• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika implementasi kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam : studi multi Kasus di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Problematika implementasi kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam : studi multi Kasus di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung."

Copied!
166
0
0

Teks penuh

(1)

PROBLEMATIKA IMPLEMENTASI KURIKULUM KTSP

DAN KURIKULUM 2013 PADA MATA PELAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

(Studi Multi Kasus di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP

Negeri 2 Tulungagung)

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister Dalam Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh Supriyusepa NIM : F1.2.3.15.222

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

▸ Baca selengkapnya: contoh raport smp kurikulum 2013

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

xiii ABSTRAK

Supriyusepa (F12315222). Problematika implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Studi multi kasus di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung. Tesis. Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. 2017. Dr. Hisbullah Huda, M.Ag

Kata kunci: Problematika, KTSP, Kurikulum 2013, Pendidikan Agama Islam

Kurikulum sifatnya dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman dan tantangan zaman. Dari perkembangan kurikulum yang terjadi kemungkinan tidak terlepas dari problem atau masalah-masalah dalam implementasinya antara KTSP dan Kurikulum 2013, maka dalam hal ini perlu diadakan pengkajian.

Fokus penelitian dalam penulisan tesis ini adalah: (1) Bagaimana pelaksanaan KTSP dan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung?, (2) Apa saja problematika dan solusi penerapan KTSP pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung?, (3) Apa saja problematika dan solusi penerapan kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung?. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis studi multi kasus, lokasi penelitian ini di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung. Dalam proses pengumpulan data peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN MOTTO ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

TRANSLITERASI ... ix

DAFTAR ISI ... x

ABSTRAK ... xiii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Dan Batasan Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 9

D. Tujuan Penelitian ... 10

E. Manfaat Penelitian ... 11

F. Penelitian Terdahulu ... 12

G. Metode Penelitian ... 15

H. Sistematika Pembahasan ... 29

BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ... 31

1. Pengertian KTSP ... 31

2. Kerangka Dasar KTSP ... 35

3. Karakteristik KTSP ... 36

4. Prinsip KTSP ... 37

(8)

B. Kurikulum 2013 ... 44

1. Pengertian Kurikulum 2013 ... 44

2. Kerangka Dasar Kurikulum 2013 ... 51

3. Karakteristik Kurikulum 2013 ... 56

4. Prinsip Kurikulum 2013 ... 59

5. Fungsi Kurikulum 2013 ... 61

C. Pendidikan Agama Islam (PAI) ... 61

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI) ... 62

2. Dasar Pendidikan Agama Islam (PAI) ... 64

3. Tujuan Pendidikan Agama islam (PAI) ... 65

4. Fungsi Pendidikan Agama Islam (PAI) ... 69

5. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam (PAI) ... 70

BAB III : SETTING PENELITIAN A. SMP Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung ... 73

1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 1 Kedungwaru ... 73

2. Letak Geografis SMP Negeri 1 Kedungwaru ... 73

3. Visi, Misi dan Tujuan SMP Negeri 1 Kedungwaru ... 74

4. Struktur Organisasi SMP Negeri 1 Kedungwaru ... 78

5. Keadaan Siswa dan Guru SMP Negeri 1 Kedungwaru ... 80

6. Sarana dan Prasarana SMP Negeri 1 Kedungwaru ... 82

B. SMP Negeri 2 Tulungagung ... 85

1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 2 Tulungagung ... 85

2. Letak Geografis SMP Negeri 2 Tulungagung... 86

3. Visi, Misi dan Tujuan SMP Negeri 2 Tulungagung ... 87

4. Struktur Organisasi SMP Negeri 2 Tulungagung ... 88

5. Keadaan Siswa dan Guru SMP Negeri 2 Tulungagung .... 89

6. Sarana dan Prasarana SMP Negeri 2 Tulungagung ... 92

(9)

1. Pelaksanaan KTSP di SMP Negeri 1 Kedungwaru ... 95

2. Pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMP N 1 Kedungwaru . 102 3. Pelaksanaan KTSP di SMP N 2 Tulungagung ... 107

4. Pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMP N 2 Tulungagung 109 B. Problematika dan Solusi KTSP ... 112

1. Problematika dan Solusi KTSP SMP N 1 Kedungwaru . 112 2. Problematika dan Solusi KTSP SMP N 2 Tulungagung . 113 C. Problematika dan Solusi Kurikulum 2013 ... 115

1. Problematika dan Solusi SMP N 1 Kedungwaru ... 115

2. Problematika dan Solusi SMP N 2 Tulungagung ... 118

D. Analisis Pelaksanaan KTSP ... 126

1. Analisis KTSP di SMP N 1 Kedungwaru ... 126

2. Analisis Kurikulum 2013 SMP N 1 Kedungwaru ... 130

3. Analisis KTSP di SMP N 2 Tulungagung ... 135

4. Analisis Kurikulum 2013 di SMP N 2 Tulungagung ... 136

E. Analisis Problematika KTSP... 137

1. Analisis Problematika KTSP di SMP N 1 Kedungwaru . 140 2. Analisis Problematika KTSP di SMP N 2 Tulungagung . 142 F. Analisis Problematika Kurikulum 2013 ... 144

1. Analisis Problematika Kurikulum 2013 SMP N 1 Kedungwaru ... 144

2. Analisis Problematika Kurikulum 2013 di SMP N 2 Tulungagung ... 145

BAB V : PENUTUP A. Simpulan ... 147

B. Saran ... 149

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keberadaan pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam

proses pembangunan bangsa dan negara, karen aktivitas pendidikan bersentuhan

langsung dengan individu pembangun bangsa dan negara itu sendiri.

Permasalahannya adalah pembangunan dalam aspek ini tentu tidak mungkin

dilakukan dan dikembangkan begitu saja tanpa upaya penataan, pembinaan, dan

pengembangan terhadap berbagai aspek sesuai dengan kebutuhan dalam dunia

pendidikan dewasa ini. Sejalan dengan itu, pengembangan pendidikan

senantiasa menjadi bagian terpenting dan integral dalam proses pembangunan

bangsa dan negara.1

Sehubungan dengan kondisi tersebut, seharusnya pendidikan dapat

didayagunakan untuk mempengaruhi pola, dan sikap serta gaya hidup

masyarakat, guna meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya. Hal ini

penting, terutama untuk mengatasi berbagai ketimpangan masyarakat dibidang

pendidikan, karena perkembangan ilmu pendidikan semakin lama semakin pesat

dan semakin otonom. Masalahnya bagaimana otonomi tersebut mempengaruhi

kehidupan dan perkembangan masyarakat, baik sekarang maupun di masa

1 Abdul Rohman Mahrur, Study Tentang Kebutuhan Guru (Himmah Jurnal Ilmiah Keagamaan Dan

(11)

2

depan, agar terbentuk masyarakat madani, yang mampu mendayagunakannya

dalam proses pendidikan.

Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam keseluruhan

aspek kehidupan manusia. Hal itu disebabkan pendidikan berpengaruh langsung

terhadap perkembangan manusia, perkembangan seluruh aspek kepribadian

manusia.2 Bagi banyak orang istilah pendidikan sudah tidak asing lagi, terlebih

bagi mereka yang kesehariannya tidak terlepas dari kegiatan belajar mengajar di

sekolah sebagai wadah atau sarana mendapatkan pengetahuan bagi mereka yang

sedang bersekolah.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat

membawa dampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk terjadinya

pergeseran fungsi sekolah sebagai suatu institusi pendidikan. Seiring dengan

tumbuhnya berbagai macam kebutuhan dan tuntutan kehidupan, beban sekolah

semakin berat dan kompleks.3

Kemajuan ilmu pengetahuan memperkuat dampak globalisasi dan

kemajuan teknologi tersebut. Perubahan yang terjadi dalam dua dasawarsa

terakhir mengalahkan kecepatan dan dimensi perubahan yang terjadi dalam

kehidupan manusia di abad-abad sebelumnya. Perubahan tersebut telah

menjangkau kehidupan manusia dari tingkat global, nasional, dan regional serta

dari kehidupan sebagai umat manusia, warga negara, anggota masyarakat dan

pribadi.

2 Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktik (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2009), 38

3

(12)

3

Perubahan dan penyempurnaan tersebut menjadi penting seiring

dengan kontinuitas segala kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan

perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya pada

tataran lokal, nasional, regional, dan global di masa depan. Dengan terjadinya

perubahan tersebut diperlukan usaha untuk mengalihkan pola pikir dalam

menatap tentang dunia yang begitu cepat mengalami perubahan hingga saat ini

dan yang akan datang.

Kurikulum merupakan salah satu alat yang penting dalam mencapai

keberhasilan pendidikan. Tanpa adanya kurikulum yang baik dan tepat maka

akan sulit untuk mencapai tujuan atau sasaran pendidikan yang dicita-citakan.

Kurikulum juga merupakan sarana bagi pencapaian tujuan pendidikan yang

berorientasi bukan hanya pada materi pengetahuan semata tapi harus menjadi

penguasaan kecakapan, baik kecakapan dasar manual (psychomotoric), penguasaan konsep dasar keilmuwan (cognitive) maupun penguasaan nilai dan sikap (afektive), serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.4

Lazimnya kurikulum dipandang sebagai satu rencana yang disusun

untuk melancarkan proses belajar mengajar dibawah bimbingan dan tanggung

jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.5 Dalam

perubahan kurikulum seharusnya merupakan upaya perbaikan dalam tataran

konsep pendidikan, perundang-undangan, peraturan dan pelaksanaan pendidikan

serta menghilangkan praktik-praktik pendidikan di masa lalu yang tidak sesuai

4 Mida Latifatul Muzamiroh, Kupas Tuntas Kurikulum 2013 Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum

2013 (Kata Pena, 2013), 13

(13)

4

atau kurang baik sehingga aspek pendidikan di masa mendatang lebih baik.

Kurikulum senantiasa berubah dan bersifat dinamis. Suatu kurikulum mampu

berperan sebagai alat pendidikan jika sanggup merubah dirinya dan

menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan.6

Kurikulum KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun,

dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap

dan mampu mengembangkannya dengan memperhatikan undang-undang NO.

20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 36: kurikulum pada

semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversivikasi

sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.

Implementasi KTSP dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum

operasional dalam bentuk pembelajaran. Akan tetapi dalam pelaksanaannya

tidak semua guru mampu untuk menerima perubahan itu. Ini dapat diketahui dari

pelaksanaan pembelajaran yang cenderung kaku dan kurang memperhatikan

kondisi peserta didik. Ternyata kondisi ini juga terjadi di SMP Negeri 1

Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung, di mana tidak semua guru mampu

memahami hakikat pembelajaran berdasarkan KTSP. Sehingga dalam

pembelajaran, guru cenderung memberikan pelajaran berdasarkan buku yang

telah ada dan tidak memperhatikan kesempurnaan pembelajaran tidak terkecuali

dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

6 Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,

(14)

5

Fenomena perubahan kurikulum di Indonesia mengalami pasang surut

sesuai dengan kebijakan pemerintah yang berlaku. Seperti halnya fenomena

pada saat ini, pemerintah yang diwakili oleh Kementrian Pendidikan dan

Kebudayaan mengeluarkan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 untuk

semua jenjang pendidikan setingkat SD, SMP, dan SMA. Namun, pada tahun

2014 kebijakan implementasi kurikulum 2013 pada akhirnya mengalami pro dan

kontra tentang implementasinya. Melalui beberapa pakar pendidikan yang

menelaah implementasi Kurikulum 2013 memberikan pernyataan bahwa

Kurikulum 2013 belum siap untuk diimplementasikan di semua tingkat

pendidikan setingkat SD, SMP, dan SMA. Sehingga dari keputusan tersebut

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan keputusan bahwa tidak

semua sekolah menerapkan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 hanya diterapkan

oleh sekolah yang siap dan mempunyai kriteria khusus, sehingga penunjukan

sekolah diputuskan oleh pemerintah.

Kurikulum 2013 mendapat sorotan dari berbagai pihak. Salah satu dari

segi persiapan, kurikulum 2013 membutuhkan anggaran mencapai 2,5 triliun.

Kurang optimalnya sosialisasi kepada seluruh pelaksana di lapangan membuat

para guru masih banyak yang kebingungan terhadap kurikulum 2013.7

Pemerintah menganggap kurikulum ini lebih berat dari pada

kurikulum-kurikulum sebelumnya. Guru sebagai ujung tombak implementasi kurikulum-kurikulum

2013 sedangkan guru yang tidak profesional hanya dilatih beberapa bulan saja

7 Enco Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013 (Bandung: PT Remaja

(15)

6

untuk mengubah pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013. Selain penguatan

dan pendampingan terhadap guru, siswa juga membutuhkan penguatan dan

pendampingan dalam mengembangkan sikap dan karakter siswa yang

ditekankan dalam kurikulum 2013.8 Perubahan yang terdapat pada kurikulum

2013 salah satunya adalah penggabungan mata pelajaran.

