• Tidak ada hasil yang ditemukan

Highlight Kegiatan dan Program. Ditjen PDN Kemendag RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Highlight Kegiatan dan Program. Ditjen PDN Kemendag RI"

Copied!
124
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

01

02

Sambutan

On Over View

03

Highlight

Program

A

Direktorat Logistik

dan Sarana Distribusi

a.1

Revitalisasi

Pasar Rakyat 2015

18

a.2

Pusat Distribusi Regional

24

a.3

Gerai Maritim

28

a.4

Sarana Pergudangan

34

B

Direktorat Dagang

Kecil dan UMKM

b.1

PPN & PPDN 2015

42

b.2

Pameran Sayur dan Buah

Lokal Mall to Mall 2015

48

b.3

Forum Dagang Produk

Dalam Negeri dan Temu

Usaha UMKM dengan

Ritel Modern

50

b.4

Gerakan Ayo Belanja

di Pasar Rakyat

54

b.5

Kegiatan Penguatan

Produk-produk

Dalam Negeri

56

Sambutan

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri

Kementerian Perdagangan RI

06

Agenda Kerja

(3)

04

Profil Pejabat

Profil Pejabat Direktorat Jenderal

Perdagangan Dalam Negeri

120

C

Direktorat Bina Usaha

Perdagangan

c.1

Sosialisasi dan

Penerapan Perdagangan

Melalui Sistem Elektronik

64

c.2

Kebijakan Ritel,

Distributor dan Agen

68

c.3

Pengawasan Usaha

Multi Level Marketing

72

c.4

Implementasi SIPO

76

c.5

Pendampingan

UKM Waralaba

80

D

Direktorat Bahan

Pokok dan Barang

Strategis

d.1

Strategi Kebijakan

dan Tindakan 2015

88

d.2

Stabilisasi Harga dan

Pengamanan Jelang Puasa

dan Lebaran 2015

92

d.3

Inspeksi Mendadak

Gudang Bahan

Kebutuhan Pokok

96

d.4

Permendag 21 Tahun

2015 Tentang Minyak

Goreng Wajib Kemasan

100

d.6

Depo Bapok Kita

106

E

Event Promosi

dan Sosialisasi

Program PDN

e.1

Forum Sosialisasi Kebijakan

Perdagangan Dalam

Negeri 2015

112

e.2

Launching Batik Sebagai

Seragam Dinas

116

e.3

Ragam Kegiatan

Kemendag Peringati

Hari Batik Nasional

117

e.4

Jakarta Fashion

Week 2015

117

e.5

Aksi Minum Jamu

untuk Negeri

118

e.6

Trade Expo

(4)
(5)

Sambutan

"Di tengah tantangan global

dan perdagangan dunia yang

semakin terbuka serta kondisi

perekonomian domestik

yang belum stabil, diperlukan

langkah-langkah strategis dan

peran serta sektor perdagangan

untuk memulihkan kondisi

tersebut"

(6)

Sambutan

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri

Kementerian Perdagangan RI

(7)

Assalamu’alaikum Wr. Wb., Salam Sejahtera bagi kita semua,

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkah-Nya yang dilimpahkan kepada negeri kita tercinta Indonesia.

Di tengah tantangan global dan perdagangan dunia yang semakin terbuka serta kondisi perekonomian domestik yang belum stabil, diperlukan langkah-langkah strategis dan peran serta sektor perdagangan untuk memulihkan kondisi tersebut.

Maka dari itu kami menyambut baik penyusunan buku “Highlight Program Perdagangan Dalam Negeri 2015” sebagai upaya untuk melihat kembali gerak langkah Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag RI sepanjang tahun 2015.

Apresiasi sebesar-besarnya kami berikan kepada jajaran Sekretariat Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri atas komitmen, kerja keras dan kreativitasnya untuk mewujudkan buku ini.

Besar harapan kami agar melalui buku ini kita bisa bersama-sama melakukan evaluasi, pembenahan, dan penyempurnaan semua hal yang telah dilakukan dalam rangka “Meningkatkan aktivitas perdagangan dalam negeri yang lebih efisien dan berkeadilan” yang telah menjadi arah kebijakan perdagangan dalam negeri sesuai dengan yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019.

Akhir kata, semoga hadirnya buku ini bisa menjadi penyemangat bagi kita semua untuk terus menerus melakukan upaya-upaya peningkatan efektivitas kebijakan yang bisa menunjang pengembangan perdagangan dalam negeri di masa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum wr wb Jakarta, 1 Desember 2015

(8)
(9)

On Over View

"Sejumlah agenda besar

Kementerian Perdagangan RI

dipaparkan dengan gamblang

pada Rapat Kerja Kementerian

Perdagangan RI Tahun 2015.

Seluruh kekuatan Kemendag

diajak untuk kerja keras,

memperkuat komitmen, dan

meningkatkan sinergi serta

koordinasi dengan semua

pemangku kepentingan

untuk mewujudkan target

dan sasaran strategis

pembangunan nasional di

sektor perdagangan yang kian

penuh tantangan ini"

(10)

02

Agenda Kerja Perdagangan

Dalam Negeri 2015

(11)

Sepanjang tahun 2015, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam

Negeri melakukan upaya-upaya pengembangan dan penguatan

perdagangan dalam negeri dengan menitikberatkan pada

pengembangan dan sistem distribusi nasional dan penguatan

kelembagaan perdagangan. Hal ini dilakukan dalam rangka

memperkuat daya saing produk-produk dalam negeri agar menjadi

raja di negeri sendiri dan mampu bersaing di pasar global.

R

aker Kementerian Perdagangan

2015 yang berlangsung dari 26-28 Januari mengambil tajuk “Strategi Merebut Pangsa Pasar Ekspor dan Memperkuat Pasar Dalam Negeri”. Raker dihadiri 350 orang. Mereka adalah para pejabat Eselon I, II dan III Kemendag, Kepala Dinas Perdagangan dan Industri (Kadisperindag) dari seluruh Indonesia, para Atase Perdagangan Luar Negeri RI di berbagai negara, Dubes WTO, dan juga Kepala Indonesian Trade and Promotion Center (ITPC).

Sesuai dengan tema Raker, yaitu “Strategi Merebut Pangsa Pasar Ekspor dan Memperkuat Pasar Dalam Negeri”, Kemendag mencanangkan tiga kebijakan utama Kemendag RI selama lima tahun ke depan. Ketiga kebijakan itu adalah peningkatan ekspor non migas sebanyak tiga kali lipat, penguatan pasar dalam negeri dan pengamanan pasar dalam negeri dan perlindungan industri dalam negeri. Beragam tantangan dan peluang perdagangan sudah menghadang di tengah jalan, baik secara nasional, regional maupun internasional. Peningkatan dan penguatan daya saing pasar domestik, isu persaingan global terkait dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 dan berbagai kesepakatan internasional lainnya, serta berbagai isu tantangan pembangunan

perdagangan nasional masih menyisakan tumpukan ‘pekerjaan rumah’ yang harus dituntaskan dengan cepat dan tepat. Kemendag mengerahkan seluruh kekuatan Kemendag RI untuk memperkuat

sinergi, menguatkan komitmen, serta meningkatkan koordinasi semua

pemangku kepentingan demi mewujudkan target dan sasaran strategis pembangunan nasional di sektor perdagangan, sesuai Rencana Strategis Kemendag dan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 - 2019.

Strategi dan Kebijakan

Perdagangan Dalam Negeri

Perdagangan dalam negeri pada tahun 2015 ini mendapatkan perhatian yang cukup signifikan dari pemerintah, yakni melalui kebijakan penguatan pasar dalam negeri dengan tiga target utama. Yakni, 1) Mendukung Target Inflasi <5%, 2) Peningkatan Konsumsi Produksi Dalam Negeri sebesar 93,5% dari Nilai Konsumsi Rumah Tangga pada tahun 2019, 3) Penurunan Impor Barang Konsumsi. Guna mendukung target inflasi < 5% di tahun tersebut Ditjen PDN melakukan berbagai upaya stabilisasi harga barang kebutuhan pokok dengan target fluktuasi harga 5%-9% per tahun dan disparitas harga 1,5%-2,5% per tahun. Upaya ini

(12)

sangat penting karena stabilisasi harga barang kebutuhan pokok berperan penting dalam mendukung kedaulatan pangan dan pertumbuhan industry dalam negeri.

Adapun fokus Ditjen PDN dalam upaya stabilisasi harga barang kebutuhan pokok pada tahun 2015 ini adalah dengan melakukan pengelolaan distribusi dan logistik melalui beberapa program berikut ini: 1) Membangun atau revitalisasi 5.000 unit pasar rakyat; 2) Meningkatkan penggunaan produk dalam negeri sebesar 92,3% di tahun 2015; 3) Meningkatkan pemahaman konsumen; 4) Meningkatkan peran pelaku distribusi; 5) Meningkatkan koordinasi dan kerjasama; 6) Menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI); 7) Mengendalikan perizinan impor dan sejumlah terobosan lainnya.

Beberapa strategi terobosan yang akan dilakukan adalah optimalisasi pemanfaatan perdagangan berjangka komoditi, optimalisasi sistem

pengawasan pasokan dan harga barang kebutuhan pokok dan pengembang pola perdagangan baru berbasis elektronik (e-commerce).

