BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia, sebab

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

.1. Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting bagi manusia, sebab bahasa adalah simbol yang mencerminkan jiwa dan keberadaan jiwa dan manusia dalam masyarakat.

Menurut Poerwadarminta (1983:5), bahasa adalah alat yang digunakan seseorang untuk melahirkan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan dalam perasaan. Ia berfungsi sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat sebagai pemakai bahasa, sehingga saling menginformasikan gagasan dan perasaannya dari informasi tersebut.

Gorys Keraf (1980:16) mengatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa lambang bunyi, suara yang dihasilkan oleh alat ucap Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan seseorang atau lebih berupa lambang bunyi, suara untuk menyampaikan informasi sehingga menginformasikan gagasan dan perasaannya.

(2)

penyebarannya juga dilakukan secara lisan oleh masyarakat jaman dahulu untuk menyampaikan suatu pesan.

Harimurti Kridalaksana (1993:169) mengatakan bahwa pribahasa adalah “Kalimat atau penggalan kalimat yang bersifat turun menurun, digunakan untuk menguatkan maksud karangan, pemberi nasehat, pengajaran atau pedoman hidup”.

Peribahasa-peribahasa di setiap negara sangat banyak, baik itu dari Indonesia maupun dari Jepang dan peribahasa diciptakan dari banyak unsur, baik itu dari manusia, hewan / binatang, benda-benda, tumbuhan, dan lain-lain. Dari sekian banyak unsur-unsur tersebut, penulis mencoba mengambil unsur tumbuhan. Dan dari sekian banyak tumbuhan yang dapat dijadikan peribahasa,penulis akan mengambil bunga ( hana ) untuk dijadikan bahan skripsi. Penulis merasa tertarik untuk meneliti peribahasa Jepang yang terbentuk dari kata hana terutama dalam hal persamaan makna dengan peribahasa Indonesia.

Memahami suatu peribahasa ( kotowaza ) tidaklah mudah, selain banyak makna kiasan, perbedaan budaya juga merupakan faktor yang membuat adanya perbedaan unsur peribahasa tersebut, meskipun maksud atau makna dari

(3)

peribahasa tersebut sama. Misalnya dalam buku Daisoo Poketto Jiten Series 5 : - きれい花には棘がある。

Kirei hana ni wa toge ga aru. Peribahasa ini mempunyai makna :

“Sesuatu yang sangat baguspun memiliki kekurangan” Makna peribahasa di atas sama seperti peribahasa Indonesia berikut:

- Mawar yang cantikpun ada durinya

Pada contoh peribahasa di atas, baik dari peribahasa Indonesia maupun Jepang, keduanya memakai unsur yang sama yaitu tumbuhan ( bunga ) sebagai unsur utamanya. Bunga umumnya dilambangkan sebagai sesuatu yang indah dan cantik.

Melihat hal ini, penulis merasa tertarik mempelajari peribahasa yang terdapat unsur bunga dan menyamakannya dengan peribahasa Indonesia. Apakah semua peribahasa yang menggunakan kata hana (bunga) di Jepang juga sama halnya dengan peribahasa di Indonesia. Sehingga penulis terdorong untuk membuat skripsi yang berjudul : “ Interpretasi Makna Peribahasa Bahasa Jepang yang Terbentuk dari Kata Hana ”

(4)

.2. Perumusan Masalah

Peribahasa merupakan salah satu aspek budaya Jepang. Karena jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari, maka peribahasa Jepang sulit dipahami oleh orang asing. Selain itu juga, terdapat banyak peribahasa yang menggunakan kata hana dan memiliki makna yang berbeda-beda dan apakah jika diinterpretasikan ke dalam peribahasa Indonesia maka tetap memakai kata bunga atau yang lain.

Melihat latar belakang dan penjelasan diatas, maka penulis mencoba merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana makna yang dimiliki oleh peribahasa Jepang yang terbentuk dari kata Hana ?