Selain itu pemerintah juga berencana menambah jam pelajaran agar

pembelajaran lebih mengedepankan karakter siswa.9 Terkait dengan kurikulum

2013 Muhammad Nuh sebagai mantan menteri pendidikan menegaskan bahwa

kurikulum 2013 dirancang sebagai upaya mempersiapkan generasi indonesia

2045 yaitu tepatnya 100 tahun Indonesia merdeka, sekaligus memanfaatkan

populasi usia produktif yang jumlahnya sangat melimpah agar menjadi bonus

demografi dan tidak menjadi bencana demografi.10

Namun dengan banyaknya lembaga, organisasi maupun perseorangan

yang terlibat dalam perubahan kurikulum 2013 ini, belum ada jaminan bahwa

kurikulum tersebut mampu membawa bangsa dan negara ini ke arah kemajuan.11

Pola pembelajaran baru di sekolah menggunakan kurikulum 2013

merubah pola fikir dari terpusat kepada guru menjadi kepada siswa. Jadi guru

yang pada awalnya sebagai sumber informasi sekarang siswa yang aktif untuk

mencari informasi terlebih dahulu. Dengan perkembangan teknologi yang sangat

pesat, siswa dapat memperoleh sumber belajar dengan sangat mudah, akses

8Ibid ., 190

9 Loeloek Endah Poerwanti dan Sofan Amri, Panduan Memahami Kurikulum 2013 (Jakarta: PT

Prestasi Pustakaraya, 2013), 282-283

10Ibid., 111-112

(16)

7

internet dan kecanggihan teknologi mendominasi perkembangan siswa untuk

aktif mencari. Pada dasarnya teknologi dan informasi menjadi sarana wajib

dalam pembelajaran kurikulum 2013 yang diterapkan pada saat proses

pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan yang ada diatas, maka peneliti ingin

mengadakan penelitian dengan judul “Problematika Implementasi Kurikulum

KTSP dan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam

(Studi Multi Kasus di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2

Tulungagung)”

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang di atas, permasalahan yang

teridentifikasi muncul dalam problematika implementasi kurikulum KTSP

dan kurikulum 2013 adalah sebagai berikut:

a. Waktu sosialisasi kurikulum 2013 dengan waktu pelaksanaan atau

implementasi kurikulum 2013 terlalu singkat.

b. Belum maksimalnya pelatihan dan workshop bagi guru tentang kurikulum

2013 yang diadakan oleh pemerintah, sehingga menyebabkan hanya

beberapa sekolah saja yang bisa menerapkan kurikulum 2013.

c. Kesiapan guru yang masih belum bisa optimal dalam pelaksanaan

kurikulum KTSP dan kurikulum 2013. Banyak guru yang masih

menggunakan metode pembelajaran yang konvensional yakni dari awal

(17)

8

d. Pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) konten kurikulum

masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran

dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui

tingkat perkembangan anak.

e. Belum adanya pengawasan yang intensif dalam mengawasi perkembangan

cara mengajar guru baik yang menggunakan kurikulum KTSP maupun

kurikulum 2013.

f. Kreativitas guru Pendidikan Agama Islam dalam mengembangkan

kurikulum menjadi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

yang masih rendah.

g. Masih ada beberapa guru yang belum mampu menguasai teknologi IT

dalam proses pembelajaran.

h. Kurangnya sarana dan prasarana penunjang dalam penerapan kurikulum

KTSP dan Kurikulum 2013.

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, penelitian ini difokuskan

pada permasalahan yang berkenaan dengan Problematika Implementasi

Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Pendidikan

Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung.

2. Batasan Masalah

Untuk menghindari perluasan ruang lingkup dan pembahasannya,

serta untuk mempermudah pemahaman, maka pada tesis ini peneliti

(18)

9

a. Pelaksanaan Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri

2 Tulungagung.

b. Problematika dan solusi penerapan kurikulum KTSP pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri

2 Tulungagung.

c. Problematika dan solusi penerapan kurikulum 2013 pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri

2 Tulungagung.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus penelitian diatas dapat dirinci masalah-masalah

dalam penelitian yang dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 pada mata

pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP

Negeri 2 Tulungagung?

2. Apa problematika dan solusi penerapan kurikulum KTSP pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2

Tulungagung?

3. Apa problematika dan solusi penerapan kurikulum 2013 pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2

(19)

10

D. Tujuan Penelitian

Berangkat dari rumusan masalah di atas, maka penulis mengemukakan

tujuan penelitian ini sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pelaksanaan kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 pada

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan

SMP Negeri 2 Tulungagung.

2. Untuk mengetahui problematika dan solusi penerapan kurikulum KTSP pada

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan

SMP Negeri 2 Tulungagung.

3. Untuk mengetahui problematika dan solusi penerapan kurikulum 2013 pada

mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan

SMP Negeri 2 Tulungagung.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini dapat dijadikan sumber referensi untuk penelitian lanjutan

mengenai problematika implementasi kurikulum KTSP dan kurikulum

2013.

b. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan, pemahaman,

dan wawasan mengenai kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 khususnya

(20)

11

2. Manfaat Praktis

a. Bagi penulis

Mendapatkan wawasan dan pemahaman baru mengenai salah satu aspek

peningkatan mutu pendidikan di Indonesia saat ini yaitu kurikulum KTSP

dan kurikulum 2013.

b. Bagi guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi untuk

dapat: (1) membantu dalam pencapaian tujuan kurikulum KTSP dan

kurikuum 2013, (2) meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan

pengalaman guna mendukung profesionalisme guru; serta (3)

meningkatkan kualitas dan kompetensi guru dalam melaksanakan

kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di

sekolah.

c. Bagi sekolah

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai: (1) bahan evaluasi

dan informasi yang bermanfaat untuk melakukan perbaikan dan

pengembangan dalam pelaksanaan kurikulum KTSP dan kurikulum 2013,

serta (2) bahan untuk mengetahui kinerja ketercapaian tujuan kurikulum

KTSP dan kurikulum 2013 dalam implementasinya.

d. Bagi pemerintah dinas pendidikan

Hasil penelitian diharapkan mampu mengakomodasi segala kekurangan

(21)

12

maupun dukungan secara moral sehingga kurikulum KTSP dan kurikulum

2013 tetap berjalan sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.

F. Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang kurikulum ini telah diteliti oleh berbagai kalangan.

Di bawah ini ada berbagai macam penelitian terdahulu dari berbagai sumber,

diantaranya:

1. Rouf Tamim telah melakukan penelitian (Tesis) tahun 2015 tentang Analisis

Implementasi Kurikulum 2013 Pembelajaran Bahasa Arab (Studi Kasus di

MAN Yogyakarta I dan MAN Yogyakarta III).12 Hasil penelitian

menunjukkan implementasi kurikulum 2013 Pembelajaran bahasa arab di

kedua Madrasah tersebut berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Semua komponen madrasah kepala madrasah, guru pelaksana mampu

melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses

pembelajaran, dan penilaian kurikulum 2013.

2. Ainul Marya Rahmani telah melakukan penelitian (Tesis) tahun 2013

tentang Peran Guru Dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan ( KTSP) Pada Pembelajaran PAI di SMP N 5 Banguntapan

Bantul Tahun 2012/2013.13 Hasil penelitian menunjukkan bahwa

implementasi KTSP mapel PAI di SMP N 5 Banguntapan Bantul sesuai

hasil observasi dan wawancara dapat dikatan baik, akan tetapi masih perlu

12 Rouf Tamim, Analisis Implementasi Kurikulum 2013 Pembelajaran Bahasa Arab (Studi Kasus di

MAN Yogyakarta I dan MAN Yogyakarta III) (Yogyakarta: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2015).

13 Ainul Marya Rahmani, Peran Guru Dalam Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(22)

13

perbaikan dari segi ketepatan penggunaan metode, media, pemanfaatan

waktu, dan mengkondisikan siswa. Guru belum mampu dalam

mengembangkan silabus secara mandiri dan RPP yang dibuat di awal

semester tidak direvisi kembali saat pembelajaran berlangsung.

3. Moh. Rois telah melakukan penelitian (Tesis) tahun 2002 tentang

Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal MA (Studi Kasus Di MA

Al-Falah Badas Pare-Kediri).14 Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata

pelajaran agama yang diajarkan sebagai mata pelajaran muatan lokal di MA

Al-Falah Badas, secara umum sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang

ada, tetapi secara khusus pelajaran agama yang dijadikan sebagai mata

pelajaran muatan lokal tersebut dilihat dari kebutuhan masyarakat sekarang

masih perlu dikembangkan lebih lanjut, karena kebutuhan masyarakat telah

mengalami perubahan. Dan dalam implementasi muatan lokal proses belajar

mengajar belum berjalan dengan baik karena guru hanya sekedar

menyampaikan mata pelajaran yang ada dalam buku paket yang dijadikan

sebagai pelajaran muatan lokal tanpa menilai lebih lanjut tingkat

keberhasilan maupun kegagalan.

4. Andri Noviatmi telah melakukan penelitian (Tesis) tahun 2015 tentang

Evaluasi implementasi kurikulum 2013 kelas I & IV SD di Kabupaten

Magelang tahun pelajaran 2014/2015.15 Hasil penelitian menunjukkan

evaluasi terhadap implementasi kurikulum 2013 kelas I & IV SD di

14 Moh. Rois, Pengembangan Kurikulum Mutan Lokal Studi Kasus Di MA Al-Falah Badas Pare

Kediri (Malang: Pascasarjana Universitas Islam Negeri Malang, 2002).

15 Andri Noviatmi, Evaluasi implementasi kurikulum 2013 kelas I & IV SD di Kabupaten Magelang

(23)

14

Kabupaten Magelang belum semua aspek dalam masing-masing tahapan

terpenuhi 100% sesuai standar. Namun terlihat beberapa aspek dalam

masing-masing tahapan telah berkategori baik bahkan sangat baik. Oleh karena itu,

hasil temuan dari penelitian ini diharapkan bisa dijadikan bahan untuk

meningkatkan kinerja dari semua pihak dalam implementasi kurikulum 2013.

Pada akhirnya nanti, implementasi kurikulum 2013 dapat berjalan sesuai

standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Dari beberapa penelitian yang telah diungkapkan di atas, fokus

penelitian dan objek penelitian sangatlah berbeda dengan fokus penelitian dan

objek yang peneliti akan lakukan. Penulis akan melengkapi penelitian dari sisi

problematika implementasi kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 pada mata

pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP

Negeri 2 Tulungagung. Dari fokus penelitian tersebut penulis yakin akan adanya

perbedaan fokus penelitian baik itu tempat, objek, subjek dan waktu pelaksanaan

penelitian.

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Metode merupakan suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam

proses penelitian, sedangkan penelitian adalah semua kegiatan pencarian

penyelidikan dan percobaan secara alamiah dalam suatu bidang tertentu

untuk menapatkan pengertian baru dan menaikkan tingkat illmu serta

teknologi.16 Berkaitan dengan hal ini Metode penelitian adalah strategi

(24)

15

umum yang dianut dalam pengumpulan dan analisis data yang diperlukan

guna menjawab persoalan yang dihadapi.17 Sedangkan mengenai

pendekatan dan jenis penelitian akan dijelaskan di bawah ini:

a. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penyusunan tesis

ini adalah kualitatif. Kualitatif yaitu suatu pendekatan penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa ucapan dan tulisan dan perilaku

yang dapat diamati dari orang-orang (subyek) itu sendiri. Pendekatan ini

memiliki ciri-ciri antara lain: (a) desain penelitian diambil bersifat lenur

dan terbuka, (b) data penelitian diambil dari latar alami (natural setting),

(c) data yang dikumpulkan meliputi data deskriptif dan reflektif, (d) lebih

mementingkan proses daripada hasil, (e) sangat mementingkan makna

(meaning), (f) sampling dilakukan secara internal yang didasarkan pada subyek yang memiliki informasi paling representatif, (g) analisis data

dilakukan pada saat dan setelah pengumpulan data, dan (h) kesimpulan

dari penelitian kualitatif dikonfirmasikan dengan informan.18 Menurut

Best sebagaimana dikutip oleh sukardi adalah sebuah pendekatan

penelitian yang menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai

dengan apa adanya.19 Hal ini sejalan dengan pendapatnya Prasetya bahwa

17 Ary Donald, Dkk. , Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Terj. Arief Furchan (Surabaya:

Usaha Nasional, 1982), 50.

18 Ahmad Sonhaji, Teknik Penelitian Kualitatif Dalam Ilmu-Ilmu Sosial Dan Keagamaan (Malang:

Kalimasada Press, 1996), 108.

19 Sukardi, Metode Penelitian Guruan: Kompetensi dan Prakteknya (Jakarta: Bumi Aksara, 2005),

(25)

16

penelitian kualitatif adalah penelitian yang menjelaskan fakta apa

adanya.20

Pendekatan kualitatif dipandang sesuai dengan tujuan

penelitian ini. Dengan pendekatan kualitatif maka informasi yang

diperoleh bisa lebih lengkap, mendalam dan dapat dipercaya. Tujuan dari

penelitian ini adalah berusaha untuk mengetahui secara mendalam

mengenai apa saja problematika kurikulum KTSP dan kurikulum 2013

pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilakukan di SMP

Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung. Sehingga

pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah memahami suatu fenomena dalam

konteks sosial secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi

komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang akan

diteliti.21 Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang digunakan

untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan

kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat

dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kuantitatif.22

20 Prasetya Irawan, Logika Dan Prosedur Penelitian Pengantar Teori Dan Panduan Praktis

Penelitian Sosial Bagi Peserta Didik Dan Peneliti Pemula (Jakarta: STAIN, 1999), 59.

21 Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial (Jakarta: Salemba

Humanika, 2010), 32.

22 Saryono, Metodologi Penelitian Kualitatif Dalam Bidang Kesehatan (Yogyakarta: Nuha Medika,

(26)

17

b. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah studi multi kasus. Studi

multi kasus merupakan salah satu metode atau strategi kualitatif

sebagaimana dikemukakan oleh Bogdan dan Biglen yang dikutip oleh

Ahmad Tanzeh bahwa: “studi multi kasus merupakan satu bentuk

rancangan penelitian yang diangkat dari beberapa latar yang tidak sama

sehingga dapat dihasilkan teori yang dapat ditransfer ke situasi yang lebih

luas dan lebih umum cakupannya,”23

Berkaitan dengan jenis penelitian, berdasarkan atas tempat/

lokasi, penelitian dibagi 3 yaitu: penelitian laboratorium (laboratory research) yaitu penelitian yang dilaksanakan pada tempat tertentu misalnya laboratorium, biasanya bersifat eksperimen atau percobaan,

penelitian perpustakaan (library research) penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya,

dan penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang dilakukan di suatu tempat/ lapangan baik itu tentang masyarakat, pendidikan,

kebudayaan dll. Dalam penelitian yang penulis lakukan termasuk ke

dalam penelitian lapangan (field research), penelitian ini mengambil lokasi/ tempat di daerah Tulungagung yaitu di SMP Negeri 1

Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung.

23 Ahmad Tanzeh, Memahami Studi Kasus (Tulungagung: makalah dalam seminar penelitian, 2011),

(27)

18

2. Kehadiran Peneliti

Peneliti memiliki peran yang sangat dalam penelitian. Dalam

penelitian kualitatif, peneliti memiliki kedudukan yang cukup rumit.

Artinya ia sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis,

penafsir data dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.24

Adapun kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pengamat

partisipan atau berperan serta. Pengamatan berperan serta berarti

mengadakan pengamatan dan mendengarkan secara cermat sampai pada

yang sekecil-kecilnya sekalipun.25

3. Sumber Data

Data merupakan informasi atau fakta yang diperoleh melalui

pengamatan atau penelitian di lapangan yang bisa dianalisis dalam rangka

memahami sebuah fenomena atau untuk mendukung teori.26 Data tersebut

disajikan dalam bentuk uraian kata (deskripsi).

Untuk mendapatkan data yang lengkap, peneliti perlu

menentukan sumber data penelitiannya karena data tidak akan dapat

diperoleh tanpa adanya sumber data yang baik. Pengambilan data dalam

penelitian ini adalah dengan cara snowball sampling yaitu informan kunci akan menunjuk beberapa orang yang mengetahui masalah-masalah yang

24 Prof. Dr. Lexy J. Moleong, M.A, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT. Remaja Rosda

Karya, 2014), 168.

25 Ibid., 164

26 Jack Richard, Longman Dictionary Of Language Teaching And Applied Linguistic (Malaysia:

(28)

19

diteliti guna melengkapi keterangannya dan orang-orang yang ditunjuk

tersebut dapat menunjuk orang lain bila keterangan kurang memadahi

begitu seterusnya.27

Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subjek dari

mana data diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau

wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data tersebut

responden, yaitu orang yag merespon atau menjawab

pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan-pertanyaan tertulis ataupun lisan.28

Adapun sumber data diatas mengungkap tentang:

a. Sumber data primer

Sumber data primer ini membutuhkan data atau informasi dari

sumber pertama, biasanya kita sebut dengan responden, meliputi Kepala

sekolah, Wakil kepala bagian kurikulum, dan Guru Pendidikan Agama

Islam.

b. Sumber data sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari

informasi yang telah diolah oleh pihak lain.29 Penelitian ini juga dikenal

dengan penelitian yang menggunakan studi kepustakaan dan yang

biasanya digunakan oleh para peneliti yang menganut paham pendekatan

kualitatif. Sumber data sekunder ini meliputi dokumen dan foto yang

27 W. Mantja, Etnografi Design Penelitian Kualitatif Dan Manajemen Pendidikan (Malang: Winaka

Media, 2003), 7.

28 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,

1998), 114

29 Wahidmurni, Cara Mudah Menulis Proposal Dan Laporan Penelitian Lapangan Pendekatan

(29)

20

berkaitan dengan problematika implementasi kurikulum KTSP dan

kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam usaha memperoleh data di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan

SMP Negeri 2 Tulungagung, diperlukan teknik-teknik pengumpulan data.

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

berupa:

a. Observasi

Observasi yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik

terhadap suatu gejala yang tampak pada obyek penelitian.30 Metode ini

digunakan untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan di

lapangan agar peneliti memperoleh gambaran yang lebih luas tentang

permasalahan yang diteliti.31 Menurut Sukardi, observasi adalah cara

pengambilan data dengan menggunakan salah satu panca indera yaitu

indera penglihatan sebagai alat bantu utamanya untuk melakukan

pengamatan langsung, selain panca indera biasanya penulis

menggunakan alat bantu lain sesuai dengan kondisi lapangan antara lain

buku catatan, kamera, film proyektor, check list yang berisi obyek yang

diteliti dan lain sebagainya.32

30Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian

(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 206.

31 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 93-94. 32Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi Dan Praktiknya (Jakarta: Bumi Aksara,

(30)

21

Observasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk

memperoleh bahan-bahan, keterangan, kenyataan-kenyataan dan

informasi yang dapat dipercaya mengenai beberapa hal terkait dengan

problematika implementasi kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 yang

diterapkan di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2

Tulungagung.

Dalam penelitian ini, hal-hal yang akan diobservasi adalah

pelaksanaan kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 dan problematika

kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan

SMP Negeri 2 Tulungagung.

b. Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data atau

informasi dengan cara tanya jawab sepihak, dikerjakan secara sistemik

dan berlandaskan pada tujuan penyelidikan.33 Dalam hal ini penulis akan

menggunakan metode interview bebas terpimpin, yaitu pewawancara

bebas menanyakan apa saja yang dibutuhkan dengan membuat pedoman

yang merupakan garis besar tentang hal yang akan ditanyakan.

Wawancara dalam penelitian ini dimaksudkan untuk

melengkapi metode yang lainnya seperti halnya observasi, dan

digunakan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada dalam

penelitian dan juga bisa untuk menguji kebenaran dan kemantapan data.

(31)

22

Langkah-langkah wawancara dalam penelitian ini adalah: (1)

menetapkan kepada siapa wawancara itu dilakukan; (2) menyiapkan

pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan; (3)

mengawali atau membuka alur wawancara; (4) melangsungkan alur

wawancara; (5) menginformasikan hasil wawancara; (6) menulis hasil

wawancara ke dalam catatan lapangan; dan (7) mengidentifikasi tindak

lanjut hasil wawancara.34

Dalam penelitian ini penulis menggunakan daftar pertanyaan

yang sudah disiapkan (interview guide) agar wawancara terarah sesuai dengan yang telah direncanakan. Teknik wawancara ini digunakan

penulis untuk mendapatkan tentang segala sesuatu yang berkenaan

dengan problematika implementasi kurikulum KTSP dan kurikulum

2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan bagaimana solusi

untuk mengatasi problem tersebut. Adapun yang diwawancarai yaitu

kepala sekolah, waka kurikulum, dan guru PAI.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang

ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumen yang diketik dapat berupa

berbagai macam, tidak hanya dokumen resmi. Dokumen dibedakan

menjadi dua, yaitu: dokumen primer; apabila dokumen itu ditulis oleh

pelakunya sendiri, misalnya otobiografi. Dokumen sekunder; apabila

dokumen itu ditulis oleh orang lain, misalnya biografi seseorang yang

(32)

23

ditulis oleh orang lain.35 Dokumentasi adalah mencari data yang berupa

catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,

legger, agenda dan sebagainya.36

Teknik ini penulis gunakan untuk mengumpulkan data-data

yang mendukung dan mendapatkan data tertulis tentang SMP Negeri 1

Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung, visi dan misi, kurikulum,

struktur organisasi, dan problematika implementasi kurikulum KTSP dan

kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak awal

peneliti terjun lapangan, yakni sejak peneliti mulai melakukan

pertanyaan-pertanyaan dan catatan-catatan lapangan.37 Yang dimaksud dengan Analisis

data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang

diperoleh melalui wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain,

sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan

kepada orang lain. Dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan

ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih

dan membuat kesimpulan.38

Analisis data kualitatif Bogdan & Biklen sebagaimana yang

dikutip pada buku M. Djunaidi Ghony adalah upaya yang dilakukan dengan

35Anis Fuad dan Kandung Sapto Nugraha, Panduan Praktis Penelitian Kualitatif (Yogyakarta:

Graha Ilmu, 2014), 60

36 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, 231

(33)

24

jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya

menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, mencari, dan

menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari,

dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.39 Dalam hal

ini peneliti akan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang sebagian

besar berupa catatan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis, analisa dalam

penelitian ini dilakukan sejak dan setelah pengumpulan data. Hasil

wawancara dan catatan lapangan segera dipaparkan dalam bentuk paparan

tertulis atau tabel sesuai dengan kategorisasi yang telah ditetapkan,

kemudian dianalisa. Proses analisis data menurut Miles & Huberman

dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut:40

a. Reduksi Data

Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang

menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak

perlu, dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga diperoleh

kesimpulan akhir dan diverfikasi. Reduksi data diartikan juga sebagai

proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan,

pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari

catatan-catatan tertulis di lapangan. Mereduksi data dalam konteks penelitian ini

adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada

39 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 248 40 Tjetjep Rohendi Rohidi, Analisis Data Kualitatif Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru

(34)

25

hal-hal yang penting, membuat kategori. Dengan demikian data yang

telah direduksi memberikan gambaran yang lebih jelas dan

mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

b. Penyajian Data

Sebagaimana ditegaskan oleh Miles dan Hubberman,41 bahwa

penyajian data dimaksudkan untuk menemukan pola-pola yang

bermakna serta memberikan kemungkinan adanya penarikan

kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data sebagai

sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan

adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data

berupa tulisan, tabel, dan dokumentasi. Dengan demikian, berdasarkan

penyajian peneliti dapat memahami apa yang terjadi dan apa yang harus

dilakukan lebih jauh.

c. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi

Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan

dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi

dengan pemikiran kembali yang melintas dalam pemikiran penganalisis

selama ia menulis, suatu tinjauan pada catatan lapangan.

6. Pengecekan Keabsahan Data

Agar data yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan

dipercaya secara ilmiah, maka peneliti melakukan pengecekan keabsahan

41 Matthew B. Miles and A. Michael Huberman, Qualitative Data Analysis (London: Sage

(35)

26

data. Keabsahan pengecekan data merupakan suatu lngkah untuk

mengurangi kesalahan dalam proses perolehan data penelitian yang

tentunya berimbas terhadap hasil akhir suatu penelitian yang dilakukan.

Dalam proses pengecekan keabsahan data ini peneliti melakukan uji

kredibilitas data dengan menggunakan beberapa teknik dari Sugiono yaitu:

perpanjangan keikutsertaan, ketekunan atau keajegan pengamatan, dan

triangulasi.42

Untuk menjamin kepercayaan atau validitas data yang diperoleh

melalui penelitian, maka diperlukan adanya uji keabsahan data yang

dilakukan dengan berbagai cara yaitu:

a. Perpanjangan keikutsertaan

Sebagaimana sudah dikemukakan, peneliti dalam penelitian

kualitatif adalah instrumen itu sendiri. Keikutsertaan peneliti sangat

menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak

hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan

keikutsertaan pada latar penelitian.

b. Ketekunan atau keajegan pengamatan

Ketekunan atau keajegan pengamatan berarti mengadakan

observasi secara terus menerus terhadap objek penelitian guna

memahami gejala lebih mendalam terhadap berbagai aktivitas yang

sedang berlangsung di lokasi penelitian. Dalam hal ini yang berkaitan

dengan problematika implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran

(36)

27

Pendidikan Agama Islam di SMP Negei 1 Kedungwaru dan SMP Negeri

2 Tulungagung.

c. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan

pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik

triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui

sumber lainnya.

Di dalam aplikasinya, peneliti membandingkan data hasil

pengamatan (observasi) dengan data hasil wawancara kemudian

dibandingkan lagi dengan data dari dokumentasi yang berkaitan. Dengan

cara ini peneliti dapat menarik kesimpulan yang valid karena peneliti

tidak hanya melihat dan menilai dari satu cara pandang saja tetapi dari

tiga cara pandang yang berbeda untuk menentukan satu titik temu.

Triangulasi berfungsi untuk mencari data supaya data yang dianalisis

tersebut teruji kebenarannya.

7. Tahap-tahap Penelitian

Dalam penelitian ini rancangan yang akan digunakan oleh

peneliti terdiri atas tiga tahap kegiatan, yakni sebagai berikut:

a. Tahap Pra Lapangan

1) Memilih tempat penelitian dengan mempertimbangkan dari segala

(37)

28

2) Mengurus perizinan dari fakultas, secara formal ke lembaga

pendidikan yang dituju yakni SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP

Negeri 2 Tulungagung.

3) Memilih dan memanfaatkan informan. Dalam hal ini peneliti sudah

menentukan dan menetapkan siapa yang akan menjadi informan

dalam penelitian ini.

4) Menyiapkan perlengkapan penelitian, termasuk lembar observasi,

draft wawancara, dan alat dokumentasi.

b. Tahap pelaksanaan penelitian

1) Mengadakan observasi secara langsung ke SMP Negeri 1

Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung tentang apa saja

problematika implementasi kurikulum KTSP dan kurikulum 2013

pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

2) Melakukan wawancara dengan kepala sekolah, waka kurikulum, dan

guru PAI yang terkait dengan penelitian.

3) Melakukan dokumentasi secara berkala yang dianggap penting

sebagai data.

c. Tahap akhir penelitian

1) Menyajikan data dalam bentuk deskripsi.

(38)

29

H. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dimaksudkan untuk mempermudah para

pembaca dalam menelaah isi kandungan yang ada didalamnya. Tesis ini terdiri

dari lima bab, adapun sistematikanya adalah sebagai berikut:

Bab pertama, merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar

belakang, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan

penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu, metode penelitian, dan

sistematika pembahasan.

Bab kedua, merupakan kajian pustaka. Yang membahas beberapa

hal terkait dengan: a) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), meliputi:

Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kerangka Dasar

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Karakteristik Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Prinsip Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP), dan Fungsi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(KTSP). b) Kurikulum 2013, meliputi: Pengertian Kurikulum 2013, Kerangka

Dasar Kurikulum 2013, Karakteristik Kurikulum 2013, Prinsip Kurikulum

2013, dan Fungsi Kurikulum 2013. c) Pendidikan Agama Islam (PAI),

meliputi: Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI), Dasar-dasar Pendidikan

Agama Islam (PAI), Tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI), Fungsi

Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Ruang lingkup pendidikan agama islam

(39)

30

Bab ketiga, merupakan setting penelitian, membahas tentang

deskripsi obyek penelitian, dalam hal ini berupa gambaran umum tentang SMP

Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2 Tulungagung.

Bab keempat, merupakan penyajian dan analisis data, berfungsi

mendeskripsikan hasil temuan dan analisis tentang problematika implementasi

kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 terkait dengan pelaksanaan kurikulum

KTSP dan kurikulum 2013 di SMP Negeri 1 Kedungwaru dan SMP Negeri 2

Tulungagung, apa saja problematika dan solusi penerapan kurikulum KTSP,

dan apa saja problematika dan solusi penerapan kurikulum 2013.

Bab kelima, merupakan bab penutup. Bab ini berfungsi

mempermudah para pembaca dalam mengambil inti sari dari tesis ini yang

(40)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

1. Pengertian kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berisikan

berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan,

direncanakan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku

yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga

kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.1

Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) diartikan sebagai

kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di

masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri atas: tujuan pendidikan tingkat

satuan pendidikan struktur dan muatan KTSP kalender pendidikan

silabus.2

Menurut Rusman KTSP adalah kurikulum dalam

pelaksanaannya mengacu pada standar nasional pendidikan, yakni

bentuk operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh unit-unit

pendidikan tertentu.

Menurut Muhammad Joko Susilo Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk

1

Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 3.

2

(41)

32

mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan

teknologi seperti digariskan dalam haluan Negara.

Sedangkan menurut Wina Sanjaya pengertian KTSP sama

dengan undang-undang SNP pasal 1 ayat 5, yaitu kurikulum

operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing unit

pendidikan.3

Definisi lain dari KTSP adalah kurikulum operasional yang

disusun, dikembangkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan

yang sudah siap dan mampu mengembangkannya, dengan

memperhatikan undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem

pendidikan nasional pasal 36.4 Dalam menyusun, mengembangkan, dan

melaksanakan KTSP harus memperhatikan standar nasional pendidikan.

Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses,

kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,

pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus

ditingkatkan secara berencana dan berkala.5

Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka penulis dapat

menyimpulkan tentang KTSP, yaitu suatu bentuk kurikulum yang

disusun dan dibuat oleh masing-masing unit pendidikan dan

disesuaikan dengan kondisi pendidikan di unit tersebut.

3

Wina Sanjaya, Kurikulum & Pembelajaran: Teori & Praktik pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), 128.

4

Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), 12.

5

(42)

33

KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk

mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi.

Implementasi KTSP di tiap-tiap lembaga pendidikan menuntut tiap

elemen pendidikan untuk berperan aktif dalam menyusun,

mengembangkan serta melaksanakan KTSP. Keberadaan KTSP

memberikan lahan kreatifitas yang luas kepada guru dalam

merencanakan, melaksanakan serta mengevaluasi.

Kemunculan KTSP dalam dunia pendidikan memberikan

paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi

luas pada setiap satuan pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam

rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi

sekolah yang diberikan kepada setiap lembaga pendidikan ini memiliki

tujuan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan

dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan

mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan serta lebih tanggap

terhadap kebutuhan setempat.

KTSP merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang

memberikan otonomi kepada sekolah untuk mengembangkan

kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan dan kebutuhan

masing-masing sekolah yang ada di tiap-tiap daerah. Otonomi sekolah yang

diberikan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran

merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja guru dan

(43)

34

kelompok-kelompok terkait dan meningkatkan pemahaman masyarakat

terhadap pendidikan, khususnya kurikulum.

Menurut Hanafie, KTSP yang hendak diberlakukan Departemen

Pendidikan Nasional melalui Badan Standar Nasional Pendidikan

(BSNP) sesungguhnya dimaksudkan untuk mempertegas pelaksanaan

kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Artinya kurikulum baru yang

ini tetap memberikan tekanan pada pengembangan kompetensi siswa.

Sedangkan menurut Fasli Jalal, pemberlakuan KTSP tidak akan

melalui uji public maupun uji coba, karena kurikulum ini telah

diujicobakan melalui KBK yang diterapkan ke beberapa sekolah yang

menjadi pilot project.

Pada sistem KTSP, sekolah memiliki full autority and responsibility dalam menerapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, misi, dan tujuan tersebut. Sekolah dituntut untuk

mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam

indikator kompetensi, mengembangkan strategi, menentukan prioritas,

mengendalikan pemberdayaan berbagai potensi sekolah dan lingkungan

sekitar serta mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat dan

pemerintah.

Acuan operasional penyusunan KTSP peningkatan iman, taqwa,

akhlak mulia peningkatan potensi, kecerdasan, minat sesuai tingkat

perkembangan dan kemampuan peserta didik, keragaman potensi dan

(44)

35

nasional tuntutan dunia kerja perkembangan IPTEKS agama dinamika

perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan,

kondisi sosial budaya masyarakat setempat, kesetaraan gender dan

karakteristik satuan pendidikan.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan memberikan keleluasaan

penuh kepada setiap sekolah mengembangkan kurikulum dengan tetap

memperhatikan potensi masing-masing sekolah dan sekitarnya.6 Hal ini

mengandung makna bahwa satuan pendidikan atau sekolah diberi

kewenangan penuh untuk menyusun rencana pendidikannya mulai dari

tujuan, visi-misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar,

kalender akademik.

Jika dilihat dari definisi diatas, maka bisa dikatakan bahwa

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan

penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yang mana pengembangan

kurikulumnya sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah atau

daerah, karakteristik peserta didik dan tentu serta kebutuhan masyarakat

setempat.

2. Kerangka Dasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disusun dalam rangka

memenuhi amanat yang tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003

6

(45)

36

tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) RI

Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.7

Peraturan pemerintah yang kemudian mengatur persoalan ini

yaitu Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang

Standar Nasional Pendidikan (SNP). Dalam PP ini disebutkan bahwa

Standar Nasional Pendidikan yaitu kriteria minimal tentang system

pendidikan diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik

Indonesia.8

Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan jenjang

pendidikan dasar dan menengah mengacu pada Peraturan Menteri

Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi,

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006

Tentang Standar Kompetensi, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Peraturan

Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang

Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 dan 23,

dan berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar

Nasional Pendidikan (BSNP).

3. Karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Sebagai sebuah konsep dan program, Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan memiliki karakteristik. Menurut Kusnandar dalam bukunya

7

Masnur Muslich, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Dasar Pemahaman dan Pengembangan Pedoman Pengelola Lembaga Pendidikan (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007), 1.

8

(46)

37

Abdullah Idi bahwa karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan

adalah sebagai berikut:9

a. Menekankan pada ketercapaiannya kompetensi siswa baik secara

individual maupun klasikal. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan peserta didik dibentuk untuk mengembangkan

pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dna minat yang

pada akhirnya akan membentuk pribadi yang trampil dan mandiri.

b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan

keberagamaan.

c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan

metode yang bervariasi.

d. Guru bukan satu-satunya sumber belajar tetapi sumber belajar

lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya

penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi, dan ciri-ciri tersebut

harus tercermin dalam praktik pembelajaran.

4. Prinsip Kurikulum KTSP

Di dalam panduan penyusunan KTSP jenjang pendidikan dasar

dan menengah yang disusun oleh BSNP (2006) dinyatakan bahwa

KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok

atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas

9

(47)

38

pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/ Kota untuk

pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.

Prinsip kurikulum KTSP menunjukkan pada suatu pengertian

tentang berbagai hal yang harus dijadikan patokan dalam menentukan

berbagai hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum.10

Berdasarkan Permendiknas No.22 tahun 2006 tentang standar isi,

bahwa kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip

pengembangan KTSP sebagai berikut:

a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan

peserta didik lingkungannya

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta

didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya

agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan

Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap. Kreatif,

mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut

pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi,

perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta

tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan

pembelajaran berpusat pada peserta didik.

10

(48)

39

b. Beragam dan terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman

karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis

pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat

istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi

substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal lokal,

dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam

keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar

substansi.

c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan

seni.

Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu

pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan

oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik

untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni.

d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan

pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi

pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk didalamnya

kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh

(49)

40

berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan

keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.

e. Menyeluruh dan berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi

kompetensi, bidang kajian keilmuwan dan mata pelajaran yang

direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua

jenjang pendidikan.

f. Belajar sepanjang hayat

Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan,

pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung

sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara

unsur-unsur pendidikan formal, non formal dan informal, dengan

memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu

berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan

kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan

nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan

memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam

kerangka negara kesatuan Republik Indonesia.

Prinsip pengembangan KTSP berpusat pada potensi,

(50)

41

lingkungannya beragam dan terpadu tanggap perkembangan IPTEKS

relevan dengan kebutuhan kehidupan menyeluruh dan

berkesinambungan belajar sepanjang hayat (life long learning) seimbang antara kepentingan nasional dan daerah.

Adapun prinsip-prinsip pelaksanaan KTSP adalah sebagai

berikut:11

1) Didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik

untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal

ini peserta didik harus mendapatkan layanan.

2) Menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman

dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk

memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan

dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan

berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan

menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif,

efektif, dan menyenangkan.

3) Memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat

perbaikan, pengayaan, dan percepatan sesuai dengan potensi, tahap

perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memerhatikan

keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi

ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

11

(51)

42

4) Dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik

yang saling menerima dan menghargai, akrab,terbuka, dan hangat,

dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangan karsa, ing ngarsa sung tuladha.

5) Dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan

budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan

muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

6) Mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan

lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan,

keterkaitan, dan keseimbangan yang cocok dan memadai antarkelas

dan jenis serta jenjang pendidikan.

5. Fungsi Kurikulum KTSP

Kurikulum sebagai komponen penting dalam pendidikan

memiliki banyak fungsi. Fungsi-fungsi kurikulum tersebut

diantaranya:12

a. Fungsi penyesuaian

Dalam fungsi ini harus mampu menata keadaan masyarakat

agar dapat dibawa ke lingkungan sekolah untuk dijadikan objek

pelajaran para siswa.

b. Fungsi pengintegrasian

Kurikulum harus mampu menyiapkan

pengalaman-pengalaman belajar yang dapatb mendidik pribadi yang terintegrasi

12

Gambar

Tabel 2.1  Penyempurnaan Pola Pikir Perumusan Kurikulum
Data Siswa tiga tahun terakhirTabel 3.1 7
Tabel 3.2  Data Nama Guru berdasarkan Mata Pelajaran yang diampu
Tabel 3.4  Data Prasarana
+5

Referensi

Dokumen terkait

Jadi penilaian pembelajaran pendidikan agama islam dalam kurikulum KTSP oleh guru PAI SMP Negeri 1 Mojosongo sudah mencapai pada kriteria baik, meskipun dalam hal penerapannya

Oleh karena itu guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses implementasi kurikulum, khususnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Implementasi

Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada pembelajaran biologi di SMP Negeri se Kabupaten Tegal. Metode yang

Kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Gondangrejo adalah

Hasil penelitian implementasi penilaian autentik kurikulum 2013 pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 1 Karangmonol menerapkan penilaian autentik

Berdasarkan hasil temuan penelitian tentang Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan pada mata pelajaran PAI

Jadi, problematika pembelajaran berbasis KTSP pada mata pelajaran Aqidah adalah segala persoalan atau permasalahan dalam pembelajaran berdasarkan Kurikulum Tingkat

19641025 198811 1 002 DOKUMEN EVALUASI PERMASALAHAN, PENYELESAIAN DAN RENCANA TINDAK LANJUT KURIKULUM SATUAN PENDIDIKAN KTSP SMP NEGERI 1 GUDO TAHUN PELAJARAN 2018/2019 No Uraian