Untuk mendukung penerapan strategi-strategi di atas agar dapat mencapai target tentu saja membutuhkan beberapa persyaratan. Beberapa diantaranya adalah : 1) Adanya perbaikan kesejahteraan petani melalui pemberian insentif berupa kemudahan akses pasar dan penetapan Harga Pokok Petani; 2) Peningkatan produksi dan keterjangkauan barang kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri; 3) Peningkatan infrastruktur terutama pengembangan angkutan massal

- Regulasi, Promosi, Fasilitasi, Penegak/Tertib Hukum, Kerjasama dan Advokasi

- Optimalisasi Potensi Ekonomi Domestik Sebagai Basis Kuat - Stabilisasi dan Ketersediaan Barang Kebutuhan Pokok

- Pengelolaan Impor dan Penegakan Hukum - Pengelolaan Distribusi

dan Logistik

- Revitalisasi Pasar Rakyat dan Penataan Toko Swalayan - Peningkatan Peran Pelaku

Distribusi

- Pemberdayaan UMKM Perdagangan

- Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri - Pengembangan Pola

Perdagangan Secara Elektronik

Penguatan Pasar Dalam Negeri

- Mendukung target inflasi <5% - Peningkatan konsumsi produksi dalam

negeri sebesar 93,5% dari nilai konsumsi rumah tangga pada tahun 2019

(13)

perkotaan dan transportasi penyebrangan antar pulau; 4) Terjaganya volatilitas nilai tukar rupiah; 5) Tingkat suku bunga pinjaman/kredit yang rendah.

Pengamanan Pasar Dalam Negeri

Kemendag RI berupaya keras mengamankan pasar domestik dan melindungi konsumen dari produk-produk impor yang berbahaya. Ditjen PDN selaku bagian dari Kementerian Perdagangan RI juga akan berupaya meningkatkan penggunaan produk dalam negeri sebesar 92,3% di tahun 2015, menekan impor produk-produk atau komoditas yang bisa diproduksi di dalam negeri, meningkatkan pemahaman konsumen, menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI), mengendalikan perizinan impor dan

mengoptimalkan sejumlah upaya strategis lain yang selama ini telah dijalankan.

Seperti kita ketahui, sampai saat ini Ditjen PDN pun masih terus melakukan pengelolaan dan pengawasan stabilitas harga dan persediaan pangan di dalam negeri, terutama pada kebutuhan-kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat.

Kemudian, untuk mendukung terciptanya pola konsumsi ideal yang menjadi pilar penting dalam kedaulatan pangan, selama beberapa tahun terakhir Kemendag RI aktif juga berperan serta dalam mengkampanyekan pentingnya diversifikasi pangan nasional melalui berbagai program dan kegiatan.

Itulah berbagai isu dan tema yang akan dipaparkan dalam buku HIGHLIGHT PDN 2014-2015 ini.

Kedaulatan Pangan Kemandirian

(14)
(15)

Highlight Program

- Direktorat

Logistik

dan Sarana Distribusi

- Direktorat Dagang Kecil

dan

UMKM

- Direktorat Bina Usaha

Perdagangan

- Direktorat Bahan Pokok

dan Barang Strategis

- Event Promosi dan

(16)
(17)

Direktorat Logistik

dan Sarana Distribusi

- Revitalisasi

Pasar Rakyat 2015

- Pusat Distribusi Regional

- Gerai

Maritim

(18)

03.A.1

Menuju Revitalisasi

5000 Unit Pasar Rakyat

(19)

Presiden Joko Widodo dalam Nawacita-nya mencanangkan program revitalisasi

1.000 pasar rakyat per tahun, atau sebanyak 5000 pasar rakyat selama lima

tahun ke depan. Untuk merealisasikan target tersebut, Pemerintah menerapkan

strategi Pemberdayaan Pasar Secara Terpadu dengan melibatkan beberapa

Kementerian/Lembaga, salah satunya adalah Kementerian Perdagangan.

P

asar Rakyat merupakan aspek vital

dalam sistem perdagangan nasional. Upaya-upaya untuk mempertahankan eksistensi pasar rakyat terus dilakukan oleh Kemendag RI. Selain melalui kebijakan dan peraturan pemerintah dalam rangka penataan dan pembinaan pasar rakyat dan pusat perbelanjaan dan toko modern, upaya tersebut juga dilakukan melalui rencana aksi dalam bentuk program dan kegiatan revitalisasi pasar rakyat di seluruh Indonesia.

Revitalisasi pasar rakyat selama beberapa tahun terakhir terus dilakukan oleh Kemendag RI di berbagai daerah bekerjasama dengan pemerintah-pemerintah kabupaten/kota. Kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing, memperbaiki fisik bangunan dan manajemen pengelolan pasar rakyat tersebut memiliki punya banyak manfaat, seperti menggeliatkan perekonomian rakyat, memudahkan akses masyarakat ke sumber ekonomi, serta

memperkuat basis ekonomi masyarakat daerah. Dalam lima tahun ke depan, Presiden Joko Widodo mencanangkan revitalisasi atau

pembangunan terhadap 5.000 pasar rakyat, atau

1000 pasar rakyat per tahun. Untuk merealisasikan target tersebut, Pemerintah menerapkan strategi Pemberdayaan Pasar Secara Terpadu, yaitu dengan menggerakkan program ini di berbagai Kementerian sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

Untuk mencapai target dimaksud, selama periode 2015-2019 Kemendag memproyeksikan pembangunan pasar rakyat Tipe A sebanyak 67 sampai 100 pasar pertahun dan Tipe B sebanyak 70-20 pasar per tahun. Selain Kemendag, kementerian lain yang dilibatkan antara lain; Kementerian Kelautan & Perikanan (KKP), Kementerian Koperasi & UKM (Kemenkop-UKM) dan Kementerian Pertanian (Kementan).

Kesemua kementerian tersebut selama ini

mempunyai sumber pendanaan dan jenis pasar yang sesuai dengan tupoksi masing-masing. Namun, untuk pembangunan fisik umumnya menjadi tugas Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koperasi dan UKM. Sedangkan untuk pemberdayaan baru dilakukan oleh Kementerian terkait lainnya. Adapun tugas penting Kementerian Perdagangan RI dalam prorgam revitalisasi 1000 pasar

(20)

BRI

Akses Pembiayaan

DANAMON

Pasar Sejahtera

(Sehat, Hijau, Bersih, Terawat)

ADIRA Sahabat Pasar

PRUDENTIAL

Program Financial Literacy Bagi Perempuan Mikro

UNILEVER

Program PHBS

(Perilaku Hidup Bersih Sehat)

KEMENDAG

Pasar Percontohan Pasar Tertib Ukur

-KEMENKES

Pasar Sehat

KEMENKOP & UKM

Koperasi Pasar 900 juta - 1 miliar

BPOM Pasar Aman dari Barang Berbahaya

PEMBERDAYAAN PASAR TERPADU

PEMERINT

AH

SWAST

A

Tugas Pembantuan APBN Pusat APBN Pusat PERSYARATAN UMUM a. Lokasi Pasar

b. Kebersihan dan Kesehatan c. Keamanan dan

Kenyamanan

PERSYARATAN TEKNIS a. Ruang Dagang b. Aksesibilitas dan Zonasi c. Pos Ukur Ulang dan Sidang Tera d. Fasilitas Umum e. Elemen Bangunan f. Keselamatan Dalam Bangunan g. Pencahayaan h. Sirkulasi Udara i. Drainase

j. Ketersediaan Air Bersih k. Pengelolaan Air Umbah I. Pengelolaan Sampah m. Sarana Telekomunikasi

PERSYARATAN PENGELOLAAN a. Prinsip Pengelolaan Pasar b. Tugas Pokok dan Fungsi

Pengelola Pasar c. Prosedur Kerja Pengelola

Pasar

d. Struktur Pengelola Pasar e. Pemberdayaan Pedagang f. Bangunan Pasar

PENERAPAN PERSYARATAN PADA KLASIFIKASI PASAR a. TIPE I (750 Pedagang) b. TIPE II (501 - 750 Pedagang) c. TIPE III (250 - 500 Pedagang) d. TIPE IV (< 250 Pedagang)

(21)

Sebaran

Pembangunan

Pasar Tahun

2015

SUMATERA BARAT 43 Pasar | 72,8 miliar ACEH 50 Pasar | 104,4 miliar SUMATERA UTARA 72 Pasar | 99,8 miliar RIAU 18 Pasar | 36,9 miliar JAMBI 23 Pasar | 38,4 miliar KEPULAUAN RIAU 4 Pasar | 9,2 miliar BANGKA BELITUNG 12 Pasar | 16,8 miliar JAWA BARAT 36 Pasar | 79,3 miliar JAWA TENGAH 50 Pasar | 179,3 miliar BALI 12 Pasar | 35,1 miliar NTB 19 Pasar | 50 miliar NTT 51 Pasar | 88,2 miliar GORONTALO 24 Pasar | 70,4 miliar SULAWESI UTARA 29 Pasar | 82,6 miliar MALUKU UTARA 19 Pasar | 68,3 miliar PAPUA 47 Pasar | 207,3 miliar DKI JAKARTA KALIMANTAN BARAT 25 Pasar | 51 miliar D.I. YOGYAKARTA 7 Pasar | 18,5 miliar JAWA TIMUR 71 Pasar | 91,4 miliar KALIMANTAN TENGAH 25 Pasar | 32,9 miliar KALIMANTAN SELATAN 71 Pasar | 91,4 miliar KALIMANTAN TIMUR 7 Pasar | 17,5 miliar KALIMANTAN UTARA 9 Pasar | 25,6 miliar SULAWESI BARAT 25 Pasar | 66,4 miliar SULAWESI SELATAN 61 Pasar | 181 miliar SULAWESI TENGAH 36 Pasar | 61,3 miliar SULAWESI TENGGARA 39 Pasar | 108,4 miliar MALUKU 18 Pasar | 63,7 miliar PAPUA BARAT 17 Pasar | 79,2 miliar BANTEN 7 Pasar | 19,2 miliar BENGKULU 21 Pasar | 32,8 miliar SUMATERA SELATAN 23 Pasar | 69,2 miliar LAMPUNG 29 Pasar | 73,8 miliar

rakyat per tahun adalah mengintegrasikan dan melakukan pendampingan semua program revitalisasi pasar rakyat dari seluruh kementerian tersebut agar mencapai target 1.000 pasar itu. Mekanisme pembiayaan revitalisasi/pembangunan pasar rakyat tersebut dilaksanakan melalui beberapa jalur pendanaan yang bersumber dari APBN dan APBN-P Kementerian Perdagangan RI.

