• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Use of Thidiazuron, 2, 4 D and Giberellin in Formation of Somatic embryo of Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz by in vitro culture

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "The Use of Thidiazuron, 2, 4 D and Giberellin in Formation of Somatic embryo of Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz by in vitro culture"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

DALAM PEMBENTUKAN EMBRIO SOMATIK

PULE PANDAK (

Rauvolfia serpentina

(L.) Benth. ex Kurz)

MELALUI KULTUR

IN VITRO

HERU SUGITO

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Penggunaan Thidiazuron, 2, 4 – D

dan Giberellin dalam Pembentukan Embrio somatik pule pandak (

Rauvolfia

serpentina

(L.) Benth. ex Kurz) Melalui Kultur

In vitro

adalah karya saya sendiri

dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber

informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak

diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam

Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Maret 2006

Heru Sugito

NRP.E 051040245

(3)

HERU SUGITO. Penggunaan Thidiazuron, 2, 4 – D dan Giberellin dalam

Pembentukan Embrio somatik Pule pandak (

Rauvolfia serpentina

(L.) Benth. ex

Kurz) Melalui Kultur

In vitro

. Dibimbing oleh YANTO SANTOSA dan EDHI

SANDRA.

Pule pandak (

Rauvolfia serpentina

(L.) Benth. ex Kurz salah satu spesies

tumbuhan hutan tropika yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat. Untuk dapat

mengimbangi tingkat permintaan bahan baku simplisia dan menyelamatkannya dari

kepunahan, perlu dilakukan kegiatan konservasi, salah satu upayanya adalah melalui

kultur

in vitro

dengan pembentukan embrio somatik. Aplikasi embrio somatik

disamping untuk perbanyakan cepat, juga dapat dihasilkan jumlah bibit yang

banyak, dan juga untuk mendukung program perbaikan tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis terbaik kombinasi

thidiazuron + 2, 4 – D dan kombinasi thidiazuron + giberellin. Penelitian terdiri dari

2 percobaan. I. Percobaan faktorial dalam pola rancangan acak lengkap, yang

terdiri dari 2 faktor, pertama adalah konsentrasi thidiazuron yang terdiri dari 4 taraf,

yaitu 0 ppm (T

0

), 2 ppm (T

1

), 4 ppm (T

2

), 6 ppm (T

3

), 8 ppm (T

4

), kedua adalah

konsentrasi 2, 4 – D yang terdiri dari 4 taraf, yaitu 0 ppm (D

0

), 0.5 ppm (D

1

), 1 ppm

(D

2

), 1.5 ppm (D

3

), 2 ppm (D

4

), Percobaan II. Percobaan faktorial dalam pola

rancangan acak lengkap, yang terdiri dari 2 faktor, pertama adalah konsentrasi

thidiazuron yang terdiri dari 4 taraf, yaitu 0 ppm (T

0

), 2 ppm (T

1

), 4 ppm (T

2

), 6 ppm

(T

3

), 8 ppm (T

4

), kedua adalah konsentrasi gibberelin yang terdiri dari 4 taraf, yaitu

0 ppm (G

0

), 0.5 ppm (G

1

), 1 ppm (G

2

), 1.5 ppm (G

3

), 2 ppm (G

4

).

Hasil analisis statistik non parametrik Kruskal – Wallis terhadap skor kalus

pada 14 Hari Setelah Inisiasi (HSI) tidak terdapat perbedaan antar perlakuan, tetapi

pada 28 dan 42 HSI terdapat perbedaan antar perlakuan..

(4)

HERU SUGITO. The Use of Thidiazuron, 2, 4 - D and Giberellin in Formation of

Somatic embryo of

Rauvolfia serpentina

(L.) Benth. ex Kurz by in vitro culture.

Under the direction of YANTO SANTOSA, and EDHI SANDRA

Rauvolfia serpentina

(L.) Benth. ex Kurz, representing one of the tropical

forest plant species which exp loited as plant medicinize and pertained world

rareness. To be able to make balance to storey, level request of

Rauvolfia serpentina

(L.) Benth. ex Kurz simplisia raw material and saving it from destruction, require to

be by activity of conservation, one of the effort by

in vitro

culture forming of

somatik embryo. Somatic embryo by

in vitro

is forming of embryo from cell is non

sexual which is culture. Somatic embryo application beside for the of quickly, also

can be yielded by the amount of seed which is not limited its amount, as well as to

support program repair of crop. This research to know giving influence and

regulator dose grow, consist of 2 attempt. I. Factorial Attempt which use completely

randomized experimental disign, what consist of 2 factor, first is thidiazuron

concentration which consist of 4 level, that is 0 ppm 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm,

second is concentration 2, 4-D which consist of 4 level, that is 0 ppm, 0.5 ppm, 1

ppm, 1.5 ppm, 2 ppm .II. Factorial Attempt which use

completely randomized

experimental disign, what consist of 2 factor, first is thidiazuron concentration which

consist of 4 level, that is 0 ppm, 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, second is giberellin

concentration which consist of 4 level, that is 0 ppm, 0.5 ppm, 1 ppm, 1.5 ppm, 2.0

ppm. Pursuant to manner statistical analysis result is non parametric Kruskal-Wallis

to callus score and embryo at 14 day after initiation not there are difference between

treatment, but 28 and 42 day after initiation there are difference between treatment.

The use thidiatzuron + 2,4-D give, forming of somatic embryo with the best

treatment (6 ppm Thidiatzuron + 0,5 ppm 2, 4 D). Growth of embryo happened at

age 35 day after initiation. Thidiazuron + giberellin forming of callus only.

(5)

©Hak cipta milik Heru Sugito, tahun 2006

Hak cipta dilindungi

(6)

PULE PANDAK (

Rauvolfia serpentina

(L.) Benth. ex Kurz)

MELALUI KULTUR

IN VITRO

HERU SUGITO

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Magister Profesi pada

Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan

Sub Program Studi Konservasi Biodiversitas

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(7)

dalam Pembentukan Embrio Somatik Pule pandak

(

Rauvolfia serpentina

(L.) Benth. ex Kurz) Melalui Kultur

in vitro

Nama

: Heru Sugito

Nomor Pokok

:

E 051040245

Program Studi

: Ilmu Pengetahuan Kehutanan

Sub Program Studi

: Konservasi Biodiversitas

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA. Ir. Edhi Sandra, M.Si.

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dede Hermawan, M.Sc. F. Prof. Dr. Ir. Syafrida Manuwoto, M.Sc.

(8)

KATA PENGANTAR

Penelitian ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister

Profesi Konservasi Biodiversitas pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian

Bogor.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga saya ucapkan kepada :

1.

Bapak Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA, selaku Ketua Komisi Pembimbing

2.

Bapak Ir. Edhi Sandra, MSi selaku Anggota Pembimbing.

3.

Bapak Drs. R. Hendrian, MSc selaku Penguji Luar Komisi.

4.

Bapak Dr. Ir. Gatot HP, selaku Direktur Dikmenjur yang telah memberikan

kesempatan dan biaya selama pendidikan S-2.

5.

Bapak Ir. Giri Suryatmana, selaku Kepala Pusat Pengembangan Penataran

Guru Pertanian, yang telah memberikan kesempatan dan dorongan selama

pendidikan S-2.

6.

Istri, anak-anaku tercinta, Ibu, kakak, adik serta keponakanku atas segala doa

dan kasih sayangnya.

7.

Semua pihak ya ng telah dengan tulus ikhlas membantu baik moral maupun

material.

Penulis berharap tesis ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama yang

berminat di bidang kultur jaringan tanaman.

Bogor, Maret 2006

(9)

Penulis dilahirkan di Pringsewu Lampung pada tanggal 8 Agustus 1961 dari

ayah Hi. Sarimun dan ibu Hj Ponirah . Penulis merupakan putra keempat dari enam

bersaudara. Pendidikan S-1 ditempuh di Fakultas Pertanian Universitas Lampung,

lulus pada tahun 1987. Bea siswa pendidikan S2 diperoleh dari Direktorat

Dikmenjur Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

(10)

Halaman

DAFTAR TABEL ……… ix

DAFTAR GAMBAR ……… x

DAFTAR LAMPIRAN ……….. xi

PENDAHULUAN

Latar Belakang ……….

1

Perumusan Masalah ……… 2

Kerangka Pemikiran ………. 3

Tujuan Penelitian ………... 5

Manfaat Penelitian ……… 5

Hipotesis ……… 6

TINJAUAN PUSTAKA.

Bio-Ekologi Pule Pandak ………

7

Kegunaan dan Kandungan Kimia ………. 9

Konsep dan Gambaran Umum Embrio somatik………. 10

Faktor-faktor dan Variabel- variabel yang Mempengaruhi Embrio

somatik ……….

13

Peranan dan Perkembangan Embrio somatik ……….. 20

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu ……….. ………

23

Bahan dan Alat ………

23

Metode Penelitian ………

24

Pelaksanaan Penelitian ………..

26

Pengamatan ………

27

Analisis Data . ……….

27

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Kombinasi Thidiazuron + 2, 4 – D terhadap Pembentukan

Embrio somatik Pule pandak ………. 29

Pengaruh Kombinasi Thidiazuron + Giberellin terhadap

Pembentukan Embrio somatik Pule pandak... 36

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan ………

39

Saran ……….. 39

DAFTAR PUSTAKA ………

40

(11)

Halaman

1 Kandungan kimia pada akar pule pandak ………

9

2 Beberapa tanaman yang dapat di induksi embrio somatik secara

in vitro

.

12

3 Macam media dan zat pengatur tumbuh untuk induksi kalus pada ber-

bagai jenis tanaman………..

16

4 Zat pengatur tumbuh yang digunakan secara komersial di dalam mikro-

propagasi tanaman………

19

5 Kombinasi perlakuan percobaan I ………... . . . 24

6 Kombinasi perlakuan percobaan II ………... 25

7 Komposisi media MS yang digunakan dalam penelitian………

26

8 Kombinasi thidiazuron + 2, 4 – D terhadap persentase pembentukan

embrio ………. 30

9 Pengaruh thidiazuron, 2, 4 – D dan giberellin terhadap kecepatan

terbentuknya kalus dan warna kalus. ……….. 33

(12)

Halaman

1

Kerangka pemikiran……….

