BABI PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Ekonomi merupakan aspek terpenting didalam suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan peningkatan menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik. Pertumbuhan ekonomi merupkan sesuatu yang sering berkaitan dengan pembangunan manusia. Pertumbuhan ekonomi tinggi adalah target dalam pembangunan untuk negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu permasalahan perekonomian suatu negara dalam jangka panjang. Indonesia merupakan salah satu negara yang terus meningkatkan pembangunan, terutama dalam aspek ekonomi.1 Karena Indonesia merupakan negara yang masih berkembang sehingga pertumbuhan ekonomi terus akan menjadi pusat perhatian oleh pemerintah. Sehingga naik turunya pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari Tabel.1 mengenai pertumbuhan ekonomi berdasarkan Triwulannya.
Tabel 1.1
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2012-2021
Tahun Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV
2012 6,3% 6,4% 6,17% 6,11%
2013 6,02% 5,81% 5,62% 5,72%
2014 5,21% 5,12% 5,11% 5,01%
2015 4,71% 4,67% 4,73% 5,4%
2016 4,92% 5,18% 5,02% 4,94%
2017 5,01% 5,01% 5,06% 5,19%
2018 5,06% 5,27% 5,17% 5,18%
2019 5,07% 5,05% 5,02% 4,97%
2020 2,97% -5,32% -3,49% -2,19%
2021 0,74% 7,07% 3,51% 4%
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012-2021
1Masdelima hasibuan, dkk. “Pengaruh Inflasi dan Tingkat Penggangguran terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia periode 2017-2021”. Jurnal Ilmiah Kohesi. Vol. 6 No. 1 Januari 2022.
Dari Tabel.1.1 menunjukkan naik turunya pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya, sehingga perlunya peran perintah dalam menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi , pada tahun 2020 terjadinya wabah covid-19 yang sangat berimbas terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga dapat dilihat pada tabel.1.1 diatas, bahwa pertumbuhan ekonomi dari Triwulan II-2020 sampai Triwulan VI- 2020, mengalami penurunan yang cukup signifikan yang sebesar -5,32% . hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Namun pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi mulai membaik dikarenakan upaya pengendalian pandemi Covid-19 yang dilakukan pemerintah bersama seluruh stakeholdrs, termasuk semua masyarakat Indonesia. Perbaikan ekonomi Indonesia telah terlihat dari pertumbuhan positif sejak Triwulan II sampai Triwulan VI 2021, meskipun sedikit mengalami koreksi di Triwulan III karena kemunculan Varian Delta namun Indonesia mengalami pertumbuhan yang positf kembali pada Twiwulan VI 2021.
Untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi, tujuan dan alat yang digunakan harusnya telah sesuai berdasarkan prinsip–prinsip Syariah yang berlandaskan pada Al–Qur’an dan Sunnah dalam (Q.S Al–A’raf (7) 96):
َن ْوُب ِسْكَيا ْوُناَكاَمِبْمُه ٰنْذَخَاَفا ْوُبّذَكْنِكٰل َو ِض ْرَ ْلا َوِءۤاَمّسلاَنّمٍت ٰكَرَبْمِهْيَلَعاَن ْحَتَفَلا ْوَقّتا َوا ْوُنَمٰاى ٰٓرُقْل َلْهَاّنَا ْوَلَ
و Terjemahna: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan”.Pada ayat tersebut mengungkapkan bahwasanya keimanan dan ketakwaan kepada ketentuan Allah SWT akan menjadi elemen pokok untuk mendatangkan rezeki dan pertumbuhan ekonomii. Sebaliknya kemaksiatan akan menyebabkan ketenangan dan kedamaian akan hilang. Namun tidak berarti
bahwa masyarakat yang tidak beragama islam tidak akan mungkin untuk meraih pertumbuhan ekonomi. Mereka tetap dapat mewujudkannya, jika mereka selalu berada pada jalan yang lurus.
Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makroekonomi dalam jangka panjang. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa akan meningkat.2
Pertumbuhan ekonomi dapat pula di pengaruhi oleh sektor perbankan di dalamnya karena sektor keuangan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi disuatu negara. Berdirinya perbankan tidak hanya memiliki tujuan sekedar mencari keuntungan semata, melainkan dalam menciptakan kesejahteraan di lingkuangan masyarakat dan berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Bank memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Kemajuan negara dapat dilihat dari kemajuan sistem perbankannya. Sebagian besar sektor yang dalam hal kaitannya dengan aktivitas financial akan memerlukan jasa bank. Dunia global dan era kemajuan informasi dan teknologi tidak akan bisa lepas dari dunia perbankan karena berbagai aktivitas keuangan dan sosial membutuhkan lembaga yang memberikan jasa dalam memperlancar lalu lintas keuangan.3Bank adalah alternatif yang sangat dibutuhkan dalam suatu 2Windy Ayu Astuti,dkk. “Pengaruh Investasi, Tenaga Kerja dan Pertumbuhan Penduduk Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Pelalawan”. Jurnal Akuntansi dan ekonomika. Vol 7 No 2 desember 2017
3Rahmat Setiawan, Ahmad Aziz Putra-Pratama. “Model. Tingkat Likuiditas Bank, NPL dan Pertumbuhan Kredit Perbankan Indonesia”. Jurnal Manajemen , stategi bisnis dan kewirausahaan.
masyarakat pada saat ini karena dengan adanya bank, bisa mempercepat roda pertumbuhan suatu negara karena kemudahan dalam bertransaksi dan juga dalam penyimpan dan mengelolaan keuangan, sehingga banyak pihak yang bisa berkembang dengan penyaluran dana dari bank, oleh karena itu perbankan dapat berpengeruh dalam suatu pertumbuhan ekonomi.
Di Indonesia sendiri terdapat dua jenis bank yang dibedakan berdasarkan jenis-jenis imbalan atas penggunaan dananya, yakni Bank Konvesional dan Bank Syariah. Bank Konvesional merupakan bank yang dalam setiap kegiatannya menerapkan sistem bunga, sedangkan Bank Syariah adalah bank yang melarang sistem bunga dan menerapkan sistem prinsip bagi hasil yang di mana diatur dalam UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan syariah .
Dalam perbankan konvesional terdapat sistem bunga yang dihasilkan dari pemberian kredit kepada nasabah yang memerlukan dana, sedangkan dalam perbankan syariah dikenal dengan pembiayaan yang dimana memberikan dana kepada pihak yang membutuhkan dengan berdasarkan prinsip-prinsip syariah didalamnya tetapi tidak menggunakan sistem bunga dalam pembiyaan perbankan syariah melainkan dikenal dengan bagi hasil. Jumlah perbankan pada setiap tahunnya bertambah dikarena kebutuhan masyarakat akan sektor perbankan yang semakin meningkat. Adapun jumlah perbankan tersebut dapat dilihat dalam tabel.1.2
Tabel 1.2
Jaringan Kantor Perbankan Syariah
Kelompok Bank dan Kantor
Tahun
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Vol. 13 No.1 Februari 2019. Hal 96-97
Bank Umum Syariah
- Jumlah Bank - Jumlah
Kantor
11 1.74
5 11 1.998
12 2.16
3 12 1.990
13 1.86
9
13 1.82
5
14 1.87
5 14 1.91
9 14 2.034
12 2.034
Unit Usaha Syariah - Jumlah
BUK yang memiliki UUS - Jumlah
kantor
24
517 23
590 22
320 22
311 21
332 21
344 20
354 20
381 20
392 21
444 Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah - Jumlah
Bank - Jumlah
Kantor
158 401
163 402
163 439
163 446
166 453
167 441
167 495
164 617
163 627
164 659
Total Bank dan Kantor
2.85 6
3.187 3.11 9
2.944 2.85 4
2.811 2.925 3.11 5
3.250 3.334
Sumber : OJK (Otoritas Jasa Keuangan) tahun 2012-2021
Dalam tabel.1.2 memaparkan jumlah bank dan kantor bank syariah, yang dimana dalam tabel.1.2 terdapat kelompok dari BUS (Bank Umum Syariah), UUS (Unit Usaha Syariah), dan BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah). Dari tahun 2012 hingga tahun 2021 pertumbuhan bank dan kantor bank syariah setiap tahunnya mengalami kenaikan yang cukup baik, walaupun terdapat juga penurunan namun penurunan tidak terjadi setiap tahun sehingga tidak bagitu mengancam pertumbuhan jariangn bank dan kantor perbankan syariah, dengan demikian dapat dikatakan bahwa minat masyarakat Indonesia dalam melakukan transaksi pada perbankan syariah tergolong relatif stabil, dengan begitu dapat dikatakan bahwa perbankan syariah dapat membantu masyarakat dalam segala aktivitas lalu lintas transaksi keuangn dan membantu masyarkat dalam pembiayaan sehingga dapat menunjang taraf hidup yang lebih baik , meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Tentunya dalam sektor perbankan di indonesia terdapat perbankan yang masih menggunakan sistem bunga dalam transaksi keuangan. Bank Konvesional juga masih merupakan pilihan masyarakat dalam melakukan segala aktivitas keuangan sehingga perlu juga dilihat perkembangan jumlah perbankan konvesional yang berada di Indonesia. Dapat dilihat dalam tabel.1.3 berikut.
Tabel 1.3
Jaringan Kantor Perbankan Konvesional
Kelompo k Bank
dan Kantor
Tahun
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Jumlah Bank
- BUK
- BP R
120 1.653
120 1.635
119 1.643
118 1.636
116 1.633
115 1.619
115 1.593
110 1.542
109 1.506
107 1.468
Jumlah Kantor
- BU K - BP
R
16.62 5 4.425
18.55 8 4.678
32.73 9 4.895
32.94 9 5.982
32.73 0 6.075
32.27 6 6.192
31.60 9 6.014
31.12 7 5.964
30.73 3 5.913
32.36 6 5.871
Jumlah Bank dan Kantor
22.82 3
24.99 1
39,39 6
40.75 5
40.55 4
40.20 2
39.33 1
39.27 5
38.26 1
39.81 2
Sumber : OJK (Otoritas Jasa Keuangan) tahun 2012-2021
Dalam tabel.1.3 diatas dapat dilihat juga bahwa kepercayaan masyakarat akan Perbankan Konvesional masih cukup tinggi, mengingat juga bahwa perbankan konvesional merupakan perbankan yang pertama kali beropasi di Indonesia, tentunya sudah memilki nasabah terlebih dahulu di bandingkan perbankan syariah, namun hal ini tidak menjadikan perbankan syariah tidak dapat juga berkembang, dengan demikian dapat dikatakan bahwa sektor perbankan sangat berpengaruh terhadap masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan yang demikian itu berpengaruh secara tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, sehingga penulis tertarik melakukan studi penelitian
mengenai “ANALISIS PENGARUH SEKTOR PERBANKAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PERIODE 2012-2021”.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apakah Pengaruh Dana Pihak Ketiga BUK (Bank Umum Konvesional) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021?
2. Apakah Pengaruh Dana Pihak Ketiga BUS (Bank Umum Syariah) terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021?
3. ApakahTotal Kredit BUK(Bank Umum Konvesional)berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021?
4. Apakah Total Pembiayaan BUS (Bank Umum Syariah) berpengaruh terhadap Pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021?
5. Apakah Pengaruh Dana pihak ketiga BUK,Dana pihak ketiga BUS,Total Kredit BUK,dan Total pembiayaan BUS terhadap Pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021?
1.3. Batasan Penelitian
Pembatasan suatu masalah digunakan untuk menghindari adanya penyimpangan maupun pelebaran pokok masalah agar penelitian tersebut lebih terarah dan memudahkan dalam pembahasan sehingga tujuan penelitian akan tercapai, adapun fokus masalah yang akan dibahas yaitu tentang sektor perbankan.
1.4. Tujuan Penelitian.
1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruhDana Pihak Ketiga BUK(Bank Umum Konvesional)terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021.
2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruhDana Pihak Ketiga BUS (Bank Umum Syariah)terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012- 2021.
3. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh Total Kredit Bank Umum Konvesional terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012- 202.
4. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh Total Pembiayaan Bank Umum Syariah terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021.
5. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh Dana pihak ketiga BUK,Dana pihak ketiga BUS,Total Kredit BUK,dan Total pembiayaan BUS terhadap Pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi akademisi sebagai bahan referensi dan menambah informasi mengenai fenomena Pengaruh Sektor Perbankan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode 2012-2021
Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan kepada peneliti agar dapat mengetahui bagaimana Pengaruh Sektor
Perbankan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Periode 2012- 2021.
1.6. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan pada penelitian ini terdiri atas Lima bab yaitu : BAB I merupakan bab pendahuluan. Dalam bab ini penulis menguraikan Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, serta Sistematika Penelitian. BAB II memamarkan tentang tinjauaan pustaka, penelitian terdahulu, Kerangka Konseptual, dan hipotesis.
BAB III berisi tentang metode penelitian. Isi dalam bab ini jenis dan sumber data , Waktu dan lokasi penelitian, Definisi Oprasional Variabel, dan Tenik Analisi data , BAB IV menjelaskan Hasil Penelitian dan Pembahasan, serta dalam BAB V merupakan Penutup, dalam bab ini berisi kesimpulan dan saran dari penulis .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bank
2.1.1. Pengertian Bank
Bank di kenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menerima simpanan dari masyarakat dalam bentuk Giro, Tabungan, dan Deposito. Kemudian bank dikenal juga sebagai tempat untuk meminjam uangbagi masyarakat yang membutuhkan, misalnya untuk tambahan modalDisamping itu, bank juga dikenal sebagai tempat untuk menukar uang, mengirimkan uang atau menerima segala macam bentuk pembayaran dan setoran seperti pembayaran listrik, telepon, air, pajak bumi dan bangunan, uang kuliah, gaji, dan pembayaran lainnya dalam Khasmire.
Istilah bank berasal dari bahasa Italia yaitu “Banco” yang artinya bangku atau meja, karena pada waktu itu orang yang melayani kegiatan operasionalnya kepada para nasabah terutama dalam lalu lintas uang dilakukan diatas bangku atau meja. Istilah bangku atau meja ini kemudian berkembang dan populer menjadi bank.
Lembaga perbankan merupakan inti dari sistem keuangan di setiap negara. Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi orang perseorangan, badan-badan usaha swasta, badan-badan usaha milik negara, bahkan lembaga-lembaga pemerintahan untuk menyimpan dana- dana yang dimilikinya. Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian.
Pengertian bank yang lain, menurut kamus istilah hukum Fockema Andreae yang mengatakan bahwa bank adalah suatu lembaga atau orang
pribadi yang menjalankan perusahaan dalam menerima dan memberikan uang dari dan kepada pihak ketiga. Berhubung dengan adanya cek yang hanya dapat diberikan kepada bankir sebagai tertarik, maka bank dalam arti luas adalah orang atau lembaga yang dalam pekerjaannya secara teratur menyediakan uang untuk pihak ketiga.
G.M.Verryn Stuart dalam bukunya Bank Politik, berpendapat bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayarannya sendiri atau dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan mengedarkan alat-alat penukar baru berupa giral.
A. Abdurrachman dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan dan Perdagangan menjelaskan bahwa, bank adalah suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai jenis jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga, membiayai usaha perusahaan-perusahaan dan lain-lain.
Definisi bank menurut Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan BANK adalah “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.
Sedangkan menurut Pasal 1 butir 2 UndangUndang RI Nomor 21 Tahun 2008 tanggal 16 Juli 2008 tentang Perbankan Syariah, yang dimaksud dengan BANK adalah “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/ atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.” Taru footnote popo
Berdasarkan pengertian diatas, bank adalah merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan; sehingga berbicara mengenai bank tidak terlepas dari masalah keuangan.
Dari beberapa pengertian tersebut diatas, penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan bank adalah: “Badan usaha yang berbadan hukum yang menjalankan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan (Giro, Tabungan, dan Deposito) dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan dana dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.”
2.1.2. Fungsi Bank
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, merumuskan mengenai fungsi perbankan, yaitu: “Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dana dan penyalur dana masyarakat”. Perbankan di Indonesia mempunyai tujuan yang strategis dan tidak semata-mata berorientasi ekonomi, tetapi juga berorientasi pada hal-
hal yang nonekonomis seperti masalah menyangkut stabilitas nasional yang mencakup antara lain stabilitas politik dan stabilitas sosial.4
2.1.3. Jenis-Jenis Perbankan
Jenis perbankan tergantung pada cara penggolongannya yaitu berdasarkan hal-hal sebagai berikut:
1. Jenis Bank Berdasarkan Fungsinya a) Bank Umum
Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensioonal dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
b) Bank Perkreditan Rakyat
Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2. Jenis Bank Berdasaarkan Kepemilikannya a) Bank Milik Pemerintah
Bank yang akte pendirian maupun modal bank ini sepenuhnya dimilik oleh Pemerintah Indonesia. Sehingga seluruh keuntungan bank ini dimiliki oleh pemerintah.
b) Bank Milik Swasta Nasional
Bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki oleh swasta nasional. Kemudian akte pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula dengan pembagian keuntungannya untuk keuntungan swasta pula.
4Bachtiar Simatupang. “PERANAN PERBANKAN DALAM MENINGKATKAN
PEREKONOMIAN INDONESIA”. Jurnal Riset Akuntansi Multiparadigma. Vol.6, No.2, Desember 2019. Hal 138-141
c) Bank Milik Koperasi
Bank yang kepemilikan saham-sahamnya dimiliki oleh perusahaan yang berbadan hukum koperasi.
d) Bank Milik Asing
Cabang dari bank yang ada di luar negeri, bank milik swasta asing atau pemerintah asing. Kepemilikannya jelas dimiliki oleh pihak asing atauluar negeri.
e) Bank Milik Campuran
Kepemilikan saham bank campuran dimiliki oleh pihak asing dan pihak swasta nasional. Kepemilikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga Negara Indonesia.
3. Jenis Bank Berdasarkan Segi Status a) Bank Devisa
Bank yang dapat melaksanakan transaksi keluar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan.
Contohnya : transfer ke luar negeri, traveler cheque.
b) Bank Non Devisa
Bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti halnya bank devisa. Bank ini merupakan kebalikan dari bank devisa.
4. Jenis Bank Berdasarkan Cara Menentukan Harga a) Bank Yang Berdasarkan Prinsip Konvensional
Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
b) Bank Yang Berdasarkan Prinsip Syariah
Lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah memberikan kredit dan jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.5
2.1.4. Sejarah Berdirinya Bank di Dunia
Bank pertama kali didirikan dalam bentuk seperti sebuah firma pada umumnya pada tahun 1690, pada saat kerajaan inggris berkemauan merencanakan membangun kembali kekuatan armada lautnya untuk bersaing dengan kekuatan armada laut perancis, akan tetapi pemerintah inggris saat itu tidak mempunyai kemampuan pendanaan kemudian berdasarkan gagasan wiliam paterson yang kemudian oleh Charles Montagu direalisasikan dengan membentuk sebuah lembaga intermediasi keuangan yang akhirnya dapat memenuhi dana pembiyaaan tersebut hanya dalam waktu dua belas hari.
Sejarah mencatat asal mula dikenalnya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan tempo dahulu di daratan eropa. Kemudian usaha perbankan ini berkembangan ke Asia Barat oleh para pedagang.
Perkembangan perbankan di Asia,Afrika dan Amerika dibawa oleh bangsa eropa pada saat melakukan penjajahan ke negara jajahannya baik di Asia, Afrika maupun benua Amerika. Bila ditelusuri, sejarah dikenalnya
5Kasmir. “Dasar-Dasar Perbankan”. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.. 2014. Hal 20.
perbankan dimulai dari jasa penukaran uang. Sehingga dalam sejarah perbankan, arti bank di kenal sebagai meja tempat penukaran uang.
Dalam perjalanan sejarah kerajaan pada masa dahulu penukaran uanganya dilakukan antar kerajaan yang satu dengan kerajaan lain.
Kegiatan penukaran ini sekarang dikenal dengan nama Pedagang Valuta Asing (Money Changer). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang ini kegiatan simpanan. Berikutnya kegiatan perbankan bertambah dengan kegiatan peminjaman uang. Uang yang disimpan oleh masyarakat, oleh perbankan dipinjamkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkannya jasa-jasa bank lainnya menyusul sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
2.1.5. Sejarah Perbankan di Indonesia
Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia-Belanda. Pada masa itu De Javasche Bank, NV didirikan di Batavia pada tanggal 24 januari 1828 kemudian menyusul Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij, NV pada tahun 1918
sebagai pemegang monopoli pembelian hasil bumi dalam negeri dan penjualan keluar negeri serta terdapat beberapa bank yang memegang peranan penting di Hindia-Belanda. Bank-bank tersebut yaitu:
1. De Javasce NV 2. De Postspaar bank 3. Hulp en Spaar Bank
4. De Algemene Volkskrediet Bank
5. Nederlandsche Handelsmaatschappij (NHM).
6. Nationale Handelsbank (NHB).
7. De Escompto Bank NV.
8. Nederlansch Indische Handelsbank.
Disamping itu, terdapat pula bank-bank milik orang Indonesia dan orang-orang asia seperti dari Tingkok, Jepang, dan Eropa. Bank-bank tersebut yaitu:
1. NV Nedelandsche Indesche Spaar En Deposito Bank 2. Bank Nasional Indonesia
3. Bank abuan Saudagar 4. NV Banl Beomil
5. The Chartered Bank of India, Autralia and China.
6. Hongkong & Shanghai Banking Corpration 7. The Yokohama Species Bank
8. The Matsui Bank 9. The Bank of China 10. Batavia Bank
Dizaman kemerdekaan, perbankan di Indonesia bertambah maju dan bekembang lagi. Beberapa bank Belanda dinasionalisir oleh pemerintah Indonesia. Bank-bank yang ada pada zaman awal kemerdekaan antara lain:
1. NV. Nederlandsche Indische Spaar En Deposito Bank (saat ini bank CBCNISP), didirikan 4 april 1941 dengan kantor pusat di Bandung.
2. Bank negara Indoensia, yang didirikan tanggal 5 juli 1946 yang sekarang dikenal dengan BNI’46
3. Bank rakyat Indonesia yang didirikan tanggal 22 Februari 1946.bank ini berasal dari De Algemene Vilkskrediet Bank atau Syomin Ginko
4. Bank Surakarta maskapai adil makmur (MAI) tahun 1945 di Solo.
5. Bank Indonesia di Palembang Tahun 1946
6. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan
7. Indonesian Banking Corporation tahun 1947 di Yogyakarta, kemudian menjadi Bank Amerta.
8. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946
9. Bank dagang Nasional, NV di Samarinda tahun 1950 kemudian merger dengan Bank Pasifik
10. Bank Timur NV Semarang berganti nama menjadi Bank Gemari.
Kemudian merger dengan Bank Central Asia (BCA) tahun 1949.
Di Indonesia, praktik perbankan sudah tersebar sampai kepelosok pedesaan. Lemba ga keuangan berbentuk bank di Indonesia berupa Bank Umum Konvesional, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Bank Umum Syariah, dan juga Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).6
2.2. Bank Umum Konvesional
2.2.1. Pengertian Bank Umum Konvesional
Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Sedangkan pengertian Bank berdasarkan UU No. 10 tahun 1998 yang menyempurnakan UU No.7 tahun
6Syafril. “Bank & Lembaga Keuangan Modern Lainnya”. Kencana.Jakarta 2020. Hal. 23- 25
1992, Bank sebagai badan uaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.
Oleh karena itu, bank memilki fungsi menghimpun dana yang tidak dipergunakan kemudian menyalurkan kembali dana tersebut kedalam masyarakat untuk jangka waktu tetentu. Fungsi ini sangat menentukan pertumbuhan suatu bank, sebab dana yang berhasil dihumpun akan menentukan pula volume dana yang dapat dikembangkan oleh bank tersebut dalam bentuk pemberian kredit, pembelian efek-efek atau surat berharga dalam pasar uang.7
2.2.2. Asas, Fungsi, dan Tujuan Perbankan
Lembaga keuangan Bank sangat penting perannya dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Hal ini disebabkan karena lembaga keuangan bank mempunyai fungsi, asas, dan tujuan yang sangat mendukung terhadap pembangunan ekonomi suatu negara. Berikut adalah fungsi, asas dan tujuan menurut pasal 2,3 dan 4 UU No.7 tahun 1992 tentang perbankan dinyatakan bahwa.
a. Asas : perbankan berasas demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian
b. Fungsi : fungsi utama perbankan adalah sebagai penghimpun dana dan penyalur dana masyarakat.
c. Tujuan : perbankan Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan,
7 Azhar Abdullah, “kelembangaan Perbankan”,Jakarta, PT Grafindo Pustaka Utama,1970.
Hal. 29
pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional kearah peningkatan rakyat banyk.8
2.2.3. Teori Kredit.
a. Pengertian Kredit
Istilah kredit berasal dari perkataan latin Credo, yang berarti I Believe ITrust, saya percaya atau saya menaruh kepercayaan. Dengan
kata lain kredit adalah sebuah kepercayaan yang diberikan oleh debitur kepada nasabah.
Kredit adalah penyerahan barang, jasa atau uang dari satu pihak (kreditor/pemberi pinjaman) atas dasar kepercayaan kepada pihak lain (nasabah atau pengutang/ borrower) dengan janji membayar dari penerima kredit kepada pemberi kredit pada tanggal yang telah disepakati kedua belah pihak.9
kredit adalah semua jenis pinjaman yang harus dibayar kembali bersama bunganya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
Dalam sektor perbankan pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai fungsi tertentu.10 Adapun fungsi utama dalam pemberian suatu kredit adalah sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan daya guna uang
Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang, maksudnya jika uang hanya disimpan saja tidak akan menghasilkan
8 Bachtiar Simatupang, “.PERANAN PERBANKAN DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN INDONESIA”, Jurnal Riset Akuntansi Multiparadigma (JRAM) Vol.6, No.2, Desember 2019.Hal. 141
9 Rivai,Veithzal, Andria Permata Veithzal dan Ferry N Idroes.”Bank and Financial Institution Management. Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada,2007.Hal 4.
10 Malayu Hasibun, “Manajemen Sumber Daya Manusia”,Jakarta : Bumi Aksara, 2017.
Hal.44
sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit, uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh penerima kredit.
2. Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang
Dalam uang yang diberikan akan beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya sehingga suatu daerah yang kekurangan dana dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan dana dari daerah lainnya.
3. Untuk meningkatkan daya guna barang
Kredit yang diberikan oleh bank akan digunakan oleh (debitur) untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.
4. Meningkatkan peredaran barang
Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah lainnya sehingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar.
5. Sebagai alat stabilitas ekonomi
Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabilitas ekonomi, karena dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat.
Kemudian dapat pula kredit membantu dalam mengekspor barang dari dalam negeri ke luar negeri, sehingga meningkatkan devisa negara.
6. Untuk meningkatkan kegairahan berusaha
Bagi penerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha, apalagi bagi nasabah yang memang modalnya pas-pasan.
7. Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan
Semakin banyak kredit yang disalurkan, akan semakin baik, terutama dalam hal meningkatkan pendapatan. Jika sebuah kredit diberikan untuk membangun pabrik, maka pabrik tersebut tentu membutuhkan tenaga kerja.
8. Untuk meningkatkan hubungan internasional
Dalam hal pinjaman internasional akan dapat meningkatkan saling membutuhkan antara penerima kredit dengan pemberi kredit.
Pemberian kredit oleh negara lain akan meningkatkan kerja sama di bidang lainnya.11
b. Tujuan Kredit.
1. Mencari keuntungan. Tujuan utama pemberian kredit adalah untuk memperoleh keuntungan. Hasil keuntungan ini diperoleh dalam bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.
2. Membantu usaha nasabah. Tujuan selajutnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang membutuhkan dana, baik dana untuk investasi maupun dana untuk modal kerja.
3. Membantu Pemerintah, untuk membantu pemerintah dalam berbagai bidang. Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan, maka semakin baik, mengingat semakin banyak kredit berarti adanya kucuran dana dalam rangka peningkatan pembangunan diberbagai sektor, terutama sektor rill.
11 Kasmir, opcit. Hal 89.
2.2.4. Kegiatan Dalam Bank Konvesional
Adapun kegiatan-kegiatan perbankan dalam:
1. Menghimpun dana dari masyaraat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito,tabungan, dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu .
2. Memberikan kredit
3. Menerbitkan surat pengakuan hutang
4. Membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas pemerintah nasabahnya:
5. Surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasan dalam perdagangan surat- surat dimaksud.
6. Surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang sama berdakunya tidak lebih lama dari pada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud.
7. Kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah.
8. Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
9. Obligasi
10. Surat dagang berjangka wktu sampai dengan 1 (satu) tahun,
11. Instrumen surat berharga lain yang berjangka wktu sampai dengan 1 (satu) tahun.
12. Memindahan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah.
13. Menempatkan dana pada,meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepeda bank lain dengan menggunakan surat, sarana
telekomunikasimaupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya.
14. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga
15. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga, 16. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan
sutau kontrak.
17. Melakukan penempatan dan dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat dibursa efek.
18. Melakukan kegiatan anjak piutang, usha kartu kredit dan kegiatan wali amanat.
19. Menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh BI.
20. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan uangang-undang tentang perbankan dan peraturan perundan-undangan yang berlaku.
21. Melakukan kegitan dalam valuta asing dnegan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh BI
22. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain dibidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura,
perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh BI 23. Melakuakan kegiatan penyertaan modal semntara untuk mengatasi akibat
kegagalan kredit atau kegagalan pembiyaan berdasarkan prinsip syriah,
dengan syarat harus menarik kembali penyertaanya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh BI
24. Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.12
2.3. Bank Umum Syariah
2.3.1. Pengertian Bank Umum Syariah
Bank syariah adalah Bank yang beroprasi dengan tidak mengandalkan operasionalisasinya pada bunga, bank syariah atau biasa disebut dengan bank tanpa bunga, adalah lembaga keuangan/perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.13
2.3.2. Fungsi dan Peran Bank Umum Syariah
Bank Syariah adalah bank yang menjalankan fungsi intermediasinya berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam. Peran dan fungsi bank syariah, diantaranya sebagai berikut14 :
a. Sebagai tempat menghimpun dana dari masyarakat atau dunia usaha dalam bentuk tabungan (mudharaba), dan giro (Wadiah), serta menyalurkannya kepada sektor ril yang membutuhkan.
b. Sebagai tempat investasi bagi dunia usaha (baik dana modal maupun dana rekening investasi) dengan menggunakan alat-alat investasi yang sesuai dengan syariah.
12 Booklet Perbankan Indonesia, Vol.4 Maret 2007
13 Muhammad, 2005, Konstruksi Mudharabah Dalam Bisnis Syariah, Yogyakarta: BPFE- yogyakarta,Hal. 13
14 Imamul Arifin, Membuka Cakrawala Ekonomi,Jakarta: Setia Purna Inves, 2007 Hal. 14
c. Menawarkan berbagai jasa keuangan berdasarkan upah dalam sebuah kontrak perwakilan atau penyewaan.
d. Memberikan jasa sosial seperti pinjaman kebajikan,zakat dan dana sosial lainnya yang sesuai dengan ajaran islam.
2.3.3. Tujuan Bank Umum syariah
Upaya pencapaian keuntungan yang setinggi-tingginya (profit maximization) adalah tujuan yang biasa dicanangkan oleh bank komersial,
terutama bank konvesioanal. Berbeda dengan tujuan bank konvesional,bank syariah berdiri untuk menggalakkan ,memelihara dan mengembangkan jasa-jasa serta produk-produk perbankan yang berdasarkan prinsip-prinsip syariat islam. Bank syariah juga memiliki kewajiban untuk mendukung aktivitas investasi dan bisnis yang ada dilembaga keuangan sepanjang aktifitas tersebut tidak dilarang dalam islam. Selain itu, bank syariah harus lebih menyentuh kepentingan masyarakat kecil.
2.3.4. Landasan Hukum Bank Umum Syariah a. Landasan Hukum positif
Undang-undang No.21 Tahun 2008, beberapa aspek penting UU No.21 Tahun 2008:
1. Adanya kewajiban menjantumkan kata”syariah” bagi bank syariah, kecuali bagi bank-bank syariah yang telah beroprasi sebelum berdakunya UU No.21 Tahun 2008 (pasal 5 no.4).
Bagi bank umum konvesional (BUK) yang memiliki unt usaha syariah (UUS) diwajibkan mencantumkan nama syariah setelah nama bank (pasal 5 no5)
2. Adanya sanksi bagi pemegang saham pengendali yang tidak lulus fit and proper test dari BI (pasal 27)
3. Satu-satunya pemegang fatwa syariah adalah MUI. Karena fatwa MUI harus diterjemahkan menjadi produk perundang- undangan (dalam hal ini Peraturan Bank Indonesia/ PBI), dalam rangka penyusunan PBI, BI membentuk komite perbankan syariah yang beranggotakan unsur-unsur dari BI, Departemen agama, dan unsur masyarakat dengan komposisi yang berimbang dan memiliki keahlian di bidang syariah (pasal 26).
4. Adanya definisi baru menegnai transaksi murabahah. Ada definisi lama disebutkan bahwa murabahah adalah jual beli barang sebesar harga pokok barang ditambh dengan margin keuntungan yang disepekati. Menurut UU No. 21 Tahun 2008 disebutkan akad Murabahah adalah akad pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai keuntungan yang disepakati.
Diubahnya kata “jual beli” dengan kata “pembiayaan”, secara implisit UU No. 21 tahun 2008 ini ingin mengatakan bahwa transaksi murabahah tidak termasuk transaksis yang dikenakan pajak sebagaimana yang kini menjadi masalah bagi bank syariah.
5. Beberapa peraturan Bank Indonesia mengenai Perbankan Syariah.
a. PBI No.9/19/PBI/2007 tentang pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa bank syariah.
b. PBI No.7/35/PBI/2005 tentang perubahan atas peraturan Bank Indonesia No. 6/24/PBI/2004 tentang bank umum yang melaksnakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. PBI No.6/24/PBI/2004 tentang bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.15
2.3.5. Teori Pembiayaan
a. Pengertian Pembiayaan
Pembiayaan secara luas berarti financing atau pembelanjaan, yaitu pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan sendiri maupun dijalankan oleh orang lain.