Konsep Revitalisasi Pasar Rakyat

Program Revitalisasi Pasar Rakyat merupakan salah satu bentuk komitmen Kementerian Perdagangan RI untuk meningkatkan daya saing

pasar rakyat, meningkatkan kesejahteraan para pedagang melalui peningkatan omzet, mendukung kelancaran logistik dan distribusi bahan kebutuhan masyarakat dan mendorong terjadinya penguatan pasar dalam negeri di era persaingan global yang kian terbuka lebar.

Lokasi pembangunan atau revitalisasi pasar rakyat diprioritaskan atau diutamakan untuk pasar yang telah berumur lebih dari 25 tahun, pasar yang mengalami bencana kebakaran, pasca bencana alam, dan konflik sosial, daerah tertinggal, perbatasan, atau daerah yang minim sarana perdagangannya, serta daerah yang memiliki potensi perdagangan besar.

(22)

UNTUK mewujudkan pasar rakyat yang berdaya saing

dan memiliki citra positif di era persaingan dewasa ini, pada tahun 2015 Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri menggagas sebuah terobosan berupa kegiatan branding dan rebranding Pasar Rakyat. Kegiatan tersebut merupakan upaya penyeragaman/ standardisasi Pasar Rakyat di seluruh Indonesia dalam rangka menempatkan dan mengangkat citra/ image Pasar Rakyat yang ada agar setara dengan toko swalayan atau toko-toko modern. Salah satunya adalah dengan menerbitkan logo Pasar Rakyat yang memiliki standar nasional dalam penerapannya dalam berbagai media dan ruang di seluruh pasar rakyat yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia.

Pembuatan dan penetapan standar ini sangat penting untuk menjaga keseragaman dan

konsistensi penerapan dan penggunaan logo Pasar Rakyat. Tujuannya adalah agar logo tersebut dapat dimaknai secara tepat dan tetap oleh seluruh pemangku kepentingan, sehingga pesan yang disampaikan melalui logo juga akan konsisten, di mana hal tersebut akan mempermudah masyarakat untuk memahami entitas Pasar Rakyat secara berkelanjutan.

Dalam rangka menunjang terciptanya konsistensi itu, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI telah membuat dan menerbitkan Buku Panduan Penggunaan Logo Pasar Rakyat.

Buku tersebut berisi petunjuk praktis tentang teknis penggunaan atau aplikasi logo Pasar Rakyat, baik logo utama maupun logo turunan dalam berbagai elemen branding, baik pada unsur bangunan

(eksterior dan interior), kemasan produk yang dijual di pasar rakyat, berbagai fasilitas pasar rakyat yang ada maupun dalam setiap materi publikasi dan sosialisasi kegiatan pasar rakyat.

Mengangkat

Citra, Mendorong

Daya Saing

BRANDING PASAR RAKYAT

Tujuan dari revitalisasi pasar rakyat adalah guna meningkatkan pendapatan para pedagang juga pelaku-pelaku ekonomi yang ada di masyarakat. Selain itu juga untuk memudahkan akses transaksi jual beli dengan nyaman.

Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, maka revitalisasi pasar rakyat yang dilakukan oleh Kemendag RI bukan hanya dari sisi perbaikan fisik saja, melainkan juga dari sisi ekonomi, sosial budaya dan manajemen. Selain itu, Kemendag RI juga menganjurkan kepada para pemerintah daerah yang tengah membangun dan merevitalisasi pasar-pasar rakyatnya untuk merujuk pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 8152:2015 yang telah ditetapkan untuk Pasar Rakyat. Melalui terobosan-terobosan tersebut pemerintah berharap manfaat revitalisasi langsung bisa

dirasakan oleh masyarakat luas, terutama guna mendukung basis ekonomi daerah. Maka dari itu, pasar-pasar rakyat yang telah direvitalisasi diharapkan dapat dijadikan model oleh pemerintah-pemerintah daerah dalam pembangunan dan pengembangan pasar rakyat lain di masa yang akan datang.

Rencananya, guna mengoptimalisasikan

program dan kegiatan revitalisasi pasar rakyat ini Kemendag akan menganggarkan dana mencapai 1,7 triliun rupiah, pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 mendatang. Adapun agenda strategis dari revitalisasi pasar rakyat ke depan adalah meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk domestik. Yakni, dalam rangka mengatasi krisis ekonomi melalui pengurangan produk impor.

(23)

Buku tersebut diharapkan bisa menjadi sarana untuk memperkuat sinergi antara berbagai pemangku kepentingan, seluruh pemerintah daerah, dinas-dinas terkait dan juga para pengelola pasar rakyat dalam rangka rangka membangun daya saing dan memperkuat citra Pasar Rakyat di era persaingan global saat ini.

Ke depan, kegiatan kegiatan branding dan rebranding pasar rakyat ini akan terus menjadi bagian penting dari kegiatan revitalisasi pasar rakyat yang dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Perdagangan RI dan lembaga-lembaga pemerintah terkait lainnya. Sebab, branding dan rebranding ini sangat penting untuk mendorong daya saing pasar rakyat di berbagai daerah.

Melalui kegiatan branding ini pasar rakyat diharapkan menjadi sarana perdagangan yang makin diminati oleh masyarakat luas dan bisa meningkatkan kehidupan para pedagang serta para pekerja non formal yang terlibat di dalamnya. Dengan begitu, pasar rakyat nantinya akan menjadi pilar kekuatan perdagangan dalam negeri yang bisa terus menopang dan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional.

Realisasi Dana Pembangunan/Revitalisasi Pasar Rakyat Tahun 2015

Data Per September 2015

Tipe Pasar Jumlah Biaya Jenis Anggaran

A dan B 182 unit 1.362.000.000 Dana Tugas Pembantuan Kemendag RI

C dan D 770 unit 946.000.000 Dana Alokasi Khusus

C dan D 65 unit 78.000.000 Kemenkop & UKM

Total Jumlah 1017 unit 2.386.000.000

Tipe B :

- Luas lahan minimal 2.000 m2 - Jumlah pedagang minimal 150 orang - Operasional minimal 3 kali seminggu Tipe A :

- Luas lahan minimal 5.000 m2 - Jumlah pedagang minimal 750 orang - Operasional pasar harian Tipe C :

- Luas lahan minimal 500 m2 - Jumlah pedagang minimal 50 orang - Operasional minimal 2 kali seminggu Tipe D :

- Luas lahan minimal 500 m2

- Jumlah pedagang minimal 50 orang - Operasional minimal 1 kali seminggu

(24)

Dukung MP3EI dan Sislognas

Memperkuat Integrasi Pasar

Dalam Negeri

PUSAT DISTRIBUSI REGIONAL

(25)

S

alah satu tujuan yang hendak dicapai dalam pembangunan sektor perdagangan 2015-2019 adalah pengintegrasian dan perluasan pasar dalam negeri. Sasaran yang hendak dicapai adalah meningkatnya kualitas dan kuantitas sarana distribusi dan logistik nasional di mana salah satu indikatornya adalah jumlah Pusat Distribusi Regional. Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut, selain melakukan revitalasi/pembangunan pasar rakyat, Kemendag RI juga memiliki program pembangunan Pusat Distribusi Regional (PDR) dengan target 2 unit per tahun di sejumlah lokasi potensial. Selain PDR, Kementerian Perdagangan juga membangun Pusat Distribusi Provinsi (PDP). Kriteria dari lokasi-lokasi yang potensial itu dilihat dari beberapa aspek berikut: jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen (bukan penghasil dan bukan daerah

produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat konsolidasi) dan distributor, berada pada wilayah dekat pelabuhan utama, dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi pusat perdagangan antarpulau.

Berdasarkan pada kriteria tersebut, Kemendag menentukan lokasi PDR sebagai berikut: • Pulau Sumatera di Kuala Tanjung Padang,

dan Palembang,

• Pulau Jawa di Jakarta, Semarang, dan Surabaya,

• Pulau Kalimantan di Banjarmasin, • Pulau Sulawesi di Bitung dan Makassar,

• Pulau Nusa Tenggara di Larantuka, • Pulau Papua di Sorong dan Jayapura. Pendirian PDR dan PDP ini mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 48/M-DAG/PER/8/2013 tentang Pedoman Pembangunan dan Pengelolaan Sarana Distribusi. Menurut peraturan ini, Pusat Distribusi adalah tempat yang berfungsi sebagai penyangga komoditas utama untuk menunjang kelancaran arus barang baik antar kabupaten dan kota maupun antar provinsi untuk tujuan pasar dalam negeri dan pasar luar negeri. Adapun yang dimaksud dengan Pusat Distribusi Regional adalah pusat distribusi yang berfungsi sebagai penyangga komoditas utama di beberapa kabupaten dan kota yang memiliki jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen, yang dapat bersifat kolektor, dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi pusat perdagangan antarpulau.

Pusat Distribusi Regional (PDR) juga merupakan salah satu subsistem jaringan yang pada dasarnya berfungsi sebagai penyokong bagi Pusat Distribusi Provinsi (PDP) yang berada di setiap provinsi dalam hal pemenuhan dan penyaluran kebutuhan maupun hasil produksi daerah.

Dengan pengertian-pengertian tersebut, maka pembangun Pusat Distribusi Regional oleh Kemendag ini juga mendukung implementasi Sistem Logistik Nasional (Sislognas) dan MP3I dalam konteks pengembangan koridor ekonomi Indonesia.

Pemerintah terus berupaya membenahi infrastruktur logistik dan

distribusi nasional dalam rangka meningkatkan daya saing pasar

domestik dan produk-produk dalam negeri. Salah satunya adalah dengan

mencanangkan pembangunan Pusat Distribusi Regional sebanyak 2 unit

per tahun di lokasi-lokasi potensial guna meningkatkan kualitas dan

kuantitas sarana distribusi dan logistik nasional.

(26)

PEMBANGUNAN PDR Bitung dilakukan guna

mendukung pembangunan koridor ekonomi Sulawesi, khususnya dalam pengembangan pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan. Selain itu, dengan rencana pengembangan Pelabuhan Bitung sebagai pelabuhan hub internasional, PDR Bitung akan berperan penting untuk mendukung posisi Indonesia dalam berhubungan dengan pasar global, khususnya Asia Timur.

Keberadaan PDR Bitung ini didukung oleh daerah-daerah produsen di sekitarnya, seperti Maluku, Sulawesi, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.

Daerah-daerah tersebut dapat menghasilkan berbagai komoditas unggulan semisal kentang, pala, minyak kelapa, kopra, ikan, dan rumput laut. Pasokan barang atau komoditas ke PDR Bitung berasal dari wilayah-wilayah produsen sekitar PDR, maupun dari wilayah-wilayah luar. Sebagai contoh, pasokan gula berasal dari Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa. Pasokan gula ini sebesar 4.000 ton/bulan (tahun 2013).

Dari wilayah Sulawesi Utara sendiri dapat

memasok perikanan dan CCO/kopra yang didukung oleh investasi untuk kedua komoditas tersebut. PDR Bitung berpotensi untuk dimanfaatkan untuk penyimpanan/penjualan kopra dari para petani. Contoh komoditas strategis yang dapat didistribusikan melalui PDR Bitung adalah semen dengan kebutuhan pada tahun 2013 sebesar 48.000 ton/bulan. Semen ini berasal dari Kalimantan Selatan, Makassar, dan Bogor.

Potensi Pusat

Distribusi Regional

Bitung

Arah Pengembangan ke Depan

Arahan Cetak Biru Sislognas: • Kuala Tanjung • Padang • Palembang • Jakarta • Semarang • Surabaya • Banjarmasin • Makassar • Bitung • Larantuka • Sorong • Jayapura

Arahan Cetak Biru Sislognas: Setiap provinsi memiliki Pusat Distribusi Provinsi, saat ini sedang dibangun di Kerom, Papua

Pengembangan dari Gudang Berikat, saat ini dalam proses revisi PP No.32 Tahun 2009 tentang Tempat Penimbunan Berikat Mendukung

Gerai Maritim dan Gerai Perbatasan Pembangunan Gudang Distribusi di daerah-daerah perbatasan Pembangunan Pusat Distribusi Regional Pembangunan Pusat Distribusi Provinsi Pembangunan Pusat Logistik Berikat

(27)

PUSAT Distribusi Regional Makassar diperlukan

untuk mendukung jalur perdagangan di wilayah Indonesia Timur, selain berpotensi sebagai penghubung dengan pasar global, khususnya Australia.

PDR Makassar didukung oleh daerah-daerah produsen di Sulawesi Tengah, yang mampu menghasilkan komoditas beras, jagung, kakao, bawang merah, cabai, jeruk besar, kentang, dan berbagai produk dari industri pengolahan buah-buahan.

PDR Makassar terletak di Kawasan Industri Makassar (KIMA). Lokasi ini cukup strategis dilihat dari aksesibilitas ke/dari Pelabuhan Laut Soekarno Hatta dan Pelabuhan Udara Hasanuddin, maupun ke/dari Kota Makassar. Bangunan PDRterdiri atas

gudang, cold storage, perkantoran, laboratorium, guest house, sarana ibadah, dan area parkir. Infrastruktur transportasi PDR Makassar cukup memadai, baik infrastruktur transportasi laut (pelabuhan), maupun infrastruktur transportasi darat dengan tersedianya jalan tol.Dengan lokasinya yang strategis, PDR Makassar berpotensi mendukung jalur perdagangan untuk wilayah Indonesia Timur maupun untuk berhubungan dengan pasar global, seperti Australia.

PDR Makassar berpotensi melayani kebutuhan bahan pokok dan strategis untuk beberapa wilayah, yaitu: Kota Makassar dan sekitarnya. Bahkan, untuk komoditas beras, misalnya, distribusi dilakukan ke 21 provinsi lainnya.

Dengan posisinya yang strategis, PDR Bitung berpotensi melayani kebutuhan bahan pokok dan strategis untuk beberapa wilayah, yaitu: Kota Bitung dan sekitarnya, Pulau-pulau kecil sekitar Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua.

Penetapan lokasi PDR Bitung memenuhi kriteria-kriteria penempatan Pusat Distribusi Regional, mencakup jumlah penduduk, aksesibilitas, daerah konsumen (bukan penghasil dan bukan daerah produsen), dapat berfungsi sebagai kolektor (pusat konsolidasi) dan distributor, berada pada wilayah dekat Pelabuhan Utama, dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi pusat perdagangan antarpulau.

PDR Bitung berpotensi untuk maju dan berkembang karena didukung oleh Infrastruktur di wilayah PDR Bitung yang cukup memadai, baik infrastruktur transportasi laut (pelabuhan), maupun infrastruktur transportasi darat (jalan raya).

(28)

Lancarkan Distribusi Bahan Pokok

dan Barang Penting Antarpulau

Menekan Disparitas Harga

Antardaerah

GERAI MARITIM

(29)

I

ndonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Terdiri dari belasan ribu pulau dan antar pulau satu dengan pulau lainnya dipisahkan oleh lautan yang luasnya mencapai 2/3 dari total luas wilayah negeri ini.

Salah satu persoalan penting yang dihadapi oleh sektor perdagangan dalam negeri dengan kondisi geografis tersebut adalah masalah kelancaran distribusi barang antarpulau. Masalah inilah yang sering menjadi salah satu penyebab terjadinya disparitas harga yang terlalu besar antar berbagai daerah, terutama di wilayah timur dan wilayah terluar/ perbatasan Indonesia

Berangkat dari persoalan tersebut, tahun 2015 ini Kementerian Perdagangan RI meluncurkan program “Gerai Maritim”, yaitu sistem distribusi logistik yang terintegrasi dengan memanfaatkan jalur laut, untuk mendistribusikan barang kebutuhan pokok antar pulau. Program ini merupakan terobosan penguatan pasar dalam negeri untuk menjamin ketersediaan dan stabilisasi harga Barang kebutuhan pokok dan Barang

penting, serta memperkecil disparitas harga antarpulau yang saat ini rata-rata masih berkisar di angka 35%. Sebab, Kementerian Perdagangan RI memiliki target inflasi kurang dari 5%. Dan target itu harus didukung oleh stabilitas harga barang kebutuhan pokok dan barang penting dengan target fluktuasi harga kurang dari 9% per tahun dan disparitas harga kurang dari 13,5%.

Program Gerai Maritim juga diharapkan menjadi salah satu kontribusi Kemendag RI guna mendukung kebijakan Tol Laut Presiden Joko Widodo sesuai Pasal 23 Undang-Undang Nomor 7 tahun 2014 yang mengatur arah kebijakan perdagangan antarpulau. Tol Laut adalah gagasan Presiden Jokowi dalam rangka menjamin ketersediaan dan stabilisasi harga Barang kebutuhan pokok dan Barang penting dan mengurangi disparitas harga antardaerah. Konsep utama dari program Gerai Maritim ini adalah menjual barang-barang kebutuhan pokok penting dengan harga yang sama di 30 pelabuhan kecil kawasan Timur Indonesia. Dalam pelaksanaannya, Kemendag RI bekerja sama dengan instansi-instansi lain semisal Kementerian

Gerai Maritim merupakan sebuah sistem distribusi logistik bahan

pokok antar pulau yang terintegrasi melalui jalur laut. Tujuan strategis

Kementerian Perdagangan RI meluncurkan program ini adalah untuk

menjamin ketersediaan dan stabilisasi harga Barang Kebutuhan

Pokok dan Barang Penting di berbagai wilayah terpencil dan terluar

Indonesia, serta mengurangi disparitas harga antardaerah.

(30)

Pelabuhan Muat

Kapal Pelni

Pelabuhan Spoke Pelabuhan Spoke Pelabuhan Spoke Kapal Perintis Kapal Perintis Kapal Perintis Kapal Perintis Kapal Perintis Pelabuhan Spoke Pelabuhan Hub

Trayek Kapal Pelni Trayek Kapal Perintis

Gerai Maritim

Kementerian Perdagangan memfasilitasi pembukaan Gerai Maritim.

Gerai Maritim merupakan kerjasama Kemendag dan Toko Swalayan dengan biaya logistik/transportasi khusus/subsidi.

Perhubungan (Kemenhub), Pemerintah Daerah, PT. PELNI, serta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Ada dua cara yang ditempuh untuk merealisasikan konsep tersebut. Pertama, program gerai maritim mengoptimalkan kapal penumpang perintis yang telah beroperasi dan kapal-kapal barang perintis yang direncanakan akan segera dioperasikan oleh PT PELNI untuk melayani wilayah-wilayah terpencil dan terluar Indonesia.

Mekanismenya, pendistribusian barang akan dilakukan oleh kapal PT PELNI ke Pelabuhan Hub dan Pelabuhan Spoke untuk selanjutnya

didistribusikan kembali ke daerah-daerah terpencil dengan menggunakan kapal Perintis.

Kedua, mengkondisikan agar harga bisa ditekan

atau lebih murah dibandingkan harga pasar. Terkait hal itu, dalam program ini produsen akan menjual barang secara langsung kepada pemerintah dengan harga pabrik. Sebagai kompensasinya, mereka akan mendapat potongan biaya angkut sebesar 50%.

Konsep “Gerai Maritim” ini diharapkan mampu menekan biaya logistik nasional dan menjadi solusi dari permasalahan disparitas harga yang selama ini terjadi.

(31)

MENTERI Perhubungan (Menhub) Ignasius

Jonan bersama Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong meresmikan tiga jalur tol laut sebagai upaya meningkatkan pelayanan publik untuk angkutan barang. Peresmian itu dilakukan di Terminal Penumpang, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Dengan adanya tol laut ini, ketersediaan barang dan kebutuhan masyarakat di wilayah terluar, terpencil, dan sulit terjangkau diharapkan bisa terpenuhi. Selain itu, tol laut juga dimaksudkan untuk mengurangi disparitas harga antara wilayah Indonesia Bagian Timur dengan Indonesia bagian Barat.

Pengadaan tol laut ini dilakukan melalui skema Public Service Obligation (PSO) sebesar Rp257,9 miliar dengan enam unit kapal. Namun, sehubungan dengan keterbatasan waktu dan ketersediaan armada PT. Pelni (Persero), maka baru dioperasikan tiga unit kapal untuk tiga ruas trayek dengan nilai subsidi sebesar Rp30 miliar. Adapun ketiga susunan jaringan trayek tersebut adalah:

Menhub dan Mendag Resmikan Jalur Tol Laut

1. Kodo Trayek T-1: Tanjung Perak-Tual-Fak fak-Kaimana-Timika-Kaimana-Fak fak-Tual-Tanjung Perak. (Dioperasikan oleh KM. Caraka Jaya Niaga III-32).

2. Kode Trayek T-4: Tanjung Priok-Biak-Serui-Nabire-Wasior-Manokwari-Wasior-Nabire-Serui- Blak-Tanjung Priok. (Dioperasikan oleh KM. Caraka Jaya Niaga Ill-22).

3. Kode Trayek T-6: Tanjung Priok-Kijang-Natuna-Kijang-Tanjung Priok. (Dioperasikan oleh KM. Caraka Jaya Niaga III-4).

Adapun 3 trayek yang sudah direncanakan adalah: 1. Kode Trayek T-2 : Tanjung Perak-Saumlaki

(Maluku)-Dobo (Maluku)-Merauke (Papua)-Dobo-Suamlaki-Tanjung Perak

2. Kode Trayek T-3 : Tanjung Perak-Reo (Nusa Tenggara Timur)-Maumere (NTT)-Lewoleba Rote SabuWaingapu (NTT)-Sabu-Rote-Lewoleba-Maumere-Reo-Tanjung Perak

3. Kode Trayek T-5 : Tanjung Priok-Ternate (Maluku Utara)-Tobelo (Maluku Utara)-Babang (Maluku Utara)-Tobelo-Ternate-Tanjung Priok.

FOT

(32)

PELUNCURAN Pilot project Gerai Maritim

dilakukan oleh Menteri Perdagangan Rachmat Gobel di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat, 19 Juni 2015. Hadir dalam kesempatan itu Menteri Perhubungan (Menhub), Ignasius Jonan dan Direktur Utama PT Pelni, Sulistyo Wimbo Hardjito. Peluncuran atau kick off Gerai Maritim ditandai dengan pelepasan KM Gunung Dempo menuju Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Kapal KM Gunung Dempo merupakan merupakan kapal penumpang dan barang yang selama ini memiliki rute Jakarta-Jayapura. Adapun Serui merupakan daerah terpencil yang jarang didatangi kapal pengangkut barang.

Dalam peluncuran Gerai Maritim ini, KM Gunung Dempo mengangkut 13 kontainer (dry dan refrigerated container) barang kebutuhan pokok

terdiri atas beras, tepung terigu, gula, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan barang penting lainnya. Pilot Project Gerai Maritim tujuan Serui ini merupakan hasil sinergi antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, PT. PELNI dan Pemerintah Daerah Kabupaten

Kepulauan Yapen, Papua. Untuk pengadaan barang misalnya, Pilot Project Gerai Maritim ini didukung oleh Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) yang yang mendapat subsidi biaya pengangkutan dari pemerintah sebesar 55 persen per kontainer. Artinya, mereka hanya berkewajiban membayar 45 persen saja.

Sementara itu, Pemkab Kabupaten Kepulauan Yapen telah menyiapkan bangunan milik Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen dengan luas 40 x 9 meter di atas tanah seluas 400 m2

Pelepasan KM Gunung Dempo

dari Tanjung Priok Jakarta ke Serui Papua

(33)

Rapat-Rapat Koordinasi Pelaksanaan Gerai Maritim

SEBELUM peluncuran program Gerai Maritim

dilakukan, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag RI terlebih dahulu mengadakan sejumlah rapat koordinasi dengan instansi-instansi terkait. Salah satunya adalah melalui Rapat Koordinasi “Peningkatan Kelancaran Logistik Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Melalui Gerai Maritim” yang diselenggarakan di Hotel Santika, Bogor, Kamis (30/4).

Tujuan Rapat Koordinasi tersebut adalah menggalang seluruh sumber daya agar terwujud gerai maritim yang dapat menjual barang kebutuhan pokok dan barang penting dengan harga yang sama di 30 pelabuhan kecil kawasan Timur Indonesia yang dilalui 6 trayek kapal barang dan kapal penumpang perintis, baik melalui kapal PT PELNI maupun anggota Persatuan Pelayaran Niaga Indonesia (INSA).

Rapat Koordinasi tersebut dihadiri oleh kurang lebih 30 Kepala Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota di lokasi pelabuhan wilayah Timur dan terluar Indonesia dan 30 Pengusaha Lokal serta instansi terkait lain yaitu Kemenko Bidang Perekonomian, Kementerian Perhubungan, PT. PELNI, PT. BULOG, PT. Bhanda Ghara Reksa (BGR), PT. Sarinah, KADIN Indonesia, ALFI, dan APRINDO.

Sebelumnya Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina juga telah mengadakan rapat sepemahaman dengan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Capt. Boby R. Mamahit dan jajarannya,

Perwakilan dari PT. Pelni (Persero), Ketua Umum Indonesia National Shipowners Assosiation (INSA) Carmealita dan anggota, serta Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Modern Indonesia (APRINDO), di kantor Pusat Kemendag, Jakarta, Rabu (29/4).

Jenis Barang yang Didistribusikan di Gerai Maritim Serui 1 Gula Pasir 2 kontainer PT. Angel Product

2 Beras 1 kontainer PIBC

3 Tepung Terigu Segitiga Biru 1 kontainer PT. Bogasari 4 Indomie 1 kontainer PT. Indofood 5 Mie Sedap 1 kontainer PT. Wings Indonesia 6 Minyak Goreng Cemara 1 kontainer PT. Panca Nabati Perkasa 7 Minyak Goreng Bimoli 1 kontainer PT. Salim Ivomas Pratama 8 Minyak Goreng Tropical 1 kontainer PT. Matahari Putra Prima 9 Coca Cola Kaleng 1 kontainer PT. Matahari Putra Prima 10 Sembako 1 kontainer PT. Matahari Putra Prima 11 Telur Ayam 1 kontainer PT. POKPHAND 12 Daging Ayam 1 kontainer PT. POKPHAND

yang terletak di Kota Serui. Bangunan tersebut akan digunakan sebagai lokasi Gudang Gerai Maritim yang akan dikelola oleh salah satu anggota Aprindo, yaitu Hypermart.

Adapun penyaluran atau distribusi barang-barang ke masyarakat akan dilakukan oleh pengusaha lokal. Salah satunya oleh perusahaan daerah, PT Yapen

Mandiri Sejahtera. Dengan demikian, dari produsen akan langsung ke pengusaha lokal untuk menjualnya. Ke depan, pemerintah berharap peritel-peritel lain dapat berperan dalam operasional Gerai Maritim. Kemendag RI sangat terbuka untuk kerja sama dengan mereka, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan dalam manajemen stok.

(34)

Tantangan, Solusi

dan Kebijakan

SARANA PERGUDANGAN

(35)

S

ektor industri dan perdagangan di tanah air terus tumbuh dan berkembang. Kondisi ini tentu membutuhkan dukungan sarana pergudangan, baik dari segi jumlah yang harus memadahi maupun dari segi kualitas pengelolaan yang mumpuni. Sebab, ketersediaan gudang dan sistem pengelolaannya akan sangat mempengaruhi arus lalu lintas distribusi barang dan kinerja sistem logistik nasional secara keseluruhan. Hal itu terlihat dari posisi Indonesia dalam Global Logistic Performance Index yang dirilis oleh World Bank. Pada tahun 2014 lalu Indonesia berada pada urutan 53 dari 160 negara—masih berada di bawah Vietnam (urutan ke-48) dan Malaysia (urutan ke-25). Artinya, daya saing Indonesia di sektor kinerja logistik belum begitu baik. Memang ada peningkatan dibandingkan 2010 ketika Indonesia berada di urutan ke-75 dari 155 negara, tetapi pada tahun 2007, Indonesia sempat lebih baik berada di peringkat 43.

Ada beberapa pokok persoalan dalam masalah pergudangan yang dialami oleh sektor logistik nasional. Salah satunya adalah soal ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi suatu daerah dengan penambahan infrastruktur yang memadai, khususnya di bidang transportasi dan pergudangan. Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan RI, jumlah gudang swasta

dimiliki Indonesia ada sekitar 12.239 unit dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam hingga Papua. Jumlah ini masih sangat kurang dan membutuhkan penambahan seiring dengan terus berkembangnya dinamika perdagangan dan laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing daerah.

Fenomena ini terjadi karena banyak perusahaan yang lebih berfokus pada produksi, tidak pada penyiapan infrastruktur penyimpanan. Harus diakui bahwa pemerintah memiliki banyak keterbatasan untuk memenuhi sarana pergudangan yang dibutuhkan tersebut. Pemerintah tidak mungkin sendirian menutupi kekurangan yang ada mengingat begitu luasnya wilayah Indonesia, bahkan sebagian besar merupakan lautan. Karenanya, peran dan kontribusi sektor swasta pun sangat diharapkan oleh pemerintah.

Peran swasta dalam hal ini perusahaan jasa logistik jelas dapat berkontribusi memberi nilai plus bagi kinerja logistik nasional. Dalam hal pergudangan tentu harapan yang dikaitkan pada peran swasta adalah investasi di bidang pembangunan fisik pergudangan. Dalam kerangka itu, Pemerintah terus berupaya mendorong para pengusaha swasta untuk berinvestasi membangun gudang-gudang baru melalui berbagai kebijakan dan kemudahan perizinan.

Gudang merupakan salah satu sarana perdagangan untuk

mendorong kelancaran distribusi barang yang diperdagangkan di

dalam negeri maupun ke luar negeri. Kementerian Perdagangan RI

memiliki konsen untuk terus membenahi dan meningkatkan sistem

pergudangan nasional sesuai dengan tugas dan fungsinya. Yakni,

melalui berbagai kebijakan dan kegiatan pembinaan sumber daya

manusia sektor pergudangan di berbagai daerah.

(36)

Kepemilikan Modal Asing dalam investasi bidang pergudangan

di seluruh wilayah Indonesia maksimal 33%

Kepemilikan Modal Asing dalam investasi di bidang cold storage wilayah Sumatera, Jawa, dan

Bali maksimal 33%

Kepemilikan Modal Asing dalam investasi di bidang cold storage wilayah

Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua maksimal 67%

Perpres No. 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal untuk Pergudangan dan Distribusi

33%

67%

33%

67%

33%

67%

(37)

SELAIN masih kekurangan infrastruktur, kondisi

pergudangan di tanah air juga masih memiliki sejumlah masalah. Di antaranya adalah minimnya penerapan teknologi informasi warehouse management system (WMS). Sistem ini memungkinkan kecepatan perolehan data inventori di dalam gudang dan pemantauan bisa dilakukan secara daring (online) dan real time. Setidaknya ada empat poin terkait indikator kualitas pengelolaan dengan penerapan WMS, yaitu kecepatan, efisiensi, efektivitas, dan reliability yaitu keandalan informasi, komunikasi, dan eksekusi agar semua fungsi bekerja dengan baik. Empat poin tersebut menjadi penting mengingat pergudangan menyumbang 20-30% dari biaya logistik.

Untuk menjawab persoalan profesionalisme pengelolaan gudang ini, Kementerian Perdagangan

BIMBINGAN TEKNIS PELAKU USAHA PENYEDIA JASA PERGUDANGAN

Wujudkan Profesionalisme

Pengelolaan Gudang

RI melalui Direktorat Logistik dan Sarana Distribusi Ditjen Perdagangan Dalam Negeri aktif menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis bagi pelaku usaha pergudangan di berbagai daerah. Kegiatan-kegiatan tersebut selalu mendapatkan respon positif dari pelaku usaha. Hal itu terlihat dari hadirnya 50 orang perwakilan dari berbagai perusahaan se-Jabodetabek yang memiliki gudang, khususnya komoditi bahan pokok dan barang penting, pada acara Bimbingan Teknis Pelaku Usaha Penyedia Jasa Pergudangan di Hotel Mercure, Jakarta, pada 21 Mei 2015 lalu.

Bimtek tersebut diadakan sebagai upaya

meningkatkan pemahaman dan pengetahuan bagi para pelaku usaha penyedia jasa pergudangan mengenai kebijakan pemerintah terbaru tentang penataan dan pembinaan gudang serta pengelolaan pergudangan secara profesional.

(38)

Di penghujung awal tahun 2015, Kementerian Perdagangan RI menemukan adanya gudang beras yang melakukan penimbunan. Sebagai tindakan, gudang tersebut baru mendapat peringatan keras dan belum diberikan sanksi sebagai bentuk shock therapy bagi pemilik gudang nakal.

Menindaklanjuti temuan dan kejadian tersebut, pada awal Maret 2015 lalu Kementerian

Perdagangan RI menugaskan PT Sucofindo untuk mengaudit gudang beras di seluruh Indonesia yang jumlahnya mencapai 14.000 unit. Namun, untuk audit tersebut diperkirakan akan melebihi jumlah itu karena data yang dimiliki merupakan data indikatif.

Kegiatan audit yang meliputi pengecekan mulai dari isi gudang, jalur distribusi, dan siapa pemiliknya tersebut dikerjasamakan Kemendag

Audit Gudang Beras se-Indonesia

dengan PT Sucofindo. Dalam kegiatan ini Sucofindo mengecek ulang mana saja yang gudang Bulog dari total 15.550 gudang di Indonesia.

Langkah serupa juga dilakukan pada sistem pergudangan, terutama gudang-gudang beras milik swasta dan Perum Bulog. Audit dan verifikasi itu dalam rangka membenahi tata niaga dan pendistribusian beras. Selama ini banyak pihak yang bermain, sehingga harga beras melambung dan beras Perum Bulog tidak tepat sasaran. Audit dan verifikasi itu meliputi stok dan

kebutuhan beras secara nasional, distribusi, serta perdagangan beras dari hulu hingga hilir. Audit dan verifikasi itu dimulai pada masa menjelang panen dan pasca panen. Stok yang diaudit adalah stok di pedagang dan masyarakat untuk mendapatkan data indikatif stok beras di luar Bulog.

(39)

Kebijakan Pergudangan di Indonesia

Dalam Implementasi, Pengawasan dan Penegakan

BAGI sektor perdagangan, pergudangan

memiliki peran dan fungsi yang sangat signifikan, terutama dalam menunjang kelancaran distribusi barang di pasaran. Karena itu Kementerian Perdagangan terus berupaya membenahi kondisi dan sistem pergudangan di Indonesia dengan berbagai regulasi, kebijakan dan juga tindakan. Hal ini merupakan pelaksanaan dari amanat Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

Berkenaan dengan tugas dan fungsinya dalam masalah pergudangan ini, Kementerian Perdagangan juga telah mengeluarkan regulasi atau peraturan dalam rangka penataan dan

pembinaan pergudangan dalam rangka menjalankan amanat UU No 7/2014 Tentang Perdagangan. Regulasi tersebut berupa Permendag No.90 Tahun 2014 Tentang Penataan dan Pembinaan Gudang. Permendag pergudangan yang baru ini telah disosialisasikan ke Perwakilan dari Instansi Pemerintahan terkait, BUMN, Asosiasi,

pengusaha dalam berbagai kesempatan. Kegiatan Sosialisasi Permendag No.90 Tahun 2014 Tentang Penataan dan Pembinaan Gudang tersebut sangat penting dalam rangka menciptakan kepastian berusaha dan mendorong kelancaran distribusi barang yang diperdagangkan di dalam negeri dan ke luar negeri.

Tersedian ya

data gudang. Tersedian ya data st

ok barang terutama bar

ang kebutuhan po kok dan bar ang penting. Meningk atkan perlindungan konsumen. Meningk atkan barang dan/ atau jasa y ang diperdagangk an. MANFAAT Y ANG DIHARAPKAN LANDASAN HUKUM Undang-Undang No.7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan

(Pasal 12, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 29)

Perpres No.71 Tahun 2015 Tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Perpres No. 39 Tahun 2014 Tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal Permendag No. 90 Tahun 2014 Tentang Penataan dan Pembinaan Gudang

Kebijakan

Pergudangan

Memper mudah Pemerint ah dalam mengambil kebijak an y ang tepat dalam hal terjadi k

elangk aan barang k

ebutuhan pokok dan bar

ang penting. Meminimalisir terjadin ya penimbunan bar ang kebutuhan po kok dan bar ang penting oleh spekulan untuk tujuan mendapat kan keuntungan sebesar -besarnya. Meningk atkan stabilit as st ok dan har ga bar ang kebutuhan po kok dan bar ang penting. Menjamin kelancar an distribusi dan ketersediaan barang k ebutuhan pokok dan bar

ang penting.

MANFAAT Y ANG DIHARAPKAN

(40)
(41)

Direktorat Dagang Kecil

dan UMKM

- PPN & PPDN 2015

- Pameran Sayur dan Buah

Lokal Mall to Mall 2015

- Forum Dagang Produk Dalam

Negeri dan Temu Usaha

UMKM dengan Ritel Modern

- Gerakan Ayo Belanja

di Pasar Rakyat

- Kegiatan

Penguatan

Produk-produk Dalam Negeri

- Trading

House

(42)

Arena Promosi

Produk-Produk Kuliner

dan UKM Dalam Negeri

PPN & PPDN 2015

(43)

K

ementerian Perdagangan RI terus bekerja keras memperkuat pasar dalam negeri dengan meningkatkan kualitas dan daya saing produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dari 34 provinsi. Ada sekitar sekitar 22 ribu UMKM yang telah difasilitasi Kemendag untuk berperan serta dalam berbagai kegiatan. Salah satunya adalah melalui Pameran Pangan Nusa (PPN) dan Pameran Produk Dalam Negeri (PPDN).

Kedua pameran ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Kemendag RI untuk memfasilitasi upaya promosi aneka produk-produk kuliner dan industri UKM dalam negeri dari berbagai daerah.

Dari hasil beberapa kali penyelenggaran, kedua ajang ini makin menunjukan kelasnya sebagai ajang pameran bergengsi bagi para pelaku UKM di negeri ini. Aneka rupa produk-produk baru hasil karya para UKM dari berbagai daerah di Indonesia pun terus bermunculan di kedua kegiatan yang animo pengunjungnya terus meningkat dan meluas hingga dari luar negeri ini.

Hal itu terlihat dari meriahnya kegiatan Pameran Pangan Nusantara dan Pameran Produk Dalam Negeri (PPN-PPDN) 2015

di berbagai daerah dan PPN-PPDN tingkat nasional yang di selenggarakan di Jakarta, pada 5-8 November 2015.

Para peserta mengaku sangat bangga dan gembira bisa mengikuti acara ini. Sejumlah UMKM unggulan yang selama ini kesulitan meningkatkan akses pasar dan promosi dapat terfasilitasi, khususnya dalam

memperluas jejaring pemasaran. Kemendag RI mencatat, 30% peserta pameran sukses menjalin kemitraan dengan ritel atau toko modern sebagai penyuplai tetap.

Sepanjang pelaksanaan kedua ajang ini dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir, total transaksi yang tercatat sebesar Rp 14 miliar yang dihasilkan oleh 3.100 UMKM. Transaksi ritel UKM pada PPN-PPDN juga meningkat rata-rata 59% setiap tahun dengan pengunjung sebanyak 70-290 ribu orang selama empat hari pelaksanaan.

Kesemua prestasi dan potensi tersebut diyakini banyak pihak bisa mendorong peningkatan daya saing pelaku usaha sekaligus mempromosikan potensi daerah yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian daerah ke depan. Lebih dari itu, pameran seperti ini juga diharapkan mampu mencetak wirausahawan dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Peran dan manfaat Pameran Pangan Nusa (PPN) dan Pameran

Produk Dalam Negeri (PPDN) sebagai ajang promosi

produk-produk kuliner dan industri UKM dalam negeri makin terbukti. Total

transaksi selama sembilan tahun terakhir pelaksanaan PPN-PPDN

menembus Rp 14 miliar yang dihasilkan oleh 3.100 UMKM. Transaksi

ritel UKM pada PPN-PPDN juga meningkat rata-rata 59% setiap

tahun dengan pengunjung sebanyak 70-290 ribu orang selama

empat hari pelaksanaan.

(44)

Mei

31

03

Juni

Gorontalo

Agustus

13

16

(45)

Kemendag RI akan terus menjalankan program ini pada tahun-tahun mendatang. Harapannya, pameran-pameran ini ke depan bisa menaikkan taraf pelaku UMKM yang sebelumnya berskala mikro, meningkat menjadi kecil, yang kecil kemudian menjadi kelas menengah hingga menjadi mandiri.

PPN-PPDN juga diharapkan bisa semakin memperkuat program-program peningkatan daya saing UMKM yang telah dilakukan Kemendag, antara lain seperti legalitas UMKM melalui kepemilikan Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) untuk memudahkan akses pembiayaan; fasilitasi peningkatan akses pasar dan promosi melalui kemitraan dengan ritel modern, forum dagang, promosi dagang online, dan partisipasi pameran dalam negeri; serta bantuan sarana usaha pedagang mikro kecil.

Selain melalui kegiatan pameran, Kemendag RI juga melakukan upaya edukasi kepada para generasi muda agar lebih mencintai produk-produk dalam negeri. Kegiatan ini dilakukan di berbagai daerah, baik melalui media massa dan juga kegiatan-kegiatan edukasi di sekolah-sekolah bekerjasama dengan dinas pendidikan setempat.

September

12

15

Bukittinggi

Oktober

08

11

Jakarta

(46)

PENYELENGGARAAN rangkaian PPN & PPDN

2015 berlangsung sukses. Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2006 lalu, berbagai perbaikan dan inovasi terus dilakukan oleh jajaran Ditjen PDN sebagai penyelenggara PPN dan PPDNR. Pada tahun 2015 ini, agenda PPN dan PPDNR diselenggarakan secara safari dari mulai Gorontalo (31 Mei - 3 Juni 2015), Surakarta (5-8 Agustus 2015), Bukit Tinggi (12-15 September 2015), dan terakhir di Lapangan Monas, Jakarta, 8-11 Oktober 2015 sebagai puncak acaranya.

Pameran Pangan Nusa dan Pameran Produk Dalam Negeri regional yang berlangsung pada 31 Mei - 3 Juni 2015 di Gorontalo diikuti lebih dari 134 UKM, yang terdiri dari 65 UKM peserta Pameran Pangan Nusa (PPN) dan 69 UKM peserta Pameran

Produk Dalam Negeri (PPDNR). Tercatat, ada 9 Provinsi yang turut berpartisipasi, yakni Maluku Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Selain memamerkan produk, dalam kegiatan PPN dan PPDNR juga ada ajang lomba memasak untuk mendorong pengembangan produk kuliner nasional. Lomba memasak diikuti oleh 16 Kabupaten dan Kota. Kegiatan lainnya, di setiap lokasi kegiatan diadakan pula demo memasak dan hiburan rakyat.

Puncak Acara

Puncak Pameran Pangan Nusantara dan

Pameran Produk Dalam Negeri (PPN-PPDN) 2015

Makin Bergengsi dan Gairahkan

UKM Dalam Negeri

(47)

Transaksi PPN & PPDNR Makin Spektakuler

Produk-produk potensial yang dipamerkan

di ajang Pameran Pangan Nusa (PPN) & Pameran Produk Dalam Negeri Regional (PPDNR) makin beragam. Angka transaksi penjualan dari kedua ajang tersebut menunjukkan tren kenaikan yang cukup progresif. Bahkan, ada yang menyebutnya cukup fenomenal.

Tercatat, Pameran Pangan Nusa (PPN) 2007 yang hanya berlangsung 4 hari berhasil membukukan angka transaksi penjualan sebesar Rp1,408 miliar, alias meningkat 116,5% dari tahun sebelumnya. Lalu, pada tahun berikutnya angka tersebut naik lagi

sebesar sebesar 9% menjadi Rp1,77 miliar dengan jumlah pengunjung sebanyak 17.827. Kenaikan seperti itu terus berulang setiap tahunnya. Di tahun 2010 angka transaksi Pameran Pangan Nusa 2010 bahkan melejit menjadi Rp2,9 miliar. Angka ini melampaui target yang direncanakan di awal, yakni Rp2 miliar. Dan tahun-tahun berikutnya kenaikannya makin spektakuler setelah digabung dengan penyelenggaraannya bersamaan dengan Pameran Produk Dalam Negeri Nasional (PPDN). Hingga tahun 2015, kedua ajang tersebut meraih total transaksi sebesar Rp14 miliar yang dihasilkan oleh 3.100 UMKM.

tingkat nasional diselenggarakan di Jakarta, 5-8 November 2015. Acara dibuka secara resmi oleh Menteri Perdagangan RI Thomas Trikasih Lembong di Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (05/11/2015). Ikut mendampingi Mendag saat itu Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina serta Asisten Deputi Gubernur DKI Bidang Industri dan Perdagangan Merri Ernahani.

Pameran Pangan Nusa 2015 di Jakarta menyajikan berbagai pangan nusantara dan produk dalam negeri. Peserta yang terlibat ada 300 UKM dari 34 provinsi, termasuk UKM binaan dinas UKM provinsi DKI Jakarta, juga beberapa daerah. Sementara Kemendag RI sendiri, pada menyediakan 275 gerai untuk memperkenalkan produk dari 133 gerai Pameran Pangan Nusa dan 142 untuk produk dalam negeri unggulan daerah.

Daya Tarik Stand Tematik Kemendag

Dalam seluruh rangkaian penyelenggaran PPN dan PPDN 2015, Kemendag menggelar dua stand mini sebagai tematik dan etalase produk unggulan

Indonesia, pameran jamu, tematik kopi Indonesia. Pada penyelenggaraan Pameran Pangan Nusa dan Pameran Produk Dalam Negeri Tingkat Regional di Gorontalo ini, dua stan tematik ini sepanjang hari selama pelaksanaan selalu memikat para pengunjung pameran. Stand tersebut berisikan aneka produk, di antaranya buah dan sayur lokal, sambal nusantara, jamu tradisional khas nusantara serta produk-produk kreasi anak negeri.

Yang kedua adalah stan mini tematik untuk Produk Kreasi Anak Indonesia atau Pameran Produk Dalam Negeri. Isinya berupa produk-produk Indonesia yang sudah mendunia semisal produk spa Wangsa Jelita, Dowa Bag, Artistian New York,dan Sritex.

Selain menampilkan stand-stand tematik itu Kemendag juga memberikan space untuk area khusus batu akik. Tak ayal, lokasi ini juga menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi pembeli pada setiap ajang pameran berlangsung di beberapa daerah.

(48)

Membangun Citra,

Memperluas Pasar Buah

dan Sayur Lokal

Pameran Sayur dan Buah Lokal Mall to Mall 2015

(49)

T

ahun 2015 ternyata telah menjadi hari peringatan ke-8 untuk Hari Buah Internasional yang jatuh pada tiap tanggal 1 Juli. Bertepatan dengan momentum tersebut Kemendag menggelar Pameran Buah dan Sayur Lokal dari mall ke mall. Pameran ini bertajuk “Pameran Sayur dan Buah Lokal Mal to Mall 2015”. Pertamakali dilakukan di Mall Alam Sutera, Tangerang, Jumat (12/6). “Dinamakan ‘Mall to Mall’ karena pameran ini dilaksanakan secara safari di 15 pusat perbelanjaan di Jabodetabek.

Ke 15 pusat perbelanjaan besar di Jabodetabek tersebut adalah Mall Kelapa Gading, Mall Pondok Indah, Gandaria City, Cilandak Town Square, Senayan City, Tamini Square, Mall Puri Indah, Mall Kota Kasablanka, Mall Alam Sutera, Summarecon Mall Serpong, Bintaro Xchange Mall, Summarecon Mall Bekasi, Margo City, Depok Town Square, dan Metropolitan Mall.

Menurut rencana, penyelenggaraan pameran Mall to Mall akan dilakukan setiap tahun. Ada 3 tujuan utama diselenggarakannya kegiatan tersebut, yiatu; 1) Untuk memberikan akses pasar, meningkatkan

jejaring pemasaran, Promosi bagi produk-produk hortikultura petani Indonesia, sehingga pada akhirnya mampu menciptakan transaksi domestik.

2) Sebagai bentuk dari upaya meningkatkan konsumsi penggunaan produk dalam negeri, khususnya untuk produk-produk sayur dan buah hasil produksi dan budidaya petani Indonesia. 3) Untuk mengedukasi konsumen bahwa hasil

petani hortikultura Indonesia sehat, higienis serta aman untuk dikonsumsi, serta tidak kalah kualitasnya dengan produk-produk impor yang lebih dahulu beredar di pusat-pusat perbelanjaan dan mall tersebut.

Selain ketiga tujuan itu, pameran ini juga dimaksudkan untuk lebih mendekatkan hasil petani Indonesia kepada masyarakat kalangan menengah ke atas.

