BAB II TINJAUAN PUSTAKA

15  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Irigasi

Berdasarkan UU No. 7 Tahun 2004 pasal 41 ayat 1 yang berisi tentang Sumber Daya Air (SDA), irigasi merupakan usaha pengaturan, penyediaan, dan pembuangan air dalam usaha menunjang pertanian meliputi irigasi rawa, irigasi permukaan, irigasi pompa, irigasi air bawah tanah, dan irigasi tambak.

2.1.1. Fungsi dan Manfaat Irigasi

Irigasi memiliki banyak fungsi dan manfaat bagi kehidupan makhluk hidup terutama manusia yang bekerja dibidang pertanian, berikut merupakan fungsi dan manfaat dari adanya irigasi (Saud H.S., 2013), yaitu:

1. Sebagai simpanan supply air sehingga lahan pertanian tetap bisa ditanami dan masa panen tidak terganggu jika sewaktu-waktu terjadi kekeringan akibat kemarau panjang.

2. Untuk memenuhi kebutuhan air yang dibutuhkan tanaman pertanian sesuai dengan kebutuhan dari tanaman dan lahan.

3. Membantu tanah dalam proses pelunakkan, air yang dialirkan saluran irigasi dapat membantu tanah mengalami pelunakkan. Tanah yang telah melunak akan memudahkan proses pengolahan tanah sampai siap ditanami.

4. Membantu menurunkan suhu tanah hingga bisa kondusif saat ditanami.

5. Membantu mengurangi kemungkinan rusaknya tanah akibat frost.

2.1.2. Jenis-jenis Irigasi

Di bawah ini adalah jenis irigasi yang meliputi (Kementerian PUPR, 2019):

1. Irigasi Permukaan

Saluran irigasi yang terletak di atas permukaan tanah dengan ketinggian air 10- 15 cm di atas permukaan tanah disebut sebagai irigasi permukaan.

2. Irigasi Lokal

Irigasi lokal adalah saluran irigasi yang memiliki sistem dimana air dialirkan dengan cara pemipaan.

(2)

3. Irigasi dengan Penyemprotan

Irigasi dengan penyemprotan dilakukan dengan cara menyemprotkan air dari atas seperti kabut, hingga tanaman mendapat air dari atas.

4. Irigasi Tradisional dengan Ember

Irigasi jenis ini memanfaatkan tenaga manusia untuk menyiram tanaman dengan ember. Irigasi jenis ini sangat tidak efektif.

5. Irigasi Pompa Air

Sistem kerja irigasi pompa air yaitu irigasi yang sistem kerjanya menaikkan air dari sumur menggunakan pompa air yang kemudian dialirkan menggunakan pipa atau menggunakan saluran.

6. Irigasi tanah kering dengan terarisasi.

2.2. Sedimentasi

Sedimentasi merupakan proses mengendapnya sedimen atau material yang ditranspor oleh air, angin, es atau gletser di area cekungan.

1. Proses Terjadinya Sedimentasi

Proses terjadinya sedimentasi merupakan proses mengendapnya sedimen yang disebabkan oleh banyak faktor seperti erosi, angkutan, pengendapan dan pemadatan. Proses sedimentasi umumnya dibagi menjadi dua macam (Sonia, 2020), yaitu:

a. Proses sedimentasi geologis

Merupakan proses erosi atau pengikisan tanah yang bergerak secara umum.

b. Proses sedimentasi dipercepat

Proses sedimentasi dipercepat merupakan proses pengendapan secara geologis namun terjadi dalam waktu lebih singkat.

