• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengantar filsafat - Repository UNIKAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "pengantar filsafat - Repository UNIKAMA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

F I L S A F A T

(3)

A. PENGERTIAN FILSAFAT

Secara etimologis:

“philo” berarti cinta

“sophia” berarti kebenaran

Sehingga bisa diartikan:

(4)

Menurut para ahli/filusuf:

Pythagoras (572 – 479 SM):

“The love of wisdom”, menurutnya, manusia yang paling tinggi nilainya adalah manusia pecinta kebijakan.

Socrates (469 – 399 SM):

Suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia (principles of the just and happy life).

Plato (427 – 347 SM):

Pengetahuan tentang segala yang ada, serta pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.

Aristoteles (384 – 332 SM):

(5)

Cicero (106 – 43 SM):

Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha mencapai hal tersebut.

Al Kindi (801 – 873 M):

Filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia.

Al Farabi (870 – 950 M):

Filsafat sebagai ilmu yang menyelidiki hakikat yang sebenarnya dari segala yang ada.

Immanuel Kant (1724 – 1804):

Filsafat adalah ilmu yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup masalah epistemologi, etika dan masalah ketuhanan.

(6)

Mengapa pengertian filsafat berbeda-beda?

Setiap tokoh hidup dalam kurun waktu yang berbeda

Setiap tokoh tumbuh dan berkembang dalam lingkungan

hidup yang berbeda

Setiap tokoh dengan kapasitas keilmuan dan lain-lain

memiliki konotasi dan kesan makna yang berbeda

tentang definisi filsafat

Keyakinan hidup yang dianut masing-masing tokoh

berbeda

(7)

B. CIRI-CIRI FILSAFAT

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, syarat-syarat berfikir yang disebut

berfilsafat yaitu:

a. Berfikir dengan teliti

b. Berfikir menurut aturan yang pasti.

Dua ciri tersebut menandakan berfikir yang insaf, dan berfikir yang demikianlah yang disebut berfilsafat.

• Sidi Gazalba (1976) menyatakan bahwa ciri ber-Filsafat:

a. Radikal bermakna berfikir sampai ke akar-akarnya (Radix artinya akar), tidak tanggung-tanggung sampai dengan berbagai konsekuensinya dengan tidak terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima umum.

b. Sistematik artinya berfikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

(8)

Sudarto (1996) menyatakan bahwa ciri-ciri berfikir Filsafat adalah :

Metodis : menggunakan metode, cara, yang lazim digunakan oleh

filsuf (akhli filsafat) dalam proses berfikir

Sistematis : berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur

dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsufis.

Koheren : diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu

yang bertentangan dan tersusun secara logis

Rasional : mendasarkan pada kaidah berfikir yang benar dan logis

(sesuai dengan kaidah logika)

Komprehensif : berfikir tentang sesuatu dari berbagai sudut

(multidimensi).

Radikal : berfikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya atau

sampai pada tingkatan esensi yang sedalam-dalamnya

Universal : muatan kebenarannya bersifat universal, mengarah

(9)

C. OBJEK FILSAFAT

Objek adalah sesuatu yang menjadi bahan dari kajian

suatu penelaahan atau penelitian tentang pengetahuan.

Objek yang diselidiki filsafat meliputi

objek materiil dan

objek formal

Objek materiil:

suatu kajian penelaahan atau

pembentukan pengetahuan itu, yaitu segala sesuatu yang

ada dan mungkin ada.

Objek formal:

penyelidikan yang mendalam. Objek

(10)

D. PENDEKATAN MEMPELAJARI FILSAFAT

Menurut Donny Gahral Adian (2002), terdapat 4 pendekatan dalam melihat/memahami filsafat yaitu:

Pendekatan Definisi. Dalam pendekatan ini filsafat dicoba difahami

melalui berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dan dalam hubungan ini penelusuran asal kata menjadi penting, mengingat kata filsafat itu sendiri pada dasarnya merupakan kristalisasi/representasi dari konsep-konsep yang terdapat dalam definisi itu sendiri, sehingga pemahaman atas kata filsafat itu sendiri akan sangat membantu dalam memahami definisi filsafat.

Pendekatan Sistimatika. Objek material Filsafat adalah semua yang

(11)

Pendekatan Tokoh. Pada umumnya para filsuf jarang membahas

secara tuntas seluruh wilayah filsafat, seorang filsuf biasanya mempunyai fokus utama dalam pemikiran filsafatnya. Dalam pendekatan ini seseorang mencoba mendalami filsafat melalui penelaahan pada pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh para Filsuf, yang terkadang mempunyai kekhasan tersendiri, sehingga membentuk suatu aliran filsafat tertentu, oleh karena itu pendekatan tokoh juga dapat dikelompokan sebagai pendekatan Aliran, meskipun tidak semua Filsuf memiliki aliran tersendiri.

Pendekatan Sejarah. Pendekatan ini berusaha memahami filsafat

dengan melihat aspek sejarah dan perkembangan pemikiran filsafat dari waktu ke waktu dengan melihat kecenderungan-kecenderungan umum sesuai dengan semangat zamannya, kemudian dilakukan periodisasi untuk melihat perkembangan pemikiran filsafat secara kronologis.

(12)

E. BIDANG KAJIAN FILSAFAT

Kosmologi, suatu pemikiran dalam permasalahan yang

berhubungan dg alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, serta proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata, dsb.

Ontologi, suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam

semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya.

Phylosophy of mind, pemikiran filosofis tentang jiwa dan

bagaimana hubungannya dengan jasmani serta bagaimana kebiasaan berkehendak manusia, dsb.

Epistemologi, pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber

pengetahuan manusia diperoleh.

Aksiologi, pemikiran tentang masalah-masalah nilai, termasuk

(13)

F. ALIRAN atau MAZHAB dalam FILSAFAT

Rasionalisme

Aliran ini sangat mementingkan rasio dalam memutuskan atau menyelesaikan suatu masalah.

Tokoh: Rene Descartes (1595 – 1650)

Empirisme

Aliran ini memberikan tekanan pada empirisme atau pengalaman indrawi sebagai sumber pengetahuan.

Tokoh: Thomas Hobbes (1588 – 1679), John Locke (1632 – 1704)

Kritisisme

(14)

Lanjutan...

Materialisme

Aliran ini mengatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa dan materialisme adalah asal atau hakikat dari segala sesuatu, dimana asal atau hakikat dari segala sesuatu ialah materi.

Tokoh: Karl Marx (1818 – 1883)

Idealisme

Aliran ini menekankan akal (mind) sebagai hal yang lebih dahulu daripada materi, bahwa akal itulah yang riil dan materi hanyalah produk sampingan.

Tokoh: Plato (427 – 347 SM), G.W.F. Hegel (1770 – 1831)

Positivisme

Positivisme berasal dari kata “positif” yang berarti faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta. Pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta.

(15)

Pragmatisme

Aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.

Tokoh: John Dewey (1858 – 1952)

Filsafat Islam

Aliran ini adalah perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam semesta yang disinari oleh ajaran Islam.

Tokoh: Al-Kindi (801 – 873), Al Farabi (870 – 950), Al-Ghazali (1059-1111)

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Jurnal Filsafat Volume 20, nomor 3 Desember 2010 menyajikan artikel-artikel tentang kearifan Nusantara berkenaan dengan aspek-aspek penting hidup bermasyarakat, yakni tentang

Oleh karena itu, mengapa filsafat sering disebut para ahli sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan di mana ilmu tersebut selalu berkaitan dengan filsafat sebagai sumber acuan.

Berbagai pengertian filsafat pendidikan telah di kemukakan para ahli.Menurut al-Syaibani(1979:36),Filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang

Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan gabungan antara berbagai media (format file) yang

Sementara itu, Amir Santoso (Winarno, 2012), mengkomparasi berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli yang menaruh minat pada bidang kebijakan publik menyimpulkan

(Sanjaya, n.d.) Budaya Perusahaan disini merupakan terjemahan dari kata Corporate Culture, dari definisi budaya perusahaan yang dikemukakan oleh para ahli,

yaitu materi atau bahan yang menjadi obyek penyelidikan filsafat, maupun bagi segala turunan filsafat itu sendiri, misalnya, pengetahuan atau ilmu1. Jadi, dengan kata sifat

Filsafat adalah disiplin ilmu yang mempertanyakan, menganalisis, dan mencari pemahaman mendalam mengenai berbagai aspek eksistensi manusia dan alam semesta secara