• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpajakan: Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus Edisi 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Perpajakan: Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus Edisi 3"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

UK 1.5 cm

(2)

Halim, Abdul Bawono, Icuk Rangga Dara, Amin

Perpajakan: Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus/Abdul Halim, Icuk Rangga Bawono, Amin Dara

—Jakarta: Salemba Empat, 2020 1 jil., 592 hlm., 19 × 26 cm ISBN 978-979-061-915-9

1. Perpajakan 2. Perpajakan

I. Judul II. Abdul Halim, Icuk Rangga Bawono, Amin Dara

529.2.12

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronis maupun mekanis, termasuk tidak terbatas pada memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit.

UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA

1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi penerjemahan dan pengadaptasian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta yang meliputi penerbitan, penggandaan dalam segala bentuknya, dan pendistribusian Ciptaan untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

3. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada poin kedua di atas yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

Perpajakan: Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus

Edisi 3

Abdul Halim, Icuk Rangga Bawono, Amin Dara

Manajer Penerbitan dan Produksi: Novietha Indra Sallama Supervisor Editor: Ema Sri Suharsi

Copy Editor: Bambang Hernalyk Tata Letak: Basit Abdullah

Desain Sampul: Derra Fadhila Putri

Hak Cipta © 2020, 2016, 2014, Penerbit Salemba Empat Jln. Raya Lenteng Agung No. 101

Jagakarsa, Jakarta Selatan 12610 Telp. : (021) 781 8616 Faks. : (021) 781 8486

Website : http://www.penerbitsalemba.com E-mail : [email protected]

(3)

iii

Tentang Penulis

Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A, Akt., lahir di Banjarmasin pada tanggal 28 Juli 1958.

Penulis menjadi dosen di Fakultas Ekonomi UGM sejak 1983. Setelah menyelesaikan MBA di Murray State University, Kentucky, Amerika Serikat pada tahun 1991, penulis mengikuti Local Government Finance Course di University of Birmingham, Inggris pada tahun 1994. Selain menjadi staf pengajar S-1, S-2 maupun S-3, penulis juga pernah menekuni profesi sebagai akuntan publik pada KAP Moechtar Talib & Co. (1981–1983) dan KAP Hadori & Rekan (1984–1995). Di samping aktif sebagai dosen, sejak 1996 menjabat sebagai ketua Kursus Keuangan Daerah-Penelitian dan Pengembangan Ekonomi FE UGM (sekarang P2EB-FEB UGM) hingga 2006. Sejak tahun 2002–2010 menjabat sebagai Asisten Direktur II (Bidang Administrasi dan Keuangan) Pascasarjana UGM. Sejak tahun 2006–sekarang menjadi anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan RI, bidang desentralisasi fiskal (TADF). Pada program Magister Ekonomika Pembangunan UGM, mengajar pada konsentrasi keuangan daerah. Konsentrasi tersebut ditekuni dalam menempuh Program Doktoralnya yang ditempuh melalui program

sandwich (UGM-University of Kentucky) sejak 1998 yang diselesaikannya pada Maret 2002 dengan judul

disertasi Analisis Varian atas Anggaran Pendapatan Asli Daerah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Kabupaten/Kota di Indonesia. Segera setelah menyandang gelar Doktor, penulis dikukuhkan sebagai Guru Besar

UGM pada 17 Januari 2004 pada usia 46 tahun. Pidato pengukuhan Guru Besarnya berjudul Reformasi Akuntansi

Keuangan dan Anggaran Daerah: Dua Pilar Utama Manajemen Keuangan Daerah. Pada tahun 2001–2004

menjadi rekanan BIGG (Building Institutions for Good Governance) dan sejak tahun 2000 menjadi konsultan berbagai daerah di tanah air dalam bidang manajemen keuangan daerah.

Buku-buku karyanya antara lain: Auditing 1: Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan, Analisis Laporan Keuangan; Auditing 2: Dasar-Dasar Prosedur Pengauditan Laporan Keuangan; Dasar-Dasar Akuntansi Biaya; Akuntansi Keuangan Menengah: Ringkasan Teori, Soal, dan Jawab; Bunga Rampai Sistem Informasi Akuntansi; Manajemen Keuangan, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan: Buku 1 Analisis dan Manajemen Aktiva; Manajemen Keuangan Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan: Buku 2 Analisis dan Manajemen Aktiva;

Akuntansi Manajemen; Auditing: Pembahasan Soal, Teori, dan Kasus; Soal Jawab Pengantar Akuntansi 2; Soal

Jawab Akuntansi Manajemen; Program Akuntansi; Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah; Seri Bunga

(4)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) iv

Rampai Manajemen Keuangan Daerah: Akuntansi dan Pengendalian Keuangan Daerah. Selain itu, telah terbit buku Teori, Konsep, dan Aplikasi Akuntansi Sektor Publik; Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan

Daerah (Berbasis Akrual) terbitan Penerbit Salemba Empat.

Karya ilmiah di bidang keuangan daerah yang pernah ditulis, antara lain: “Memahami Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai Satu Perubahan Strategi Pemerintah dalam Peningkatan Pendapatan Daerah” (Jurnal Akuntansi dan Manajemen, 1997); “An Investigation into the Traditional and NPM Approach That

Should Guide Budgetary Reform in Local Government Developing Countries” (Jurnal Akuntansi dan Manajemen,

1997); “Analisis Sederhana terhadap Pola Revisi Anggaran atas Pajak, Retribusi, dan Belanja Dispenda” (Laporan Penelitian, 1998); “Analisis Deskriptif Pengaruh Fiscal Stress pada Komponen Anggaran Daerah Tingkat II”

(Laporan Penelitian, 1998); “Anggaran Daerah dan Fiscal Stress (Sebuah Studi Kasus pada Anggaran Daerah Provinsi di Indonesia)” (JEBI, 2001); “Studi Perbandingan Struktur Belanja Rutin pada Daerah yang Administrative

Dependency Ratio (ADR-nya) Tinggi dan Rendah” (Laporan Penelitian, 2001); “Sekelumit tentang Arti Penting

Akuntansi Sektor Publik dalam Kaitannya dengan Reformasi Sistem Keuangan Publik (Makalah, 2002)”.

Daerah-daerah yang pernah ditangani/bekerja sama antara lain: Kabupaten Pasuruan, Kota Tegal, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonogiri, Kota Cilegon, Kabupaten Bogor, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Banten, Kabupaten Malang, Kabupaten Sleman, Kabupaten Banyuwangi, Kota Banjarbaru, Kabupaten Siak, Kabupaten Banjarnegara, Kota Cirebon, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Jembrana, serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil riil penanganan akuntansi keuangan daerah di Kabupaten Banjarnegara pada waktu itu mendapat hasil pemeriksaan wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas dari Badan Pemeriksa Keuangan RI.

Amin Dara, SE, M.Sc., lahir di Ternate, adalah Dosen Tetap pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Khairun (UK). Saat ini mengajar di Program Studi Akuntansi Universitas Khairun dan beberapa universitas swasta di Maluku Utara.

Memperoleh Gelar Sarjana (SE.,Ak) dari Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar dan Magister Sains Akuntansi (M.Sc) dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Mata kuliah yang diampu adalah Pengauditan, Perpajakan, Perencanaan Pajak, Akuntansi Pengantar, Akuntansi Menengah, dan Teori Akuntansi.

Amin Dara, S.E., M.Sc., Ak., C.A., lahir di Ternate adalah Dosen Tetap pada

Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Khairun (UK). Saat ini mengajar di Program Studi Akuntansi Universitas Khairun dan beberapa universitas swasta di Maluku Utara.

Memperoleh gelar sarjana (S.E., Ak.) dari Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar dan Magister Sains Akuntansi (M.Sc) dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Mata kuliah yang diampu adalah Pengauditan, Perpajakan, Perencanaan Pajak, Akuntansi Pengantar, Akuntansi Menengah, dan Teori Akuntansi. iii

Tentang Penulis

Icuk Rangga Bawono, S.E., S.H., M.H., M.Si., Ak. lahir di Jakarta 31 tahun yang lalu, adalah staf pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman.

