• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1.Kerangka Berpikir

Permainan sepakbola didominasi oleh tendangan baik yang ditujukan untuk mengumpan, menembak ke arah gawang maupun menghalau serangan lawan.

Keberhasilan sebuah tendangan dapat dinilai dari keberhasilan mencapai tujuan.

Keberhasilan pencapaian tujuan sebuah tendangan banyak dipengaruhi oleh tingkat akurasi tendangan tersebut. Karenanya menjadi sangat penting untuk mendapatkan tingkat akurasi yang tinggi dalam tendangan seorang pemain sepakbola.

Ketepatan tendangan dapat ditingkatkan dengan latihan neurac dan resistance tube exercise. Pemberian latihan neurac bertujuan untuk meningkatkan core stability muscle.

Dengan memanfaatkan sling dalam latihan bertujuan untuk perbaikan spontan dalam kontrol neuromuskular saat menstabilkan otot-otot inti dan juga fungsi otot dengan metode latihan gerak pada rantai kinetik tertutup (bebas rasa nyeri atau tidak memprovokasi nyeri) sehingga menstimulasi susunan saraf pusat dan menghasilkan reaksi stabilitas yang cepat pada otot.

Pada dasarnya stabilitas lumbopelvic merupakan hasil kerja dari pada otot-otot inti yang dikenal dengan sebutan core muscle, yang mana ketika otot-otot core tersebut bekerja atau berkontraksi untuk menghasilkan stabilitas pada daerah lumbopelvic disebut dengan core stability. Melalui proses kerja otot core tersebut dalam menghasilkan stabilitas melibatkan fungsi pengendalian otot oleh sistem saraf pusat, dukungan struktur pasif osseoligamentous dan dukungan aktif sistem otot sehingga dicapai hasil berupa koordinasi gerak , kekuatan otot dan keseimbangan

(2)

yang merupakan komponen pembentuk stabilitas. Stabilisasi lumbo-pelvic yang baik akan menghasilkan gerakan hip yang memiliki koordinasi yang baik sehingga dapat meningkatkan ketepatan tendangan pada olahraga sepak bola.

Pemberian resistance tube exercise akan meningkatkan kontrol dan konsistensi gerakan tungkai saat melakukan latihan dengan menggunakan elastis tube sebagai beban/tahanan sehingga memberikan efek peningkatan koordinasi gerakan tungkai.

Dengan peningkatan koordinasi gerakan tungkai akan meningkatkan ketepatan tendangan.

Penelitian ini untuk mengetahui manfaat penambahan latihan neurac terhadap latihan resistance tube dibanding dengan hanya resistance tube exercise saja dalam peningkatan ketepatan tendangan pada olahraga sepak bola.

(3)

3.2. Konsep Penelitian

Gambar 3.1 Bagan Konsep Penelitian

3.3. Hipotesis Penelitian

Penambahan latihan neurac pada resistance tube exercise lebih meningkatkan ketepatan tendangan gawang pada pemain sepak bola siswa SMUN Olahraga Ragunan Jakarta.

Latihan Neurac dan Resistance Tube Exercise

Ketepatan Tendangan Sepak bola

Resistance Tube Exercise

Peningkatan Ketepatan Tendangan Faktor Internal

1. Umur

2. Jenis Kelamin 3. Tinggi Badan 4. Berat Badan

Faktor Eksternal 1. Suhu

2. Kelembaban Relatif

(4)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1.Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized Pre and Post Test Control Group Design yaitu membandingkan antara perlakuan dua kelompok. Kelompok pertama yaitu Kombinasi latihan neurac dan resistance tube exercise. Kelompok kedua yaitu resistance tube exercise. Sehingga dapat disusun suatu rancangan penelitian sebagai berikut:

Gambar 4.1 Rancangan Penelitian Keterangan :

P : Populasi S : Sampel R : Randomisasi

KP

KK

(5)

RA : Random Alokasi

KP : Kelompok Perlakuan (Kombinasi latihan neurac dan resistance tube exercise)

KK : Kelompok Kontrol (resistance tube exercise )

O1 :Obsevasi data awal ketepatan tendangan gawang pada kelompok-1

(Kombinasi latihan neurac dan resistance tube exercise)

O2 : Obsevasi data akhir ketepatan tendangan pada kelompok-1 (Kombinasi

latihan neurac dan resistance tube exercise)

O3 : Obsevasi data awal ketepatan tendangan pada kelompok-2 (resistance

tube exercise)

O4 : Obsevasi data akhir ketepatan tendangan pada kelompok 2 (resistance

tube exercise) 4.2.Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di tempat lapangan SMUN Olahraga (Pengelolaan Pembinaan Sentra dan SKO Kementerian Pemuda dan Olahraga) Ragunan, Jakarta Selatan.

4.3.Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama 6 minggu dari bulan Mei sampai Juni 2016 4.4.Populasi dan Sampel

4.4.1. Populasi

Populasi penelitian adalah pemain sepak bola siswa SMU olahraga peminatan pada olahraga sepak bola kelas 1, 2 dan 3.

4.4.2. Sampel

Sampel penelitian dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut:

a. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Mahasiswa berusia 16-19 Tahun

(6)

2) Melakukan olahraga minimal 2x seminggu

3) Bersedia menjadi sampel dalam penelitian sampai selesai, yaitu dengan mengikuti program selama 6 Minggu, 3 x seminggu.

4) Mampu mengerti instruksi yang diberikan.

5) IMT : 18,5 – 22,9

6) Subjek penelitian terdiri dari pemain depan (penyerang); samping (gelandang); belakang (back) dan penjaga gawang (keeper)

b. Kriteria eksklusi

1) Memiliki riwayat trauma Cidera 2) Mengikuti program Bodybuilding

3) Memiliki gangguan Kesehatan/ sedang dalam terapi kesehatan

4.5.Besar Sampel

Untuk menentukan besaran sampel maka digunakan rumus Pocock (2008) sebagai berikut :

Keterangan : n = jumlah sampel σ = simpang baku

μ1 = rerata nilai sebelum perlakuan μ2 = rerata nilai sesudah perlakuan

α = tingkat kesalahan I (ditetapkan 0,05) ; interval kepercayaan (1 – α) = 0,95 β = tingkat kesalahan II (ditetapkan 0,1) tingkat kekuatan uji/power of test 0,80

= interval kepercayaan 7,9 (sesuai tabel Pocock)

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Tirumala et al 2015 tentang ketepatan tendangan, diperoleh nilai rerata µı = 89,35 dan standar deviasi σ = 33,71, sedangkan kelompok perlakuan dengan harapan 30% sesuai dengan ketentuan

(7)

rumus pocock diperoleh nilai µ2 = 54,76. Dengan demikian dapat dihitung besar sampel sebagai berikut:

n = ( ) ( ) n = ( )

( ) n =

( ) n = 15,003

Berdasarkan hasil perhitungan sampel di atas, diperoleh jumlah sampel awal sebanyak 15,003 untuk mengantisipasi pengguguran peserta maka hasil awal sampel ditambah 15% x 15,003 = 2,2 sehingga jumlah sampel adalah 15,003 + 2,2 = 17.20 dibulatkan 17 sampel. Dengan demikian dapat disimpulkan setiap kelompok memiliki jumlah sampel 17 orang. Kelompok pertama 17 orang dan kelompok ke dua 17 orang, sehingga total sampel pada kedua kelompok berjumlah 34 orang.

4.6.Variabel Penelitian Dan Defenisi Operasional 4.6.1. Variabel Penelitian

1) Variabel bebas (independen variable) dalam penelitian ini yaitu pelatihan Neurac ditambah Resistance Tube Exercise

2) Variabel tergantung (dependen variable) dalam penelitian ini adalah ketepatan tendangan

3) Variabel kontrol yaitu : umur, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan;

4) Variabal rambang yaitu suhu lingkungan dan kelembaban.

4.6.2. Defenisi Operasional Variabel

(8)

1) Neurac adalah metode terapi atau pengobatan yang melibatkan stimulasi neuromuskular pada level yang tinggi dalam mengatur pelaksanaan pola gerak fungsional normal. Latihan neurac dengan menggunakan sling sebagai penyangga yang bertujuan untuk stimulasi dalam mempertahankan posisi ataupun gerakan yang normal. Latihan yang dilakukan yaitu dengan mempertahankan 4 jenis posisi tubuh dengan pengulangan 6 kali setiap gerakan, dipertahankan selama 6 detik kemudian kembali ke posisi awal dan istirahat selama 30 detik. Gerakan ini dilakukan 3 set latihan, frekwensi latihan 3 kali seminggu.

Gambar 4.2. Latihan Neurac

(1)Push-up standing, (2) Supine pelvis lift, (3) Prone bridging, (4) Side lying bridging

2) Latihan resistance tube

Resistance Tube Exercise merupakan bentuk latihan dengan menggunakan elastis tube sebagai tahanan/beban. Latihan dengan menggunakan elastis tube resistance bertujuan untuk mempertahankan massa otot, merehabilitasi dan

1

2

3

4

(9)

memulihkan otot dan fungsi tubuh, meningkatkan kekuatan dinamik, meningkatkan stabilitas, endurance dan power otot dengan menggunakan tahanan yang berasal dari external force (Wess 2006). Gerakan dilakukan sebanyak 10 x pengulangan, 3 set, istirahat 30 detik antar set latihan, frekwensi latihan 3x seminggu, lama pelatihan 6 minggu.

