• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Sistem Pengujian Sistem Operasionalisasi dan Pemeliharaan Sistem Studi Pustaka HASIL DAN PEMBAHASAN Perumusan Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Implementasi Sistem Pengujian Sistem Operasionalisasi dan Pemeliharaan Sistem Studi Pustaka HASIL DAN PEMBAHASAN Perumusan Masalah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Implementasi Sistem

Pada tahap ini hasil dari desain atau tahap sebelumnya diterjemahkan menjadi suatu kode pemrograman, kemudian dikembangkan menjadi sistem aplikasi manajemen service desk.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan:

a Mempelajari logika pemrograman yang sudah didesain sebelumnya, kemudian diterapkan menjadi suatu sistem sesuai dengan kebutuhan

b Membuat dokumentasi

Pengujian Sistem

Aplikasi yang sudah dibangun pada tahap pengembangan akan diuji pada tahap ini untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dari sistem yang telah dibuat.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan:

a Melakukan pengujian terhadap sistem untuk mencari kelemahan serta kekuatan dari sistem

b Melakukan perbaikan-perbaikan sesuai dengan hasil tes yang telah dilakukan sebelumnya untuk mendapatkan sistem yang sesuai dengan kebutuhan

Operasionalisasi dan Pemeliharaan Sistem Pada tahap ini dilakukan pengoperasian sistem yang telah dibangun.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan:

a Mengoperasikan sistem pada kondisi proses bisnis sebenarnya, bisa juga melalui simulasi

b Melakukan dokumentasi feedback dari hasil

pengoperasian sistem untuk selanjutnya dianalisis untuk dijadikan masukan dalam pengembangan atau perbaikan sistem selanjutnya (O’Leary 2003)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perumusan Masalah

PT Tridas Widiantara belum melakukan pencatatan laporan-laporan dari client secara

terstruktur, baik secara manual sekali pun sehingga perusahaan sulit melakukan kontrol penanganan incident. Hal itu juga menyebabkan client mengalami kesulitan dalam mengetahui

perkembangan status incident yang sedang

dihadapi dan sejauh mana incident telah

ditangani. Hal lain yang masih sering dialami adalah perusahaan dan client mengalami

kesulitan untuk mengetahui siapa engineer yang

ditugasi untuk menangani incident.

Perusahaan juga mengalami beberapa kendala lain dalam berhubungan dengan client,

baik kendala jarak, waktu, maupun biaya. Banyak perusahaan client yang barada di luar

kota seperti Air Mancur di Surakarta, Indosat di Medan, dan Unocal di Balikpapan sehingga komunikasi antara client dan perusahaan

memerlukan waktu yang terbatas serta biaya yang tidak sedikit.

Selain mendapatkan produk yang sesuai dengan permintaan client, client juga

menginginkan layanan paska pengembangan produk berupa garansi masa pemeliharaan produk, perbaikan produk jika mengalami ketidaksesuaian, dan bantuan dalam menyelesaikan incident yang mungkin timbul

pada produk yang digunakan.

Oberdasar pada fakta di atas, PT. Tridas Widiantara masih perlu meningkatkan kualitas dukungan layanan terhadap client terkait produk

yang digunakan client. Perusahaan memerlukan

suatu sistem yang mendukung layanan terhadap

client yang dapat memberikan penyelesaian

masalah secara tepat, sederhana, dan sesuai dengan harapan atau keinginan client, serta

memberikan kenyamanan dan kepercayaan pada

client.

Studi Pustaka

Dari hasil analisis dan perumusan masalah, dilakukan studi pustaka untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang terjadi dalam PT Tridas Widiantara. Pada tahap ini dilakukan pembelajaran terhadap ITIL framework yang

akan diterapkan pada perusahaan sebagai solusi atas permasalahan mengenai kualitas pelayanan IT terhadap client.

Dari semua disiplin ITIL framework yang

cukup luas, yang lebih sesuai untuk kondisi PT Tridas Widiantara saat ini adalah penerapan bagian disiplin service support, yaitu service desk dan incident management. Penerapan

disiplin service desk dan incident management

(2)

dapat melakukan pencatatan laporan incident dari client dan eskalasi sehingga incident

management perusahaan dapat lebih mudah

dilakukan, terkontrol, dan terstruktur.

Studi Lapangan

Selain studi pustaka, juga dilakukan studi lapangan terkait dengan service desk yang akan

diterapkan. Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap aplikasi service desk yang banyak

digunakan di dunia, yaitu ServiceCenter dari Peregrine System, HP OpenView Service Map dari HP, dan Unicenter ServicePlus Service Desk dari Computer Associate. Data aplikasi

service desk tersebut diperoleh dari PT Tridas

Widiantara.

ServiceCenter dan HP OpenView Service Map merupakan aplikasi service desk yang

sangat besar dan lengkap. Aplikasi ini telah menerapkan ITIL framework secara penuh dan

mencakup seluruh disiplin dalam ITIL. Sedangkan Unicenter ServicePlus Service Desk tidak selengkap aplikasi service desk lainnya.

Aplikasi ini menerapkan sebagian ITIL

framework, yaitu fokus kepada ITSM.

Dari hasil studi lapangan diperoleh fitur-fitur penting yang harus ada dalam sistem manajemen service desk. Fitur-fitur tersebut

yaitu dapat menerima call ticket dari client,

dapat memberikan solusi terhadap client, dan

dapat mengeskalasi call ticket ke tingkat yang

lebih tinggi.

Penerapan ITIL Framework

Dari hasil analisis, perumusan masalah, studi pustaka, dan studi lapangan, perlu diterapkan sistem manajemen service desk yang

dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan kualitas pelayanan IT terhadap

client. Sistem ini dikembangkan dengan

menggunakan metode SDLC. Pengembangan

sistem ini dilakukan dalam enam tahap yang berurutan, dari mulai analisis sistem sampai pada operasionalisasi dan pemeliharaan sistem.

Analisis Sistem

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap sistem yang akan dikembangkan berdasar pada hasil rumusan masalah yang terjadi di perusahaan. Dalam manajemen pelayanan IT perusahaan, masalah-masalah yang paling sering muncul adalah

• sulitnya pencatatan keluhan-keluhan atau pertanyaan-pertanyaan dari client yang

masuk

• penyampaian penyelesaian masalah yang diberikan kepada client selama ini kurang

efektif dan efisien

• komunikasi dalam pelayanan terhadap

client kurang lancar

client menghendaki pelayanan yang

optimal

Untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlukan sistem manajemen service desk yang

dapat mempermudah perusahaan dalam menangani dan mengolah data laporan incident

dari client. Selain itu sistem juga harus dapat

mengelompokkan masalah, melakukan penunjukan personal untuk menangani masalah, memberikan informasi status dari suatu masalah, dan melakukan dokumentasi masalah yang sudah terselesaikan.

Pengguna sistem dibagi menjadi empat, yaitu client, operator, tim support (engineer),

dan administrator. Client adalah pihak

perusahaan yang menjadi client PT. Tridas

Widiantara. Pada sistem ini, client dapat

membuat, meng-update, atau menutup call ticket. Setelah client membuat atau mengubah

call ticket, operator segera menjawab,

mengatur atau mengeskalasi (melemparkan)

call ticket kepada tim support, atau menutup call ticket. Tim support bertugas menyelesaikan

dan menjawab persoalan tingkat lanjut yang diajukan oleh client dan tidak dapat ditangani

langsung oleh operator. Administrator bertugas mengelola segala hal teknis yang berkaitan dengan sistem, seperti data pengguna, data produk, dan data perusahaan client.

Selain operator, keberadaan tim support

tetap dibutuhkan untuk memberikan solusi kepada client. Tingkat pengetahuan dan

pengalaman tim support yang lebih tinggi

dibutuhkan untuk memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan client yang tidak dapat

diselesaikan oleh operator.

Spesifikasi Kebutuhan Sistem

Berdasar pada studi lapangan dan pustaka mengenai pelayanan terhadap laporan client

(komplain, pertanyaan, dan lain-lain) yang berstandar ITIL, pelayanan yang diperlukan mencakup penanganan masalah secara terstruktur dan pemberian solusi secara cepat. Berdasar pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa PT.

(3)

Tridas Widiantara masih memiliki banyak kekurangan di dalam pengelolaan pelayanan IT.

Tabel 1 Permasalahan dan solusi penerapan IBP

ITIL Framework pada PT Tridas

Widiantara

Permasalahan Solusi Penerapan IBP ITIL Framework Tidak ada pencatatan

laporan Pencatatan laporan menggunakan service desk Sulit mengetahui perkembangan penanganan incident Melihat perkembangan dengan status call ticket Sulit mengontrol proses penanganan incident Pencatatan dalam service desk mempermudah kontrol proses Manajemen engineer

tidak terkontrol Menerapkan escalation Selama ini, manajemen perusahaan hampir tidak pernah melakukan pencatatan laporan aktivitas perusahaan seperti progress report

proyek dan final report proyek. Pelayanan yang

dilakukan terhadap para client pun masih belum

optimal, bahkan dapat dikatakan masih minim. Dalam menjalin hubungan dengan client

kadang-kadang terjadi salah komunikasi dan pengertian sehingga menyebabkan incident

tidak dapat ditangani dengan tepat dan segera sesuai dengan harapan client.

Dalam internal perusahaan sendiri juga kadang masih terjadi kekacauan, di antaranya kesulitan dalam pengendalian proses penanganan incident yang sedang dihadapi oleh client. Di dalam perusahaan tidak ada kejelasan

pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pelayanan terhadap client.

Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem manajemen service desk yang berbasis web online sehingga client

bisa berhadapan langsung dengan tenaga ahli PT. Tridas Widiantara dalam menangani kesulitan-kesulitan yang ada. Hasil analisis dan spesifikasi detil dari aplikasi service desk

dimodelkan ke dalam diagram use case seperti

yang ditunjukkan Gambar 8.

(4)

Gambar 8 merupakan diagram use case

sistem. Sistem ini diharapkan dapat melakukan pencatatan dan penyimpanan call ticket dari client sehingga staf perusahaan dengan segera

dapat menangai incident yang terjadi. Sistem

juga perlu dilengkapi dengan fungsi eskalasi yang memungkinkan call ticket diteruskan

kepada engineer yang bertanggung jawab

terhadap penanganan produk tertentu. Dengan begitu, perusahaan dapat memanfaatkan sistem manajemen service desk sebagai sebagian dari

penerapan ITIL framework dan dapat

meningkatkan pengelolaan layanan teknologi informasi.

Perancangan Sistem

Pada tahap ini dilakukan perancangan sistem manajemen service desk. Perancangan

sistem dilakukan berdasarkan hasil analisis dan spesifikasi kebutuhan sistem sebelumnya.

a Perancangan Masukan

Masukan pada sistem disesuaikan dengan kebutuhan penunjang pelayanan terhadap client, antara lain dapat menerima

masukan call ticket dari client. Sistem ini

juga dilengkapi dengan pendaftaran secara

online agar mempermudah client dalam

mendaftarkan diri dan dapat segera berkomunikasi dengan tenaga ahli perusahaan untuk menangani incident.

Setiap pengguna mempunyai hak-hak yang berbeda dalam memberikan masukan pada sistem. Client dapat membuat call ticket; meng-update dan mencari call ticket

yang sudah pernah dibuat; dan menutup

call ticket (menganggap kasus telah

selesai). Selain itu client juga dapat

mendaftarkan diri dan meng-update

profilnya sendiri. Masukan yang dapat diberikan operator dan tim support berupa

pencarían, jawaban, dan penutupan call

ticket; eskalasi; dan update profil.

Sedangkan pengelolaan teknis sistem dilakukan oleh administrator.

Halaman submit call ticket berupa area

teks. Pada bagian short description, client

dapat memasukkan inti masalah (penjelasan singkat mengenai masalah) yang ingin ditanyakan. Sedangkan di bagian detail

description, client dapat memberi

penjelasan yang lebih detail mengenai masalah yang ditanyakan sehingga operator dapat memahami lebih jelas incident yang

sedang dihadapi. Untuk memudahkan pengguna dalam mencari call ticket yang

pernah dibuat, sistem dilengkapi dengan fasilitas pencarían call ticket yang dapat

digunakan oleh semua pengguna.

Kontrol objek yang dapat digunakan pengguna berupa text box, combo box, text area, dan button. Masukan dari pengguna

akan diperiksa melalui proses verifikasi dan validasi data. Contohnya, pada proses login

dilakukan proses verifikasi dan validasi data username dan password.

Administrator berhak memasukkan data baru. Data tersebut dapat berupa data profil pengguna, produk, severity, grup pengguna,

dan penugasan.

b Perancangan Arsitektur Sistem dan Proses

Pada tahap ini dilakukan perancangan arsitektur sistem dan proses yang mendukung pelayanan client berdasarkan

ITIL. Sistem memberikan fasilitas pencatatan call ticket dan eskalasi agar

permasalahan dapat tercatat dengan baik dan dapat ditangani langsung oleh ahlinya sehingga penanganan suatu masalah menjadi lebih terstruktur dan lebih cepat. Arsitektur sistem ini direpresentasikan ke dalam class diagram seperti yang ditunjukkan Lampiran 1.

