HAPLOID SECARA
IN
VITROOteh: Suaibt, ll/oerjono Mangoendidjojot, Mirzowan, P.D.N., dan Ari Indriantoa.
ABSTRACT
An experiment to study the sugarcane panicles containing more than 50 7o of uninucleate microspore development based on the two morphological characteristics of the three sugarcane clones namely
:
52OC2, 52OC4 and POJ3025 was conductedin
Tissue Culture Laboratory at Biology Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta, since March until May 2005. Morphological characters of both kinds of panicles i.e. unsheated- and sheated-flowers from sheat flag leafwere observed. Mean, percentage, and standard deviation from the mean values of the three different stages of microspore development e.g early-uninucleate and late-uninucleate developments, and pollen grains were statistically used in this calculation. All data percentages were analyzed by variance analysis through General Linier Model Procedure, and comparison between means based on microspore position in the three different parts of the panicles was calculated by Least Square Difference method. Comparisons between the two different panicles characteristics in accordance with the proportion of the three difference microspore development, however, were analyzed by T-student procedure.All calculation were done by using SAS program of computer statistics package. Result of the research shows
that:
(l)
the unsheated panicles were contained more than 90 %o of uninucleate microspore development; (2) the sheated panicles tend to be in high proportion of binucleate microspore development and pollen grains, and (3) the more away of spikclets or anthers positioned in the panicle or subpanicle, the more number or percentage of uninucleate microspores development were tend to be gradually decreased.Key wor : panicle ntorpholog', micro,spore, uninucleate, pollen grains, haploid breeding
PENDAHULUAN
Pemuliaan tanaman secara
in
vitro diilhami oleh tslakeslee dan koleganya yang menemukan tanaman haploid pada tanamanDatura
stramonium padaawal
abad
XX (Blakeslee etal.,
1922). Sampai pada tahun 1983, telah berhasil diperoleh tanaman haploid dan haploid ganda melalui kultur antera dan mikrospora secarain
vitro
pada 247 spesiesdari 88 genera dan 34
famili
(Maheswari etal.,
1983). Bahkan, tahun 2004 telah dilepas lebih dari 60 kultivar unggul berbagai spesieshasil kultur
antera dan mikrospora (Cistueet
al.,
2004).
Keberhasilan mendapatkan tanaman haploid dan atau haploid ganda" baik melalui kultur antera (anther culture) maupunmelalui
kultur
mikrospora
(microsporeculture),
sangat ditentukanoleh
beberapafaktor.
Faktor-faktor dimaksud adalah:(l)
genotipe tanarnan donor.
(2)
kondisi
per-tumbuhan tanaman donor,(3)
tahap per-kembangan mikrospora,(4)
praperlaku-an, dan (5) medium dan kondisi kultur (Kush&
Virmani,
1996; Palmerdan Keller,
1997; Bhojwani&
Bhatnagar, 1999).Tahap perkembangan mikrospora se-bagai salah satu faktor yang menentukan arah
diferensiasi mikrospora akan menghasilkan embrio dan atau kalus. Terbentuknya embrio akan menghasilkan tanaman hijau dan leng-kap, sedangkan terbentuknya kalus cenderung akan - menghasilkan tanaman
bulai
dalam frekuensi yang tinggi.Ini
berarti diperlukan informasi yang tepat mengenaiciri
morfologi malai yang mengandung mikrospora dalam frekuensi yangtinggi
pada tahap uninukleat atau berinti satu. Pada tanaman Barley (Kasha et a\,,2001) dan Wheat (Liu et a\.,2002) akandiperoleh
embriogenik
mikrospora
danr)
StafPengajar pada Fakultas Pertanian Universitus tlaltroleo, Kendari 2)
Guru Bcsar llmu Pcmuliaan Tanaman pada Fakuitas PertaniarVSekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta r) Direktur Pusat Pcnclitian dan Perkebunan Gula lndonesia ( P3Gl), Pasuruan Jawa timar
n)
tanaman haploid ganda dalam .iumlah yang banyak apabila mikrospora dikulturkan pada
tahap
uninukleat tengah (mid-uninucleate)hingga
uninukleatakhir
(late-uninucleate). Sementaraitu,
produksi tanaman haploid ganda (doubled haploid) yang sangat tinggi pada tanaman Barley dapat dicapai apabila rnikrospora dikulturkan ketika berada pada tahap uninukleat awal hingga uninukleat akhir(Li &
Devaux, 2003). Pada tanaman Brassica napus (Cordewener et a1.,1996), untukmeng-hasilkan embrio
yang
banyak, mikrospora harus berada pada tahapakhir
mikrosporaberinti satu
hingga pada tahap
awalmikrospora
berinti
dua
(early-binucleate). Pada tanamantebu, tahap
perkembangan mikrospora melalui kulturantera
mernberi-kan hasil yang lebih baik ketika mikrospora berada pada tahap sesaat setelah stadium sel induk tepung sari yaitu stadium dua sel (diad) hingga stadium empat sel (tetrad) (Chen et al., 1979). Sementara iru, Fitch dan Moore (19g3) mengemukakan bahwa tahap akhir mikrospora berinti satu hinggaberinti dua
merupakantahap
yang paling
produktif
padaembriogenesis mikro-spora tanaman tebu liar, Saccharum sponlaneum
L.,
melalui kultur antera secara in vitro.Tahap-tahap perkembangan micro-spora
di
atas mempunyai hubungan yangsignifikan
denganmorfologi
dan
panjangwaktu
setelahinisiasi
bungaatau
malai. Namun demikian, penggunaan renrang umur setelah inisiasi bunga, kurang diaplikasikan karena sulitnya menen-tukan saat mula-mula terjadinya inisiasi bunga atau malai. Akarr tetapi, penggunaan kriteria rnorfologi bunga berupa ukuran panjang bunga atau malai, atau ukuran pemunculan bunga atau pemunculan malai di atas daun bendera merupakan kriteria yang umum dipakai pada banyak tanaman gramineae. Pada tanaman rumput makanan ternak tahunan, Ryegrass (Lolium perenne L.), pemun-culan seperempat bagian malai di atasdaun
bendera
menghasilkan
populasi mikrospora terbanyak pada fase uninucleate (Suaibet
al.,
1997). Sementaraitu,
untuk tanaman padi ladang beberapa varitas lokal asal Kendari menunjukkan balrwa malai yangmuncul di atas gulungan kelopak dau bendera
setinggi kurang
dari
3,0
cm
menghasilkan mikrospora pada fase mikrospora berinti satu dalam jumlah yang lebih banyak (> 60 %) daritotal
mikrospora dan tepung sari matang di dalam antera (Suaib, 2000). Indrianto (2003) menyatakan bahwa pada tanaman Wheat,rnorfologi
pertumbuhanmalai yang
me-ngandung mikrosporayang
'sesuai untuk kultrrrin
vitro adalah ketika masihdi
dalarn bungkusan kelopak daun bendera atau belum ada bulir yang munculdi
atas daun bendera. Khusus pada tanaman tebuliar
Saccharum spontaneum L., dilaporkan bahwa mikospora yang sesuai bagi kultur antera didapat ketika malai masih berada di dalam bungkusan daun bendera (Fitch&
Moore, 1983; Moore et al..r e89).
Belum ada informasi mengenai ciri morfologi malai tanaman tebu
klon
hibrida yang rnengandung populasi mikrospora padatahap yang sesuai
bagi kultur
mikrospora. Oleh karena itu, tulisan ini membahas ciri-ciri morfologi malaitiga klon
hibrida tanaman tebu yang mengandung mikrospora lebih dari 50 % pada tahap uninucleate.METODE PENELITIAN Penanaman Tanaman Donor
Potongan batang (bagal, seilsz) tebu klon:
(l)
52OC2, (2) 52QC4, dan (3) pOJ3025 sepanjang dua buku yang digunakan dalam penelitianini,
ditanam pada4
Juli
2004 di Rumah Kawat Fakultas Pertanian UniversitasCadjah Mada, Kampus
Bulak
Sumur,Y\)g)akarta.
Bagal
ditanam dengan posisi horizontaldi
dalam juring pada kedalaman*
25 crn. Panjang juring adalah 5 m dan jarak antarajuring
adalahI
m,
sehingga luaskeseluruhdn penanaman
tebu
sumber mikrospora adalah25
m2. Setelah tumbuh, tanaman dipelihara hingga berbunga dalambentuk
pemberianpupuk
N, p,
dan
K, berturut-turut berupa Urea, Sp36, dan KCI dengan dosis berturut-turut 200, 100, dan 100kg
per hektar atau berturut-turut 0,10; 0,05, dan 0,05 kg per 5 m panjang juring. Aplikasiketiga pupuk
di
atas seluruhnya dilakukanpada
umur
empat minggu
setelah tanam(MSr).