Gambar 4.3. Resistance Tube Exercise

(1)One-leg press (2)Knee lift (3)Seat leg extension (4)Standing leg curl (5)Side leg raise

3) Ketepatan tembakan dalam permainan sepak bola adalah kemampuan seseorang untuk mengarahkan bola ke sasaran atau target sesuai kemampuannya, diukur dengan menggunakan sasaran yang di tempelkan pada gawang dan diberi angka. Umur ditentukan menurut catatan tanggal, bulan dan tahun kelahiran yang tercantum pada administrasi kampus

4) Tinggi badan diukur dari dasar telapak kaki sampai vertek (ubun – ubun) diukur dengan sikap berdiri tegak dan sikap bersiap, pandangan lurus ke depan dengan tumit, punggung dan belakang kepala posisinya lurus atau vertikal menggunakan antropometer super buatan Jepang dengan tingkat ketelitian 0,1 cm;

1 2 3

4 5

(10)

5) Berat badan adalah berat yang diperoleh dari hasil penimbangan berat badan digital merek one med buatan Jepang dengan tingkat ketelitian 0,1 kg

6) Suhu udara adalah suhu kering rata – rata yang diukur setiap waktu pelatihan, dalam penelitian ini suhu diukur pada awal pelatihan dan akhir pelatihan, sedangkan pengukuran dilakukan setiap kali pelatihan dengan higrometer elektronik digital merek corona model GL-89 buatan Jepang dengan ketelitian 0,1 derajat celcius;

7) Kelembaban relative adalah persentase kelembaban udara yang diukur melalui suhu udara kering dan suhu udara basah dalam derajat Celcius (C0) dan dinyatakan dalam satuan persen sesuai Psyhrometric Chart.

4.7. Peralatan yang diperlukan

a. Anthropometer Super adalah alat untuk mengukur ukuran – ukuran tubuh dalam satuan tinggi centimeter dengan bilangan decimal satu angka di belakang koma;

b. Timbangan berat badan adalah alat untuk mengukur berat badan dalam satuan berat kilogram dengan bilangan decimal satu angka di belakang koma;

c. Stopwatch adalah alat untuk mengukur waktu dengan ketelitian empat angka di belakang koma, stopwatch merek fox buatan Jepang;

d. Higrometer merek korona buatan Jepang adalah alat untuk mengukur suhu udara dalam satuan derajat celcius (C0) dengan ketelitian 0,1 C0;

e. Psychrometric mart adalah grafik untuk menentukan kelembaban relative berdasarkan suhu basah dan suhu kering dalam satuan derajat Fahrenheit yang dinyatakan dalam persentase.

(11)

f. Meteran baja adalah alat untuk mengukur jarak dalam satuan jarak meter dengan bilangan decimal satu angka di belakang koma.

g. Bola untuk sepak bola dengan ukuran standart.(diameter 68cm) 4.8. Prosedur Penelitian

4.8.1. Persiapan pelaksanaan penelitian

1) Mempersiapkan dan mengurus surat izin yang ditujukan kepada kepala Deputi Pengembangan dan Pembinaan Centra Olahraga dan SKO, Kementerian Pemuda dan Olahraga RI

2) Mempersiapkan peralatan yang akan digunakan dan tenaga pembantu pelaksana penelitian

3) Menyampaikan informasi kepada siswa mengenai jadwal pelaksanaan pengukuran tinggi badan, berat badan

4.8.2. Pengukuran ketepatan tendangan

Pengukuran ketepatan tendangan dilakukan sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan dengan memakai metode Plywood Target Measurment oleh Finnoff JT, dkk dengan menempelkan kertas karbon pada selembar papan berukuran lebar :243.5cm, tinggi 122cm dengan jarak tendangan 610 cm dari gawang. Tehnik tendangan yang dilakukan adalah tendangan dengan menggunakan punggung kaki. Peserta diberikan kesempatan melakukan tendangan pada objek yang telah ditentukan sebanyak 5 kali.

Cara pelaksanaan sebagai berikut:

1) Letakkan bola pada titik 610 cm dari gawang tepat pada pertengahan Papan ukur.

2) Pemain menendang bola sebanyak 5 kali tanpa diberi aba-aba.

(12)

3) Sasaran tembakan adalah tepat pada pertengahan papan.

4) Hasil tendangan akan dicatat

243,5cm

122cm

Gambar 4.3 Papan ukur ketepatan tendangan (modifikasi plywood target measurement, Finnoff.dkk)

4.9. Random alokasi

Random alokasi dilakukan dengan membagi kelompok menjadi dua dengan cara acak sederhana. Peneliti membagi kertas yang didalamnya tertulis angka I dan angka II, yang mendapat tulisan angka I adalah kelompok 1 dan yang mendapat tulisan angka 2 adalah kelompok 2 dengan pembagian sebagai berikut:

1) Kelompok 1 sebanyak 17 orang yang terdiri dari 1 orang posisi penjaga gawang, 5 orang posisi bek, 8 orang gelandang, 7 orang penyerang. Latihan yang dilakukan adalah resistance tube exercise

2) Kelompok 2 sebanyak 17 orang yang terdiri dari 3 orang posisi penjaga gawang, 3 orang posisi bek, 4 orang gelandang, 7 orang penyerang. Latihan yang dilakukan adalah melakukan pelatihan neurac

3) Kepada setiap kelompok diberi penjelasan mengenai tenik latihan 4

(13)

4.9.1. Jadwal dan Tempat Pelatihan

Jadwal dan tempat pelaksanaan pelatihan : Lapangan sepak bola SMU Olahraga Ragunan pada hari Senin, Rabu, Jumat jam 16.00 sampai 18.00 WIB,

4.9.2. Tenhik Pelatihan

Teknik gerakan resistance tube exercise dan pelatihan neurac 4.10. Analisis Data

4.9.1. Analisis Deskripsi

Untuk menganalisis data subjek seperti: tinggi badan, berat badan, umur dan ketepatan tendangan yang datanya telah diambil. Analisis dilakukan untuk mencari rerata, simpangan baku serta maksimum dan minimum

a. Analisis Komparasi

1) Uji normalitas data dengan Shapiro-Wilk bertujuan untuk mengetahui distribusi data masing – masing kelompok perlakuan dari kedua kelompok pelatihan. Batas kemaknaan yang digunakan α = 0,05, jika nilai p > 0,05 data berdistribusi normal.

2) Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui variasi data dengan batas kemaknaan atau tingkat kepercayaan yang digunakan adalah levene test bila setelah perlakuanan, α = 0,05, jika nilai p > 0,05 maka data homogen

a) Uji peningkatan antar kedua kelompok sebelum dan sesudah pelatihan dengan menggunakan uji t-paired (berpasangan) bertujuan untuk menganalisis rerata peningkatan perubahan pelatihan resistance tube dan pelatihan resistance tube dan neurac.

(14)

b) Uji perbedaan efek rerata ketepatan tembakan bola dengan uji t- independent sesudah pelatihan antar kedua kelompok pelatihan resistance tube dan pelatihan resistance tube dan neurac.

Batas kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Jika nilai p < 0,05 maka hipotesis penelitian diterima atau ada perbedaan yang signifikan, sedangkan jika nilai p > 0,05 maka hipotesis ditolak atau tidak ada perbedaan yang signifikan.

4.11. Alur Penelitian

Populasi

Kriteria Inklusi Kriteria eksklusi

(15)

Gambar 4.5 Bagan Alur Penelitian Sampel (n=34)

Tes Awal

Kelompok Kontrol

Kelompok Perlakuan

Pelatihan Resistance tube

Pelatihan Resistance tube dan Neurac

Tes Akhir Tes Akhir

Analisis Data

Penyusunan Laporan

Referensi

Dokumen terkait

Mahalnya harga kristal silikon murni dan teknologi yang digunakan, menyebabkan mahalnya harga jenis sel surya ini dibandingkan jenis sel surya yang lain di

Untuk menghadapi persaingan dengan jejaring sosial, layanan VoIP, serta layanan video call, penulis berpendapat akan jauh lebih efektif jika operator Seluler menyediakan layanan

Sehingga dalam penanganan kasus kronik dari sprain ankle diperlukan latihan-latihan khusus seperti latihan calf raise resistance band dan latihan calf extension

the use of ask and answer question technique to improve the ability of VIII Grade students at SMP Negeri 6 Singaraja in Speaking English in academic years 2016/2017. Singaraja,

• Hadirnya Perusahaan seyogianya memiliki tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility) untuk turut serta dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di lingkungan

Berdasarkan hasil penelitian terhadap sistem informasi pemasangan listrik baru pada PT Chaputra Buana Madani, maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya sistem

Di antara faktor utama yang berpengaruh sangat besar terhadap strategi pengendalian patogen tular tanah pada tanaman tembakau adalah dengan meningkatkan kadar

Sertifikasi Mata Pelajaran/Bidang Studi : (diisi dengan kode mata pelajaran).. Nomor Registrasi