Kegiatan pameran Mall to Mall ini diselenggarakan atas kerjasama Kemendag dengan pusat

perbelanjaan atau mall. Hal ini merupakan langkah konkret dari kalangan pengusaha untuk mendukung upaya pengembangan produk dalam negeri melalui fasilitasi area promosi serta aktivitas Kemendag dalam mendukung, memfasilitasi, dan membina usaha mikro petani kecil agar tetap tumbuh dan berkembang. Adapun untuk pasokannya, Kemendag RI bekerjasama dengan Yayasan Kedaulatan Pangan Nasional Indonesia, Dirjen Hortikultura Kementan, LP Pangan, Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia, petani sayur dan buah dari Lembang-Cianjur-Sukabumi, Pasar Induk Kramatjati dan beberapa petani dari seluruh daerah, antara lain Lampung dan daerah-daerah lainnya.

Harapannya, kegiatan ini bisa menstimulasi petani dan memotivasi mereka agar terus berkarya dan meningkatkan produktivitasnya. Lebih dari itu, juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para petani dan juga berkontribusi nyata menyediakan lapangan kerja, membuka wirausahawan baru, dan juga menjadi basis ketahanan ekonomi rakyat sebagai upaya penguatan pasar dalam negeri.

Kementerian Perdagangan RI berkomitmen meningkatkan aktivitas

perdagangan produk sayur dan buah-buahan asli Indonesia di pasar domestik

dan juga mancanegara. Salah satunya melalui “Pameran Buah dan Sayur Lokal

Mall to Mall. Kegiatan ini merupakan terobosan untuk meningkatkan daya

saing komoditas petani lokal, sekaligus memperluas akses pasarnya di

tengah-tengah era persaingan yang makin ketat.

(50)

Upaya Memperluas

Jaringan Pemasaran

Produk-produk UMKM

Forum Dagang Produk Dalam Negeri

dan Temu Usaha UMKM dengan Ritel Modern

(51)

B

eberapa langkah yang ditempuh Kemendag RI untuk memperkuat pasar domestik adalah menerapkan regulasi kewajiban akses pasar dalam negeri dan kemitraan dengan UKM bagi pengusaha ritel modern, dan membudayakan membeli dan menggunakan produk dalam negeri. Guna mendukung langkah di atas, Kemendag RI mempunyai beberapa program kegiatan yang bertujuan untuk mendukung produk UMKM agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Salah satu kegiatan itu adalah penyelenggaraan Forum Dagang Dalam Negeri dan Temu Usaha UMKM Dengan Ritel Modern di sejumlah daerah. Melalui kegiatan Forum Dagang dan Temu Usaha UMKM dengan ritel modern diharapkan terjalin hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Artinya, melalui pertemuan tersebut bisa terjadi hubungan bisnis yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Maksud diselenggarakannya kegiatan di sejumlah daerah adalah agar Pemda memiliki pemahaman yang sama terhadap kebijakan-kebijakan dalam program ini, sehingga dapat memantau perkembangan kemitraan yang terjalin dari forum temu usaha tersebut.

Dalam setiap penyelenggaran, kegiatan ini selalu mendapat respon positif dari semua pihak terkait, terutama dari para pengusaha ritel modern. Bahkan, beberapa perwakilan mereka ikut terlibat aktif sebagai nara sumber sebagaimana yang terlihat dalam Forum Dagang Produk Dalam Negeri dan Temu Usaha UMKM dengan Ritel Modern di Auditorium Kementerian Perdagangan Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Kegiatan tersebut merupakan bagian acara pendukung Pameran Pangan Nusa Regional (PPNR) dan Pameran Produk Dalam Negeri Regional (PPDNR) yang diselenggarakan di Jakarta, 5-8 November 2015 lalu.

Tujuan dari acara Forum Dagang Produk Dalam Negeri dan Temu Usaha UMKM dengan Ritel Modern ini adalah untuk memperluas jejaring pemasaran produk UMKM dan membuka kesempatan bagi UMKM untuk menjalin kemitraan dengan Toko/Ritel Modern dan penyedia bahan baku produk UKM yang berasal dari daerah lain serta mempersiapkan para UMKM guna meningkatkan kemampuan daya saing ekonomi dalam menghadapi arus masuk produk luar negeri dalam memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir Desember 2015. Kegiatan tersebut diikuti oleh 210 peserta yang terbagi ke dalam 2 (dua) forum yaitu

Kemendag RI memiliki beberapa kegiatan pembinaan terhadap para

pelaku UMKM dalam negeri. Salah satunya adalah penyelenggaraan

Forum Dagang Dalam Negeri dan Temu Usaha UMKM Dengan Ritel

Modern di sejumlah daerah. Kegiatan ini merupakan upaya agar

para pelaku UMKM bisa menjalin kemitraan yang dapat memperluas

jaringan pemasaran khususnya dengan toko ritel modern.

(52)

Temu Usaha antara UMKM dan Ritel Modern diikuti 140 peserta yang terdiri dari UMKM Pangan dan Kerajinan/Craft di wilayah DKI Jakarta dan Forum Dagang Produk Dalam Negeri diikuti oleh 70 supplier dan buyer komoditi Hortikultura dari 12 provinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Sumatera Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Bangka Belitung, Bengkulu, dan Maluku).

Untuk memberikan pemahaman kepada UMKM agar dapat menjadi pemasok dan menjalin kemitraan dengan Ritel Modern, diberikan materi pembekalan oleh narasumber yaitu Ketua Aprindo Roy Mandey, Corporate Communications GM PT Transmart Carrefour Satria Hamid Ahmadi, Corporate Affair Director PT Sumber Alfaria Trijaya Yuli Hartono dan Ali Adam dari PT. Lulu Group Retail.

Sedangkan untuk kegiatan Forum Dagang, diperoleh total transaksi mencapai

Rp179.488.200.000 dengan total uang muka Rp7.832.485.000,- untuk komoditas beras, kopi, sapi, gula, cabe, buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, umbi-umbian, biji-bijian, serta rumput laut.

Disambut Antusias

Sebelum itu Temu Usaha UMKM dengan Ritel Modern juga telah diselenggarakan di RM. S. Rizki, Serang, Prov. Banten, pada (15/04/2015) silam. Acara yang terselenggara atas kerjasama Direktorat Dagang Kecil Menengah dan Produk Dalam Negeri, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten itu dihadiri para nara sumber/ pembicara dari PT. Trans Retail Indonesia

Dalam kegiatan temu usaha ini

UMKM berkesempatan mendapatkan

materi dari peritel modern seperti

Carrefour, Alfamart, dan Indomaret

tentang Kesiapan ritel modern untuk

menyediakan produk dalam negeri

paling sedikit 80%.

(53)

(Carrefour), PT. Matahari Putra Prima (Hypermart), PT. Indomarco Prismatama (Indomaret) , PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk., dan PT. Le Ollena (Success Story) sekaligus melibatkan para asesor/penilai dari ritel/toko modern nasional maupun lokal. Tak lama sebelum itu, di Semarang juga diselenggarakan Gelar Temu Usaha UMKM Pangan dengan Peritel Jawa Tengah. Kegiatan yang berlangsung dari 17-18 Maret 2015 ini difasilitasi oleh Direktorat Dagang Kecil Menengah dan Produk Dalam Negeri Kementrian Perdagangan RI bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah.

Tujuan kegiatan tersebut adalah mempertemukan pelaku UMKM dalam negeri dengan pelaku usaha

besar, peritel modern dan stakeholder melalui program edukasi, sosialisasi dan kemitraan secara konsisten dan berkelanjutan. Kegiatan ini diikuti oleh 80 orang UMKM yang terdiri dari 50 orang UMKM yang telah mendapatkan pendampingan UMKM tahun 2014 dan 30 orang UMKM pangan potensial.

Dalam kegiatan temu usaha ini UMKM berkesempatan mendapatkan materi dari peritel modern seperti PT. Trans Retail Indonesia (Carrefour), PT. Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart), dan PT. Indomarco Prismatama (Indomaret) tentang Kesiapan ritel modern untuk menyediakan produk dalam negeri paling sedikit 80% dan Bank Rakyat Indonesia tentang Akses pembiayaan perbankan kepada UMKM dalam meningkatkan daya saing produk UMKM.

(54)

Gairahkan Semangat Pedagang,

Hidupkan Ekonomi Kerakyatan

Gerakan Ayo Belanja di Pasar Rakyat

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memahami definisi, etiologi, dan cara mendiagnosis gagal ginjal kronik et causa glomerulonefritis yang disertai gastroenteritis serta mengetahui

Respon(R) dalam penelitian ini merupakan (R) yang menghasilkan karena selalu diulangi ketika timbul (D) yang sama, yang muncul dalam (S) yang sama, sehingga bisa

Peraturan Rektor Universitas Negeri Semarang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Pedoman Praktik Pengalaman Lapangan Bagi Mahasiswa Program Kependidikan Universitas Negeri

(1) Kepala Dinas wajib menyusun rencana strategis dengan mengacu pada RPJMD Kabupaten, mengimplementasikan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP),

Dalam data dua puluh lima ditemukan serpihan kata kategori numeralia yaitu “sapek ceng” muncul dalam percakapan dua orang siswa beretnis Tionghoa Kata tersebut

Jaminan Pembiayaan Askrindo Syariah akan menyertakan berkas PKS (Perjanjian kerja sama) yang mana ini akan di setujui oleh kedua belah pihak yang dikeluarkan oleh kantor

KONTRAK KRITIS SCM I DIBERI KESEMPATAN PERIODE TERTENTU (UJI COBA) PROGRES TIDAK TERCAPAI DALM UJI COBA/TERJADI KONTRAK KRITIS SCM II DIBERI KESEMPATAN PERIODE TERTENTU

Yang dimaksud dengan prinsip syariah, disebutkan dalam pasal 1 angka 13, yaitu “aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana