SKRIPSI
ANALISIS PENGARUH STRUKTUR MODAL DAN PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
SEKTOR ANEKA INDUSTRI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
OLEH NENI 130521007
PROGRAM STUDI STRATA I MANAJEMEN EKSTENSI DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
ABSTRAK
ANALISIS PENGARUH STRUKTUR MODAL DAN PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
SEKTOR ANEKA INDUSTRI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji pengaruh struktur modal dan profitabilitas terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian menggunakan 19 (sembilan belas) perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan menggunakan data dari tahun 2010 sampai dengan 2016. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Debt to Asset Ratio (DAR) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga Saham, Debt to Equity Ratio (DER) dan Return on Equity (ROE) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Harga Saham, dan Longterm Debt to Equity Ratio (LDER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham.
Kata Kunci: Struktur Modal, DAR, DER, LDER, ROE, Harga Saham.
ABSTRACT
ANALYSIS OF THE EFFECT OF CAPITAL STRUCTURE AND PROFITABILITY ON STOCK PRICES AT MANUFACTURING
COMPANIES MISCELLANEOUS INDUSTRY SECTOR LISTED ON THE STOCK EXCHANGE INDONESIA
This study aims to determine and test the effect of capital structure and profitability on stock prices at manufacturing companies miscellaneous industry sector listed on the Indonesia Stock Exchange. The research sample used 19 (nineteen) manufacturing companies miscellaneous industry sector listed on Indonesia Stock Exchange, using data from 2010 to 2016. The results of this study indicate that Debt to Asset Ratio (DAR) has a negative and significant effect on Stock Price, Debt to Equity Ratio (DER) and Return on Equity (ROE) has positive and insignificant effect on Stock Price and Longterm Debt to Equity Ratio LDER) have positive and significant effect on Stock Price.
Keywords: Capital Structure, DAR, DER, LDER, ROE, Stock Price
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur peneliti panjatkan atas kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan pembuatan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Departemen Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul “Analisis Pengaruh Struktur Modal dan Profitabilitas Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua peneliti, yakni Ayahanda Ahmad Adi dan Ibunda Misni yang telah membesarkan peneliti dengan segala kekuatan luar biasa serta bimbingan dan nasihat yang tak dapat terbalaskan. Pada kesempatan ini peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, M.Si dan Bapak Doli Muhammad Jafar Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, M.Si selaku Dosen pembimbing yang telah banyak memberikan waktu untuk membimbing, mengarahkan dan memberikan saran kepada peneliti.
4. Syahyunan, SE, M.Si selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan saran
dalam penulisan dan perbaikan skripsi ini.
5. Doli Muhammad Jafar Dalimunthe, SE, M.Si selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan saran dalam penulisan dan perbaikan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen beserta Staff Pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, khususnya untuk Dosen Jurusan Manajemen Ekstensi yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan selama mengikuti masa perkuliahan.
7. Suamiku tercinta Suilal Manurung dan Putra-Putriku tersayang Pranaja Ramdhan Manurung dan Kayla Arsyfa Manurung, juga yang tersayang untuk Adik-adikku yang baik (Alm) Imran, Juraidah dan Siti Rahmah.
Hanya dengan doa kalianlah peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-temanku di Jurusan Manajemen Ekstensi Grup A Stambuk 2013, khususnya buat Kak Herfina yang selalu memberi nasihat, Esta dan Kiki yang selalu bisa diandalkan. Terima kasih atas semua kenangannya baik yang pahit maupun yang manis selama kita bersama.
9. Dan juga untuk semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, yang sedikit banyak berpartisipasi membantu baik secara langsung maupun tidak langsung.
Peneliti berusaha menyelesaikan skripsi ini sebaik mungkin. Namun, peneliti menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi isi maupun bahasa. Sebagaimana kata pepatah “Tak ada gading yang tak retak”.
Untuk itu dengan segala kerendahan hati peneliti mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun demi perbaikan skripsi ini. Selanjutnya peneliti juga
mengharapkan kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti sendiri, pembaca
dan pihak-pihak yang membutuhkannya. Aamiin
Medan, April 2018 Peneliti
Neni
NIM. 130521007
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 10
1.3 Tujuan Penelitian ... 11
1.4 Manfaat penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 14
2.1 Uraian Teoritis ... 14
2.1.1 Pengertian Saham ... 14
2.1.2 Harga Saham ... 14
2.1.3 Pengertian Struktur Modal ... 15
2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal ... 17
2.1.5 Teori Struktur Modal ... 20
2.1.6 Profitabilitas ... 28
2.2 Penelitian Terdahulu ... 29
2.3 Kerangka Konseptual ... 33
2.4 Hipotesis ... 35
BAB III METODE PENELITIAN ... 37
3.1 Jenis Penelitian ... 37
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 37
3.3 Batasan Operasional ... 37
3.4 Defenisi Operasional Variabel ... 38
3.4.1 Variabel Dependen ... 38
3.4.2 Variabel Independen ... 38
3.5 Operasionalisasi Variabel ... 39
3.6 Populasi dan Sampel ... 40
3.7 Jenis dan Sumber Data ... 42
3.8 Metode Pengumpulan Data ... 42
3.9 Teknik Analisis Data ... 43
3.9.1 Statistik Deskriptif ... 43
3.9.2 Analisis Regresi Linear Berganda Data Panel .. 43
3.9.3 Pemilihan Model Estimasi ... 44
3.10 Uji Asumsi Klasik ... 46
3.11 Uji Hipotesis ... 50
3.11.1 Uji Hipotesis Secara Serempak (Uji F) ... 51
3.11.2 Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t) ... 51
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 53
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 53
4.1.1 Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia ... 53
4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 55
4.3 Pemilihan Model Regresi Data Panel ... 56
4.3.1 Penentuan Model Estimasi antara Common Effect Model (CEM) dan Fixed Effect Model (FEM) dengan Uji Chow ... 56
4.3.2 Penentuan Model Estimasi antara Common Effect Model (CEM) dan Random Effect Model (REM) dengan Uji Lagrange-Multiplier (LM). ... 57
4.4 Uji Asumsi Klasik ... 58
4.4.1 Uji Normalitas ... 58
4.4.2 Uji Multikolinearitas ... 59
4.4.3 Uji Heteroskedastisitas ... 60
4.4.4 Uji Asumsi Autokorelasi ... 60
4.5 Pengujian Hipotesis ... 61
4.6 Analisis Koefisien Determinasi ... 62
4.7 Uji Signifikansi Pengaruh Serempak (Uji F) ... 62
4.8 Persamaan Regresi Data Panel dan Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t) ... 63
4.9 Pembahasan Hasil Penelitian ... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 67
5.1 Kesimpulan ... 67
5.2 Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 69
LAMPIRAN ... 72
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1 Data Harga Saham 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2010-2016 (dalam Rupiah) ... 5
1.2 Data DAR, DER, LDER, dan ROE 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2016 (dalam Rupiah) ... 7
2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu ... 29
3.1 Operasional Variabel Penelitian ... 39
3.2 Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian ... 41
3.3 Sampel Perusahaan Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia ... 41
4.1 Statistik Deskriptif DAR, DER, LDER, ROE, dan Harga Saham 56 4.2 Hasil dari Uji Chow ... 57
4.3 Hasil dari Uji Lagrange Multiplier (LM) ... 58
4.4 Uji Multikolinearitas dengan Matriks Korelasi ... 59
4.5 Uji Heteroskedastisitas (Uji Breusch-Pagan) ... 60
4.6 Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson ... 61
4.7 Nilai statistik dari Koefisien Determinasi, Uji F, dan Uji t ... 62
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
1.1 Grafik Harga Saham 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2010-2016 ... 6 1.2 Grafik DAR 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka
Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2010-2016 ... 8 1.3 Grafik DER 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka
Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2010-2016 ... 9 1.4 Grafik LDER 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka
Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2010-2016 ... 9 1.5 Grafik ROE 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka
Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2010-2016 ... 10
2.1 Kerangka Konseptual Penelitian ... 35
4.1 Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera ... 59
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
1. Sampel Perusahaan Sektor Aneka Industri yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia ... 72
2. Data Perubahan Harga Saham, DAR, DER, LDER, DAN ROE .. 73
3. Statistik Deskriptif DAR, DER, LDER, ROE, dan Harga Saham 76 4. Hasil dari Uji Chow ... 76
5. Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera ... 77
6. Uji Multikolinearitas dengan Matriks Korelasi ... 77
7. Uji Heteroskedastisitas (Uji Breusch-Pagan) ... 77
8. Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson ... 77
9. Nilai statistik dari Koefisien Determinasi, Uji F, dan Uji t ... 78
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasar modal memberikan peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus. Pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari investor ke perusahaan emiten. Investor mengharapkan akan memperoleh imbalan dari penyerahan dana tersebut dengan menginvestasikan kelebihan dana yang mereka miliki. Bagi pemilik modal (investor), keberadaan pasar modal diperlukan sebagai wadah untuk berinvestasi, yaitu dengan mendapatkan dividen bagi mereka yang memiliki/memegang saham dan bunga yang mengambang bagi pemegang obligasi. Selain itu, investor dapat sekaligus melakukan investasi dalam beberapa instrumen yang bisa mengurangi risiko (Astuti, 2010:5).
Persoalan yang timbul adalah sejauh mana kinerja perusahaan mampu mempengaruhi harga saham di pasar modal. Harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan. Apabila kinerja perusahaan go public meningkat, nilai perusahaan akan semakin tinggi pula. Di bursa efek, hal itu akan diapresiasikan oleh pasar dalam bentuk kenaikan harga sahamnya. Sebaliknya, berita buruk tentang kinerja perusahaan akan dikuti dengan penurunan harga sahamnnya di pasar modal. Hal tersebut merupakan argumentasi yang melandasi mengapa perubahan harga saham relevan dijadikan dasar penilaian kerja perusahaan yang go public.
Harga pasar saham ditentukan oleh mekanisme pasar yaitu kekuatan
permintaan dan penawaran suatu saham tersebut di pasar modal. Meningkatnya minat investor untuk memiliki suatu saham dipengaruhi oleh kualitas atau nilai saham di pasar modal. Tinggi rendahnya nilai saham sebenarnya tercermin pada kinerja keuangan perusahaan. Jika suatu perusahaan memiliki kinerja keuangan yang baik maka investor akan menanamkan modalnya, karena dapat dipastikan akan memperoleh keuntungan dari penanaman modal tersebut. Memaksimalisasi harga pasar saham perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham.
Perkembangan yang terjadi di dalam pasar modal dapat ditunjukkan oleh perubahan harga saham yang diperdagangkan. Para investor harus memantau pergerakan harga saham dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, karena harga saham adalah informasi yang dapat digunakan untuk melihat seberapa besar return yang akan didapat oleh investor. Kenaikan dan penurunan harga saham akan mencerminkan seberapa besar return yang akan diperoleh investor. Hal ini dikarenakan investor membeli sejumlah saham saat ini dengan harapan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham di masa yang akan datang (Tandelilin, 2010:3)
Struktur modal merupakan masalah penting dalam pengambilan keputusan
mengenai pembelanjaan perusahaan. Keputusan struktur modal secara langsung
berpengaruh terhadap besarnya risiko yang ditanggung pemegang saham serta
besarnya tingkat pengembalian atau keuntungan yang diharapkan (Brigham dan
Houston, 2011). Merupakan tugas dari manajer keuangan untuk menentukan
komposisi struktur modal perusahaan. Manajer keuangan harus mengusahakan
agar perusahaan memperoleh dana yang diperlukan dengan biaya minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan.
Struktur modal sangat penting dalam pembentukan perusahaan, struktur modal perusahaan terdiri dari hutang dan modal. Modal perusahaan dapat diperoleh baik dari pembiayaan internal dan eksternal. Pembiayaan internal perusahaan dapat diperoleh dari laba perusahaan ditahan, sedangkan pembiayaan eksternal dapat diperoleh melalui utang dan penerbitan saham dan obligasi.
Menurut Zheng (2013), struktur modal yang optimal akan meningkatkan efisiensi dalam tata kelola perusahaan.
Pendanaan menjadi salah satu faktor penting untuk menghadapi persaingan.
Pendanaan diperlukan untuk membangun dan menjamin kelangsungan perusahaan.
Sumber pendanaan dapat berasal dari sumber modal asing yaitu sumber dana yang
didapatkan dari luar perusahaan (kreditur) yang tidak ikut memiliki perusahaan
tersebut seperti bank, perusahaan leasing, pemegang obilagasi, dan lain
sebagainya. Sumber pendanaan dari modal asing biasanya berwujud hutang, baik
hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Sumber pendanaan juga
dapat berasal dari internal perusahaan yang melakukan aktivitas bisnis. Sumber
pendanaan ini disebut juga sumber pendanaan modal sendiri. Sumber pendanaan
modal sendiri biasanya berwujud laba ditahan dan modal saham. Modal saham
merupakan investasi yang didapatkan dari investor yang membeli saham di pasar
modal. Investor memilih membeli investasi saham dengan pertimbangan tingkat
pengembalian atas dana yang mereka investasikan dalam bentuk dividen ataupun
selisih dari harga beli dengan harga jual (capital gain). Hakikatnya tujuan dari
perusahaan adalah untuk memakmurkan pemiliknya. Pada perusahaan yang berbentuk perusahaan terbuka pemiliknya adalah pemegang saham. Salah satu cara perusahaan dalam memakmurkan pemegang saham adalah melalui maksimalisasi harga saham sehingga diperoleh capital gain.
Profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan utang pada hasil operasi (Brigham &
Houston, 2010:146). Sedangkan menurut (Sudana, 2011:22 ) profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan. Pengertian lain menyatakan bahwa, rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu (Hanafi, 2010:42).
Pentingnya pertimbangan perusahaan dalam memaksimalisasi harga pasar saham perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu memakmurkan pemegang saham dengan capital gain, maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang pengaruh struktur modal dan profitabilitas terhadap harga pasar saham. Alasan untuk memilih variabel-variabel tersebut adalah dalam penelitian sebelumnya, variabel-variabel tersebut telah diuji tetapi dalam kurun waktu, sektor industri, dan dengan variabel lain yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah hasil yang akan diperoleh nantinya dapat mendekati hasil atau berbeda hasil dengan penelitian sebelumnya.
Tabel 1.1 menunjukkan perubahan harga saham pada perusahaan
manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada
tahun 2010-2016. Berdasarkan data pada Tabel 1.1, pergerakan saham setiap
penutupan harga saham tiap tahun mengalami fluktasi. Namun, secara keseluruhan pada tahun 2010-2014 harga cenderung mengalami kenaikan.
Sedangkan pada tahun 2015 hampir semua perusahaan mengalami penurunan harga sahamnya, dan kembali mengalami kenaikan pada tahun 2016.
Tabel 1.1
Data Harga Saham 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2010-2016 (dalam Rupiah)
No Kode Perusahaan
Tahun Harga Saham
1 MASA
2010 327,84
2011 500
2012 450
2013 390
2014 420
2015 351
2016 270
2 PRAS
2010 93
2011 132
2012 255
2013 185
2014 204
2015 125
2016 170
3 ADMG
2010 215
2011 580
2012 365
2013 220
2014 165
2015 89
2016 126
4 MYTX
2010 68
2011 225
2012 375
2013 305
2014 128
2015 51
2016 61
5 POLY
2010 240
2011 450
2012 193
2013 80
2014 95
2015 54
Lanjutan Tabel 1.1
2016 55
6 BIMA
2010 450
2011 450
2012 450
2013 350
2014 350
2015 175
2016 195
Sumber: www.idx.co.id (diolah oleh peneliti, 2018)
Pada Tabel 1.1 menunjukkan data Harga Saham 6 (enam) perusahaan manufakatur sektor aneka industri, yaitu PT. Multistrada Arah Sarana, Tbk (MASA), PT. Prima Alloy Steel Universal, Tbk (PRAS), PT. Polychem Indonesia, Tbk (ADMG), PT. Apac Citra Centerex, Tbk (MYTX), PT. Asia Pasific Fibers, Tbk, (POLY), dan PT. Primarinda Asia Infrastructure (BIMA).
Sumber: www.finance.yahoo.com, 2018
Gambar 1.1
Grafik Harga Saham 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2016 Berdasarkan Gambar 1.1 dapat diketahui bahwa harga saham MASA, PRAS, ADMG, MYTX, POLY dan BIMA berfluktuasi selama periode 2010- 2016. Hal ini disebabkan oleh pengaruh internal dan eksternal perusahaan.
0 100 200 300 400 500 600 700
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2015
MASA PRAS ADMG MYTX POLY BIMA
Tabel 1.2
Data DAR, DER, LDER, dan ROE 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Tahun 2010-2016 (dalam Rupiah)
No Kode
Perusahaan Tahun DAR DER LDER ROE
1 MASA
2010 0,46 0,87 0,26 0,11
2011 0,63 1,68 0,20 0,08
2012 0,40 0,68 0,35 0,00
2013 0,40 0,68 0,40 0,00
2014 0,40 0,67 0,42 -0,001
2015 0,42 0,73 0,37 -0,08
2016 0,44 0,80 0,37 -0,02
2 PRAS
2010 0,71 2,42 1,31 0,42
2011 0,71 2,45 0,90 0,03
2012 0,51 1,06 0,43 0,15
2013 0,49 0,96 0,17 0,21
2014 0,47 0,88 0,05 0,16
2015 0,53 1,13 0,22 0,07
2016 0,57 1,30 0,32 -0,004
3 ADMG
2010 0,52 1,11 0,51 0,01
2011 0,51 1,04 0,44 0,11
2012 0,47 0,87 0,50 0,03
2013 0,43 0,76 0,47 -0,002
2014 0,38 0,60 0,37 -0,09
2015 0,36 0,57 0,35 0,09
2016 0,36 0,55 0,26 0,09
4 MYTX
2010 0,90 9,05 4,29 0,56
2011 0,97 27,98 12,64 -1,94 2012 1,03 -30,60 -16,78 2,05 2013 1,05 -21,23 -10,89 0,59
2014 1,13 -8,51 -3,48 0,61
2015 1,29 -4,42 -1,91 0,52
2016 1,57 -2,75 -1,83 0,39
5 POLY
2010 3,01 -1,50 -0,09 -0,04 2011 2,99 -1,50 -0,06 -0,08
2012 2,98 -1,51 -0,06 0,04
2013 3,34 -1,43 -0,06 0,04
2014 4,30 -1,30 -0,06 0,09
2015 4,98 -1,25 0,06 0,02
2016 5,06 -1,25 0,06 0,01
6 BIMA
2010 3,21 -1,45 -0,85 -0,05 2011 3,08 -1,48 -0,75 -0,01 2012 2,88 -1,53 -0,71 -0,01
2013 2,73 -1,58 -1,03 0,08
2014 2,86 -1,54 -1,05 -0,05
2015 3,03 -1,49 -1,05 0,01
2016 1,90 -1.95 -1,03 -0,18 Sumber: www.idx.co.id (diolah oleh peneliti, 2018)
Pada Tabel 1.2 menunjukkan data DAR, DER, LDER, dan ROE 6 (enam) perusahaan manufakatur sektor aneka industri, yaitu PT. Multistrada Arah Sarana, Tbk (MASA), PT. Prima Alloy Steel Universal, Tbk (PRAS), PT. Polychem Indonesia, Tbk (ADMG), PT. Apac Citra Centerex, Tbk (MYTX), PT. Asia Pasific Fibers, Tbk, (POLY), dan PT. Primarinda Asia Infrastructure (BIMA).
Gambar 1.2
Grafik DAR 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2016
Berdasarkan Gambar 1.2 dapat diketahui bahwa DAR MASA pada tahun 2014-2016 meningkat, harga saham juga ikut meningkat. DAR PRAS pada tahun 2014-2016 meningkat, harga saham juga ikut meningkat. DAR ADMG pada tahun 2011-2015 menurun, harga saham juga ikut menurun. Dengan kata lain, hubungan DAR dengan harga saham tidak sesuai dengan yang dikemukakan Sudana (2011), dimana nilai perusahaan akan menurun jika perusahaan menggunakan utang lebih besar dari aset dan harga saham akan menurun akibat beban bunga yang berat.
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
MASA PRAS ADMG MYTX POLY BIMA
Gambar 1.3
Grafik DER 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2016
Berdasarkan Gambar 1.3 dapat diketahui bahwa DER MASA pada tahun 2014-2016 meningkat, harga saham juga ikut meningkat. DER PRAS pada tahun 2014-2016 meningkat, harga saham juga ikut meningkat. DER ADMG pada tahun 2011-2015 menurun, harga saham juga ikut menurun. Dengan kata lain, hubungan DER dengan harga saham tidak sesuai dengan yang dikemukakan Sudana (2011), dimana nilai perusahaan akan menurun jika perusahaan menggunakan utang lebih besar dari modal sendiri dan harga saham akan menurun akibat beban bunga yang berat.
Gambar 1.4
Grafik LDER 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2016
-40.00 -30.00 -20.00 -10.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00
2010201120122013201420152016
MASA PRAS ADMG MYTX POLY BIMA
-20.00 -15.00 -10.00 -5.00 0.00 5.00 10.00 15.00
MASA PRAS ADMG MYTX POLY BIMA
Berdasarkan Gambar 1.4 dapat diketahui bahwa LDER MASA pada tahun 2014-2016 menurun, tetapi harga saham meningkat. LDER PRAS pada tahun 2014-2016 menurun, tetapi harga saham meningkat. Dengan kata lain, hubungan DER dengan harga saham sesuai dengan yang dikemukakan Sudana (2011), dimana nilai perusahaan akan menurun jika perusahaan menggunakan utang lebih besar dari modal sendiri dan harga saham akan menurun akibat beban bunga yang berat.
Gambar 1.5
Grafik ROE 6 (Enam) Perusahaan Manufaktur Sektor Aneka Industri yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2016
Berdasarkan Gambar 1.5 dapat diketahui bahwa ROE PRAS pada tahun 2011-2013 meningkat, harga saham juga ikut meningkat. DER ADMG pada tahun 2012-2014 menurun, harga saham juga ikut menurun Dengan kata lain, hubungan ROE dengan harga saham sesuai dengan yang dikemukakan Harahap (2010), yaitu ROE yang meningkat akan meningkatkan harga saham.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka dirumuskan masalahnya adalah:
-2.50 -2.00 -1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
MASA PRAS ADMG MYTX POLY BIMA
1. Apakah Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Equity Ratio (LDER), dan Return on Equity (ROE), berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
2. Apakah Debt to Asset Ratio (DAR) berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
3. Apakah Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
4. Apakah Longterm Debt to Equity Ratio (LDER) berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
5. Apakah Return on Equity (ROE) berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Debt to Asset Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), Longterm Debt to Equity Ratio (LDER), dan Return on Equity (ROE) terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Debt to Asset Ratio (DAR)
terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Longterm Debt to Equity Ratio (LDER) terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
5. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian yang akan dilakukan ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan berguna bagi perusahaan dalam menilai dan menganalisis kondisi perusahaan terutama dalam analisa pengaruh struktur modal sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang tepat dan menguntungkan.
2. Bagi Pihak Investor
Penelitian ini bermanfaat bagi investor karena dapat memberikan pemahaman
yang lebih jelas dan terkini mengenai pengaruh struktur modal yang diukur
dengan DAR, DER, LDER dan ROE terhadap harga saham pada perusahaan.
Selain itu, bagi investor diharapkan dapat menjadi pertimbangan sebelum melakukan investasi di suatu perusahaan untuk menilai investasi tersebut layak dilakukan atau tidak.
3. Bagi Peneliti
Sebagai bagian dari persyaratan dalam mencapai gelar sarjana program S1 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen Keuangan Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini juga memberikan pengalaman dan wawasan mengenai materi penelitian dan dampaknya terhadap lingkungan.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan lebih luas tentang pengaruh struktur modal yang diukur dengan DAR, DER, LDER, dan ROE terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi dan bahan kajian untuk
penelitian yang lebih luas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Teoritis 2.1.1 Pengertian Saham
Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut. (Darmadji dan Fakhruddin, 2011).
Menurut Tjiptono dan Hendy (2011:6), saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.
Menurut Fahmi (2012:81), saham merupakan tanda bukti penyertaan kepemilikan modal atau dana pada suatu perusahaan. Atau saham merupakan kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegang saham.
2.1.2 Harga Saham
Menurut Sunariyah (2011:128), harga saham adalah harga suatu saham
pada pasar yang sedang berlangsung di bursa efek. Harga saham dapat dipengaruhi oleh situasi pasar antara lain harga saham di pasar perdana ditentukan oleh penjamin emisi dan perusahaan yang akan go public (emiten), berdasarkan analisis fundamental perusahaan. Peranan penjamin emisi pada pasar perdana selain menentukan harga saham, juga melaksanakan penjualan saham kepada masyarakat sebagai calon pemodal.
Sedangkan harga saham di pasar sekunder ditentukan oleh permintaan dan penawaran antara pembeli dan penjual. Besarnya permintaan dan penawaran dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor internal perusahaan yang berhubungan dengan kebijakan internal pada suatu perusahaan beserta kinerja perusahaan yang telah dicapai. Faktor internal juga berkaitan dengan hal-hal yang seharusnya dapat dikendalikan oleh manajemen misalnya pendapatan per lembar saham, besaran dividen yang dibagi, kinerja manajemen perusahaan, dan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Sedangkan faktor eksternal perusahaan yaitu hal-hal di luar kemampuan perusahaan atau di luar kemampuan manajemen untuk mengendalikan antara lain munculnya gejolak politik pada suatu negara, perubahan kebijakan moneter, dan laju inflasi yang tinggi.
2.1.3 Pengertian Struktur Modal
Ada beberapa pengertian dari struktur modal oleh beberapa ahli yang menuangkannya dalam buku mereka, diantaranya adalah:
1. Menurut Sawir (2009:10), struktur modal adalah pendanaan permanen yang
terdiri dari utang jangka panjang, saham preferen, dan modal pemegang
saham. Nilai buku dari modal pemegang saham terdiri dari saham biasa,
modal disetor atau surplus, modal dan akumulasi ditahan. Struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan.
2. Menurut Weston dan Brigham (2011:150), struktur modal yang ditargetkan adalah bauran atau perpaduan dari utang, saham preferen, saham biasa yang dikehendaki perusahaan dalam struktur modalnya. Struktur modal yang optimal adalah gabungan ekuitas yang memaksimumkan harga saham perusahaan. Struktur modal adalah hasil atau akibat dari keputusan pendanaan (financing decision) yang intinya memilih apakah menggunakan utang atau ekuitas untuk mendanai operasi perusahaan
Dalam kaitannya dengan struktur modal, nilai perusahaan bisa diukur dengan harga saham atau biaya modal yang dikeluarkan oleh perusahaan. Untuk menganalisis struktur modal maka dapat digunakan rasio solvabilitas, antara lain:
1. Debt to Asset Ratio (DAR)
Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi pada aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Rumusan untuk mencari DAR dapat digunakan sebagai berikut (Wild, 2010:41).
Debt to Asset Ratio = Total Debt
Total Asset x100%
2. Debt to Equity Ratio (DER)
Rasio ini digunakan untuk mengukur perimbangan antara kewajiban yang
dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Rasio ini juga dapat berarti
sebagai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban membayar
utangnya dengan jaminan modal sendiri. Rumusan untuk mencari DER dapat digunakan perbandingan antara total utang dengan total ekuitas sebagai berikut (Wild, 2010:41).
Debt to Equity Ratio = Total Debt
Total Equity x100%
3. Longterm Debt to Equity Ratio (LDER)
Rasio ini menunjukkan hubungan antara jumlah pinjaman jangka panjang yang diberikan kreditur dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan. Rasio ini juga digunakan untuk mengukur seberapa besar perbandingan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri atau seberapa besar utang jangka panjang dijamin oleh modal sendiri. Rumusan untuk mencari LDER adalah dengan menggunakan perbandingan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri sebagai berikut (Wild, 2010:41).
Longterm Debt to Equity Ratio = Total Longterm Debt
Total Equity x100%
2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan sehubungan dengan struktur modal. Pertama adalah risiko bisnis perusahaan, atau tingkat risiko yang terkandung pada aktiva perusahaan apabila ia tidak menggunakan utang. Semakin besar risiko bisnis perusahaan, semakin rendah rasio utangnya yang optimal.
Faktor kunci yang kedua adalah posisi pajak perusahaan. Alasan utama yang
menggunakan utang adalah karena biaya bunga dapat dikurangkan dalam
perhitungan pajak, sehingga menurunkan biaya utang yang sesungguhnya, akan
tetapi jika sebagian besar dari pendapatan perusahaan telah terhindar dari pajak
karena penyusutan yang dipercepat atau kompensasi kerugian, maka tarif pajaknya akan rendah (apabila pajak bersifat progresif) dan keuntungan- keuntungan akibat penggunaan utang juga akan mengecil. Faktor ketiga adalah fleksibilitas keuangan atau kemampuan untuk menambah modal dengan persyaratan yang masuk akal dalam keadaan yang kurang menguntungkan.
Para manajer dana perusahaan mengetahui bahwa penyediaan modal yang mantap diperlukan untuk mendukung operasi secara stabil, yang merupakan faktor yang sangat menentukan bagi keberhasilan jangka panjang. Mereka juga mengetahui bahwa dalam keadaan uang ketat, atau apabila perusahaan mengalami kesulitan operasi, para penyedia dana lebih suka menanamkan uangnya pada perusahaan dengan posisi neraca yang bagus. Kemungkinan tersedianya dana di masa mendatang dan konsekuensi akibat kurangnya dana sangat berpengaruh terhadap struktur modal yang ditargetkan.
Menurut Sutrisno (2012:307-308) struktur modal juga dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain:
1. Persesuaian (Suitability)
Merupakan persesuaian antara cara pemenuhan dana dengan jangka waktu
kebutuhannya. Bila yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan berjangka pendek
bila dibelanjai dengan utang, obligasi atau dengan mengeluarkan modal sendiri
kurang sesuai. Sebaliknya cara pemenuhan dana disesuaikan dengan jangka
waktu kebutuhannya, artinya bila kebutuhan dana berjangka pendek maka
sebaiknya dipenuhi sumber dana jangka pendek dan bila kebutuhan dana
jangka panjang sebaiknya dipenuhi sumber dana jangka panjang.
2. Pengawasan (Control)
Pengendalian atau pengawasan perusahaan ada di tangan para pemegang saham. Manajemen perusahaan mengemban tugas untuk menjalankan hasil keputusan pemegang saham. Biasanya sebuah perusahaan dimiliki oleh beberapa pemegang saham sehingga bila diperlukan tambahan dana perlu dipertimbangkan apakah tugas pengawasan dari pemilik lama tidak akan terkurangi. Oleh sebab itu, dengan pertimbangan tersebut biasanya pemilik lama lebih menginginkan mengeluarkan obligasi dibanding dengan menambah saham.
3. Laba (Earning per Share)
Memilih sumber dana apakah dari saham atau utang, secara finansial harusnya bisa menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham lebih besar.
4. Tingkat Risiko (Riskness)
Utang merupakan sumber dana yang mempunyai risiko tinggi sebab bunganya tetap harus dibayarkan baik pada saat perusahaan mendapatkan laba maupun dalam kondisi merugi. Oleh karena itu, semakin besar penggunaan dana dari utang mengindikasikan perusahaan mempunyai tingkat risiko yang lebih besar.
Menurut Brigham (2011:6), ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi keputusan struktur modal, yaitu:
1. Risiko Bisnis
Yakni risiko yang melekat pada operasi perusahaan apabila perusahaan tidak
menggunakan utang, makin besar risiko bisnis perusahaan maka makin
rendah rasio utang yang optimal.
2. Posisi Pajak Perusahaan
Yakni dalam menggunakan utang maka biaya bunga dapat dikurangkan dalam perhitungan pajak sehingga menurunkan biaya utang yang sesungguhnya.
3. Fleksibilitas Keuangan
Yakni kemampuan untuk menambah modal dengan persyaratan yang wajar dalam keadaan yang memburuk, para manajer dana perusahaan mengetahui bahwa modal yang kuat diperlukan untuk operasi yang stabil dan pemilik modal lebih suka menanamkan modalnya pada perusahaan dengan posisi neraca yang baik bila keadaan perekonomian stabil.
4. Konservatisme atau Agresivitas Manajemen
Yakni ada sebagian manajer lebih agresif dari yang lain, sehingga sebagian perusahaan lebih cenderung menggunakan utang untuk meningkatkan laba, dimana hal ini tidak mempengaruhi struktur modal yang optimal, tetapi akan mempengaruhi struktur modal yang ditargetkan.
2.1.5 Teori Struktur Modal
Ada beberapa teori mengenai struktur modal antara lain adalah sebagai berikut:
1. Modigliani-Miller (MM) Theory a. Teori MM tanpa pajak
Teori struktur modal modern yang pertama adalah teori Modigliani dan
Miller (teori MM). Mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak
relevan atau tidak mempengaruhi nilai perusahaan. MM mengajukan beberapa asumsi untuk membangun teori mereka. (Brigham dan Houston, 2011:31) yaitu:
1) Tidak terdapat agency cost.
2) Tidak ada pajak.
3) Investor dapat berutang dengan tingkat suku bunga yang sama dengan perusahaan.
4) Investor mempunyai informasi yang sama seperti manajemen mengenai prospek perusahaan di masa depan.
5) Tidak ada biaya kebangkrutan.
6) Earning Before Interest and Taxes (EBIT) tidak dipengaruhi oleh penggunaan dari utang.
7) Para investor adalah price-takers.
8) Jika terjadi kebangkrutan maka aset dapat dijual pada harga pasar (market value).
Dengan asumsi-asumsi tersebut, MM mengajukan 2 (dua) preposisi yang dikenal sebagai preposisi MM tanpa pajak, antara lain:
Preposisi I: nilai dari perusahaan yang berutang sama dengan nilai dari
perusahaan yang tidak berutang. Implikasi dari preposisi I ini adalah
struktur modal dari suatu perusahaan tidak relevan, perubahan struktur
modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan dan Weighted Average Cost
of Capital (WACC) perusahaan akan tetap sama tidak dipengaruhi oleh
bagaimana perusahaan memadukan utang dan modal untuk membiayai
perusahaan.
Preposisi II: biaya modal saham akan meningkat apabila perusahaan melakukan atau mencari pinjaman dari pihak luar. Risk of the equity bergantung pada resiko dari operasional perusahaan (business risk) dan tingkat utang perusahaan (financial risk). Brealey, Myers dan Marcus menyimpulkan dari teori MM tanpa pajak ini yaitu tidak membedakan antara perusahaan berutang atau pemegang saham berutang pada saat kondisi tanpa pajak dan pasar yang sempurna. Nilai perusahaan tidak bergantung pada struktur modalnya. Dengan kata lain, manajer keuangan tidak dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan merubah proporsi utang dan ekuitas yang digunakan untuk membiayai perusahaan.
b. Teori MM dengan Pajak
Teori MM tanpa pajak dianggap tidak realistis dan kemudian MM memasukkan faktor pajak ke dalam teorinya. Pajak dibayarkan kepada pemerintah, yang berarti merupakan aliran kas keluar. Utang bisa digunakan untuk menghemat pajak, karena bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak. Dalam teori MM dengan pajak ini terdapat 2 (dua) preposisi yaitu:
Preposisi I: nilai dari perusahaan yang berutang sama dengan nilai dari
perusahaan yang tidak berutang ditambah dengan penghematan pajak
karena bunga utang. Implikasi dari preposisi I ini adalah pembiayaan
dengan utang sangat menguntungkan dan MM menyatakan bahwa
struktur modal optimal perusahaan adalah seratus persen utang.
Preposisi II: biaya modal saham akan meningkat dengan semakin meningkatnya utang, tetapi penghematan pajak akan lebih besar dibandingkan dengan penurunan nilai karena kenaikan biaya modal saham. Implikasi dari preposisi II ini adalah penggunaan utang yang semakin banyak akan meningkatkan biaya modal saham. Menggunakan utang yang lebih banyak, berarti menggunakan modal yang lebih murah (biaya modal utang lebih kecil dibandingkan dengan biaya modal saham), sehingga akan menurunkan biaya modal rata-rata tertimbangnya (meski biaya modal saham meningkat).