Selain
pemupukan,juga
dilakukan pengendaliangulma
dan
pengaturan pe-nyiraman, serta penggemburan tanah di sekitar perakaran tanaman. Tanaman mulai berbunga pada umur 37,38 dan 39 MST berturut-turutbagi
klon
52OC2, 52OC4,dan
POJ3025. Sementaraitu,
isolasi antera dan mikrospora dimulai pada 39 MST.Pemanenan Malai
Tanaman tebu yang telah berbunga, baik malai masih terbungkus di dalarn kelopak dar"rn bendera maupun yang telah rnuncul di atas daun bender4 dipotong pada 2-3 ruas di
bawah pangkal
malai.
Malai
tersebut dimasukkan ke dalam tabung gelas yang berisiair
kran, lalu dibungkus dengan kertas koranyang
lembap
dan
segera
dibawa
dandimasukkan ke dalam lemari pendingin pada
suhu 5oC. Ciri morfologi malai yang diamati, yakni berdasarkan:
(l)
malai masih terbungkus di dalam kelopak daun bendera, dan (2) malai telah muncul di atas daun bendera. Setiap ciri morfologi pertumbuhanmalai
diamati tiga cabangmalai dan
masing-masing cabang malai diamati tiga bulir, sedangkan tiap bulir mengandungtiga
antera
sebagai sumber mikrospora. Setiapunit
pengamatan diamatiminimal
300
mikrospora,yakni
masing-rnasing satu malai yang belum muncul bagiklon
52OC2, 52OC4, POJ3025, satu malai yang telah membuka bagi klon 52OC4, duamalai
yang
telah
membukabagi
klon POJ3025, dan tiga malai yang telah membukabagi
klon
52OC2. Setiap perlakuan yang berulangan dilakukan pada waktu dan denganmalai
yang
berbeda.Dengan
demikian, seluruhnyadiamati
sembilanmalai
dalam pengamatan ini.Isolasi
dan
Pemeriksaan
Tahap
Per-kembangan MikrosporaMikrospora diisolasi dengan
cara
:antera dikeluarkan
dari
dalam lemma dan palea bulir dengan sepasang pinset, kemudiandiletakkan di atas deckglass yang sebelumnya
telah ditetesi dengan larutan
3
0% sukrosa.Dengan sepasang
ujung
pinset, mikrospora dikeluarkandari
dalam antera dengan cara membelah antera hingga mikrospora keluardari
dalam antera. Kotoran berupa sisa-sisajaringan dinding
antera, kemudian ditutup dengan coverslip.
Popu-lasi mikrospora di atas deckgloss tersebut siap diamati di bawah mikroskop biasa.Penentuan
tahap
perkembangan mikrospora di atas menggunakan patokan ciri perkem-bangan mikrosporapada
tanaman gandum(Lu
&
Kuo,
1984), pada tanaman Barley (Kasha et a\.,2001), dan pada tanaman padi (Zhang et a|.,2005). Adapun tahap-tahap perkembangaqmikrospora
yang
diamati adalah:(a)
uninukleat awal,(b)
uninukleatakhir,
dan(c)
tepungsari.
Ciri
morfologi ketiga tahap perkembangan mikrospora, antara lain: uninukleat awal, inti terletak pada bagian tepi dekat dinding mikrospora dan dekat porus tumbuh (germ pore) yang membagi dua dari seperempatbagian lingkaran
mikrospora; uninttkleat akhir, inti terletak pada bagian tepidekat
dinding
mikrosporadan
berlawanan dengan porus tumbuh atau mem-bagi dua bagian lingkaran mikraspora, dan tepung sari, mikrospora yang telah mengalami pembelahan mitosis pertama, inti berjumlah dua atau lebihdan
telah
mengandungbutir-butir
pati
didalam sitoplasma. Setiap
unit
pengamatan diamati minimal 300 individu mikrospora. Variabel PenelitianVariabel penelitian adalah persentase
tahap-tahap perkembangan mikrospora dan
dihitung dengan formula:
Persen Uninukleat Awal (o/o UA; =
I
uua
tffi-;Znx
roo%dengan
IVUa =
jumlah
mikrospora uninukleat awal;IMUp:
jumlah mikospora uninukleat akhir;ITS
= jumlah tepung sariPerhitungan
tahap
perkembanganmikrospora
lainnya
yakni
persentase uninukleat akhir, dan tepung sari, mengikuticara yang
sama dengancara
perhitungan uninukleat awal di atas.Analisis Data
Data yang
diperoleh
kemudiandihitung
nilai
rerata,
persentase, dansimpangan baku-nya.
