SKRIPSI SKRIPSI
SISTEM
SISTEM PEMBAGIAN PEMBAGIAN HARTA WHARTA WARISAN ARISAN PADA PADA MASYARAKAMASYARAKATT AMMA
AMMATOWA DI KTOWA DI KABUPAABUPATEN TEN BULUKUMBULUKUMBABA
OLEH : OLEH : HIKSYANI NURKHADIJAH HIKSYANI NURKHADIJAH B 111 08 420 B 111 08 420 UNIVERSITAS HASANUDDIN UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS HUKUM FAKULTAS HUKUM
BAGIAN HUKUM KEPERDATAAN BAGIAN HUKUM KEPERDATAAN
MAKASSAR MAKASSAR
2013 2013
HALAMAN JUDUL HALAMAN JUDUL SISTEM
SISTEM PEMBAGIAN PEMBAGIAN HARTA HARTA WARISAN PADA SUKU AMMAWARISAN PADA SUKU AMMATOA DITOA DI KABUPA
KABUPATEN TEN BULUKUMBBULUKUMBAA
Oleh: Oleh: HIKSYANI NURKHADIJAH HIKSYANI NURKHADIJAH B111 08 420 B111 08 420 SKRIPSI SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Rangka Penyelesaian StudDalam Rangka Penyelesaian Studii Sarjana
Sarjana
Dalam Program Kekhususan/Bagian Hukum Perdata Dalam Program Kekhususan/Bagian Hukum Perdata
Program Studi Ilmu Hukum Program Studi Ilmu Hukum
Pada Pada FAKULTAS HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR MAKASSAR 2013 2013
PERSETUJUA
PERSETUJUAN N PEMBIMBINGPEMBIMBING
Diterangkan bahwa Skripsi dibawah ini : Diterangkan bahwa Skripsi dibawah ini :
N
N a a m m a a : : Hiksyani Hiksyani NurkhadijahNurkhadijah S
S t t b b : : B1B111108420108420 Program
Program Studi Studi : : Ilmu HukumIlmu Hukum Minat/bagian
Minat/bagian : : Hukum Hukum KeperdataanKeperdataan Judul
Judul Skipsi Skipsi : : Sistem Sistem Hukum Hukum PembagianPembagian
Warisan Pada Suku Ammatowa di Warisan Pada Suku Ammatowa di Kabupa
Kabupaten ten BulukumbaBulukumba Dasar
Dasar Penetapan Penetapan PembimbPembimbing : ing : 8959/UN4.6.8959/UN4.6.1/KP1/KP.23/201.23/20122
T
Telah diperiksa dan disetujui untuk elah diperiksa dan disetujui untuk dimajukan dalam ujian skripsi.dimajukan dalam ujian skripsi.
Disetujui oleh : Disetujui oleh :
Pembimbing
Pembimbing I I Pembimbing Pembimbing IIII
Prof.
Prof. DrDr. . H. H. Aminuddin Aminuddin Salle, Salle, S.H., S.H., M.H. M.H. DrDr. . Sri Sri Susyanti Susyanti NurNur, , S.H., S.H., M.H.M.H. NIP
PE
PE RSETUJUAN MENEMPUH UJIAN SKRIPSIRSETUJUAN MENEMPUH UJIAN SKRIPSI
Dengan ini menerangkan bahwa skripsi dari : Dengan ini menerangkan bahwa skripsi dari : Nama
Nama : : Hiksyani Hiksyani NurkhadijahNurkhadijah Nomor
Nomor Pokok : Pokok : B111 B111 08 08 420420 Bagian
Bagian : : Hukum Hukum KeperdataanKeperdataan Judul
Judul : : Sistem Sistem Hukum Hukum Pembagian Pembagian Warisan Warisan Pada Pada MasyarakatMasyarakat Ammatowa di Kabup
Ammatowa di Kabupaten Bulukumba.aten Bulukumba.
Memenuh syarat untuk diajukan dalam ujian skripsi sebagai ujian akhir Memenuh syarat untuk diajukan dalam ujian skripsi sebagai ujian akhir program studi.
program studi.
Makassar,
Makassar, Mei Mei 20132013 A.n. Dekan
A.n. Dekan
Wakil Dekan Bidang Akademik Wakil Dekan Bidang Akademik
Prof . Dr. Ir. Abrar Saleng, S.H.,M.H. Prof . Dr. Ir. Abrar Saleng, S.H.,M.H. NIP. 19630419 198903 1 003
ABSTRAK ABSTRAK HIKSYANI NURKHADIJAH
HIKSYANI NURKHADIJAH (B111 08 420) “Sistem Pembagian(B111 08 420) “Sistem Pembagian Harta Warisan Pada Masyaraka
Harta Warisan Pada Masyarakat Ammatoa Kabupaten Bulukumba”t Ammatoa Kabupaten Bulukumba” dibimbing oleh Bapak Aminuddin Salle selaku Pembimbing I dan Ibu Sri dibimbing oleh Bapak Aminuddin Salle selaku Pembimbing I dan Ibu Sri Susyanti Nur selaku Pembimbing II).
Susyanti Nur selaku Pembimbing II).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pembagian harta Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pembagian harta warisan pada masyarakat Ammatowa di Kabupaten Bulukumba dan untuk warisan pada masyarakat Ammatowa di Kabupaten Bulukumba dan untuk mengetahui hubungan obyek warisan dengan sistem kewarisan pada mengetahui hubungan obyek warisan dengan sistem kewarisan pada masyarakat Am
masyarakat Ammatowa di matowa di Kabupaten Bulukumba.Kabupaten Bulukumba.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bulukumba, tepatnya di Kecamatan Kajang, Desa Tana Towa sebagai tempat bermukimnya Kecamatan Kajang, Desa Tana Towa sebagai tempat bermukimnya penduduk asli Masyarakat Ammatowa, dengan teknik pengumpulan data penduduk asli Masyarakat Ammatowa, dengan teknik pengumpulan data dengan dua cara, yakni metode penelitian kepustakaan dan lapangan dengan dua cara, yakni metode penelitian kepustakaan dan lapangan yang terdiri dari wawancara dan observasi di lapangan. Data yang yang terdiri dari wawancara dan observasi di lapangan. Data yang dipergunakan
dipergunakan adalah data padalah data primer yaitu data rimer yaitu data yang dipeyang diperoleh langsung dariroleh langsung dari lapangan dengan menggunakan teknik wawancara, serta data skunder lapangan dengan menggunakan teknik wawancara, serta data skunder yang berupa studi kepustakaan. Analisis data yang digunakan yaitu yang berupa studi kepustakaan. Analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitatif dengan penarikan kesimpulan secara deskriptif.
analisis kualitatif dengan penarikan kesimpulan secara deskriptif.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah sistem kekerabatan Hasil penelitian yang diperoleh adalah sistem kekerabatan masyarakat Ammatoa menganut sistem keturunan Parental, yaitu dimana masyarakat Ammatoa menganut sistem keturunan Parental, yaitu dimana garis keturunan yang diambil dari kedua belah pihak ayah maupun ibu. garis keturunan yang diambil dari kedua belah pihak ayah maupun ibu. Sistem keturunan ini sangat
Sistem keturunan ini sangat berpengaruh pada sistem pembagian warisanberpengaruh pada sistem pembagian warisan nantinya. Sistem pembagian harta warisan pada masyarakat Ammatoa nantinya. Sistem pembagian harta warisan pada masyarakat Ammatoa terbagi atas 2, sistem pembagian warisan secara kolektif bergilir terbagi atas 2, sistem pembagian warisan secara kolektif bergilir (bersama-sama) dimana hasil dan pengelolaannya dilakukan secara (bersama-sama) dimana hasil dan pengelolaannya dilakukan secara bergilir sesuai dengan garis keturunan sebagaimana ajaran
bergilir sesuai dengan garis keturunan sebagaimana ajaran Pasang riPasang ri Kajang
Kajang yang menjadi pedoman masyarakat Ammatowa. Namun, sistemyang menjadi pedoman masyarakat Ammatowa. Namun, sistem kolektif ini hanya dikhususkan dalam pembagian harta warisan berupa kolektif ini hanya dikhususkan dalam pembagian harta warisan berupa tanah dan rumah, tanah yang di wariskan secara kolektif bergilir hanya tanah dan rumah, tanah yang di wariskan secara kolektif bergilir hanya kepada ahli waris laki-laki saja, rumah diwariskan secara kolektif bergilir kepada ahli waris laki-laki saja, rumah diwariskan secara kolektif bergilir kepada semua ahli waris, sedangkan untuk perhiasan dibagikan secara kepada semua ahli waris, sedangkan untuk perhiasan dibagikan secara individual kepada ahli waris perempuan saja. Dimana harta warisan individual kepada ahli waris perempuan saja. Dimana harta warisan tersbut tidak dapat di jual kepada orang lain selain kerabat yang tinggal tersbut tidak dapat di jual kepada orang lain selain kerabat yang tinggal didalam satu wilayah dengan ahli waris, meskipun kesemuanya adalah didalam satu wilayah dengan ahli waris, meskipun kesemuanya adalah masyarakat
masyarakat IlalangIlalang Embayya.Embayya.
KA
KATA PENG
TA PENGANTAR
ANTAR
AssalamualaikumAssalamualaikum Warahmatullahi Warahmatullahi WabarakatuhWabarakatuh Alhamdulillahi
Alhamdulillahi Rabbil Rabbil Alamin,Alamin, dengan memanjatkan puji syukurdengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan lahir dan bathin kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan lahir dan bathin berlindung kepada-Nya serta bertawaqal kepada-Nya dengan jalan berlindung kepada-Nya serta bertawaqal kepada-Nya dengan jalan mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita semua, mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita semua, khusunya nikmat sehat dan rezeki sehingga penulis dapat menyelesaikan khusunya nikmat sehat dan rezeki sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Kebesaran jiwa dan kasih sayang yang tak bertepi, penulisan skripsi ini. Kebesaran jiwa dan kasih sayang yang tak bertepi, doa yang tiada terputus
doa yang tiada terputus dari kedua orang tdari kedua orang tuaku yang tercinta, Ayahanuaku yang tercinta, Ayahanda Ir.da Ir. H. Syahruddin Saleh dan Ibunda Dr. Hj. Hikmawati Mustamin, S.H., M.H. H. Syahruddin Saleh dan Ibunda Dr. Hj. Hikmawati Mustamin, S.H., M.H. yang senantiasa selalu memberikan penulis curahan kasih sayang, yang senantiasa selalu memberikan penulis curahan kasih sayang, nasihat, perhatian, bimbingan serta doa restu yang selalu diberikan nasihat, perhatian, bimbingan serta doa restu yang selalu diberikan sampai saat ini. Kepada Idolaku, alm. Kakek Mr. Mustamin Dg. Matutu dan sampai saat ini. Kepada Idolaku, alm. Kakek Mr. Mustamin Dg. Matutu dan alm. Nenek St. Zaenab Dg. Bau yang tidak dapat menyaksikan secara alm. Nenek St. Zaenab Dg. Bau yang tidak dapat menyaksikan secara langsung, Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Kakak-Kakak langsung, Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Kakak-Kakak Penulis yakni Ahmad Syafari, ST., Arman Satari, ST., Aan Aswari, SH. Penulis yakni Ahmad Syafari, ST., Arman Satari, ST., Aan Aswari, SH. MH., Achmad Afandi, S.Kom., serta kakak-kakak Ipar Penulis beserta MH., Achmad Afandi, S.Kom., serta kakak-kakak Ipar Penulis beserta keponakan-keponakan, terimakasih atas perhatian, kejahilan dan kasih keponakan-keponakan, terimakasih atas perhatian, kejahilan dan kasih sayangnya selama ini dan serta berbagai pihak yang tulus ikhlas sayangnya selama ini dan serta berbagai pihak yang tulus ikhlas memberikan andil sejak awal hingga usainya penulis menempuh memberikan andil sejak awal hingga usainya penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Adapun tujuan p
Adapun tujuan penulis menyusun skripenulis menyusun skripsi ini adalah untuk memenuhisi ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan guna mengikuti Ujian Sarjana Hukum pada salah satu persyaratan guna mengikuti Ujian Sarjana Hukum pada
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Disamping . Disamping itu juga dimaksudkanitu juga dimaksudkan sebagai bahan masukan bagi instansi terkait yang ada relevansinya sebagai bahan masukan bagi instansi terkait yang ada relevansinya dengan pokok materi pembahasan serta sebagai penambah khasanah dengan pokok materi pembahasan serta sebagai penambah khasanah dan wawasan pengetahuan pada ilmu-ilmu hukum.
dan wawasan pengetahuan pada ilmu-ilmu hukum.
Sebagai manusia biasa, penulis menyadari dari setiap kata-kata Sebagai manusia biasa, penulis menyadari dari setiap kata-kata yang penulis tuangkan dalam penulisan ini jelas terlihat adanya banyak yang penulis tuangkan dalam penulisan ini jelas terlihat adanya banyak kekurangan, baik dari segi materi maupun dari segi teknik penulisannya kekurangan, baik dari segi materi maupun dari segi teknik penulisannya yang disebabkan oleh keterbatasan dan kemampuan yang penulis miliki. yang disebabkan oleh keterbatasan dan kemampuan yang penulis miliki.
Sejak awal hingga selesainya penyusunan skripsi ini, penulis Sejak awal hingga selesainya penyusunan skripsi ini, penulis mengalami banyak hambatan , namun berkat kerja keras, kesungguhan mengalami banyak hambatan , namun berkat kerja keras, kesungguhan dan bantuan dari berbagai pihak, baik secara materil maupun dari segi dan bantuan dari berbagai pihak, baik secara materil maupun dari segi moril, sehingga terwujudlah skripsi yang sederhana ini.
moril, sehingga terwujudlah skripsi yang sederhana ini. Atas
Atas segala segala bantuan bantuan tersebut, tersebut, sebagai sebagai tanda tanda rasa rasa syukur syukur dandan terimakasih, melalui kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa terimakasih, melalui kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa terimakasih dan penghargaan yang tulus yang setingg
terimakasih dan penghargaan yang tulus yang setinggi-tingginya atas budii-tingginya atas budi jasa yang tiada tern
jasa yang tiada ternilai, kepada:ilai, kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Idrus A Paturusi selaku Rektor Universitas 1. Bapak Prof. Dr. dr. Idrus A Paturusi selaku Rektor Universitas
Hasanuddin dan segenap seluruh jajarannya Hasanuddin dan segenap seluruh jajarannya
2. Ibu Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, S.H., M.H., selaku Dosen 2. Ibu Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing I dan Ibu Dr. Sri Susyanti Nur, S.H., M.H. selaku Pembimbing I dan Ibu Dr. Sri Susyanti Nur, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing II yang telah senantiasa meluangkan waktu Dosen Pembimbing II yang telah senantiasa meluangkan waktu memberikan bimbingan dan nasihat, memberikan ilmu, saran dan memberikan bimbingan dan nasihat, memberikan ilmu, saran dan masukan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
3.
3. Bapak ProBapak Prof. Dr. Aswanf. Dr. Aswanto, S.H., M.S., D.F.M. seto, S.H., M.S., D.F.M. selaku Dekan laku Dekan FakultasFakultas Hukum Universitas Hasanuddin beserta seluruh jajarannya.
Hukum Universitas Hasanuddin beserta seluruh jajarannya. 4.
4. Ibu Prof. Dr. Suryaman MuIbu Prof. Dr. Suryaman Mustari Pide, S.H., M.H., Bapak Prof. Dr.stari Pide, S.H., M.H., Bapak Prof. Dr. Anwar
Anwar Borahima, Borahima, S.H., S.H., M.H., M.H., Bapak Bapak Ramli Ramli Rahim, Rahim, S.H., S.H., M.H.,M.H., selaku penguji yang telah memberikan saran serta selaku penguji yang telah memberikan saran serta masukan-masukan selama penyusunan skripsi ini.
masukan selama penyusunan skripsi ini.
5. Ibu Dr. Nur Azisa, S.H., M.H., selaku Penasihat Akademik yang 5. Ibu Dr. Nur Azisa, S.H., M.H., selaku Penasihat Akademik yang selalu memberikan motivasi dan semangat kepada penulis selama selalu memberikan motivasi dan semangat kepada penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. 6.
6. Bapak Prof. Dr. AnwaBapak Prof. Dr. Anwar Borahima, S.H., M.H. selaku ketua bagianr Borahima, S.H., M.H. selaku ketua bagian Hukum Keperdataan dan Ibu Dr. Susyanti Nur, S.H., M.H. selaku Hukum Keperdataan dan Ibu Dr. Susyanti Nur, S.H., M.H. selaku sekretaris bagian Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas sekretaris bagian Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Hasanuddin.
7. Maha Guru dan dosen-dosen kami yang tiada lelah memberikan 7. Maha Guru dan dosen-dosen kami yang tiada lelah memberikan ilmunya guna peningkatan kadar keilmuan selama penulis ilmunya guna peningkatan kadar keilmuan selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. 8.
8. Seluruh Seluruh Staf Staf dan dan Karyawan Karyawan Fakultas Fakultas Hukum Hukum UniversitasUniversitas Hasanuddin, terimakasih atas bantuan dan fasilitas yang diberikan Hasanuddin, terimakasih atas bantuan dan fasilitas yang diberikan selama ini.
selama ini. 9.
9. Keluarga BeKeluarga Besar H. Mansyusar H. Mansyur Embas, S.Pd. dan r Embas, S.Pd. dan Ibu, serta KeluargaIbu, serta Keluarga Besar H. Mustapa terimakasih sedalam-dalamnya atas bantuan, Besar H. Mustapa terimakasih sedalam-dalamnya atas bantuan, kebersamaan serta memberikan keluarga baru bagi penulis selama kebersamaan serta memberikan keluarga baru bagi penulis selama berada di lokasi penelitian.
10.
10. Kepala Kepala Kecamatan Kecamatan Kajang Kajang beserta beserta seluruh seluruh stafnya stafnya yang tyang telahelah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di kantor daerahnya serta membantu saat penelitian.
kantor daerahnya serta membantu saat penelitian. 11.
11. Kepala Kepala Adat Adat MasyarakatMasyarakat Ammatowa, Bohe’ Amma yang telah Ammatowa, Bohe’ Amma yang telah bersedia di wawancarai dan seluruh masyarakat Ammatowa yang bersedia di wawancarai dan seluruh masyarakat Ammatowa yang bersedia membantu penulis demi kelancaran penelitian ini.
bersedia membantu penulis demi kelancaran penelitian ini. 12.
12. Da Da Mustamin, Mustamin, keluarga keluarga besar besar yang yang selalu selalu Penulis Penulis banggakan,banggakan, dukungan dan do’a tidak henti mengalir dari keluarga besar ini, dukungan dan do’a tidak henti mengalir dari keluarga besar ini, saya merasa bangga bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga saya merasa bangga bisa menjadi salah satu bagian dari keluarga ini.
ini. 13.
13. Buat sahabatku dari Buat sahabatku dari kecil dan kecil dan juga adalah juga adalah saudaraku saudaraku Tri Tri AbrianaAbriana Ma’ruf, S.H., Fadhila Ramadhana, S.Km., Hukma Ratu Purnama, Ma’ruf, S.H., Fadhila Ramadhana, S.Km., Hukma Ratu Purnama, S.E., Andi Tenri Syahirah, S.Ked, Rani Oktaviani, Nur Ihsana, S.E., Andi Tenri Syahirah, S.Ked, Rani Oktaviani, Nur Ihsana, Fadhilla Ratu Pratiwi, S.E., Rezky Selly Nazarina, yang senantiasa Fadhilla Ratu Pratiwi, S.E., Rezky Selly Nazarina, yang senantiasa membantu dalam suka maupun duka dan memberikan motivasi membantu dalam suka maupun duka dan memberikan motivasi kepada penulis hingga saat ini.
kepada penulis hingga saat ini. 14.
14. Gengges HMBBG Bu Ketua Gengg’s terkece Siti Haryati, WakilGengges HMBBG Bu Ketua Gengg’s terkece Siti Haryati, Wakil Ketua yang paling seksi Andi Nurfaizah AT, Bendahara kaka Ketua yang paling seksi Andi Nurfaizah AT, Bendahara kaka Syahrifilani dan Sekertaris pendekar Ayatul Asmaul Husna, S.H., Syahrifilani dan Sekertaris pendekar Ayatul Asmaul Husna, S.H., yang senantiasa menemani hingga akhir perjuangan, terimakasih yang senantiasa menemani hingga akhir perjuangan, terimakasih gadis-gadisku atas kebersamaan canda, tawa, cerita yang kalian gadis-gadisku atas kebersamaan canda, tawa, cerita yang kalian berikan selama 4 Tahun ini.
15.
15. Etyka Agriani, S.H., Etyka Agriani, S.H., yang selalu bersedia yang selalu bersedia menemani dari jauhmenemani dari jauh kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini, terima kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini, terima kasih atas semua support, omelan, dan doa tentunya. Semoga kasih atas semua support, omelan, dan doa tentunya. Semoga cepat jadi notaris sayang!
cepat jadi notaris sayang! 16.
16.Keluarga Kecil “Baji Iman” Yoghi, Nawar, Hasyim, Agus, Gilang,Keluarga Kecil “Baji Iman” Yoghi, Nawar, Hasyim, Agus, Gilang, Wawan, Akbar, Ridho, Didin, Saddam (para pejuang farmasi), Wawan, Akbar, Ridho, Didin, Saddam (para pejuang farmasi), Vitha, Riskah, Yhuli, Megha, Rini, Irha, Irma terima kasih atas Vitha, Riskah, Yhuli, Megha, Rini, Irha, Irma terima kasih atas kebersamaan
kebersamaan, dukungan, canda, t, dukungan, canda, tawa yang kalian hadirkan.awa yang kalian hadirkan. 17.
17. Keluarga Besar Unit Keluarga Besar Unit Kegiatan Mahasiswa Pencak Silat, Kegiatan Mahasiswa Pencak Silat, Bola VolleyBola Volley dan Sepak Bola Universitas Hasanuddin yang memberikan banyak dan Sepak Bola Universitas Hasanuddin yang memberikan banyak pengalaman
pengalaman, dan , dan semangat kepada penulissemangat kepada penulis 18.
18. Kawan-kawan Kawan-kawan KKN KKN Reguler Reguler Gelombang Gelombang 80 80 KecamatanKecamatan Mangarabombang dan khusunya Desa Laikang, Anita Delviana Mangarabombang dan khusunya Desa Laikang, Anita Delviana S.H., Kak Mahdi, Wawan, Akbar,
S.H., Kak Mahdi, Wawan, Akbar, dan Alm. Bangkit Libra Sanjaya.dan Alm. Bangkit Libra Sanjaya. 19.
19. Dotts Family, Dotts Family, Septo Caterino Septo Caterino Mawengkang, S.T., Mawengkang, S.T., Misael Misael MaambaMaamba Liamata, S.T., Andi Adi Rosyidi, S.T., dan Anita Delviana, S.H., Liamata, S.T., Andi Adi Rosyidi, S.T., dan Anita Delviana, S.H., terimakasih atas semua dorongannya dan semangatnya, sampai terimakasih atas semua dorongannya dan semangatnya, sampai ketemu di Baruga!
ketemu di Baruga! 20.
20. Sahabat-sahabSahabat-sahabatku atku yang syang senantiasa enantiasa memberikan memberikan motivasi kmotivasi kepadaepada penulis Andi Kartika Sari Sukma Praja, S.Kg, Mirza Septiani, penulis Andi Kartika Sari Sukma Praja, S.Kg, Mirza Septiani, Chintasih Masnitarini, Reza Trisna Pahlevi, S.Kom,
Chintasih Masnitarini, Reza Trisna Pahlevi, S.Kom, Umiy Ranindya,Umiy Ranindya, S.Kom, terimakasih banyak sayang!
21.
21. Buat Buat kawan-kawan-kawan NOTARIS ’08 dan Declazz Law08 Fakultkawan NOTARIS ’08 dan Declazz Law08 Fakultasas Hukum Universitas Hasanuddin.
Hukum Universitas Hasanuddin. 22.
22. Last but Last but not least, not least, kepada Azrie Kurniawan, kepada Azrie Kurniawan, S.Farm. Terima S.Farm. Terima KasihKasih atas kesabaran untuk mendampingi, memberikan masukan, atas kesabaran untuk mendampingi, memberikan masukan, dorongan semangat yang luar biasa, sampai akhirnya skripsi ini dorongan semangat yang luar biasa, sampai akhirnya skripsi ini bisa terselesaikan.
bisa terselesaikan. Atas
Atas segala segala bantuan, bantuan, kerjasama, kerjasama, uluran uluran tangan tangan yang yang telah telah diberikandiberikan dengan ikhlas hati kepada penulis selama menyelasikan studi hingga dengan ikhlas hati kepada penulis selama menyelasikan studi hingga rampungnya skripsi ini, tak ada kata yang dapat terucapkan selain rampungnya skripsi ini, tak ada kata yang dapat terucapkan selain terimakasih. Begitu banyak bantuan yang telah diberikan bagi penulis. terimakasih. Begitu banyak bantuan yang telah diberikan bagi penulis. Namun melalui doa dan harapan dari penulis semoga amal kebajikan Namun melalui doa dan harapan dari penulis semoga amal kebajikan yang telah disumbangkan dapat diterima dam memperoleh balasan yang yang telah disumbangkan dapat diterima dam memperoleh balasan yang lebih baik dari Sang Maha Sempurna Pemilik Segalanya, Allah SWT. lebih baik dari Sang Maha Sempurna Pemilik Segalanya, Allah SWT. Amin
Amin
Makassar,
Makassar, April April 20132013 Penulis
Penulis
HIKSYANI NURKHADIJAH HIKSYANI NURKHADIJAH
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL HALAMAN JUDUL... .. ii PENGESAHAN SKRIPSI PENGESAHAN SKRIPSI... ... IiIi PERSETUJUAPERSETUJUAN PEMN PEMBIMBINGBIMBING... ... iiiiii PERSETUJUA
PERSETUJUAN MENEMPUH N MENEMPUH UJIAN SKRIPSIUJIAN SKRIPSI... ... iviv ABSTRAK
ABSTRAK... ... vv KA
KATA PENGTA PENGANTARANTAR... .. vivi DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... ... xiixii BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakan
A. Latar Belakang Masalah …...g Masalah …... ...1...1 B. Rumusan Masalah …... B. Rumusan Masalah …...9...9 C. Tujuan Penelitian C. Tujuan Penelitian …...…...9...9 D. Manfaat Penelitian …... D. Manfaat Penelitian …...10...10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian dan Istilah …
A. Pengertian dan Istilah …... ...11...11 1.
1. Sistem Sistem Kekerabatan Kekerabatan ...11...11 2.
2. Hukum Waris Adat …...Hukum Waris Adat …...13...13 3.
3. Sifat Sifat Hukum Hukum Waris Waris Adat Adat ... ... ....17....17 4.
4. Istilah Istilah dalam dalam Hukum Hukum Waris Waris Adat Adat ... ...18...18 B.
Asas-B. Asas-asas Hukum Kewarisan Adat …...asas Hukum Kewarisan Adat …...22...22 i.
i. Asas Ketuhana Asas Ketuhanan Yn Yang Maha Esa …ang Maha Esa …...22...22 ii.
iii.
iii. Asas Persatuan … Asas Persatuan …... ...25...25 iv.
iv. Asas Musyaw Asas Musyawarah Mufakat …...arah Mufakat …...26...26 v.
v. Asas Keadilan Sos Asas Keadilan Sosial …...ial …...27...27 C. Pewarisan Menurut Hukum Ada
C. Pewarisan Menurut Hukum Adat …...t …...27...27 i.
i. Sistem Keturunan …...Sistem Keturunan …...27...27 ii.
ii. Sistem Kewarisan …...Sistem Kewarisan …...30...30 iii.
iii. Harta Warisan …...Harta Warisan …... ...33...33 BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian …
A. Lokasi Penelitian …... ...37...37 B. Populasi dan Sampel ...37 B. Populasi dan Sampel ...37 C. Jenis dan Sumber Data …...
C. Jenis dan Sumber Data …...38...38 D. T
D. Teknik Pengumpulan Data …...eknik Pengumpulan Data …...38...38 E. Analisis Dat
E. Analisis Data …...a …...39...39 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.
A. Profil Lokasi PeneliProfil Lokasi Penelitiantian ………..………...40.40 1.
1. Kondisi GeKondisi Geografis Desa ografis Desa TTana Tana Towa ...owa ...4040 2.
2. Kondisi MaKondisi Masyarakat di Kawsyarakat di Kawasan asan Adat Adat Ammatoa ...44Ammatoa ...44 3.
3. Gambaran Sejarah Gambaran Sejarah TTerbentuknya Kawasan erbentuknya Kawasan AdatAdat Ammatoa ...
Ammatoa ... ... 4646 B. Sistem Kekerabatan Pada Masyarakat Ammatoa di
B. Sistem Kekerabatan Pada Masyarakat Ammatoa di Kabupa
Kabupaten Bulukumba ...ten Bulukumba ...………...……….………...50..50 1.
1. Bentuk KBentuk Kekerabatan ekerabatan Masyarakat Masyarakat Ammatoa Ammatoa ...50..50 2.
3.
3. Kedudukan Kedudukan Anak MAnak Masyarakat asyarakat Ammatoa Ammatoa ... 5757 C.
C. Sistem Pembagian Harta Sistem Pembagian Harta Warisan Pada Warisan Pada MasyarakatMasyarakat Ammatoa di Kabup
Ammatoa di Kabupaten Bulukumbaten Bulukumba ………a ………...……..……...58.58 BAB V PENUTUP
BAB V PENUTUP A.
A. KesimpulanKesimpulan ……….………..70.70 B. Saran
B. Saran ……….71.71 DAFTA
BAB I BAB I
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
A.
A. Latar Latar Belakang Belakang MasalahMasalah
Indonesia adalah Negara yang penduduknya mempunyai aneka Indonesia adalah Negara yang penduduknya mempunyai aneka ragam adat kebudayaan. Dalam adat kebudayaan tersebut terdapat ragam adat kebudayaan. Dalam adat kebudayaan tersebut terdapat juga
juga hal-hal hal-hal yang yang berkaitan berkaitan dengan dengan hukum. hukum. SebagaimanSebagaimana a yangyang tertuang dalam UUD 1945 pasal 18B ayat (2)
tertuang dalam UUD 1945 pasal 18B ayat (2) yang berbunyi :yang berbunyi : “Negara mengakui dan menghormati kesatuan
“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam
undang-undang-undang”.undang”.
Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono, dalam sambutannya pada Peringatan Hari Internasional Masyarakat dalam sambutannya pada Peringatan Hari Internasional Masyarakat Hukum Adat Sedunia menyatakan bahwa,
Hukum Adat Sedunia menyatakan bahwa,
“..., kesatuan masyarakat hukum adat diakui dan dihormati, “..., kesatuan masyarakat hukum adat diakui dan dihormati, sepanjang masih hidup. Artinya, hukum adat itu masih berlaku dan sepanjang masih hidup. Artinya, hukum adat itu masih berlaku dan masih dianut oleh masyarakat hukum
masih dianut oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutanadat yang bersangkutan”.”.11
Meskipun demikian, keberlakuan hukum adat tersebut terbatas Meskipun demikian, keberlakuan hukum adat tersebut terbatas hanya pada bidang-bidang hukum tertentu, dimana salah satu dari hanya pada bidang-bidang hukum tertentu, dimana salah satu dari bidang hukum yang dimaksud adalah bidang hukum kewarisan. Untuk bidang hukum yang dimaksud adalah bidang hukum kewarisan. Untuk
1
1.. ““Sambutan Sambutan Peringatan Peringatan Hari Hari Internasional Internasional Masyarakat Masyarakat Hukum Hukum Adat Adat SeduniaSedunia”,”, http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=comcontent&
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=comcontent& ttask=view&id=2055&Itemid=70ask=view&id=2055&Itemid=70 1, 27 November 2012
masalah kewarisan belum ada hukum waris nasional ataupun masalah kewarisan belum ada hukum waris nasional ataupun undang-undang yang mengatur mengenai masalah pewarisan bagi seluruh undang yang mengatur mengenai masalah pewarisan bagi seluruh warga negara Indonesia. Sampai saat ini, masih terdapat pluralisme warga negara Indonesia. Sampai saat ini, masih terdapat pluralisme hukum waris di Indonesia. Hukum waris yang berlaku di Indonesia hukum waris di Indonesia. Hukum waris yang berlaku di Indonesia terdiri atas hukum waris menurut hukum Perdata Barat, menurut terdiri atas hukum waris menurut hukum Perdata Barat, menurut hukum Islam dan hukum waris
hukum Islam dan hukum waris menurut hukum Adat.menurut hukum Adat.
Masing-masing hukum waris tersebut berlaku pada subjek Masing-masing hukum waris tersebut berlaku pada subjek hukum yang berbeda. Bagi mereka yang beragama Islam, berlaku hukum yang berbeda. Bagi mereka yang beragama Islam, berlaku hukum waris Islam dalam pembagian harta warisan dan dibolehkan hukum waris Islam dalam pembagian harta warisan dan dibolehkan apabila para ahli waris bersepakat untuk membagi harta warisan apabila para ahli waris bersepakat untuk membagi harta warisan tersebut dengan hukum waris lain, misalnya hukum waris adat yang tersebut dengan hukum waris lain, misalnya hukum waris adat yang dianut oleh mereka. Namun, jika terjadi sengketa dalam pembagian dianut oleh mereka. Namun, jika terjadi sengketa dalam pembagian harta warisan, para ahli waris tidak dapat memilih hukum waris mana harta warisan, para ahli waris tidak dapat memilih hukum waris mana yang akan digunakan dalam membagi warisan tersebut
yang akan digunakan dalam membagi warisan tersebut22..
Masalah Warisan berkaitan dengan aturan-aturan yang mengatur Masalah Warisan berkaitan dengan aturan-aturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda dari suatu angkatan dan barang-barang yang tidak berwujud benda dari suatu angkatan manusia kepada keturunannya
manusia kepada keturunannya33. Jadi dalam hal ini masalah warisan. Jadi dalam hal ini masalah warisan erat kaitannya dengan masalah harta kekayaan.
erat kaitannya dengan masalah harta kekayaan.
Masyarakat adat Indonesia mempunyai hukum adat waris Masyarakat adat Indonesia mempunyai hukum adat waris sendiri-sendiri. Biasanya hukum adat mereka dipengaruhi oleh sistem sendiri-sendiri. Biasanya hukum adat mereka dipengaruhi oleh sistem
2
2.. Soerojo Wignjodipoero SH .Soerojo Wignjodipoero SH .Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat . Jakarta: Gunung Agung.. Jakarta: Gunung Agung. 1995. hlm. 173
kekeluargaan dan sistem perkawinan yang mereka anut. Hukum
kekeluargaan dan sistem perkawinan yang mereka anut. Hukum wariswaris yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia sampai sekarang yang berlaku di kalangan masyarakat Indonesia sampai sekarang masih bersifat pluralistis, yaitu ada yang tunduk kepada hukum waris masih bersifat pluralistis, yaitu ada yang tunduk kepada hukum waris Perdata, Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Adat. Masyarakat Perdata, Hukum Waris Islam dan Hukum Waris Adat. Masyarakat Indonesia yang terdiri atas beragam suku bangsa memiliki adat Indonesia yang terdiri atas beragam suku bangsa memiliki adat istiadat dan hukum adat yang beragam antara yang satu dengan yang istiadat dan hukum adat yang beragam antara yang satu dengan yang lainnya berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikan lainnya berbeda dan memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikan hukum adat termasuk di dalamnya hukum waris menjadi pluralistis hukum adat termasuk di dalamnya hukum waris menjadi pluralistis pula.
pula.
Hukum waris suatu golongan masyarakat sangat dipengaruhi Hukum waris suatu golongan masyarakat sangat dipengaruhi oleh bentuk kekerabatan dari masyarakat itu sendiri, setiap oleh bentuk kekerabatan dari masyarakat itu sendiri, setiap kekerabatan atau kekeluargaan memiliki sistem hukum waris kekerabatan atau kekeluargaan memiliki sistem hukum waris sendiri-sendiri. Sistem kekerabatan ini berpengaruh dan sekaligus sendiri. Sistem kekerabatan ini berpengaruh dan sekaligus membedakan masalah hukum kewarisan, disamping itu juga antara membedakan masalah hukum kewarisan, disamping itu juga antara sistem kekerabatan yang satu dengan yang lain dalam hal sistem kekerabatan yang satu dengan yang lain dalam hal perkawinan
perkawinan44.. Adat
Adat istiadat istiadat merupakan merupakan salah salah satu satu perekat perekat sosial sosial dalamdalam kehidupan berbangsa, khususnya dalam kehidupan masyarakat yang kehidupan berbangsa, khususnya dalam kehidupan masyarakat yang heterogen. Indonesia terdiri atas suku bangsa dengan adat istiadat heterogen. Indonesia terdiri atas suku bangsa dengan adat istiadat masing-masing yang berusaha dipadukan dalam konsep negara masing-masing yang berusaha dipadukan dalam konsep negara “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu konsep kesatuan dalam “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu konsep kesatuan dalam keanekaragaman.
keanekaragaman. 4.
Beberapa suku dengan populasi terbesar seperi suku Jawa, Beberapa suku dengan populasi terbesar seperi suku Jawa, Sunda, Bali, Minangkabau, Melayu, Deli, Ambon, Aceh, Papua, Bugis Sunda, Bali, Minangkabau, Melayu, Deli, Ambon, Aceh, Papua, Bugis Makassar, dan berpuluh-puluh suku dengan populasi relatif kecil Makassar, dan berpuluh-puluh suku dengan populasi relatif kecil lainnya, telah dikenal adat istiadatnya yang spesifik dengan lainnya, telah dikenal adat istiadatnya yang spesifik dengan karakternya masing-masing. Sistem kewarisan adat yang berbeda karakternya masing-masing. Sistem kewarisan adat yang berbeda antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lain merupakan salah antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lain merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa tak ternilai dan patut dipertahankan satu kekayaan budaya bangsa tak ternilai dan patut dipertahankan sebagai bagian dari sistem budaya nasional. Ketaatan suatu suku, sebagai bagian dari sistem budaya nasional. Ketaatan suatu suku, termasuk ketaatanny
termasuk ketaatannya untuk a untuk tetap menjunjung tinggi tetap menjunjung tinggi sistem kewarisansistem kewarisan adat, merupakan nilai
adat, merupakan nilai – –nilai luhur yang dapat membendung pengaruhnilai luhur yang dapat membendung pengaruh budaya luar yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan bangsa dan budaya luar yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan bangsa dan budaya nasional.
budaya nasional.
Suku Bugis merupakan salah satu dari empat suku utama yang Suku Bugis merupakan salah satu dari empat suku utama yang mendiami Sulawesi Selatan, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan mendiami Sulawesi Selatan, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Selain itu terdapat juga suku-suku kecil dan masyarakat lokal Toraja. Selain itu terdapat juga suku-suku kecil dan masyarakat lokal dengan bahasa dan dialeknya masing-masing (di luar empat bahasa dengan bahasa dan dialeknya masing-masing (di luar empat bahasa daerah utama) yaitu
daerah utama) yaitu MassenrenpuluMassenrenpulu (Enrekang), Selayar, Malili, (Enrekang), Selayar, Malili, Kajang, dan Balangnipa. Suku-suku tersebut kecuali suku Toraja yang Kajang, dan Balangnipa. Suku-suku tersebut kecuali suku Toraja yang mayoritas Kristen dan masih kuat menganut adat “
mayoritas Kristen dan masih kuat menganut adat “
alu’ tudolo” yaitu
alu’ tudolo
” yaitu adat turun temurun yang cenderung animisne, maka hampir semua adat turun temurun yang cenderung animisne, maka hampir semua suku lainnya menganut agama Islam beserta hukum waris adatnya. suku lainnya menganut agama Islam beserta hukum waris adatnya. MasyarakatMasyarakat Ammatoa Ammatoa Kajang yang masih termasuk suku Bugis Kajang yang masih termasuk suku Bugis Makassar merupakan penkecualian oleh karena pengaruh agama Makassar merupakan penkecualian oleh karena pengaruh agama
Islam yang relatif kecil dan mereka masih kuat berpegang pada adat Islam yang relatif kecil dan mereka masih kuat berpegang pada adat istiadat lokal secara turun temurun
istiadat lokal secara turun temurun55.. Masyarakat
Masyarakat Ammatoa Ammatoa Kajang adalah salah satu masyarakat Kajang adalah salah satu masyarakat kecil suku Bugis Makassar yang mendiami bagian selatan Propinsi kecil suku Bugis Makassar yang mendiami bagian selatan Propinsi Sulawesi Selatan, yaitu di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Sulawesi Selatan, yaitu di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, yang berjarak kurang lebih 240 km dari Kota Kabupaten Bulukumba, yang berjarak kurang lebih 240 km dari Kota Makassar. Keunikan masyarakat
Makassar. Keunikan masyarakat Ammatoa Ammatoa terletak pada kepercayaan terletak pada kepercayaan ““Patuntung Patuntung ” yang dianut turun temurun dan mempercayai adanya” yang dianut turun temurun dan mempercayai adanya ““Turie’ A
Turie’ Akra’
kra’kna
kna ́́
sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa yang mengatursebagai Tuhan Yang Maha Kuasa yang mengatur kehidupan mereka. Kehidupan mereka sangat terbelakang bukan kehidupan mereka. Kehidupan mereka sangat terbelakang bukan karena tidak terjangkau oleh pembangunan. Prinsip atau sikap hidup karena tidak terjangkau oleh pembangunan. Prinsip atau sikap hidup mereka yang masih memilih “mereka yang masih memilih “kamase-maseakamase-masea” atau sederhana,” atau sederhana, sehingga mereka menolak semua program pembangunan masuk di sehingga mereka menolak semua program pembangunan masuk di desanya. Mereka tidak mengenal jalan aspal, penerangan listrik, desanya. Mereka tidak mengenal jalan aspal, penerangan listrik, sarana dan prasarana kehidupan kota/desa pada umumnya. Dalam sarana dan prasarana kehidupan kota/desa pada umumnya. Dalam kehidupan sehari-hari mereka memilih cara hidup sederhana dan apa kehidupan sehari-hari mereka memilih cara hidup sederhana dan apa adanya sebagai ba
adanya sebagai bagian dari “gian dari “Pasang Pasang ” yaitu “” yaitu “tallasa’ kamase
tallasa’ kamase-masea
-masea”.”. PasangPasang bentuknya berupa mitos, etiologi, legenda, maupun bentuknya berupa mitos, etiologi, legenda, maupun tema dan isinya adalah sesuatu yang dijumpai pada masyarakat tema dan isinya adalah sesuatu yang dijumpai pada masyarakat manapun di Indonesia. Hanya saja bagi masyarakat
manapun di Indonesia. Hanya saja bagi masyarakat Ammatoa Ammatoa,, Pasang
Pasang adalah adat kebiasaan yang mengikuti mereka sejak lahir,adalah adat kebiasaan yang mengikuti mereka sejak lahir, sampai meninggal, termasuk adat kebiasaan, kepercayaan, yang sampai meninggal, termasuk adat kebiasaan, kepercayaan, yang 5
5. Mustara.. Mustara.Perkembangan Hukum Waris Adat di Sulawesi Selatan FH UnhasPerkembangan Hukum Waris Adat di Sulawesi Selatan FH Unhas. Laporan Penataran. Laporan Penataran FH-UGM: Makassar, 1978, hal. 15
berkaitan dengan pembagian harta warisan. Dalam bentuknya yang berkaitan dengan pembagian harta warisan. Dalam bentuknya yang tidak tertulis, dimungkinkan
tidak tertulis, dimungkinkan PasangPasang untuk menjadi tidak teratur, makauntuk menjadi tidak teratur, maka perlu ada yang melestarikannya dan menjaganya. Yang melestarikan perlu ada yang melestarikannya dan menjaganya. Yang melestarikan dan mejaganya adalah
dan mejaganya adalah Ammatoa Ammatoa selaku pemimpin adat dan pemimpin selaku pemimpin adat dan pemimpin desa, wakil nenek moyang dan
desa, wakil nenek moyang dan dibantu pemimpin adat lainnyadibantu pemimpin adat lainnya66.. Terdapat makna yang jelas keterkaitan antara
Terdapat makna yang jelas keterkaitan antara PasangPasang dalamdalam kehidupan sehari-hari.
kehidupan sehari-hari. PasangPasang adalah keseluruhan aturan yang harusadalah keseluruhan aturan yang harus diikuti oleh warga
diikuti oleh warga masyarakatmasyarakat Ammatoa, Ammatoa, dan menjadi tanggung jawabdan menjadi tanggung jawab tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan
tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan PasangPasang agaragar dilaksanakan dengan baik dan memberikan sanksi atas dilaksanakan dengan baik dan memberikan sanksi atas pelanggarannya.
pelanggarannya. Masyarakat
Masyarakat Ammatoa Ammatoa Kajang dipimpin oleh seorang tetua Kajang dipimpin oleh seorang tetua terpilih dengan sebutan
terpilih dengan sebutan
Bohe’ Amma
Bohe’ Amma
yang dibantu oleh 26 pemangku yang dibantu oleh 26 pemangku adat atau disebutadat atau disebut GallaGalla (menteri) yang memiliki tugas masing-masing. (menteri) yang memiliki tugas masing-masing. Kajang terbagi menjadi dua wilayah,
Kajang terbagi menjadi dua wilayah, Ilalang EmbayyaIlalang Embayya (kajang dalam)(kajang dalam) dan
dan Ipantarang Embayya Ipantarang Embayya (kajang luar). Wilayah kajang luar(kajang luar). Wilayah kajang luar merupakan wilayah yang menerima modernisasi, sedangkan wilayah merupakan wilayah yang menerima modernisasi, sedangkan wilayah kajang dalam merupakan wilayah adat yang mempertahankan tradisi kajang dalam merupakan wilayah adat yang mempertahankan tradisi dan menolak modernisasi.
dan menolak modernisasi. Masyarakat
Masyarakat Ammatoa Ammatoa betul-betul memegang teguh pesan betul-betul memegang teguh pesan lontara, yaitu
lontara, yaitu Pasang ri Kajang Pasang ri Kajang menyimpan pesan-pesan luhur. Yakni, menyimpan pesan-pesan luhur. Yakni,
6
penduduk Tana Towa harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Lalu, penduduk Tana Towa harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Lalu, harus memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan. harus memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan. Masyarakat
Masyarakat Ammatoa Ammatoa juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar, juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar, dan tawakal.
dan tawakal. Pasang ri Kajang Pasang ri Kajang juga mengajak untuk taat pada aturan, juga mengajak untuk taat pada aturan, dan melaksanakan semua aturan itu sebaik-baiknya.
dan melaksanakan semua aturan itu sebaik-baiknya. Masyarakat adat
Masyarakat adat Ammatoa Ammatoa tinggal berkelompok dalam suatu tinggal berkelompok dalam suatu area hutan yang luasnya sekitar 50 km. Mereka menjauhkan diri dari area hutan yang luasnya sekitar 50 km. Mereka menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi, segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal moderenisasi, kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Mungkin kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Bulukumba. Mungkin disebabkan oleh hubungan masyarakat adat dengan lingkungan disebabkan oleh hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang mereka yakini.
mereka yakini.
Gaya hidup yang bersandar pada petuah dan ajaran-ajaran Gaya hidup yang bersandar pada petuah dan ajaran-ajaran leluhur sebagai pandangan hidup masih dipegang teguh sampai leluhur sebagai pandangan hidup masih dipegang teguh sampai sekarang. Berpakaian hitam-hitam dilengkapi penutup kepala yang sekarang. Berpakaian hitam-hitam dilengkapi penutup kepala yang juga
juga berwarna berwarna hitam hitam atau atau biasa biasa disebutdisebut pasappu pasappu dalam bahasa dalam bahasa setempat, dan sarung berwarna hitam atau disebut
setempat, dan sarung berwarna hitam atau disebut Tope lelleng Tope lelleng .. Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan Hitam merupakan sebuah warna adat yang kental akan kesakralan dan bila memasuki kawasan
dan bila memasuki kawasan Ammatoa Ammatoa, pakaian harus berwarna, pakaian harus berwarna hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat
hitam. Warna hitam mempunyai makna bagi Mayarakat Ammatoa Ammatoa sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan. tidak ada warna hitam yang lebih baik antara dalam kesederhanaan. tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna yang satu dengan yang lainnya. Semua hitam adalah sama. Warna
hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi depan sang pencipta. Kesamaan dalam bentuk wujud lahir, menyikapi keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keadaan lingkungan, utamanya kelestarian hutan yang harus di jaga keasliannnya sebagai sumber k
keasliannnya sebagai sumber kehidupanehidupan.. Sistem hukum adat komunitas
Sistem hukum adat komunitas Ammatoa Ammatoa termasuk sistem hukum termasuk sistem hukum warisnya adalah mengikuti “
warisnya adalah mengikuti “Pasang”
Pasang”
(pesan, amanat tidak tertulis)(pesan, amanat tidak tertulis) yang dipercayai sebagai norma/aturan yang datang dariyang dipercayai sebagai norma/aturan yang datang dari TuriekTuriek Akrakna
Akrakna (Tuhan yang Maha Berkehendak atau yang Maha Kuasa)(Tuhan yang Maha Berkehendak atau yang Maha Kuasa) yang disampaikan melalui
yang disampaikan melalui Ammatoa Ammatoa sebagai representasi darisebagai representasi dari TuriekTuriek Akrakna
Akrakna. Komunitas. Komunitas Ammatoa Ammatoa menganut sistem keturunan parental menganut sistem keturunan parental atau bilateral, dimana laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang atau bilateral, dimana laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama terhadap harta warisan. Harta warisan dikelola menurut sistem sama terhadap harta warisan. Harta warisan dikelola menurut sistem kolektip bergilir, atau harta warisan tidak dibagi-bagi kepada para kolektip bergilir, atau harta warisan tidak dibagi-bagi kepada para waris tetapi secara keseluruhan dikelola secara bergilir untuk waris tetapi secara keseluruhan dikelola secara bergilir untuk memperoleh dan menikmati hasilnya. Proses pewarisan berlangsung memperoleh dan menikmati hasilnya. Proses pewarisan berlangsung selama kedua orangtua (pewaris) masih hidup. Jika salah satu masih selama kedua orangtua (pewaris) masih hidup. Jika salah satu masih hidup tetapi sakit atau uzur maka waris
hidup tetapi sakit atau uzur maka waris tertua mengelola harta warisantertua mengelola harta warisan (pola kolektip mayorat) untuk dinikmati hasilnya secara bersama (pola kolektip mayorat) untuk dinikmati hasilnya secara bersama seluruh waris.
seluruh waris.
Dalam pembagian harta waris, masyarakat
Dalam pembagian harta waris, masyarakat Ammatoa Ammatoa (Ilalang(Ilalang Embayya)
Embayya) mengenal adanya pembagian warisan menurut garismengenal adanya pembagian warisan menurut garis keturunan. Dimana garis keturunan tersebut memiliki masing-masing keturunan. Dimana garis keturunan tersebut memiliki masing-masing bagian warisan yang ditinggalkan oleh leluhurnya, dikelola bagian warisan yang ditinggalkan oleh leluhurnya, dikelola
bersama-sama secara turun temurun sebagaimana yang telah dituliskan dalam sama secara turun temurun sebagaimana yang telah dituliskan dalam Pasang
Pasang . Sedangkan pembagian warisan pada masyarakat. Sedangkan pembagian warisan pada masyarakat Ammatoa Ammatoa ((Ipantarang Embayya)Ipantarang Embayya) sudah berbeda, yakni menganut sistem sudah berbeda, yakni menganut sistem pembagian warisan menurut Hukum Islam.
pembagian warisan menurut Hukum Islam.
Dengan adanya kenyataan seperti yang diuraikan diatas, Dengan adanya kenyataan seperti yang diuraikan diatas, membuat penulis merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh membuat penulis merasa tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai sistem hukum pembagian warisan pada suku
mengenai sistem hukum pembagian warisan pada suku Ammatoa Ammatoa didi Kabupa
Kabupaten ten Bulukumba.Bulukumba.
B. Rumusan Masalah B. Rumusan Masalah
2.
2. Bagaimanakah Bagaimanakah sistem sistem kekerabatan kekerabatan pada pada masyarakatmasyarakat Ammatoa di Kabup
Ammatoa di Kabupaten Bulukumba?aten Bulukumba? 3.
3. Bagaimanakah pembagian Bagaimanakah pembagian harta warisan harta warisan pada masyarakatpada masyarakat Ammatoa di Kabup
Ammatoa di Kabupaten Bulukumbaaten Bulukumba??
C. Tujuan Penelitian C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui sistem kekerabatan pada masyarakat 1. Untuk mengetahui sistem kekerabatan pada masyarakat
Ammatoa di Kabup
Ammatoa di Kabupaten Bulukumbaaten Bulukumba.. 2.
2. Untuk mengUntuk mengetahui pembaetahui pembagian harta gian harta warisan padwarisan pada masyarakata masyarakat Ammatoa di Kabup
Ammatoa di Kabupaten Bulukumba.aten Bulukumba.
D. Manfaat Penelitian D. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dijadikan 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dijadikan
sebagai bahan referensi sekaligus sebagai bahan wacana sebagai bahan referensi sekaligus sebagai bahan wacana bagi semua pihak yang berkepentingan dalam rangka bagi semua pihak yang berkepentingan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan secara umum dan pengembangan ilmu pengetahuan secara umum dan pengembangan hukum keperdataan secara khusus dengan pengembangan hukum keperdataan secara khusus dengan bidang hukum kewarisan.
bidang hukum kewarisan.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan wawasan khasanah ilmu pengetahuan bagi aparat dan wawasan khasanah ilmu pengetahuan bagi aparat pemerintahan dan masyarakat dalam rangka memahami pemerintahan dan masyarakat dalam rangka memahami sistem kekerabatan dan pembagian warisan pada suku sistem kekerabatan dan pembagian warisan pada suku Ammatoa di Kabup
BAB II BAB II
TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA
A.
A. Pengertian Pengertian dan dan IstilahIstilah 1. Sistem Kekerabatan 1. Sistem Kekerabatan
Menurut bahasa, sistem kekerabatan terdiri atas dua kata, Menurut bahasa, sistem kekerabatan terdiri atas dua kata, yakni sistem dan kekerabatan. Sistem adalah metode
yakni sistem dan kekerabatan. Sistem adalah metode77, sedangkan, sedangkan
kerabat adalah keluarga atau sanak saudara. Jadi, sistem kerabat adalah keluarga atau sanak saudara. Jadi, sistem kekerabatan adalah metode untuk menentukan apakah seseorang kekerabatan adalah metode untuk menentukan apakah seseorang adalah keluarga atau sanak saudara bagi orang lainnya atau adalah keluarga atau sanak saudara bagi orang lainnya atau apakah seseorang termasuk bagian dari suatu masyarakat adat apakah seseorang termasuk bagian dari suatu masyarakat adat atau bukan.
atau bukan.
Soerjono Soekanto mengemukakan pendapatnya bahwa sistem Soerjono Soekanto mengemukakan pendapatnya bahwa sistem kekerabatan maupun prinsip garis keturunan adalah faktor-faktor kekerabatan maupun prinsip garis keturunan adalah faktor-faktor yang menjadi dasar bagi masyarakat suku-suku bangsa di yang menjadi dasar bagi masyarakat suku-suku bangsa di Indonesia.
Indonesia. Sistem kekerabatan menentukan bidang-bidang hukumSistem kekerabatan menentukan bidang-bidang hukum adat yang mengatur kehidupan pribadi dari masyarakat, seperti adat yang mengatur kehidupan pribadi dari masyarakat, seperti misalnya hukum keluarga dan hukum waris. Selanjutnya misalnya hukum keluarga dan hukum waris. Selanjutnya ditambahkan oleh Soerjono bahwa faktor-faktor inilah yang ditambahkan oleh Soerjono bahwa faktor-faktor inilah yang merupakan salah satu dasar pembeda antara berbagai suku merupakan salah satu dasar pembeda antara berbagai suku bangsa di Indonesia dan menjadi salah satu hal yang digunakan bangsa di Indonesia dan menjadi salah satu hal yang digunakan
7.
7. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”,“Kamus Besar Bahasa Indonesia”, http://pusatbahasa.diknas.gohttp://pusatbahasa.diknas.go..id/kbbi/index.php, diaksesid/kbbi/index.php, diakses pada 25 November 2012.
sebagai sarana untuk memelihara integritas suku bangsa sebagai sarana untuk memelihara integritas suku bangsa88..
Kemudian Soerjono Soekanto mengemukakan pengertian Kemudian Soerjono Soekanto mengemukakan pengertian masyarakat hukum adat sebagai kesatuan-kesatuan masyarakat masyarakat hukum adat sebagai kesatuan-kesatuan masyarakat yang mempunyai kelengkapan-kelengkapan untuk sanggup berdiri yang mempunyai kelengkapan-kelengkapan untuk sanggup berdiri sendiri yaitu mempunyai kesatuan hukum, kesatuan penguasa dan sendiri yaitu mempunyai kesatuan hukum, kesatuan penguasa dan kesatuan lingkungan hidup berdasarkan hak bersama atas tanah kesatuan lingkungan hidup berdasarkan hak bersama atas tanah dan air bagi semua anggotanya. Kehidupan bersama didasarkan dan air bagi semua anggotanya. Kehidupan bersama didasarkan pada gotong royong, tolong menolong
pada gotong royong, tolong menolong99..
Menurut Soepomo, masyarakat-masyarakat hukum adat di Menurut Soepomo, masyarakat-masyarakat hukum adat di Indonesia dapat dibagi atas dua golongan menurut dasar Indonesia dapat dibagi atas dua golongan menurut dasar susunannya, yaitu yang berdasarkan pertalian suatu keturunan susunannya, yaitu yang berdasarkan pertalian suatu keturunan (genealogis) dan yang berdasar lingkungan daerah (teritorial); (genealogis) dan yang berdasar lingkungan daerah (teritorial); kemudian hal itu ditambah lagi dengan susunan yang didasarkan kemudian hal itu ditambah lagi dengan susunan yang didasarkan pada kedua dasar tersebut di atas (territorial genealogis)
pada kedua dasar tersebut di atas (territorial genealogis)1010.. Dari Dari sudut bentuknya, maka masyarakat hukum adat tersebut ada yang sudut bentuknya, maka masyarakat hukum adat tersebut ada yang berdiri sendiri (tunggal), menjadi bagian dari masyarakat hukum berdiri sendiri (tunggal), menjadi bagian dari masyarakat hukum adat yang lebih t
adat yang lebih tinggi atau mencakup beberapa masyarakat hukuminggi atau mencakup beberapa masyarakat hukum adat yang lebih rendah (bertingkat), serta merupakan perserikatan adat yang lebih rendah (bertingkat), serta merupakan perserikatan dari beberapa masyarakat hukum adat yang sederajat dari beberapa masyarakat hukum adat yang sederajat (berangkai).
(berangkai).1111
Pada masyarakat yang teritorial, faktor pengikatnya adalah Pada masyarakat yang teritorial, faktor pengikatnya adalah
8
8. Soerjono Soekanto dan Soleman B. Taneko,. Soerjono Soekanto dan Soleman B. Taneko,Hukum Adat Indonesia,Hukum Adat Indonesia,Jakarta,Jakarta,1983,1983,hal. 56.hal. 56.
9
9. Soerjono Soekanto,. Soerjono Soekanto,Kamus Hukum Adat Kamus Hukum Adat , cet. ke-2, (Bandung: Alumni, 1982), hal. 150., cet. ke-2, (Bandung: Alumni, 1982), hal. 150.
10.
karena mereka bertempat tinggal di dalam wilayah yang sama atau karena mereka bertempat tinggal di dalam wilayah yang sama atau sama-sama berasal dari wilayah yang sama. Masyarakat yang sama-sama berasal dari wilayah yang sama. Masyarakat yang genealogis mendasarkan keterikatan di
genealogis mendasarkan keterikatan di antara anggota-anggotanyaantara anggota-anggotanya kepada hubungan darah yakni setiap orang dalam masyarakat itu kepada hubungan darah yakni setiap orang dalam masyarakat itu merasa terikat satu dengan yang lainnya karena sama-sama merasa terikat satu dengan yang lainnya karena sama-sama berasal dari hubungan darah yang sama. Sedangkan masyarakat berasal dari hubungan darah yang sama. Sedangkan masyarakat yang teritorial-genealogis mendasarkan keterikatan antar yang teritorial-genealogis mendasarkan keterikatan antar anggota-anggota
anggotanya pada tempat tinggal dan nya pada tempat tinggal dan adanya hubungan darah.adanya hubungan darah.
2. Hukum Waris Adat 2. Hukum Waris Adat
Hukum waris tidak saja terdapat dalam hukum adat, tetapi juga Hukum waris tidak saja terdapat dalam hukum adat, tetapi juga terdapat dalam hukum islam dan hukum barat. Hal ini bukan saja terdapat dalam hukum islam dan hukum barat. Hal ini bukan saja akibat adanya pembagian dalam Pasal 163 dan Pasal 131 I.S., tetapi akibat adanya pembagian dalam Pasal 163 dan Pasal 131 I.S., tetapi kenyataannya sekarang masih terasa dan terdapat pembagian itu. kenyataannya sekarang masih terasa dan terdapat pembagian itu. Untuk membedakan hukum waris dalam satu sistem hukum dengan Untuk membedakan hukum waris dalam satu sistem hukum dengan hukum waris dalam sistim hukum lainnya, maka dalam hal ini hukum waris dalam sistim hukum lainnya, maka dalam hal ini digunakan istilah hukum waris adat. Istilah waris belum ada kesatuan digunakan istilah hukum waris adat. Istilah waris belum ada kesatuan arti, baik yang ditemui dalam kamus hukum maupun sumber lainnya. arti, baik yang ditemui dalam kamus hukum maupun sumber lainnya. Istilah waris ada yang mengartikan dengan “harta peninggalan, Istilah waris ada yang mengartikan dengan “harta peninggalan, pusaka atau hutang piutang yang ditinggalkan oleh seorang yang pusaka atau hutang piutang yang ditinggalkan oleh seorang yang meninggal dunia seluruh atau sebagian menjadi hak para ahli waris meninggal dunia seluruh atau sebagian menjadi hak para ahli waris atau orang yang ditetapkan dalam surat wasiat”. Selain itu ada yang atau orang yang ditetapkan dalam surat wasiat”. Selain itu ada yang mengartikan waris “yang berhak menerima harta pusaka dari orang mengartikan waris “yang berhak menerima harta pusaka dari orang
yang telah meninggal” yang telah meninggal”1212..
Nampak ada perbedaan, di satu pihak mengartikan istilah waris Nampak ada perbedaan, di satu pihak mengartikan istilah waris dengan harta peninggalan dan di pihak lain mengartikan dengan dengan harta peninggalan dan di pihak lain mengartikan dengan orang yang berhak menerima harta peninggalan tersebut. Adanya orang yang berhak menerima harta peninggalan tersebut. Adanya perbedaan pendapat ini menunjukkan belum adanya keseragaman perbedaan pendapat ini menunjukkan belum adanya keseragaman dalam bahasa hukum.
dalam bahasa hukum.
Untuk mendapatkan suatu pengertian yang jelas perlu adanya Untuk mendapatkan suatu pengertian yang jelas perlu adanya kesatuan pendapat tentang suatu istilah tersebut. Untuk mencapai itu, kesatuan pendapat tentang suatu istilah tersebut. Untuk mencapai itu, usaha yang dilakukan adalah menelusuri secara etimologi.
usaha yang dilakukan adalah menelusuri secara etimologi.
Istilah waris berasal dari bahasa Arab yang diambil alih menjadi Istilah waris berasal dari bahasa Arab yang diambil alih menjadi b
bahasa Indonesia, yaitu berasal dari kata “warisa” artinya mempusakaiahasa Indonesia, yaitu berasal dari kata “warisa” artinya mempusakai harta, “waris artinya ahli
harta, “waris artinya ahli waris, waris”. Waris menunjukkan orang yangwaris, waris”. Waris menunjukkan orang yang
menerima atau mempusakai harta dari orang yang telah meninggal menerima atau mempusakai harta dari orang yang telah meninggal dunia. Dalam hukum adat istilah waris lebih luas artinya dari arti dunia. Dalam hukum adat istilah waris lebih luas artinya dari arti asalnya, sebab terjadinya waris tidak saja setelah adanya yang asalnya, sebab terjadinya waris tidak saja setelah adanya yang meninggal dunia tetapi selagi masih hidupnya orang yang akan meninggal dunia tetapi selagi masih hidupnya orang yang akan meninggalkan hartanya dapat mewariskan kepada warisnya.
meninggalkan hartanya dapat mewariskan kepada warisnya.
Hukum waris adat atau ada yang menyebutnya dengan hukum Hukum waris adat atau ada yang menyebutnya dengan hukum adat waris adalah hukum adat yang pada pokoknya mengatur tentang adat waris adalah hukum adat yang pada pokoknya mengatur tentang orang yang meninggalkan harta atau memberikan hartanya (Pewaris), orang yang meninggalkan harta atau memberikan hartanya (Pewaris), harta waris (Warisan), waris (Ahli waris dan bukan ahli waris) serta harta waris (Warisan), waris (Ahli waris dan bukan ahli waris) serta pengoperan dan penerusan harta waris dari pewaris kepada pengoperan dan penerusan harta waris dari pewaris kepada
warisnya. warisnya.
Hukum waris adat adalah salah satu aspek
Hukum waris adat adalah salah satu aspek hukum dalam lingkuphukum dalam lingkup permasalahan hukum Adat yang meliputi norma-norma yang permasalahan hukum Adat yang meliputi norma-norma yang menetapkan harta kekayaan baik materiil maupun immaterial, yang menetapkan harta kekayaan baik materiil maupun immaterial, yang mana dari seorang tertentu dapat diserahkan kepada keturunannya mana dari seorang tertentu dapat diserahkan kepada keturunannya serta yang sekaligus mengatur saat, cara, dan proses peralihannya serta yang sekaligus mengatur saat, cara, dan proses peralihannya dari harta yang dimaksud
dari harta yang dimaksud1313. Istilah “hukum waris adat“ dimaksudkan. Istilah “hukum waris adat“ dimaksudkan
untuk membedakannya dengan istilah hukum waris Islam, hukum untuk membedakannya dengan istilah hukum waris Islam, hukum waris Nasional, hukum waris Indonesia dan istilah hukum waris waris Nasional, hukum waris Indonesia dan istilah hukum waris lainnya
lainnya1414..
Istilah tentang hukum waris adat ini tidak
Istilah tentang hukum waris adat ini tidak terikat kepada asal kataterikat kepada asal kata
“waris” yang berasal dari bahasa arab ataupun hukum waris Islam. “waris” yang berasal dari bahasa arab ataupun hukum waris Islam.
Pembicaraan mengenai hukum waris adat berarti kita bicara sekitar Pembicaraan mengenai hukum waris adat berarti kita bicara sekitar hukum waris Indonesia yang tidak tertulis dalam bentuk perundang hukum waris Indonesia yang tidak tertulis dalam bentuk perundang – –
undang yang di sana-sini tidak terlepas dari pengaruh unsur-unsur undang yang di sana-sini tidak terlepas dari pengaruh unsur-unsur ajaran agama dan hukum adat waris yang secara turun temurun dari ajaran agama dan hukum adat waris yang secara turun temurun dari zaman purba.
zaman purba.
Ter Haar mengartikan hukum waris adat adalah Ter Haar mengartikan hukum waris adat adalah1515::
“ ...aturan
“ ...aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud
dan tidak berwujud dari
dan tidak berwujud dari generasi ke pada generasi”.generasi ke pada generasi”.
13
13. Tolib Setiyadi, SH. 2008.. Tolib Setiyadi, SH. 2008.Intisati Hukum Adat IndonesiaIntisati Hukum Adat Indonesia, Alfabeta, Bandung, hlm. 281., Alfabeta, Bandung, hlm. 281.
14
14. Hadikusuma, 1990.. Hadikusuma, 1990.Hukum Waris Adat,Hukum Waris Adat, Citra AdityCitra Aditya Bakti, a Bakti, Bandung, hlm. 7Bandung, hlm. 7
15 15. Ibid.. Ibid.
Ini diperkuat oleh Supomo Ini diperkuat oleh Supomo1616::
“...Hukum waris adat memuat peraturan
“...Hukum waris adat memuat peraturan-peraturan yang mengatur-peraturan yang mengatur proses penerusan serta mengoperkan barang- barang harta benda proses penerusan serta mengoperkan barang- barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda dari suatu angkatan dan barang-barang yang tidak berwujud benda dari suatu angkatan manusia (generatie) k
manusia (generatie) kepada keturunannyaepada keturunannya”.”.
Dalam pengertian di atas terlihat bahwa pewarisan dapat terjadi Dalam pengertian di atas terlihat bahwa pewarisan dapat terjadi di saat pewaris masih hidup. Ini berbeda dengan pengertian hukum di saat pewaris masih hidup. Ini berbeda dengan pengertian hukum waris barat dan hukum waris Islam. Dengan demikian jelas terlihat waris barat dan hukum waris Islam. Dengan demikian jelas terlihat bahwa hukum waris adat memiliki corak dan sifat-sifat khas dan bahwa hukum waris adat memiliki corak dan sifat-sifat khas dan tersendiri, yang berbeda dengan hukum-hukum waris lain tersendiri, yang berbeda dengan hukum-hukum waris lain (Islam/Barat). Hukum adat waris bersendi atas prinsip-prinsip yang (Islam/Barat). Hukum adat waris bersendi atas prinsip-prinsip yang timbul dari aliran-aliran pikiran komunal dan konkrit dari Bangsa timbul dari aliran-aliran pikiran komunal dan konkrit dari Bangsa Indonesia.
Indonesia.
Hadikusuma
Hadikusuma1717 menggaris bawahi hukum waris adat di Indonesia menggaris bawahi hukum waris adat di Indonesia sangat terpengaruh oleh sikap budaya bangsa Indonesia, seperti sangat terpengaruh oleh sikap budaya bangsa Indonesia, seperti sistem kekeluargaan yang lebih mendahulukan rukun dan damai dari sistem kekeluargaan yang lebih mendahulukan rukun dan damai dari pada sifat-sifat kebendaan dan mementingkan diri sendiri.
pada sifat-sifat kebendaan dan mementingkan diri sendiri.
Hukum waris adat mempunyai corak dan sifat-sifat yang khas Hukum waris adat mempunyai corak dan sifat-sifat yang khas bangsa Indonesia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Hilman bangsa Indonesia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Hilman Hadikusuma
Hadikusuma1818 : :
““Hukum waris adat itu mempunyai corak dan sifat-sifat yang khasHukum waris adat itu mempunyai corak dan sifat-sifat yang khas Indonesia, yang berbeda dari hukum islam maupun hukum barat. Indonesia, yang berbeda dari hukum islam maupun hukum barat. 16
16. Ibid,. Ibid,hlm. 8.hlm. 8. 17
Sebab perbedaannya terletak dari latar belakang alam pikiran bangsa Sebab perbedaannya terletak dari latar belakang alam pikiran bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila dengan masyarakat yang Indonesia yang berfalsafah Pancasila dengan masyarakat yang bhineka tunggal ika. Latar belakang itu pada dasarnya adalah bhineka tunggal ika. Latar belakang itu pada dasarnya adalah kehidupan bersama yang bersifat tolong-menolong guna mewujudkan kehidupan bersama yang bersifat tolong-menolong guna mewujudkan
dan kedamaian di dalam hidup.” dan kedamaian di dalam hidup.”
Dari beberapa pendapat di atas terdapat suatu kesamaan Dari beberapa pendapat di atas terdapat suatu kesamaan bahwa, hukum waris adat yang mengatur penerusan dan pengoperan bahwa, hukum waris adat yang mengatur penerusan dan pengoperan harta waris dari suatu generasi keturunannya. Hal ini menunjukkan harta waris dari suatu generasi keturunannya. Hal ini menunjukkan dalam hukum adat untuk terjadinya pewarisan haruslah memenuhi 4 dalam hukum adat untuk terjadinya pewarisan haruslah memenuhi 4 unsur pokok, yaitu :
unsur pokok, yaitu : 1. adanya Pewaris; 1. adanya Pewaris; 2. adanya Harta Waris; 2. adanya Harta Waris; 3. adanya ahli Waris; dan 3. adanya ahli Waris; dan
4. Penerusan dan Pengoperan harta waris. 4. Penerusan dan Pengoperan harta waris.
3.
3. Sifat Sifat Hukum Hukum Waris Waris AdatAdat
Jika hukum waris adat kita bandingkan dengan hukum waris Jika hukum waris adat kita bandingkan dengan hukum waris Perdata dengan hukum waris Islam, maka dapat terlihat Perdata dengan hukum waris Islam, maka dapat terlihat perbadaannya dalam harta warisan dan cara pembagiannya.
perbadaannya dalam harta warisan dan cara pembagiannya.
Harta warisan menurut hukum waris adat tidak merupakan Harta warisan menurut hukum waris adat tidak merupakan kesatuan yang tidak dapat ternilai, tetapi merupakan kesatuan yang kesatuan yang tidak dapat ternilai, tetapi merupakan kesatuan yang tidak terbagi atau dapat terbagi menurut jenis macamnya dan tidak terbagi atau dapat terbagi menurut jenis macamnya dan kepentingan para ahli warisnya. Harta warisan adat tidak boleh dijual kepentingan para ahli warisnya. Harta warisan adat tidak boleh dijual sebagai kesatuan dan uang penjualan itu lalu dibagi-bagikan kepada sebagai kesatuan dan uang penjualan itu lalu dibagi-bagikan kepada