2. Sedimentasi Berdasarkan Penyebabnya

Sedimentasi berdasarkan penyebabnya diklasifikasikan menjadi empat jenis (Sonia, 2020), yaitu:

a. Sedimentasi air sungai b. Sedimentasi air laut c. Sedimentasi angin d. Sedimentasi gletser

(3)

3. Sedimentasi Berdasarkan Tempat Pengendapannya

Sedimentasi berdasarkan tempat pengendapannya dibagi menjadi lima (Sindhu P.Y., 2016), yaitu:

a. Sedimentasi teritis, merupakan sedimentasi yang terjadi di daratan banjir.

b. Sedimentasi fluvial, merupakan sedimentasi yang terjadi di bagian dasar sungai yang menjadi penyebab utama pendangkalan.

c. Sedimentasi limnis, merupakan sedimentasi yang terjadi di rawa.

d. Sedimentasi marin, merupakan sedimentasi yang terjadi di daerah laut.

e. Sedimentasi lakustris, merupakan sedimentasi yang terjadi di area dasar sungai.

4. Faktor yang Memengaruhi Sedimentasi

Berikut adalah faktor yang memengaruhi sedimentasi (Sonia, 2020), yaitu:

a. Adanya tempat yang menjadi sumber material sedimen

b. Adanya lokasi tepat untuk pengendapan (seperti di laut, transisi, maupun di darat)

c. Adanya angkutan sedimen oleh air, es dan angin dari sumber material d. Perbedaan arus yang menyebabkan adanya proses terjadinya endapan e. Adanya penggantian (replacement) serta rekristalisasi (perubahan) material f. Perubahan yang terjadi saat pengendapan sedang berlangsung secara kimia

dan fisika atau yang disebut proses diagenesis

g. Proses kompaksi, yaitu adanya gaya berat material sedimen yang memaksa lapisan sedimen berkurang

h. Lithifikasi terjadi karena kompaksi yang berlangsung secara terus menerus hingga sedimen membatu atau menjadi keras.

2.3. Karakteristik Sedimen

Karakteristik sedimen meliputi beberapa hal, yaitu:

1. Pengukuran Karakteristik Sedimen

Pengukuran karakteristik dilakukan untuk mendapatkan nilai debit atau laju sedimen. Pengukuran karakteristik sedimen dilakukan dengan mengambil sampel sedimen dan kemudian dibuat hubungan antara debit sedimen dengan debit air. Rumus-rumus empiris atau semi empiris dapat digunakan dalam penentuan hasil angkutan sedimen, pengukuran pengangkutan sedimen pada

(4)

titik kontrol arus sungai juga dapat digunakan untuk menentukan hasil angkutan sedimen. Beberapa rumus yang digunakan dalam penentuan besarnya pengangkutan sedimen sudah dikembangkan, dengan cara mengkolerasi besarnya angkutan sedimen yang telah diukur menggunakan data curah hujan dan data topografi. (Soemarto, 1999).

2. Proses Transpor Sedimen

Kecepatan aliran dan ukuran partikel sedimen merupakan fungsi dari kecepatan transpor sedimen. Besarnya partikel sedimen yang terbawa dalam aliran ditentukan oleh interaksi beberapa faktor seperti: gradasi butiran yang masuk ke aliran sungai atau saluran, karasteristik saluran, karasteristik fisik butiran sedimen, serta debit saluran. Besarnya ukuran butir sedimen yang masuk ke dalam aliran dan besarnya debit aliran dapat ditentukan menggunakan beberapa faktor seperti iklim, topografi, vegetasi, geologi, dan cocok tanam di area tangkapan air tempat asal sedimen. Bentuk morfologi sungai, kemiringan sungai, dan tingkat kekasaran dasar sungai merupakan karakteristik sungai yang paling penting. Interaksi dari faktor-faktor tersebut dapat menentukan jumlah sedimen, kecepatan transpor sedimen, dan tipe sedimen (Asdak, 2014).

Ada tiga jenis transportasi sedimen yang tejadi di alur sungai, yaitu (Soewarno, 2013):

a. Angkutan sedimen layang (Suspended Load Transport) merupakan butiran tanah yang bergerak melayang mengikuti aliran air. Jika debit aliran semakin besar, maka angkutan sedimen layang juga semakin besar.

b. Angkutan sedimen loncat (Saltation Load Transport) adalah butiran material tanah yang bergerak mengikuti aliran air atau tepatnya di antara sedimen dasar dan sedimen melayang. Butiran tanah tersebut bergerak terus menerus, melambung (bounce), dan meloncat (skip) di sepanjang saluran dan tidak menyentuh dasar saluran.

c. Angkutan sedimen dasar (Bed Load Transport) adalah angkutan sedimen atau butir tanah berbentuk pasir kasar (coarse sand) yang bergerak mendorong serta menggeser (pushing and sliding), menggelinding (rolling) yang terjadi terus menerus di dasar aliran dan gerakannya dipengaruhi gaya seret (drag force).

(5)

Gambar 2.1. Transpor Sedimen di Sungai

Sumber: Hamblim & Christiansen, 1995

3. Jenis-Jenis Sedimen

Jenis sedimen berdasarkan ukuran butir tanah, komposisi mineral dan bahan inti yang menyusun sedimen, ada beberapa jenis seperti tanah liat, pasir, dan lain- lain. Berdasarkan ukuran butirannya, sedimen yang terlarut didalam aliran atau yang disebut muatan sedimen melayang (suspended load) dan sedimen yang menyerap di dasar aliran yang disebut sedimen dasar (bed load). Berdasarkan ukurannya, jenis-jenis sedimen dapat dilihat pada Tabel 2.1. (Dunne, 1978 dalam Sonia, 2020), yaitu:

Tabel 2.1. Jenis-jenis Sedimen

Jenis Sedimen Ukuran Partikel (mm)

Liat < 0,0039

Debu 0,0039 – 0,0625

Pasir 0,0625 – 2,0

Pasir Besar 2,0 – 64,0

Sumber: Chay Asdak, 2010

Pengukuran butir sedimen diklasifikasikan berdasarkan jenis batuannya. Untuk batuan berbentuk bulat, pengukuran dilakukan secara langsung. Pada batuan berupa pasir dan kerikil, pengukurandilakukan dengan cara analisis saringan.

Dan untuk yang berupa tanah liat maupun lumpur dilakukan analisis berat jenis sedimen.

4. Sifat dan Klasifikasi Sedimen

Sifat-sifat sedimen meliputi besarnya partikel serta distribusi butiran sedimen, bentuk, rapat massa atau berat jenis, kecepatan endapan, ketahanan terhadap erosi, dan lain-lain. Sedimen dapat diklasifikasikan berdasarkan ukuran butirannya menjadi beberapa jenis ukuran partikel sesuai dengan yang tertera pada Tabel 2.2.

(6)

Tabel 2.2. Ukuran Partikel Sedimen Berdasarkan Wentworth

Klasifikasi Diameter Partikel

mm Satuan phi

Batu 256 – 128 -8

Cobble 128 – 64 -7

Koral (pebble)

Besar 64 – 32 -6

Sedang 32 – 16 -5

Kecil 16 – 8 -4

Sangat kecil 8 – 4 -3

Kerikil 4 – 2 -2

Pasir

Sangat besar 2 – 1 -1

Kasar 1 – 0,5 0

Sedang 0,5 – 0,25 1

Halus 0,25 – 0,125 2

Sangat halus 0,125 – 0,063 3

Lumpur

Kasar 0,063 – 0,031 4

Sedang 0,031 – 0,015 5

Halus 0,015 – 0,0075 6

Sangat halus 0,0075 – 0,0037 7

lempung

Kasar 0,0037 – 0,0018 8

Sedang 0,0018 – 0,0009 9

Halus 0,0009 – 0,0005 10

Sangat halus 0,0005 – 0,0003 11 Sumber: Triatmodjo, 1999

2.4. Pengertian Laju Sedimentasi

Laju sedimentasi merupakan banyaknya sedimen per satuan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) atau Daerah Tangkapan Air (DTA) per satuan waktu (ton/ha/th atau mm/th). Laju angkutan sedimen adalah besar laju atau debit sedimen yang diukur sesaat. Saat debit aliran sungai tidak berubah dengan cepat, pengukuran laju sedimentasi hanya perlu dilakukan satu kali dalam menentukan debit sedimen rata- rata per hari. Namun, saat debit aliran berubah secara cepat serta laju sedimen tinggi, maka perlu dilakukan pengukuran beberapa kali untuk mendapatkan nilai laju sedimen harian rata-rata. Perhitungan dapat dilakukan untuk mengetahui besaran angkutan sedimen yang masuk ke aliran. Analisis perhitungan dapat dilakukan jika data pengukuran angkutan sedimen sudah memadai sesuai kebutuhan data berdasarkan metode yang digunakan. Sedimentasi sungai umumnya berasal dari material sedimen yang ada di induk sungai dan anak sungai.

Sedimentasi sungai juga dapat berasal dari erosi di area tangkapan air atau dari longsoran tebing yang ada di dekat sungai (Soemarto, 1987).

(7)

2.5. Karakteristik Saluran 2.5.1. Analisis Debit Saluran

Debit aliran merupakan laju aliran saat melewati penampang aliran atau saluran air lainnya per satuan waktu (m3/s) (Asdak, 2010). Analisis debit aliran dilakukan dengan cara melakukan pengukuran kecepatan aliran dan lebar penampang melintang saluran. Kemudian data yang didapat saat pengukuran di lapangan, dapat diolah untuk mendapatkan nilai besarnya debit aliran yang melewati saluran tersebut. Perhitungan debit dilakukan dengan Metode Penampang Tengah (Mid Section Method). Berikut adalah persamaan yang digunakan dalam perhitungan debit aliran, yaitu:

Qw = ∑𝑛𝑖=1𝑄𝑖 (2.7)

Qw𝑥 = V . A (2.8)

Qw𝑥 = 𝑉𝑥(𝑊𝑥−1+ 𝑊𝑥

2 ) 𝐷𝑥 (2.9)

Keterangan :

Qw = Debit Aliran (m3/s) V = Kecepatan Aliran (m/s) A = Luas penampang sungai (m2) W = Jarak antar pias (m)

D = Kedalaman aliran (m)

Gambar 2.2. Metode Tampang Tengah

Sumber: Triatmodjo, 2008

(8)

2.5.2. Analisis Kecepatan Aliran

Pengukuran kecepatan aliran dilakukan dengan cara mengukur banyak waktu yang dibutuhkan pelampung untuk menempuh jarak atau lintasan tertentu. Dari pengukuran di lapangan, didapatkan data panjang lintasan (L) dan jumlah waktu yang diperlukan pelampung saat melintas dari titik B hingga titik C (t), berikut adalah persamaan yang digunakan untuk menghitung kecepatan aliran, yaitu (Triatmodjo, 2009):

V = L

t x K (2.10)

K = 1 - 0,116(√(1- 𝛼) - 0,1) (2.11) Dimana:

V = Kecepatan aliran (m/s) L = Panjang (m)

t = Waktu (s)

K = Koefisien Pelampung

α = kedalaman bagian pelampung yang tenggelam dibagi kedalaman aliran 2.5.3. Kemiringan Saluran

Kemiringan saluran atau profil memanjang saluran merupakan kurva hubungan antara jarak yang diukur di sepanjang saluran dengan elevasi dasar saluran.

Kemiringan saluran dihitung dengan cara membagi saluran menjadi beberapa pias kemudian kemiringan saluran dihitung setiap pias (Triadmodjo, 2009).

2.6. Analisis Laboratorium

Dalam pelaksanaan analisis laboratorium dilakukan Pengambilan sampel di lapangan perlu dilakukan untuk selanjutnya sampel tersebut diuji di laboratorium.

Berikut adalah pengujian yang akan dilakukan di laboratorium, yaitu:

2.6.1. Analisis Diameter Sedimen

Tanah terdiri dari berbagai ukuran butir yang berbeda-beda. Sehingga ukuran butir tanah diklasifikasikan dalam bentuk grafik maupun tabel. Ukuran butir tanah tersebut menjadi parameter yang menentukan jenis tanah tersebut. Berikut adalah grafik pembagian ukuran butir padat tanah tertera pada Gambar 2.3.

(9)

Gambar 2.3. Grafik Pembagian Ukuran Butiran Tanah (Gradasi)

Sumber: Wesley, 2012

Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui gradasi tanah adalah pengujian analisis saringan. Pengujian analisis saringan adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui gradasi tanah yang tahan di saringan nomor 4 (4,75 mm) hingga tertahan di saringan nomor 200 (0,075 mm). Berikut adalah persamaan yang digunakan dalam perhitungan untuk mencari nilai D50 (Jackson and Richardson, 2007 dalam Junaidi, 2011):

ϕ𝑖 = (x2 - x1) (yyi - y1

2 - y1)+ x1 (2.12)

Di = 10^ [(log x2- log x1) (yyi - y1

2 - y1)+ log x1] (2.13) Berikut adalah nomor saringan dan diameter saringan yang digunakan dalam pengujian analisis saringan tertera pada Tabel 2.3., yaitu:

Tabel 2.3. Nomor dan Diameter Saringan

Nomor Saringan Diameter Saringan (mm)

4 4.75

10 2

20 0.85

30 0.6

40 0.425

50 0.3

80 0.18

100 0.15

200 0.075

Pan

Sumber: Modul Praktikum Mekanika Tanah Teknik Sipil ITERA, 2020

(10)

2.6.2. Berat Jenis Sedimen (Spesific Gravity)

Berat jenis sedimen (specific gravity) merupakan rasio berat butiran sedimen terhadap volume air (Ponce, 1989 dalam Sonia,2020). Nilai berat jenis sedimen dapat diketahui melalui pengujian berat jenis sedimen di laboratorium. Berikut adalah persamaan yang digunakan dalam perhitungan pengujian berat jenis sedimen:

GS = MS

(M1 + MS)- M2 x K (2.14) Keterangan:

GS = Berat Jenis Tanah

MS = Massa Tanah Kering (gram) M1 = Berat Piknomer + Air (gram)

M2 = Berat Piknometer + Air + Tanah (gram) K = Faktor Koreksi Berdasarkan Suhu

Tabel 2.4. Faktor Koreksi Terhadap Suhu

T (˚C) K

18 1,0004

19 1,0002

20 1

21 0,9998

22 0,9996

23 0,9993

24 0,9991

25 0,9989

26 0,9986

27 0,9983

28 0,998

29 0,9977

30 0,9974

Sumber: SNI 1964-2008

Tabel 2.5. Jenis Tanah Berdasarkan Berat Jenis

Tipe Tanah Gs

Sand (Pasir) 2,65 – 2.67

Silty Sand (Pasir Berlanau) 2,67 – 2,70 Inorganic Clay (Lempung Inorganik) 2,70 – 2,80

Soil With Mica or Iron 2,75 – 3,00

Gambut < 2

Humus Soil 1,37

Grafel > 2,7

Sumber: L. D. Wesley, Mektan Cetakan IV hal. 5, Tabel 1.1, Badan Penerbit Pekerjaan Umum

(11)

2.7. Analisis Debit Sedimen

Berdasarkan pengambilan sampel, data di lapangan, dan hasil pengujian sampel di laboratorium, dapat dilakukan pengolahan data untuk mengetahui karakteristik sedimen di lokasi penelitian. Perhitungan dilakukan untuk mengetahui banyak sedimen yang melewati saluran pada suatu periode tertentu (sediment rate).

2.7.1. Analisis Debit Sedimen Dasar

Debit sedimen dasar (bed load) dapat dihitung dengan persamaan angkutan sedimen, yaitu:

1. Perhitungan debit sedimen dasar dengan Metode Du Boys

Menurut Du Boys (1879) dalam hipotesa yang telah dilakukan mengenai besarnya pengangkutan sedimentasi, yaitu suatu aliran bisa dianggap sebagai rangkaian lapisan yang saling menutupi dengan kecepatan angkutan yang berbeda secara linear dari nol di bawah permukaan, sampai nilai maksimum pada pertemuan antara fluida dan dasar yang padat (Sonia, 2020).

Du Boys mulai melakukan penelitian mengenai persamaan angkutan sedimen dasar pada tahun 1879 (Graf, 1984), kemudian setelah itu barulah banyak peneliti lain yang melakukan penelitian mengenai angkutan sedimen dasar.

Persamaan angkutan sedimen dikelompokkan menjadi 3 (Kironoto, 2006), yaitu:

a. Persamaan yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan empirik b. Persamaan dengan menggunakan pendekatan analisis dimensi

c. Persamaan yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan semi-teoritik.

Dalam penelitiannya, Du Boys menganggap bahwa material sedimen bergerak dalam bentuk lapis per lapis (series of layers) sejajar dengandasar saluran akibat adanya tegangan geser, kecepatan masing-masing lapis bervariasi, dengan kecepatan maksimum diasumsikan terjadi pada lapisan paling atas yaitu pada permukaan dasar aliran dankecepatan minimum atau sama dengan nol terjadi pada lapisan paling bawah yang berada padakedalaman tertentu di bawah dasar aliran (Kironoto, 2006). Penjelasan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.4.

(12)

Gambar 2.4. Sketsa Model Angkutan Sedimen Dasar

Sumber: Kironoto, B.A., 2006

Berikut adalah persamaan awal besar angkutan sedimen (dalam berat per satuan lebar per satuan waktu) (Qb), yaitu:

Qb= 𝛾𝑠 𝑛 𝜀 (𝑛−1) 𝑣𝑠

2 (2.15)

Keterangan:

Qb = Debit bed load (kg/s) ɛ = Tebal tiap lapisan (mm) ɣs = Berat Jenis Sedimen

n = Jumlah lapisan sedimen yang bergerak

vs = kecepatan pada lapis kedua (dari lapisan paling bawah)

Karena lapisan terbawah belum bergerak, maka gaya geseryang bekerja pada lapisan tersebut masih sama dengan gaya yang menahan lapisan agar tidak bergerak. Keadaan tersebut dapat dituliskan dalam persamaan:

𝜏0 = 𝐶𝑓s-γ)n ε = γDS (2.16) Keterangan:

Cf = Koefisien gesekan D = Kedalaman aliran (m) S = Kemiringan dasar saluran

Jika nilai n = 1, maka persamaan yang digunakan dalam tegangan geser kritis yaitu:

𝜏0 = 𝐶𝑓s-γ)ε (2.17) Jadi nilai n dapat dirumuskan sebagai berikut:

n = τ0

τc (2.18)

(13)

Kemudian persamaan yang digunakan dalam perhitungan laju angkutan sedimen dapat dituliskan sebagai berikut:

Qb= γsτ0

τc ε (τ0

τc-1) 1 2vs (2.19) Qb= γs ε vs τ00- τc)

2 τc2 (2.20)

Qb = 𝐴 τ00- τc) (2.21) Atau dapat menggunakan persamaan dibawah ini, dimana nilai ψD dan τc

diperoleh dari Gambar 2.5.

Qb = ψD τo o - τc) (2.22) Keterangan :

Qb = Debit bed load (kg/s)

ψD = Fungsi parameter terhadap ukuran partikel τo = Tegangan geser

τc = Tegangan geser kritis

Gambar 2.5. Grafik Hubungan τc dan ψD Du Boys

Sumber: Sonia, 2020

2. Perhitungan debit sedimen dasar dengan Metode Rottner

Metode Rottner adalah metode yang digunakan untuk menghitung angkutan sedimen. Metode Rottner telah diteliti oleh para ahli dan metode ini sudah banyak digunakan oleh para peneliti untuk menghitung angkutan sedimen.

Rottner (1959) menemukan persamaan untuk menyatakan aliran sedimen dalam beberapa parameter yang didasarkan pada pertimbangan dimensi dan analisis reresi. Menurut Johnson (1943), Rottner mengasumsikan transpor sedimen yang didominasi fungsi dari kekasaran relatif (D50/D) berdasarkan analisis

(14)

dimensi dan melakukan regresi dari penelitian di sungai dan di laboratorium.

Debit angkutan sedimen dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

Qb = ɣs√(ɣsww)gD3{ V

[(ɣs-ɣw/ɣw)gD]1/2 [0,667 (𝐷D50)2/3+0,14] -0,778 (𝐷D50)2/3}

3

(2.23)

Keterangan:

Qb = Debit bed load (kg/s) γs = Berat jenis sedimen (kg/m3) ξs = Massa jenis sedimen (ɣsww) g = Gravitasi (m/s2)

D = Kedalaman rata-rata (m)

D50 = Diameter partikel sedimen yang 50% lolos saringan (m) V = Kecepatan aliran (m/s)

2.7.2. Analisis Debit Sedimen Melayang (Suspended Load Transport)

Sedimen melayang atau suspended load merupakan partikel atau butiran sedimen yang bergerak di dalam aliran air dan terus menerus melayang mengikuti aliran.

Pada umumnya ukuran partikel sedimen melayang lebih kecil dari 0,1 mm.

Sedimen melayang dapat dihitung menggunakan Metode USBR (United State Beureu Reclamation). Dalam perhitungan dibutuhkan pengukuran debit aliran (Qw) dengan satuan m3/s, nilai konsentrasi sedimen (Cs) dengan satuan mg/l, dan dihitung menggunakan persamaan (Soewarno, 2013), yaitu:

Qs = 0,0864 Cs Qw (2.24)

𝐶𝑠 = 𝑚

𝑣 (2.25)

Keterangan :

Qs = Debit sedimen (kg/s) Cs = Konsentrasi sedimen (mg/l) Qw = Debit Sungai (m3/s)

m = massa endapan sedimen (gram) v = Volume tampungan botol (l)

(15)

2.7.3. Analisis Debit Sedimen Total

Laju sedimen total merupakan jumlah laju sedimen dasar dan laju sedimen melayang. Persamaan yang digunakan dalam perhitungan debit sedimen total yaitu:

Qtot = Qb+ Qs (2.26)

Keterangan :

Qb = Debit sedimen dasar (kg/s) Qs = Debit sedimen melayang (kg/s)

Figur

Gambar 2.1. Transpor Sedimen di Sungai

Gambar 2.1.

Transpor Sedimen di Sungai p.5
Tabel 2.1. Jenis-jenis Sedimen

Tabel 2.1.

Jenis-jenis Sedimen p.5
Tabel 2.2. Ukuran Partikel Sedimen Berdasarkan Wentworth

Tabel 2.2.

Ukuran Partikel Sedimen Berdasarkan Wentworth p.6
Gambar 2.2. Metode Tampang Tengah

Gambar 2.2.

Metode Tampang Tengah p.7
Gambar 2.3. Grafik Pembagian Ukuran Butiran Tanah (Gradasi)

Gambar 2.3.

Grafik Pembagian Ukuran Butiran Tanah (Gradasi) p.9
Tabel 2.3. Nomor dan Diameter Saringan

Tabel 2.3.

Nomor dan Diameter Saringan p.9
Tabel 2.4. Faktor Koreksi Terhadap Suhu

Tabel 2.4.

Faktor Koreksi Terhadap Suhu p.10
Gambar 2.4. Sketsa Model Angkutan Sedimen Dasar

Gambar 2.4.

Sketsa Model Angkutan Sedimen Dasar p.12
Gambar 2.5. Grafik Hubungan τc dan ψD Du Boys

Gambar 2.5.

Grafik Hubungan τc dan ψD Du Boys p.13

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di