2. Sejauh mana pemakaian kata Hana dalam peribahasa Jepang?

3. Seperti apa pemakaian peribahasa bahasa Jepang yang memakai kata Hana dalam peribahasa Indonesia?

.3. Ruang Lingkup Pembahasan

Mengingat peribahasa Jepang yang menggunakan kata Hana ada sekitar 35 peribahasa, maka penulis akan membatasinya menjadi 14 peribahasa Jepang

(5)

yang terbentuk dari kata Hana karena jika penulis membahas ke-35 peribahasa tersebut, maka ruang lingkup pembahasannya terlalu luas, ke 14 peribahasa tersebut adalah :

1. Iwanu ga hana

2. Kirei hana ni wa toge ga aru

3. Rakka eda ni kaerazu

4. Hana ni arashi

5. Hana yori dango

6. Tonari no hana wa akai

7. Takane no hana

8. Hanashi ni hana ga saku

9. Hana wo sakaseru

10. Shinibana o sakasu

11. Ryoute ni hana

12. Hana wa sakuragi hito wa bushi

13. Hana mo mi mo aru

(6)

Untuk melengkapi pembahasannya, maka dalam penulisan akan didukung dengan pendapat beberapa para ahli dan contoh penggunaan peribahasa Jepang dan peribahasa Indonesia tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1.4.1. Tinjauan Pustaka

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat efektif antar manusia yang dipergunakan dalam berbagai macam situasi. Bahasa dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan pembicara kepada pendengar atau penulis kepada pembaca ( Sugihastuti, 2000 : 8 ).

Harimurti Kridalaksana ( 1993 : 169 ) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan peribahasa adalah Kalimat atau penggalan kalimat yang bersifat turun temurun, digunakan untuk menguatkan maksud karangan, pemberi nasehat, pengajaran/pedoman hidup.

Menurut Ishida Shooichiroo dalam Dharmayanty ( 1999 : 9 ) :

“Kotowaza wa seikatsu suru no ni sankoo ni naru mijikai kotoba“

(7)

kehidupan).

Begitu pula menurut Akiyama Ken dalam Dharmayanty ( 1999 : 9 ) : “Kotowaza wa oshie ya imashime nado imi o motta mijikai bun“

( Peribahasa adalah kalimat pendek yang mengandung arti nasehat, peringatan dan lain sebagainya).

Sedangkan menurut Kunimatsu Shooichi dalam Dharmayanty ( 1999 : 10 ) : “Kotowaza wa furuku kara hito bito ni ii nara wa sareta kotoba, kyookun, fuushi,nado no imi o fukumi, jinsei no shinjitsu o ugatsu mono ga ooi”

( Peribahasa adalah kalimat yang disebarluaskan melalui adapt kebiasaan oleh masyarakat sejak lama, isinya banyak mengandung pengajaran, sindiran, kebenaran dalam kehidupan manusia dan lain sebagainya).

Hayashi Shinobu juga mengungkapkan pernyataan yang sama tentang peribahasa Jepang :

“Kotowaza wa hito bito no seikatsu no chie kara umarete kita. Kyookun ya hihan o fukumu mijikai kotoba”

(Peribahasa adalah kalimat pendek yang lahir dari pemikiran kehidupan masyarakat, mengandung isi kritikan, pengajaran dan lain sebagainya).

(8)

Kotowaza atau Peribahasa adalah kalimat pendek yang mengandung nasehat, kritik, peringatan, sindiran, ajaran, kebenaran dan lain sebagainya dalam kehidupan manusia yang disebarluaskan melalui adat kebiasaan masyarakat setempat.

1.4.2.Kerangka Teori

Pada penulisan skripsi ini, penulis menggunakan teori semiotik. Kata semiotik sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu Semion yang berarti tanda. Semiotik adalah cabang ilmu yang berhubungan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda ( Van Zoest, 1993 : 1 ).

Luxemberg (1992:46) menjelaskan bahwa semiotik adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda, lambang-lambang, sistem lambang dan proses perlambangan. Ilmu tentang semiotik ini menganggap bahwa fenomena sosial ataupun masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda.

Menurut Pradopo ( 2001:7 ) semiotik adalah ilmu yang mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konveksi-konveksi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut punya arti.

(9)

Van Zoest (1996:5) juga mengungkapkan bahwa semiotika adalah studi tentang tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, baik itu cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengiriman dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.