Meraih gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi dari Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 2003, meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 2002, meraih gelar Magister Sains Akuntansi dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2005, meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 2007, dan—saat ini—

sedang menempuh pendidikan doktor bidang Akuntansi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Selain sebagai pengajar mata kuliah EDP Auditing, penulis adalah seorang peneliti. Penulis juga menjadi konsultan untuk pemerintah daerah, menjadi staf pada kantor akuntan publik, dan menjadi narasumber pada berbagai seminar/diskusi/workshop tingkat regional, nasional, dan internasional. Penulis pernah bertugas sebagai Taskforce Pengembangan Financial Management Perguruan Tinggi.

Icuk Rangga Bawono, S.E., S.H., M.H., M.Si., Ak. C.A., lahir di Jakarta 37

tahun yang lalu, adalah staf pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman. Meraih gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi dari Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 2003, Sarjana Hukum dari Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 2002, Magister Sains Akuntansi dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2005, serta Magister Hukum dari Universitas Jenderal Soedirman pada tahun 2007, dan meraih gelar doktor dalam bidang Akuntansi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Selain sebagai pengajar mata kuliah Perpajakan, Akuntansi Sektor Publik dan EDP Auditing, penulis adalah seorang peneliti, penulis juga menjadi konsultan untuk pemerintah daerah, staf pada kantor akuntan publik, dan narasumber pada berbagai seminar/diskusi/workshop tingkat regional, nasional, dan internasional. Penulis pernah bertugas sebagai Taskforce Pengembangan Financial Management Perguruan Tinggi.

Amin Dara.indb 4 13/12/2019 13:53:39

(5)

v

Prakata

Kemajuan sistem perpajakan di suatu negara diikuti dengan semakin tingginya pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Seperti halnya Indonesia, karena tidak dapat dipungkiri penerimaan dari pajak merupakan kontribusi terbesar untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara. Begitu pentingnya perpajakan, sehingga diseminasi pengetahuan perpajakan melalui pendidikan formal dan pelatihan-pelatihan perpajakan di perguruan tinggi serta sosialisasi perpajakan yang dilaksanakan Direktorat Jenderal Pajak semakin gencar dilakukan. Banyaknya Wajib Pajak yang melakukan kesalahan dalam pemenuhan kewajiban perpajakan lebih sering disebabkan ketidaktahuan mengenai aturan-aturan perpajakan yang semakin rumit dan kompleks.

Buku ini secara komprehensif membahas konsep perpajakan dengan materi perundang-undangan perpajakan terbaru dan peraturan-peraturan perpajakan terkait lainnya sehingga berguna sebagai diseminasi perpajakan. Beberapa bab dalam buku ini dilengkapi contoh perhitungan pajak dan pembahasan kasus yang biasanya terjadi dalam praktik sehingga tidak saja pembaca memahami konsep dan perhitungan, tetapi juga sanggup mempraktikkan pengisian, penyetoran, dan pelaporan pajak.

Buku ini dapat digunakan oleh mahasiswa S-1 sebagai buku utama dalam perkuliahan selama satu semester, bendaharawan pemerintah (baik di pusat maupun di daerah) yang melakukan pemotongan/

pemungutan pajak penghasilan atas pembayaran yang dilakukan, dan praktisi pajak yang ingin mendalami tata cara pelunasan, pemotongan/pemungutan, dan pelaporan pajak penghasilan.

KEUNGGULAN BUKU INI

Buku ini bermanfaat bagi mahasiswa dan praktisi pajak karena memiliki keunggulan sebagai berikut.

1. Dilengkapi dengan contoh soal dan kasus beserta pembahasannya, sehingga pembaca memiliki gambaran yang menyerupai praktik nyata di lapangan.

2. Mengikuti perubahan peraturan perpajakan terbaru.

3. Materi perpajakan dibahas secara lebih komprehensif, sehingga pembaca dapat memiliki pemahaman

secara utuh dalam satu buku sekaligus tanpa harus dilengkapi buku lain.

(6)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) vi

APA YANG BARU DARI EDISI REVISI INI?

1. Bab 4 Pajak Penghasilan Pasal 21 menggunakan PTKP terbaru yang berlaku saat ini.

2. Bab 10 Pajak Penghasilan Bersifat Final, penambahan beberapa aturan perpajakan terbaru dan perubahan tarif Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan syukur atas rahmat Allah Swt. dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan, doa, dan kerja sama semua pihak sehingga selesainya penulisan edisi 3 buku ini.

Abdul Halim UGM, Yogyakarta Icuk Rangga Unsoed, Purwokerto Amin Dara

Unkhair, Ternate

Lampiran buku dapat diunduh secara gratis melalui situs web, www.penerbitsalemba.com

(7)

vii

Daftar Isi

Tentang Penulis ... iii

Prakata ... v

Daftar Isi ... vii

Bab 1 Dasar-Dasar Perpajakan ... 1

Definisi ... 1

Asas-Asas Perpajakan ... 2

Jenis Pungutan Selain Pajak ... 3

Kedudukan Hukum Pajak ... 3

Fungsi Pajak ... 4

Teori yang Mendukung Pemungutan Pajak ... 4

Jenis-Jenis Pajak ... 5

Tata Cara Pemungutan Pajak ... 6

Stelsel Pajak ... 6

Asas Pemungutan Pajak ... 6

Sistem Pemungutan Pajak ... 7

Timbulnya Utang Pajak ... 7

Berakhirnya Utang Pajak ... 7

Penghindaran dan Pengelakan Pajak (Tax Avoidance and Tax Evasion) ... 8

Pengelakan Pajak (Tax Evasion) ... 8

Penghindaran Pajak (Tax Avoidance) ... 8

Tarif Pajak ... 8

Tarif Tetap ... 8

Tarif Sebanding (Proporsional) ... 9

Tarif Progresif ... 9

Tarif Degresif (Menurun) ... 9

Profesi Konsultan Pajak ... 10

Kebutuhan Jasa Konsultan Pajak ... 10

Karier Konsultan Pajak ... 10

Sunset Policy ... 10

Latihan Soal ... 13

(8)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) viii

Bab 2 Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan ... 15

Pengertian Umum ... 15

Nomor Pokok Wajib Pajak dan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak ... 18

Pengertian dan Fungsi NPWP ... 18

Pengertian dan Fungsi Pengukuhan PKP ... 18

Tata Cara Pendaftaran dan Pemberian NPWP serta Pelaporan dan Pengukuhan PKP di KPP ... 19

Tata Cara Pendaftaran NPWP dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dan Perubahan Data Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dengan Sistem E-Registration ... 20

Tata Cara Pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak ... 20

Penghapusan NPWP ... 21

Pemotongan/Pemungutan ... 21

Pemotongan PPh Pasal 21 ... 22

Pemungutan PPh Pasal 22 ... 22

Pemotongan PPh Pasal 23 ... 22

Pemotongan PPh Pasal 26 ... 22

Pemotongan PPh Pasal 4 Ayat 2 ... 23

Pemotongan PPh Pasal 15 ... 23

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ... 23

Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ... 23

Pembayaran dan Penyetoran Pajak ... 23

Batas Waktu Pembayaran ... 24

Pelaporan dengan Surat Pemberitahuan (SPT) ... 25

Pengertian SPT... 25

Fungsi SPT ... 25

Jenis SPT ... 26

Bentuk SPT ... 26

Isi SPT ... 26

Tempat dan Cara Lain Pengambilan SPT ... 27

Cara Penyampaian SPT ... 28

Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT Tahunan ... 28

Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu yang Dapat Melaporkan Beberapa Masa Pajak dalam Satu Surat Pemberitahuan Masa ... 28

Wajib Pajak PPh Tertentu yang Dikecualikan dari Kewajiban Menyampaikan SPT Pajak Penghasilan ... 29

Batas Waktu Penyampaian SPT ... 29

Pembetulan SPT ... 30

Surat Ketetapan Pajak ... 30

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ... 30

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan ... 31

Surat Ketetapan Pajak Nihil ... 32

Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar ... 32

Surat Tagihan Pajak ... 32

Pembukuan dan Pencatatan ... 34

Pembukuan ... 34

Pencatatan... 34

Pemeriksaan ... 35

Pengertian Pemeriksaan ... 35

Jenis Pemeriksaan ... 35

Tujuan Pemeriksaan ... 35

(9)

