• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1. Gambaran Umum Bober Café

Bober Café berdiri pada awal tahun 2004 dimulai dari sebuah resto tempat berkumpul anak muda. Juni 2008 Bober Cafe memulai untuk mencoba memperluas area, memberikan fasilitas berteknologi tinggi guna memberikan rasa kepuasan tertinggi bagi pelangggan. Fasilitas teknologi internet gratis tanpa batas dengan kecepatan tinggi telah menjadikan tempat Bober Cafe sebagai salah satu tempat paling favorit bagi anak muda dan kaum profesional lainnya.

Bober Cafe memulai untuk menerapkan keduanya, teknologi dan selera yang baik dari para musisi lokal kota Bandung, ditampilkan dalam sebuah sajian live music tiga kali dalam seminggu setiap hari rabu jumat dan juga sabtu.

Keanekaragaman menu dan jenis makanan juga terdiri dari keseimbangan dan kesadaran akan asupan nutrisi, yang tentunya dibalut dengan sentuhan citarasa tinggi dan segudang pengalaman memasak seorang koki kafe. Spesialisasi bober cafe adalah seesha smoking, kopi dan juga kue-kue kering. Bober Café telah memberikan kesan banyak pelanggan setia dengan racikan kopi spesial dipadukan dengan kenikmatan kue kering jnc saat para pelanggan menyelami dunia maya melalui fasilitas yang sudah disediakan. Konsep kafe hadirkan tidak sama dari kebanyakan resto dan tempat makan yang masyarakat dapat temukan di kota Bandung, Bober Cafe memiliki keunikan sendiri.

Kini Bober cafe telah memiliki banyak pelanggan setia yang memiliki waktu lebih untuk berada di kafe, menyambut permintaan tersebut Bober Café pun kini memperpanjang jam operasional dengan membuka pintu selama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

Hingga saat ini Bober Café telah berdiri selama hampir 6 tahun, dan selama itu juga Bober Café terus memberikan segala bentuk pelayanan dan fasilitas terbaik yang dapat dijumpai di kota Bandung .

(2)

2 1.1.2. Visi Misi Perusahaan

Visi

Menjadi kafe pilihan utama bagi orang – orang yang berjiwa muda.

Misi

Memeberikan pelayanan dan fasilitas yang nyaman dan mengesankan bagi pelanggan kafe.

1.1.3. Logo Perusahaan

Berikut adalah logo Bober Cafe seperti pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Logo Bober Cafe Sumber : Bober Cafe 1.1.4. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi Bober Cafe adalah seperti Gambar 1.2 Bober Organization

Back Front

Gambar 1.2

Struktur Organisasi Bober Cafe Sumber : Bober Cafe

CFO CEO Accounting

Finance

Purchasing

Central Kitchen Manager

Outlet Manager

HR Manager

GA

Marketing &

Creative

Training Manager

(3)

3 1.2. Latar Belakang Penelitian

Industri kreatif merupakan salah satu faktor yang menjadi penggerak perekonomian nasional.

Industri kreatif Indonesia semakin berkembang dan diminati pasar global. Di Indonesia, industri kreatif dibagi menjadi 15 subsektor, diantaranya Mode, Kerajinan, Kuliner, Musik, Radio & Televisi, Kerajinan, Teknologi Informasi, Seni Pertunjukan, Seni Rupa, Riset & Pengembangan, Arsitektur, Desain, Penerbitan & Percetakan, Periklanan, dan Permainan Interaktif. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, industri Kuliner, Fashion dan Kerajinan memiliki kontribusi besar pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional Indonesia (Presidenri, 2014).

Jumlah pelaku industri kreatif selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di tahun 2013 sendiri industri kreatif bertambah 6%, menurut menteri perindustrian Mohamad S Hidayat memperkirakan industri kreatif akan tumbuh 10% pada tahun 2014. Kontribusi industri kreatif ini memiliki dampak cukup signifikan bagi perekonomian nasional (Burhaeni, 2014).

Kota Bandung berdasarkan hasil survei yang dilakukan channel news asia di singapura dinyatakan bahwa kota Bandung menjadi kota kreatif se- Asia. Bandung pernah menjadi kota percontohan se- Asia Timur pada tahun 2007. Kuliner menjadi salah satu daya tarik kota Bandung, dengan banyaknya pengusaha muda yang mensukseskan usaha kuliner di kota Bandung dan berhasil menjadikan Bandung kota wisata dengan banyaknya pilihan kuliner (Muammar, 2013)

Kota Bandung sebagai kota kreatif merupakan barometer pertumbuhan industri kreatif di tingkat nasional. Industri fashion, industri musik, industri desain dan industri kuliner merupakan fakta kenapa Kota Bandung menjadi kota industri kreatif. Tidaklah heran bila berbagai macam predikat pun kini mulai bermunculan dari kalangan masyarakat, mulai dari kota besar yang dikenal sebagai pusat perkembangan mode, pusat kreasi seni dan budaya, pusat jajanan dan kuliner, serta sebutan “Paris Van Java” yang sekarang ini menjadi salah satu icon tujuan wisata di kota Bandung (Kuliner, 2012)

Kota Bandung sebagai kota kreatif selain memiliki puluhan factory outlet yang tersebar di seluruh penjuru daerah, juga memiliki potensi bisnis kuliner yang sangat beragam. Dari mulai menu masakan nusantara hingga menu kuliner mancanegara, ditawarkan para pelaku usaha untuk memanjakan para pecinta kuliner di daerah Bandung dan sekitarnya. Melihat pertumbuhan bisnis tersebut semakin matang, sebagian pelaku usaha kuliner di Bandung mulai membentuk sebuah komunitas pengusaha yang diberi nama Sindikat Kuliner. Sampai hari ini anggotanya sudah mencapai 38 pengusaha yang memiliki bisnis kuliner tersebar di penjuru Bandung, dan sama-sama memiliki visi besar untuk memajukan kuliner kreatif yang ada di Bandung (bisnisukm, 2012).

Bandung yang menjadi ibu kota Jawa Barat kini menjadi juga salah satu kota tujuan wisata terbesar di Indonesia. Pesatnya perkembangan pariwisata di Bandung membuat banyak café kini bermunculan dan patut untuk dikunjungi. Namun tidak sedikit café jika diperhatikan kurang begitu mendapatkan banyak

(4)

4

pelanggan karena penataan yang tidak begitu baik, terutama dari segi makanan dan lokasinya yang kurang strategis (wisatabandung, 2014).

Kafe, yang sering juga disebut coffeehouse, coffee shop, atau café, merupakan istilah yang digunakan untuk tempat yang melayani pesanan kopi atau minuman hangat lainnya. Kafe memiliki karakteristik seperti bar atau restoran, tapi berbeda dengan kafetaria. Banyak kafe yang tidak hanya menyediakan kopi, tetapi juga teh bersama dengan makanan ringan. Dari sisi budaya, kafe telah tersebar luas untuk menjadi pusat interaksi sosial dimana orang-orang dapat berkumpul, berbicara, menulis, membaca, melawak, atau sekedar mengisi waktu (Tanjung, 2013).

Seiring dengan perkembangan zaman, para pengusaha dituntut untuk membuat sebuah inovasi dalam usaha bisnis mereka. Para pengusaha dituntut untuk lebih jeli dalam melihat berbagai peluang yang bisa dijadikan senjata mereka dalam membuka usaha. Salah satu contoh peluang bisnis adalah peluang usaha café. Banyak tempat-tempat nongkrong berupa café menjamur di sepanjang jalan kota besar Bandung. Ketua Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) Kota Bandung Dedie Soekartin mengungkapkan dari data di Disbudpar Kota Bandung per 30 Juni 2013 tercatat ada 3.000 pengusaha restoran dan kafe (Ispranoto, 2013).

Melihat banyaknya pengusaha kreatif yang terdapat di daerah Bandung, tidaklah heran bila Kota Bandung menjadi gudangnya para pebisnis kreatif bermunculan dengan membawa sebuah konsep model bisnis baru yang inovatif khususnya dalam bidang Café dan Resto. Sebuah persaingan konsep bisnis baru terbentuk ketika konsep bisnis lama tumbang. Para pemula menantang pendahulu yang beberapa di antaranya berusaha keras menemukan kembali konsep yang cocok untuk usahanya.

Pengelolaan sebuah usaha ataupun bisnis merupakan tugas yang amat menantang. Sebuah model bisnis menggambarkan tentang dasar pemikiran bagaimana organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai (Osterwalder, 2009). Kondisi perekonomian yang sulit, terjadinya perubahan selera masyarakat yang cepat, persaingan semakin tajam dan kecenderungan gaya hidup modern dalam pergaulan menjadikan alasan perlunya manajemen bisnis yang solit agar mampu menghadapi dan mengantisipasi persaingan usaha.

Konsep dan model bisnis yang digunakan dan dikembangkan Bober Café dapat tertinggal, oleh karena itu harus selalu diperbarui. Dengan kata lain, manajemen dituntut untuk memiliki ilmu, pengetahuan luas dan kemampuan konseptual tata kelola yang baik sehingga bisa menjadi modal mengembangkan bisnis yang dijalankan. Menurut Pak Jodi pemilik Bober Cafe pada wawancara yang dilakukan pada 22 Februari 2014, usaha pengembangan dengan cara membuka cabang outlet sudah dilakukan olehnya, namun dari ketiga kali usaha itu selalu gagal.

Usaha yang pertama di tahun 2007 Bober Cafe membuka cabang di Braga City Walk, dan outlet tersebut hanya berdiri selama 17 bulan sebelum ditutup. Tahun 2009 Bober membuka outlet di Bandung Super Mall, disana outlet juga hanya mampu bertahan selama 18 bulan sebelum penutupan. Tahun 2011

(5)

5

Bober Cafe membuka kembali cabang outlet di Setiabudhi, dan untuk ketiga kalinya outlet hanya mampu beridiri selama 18 bulan yang akhirnya di tutup kembali. Faktor utama yang menjadi penyebab kegagalan itu adalah dikarenakan konsep dan strategi yang kurang tepat. Hal ini membuat manajemen Bober Cafe dituntut untuk melakukan pemodelan bisnis yang tepat dalam pengembangan usahanya. Pada awal tahun 2013, Bober Cafe mencoba membuka cabang baru lagi di Jl. Sumatra No. 5 Bandung. Disanalah pembuktian bahwa pemodelan bisnis yang di terapkan harus benar - benar sesuai antara lingkungan dan konsep outlet yang akan dibuka.

Model bisnis merupakan penciptaan nilai bagi perusahaan, pelanggan, dan masyarakat. Inovasi model bisnis merupakan sesuatu yang benar–benar baru. Inovasi model bisnis harus dipahami oleh kelas manajerial Bober Cafe untuk menjadikan kekuatan dominan cafe dan dapat terus mempertahankan perusahaan dari pesaing–pesaing yang sudah ada ataupun pesaing baru mengingat konsumen adalah sumber pendapatan usahanya. Melalui model bisnis yang inovatif perusahaan mampu menjawab tantangan dan permintaan pelanggan yang menjadi target pasarnya (Osterwalder, 2009 ).

Pendapatan yang diperoleh perusahaan besarnya dapat dilihat dari banyaknya jumlah pengunjung yang terdapat pada daftar pengunjunng Bober Cafe. Dengan melihat banyaknya jumlah pengunjung yang telah datang ke Cafe maka dapat diketahui juga kekuatan perusahaan atau nilai jual perusahaan untuk pelanggan.

Gambar 1.4 adalah grafik yang menunjukan jumlah pengunjung Bober Cafe tercatat per bulan dari tahun 2011.

Gambar 1.4

Jumlah Pengunjung tahun 2011 Sumber : Bober Cafe

Jumlah pengunjung dalam ribuan

(6)

6

Gambar 1.5 adalah grafik yang menunjukan jumlah pengunjung Bober Cafe tercatat per bulan dari tahun 2012

Gambar 1.5

Jumlah Pengunjung tahun 2012 Sumber : Bober Cafe

Gambar 1.6 adalah grafik yang menunjukan jumlah pengunjung Bober Cafe tercatat per bulan dari tahun 2013

Gambar 1.6

Jumlah Pengunjung tahun 2013 Sumber : Bober Cafe

Jumlah pengunjung dalam ribuan

Jumlah pengunjung dalam ribuan

(7)

7

Jumlah pengunjung Bober Cafe di atas tidak dapat dikatakan bagus atau kurang baik, tapi bisa dihitung berapa presentase Bober Cafe mampu menarik pelanggan jika dibandingkan dan dihitung dengan jumlah penduduk Kota Bandung. Jumlah penduduk Kota Bandung saat ini tercatat berdasarkan sensus tahun 2010 adalah 2.455.517 jiwa dan penduduk umur 15-35 tahun adalah 264.190 (www.bandungkota.bps.go.id, diakses tanggal 1 Maret 2014). Hal tersebut menandakan pada tahun 2011, 2012, 2013 dengan jumlah total pengunjung masing – masing 168.201, 178.243, 178.029 maka Bober Cafe menarik 6,8%, 7,25%, dan 7,2% dari jumlah penduduk Kota Bandung, dan jika dihitung dengan segmen pelanggan 15-35 tahun adalah 63,6%, 67,4% dan 67,3% .

Hasil presentase tersebut dapat dijelaskan pada Gambar 1.7 tentang grafik presentase perbandingan jumlah pelanggan Bober dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Bandung di tahun 2011 sampai tahun 2013 sebagai berikut.

Gambar 1.7

Jumlah Pengunjung Bober Cafe

Bober cafe dulu mentargetkan segmen pasar konsumennya di usia 15 – 25 tahun, sehingga konsep yang dibawakan adalah ramai dan berjiwa muda. Namun menurut Pak Jodi sebagai owner dalam wawancara (22 Februari 2014) Bober Cafe mulai melebarkan segmentasi pasarnya di usia15-35 tahun , hal ini sedang direalisasikan dengan pembukaan outlet cabang baru Bober Tropica yang dibuka tahun 2013 dengan jumlah pengunjungnya seperti pada Gambar 1.8 berikut.

(8)

8

Jumlah pengunjung Bober Tropica pada tahun 2013 tercatat setiap bulannya dalam Grafik dan dalam satuan ribuan pada gambar 1.8 berikut.

Gambar 1.8

Jumlah Pengunjung tahun 2013 Sumber : Bober Cafe

Melihat jumlah pengunjung yang telah datang ke Bober Cafe Tropica, terlihat bahwa jumlah pengunjung masih jauh dibawah Bober Cafe pusat di jalan Riau, outlet Bober Tropica mendapatkan 3%

dari total jumlah peduduk Kota Bandung dan 28,2% dari jumlah penduduk usia 15-35 tahun. Hal inilah yang mengharuskan manajemen Bober Café memerlukan strategi pengembangan bisnis agar Bober Café memiliki keunikan atau melakukan diferensiasi untuk memenangkan persaingan dalam bisnis kafe dan resto di Kota Bandung dan mendapatkan pelanggan baru.

Salah satu cara yang dapat diterapkan dalam usaha pengembangan bisnis tersebut adalah dengan memodelkan bisnis dengan cara membuat konsep yang memungkinkan perusahaan mendiskribsikan dan memikirkan organisasinya, pesaingnya dan perusahaan lain melalui sebuah model bisnis yaitu dengan pendekatan Business Model Canvas. Konsep ini telah diterapkan dan diuji diseluruh dunia dan sudah digunakan dalam organisasi seperti IMB, Ericsson, Deloitte. Di Indonesia terdapat sejumlah perusahaan yang telah menerapkan Business Model Canvas dapat dilihat pada tabel 1.1.

Tabel 1.1

Perusahaan yang menerapkan Business Model Canvas di Indonesia versi PPM Manajemen 2012 Nama Perusahaan

RCTI Metro TV

(9)

9 Nama Perusahaan

Garuda Indonesia 7-Eleven

XL

Bank Mandiri Kartu Kredit Hotel Amaris PT.Jasa Marga PT.Kereta Api Indonesia

Air Asia Astra Honda Motor

PT.PLN

Sumber: PPM Manajemen (2012)

Berdasarkan data dan fakta yang ada, penting untuk Bober Café untuk mengetahui model bisnis yang cocok untuk di terapkan di perusahaan baik dalam aspek pemasaran, sumber daya manusia, finansial, operasional, dan aspek bisnis lainya yang berkaitan. Selain itu, diketahui pula belum ada penelitian sebelumnya tentang bagaimana merumuskan model bisnis untuk menghadapi ancaman dan memaksimalkan peluang yang ada untuk meningkatkan pendapatan pada Bober Café dengan menggunakan pendekatan Business Model Canvas yang merangkum 9 elemen bisnis yaitu: Customer Segment, Customer Relationship, Channel, Revenue Stream, Value Propositions, Key Activities, Key Resources, Cost Structure, dan Key Partners.

Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas maka penelitian ini mengambil judul skripsi

“Perancangan Model Bisnis sebagai bentuk Strategi Pengembangan Bisnis pada Bober Café dengan pendekatan Business Model Canvas”

1.3. Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan yang telah di paparkan dalam latar belakang diatas, maka penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran model bisnis Bober Café saat ini jika ditinjau dengan pendekatan Business Model Canvas?

2. Bagaimana perancangan model bisnis sebagai bentuk strategi pengembangan bisnis yang sesuai dan disarankan untuk diterapkan di Bober Café agar dapat meningkatkan profit dengan pendekatan Business Model Canvas?

(10)

10 1.4. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan :

1. Mengetahui gambaran model bisnis Bober Café jika di tinjau dengan Business Model Canvas dengan pemetaan model bisnis saat ini.

2. Mengetahui Model bisnis yang sesuai dan disarankan untuk diterapkan di Bober Café.

1.5. Kegunaan Penelitian 1. Kegunaan Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai alternative atau pertimbangan dalam perancangan pengembangan bisnis Bober Café sehingga dapat meningkatkan pendapatan.

2. Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada penelitian di bidang manajemen strategi dan strategi bisnis yang menggunakan business model canvas.

3. Kegunaan Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang akan menggunakanya sebagai bahan pertimbangan dan referensi dalam kegiatan penelitian atau karya ilmiah yang lain.

1.6. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembaca dalam memahami isi yang terdapat dalam skripsi ini, sistematika penulisan skripsi disusun sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini, dikemukakan mengenai latar belakang, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan kegunaan penelitian.

Beberapa data disajikan pula pada bab ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi kajian pustaka dan uraian umum tentang teori yang digunakan serta literatur yang berkaitan dengan penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisi metode, pendekatan, dan teknik yang digunakan dalam mengumpulkan maupun menganalisis data yang dapat menjawab serta menjelaskan masalah penelitian.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang hasil penelitian secara sistematis kemudian dianalisis dengan teknis analisis yang ditetapkan dan ditinjau dari Sembilan elemen business model canvas

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi tentang kesimpulan atas hasil penelitian dan saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian.

Gambar

Gambar 1.1  Logo Bober Cafe  Sumber : Bober Cafe  1.1.4.    Struktur Organisasi
Gambar 1.5 adalah grafik yang menunjukan  jumlah pengunjung Bober Cafe tercatat per bulan dari  tahun 2012

Referensi

Dokumen terkait

Networking yang dibentuk dalam komunitas NGADUide dibentuk untuk mendukung entrepreneur generasi muda kota Bandung untuk membuka opportunity dan resources dan

Dan juga melihat hal penurunan pada pengunjung web pada Tokopedia, juga mengingat akan kepopularitasan BTS serta banyaknya penggemar dari pada BTS yang telah ditunjuk oleh

satu dimensi dari smart city adalah smart building yang jika diterapkan secara menyeluruh akan sangat membantu pemerintah Kota Bandung dalam penataan kota dan

Dari sekian banyak kuliner es krim di kota Bandung, penulis tertarik untuk menjadikan Lick Over Lips (LOL) sebagai objek penelitian karena Lick Over Lips (LOL) merupakan

Maka dengan kata lain target dan segmen pasar pada range umur 18 – 24 sangat berpeluang bagi perusahaan atau pebisnis yang menggunakan media jejaring social Facebook untuk

Kinerja keuangan daerah mengukur kualitas baik atau tidaknya suatu daerah, Terdapat Kabupaten dan Kota di provinsi Jawa Barat yang memiliki efisiensi kinerja

Martadinata (Riau) No. Alasan pendirian Warung Misbar di daerah tersebut karena biasanya para wisatawan domestik maupun mancanegara saat berlibur ke Bandung, daerah yang

Pada tabel 1.1 di atas dapat dilihat total penerimaan pajak kota Bandung lebih besar di bandingkan dengan penerimaan pajak di kota lain dalam lingkungan Kantor