Beberapa pakar pernah mengatakan bahwa “ Dalam telaah bahasa, seperti halnya dalam telaah sistem lainnya, tidak ada istilah atau terminologi yang netral : setiap istilah teknis merupakan pengekspresian asumsi-asumsi atas perkiraan-perkiraan teoritis dar para pemakainya (Tarigan, 1986:110).

Semiotika sebagai ilmu yang mempelajari lambang-lambang sangat berhubungan erat dengan hal yang dijadikan lambang. Di kehidupan sehari-hari, lambang digunakan dalam berkomunikasi. Lambang yang sudah umum dikenal di seluruh dunia dan telah mendapat kesepakatan semua orang adalah lambang-lambang lalu lintas. Tapi ada juga lambang-lambang di beberapa Negara yang menggunakan hewan atau tumbuhan untuk menggambarkan sesuatu. Misal, singa atau beruang yang melambangkan orang yang kuat, ular sebagai orang yang licik, kuda sebagai orang yang bijak, bunga untuk melambangkan sesuatu yang indah, dan lain sebagainya.

(10)

1985:156). Di dalam peribahasa terkandung bukan hanya makna kamus, tetapi juga makna majasi, bukan saja arti kata-kata yang sebenarnya tetapi juga arti kiasan, yang merupakan garapan semantik dan juga pengajaran semantik (Henry Guntur Tarigan, 1984:7).

Semiotik mencakup tiga bidang, yaitu :

a. Sintaksis, yang menelaah tentang hubungan-hubungan formal antara tanda-tanda yang satu dengan yang lain.

b. Semantik, menelaah hubungan tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut.

c. Pragmatik, menelaah tentang hubungan tanda-tanda dengan para penafsiran atau interpretor.

Dari ketiga bidang di atas, peribahasa masuk ke dalam bidang semantik. Dalam semantik, digunakan berbagai macam jenis makna. Sebuah kata disebut mempunyai makna konotasi apabila kata itu memiliki nilai rasa, baik itu positif maupun negatif (Chaer, 1995:65). Di dalam sebuah peribahasa, terkandung bukan hanya makna kamus, tetapi juga makna majas, bukan hanya arti sebenarnya, tetapi juga makna kiasan yang merupakan bagian dari semantik.

(11)

ke teori Hayashi Shinobu tentang peribahasa, yakni : “ Kotowaza wa hitobito no seikatsu ni chie kara umarete kita, kyookun ya hihan o fukumu mijikai kotoba” “ Peribahasa adalah kalimat pendek yang lahir dari pemikiran kehidupan masyarakat, mengandung isi, kritikan, pengajaran dan lain sebagainya”. Penulis juga menggunakan pendekatan makna idiomatik. Idiom juga merupakan pengembangan segi petanda (makna atau isi dari suatu benda) oleh pemakai tanda sesuai dengan sudut pandangnya menggunakan teori tanda. Oleh karena itu penulis akan menggunakan teori semiotik, semantik dan idiomatik dalam menyelesaikan penelitian ini.

1.5. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1.5.1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui makna yang dimiliki oleh peribahasa Jepang yang terbentuk dari kata Hana.

2. Untuk mengetahui pemakaian kata Hana dalam peribahasa bahasa Jepang.

(12)

peribahasa Jepang yang memakai kata Hana.

1.5.2. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Bagi penulis sendiri adalah sebagai sarana untuk memperdalam pengetahuan dan wawasan mengenai makna peribahasa Jepang yang menggunakan kata Hana.

2. Memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya dan mahasiswa sastra dan bahasa Jepang pada khususnya mengenai makna dari peribahasa yang terbentuk dari kata Hana.

3. Diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang ingin membahas tentang interpretasi makna peribahasa yang menggunakan atau terbantuk dari kata Hana.

1.6. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang membicarakan kemungkinan untuk memecahkan masalah yang actual dengan cara mengumpulkan data, menganalisa, dan menginterpretasikannya (Surahmad, 1982:147).

(13)

Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menghimpun data dari berbagai literature, baik dari buku-buku yang berhubungan dengan peribahasa Jepang secara langsung maupun buku-buku lain yang membahas masalah tentang makna peribahasa Jepang yang menggunakan kata Hana.

Pengumpulan data didapat dari perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Sastra, situs-situs Internet dan Konsulat Jepang.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :