• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN GAYA BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS VIII PONPES MU ALIMIN PAKAN SINAYAN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN GAYA BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS VIII PONPES MU ALIMIN PAKAN SINAYAN SKRIPSI"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN GAYA BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS VIII

PONPES MU’ALIMIN PAKAN SINAYAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Mengikuti Sidang Munaqasah Pada Program Studi Pendidikan Matematika

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan

Oleh:

UMMUL KHAIRANI 2415040

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI

2019 M / 1440 H

(2)

Scanned by CamScanner

(3)
(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup.1

Pendidikan menurut UU RI Nomor 20 Tahun 2003, bab II pasal 3 disebutkan sebagai berikut “ pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.2

Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan pembentukan keterampilan saja, namun juga diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu sehingga tercapai pola hidup dan pribadi, sosial yang memuaskan, pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk mempersiapkan

1Drs. H.Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan Komponen MKDK,(Jakarta:PT.Rineka Cipta,2010),hal.2

2Rulama Ahmadi,pengantar Pendidikan Asas dan Filsafat Pendidikan,(Yogyakarta:Ar- Ruzz Media,2014),hal.49

(5)

kehidupan yang akan datang, tetapi juga untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaannya.3

Pendidikan merupakan suatu proses secara sadar untuk mengembangkan potensi diri peserta didik agar peserta didik dapat memiliki kemampuan dari segi keagamaan, kepribadian, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia yang dapat memberikan perumahan positif dan kemajuan dan dapat diapliasikan didalam masyarakat bangsa dan negara. Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan cita-cita untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut pandangan hidup mereka.

Salah satu cabang ilmu dalam dunia pendidikan adalah matematika.

Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam menyebutkan bahwa matematika berasal dari bahasa latin manthein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Matematika dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran.4

Dua puluh tahun lalu NRC ( National Research Ciuncil) dari amerika serikat menyatakan pentingnya matematika dengan pernyataan Mathematics is the key of opportunity yang artinya matematika adalah kunci kearah peluang-peluang.bangsa dan pemerintahn harus memanfaatkan kelebihan matematika agar bangsa ini dapat bersaing dan breperan aktif dalam

3H.Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan Komponen MKDK,(Jakarta:PT Rieneka Cipta.2010). hal. 5

4Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, (Jakarta:

Departemen Agama RI, 2010), hal.215

(6)

persaingan global. Dikarenakan itulah pembelajaran matematika kita pelajari disetiap jenjang pendidikan.5

Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya. Matematika pada hakekatnya adalah belajar konsep, struktur konsep, dan materi hubungan antar konsep dan strukturnya.6 Pada SI mata pelajaran matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah dinyatakan bahwa mata pelajaran matematika memiliki tujan. Menurut DEPDIKNAS tujuan matematika dalam standar isi pembelajaran matematika adalah:

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam memecahkan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.7

Salah satu dari tujuan pembelajaran matematika diatas adalah kemampuan pemahaman konsep. Pemahaman menurut Susanto dalam mawaddah adalah suatu proses yang terdiri dari kemampuan untuk menerangkan dan menginterprestasikan sesuatu, mampu memberikan

5Fadjar Shadiq,Pembelajaran Matematika Cara Meningkatkan Kemampuan Berfikir Siswa.

(Yogyakarta:Graha ilmu.2014) hal. 3-4.

6 J.tombokan runtukahu & Selpius Kandou, Pembelajaran Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar ,( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,2016) hal.28

7DEPDIKNAS,Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTS Untuk Optimalisasi Pencapaian Tujuan. (Yogyakarta:PPPPTK Matematika) hal.8

(7)

gambaran, contoh, dan penjelasan yang lebih luas dan memadai serta mampu memberikan uraian dan penjelasan yang lebih kreatif.8 Sedangkan konsep adalah ide (abstrak) yang dapat digunakan atau memungkinkan seseorang untuk mengelompokkan/ menggolongkan suatu objek, suatu konsep bisa dibatasi dalam suatu ungkapan yang disebut definisi9. Sehingga siswa dikatakan memiliki suatu pemahaman konsep apabila siswa dapat merumuskan strategi penyelesaian, menerapkan perhitungan sederhana, menggunakan simbol untuk mempersentasikan konsep, dan mengubah suatu bentuk ke bentuk lain seperti pecahan dalam pembelajaran matematika.10 Jadi pemahaman konsep matematika merupakan kemampuan seseorang dalam memahami konsep matematika kemudian mampu mampu mngaplikasikan kembali konsep tersebut dalam persoalan yang ringan maupun yang rumit.

Didalam agama islam mengajarkan pada umat manusia agar menetapkan tujuan dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Karena tujuan atau niat mengerjakan sesuatu menjadi dasar diterima atau tidaknya semua amal ibadah manusia yang telah dilakukannya. Demikian juga dalam kegiatan belajar, dalam islam tujuan utama seseorang dalam belajar adalah mendapatkan ridha dari Allah Swt., memperoleh kebahagiaan di dunia dan

8Siti Mawaddah dkk. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMP dalam Pembelajaran Menggunakan Model Penemuan Terbimbing (Discovery Learning)I. Edu-mat jurnal pendidikan matematika vol.4 no 01 april 2016.

9 DEPDIKNAS,Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTS Untuk Optimalisasi Pencapaian Tujuan. (Yogyakarta:PPPPTK Matematika) hal.9

10Siti Mawaddah dkk. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMP dalam Pembelajaran Menggunakan Model Penemuan Terbimbing (Discovery Learning)I. Edu-mat jurnal pendidikan matematika vol.4 no 1, April 2016

(8)

di akhirat, berusaha menerangi kebodohan pada diri sendiri dan orang lain, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam dan mensyukuri nikmat Allah Swt.11 Dalam Al-Qur‟an juga disebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi:

































Artinya : Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

Pada ayat ini Allah menyebutkan kemuliaan adam atas para malaikat karena dia telah mengkhususkannya dengan mengajarkan nama- nama segala sesuatu yang tidak diajarkan kepada para malaikat. Hal ini terjadi setelah para malaikat sujud dengan Adam. Allah menyebutkan ayat ini untuk menerangkan kepada mereka kemuliaan adam karena ia diutamakan memperoleh ilmu atas mereka. Allah mengajari adam nama segala macam benda bai dzat, sifat maupun af’al (perbuatanya).

Sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Abbas nama segala benda dan af’al besar maupun kecil.12

Menurut Santrock pentingnya memiliki pemahaman konsep oleh siswa adalah bahwa pemahman konsep adalah aspek kunci dalam

11 Baharuddin & Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar & Pembelajaran. (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2015) hal.41

12 DR „Abdullah Bin Muhammad Bin „Abdurrahman Bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Kastir.(Jakarta:Pustaka Imam Syafi‟i,2008) hal102-103

(9)

pembelajaran. Jika siswa tidak dapat memahami konsep dasar pada pembelajaran matematika, maka untuk pembelajaran matematika selanjutnya siswa akan mengalami kesulitan menyelesaikan permasalahan dalam matematika, begitu juga sebaliknya.13

Pemahaman konsep harus terjadi pada diri siswa dan guru memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk membantu proses belajar sehingga siswa membentuk konsep matematika.14 Pada pembentukan konsep anak harus memiliki keterampilan sendiri untuk mengetahui cara belajar mereka untuk dapat mendapatkan pemahaman konsep, setiap anak memiliki cara tersendiri yang unik dan berbeda satu sama lain.15

Perbedaan karakteristik siswa tentunya juga berpengaruh pada penguasaan konsep yang dimiliki siswa. Hal ini berakibat penguasaan pemahaman konsep siswa mempunyai cara yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya, kecerdasan yang dimilikinya yang lebih dominan, tingkat kecerdasan yang berbeda-beda memiliki karakter belajar yang berbeda-beda, kebiasaan belajar yang berbeda-beda dan cara belajar yang berbeda-beda yang disebut dengan gaya belajar. Kombinasi dari bagaimana seorang siswa menyerap kemudian mengatur serta mengolah informasi salah satunya yaitu gaya belajar16

13Irsyadatul mahmudah dkk. Pemahaman Konsep Matematika Berdasarkan Gaya Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran KNISLEY Pada Materi Segiempat Kelas VII Di SMP Islam 01 Kota Batu.JP3,Vol 13, no.X, januari .

14J.Tombokan Runtukahu &selpius kandou. Pembelajaran Matematika dasar Bagi Anak Berkesulitan belajar.(Yogyakarta:2016) hal.74

15 Adi W Gunawan,Born To Be A Genius.(Jakarta:PY Gramedia Pustaka Utama,2003) hal.86

16Irsyadul mahmudah dkk. Pemahaman konsep matematika berdasarkan gaya belajar siswa melalui modell pembelajaran tematik knisley pada materi segi empat kelas VII di SMP islam 01 kota batu ( vol. 13. No X januari : ISSN : 2337-6384)

(10)

Arends manyatakan bidang penting lainnya bagi kesadaran guru adalah variasi gaya belajar, terutama cara mereka memproses dan menyerap informasi. Perbedaan gaya belajar pada masing-masing individu, mengakibatkan kemampuan daya serap terhadap suatu konsep juga berbeda-beda sehingga tingkat pemahaman konsep juga berbeda- beda.17

Faktor dominan yang menentukan keberhasilan proses belajar mengajar adalah dengan mengenal dan memahami bahwasanya setiap individu untuk dengan gaya belajar mereka masing-masing yang berbeda satu sama lain.18 Santi Widayanti menyatakan gaya belajar adalah cara seseorang untuk menyerap, mengatur, mengolah suatu informasi atau informasi yang telah diterima selama pembelajaran.19 Gaya belajar adalah kombinasi bagaimana seseorang menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Modalitas seseorang sebagai modalitas visual, auditorial, atau kinestesik. Orang yang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajari auditorial melakukannya melalui apa yang mereka dengar dan pelajari kinestesik belajar dengan gerak dan sentuhan.20

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan khuasusnya pada kelas VIII tanggal 22 Agustus

17Yulia. Description On Understanding Geometry Concept Based On Initial Ability And Learning Style Of VAK Of Grade VII Student at SMP Negri Terpadu Madani In Palu. Jurnal keguruan dan ilmu pendidikan (JKIP) FKIP Unismuh Makasar, Vol 4 no 1juni2017.

18Adi W Gunawan. Born To Be A Genius.(jakarta:Gramedia Pustaka Utama.2003) hal.86

19Santi widayanti .Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Program Study matematika Al-jabar:jurnal pendidikan matematika vol.7 no 1 2016

20Bobbi DePoeter & Mike Hernacki, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan(Bandung:2003)hal.112

(11)

2019, diketahui bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda- beda. Hal ini dapat diketahui ketika guru menjelaskan pembelajaran ada siswa yang memperhatikan dengan seksama, ada siswa yang menulis semua pelajaran yang dijelaskan oleh guru ini termasuk gaya belajar visual. Ada siswa yang mendengarkan tanpa memperhatikan guru menerangkan, ada siswa yang membuat coret-coretan atau kode-kode tertentu dan beberapa siswa yang sibuk berdiskusi dengan temannya ini termasuk kepada gaya pembelajaran auditorial.

Setelah penulis melakukan wawancara dengan guru bidang studi matematika yaitu ibu Nirmawati beliau menyatakan pemahaman konsep siswa masih rendah dapat dilihat dari kesalahan siswa dalam meengerjakan soal-soal yang diberikan dan kurang kokohnya konsep KABATAKU siswa dalam penjumlahan pengurangan pembagian dan perkalian. Siswa memiliki kesulitan dalam mengenal simbol-simbol dan siswa belum mampu menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu dalam menyelesaikan suatu soal matematika. Dalam memberikan contoh soal guru langusung memberikan contoh pada diri mereka secara langsung atau dengan pengalaman pribasi siswa sehingga siswa lebih mudah memahami informasi yang diberikan siswa juga terkadang kurang tepat dalam memberikan contoh dan non contoh dari konsep.

Berikut perolehan data dari guru matematika PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan nilai ujian harian siswa kelas VIII Tahun Pelajaran 2019/2020 adalah sebagai berikut:

(12)

Tabel 1.1 Persentase Ketuntasan Nilai Ujian Pemahaman Konsep Matematika di Kelas VIII Siswa PONPES Mu’alimin Pakan Sinayan Tahun Pelajaran 2019/2020

Kelas Jumlah Siswa

Ketuntasan

< 55 ≥ 55

Jumlah % Jumlah %

VIII.A 22 14 63,6 % 8 36,4%

VIII.B 23 13 56,5% 10 43,5%

VIII.C 21 11 52,4% 10 47,6%

VIII.D 22 12 54,5% 10 45,5%

VIII.E 23 12 52,2% 11 47,8%

Jumlah 111 62 55,9% 49 44,1%

Sumber : Guru Mata Pelajaran Matematika

Berdasarkan tabel 1.1 dapat dilihat ketuntasan nilai ujian matematika siswa kelas VIII PONPES Mu‟alimin Pakan Siayan tahun ajran 2019/2020 masih ada yang tidak tuntas. Kriteria ketuntasan nilai pemahaman konsepnya adalah 55 dikarenakan pada interpretasi nilai kemampuan pemahaman konsep pada rentang 55,00 - 69,99 berkriteria cukup21. Dan pada tabel 55,6% masih belum tuntas dalam mata pelajaran matematika.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa kelas VIII diketahui bahwa mereka umumnya kurang tertarik dengan mata pelajaran matematika. Permasalahan yang terjadi pada mereka ketika mengaplikasikan konsep pada masalah yang diberikan dan dalam menggunakan, memanfa‟atkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu suatu konsep, menyatakan ulang konsep karna mereka terbiasa dalam

21 Siti Mawaddah dkk. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMP dalam Pembelajaran Menggunakan Model Penemuan Terbimbing (Discovery Learning)I. Edu-mat jurnal pendidikan matematika vol.4 no 1, April 2016

(13)

menghafal rumus . Ketika siswa diberikan guru soal yang berbeda dari contoh soal maka siswa akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Setelah melakukan analisis pada soal ulangan harian 1 semester ganjil siswa, 3 soal yang diujikan merupakan soal tentang pemahman konsep matematika siswa dalam materi pola bilangan. Untuk itu peneliti menyajikan hasil analisis kertas ulangan harian 1 pada materi pola bilangan dikelas VIII PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan. Soal ulangan harian tersebut terdiri dari 3 soal yang kelima soal tersebut adalah soal tentang pemahaman konsep matematika. Berikut gambar hasil analisis rata-rata jawaban beberapa soal ulangan harian yang termasuk indikator kemampuan pemahaman konsep matematika.

Soal 1 : tentukan angka satuan dari bilangan

Gambar 1.1

Jawaban Siswa Untuk Soal Kemampuan Konsep Matematika Pada jawaban diatas siswa melakukan kesalahan pada prosedur dalam menyelesaikan soal pola bilangan. Jika dikaitkan dengan indikator pemahaman konsep matematika, siswa belum mampu menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu. Berdasarkan

(14)

soal diketahui bilangan . Ditanya angka satuan dari . Maka jawabannya adalah bilangan pokok= 9. Dan bilangan pangkat adalah 81.

Dilihat dari hasil diatas setiap pangkat ganjil angka satuannya berulang 9. Maka bilangan pangkat dibagi dengan banyak pangkat pada angka satuan sebelum angka satuan yang berulang. √ . Jadi angka satuannya terletak pada pangkat 1 yaitu 9. Kesimpulannya angka satuan dari .

Berdasarkan permasalahan-permasalahan ini maka penulis melakukan penelitian berjudul “ Hubungan Gaya Belajar Terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas VIII di PONPES Mu’alimin Pakan Sinayan”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai beriut :

1. Pemahaman konsep matematika siswa masih rendah.

2. Siswa belum mampu menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu.

3. Siswa masih terbiasa menghafalkan rumus bukan memahami suatu konsep.

(15)

4. Siswa masih belum menyadari gaya belajarnya masing-masing.

5. Hasil belajar matematika siswa yang masih rendah.

C. Batasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah yang diungkapkan dalam penelitian yang dilakukan pada siswa di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan maka permasalahan dibatasi dengan

1. Hubungan gaya belajar visual terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VII di PONPES mu‟alimin pakan Sinayan.

2. Hubungan gaya belajar auditory terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VII di PONPES mu‟alimin pakan Sinayan.

3. Hubungan gaya belajar kinestetik terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VII di PONPES mu‟alimin pakan Sinayan.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini adalah

1. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara gaya belajar visual terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan?

2. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara gaya belajar auditory terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan?

(16)

3. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara gaya belajar kinestetik terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Untuk mengetahui hubungan yang signifikan gaya belajar visual terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII PONPES mu‟alimin Pakan Sinayan.

2. Untuk mengetahui hubungan yang signifikan gaya belajar auditory terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII PONPES mu‟alimin Pakan Sinayan.

3. Untuk mengetahui hubungan yang signifikan gaya belajar kinestetik terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII PONPES mu‟alimin Pakan Sinayan.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh setelah melakukan penelitian ini adalah sebagai berkut:

1. Bagi peneliti.

Penelitian ini diharapkan menambah wawasan serta pengetahuan dan sebagai pedoman untuk bekal mengajar pada saat menjadi guru profesional, juga sebagai salah satu syarat bagi peneliti untuk mendapatkan gelar SI di IAIN Bukittinggi.

(17)

2. Bagi guru.

Penelitian ini diharapkan dapat membantu guru untuk mengetahui bagaimana gaya belajar siswa dan mengarahkan siswa untuk mengenalkan bagaimana gaya belajar mereka dan seberapa baik pemahaman konsep siswa pada pembelajaran matematika.

3. Bagi siswa.

Penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa untuk menemukan gaya beajar yang dimilikinya dan termotifasi untuk terus giat belajar. Sehingga siswa dapat mengembangkan gaya belajarnya untuk dapat memahami konsep yang benar dan mudah diterima.

4. Bagi sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat membantu sekolah sebagai acuan untuk mngetahui gaya belajar siswa . serta alat untuk mengetahui sejauh mana kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.

G. Defenisi Operasional

Berikut adalah definisi operasional yang terdapat dalam penelitian ini.

sebagai berikut :

1. Gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi.22 Gaya belajar dapat dibagi menjadi visual yaitu belajar dengan cara melihat, auditorial yaitu belajar dengan cara mendengar, kinestesik yaitu belajar dengan bergerak, bekerja, dan menyentuh

22Bobbi Peter & Mike Hernacki,Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan,(Bandung:2003,Mizan Media Utama) hal.11o-112

(18)

2. Pemahaman Konsep Matematika adalah menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efesien, dan tepat dapat menggunakan simbol untuk mempersentasikan konsep, menerapkan perhitungan sederhana dalam memecahkan suatu masalah23

3. Siswa adalah anggota masyarakat yang berusaha meningkatkan kualitas dirinya dengan melalui proses pendidikan tertentu.24

Jadi kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi yang diterima disebut dengan gaya belajar. Perbedaan gaya belajar pada masing-masing individu siswa mengakibatkan daya serap terhadap suatu konsep akan berbeda-beda sehingga tingkat pemahaman konsep siswa juga berbeda- beda.

H. Sistematika Penulisan

Sistematika yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Bab I pendahuluan, menjelaskan latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional.

Bab II landasan teori yang membahas tentang hakihat matematika, tujuan pembelajaran matematika, pemahaman konsep, indikator pemahaman

23Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral peningkatan Mutu Pendidik dan TENAGA kependidikan, Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs Untuk Optimalisasi Pencapaian Tujuan.(Yogyakarta) hal. 2

24 UUD RI no 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 4

(19)

konsep, rubrik penilaian tes pemahaman konsep, gaya belajar, penelitian relevan.

Bab III yang membahas tentang metedologi penelitian yang meliputi, jenis penelitian, tempat penelitian, subjek penelitian, instrumen penelitian, variabel penelitian, jenis dan suber data, teknik pengumpulan data, prosedur penelitian, analisis data,dan hipotesis.

Bab IV yang membahas tentang hasil penelitian yang meliputi deskripsi penelitian, analisis data penelitian dan pembahasan.

Bab V yang membahas tentang kesimpulan yang meliputi kesimpulan dan saran spenelitian.

(20)

BAB II KAJIAN TEORI A. Hakikat Matematika

Istilah matematics (inggris), mathematik (jerman), mathematique (prancis), matematico (itali), matematicski (rusia), atau mathematick/

wiskunde (belanda) berasal dari perkataan latin mathematica, yang mulanya diambil dari perkataan yunani, mathematike yang berarti “relating mathematica”.perkataan yang mempunyai akar kata mathema yangberarti pengetahuan atau ilmu (knowladge, science). Perkataan yang serupa dan berhubungan sangat erat yaitu “mathumein” yang berarti belajar atau berfikir.25

Menurut johson & rising mengatakan pengertan matematika adalah sebagai berikut :

1. Matematika adalah pengetahuan terstruktur, dimana sifat dan teori dibuat secara deduktif berdasarkan unsur-unsur yang didefinisikan atau tidak didefinisikan dan berdasarkan aksioma, sifat, atau teori yang telah dibuktikan kebenarannya.

2. Matematka adalah bahasa simbol tentang berbagai gagasan dengan menggunakan istilah-istilah yang didefinisikan secara cermat, jelas, dan akurat.

3. Matematika adalah seni, dimana keindahannya terdapat dalam keterurutan dan keharmonisan.26

Jadi matematika menurut johson dan rising matematika adalah pola berfikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika juga menggunakan bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan secara

25Erman Suherman,Strategi Pembelajaran Matematika

Kontemporer,(Bandung:UPI,2003) hal.15-16

26J. Tombokan Runtukahu,Pembelajaran Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan belajar, (Yogyakarta:Ar-Ruzz media,2016) hal.28

(21)

cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. Matematika juga merupakan suatu alat untuk mengembangkan cara berfikir.

B. Tujuan Pembelajaran Matematika

Tujuan pembelajaran matematika menurut DEPDIKNAS menyatakan 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efesien, dan tepat dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pertayaan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasn dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.27

Jadi menurut DEPDIKNAS matematika memuliki kemampuan atau kompetensi yang memuat pemahaman konsep matematika, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan, dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.

C. Pemahaman Konsep

Istilah pemahaman sebagai terjemahan dari mathematical understanding berbeda dengan jenjang memahami dalam taksonomi bloom.

Dalam taksonomi bloom secara umum indikator memahami matematik

27Fajdar Shadiq,Pwembelajaran Matematika Cara Meningkatkan Kemampuan Berfikir Siswa , (Yogyakarta: Graha Ilmul,2014),h.11

(22)

melituti : mengenal dan menerapkan konsep, prosedur, prinsip dan idea matematika dengan benar dalam kasus yang sederhana. 28

Menurut Polya merinci kemampuan pemahaman pada 4 tingkat yaitu : 1. Pemahaman mekanikal.

Pada pemahaman mekanikal yang dirinci oleh kegiatan mengingat dan menerapkan rumus secara rutin, dan menghitung secara sederhana.

Kemampuan ini tergolong pada kemampuan tingkat rendah.

2. Pemahaman induktif.

Pemahaman induktif merupakan menerapkan rumus atau konsep dalam kasus sederhana atau dalam kasus serupa. Kemampuan ini tergolong kemampuan tingkat rendah.

3. Pemahaman rasional.

Pemahaman rasional merupakan kemampua membuktikan kebenaran suatu rumus dan theorema. Kemampuan ini tergolong kemakpuan tingkat tinggi.

4. Pemahaman intuiti.

Pemahaman intuiti merupakan kemampuan memperkirakan kebenaran dengan pasti ( tanpa ragu-ragu) sebelum menganalisis lebih lanjut. Kemampuan ini tergolong pada kemampuan tingkat tinggi.29

28Heris Hendriana dkk. Penilaian Pembelajaran Matematika.(PT Refika Aditma:Bandung2014) hal.19

29 Heris Hendriana dkk. Penilaian Pembelajaran Matematika.(PT Refika Aditma:Bandung2014) hal.20

(23)

Menurut skemp dalam penggolongan pemahaman terbagi dua yaitu : 1. Pemahaman instrumental.

Pemahaman instrumental merupakan menerapkan konsep atau prinsip tanpa kaitan dengan yang lainnya, dapat menerapkan rumus dengan perhitungan yang sederhana, dan mengerjakan perhitungan secara algoritmik. Kemampuan ini tergolong kemampuan tingkat rendah.

2. Pemahaman relasional.

Pemahaman relasional merupakan mengaitkan satu konsep atau prinsip dengan konsep atau prinsip lainnya. Kemampuan ini tergolong kepada kemampuan tingkat tinggi.30

Menurut parkins dan blythe mendefinisikan pemahaman sebagai suatu kemampuan yang mampu mejelaskan, menemukan bukti dan contoh, generalisasi, menerapkan, analigizing dan mempertasekan topik dengan cara yang baru. Menurut wardi konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan atau kemungkinan seseorang untuk mengelomppokkan suatu objek dari objek lain. Suatu konsep biasa dibatasi dalam suatu ungkapan yang disebut definisi.31

Sedangkan konsep berasal dari kata “conseive” yang artinya memahami. Menurut berg konsep adalah pengertan atau penafsiran dari seseorang terhadap suatu konsep atau pemahaman dalam pemikirannya.

Menurut kastberg representasi dari konsep adalah dapat berupa tulisan,

30 Heris Hendriana dkk. Penilaian...hal.20

31Ariansyah ,Profil Pemahman Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah Bilangan Real, Ditinjau dari Gaya Belajar Siswa Kelas X SMA Al-Bayan Makasar (skripsi)

(24)

gambar, tabel dan representasi yang dikatakan secara lisan atau yang diucapkan.32

Jadi pemahman konsep adalah berupa penguasaan sejumlah materi pembelajaran, dimana siswa tidak hanya dapat mengenal dan mengetahui konsep, tetapi mampu mengungkapkan kembali, merumuskan strategi penyelesaian soal, menerapkan perhitungan sederhana, dapat menggunakan simbol matematika, dan mengubah bentuk satu ke bentuk.

Konsep matematika tersusun secara herarkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya. Ibarat membangun sebuat gedung bertingkat, lantai kedua dan selanjutnya tidak akan terwujud apabila fondasinya atau lantainya benar-benar tidak dikuasai.33 D. Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep

Memahami konsep matematika, merupakan kopetansi dalam menjelaskan keterkaitan antar kosep dan menggunakan konsep maupun algoritma, secara luwes, akurat, efesien, dan tepat dalam pemecahan masalah.

Adapun indikator pemahaman konsep sebagai berikut :

1. Menyatakan ulang sebuah konsep.

2. Mengklasifikasi objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya.

3. Memberi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep.

4. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematik.

5. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep.

6. Menggunakan dan memanfa‟atkan serta memilih prosedur atau operasi tertentu.

32Fara Virgianita Pangadongan.Konsepsi Siswa SMP Pada Materi Segiempat Ditinjau dari Gaya Belajar.(UNS:ISN.978-602-73403-0-5) hal. 1001-1002

33Erman Suherman.Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer .(UPI:Bandung.2003). hal.22

(25)

7. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pada pemecahan masalah.34 E. Rubrik Penilai Tes Kemampuan Pemahaman Konsep

Untuk menganalisis hasil tes pemahaman konsep matematika siswa, maka setiap soal berdasarkan indikator tersebut diberi nilai atau skor.

Pemberian skor pemahaman konsep matematika dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Rubrik Penskoran Pemahaman Konsep Matematika

Indikator Aspek yang dinilai Skor

(1) (2) (3)

Menyatakan ulang sebuah konsep

Jawaban kosong 0

Tidak dapat menyatakan ulang konsep 1 Dapat menyatakan ulang konsep tetapi masih banyak kesalahan

2 Dapat menyatakan ulang konsep tetapi belum tepat

3 Dapat menyatakan ulang konsep dengan tepat

4 Memberikan contoh

dan bukan contoh dari suatu konsep

Jawaban kosong 0

Tidak dapat memberi contoh dan bukan contoh

1 Dapat memberikan contoh dan bukan contoh tetapi masih banyak kesalahan

2 Dapat memberikan contoh dan bukan contoh tetapi belum tepat

3 Dapat memberikan contoh dan bukan contoh dengan tepat

4 Menyajikan konsep

dalam bentuk

representasi matematis

Jawaban kosong 0

Dapat menyajikan sebuah konsep dalam bentuk representasi matematika (gambar) tetapi belum tepat dan tidak menggunakan penggaris

1

Dapat menyajikan sebuah konsep dalam bentuk representasi matematika (gambar) tetapi belum tepat

2

Dapat menyajikan sebuah konsep dalam 3

34Siti mawaddah, dkk, Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMP Dalam Pembelajaran Mengguanakan Model Penemuan Terbimbing (Discovery Learning). EDU-MAT Jurnal Pendidikan Matematika Volume 4 no 01,April 2016 hal 78.

(26)

Indikator Aspek yang dinilai Skor

(1) (2) (3)

bentuk representasi matematika (gambar) tetapi tidak menggunakan penggaris

Dapat menyajikan sebuah konsep dalam bentuk representasi matematika (gambar) dengan tepat

4

Mengembangkan syarat perlu/ syarat cukup suatu konsep

Jawaban kosong 0

Tidak dapat meggunakan atau memilih prosedur atau operasi yang digunakan

1 Dapat menggunakan atau memilih prosedur atau operasi yang digunakan tetapi masih banyak kesalahan

2

Dapat menggunakan atau memilih prosedur atau operasi yang digunakan tetapi masih belum tepat

3

Dapat menggunakan atau memilih prosedur atau operasi yang digunakan dengan tepat

4

Mengklasifikasi objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya

Jawaban kosong 0

Tidak dapat mengklasifikasikan objek sesuai dengan konsepnya

1 Dapat menyebutkan sifat-sifat sesuai dengan konsepnya tetapi masih banyak kesalahan

2

Dapat menyebutkan sifat-sifat sesuai dengan konsepnya tetapi belum tepat

3 Dapat menyebutkan sifat-sifat sesuai dengan konsepnya dengan tepat

4 Menggunakan,

memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu

Jawaban kosong 0

Tidak dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi

1 Dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tetapi masih banyak kesalahan

2

Dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tetapi belum tepat

3

Dapat menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi dengan tepat

4

Mengaplikasikan konsep atau algoritma dalam pemecahan masalah

Jawaban kosong 0

Tidak dapat mengaplikasikan rumus sesuai prosedur dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah

1

(27)

Indikator Aspek yang dinilai Skor

(1) (2) (3)

Dapat mengaplikasikan rumus sesuai prosedur dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah tetapi masih banyak kesalahan

2

Dapat mengaplikasikan rumus sesuai prosedur dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah tetapi belum tepat

3

Dapat mengaplikasikan rumus sesuai prosedur dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah dengan tepat

4

Sumber : EDU-MAT Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 4, Nomor 1, April 2016. 35

Pada penelitian ini, peneliti tidak menggunakan semua indikator pemahaman konsep karena keterbatasan dan penyesuaian terhadap materi pelajaran yang akan dilaksanakan selama proses penelitian. Nilai kemampuan pemahaman konsep terdapat pada ningsih dalam jurnal siti mawaddah, dkk yang diperoleh dari perhitungan kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel berikut :

Tabel 2.2 Interpresentasi Nilai Kemampuan Pemahaman Konsep.

No Nilai Kriteria

1 85.00 – 100 Sangat Baik

2 70.00 – 84.99 Baik

3 55.00 – 69.99 Cukup

4 40.00 – 54.99 Rendah

5 0.00 – 39,99 Sangat rendah

Sumber : adaptasi ningsih dalam jurnal siti mawaddah dkk

35 Siti Mawaddah dan Ratih Maryanti, Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa SMP dalam Pembelajaran Menggunakan Model Penemuan Terbimbing (Discovery Learning), Banjarmasin, 2016, h. 79-80

(28)

F. Gaya Belajar

1. Pengertian Gaya Belajar

Gaya belajar adalah suatu kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengolah informasi. Modalitas seseorang sebagai modalitas visual, audirori atau kinestesik (V-A-K). Seperti yang diusulkan istilah-istilah ini, orang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pejalar auditori belajar melalui apa yang mereka dengarkan, dan pelajar kinsetesik belajar melalui gerakan dan sentuhan.36

Ada banyak faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan proses belajar. Salah satunya adalah dengan mengenal dan mengenal bahwa setiap individu adalah unik dengan gaya belajar yang masing- masing individu berbeda . jika diperhatikan dalam kelas yang terjadi didalam kelas selain komunikasi yang satu arah juga terjadi ketidak cocokan antara gaya mengajar dengan gaya belajar.

Guru hanya melakukan pembelajaran yang satu arah sebagai contohnya gaya belajar visual. Guru menggunakan media papan tulis (visual) dan mengajar dengan menggunakan buku (visual). Murid belajar dengan menggunakan buku (visual), mengerjakan tugas secara tertulis (visual), dan mengerjakan tes juga secara tertulis (visual). Sedangkan didalam kelas masing-masing individu memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.37

36Bobbi Deporter & Mike Hernacki ,Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan.(Bandung : Mizan Media Utama, 2003) hal.110-112

37 Adi W Gunawan,Born To Be A Genius,(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,2003) hal.86-87

(29)

Michael Grinder, pemngarang Righting The Education Conveyor Belt, telah mengajarkan gaya-gaya belajar dan mengajar kepada banyak instruktur. Ia mencatat bahwa dalam setiap kelompok yang terdiri dari 30 orangn murid, sekitar 20 orang murid mampu belajar secara cukup efektif engan cara visual, auditorial, dan kinestesik sehingga mereka tidak membutuhkan perhatian khusus. Dari sisa 8 orang murid, sekitar 6 orang memilih memilih satu modalitas tas belajar dengan sangat mnonjol melebihi dua modalitas lainnya. Sehingga, setiap saat mereka harus selalu berusaha keras untuk memahami perintah, kecuali jika perhatian khusus diberikan kepada mereka dengan menghadirkan cara yang mereka pilih.

Bagi orang-orang ini, mengetahui cara belajar terbaik mereka bisa berarti perbedaan antara keberhasilan dan kegagalan. Dua orang murid lainnya mempunyai kesulitan belajar karna sebab-sebab eksternal.38

Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya belajar adalah sebagai berikut:

a. Kondisi internal, meliputi :

1) Kondisi psikis : kemampuan intelektual, emosional

2) Kondisi sosial : kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan

b. Kondisi eksternal, meliputi :

1) Variasi dan tingkat kesulitan materi belajar.

2) Tempat belajar.

38 Bobbi Depeter &Mike Hernacki,Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan,(Bandung:Mizan Media Utama,2003)hal.114

(30)

3) Iklim.

4) Suasana lingkungan.

5) Budaya Belajar.

c. Faktor pendekatan belajar.

Jenis upaya individu yang meliputi strategi dan metode belajar yang digunakannya untuk melakukan materi.39

2. Jenis-Jenis Gaya Belajar

a. Gaya Belajar Visual (Visual Learner)

Visual learner adalah gaya belajar dimana gagasan, konsep, data dan informasi lainnya dikemas dalam bentuk gambar dan teknik.

Siswa yang memiliki tipe belajar visual memiliki interest yang tinggi ketika diperlihatkan gambar, grafik, grafis organisatoris seperti jaring, peta konsep, dan ide peta, plot dan ilustrasi visual lainnya.40

Menurut Hamzah B.Uno karakteristik yang khas bagi orang- orang yang gaya belajarnya visual adalah

1) Kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya.

2) Memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna.

3) Memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik.

4) Memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung.

5) Terlalu reaktif terhadap suara.

6) Sulit mengikuti anjuran secara lisan.

7) Seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.41

39Dwi Prasetia Danarjati dkk,Psikologi Pendidikan,(yogyakarta:Graha Ilmu,2014)hal.45

40Rusman, pembelajaran Tematik Terpadu Teori, Praktik dan Penilaian ,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2016)hal.42

41 Hamzah B.Uno,Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran,(Jakarta:Bumi Aksara.2006) hal.181

(31)

Berikut ciri-ciri orang-orang belajar Visual menurut Bobbi Deporter & Mike Hernacki dalam bukunya Quantum Learning:

1) Rapi dan teratur.

2) Berbicara dengan cepat.

3) Perencanaan dan pengatur jangka panjang yang baik.

4) Teliti terhadap detail.

5) Mementingkan penampilan baik dalam pakaian maupun prestasi.

6) Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran anda.

7) Mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar.

8) Mengingat dengan asosiasi visual.

9) Biasanya tidak terganggu oleh keributan.

10) Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

11) Pembaca cepat dan tekun.

12) Lebih suka membaca daripada dibacakan.

13) Membutuhkan pandangan dan tujuan menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek.

14) Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara di telepon dan dalam rapat.

15) Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain.

16) Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak.

17) Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato.

18) Lebih suka seni daripada musik.

19) Seringkali mengetahui apa yang dikatakan apa yang harus dikatakan tetapi tidak pandai memilih kata-kata.

20) Kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan.42

Ciri lain yang dapat dikemukakan dari gaya belajar visual ini yaitu 1) Cenderung melihat sikap, gerekan dan bibir guru yang sedang

mengajar.

2) Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi.

3) Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.

4) Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.

42 Bobbi Depeter &Mike Hernacki,Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan,(Bandung:Mizan Media Utama,2003) hal.116-118

(32)

5) Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.

6) Lebih suka peragaan penjelasan lisan.

7) Dapat duduk tenang ditengah situsasi yang ribut dan ramai tanpa terganggu. 43

Strategi untuk mempermudah pembelajaran gaya belajar visual.

1) Gunakan materi visual seperti gambar-gambar, diagram dan peta.

2) Gunakan warna untuk menghlite hal-hal penting.

3) Ajak anak untuk membaca buku-buku berikustrasi.

4) Gunakan multi-media ( contohnya : komputer dan vidio.)

5) Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-ide ke dalam diagram.44

b. Gaya Belajar Auditorial

Gaya belajar auditorial adalah gaya belajar dimana siswa memiliki gaya belajar melalui tangkapan indra pendengaran.

Modalitas pembelajaran gayabelajar auditorial dalah indra pendengaran.45

Ciri-ciri pelajar dengan gaya belajar auditori : 1) Berbicara dengan diri sendiri saat bekerja.

2) Mudah terganggu oleh keributan.

3) Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan dibuku ketika membaca.

4) Senang membaca dengan keras dan mendengarkan.

5) Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara.

6) Merasa kesulatan untuk menulis, tetapi hebat dalam bercerita.

7) Berbicara dalam irama yang terpola.

8) Biasanya pembicara yang fasih.

9) Lebih suka musik daripada seni.

10) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang terlihat.

43Sriwati bukit dkk. Kecerdasan & Gaya Belajar, (medan : Larispa Indonesia.2015) hal.96

44Sriwati bukit dkk. Kecerdasan & Gaya Belajar, (medan : Larispa Indonesia.2015) hal.97

45Baharuddin.dkk,Pendidikan Humanistik (Konsep, Teori, dan Aplikasi Praktis Dalam Pendidikan). (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media. 2007) hal.233

(33)

11) Suka bicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar.

12) Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu saama lain.

13) Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menulisaknnya.

14) Lebih suka gurauan lisandaripada membaca komik.46 Ciri-ciri lain gaya belajar auditori yaitu:

1) Saat bekerja suka berbicara kepada diri sendiri.

2) Penampilan rapi.

3) Mudah terganggu oleh keributan.

4) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat.

5) Senang membaca dengan keras dan mendengarkan.

6) Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan dibuku ketika membaca.

7) Biasanya ia pembicara yang fasih.

8) Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya.

9) Lebihsuka gurauan lisan daripada baca komik.

10) Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visual.

11) Berbicara dalam irama yang terpola.

12) Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berima dan warna suara.47

Stategi pembelajaran untuk gaya belajar auditorial :

1) Ajak anak anda untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik didalam kelas maupun didalam keluarga.

2) Dorong anak untuk membaca materi dalam diskusi baik didalam kelas maupun didalam keluarga.

3) Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

4) Gunakan musik untuk mengajar anak.

5) Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

6) Biarkan anak merekam materi pelajaran kedalam kaset dan dorong untuk mendengarkan sebelum tidur.48

c. Gaya belajar Kinestesik

46 Bobbi Depeter &Mike Hernacki,Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan,(Bandung:Mizan Media Utama,2003)hal.118

47 Sriwati bukit dkk. Kecerdasan & Gaya Belajar, (medan : Larispa Indonesia.2015) hal.99

48 Sriwati bukit dkk. Kecerdasan & Gaya Belajar, (medan : Larispa Indonesia.2015) hal.100

(34)

Gaya belajar kinestesik adalah gaya belajar dengan cara melakukan, menyentuh, merasa, bergerak, dan mengalami. Anak mempunyai gaya belajar kinestesik mengandalkan belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan tindakan.49

Ciri-ciri pelajar yang memiliki gaya belajar kinestsik : 1) Berbicara dengan perlahan.

2) Mennggapi perhatian fisik.

3) Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.

4) Berdiri dekat ketika bebicara dengan orang lain.

5) Selalu beriorentasi pada fisik dan banyak bergerak.

6) Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar.

7) Belajar melalui manipulsi dan praktik.

8) Menghafal dengan cara berlajan dan melihat.

9) Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca.

10) Banyak menggunakan isyarat tubuh.

11) Tidak dapat duduk diam lama.

12) Tidak dapat meningat geografi, kecuali jika mereka telah pernah berada ditempat itu.

13) Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.

14) Menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca.

15) Kemungkinan tulisan jelek.

16) Ingin melakukan segala sesuatu.

17) Menyukai permainan yang menyibukkan.50

Ciri-ciri lain dari gaya belajar kinestetik yyaitu : 1) Berbicara perlahan.

2) Penampilan rapi.

3) Tidak terlalu mudah terganggu dengan stuasi keributan.

4) Belajar melalui manipulasi dan praktek.

5) Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.

6) Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca.

7) Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita.

8) Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca.

9) Menyukasi permainan yang mnyibukkan.

49 Rusman,Pembelajaran Tematik Terpadu Teori, Praktoik, dan Penilaian.(Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.2016) hal.43

50 Bobbi Depeter &Mike Hernacki,Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan,(Bandung:Mizan Media Utama,2003) hal.118

(35)

10) Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada ditempat itu,

11) Menyentuk orang untuk mendapatkan perhatian mereka menggunakan kata-kata yang mendukung aksi.51

Strategi pembelajaran untuk mempermudah anak yang bergayabelajar kinestesik :

1) Jangan paksakan anak untuk belajar berjam-jam.

2) Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya ( contohnya ajak anak baca sambil menggunakan objek sesungguhunya untuk belajar konsep baru.

3) Izinkan anak untuk mengunyah permen karet saat belajar.

4) Gunakan warna yang terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.

5) Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.52 G. Penelitian Relevan

Penulis menemukan yang relevan yaitu dari jurnal Hawa Liberna yang berjudul Hubungan gata Belajar Visual dan Kecemasan diri Terhadap Pemahaman Konsep Matematika Siswa Kelas X SMK Negri 41 Jakarta.

Dengan hasil terdapat hubungan gaya belajar visual dengan pemahaman konsep matematika.

Adapun perbedaannya adalah penulis melihat hubungan gaya belajar VAK ( visual-audiory-kinestetik) terhadap pemahaman konsep di kelas VIII dan bertempat di PONPES Mu‟alimin pakan sinayan.

H. Kerangka Konseptual.

Matematika memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari, sehingga matematika dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran dari tingkat SD

51 Sriwati bukit dkk. Kecerdasan & Gaya Belajar, (medan : Larispa Indonesia.2015) hal.101

52 Sriwati bukit dkk. Kecerdasan & Gaya Belajar, (medan : Larispa Indonesia.2015) hal.102

(36)

sampai pada tingkat universitas. Akan tetapi banyak kita temui banyak siswa yang memiliki kesulitan selama pembelajaran matematika. Karena sifat objek matematika yang abstrak dan membutuhkan pemahaman yang tepat untuk dapat memecahkan persoalan dengan baik dan benar.

Menyadari bahwa pemahaman konsep matematika sangat penting dan kemampuan siswa yang beragam dimulai dari kecerdasan yang beraga, kebiasaan belajar yang berbeda, cara menyerap, mengolah serta menafsirkan informasi yang disebut gaya belajar. Maka peneliti melihat hubungan antara gaya belajar dengan pemahaman konsep matematika.

Berdasarkan latar belakang dan kajian teori diatas telah diuraikan sebelumnya peneliti melihat berbagai macam gaya belajar yang dimiliki siswa PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan dengan skor pemahaman konsep yang rendah yang dapat dilihat dari tabel skor pemahaman konsep siswa. Peneliti ingin melihat apakah tedapat hubungan antara gaya belajar dengan pemahaman konsep matematika siswa

(37)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual I. Hipotesis Penelitian.

Berdasarkan landasan teori diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah

1. Terdapat hubungan signifikan antara gaya belajar visual terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan.

2. Terdapat hubungan signifikan antara gaya belajar Auditory terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan.

3. Terdapat hubungan signifikan antara gaya belajar kinestetik terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan.

siswa

Tes Gaya Belajar Tes Kemampuan

Pemahaman Konsep

Hubungan

Kesimpulan

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Menurut Margono penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui. Penelitian kuantitatif dapat dilaksanakan dengan pendekatan penelitian deskriptif, penelitian korelasi, penelitian kuasi- eksperimental, dan penelitian eksperimental.53

Dan penelitian ini menggunakan pendekatan korelasi. Penelitian korelasi adalah merupakan study untuk menemukan keberadaan hubungan atau ketergantungan antara dua atau lebih aspek atau faktor dalam suatu situasi dan kondisi tertentu. Studi ini menguji apakah terdapat hubungan dari dua atau lebih aspek tersebut, namun juga menjelaskannya.54

B. Variabel Dan Data 1. Variabel

Variabel adalah suatu kualitas dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya. Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dirumuskan disini bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

53Deni Darmawan,Metode Penelitian Kuantitatif (bandung:Rosda.2014) hal.37

54Ratu Kartiko Widi,Asas Metodologi Penelitian.(Yogyakarta:Graha ilmu.2010) hal.48

(39)

ditarik kesimpulannya.55 Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah :

a. Variabel independen (variabel bebas).

Variabel independen adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab peruhbahannya atau timbuknya variabel dependen ( terikat).56 Dalam penelitian ini yang merupakan variabel bebas adalah gaya belajar (X).

b. Variabel dependen (variabel terkait).

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.57 Dalam penelitian ini yang merupakan variabel terikat adalah pemahaman konsep matematika siswa (Y).

2. Data.

Data merupakan fakta atau informasi atau keterangan yang dijadikan sebagai sumber atau bahan menemukan kesimpulan dan membuat keputusan. Data adalah serangkaian fakta yang dibentuk atau disusun berdasarkan kerangka berfikir dan metode tertentu yaitu kerangka ilmiah.Terdapat dua jenis data :

a. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dilapangan dari sumber asli oleh orang yang melakukan

55 Sugiyono ,Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.(Bandung:

Alfabeta.2010) hal.39

56 Sugiyono ,Metode Penelitian. . .hal. 39.

57 Sugiyono ,Metode Penelitian. . .hal. 40

(40)

penelitian. Data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan alat lainnya juga merupakan data primer.58 Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah gaya belajar diperoleh dari angket dan test pemahaman konsep yang dibuat oleh siswa.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang akan melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Data sekunder bisa diperoleh dari data-data terdahulu yang berguna untuk melengkapi data primer.59 Data sekunder dari penelitian ini adalah data absensi siswa menjadi populasi dan nilai dan jawaban siswa kelas VIII PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan tahun ajaran 2018/2019.

C. POPULASI DAN SAMPEL 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan. Populasi bukan hanya manusia, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan hanya jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari tetapi juga meliputi karakteristik/ sifat yang dimiliki oleh subjek/objek.60

58 Mahmud,Metode Penelitian Pendidikan,(Bandung :Pustaka Setia,2011) hal.146

59 Mahmud,Metode Penelitian...hal.146

60 Sugiyono,Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung:alfabeta.2016) cetakan 23. Hal.117

(41)

Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan yang berjumlah 111 orang siswa. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh, pada kelas VIII terdapat 5 kelas di POPES Mu‟alimin Pakan Sinayan.

Tabel 3.1 Siswa Kelas VIII di PONPES Mu’alimin Pakan Sinayan Pada Tahun Ajaran 2019/2020 (Populasi)

No Kelas Jumlah siswa

1 VIII.a 22

2 VIII.b 23

3 VIII.c 21

4 VIII.d 22

5 VIII.e 23

Jumlah 5 111

(Sumber:Guru mata Pelajaran VIII PONPES Mu’alimin Pakan Sinayan)

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi besar, misalnya karna keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi.61

Penentuan besaran sampel pada penelitian ini, penulis menggunakan pendapat Suharsimi Arikunto bahwa:

Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Tetapi, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10%-15% atau 20% -25% atau lebih, tergantung kemampuan waktu, tenaga, dana, sempit luasnya

61 Sugiyono,Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D ... Hal.118

(42)

wilayah pengamatan dan besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.62

Berdasarkan alasan di atas, maka penulis mengambil sampel penelitian sebesar 77% dari total populasi sampel yaitu 111 orang siswa sehingga jumlah sampel penelitian adalah 85 orang siswa dengan rincian 29 orang siswa bergaya belajar visual dan 26 siswa bergaya belajar auditory dan 30 siswa bergaya belajar kinestetik. Pengambilan sampel dari populasi pada penelitian ini adalah menggunakan pendapat Suharsimi Arikunto.

D. Prosedur Penelitian.

1. Tahap persiapan.

a. Menetapkan tempat penelitian yaitu di PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan serta menetapkan waktu penelitian pada bulan Juli sampai Semptember.

b. Mengurus surat izin penelitian pada pihak kampus pada tanggal 19 juni 2019 dan pada pihak camat kecamatan magek pada tanggal 26 juni 2019

c. Melaksanakan observasi awal ke sekolah untuk melihat proses pembelajaran dan gaya belajar siswa. Observasi dilaksanakan pada hari kamis, 04 juli 2019.

62 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), Cet. Ke-13, h.134

(43)

d. Menelaah data nilai UH siswa mata pelajaran matematika di kelas VIII PONPES Mu‟alimin Pakan Sinayan tahun ajaran 2019/2020.

Dapat dilihat pada LAMPIRAN I halaman 96.

e. Mengkonsultasikan jadwal penelitian pada guru bidang study matematika yang bersangkutan.

f. Menyusun instrumen yang akan digunakan untuk penelitian. Yaitu angket gaya belajar dengan angket baku dari Adi W Gunawan dan tes pemahaman konsep dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menentukan kriteria angket gaya belajar siswa berdasarkan angket dari Adi W Gunawan dan kriteria tes pemahaman konsep matematika siswa.

2) Melakukan validasi instrumem tes kemampuan pemahaman konsep kepada ahli. Dan validatornya adalah ibu Pipit Firmanti,M.Pd ( sebagai dosen tetap IAIN Bukittinggi bidang study matematika) dan ibu Eka Surya Bayu,M.Pd ( sebagai dosen luar biasa matematika).

3) Menguji cobakan instrumen penelitian. Soal diuji cobakan pada 26 orang siswa.

2. Tahap pelaksanaan.

Menyebarkan angket dan soal tes kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.

Gambar

Tabel  1.1  Persentase  Ketuntasan  Nilai  Ujian  Pemahaman  Konsep  Matematika  di  Kelas  VIII  Siswa  PONPES  Mu’alimin  Pakan Sinayan Tahun Pelajaran 2019/2020
Tabel 2.1 Rubrik Penskoran Pemahaman Konsep Matematika
Tabel 2.2 Interpresentasi Nilai Kemampuan Pemahaman Konsep.
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual  I.  Hipotesis Penelitian.
+7

Referensi

Dokumen terkait

 Drive device : berupa alat yang digunakan untuk menekan simbol dalam bentuk yang hanya dapat dibaca oleh mesin pada media seperti mislanya disk magnetik atau tape magnetik,

Dalam kisah Sunan Kalijaga menampilkan tiga potongan kisah terpilih yang menceritakan mengenai media dakwah Sunan Kalijaga dalam bidang seni dan budaya seperti gamelan, wayang,

Bahwa berdasarkan Laporan Mediator Kepada Majelis Hakim Pemeriksa Perkara tentang Hasil Mediasi dalam Perkara Nomor 10/Pdt.G/2021/PN.Cjr melaporkan bahwa upaya

 shall fix the shall fix the conditions conditions for the grant of for the grant of its nationality to ships, for the registration its nationality to ships, for the registration

Secara umum virus merupakan partikel tersusun atas elemen genetik (genom) yang mengandung salah satu asam nukleat yaitu asam deoksiribonukleat (DNA) atau asam ribonukleat (RNA) yang

Tentu, pada tataran realita tidak mungkin akan kita dapati praksis yang sesuai dengan teori yang berasas tersebut. Jika setiap orang tetap akan memaksakan pengaplikasian di

Adanya pengaruh yang signifikan dari tipe auditor terhadap luas pengungkapan IC disebabkan karena auditor Big 4 cenderung memiliki independensi yang lebih besar

Regresi Quasi-Likelihood dapat diterapkan dalam kasus overdispersi karena nilai variansi dari variabel respon pada regresi Quasi-Likelihood diasumsikan lebih besar