F I L S A F A T
A. PENGERTIAN FILSAFAT
Secara etimologis:
•
“philo” berarti cinta
•
“sophia” berarti kebenaran
Sehingga bisa diartikan:
Menurut para ahli/filusuf:
• Pythagoras (572 – 479 SM):“The love of wisdom”, menurutnya, manusia yang paling tinggi nilainya adalah manusia pecinta kebijakan.
• Socrates (469 – 399 SM):
Suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia (principles of the just and happy life).
• Plato (427 – 347 SM):
Pengetahuan tentang segala yang ada, serta pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.
• Aristoteles (384 – 332 SM):
• Cicero (106 – 43 SM):
Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha mencapai hal tersebut.
• Al Kindi (801 – 873 M):
Filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia.
• Al Farabi (870 – 950 M):
Filsafat sebagai ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada.
• Immanuel Kant (1724 – 1804):
Filsafat adalah ilmu yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup masalah epistemologi, etika dan masalah ketuhanan.
Mengapa pengertian filsafat berbeda-beda?
•
Setiap tokoh hidup dalam kurun waktu yang berbeda
•
Setiap tokoh tumbuh dan berkembang dalam lingkungan
hidup yang berbeda
•
Setiap tokoh dengan kapasitas keilmuan dan lain-lain
memiliki konotasi dan kesan makna yang berbeda
tentang definisi filsafat
•
Keyakinan hidup yang dianut masing-masing tokoh
berbeda
B. CIRI-CIRI FILSAFAT
• Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, syarat-syarat berfikir yang disebut
berfilsafat yaitu:
a. Berfikir dengan teliti
b. Berfikir menurut aturan yang pasti.
Dua ciri tersebut menandakan berfikir yang insaf, dan berfikir yang demikianlah yang disebut berfilsafat.
• Sidi Gazalba (1976) menyatakan bahwa ciri ber-Filsafat:
a. Radikal bermakna berfikir sampai ke akar-akarnya (Radix artinya akar), tidak tanggung-tanggung sampai dengan berbagai konsekuensinya dengan tidak terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima umum.
b. Sistematik artinya berfikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sudarto (1996) menyatakan bahwa ciri-ciri berfikir Filsafat adalah :
• Metodis : menggunakan metode, cara, yang lazim digunakan oleh
filsuf (akhli filsafat) dalam proses berfikir
• Sistematis : berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur
dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsufis.
• Koheren : diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu
yang bertentangan dan tersusun secara logis
• Rasional : mendasarkan pada kaidah berfikir yang benar dan logis
(sesuai dengan kaidah logika)
• Komprehensif : berfikir tentang sesuatu dari berbagai sudut
(multidimensi).
• Radikal : berfikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya atau
sampai pada tingkatan esensi yang sedalam-dalamnya
• Universal : muatan kebenarannya bersifat universal, mengarah
C. OBJEK FILSAFAT
•
Objek adalah sesuatu yang menjadi bahan dari kajian
suatu penelaahan atau penelitian tentang pengetahuan.
Objek yang diselidiki filsafat meliputi
objek materiil dan
objek formal
•
Objek materiil:
suatu kajian penelaahan atau
pembentukan pengetahuan itu, yaitu segala sesuatu yang
ada dan mungkin ada.
•
Objek formal:
penyelidikan yang mendalam. Objek
D. PENDEKATAN MEMPELAJARI FILSAFAT
Menurut Donny Gahral Adian (2002), terdapat 4 pendekatan dalam melihat/memahami filsafat yaitu:
• Pendekatan Definisi. Dalam pendekatan ini filsafat dicoba difahami
melalui berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dan dalam hubungan ini penelusuran asal kata menjadi penting, mengingat kata filsafat itu sendiri pada dasarnya merupakan kristalisasi/representasi dari konsep-konsep yang terdapat dalam definisi itu sendiri, sehingga pemahaman atas kata filsafat itu sendiri akan sangat membantu dalam memahami definisi filsafat.
• Pendekatan Sistimatika. Objek material Filsafat adalah semua yang
• Pendekatan Tokoh. Pada umumnya para filsuf jarang membahas
secara tuntas seluruh wilayah filsafat, seorang filsuf biasanya mempunyai fokus utama dalam pemikiran filsafatnya. Dalam pendekatan ini seseorang mencoba mendalami filsafat melalui penelaahan pada pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh para Filsuf, yang terkadang mempunyai kekhasan tersendiri, sehingga membentuk suatu aliran filsafat tertentu, oleh karena itu pendekatan tokoh juga dapat dikelompokan sebagai pendekatan Aliran, meskipun tidak semua Filsuf memiliki aliran tersendiri.
• Pendekatan Sejarah. Pendekatan ini berusaha memahami filsafat
dengan melihat aspek sejarah dan perkembangan pemikiran filsafat dari waktu ke waktu dengan melihat kecenderungan-kecenderungan umum sesuai dengan semangat zamannya, kemudian dilakukan periodisasi untuk melihat perkembangan pemikiran filsafat secara kronologis.
E. BIDANG KAJIAN FILSAFAT
• Kosmologi, suatu pemikiran dalam permasalahan yang
berhubungan dg alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, serta proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata, dsb.
• Ontologi, suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam
semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya.
• Phylosophy of mind, pemikiran filosofis tentang jiwa dan
bagaimana hubungannya dengan jasmani serta bagaimana kebiasaan berkehendak manusia, dsb.
• Epistemologi, pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber
pengetahuan manusia diperoleh.
• Aksiologi, pemikiran tentang masalah-masalah nilai, termasuk
F. ALIRAN atau MAZHAB dalam FILSAFAT
• Rasionalisme
Aliran ini sangat mementingkan rasio dalam memutuskan atau menyelesaikan suatu masalah.
Tokoh: Rene Descartes (1595 – 1650)
• Empirisme
Aliran ini memberikan tekanan pada empirisme atau pengalaman indrawi sebagai sumber pengetahuan.
Tokoh: Thomas Hobbes (1588 – 1679), John Locke (1632 – 1704)
• Kritisisme
Lanjutan...
• Materialisme
Aliran ini mengatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa dan materialisme adalah asal atau hakikat dari segala sesuatu, dimana asal atau hakikat dari segala sesuatu ialah materi.
Tokoh: Karl Marx (1818 – 1883)
• Idealisme
Aliran ini menekankan akal (mind) sebagai hal yang lebih dahulu daripada materi, bahwa akal itulah yang riil dan materi hanyalah produk sampingan.
Tokoh: Plato (427 – 347 SM), G.W.F. Hegel (1770 – 1831)
• Positivisme
Positivisme berasal dari kata “positif” yang berarti faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta. Pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta.
• Pragmatisme
Aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
Tokoh: John Dewey (1858 – 1952)
• Filsafat Islam
Aliran ini adalah perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam semesta yang disinari oleh ajaran Islam.
Tokoh: Al-Kindi (801 – 873), Al Farabi (870 – 950), Al-Ghazali (1059-1111)