• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL BAHASA DAN BUDAYA II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROSIDING SEMINAR NASIONAL BAHASA DAN BUDAYA II"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

i

(2)

ii

alaman Judul

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL BAHASA DAN BUDAYA II

PEMERTAHANAN KEBERAGAMAN BAHASA DAN BUDAYA SEBAGAI IDENTITAS NASIONAL

Penyunting Ahli Dr. I Ketut Sudewa, M. Hum

Penyunting Pelaksana Drs. I Wayan Teguh, M. Hum

DENPASAR, 13 – 14 OKTOBER 2017

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2017

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugraha-Nya maka buku kumpulan makalah-makalah yang dikompilasi dalam bentuk proceeding untuk Seminar Nasional Bahasa dan Budaya (SNBB) II dengan mengusung tema „Pemertahanan Keberagaman Bahasa dan Budaya sebagai Identitas Nasional‟ menjadi sangat penting. Indonesia sedang dilanda isu suku, ras, dan agama dalam bentuk radikalisme, intoleransi, dll sehingga perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasinya. Melalui SNBB II diharapkan pemahaman tentang keberagaman bahasa dan budaya menjadi semakin baik sehingga kita semakin bijaksana, egaliter/

saling hormat-menghormati, toleransi, dan harmonis dalam keberagaman. Bahasa adalah bagian dari kebudayaan, keduanya memiliki fungsi saling mendukung, mempengaruhi, dan melengkapi.

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana mengembangkan ilmu bahasa dan budaya, dengan mengungkap peran bahasa dalam kaitannya dengan kebudayaan diharapkan dapat membangun karakter masyarakat dan bangsa Indonesia dalam menghadapi era tanpa batas ini dengan penuh tantangan.

Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Para Koordinator Program Studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana atas kerjasama yang baik sehingga seminar bersama bisa dilaksanakan.

2. Prof. Dr. Koeswinarno, M.Hum dari Departemen Agama/Litbang Agama Pusat sebagai pembicara kunci; pemakalah utama: Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi, M.A. (Undiksha), Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A.

(FIB Unud), dan Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A. (FIB Unud), serta para pemakalah pendamping lainnya.

3. Peserta SNBB II, 2017 yang terdiri atas, peneliti dan/atau dosen bahasa, sastra, dan budaya, mahasiswa, pekerja dan pengamat media, sastra dan budaya, dll yang terlalu panjang bila disebutkan semuanya.

(4)

iv

4. Panitia SNBB II yang telah bekerja keras mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan penyelenggaraan seminar ini dengan sebaik-baiknya.

SNBB II yang diselenggarakan atas kerjasama semua Program Studi di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana dapat memberikan pencerahan, dan diharapkan bermuara pada penyatuan Visi Fakultas Ilmu Budaya, Unud yaitu memiliki keunggulan dan kemandirian dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan aplikasi keilmuan yang berlandaskan kebudayaan.

Melalui kesempatan ini sekali lagi kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan Seminar Nasional Bahasa dan Budaya, dengan harapan semoga Tuhan YME memberikan imbalan yang setimpal dengan pengorbanan Bapak/Ibu sekalian.

Kami juga tidak lupa mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dalam penyelengaraan acara ini. Kami ucapkan Selamat Berseminar, dan semoga bermanfaat.

Denpasar, 9 Oktober 2017 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Dekan,

Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A.

NIP. 195909171984032002

(5)

v DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i KATA PENGANTAR ... iii DAFTAR ISI ... vi MENANGKAL HOAX DENGAN BAHASA LOKAL:

SEBUAH REFLEKSI ... 1 Koeswinarno

PEMERTAHANAN BAHASA BALI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN

BAHASA: MASALAH DAN SOLUSI ... 8 Ni Nyoman Padmadewi

MASABATAN BIU DAN PENGUATAN IDEOLOGI PATRIARKI

DI DESA TENGANAN DAUH TUKAD ... 16 I Wayan Ardika

DOA MENYAMBUT IKAN PAUS DI PANTAI LAMALERA:

KAJIAN METABAHASA... 45 I Nengah Sudipa

KEBERADAAN BAHASA BALI SEBAGAI IDENTITAS LOKAL

PADA TANDA LUAR RUANG DI DESA KUTA……… .. ……… 54 I Wayan Mulyawan

PELESTARIAN CAGAR BUDAYA UPAYA MEWUJUDKAN DENPASAR

SEBAGAI KOTA PUSAKA……… .. ……... 63 I Wayan Srijaya

BAGAIMANAKAH BERCERMIN DALAM BAHASA

INDONESIA?... ... 54 I Wayan Teguh

RITUAL MAPPANRETASIQ MASYARAKAT BUGIS PAGATAN DI

KALIMANTAN SELATAN: STUDI MEDIATISASI ... 81 Andi Muhammad Akhmar dan A. Abd. Khaliq Syukur

PEMAHAMAN DAN PENGUASAAN SISWA SMA SURYA WISATA KEDIRI

TERHADAP KARYA SASTRA INDONESIA……… ... 90 I Ketut Nama, I Made Suarsa, I Ketut Sudewa, I Wayan Teguh, dan

I G. A.A. Mas Triadnyani

(6)

vi

PEMANFAATAN MAJAS DALAM PENAJAMAN INSIDEN-INSIDEN DALAM KARYA SASTRA (KASUS CERPEN MÉONG-MÉONG KARYA

MADE SANGGRA)………... ... 97

I Made Suarsa

MENGGAGAS KEMBALI KONSEPSI KECANTIKAN PEREMPUAN BALI…... .. 104 Ni Made Wiasti

“BERBAGI BAHASA”: STRATEGI KEBUDAYAAN MASYARAKAT BADAU, KALIMANTAN BARAT DALAM MEMBANGUN SOLIDARITAS DAN

MENUMBUHKAN NASIONALISME……… ... 112

I Nyoman Yoga Segara……..

PURA TUGU: KORELASI PURA DENGAN PURI AGUNG

GIANYAR ... 120 A.A. Inten Asmariati dan Fransisca Dewi Setiowati Sunaryo

INDUSTRIALISASI SENI KRIYA……… ... 127

Ni Wayan Sukarini, Ni Luh Sutjiati Beratha, dan I Made Rajeg

BAHASA-BAHASA DAERAH DI SUMATERA: ANALISIS KLASIFIKASI

BAHASA… ... 134 Ni Putu N. Widarsini

GAYA BAHASA DAN MAJAS HIKAYAT SULTAN IBRAHIM IBN ADHAM ... 141 I Ketut Nama

ANALISIS MAKNA DALAM IKLAN KOSMETIK: KAJIAN PRAGMATIK…… .. 149 Putu Evi Wahyu Citrawati, Coleta Palupi Titasari

PUISI "WIJAYA KUSUMA DARI KAMAR NOMOR TIGA"

KARYA MARIA MATILDIS BANDA: PENDEKATAN EKSPRESIF ... 156 Sri Jumadiah

GAMBARAN NYATA KARAKTER NEGATIF MANUSIA MASA KINI

DALAM CERITA CUPAK GRANTANG………. .... 163

I Gusti Ayu Gde Sosiowati

KONTEKTUALISASI BUDAYA BALI DALAM PENATAAN KEHIDUPAN

MASYARAKAT MAJEMUK DI DENPASAR TAHUN 2002-2017 ... 170 I Nyoman Wijaya, Anak Agung Bagus Wirawan, I Wayan Tagel Eddy,

Anak Agung Inten Asmariati

FUNGSI PATIK DALAM KUMPULAN PUISI

PUKENG MOE LAMALERA... .. 183 Maria Matildis Banda

(7)

vii DINAMIKA TANDA LUAR RUANG DI DESA BATUBULAN

KECAMATAN SUKAWATI………. .... 190

I Gede Budiasa dan Sang Ayu Isnu Maharani

UPACARA DUKUTAN MASYARAKAT NGLURAH SEBAGAI BENTUK

PARTISIPASI PELESTARIAN SITUS MENGGUNG……… ... 199 Heri Purwanto dan Coleta Palupi Titasari

PEMANFAATAN PURA ULUWATU SEBAGAI OBJEK PARIWISATA:

MEDIA PENGENALAN DAN PELESTARIAN BUDAYA……….. .. 205 Zuraidah dan Rochtri Agung Bawono

BAHASA MELAYU RIAU: DESKRIPSI RINGKAS……… .. 212 Ketut Riana

RELEVANSI NILAI BUDAYA LOKAL DALAM MEWUJUDKAN DENPASAR

SEBAGAI KOTA SMART CITY ... 216 Ida Bagus Gde Pujaastawa

PERSEPSI BUDAYA JAWA DALAM KISAH CALON ARANG : FUNGSI

DEDAKTIS DAN SOSIOLOGIS ... 228 Sulandjari

PEMAKAIAN KATA PINJAMAN DALAM BIDANG EKONOMI

PADA MEDIA HARIAN BALI POST ... 240 Ni Luh Putu Krisnawati dan I Komang Sumaryana Putra

BIMBINGAN TEKNIS DAN PENERAPAN METODE SEJARAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENULISAN SEJARAH DESA DI DESA

BESAN, KECAMATAN DAWAN, KABUPATEN KLUNGKUNG... ... 247 Anak Agung Ayu Rai Wahyuni, Ida Ayu Putu Mahyuni, Ida Bagus Gde Putra,

Anak Agung Ayu Girindra Wardani.

ANALISIS MAKNA ASALI SPACE DALAM BAHASA BALI:

SUATU KAJIAN MSA ... 254 I Komang Sumaryana Putra

ANALISIS KESALAHAN PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA

DALAM SURAT-MENYURAT DALAM SITUASI RESMI ... 265 Ni Wayan Arnati dan I Nengah Sukartha

ARCA BUDDHIST BHAIRAWA KOLEKSI MUSEUM NASIONAL INDONESIA JAKARTA (IKON TOLERANSI ALIRAN PRAWERTI DAN

NIWERTI TANTRAYANA)………... ... 279

I Wayan Redig

(8)

viii

BEST PRACTICES PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA PRODUKTIF UNTUK PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI DESA TEMBOK

KECAMATAN TEJAKULA KABUPATEN BULELENG ... 286 Ni Luh Arjani

KOMIK PRASI BALI SEBAGAI PENGEMBANGAN INDUSTRI

KREATIFINOVATIF MASYARAKAT PERAJIN SENI PRASI: STUDI KASUS

PERAJIN PRASI DESA SIDEMEN, KARANGASEM, BALI………... ... 293 Ketut Darmana, I Wayan Suwena,

METAFORA „BUAH DELIMA‟ DAN FUNGSINYA SEBAGAI SARANA UPAKARA BAGI UMAT HINDU DI BALI: SUATU PENDEKATAN

EKOLINGUISTIK……….. .... 301

Ni Made Ayu Widiastuti

INVENTARISASI TINGGALAN ARKEOLOGI ISLAM

DI KOTA DENPASAR ... 309 Zuraidah, Coleta Palupi Titasari, Rochtri Agung Bawono

KERUKUNAN DAN SIKAP TOLERANSI DALAM RITUAL SONGKA BALA

PADA MASYARAKAT SELAYAR………. .... 316

Dafirah

KONSEP PENEMPATAN ARCA GAJAH SEBAGAI DWARAPALA

PADA BANGUNAN SUCI DI BALI……… .... 321

Coleta Palupi Titasari dan Zuraidah

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM PENGUATAN EKONOMI KREATIF DI KAWASAN WISATA DESA TARO KECAMATAN

TEGALLALANG KABUPATEN GIANYAR………. ... 328 Ida Ayu Putu Mahyuni, Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo, Anak Agung Inten

Asmariati, Anak Agung Ayu Rai Wahyuni

DESKRIPSI AIR DALAM KATA PENIRU BUNYI BAHASA BALI……… .... 335 NPL Wedayanti

PENINGKATAN KEMAMPUAN PRESENTASI BERBAHASA JEPANG

MELALUI MATA KULIAH PUBLIC SPEAKING……… ... 341 Ni Made Andry Anita Dewi, Ni Luh Putu Ari Sulatri,

(9)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

279 ARCA BUDDHIST BHAIRAWA KOLEKSI MUSEUM NASIONAL

INDONESIA JAKARTA

(IKON TOLERANSI ALIRAN PRAWERTI DAN NIWERTI TANTRAYANA)

I Wayan Redig

Prodi Arkeologi FIB Universitas Udayana [email protected]

Abstrak

Di Museum Nasional Jakarta tersimpan sebuah arca Buddhist Bhairawa.

Tinggi arca 4.41 meter, berdiri di atas seorang lelaki telanjang yang sedang telungkup yang tangan dan kakinya terlipat di bawah badan dan matanya terpejam.

Arca ini berhiaskan tengkorak. Tangannya dua, yang kiri memegang mangkuk tengkorak dan yang kanan memegang pisau besar. Arca ini Ugra bertolak belakang dengan hiasan rambut yang berisi pahatan Aksobhya. Aksobhya adalah Dhyani Buddha dalam kondisi Santa (tenang)

Persoalannya adalah pertama mengapa arca Buddhist ada yang berwujud Santa dan ada berwujud Ugra. Kedua, apa hubungan kedua arca yang berbeda karakter tersebut.

Dalam makalah ini persoalan tersebut terjawab sebagai berikut. Pertama, karena adanya dua aliran pemahaman yang berbeda dalam menggapai nirwana.

Kedua aliran tersebut tidak terpisahkan antara yang satu dan yang lain. Dengan kata lain aliran tersebut bertoleransi.

Kata kunci :Tantra, Bhairawa, prawerti, niwerti, toleransi

1. Pendahuluan

Di Museum Nasional Jakarta tersimpan sebuah arca Bhairawa Buddhist.

Gambar arca ini termuat dalam buku Ancient Indonesia Art (Bernet, 1956:259).

Arca ini ditemukan di Padang Roco, Sungai Batanghari, Sumatra Barat. Tahun 1935 dipindahkan ke Bukit Tinggi dan tahun 1937 dipindahkan ke Museum Nasional Jakarta. Tinggi arca 4.41 meter, berdiri di atas seorang laki-laki telanjang yang sedang telungkup yang tangan kanan dan kirinya terlipat di bawah badan dan matanya terpejam. Lapik arca dihiasi dengan tengkorak. Tangannya dua, yang kiri memegang mangkuk tenggkorak dan yang kanan memegang pisau besar. Matanya melotot, rambut diatur berupa sanggul besar bagaikan bola lampu dengan dihiasi Aksobhya. Di belakang kepala terdapat hiasan sinar cahaya kesucian. Dengan demikian, arca ini tampil menyeramkan sebagai ciri arca

(10)

280

berkarakter demonis. Ciri arca yang demonis ini bertolak belakang dengan perwujudan Aksobhya yang menghiasi bagian depan sanggul rambutnya.

Perwujudan Aksobhya tenang, tidak menunjukkan keadaan demonis.

Artinya, sama seperti arca-arca Buddha lainnya di candi Borobudur, digambarkan seperti seseorang sedang melakukan semadi, yaitu mata setengah tertutup mengarah ke ujung hidungnya, yang menunjukkan ekspresi jiwa dalam.

Persoalannya adalah pertama, mengapa arca –arca Buddhist tersebut ada yang tampil dalam keadaan menyeramkan yang mencirikan sifat demonis? Kedua, apa hubungannya dengan arca-arca Buddhist nondemonis?

Untuk menjawab persoalan tersebut, berikut dipaparkan terlebih dahulu konsep Tantrayana dan Bhairawa dilanjutkan dengan pembahasan ikonnya dan dicari konteksnya dalam aspek toleransi antara aliran Prawerti dan Niwerti.

2. Tantrayana dan Bhairawa dalam Konsepsinya

Kata “tantra” mempunyai banyak arti, antara lain „simpulan‟, sebab,

„kewajiban‟, dan sebagainya. Kecuali itu, Tantra (t pertama huruf besar) juga menunjukkan nama kitab (karya sastra) yang membicarakan masalah ajaran agama, huruf-huruf mistik, metafisik, filsafat, dan mantra. Kitab ini juga merupakan kitab karya sastra yang bersifat ritualistik, yang berkaitan dengan kesuburan, magis dan mistik. Kitab semacam ini menjadi karakteristik semua sastra agama yang ada di India (Banerji,1978:1-3; Liebert, 1976:294).

Berikut ini pengertian “tantra” yang lain, yaitu „transport‟ yang membawa manusia kearah pencerahan dan kebahagiaan hidup atau juga berarti “jejarng alam kehidupan”, atau antara segala kehidupan. Berbeda halnya yang dikemukakan oleh pakar keagamaan bahwa Tantra adalah tradisi kebudayaan yang muncul pada masa awal tahun Masehi di dalam kerangka Hinduisme, Buddhisme, Jainisme (Bjoness dalam Redig, 2016:92).

Tantrisme pada mulanya merupakan sains esoterik, tetapi kemudian berkembang menjadi paham keagamaan. Ajarannya tiudak mengingkari kehidupan dunia material dan tidak mengabaikan dunia rohaniah. Menurut paham ini, manusia bijak adalah manusia yang dapat mengembangkan kehidupan

(11)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

281 jasmaniah dan rohaniah. Paham ini dikenal dengan paham Tantra. Diberikan nama demikian karena, kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam ajarannya menggunakan kitab Tantra. Dengan menggunakan kitab Tantra sebagai rujukan, paham Tantra ini disebut Tantrayana. Dewa pujaannya adalah sakti (Dewi Ibu) kekuatan feminisme para dewa.

Dalam konteks agama, Tantra merupakan teknik untuk mempercepat pencapaian tujuan agama atau realisasi sang diri dengan menggunakan berbagai medium, seperti mantra, yatra, mudra dan mandala. Pemujaan dewa-dewi termasuk mediumnya berupa arca (patung), praktik-praktik yoga juga dimaksudkan untuk realisai sang diri (atman, roh seseorang yang ada dalam tubuh). Dengan demikian, cukup beralasan bila banyak sarjana, antara lain Das Gupa dan T.R.V. Murti mengatakan bahwa Tantra adalah kombinasi yang unik antara mantra, upacara, dan pemujaan secara total. Di samping itu, dikatakan juga bahwa Tantra adalah agama dan filsafat yang berkembang dalam Hinduisme dan Buddhisme (Redig, 2016:92-93).

Berkenaan denga kata „bhairawa” dalam sebuah kitab Vijnana Bhairawa kata tersebut diartikan memelihara dunia, ra adalah akar kata ravana berarti mengembalikan dunia dan va adalah vanama berarti proyeksi dunia (Sing, 2007;203). Apa yang disebut “Sunyata adalah suatu keadaan tanpa bentuk, sunyi kosong, tenang. Keadaan seperti ini dalam Buddhisme lebih populer dengan istilah Nirwana atau jiwanmukti (moksa). Dalam Hinduisme, baik paham Tantra maupun Bhirawa, ajaran filosofinya sama, yaitu mengerahkan manusia untuk mencapai cita-cita ideal jiwanmukti. Perbedaannya terletak pada cara pencapaiannya, yaitu ada yang dengan cara esoterik, perenungan ke dalam melihat sang diri dan ada dengan cara eksoterik, melihat dunia luar. Jalan pertama disebut Jnana dan jalan kedua karma, yang pertama halus, yang kedua kasar. Jalan inilah yang disebut Niwertiwarga (esoterik) dan Prawertimarga (eksoterik) (Avalon,1991:78-9, 161,167).

3. Bentuk-bentuk Ikonografis Tantrisme

(12)

282

Tantra berbicara banyak hal termasuk pemujaan terhadap arca (patung).

Patung merupakan penyangga bagi seorang calon spiritual, dalam awal-awal spiritualnya. Sebuah gambaran atau wajah perlu untuk pemujaan pada tahap awal yang merupakan simbol luar dari Tuhan. Wujud yang nyata diperlukan bagi masyarakat luas untuk melakukan konsentrasi. Namun, dalam ajaran Tantra pemujaan terhadap patung dianggap tingkatan pemujaan paling rendah; yang paling baik adalah pemahaman tentang Brahman, yang kedua jnana dan dharana yang kedua mengucapkan mantra berulang-ulang dan pemujaan patung paling rendah (Amandamurti, 2008:144).

Dilihat dari aspek ikon atau patungnya (arca), ada kalanya arca berbentuk ugra (menyeramkan) ada juga berbentuk santa (tenang). Arca-arca dalam bentuk ugra atau menyeramkan lebih populer disebut sebagai arca Bhairawa.

Di Indonesia ada sejumlah arca yang ditemukan di berbagai tempat, sebagai dikemukakan Linus (1994) yang tergolong ke dalam arca Bhairawa. Arca- arca yang dimaksud sebagai berikut.

a. Arca Camunda dari percandian Singosari

Arca ini duduk di atas mayat dalam posisi tertelungkup. Dalam ajaran Tantra, ritual yang terkait dengan pemakaian mayat disebut Sava Sadhana.

Tempat yang ideal untuk melaksanakan ritual ini adalah rumah kosong, tepi sungai, gunung, tempat sunyi, tempat dekat kuburan, lapangan, peperangan, dan kuburan. Upacara ini diadakan pada tengah malam, pada waktu bulan gelap, hari kedelapan bulan gelap.

b. Arca Bhairawa Cakra-cakra

Diperkirakan arca ini ikut dipuja bersama-sama dengan arca Camunda di atas. Nama cakra-cakra adalah nama yang sesuai dengan nama yang ditulis pada bagian belakang arca tersebut. Arca ini sekarang tersimpan di Museum Leyden. Ciri-ciri sebagai Bhairwa adalah duduk di atas srigala, telanjang, menggunakan hiasan tengkorak. Mata melotot, mulut menganga, taring mencuat.

c. Arca Bhairawa dari Bairo Bahal (Sumatra)

(13)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

283 Arca ini digambarkan menari di atas mayat dengan atribut Vajra, mangkuk tengkorak, khatwangga, hiasan kepala, dan selempang berupa tengkorak.

d. Arca Bhairawa Pura Kebo Edan

Arca ini menari di atas mayat, dalam sikap alida (mengangkang) sehingga memperlihatkan tarian garang, hiasan ular membelit tangan, kaki, dan pergelangannya; rambut ikal; kelaminnya keluar mengarah ke kiri di antara cawatnya, diperkirakan sebagai gambaran bahwa tariannya hebat atau karena asyiknya.

Arca Bhairawa tersebut menyeramkan, menakutkan, garang, dan lain sebagainya. Semuanya ini simbolis bahwa hidup di dunia ini tidak bisa lepas dari kondisi yang menyeramkan, menakutkan, dan sebagainya. Bagaimana tidak menakutkan karena ritual-ritual Tantra Bhairawa dilaksanakan di kuburan. Pada saat permulaan seseorang pasti takut pergi ke kuburan, tetapi beberapa lama menjadi berani, demikian seterusnya. Jadi, di balik ajaran Tantra Bhairawa ada filosofis keberanian dalam menjalani kehidupan yang menantang. Akan tetapi, kemudian akan menemukan kehidupan yang santa (tenang) seperti yang diidam- idamkan semua ajaran agama.

Dalam kaitan Arca Buddhis Bhairawa koleksi Museum Nasional Jakarta jelaslah bahwa arca tersebut, tergolong ke dalam Arca Bhairawa karena ciri- cirinya menyeramkan, sebagai simbol keberanian. Selanjutnya apa kaitannya dengan arca Aksobhya yang santa dan siapa arca Aksobhya tersebut?

Aksobhya adalah satu dari lima Dhyani Buddha, dalam sebuah mandala penguasa arah barat. Empat Dhyani Buddha lainnya adalah Ratna Sambhawa (penguasa arah selatan), Amitabha (penguasa arah barat), Amogha Sidhi (penguasa arah utara), dan Wairocana (pengusaha arah tengah). Kelima Dhyana Buddha tersebut ada perwujudannya dalam candi Borobudur. Di Candi Borobudur terdapat 504 arca Dhyani Buddha. Semua arca ini dapat dikelompokan menjadi lima Dhyani Buddha dan tiap-tiap kelompok ditempatkan di berbagai arah (zona) sesuai dengan nama-nama Dhyani Buddha tersebut. Dari segi bentuk, semua arca tersebut bentuknya sama yaitu roman muka tenang, duduk bersila, tidak memakai

(14)

284

hiasan, hanya selembar jubah tipis menutupi badannya. Penggambaran demikian menunjukkan Buddha dalam kondisi sunyata, sunyi, kosong, atau nirwana. Dalam keadaan demikian dia adalah pasif. Sebaliknya, dalam wujudnya yang aktif disebut Bodhi Sattwa. Wujudnya yang aktif ini berurusan dengan keduniawian.

Misalnya, dunia tercipta disebabkan oleh Bodhi Sattwa (badan yang aktif). Badan yang aktif ini juga disebut dengan Sambhogakaya, sedangkan badan yang pasif disebut Dharmakaya.

Swabhakaya (Bodhisattwa) bila diwujudkan dalam bentuk arca, ia tampil seperti seorang raja muda (pangeran) dengan segala perhiasan. Akan tetapi, tidak semuanya berbentuk demikian (tampil sebagai raja muda). Ada juga yang digambarkan demonis, menyeramkan, mata melotot, dan sebagainya.

Berdasar paparan di atas jelaskan bahwa arca koleksi Museum Nasional Jakarta yang kini sedang dibahas adalah arca Boddhisattwa dalam wujud Ugra yang terkait dengan keduniaan sebagai simbol ajaran prawerti marga, sedangkan arca yang tenang (santa) yang menghiasi kepalanya adalah Dhyani Buddha (pasif) sebagai simbol Nirwana, yang ada kaitannya dengan ajaran niwerti marga. Jadi, di sini Prawerti dan Niwreti, dua jalan yang berbeda, tidak dipisahkan, bertolenransi.

4. Penutup

Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa arca–arca Buddhis bisa tampil dalam kondisi santa (tenang) dan bisa dalam kondisi Ugra (menyeramkan).

Terjadi demikian karena adanya dua paham yang berbeda, yaitu prawerti dan niwerti. Arca yang tampil santa adalah simbolis jalan jnana yaitu jalan yang tingkatannya lebih tinggi (niwerti) dibandingkan dengan jalan karma (prawerti) yang tingkatannya lebih rendah. Walaupun demikian, kedua aliran mempunyai sasaran yang sama, yaitu Nirwana.

(15)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

285 Daftar pusaka

Anandamurti, Shrii. 2008. Tantra Jalan Pembebasan. Vol 1. Penerbit Ananda Marga Indosesia.

Avalon, Arthur. 1991. Mahanirwana Tantra. (terjemahan oleh K. Nila). Denpasar:

penerbit PT Upada Sastra.

Banerji, S.C. 1978. Tantra in Bengal. Calcutta : Naya Prokash.

Kempers, A.J. Bernet. 1959. Ancient Indonesia Art. Harvard Univercity Press.

Liebert, Gosta. 1976. Icomography Dictionary of the Indian Relegius. Heiden: E.J. Brill.

Linus, I Ketut. 1994. “ Arca Berciri Bhairawa di Pura Erjeruk, Sukawati Gianyar.

Laporan Penelitian. Denpasar: Universitas Udayana.

Redig, I Wayan dan Nyoman Minta (editor). Cili Sebagai Simbol Kesuburan. Suatu Kajian Historis dan Religius. UPT Museum Bali, DinasKebudayaan Provinsi Bali.

Gambar 1. Budha Bhairawa di Museum Nasional Jakarta

(16)

286

Gambar

Gambar 1. Budha Bhairawa di Museum Nasional  Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Dilatarbelakangi oleh pemikiran tersebut Fakultas Geografi UMS menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Upaya Pengurangan Risiko Bencana Terkait Perubahan Iklim. Kegiatan

Berdasarkan pencocokan dengan daftar Swadesh dan daftar Leipzig-Jakarta, kosakata bahasa Indonesia sudah cukup mengakomodasi banyak kosakata dasar yang mencerminkan

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan atas limpahan berkat dan rahmatNya sehingga prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains yang diterbitkan oleh Program

Penelitian ini membahas representasi alam yang tergambar dalam unsur intrinsik dan usaha tokoh utama membuat apel tanpa pestisida dalam Manga Kiseki Ringo karya

Hal menarik dari trilogi ini dalam hubungannya dengan dunia mistis atau supranatural, yaitu pengarang tidak begitu saja menafikan peran-peran tradisi pada dunia modern yang

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan atas limpahan berkat dan rahmatNya sehingga prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains yang diterbitkan oleh Program

Kelurahan Sumerta dalam mengelola para migran di daerahnya' Akan tetapi belum jelas secara keilmuan, fenomena apakah yang terjadi di Kecamatan Sumerta'. Pada

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Kelurahan Sumerta melestarikan kebudayaan Bali dengan baik, khususnya melalui penggunaan bahasa Bali BB secara ajeg pada semua ranah,