• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Nasional Agama Dan Budaya (Semaya II)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Prosiding Seminar Nasional Agama Dan Budaya (Semaya II)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN HINDU DAN PENANAMAN MORAL GENERASI MUDA HINDU: ANALISIS TERHADAP PERAN PENDIDIKAN FORMAL HINDU PADA UPAYA PEMBENTUKAN MORAL GENERASI MUDA HINDU DALAM

MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

Oleh

Nur Agni Govinda Yogisvari

Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar [email protected]

Abstract

Globalization era had a great impact on the development of technology, communications, information and transportation. Globalization has also brought a change of behavior on people's lives, the younger generation in particular. As a generation that lived during this era, the younger generation are required to keep abreast of global flows. Moral education needs to be owned by every young generation to be able to address the globalization era that is increasingly growing rapidly. Hindu obtained formal education in schools is expected to make up the morale of the young generation to be able to filter the influence of the era of globalization. With morale in accordance with the teachings of Hinduism, Hindu youth are expected to use technology in the era of globalization, according to function and not to fall into the negative impact caused by the misuse of the technology produced. This article describes how Hindu formal education should be able to form the morale of the young generation in accordance with the Hindu‟s holy books to be capable of responding to the rapid flow of global growing by day and bring a strong impact on every aspect of life.

Keywords: Hindu Education, Hindu younger generation, global era

Abstrak

Era Globalisasi membawa dampak yang besar terhadap perkembangan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi. Globalisasi juga telah membawa perubahan perilaku terhadap kehidupan masyarakat, generasi muda pada khususnya. Sebagai generasi yang hidup pada jaman ini, mau tidak mau para generasi muda dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan arus global. Pendidikan moral yang kuat perlu dimiliki oleh setiap generasi muda agar mampu menyikapi jaman globalisasi yang semakin hari semakin berkembang pesat. Pendidikan formal Hindu yang didapatkan di sekolah diharapkan mampu membentuk moral para generasi muda Hindu agar mampu menyaring kerasnya pengaruh jaman globalisasi. Dengan memiliki moral yang sesuai dengan ajaran agama Hindu, generasi muda Hindu diharapkan dapat menggunakan teknologi pada era globalisasi ini sesuai dengan fungsinya dan tidak terjerumus kedalam dampak negative yang diakibatkan oleh penyalahgunaan teknologi yang dihasilkan. Artikel ini menguraikan bagaimana pendidikan formal Hindu seharusnya dapat membentuk moral para generasi muda Hindu yang sesuai dengan sastra Agama Hindu agar mampu menyikapi derasnya arus global yang semakin hari semakin meningkat dan membawa dampak yang kuat pada setiap aspek kehidupan.

(2)

I. Pendahuluan

Globalisasi merupakan suatu proses yang menyeluruh atau mendunia dimana setiap orang tidak terikat oleh negara atau batas-batas wilayah, artinya setiap individu dapat terhubung dan saling bertukar informasi dimanapun dan kapanpun melalui media elektronik maupun cetak. Globalisasi dapat menjadikan suatu negara lebih kecil karena kemudahan komunikasi antar negara dalam berbagai bidang seperti pertukaran informasi dan perdagangan. Globalisasi membawa perubahan perilaku terhadap kehidupan masyarakat, baik di bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya.

Banyak terdapat dampak positif yang ditimbulkan dari era globalisasi ini seperti pembangunan semakin banyak, semakin cepat dan mudahnya komunikasi, peningkatan pada ekonomi menjadi lebih produktif, efektif, dan efisien, sektor pariwisata meningkat, informasi dan ilmu pengetahuan mudah didapatkan, taraf hidup dari masyarakat meningkat, kemudahan dalam transportasi, serta setiap orang menjadi terpacu untuk meningkatkan kualitas diri. Namun dibalik sisi positifnya, globalisasi juga memiliki beberapa dampak negative yang dapat ditimbulkan, seperti sikap solidaritas atau kepedulian, gotong royong, dan kesetiakawanan seseorang menjadi berkurang, kreativitas menurun karena individu kebanyakan bersikap konsumtif, budaya atau adat bangsa akan terkikis, informasi menjadi tidak terkendali dan tidak tersaring, perilaku dan sikap buruk banyak bermunculan, sikap ala kebarat-baratan menjadi gaya hidup dan mudah terkontaminasi, serta banyak munculnya sikap individualisme.

Untuk menghadapi dampak-dampak yang dapat ditimbulkan oleh era global ini, diperlukan adanya sikap moral yang baik agar para generasi muda Hindu mampu menyaring dan memilah-milah dampak globalisasi mana yang baik untuk diikuti dan yang tidak. Pendidikan agama Hindu memiliki posisi yang sangat penting dalam pembentukan moral generasi muda Hindu dalam dunia persaingan bebas yang semakin meningkat pesat ini. Artikel ini menguraikan bagaimana pentingnya peran pendidikan agama Hindu dalam membentuk sikap moral para generasi muda Hindu untuk menghadapi era globalisasi sesuai dengan apa yang tercantum dalam sastra-sastra suci Hindu.

II. Pembahasan

2.1. Pendidikan Agama Hindu di Sekolah sebagai Sarana Pendidikan Moral Generasi Muda Hindu dalam Era Global

Menurut pandangan Groome (Santoso, 2001), pendidikan agama adalah suatu proses yang mengatur umat untuk memasuki suatu kehidupan yang tidak mapan sehingga harus dibentuk oleh umat sendiri. Bila tujuan akhir dari pendidikan agama adalah perubahan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan, maka pendidikan tidak berlangsung hanya

(3)

fungsi pendidikan nasional, yaitu untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian, ditegaskan dalam tujuan pendidikan nasional bahwa peserta didik berkembang menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berkaitan dengan pengembangan akhlak mulia (moral) bahwa agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai, dan bermartabat. Menyadari bahwa peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia, maka internalisasi agama dalam kehidupan pribadi menjadi sebuah keniscayaan yang ditempuh melalui pendidikan, baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat (BSNP, 2006). Ini menempatkan pendidikan agama pada posisi yang amat penting dalam pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia. Seperti dijelaskan dalam Badan Standar Nasional Pendidikan bahwa pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan, antara lain menumbuhkembangkan dan meningkatkan kualitas Sradha dan Bhakti melalui pemberian, pemupukan, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama; dan membangun insan Hindu yang dapat mewujudkan nilai-nilai Moksartham Jagathita dalam kehidupannya (BSNP, 2006 dan Depdiknas, 2007).

Pendidikan Hindu haruslah merupakan pendidikan yang membentuk manusia yang beragama Hindu menjadi orang yang mengamalkan ajaran agamanya dalam peri kehidupan sehari-harinya. Pendidikan Agama Hindu tidak seharusnya diartikan sebagai pendidikan yang menciptakan orang yang pandai mengenai agama Hindu saja. Yang dengan demikian lebih mengarah kepada menciptakan orang yang memiliki Sraddha. Bukan menciptakan Indolog-indolog. Sraddha adalah keyakinan yang benar tentang kebenaran (Maswinara, 1994: hal 29).

Tujuan pendidikan dalam agama Hindu adalah untuk membentuk peserta didik agar memunculkan potensi-potensi baik atau yang dikenal dalam agama Hindu sebagai sifat-sifat kedewataan dalam dirinya. Prof. DR. I Made Titib merumuskan hal itu sebagai berikut: Bila kita kaji tentang makna pendidikan mengandung arti mengantarkan seorang anak menuju tingkat dewasa atau kedewasaan, seperti diungkapkan oleh Langerveld, kata dewa atau dewata, dimaksudkan seseorang itu dalam perilakunya sudah memiliki sifat-sifat kedewataan (Daivisampat, karena kata dewasa (devasya) berasal dari kosa kata bahasa Sansekerta, yang artinya memiliki sifat dewa, juga berarti bercahaya (Titib, 2003 : 4)

Dalam Hindu, pendidikan adalah sebuah upaya penting untuk mencapai Catur Purusa Arta. Pengetahuan (Vidya) sangat diperlukan untuk melaksanakan dan menegakkan Dharma. Vidya atau pengetahuan adalah

(4)

mengendalikan nafsunya, dan belajar melaksanakan kewajibannya dengan tanpa-keterikatan dan bakti pada Tuhan sehingga ia dapat mengatasi ketidakmurnian dari rasa ke-aku-an, keterikatan, dan khayalan dan berhasil mencapai pembebasan. Perspektif pendidikan Hindu, sangat nyata bertujuan untuk membentuk manusia yang berbudaya (bila dari satu sisi beragama dapat dipersamakan dengan berbudaya/beradab). Dengan demikian, pendidikan akan menghasilkan orang-orang yang ―menciptakan budaya‖ bukan orang-orang yang tunduk pada budaya global yang memiliki sisi potensi untuk menjauhkan manusia dari kemanusiaannya.

Sejalan dengan perkembangan arus globalisiasi di berbagai aspek kehidupan, sebegai generasi penerus bangsa, generasi muda Hindu harus mampu memillah-milah dampak yang dihasilkan dari era global tersebut. Perkembangan teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan sesuai fungsinya dengan baik dan tidak terlepas dari koridor etika. Berdasarkan hal tersebut, pendidikan agama Hindu memiliki peran yang amat penting dalam pembentukan moral generasi muda Hindu sebagai proteksi diri agar tidak terjerumus kedalam dampak negative penyalahgunaan teknologi.

Dengan demikian sebenarnya kita dapat melihat relevansi antara konsep Hindu dengan penemuan-penemuan modern di bidang ilmu pengetahuan. Pengetahuan di sisi lain adalah pisau bermata dua yang bila jatuh ke tangan orang yang jahat akan dapat menjadi alat kejahatan yang paling mengerikan. Kita banyak melihat bukti dari hal ini dengan semakin maraknya kejahatan yang merupakan penyalahgunaan kecerdasan atau pengetahuan mulai dari korupsi yang tersistematis sampai kepada senjata pemusnah masal. Oleh karena itu, masalah pendidikan tidak akan pernah terlepas dari masalah guru dalam berbagai aspek.

Jayaram V. menunjukkan pentingnya peranan guru dalam system pendidikan Hindu, ia menyatakan bahwa dalam pendidikan Hindu, Guru adalah Tuhan dalam bentuk manusia. Sentral bagi system pendidikan tradisional Hindu adalah konsep tentang guru atau pengajar sebagai penyingkir kegelapan. Seorang guru adalah Tuhan/Dewa dalam bentuk manusia. Ia sebenarnya adalah Brahman sendiri. Tanpa bakti padanya dan tanpa restunya, seorang murid tidak dapat banyak menyelesaikan hal-hal dalam hidupnya. Dalam membagi pengetahuan, sang guru menunjukkan jalan, bukan dengan trial and error, tapi dengan contoh dirinya sendiri dan melalui pemahamannya terhadap sastra suci, yang didapat dari pengalamannya sendiri, latihan, dan pengideraan yang dalam. Berdasarkan hal tersebut, guru memiliki posisi yang tinggi dalam pendidikan agama Hindu yang dalam hal ini adalah sebagai media penanaman moral para generasi muda Hindu.

2.2. Konsep Moral sesuai Sastra Hindu

Bhagawadgita menjelaskan bahwa ada dua jenis makhluk ciptaan Sang Hyang Widhi, yaitu yang mulia dan yang jahat. Ciri-ciri manusia yang mulia itu dirinci pada Bhagawadgita.XVI.1—3 sebagai sifat-sifat devata, yaitu dalam Bhagawadgita.XVI.1 dijelaskan bahwa manusia yang memiliki sifat-sifat kedewataan yaitu manusia yang mulia, tak gentar, memiliki kemurnian hati, bijaksana, mantap dalam mencari pengetahuan dan

(5)

mempelajari kitab suci, melakukan tapa, dan jujur. Dalam Bhagawadgita.XVI.2 dijelaskan bahwa manusia yang memiliki sifat-sifat

kedewataan adalah manusia yang tidak menyakiti, benar, bebas dari nafsu amarah, tanpa keterikatan, tenang, tidak memfitnah, kasih sayang terhadap sesama makhluk, tidak dibingungkan oleh keinginan, lemah lembut, sopan, dan berketetapan hati. Selanjutnya dalam Bhagawadgita.XVI.3 dijelaskan bahwa cekatan, suka memaafkan, teguh iman, budi luhur, tidak iri hati, tanpa keangkuhan, semuanya ini adalah harta dari dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat devata. Ini merupakan dasar-dasar moralitas yang dinyatakan dengan pernyataan positif sehingga yang harus dilaksanakan.

Sebaliknya, manusia yang jahat dilahirkan dengan memiliki sifat-sifat raksasa (sifat-sifat Asura) diuraikan dalam Bhagawadgita.XVI.4 – 20 sebagai berikut. Dalam sloka 4 disebutkan bahwa sifat Asura adalah berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh. Dalam sloka 5 disebutkan bahwa sifat-sifat ini dipandang sebagai jalan yang menyesatkan atau jalan menuju keterikatan. Dalam sloka 6 dipertegas lagi mengenai keberadaan dua jenis manusia, yaitu yang suci atau mulia (bersifat devata) dan yang jahat (bersifat raksasa). Dalam sloka 7 dijelaskan bahwa yang jahat tidak mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan tidak memiliki kemurnian kelakukan baik dan benar. Dalam sloka 8 dijelaskan bahwa mereka mengatakan ―dunia ini tidak nyata, tanpa dasar moral, tanpa Tuhan, yang timbulnya hanya karena hubungan yang disebabkan oleh hawa nafsu birahi, lain tidak‖. Dalam sloka 9 dikatakan bahwa jiwa yang rusak dengan pengertian picik timbul karena pandangan yang teguh ini menimbulkan perbuatan keji yang menonjol untuk memusnahkan dunia sebagai musuhnya. Sloka 10 disebutkan bahwa manusia yang memiliki sifat-sifat raksasa adalah mereka yang memiliki sifat berpura-pura, kebanggaan, dan kesombongan. Dalam sloka 11 dijelaskan bahwa mereka yang memiliki keinginan yang tak habis-habisnya dengan menganggap pemuasan nafsu keinginan sebagai tujuan utama. Dalam sloka 12 dijelaskan bahwa mereka yang dibelenggu oleh ratusan ikatan harapan, menyerahkan diri kepada nafsu dan kemarahan serta berusaha mengumpulkan kekayaan demi kepuasan nafsu dengan jalan yang tidak halal. Dalam sloka 13 disebutkan bahwa mereka yang berpikir hari ini telah kudapatkan, keinginan ini harus kupenuhi, ini kekepunyaaku dan kekayaan itu juga akan menjadi milikiku nanti. Dalam sloka 14 disebutkan bahwa mereka yang berpikir musuh ini telah kubunuh dan yang lain akan kubunuh pula, aku adalah penguasa, aku adalah penikmat, aku berhasil, berkuasa, dan bahagia. Dalam sloka 15 disebutkan bahwa mereka yang berpikir aku kaya raya dan kelahiran bangsawan dan mengkhayal dalam ketololan. Lebih lanjut dijelaskan dalam sloka 16 bahwa mereka yang terperangkap dalam berbagai macam pikiran yang membingungkan, terseret ke dalam pemuasan nafsu yang menjijikkan. Dalam sloka 17 disebutkan bahwa mereka yang senang memuji diri sendiri, benar sendiri, bangga dan mabuk akan harta dan tidak mengindahkan peraturan. Dalam sloka 18 disebutkan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan buruk, membohongi diri sendiri dengan keakuan, kekuatan, kesombongan, nafsu dan kemarahan serta membenci Tuhan yang ada di dalam dirinya. Dalam sloka 19

(6)

Dalam sloka 20 disebutkan bahwa mereka yang terbingungkan terjerumus dalam kandungan raksasa sehingga jatuh ke jalan yang paling rendah. Semua sifat raksasa ini dipertentangkan dengan sifat-sifat devata yang telah teridentifikasi melalui sat, cit, dan ananda seperti telah dijelaskan di atas. Sesungguhnya sifat-sifat raksasa itu bersumber dari nafsu dalam bentuknya berupa keinginan-keinginan, kemarahan, keserakahan, keangkuhan, kebodohan, dan kebingungan. Sifat-sifat ini dikatakan sebagai jalan menuju ke neraka, yaitu jurang kehancuran diri. Oleh karena itu, ini merupakan larangan dan sama sekali tidak boleh dilaksanakan.

Berdasarkan penjelasan diatas, manusia yang dalam konteks ini adalah generasi muda Hindu hendaknya memiliki sifat-sifat Dewata (kedewataan) dan menghindari sifat-sifat Asura (raksasa) agar tidak terjerumus kedalam dampak negative penyalahgunaan teknologi yang dihasilkan pada era globalisasi seperti dewasa ini. Dengan memiliki sifat-sifat Dewata, generasi muda Hindu diharapkan dapat bersaing secara sehat di dunia persaingan bebas ini dengan tidak meninggalkan nilai-nilai etis agama Hindu.

III. Penutup

Globalisasi merupakan jaman dimana orang tidak terikat oleh negara atau batas-batas wilayah. Setiap individu dapat terhubung dan saling bertukar informasi dimanapun dan kapanpun melalui teknologi yang semakin canggih. Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa mau tidak mau harus dapat mengikuti arus global agar dapat bersaing di dunia Internasional. Diantara dampak-dampak positif dari jaman Globalisasi tentu saja ada banyak dampak negative yang dapat ditimbulkan. Untuk itu para generasi muda diharapkan mampu menyaring hasil-hasil dari jaman Globalisasi ini agar tidak terjerumus kedalam hal-hal yang negative.

Pendidikan Hindu bertujuan untuk membentuk peserta didik agar memunculkan potensi-potensi baik atau yang dikenal dalam agama Hindu sebagai sifat-sifat kedewataan dalam dirinya. Sifat-sifat tersebut adalah seperti tak gentar, murni hati, bijaksana, mantap dalam mencari pengetahuan dan melakukan Yoga, dermawan, menguasai indra, berkurban, dan mempelajari kitab suci, melakukan tapa, jujur, tidak menyakiti, benar, bebas dari nafsu amarah, tanpa keterikatan, tenang, tidak memfitnah, kasih sayang terhadap sesama makhluk, tidak dibingungkan oleh keinginan, lemah lembut, sopan, berketetapan hati, cekatan, suka memaafkan, teguh iman, budi luhur, tidak iri hati serta tanpa keangkuhan. Melalui pendidikan Hindu, para generasi muda Hindu diharapkan mampu memiliki moral yang baik sesuai dengan yang terdapat dalam sastra-sastra Hindu atau yang disebut dengan sifat kedewataan tersebut diatas. Dengan moral yang baik, maka generasi muda Hindu akan dapat menghadapi kerasnya arus globalisasi dan tetap berpegang teguh pada Dharma dalam dunia persaingan bebas.

IV Daftar Pustaka

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan

(7)

Maswinara, Wayan, 1994,Yoga Sutra Patanjali, Surabaya, Paramita

Pidarta, Prof. Dr. Made, 2004, Pendidikan Agama Hindu (Suatu Fondasi Utama), Denpasar, Unesa University Press

Pudja, G., 1999, Bhagavadgita, Surabaya: Paramita.

Titib, I Made. 2003. Menumbuhkembangkan Pendidikan Budhi Pekerti Pada Anak (Perspektif Agama Hindu).Ganeca Exact: Bandung

Sudarsana, I. K. (2015, June). Pentingnya Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter bagi Remaja Putus Sekolah. In Seminar Nasional (No. ISBN : 978-602-71567-1-5, pp. 343-349). Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar.

Sudarsana, I. K. (2015, May). Peran Pendidikan Non Formal dalam Pemberdayaan Perempuan. In Seminar Nasional (No. ISBN : 978-602-72630-0-0, pp. 135-139). Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat IHDN Denpasar.

Referensi

Dokumen terkait

• Judul artikel “Tampil dengan Gaya Rambut Baru, Kate Middleton Mencuri Perhatian” | kumparan | LINE TODAY dalam artikel ini terdapat kesalahan morfologis berupa bentuk

Banyak penelitian yang sudah membahas mengenai strategi guru agama Kristen dalam upaya membentuk karakter generasi muda di era industri 4.0, seperti Peran Guru

Selamat datang dalam seminar nasional dengan tema “Pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru dan dosen berbasis penelitian bahasa, sastra, dan pengajaran”.. Kegiatan ilmiah

I Nyoman Subagia, S.Ag, M.Ag Editor: 7 Maret 2018 Program Studi M agister Sastra Agama dan Pendidikan Bahasa Bali Program Pascasa.rjana lllDN Denpasar Diselenggarakan oleh:

Urgensi Peran Gereja dalam Membentuk Moral bagi Generasi Muda Studi Deskriptif Kualitatif pada Masyarakat Landasan memilih judul: - kesadaran pentingnya peran gereja dalam membentuk

358 Fachry Ali2021, “Persepsi Generasi Muda terhadap Pendidikan formal sekolah Madrasahdan Pendidikan Agama kegiatan keagamaan di masyarakatdi Desa Jambusari Kecamatan kretek Kabupaten

Pendidikan usia dini menjadi landasan yang krusial dalam membentuk perilaku positif dan nilai moral agama pada anak sejak dini, menciptakan investasi berharga untuk generasi yang

106 Reski,dkk – Nilai Moral dalam Novel “Tentang Kamu” Karya Tere Liye Pendekatan Sosiologi Sastra dan Relenvansi sebagai Bahan Ajar di SMA Kelas XII HASIL DAN PEMBAHASAN