Data
persentase di-analisis secara anova melalui prosedur modellinier
umum (PROC QLM, General Linear Model Procedure), sedangkan korelasi antara panjang pemunculan malai terhadappersen-tase tahap-tahap perkembangan mikrospora
dianalisis
dengan
PROC CORR.
Penr-bandingan rerata respon kedua morfblogi
malai yang
digunakan pada penelitian ini dilakLrkan denganuji+
(Student's T-te,tt) sesuai prosedurSteel
dan Torrie
( I 98 I )dengan PROC TTEST. Semua perhitungan di atas menggunakan paket statistika SAS (SAS lnstitute lnq., 1989-l 996).
HASIL DAN PEMBAHASAN Paling sedikit, telah diarnati 218.700
butir
rnikrospora dan tepungsari
dari 729 antera,243 bulir,Sl
bagian cabang malai,27 cabang malai, dan sernbilan malai pada duaklon
tebu Saccharumffieinarum
dan satuklon hibrida kompleks dalam menentukan
ciri-ciri
rnorfologi
pertumbuhanmalai
yang mengandung mikrospora berinti satu lebih dari50
%.
Sernbilan malai bahan penganlatan berasal dari dua klon Saccharum officinarum rnasing-rrrasing klorr 52OC2 dan 52OC4, dansatu
klon
hibrida komleksyakni
POJ3025, sedangkan.27
cabangmalai
berasal darirnasing-masing
tiga
bagian,yakni
:
u.jr-rng,tengah
dan
pangkal malai. Masing-rnasing cabang malai nrerupakan sumbertiga
bulir dimana setiap bulir rnengandung tiga antera.Tabel
l.
Morfblogi dan rerata pcrsentase nrikrospora rncnurut tahap pcrke rnbangannya, serta ukurau pemunculan malai dua klon tebu Saccharurn olJicinurum (L.) dan satu klon tebu hibriiJa.Persentase Ukuran dan Rentang
Klon MorfologiMalai Uninukleat
>lNdan
Pemunculan AwalAkhir
Pollen
Malai (cm)52-OC Belum rnuncul
0,00
0,00Telam muncul2)
52-OC-4
Belum munculr)-
9&10
98,r0 t-9t.90 93,60 72.20 6,40 21.70 6, l0 68,00-80,00 Telarn munculr) 46,40 35,00 0,00 18,60 0,00 67,00 POJ-3025 Belum muncul 88,00 2,82 0,00 Telam muncul3) 16,49 Keterangan : ') Satu malai, 2)Tiga malai, dan r) Dua malai; > lN = bi-, tri-, multi-nukleat dan tepung sari
Tabel
I
menunjukkan bahwa semuamalai yang belum memunculkan bunganya,
tidak
mengandung mikrospora yang berinti lebih dari satu(>lN)
atau tepung sari Qtoilen). Sedangkanmalai yang telah
muncul bunganya, seluruhnyatelah
mengandungketiga
macam
tahap
perkembangan mikrospora dengan persentase yang berbeda-beda. Adanya perbedaan persentasemasing-masing tahap perkembangan mikrospora di-sebabkan
oleh
adanya perbedaan:(l)
klon yang diamati,(2)
panjang malai seluruhnya,(3)
ukuran
pemunculanbunga,
dan
(4) proporsi bagian bunga yang belum dan telah muncul. Pengamatan keempatciri
morfologi malai di atas disajikan pada Tabel 2.Tabel
2.
Ciri
morfologi malai berdasarkan pemunculan rnalai, panjang malai seluruhnya (cm), panjang pemunculan malai (crn), dan proporsi panjang malai seluruhnya dengan panjang malai yang telah muncul dua klon tebu Sacchorum oficinarum (L.)iun
rutu klon tebu hibrida kompleksKlon Nomor
Malai
Pcmunculan
Malai PML cm
Panjang Malai Panjang Muncul
52-OC-2 Belum muncul
Telah muncul Telah muncul Telah muncul I 2 J 4 95,50 r09,s0 107,50 95,00 0,00 68,00 80,00 76,00
I
: 0.00I
: 0,62I
:0,74I
: 0,8052-OC-4 Belum muncul
Telah muncul I 2 84,50 91,50 0,00 61.00
I
: 0,00I
: 0,73POJ-3025 Belum muncul
Telah muncul 'T'clah rnuncLr!
I
: 0,00I
: 0,30I
: 0.51 I 2 J 88.00 8 r,00 83,50 0,00 24,00 42.50Rerata malai belum rnuncul 89.33 0,00
1:0.
: 0,00Rerata malai telah muncul 94.t5 59,59
I
: 0,63'fabel
2
menr.rnjukkan bahwanralai
yang belum memunculkan bunganya mem-punyai panjang rata-rata 89,J3 crn, sedangkan
malai yang
telah
memunculkan bunganya mempunyai panjang rata-rata 94,75cm.
lni berarti bahwa rerata panjang malai tanamantebu
obyek pengamatan adalah 92,04 cm. Tabel3
juga
menunjukkan bahwa apabila bunga telah muncul sepanjang63
o/o atau 59,58 cm, perkembangan mikrospora satu intimenjadi
mikrosporalebih satu
inti
akan mencapai sebesar 24,71 yo (Tabell).
Dengandemikian, pada tanaman
tebu
masih akandiperoleh mikrospora
berinti
saru mskipun bunganya telah muncul lebih dari separuhnya asalkan belum terjadi antesis yang ditandai dengan perubahan warna antera dari berwarnahijau
muda
menjadi berwarnaungu
atau cokelat muda, atau rambut sutera (silk) yang terdapat pada pangkal bulir belum merekair.Apabila panjang pemunculan malai dikorelasil<an dengan persentase tahap
per-kembangan
mikrospora,
nampak
bahwahampir selnua variabel berkorelasi negatif kecuali antara variabel panjang pemunculan
rnalai dengan tahap mikrospora uninukleat akhir yang bernilai
positif.
Demikian pula,signifikansi
tidak
berarti
antara
panjang pemunculan malai dengan ketiga tahap per-kembangan mikrospora.Hanya
persentasetahap uninukleat awal dan persen-tase tahap tepung sari yang berkorelasi sangat erat dan
signifikan meskipun bernilai negatiq
sedang-kan
uninukleatawal
dan
uninukleat akhir berkorelasi secara tidak signifikan (Tabel 3).Dengan
demikian, apabila
rnalai
telah memunculkan bunganya maka peluang malaiakan mengandung mikrospora berada pada
tahap berinti lebih dari satu hingga pada tahap tepung sari menjadi semakin besar. Semakin panjang pemunculan bunga akan semakin
tinggi
persentase mikrospora berada padatahap
lebih dari
satuinti
khususnya tahap tepung sari sehingga jumlah mikrospora yang berpeluang untuk memasukijalur
sporofitik akan semakin berkurang.'_
Tabel 3. Korelasi antara rnikrospora tiga
panjang pemunculan malai dcngan persentase tiga tahap perkem-bangan klon tebu.
Uninukleat awal Uninukleat akhir Tepung sari Pemunculan malai - 0,17009 ts 0,6617 0,54508 ts 0,t291 - 0,04413 ts 0,9102 Uninukleat awal - 0,25280 ts 0,51r6 - 0,92197 ss 0,0004 Uninukleat akhir - 0,141 60 ts 0,7 r 63
Keterangan
:
Nilai-nilai yang dicetak biasa adalah koefisien korelasi; Nilai-nilai yang dicetak miring adalah peluang > lRl terhadap Ho:Rho:0(o = 0,05) ts = riclak signifikan,ss = s-angat signifikan
Gambar 1 menunjukkan bahwa malai
yang
belum memunculkan bunganya padaketiga
klon
yang
diamati
mengandungmikrospora pada tahap
berinti
satu
pada frekuensi yang tinggi (> 80 %).0t o o .L 50.00 45.00 10.00 35.00 30.00 25.0 0 20.00 15.00 10.00 s.00 0.00 M8M Tsrgdr MTM 15.53 tEo UJW|C lldpah MBM
Kon 52'@-2 Klon 52-CC-,4 loon Po.l3025
O Uninukl@l Awal E Uninrkl*t AkHr
Gambarl' Reratapersentasemikrosporauninukleatawal,uninukleatakhirdantepungsari
menurutklondan morfologi malai belum muncul (MBM) dan
malai relah muncul (MTM),-serta letak pada ujung, tengah dan pangkal malai.
mikrospop berada pada pada tahap berinti
satu
apabila
malai
belum
memuncul_kan bunganya. Akan tetapi bagi malai yang telah nrernunculkan bunganya, persentase nrikro_ spora yang berada pada tahap berinti satumenunjukkan penurunan
proporsi
ataujumlahnya mengikuri letak pacla malai yakni semakin mengarah ke ujung malai, semakin besar penu-runannya. Artinya, perkembangan
Di
pihak lain, malai yang telah me_munculkan bunganya menunjukkan bahwa persentase mikrospora berinti lebih dari
satu
atau
mikrosporapada tahap tepung
sari menjadi semakin meningkat seiring denganpeningkatan
ukuran
pemunculan- bunga. Dilihat dari letak mikrosporadi
dalam*uLi,
baik
pada bagian ujung dan bagian tengahmaupun
pada
pangkal
malai,
seluruhmikrospora meningkat ke perkembangan lebih lanjut (tepung sari) dimulai dari bagian ujung malai. Hasil uji+ perbedaan antara malai yang belum dengan malai yang telah memunculkan bunganya menunjukkan bahwa rerata
per-sentase
mikrospora uninukleat
awal, uninukleat akhir, dan tepung sari pada keduabentuk
morfologi
malai
menunjukkanperbedaan yang signi-fikan (Tabel 4).
Tabel 4. Perbedaan rerata persentase tiga tahap perkembangan mikrospora antara
malai yang
belurr
dan yang teiah memunculkan bunganyaMorfologi
Uninukleat
Uninuklcatterdiri dari cabang utama (rachis) dan
anak-anak
cabang(rachilla) yang
merupakan tempat tcrbentuknya susunan cabang pertama, kedua dan ketiga. Pada bagian bawah ataupangkal
malai
berukuran besar kemudian ukurannya semakin kecil sampai pada ujung malai yang hanyaterdiri dari
satu cabang. Cabang utama(main
axes)atau
susunan pertama (first order) terbentuk secara lateral anak cabang (lateral axes) atau susunan kedua (second order) yang lebih panjang, dan dari anak cabang-anak cabangini
terbentuk anak-anak cabang atau susunan ketiga (third order). Bulir (spikelets) yang terdiri dari bulir bagian pangkal (sessile.florers) dan bulir di atas bulir pangkal Qtedicellate/lorets)
terbentuk pada anak cabang lateral dan anak-anak cabang.Hasil pengamatan dalam penelitian ini menunjr.rkkan bahwa kernatangan tepung sari
terjadi mulai
dari
ujung malai
utama dan ujung cabang malai pada cabang bagian ujung malai utama hingga pada cabang malai paling bawahdari
malai
utama.Hal
ini
karena persentase terbanyak mikrospora yang sudah memasuki tahap perkembangan lebih dari satu inti atau tepung sari adalah pada sessile floretsdan ujung malai. Pada pengamatan
ini.
tidak ditemukan mikrosporayang
masih beradapada tahap
diad
dan
tetrad
sebagaimanadilaporkan
oleh
Raghavan(l9Sg)
padatanaman padi, Summers
e/ al.
(1992) pada tanaman tomat, da Silva-Lauxen et al. (2003) pada tanaman kedelai, dan lndriantoet
al. (2004) pada tanaman cabai besar. Ketiadaanmikrospora
tahap
diad
dan tetrad
padapenelitian
ini
disebabkanoleh
umur malai yangmulai
memasuki tahap perkembanganIebih lanjut yang
ditandai
oleh
semakin panjangnya ukuranmalai dan
munculnya bunga di atas gulungan daun bendera sehinggasemakin banyak
mikrosporayang
telalr memasuki perkembangan lanjut.Berdasarkan ukuran panjang antera
pada
tanamanpadi
(Oryza sativa
L.), Raghavan (1988) melaporkan bahwa semakinpanjang
ukuran antera,
semakin
tinggi persentase mikrospora yang berada pada tahap perkembaganlebih lanjut.
Sementara itu, semakinlanjut
pertumbuhanmalai
akanMalai
awal
akhirTepung sari Belum membuka Telah menrbuka 93,22 a 47,79 b 5,84 p 23.30 q 0,94 x 28,75 y Keterangan
:
Nilai-nilai yang diikuti huruf yangberbeda pada kolom yang sama
berarti berbeda signifikarr menurut
u-ii T-Student
Demikian pula, perbedaan antar klon terhadap rerata persentase tiga tahap perkem-bangan mikrospora melalui Lr.ii -f-Fishcr (LSD,
Leust
Square
DifJbrencc)
menunjukkan adanya perbedaan yang signifikandi
antara ketiga klon yang diamati (Tabel 5).Tabel 5. Perbedaan rerata persentase tiga tahap perkembangan ntikrospora antara tiga klon tebu.
