6
Universitas Kristen Petra
2. LANDASAN TEORI
2.1 Perceived of Usefulness
2.1.1 Definisi Perceived of Usefulness
Definisi dari Perceived of Usefulness adalah sejauh mana individu percaya bahwa dengan menggunakan suatu sistem tertentu akan memberi manfaat untuk meningkatkan kinerjanya (Venkatesh & Davis, 2000). Phonthanukitithaworn (2016) mengatakan bahwa perceived of usefulness merupakan sejauh mana individu percaya dalam menggunakan mobile payment akan meningkatkan kinerja dan produktivitas dalam melaksanakan aktivitas transaksi. Individu yang percaya bahwa sistem tersebut berguna maka individu akan menggunakannya (Jogiyanto, 2007, p.114). Pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa ketika individu percaya sistem tersebut memberikan manfaat maka sistem tersebut akan cenderung digunakan lagi. Arti dari kata useful sendiri berarti adalah “mampu digunakan secara menguntungkan” (Davis, 1989). Kamus dari Oxford Dictionary juga mengartikan useful yaitu sebagai suatu tindakan yang dapat memberikan keuntungan atau memberika nilai pada penggunanya. Bailey (2017) juga mengungkapkan bahwa perceived of usefulness mobile payment mengacu pada sejauh mana individu percaya bahwa dalam menggunakan mobile dalam melakukan transaksi memberikan manfaat yang sama ketika menggunakan sistem pembayaran lainnya. Pengaruh tersebut telah diuji dan memiliki hasil yang signifikan positif (Wu, Liu, & Huang, 2017; Arvidsson, 2014)
Salah satu faktor lainnya yang mempengaruhi perceived of usefulness yaitu adanya faktor kognitif di mana semakin besar keterkaitan antara kemanfaatan dengan persepsi individu dalam penggunaan sistem informasi baru yang berlaku untuk tugas dan pekerjannya maka output yang dihasilkan juga berkualitas, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa baik suatu sistem informasi baru tersebut dapat menyelesaikan tugas (Venkatesh & Davis, 2000). Oleh karena itu, ketika individu melihat bahwa kegiatan tersebut dapat memberikan kemanfaatan untuk mencapai hasil yang ingin dicapai, maka peluang individu untuk menerima teknologi lebih besar (Liao, Tsou, & Huang, 2007). Berkaitan dengan hal tersebut, Akturan dan Tezcan (2012) menemukan bahwa individu sebagian besar termotivasi
7
Universitas Kristen Petra
untuk mengadopsi perbankan online dengan meningkatkan kepuasan fungsional yang dirasakan dari penggunaan sistem baru tersebut.
2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Perceived of Usefulness
Berdasarkan Venkatesh dan Davis (2000) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perceived of usefulness adalah:
1. Subjective Norm
Subjective Norm didefinisikan sebagai penggabungan pandangan atau persepi individu terhadap kepercayaan orang lain dengan persepsi mereka sendiri yang akan mempengaruhi minat individu dalam menggunakan sistem baru tersebut. Individu menggunakan sistem untuk meningkatkan kinerja mereka.
2. Image
Image didefinisikan sebagai sejauh mana penggunaan dapat meningkatkan kualitas seseorang dalam sistem social karena adanya peningkatan citra yang disebabkan oleh perbaikan dalam performa kinerja secara tidak langsung.
3. Job Relevance
Job Relevance diartikan sebagai sejauh mana persepsi individu terhadap penggunaan suatu sistem berlaku untuk pekerjaannya. Individu meng- anggap ada pentingnya untuk menggunakan sistem teknologi untuk kepentingan kinerja individu ketika akan menyelesaikan pekerjaan.
4. Output Quality
Ouput Quality adalah pertimbangan yang dilakukan oleh individu tentang seberapa baik sistem tersebut melakukan tugas dan sejauh mana sistem tersebut dapat mengerjakan tugas agar sesuai dengan tujuan pekerjaan individu.
5. Result Demonstrability
Result Demonstrability dinyatakan sebagai bentuk nyata yang didapat dari penggunaan sebuah sistem yang akan secara langsung mempengaruh perceived of usefulness. Individu diharapkan membentuk sebuah persepsi yang positif ketika hasil yang dirasakan dan dilihat juga positif.
8
Universitas Kristen Petra
2.1.3 Indikator Perceived of Usefulness
Berdasarkan Davis (1989) indikator dari perceived of usefulness yaitu:
1. Kecepatan penyelesaian pekerjaan (work more quickly)
Individu akan percaya sistem teknologi yang digunakan akan berguna ketika sistem teknologi tersebut dapat membantu individu untuk menyelesaikan tugasnya dengan cepat.
2. Peningkatan kinerja pekerjaan (improve job performance)
Individu akan percaya sistem teknologi yang digunakan berguna untuk pekerjaannya ketika sistem teknologi tersebut dapat meningkatkan performa kinerjanya.
3. Peningkatan produktifitas (increase productivity)
Individu akan percaya bahwa suatu sistem teknologi tersebut berguna ketika sistem teknologi yang digunakan memberikan peningkatan produktifitas.
4. Peningkatan efektifitas (effectiveness)
Individu akan percaya bahwa suatu sistem teknologi yang digunakan berguna ketika sistem teknologi tersebut dapat meningkatkan efektifitas pekerjaannya.
5. Kemudahan melakukan pekerjaan (makes job easier)
Individu akan percaya bahwa suatu sistem teknologi yang digunakan berguna ketika sistem teknologi tersebut dapat memberikan kemudahan dalam melakukan tugas-tugasnya.
6. Kegunaan dalam pekerjaan (usefulness)
Individu yang percaya bahwa suatu sistem teknologi yang digunakan tersebut berguna ketika adanya peningkatan terhadap penggunaan teknologi.
2.2 Technology Readiness
2.2.1 Definisi Technology Readiness
Parasuraman (2000) mengatakan bahwa technology readiness “People’s prospensity to embrace and use new technologies for accomplishing goals in home life and at work”. Definisi tersebut memiliki arti technology readiness adalah kecenderungan seseorang yang didasarkan dari kondisi pikiran seseorang untuk
9
Universitas Kristen Petra
menggunakan dan mengikuti perkembangan teknologi baru untuk mencapai tujuan di tempat kerja. Teori ini merupakan pengembangan dari penelitian yang diangkat oleh Parasuraman tentang Technological Readiness Index yang bertujuan untuk mengukur kesiapan teknologi. Saat sebuah teknologi baru yang muncul, dibutuhkannya model untuk menggabungkan persepsi dari individu tentang keberadaan teknologi baru, hal tersebut merupakan langkah yang diperlukan untuk dapat mengidentifikasi persepsi tentang nilai dari teknologi (Lin et al, 2007, p.642).
Technology readiness juga dikatakan sebagai penilaian yang mengukur berdasarkan kepercayaan individu terhadap teknologi baru (Astuti & Nasution, 2014).
Model yang ditemukan untuk menggabungkan persepsi yang berbeda dari sebuah individu terhadap teknologi baru yaitu menggunakan model technology readiness 2.2.2 Indikator Technology Readiness
Technology readiness menggambarkan sebuah kecenderungan seseorang yang didasarkan dari kondisi pikiran seseorang untuk menggunakan dan mengikuti perkembangan teknologi baru untuk mencapai tujuan di tempat kerja (Parasuraman, 2000). Berikut merupakan indikator dari technology readiness:
1. Optimism
Optimism merupakan kepercayaan terhadap suatu teknologi yang bersifat positif untuk meningkatkan kontrol, flexibilitas dan effisiensi.
2. Innovativeness
Innovativeness merupakan kecenderungan untuk menjadi pelopor sebuah teknologi dan menjadi pemimpin.
3. Discomfort
Discomfort merupakan kesadaran akan adanya kurangnya kontrol terhadap teknologi dan merasakan kewalahan karena adanya kekurangan tersebut.
4. Insecurity
Insecurity merupakan adanya rasa kepercayaan yang rendah terhadap teknologi dan skeptis tentang kemampuan teknologi untuk bekerja dengan baik.
10
Universitas Kristen Petra
2.3 Hubungan Antar Konsep dan Hipotesis Penelitian
2.3.1 Pengaruh Technology Readiness Terhadap Perceived Of Usefulness Sesuai dengan penilitian yang dilakukan oleh Shin dan Lee (2014); Walzuch et al. (2007); dan Lin et al. (2007) membuktikkan bahwa technology readiness memiliki pengaruh yang positif terhadap persepi kemanfaatan (perceived of usefulness). Semakin tinggi nilai technology readiness maka semakin tinggi pula individu percaya bahwa suatu teknologi dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan produktifitas. Penemuan ini juga didukung oleh penilitan yang dilakukan oleh Pratiwi, Indriani, Sugiarto (2017) bahwa technology readiness memiliki pengaruh yang positif terhadap persepsi kemanfaatan dalam menggunakan TCASH. Buyle et al. (2018) menemukan bahwa technology readiness terdapat pengaruh yang positif terhadapt perceived of usefulness.
Parasuraman (2000) membagi indikator technology readiness menjadi empat bagian yang dapat menjadi pendorong dan penghambat dalam menerima atau menggunakan teknologi baru yaitu, optimism, innovativeness, discomfort, dan insecurity. Optimism dan innovativeness merupakan mental pendorong, sedangkan discomfort dan insecurity merupakan mental penghambat.
Optimism merujuk pada individu yang memiliki pandangan positif terhadap teknologi baru dan keyakinan bahwa teknologi tersebut dapat memingkatkan kontrol, efisiensi, dan fleksibilitas pada lingkungan pekerjaan dan kehidupan rumah tangga. Optimisme akan meningkatkan kontrol, kepercayaan terhadap teknologi, persepsi kemudahan, dan persepsi kemanfaatan (Johnson et al., 2008; Lu 2012;
Wang, So, & Sparks, 2016). Individu yang optimis akan cenderung lebih terbuka dengan adanya teknologi baru dan lebih memiliki keinginan untuk menggunakan teknologi baru. Oleh sebab itu teknologi akan lebih mudah masuk dan digunakan oleh individu. Menurut Walczuch et al. (2007) menganggap bahwa individu optimistik cenderung memiki persepsi bahwa teknologi dapat memberikan kemanfaatan karena mereka cenderung tidak melihat adanya kejadian negatif.
Innovatiness merujuk pada kecenderungan individu untuk menjadi pelopor dalam menggunakan teknologi dan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi persepsi kemanfaatan (Kuo et al., 2013). Individu yang cenderung mengikuti perkembangan teknologi memiliki motivasi yang kuat untuk mencoba
11
Universitas Kristen Petra
teknologi yang baru dan senang dalam merasakan tantangannya ketika mencoba teknologi baru (Kuo et al., 2013). Ketika seseorang memiliki sikap inovatif, teknologi baru akan cenderung mudah untuk masuk karena dianggap bahwa teknologi dalam penggunaannya tidak rumit, sehingga individu akan memiliki keinginan untuk mencoba teknologi baru tersebut (Walczuch et al., 2007). Individu inovatif memiliki pandangan yang positif dan pandangan adanya manfaat yang dirasakan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Fajar dan Nugroho (2017) mengindikasikan bahwa innovativeness memiliki pengaruh pada persepsi manfaat sebuah teknologi.
Discomfort mengacu pada persepsi dengan kurangnya kontrol atas teknologi dan merasakan terbebani oleh adanya kekurangan tersebut (Kuo et al., 2013). Individu yang merasakan tersebut cenderung memiliki persepsi bahwa teknologi tidak memberikan adanya manfaat dan tidak mudah untuk menerima teknologi baru yang menyebabkan individu akan merasakan kegelisahan (Kuo et al., 2013) Mukherjee dan Hoyer (2001) mengatakan bahwa teknologi yang memiliki sistem yang rumit akan menyebabkan dampak yang negatif pada teknologi tersebut. Penelitian ini didukung oleh Godoe dan Johansen (2012);
Walczuch et al. (2017) bahwa discomfort membawa pengaruh negatif pada perspesi manfaat, dan tidak menemukan adanya korelasi positif antara discomfort dan persepi kemanfaatan.
Insecurity menjelaskan adanya ketidakpercayaan terhadap teknologi dan skeptis tentang kemampuan sistem teknologi tersebut berkerja (Kuo et al., 2013).
Individu yang merasakan adanya ketidaknyamanan terhadap teknologi biasanya merupakan individu yang kurang percaya tentang keamanan dari teknologi tersebut dikarenakan adanya kemungkinan resiko yang akan terjadi (Nugroho & Fajar, 2017). Individu yang mulai percaya dengan teknologi baru akan mendapatkan keuntungan dari penggunaan teknologi tersebut dan bersedia untuk mengambil resiko untuk menggunakannya (Kuo et al., 2013). Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan yang negatif antara insecurity dengan persepsi manfaat dan masih belum ada penelitian lain yang menemukan korelasi antara insecurity dengan persepsi manfaat (Godoe & Johansen, 2012; Walczuch et al., 2007).
12
Universitas Kristen Petra
H: Technology readiness mempunyai berpengaruh positif dan signifikan terhadap perceived of usefulness OVO Pay Later
2.4 Kerangka Penelitian
H
Gambar 2.1 Kerangka penelitian Sumber: Buyle et al., 2018
Berdasarkan dengan gambar kerangka penelitian diatas menjelaskan pengaruh technology readiness terhadap perceived of usefulness. Variabel technology readiness memiliki 4 indikator yaitu, optimism, innovatiness, discomfort, dan Insecurity. Sedangkan variabel perceived of usefulness memiliki 5 indikator yaitu work more quickly, improve job performance, increase productivity, effectiveness, dan makes job easier.
Technology Readiness (X1)
- Optimism - Innovativeness - Discomfort - Insecurity
- Insecurity
Perceived of Usefulness (Y1)
- Work more quickly - Improve job performance - Increase productivity - Effectiveness
- Makes job easier - Usefulness