Ruang Lingkup dan Kriteria Pemeriksaan Pajak ... 36

Jangka Waktu Pemeriksaan ... 36

Penyidikan ... 37

Pengertian Penyidikan ... 37

Siapa yang Melakukan Penyidikan ... 37

Penghentian Penyidikan... 38

Surat Paksa ... 38

Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali ... 39

Keberatan ... 39

Banding ... 40

Peninjauan Kembali ... 41

Latihan Soal ... 43

Bab 3 Pajak Penghasilan (Umum) ... 47

Definisi ... 47

Subjek Pajak ... 47

Subjek Pajak Dalam Negeri dan Subjek Pajak Luar Negeri ... 48

Perbedaan Wajib Pajak Dalam Negeri dan Wajib Pajak Luar Negeri ... 49

Kewajiban Pajak Subjektif ... 50

Tidak Termasuk Subjek Pajak ... 51

Objek Pajak Penghasilan ... 51

Objek Pajak yang Dikenakan PPh Bersifat Final ... 54

Tidak Termasuk Objek Pajak ... 55

Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap ... 58

Penentuan Besarnya Laba Bentuk Usaha Tetap ... 59

Penghitungan Penghasilan Kena Pajak ... 59

Penghasilan Tidak Kena Pajak ... 63

Biaya yang Tidak Boleh Dikurangkan ... 66

Penilaian Aset ... 68

Penilaian Aset dalam Hal Jual Beli ... 68

Penilaian Aset dalam Hal Pertukaran Aset Nonmoneter ... 68

Pengalihan Aset dalam Rangka Likuidasi, Penggabungan, Peleburan, Pemekaran, Pemecahan, atau Pengambilalihan Usaha ... 68

Pengalihan Aset dalam Hal Hibah, Bantuan, dan Sumbangan ... 69

Pengalihan Aset sebagai Pengganti Saham ... 69

Penilaian Persediaan ... 70

Penyusutan dan Amortisasi ... 71

Penyusutan ... 71

Amortisasi ... 73

Tarif Pajak ... 74

Penghasilan Kena Pajak dan PPh yang Terutang ... 76

Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang Menyelenggarakan Pembukuan ... 76

Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri yang Menyelenggarakan Pembukuan ... 77

Wajib Pajak Orang Pribadi yang Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto ... 78

Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri yang Terutang Pajak dalam Suatu Bagian Tahun Pajak ... 79

Pelunasan Pajak dalam Tahun Berjalan ... 79

Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan oleh Wajib Pajak Sendiri ... 80

Latihan Soal ... 81

(10)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) x

Bab 4 Pajak Penghasilan Pasal 21 ... 87

Pengertian ... 87

Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21 ... 89

Hak dan Kewajiban Pemotong Pajak ... 90

Hak Pemotong Pajak ... 90

Kewajiban Pemotong Pajak ... 90

Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21 ... 91

Tidak Termasuk Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21... 92

Hak dan Kewajiban Wajib Pajak ... 92

Hak-Hak Wajib Pajak PPh Pasal 21 ... 92

Kewajiban Wajib Pajak PPh Pasal 21 ... 92

Objek Pajak Penghasilan Pasal 21 ... 93

Tidak Termasuk Objek Pajak Penghasilan Pasal 21 ... 93

Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 ... 94

Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Pegawai ... 94

Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Pegawai Tidak Tetap ... 94

Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Peserta Kegiatan ... 95

Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Bukan Pegawai ... 95

Tata Cara Perhitungan Pemotongan PPh Pasal 21 ... 96

Penghitungan PPh Pasal 21 untuk Pegawai Tetap dan Penerima Pensiun Berkala... 96

Perhitungan PPh Pasal 21 untuk Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas ... 100

Penghitungan PPh Pasal 21 bagi Anggota Dewan Pengawas atau Dewan Komisaris yang Tidak Merangkap sebagai Pegawai Tetap, Mantan Pegawai yang Menerima Jasa Produksi, Tantiem, Gratifikasi, Bonus, atau Imbalan Lain yang Bersifat Tidak Teratur, dan Peserta Program Pensiun yang Masih Berstatus sebagai Pegawai yang Menarik Dana Pensiun ... 101

Penghitungan PPh Pasal 21 bagi Orang Pribadi yang Berstatus sebagai Bukan Pegawai ... 101

Penghitungan PPh Pasal 21 bagi Peserta Kegiatan ... 102

Contoh-Contoh Perhitungan Pemotongan PPh Pasal 21 ... 102

Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 terhadap Penghasilan Pegawai Tetap ... 102

Perhitungan Pemotongan PPh Pasal 21 atas Uang Pensiun yang Dibayarkan Secara Berkala (Bulanan) ... 127

Perhitungan Pemotongan PPh Pasal 21 terhadap Penghasilan Pegawai Harian, Tenaga Harian Lepas, Penerima Upah Satuan, dan Penerima Upah Borongan ... 130

Perhitungan PPh Pasal 21 bagi Bukan Pegawai ... 134

Perhitungan Pemotongan PPh Pasal 21 terhadap Peserta Kegiatan yang Menerima atau Memperoleh Penghasilan Sehubungan dengan Keikutsertaannya dalam Suatu Kegiatan ... 138

Perhitungan PPh Pasal 21 bagi Pejabat Negara, PNS, Anggota TNI, Anggota Polri dan Pensiunannya yang Menerima Honor atau Imbalan Lain yang Menjadi Beban APBN/APBD ... 139

Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah ... 139

Contoh Kasus ... 140

Kasus 1 Pemotongan PPh Pasal 21 ... 140

Kasus 2 Pemotongan PPh Pasal 21 (Bendaharawan Pemerintah) ... 166

Latihan Soal ... 191

Bab 5 Pajak Penghasilan Pasal 22 ... 197

Pengertian ... 197

Pemungut Pajak ... 197

Objek Pajak ... 199

(11)

Dikecualikan dari Objek Pajak Penghasilan Pasal 22 ... 200

Saat Terutang dan Pelunasan/Pemungutan PPh Pasal 22 ... 203

Tata Cara Pemungutan dan Penyetoran PPh Pasal 22 ... 203

Dasar Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 ... 204

Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif PPh Pasal 22 ... 204

Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 22 ... 206

Contoh Penghitungan ... 208

Contoh Kasus ... 210

Kasus 1 Pemungutan PPh Pasal 22 ... 210

Kasus 2 Pemungutan PPh Pasal 22 ... 218

Latihan Soal ... 224

Bab 6 Pajak Penghasilan Pasal 23 ... 227

Pengertian ... 227

Pemotongan dan Penerima Penghasilan yang Dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23 ... 227

Penghasilan yang Dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 23 ... 228

Dividen ... 228

Bunga Termasuk Premium, Diskonto, dan Imbalan Sehubungan dengan Jaminan Pengembalian Utang ... 228

Royalti ... 229

Hadiah, Penghargaan, Bonus, dan Sejenisnya ... 229

Sewa dan Penghasilan Lain Sehubungan dengan Penggunaan Harta ... 230

Imbalan Sehubungan dengan Jasa Teknik, Jasa Manajemen, Jasa Konstruksi, Jasa Konsultan, dan Jasa Lain ... 230

Penghasilan yang Dikecualikan dari Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 ... 232

Tarif dan Dasar Pemotongan PPh Pasal 23 ... 233

Contoh Penghitungan ... 234

Saat Terutang, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 23 ... 235

Saat Terutang dan Pemotongan Pajak PPh Pasal 23... 235

Tata Cara Penyetoran dan Pelaporan ... 235

Contoh Kasus ... 235

Kasus 1 Pemotongan PPh Pasal 23 ... 235

Kasus 2 Pemungutan PPh Pasal 23 ... 245

Latihan Soal ... 265

Bab 7 Pajak Penghasilan Pasal 24 ... 269

Pengertian ... 269

Permohonan Kredit Pajak Luar Negeri ... 270

Penggabungan Penghasilan ... 270

Penentuan Sumber Penghasilan ... 271

Tata Cara Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri ... 272

Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri Wajib Pajak Badan ... 272

Penghitungan Kredit Pajak Luar Negeri Wajib Orang Pribadi ... 272

Kerugian di Dalam Negeri ... 273

Kerugian di Luar Negeri ... 273

Penghasilan Luar Negeri Bersumber dari Beberapa Negara ... 274

Penghasilan yang Dikenakan Pajak yang Bersifat Final ... 275

Perubahan Jumlah Penghasilan dari Luar Negeri ... 276

Latihan Soal ... 278

(12)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) xii

Bab 8 Pajak Penghasilan Pasal 25 ... 283

Pengertian ... 283

Menghitung Angsuran Bulanan ... 283

Angsuran Pajak Bulan-Bulan Sebelum Batas Waktu Penyampaian SPT Tahunan PPh ... 284

Angsuran Pajak Apabila dalam Tahun Berjalan Diterbitkan Surat Ketetapan Pajak untuk Tahun Pajak yang Lalu ... 284

Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak dalam Tahun Berjalan dalam Hal-Hal Tertentu... 285

Wajib Pajak Berhak atas Kompensasi Kerugian ... 285

Wajib Pajak Memperoleh Penghasilan Tidak Teratur ... 286

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Tahun yang Lalu Disampaikan setelah Lewat Batas Waktu yang Ditentukan ... 286

Wajib Pajak Diberikan Perpanjangan Jangka Waktu Penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan ... 288

Wajib Pajak Membetulkan Sendiri SPT Tahunan Pajak Penghasilan yang Mengakibatkan Angsuran Bulanan Lebih Besar dari Angsuran Bulanan Sebelum Pembetulan ... 290

Terjadi Perubahan Keadaan Usaha atau Kegiatan Wajib Pajak ... 291

Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan dalam Tahun Pajak Berjalan yang Harus Dibayar Sendiri oleh Wajib Pajak Baru, Bank, Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi, BUMN, BUMD, Wajib Pajak Masuk Bursa, Wajib Pajak Lainnya yang Berdasarkan Ketentuan Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala Termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu ... 292

PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak Bank (termasuk Wajib Pajak Bank Baru) ... 292

PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak Lainnya dan Wajib Pajak Masuk Bursa Selain Wajib Pajak Bank (termasuk Wajib Pajak Baru) ... 293

PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak BUMN dan BUMD (Selain WP Bank, WP Masuk Bursa, dan Wajib Pajak Lainnya) ... 293

PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu... 294

PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dalam Rangka Penggabungan, Peleburan, dan/atau Pengambilalihan Usaha ... 294

PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dalam Rangka Pemekaran Usaha ... 295

PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak Baru yang Merupakan Hasil Perubahan Bentuk Badan Usaha ... 295

Latihan Soal ... 296

Bab 9 Pajak Penghasilan Pasal 26 ... 301

Pengertian ... 301

Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 26 ... 301

Objek Pajak Penghasilan Pasal 26 ... 301

Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 26 ... 302

Contoh Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 26 ... 303

Saat Terutang, Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 26 ... 304

Latihan Soal ... 305

Bab 10 Pajak Penghasilan Bersifat Final ... 309

Pengertian ... 309

Pajak Penghasilan atas Bunga dan Deposito Lainnya ... 309

Dasar Hukum ... 309

Pengertian ... 310

(13)

Pengenaan Pajak Penghasilan dan Tarif Pajak ... 310

Pemotong PPh ... 312

Dikecualikan dari Pemotongan PPh ... 312

Bunga Obligasi dan Surat Utang Negara ... 312

Dasar Hukum ... 312

Pengertian ... 312

Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak ... 313

Pemotong PPh ... 313

Dikecualikan dari Pemotongan PPh ... 313

Bunga Simpanan yang Dibayarkan Koperasi kepada Anggota Koperasi Orang Pribadi ... 314

Dasar Hukum ... 314

Objek Pajak ... 314

Tarif Pajak ... 314

Pemotong PPh ... 314

Saat Terutang, Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan ... 314

Hadiah Undian ... 315

Dasar Hukum ... 315

Pengertian ... 315

Objek Pajak ... 315

Pengecualian Objek Pajak ... 315

Tarif Pajak ... 315

Pemotong PPh ... 315

Transaksi Saham dan Sekuritas Lainnya ... 315

Dasar Hukum ... 315

Pengertian ... 316

Objek Pajak ... 316

Tarif Pajak ... 316

Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan ... 316

Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan ... 317

Dasar Hukum ... 317

Pengertian ... 317

Objek Pajak ... 318

Subjek Pajak ... 318

Dikecualikan dari Subjek Pajak ... 318

Tarif Pajak ... 319

Tata Cara Pelunasan dan Pelaporan ... 320

Usaha Jasa Konstruksi ... 320

Dasar Hukum ... 320

Pengertian ... 320

Objek Pajak ... 321

Tarif ... 321

Pemotongan dan Penyetoran ... 321

Persewaan Tanah dan/atau Bangunan ... 322

Dasar Hukum ... 322

Pengertian ... 322

Objek Pajak ... 323

Tarif Pajak ... 323

Tata Cara Pelunasan ... 323

Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan ... 323

(14)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) xiv

Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu ... 324

Dasar Hukum ... 324

Objek Pajak ... 324

Subjek Pajak (Wajib Pajak) ... 324

Tidak Termasuk Subjek Pajak (Wajib Pajak) ... 325

Tarif Pajak ... 325

Dasar Pengenaan Pajak ... 325

Penghitungan Pajak Penghasilan Terutang ... 325

Penyetoran dan Pelaporan ... 326

Tata Cara Penyetoran Melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) ... 326

Contoh Kasus ... 328

Kasus 1 Pemotongan PPh Pasal 4 Ayat 2 ... 328

Kasus 2 Pemotongan PPh Pasal 4 Ayat 2 ... 338

Latihan Soal ... 346

Bab 11 Pajak Penghasilan Pasal 15 ... 351

Pengertian ... 351

Pajak Penghasilan atas Perusahaan Pelayaran/Penerbangan Luar Negeri ... 351

Dasar Hukum ... 351

Subjek Pajak ... 352

Objek Pajak ... 352

Tarif Pajak ... 352

Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan ... 352

Pajak Penghasilan atas Perusahaan Penerbangan Dalam Negeri ... 353

Dasar Hukum ... 353

Objek Pajak ... 353

Subjek Pajak ... 353

Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak ... 353

Pemotongan dan Pelaporan ... 353

Pajak Penghasilan atas Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri ... 354

Dasar Hukum ... 354

Objek Pengenaan PPh ... 354

Subjek Pajak ... 354

Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak ... 354

Tata Cara Pelunasan, Pemotongan, dan Pelaporan ... 354

Contoh Kasus PPh Pasal 15 ... 355

Latihan Soal ... 360

Bab 12 Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ... 365

Dasar Hukum ... 365

Pengertian ... 365

Barang Kena Pajak dan Pengecualian Barang Kena Pajak ... 367

Barang Kena Pajak (BKP) ... 367

Barang Kena Pajak Tidak Berwujud ... 367

Pengecualian Barang Kena Pajak (BKP) ... 368

Jasa Kena Pajak dan Pengecualian Jasa Kena Pajak ... 369

Jasa Kena Pajak ... 369

Pengecualian Jasa Kena Pajak (JKP)... 369

Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) ... 371

(15)

Dikecualikan dari Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) ... 372

Objek Pajak ... 373

Tarif Pajak ... 374

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) PPN ... 375

Harga Jual ... 375

Penggantian... 375

Nilai Impor ... 375

Nilai Ekspor ... 375

Nilai Lain ... 375

Penghitungan PPN ... 376

Saat Terutang PPN ... 377

Tempat Terutang PPN ... 378

Saat Penyetoran dan Pelaporan PPN ... 379

Pajak Masukan dan Pajak Keluaran... 380

Pajak Masukan ... 380

Pajak Keluaran ... 380

PPN Kurang/Lebih Bayar ... 380

PKP dengan Peredaran Bruto Jumlah Tertentu dan Kegiatan Usaha Tertentu ... 382

Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan ... 382

Tenggang Waktu Pengkreditan Pajak Masukan ... 384

Penggabungan, Pemekaran, Pemecahan, dan Pengambilalihan Usaha ... 384

Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan bagi PKP yang Melakukan Penyerahan Terutang Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak ... 384

Pedoman Penghitungan Pajak Masukan yang Dapat Dikreditkan ... 385

Contoh Penghitungan ... 387

Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan bagi PKP yang Mempunyai Peredaran Usaha Tidak Melebihi Jumlah Tertentu ... 390

Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan bagi PKP yang Melakukan Kegiatan Usaha Tertentu ... 392

Faktur Pajak ... 393

Saat Penyerahan Diakui ... 394

Bentuk dan Ukuran Faktur Pajak ... 397

Tata Cara Pengisian Keterangan pada Faktur Pajak ... 400

Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak ... 402

Faktur Pajak Gabungan ... 408

Larangan Membuat Faktur Pajak ... 410

Faktur Pajak Berbentuk Elektronik (E-Faktur) ... 410

Kewajiban Membuat e-Faktur ... 410

Dikecualikan dari Pembuatan e-Faktur ... 411

e-Faktur Pengganti dan Pembatalan e-Faktur ... 412

Data e-Faktur yang Rusak atau Hilang ... 412

Pelaporan ... 412

Nota Retur atau Nota Pembatalan atas BKP yang Dikembalikan atau JKP yang Dibatalkan ... 413

BKP yang Dikembalikan dan Pembuatan Nota Retur ... 413

Nota Pembatalan JKP yang Dibatalkan ... 414

Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN ... 415

Kompensasi dan Restitusi ... 416

PPN dan PPnBM atas Penyerahan kepada Pemungut PPN ... 418

(16)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) xvi

Tata Cara Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan PPN dan PPnBM oleh

Bendaharawan Pemerintah dan KPKN ... 418

PPN dan PPnBM Tidak Dipungut oleh Bendaharawan Pemerintah ... 421

Badan Usaha Tertentu untuk Memungut, Menyetor, dan Melaporkan PPN atau PPnBM ... 422

PPN dan PPnBM Tidak Dipungut ... 422

Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan ... 423

Tata Cara Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan PPN atau PPnBM oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama Pengusahaan Migas dan Kontraktor atau Pemegang Kuasa/ Pemegang Izin Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi ... 423

PPN dan PPnBM yang Tidak Dipungut oleh Kontraktor ... 425

Impor dan/atau Penyerahan BKP/JKP yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN ... 425

Impor dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersifat Strategis yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN ... 425

Batasan Rumah Sederhana, Rumah Sangat Sederhana, Rumah Susun Sederhana, Pondok Boro, Asrama Mahasiswa dan Pelajar, serta Perumahan Lainnya, yang atas Penyerahannya Dibebaskan dari Pengenaan PPN ... 426

PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri ... 427

Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak ... 427

Saat dan Tempat Pajak Terutang ... 428

Penyetoran dan Pelaporan ... 428

PPN atas Penyerahan Hasil Tembakau ... 429

Pengertian ... 429

Dasar Perhitungan... 429

Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan ... 429

PPN atas Penyerahan Emas Perhiasan ... 430

Pengertian ... 430

Pengusaha Emas Perhiasan ... 430

Dasar Pengenaan Pajak ... 430

Pelaporan ... 431

PPN atas Penyerahan Produk Rekaman Gambar ... 431

Pengertian ... 431

PPN atas Penyerahan Produk Rekaman Suara ... 432

Pengertian ... 432

PPN atas Penyerahan Barang Dagangan oleh Pedagang Eceran Selain yang Menggunakan Norma Perhitungan Penghasilan Neto ... 433

Pengertian ... 433

Dasar Perhitungan... 433

Pemungutan dan Penyetoran ... 433

PPN atas Penyerahan Jasa Pengelolaan Tempat Parkir ... 434

Pengertian ... 434

Objek Pajak ... 434

Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak ... 434

Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ... 435

Tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah ... 436

Barang Kena Pajak Tergolong Mewah Selain Kendaraan Bermotor yang Dikenakan PPnBM ... 436

Tata Cara Penghitungan PPnBM ... 451

Barang Kena Pajak Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenakan PPnBM ... 452

(17)

Contoh Kasus ... 455

Kasus I PKP Pabrikan Tembakau ... 455

Kasus 2 Pedagang Emas Perhiasan ... 461

Kasus 3 PKP yang Melakukan Kegiatan Usaha Tertentu ... 465

Latihan Soal ... 471

Bab 13 Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan ... 475

Dasar Hukum ... 475

PBB Sektor Perkebunan ... 475

Pengertian ... 475

Objek Pajak PBB Perkebunan ... 476

Subjek Pajak dan Wajib Pajak PBB Perkebunan ... 477

Dasar Pengenaan PBB Perkebunan ... 477

PBB Sektor Perhutanan ... 478

Pengertian ... 478

Objek Pajak PBB Perhutanan ... 480

Subjek Pajak dan Wajib Pajak PBB Perhutanan ... 480

Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) ... 481

PBB Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan Panas Bumi ... 482

Objek Pajak PBB Migas dan Panas Bumi ... 484

Subjek Pajak PBB Migas atau PBB Panas Bumi ... 485

Dasar Pengenaan PBB Migas dan Panas Bumi ... 485

PBB Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Mineral dan Batu Bara ... 487

Pengertian ... 487

Objek Pajak PBB Mineral dan Batu Bara... 489

Subjek Pajak PBB Mineral dan Batu Bara ... 490

Perhitungan PBB Mineral dan Batu Bara ... 490

Harga Jual Hasil Galian Tambang ... 491

Biaya Produksi Galian Tambang ... 492

Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) ... 493

Tarif Pajak ... 493

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) ... 493

Pengalihan PBB Perdesaan dan Perkotaan Menjadi Pajak Daerah ... 493

Pengertian ... 493

Berlakunya PBB Perdesaan dan Perkotaan Menjadi Pajak Daerah Kabupaten/Kota ... 494

Latihan Soal ... 495

Bab 14 Pajak Daerah ... 499

Pendahuluan ... 499

Dasar Hukum ... 499

Pengertian Umum ... 500

Pajak Kendaraan Bermotor ... 503

Pengertian ... 503

Objek Pajak ... 503

Subjek Pajak ... 504

Dasar Pengenaan Pajak ... 504

Tarif Pajak ... 505

Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor ... 505

Tata Cara Pemungutan... 505

(18)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) xviii

Alokasi Pajak Kendaraan Bermotor... 506

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ... 506

Pengertian ... 506

Objek Pajak ... 506

Beberapa Hal Terkait Penyerahan Kendaraan Bermotor ... 506

Subjek Pajak ... 507

Dasar Pengenaan dan Tarif ... 507

Perhitungan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ... 507

Saat Terutang ... 507

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ... 508

Pengertian ... 508

Objek Pajak ... 508

Subjek Pajak ... 508

Pemungutan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ... 508

Beberapa Hal Terkait Pemungutan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor... 508

Dasar Pengenaan Pajak ... 509

Tarif Pajak ... 509

Pajak Air Permukaan ... 510

Pengertian ... 510

Objek Pajak ... 510

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 510

Subjek Pajak ... 510

Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif Pajak ... 510

Tarif Pajak ... 510

Pajak Rokok ... 511

Pengertian ... 511

Objek Pajak ... 511

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 512

Subjek Pajak ... 512

Tata Cara Pemungutan... 512

Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif Pajak ... 512

Tarif Pajak ... 512

Alokasi Pajak Rokok ... 513

Pajak Hotel ... 513

Pengertian ... 513

Objek Pajak ... 513

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 514

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 514

Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif Pajak ... 514

Pajak Restoran ... 514

Pengertian ... 514

Objek Pajak ... 514

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 515

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 515

Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif Pajak ... 515

Pajak Hiburan ... 515

Pengertian ... 515

Objek Pajak ... 515

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 516

(19)

Dasar Pengenaan Pajak dan Tarif Pajak ... 516

Tarif Pajak ... 516

Pajak Reklame ... 516

Pengertian ... 516

Objek Pajak ... 517

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 517

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 517

Dasar Pengenaan Pajak ... 517

Tarif Pajak ... 518

Pajak Penerangan Jalan ... 518

Pengertian ... 518

Objek Pajak ... 518

Dikecualikan dari objek Pajak ... 518

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 518

Dasar Pengenaan Pajak ... 519

Tarif Pajak ... 519

Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ... 519

Pengertian ... 519

Objek Pajak ... 519

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 520

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 521

Dasar pengenaan Pajak ... 521

Tarif Pajak ... 521

Pajak Parkir ... 521

Pengertian ... 521

Objek Pajak ... 522

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 522

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 522

Dasar Pengenaan Pajak ... 522

Tarif Pajak ... 522

Pajak Air Tanah ... 523

Pengertian ... 523

Objek Pajak ... 523

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 523

Dasar Pengenaan Pajak ... 523

Tarif Pajak ... 523

Pajak Sarang Burung Walet ... 524

Pengertian ... 524

Objek Pajak ... 524

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 524

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 524

Dasar Pengenaan Pajak ... 524

Tarif Pajak ... 524

Pajak Bumi dan Bangunan-Perkotaan dan Perdesaan ... 525

Pengertian ... 525

Objek Pajak ... 525

Dikecualikan dari Objek Pajak ... 525

Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ... 526

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 526

(20)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) xx

Dasar Pengenaan Pajak ... 526

Tarif Pajak ... 527

Saat dan Tempat Terutang ... 527

Pendaftaran, Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP), dan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) ... 527

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ... 528

Pengertian ... 528

Objek Pajak ... 528

Pengecualian dari Objek Pajak ... 529

Subjek Pajak dan Wajib Pajak ... 529

Dasar Pengenaan BPHTB ... 529

Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) ... 530

Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ... 530

Perhitungan BPHTB ... 530

Saat Terutang ... 532

Beberapa Hal Terkait dengan BPHTB ... 532

Bagi Hasil Pajak Provinsi ... 533

Latihan Soal ... 534

Bab 15 Bea Meterai ... 537

Dasar Hukum ... 537

Pengertian Umum ... 537

Objek Bea Meterai ... 537

Tarif Bea Meterai ... 538

Objek yang Tidak Dikenakan Bea Meterai ... 539

Saat Terutang Bea Meterai ... 540

Benda Meterai, Penggunaan, dan Cara Pelunasannya ... 541

Bentuk, Ukuran, dan Warna Benda Meterai ... 541

Penggunaan Meterai... 542

Cara Pelunasan Bea Meterai ... 543

Pelunasan Bea Meterai dengan Cara Pemeteraian Kemudian ... 543

Ketentuan Khusus ... 544

Ketentuan Pidana ... 544

Kedaluwarsa ... 544

Latihan Soal ... 545

(21)

Daftar Pustaka ... D-1 Indeks ... ... I-1 Lampiran (materi dapat diunduh di www.penerbitsalemba.com)

Lampiran 1 (Penetapan Organisasi dan Pejabat Perwakilan Organisasi) Lampiran 2 (Jenis Harta yang Termasuk dalam Kelompok Harta)

Lampiran 3 (Daftar Persentase Norma Penghitungan untuk Peredaran Usaha)

Lampiran 4 (PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah atas Penghasilan Pekerja pada Kategori Tertentu) Lampiran 5 (Formulir-Formulir Pajak)

Lampiran 5b

Lampiran 6 (Barang Hasil Pertanian yang Bersifat Strategis) Lampiran 7 (Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) Wajib Pajak

Lampiran 8 (Klasifikasi dan Penetapan NJOP sebagai Dasar Pengenaan PBB)

Lampiran 9 (Badan atau Perwakilan Organisasi Internasional yang Tidak Dikenakan BPHTB) Lampiran 10 (Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran)

Lampiran 11 (Daftar Impor Barang Tertentu yang Dikenakan PPh Pasal 22 Sebesar 7,5%) Lampiran 12 (Badan atau Perwakilan Lembaga Internasional yang Tidak Dikenakan PBB-P2) Lampiran 13 (Batasan Harga Jual Rumah Sederhana yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN) Lampiran 14 (Daftar Kendaraan Bermotor yang atas Penyerahan atau Impornya Dikenai PPnBM)

(22)

Perpajakan (Konsep, Aplikasi, Contoh, dan Studi Kasus) xxii

(23)

Definisi pajak menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani (dalam Brotodihardjo, 1993).

Pajak adalah iuran kepada negara (dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjukkan dan gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan.

Definisi pajak menurut S. I. Djajadiningrat (dalam Siahaan, 2010).

Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan ke kas negara yang disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara langsung, untuk memelihara negara secara umum.

Definisi pajak menurut Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan karakteristik pajak sebagai berikut.

1. Arus uang (bukan barang) dari rakyat ke kas negara.

2. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan).

3. Tidak ada timbal balik khusus atau kontraprestasi secara langsung yang dapat ditunjukkan.

4. Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran secara umum demi kemakmuran rakyat.

ASAS-ASAS PERPAJAKAN

Adam Smith (1776) dalam bukunya Wealth of Nations mengemukakan bahwa pajak yang baik harus memiliki karakteristik sebagai berikut.

1. Equity: It should be fair to different individuals and should reflect a person’s ability to pay.

2. Certainty: It should not be arbitrary, it should be certain.

3. Convenience: It should be convenient in terms of timing and payment.

4. Efficiency: It should be administratively efficient with a relatively small cost of collection as a proportion of the revenue raised. It should not cause economic distortion by affecting the behavior of taxpayers.

Prinsip-prinsip ini masih digunakan sampai saat ini dalam sistem perpajakan modern. Tiga prinsip utama perpajakan adalah:

1. Efficiency

Pemungutan pajak harus mudah dan murah dalam penagihannya, sehingga hasil pemungutan pajak lebih besar dari biaya pemungutannya.

2. Equity

Pemungutan pajak harus adil di antara satu Wajib Pajak dengan Wajib Pajak lainnya. Pajak dikenakan

kepada Wajib Pajak harus sebanding dengan kemampuannya untuk membayar pajak tersebut dan

manfaat yang diterimanya.

(24)

Bab 1 • Dasar-Dasar Perpajakan 3

3. Economic effects must be considered

Pajak yang dikumpulkan dapat memengaruhi kehidupan ekonomis Wajib Pajak. Hal ini harus dipertimbangkan ketika merumuskan kebijakan perpajakan. Pajak yang dikumpulkan jangan sampai membuat seseorang melarat atau mengganggu kelancaran produksi perusahaan.

JENIS PUNGUTAN SELAIN PAJAK

Berdasarkan undang-undang dan aturan pelaksanaan, ada beberapa pungutan lain yang dipungut oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pungutan tersebut antara lain:

1. Retribusi

Retribusi adalah pembayaran rakyat untuk negara sehubungan dengan penggunaan atau pemanfaatan jasa-jasa yang disediakan oleh negara. Pembayar retribusi menerima kontraprestasi secara langsung dari negara. Retribusi lebih banyak diberlakukan di pemerintah daerah.

Retribusi terdiri atas 3 golongan, yaitu:

a. Retribusi Jasa Umum, yaitu retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah (Pemda) untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

b. Retribusi Jasa Usaha, yaitu retribusi atas jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta.

c. Retribusi Perizinan Tertentu, yaitu retribusi atas kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.

2. Sumbangan

Sumbangan adalah pembayaran dari golongan rakyat tertentu kepada negara. Sumbangan kontraprestasinya dapat ditunjukkan secara langsung kepada golongan tertentu tersebut.

KEDUDUKAN HUKUM PAJAK

Kedudukan hukum pajak dengan hukum lainnya dapat digambarkan dalam diagram berikut.

Hukum Perdata

Hukum Publik

- Hukum Tata Negara - Hukum Administrasi - Hukum Pajak - Hukum Pidana Hukum

(25)

Diagram di atas menunjukkan bahwa hukum dibagi menjadi dua, yaitu hukum perdata dan hukum publik. Hukum perdata dapat dibagi menjadi hukum perorangan, hukum keluarga, hukum warisan, dan hukum harta kekayaan. Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara penguasa dengan warganya. Hukum publik terdiri dari hukum tata negara, hukum administrasi, hukum pajak, dan hukum pidana. Hukum pajak bagian dari hukum publik, yang mengatur hubungan antara sebagai pemungut pajak dengan rakyat sebagai pembayar pajak. Hukum pajak menerangkan tentang: siapa-siapa yang menjadi Wajib Pajak dan apa yang menjadi kewajiban mereka kepada pemerintah, hak-hak pemerintah, objek-objek apa yang dikenakan pajak, timbulnya dan hapusnya utang pajak, cara penagihan, dan cara mengajukan keberatan.

FUNGSI PAJAK

Ada dua fungsi pajak, yaitu:

1. Fungsi Budgetair

Pajak memberikan sumbangan terbesar dalam penerimaan negara, kurang lebih 60–70 persen penerimaan pajak memenuhi postur APBN. Oleh karena itu, pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan.

Contoh: penerimaan pajak sebagai salah satu sumber penerimaan APBN.

2. Fungsi Mengatur (Regulerend)

Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur masyarakat atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.

Contoh:

a. Memberikan insentif pajak (tax holiday) untuk mendorong peningkatan investasi di dalam negeri.

b. Pengenaan pajak yang tinggi terhadap minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras.

c. Pengenaan tarif pajak nol persen atas ekspor untuk mendorong peningkatan ekspor produk dalam negeri.

TEORI YANG MENDUKUNG PEMUNGUTAN PAJAK

Beberapa teori (Brotodihardjo, 1993) yang memberikan pembenaran kepada negara untuk berhak memungut pajak dari rakyat.

1. Teori Asuransi

Negara bertugas melindungi orang dan/atau warganya dengan segala kepentingannya, yaitu keselamatan dan keamanan jiwa dan harta bendanya. Oleh sebab itu, pembayaran pajak dianggap atau disamakan dengan pembayaran premi karena mendapat jaminan perlindungan dari negara.

2. Teori Kepentingan

Teori ini menekankan pembebanan pajak pada penduduk seluruhnya harus didasarkan atas

kepentingan orang masing-masing dalam tugas negara/pemerintah (yang bermanfaat baginya),

termasuk juga perlindungan atas jiwa orang-orang itu serta harta bendanya. Pembayaran pajak

dihubungkan dengan kepentingan orang-orang tersebut terhadap negara, maka semakin besar

kepentingan seseorang terhadap negara, semakin besar pajak yang harus dibayar.

(26)

Bab 1 • Dasar-Dasar Perpajakan 5

3. Teori Daya Pikul

Teori daya pikul mengandung suatu kesimpulan bahwa dasar keadilan dalam pemungutan pajak adalah terletak pada jasa-jasa yang diberikan oleh negara kepada warganya, yaitu perlindungan atas jiwa dan harta bendanya. Untuk memenuhi kepentingan tersebut dibutuhkan adanya biaya yang harus dipikul oleh warga dalam bentuk pajak. Hal yang menjadi pokok pangkal teori ini adalah asas pajak, yaitu tekanan pajak itu haruslah sama beratnya untuk setiap orang. Pajak harus dibayar sesuai dengan daya pikul seseorang dan untuk mengukur daya pikul dapat dilihat dari penghasilan, kekayaan, dan besarnya pengeluaran seseorang dan memperhatikan besar kecilnya jumlah tanggungan keluarga.

4. Teori Bakti

Teori ini didasarkan pada paham organisasi negara yang mengajarkan bahwa negara sebagai organisasi yang mempunyai tugas untuk menyelenggarakan kepentingan umum. Negara mempunyai hak mutlak untuk memungut pajak dan rakyat harus membayar pajak sebagai tanda baktinya terhadap negara. Dengan demikian, dasar hukum pajak terletak pada hubungan masyarakat dengan negara.

5. Teori Asas Daya Beli

Menurut teori ini, fungsi pemungutan pajak, yaitu mengambil daya beli dari rumah tangga masyarakat untuk rumah tangga negara, kemudian menyalurkan kembali ke masyarakat dengan maksud untuk memelihara kehidupan masyarakat dan untuk membawa ke arah tertentu, yaitu kesejahteraan. Jadi, penyelenggaraan kepentingan masyarakat inilah yang dianggap sebagai dasar keadilan pemungutan pajak, bukan kepentingan individu, bukan pula kepentingan negara, melainkan kepentingan- kepentingan masyarakat yang meliputi keduanya.

JENIS-JENIS PAJAK

Jenis pajak dikelompokkan ke dalam 3 bagian.

1. Pajak Menurut Golongannya

a. Pajak Langsung, yaitu pajak yang harus ditanggung sendiri oleh Wajib Pajak dan pembebanannya tidak dapat dilimpahkan kepada pihak lain.

Contoh: Pajak Penghasilan.

b. Pajak Tidak Langsung, yaitu pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain.

Contoh: Pajak Pertambahan Nilai.

2. Pajak Menurut Sifatnya

a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya dan selanjutnya dicari syarat objektifnya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.

Contoh: Pajak Penghasilan.

b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berdasarkan objeknya tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.

Contoh: Pajak Pertambahan Nilai.

3. Pajak Menurut Lembaga Pemungutnya

a. Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara.

Contoh:

Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

(27)

b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak daerah terdiri atas pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota.

• Pajak Provinsi, terdiri atas: Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Air Permukaan, dan Pajak Rokok.

• Pajak Kabupaten/Kota, terdiri atas: Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Mineral bukan Logam dan Batuan, Pajak Parkir, dan Pajak Air Tanah.

TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK Stelsel Pajak

a. Stelsel nyata (riel stelsel)

Menurut stelsel nyata, pengenaan pajak didasarkan pada objek atau penghasilan yang sesungguhnya diperoleh, sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Kelebihan stelsel ini adalah pajak yang dikenakan lebih realistis, sedangkan kekurangannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode (setelah penghasilan riil diketahui), padahal pemerintah membutuhkan penerimaan pajak untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran di sepanjang tahun.

b. Stelsel anggapan (fictive stelsel)

Menurut stelsel anggapan, pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun pajak berjalan. Kelebihan stelsel ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan tanpa harus menunggu pada akhir tahun, sehingga penerimaan pajak oleh pemerintah dapat diperoleh sepanjang tahun, sedangkan kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang sesungguhnya atau tidak realistis.

c. Stelsel campuran

Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung menggunakan stelsel anggapan, kemudian pada akhir tahun, besarnya pajak disesuaikan kembali berdasarkan stelsel nyata. Apabila jumlah pajak menurut stelsel nyata lebih besar daripada pajak menurut stelsel anggapan maka Wajib Pajak harus menambah. Sebaliknya, jumlah pajak menurut stelsel nyata lebih kecil daripada menurut stelsel anggapan, maka kelebihannya dapat dimintai kembali (restitusi) atau dikompensasi pada periode berikutnya.

Asas Pemungutan Pajak

Ada tiga asas yang digunakan dalam pemungutan pajak, yakni:

a. Asas domisili (asas tempat tinggal)

Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak berdasarkan tempat

tinggal atau yang bertempat tinggal di wilayahnya. Wajib Pajak yang bertempat tinggal di Indonesia

dikenakan pajak baik penghasilan yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

(28)

Bab 1 • Dasar-Dasar Perpajakan 7

b. Asas sumber

Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak. Wajib Pajak yang memperoleh penghasilan dari Indonesia dikenakan pajak di Indonesia tanpa memperhatikan wilayah tempat tinggal Wajib Pajak.

c. Asas kebangsaan

Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara. Pengenaan pajak diberlakukan kepada setiap orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.

Sistem Pemungutan Pajak

Sistem pemungutan pajak dibagi dalam tiga bagian berikut ini.

a. Official Assessment System

Sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak menurut perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Ciri-ciri Official Assessment System:

1) wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus;

2) Wajib Pajak bersifat pasif; dan

3) utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

b. Self Assessment System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang. Wajib Pajak menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.

c. With Holding System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

TIMBULNYA UTANG PAJAK

Terdapat dua ajaran yang mengatur timbulnya utang pajak.

1. Ajaran materiil

Utang pajak timbul karena adanya undang-undang dan adanya sesuatu yang menyebabkan, yaitu rangkaian peristiwa atau keadaan yang dapat menimbulkan utang pajak.

2. Ajaran formil

Utang pajak timbul karena adanya surat ketetapan pajak oleh fiskus. Ajaran ini tidak melihat tentang adanya sesuatu yang menyebabkan, yaitu rangkaian peristiwa atau keadaan sebagai dasar yang menimbulkan utang pajak, tetapi tergantung pada adanya surat ketetapan pajak.

BERAKHIRNYA UTANG PAJAK

Berakhirnya utang pajak dapat disebabkan beberapa hal berikut.

1. Pembayaran/pelunasan.

2. Kompensasi.

3. Penghapusan utang.

(29)

4. Kedaluwarsa.

5. Pembebasan.

PENGHINDARAN DAN PENGELAKAN PAJAK (TAX AVOIDANCE AND TAX EVASION)

Penyebab dari penghindaran dan pengelakan pajak (tax avoidance and tax evasion) meliputi tarif pajak yang terlalu tinggi, undang-undang yang tidak tepat, hukuman yang tidak memberikan efek jera, dan ketidakadilan yang nyata. Ketika situasi ini terjadi, penghindaran dan pengelakan pajak akan cenderung meningkat.

Pengelakan Pajak (Tax Evasion)

Pengelakan pajak (tax evasion) adalah manipulasi ilegal terhadap sistem perpajakan untuk mengelak dari pembayaran pajak. Tax evasion adalah pengabaian terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan yang disengaja untuk menghindari pembayaran pajak, misalnya pemalsuan pengembalian pajak.

Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Penghindaran pajak (tax avoidance) adalah perencanaan pajak yang dilakukan secara legal dengan cara mengecilkan objek pajak yang menjadi dasar pengenaan pajak yang masih sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

TARIF PAJAK

Tarif pajak merupakan angka atau persentase yang digunakan untuk menghitung jumlah pajak atau jumlah pajak yang terutang. Terdapat empat macam tarif pajak, yaitu:

Tarif Tetap

Tarif tetap, yaitu tarif dengan jumlah atau angka tetap berapa pun yang menjadi dasar pengenaan pajak, sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.

Contoh:

Dasar Pengenaan Pajak Tarif Pajak

Rp 1.000.000 Rp3.000

Rp10.000.000 Rp3.000

Rp20.000.000 Rp3.000

Rp50.000.000 Rp3.000

Misalnya, bea meterai untuk cek dan bilyet giro berapa pun jumlahnya dikenakan bea meterai yang sama,

yaitu sebesar Rp3.000.

(30)

Bab 1 • Dasar-Dasar Perpajakan 9

Tarif Sebanding (Proporsional)

Tarif sebanding (proporsional), yaitu tarif dengan persentase tetap berapa pun jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak, dan pajak yang harus dibayar selalu akan berubah secara proporsional sesuai dengan jumlah yang akan dikenakan.

Contoh:

Dasar Pengenaan Pajak Tarif Pajak Utang Pajak

Rp 1.000.000 10% Rp 100.000

Rp10.000.000 10% Rp1.000.000

Rp20.000.000 10% Rp2.000.000

Rp50.000.000 10% Rp5.000.000

Misalnya, PPN dengan tarif sepuluh persen dikenakan terhadap penyerahan suatu barang kena pajak.

Dengan jumlah dasar pengenaan pajak semakin besar dengan tarif persentase tetap akan menyebabkan jumlah utang pajak menjadi lebih besar.

Tarif Progresif

Tarif progresif, yaitu tarif dengan persentase yang semakin meningkat (naik) apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak meningkat.

Contoh: Tarif pajak untuk Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak

sampai dengan Rp50.000.000 5%

di atas Rp50.000.000–Rp250.000.000 15%

di atas Rp250.000.000–Rp500.000.000 25%

di atas Rp500.000.000 30%

Dilihat dari kenaikan tarif, tarif progresif dibagi menjadi beberapa tarif, yaitu:

a. Tarif Progresif Progresif

Kenaikan persentase pajaknya semakin besar.

b. Tarif Progresif Tetap

Kenaikan persentase pajaknya tetap.

c. Tarif Progresif Degresif

Kenaikan persentase pajaknya semakin menurun.

Tarif Degresif (Menurun)

Tarif degresif (menurun), yaitu tarif dengan persentase yang semakin turun apabila jumlah yang menjadi

dasar pengenaan pajak meningkat.

(31)

PROFESI KONSULTAN PAJAK Kebutuhan Jasa Konsultan Pajak

Sistem pemungutan pajak di Indonesia menganut Self Assessment System yang mengharuskan Wajib Pajak menghitung, memperhitungkan, menyetor, dan melaporkan sendiri jumlah pajak terutang. Untuk memenuhi ketentuan sistem seperti ini, Wajib Pajak dengan keterbatasan pengetahuan perpajakan terkadang mengalami kesulitan. Hal ini juga dipengaruhi oleh semakin dinamisnya perubahan peraturan perpajakan.

Oleh karena itu, dalam memenuhi kewajiban perpajakannya para Wajib Pajak sering menggunakan jasa konsultan pajak. Mereka yang berkiprah dalam profesi ini adalah para profesional yang memiliki pengalaman dan kecakapan lebih di bidang perpajakan. Sebagian besar dari mereka berkiprah di Kantor Konsultan Pajak.

Karier Konsultan Pajak

Saat ini, cukup banyak sarjana akuntansi dan perpajakan yang berprofesi sebagai konsultan pajak. Berkarier di profesi ini memiliki prospek yang menjanjikan karena sistem pemungutan pajak di Indonesia menganut

Self Assessment System.

Jumlah Wajib Pajak di Indonesia kurang lebih sekitar 26 juta Wajib Pajak (Badan dan Orang Pribadi).

Jumlah yang cukup besar ini menjadi lahan menarik bagi mereka yang berprofesi sebagai konsultan pajak.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111 Tahun 2014, konsultan pajak adalah seseorang yang memberikan jasa konsultasi perpajakan kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan. Setiap orang perseorangan yang akan menjadi konsultan pajak di Indonesia harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

1. Warga Negara Indonesia;

2. Bertempat tinggal di Indonesia;

3. Tidak terikat dengan pekerjaan atau jabatan pada Pemerintah/Negara dan/atau Badan Usaha Milik Negara/Daerah;

4. Berkelakuan baik yang dibuktikan dengan surat keterangan dari instansi yang berwenang;

5. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak;

6. Menjadi anggota pada satu Asosiasi Konsultan Pajak yang terdaftar di Direktorat Jenderal Pajak; dan 7. Memiliki Sertifikat Konsultan Pajak.

SUNSET POLICY

Sunset policy merupakan kebijakan pemberian fasilitas perpajakan dalam bentuk penghapusan sanksi

administrasi perpajakan berupa bunga untuk pajak penghasilan orang pribadi atau badan. Kebijakan

tersebut berdasarkan Pasal 37 A Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan

Tata Cara Perpajakan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007. Pada

tahun 2008, kebijakan ini sempat diterbitkan pemerintah dengan harapan orang yang menunggak pajak

bersedia melunasi kewajibannya tanpa takut dikenakan denda administratif berupa bunga sebesar 2

persen per bulan.

Referensi

Dokumen terkait

Lihat : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar

bagi BUMN/D dengan nama dalam bentuk apapun kecuali Wajib Pajak Bank dan Wajib Pajak Sewa Guna Usaha dengan hak opsi, adalah sebesar Pajak Penghasilan yang

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 tentang perhitungan besarnya angsuran Pajak Penghasilan (PPh) dalam tahun berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib

Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan No 255/PMK.05/2008 tentang Penghitungan besarnya angsuran Pajak Penghasilan dalam Tahun Pajak Berjalan yang Harus Dibayar Sendiri oleh

Apabila Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan disampaikan oleh Wajib Pajak orang pribadi pada bulan Februari 2010, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib

Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang menurut

Pajak Penghasilan PPh Pasal 25 merupakan ketentuan yang mengatur tentang besarnya angsuran buJanan pajak penghasilan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak dalam tahun pajak

Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER- 32/PJ/2010 tentang Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 25 Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu Besarnya Angsuran