Klon
Uninukleat
Uninukleat TepurrgAwal
akhir
saris20c2
82,90 a 14,05 k 3,05 o52OC4
72,25a
18,45k
9,30 p_loJ!9{__wsa t3,t7k
37,08q Keterangan:
Nilai-nilai yang diikuti huruf yangberbeda pada kolom yang sama
berarti berbeda signifikan menurut uji T-Student
Menurut Moore ( 1987) bunga tana-man tebu berbentuk malai Qtanicle) mernbuka setelah muncu dari bungkusan daun benclera,
senrakin panjang
pula
ukuran
altteranya sehingga pada ukuran bulir sepanjang 7.000-9.142
pm,
antera akan berukuran 1.125-1.750 pm, dan umumnya, mikrospora telah berada pada tahap uninukleat dan sebagian telah memasuki tahap binukleat.
Meskipun beragam ukuran panjang
kuncup pada
tiga
kultivar
tanaman toltlat, masing-masing: A.Craig, L-680A, dan Licato, ukuran panjang antera ketiganya relatif samayakni
2,8-3,5 rnm,
semuakultivar
hanyamengandung
mikrospora
berinti
satu(Summers et
al.,
1992). Demikian pula padatiga kultivar kedelai berturut,turut '. Decada, IAS5, dan RSZ dilaporkan bahwa bunga yang berukuran 1,5-2,9
mm
akan
mengandungmikospora mulai pada tahap sebelum diad hingga tetrad, sedangkan bunga yang telah berukuran 3,0*33,5
mm
akan mengandung mikrospora pada tahap uninukleat awal hingga uninukleatakhir (da
Silva-Lauxener
al., 2003).Pada tanarnan cabai besar, Indrianto et
al.
(2004) menguraikan bahwa mikrosporapada tahap tetrad hanya dijumpai pada kr-rncup bunga yang berukuran hingga 0,3-{,5 cm dan
anteranya berwarna mulai
dari hijau
rnuda,sebagian
hijau dan
sebagianungu,
akan mengan-dung rnikrospora uninukleat. Setelah bungan berukuran 0,6-
0,8 cm dan anteranya berwarnaungu
muda, bunga hanya akanmengandung mikrospora binukleat. Dengan demikian, tahap perkembangan mikrospora di dalam antera sangat ditentukan oleh ukuran malai, bunga dan antera, sehingga penggunaan
ciri
morfologimalai atau
ukuran kuncup merupakan cara yang tepat dalarn menentukan tahap perkembangan mikrospora yang sesuaibagi pelaksa-naan pemuliaan haploid melalui kultur mikrospora secara in vitro.
KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pengamatan
dua
ciri rnorfblogi pertumbuhan malai terhadap jumlah mikospora pada tahap satuinti
lebih dari 50 Yo, dapat disimpulkan sebagai berikut: (a) padamalai bunga yang masih terbungkus di dalam
kelopak daun bendera terdapat mikrospora umlrmnya pada tahap uninukleat;
(b)
rnalaiyang telah memunculkan bunganya
di
atasgulungan
daun
bendera cenderung akan mengandung mikrospora yang sebagian besar pada tahap binukleat atau tepung sari, dan; (c) senrakin ke ujung letak bulir atau antera padamalai atau cabang malai, jumlah mikrospora yang berada pada tahap uninukleat semakin berkurang.
lsolasi mikrospora paling tepat di-lakukan pada saat bunga belum muncul di atas
gulungan kelopak
daun
bendera karena persentase mikrospora berinti satu mencapai maksi-malnyaketika
bungamasih
berada dalam gulungan lielopak daun bendera.DAFTAR PUSTAKA
Bhojwani, S.S. and S.P. Bhatnagar, 1999, .'The embriology
of
angiosperms", pp.30g-321. 4'h revised and enlarged' edition. Vikas Publishing House pVT. LTD. Blakeslee, A., J. I3elling, M.E. Farnham and A.D.
Berger, 1922.
*A
haploid mutant in thejinrson weed Dqlura
slramoniunt,'. Science. SS: 646-647.Chen, 2.H., C. Qian, M. Qin, C. Wang, C. Suo, F.
Chen and Z. Dheng, 1979, ,,'fhe inducrion
of
pollen plantsof
sugarcane". .,lnau. Rep. Inst. Genet. Acad..tir., pp.9l_93. Cistue, L., M.P. Valles, B.Echavarri, M. Sans, andA.M.
Castiilo, 20Q4. ..production of barley doubled haploids by anther andmicrospore culture", pp.l-17. Dalam :
Mujib, A., M.J. Cho, S. predieri, and S. Barnerjee (eds.). ln Vitro Application in Crop Improvement. Science publishers lnc., Enfield, USA.
Cordewener, J.H.G., J.B.lU. Custers, H.J.M. Dons
and
M.M.
Van
Lookeren Campagne, 1996, "Molecular and biochemical eventsduring
the
inductionof
microspore embryo-genesis", pp.lll-124.
Dalatn ..Jain, S.M.,
S.K.
Sopory,and
R.E.Veilleux (Eds.).
In
Vitro
Haploid Productionin
Higher plants.Vol.
l, Fundamental Aspcctsand
Methods.Kluwer
Acadenric Publishers. The Netherlands.da Silva-Lauxen, M., E. Kaltchuk-Santos, C.y. Hu,
S.M. Callegari-Jacques and M.H.
Boda-nese-Zanettini,
2003.
..Association between floral bud size and developnrental stage in soybean microspores" . Brassilian Archivesof
Biolog_v&
Technology,46()z 8-14.
Fitch, M.M. and P.H. Moore, 1983, .,Haploid production
from
antherculture
ofSaccharum
spontaneumL".
Z. Pflanzenphysiol, 109: 197 -206.lndrianto,
A., 2003,
"Cyological
and ultrastructural featuresof
initiation ofwheat
microspore
embryogenesis,'.Biologi,3(2): 65-79.
lndrianto,
A.,
E.
Semiarti dan Surifah, 2004."Produksi galur murni melalui induksi
embrio-genik mikrospora cabai merah dengan stres". Zuriat, l 5(2): 1 33- 1 39.
Kasha, K.J., E. Sirnion, R. Oro, e.A. yao,'l'.C. llu and A.R. Carlson,200 l,..An improved
ir
yilro technique
for
isolated nricrosporeculture of barley". Eupltytica, I2Al. 379-3 85.
Kush, G.S. and S.S. Virmani. t996, ..Haploids in plant breeding", pp.12-17. Dalam
:
Jain, S.M., S.K. Sopory, and R.E. Villeux (eds.)In
Vitro Haploid.Productionin
Higher Plants. Vcll.l. Fundamental Aspects andMethods. Kluwer Academic publishers, Dord-recht, Boston,
London.
. .Li,
H.
and P. Devaux, 2003, ..High frequency regenerationof
barley doubled haploid plants from isolated microspore culture,'. Plant Science, l64z 379-386.Liu, W., M.Y. Zheng, E.A. Polle, and C.F. Konzak, 2002, "Highly efficient doubled-haploid production
in
wheat (Triticun aesliwrntL.)
via
induced
m icrosporeembryogenesis". Crop Science, 42: 6t6-692.
Lu,
W. L.
and C.S.Kuo,
t984. ..Cltological observationof
microsporogenesis andpollen developntent
in
wheatin
vivo',. Acta Botunico Sinica, 26-. 26-33.Maheswari, S.C., A. Rashid and A.K. Tyagi, 1983.
"Anther pollen culture for production of haploids
and
their
utility".
IAPTC Newsletter, 4l:2-7.Moore, P.H. 1987. "Anatomy and morphology", pp.85-142. Dalam
:
Heins, D.J. (ed,).Sugar-cane
Improvement
Through Breeding. Developments jn Crop Science Il.
Elsevier, Amsterdam,New
york, Oxford, Tokyo.Moore, P.H., C. Nagai and M.M. Fitch, 19g9, "Production and evaluation of sugarcane haploids". Proc.
Int.
Soc. Sugar Cane Technology, 20: 599-607 .Palmer, C.E. and W.A. Keller, lgg7, ..pollen embryos",
pp.
392-422.Dalam
:Shrivanna, K.R. and V.K. Sawney (eds.). Pollen Biotechnology for Crop production and Improvement. Cambridge University Press. U.K.
SAS Institute Inc., 1989-1996, ..SAS/STAT User's Cuide Release 6.12". SAS lnstitutc. lnc.. Cary, N.C.
Steel, R.C.D. and J.H. Torrie, 1981, ..principles
and procedures
of
statistics". 2nd ed. McOraw-Hill Editions, Singapore etc. 633pp.Suaib, S. Madsen, A. Olesen dan S.B. Andersen, 1997, "Seleksi tanaman rumput makanan ternak tahunan Ryegrass (Lolium perenne
L.)
yang tanggap terhadap perlakuan prakultur antera". Zuriat, 8(2): 90-93. Suaib,2000, "Determinasi enam kultivar lokal padiladang asal Kendari yang mengandung
tepung
sari
berinti satu (uninucleate) untuk pemuliaan in vitro". Zuriat, l0(2): 2l-27.Summers, W,L., J. Jaramillo and T. Bailey, 1992.
"Microspore developmental stage and anther length influence in the induction of tdmato anther callus,'. Hortscience, 27(7): 838-E40.
Zhang,