5

2

Eksplan berasal dari panlet……….

23

3 Embrio yang terbentuk pada kombinasi thidiazuron + 2, 4 – D ………. 31

4 Pengaruh thidiazuron + 2, 4 – D terhadap persentase pembentukan

Embrio ……… 32

5 Bentuk dan sruktur kalus kombinasi thidiazuron + 2, 4 – D ………… 34

6 Bentuk dan struktur kalus kombinasi thidiazuron + giberellin ………. 35

7 Pengaruh thidiatzuron + gibberelin terhadap persentase pembentukan

kalus ………. 38

(13)

Halaman

1 Urutan peringkat dan analisis Kruskal – Wallis terhadap skor kalus akibat

pengaruh thidiazuron + 2, 4 – D pada 14 HSI ……….

42

2 Urutan peringkat dan analisis Kruskal – Wallis terhadap skor kalus akibat

pengaruh thidiazuron + 2, 4 – D pada 28 HSI ………. 43

3 Urutan peringkat dan analisis Kruskal – Wallis terhadap skor kalus akibat

pengaruh thidiazuron + 2, 4 – D pada 42 HSI ……….. 44

4 Urutan peringkat dan analisis Kruskal – Wallis terhadap skor kalus akibat

pengaruh thidiazuron + giberellin pada 14 HSI ……… 45

5 Urutan peringkat dan analisis Kruskal – Wallis terhadap skor kalus akibat

pengaruh thidiazuron + giberellin pada 28 HSI ……… 46

6 Urutan peringkat dan analisis Kruskal – Wallis terhadap skor kalus akibat

pengaruh thidiazuron + giberellin pada 42 HSI ……… 47

7 Perkembangan eksplan akibat pengaruh thidiazuron + 2,4 – D …………. 48

8 Perkembangan eksplan akibat pengaruh thidiazuron + giberellin ……… 49

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pule pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz) merupakan salah

satu spesies tumbuhan hutan tropika yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat.

Menurut Word Health Organisation (WHO) 1994 dalam Siswoyo dan Zuhud

(1995), tanaman ini merupakan salah satu spesies yang termasuk dalam Health

Book of Medicine, Traditional Medicine Division, WHO Genewa. Zuhud (2001)

juga menyatakan bahwa pule pandak merupakan salah satu dari 40 jenis tumbuhan

obat langka di Indonesia. Heyne (1987) tanaman tersebut digunakan secara

tradisional, pemanfatan pule pandak sebagai obat tradisional digunakan untuk

pengobatan sesak nafas, nyeri perut, murus, sakit kepala dan gigitan ular. Pule

pandak juga dapat digunakan sebagai obat penurun panas, penurun tekanan darah

tinggi, digigit ular, disentri, kolera, perut mulas, kehilangan selera makan, radang

usus dan lain -lain.

Saat ini kebutuhan bahan baku simplisia pule pandak masih dipenuhi dari

hasil pemanenan langsung dari alam. Disisi lain kebutuhan akan bahan baku

simplisia pule pandak baik dalam negeri maupun dari negara-negara industri

farmasi, terus meningkat dan belum terpenuhi. Pemanfaatan tumbuhan obat ini

diambil bagian akarnya dan dipanen hanya mengandalkan dari alam,

dikhawatirkan akan terjadi keku rangan suplai bahan baku dan bahkan terjadi

kepunahan.. Pada tahun 2000 permintaan akan bahan baku pule pandak mencapai

6.898 kg dengan trend pertambahan sebesar 25.89% per tahun (Data olahan

Balitro, 1990 dalam Sandra dan Kemala, (1994). Pada saat ini tan aman tersebut

baru dibudidayakan di Institut Pertanian Bogor dan di Taman Nasional Meru

Betiri saja. Untuk dapat mengimbangi tingkat permintaan bahan baku simplisia

pule pandak dan menyelamatkannya dari kepunahan, perlu dilakukan kegiatan

konservasi. Untuk itu maka perlu produksi bibit secara masal dan terjamin

kelestariannya, salah satu upayanya adalah melalui kultur in vitro. Untuk

mendukung keberhasilan usaha perbanyakan tanaman yang diharapkan dapat

memberikan manfaat yang optimal, maka diperlukan kajian tentang perbanyakan

(15)

Embrio somatik biasanya didapat dari organ generatif, yang dalam hal ini adalah

biji yang merupakan hasil dari proses penyerbukan. Tetapi melalui kultur in vitro

dapat juga dihasilkan embrio yang mempunyai struktur yang sama dengan embrio

yang berasal dari biji. Aplikasi embrio somatik disamping untuk perbanyakan

cepat, juga dapat dihasilkan jumlah bibit yang tidak terbatas jumlahnya, dan juga

untuk mendukung program perbaikan tanaman. Untuk rekayasa genetik, embrio

somatik lebih disukai karena tanaman berasal dari satu sel, sehingga akan

memberikan kepastian hasil yang tinggi dengan mengurangi resiko dihasilkannya

khimera. Untuk penyimpanan baik jangka pendek maupun jangka panjang embrio

somatik diangggap merupakan bahan tanam yang ideal untuk disimpan karena

bila diregenerasi dapat langsung membentuk bibit somatik. Dari hasil kajian

tersebut diharapkan dapat diproduksi bibit secara masal dan dapat terjamin

kelestariannya.

Perumusan Masalah

Pule pandak merupakan tanaman penting sebagai bahan baku tanaman

obat yang keberadaannya mendekati kepunahan. Perbanyakannya sudah dilakukan

yaitu dengan cara konvensional melalui stek, biji dan perbanyakan secara modern

dengan teknik kultur jaringan yang dilakukan dengan cara multiplikasi pucuk

melalui kultur pucuk dan kultur mata tunas, perbanyakan ini dirasakan masih

diperlukan teknologi yang lebih efisien dan efektif.

Perbanyakan tanaman secara embrio somatik akan menghasilkan jumlah

bibit persatuan wadah akan lebih banyak dari pada secara in vitro lainnya. Salah

satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan perbanyakan tanaman secara embrio

somatik adalah zat pengatur tumbuh (auksin, sitokinin dan giberellin ).

Zat pengatur tumbuh khususnya auksin dan sitokin in adalah suatu zat

utama yang mengendalik an proses morpogenesis didalam kultur jaringan. Pada

metoda kultur jaringan, terbukti sel somatik dapat juga melakukan proses

embriogenesis. Fenomena ini berhasil diamati pada tahun 50-an pada beberapa

tanaman, sep erti kedelai, jagung, dan terutama pada wortel. Korteks wortel yang

ditanam pada medium dasar White, sukrosa, dan 2, 4-D membentuk masa kalus,

(16)

membelah teratur dan melalui tahapan normal embriogenesis yaitu tahapan

globular, jantung, torpedo, dan kemudian menjadi pinak tanaman yang utuh. Hasil

penelitian ini membuktikan bahwa setiap sel pada tumbuhan masih memiliki

kapasitas yang dipunyai oleh zigot darimana sel itu berasal, jadi hanya dengan

memberikan rangsangan yaitu berupa lingkungan yang cocok terutama dari

medium dan zat pengatur tumbuh tempat sel dikulturkan , maka sel tersebut akan

mampu untuk tumbuh dan berkembang menjadi individu yang utuh.

Pemakaian zat pengatur tumbuh didasari oleh fungsi atau peranan dan

kestabilan hormon. Zat pengatur tumbuh 2, 4-D dan thidiazuron diketahui sebagai

pemacu pertumbuhan kalus. Oleh sebab itu perlu diketahui konsentrasi zat

pengatur tumbuh yang harus ditambahkan kedalam media dalam menginduksi

pertumbuhan embrio pada kultur pule pandak .

Kerangka Pemikiran

Konsep kultur jaringan didasari oleh sifat totipotensi sel, yang pada mulanya

orientasi kultur hanya untuk membuktikan teori totipotensi saja, namun kemudian

pada perkembangannya teknik kultu r jaringan menjadi sarana penting dalam

bidang fisiologi tumbuhan dan dalam aspek biokimia tumbuh-tumbuhan.

Totipotensi didefinisikan sebagai sifat setiap sel yang dari manapun sumbernya

untuk berdeferensiasi dan tumbuh membentuk individu yang sempurna apabila sel

tersebut ditumbuhkan pada lingkungan yang sesuai (Katuuk, 1989).

Secara umum mikropropagasi tanaman dilakukan dengan cara multiplikasi

pucuk yang dapat dilakukan melalui kultur pucuk dan tunas, dinegara-negara maju

seperti Jepang, teknik embrio so matik telah banyak dilakukan dengan

menggunakan dorongan zat pengatur tumbuh yang lebih kuat dan mengkondisikan

lingkungan yang memadai. Senyawa hormon yang banyak dilakukan adalah

golongan auksin dan sitokinin.

Zat pengatur tumbuh auksin, sitokinin dan giberellin adalah

hormon-hormon yang mempunyai peran ganda, dalam propagasi secara in vitro,

hormon-hormon tersebut sering digunakan karena mempunyai kemampuan untuk

(17)

Menurut Wetherell (1982) bahwa zat-zat pengatur tumbuh tersebut untuk

setiap spesies dan masing -masing bagian tanaman sangat berbeda-beda, juga

tergantung dari tujuan masing-masing tahap dalam propagasi.

Embrio somatik secara in vitro adalah pembentukan embrio dari sel-sel

non seksual yang dikulturkan. Dalam metode ini diduga pemberian jenis dan

kosentrasi zat pengatur tumbuh tertentu akan mempengaruhi pertumbuhan eksplan

yang ditanam. Pemberian jenis dan jumlah hormon tertentu yang tepat diharapkan

menghasilkan embrio yang pertumbuhannya normal dan teratur, terbentuknya

kalus atau sel-sel yeng tersuspensi dalam media kultur. Kalus atau sel-sel tersebut

akan terus berkembang sehingga mencapai jumlah yang cukup banyak, sehingga

sebagian besar dari sel-sel tersebut mulai memisah dan berubah menjadi embrio.

Embrio ini dapat dilipat gandakan, dan masing-masing akan tumbuh menjadi

tanaman normal.

Embrio yang akan diperoleh dari hasil embriogenesis tersebut sangat

banyak jumlahnya, kemudian melalui tahapan regenerasi akan membentuk

planlet. Apabila planlet tersebut dilakukan proses aklimatisasi dan kemudian

dibudidayakan secara baik, maka akan dapat dihasilkan tanaman pule pandak

dalam jumlah yang sangat besar. Sebagian tanaman tersebut dapat diperbanyak

kembali dan sebagian dapat dimanfaatkan sehingga kebutuhan tanaman pule

pandak untuk tujuan komersial maupun konservasi baik dari segi kualitas,

(18)

Gambar 1 Kerangka pemikiran

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mendapatkan dosis terbaik kombinasi thidiazuron

+ 2, 4–D dan kombinasi thidiazuron + giberellin dalam pembentukan embrio

somatik pule pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz) melalui kultur

in vitro.

Manfaat Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh penggunaan thid iazuron, 2, 4–D dan

giberellin dalam pembentukan embrio somatik pule pandak dan memberikan

manfaat bagi ilmu pengetahuan berupa ketersediaan data/ informasi mengenai

kultur in vitro pule pandak (R serpentina) dalam perbanyakan tanaman secara

cepat bagi industri obat tradisional maupun modern, sehingga secara tidak

langsung dapat lestari dan berkelanjutan.

Untuk jangka panjang diharapkan bentuk regenerasi embrio somatik dapat

dibuat bersalut (coated) dengan gel yang mengandung nutrisi sehingga bentuknya

men jadi seperti kapsul dan menjadi biji sintetik dan disamping itu ideal untuk

cryopreservasi.

Pule Pandak

Pemanfaatan akar

pule pandak Tanaman mati/punah

Propagasi Embrio Somatik

Penambahan Hormon: •Auksin •Sitokinin •Gibberalin

Dosis tepat Tumbuh Embrio Tidak tumbuh

Embrio tidak

ya

Regenerasi

Planlet

Aklimatisasi Budidaya

(19)

Hipotesis

Pemberian kombinasi zat pengatur tumbuh thidiazuron + 2, 4–D dan

pemberian kombinasi thidiazuron + giberellin memberikan pengaruh dalam

pembentukan embrio somatik pule pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex

(20)

TINJAUAN PUSTAKA

Bio - Ekologi Pule pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz )

Taksonomi dan Morpologi

Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz, atau dikenal dengan nama

daerah pule pandak (Jawa) atau Akar tikus (Indonesia) termasuk famili

Apocynaceae bersama-sama dengan Pulai, Pulai pipit, Tapak dara, Alamanda

serta Jelutung. Genus dari Rauvolfia sendiri di Jawa memiliki beberapa spesies

selain R. serpentina Benth ex. Hook, R. javanica Koord dan Val., R fruticosa

Burck, R. madurensis Kahenira, R. reflexa Teijsm dan Binn, R. spectabilis Boerl

(Woodson et al., 1957 dalam Anwar, 1998).

Menurut Heyne (1987), Tjitrosoepomo (1993), Syamsuhidayat dan

Hutapea (1991), tumbuhan ini memiliki taksonomi sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Devisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dycotyledoneae

Sukelas : Asteridae

Ordo : Gentianales

Famili : Apocynaceae

Genus : Rauvolfia L.

Spesies : Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz

Secara morpologis pule pandak merupakan tumbuhan yang tergolong

perdu, dan memerlukan pelindung. Tinggi antara 15 cm sampai 40 cm dengan

bagian akar lebih besar dari bagian tumbuhan diatas tanah (Heyne, 1987).

Menurut Hikmat et al., (2000), batang pule pandak mengandung getah,

berkayu, silindris, kulit batang coklat abu-abu, mengeluarkan cairan jernih bila

dipatahkan. Bentuk daun bulat telur memanjang, tunggal, ujung runcing, pangkal

daun menyempit, tepi rata, tulang daun menyirip, permukaan atas berwarna hijau

dan permukaan bawah berwarna hijau muda. Bunga majemuk, bentuk payung di

(21)

bulat lonjong dan bila sudah masak berwarna hitam. Biji bulat pipih dan akar

tunggang berwarna coklat.

Basori (1993) mengemukakan bahwa akar pule pandak biasanya lebih

panjang dibandingkan dengan batangnya. Akar pule pandak mempunyai rasa yang

sangat pahit, berwarna putih dan mengandung zat pati. Kulit akar seperti bunga

karang, dari luar bersaluran membujur dari pangkal ke ujung warnanya lebih

hitam dari pada kayunya. Sistem perakarannya masuk ke tanah berkelok-kelok

dan membesar.

Habitat dan Penyebaran

Pule pandak tumbuh tersebar di hutan sekunder dan veg etasi semak, pada

ketinggian hingga 2100 m dpl. Tumbuh pada iklim lembab maupun iklim panas.

Beberapa spesies sangat toleran terhadap lingkungan, juga terdapat di tempat yang

terbuka seperti di tepi hutan dan sepanjang sungai. Membutuhkan curan hujan

antara 250–500 mm/th dan suhu 10 0C-38 0C. Tanah agak masam dengan pH 5–

6,5 atau tanah yang berkapur, tanah merah, lempung laterik hingga berpasir, juga

lempung alluvial tetapi yang paling subur pada tanah kering dan tanah liat yang

kaya humus (Sutarno, 2000).

Zuhud dan Siswoyo (1995) mengemukakan bahwa pada habitat alaminya,

tanaman Pule pandak tumbuh liar di ladang-ladang hutan jati atau tempat -tempat

lainnya. Di Jawa tanaman ini biasanya tumbuh di hutan jati yang bersuhu panas

dan kering, pada ketinggian 40–100 m dpl, tipe iklim C (menurut Schmit dan

Ferguson).

Pule pandak menyebar di India, Srilangka, Vietnam, Malaysia, Filipina,

sampai ke Indonesia (Wahyono, 1989), sedangkan di Indonesia yang berdasarkan

pada material herbarium pule pandak di Herbarium Bogo riense, pule pandak

selain ditemukan di Jawa Timur dan Jawa Tengah, juga ditemukan di Daerah

(22)

Kegunaan dan Kandungan Kimia

Menurut Rhumphius dalam Heyne (1987), pemanfaatan pule pandak

sebagai obat tradisional digunakan untuk pengobatan sesak nafas, nyeri perut,

murus, sakit kepala dan gigitan ular. Getah batangnya juga sering diteteskan pada

mata untuk menghilangkan bintik -bintik putih pada selaput bening.

Pule pandak juga dapat dipergunakan sebagai obat demam, tekanan darah

tinggi, obat digigit ular, disentri, kolera, perut mulas, kehilangan selera makan,

nyeri rahim, radang usus, radang jantung, radang usus buntu dan lain -lain.

Sedangkan kandungan alkoloid berbeda-beda menurut bagian tumbuhan, umur,

fase pertumbuhan (vegetatip dan generatip), teknik perbanyakan dan kondisi

tempat tumbuh (Yahya, 2001). Kadar tersebut berkisar antara 0,8% sampai 1,5%,

tetapi kadang-kadang sampai 2,5%. Disamping alkoloid total, kadar reserpine

merupakan faktor utama, biasanya berkisar antara 0,04%-0,09% (Lubis, 1976

dalam Ariani, 1995). Salah satu contoh kandungan persentase kandungan alkoloid

akar pule pandak dikemukakan oleh Biswas (1956) dalam Basori (1993), seperti

yang tercantum dalam Tabel 1.

Tabel 1 Kandungan kimia pada akar pule pandak (R. serpentina) dengan persentase yang dihasilkan.

Nama Kimia Persentase Hasil

Ajmaline 0.1

Isoajmaline 0.01

Ajmalinine 0.05

Rauwolfinine 0.02

Serpenine 0.000027

Yohimbine 0.0064

Sarpagine 0.021

Corynanthine 0.019

3 – epi – a - yohimbine 0.054

a - yohimbine -

Rescinnamine -

Reserpine 0.147

Reserpoxidined -

Methylreserpate 0.014

Deserpidine -

d - yohimbine 0.02

Reserpinine 0.014

Reserpline -

Serpentine 0.08

Serpentinine 0.08

(23)

Konsep dan Gambaran Umum Embrio somatik

Pembentukan embrio somatik secara in vitro adalah pembentukan embrio

dari sel-sel non seksual yang dikulturkan. Dalam metode ini eksplan diberi

hormon dengan kadar yang cukup tinggi sehingga pertumbuhan normal dan

teratur, terbentuk kalus atau sel-sel yang tersuspensi dalam media kultur. Kalus

atau sel-sel tersebut akan terus berkembang sehingga mencapai jumlah yang

cukup banyak. Kemudian susunan hormon dirubah, sehingga sebagian besar dari

sel-sel tersebut mulai memisah dan berubah menjadi embryoid, tidak menjadi akar

atau tunas. Embryoid ini dapat dilipat gandakan, dan masing-masing akan tumbuh

menjadi tanaman normal (Hartman et al., 1990).

Embrio somatik dapat melalui 2 cara :

1. Terjadinya embrio somatik langsung dari eksplan yang dikulturkan. Ini terjadi

pada sel-sel yang menentukan preembriogenik, dimana sel-sel telah memasuki

perkembangan embrionik dan hanya menunggu untuk dibebaskan.

2. Terjadinya embrio somatik melewati pembentukan kalus, dimana eksplan yang

dikulturkan berkembang membentuk sel yang tidak teratur. Kalus ini bila

disubkulturkan berulang-ulang dengan mengganti media akan terjadi dua

kemungkinan, yaitu :

a. Sel berubah menjadi meristemoid yaitu kumpulan sel meristematik yang

berisi zat-zat parenkhim padat dengan nukleus yang sangat besar. Sel-sel

ini akan tumbuh terus kemudian berdiferensiasi dan berkembang menjadi

tunas akar adventif.

b. Sel-sel kalus berubah bentuk menyerupai embrio yang dinamakan embrio

somatik (Ammirato, 1982).

Dasar-dasar Embriogenesis Secara In vitro.

Terdapat tiga macam tipe embriogenesis secara in vitro :

1. Adventif Embrio Somatik

Embrio somatik dapat dikembangkan dari gabungan antara sel atau kalus

dengan bagian reproduksi. Hal ini disebut Preembryonically Determined Cell

(PEDC). Sel dan kalus embryogenik dapat dimulai dari jaringan nukleus baik

(24)

produksi kalus embriogenetik dari embrio somatik dapat dikembangkan dari

jaringan ovul yang sangat muda dari spesies tropik lain, rumput, anggur, kopi dan

lain-lain. Pada saat jaringan eksplan memiliki genotip yang sama, prosedure ini

merupakan metode propagasi klonal dan duplikat apomixis yang potensial.

Tipe ini juga dapat dikembangkan secara langsung dari sel tunggal pada

permukaan embrio muda atau secara tidak langsung dihasilkan dari kalus.

Prosedure ini memungkinkan untuk digunakan pada program pengembangan

genetik seperti pada penyelamatan embrio dari keguguran.

2. Poly Embrio Somatik

Tipe ini melibatkan transplanting dari embriogenik Embrional Suspensor

Mass (ESM), yang mendahului pembentukan embrio. Saat jaringan ESM

ditransplanting pada media kultur selama 2–4 minggu setelah fertilisasi, sel

berkembang secara langsung menjadi embrio.

Poliembriogenesis somatik tidak saja terjadi pada gymnospermae, tetapi

juga terjadi pada angiospermae. Embriogenesis tidak melibatkan kalus, tetapi

merupakan hasil dari kumpulan jaringan ESM yang asli.

3. Induksi Embrio Somatik

Tipe Embriogenesis ini merupakan hasil dari kalus somatik dan suspensi

sel setelah jaringan diarahkan pada perlakuan khusus yang menyebabkan induksi

embriogenik. Metode ini telah banyak diterapkan pada beberapa tanaman

pertanian, seperti wortel, alfalfa, rumput-rumputan, kopi, spesies palem, kedelai

dan lain-lain.

Ada dua manfaat yang potensial dari prosedure diatas :

1. Propagasi dari biji somatik sintetik

Embrio somatik dapat diaplikasikan secara langsung kedalam propagasi klonal

berbagai biji tanaman pertanian diantaranya padi, sayuran dan tanaman

perkebunan seperti palem, kelapa sawit dan kopi serta tanaman hutan.

2. Program pengembangan genetik kultivar tanaman

Embrio somatik berguna untuk mengidentifikasi variasi genetik dalam

kumpulan sel. Embrio somatik dapat tumbuh dari kalus, sel ataupun protoplas

(25)

Tahapan Embrio Somatik

Hartmann et al., (1990) menyatakan ada beberapa tahap yang harus

dilakukan pada pelaksanaan embrio somatik yaitu :

1. Seleksi kultur dan eksplan yang sesuai

Seleksi eksplan merupakan langkah yang sang at penting. Langkah pertama

adalah produksi kalus, suspensi sel atau protoplas. Beberapa contoh tanaman

yang dapat dijadikan eksplan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Beberapa tanaman yang dapat di induksi embrio somatik secara in- vitro.

Spsies Tanaman Medium Eksplan Sumber

Medicago sativa Blaydes Hypocotyl Bingham et al., 1975

Pheseolus vulgaris 67 - V Daun Crocomo et al.,1976

Brassica oleraceae MS Petiole, Batang Clare & collin, 1974

Manihot esculenta MS Batang Tilquin, 1979

Allium cepa B5 Bulb Fridborg, 1971

Pisum sativum MS Epicotyl Malmberg, 1979

Beta v ulgaris PBO Daun de Greef &Janick,1979

Cajanus cajan White Hypocotyl Shimada et al., 1969

Pelargonium spp MS Petiole Shirvin & Janick, 1976

Sumber : Gamborg dan Shyluk (1981)

2. Induksi Potensial Embriogenik dalam Eksplan

Induksi diperoleh melalui transfer sel dari media dasar dengan konsentrasi

auksin tinggi, auksin yang paling efektif adalah 2 , 4–D atau air kelapa plus

NAA dengan konsentrasi rendah. Setelah 1–2 minggu maka beberapa proembrio

akan muncul. Gumpalan yang lebih besar dan proembrio akan terpisah oleh

ukuran sekat yang berbeda, kemudian ditrans fer ke media yang berbeda. Sel-sel

yang lebih kecil dapat disubkulturkan untuk melanjutkan produksi embrio

somatik.

3. Diferensiasi dan Kematangan Embrio somatik

Kumpulan proembrio dipindah kemedia dasar yang bebas auksin, dalam

amonium nitrat tinggi. Embrio somatik akan meningkat dari gumpalan sel

tunggal.

4. Pembentukan Planlet

Embrio somatik yang telah masak dapat ditempatkan pada media bebas auksin

tetapi mengandung sitokinin dalam konsentrasi rendah.

(26)

Setelah akar, daun terbentuk, maka planlet dapat diaklimatisasi ke media dalam

kontiner atau polybag.

Faktor-faktor dan Variabel-variabel yang Mempengaruhi Embrio Somatik

Lingkungan kimia dan lingkungan fisik mempunyai pengaruh yang sangat

besar terhadap embrio somatik . Faktor kimia terpenting yang terlibat dalam

proses munculnya embrio somatik adalah kandungan auksin pada media,

campuran nitrogen yang ditambahkan sebagai nutrisi. Vajrabhaya (1988)

menyatakan, bahwa proses induksi embriogenesis membutuhkan adanya auksin

dan kenaikan ratio dari nitrogen dan auksin.

Telah diketahui bahwa auksin tidak terlibat dalam perkembangan embrioid

dari kalus, meskipun auksin dibutuhkan untuk pertumbuhan kalus. Embrioid

umumnya terbentuk ketika kalus ditransfer dari medium yang ditambahkan auksin

ke medium subkultur dengan konsentrasi auksin yang lebih rendah atau tanpa

auksin.

Faktor fisik seperti temperatur, intensitas cahaya, fotoperiode, udara,

keadaan media dan kecepatan pengocokan juga telah dilaporkan mempengaruhi

embrio somatik. Temperatur optimum adalah spesifik untuk setiap spesies dan

tahap perkembangan. Perlakuan panas atau dingin pada tahap tertentu dapat

meningkatkan embriogenesis dan perkecambahan dari embrio somatik dan

propagul lain untuk perkembangan yang lebih lengkap.

Eksplan

Daucus carota merupakan eksplan yang paling banyak dibiakan dari

seluruh spesies tanaman. Hal ini disebabkan beberapa bagian dari tubuh tanaman

tersebut hanya memerlukan sedikit waktu untuk menghasilkan embrio somatik

dengan sukses (Gamborg dan Shyluk, 1981).

Pada beberapa spesies hanya daerah -daerah tertentu dari tubuh tanaman

yang respon dalam biakan. Hal ini menjadi masalah pada beberapa monokotil

khususnya untuk familie Gramineae. Jaringan yang memiliki pertumbuhan

(27)

tanaman dan asal eksplan penting sekali demikian juga dengan musim pada saat

eksplan diambil.

Ammirato (1982) mengatakan dalam spesies tertentu dengan genotip yang

berbeda-beda menunjukkan kemampuan yang bermacam -macam dari embrio

somatik. Tiga kultivar Zea mays menghasilkan biakan yang baik dari

organogenesis batang, dan hanya satu kultivar yakni A188 yang dengan mudah

menghasilkan embrio somatik.

Media Kultur

Media kultur jaringan terdiri dari komponen utama dan komponen

tambahan. Komponen utama meliputi garam mineral, sumber karbon (gula) dan

vitamin. Komponen lain seperti zat pengatur tumbuh, senyawa nitrogen organik

dan beberapa ekstrak tambahan meskipun tidak mutlak tetapi dapat

menguntungkan ketahanan sel dan perbanyakannya. Sebagai contoh ekstrak buah

pisang dan air kelapa merupakan komponen tambahan yang sangat populer untuk

media kultur anggrek (George dan Sherington, 1984).

Ammirato (1982) mengatakan bahwa media yang digunakan untuk

proliferasi jaringan memegang peranan penting untuk terjadinya embriogenesis.

Embrio somatik dapat ditumbuhkan pada media White hingga formulasi

Gamborg, SH, B5, dan MS yang lebih pekat. Media B5, SH dan MS

diklasifikasikan sebagai media garam tinggi, khususnya MS konsentrasinya

mencapai kurang lebih 10 kali konsentrasi garam dari media White. Dilaporkan

bahwa 70% dari eksplan dibiakan pada media MS atau modifikasinya.

Keistimewaan media MS dibandingkan dengan media lain adalah

kandungan amonium nitrat dan potasiumnya yang tinggi. Hal ini akan

mempertinggi proses embriogenesis. Ciri lain dari media MS dan media penting

lainnya untuk embriogenesis adalah keberadaan chelated iron yang sering dalam

bentuk Fe- EDTA. Tanpa ada besi perkembangan embrio gagal melalui tahap dari

globular sampai bentuk hati.

Wetter dan Constabel (1991), menyatakan bahwa media yang sebaiknya

digunakan untuk menguji pembentukan kalus adalah MS dan B5 yang dilengkapi

(28)

waktu satu bulan. Pada tanaman pisang, media dasar yang sering digunakan

adalah media MS atau modifikasinya (Damasco dan Barba, 1985) dan eksplan

yang digunakan berasal dari mata tunas dan titik tumbuh.

