OLEH :
NAMA : PUTU MAHESA UTARI NIM : 2005.01.002
PROGRAM STUDI S-1 SENI TARI JURUSAN SENI TARI
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR
2010
SKRIP KARYA SENI
Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Seni (S-1)
OLEH :
NAMA : PUTU MAHESA UTARI NIM : 2005.01.002
PROGRAM STUDI S-1 SENI TARI JURUSAN SENI TARI
FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR
2010
i
SKRIP KARYA SENI
Disetujui untuk diajukan guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Seni (S-1)
MENYETUJUI :
Pembimbing I Pembimbing II
Ni Ketut Yuliasih, SST., M.Hum Ni Made Bambang Rai Kasumari, SST,. M.Si NIP. 130803129 NIP. 195101111982122001
ii
Skrip Karya Seni ini telah diuji dan dinyatakan sah oleh Panitia Penguji Tugas Akhir Sarjana Seni (S1), Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 1 Juni 2010
Ketua : I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn (……….) NIP. 19681231 199603 1 007
Sekretaris : I Dewa Ketut Wicaksana, SSP.,M.Hum (……….)
NIP. 131878137
Dosen Penguji :
1. I Nyoman Cerita, SST., MFA (……….)
NIP. 19611231 199103 1 008
2. Tri Haryanto, SKar., M.Si (……….)
NIP. 19620709 199203 1 004
3. Ida Ayu Trisnawati, SST., M.Si (……….)
NIP. 19620121 198603 2 003
Disahkan pada tanggal : ...
Mengetahui
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Ketua Jurusan Tari
ISI Denpasar ISI Denpasar
I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn I Nyoman Cerita, SST., MFA NIP. 19681231 199603 1 007 NIP. 19611231 199103 1 008
iii
Puji syukur dipanjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat-Nyalah tugas penyusunan skrip dan karya tugas akhir dengan judul Waraparicārikā, dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Skrip karya tari Waraparicārikā merupakan pertanggung jawaban atas garapan tari yang diajukan penggarap untuk memenuhi tugas akhir yang berisikan antara lain latar belakang penggarapan, ide garapan, proses kreativitas dan wujud garapan.
Skrip karya tari ini diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam menempuh Ujian Akhir Sarjana (S-1) di Institut Seni Indonesia Denpasar. Sangat disadari bahwa skrip karya ini tidak akan terwujud tanpa adanya bimbingan dan dorongan dari segala pihak, maka melalui kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. I Wayan Rai S, MA., selaku Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, atas fasilitas yang diberikan.
2. Bapak I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn, selaku Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, atas arahan yang diberikan.
3. Ibu Ida Ayu Trisnawati, SST., M.Si, selaku Pembimbing Akademis yang telah membimbing pada setiap semester.
iv
membimbing dan memberikan saran serta kritik demi kesempurnaan tulisan dan karya tugas akhir.
5. Ibu Ni Made Bambang Rai Kasumari, SST., M.Si selaku Pembimbing II yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga membimbing dari awal sampai akhir proses penggarapan.
6. Kepada Bapak dan Ibu dosen yang tidak bisa disebutkan satu persatu, diucapkan terima kasih atas segala dorongan dan dukungannya demi terwujudnya garapan tari Waraparicārikā.
7. Para pendukung karawitan di Sanggar Arma Kumara Sari Ubud, Gianyar yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran sehingga terwujudnya garapan ini.
8. Bapak I Wayan Sudiarsa, S.Sn, selaku penata iringan yang selalu memberikan masukan dan bersedia menuangkan ide-ide demi kesempurnaan karya tari Waraparicārikā.
9. Putu Eka Oktayanti beserta keluarga yang telah banyak membantu dalam menata kostum dan perlengkapan lainnya.
10. Bapak I Nyoman Cerita, SST., MFA, yang telah memberikan masukan, saran dan telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran demi terwujudnya garapan ini.
v
buku sebagai acuan dalam penggarapan karya tugas akhir ini.
12. Para stage crew yang telah banyak meluangkan waktu, selama proses hingga waktu penyajian.
13. Ucapan terima kasih diucapkan kepada keluarga tercinta, Bapak, Ibu, adik- adik, kakak-kakak serta suami yang banyak memberikan bantuan finansial maupun materil, dorongan dan semangat yang membangun serta rekan-rekan yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materi sehingga terwujudnya garapan ini.
Penata menyadari bahwa skrip karya ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran diharapkan demi kemajuan dalam penggarapan selanjutnya.
Harapan penata karya ini dapat bermanfaat, diterima dan dijadikan inspirasi serta dapat memotivasi para seniman muda dalam menghasilkan garapan yang lebih berkualitas di tahun selanjutnya.
Denpasar, Mei 2010 Penata
vi
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Ide Garapan ... 5
1.3. Tujuan Garapan ... 7
1.4. Manfaat Garapan ... 7
1.5. Ruang Lingkup ... 8
BAB II KAJIAN SUMBER ... 10
2.1. Sumber Literatur ... 10
2.2. Sumber Lisan ... 12
BAB III PROSES KREATIVITAS ... 15
3.1 Tahap Eksplorasi (Penjajagan) ... 15
3.2 Tahap Percobaan (Improvisasi) ... 17
vii
BAB IV WUJUD GARAPAN ... 23
4.1. Deskripsi Garapan ... 23
4.2. Analisa Pola Struktur ... 25
4.2.1. Analisis Estetis ... 26
4.3. Analias Simbol ... 32
4.4. Analisa Materi... 34
4.4.1. Motif Desain ... 34
4.4.2. Perbendaharaan Gerak... 37
4.5. Analisa Penyajian ... 41
4.5.1. Tempat Pertunjukan ... 42
4.5.2. Kostum ... 45
4.5.3. Property ... 49
4.5.4. Tata rias ... 49
4.5.5. Iringan Tari ... 51
4.5.6. Pola Lantai ... 52
BAB V PENUTUP ... 58
5.1. Kesimpulan ... 58
5.2. Saran-saran ... 58 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
viii
Gambar 1 Denah Stage ... 43
Gambar 2 Arah Hadap Penari ... 44
Gambar 3 Foto Kostum Penari Tampak Depan ... 47
Gambar 4 Foto Kostum Penari Tampak Belakang ... 48
Gambar 5 Tata Rias Wajah Penari ... 50
ix
Tabel 1 Proses Penggarapan Tari Waraparicārikā... 22 Tabel 2 Pola Lantai, Suasana, Lighting dan Rangkaian Gerak Yang
Digunakan Dalam Garapan Tari Kreasi Waraparicārikā ... 53
x
1.1 Latar Belakang
Tari Legong merupakan salah satu kesenian yang cukup populer di kalangan masyarakat Bali. Pada mulanya legong hanya ditarikan oleh 2 orang, yang selanjutnya ditambah 1 orang penari yang berperan sebagai condong, hal ini biasanya legong sering melakonkan Malat (khusus cerita prabu Lasem), maka perlu seorang pelayan istana yaitu condong sendiri.1 Tiga karakter utama dalam tari legong yaitu seorang condong (pelayan) dan dua orang legong yang berperan sesuai tema.
Berdasarkan hasil wawancara dengan seorang dosen tari ISI Denpasar Bapak Nyoman Cerita, mengatakan perlu tidaknya keberadaan seorang condong / pelayan, berdasarkan struktur atau bentuk dari tari yang dibawakan.2 Condong dikatakan sebagai status pada karakter tertentu seperti pada dramatari Arja yaitu Condong dan Galuh, condong disebut sebagai identitas status dari sebuah karakter, sehingga dalam keadaan tertentu, tergantung kebutuhan condong bisa ada bisa tidak. Sedangkan menurut seniman legong Anak Agung Srama Semadi mengatakan, keberadaan seorang condong pada tari legong sangat diperlukan,
1 Proyek Pengembangan Sarana Wisata Bali, Perkembangan Legong Kraton sebagai Seni Pertunjukan, 1974-1975, hal. 13.
2Wawancara dengan Bapak I Nyoman Cerita pada tanggal 8 April 2010 jam 11.30 wita di Kampus ISI Denpasar.
1
bahkan seharusnya ada, karena dua orang penari menjadi tiga orang penari akan terlihat nilai dramatisasi pementasannya.3
Pengertian Condong dalam kamus Jawa Kuno – Indonesia berarti bersandar kepada tempat yang miring. Condong pada tari Arja ialah seorang pelayan wanita yang melayani tokoh Galuh. Gerak tari condong pada Arja memakai gerak-gerak tari condong pada pegambuhan, seperti diantaranya gerak tayung kotes, seledet capung, lawat nyuh di telaga.4 Selain mempunyai kemampuan menari, penari condong dalam Arja juga sebaiknya pandai berolah vocal. Condong Gambuh lebih mementingkan perbendaharaan gerak tari karena tarian ini merupakan tari yang berkarakter putri keras, dengan posisi badan cengked, kaki merapat dan tangan sejajar susu. Bentuk tubuh penari yang diperlukan untuk penari condong agak pendek, bentuk mata bulat dan berwajah bulat. Gerak tarinya tegas, lincah, lugas dan dinamis, suara vokalnya tinggi, nyaring dan temponya cepat.5
Dalam tari Legong Kraton, condong tampil sebagai pembuka dan penutup tarian, yang menggambarkan seorang abdi yang berwatak lembut, serius dan formal. Menurut http://budaya-indonesia.org/iaci/tari-condong.bali, kehadiran tokoh condong pada Legong Kraton sebagai sosok pembantu bidadari yang lincah,
3Wawancara dengan Anak Agung Srama Semadi seorang seniman legong dari Banjar Saba, Blahbatuh Gianyar pada hari Jumat, 9 April 2010, jam 9.00 di SMKN 3 Sukawati.
4Team Survey ASTI Denpasar. Pengantar Dasar Beberapa Tari Bali. Denpasar. 1977.
5Maria Cristina Formaggia. Gambuh Dramatari Bali Jilid II. Jakarta : Agung Offcet. 2000.
Hal. 24
tegas dan gemulai.6 Ibu Wiratini (dosen pengajar tari Gambuh) mengatakan karakter dari seorang condong (Legong Kraton) ialah dinamis, lincah dan enerjik.7 Demikian pula yang dikatakan oleh Anak Agung Srama Semadi, Condong ialah gelar seorang abdi/dayang terdepan yang fungsinya sebagai seorang pelayan.
Sedangkan Ibu Ni Nyoman Candri (seorang seniman Arja) mengatakan bahwa condong pada umumnya memiliki sifat yang setia pada rajanya, baik dalam tari Legong Kraton, Arja maupun Gambuh. Gerak tarinya lincah, tegas, enerjik, dan terkadang lembut yang semua itu disesuaikan dengan karakteristik dari tuannya.8
Dari uraian di atas bahwa condong merupakan tari yang berkarakter putri keras yang ditarikan oleh seorang penari yang bersifat setia, baik hati, periang, humoris, menari dengan lincah, tegas, semangat, serius, gemulai dan dinamis.
Berdasarkan karakter yang dimiliki oleh condong tersebut, penata mendapat inspirasi dan berkeinginan menata tari kreasi putri yang mengacu pada karakter utama yaitu peran condong dengan mengangkat karakter yang dimiliki dan diwujudkan melalui perubahan-perubahan gerak dinamis sehingga mampu menunjukkan karakter dari pelayan. Guna memantapkan pilihan, penata ingin seorang pelayan mendapatkan dan menikmati kebebasan. Kebebasan yang dimaksud ialah berekspresi tanpa meninggalkan pola-pola tata krama sebagai
6www.gogle.com/karakter-tari-condong
7Wawancara dengan Ibu Wiratini pada tanggal 12 Desember 2009 di Kampus ISI Denpasar, jam 10.00 wita.
8Wawancara dengan Ibu Ni Nyoman Candri seniman Arja asal Singapadu, pada tanggal 11 Desember 2009, jam 16.00 wita
pelayan. Hal ini ditata dan dituangkan dalam garapan karya tari kreasi yang masih berpijak pada pola tradisi. Alasan lain memilih karakter condong karena postur tubuh penata yang dirasa sesuai dengan kriteria penari condong dan pengalaman pribadi penata yang sering menarikan condong seperti pada pertunjukan Calonarang, Condong Prembon, dan Lomba Condong Legong Kraton.
Garapan tari ini mengandung nilai etika, nilai sosial, dan nilai estetika. Nilai etika yang diperlihatkan dalam garapan ini, ialah bagaimana sikap seorang pelayan kepada tuannya dan sikap tuannya kepada pelayan, walaupun dilingkungan kerajaan atau puri, lingkungan rumah tangga, tata krama, sikap saling menghargai,dan menghormati sesama harus dipegang teguh. Nilai sosialnya ialah walaupun statusnya sebagai pelayan atau pembantu rumah tangga, ia sebaiknya di hargai dan di hormati. Apa yang seharusnya menjadi haknya diberikan dengan keiklasan disesuaikan kewajiban dan tanggung jawabnya. Dari nilai estetika atau keindahan, garapan ini terlihat pada kostum, penataan gerak tari, properti pendukung ,dan keharmonisan.
Meskipun sebagai seorang pelayan, ia juga bisa merasakan kebebasan mengekspresikan dirinya, tanpa melupakan tata krama dan kewajiban, yang dituangkan oleh penata ke dalam garapan, dengan mengangkat tema kehidupan sosial yang berjudul Waraparicārikā. Menurut Kamus Jawa Kuno-Indonesia, kata Waraparicārikā berarti wanita pengiring yang ulung.
1.2 Ide Garapan
Ide, isi atau garapan tari adalah bagian dari tari yang tidak terlihat yang merupakan hasil pengaturan unsur-unsur psikologis dan pengalaman emosional.
Proses memilih dan mengolah elemen-elemen inilah yang merupakan proses garapan isi dari sebuah komposisi. Apapun yang menjadi sumber inspirasi tari begitu diserap seorang penata tari, akan menjadi pribadi sifatnya.9 Menciptakan berbagai garapan tari sangat memerlukan kematangan dan kejelasan ide yang nantinya dapat memudahkan di dalam berproses untuk diwujudkan ke dalam sebuah garapan tari.
Ide garapan ini timbul dari fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dengan mengangkat karakter dari seorang pelayan dengan segala tingkah laku, sifat, dan tata krama pada tuannya. Gerak -gerak tari akan dituangkan dalam garapan tari Waraparicārikā ini terinspirasi dari tari condong (Legong Kraton, Gambuh, dan Arja).
Dalam garapan ini penata ingin memberikan nuansa baru pada karakter condong/pelayan yang dalam berkreativitas cendrung mempunyai kebebasan bergerak, berekspresi dan berkreasi tanpa melupakan identitas dari seorang pelayan. Sisi kebebasan berkreasi dan berekspresi ini akan dituangkan dalam gerak-gerak lincah, enerjik pada saat melakukan aktivitas dan gerak yang lembut
9Sal Murgiyanto. Dasar-dasar Koreografi Tari. Dewan Kesenian Jakarta. 1981. Hal. 23.
dituangkan dalam gerak saat memperlihatkan kecantikannya dengan bersolek dan bersuka ria.
Di samping itu penata tertarik menggunakan kostum dengan kain panjang sehingga berbentuk kamen lelancingan. Hal tersebut terinspirasi dari tokoh condong Arja, yaitu seorang pelayan wanita yang memiliki sifat yang setia pada tuannya, humoris, gerak tarinya lincah, gesit, selain menari condong Arja juga pandai berolah vokal, kostumnya menggunakan kamen melelancingan. Alasan penata menggunakan kamen melelancingan agar identitas kewanitaan dari seorang pelayan ini lebih kelihatan, walaupun sebagai seorang pelayan yang lincah, enerjik, dan semangat, pelayan juga mempunyai sisi kelembutan pada rasa dan sisi kebanggaan fisik yang dimiliki.
Dalam pelaksanaan pertunjukan, selain bentuk penyajian yang dibawakan oleh penari putri, penata tampil bersama di atas stage dengan para penabuh serta juru tandak. Tata lampu yang digunakan adalah general light, yang bertujuan untuk memberi terang (melenyapkan seluruh panggung atau gelanggang dari gegelapan)10. Sedangkan instrumen pengiring yang digunakan adalah gamelan Semarandana, yang dirasa mampu memberikan nuansa sesuai karakter.
10Suparta Darma, I Dewa Nyoman,2002-2003. Pengetahuan Tari.SMKN 3 Sukawati. Hal.28.
1.3 Tujuan Garapan
Menggarap sebuah karya seni tari tentunya ada tujuan yang jelas, dimana tujuan tersebut dapat dibedakan menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
Tujuan Umum
Untuk memenuhi persyaratan studi strata 1 (S1)
Untuk melestarikan seni dan budaya Bali khususnya di bidang seni tari,
dengan menambah sebuah karya seni tari kreasi baru.
Tujuan Khusus
Untuk mengasah kemampuan dengan menggarap karakter condong dalam
komposisi tari sebagai studi utama, yang divisualkan ke dalam bentuk karya tari yang berjudul Waraparicārikā.
Untuk menyampaikan pesan agar sesama manusia tidak saling membeda-
bedakan latar belakang sosial maupun fisiknya, seharusnya saling menghormati, menghargai.
1.4 Manfaat Garapan
a. Hasil karya ini diharapkan dapat menambah karya seni pada Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
b. Hasil karya ini nantinya bisa bermanfaat dalam usaha mengembangkan seni tari dengan kemasan tari baru yang dapat dinikmati oleh kalangan akademis atau masyarakat umum.
c. Dapat dijadikan pedoman dalam hidup bermasyarakat dengan memaknai nilai-nilai persaudaraan dan saling menghormati.
1.5 Ruang Lingkup
Karya tari ini merupakan kreativitas seni tari yang berpijak pada pola tari tradisi dengan memberikan sentuhan yang inovatif dengan cara pengolahan komposisi gerak maupun kostum untuk menunjang isi karya. Sebuah proses penggarapan dan penggunaan struktur garapan, serta kostum yang dikembangkan, diupayakan dapat mencerminkan karakter pelayan, akan terwujud dalam proses yang cukup panjang. Cerminan dari karakter pelayan ditata melalui gerak-gerak yang lincah, tegas, lembut, dan enerjik. Dengan demikian terwujud suatu garapan tari kreasi yang tetap mengandung nilai estetis dan pesan yang terkandung didalamnya.
Garapan tari ini berbentuk tunggal yang dibawakan oleh 1 orang penari putri dengan menampilkan karakter dari pelayan. Kostum yang digunakan juga mampu mencerminkan karakter sebagai pelayan, seperti memakai kain lelancingan, ankin,dan baju berlengan panjang. Desain kostum yang digunakan masih berpijak pada pola tradisi yang ada pada tari Arja, hanya saja bentuknya didesain dengan
menggunakan perpaduan warna. Untuk mempermudah merealisasikan konsep dan ide dalam karya tari Waraparicārikā, maka dapat diuraikan ke dalam struktur garapan yang terdiri dari beberapa pembabakan yaitu : pepeson, pengawak, pengecet, dan pekaad.
BAB II
KAJIAN SUMBER
2.1 Tinjauan Sumber
Adapun sumber tertulis yang mendukung atau menjadi sumber acuan dalam penggarapan ini adalah sebagai berikut :
Buku Koreografi oleh Sal Murgianto diterbitkan oleh Departemen Kebudayaan tahun 1992. Buku ini memaparkan bagaimana seorang penari harus memiliki hal-hal seperti keterampilan gerak, penghayatan dan kemampuan dramatik, rasa irama, rasa ruang, daya ingat, serta kemampuan kreatif. Di sini juga dipaparkan pengertian dari koreografi, pengertian komposisi, kreativitas, prinsip- prinsip bentuk seni. Dijelaskan juga elemen-elemen dasar tari yang menyebutkan gerak sebagai bahan baku, tubuh sebagai alat ekspresi, ruang (garis, volume, arah dan dimensi, level atau tinggi rendah, fokus pandangan), waktu (tempo, meter, ritme), tenaga (intensitas, tekanan, kualitas). Beberapa hal lain yang dibahas seperti isi dan bentuk, sumber dari tema, iringan tari, desain dalam dalam komposisi kelompok. Teori tersebut diatas sangat membantu untuk membangkitkan daya kreativitas, serta cara mewujudkan koreografi yang baik.
Bergerak Menurut Kata Hati yang diterjemahkan oleh I Wayan Dibia (judul asli : Moving From Within : A New Method for Dance Making, yang ditulis oleh alma M. Hawkins) dengan penerbit Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
10
(MSPI), Jakarta, tahun 2003. Buku ini menjelaskan tentang pengalaman bagaimana cara mengungkapkan, dengan proses melihat, merasakan, menghayal, mengejawantahkan dan pembentukan ke dalam sebuah karya seni. Manfaat dari buku ini memberikan inspirasi tentang kemampuan bergerak serta daya tarik dan kualitas dari tari yang akan diciptakan.
Perkembangan Legong Kraton sebagai Seni Pertunjukan oleh Proyek Pengembangan Sarana Wisata Budaya Bali. Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar Bali. 1974-1975. Buku ini memberikan pengertian-pengertian Legong ,asal mula legong, ke Legong Kraton, penokohan dalam tari Legong Kraton, Condong maupun asal mula Condong dalam tari Legong.
Pengantar Dasar Beberapa Tari Bali, oleh Team Survey ASTI Denpasar, tahun 1977. Buku ini menjelaskan pokok-pokok pada beberapa (drama) tari klasik Bali, diantaranya Gambuh, Arja dan Legong Kraton. Manfaat yang didapat dalam buku ini memberikan pengertian tentang Legong Kraton yang pada intinya mengacu pada karakter, bentuk tarinya dan cerita yang dipakai pada umumnya.
Sedangkan pada Arja dan Gambuh hanya mencari pengertian dan karakter dari Condong.
Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah Tari, oleh DR. Edi Sedyawati, dkk, tahun 1986. Isi dari buku ini sebagai sarana penunjang untuk menambah perbendaharaan pengetahuan dibidang tari dengan menjangkau beberapa aspek yaitu tari sebagai salah satu pernyataan budaya; pengetahuan dan
komposisi tari; penari sebagai sumber daya dalam penataan tari serta beberapa segi lainnya mengenai bidang tari. Manfaat dari buku ini memberikan pengetahuan tentang komposisi tari, koreografi tari dan hal-hal kurang diketahui dalam menata tari.
Pedoman Penulisan Tugas Akhir, Institut Seni Indonesia Denpasar tahun 2008.
Buku ini memberikan cara-cara serta aturan penulisan skrip karya tari kreasi baru Waraparicārikā ini.
2.2 Sumber Lisan
Sumber ini tidak kalah penting dibandingkan dengan sumber tertulis, karena dari sumber ini diperoleh inspirasi yang nantinya dapat dijadikan acuan dalam penggarapan. Melalui wawancara dengan Ibu Nyoman Candri, Singapadu, seorang seniman Arja pada tanggal 11 Desember 2009 jam 4 sore. Hasil wawancara yang didapat, memberikan penjelasan dari seorang tokoh condong, baik dari Condong Legong, Gambuh maupun Arja beserta sifat dari Condong itu sendiri dan memantapkan judul yang sesuai dengan konsep yang diangkat.
Dikatakan bahwa condong memiliki sifat yang enerjik, tegas, namun bisa juga lembut, hal ini sesuai dengan karakteristik tuannya.
Wawancara dengan Ibu Wiratini pada tanggal 12 Desember 2009, seorang dosen yang mengajar tari Gambuh di kampus ISI Denpasar. Dari hasil wawancara yang didapat mengenai keinginan mengangkat karakter condong, beliau setuju
serta mendukung dan menjelaskan tentang karakter dari condong bahwa condong tersebut enerjik, lincah dan riang gembira.
Tanggal 22 Maret 2010 jam 7 malam, wawancara dengan Guru Anom Putra, asal Jalan Sulatri, Kesiman Denpasar. Hasil wawancara yang didapat yaitu mengenai pemilihan judul untuk garapan. Semula penata memperoleh dua judul garapan yang ternyata setelah dicari arti dan maknanya memiliki arti yang jauh berbeda dengan isi konsep garapan. Setelah dikonsultasikan kembali dan dicari dalam kamus akhirnya Guru Anom Putra memberikan dua buah alternatif judul yaitu Waraparicārikā yang artinya dalam kamus Jawa Kuno – Indonesia berarti wanita pengiring yang ulung dan Wara Cetikā yang berarti pembantu perempuan yang unggul. Penata sempat bingung untuk memilih, namun setelah disesuaikan dengan ide dan konsep dipilihlah Waraparicārikā, dimana ia sebagai seorang wanita pengiring yang mengiringi tuannya, selain sebagai pengiring bisa sebagai pelayan yang membantu dan melayani tuannya. Wanita pengiring yang ulung, ulung dalam arti mempunyai kelebihan yang dimiliki oleh pelayan pada umumnya. Dikaitkan dengan konsep garapan, kata kelebihan atau ulung ini lebih menekankan pada kebebasan berekspresi seorang pelayan.
Wawancara dengan Anak Agung Srama Semadi (seniman Legong dari Saba Gianyar) pada hari Jumat, 9 April 2010 jam 9.00 pagi. Hasil wawancara yang didapat mengenai perbedaan arti melelancingan dan mekancut, asal mula Legong memakai condong, perlu tidaknya kehadiran condong dalam Legong, fungsi dan
peran condong, arti dan gerak-gerak khas condong. Sedangkan hasil wawancara oleh Bapak Nyoman Cerita (seniman tari dari Singapadu) pada hari Kamis, 8 April 2010, didapat arti melelancingan dan mekancut serta perlu tidaknya condong dalam tari Legong.
BAB III
PROSES KREATIVITAS
Mencipta sebuah garapan yang bermutu tentunya diperlukan, suatu proses yang harus ditempuh. Melalui proses atau tahap-tahap mewujudkan sebuah garapan, bisa dijangkau dalam kurun waktu tertentu. Proses-proses yang dilakukan untuk menghasilkan sebuah karya seni, tentu adanya suatu hambatan- hambatan baik dalam berproses penggarapan maupun proses penulisan. Proses penggarapan tari kreasi Waraparicārikā ini dilakukan melalui 3 tahap yaitu tahap penjajagan (eksplorasi), tahap percobaan (improvisasi) dan tahap pembentukan (forming).11
3.1 Tahap Penjajagan (Eksplorasi)
Tahap awal atau tahap eksplorasi dilakukan dengan mencari sumber- sumber dan pencarian ide, yang diangkat ke dalam garapan. Ide merupakan salah satu unsur penunjang dalam berhasilnya garapan karya seni.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu mengunjungi perpustakaan, dengan mencari buku-buku yang akan dijadikan acuan dalam garapan ini. Buku-buku yang dicari mengenai pengertian legong, asal mula penari condong, pengertian
11Y. Sumandiyo Hadi, 1960. Mencipta Lewat Tari. Institut Seni Indonesia. Terjemahan dari Buku Creating Through Dance oleh Alma M. Hawkins. Yogyakarta : Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 1990. Hal. 16.
15
tari condong pada tari Legong, Arja maupun Gambuh, karakter atau sifat-sifat condong dan gerak-gerak tari yang menjadi ciri khasnya. Data-data ini dicari agar memperoleh bayangan mewujudkan sebuah garapan, dengan mengangkat karakter dari condong sebagai pelayan. Di samping itu dilakukan pula observasi ke lapangan, dengan cara mengumpulkan beberapa sumber yang membahas tentang condong yaitu melalui media internet, wawancara dengan beberapa informan serta berkonsultasi dengan para dosen. Dari sumber-sumber di atas didapatkan karakter dan sifat condong atau pelayan. Setelah ide dan konsep garapan didapat, maka banyak yang perlu dilakukan selanjutnya seperti merancang kostum serta hiasan kepala, mencari komposer dan penabuh iringan, mengkonsep tata lampu, mensetting panggung agar sesuai dengan konsep garapan. Langkah selanjutnya ialah mencari seorang komposer, untuk di komposisikan sebuah iringan tari yang sesuai dengan ide garapan. Berdasarkan pengalaman penata mendukung garapan kakak-kakak kelas, ada ketertarikan mendengarkan gending-gending yang dibuat oleh I Wayan Sudiarsa, S.Sn, salah satunya ialah saat mengiringi garapan tari Palegongan berjudul Dandamerta dengan gamelan Semarandana. Hal tersebut yang mendorong penata dan berkeinginan untuk meminta bantuan I Wayan Sudiarsa, S.Sn. keinginan dan tujuan penata ternyata disambut baik, dengan kesediaan, kemampuannya akan membantu membuat gending, terlebih Sanggar Arma Kumara Sari Ubud ditawarkan untuk membantu mendukung garapan ini.
Oleh karena komposer masih melanjutkan kuliah S2 di Solo, maka gending dari
garapan Waraparicārikā ini ditargetkan dan dapat diselesaikan dalam 1 bulan yaitu bulan Maret 2010. Latihan penabuh dilakukan di Sanggar Arma Kumara Sari Ubud dan jadwal latihan intensif 3-4 kali seminggu. Selain itu penata mencari pendukung tari yang sesuai dengan konsep dan postur tubuh penata.
Kegiatan selanjutnya ialah mencari hari baik (nuasen) menurut agama Hindu, dipercaya dimana sebagai langkah awal memulai sesuatu kegiatan untuk terlebih dahulu memohon ijin dan restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar memperoleh anugrah, baik selama melakukan proses kegiatan penggarapan sampai ujian telah usai. Nuasen dilakukan di Pura Padma Nareswari bertempat di lingkungan ISI Denpasar (dengan menghaturkan banten, sesajen dan canang sari) di Pura Melanting yang bertempat di Arma Kumara Sari Ubud dan Pura Gunung Sari Ubud. Hari untuk nuasen bertepatan pada Rahinan Kajeng Kliwon, yang dihadiri oleh semua pendukung tari dan karawitan. Setelah diadakan persembahyangan, para pendukung dikumpulkan untuk diberi pengarahan mengenai ide dan garapan. Latihan garapan dengan pendukung tari dilakukan 3x seminggu yaitu di lingkungan Kampus ISI Denpasar dan lingkungan Art Centre pada hari Rabu, Jumat dan Minggu.
3.2 Tahap Percobaan (Improvisasi)
Tahap improvisasi merupakan tahap kedua setelah tahap eksplorasi dilakukan. Tahap improvisasi yaitu melakukan penuangan konsep-konsep ke
dalam suatu latihan dan percobaan dalam melakukan tahap membuat model gerak agar sesuai dengan garapan. Proses improvisasi merupakan nilai khusus, yang dapat merangsang imajinasi yang tentu saja merupakan unsur dasar dalam kegiatan kreatif.
Pada proses latihan dengan pendukung, sebelumnya penata membicarakan kembali masalah, ide dan konsep yang akan digarap, agar pendukung lebih paham, lebih mudah member dan menerima penuangan gerak-gerak dari garapan ini. Penuangan gerak pokok maupun materi gerak pepeson (awal) sampai pekaad (akhir) diberikan tahap per tahap, untuk menghindari kerancuan gerak dan gerak- gerak yang diterima tidak terlupakan. Hal terpenting dalam melakukan latihan baik oleh para penabuh maupun latihan dengan pendukung tari ialah menghaturkan sesajen atau rarapan dan berdoa sejenak, hal ini bertujuan untuk memohon keselamatan dalam berproses khususnya bagi peserta latihan agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.
Kemudian penata melanjutkan mengeksplorasi gerak secara mandiri di rumah yang nantinya mendapatkan ciri khas gerak yang siap dituangkan kepada pendukung. Berdasarkan kesepakatan bersama-sama teman sebimbingan, kami menentukan hari, waktu dan kesiapan bahan skrip karya serta karya seni untuk mendapat bimbingan dari dosen-dosen pembimbing. Saat menggarap sebuah karya tari, pastinya ada beberapa hambatan yang penata alami, seperti pada tahap improvisasi ini. Hambatan-hambatan yang penata alami misalnya dari pendukung,
penabuh dan lainnya. Penata menyadari dalam berproses pasti ada beberapa ujian yang bermacam-macam yang mengakibatkan munculnya rasa kecewa, sedih bahkan kegembiraan. Masukan dari keluarga, pembimbing dan teman-teman dirasa mampu menjernihkan kembali pemikiran baik dengan dorongan moral maupun spiritual, sehingga menjadikan penata pantang menyerah dan bersemangat.
Hambatan yang dialami contohnya pada saat latihan dengan pendukung, yang dirasa kurang mampu menyamai kualitas gerak penata dan terbukti pada saat bimbingan karya kualitas gerak dan postur pendukung yang kurang pas bagi penata, yang mengakibatkan penata kembali mencari pendukung yang baru.
Untuk kedua kalinya penata mendapatkan masukan yang sama dari dosen pembimbing, penata memutuskan untuk membuat garapan tunggal. Menyadari waktu dan tenaga untuk latihan garapan sudah semakin dekat akhirnya membuat garapan berbentuk tunggal, ternyata tak semudah yang dibayangkan, penata sempat merasa tidak percaya diri dan kehilangan motivasi. Terbesit dipikiran penata untuk bangkit dari rasa rendah diri, hal ini tak lepas dari dukungan keluarga khususnya suami yang senantiasa memberikan cambuk semangat atas dasar kasih sayang dari orang tua penata. Pertimbangan dari dosen pembimbing maupun dosen yang lainnya serta teman-teman, akhirnya memberi dukungan dan semangat penata untuk memantapkan penata membuat garapan tunggal.
3.3 Tahap Pembentukan (Forming)
Tahap ini merupakan tahap terpenting untuk mewujudkan hasil akhir karya tari ini. Yakni mewujudkan hasil karya akhir dari proses sebelumnya, untuk mendapatkan bentuk akhir dari koreografi yang layaknya dipentaskan. Kerja yang difokuskan yaitu membentuk, menghias, dan menyempurnakan gerak yang telah didapat dari tahap improvisasi baik itu gerak, pola lantai, level, musik serta seluruh penunjang tari itu sendiri. Menyempurnakan gerak-gerak yang didapat dari hasil tahap improvisasi, meliputi penuangan gerak, pola lantai yang digunakan, iringan yang digarap dan sebagainya digarap menjadi sebuah bentuk garapan yang utuh. Selanjutnya melakukan latihan bersama secara serius dengan memunculkan ekspresi dan gerak yang mantap demi kesempurnaan garapan tari ini, dengan memperhatikan saran-saran dari dosen pembimbing. Tahap ini sekaligus merupakan pemantapan ide dan konsep garapan melalui penuangan bentuk yang lebih pasti.
Dalam tahap ini masih memungkinkan diadakan perubahan-perubahan gerak seperti aksen-aksen tari untuk kedinamisan garapan, sehingga nafas-nafas dalam tari nampak lebih jelas. Melakukan pemotongan gerak yang dianggap berkepanjangan, dan dengan rnemantapkan teknik-teknik gerak dengan jalan mencari gerakan dari awal sampai akhir sehingga mendapatkan sesuatu pemantapan serta penghayatan ekspresi. Perbaikan-perbaikan akan selalu dilakukan agar mendapatkan hasil yang lebih optimal. Mengadakan latihan secara
terus-menerus dengan menentukan jadwal latihan yang teratur sehingga terwujud garapan ini.
Demikian tahapan-tahapan yang dilakukan dalam garapan ini dengan harapan segala sesuatunya berjalan dengan lancar, hingga dapat diuji tepat pada waktunya. Dan hasilnya yang sudah mantap baik keseluruhan pada proses penggarapan karya tersebut dipentaskan di proscenium Natya Mandala ISI Denpasar dalam pementasan karya seni. Dalam tahap ini pun ada beberapa hambatan yang dialami oleh penata utamanya dalam kehadiran pendukung karawitan kadang-kadang kurang lengkap, sehingga proses pembentukan kurang berjalan dengan mulus. Walaupun ujian ini mengakibatkan penata bingung dan membuat putus asa, namun jalan keluarnya penata tetap melakukan latihan meskipun pendukungnya tidak lengkap, latihan garapan tetap dilakukan, khususnya saat di temukan perbaikan-perbaikan, baik dari segi gerak, pola lantai maupun penajaman ekspresi. Sehingga garapan ini benar-benar siap disajikan dan berjalan lancar, hingga dapat diuji tepat pada waktunya.
Mengenai proses kreativitas yang dilakukan dalam beberapa tahapan di atas juga dituangkan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 1
Proses Penggarapan
Tahap-tahap Kegiatan
Intensitas Waktu Penggarapan Februari Maret April Mei 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Tahap Penjajagan Tahap Percobaan Tahap
Pembentukan X O
Keterangan :
1 = Minggu Pertama
2 = Minggu Kedua
3 = Minggu Ketiga 4 = Minggu Keempat
= Kegiatan Ringan
= Kegiatan Sedang
= Kegiatan Padat
X = Melakukan kegiatan gladi bersih sesuai dengan jadwal pementasan O = Jadwal Ujian
BAB IV
WUJUD GARAPAN
Wujud dalam garapan tari Waraparicārikā mengandung dua unsur mendasar yaitu bentuk (form) dan struktur (structure). Wujud yang dimaksud ialah kenyataan yang nampak kongkrit (berarti dapat dipersepsi dengan mata atau telinga) maupun kenyataan yang tidak nampak secara kongkrit, yakni yang abstrak, yang hanya bisa dibayangkan seperti sesuatu yang diceritakan atau dibaca dalam buku.12
4.1 Deskripsi Garapan
Tari Waraparicārikā merupakan sebuah bentuk tari kreasi putri yang masih berpijak pada pola tradisi, yang mana garapan ini merupakan pengembangan dari perpaduan tari condong Legong Kraton, Arja, dan Gambuh. Pengembangan yang dilakukan dalam garapan tari ini masih tetap berpijak pada tari condong seperti karakteristik, pola gerak, struktur garapan, kostum maupun musik iringan.
Garapan tari Waraparicārikā berbentuk tari tunggal yang ditarikan oleh seorang penari putri. Digunakannya seorang penari putri didasari atas pertimbangan tari condong baik pada tari Legong Kraton, Arja, dan Gambuh, biasanya dibawakan oleh satu orang penari putri dan keinginan penata
12A.A. Made Djelantik. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung : MSPI, 1999, Hal. 19-20.
23
membawakan karakter dari pelayan ini lebih mudah disampaikan. Garapan ini menggambarkan karakter dari seorang pelayan yang digarap dalam olah gerak tubuh dan ekspresi, sehingga perubahan-perubahan tersebut menunjukkan perubahan karakter.
Adapun tema dari garapan ini adalah kehidupan sosial, dengan struktur garapan yang disusun sedemikian rupa sehingga mampu mendapatkan penataan tari yang diinginkan serta sesuai dengan konsep garapan tentang Waraparicārikā.
Struktur dari garapan ini terdiri dari pepeson, pengawak, pengecet dan pekaad.
Motif gerak yang ada dalam garapan ini merupakan gerak-gerak yang dikembangkan dari gerak-gerak tari Condong, Legong Kraton, Arja, Gambuh maupun tari kreasi lainnya. Dari keseluruhan gerak yang ada dalam garapan ini, ada sebagian gerakan yang diciptakan sendiri berdasarkan inspirasi gerak olah tubuh dari tari-tarian India modern yang pernah penata lakukan pada kelas koreografi seperti gerak melengkungkan tubuh dengan kaki, menginjak kain yang berada di depan kaki untuk dilempar ke belakang. Sedangkan sebagian gerakan merupakan pengembangan gerak dari gerak tari-tari condong yang sudah ada sebelumnya.
Durasi waktu yang digunakan untuk garapan ini kurang lebih 10 menit dan diharapkan garapan ini mampu menampilkan secara utuh isi garapan maupun mampu menyampaikan pesan yang ada kepada penonton.
Iringan yang digunakan untuk mengiringi tari kreasi Waraparicārikā ini adalah gamelan Semarandana. Pola iringannyapun disesuaikan dengan struktur yang digarap, namun gending yang digunakan pada setiap bagiannya telah terpatok pada gending-gending condong pada umumnya. Dengan kata lain, selain unsur kreasi yang ditampilkan pada bentuk tarinya, gending pengiringnyapun mengangkat unsur kreasi, sehingga antara bentuk tari dan iringan mampu menjadi satu kesatuan yang utuh.
Berpijak pada pengembangan dari tari condong, maka tata rias dan kostum yang digunakan masih mengacu pada tata rias dan kostum tari condong yang ada.
Tata rias dan pemilihan warna kostum dalam garapan tari kreasi Waraparicārikā ini telah dikreasikan sedemikian rupa dan disesuaikan dengan tema dari garapan itu sendiri. Secara umum dalam kostum tari Waraparicārikā ini, warna yang ditonjolkan merupakan perpaduan antara warna ungu, pink, putih, dan hiasan prada.
4.2 Analisis Pola Struktur
Garapan tari Waraparicārikā ini memiliki struktur garapan yang terdiri dari 4 bagian yang tersusun hingga menjadi sebuah garapan yang utuh sesuai dengan konsep garapan. Garapan ini lebih menonjolkan karakter seorang pelayan, yang dimulai dari suasana serius, lembut, mengalun kemudian riang enerjik. Struktur garapan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pepeson : Menggambarkan seorang pelayan yang siap, sigap dan semangat saat akan menjalankan aktivitasnya. Karakter yang ditunjukkan ialah tegas dan semangat sebagai pelayan.
Pengawak : Menggambarkan kelembutan sebagai seorang pelayan, diantaranya dengan memperlihatkan kecantikan dan kemolekan dirinya. Karakter yang ingin ditunjukkan ialah sisi kelembutannya sebagai wanita yang lemah gemulai.
Pengecet : Menggambarkan kelincahan, keceriaan sebagai seorang pelayan saat sedang beraktivitas. Karakter yang ingin ditunjukkan ialah lincah, enerjik
Pekaad : Merupakan bagian terakhir yang menggambarkan visualisasi gerak-gerak yang abstrak dari karakter-karakter seorang pelayan.
4.2.1 Analisis Estetis
Keindahan ialah sesuatu hal yang bisa membuat bahagia dan rasa senang.
Keindahan sesungguhnya bersifat relatif, karena setiap orang memiliki persepsi sendiri tentang keindahan. Begitu pula dengan sebuah tari penata akan mempertimbangkan unsur keindahan dalam garapannya, agar garapan yang dihasilkan dapat dinikmati dan dihayati oleh penonton. Ada tiga unsur keindahan yang harus diperhatikan dalam penggarapan sebuah karya seni, yaitu wujud atau
rupa, bobot atau isi dan penampilan.13 Wujud terdiri dari bentuk dan struktur;
bobot terdiri dari tiga aspek yaitu suasana, gagasan, dan pesan; sedangkan penampilan memiliki tiga unsur yang berperan yaitu bakat, keterampilan dan sarana atau media.14 Elemen-elemen di atas nampaknya menjadi suatu kesatuan yang utuh dalam menunjang nilai estetik sebuah penggarapan karya seni.
4.2.1.1 Wujud atau Rupa
Wujud dalam sebuah karya seni berarti sesuatu yang bisa dilihat maupun yang tidak bisa dilihat. Istilah wujud berbeda dengan rupa yang berarti sesuatu yang tampak dan kasat mata. Wujud dalam hal ini menyangkut bentuk dan struktur sebuah karya seni. Garapan tari kreasi Waraparicārikā ini ditarikan oleh seorang penari wanita. Struktur dari garapan ini terdiri dari pepeson, pengawak, pengecet dan pekaad. Struktur garapan ini diolah sedemikian rupa agar sesuai dan saling berhubungan antara bagian satu dengan bagian yang lain.
4.2.1.2 Bobot
Bobot merupakan isi atau makna yang dalam karya seni yang mencakup tiga hal yaitu suasana, gagasan, dan pesan. Bobot dalam sebuah karya seni mampu memiliki dinamika dan nilai plus yang akan ditonjolkan. Kesenian yang berbobot
13Ibid. Hal. 17.
14Ibid. Hal. 17-18.
tentunya memperhatikan cara penyampaian dan aspek komunikasi yang menjadi unsur penting yang menjadi penampilannya. Ini berarti maksud atau makna dari karya seni tidak akan sampai ke dalam hati sang pengamat bila komunikasinya kurang efektif.15
Suasana yang ditampilkan dalam garapan tari kreasi Waraparicārikā ini berbeda pada setiap bagiannya, agar terjadi dinamika dalam setiap pergantian bagian, dengan diiringi pergantian suasana yang berbeda.
Pada bagian pengawit sebelum pepeson, suasana yang ditampilkan adalah suasana tenang, yang terjadi pada saat penari keluar menyanyikan sebuah gending yang menggambarkan kesenangan hati sebagai pelayan.
Pada bagian pepeson, ditampilkan suasana yang gembira dengan menggambarkan kesiapan, kesigapan dan semangat seorang pelayan saat akan melakukan aktivitasnya.
Bagian pengawak, menggambarkan sifat yang lembut dari seorang pelayan melalui gerak-gerak yang mengalun dan lemah gemulai dengan suasana yang ditonjolkan adalah suasana tenang.
Bagian pengecet, suasana yang ditampilkan adalah suasana riang gembira, dengan menggambarkan kelincahan dan kenerjikan pelayan beraktivitas.
15Ibid. Hal. 65.
Bagian pekaad, suasana yang ditampilkan adalah suasana tegang dan tenang, dengan menggambarkan keseluruhan karakter pada bagian awal hingga akhir yang divisualisasikan dengan gerak-gerak yang abstrak.
Gagasan dalam hal ini menyangkut hasil pemikiran atau konsep, pendapat atau pandangan tentang sesuatu.16 Secara umum gagasan atau ide dari garapan ini ingin mewujudkan sebuah garapan tari kreasi putri yang masih berpijak pada konsep tari Condong. Ide garapan ini muncul dari fungsi dan peranan seorang pelayan dalam lingkungan masyarakat khususnya di rumah tangga dengan segala tingkah laku, sifat dan tata karma pada tuannya. Gerak-gerak tari ini terinspirasi pada gerak tari Condong (Legong Kraton, Gambuh, Arja). Di samping itu kostum yang digunakan masih berpijak pada kostum tari Arja, penggunaan lamak, selendang dan kamen lelancingan, diolah dan dimainkan sebagai properti pendukung.
4.2.1.3 Penampilan
Penampilan adalah cara penyajian bagaimana kesenian itu disuguhkan kepada yang menyaksikannya, penonton, para pengamat, pembaca, pendengar dan khayalak ramai pada umumnya. Penampilan menyangkut wujud dari sesuatu, entah sifat wujud itu konkrit atau abstrak, yang bisa tampil adalah yang bisa
16Ibid, Hal. 60.
terwujud.17 Penampilan memiliki tiga unsur penunjang yaitu bakat, keterampilan, dan sarana atau media.
Bakat adalah potensi kemampuan khas yang dimiliki oleh seseorang yang didapatkan berkat keturunannya.18 Ini berarti bahwa setiap orang yang terlahir ke dunia memiliki bakat yang berbeda-beda. Bakat secara tidak langsung akan menentukan kemampuan dan kepandaian kita dalam menguasai bidang tertentu.
Berhubungan dengan garapan tari kreasi Waraparicārikā ini, bakat memang sangat diperlukan untuk menunjang penampilan karya seni. Pemilihan pendukung tari, pendukung karawitan dan penata iringan juga atas pertimbangan bakat yang mereka miliki, karena dengan bakat seni yang telah mereka miliki sejak lahir, segala sesuatu yang mereka kerjakan yang berhubungan dengan kesenian akan dikuasai dengan baik. Bakat yang mereka miliki akan terlihat dari kemampuan mereka mencerna dan mengaplikasikan pelajaran-pelajaran seni yang mereka dapat, baik secara formal maupun non formal. Dengan kata lain, meskipun bakat yang dimiliki tidak sepenuhnya akan menjadi suksesnya sebuah penampilan karya seni, tapi setidaknya dengan bakat yang dimiliki, sebuah karya seni akan berusaha ditampilkan secara maksimal dan sebaik mungkin.
17Ibid, hal. 73.
18Ibid. hal. 76.
Keterampilan merupakan kemahiran dalam pelaksanaan sesuatu yang dicapai dengan latihan.19 Keterampilan sendiri akan didapat dan dimiliki apabila seseorang mampu melatih dan mengasah bakat yang dimiliki. Keterampilan setiap individu juga sangat diperlukan dalam proses penggarapan tari kreasi Waraparicārikā ini, karena tingkat keterampilan seseorang berbeda satu dengan lainnya. Ini pula yang terjadi pada penari pendukung garapan tari kreasi Waraparicārikā ini, sehingga perlu adanya latihan yang bertahap dan terus menerus agar keterampilan dari setiap penari menjadi hampir sama rata.
Walaupun pada akhirnya penata memutuskan untuk membuat tari. Pendukung karawitanpun mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan keadaan pendukung tari, karena mereka memiliki keterampilan yang berbeda untuk memainkan setiap alat musik atau instrument gamelan. Karena itu, latihanpun dilakukan secara rutin untuk menyatukan pandangan dan rasa dari setiap orang yang berperan sebagai pendukung karawitan.
Pada akhirnya latihan bersama yang dilakukan oleh penata dan pendukung karawitan dapat dilakukan. Hal ini bertujuan untuk menyatukan rasa gerak maupun rasa iringan dari setiap pribadi yang berbeda, sehingga penampilan yang baik diharapkan akan terwujud.
Sarana atau media adalah wahana ekstrinsik yang mendukung penyajian karya seni. Pada penyajian garapan tari kreasi Waraparicārikā ini, tempat
19Ibid. Hal. 77.
pementasan, tata cahaya, dekorasi panggung dan properti yang digunakan menjadi penunjang berhasilnya sebuah pementasan. Tempat pementasan yang bertempat di gedung Natya Mandala, dekorasi panggung yang terdiri dari candi bentar dan layar warna hitam maupun warna putih dan tata cahaya yang telah dirancang sedemikian rupa tentunya membantu menyampaikan suasana yang diinginkan.
Properti lamak dan kain lelancingan yang ada pada kostum tari Condong juga memberikan penegasan karakter pada garapan tari kreasi Waraparicārikā.
4.3 Analisis Simbol
Simbol dalam sebuah garapan tari mampu menjadi jembatan antara apa yang ingin disampaikan oleh sebuah garapan tari dengan penikmatnya. Simbol menjadi sebuah tanda yang mampu mengungkapkan gagasan yang ada dalam sebuah garapan tari. Simbol, pertanda atau wangsit mempunyai arti tertentu, yang maknanya lebih luas daripada apa yang ditampilkan secara nyata, yang dilihat atau didengar.20 Ini artinya simbol merupakan cara pengungkapan secara implicit pada sebuah garapan tari. Simbol mampu mewujudkan komunikasi secara langsung, tetapi hanya bagi mereka yang sudah mengetahui artinya. Pernyataan seperti ini nampaknya sesuai dengan keadaan di masyarakat, karena secara tidak langsung simbol-simbol gerak dalam tari Bali seperti ulap-ulap dan nuding
20Ibid. Hal. 68.
mampu dimengerti oleh para penikmat seni khususnya masyarakat Bali, meskipun definisi geraknya tidak dijelaskan secara rinci.
Garapan tari kreasi Waraparicārikā ini memiliki beberapa simbol dari segi perbendaharaan gerak maupun warna kostum, warna lampu (lighting) dan warna- warna penunjang lainnya seperti warna layar yang ada di stage procenium Gedung Natya Mandala. Simbol-simbol yang ada dalam garapan ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang apa yang ingin disampaikan selain memberikan unsur keindahan pada keseluruhan bentuk garapan tari kreasi ini.
Simbol gerak yang ada dalam garapan ini terlihat pada bagian transisi menuju pengawak seperti nyakupang selendang pada pergelangan tangan atau nangkil, yang berarti sikap sebagai pelayan yang menghormati majikannya.
Gerakan-gerakan dengan level tinggi menandakan semangat dari seorang pelayan.
Gerakan stakato juga memiliki sikap tegas, serius seorang pelayan. Penggunaan ekspresi yang berbeda pada setiap gerakan, juga merupakan suatu penanda untuk mempertegas suasana yang ingin disampaikan. Contoh nyatanya adalah pada saat menkenyem (tersenyum) merupakan penanda suasana gembira, manis rengu (tersenyum mendelik) menandakan tegas, serius.
Simbol warna terdapat pada perpaduan warna yang ada dalam kostum tari kreasi ini. Kombinasi warna yang digunakan adalah warna ungu, pink, yang memberikan kesan ceria, semangat, tegas, aktif, dan dinamis.
Penyajian garapan ini didukung oleh tata lampu (lighting) yang digunakan mewakili suasana yang ingin ditampilkan, warna netral (general light) memiliki simbol kegembiraan.
4.4 Analisis Materi
Apabila tari di analisa secara teliti, maka akan tampak bahwa diantara sekian banyak elemen yang terdapat didalamnya, ada dua yang paling penting yaitu gerak dan ritme.21 Pada garapan tari Waraparicārikā ini, perbendaharaan geraknya masih berpijak pada gerak-gerak tari condong, namun tetap ada pengembangan-pengembangan gerak, yang dirangkai, ditata sedemikian rupa agar menjadi satu kesatuan yang utuh. Perbendaharaan gerak yang utuh dalam garapan ini juga didukung dengan motif desain yang mampu memberikan kesan yang menarik pada garapan ini.
4.4.1 Motif Desain Yang Digunakan
Dalam tari solo, elemen-elemen koreografi seperti desain lantai, desain atas, desain musik, desain dramatik dan dinamika merupakan elemen-elemen yang
21Sudarsono. Tari-tarian Indonesia I. Jakarta : Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tt, Hal.15.
harus ada.22 Garapan tari kreasi Waraparicārikā ini menggunakan beberapa desain yaitu :
Desain lantai atau floor design
Desain lantai ialah garis-garis di lantai yang dilalui oleh seorang penari atau garis-garis di lantai yang dilalui oleh formasi penari kelompok.23 Garis-garis yang digunakan dalam garapan tari ini ialah garis lurus yang dibuat ke depan, ke belakang, ke samping, pojok kanan-pojok kiri, zigzag, terdapat pada bagian pepeson, pengecet dan pekaad. Garis lurus memberikan kesan sederhana tapi kuat sedangkan garis lengkung memberikan kesan lembut tetapi juga lemah, yang terdapat pada bagian pengawak dan pengecet. Garis menyilang atau diagonal memberikan kesan dinamis pada bagian pengecet.
Desain atas atau air design
Desain atas adalah desain yang berada diatas lantai yang dilihat oleh penonton yang tampak terlukis pada ruang yang berada di atas lantai.24 Desain atas yang digunakan dalam garapan tari Waraparicārikā yaitu desain dalam, desain kontras, desain lengkung, bersudut, spiral, tinggi, rendah, terlukis, lanjutan, simetris, asimetris, yang terdapat pada setiap bagian-bagian garapan.
22Edi Sedyawati, dkk. Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah Tari. Jakarta : Direktorat Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. 1986. Hal.113.
23Ibid. Estetika Sebuah Pengantar. Hal. 105.
24Ibid. Hal. 105.
Musik
Elemen dasar dari musik ialah nada, ritme dan melodi. Dalam mengiringi garapan tari ini gamelan semarandana memiliki kekhasan tersendiri, dan sangat indah didengar mengiringi tari bernuansa palegongan. Khususnya tari Waraparicārikā musik pokoknya ialah gending condong yang diperbaharui dan disesuaikan dengan tema garapan.
Desain Dramatik
Dalam menggarap sebuah tari baik yang berbentuk tari solo atau dramatik, untuk mendapat keutuhan garapan harus diperhatikan desain dramatik, ibarat sebuah cerita yang memiliki pembuka, klimaks dan penutup. Desain dramatik yang berupa kerucut berganda sangat baik digunakan untuk koreografi solo, yang penanjakannya dilakukan dalam beberapa tahap, lalu kendor, menanjak lebih tinggi dan kemudian turun dengan cepat.25 Demikian pula dalam garapan tari Waraparicārikā ini, desain yang digunakan ialah desain dramatik kerucut berganda, karena hanya mengangkat karakter dari seorang pelayan dan tidak bercerita yang didukung oleh suasana dan dinamika dari musik pengiring.
Dinamika
Ialah kekuatan dalam yang menyebabkan gerak menjadi hidup dan menarik, dengan kata lain dinamika dapat diibaratkan sebagai jiwa emosional dari gerak.
Dinamika yang diwujudkan dalam garapan tari ini dengan bermacam-macam
25Ibid. Hal. 111.
teknik, yaitu pergantian level, pergantian tempo, pergantian tekanan dari lemah ke kuat dan sebaliknya, keseluruhan ini terdapat pada semua bagian garapan Waraparicārikā.
4.4.2 Perbendaharaan Gerak
Gerakan kepala beserta bagiannya :
Nglier : Gerakan perputaran dagu ke kanan atau ke kiri secara halus dan diikuti oleh gerakan mata yang dikecilkan atau diredupkan salah satunya mata kanan ataupun mata kiri.
Ngotag : Gerakan kepala ke kiri dan kanan secara cepat, bila diteliti pusat gerakan ini ada pada pangkal leher yang diteruskan oleh dagu.
Ngontel : Gerakan kepala ke kanan dan kiri secara cepat, bila diteliti pusat gerakan ini ada pada ujung atas kepala yang diteruskan oleh pangkal leher.
Nyledet : Gerakan bola mata kesamping kanan atau kiri dikuti oleh dagu.
Mekipekan : Gerakan memalingkan muka atau menoleh untuk mempertegas arah pandangan.
Nyegut : Gerakan dagu yang sedikit dihentakan ke arah bawah (mendekati leher), diikuti gerakan mata yang searah dengan gerakan dagu dan kening yang berkerut (mecuk alis).
Gerakan tangan beserta bagiannya :
Ngotes : Berjalan agak cepat serta gerak lengan dengan posisi agak lurus.
Jeriring : Beberapa jari tangan bergetar.
Mungkah lawang : Gerakan tangan dengan membuka kedua tangan dan jari- jari bergetar halus.
Ulap-ulap : Posisi lengan agak menyiku dengan variasi gerak tangan seperti orang memperhatikan sesuatu.
Ngenjet : Gerakan leher dan badan disertai tangan sirang pinggang.
Ukel : Gerakan haluan tangan berputar ke dalam.
Ngelo : Gerak tangan bergantian sejajar dengan pinggang dan dahi.
Ngisi Lamak
Selendang : Posisi tangan yang memegang lamak selendang.
Gerakan badan beserta bagiannya :
Agem : Sikap atau posisi pokok dalam tari Bali.
Pada pepeson, agem kanan, tangan kanan sirang susu, kaki kiri tumit belakang diangkat, badan rebah ke kanan, begitupun selanjutnya pada agem kiri.
Pada pengawak, agem kanan, tangan kanan sirang susu dengan memegang lamak selendang dan tangan kiri lurus sejajar pinggang, badan agak rebah ke kanan.
Ngegol : Gerak pinggul yang digoyangkan kesamping kanan dan kiri secara bergantian dan berulang diikuti gerak kepala ke kanan dan ke kiri searah goyangan pinggul.
Ngenjet : Gerak badan kesamping kiri dan kanan serta turun naik secara bergantian dan berulang disertai dengan gerak tangan ngembat.
Ngitir : Gerakan ini lebih cepat daripada gerakan ngegol, dilakukan di tempat dengan posisi tangan agem kanan ataupun agem kiri.
Sleag-sleog : Badan condong ke kanan dan condong ke kiri,
Ngeseh : Gerakan bahu yang biasanya terdapat pada tari yang sedang “ngangsel”. Pada tari Waraparicārikā, ngeseh
yang digunakan tangan kiri atau kanan lurus sejajar pingang.
Gerakan kaki beserta bagian :
Ngaed : Sikap badan merendah (dengan sendirinya pantat dan kaki yang menjadi kunci dalam hal ini)
Metimpuh : Sikap duduk dalam tari wanita.
Milpil : Gerakan berjalan, hanya ragamnya lebih halus, kadang- kadang injakan-injakan tapak kaki lebih dari satu kali.
Ngumbang luk penyalin : Berjalan seperti membentuk garis lengkung, kanan dan kiri, kelihatan seperti lengkungan rotan.
Nayung : Gerakan mengayunkan salah satu kaki (kanan atau kiri) sebelum terjadi gerakan selanjutnya.
Gerak pepeson : Gerakan berjalan lambat lalu jalan cepat, tayung tanjek, mentang laras, ngotes selendang, agem kanan, seledet kipek telu, nyegut, milpil, metimpuh, ngelo, ngotes selendang, ngenjet, sogok kanan, tayung tanjek pegang selendang, milpil, gandang-gandang, sayar-soyor/rebah kanan-kiri menuju belakang stage.
Gerakan Pengawak : Gerakan membuang kain yang nantinya akan membentuk lelancingan, ngotes kancut, tetayungan, ngelo, manis rengu (mendelik dan mekenyem), ngegol,
agem kanan tari Waraparicārikā (agem kanan dengan tangan kanan memegang selendang sedangkan tangan kiri mentang), nyeregseg ngembat, kenyem manis.
Gerakan Pengecet : ngitir, permainan lelancingan, interaksi dengan penabuh, ngenjet, ngeseh.
Gerakan Pekaad : Merupakan bagian terakhir yang menggambarkan visualisasi gerak-gerak yang abstrak dari karakter- karakter seorang pelayan. Gerak yang digunakan pada bagian ini ialah sledet, ngelo, ulap-ulap, ngeseh dengan tangan ngembat.
4.5 Analisis Penyajian
Garapan tari Waraparicārikā ini disajikan ke dalam bentuk tarian tunggal oleh seorang penari putri. Bertemakan kehidupan sosial, garapan tari ini menggambarkan karakter dari seorang pelayan. Dalam penyajiannya, tari ini berdurasi kurang lebih 10 menit dengan struktur garapan yang diatur sedemikian rupa sehingga mampu memberikan gambaran tentang apa yang ingin disampaikan dalam garapan ini. Secara struktural garapan ini dibagi menjadi 4 bagian yaitu pepeson, pengawak, pengecet dan pekaad.
4.5.1 Tempat Pertunjukan
Ujian Tugas Akhir Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar diadakan di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar.
Penyajian karya seni bertempat di stage procenium di dalam gedung Natya Mandala tersebut. Garapan tari Waraparicārikā ini dipentaskan pada tanggal 27 Mei 2010. Pada stage procenium, penonton hanya bisa menyaksikan pertunjukan dari satu sisi saja yaitu dari arah depan, sehingga penataan pola lantai pada garapan ini disesuaikan dengan keadaan stage tersebut. Penonjolan suasana akan didukung pula oleh cahaya (lighting) yang ada. Berikut gambar stage procenium Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar yang dilengkapi dengan pembagian ruang lantai, sesuai dengan sistem yang dikembangkan oleh La Meri dalam bukunya Dance Compotision : The Basic Elements tahun 1995 yang diterjemahkan oleh Soedarsono.
Gambar 1.
Denah Stage
Keterangan :
C = Centre Stage (pusat panggung) LS = Left Stage (kiri panggung) RS = Right Stage (kanan panggung)
URS = Up Right Stage (pojok kanan belakang panggung) UCS = Up Centre Stage (bagian belakang pusat panggung) ULS = Up Left Stage (pojok kiri belakang panggung) DRS = Down Right Stage (pojok kanan depan panggur;) DCS = Down Centre Stage (bagian depan pusat panggung) DLS = Down Left Stage (pojok kiri depan panggung)
Sisi panggung bagian kanan
Sisi panggung bagian kiri
13,7 m
Pit Tempat Orchestra
Pit Tempat Orchestra
Auditorium (Penonton) 20,89 m DRS
RS
URS ULS
DLS LS UCS
C
DCS
Panggung bagian Belakang
Dalam garapan ini menggunakan beberapa arah hadap penari yang disesuaikan dengan pola lantai, penyajian arah hadap sesuai dengan pola ini dijelaskan tentang 8 (delapan) arah hadap penari.26
Gambar 2. Arah Hadap Penari
Keterangan :
1 : Penari menghadap ke depan stage
2 : Penari menghadap ke diagonal kanan depan 3 : Penari menghadap ke kanan stage
4 : Penari menghadap ke diagonal kanan belakang stage 5 : Penari menghadap ke belakang stage
6 : Penari menghadap ke diagonal kiri belakang stage 7 : Penari menghadap ke kiri stage
8 : Penari menghadap ke diagonal kiri depan stage : Para Penabuh
26Soedarsono, 1978, Notasi Laban, Jakarta : Direktorat Pembinaan Kesenian Ditjen Kebudayaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. P.10
1 2 3
4
5 6
7
8
4.5.2 Kostum / Tata busana
Kostum atau tata busana pada sebuah garapan tari mampu mengkomunikasikan arti, isi atau makna dari karakter yang diangkat sesuai dengan ide garapan itu sendiri. Kesesuaian kostum dengan tema ataupun ide garapan ini memberikan nilai tersendiri terhadap keutuhan dari sebuah garapan.
Fungsi dari busana dapat digunakan dengan penutup anggota tubuh penari sekaligus untuk memperindah penampilan penari.
Secara umum, penataan kostum tari kreasi Waraparicārikā ini masih berpijak pada tata busana tari Condong, khususnya pada tari Condong Arja.
Penggunaan lamak, badong, bancangan masih tetap dipertahankan.
Pengembangan yang ada dalam kostum tari Waraparicārikā disesuaikan dengan ide dan konsep garapan. Kostum tari kreasi ini didesain dengan banyak aksen prada (cat emas) dan menggunakan perpaduan warna ungu, pink dan hisan prada agar terkesan menarik dan mewah.
Adapun bagian-bagian yang digunakan dalam tari Waraparicārikā ini yaitu : a. Kostum untuk bagian badan
1. Kamen bagian atas dari kain metris berwarna ungu, sedangkan kain lelancingannya dari kain endek Bali berwarna ungu
2. Baju berwarna putih
3. Angkin dari kain metris Bali berwarna pink dan dihiasi dengan potongan kain endek Bali berwarna ungu
4. Lamak dari kain sari berwarna pink 5. Gelang kana yang terbuat dari kulit 6. Pending yang terbuat dari kulit 7. Badong dari kain dan kulit 8. Celana strait berwarna putih b. Hiasan kepala
1. Prekapat : Hiasan yang ada di gelungan yang terletak di atas telinga.
2. Bancangan : Hiasan bunga yang berbentuk kerucut.
3. Hairvist : Hiasan berbentuk rambut
4. Garuda Mungkur : Ukiran garuda yang terletak di gelungan bagian belakang.
5. Subeng : Perhiasan yang digunakan di telinga berbentuk bundar, dalam bahasa Indonesia disebut giwang.
Gambar 3
Foto Penari Tampak Depan
Bancangan
Prekapat Subeng Badong
Lamak Angkin Gelang kana
Pending
Kamen
Lelancingan
Gambar 4
Foto Penari Tampak Belakang
Garuda Mungkur
Celana strait Rempel