Proses yang terjadi dalam sistem antara lain pemasukan data, pengubahan data, penghapusan data, dan pencarian data. Proses pada sistem ini selengkapnya dapat dilihat pada diagram class pada Lampiran

1, khususnya method yang terdapat pada

masing-masing class dan CRC card pada

Lampiran 2 (Irwanto 2006). Untuk memudahkan perancangan sistem juga telah dibuat diagram alir yang dapat dilihat pada Lampiran 3. Berdasarkan diagram tersebut, sistem dilengkapi dengan beberapa fungsi yang mendukung pelayanan terhadap client dan membantu

incident management. Fungsi tersebut

antara lain

submit call ticket, berfungsi untuk

memasukkan aduan, komplain, atau pun pertanyaan dari client

assignment, berfungsi sebagai

penunjukan engineer yang akan

(5)

escalation, meneruskan/melemparkan call ticket ke level teknisi (level 2) jika

operator tidak dapat memberikan solusi yang diperlukan client

resolution, operator atau teknisi

memberikan solusi kepada client

closing, proses menutup kasus call

ticket, yang berarti bahwa masalah

telah terselesaikan atau dianggap selesai.

• manajemen pengguna, berfungsi untuk menambah, mengubah, dan menghapus data pengguna; menentukan hak akses Melalui sistem tersebut client dapat

mengakses fungsi submit call ticket.

Bersamaan dengan fungsi tersebut, client

dapat menentukan severity. Fungsi severity

memudahkan operator dalam mengetahui apakah kasus incident tersebut ringan atau

berat sehingga operator dapat membuat keputusan tentang tindakan yang harus diambil dengan lebih mudah.

Client dapat melakukan komunikasi

secara kontinyu dengan operator atau tim support melalui fungsi update call ticket.

Setelah operator atau tim support

memberikan solusi melalui fungsi update call ticket, client dapat memberitahu

kemajuan penanganan incident juga melalui

fungsi update call ticket tersebut hingga incident tertangani dengan tepat. Selain

dapat mengakses fungsi update call ticket

untuk menjawab pertanyaan client, operator

dapat mengeskalasi call ticket kepada

engineer melalui fungsi eskalasi yang

terdapat dalam sistem.

Sistem dilengkapi dengan fungsi

control panel yang mencakup pengelolaan

data pengguna, data perusahaan client, data

produk dan komponen, dan pencatatan aktivitas pengguna. Semua fungsi tersebut hanya dapat diakses oleh administrator. Selain itu, sistem dilengkapi dengan fungsi-fungsi yang menunjang kemudahan pengguna, antara lain fungsi registrasi

online dan pencarian call ticket.

Matriks fungsi-hak akses (Tabel 2) di bawah ini memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hak-hak yang dimiliki masing-masing pengguna dalam mengakses fasilitas sistem.

Tabel 2 Matriks fungsi-akses pengguna sistem manajemen service desk

Fungsi Sistem

Client Operator Engineer Adminis -trator

Show call ticket

Satu

perusahaan call ticket Semua

Assigned call ticket Submit call ticket √ √ - √ Search call ticket √ √ √ √ Update call ticket √ √ √ √ Escalate call ticket - √ - √ Update status √ √ √ √ User detail √ √ √ √ User registra-tion √ Oleh adminis-trator Oleh adminis-trator √ User log manager - - - √ User manager - - - √ Product manager - - - √ Client manager - - - √ Keterangan:

√: dapat diakses oleh pengguna -: tidak dapat diakses oleh pengguna

Pada matriks tersebut terlihat bahwa

client, operator, dan engineer mempunyai

hak akses sesuai dengan kebutuhannya terhadap sistem. Operator diberi hak untuk melakukan submit call ticket dengan tujuan

apabila ada pertanyaan dari client mengenai incident, operator dapat mencatatkan call

ticket tersebut ke dalam sistem. Hak

membaca call ticket yang dimiliki oleh engineer dibatasi hanya pada call ticket

yang diteruskan kepadanya karena tugas

engineer di sini adalah sebagai tim support

dan hanya menangani call ticket yang tidak

dapat diselesaikan oleh operator. Baik operator maupun engineer tidak dapat

melakukan registrasi sendiri, tetapi administrator yang melakukan registrasi mereka. Pembatasan ini bertujuan menghindari penyalahgunaan hak akses yang dimiliki operator atau engineer oleh

orang yang tidak bertanggung jawab.

Administrator dapat mengakses seluruh fasilitas dalam sistem karena administrator merupakan super user.

(6)

mengakses sistem dengan tujuan apabila terjadi suatu masalah dalam sistem, administrator sebagai pengelola sistem diharapkan dapat mengatasi masalah teknis sistem. Selain yang berkaitan dengan teknis, administrator tidak berwenang mengakses fasilitas yang berkaitan dengan bisnis proses service desk.

c Perancangan Basis Data

Basis data dirancang untuk menyimpan dan memberikan informasi yang diperlukan

client dan perusahaan. Data yang

digunakan untuk menjalin hubungan dengan client berupa data client dan

perusahaannya; data call ticket, update, dan

status call ticket; serta data produk dan

komponen produk. Data tersebut berisi tentang profil client dan perusahaannya, call ticket yang dibuat oleh client, dan jenis

produk serta komponen-komponen dalam produk.

Pada akhirnya nanti, data tersebut sangat berguna untuk membantu pengukuran kualitas pelayanan berdasarkan

reporting yang dilakukan perbulannya.

Pengukuran kualitas bisa dilakukan dengan cara melihat:

• Jumlah callticket

• Rataan waktu dari mulai callticket di-submit sampai diterima oleh operator

• Rataan waktu penanganan incident

hingga terselesaikan

• Jumlah callticket yang terselesaikan

• Jumlah call ticket yang belum

terselesaikan

• Jenis produk yang paling banyak mengalami incident (paling banyak callticket)

Client yang paling sering membuat call ticket

• Jumlah call ticket yang dieskalasi

(untuk mengukur kemampuan dan kualitas operator)

Dengan perhitungan pencatatan informasi dalam basis data service desk,

diharapkan dapat dilakukan pengukuran sejauh mana tingkat kualitas pelayanan perusahaan. Namun, perhitungan tersebut masih harus dilakukan secara manual oleh staf perusahaan karena sistem servicedesk

belum dilengkapi fungsi-fungsi untuk

melakukan perhitungan tersebut secara otomatis. Setidaknya, fungsi pencatatan dalam basis data dapat meringankan perusahaan dalam melakukan pengukuran kualitas pelayanan.

Atribut-atribut dalam tiap tabel dibuat dengan sederhana dan memasukkan data-data yang hanya diperlukan dalam sistem. Untuk atribut yang bertipe data integer

pada semua tabel digunakan jenis smallint

karena atribut-atribut tersebut berupa ID sehingga tidak memerlukan ukuran yang besar. Selain terdapat atribut password

untuk kebutuhan sekuriti, ditambahkan pula atribut salt yang berfungsi sebagai

tambahan kata kunci untuk sekuriti enkripsi

password. Enkripsinya sendiri

menggunakan Secure Hash Algorithm

2(SHA 2). Semua yang berkaitan dengan

basis data yang meliputi pengelolaan, penyimpanan, perbaruan, dan pemeliharaan hampir semua dilakukan oleh administrator.

Proses perancangan basis data pada penelitian ini telah melalui normalisasi sehingga bersih dari duplikasi dan

redundancy serta tidak ada atribut non primary key yang memiliki ketergantungan

transitif terhadap primary key. Hubungan

antarentitas juga telah normal. Dan akhirnya diperoleh dua belas tabel yang disesuaikan dengan fungsinya masing-masing yang saling mendukung dalam sistem ini. Detail semua tabel dapat dilihat pada Lampiran 4.

d Perancangan Antarmuka

Antarmuka pada sistem ini dirancang dengan menarik, sederhana, dan user friendly. Pada beberapa menu ditambahkan icon yang eye catching untuk memudahkan

pengguna dalam mengakses menu dalam sistem. Antarmuka disesuaikan dengan fungsi-fungsi pada sistem manajemen

service desk dan dirancang untuk

memudahkan client dalam men-submitcall ticket dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas

lain dalam sistem. Tampilan antarmuka secara umum dapat dilihat pada Lampiran 5.

Tampilan sistem ini sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan client dan

perusahaan, di mana client terbiasa dengan

(7)

Inggris dan sebagian staf perusahaan client

merupakan WNA.

e Perancangan Keluaran

Sistem ini mendukung penerapan ITIL yang berperan dalam peningkatan kualitas perusahaan sehubungan dengan pelayanan teknologi informasi. Keluaran yang dihasilkan berupa informasi yang diperlukan pengguna, seperti informasi call ticket dan profil pengguna. Dari sistem ini

client dapat memperoleh solusi yang

diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

Sistem menyediakan beberapa fasilitas pelayanan, yaitu

• Fasilitas submit call ticket

Client dapat menyampaikan keluhan,

kesulitan, persoalan, dan pertanyaan mengenai produk yang digunakannya. Nantinya client akan mendapatkan

solusi dari operator atau langsung dari tim support jika operator tidak dapat

menanganinya secara langsung. • Fasilitas eskalasi

Operator dapat mengeskalasi call ticket

kepada engineer tertentu yang bertugas

untuk menangani incident.

• Fasilitas untuk mengetahui status call ticket, apakah call ticket yang telah

masuk sudah ditangani atau belum, sudah diselesaikan atau belum.

• Fasilitas pencarian

Pengguna memperoleh kemudahan mengakses informasi melalui fasilitas pencarian call ticket berdasarkan

kategori tertentu. • Fasilitas registrasi online

Client dapat melakukan registrasi

secara online. Selain itu pengguna juga

dapat memperbarui profil pengguna secara online sehingga memudahkan

dan mempercepat proses registrasi maupun pembaruan profil pengguna.

Implementasi Sistem

Pada tahap ini dilakukan implementasi menu untuk mendukung sistem manajemen

service desk yang berstandar ITIL berupa

menu-menu sehubungan dengan pencatatan call ticket,

eskalasi, koordinasi, dan penanganan incident

sehingga penanganan lebih efektif, efisien, dan meningkatkan kualitas dukungan layanan.

Sistem yang telah dirancang, kemudian dikembangkan dengan menggunakan piranti keras dan peranti lunak komputer. Piranti lunak yang digunakan, yaitu

• Microsoft Windows XP sebagai sistem operasi

• Microsoft Visual Studio 2005

• ASP.NET (C#) sebagai bahasa pemograman

• MSSQL Server sebagai DBMS • .NET Framework 2.0

• IIS sebagai web server

• Mozilla Firefox sebagai web browser

• Adobe Photoshop CS2 editor desain grafis • Microsoft Office Visio 2007

Dipilihnya ASP.NET sebagai bahasa pemrograman yang digunakan dalam sistem ini karena ASP.NET memiliki beberapa kelebihan, yaitu

• ASP.NET adalah bahasa yang ter-compile

sehingga source-code aman dari para

pencuri script, bahkan jika source .aspx

bisa tercuri, source code-behind tetap aman

karena yang dipublikasikan di internet hanya .dll-nya saja. Maka dari itu, ASP.NET bukan lagi disebut website,

melainkan WebApps atau Web Application

karena bersifat seperti applikasi-aplikasi

desktop.

• ASP.NET dapat berkoneksi dengan beragam DBMS.

• ASP.NET mudah diperoleh dan saat ini banyak tersedia tutorialnya sehingga memudahkan dalam belajar dan penggunaan (Ruth 2005).

Piranti keras yang digunakan dalam pengembangan sistem adalah notebook dengan

spesifikasi, sebagai berikut

Prosessor Intel Core 2 Duo 1,66 GHz (2

CPU) • RAM 1 GB

Hard disk 80GB

(8)

• Kibor dan mouse

Gambar 9 Formcall ticket baru.

Gambar 9 merupakan form call ticket di

mana client dapat men-submit incident yang

terjadi. Form tersebut dilengkapi dengan detail client, severity level untuk memberi keterangan

tingkat kegawatan incident, deskripsi singkat,

dan deskripsi detail untuk memperjelas incident

yang sedang dihadapi, kemudian call ticket

tersebut segera ditanggapi oleh operator. Gambar 10 adalah form update call ticket oleh

operator.

Gambar 10 Form update call ticket oleh

operator.

Pada form update call ticket operator

terdapat menu eskalasi sehingga operator dapat mengeskalasi call ticket yang tidak dapat

ditangani kepada engineer. Selain itu, operator

dapat merubah status call ticket melalui form

tersebut. Sedangkan form update call ticket oleh engineer ditunjukkan pada Gambar 11.

Gambar 11 Form update call ticket oleh tim support.

Sistem ini juga dilengkapi dengan fasilitas pencarian call ticket. Pengguna dapat

memasukkan kategori yang ingin dicari pada

form pencarian call ticket (Gambar 12).

Gambar 12 Form pencarian call ticket.

Pengujian Sistem

Pengujian sistem dilakukan ketika sistem telah selesai dikembangkan. Pada tahap ini,

(9)

sistem diuji apakah telah memenuhi syarat dan sesuai untuk diterapkan dalam perusahaan. Sistem lolos uji jika semua fungsi dalam sistem berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan dapat membantu meningkatkan kualitas perusahaan dalam pelayanan terhadap client.

Pengujian sistem menggunakan metode

black box. Pengujian ini dilakukan untuk

mengetahui apakah menu-menu pada sistem dapat berjalan baik dan menghasilkan keluaran sesuai dengan yang diharapkan.

Pengujian dilakukan oleh penulis dan pihak terkait PT Tridas Widiantara. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh menu telah berfungsi dengan baik. Selain pengujian menu, pengujian juga dilakukan pada interface. Sistem

telah diuji dengan menggunakan browser

Internet Explorer dan Mozilla Firefox. Sistem dapat berjalan dengan lebih baik pada Mozilla Firefox dan cukup baik pada Internet Explorer, namun sedikit pun tidak mengurangi fungsionalitas sistem. Hasil pengujian selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.

Operasionalisasi dan Pemeliharaan Sistem Untuk selanjutnya sistem akan diimplementasikan oleh PT. Tridas Widiantara sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Pemeliharaan sistem seperti instalasi patch/service pack terbaru, performance monitoring dari sistem yang sudah

berjalan, capacity planning, dan lain-lain akan

dilakukan secara berkala untuk menjaga kinerja sistem agar senantiasa dalam keadaan baik. Perbaikan dan peningkatan fitur berdasarkan

feedback dari pengguna atau end user. Panduan

penggunaan sistem secara umum dapat dilihat pada Lampiran 7.

Analisis Pemanfaatan Sistem Manajemen Service Desk

Setelah dilakukan penerapan sistem manajemen service desk pada PT Tridas

Widiantara, control management perusahaan

mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Semua dokumentasi dalam proses bisnis dapat tercatat dengan baik dan terstruktur sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan proses bisnis selanjutnya. Penerapan sistem manajemen service desk juga dapat

meningkatkan kualitas dalam pelayanan perusahaan. Keuntungan yang didapat dari hasil

penerapan ITIL framework tidak hanya pada

peningkatan kualitas pelayanan, tetapi juga peningkatan di bidang internal (misalnya keuntungan produksi), inovasi perusahaan, dan keuangan.

Dengan adanya penerapan ITIL pada perusahaan, sumber daya manusia yang diperlukan dalam proses bisnis dapat dikurangi, yang tentu saja juga akan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan.

Incident dapat diselesaikan dalam waktu yang

jauh lebih singkat dibandingkan dengan pelayanan perusahaan yang tanpa menerapkan ITIL. Dan pada akhirnya, terjadi inovasi di dalam perusahaan di mana manajemen perusahaan menjadi lebih terkontrol dengan baik.

Untuk mendukung penggunaan sistem

service desk dalam perusahaan diperlukan

pelatihan khusus terhadap staf perusahaan yang berkaitan langsung dalam penerapan service desk ini, khususnya para staf yang bertugas

sebagai operator dan engineer. Hal ini sangat

diperlukan karena keberhasilan serta peningkatan kualitas dalam pelayanan terhadap

client tidak semata-mata bergantung pada faktor

sistem, tetapi juga bergantung pada Sumber Daya Manusia yang menggunakannya. Bersamaan dengan para staf yang terlatih, penerapan sistem manajemen service desk

dalam perusahaan diharapkan akan lebih optimal.

Manfaat lain yang dapat diperoleh oleh perusahaan dalam penerapan ITIL framework

sehubungan dengan penggunaan sistem manajemen service desk, antara lain

• Melalui implementasi configuration

management, service desk memiliki

pengetahuan yang lebih besar mengenai hubungan antarpengguna, konfigurasi, dan

incident.

• Dengan meningkatkan pengetahuan

support level 1 (operator service desk)

melalui problem management, organisasi

dapat meningkatkan nilai resolusi level 1, dan kemudian mengurangi pekerjaan level 2 (engineer/tim support) yang biayanya

empat sampai enam kali lebih mahal. • Mengurangi waktu penanganan incident.

(10)

Kelebihan Sistem

Sistem manajemen service desk ini

memiliki kelebihan dalam aspek peningkatan kualitas pelayanan terhadap client. Sistem ini

dikembangkan dengan menerapkan metode ITIL, yaitu dengan mengaplikasikan service desk yang merupakan salah satu komponen

service support dan sangat sesuai untuk

peningkatan mutu perusahaan dalam persaingan bisnis dan teknologi sekarang ini. Selain itu, dengan tampilan yang menarik, sederhana, dan

user frendly, client dapat dengan mudah dan

nyaman berinteraksi dengan pihak pengembang produk.

Meskipun client berada di tempat yang

jauh, perusahaan dan client dapat dengan cepat

dan mudah berkomunikasi secara online

sehingga incident yang dialami oleh client dapat

sesegera mungkin terselesaikan. Biaya yang diperlukan dalam berkomunikasi dan menangani incident juga jauh lebih sedikit

dibandingkan dengan tanpa menerapkan sistem manajemen service desk.

Selain itu, penerapan sistem manajemen

service desk diharapkan dapat meningkatkan

kualitas pelayanan teknologi informasi kepada

client. Dalam sistem manajemen service desk

terdapat fungsi call ticket yang berfungsi

mencatat segala laporan dari client mengenai

incident yang dihadapi sehingga pihak

perusahaan dapat dengan mudah mengetahui permasalahannya.

Sistem manajemen service desk juga

dilengkapi dengan fitur eskalasi yang memungkinkan operator menunjuk engineer

tertentu untuk menangani incident. Dengan

begitu, client juga mengetahui siapa yang

membantu menangani incident yang sedang

dihadapi. Pencatatan yang terstruktur seperti itu memudahkan perusahaan dalam melakukan kontrol. Selanjutnya, perusahaan dan client

dapat mengetahui perkembangan penanganan

incident dengan baik karena adanya pencatatan

yang valid tersebut. Sejauh mana penanganan suatu incident dapat diketahui melalui fungsi

penentuan status callticket yang terdapat dalam

sistem.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Sistem manajemen service desk merupakan

suatu sistem yang dikembangkan berdasarkan ITIL framework dan berbasis web online.

Sistem ini dapat menunjang kegiatan incident

management dan pelayanan IT perusahaan

terhadap client.

Pada sistem ini, client dapat berinteraksi

dengan staf perusahaan yang membantu mengatasi berbagai masalah melalui call ticket

yang di-submit. Dari call ticket tersebut, tim

operator segera memberikan balasan berupa solusi yang dibutuhkan. Ada kalanya operator tidak dapat memberikan solusi pada kasus-kasus tertentu. Pada kesempatan inilah tim support

membantu operator menangani masalah secara langsung.

Sistem ini dikembangkan dengan standar ITIL sehingga dapat meningkatkan kualitas perusahaan dalam memberikan layanan IT kepada client. Sistem ini sangat bermanfaat

dalam membantu pelayanan terhadap client agar

menjadi lebih efektif, efisien, terkontrol, dan terstruktur.

Saran

Saat ini sistem manajemen service desk

belum sepenuhnya sempurna. Ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki dan ditambahkan demi kesempurnaan sistem ini. Beberapa hal yang masih perlu ditambahkan lebih lanjut antara lain

• Penerapan knowledge based system

• Penambahan fungsi perhitungan data call ticket

DAFTAR PUSTAKA

[itSMF, Ltd] Information Technology Service Management Forum. 2004. IT Service Management, An Introduction Based on ITIL. United Kingdom: Van Haren

Publishing.

Fowler M. 2004. UML Distilled, 3th Ed., A Brief Guide to the Standard Object

Gambar

Gambar 8 Diagram use case sistem manajemen service desk.
Tabel 2 Matriks fungsi-akses pengguna  sistem manajemen service desk
Gambar 9 merupakan form call ticket di  mana  client dapat men-submit  incident yang  terjadi

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu penulis melihat, apakah manajemen konflik yang dikatakan baik tersebut hanya sebatas pada perwujudan perdamaian saja, bagaimana terkait manajemen

esnaf sorunlarının yerel basın tarafından ilgi göstermemesinde il bulunan Esnaf ve Sanatkarlar Odasının bu konuda yaptı ğ ı nitelikli çalı ş maların azlı

Berikut akan dijelaskan mengenai pengumpulan dan pengolahan data untuk perancangan analisis jabatan menggunakan salah satu jabatan pada Departemen PPIC yaitu

Secara umum, faktor perlakuan pupuk blotong pada berbagai tingkat pemberian menunjukkan nilai rerata hasil panen lebih tinggi pada berbagai parameter pengamatan dibandingkan

Indikator Kinerja konsumsi ikan pada tahun 2019 sebesar 31,11 kg/kapita/thn atau mencapai 165,30% dari target RPJMD tahun 2019, capaian tersebut sudah mencapai

• Melakukan kegiatan pemberian makan koleksi ikan hidup pada 12 aquarium.. 6 •

Candi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangunan kuno yang dibuat dari batu (sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah raja- raja, pendeta-pendeta Hindu atau

Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan seiring dengan perkembangan media penyampaian informasi, maka tidak menutup kemungkinan untuk semua media penyampaian