Beberapa penelitian lain yang telah dilakukan juga menunjukkan bahwa

med ia untuk induksi kalus yang paling banyak digunakan adalah media MS

(Tabel 2).

Chen (1990) juga mengatakan bahwa media MS banyak digunakan

sebagai media dasar dalam pembentukan kalus dan diferensiasi kalus dengan

penambahan hormon 2, 4 – D pada komposisi medianya.

Pada Citrus nampak bahwa proses embriogenesis dipertinggi oleh

NH4NO3, seperti dilaporkan oleh Reinert dan Tazawa (1969 dalam Gamborg dan

Shyluk, 1981), untuk kultur suspensi sel Daucus . Gamborg dan Shyluk (1981)

juga mengutip percobaan Halperin dan Wetherel pada tahun 1965 yang

menyatakan bahwa ion amonium dan casein hidrolysat pada level rendah hormon

mendorong embriogenesis. Lebih lanjut dijelaskan bahwa keseimbangan level

hormon menyebabkan diferensiasi embrioid. Ekstrak gandum (Malt Extract/ ME)

bermanfaat untuk kultur nuclear dan dapat dikombinasikan dengan NAA, Adenin

dan Kinetin.

Demikian pula dengan penambahan air kelapa dan casein hidrolysat yang

dapat membantu keberhasilan embriogenesis. Hal ini disebabkan air kelapa

mengandung sitokinin dan dapat memacu pertumbuhan embrio. Namun

penambahan air kelapa sulit dijadikan pegangan, karena kepekatannya berbeda

berdasarkan jenis dan umur, bahkan pada umur yang sama terkadang berbeda

(Priyono dan Daminihardja, 1992).

George dan Sherrington (1 984) mengatakan bahwa casein hidrolysat

merupakan senyawa kompleks yang mengandung asam amino, serta

mempengaruhi osmorilitas media yang cocok untuk pertumbuhan dan

perkembangan embrio.

Priyono dan Daminihardja (1992) juga melaporkan bahwa penambahan

casein hidrolysat sebanyak 250 mg/l tanpa air kelapa memacu pertumbuhan

(29)

Tabel 3 Macam media dan zat pengatur tumbuh untuk induksi kalus pada berbagai jenis tanaman

Tanaman Asal Eksplan Media Zat Pengatur Tumbuh Sumber Bawang Putih Tunas Pucuk MS 1 ppm IAA + 2 ppm NAA Daisy,P.S, 1992 Kentang Tunas Pucuk MS 1 ppm 2,4-D+ 2 PPM Kin Tao, 1992 Tebu Batang pucuk MS 3 ppm NAA, atau 3 ppm

2,4-D

Suryowinoto, 1991 Tembakau Daun muda MS 2 ppm IAA + 3 ppm Kin Suryowinoto,

1991 Melon Biji MS 1 ppm NAA + 3 ppm Kin Suryowinoto,

1991 Begonia Daun muda MS 1 ppm IAA Suryowinoto,

1985 Asparagus Endosperm MS 1 ppm 2,4-D Suryowinoto,

1991

Jagung Endosperm N6 5 ppm NAA Poedji L, 1992 Paku-pakuan Daun muda MS 2 ppm Kin + 0,1 ppm

NAA

Suryowinoto, 1987

Apel Tunas pucuk MS 1 ppm BAP Ishihara, 1982 Anggrek

Catlieya

Keiki VW 1.75 ppm IBA + 1,75 ppm NAA

Sagawa, 1982 Anggrek

Dendrobium

Keiki VW 100 gr Pisang + 100 gr Kentang

Sagawa, 1982 Melinjo Biji MS 4 ppm NAA Sriani H, 1982 Wortel Ploem MS 3 ppm 2,4-D + 2 ppm Kin Ari W, 1992 Kapri Epikotil B5 1 ppm 2,4- D Suryowinoto,

1987

Kenanga Daun MS 0.5 ppm 2,4-D Endang S,1991 Sumber : Penelitian-penelitian yang telah berhasil dilaksanakan sejak tahun 1980 – 1992 dalam Hendaryono dan Wijayani, 1994.

Zat Pengatur Tumbuh

Menurut Abidin (1982), zat pengatur tumbuh adalah senyawa organik

yang dalam jumlah sedikit mampu mendorong, merubah dan menghambat proses

fisiologis tumbuhan. Hartmann et al., (1990) mengatakan bahwa zat pengatur

tumbuh memainkan peranan yang sangat penting terhadap pertumbuhan dan

perkembangan, pembelahan, pembesaran dan diferensiasi sel. Tanpa zat pengatur

tumbuh tidak ada pertumbuhan dan perkembangan tanaman sebab untuk

pembelahan sel dan pembesaran volume sel suatu jaringan harus tersedia zat

pengatur tumbuh tertentu.

Interaksi dan perimbangan antara zat pengatur tumbuh yang diberikan

(30)

perkembangan suatu kultur. Menurut Wattimena (1997), auksin dan sitokinin

digunakan untuk mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan eksplan.

Auksin

Untuk biakan yang diambil dari jaringan yang berbeda-beda, zat pengatur

tumbuh didalam medium terutama auksin atau auksin yang dikombinasikan

dengan sitokinin nampaknya penting bagi permulaan pertumbuhan dan induksi

embriogenesis. Beberapa spesies dengan cepat menghasilkan kultur embriogenik

dengan auksin yang berbeda-beda, sebagai contoh kultur embriogenik pada wortel

yang telah dihasilkan dengan NAA, 2, 4–D dan IAA. Pada spesies yang lain

pemilihan zat pengatur tumbuh lebih terbatas, misalnya pada biakan millet seperti

halnya tanaman sejenis rumput-rumputan dan sereal yang lain, hanya 2, 4–D yang

efektif.

Auksin untuk media primer dan sekunder dapat sama atau berbeda, satu

atau beberapa auksin dapat digunakan dalam media yang sama. Untuk beberapa

biakan perubahan dalam konsentrasi atau tipe auksin merupakan pemulaan yang

penting untuk perkembangan embrio somatik. George dan Sherington (1984) serta

Gunawan (1988) menyatakan bahwa auks in digunakan secara luas untuk

menginduksi pembentukan kalus, auksin yang sering digunakan adalah 2, 4–D.

Ditinjau dari peran zat pengatur tumbuh dikatakan oleh Wetherel (1982),

peran auksin yang pertama dalam kultur adalah merangsang pembelahan dan

pembesaran sel yang terdapat pada pucuk tanaman dan menyebabkan

pertumbuhan pucuk-pucuk baru. Penambahan auksin dalam jumlah besar atau

penambahan auksin yang lebih stabil misalnya 2, 4–D, NAA akan cenderung

menyebabkan terjadinya pertumbuhan kalus dari eksplan dan menghambat

regenerasi pucuk, sedangkan peran auksin yang kedua adalah merangsang

pembentukan akar.

Pemilihan jenis auksin dan konsentrasinya menurut Gunawan (1988)

ditentukan oleh :

1. Taraf auksin endogen

2. Tipe pertumbuhan yang dikehendaki

3. Kemampuan jaringan mensintesa auksin

(31)

Sitokinin.

Peranan sitokinin dalam mikropropagasi adalah merangsang pembelahan

sel dalam jaringan eksplan dan merangsang pertumbuhan tunas daun (Wetherel,

1982). Ammirato (1982) menambahkan bahwa sitokinin juga membantu

perkembangan kotiledon dan pemasakan embrio somatik, dan diperlukan untuk

pertumbuhan embrio menjadi planlet. Sitokinin yang banyak digunakan adalah

kinetin, zeatin dan benzyladenin. Kisaran konsentrasi yang efektif untuk kinetin

0,5uM-5,0 uM. Pada umumnya kebutuhan kinetin untuk tanaman golongan

monokotil sekitar 1 ppm, untuk menginduksi kalus kinetin diberikan sebanyak 0,1

mg/l atau 10%–15% (Ammirato,1982). Akan tetapi pemakaian sitokinin eksogen

pada jaringan meristematik dapat menghambat pada pembelahan sel.

Sitokinin juga berpengaruh terhadap perkembangan embrio,

memperlambat proses penghancuran butir klorofil. Pengaruh sitokinin terhadap

proses fisiologis tanaman diduga terjadi pada sintesis protein mengingat sesama

struktur sitokinin dengan adenin yang merupakan komponen pembentuk DNA

atau RNA (Wattimena, 1987).

Interaksi antara Auksin dan Sitokinin

Interaksi dan perimbangan antara zat pengatur tumbuh yang diberikan

dalam media dan yang diproduksi secara end ogen, menetukan arah perkembangan

suatu kultur (Gunawan, 1988).

George dan Sherington (1984) mengatakan, untuk proses morpogenesis

akar dan tunas dari kultur kalus biasanya dibutuhkan imbangan taraf auksin dan

sitokinin, karena itu tidak ada formula satupun yang terbaik bagi setiap

penggunaan. Jadi untuk usaha mikropropagasi dari suatu tanaman yang belum

dikerjakan sebelumnya, haruslah dilakukan percobaan dengan berbagai jenis dan

kadar dari masing-masing zat pengatur tumbuh tersebut.

Sitokinin berinteraksi dengan auksin sedemikian rupa sehingga pemakaian

keduanya secara bersama-sama harus mempertimbangkan kadar maupun

perbandingannya dalam media. Secara umum dapat dikatakan bahwa

(32)

perbandingan yang rendah baik untuk pembentukan akar (Wetherel, 1982), contoh

zat pengatur tumbuh yang terdapat dalam perdagangan terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Zat pengatur tumbuh yang digunakan secara komersial dalam mikropropagasi tanaman .

Zat Pengatur Tumbuh Singkatan Keterangan

I. Kelompok Auksin

• Asam Indo-3-Asetat

• Asam Indo-3-Butirat

• Asam Alfa Naftalen Asetat

• Asam 2, 4 Diklorofenoksi Asetat II. Kelompok Sitokinin

• Bensil Adenin

• Kinetin

• Bensil Amino Purin

• Thidiazuron

• Zeatin

III. Kelompok Giberellin

• Asam Giberelat

IAA IBA NAA 2, 4–D BA - BAP - - GA3

Auksin alami tidak stabil - Stabil Stabil kuat Dapat merangsang pertumbuhan, kadang-kadang menghalangi pertumbuhan tunas Sumber : Wetherell (1982)

George dan Sherington (1984) mengatakan bahwa interaksi dari zat

pengatur tumbuh sering terjadi, namun pengaruhnya pada tanaman tidak dapat

digeneralisasikan karena :

a. Pada tanaman tertentu perbanyakan dengan cepat tunas samping disebabkan

oleh sitokinin maupun auksin.

b. Pada tanaman monokotil pertumbuhan kalus hanya dapat berlangsung apabila

[image:32.612.142.511.145.499.2]
(33)

c. Morpogenesis dan organogenesis sering dirangsang ketika eksplan dipindahkan

pada media yang konsentrasi auksinnya sudah dikurangi.

Peranan dan Perkembangan Embrio somatik

Embrio somatik mempunyai potensi yang sangat penting pada bidang

pertanian yaitu sebagai alat untuk mempelajari dan menganalis a peristiwa

molekuler dan biokimia. Dalam bidang pertanian embrio somatik dapat digunakan

untuk propagasi klonal pada beberapa kelompok tanaman seperti anggrek,

beberapa kultivar tanaman hias dan pada beberapa spesies yang digunakan untuk

peremajaan hutan. Embrio somatik pada beberapa klon dapat diperoleh dalam

jumlah besar melalui embriogenesis.

Kegunaan lain dari embrio somatik adalah untuk menghasilkan atau

memperoleh persediaan tanaman yang bebas penyakit, pengembangan genetik

tanaman, dan untuk penyebaran serta penyimpanan germplasm.

Perkembangan teknik kultur jaringan sampai embriogenesis sudah berhasil

bukan saja pada sel soma tetapi juga pada sel generatip yaitu serbuk sari bunga

jantan (pollen). Pengkulturan serbuk sari bukan hanya sampai pada

embriogenesis, tetapi sudah sampai pada pembentukan tanaman sempurna.

Pada studi awal sistem suspensi sel, Steward dan teamnya pada tahun

1958, menemukan bahwa perlakuan dengan air kelapa pada tanaman wortel, sel

wortel tidak berkembang (menggandakan diri), tetapi terpisah menjadi

struktur-struktur kecil seperti embrio yang disebut embrioid. Studi yang lebih rinci

ditunjukkan oleh Reinert pada tahun yang sama, bahwa embrio dapat muncul dari

kalus pada medium agar. Sejak saat itu banyak spesies lain ditemukan memiliki

kemampuan membentuk embrio somatik atau dengan induksi melalui perlakuan

kultur (Vajrabhaya, 1988).

Pada wortel dan beberapa spesies lain, induksi pertumbuhan

embriogenesis dapat dilakukan melalui salah satu dari dua cara. Beberapa sel

mungkin hanya membutuhkan medium basal yang sederhana untuk memulai

(34)

lebih kompleks dengan penambahan auksin. Nadar, Soeprapto, Heinz dan Ladd

(1978) melaporkan bahwa untuk inisiasi kalus tebu dibutuhkan 3.0 mg/l 2, 4–D.

Terello, Symington dan Rufner (1978) melaporkan, bahwa pertumbuhan

kalus dari 2 varietas Red fescue lebih ditingkatkan dengan perlakuan 2, 4–D, dan

didapatkan konsentrasi optimum 20 uM. Regenerasi dapat ditingkatkan dengan

penurunan konsentrasi selama sub kultur. Dari tanaman Rygrass tahunan terjadi

peningkatan regenerasi yang nyata dengan penurunan konsentrasi 2, 4–D dari 10

mg/l hingga 5 mg/l.

Man Si Wang dan Zapata (1987) melaporkan tentang embrio somatik pada

padi kultivar IR 40 yang membutuhkan imbangan antara auksin dan sitokinin

yaitu 2 mg/l 2, 4–D dan 0.2 mg/l BAP. Untuk regenerasi, medium MS ditambah

dengan 4 mg/l BAP dan 0.5 mg/l IAA.

Regenerasi tanaman melalui embrio somatik adalah suatu hal yang sangat

penting bagi perbaikan tanaman. Cara regenerasi tanaman melalui embrio genesis

cenderung lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan organogenesis karena

dapat digunakan untuk memanipulasi genetik atau membuat mutan tanaman.

Individu tanaman yang berasal dari pembentukan embrio somatik adalah

sama dengan tanaman yang berasal dari embrio zygotik.

Embrio somatik yang berasal dari kalus dan regenerasinya telah dilakukan

pada banyak tanaman dan berbagai kelompok tanaman, diantaranya padaWheat

(Ahloowalia, 1982), Red fescue (Torello et al., 1984), Sacarum officinarum

(Nadar et al., 1978) , Oil palm (Nualsri, Sampong dan Wangtana, 1987) dan Soya

bean (Komatsuda et al., 1991). Embrio somatik yang berasal dari eksplan

hipokotil Apiaceae telah dilakukan pada spesies Ammi majus, Anethum

graveolens, Apium graveolens dan Dacus carota.

Jasrai et al. (1992) melakukan penelitian pada tanaman Trachyspermum

ammi (L) Sprague untuk mengetahui kemampuan embrio somatik dalam

menghasilkan variabilitas dan untuk mendapatkan tanaman yang resisten terhadap

(35)

Perbanyakan in vitro pisang (Musa sp) melalui embriogenesis dapat

dilakukan dengan kultur protoplas, kultur suspensi sel dan kultur kalus. Novak et

al., (1989) melaporkan bahwa proembriogenic dari pisang buah (AA dan AAA)

dan pisang olah (ABB) dapat diinisiasi dari seludang daun dan jaringan akar yang

ditanam pada media SH dengan 30 uM 3-6-dichloro -2-methoxybenzoic acid

(Dicamba), kemudian disuspensi ke media ½ MS yang dilengkapi dengan 20 uM

Dicamba.

Pada kultur suspensi sel pisang olah cv. Bluggoe (Musa sp–ABB Group)

embrio somatik diperoleh secara langsung dari sel tanpa melalui kalus. Eksplan

yang digunakan adalah mata tunas dan ditanam pada media MS yang dilengkapi

dengan 5 uM 2, 4–D dan 1uM Zeatin (Dhed’a et al., 1991), sedangkan Megia et

al. (1993) melaporkan bahwa dari kultur protoplas pisang olah cv. Bluggoe (Musa

sp ABB Group), 10% embrio dapat tumbuh menjadi planlet bila disubkultur

dalam 2,2 uM 6-BAP dan 2 uM 4 amino -3,5,6 trichloropicolinic acid selama 1

minggu sebelum ditransfer pada media MS yang mengandung 10 uM 6-BAP.

(36)

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu

Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Pusat

Pengembangan Penataran Guru Pertanian Cianjur, mulai bulan September sampai

November 2005.

Bahan dan Alat

Bahan-bahan penelitian yang diperlukan antara lain: eksplan pule pandak

yang berasal dari planlet (Gambar 2). Senyawa atau unsur penyusun media

Murashige and Skoog (MS) meliputi. unsur hara makro, unsur hara mikro,

vitamin, gula, agar-agar dan zat pengatur tumbuh ( thidiazuron, 2, 4–D, giberellin,

aquades dan bahan sterilisasi ).

Gambar 2 Eksplan berasal dari planlet

Peralatan yang digunakan adalah timbangan analitik, Laminar Air Flow

Cabinet, disekting set, sprayer, lampu spirtus, autoclave, pH meter, peralatan

(37)

Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri dari 2 percobaan yaitu:

1. Pengaruh Kombinasi Thidiazuron + 2, 4 – D Terhadap Pembentukan Embrio somatik Pule pandak ( Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz).

Percobaan dilakukan dalam rancangan faktorial dalam pola acak lengkap

dengan ulangan sebanyak masing-masing 5 kali. dengan kombinasi zat pengatur

tumbuh thidiazuron yaitu 0 ppm (T0); 2 ppm (T1); 4 ppm (T2); 6 ppm (T3) dan 8

ppm (T4) dengan 2, 4–D yaitu 0 ppm (D0); 0.5 ppm (D1); 1.0 ppm (D2); 1.5 ppm

[image:37.612.165.439.273.617.2]

(D3) dan 2.0 ppm (D4).

Tabel 5 Kombinasi perlakuan percobaan I.

2, 4-D

TDZ D0 D1 D2 D3 D4

T0D01 T0D11 T0D21 T0D31 T0D41

T0D02 T0D12 T0D22 T0D32 T0D42

TO T0D03 T0D13 T0D23 T0D33 T0D43

T0D04 T0D14 T0D24 T0D34 T0D44

T0D05 T0D15 T0D25 T0D35 T0D45

T1D01 T1D11 T1D21 T1D31 T1D41

T1D02 T1D12 T1D22 T1D32 T1D42

T1 T1D03 T1D13 T1D23 T1D33 T1D43

T1D04 T1D14 T1D24 T1D34 T1D44

T1D05 T1D15 T1D25 T1D45 T1D45

T2D01 T2D11 T2D21 T2D31 T2D41

T2D02 T2D12 T2D22 T2D32 T2D42

T2 T2D03 T2D13 T2D23 T2D33 T2D43

T2D04 T2D14 T2D24 T2D34 T2D44

T2D05 T2D15 T2D25 T2D35 T2D45

T3D01 T3D11 T3D21 T3D31 T3D41

T3D02 T3D12 T3D22 T3D32 T3D42

T3 T3D03 T3D13 T3D23 T3D33 T3D43

T3D04 T3D14 T3D24 T3D34 T3D44

T3D05 T3D15 T3D25 T3D45 T3D45

T4D01 T4D11 T4D21 T4D31 T4D41

T4D02 T4D12 T4D22 T4D32 T4D42

T4 T4D03 T4D13 T4D23 T4D33 T4D43

T4D04 T4D14 T4D24 T4D34 T4D44

(38)

2. Pengaruh Kombinasi Thidiazuron + Giberellin Terhadap Pembentukan Embrio somatik Pule pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth . ex Kurz).

Percobaan dilakukan dalam rancangan faktorial dalam pola acak lengkap

dengan ulangan sebanyak masing-masing 5 kali, dengan kombinasi zat pengatur

tumbuh thidiazuron yaitu 0 ppm (T0); 2 ppm (T1); 4 ppm (T2); 6 ppm (T3) dan 8

ppm (T4) dengan giberellin yaitu 0 ppm (G0); 0.5 ppm (G1); 1.0 ppm (G2); 1.5

[image:38.612.166.439.236.576.2]

ppm (G3) dan 2.0 ppm (G4).

Tabel 6 Kombinasi perlakuan percobaan II.

Giberellin

TDZ G0 G1 G2 G3 G4

T0G01 T0G11 T0G21 T0G31 T0G41

T0G02 T0G12 T0G22 T0G32 T0G42

TO T0G03 T0G13 T0G23 T0G33 T0G43

T0G04 T0G14 T0G24 T0G34 T0G44

T0G05 T0G15 T0G25 T0G35 T0G45

T1G01 T1G11 T1G21 T1G31 T1G41

T1G02 T1G12 T1G22 T1G32 T1G42

T1 T1G03 T1G13 T1G23 T1G33 T1G43

T1G04 T1G14 T1G24 T1G34 T1G44

T1G05 T1G15 T1G25 T1G45 T1G45

T2G01 T2G11 T2G21 T2G31 T2G41

T2G02 T2G12 T2G22 T2G32 T2G42

T2 T2G03 T2G13 T2G23 T2G33 T2G43

T2G04 T2G14 T2G24 T2G34 T2G44

T2G05 T2G15 T2G25 T2G35 T2G45

T3G01 T3G11 T3G21 T3G31 T3G41

T3G02 T3G12 T3G22 T3G32 T3G42

T3 T3G03 T3G3 T3G23 T3G33 T3G43

T3G04 T3G14 T3G24 T3G34 T3G44

T3G05 T3G15 T3G25 T3G45 T3G45

T4G01 T4G11 T4G21 T4G31 T4G41

T4G02 T4G12 T4G22 T4G32 T4G42

T4 T4G03 T4G13 T4G23 T4G33 T4G43

T4G04 T4G14 T4G24 T4G34 T4G44

(39)
[image:39.612.127.491.120.464.2]

Tabel 7 Komposisi media Murashige and Skoog yang digunakan dalam penelitian.

Hara Senyawa MS

…..mg/l…..

MAKRO

NH4NO3

KNO3

CaCl2.2H2O

MgSO4.7H2O

KH2PO4

1650 1900 440 370 170

MIKRO KI

H3BO3

MnSO4.4H2O

ZnSO4.7H2O

Na2MOO4.7H2O

CuSO4.5H2O

CoCl2.6H2O

FeSO4.7H2O

N a2EDTA

0.83 6.2 22.3 8.6 0.25 0.025 0.025 27.8 37.3

VITAMIN Myo- inositol Nicotinic acid Pyridoxine HCl Thiamine Glysine 100 0.5 0.5 0.1 2.0

TAMBAHAN Gula

Agar-agar Thidiazuron 2, 4–D Giberellin 30.000 8.000 Sesuai Perlakuan Sesuai Perlakuan Sesuai Perlakuan Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Media

Sebelum pembuatan media, semua alat harus dalam keadaan steril. Media

yang digunakan untuk induksi embrio somatik adalah media Murashige and skoog

yang ditambahkan dengan sukrosa 30 g/l, thidiazuron, 2, 4–D, giberellin sesuai

perlakuan . Dalam pembuatan media, langkah pertama adalah pembuat an larutan

stok yang meliputi stok hara makro, stok hara mikro, stok Fe-EDTA, stok vitamin

dan stok zat pengatur tumbuh.

Media diatur pada pH 5,5–5,8, kemudian dipadatkan dengan menggunakan

pemadat agar-agar sebanyak 8 gr/l sambil dipanaskan hingga mendekati

(40)

ditutup dengan menggunakan penutup plastik dan setelah itu media disterilkan

dengan menggunakan autoclave dengan suhu 121 oC selama 30 menit.

Persiapan Bahan Tanam

Bahan tanam diambil dari eksplan pule pandak yang berasal dari

Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Kehutanan IPB. Tunas dari planlet yang

terbentuk dipotong-potong pada bagian yang sama dalam kondisi aseptik

selanjutnya eksplan siap diisolasi. Kultur disimpan di dalam ruangan dengan

temperatur 25 oC dengan cahaya menggunakan lampu neon.

Pengamatan

Pengamatan pertumbuhan eksplan diamati dari saat isolasi dengan peubah sebagai

berikut :

1 Pertumbuhan Eksplan (dinyatakan dalam skor)

Skor 1 = Eksplan hidup, tetapi tidak membentuk kalus

Skor 2 = Eksplan membentuk sedikit kalus

Skor 3 = Eksplan membentuk kalus yang sedang

Skor 4 = Eksplan membentuk kalus yang melimpah

Skor 5 = Eksplan membentuk kalus dan planlet

Skor 6 = Eksplan membentuk embrio

2 Kecepatan terbentuknya kalus/ embrio dan warna kalus/ embrio

Dilakukan secara visual mulai awal terbentuknya kalus, sampai

terbentuknya embrio.

Analisis Data.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang dicobakan terhadap data yang

menggunakan skor, dianalisis dengan menggunakan statistik non parametrik

Kruskal – Wallis.

Siegel (1992) mengatakan bahwa dalam perhitungan Kruskal – Wallis ini

masing-masing N observasi digantikan dengan rankingnya yaitu semua skor

dalam seluruh k sampel yang digunakan, diurutkan ( ranking) dalam satu

rangkaian. Skor yang terkecil dengan ranking 1, yang setingkat diatas skor yang

terkecil dengan ranking 2 dan seterusnya. N adalah jumlah seluruh observasi

(41)

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

12 k R2i

h = S - 3(N+1) N(N+1) j=1 ni

dimana :

k : banyaknya sampel

ni : banyaknya kasus dalam sampel ke-j

N : banyak kasus dalam semua sampel

Data pengamatan percobaan dis ajikan dengan tabel, histogram dan foto.

(42)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Kombinasi Thidiazuron + 2, 4–D terhadap Pembentukan Embrio somatik Pule pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth . ex Kurz).

Hasil analisis Kruskal – Wallis terhadap skor pembentukan kalus pada

pengamatan 14 hari HSI menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antar perlakuan

(Lampiran 1), hal ini disebabkan eksplan masih menyesuaikan dengan media yang

baru sehingga belum menampakkan pengaruh perlakuan, sedangkan pada

pengamatan 28 HSI dan 42 HSI menunjukan bahwa ada perbedaan antar

perlakuan (Lampiran 2-3), dan dari hasil pengamatan secara visual menunjukkan

bahwa kombinasi thidiazuron + 2, 4-D terjadi pembentukan embrio.

Dalam hal ini eksplan diberi kad ar zat pengatur tumbuh sehingga

pertumbuhan eksplan belum normal, eksplan masih menyesuaikan dengan media

yang baru sehingga belum menampakkan pengaruh perlakuan namun setelah 28

HSI dan 42 HSI eksplan menunjukkan adanya pengaruh perlakuan sehingga

kondisi eksplan menjadi normal, teratur, terbentuk kalus, sehingga mencapai

jumlah yang cukup banyak, susunan hormon dirubah sehingga sebagian besar

dari sel-sel tersebut mulai memisah dan berubah bentuk menjadi embryoid, dan

hanya menunggu untuk dibebaskan untuk menjadi embrio, tidak menjadi akar

atau tunas. Ammirato (1992) menyatakan bahwa sel-sel kalus yang berubah

bentuk menyerupai embrio dinamakan embrio somatik .

Saat pembentukan embrio pada masing-masing perlakuan tidak sama,

tingkat kecepatan pembentukan embrio dari eksplan, dalam teknik kultur jaringan

erat hubungannya dengan zat pengatur tumbuh. Laju pertumbuhan yang cepat

dihasilkan dengan ketersediaan zat pengatur tumbuh. Gunawan (1989),

menyatakan bahwa dengan mengatur komposisi zat pengatur tumbuh terjadi

seleksi sel-sel yang mempunyai karakter tertentu. George dan Sherrington (1984)

juga menyatakan bahwa adanya zat pengatur tumbuh yang mendukung akan

menyebabkan terjadinya pembelahan dan pengembangan sel sedikit demi sedikit

(43)

Hal ini berarti bahwa zat pengatur tumbuh menentukan komposisi embrio

yang tumbuh. Zat pengatur tumbuh thidiazuron + 2, 4–D dapat mempengaruhi

pembentukan embrio somatik , sehingga dengan dosis kombinasi tertentu dapat

mencapai pembentukan embrio somatik yang optimum.

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa dengan perlakuan kombinasi 6 ppm

thidiazuron + 0,5 ppm 2, 4–D memberikan persentase pembentukan embrio

tertinggi (100%). Embrio yang terbentuk dengan menggunakan kombinasi

[image:43.612.162.444.274.524.2]

thidiazuron dan 2, 4–D dapat disajikan pada Gambar 3.