Teori MM tersebut sangat kontroversial. Implikasi teori tersebut adalah perusahaan sebaiknya menggunakan utang sebanyak-banyaknya. Dalam praktiknya, tidak ada perusahaan yang mempunyai utang sebesar itu, karena semakin tinggi tingkat utang suatu perusahaan, akan semakin tinggi juga kemungkinan kebangkrutannya. Inilah yang melatarbelakangi teori MM mengatakan agar perusahaan menggunakan utang sebanyak- banyaknya, karena MM mengabaikan biaya kebangkrutan.
2. Trade-off Theory
Menurut trade-off theory yang diungkapkan oleh Myers (2012:81),
“Perusahaan akan berhutang sampai pada tingkat utang tertentu, dimana
penghematan pajak (tax shields) dari tambahan hutang sama dengan biaya
kesulitan keuangan (financial distress)”. Biaya kesulitan keuangan (financial
distress) adalah biaya kebangkrutan (bankruptcy costs) atau reorganization,
dan biaya keagenan (agency costs) yang meningkat akibat dari turunnya
kredibilitas suatu perusahaan. Trade-off theory dalam menentukan struktur modal yang optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan (agency costs), dan biaya kesulitan keuangan (financial distress) tetapi tetap mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan symmetric information sebagai imbangan dan manfaat penggunaan utang.
Tingkat utang yang optimal tercapai ketika penghematan pajak (tax shields) mencapai jumlah yang maksimal terhadap biaya kesulitan keuangan (costs of financial distress). Trade-off theory mempunyai implikasi bahwa manajer akan berpikir dalam kerangka trade-off antara penghematan pajak dan biaya kesulitan keuangan dalam penentuan struktur modal. Perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi tentu akan berusaha mengurangi pajaknya dengan cara meningkatkan rasio utangnya, sehingga tambahan utang tersebut akan mengurangi pajak. Dalam kenyataannya jarang manajer keuangan yang berpikir demikian. Penelitian yang pernah dilakukan terhadap perilaku struktur modal perusahaan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi cenderung rasio utangnya rendah. Hal ini berlawanan dengan pendapat trade-off theory.
Trade-off theory tidak dapat menjelaskan korelasi negatif antara tingkat profitabilitas dan rasio utang.
3. Pecking Order Theory
Menurut Myers (2012), pecking order theory menyatakan bahwa ”Perusahaan
dengan tingkat profitabilitas yang tinggi justru tingkat utangnya rendah,
dikarenakan perusahaan yang profitabilitasnya tinggi memiliki sumber dana
internal yang berlimpah.” Dalam pecking order theory ini tidak terdapat struktur modal yang optimal. Secara spesifik perusahaan mempunyai urut- urutan preferensi (hierarki) dalam penggunaan dana.
Menurut pecking order theory dikutip oleh Smart, Megginson, dan Gitman (2009:458-459), terdapat skenario urutan (hierarki) dalam memilih sumber pendanaan, yaitu:
a. Perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana dari dalam atau pendanaan internal daripada pendanaan eksternal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba ditahan yang dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan.
b. Jika pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan akan memilih pertama kali mulai dari sekuritas yang paling aman, yaitu utang yang paling rendah risikonya, turun ke utang yang lebih berisiko, sekuritas hybrid seperti obligasi konversi, saham preferen, dan yang terakhir saham biasa.
c. Terdapat kebijakan deviden yang konstan, yaitu perusahaan akan menetapkan jumlah pembayaran deviden yang konstan, tidak terpengaruh seberapa besarnya perusahaan tersebut untung atau rugi.
d. Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan kas karena adanya kebijakan deviden yang konstan dan fluktuasi dari tingkat keuntungan, serta kesempatan investasi, maka perusahaan akan mengambil portofolio investasi yang lancar tersedia.
Pecking order theory tidak mengindikasikan target struktur modal. Pecking
order theory menjelaskan urut-urutan pendanaan. Manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat utang yang optimal. Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Pecking order theory ini dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat utang yang kecil.
Dalam kenyataannya, terdapat perusahaan-perusahaan yang dalam menggunakan dana untuk kebutuhan investasinya tidak sesuai seperti skenario urutan (hierarki) yang disebutkan dalam pecking order theory.
Penelitian yang dilakukan oleh Singh dan Hamid menyatakan bahwa
“Perusahaan-perusahaan di negara berkembang lebih memilih untuk menerbitkan ekuitas daripada berutang dalam membiayai perusahaannya.”
Hal ini berlawanan dengan pecking order theory yang menyatakan bahwa perusahaan akan memilih untuk menerbitkan utang terlebih dahulu daripada menerbitkan saham pada saat membutuhkan pendanaan eksternal.
4. Equity Market Timing
Teori yang diungkapkan oleh Baker dan Wurgler (2012:1) ini mengemukakan bahwa “Perusahaan-perusahaan akan menerbitkan ekuitas pada saat nilai pasar tinggi dan akan membeli kembali ekuitas pada saat nilai pasar rendah”.
Praktik inilah yang kemudian disebut sebagai equity market timing. Tujuan
dari melakukan equity market timing ini adalah untuk mengeksploitasi
fluktuasi sementara yang terjadi pada cost of equity terhadap cost of other
forms of capital. Menurut Baker dan Wurgler (2012:3), ”Struktur modal
adalah hasil kumulatif dari usaha melakukan equity market timing di masa
lalu”. Baker dan Wurgler menemukan bahwa perusahaan dengan tingkat hutang rendah adalah perusahaan yang menerbitkan ekuitas pada saat nilai pasar tinggi dan perusahaan dengan tingkat utang tinggi adalah perusahaan yang menerbitkan ekuitas pada saat nilai pasar rendah.
Baker dan Wurgler menggunakan market-to-book ratio, yang umumnya digunakan sebagai proxy untuk mengukur kesempatan investasi, namun dalam teorinya market-to-book ratio juga digunakan untuk melihat apakah nilai suatu ekuitas itu overvalued atau undervalued. Baker dan Wurgler membangun suatu model variabel yaitu external finance weighted-average market-to-book ratio. Variabel ini adalah rata-rata tertimbang dari market-to- book ratio suatu perusahaan di masa lampau. Variabel ini digunakan oleh Baker dan Wurgler untuk melihat usaha dari suatu perusahaan dalam melakukan equity market timing. Ada 2 (dua) versi dari equity market timing yang mengikuti hasil penelitian Baker dan Wurgler.
