EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW DAN CLASSROOM MEETING DIKOMBINASIKAN MAKE A MATCH TERHADAP PRESTASI BELAJAR
Nina Nuratri
Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo Email: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah: (1) prestasi belajar matematika menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match lebih baik daripada model Jigsaw, (2) prestasi belajar matematika menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match lebih baik daripada model Ekspositori, (3) prestasi belajar matematika menggunakan model Jigsaw lebih baik daripada model Ekspositori. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi experimental research. Berdasarkan uji hipotesis dengan anlisis variansi satu jalan dengan sel sama dapat disimpulkan bahwa (1) prestasi belajar matematika menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match tidak lebih baik daripada model Jigsaw, (2) prestasi belajar matematika menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match lebih baik daripada model Ekspositori, (3) prestasi belajar matematika menggunakan model Jigsaw tidak lebih baik daripada model Ekspositori.
Kata kunci: Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match, Jigsaw, prestasi
PENDAHULUAN
Berdasarkan nilai Hasil Ujian Nasional SMP N 36 Purworejo tahun pelajaran 2012/2013 nilai pada mata pelajaran matematika masih tergolong rendah dibanding nilai mata pelajaran lain. Faktor penyebabnya antara lain model pembelajaran yang konvensional. Menurut James O. Whittaker dalam Syaiful Bahri Djamarah (2011: 13) merumuskan “Belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman”. Menurut teori ini, anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan, dan menarik kesimpulan.
Ekuivalen: Eksperimentasi Model Pembelajaran Jigsaw dan Classroom Meeting dikombinasikan Make a
Match Terhadap Prestasi Belajar
31
Model Jigsaw dan Classroom Meeting dikombinasikan Make a Match merupakan model pembelajaran demokratis melibatkan siswa secara aktif. Dalam model Classroom Meeting dikombinasikan Make a match guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, dan guru merancang posisi duduk tiap kelompok melingkar. Tiap kelompok diberi satu amplop yang berisi kartu soal dan kartu jawaban dari kelompok lain. Guru mengalokasikan waktu sekitar 30 menit untuk siswa berdiskusi. Perwakilan kelompok mencari kartu yang cocok dengan jawaban dari kartu soalnya. Sedangkan menurut Miftahul Huda (2013: 204) sintak model Jigsaw adalah guru membagi siswa ke dalam kelompok asal, tiap anak menerima materi yang berbeda dalam satu kelompok. Anak yang menerima materi sama dengan kelompok lain berkumpul dan mendiskusikannya (kelompok ahli). Setelah selesai mereka kembali ke kelompok asal dan bergantian menerangkan materi yang telah mereka dapat.
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui apakah: (1) prestasi belajar matematika menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match lebih baik daripada Jigsaw; (2) prestasi belajar matematika menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match lebih baik daripada Ekspositori; (3) prestasi belajar matematika menggunakan model Jigsaw lebih baik daripada Ekspositori. Prestasi belajar dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika.
Prestasi belajar matematika adalah suatu usaha dari kegiatan melalui jalan dan latihan secara ilmiah
Sebagai bahan pembanding yaitu hasil penelitian yang dilakukan oleh Ngusman (2013), yang disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik daripada pembelajaran konvensional. Pembanding yang kedua adalah penelitian dari Deviana Dwi Brananti (2013), yang disimpulkan bahwa belajar matematika menggunakan PMRI lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di SMP N 36 Purworejo kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2013/2014. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian eksperimental semu (quasi experimental research), karena peneliti tidak mungkin untuk mengontrol semua variabel yang relevan. Sebelum perlakuan, terlebih dahulu mengecek kemampuan awal untuk mengetahui apakah tiga kelompok sampel dalam keadaan seimbang. Data yang digunakan untuk menguji keseimbangan adalah nilai UAS 1 kelas VIII SMP N 36 Purworejo tahun pelajaran 2013/2014. Ketiga kelompok diasumsikan sama dalam semua segi yang relevan dan hanya berbeda dalam metode pembelajaran, yakni satu kelompok menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match, satu kelompok menggunakan model Jigsaw, dan satu kelompok lain menggunakan model Ekspositori. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas VIII semester 2 SMP N 36 Purworejo tahun pelajaran 2013/2014, sedangkan sampel pada penelitian ini adalah kelas VIII A, VIII B dan VIII C yang berjumlah 96 siswa. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Simple Random Sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode dokumentasi dan tes.
Analisis data penelitian menggunakan uji F. Untuk dapat dilakukannya uji F diperlukan prasyarat yakni uji normalitas menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi menggunakan metode Bartlett. Setelah uji prasyarat dipenuhi maka digunakan uji hipotesis dengan analisis variansi satu jalan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dari data dokumentasi nilai UAS 1 kelas VIII SMP N 36 Purworejo tahun pelajaran 2013/2014, kelas VIII B sebagai kelas eksperimen 1 mempunyai rata-rata 74,56 , kelas VIII A sebagai kelas ekperimen 2 mempunyai rata-rata 73,18, dan kelas VIII C sebagai kelas kontrol mempunyai rata-rata 72,50. Dari data tersebut diketahui bahwa ketiga kelompok mempunyai hasil belajar yang berdistribusi normal, variansi sama, dan setelah dilakukan uji keseimbangan menggunakan uji-t menunjukkan bahwa ketiga sampel mempunyai kemampuan awal sama. Setelah dilakukan perlakuan, hasil
Ekuivalen: Eksperimentasi Model Pembelajaran Jigsaw dan Classroom Meeting dikombinasikan Make a
Match Terhadap Prestasi Belajar
33
tes pada kelas eksperimen 1 menunjukkan rata-rata 82,50, kelas eksperimen 2 menunjukkan rata-rata 75 dan kelas kontrol menunjukkan rata-rata 70.
Hasil uji normalitas data setelah perlakuan menunjukkan bahwa sampel dalam penelitian ini berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Selanjutnya hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa sampel dalam penelitian ini berasal dari populasi yang memiliki variansi sama. Analisis data tahap akhir dilakukan dengan uji hipotesis.
Uji ini dilakukan dengan uji F, dilanjutkan anlisis variansi satu jalan dengan sel sama, hasilnya adalah sebagai berikut:
Untuk uji komparasi ganda dilakukan sebanyak tiga kali yaitu antara kelas ekperimen 1 dengan kelas eksperiman 2, antara kelas eksperimen 1 dengan kelas kontrol dan antara kelas eksperimen 2 dengan kelas kontrol. Untuk uji komparasi ganda kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 dirumuskan bahwa H0 yaitu prestasi belajar siswa dengan menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make a Match tidak lebih baik daripada yang menggunakan model Jigsaw dan H1 yaitu prestasi belajar siswa dengan menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make a Match lebih baik daripada yang menggunakan model Jigsaw. Berdasarkan perhitungan menggunakan uji analisis satu jalan didapatkan bahwa tobs = 3,73 < ttabel = 6,18 sehingga H0 tidak ditolak. Artinya prestasi belajar siswa dengan menggunakan model Classroom Meeting dikombinasikan Make a Match tidak lebih baik daripada yang menggunakan model Jigsaw.
Untuk uji komparasi ganda dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel Hasil Analisis Variansi Satu Jalan
Komparasi Fobs Ftabel DK
F1-2 3,73 6,18 F F 6,18
F1-3 10,36 6,18 F F 6,18
F2-3 1,65 6,18 F F 6,18
Berdasarkan tabel diatas diperoleh kesimpulan bahwa Model pembelajaran classroom meeting dikombinasikan make a match tidak lebih baik daripada Model Jigsaw, Model Jigsaw tidak lebih baik daripada Model Ekspositori, tetapi Model pembelajaran dengan classroom meeting dikombinasikan make a match lebih baik
daripada Model Ekspositori menggunakan model pembelajaran
jigsaw, dan ekspositori dapat dilihat pada grafik
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan, dan pembahasan data penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai beriku:
menggunakan model Classroom Meeting baik daripada Jigsaw, (2) prestasi belajar Meeting dikombinasikan Make A Match belajar matematika menggunakan model
Sesuai dengan kesimpulan yang telah dikemukakan dalam penelitian ini maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut: (1)
Classroom Meeting yang dikombinasikan
diterapkan pada materi lain dengan harapan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. (2) Guru dalam mengajar hendaknya melibatkan siswa secara aktif agar mereka merasa nyaman dan tidak bosan pada materi yang sedang diajarkan
60 65 70 75 80 85
Model classroom meeting dikombinasikan
Make a Match
Nilai Tes Prestasi Belajar
Grafik Penggunaan Model Pembelajaran
daripada Model Ekspositori. Untuk perbedaan prestasi belajar matematika model pembelajaran classroom meeting dikombinasikan make a match
dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan, dan pembahasan data penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai beriku: (1) prestasi belajar matematika Classroom Meeting dikombinasikan Make A Match tidak lebih , (2) prestasi belajar matematika menggunakan model
Make A Match lebih baik daripada Ekspositori, (3) prestasi menggunakan model Jigsaw tidak lebih baik daripada Eksposit Sesuai dengan kesimpulan yang telah dikemukakan dalam penelitian ini maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut: (1) Pembelajaran dengan model yang dikombinasikan Make a Match dapat dikembangkan dan eri lain dengan harapan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. (2) Guru dalam mengajar hendaknya melibatkan siswa secara aktif agar mereka merasa nyaman dan tidak bosan pada materi yang sedang diajarkan.
Model classroom meeting dikombinasikan
Make a Match
Model Jigsaw Model Ekspositori 82.5
75
70
Model Pembelajaran
Grafik Penggunaan Model Pembelajaran
perbedaan prestasi belajar matematika make a match,
Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan, dan pembahasan data penelitian matematika tidak lebih menggunakan model Classroom (3) prestasi Ekspositori.
Sesuai dengan kesimpulan yang telah dikemukakan dalam penelitian ini maka peneliti Pembelajaran dengan model dapat dikembangkan dan eri lain dengan harapan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. (2) Guru dalam mengajar hendaknya melibatkan siswa secara aktif agar mereka
Ekuivalen: Eksperimentasi Model Pembelajaran Jigsaw dan Classroom Meeting dikombinasikan Make a
Match Terhadap Prestasi Belajar
35
DAFTAR PUSTAKA
Deviana Dwi Brananti. 2013. Eksperimentasi PMRI Dengan Model Pembelajaran Kooperative Tipe Jigsaw pada materi kubus dan balok siswa kelas VIII SMP Negeri 25 Purworejo tahun pelajaran 2012/2013. Diakses dari:
http://ejournal.umpwr.ac.id/index.php/ekuivalen/article/view/981.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
Ngusman. 2013. Eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match Terhadap Prestasi Belajar Siswa pada materi logika matematika pada siswa kelas X MAN Kutowinangun tahun pelajaran 2012/2013. Diakses dari:
http://ejournal.umpwr.ac.id/index.php/ekuivalen/article/view/989.