Tabel 8 Kombinasi thidiazuron + 2, 4–D terhadap persentase pembentukan embrio

2, 4 – D Thidiazuron

(ppm) ppm % Embrio

(44)

T4D0 (8 ppm TDZ + 0 ppm 2, 4-D T2D3 (4 ppm TDZ + 1 ppm 2, 4 –D)

T3D2 ( 6 ppm TDZ + 0.5 ppm 2, 4-D T3D1 (6 ppm TDZ + 0.5 ppm 2, 4–D) Gambar 3 Embrio yang terbentuk pada kombinasi thidiazuron + 2, 4–D

Menurut Wareing dan Philips (1970 dalam Abidin, 1982) bahwa didalam

tanaman terdapat 2 fase per tumbuhan yaitu fase pembelahan dan fase pembesaran

sel. Pada fase pembelahan zat pengatur tumbuh yang berperan adalah sitokinin,

selanjutnya sel akan mengalami pembesaran yang distimulir oleh auksin. Auksin

dalam konsentrasi rendah akan menstimulir pembesaran dan perpanjangan sel

setelah terjadinya pembelahan sel yang distimulir oleh sitokinin. namun efek

penghambat dan pendorong proses pembelahan sel oleh sitokinin tergantung pada

hormon yang lain terutama auksin (Watimena, 1987).

Hal ini berarti bahwa pule pandak lebih respon pada perlakuan thidiazuron

+ 2, 4–D untuk pembentukan embrio karena thidiazuron merupakan jenis

sitokinin yang paling kuat untuk pembelahan sel yang kemudian dikombinasikan

dengan jenis auksin 2, 4–D yang merangsang pembesaran sel dan merupakan

auksin sintetis yang kuat dan cukup tahan degradasi kerena reaksi enzimatik dan

(45)

selain mendorong terbentuknya kalus juga mendorong terbentuknya

embriogenesis.

Seperti yang dinyatakan oleh Ammirato (1982) bahwa konsentrasi optimal

dari zat pengatur tumbuh untuk embrio somatik berbeda-beda dan sifatnya

spesifik untuk setiap genotip tanaman.

Dari Gambar 4, dapat dilihat bahwa perlakuan kombinasi 6 ppm

thidiatzuron + 0,5 ppm 2, 4 – D memberikan persentase pembentukan embrio

tertinggi (100%).

Pengaruh Thidiatzuron + 2, 4 - D Terhadap Persentase Pembentukan embrio

0 20 40 60 80 100 120

D0 D1 D2 D3 D4 D0 D1 D2 D3 D4 D0 D1 D2 D3 D4 D0 D1 D2 D3 D4 D0 D1 D2 D3 D4

T0 T1 T2 T3 T4

Gambar 4 Pengaruh thidiazuron + 2, 4–D terhadap persentase pembentukan embrio

Dari hasil pengamatan secara visual tampak bahwa kombinasi

Thidiatzuron + 2, 4-D terjadi pembentukan embrio. Hal ini berarti bahwa pule

pandak mempunyai respon membentuk embrio pada perlakuan thidiatzuron + 2, 4

–D karena thidiazuron merupakan jenis sitokinin yang paling kuat untuk

pembelahan sel yang kemudian dikombinasikan dengan jenis auksin 2, 4–D yang

merangsang pembesaran sel. Komposisi media dan pemilihan zat pengatur

tumbuh yang sesuai selain mendorong terbentuknya kalus juga mendorong

terbentuknya embriogenesis.

Saat pembentukan embrio pada masing-masing perlakuan tidak sama,

tingkat kecepatan pembentukan embrio dari eksplan, dalam teknik kultur jaringan

(46)

dihasilkan dengan ketersediaan zat pengatur tumbuh. Gunawan (1989),

menyatakan bahwa dengan mengatur komposisi zat pengatur tumbuh terjadi

seleksi sel-sel yang mempunyai karakter tertentu. Hal ini berarti bahwa zat

pengatur tumbuh menentukan komposisi embrio yang tumbuh. Untuk tanaman jati

embriogenesis terjadi setelah tujuh kali mengalami sub kultur, sementara untuk

percobaan ini satu kali sub kultur sudah terjadi pembentukan embrio somatik, hal

ini merupakan suatu yang luar biasa karena diduga eksplan berasal dari planlet

yang kondisinya sudah normal dan viabilitasnya tinggi.

Sherrington (1984) juga menyatakan bahwa adanya zat pengatur tumbuh

yang mendukung akan menyebabkan terjadinya pembelahan dan pengembangan

sel sedikit demi sedikit yang mengakibatkan terbentuknya embrio diatas

permukaan eksplan.

Pengamatan terhadap perkembangan dan pertumbuhan eksplan

menunjukkan bahwa 7 Hari Setelah Isolasi (HSI), eksplan mulai membengkak dan

warna berubah dari hijau menjadi hijau kecoklatan. Warna kecoklatan ini diduga

karena pengaruh senyawa-senyawa hasil proses oksidasi fenol di dalam eksplan,

ditempat ini terdapat bintik-bintik yang kemudian berubah menjadi kerut-kerut

pada hari ke 10 pertumbuhan kalus dimulai dari sini. Dari hasil pengamatan

terhadap kecepatan terbentuknya kalus dan persentase pembentukan kalus

perlakuan dengan menggunakan thidiazuron + 2, 4–D yang paling cepat,

perlakuan kombinasi thidiazuron dan 2, 4–D memberikan saat inisiasi kalus

10–20 HSI, sedangkan kombinasi thidiazuron dan giberellin kalus terbentuk

sekitar 25–40 HSI. Kecepatan terbentuknya kalus dan warna kalus dapat disajikan

pada Tabel 9.

Tabel 9 Pengaruh thidiazuron, 2, 4–D dan giberellin terhadap kecepatan terbentuknya kalus dan warna kalus.

Perlakuan Kecepatan Terbentuknya Kalus (HSI)

Warna Thidiazuron + 2,4 –D

Thidiazuron + Giberellin

10-20

25-40

Hijau, dan agak putih kekuningan, agak padat.

[image:46.612.125.515.588.675.2]
(47)

Bentuk dan struktur kalus dari kedua perlakuan ditunjukkan pada Gambar

5 dan Gambar 6.

(48)
[image:48.612.135.508.87.482.2]

Gambar 6 Bentuk dan struktur kalus kombinasi thidiazuron + giberellin

Penggunaan thidiazuron saja hanya terjadi pembentukan kalus yang sedikit

melimpah dan membentuk planlet sedangkan penggunaan 2, 4–D saja hanya

membentuk sedikit kalus dan sedikit benjolan seperti akar.

George dan Sherrington (1984), menyatakan bahwa pemberian 2, 4–D

adalah untuk merangsang pembelahan dan pembesaran sel. Penambahan auksin

dalam jumlah besar cenderung menyebabkan terjadinya pertumbuhan kalus dari

ekspan dan menghambat regenerasi tanaman.

Abidin (1982), mengatakan bahwa didalam tanaman, zat pengatur tumbuh

(49)

kadang-kadang diperlukan bersama-sama 2, 4–D untuk mendapatkan kalus yang

baik sehingga dapat membentuk embrio.

Menurut Ammirato (1982), kebutuhan Thidiazuron dalam kultur jaringan

tanaman berbeda-beda. Pengaruh konsentrasi auksin dan sitokinin terhadap

pertumbuhan dan perkembangan tergantung jenis tanamannya.

Media tanam yang digunakan dalam kultur jaringan sangat berpengaruh

terhadap metabolisme sel, pada umumnya media diperkaya dengan zat pengatur

tumbuh. Zat pengatur tumbuh merupakan komponen media in vitro yang sangat

penting kehadirannya. Hal ini berarti bahwa untuk pembentukan dan

pengembangan kalus, diperlukan hormon eksogen baik dari golongan auksin

maupun sitokinin.

Pengaruh Kombinasi Thidiazuron + Giberellin Terhadap Pembentukan Embrio somatik Pule pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz).

Hasil analisis Kruskal – Wallis terhadap perkembangan eksplan mulai 14

HSI menunjukkan tid ak adanya pengaruh perlakuan (Lampiran 4), tetapi pada 28

HSI dan 42 HSI menunjukkan adanya pengaruh perlakuan (Lampiran 5–6), dan

menghasilkan persentase pembentukan kalus 20%-100%, dan dari hasil

pengamatan menunjukkan bahwa kombinasi thidiazuron + giberell

Gambar

Tabel 1 Kandungan kimia pada akar pule pandak (R. serpentina) dengan persentase yang dihasilkan
Tabel 2 Beberapa tanaman yang dapat di induksi embrio somatik secara in-
Tabel 3 Macam media dan zat pengatur tumbuh untuk induksi kalus pada               berbagai jenis tanaman
Tabel 4 Zat pengatur tumbuh yang digunakan secara komersial dalam           mikropropagasi tanaman
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana proteksi belum terpenuhi secara keseluruhan karena APAR tidak ada yang menggunakan box, ada juga APAR yang ditempatkan tidak terlihat,

Bilamana ternyata PIHAK PERTAMA tidak memperoleh suatu hak atas tanah tersebut atau tidak berhak melakukan penjualan tanah tersebut dan segala sesuatu yang terdapat di atasnya,

Satu-satunya yang jadi perangkapdalah kesalahan dalam mendeteksi (tidak memeduliakn masalah atau menganggap ada masalah, padahal sebenarnya tidak ada). Diagnosis: merupakn

8 Saya selalu merasa gelisah apabila atasan saya menyuruh melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan standar kantor.. 9 Saya selalu pulang melebih dari jam kerja yang

Data from observing student teachers’ basic teaching skills in the classroom. were analyzed under the framewo rk of Gagne’s nine events of

Bila tidak pernah mengalami konflik atau masalah dalam melaksanakan pekerjaan Anda, jelaskan apa yang Anda lakukan dalam bekerja sehingga tidak ada konflik/masalah yang Anda

Pembuatan sirup asam pada prinsipnya adalah memisahkan sari buah asam dan mencampurkannya dengan larutan gula berkadar tinggi sehingga diperoleh cairan yang cukup kental yang

Hasil yang didapatkan ternyata terjadi nilai konten informasi sebesar 0,0368 yang menunjukkan bahwa desain telah meningkat dan sesuai dengan kebutuhan. functional