Pertama adalah versi dinamis dari Myers dan Majluf mengenai informasi
asimetris yang mengasumsikan rasional manajer dan investor. Versi yang
kedua dari equity market timing melibatkan para investor atau manajer yang
tidak rasional dan persepsi dari mispricing. Para manajer akan menerbitkan
equity saat mereka yakin bahwa cost of equity rendah dan membeli kembali
equity saat cost of equity tinggi. Market-to-book ratio diketahui secara umum
berkorelasi negatif dengan future equity returns, dan nilai ekstrem dari
market-to-book ratio dikaitkan dengan ekpektasi-ekspektasi yang ekstrem
dari investor, sesuai dengan penelitian dari La Porta (1996), La Porta et al.
(1997), Frankel dan Lee (1998), dan Schleifer (2000).
Apabila manajer mencoba untuk mengeksploitasi terlalu jauh (ekstrem) ekspektasi-ekspektasi dari investor, net equity issues akan berkorelasi positif dengan market-to-book ratio. Apabila tidak terdapat struktur modal yang optimal, manajer tidak perlu mengganti keputusan-keputusan pendanaannya pada saat perusahaan telah dinilai dengan benar dan cost of equity terlihat normal, hal ini menunggu fluktuasi-fluktuasi sementara yang terjadi pada market-to-book ratio mempunyai efek yang tetap pada leverage.
2.1.6 Profitabilitas
Profitabilitas merupakan salah satu indikator keberhasilan perusahaan untuk dapat menghasilkan laba sehingga semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bagi perusahaannya. Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi dapat dikatakan bahwa laporan keuangan perusahaan tersebut mengandung berita baik dan perusahaan yang mengalami berita baik akan cenderung menyerahkan laporan keuangannya tepat waktu. Hal ini juga berlaku jika profitabilitas perusahaan rendah dimana hal ini mengandung berita buruk, sehingga perusahaan cenderung tidak tepat waktu menyerahkan laporan keuangannya (Hilmi dan Ali, 2008).
Menurut Houston (2009:107) Profitabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan.
Dalam penelitian ini rasio profitabilitas yang di gunakan adalah: Return on
Equity (ROE). Menurut Van Horne dan Wachowicz (2009:361), “Rasio ROE
menggambarkan tingkat kekuatan pendapatan yang akan diperoleh oleh para
pemegang saham atas investasi yang dilakukan dan rasio ini pula dapat digunakan untuk membandingkan dua perusahaan atau lebih dalam satu industri. Bentuk modal yang digunakan oleh pemegang saham dalam rasio ini bisa digunakan untuk menggambarkan pasar.” ROE yang tinggi menandakan bahwa perusahaan tersebut memiliki peluang untuk memberikan pendapatan yang besar bagi pemilik saham.
Kondisi perusahaan yang baik akan menghasilkan laba yang tinggi sehingga kemungkinan menghasilkan tingkat pengembalian saham besar.
Rumusan untuk mencari ROE dapat digunakan perbandingan antara total laba bersih dengan total ekuitas sebagai berikut:
𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑜𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 = 𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑥100%
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pengaruh struktur modal terhadap harga saham sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Hal tersebut dituangkan dari beberapa jurnal baik jurnal asing maupun jurnal Indonesia. Adapun ringkasan beberapa penelitian sebelumnya di Tabel 2.1.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No
Peneliti dan Tahun
Judul
Penelitian Variabel
Teknik Analisis
Data
Hasil Penelitian
1 Deitiana (2011)
Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan Penjualan dan Dividen Terhadap Harga Saham
Dependen : Harga Saham Independen :
1. Rasio Keuangan (Likuiditas, Profitabilitas) 2. Pertumbuhan
Penjualan 3. Dividen
1. Divi
Regresi Linear
1. Likuiditas tidak berpengaruh terhadap harga saham.
Sedangkan Profitabilitas
berpengaruh terhadap harga saham.
2. Pertumbuhan Penjualan tidak berpengaruh terhadap harga saham.
3. Dividen tidak
Lanjutan Tabel 1.2
No
Peneliti dan Tahun
Judul
Penelitian Variabel
Teknik Analisis Data
Hasil Penelitian berpengaruh terhadap harga saham.
2 Trimurti, Topowijo no, dan Sri Sulasmiy ati (2016)
Pengaruh Struktur Modal dan Profitabilitas Terhadap Harga Saham
Dependen : Harga Saham Independen : 1. Struktur Modal
(DER) 2. Profitabilitas
(ROE dan EPS)
Regresi Linear Berganda
1. DER berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap harga saham.
2. .ROE dan EPS berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap harga saham.
3 Liwang (2011)
Analisis Faktor- Faktor yang Mempengar uhi Struktur Modal serta Pengaruhny a Terhadap Harga Saham pada Perusahaan- Perusahaan yang Tergabung Dalan LQ45 Periode 2006-2009
Dependen : Harga Saham, Struktur Modal Independen : 1. Pertumbuhan
Penjualan 2. Struktur Aktiva 3. Rasio Hutang 4. Profitabilitas 5. Ukuran
Perusahaan 6. Likuiditas
Regresi Linear Berganda dan Regresi Linear Sederhana
1. Secara simultan keenam variable independen tersebut berpengaruh terhadap struktur modal dengan besarnya pengaruh 78%.
2. Secara parsial dari enam variable independen tersebut hanya struktur aktiva, rasio hutang dan likuiditas yang
berpengaruh signifikan dan searah terhadap struktur modal.
3. Sedangkan keenam variable independen tersebut dan struktur modal tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
4 Nurmalas ari
Analisis Pengaruh Rasio Profitabilitas Terhadap Harga Saham Emiten LQ45 yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005- 2008
Dependen : Harga Saham Independen : Rasio Profitabilitas (ROA, ROE, NPM, LPS) EARKinerja Intervening : Kinerja perusahaan diukur dengan ROA
Regresi Linear Berganda
Secara parsial keempat variabel berpengaruh terhadap harga saham.