeline & Budget 6.1 Rencana Kegiatan

Impelementasi dari rencana kerja ini difokuskan untuk melihat kontribusi pemuda bagi pengembangan pariwisata nasional dilihat dari dua sisi yaitu pemuda sebagai pelaku wisata dan pemuda sebagai pengelola jasa wisata.

6.1.1 Rencana Kajian & Penelitian

• Persiapan Instrument dan Studi Literatur. Langkah awal ini dibutuhkan untuk

menemukan data awal dan konsep yang digunakan dalam penelitian dan kajian.

• Observasi. Observasi ini dilaksanakan dalam situasi formal dan informal. • In Depth Interview, Survei, dan Informal Talks. Koleksi data dengan banyak

teknik untuk menjaga validitas dan reabilitas.

• Mengkoleksi data dan informasi relevan serta melaksanakan triangulasi. • Menganalisis data. Setelah data dikumpulkan maka dipersiapkan untuk

rencana aksi dalam bentuk pengembangan kapasitas mahasiswa untuk menjadi agen anti kekerasan.

• Finalisasi laporan

6.2 Timeline

Waktu kerja dari kajian dan penelitian ini membutuhkan waktu kurang lebih 10 bulan yang meliputi dua lingkup utama yaitu kajian & penelitian, dan sosialisasi.

Tabel 6.1 Timeline Kerja

No Kegiatan Bulan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 Studi Literatur 2 Pengumpulan Data Sekunder 3 Pembuatan Kuesioner 4 Uji Validitas & reliabilitas 5 Pembuatan Laporan Pendahuluan

(11)

6 Pengumpulan Data primer (Survei) 7 Focus Group Discussion

8 Entry dan Pengolahan Data

9 Analisis Data

10

Penyelesaian Draft Laporan

Akhir

11 Seminar Hasil Penelitian 12 Laporan Akhir 6.3 Budget

Total budget untuk penelitian yang akan dilaksanakan di Jakarta, Yogyakarta, Manado dan Bali sebesar Rp 250.000.000,00.

Tabel 6.2 Total Budget

No Pelaksanaan Total Biaya

1 Gaji/Upah Rp 75,888,000

2 Belanja Habis Bahan Pakai Rp 98,432,000

3 Belanja Perjalanan Rp 68,000,000

4 Belanja Lain-lain Rp 7,680,000

Total Rp 250,000,000

a) Gaji/Upah

No. Pelaksana Kegiatan Jumlah Personil Upah (Rp)/jam Jumlah Jam/pekan Jumlah Pekan (dalam 10 bulan) Total Biaya (Rp) 1 Pengarah 2 28000 8 20 8,960,000 2. Periset Utama 1 27.000 10 32 8,640,000 3. Periset Anggota 4 25000 17 32 54,400,000 4. Pembantu Periset/ tenaga pendukung 1 18000 9 24 3,888,000 Jumlah 75,888,000

b) Belanja Bahan Habis Pakai

No. Uraian Volume Biaya

(12)

1. Komunikasi 6 10 bln 100,000 6,000,000 2. Pengadaan literature 1 1,300,000 1,300,000

3. Flashdisk 1 400,000 400,000

4. Souvenir partisipan 40 4 Wilayah 50,000 8,000,000 5 Insentif partisipan 40 4 Wilayah 50,000 8,000,000 6 Jasa Surveyor 200 4 Wilayah 40,000 32,000,000

7 Kertas A4 4 50,000 200,000 8 Toner Printer 2 450,000 900,000 9 Alat Tulis 1 500,000 500,000 10 Fotokopi 1 200,000 200,000 11 Penggandaan laporan 20 15,000 300,000 12 Compac Disk 10 10,000 100,000 13 Materi disseminasi &publikasi 1 2,500,000 2,500,000

14 Auditor Jurnal Internasional 1 1,000,000 1,000,000 15 Peralatan Workshop 2 4 wilayah 1,000,000 8,000,000 16 Sewa projector 2 10 hari 250,000 5,000,000

17 Spanduk 2 4 wilayah 300,000 2,400,000 18 Baterai kamera 10 15,000 150,000 19 Kaset kamera 15 20,000 300,000 20 Jasa Transkrip 1 500,000 500,000 21 Cetak foto 100 5,000 500,000 22 Kuisoner 200 4 wilayah 10,000 8,000,000 23 Materi workshop 100 4 wilayah 15,000 6,000,000 24 Jasa tabulasi data 1 4 wilayah 1,500,000 6,000,000 25 Jasa distribusi 1 4 wilayah 45,500 182,000

Jumlah 98,432,000 c) Belanja Perjalanan No . Uraian Volume Biaya Satuan (Rp) Biaya (Rp) 1. Transportasi Peneliti utama 1 3 wilayah 3000,000 9,000,000 2. Transportasi anggota peneliti 2 3 wilayah

3000,000 18,000,000 3. Transportasi tenaga pendukung 1 3 wilayah 3000,000 9,000,000

(13)

4 5 Akomodasi 6 4 wilayah 1,000,000 24,000,000

Jumlah 68,000,000

d) Belanja Lain-lain No

. Uraian Volume Biaya Satuan (Rp) Biaya (Rp) 1. Consultaty Meeting 8 3 x 8 Bulan 41,000 7,680,000

Jumlah 7,680,000

7. Kesimpulan

Kajian dan penelitian ini berlandaskan pada konsep perpaduan antara pengembangan pariwisata dan kontribusi pemuda. Kontribusi pemuda ialah sebagai pelaku wisata dan pengelola jasa wisata. Program ini kurang lebih membutuhkan waktu 10 bulan untuk melaksanakan kajian, penelitian dan sosialisasi. Hasil dari kajian dan penelitian ini sebagai pemetaan dan solusi kebijakan dalam upaya mengembangkan kontribusi pemuda baik itu sebagai pelaku wisata maupun pengelola wisata.

Gambar

Gambar 1.1 Statistik Wisatawan Nusantara 4
Gambar 4.1 Pilihan Pemuda Untuk Berwisata
Tabel 5.1 Sampling Area  Provinsi (Tempat Wisata)  Jumlah Sampel
Gambar 5.1 Sistem dari Target Group
+2

Referensi

Dokumen terkait

Bahan recycle juga diperoleh dari jerry can yang cacat kemudian didaur ulang, Proses pendaurulangan jerry can tersebut menggunakan mesin crusher yang berfungsi untuk

Perbincangan meliputi beberapa perkara utama, iaitu: konsep dan falsafah pendidikan Islam, falsafah pendidikan Islam negara Malaysia, dan perbincangan khusus

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sampai saat penelitian ini dilakukan belum ada penelitian yang secara khusus memuat atau menelaah bahasa Klamu baik secara

Parfet (2001) mengklasifikasikan manipulasi keputusan operasi sebagai praktik yang wajar karena dilakukan untuk menstabilkan atau memperoleh hasil yang positif

Untuk mengetahui adakah pengaruh dari partisipasi anggota, lingkungan usaha, kualitas pelayanan, dan kinerja karyawan terhadap keberhasilan usaha Koperasi Kelompok Tani

Dokumen Eksternal : Pedoman pengelolaan keuangan program dari Dinkes Kab/Kota 2.3.16.5 Dokumen bukti pelaksanaan dan tindak lanjut dari audit pengelolaan keuangan 2.3.17.1

(n) Uang Pengakhiran adalah uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak, yang diterima oleh pekerja atau ahli warisnya pada saat terjadi

[r]