Dalam arti sempit, pembiayaan dipakai untuk mendefinisikan pendanaan yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan, seperti bank syariah kepada nasabah.16
Dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang dimaksud dengan pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:
1. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah 2. Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam
bentuk ijarah muntahiya bittamlik
15http://pdfsearchpro.com/bank-syariah-pdf/html, diakses : 27 agustus 2022 pukul:
23:11
16 Muhammad, Manajemen Bank Syari’ah, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN, 2002), Edisi I, h. 304
3. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’
4. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh
5. Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa
Berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.17
b. Tujuan Pembiayaan
Tujuan memberikan pembiayaan, diantaranya:
1. Peningkatan ekonomi umat, artinya masyarakat yang tidak dapat akses secara ekonomi, dengan adanya pembiayaan mereka dapat melakukan akses ekonomi. Dengan demikian, dapat meningkatkan taraf ekonominya.
2. Tersedianya dana bagi peningkatan usaha, artinya untuk pengembangan usaha membutuhkan dana tambahan. Dana tambahan ini dapat diperoleh melakukan aktivitas pembiayaan. Pihak yang surplus dana menyalurkan kepada pihak minus dana, sehingga dapat tergulirkan.
3. Meningkatkan produktivitas, artinya adanya pembiayaan memberikan peluang bagi masyarakat usaha agar mampu meningkatkan daya
17 Nur Riyanto Al Arif, Dasar-dasar Pemasaran Bank Syariah, (Bandung: Alfabeta, 2012), h.42-43
produksinya. Sebab upaya produksi tidak akan dapat jalan tanpa adanya dana.
4. Membuka lapangan kerja baru, artinya dengan dibukanya sektorsektor usaha melalui penambahan dana pembiayaan, maka sektor usaha tersebut akan menyerap tenaga kerja. Hal ini berarti menambah atau membuka lapangan kerja baru.
5. Terjadi distribusi pendapatan, artinya masyarakat usaha produktif mampu melakukan aktivitas kerja, berarti mereka akan memperoleh pendapatan dari hasil usahanya. Penghasilan merupakan bagian dari pendapatan masyarakat. Jika ini terjadi maka akan terdistribusi pendapatan.18
2.4. Pertumbuhan Ekonomi
2.4.1. Teori Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi mempunyai arti yang sedikit berbeda, meskipun keduanya sering dianologikan sama. Keduanya menerangkan mengenai perkembangan ekonomi yang berlaku atau secara aktual terjadi. Tetapi sebenarnya penggunaan kedua istilah tersebut dapat dilakukan dalam konteks yang berbeda.19
Pada dasarnya terdapat 3 (tiga) jenis teori pertumbuhan ekonomi, antara lain adalah:
1. Teori pertumbuhan ekonomi klasik
18 Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), Cetakan I, h.681-682
19Sukirno.Kuncoro, “Ekonomi Pembangunan”. Jakarta: Salemba Empat.2015. Hal 9
a) Adam Smith berpendapat perekonomian akan tumbuh dan berkembang jika ada pertambahan penduduk yang akan memperluas pasar serta mendorong spesialisasi.
b) David Ricardo berpendapat jika pertumbuhan penduduk terlalu besar, maka tenaga kerja akan melimpah, dan akan terjadi penurunan upah, sehingga perekonomian menjadi stagnan.
c) Thomas Robert Malthus berpendapat pertumbuhan penduduk yang besar akan membuat kekurangan pangan, sehingga masyarakat akan hidup pas -pasan
2. Teori pertumbuhan ekonomi neo klasik
Teori ini melihat dari segi penawaran yang menilai pertumbuhan ekonomi tergantung kepada perkembangan faktor-faktor produksi. Tokoh teori ini antara lain:
a) Harrod-Domar berpendapat perlunya pembentukan modal (investasi) sebagai syarat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang teguh.
b) Schumpeter berpendapat pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh kemampuan kewirausahaan (entrepreneurship).
c) Robert Solow berpendapat pengaruh tabungan/modal, populasi/tenaga kerja, dan teknologi terhadap tingkat output dan pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi tingkat tabungan, semakin tinggi pula modal dan output yang dihasilkan.
3. Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis
Teori ini berkembang di Jerman ditandai oleh pernyataan bahwa pertumbuhan ekonomi dilakukan secara bertahap.
a) Frederich List berpendapat pertumbuhan ekonomi muncul akibat dari tata cara produksi yang dilakukan manusia.
b) Werner Sombart berpendapat tahapan pertumbuhan ekonomi terjadi karena masyarakat memiliki susunan organisasi dan ideologi masyarakat.
c) Walt Whitman Rostow berpendapat pertumbuhan ekonomi suatu negara akan mengalami lima tahapan.
d) Karl Bucher berpendapat pertumbuhan ekonomi suatu negara berdasarkan hubungan produsen dengan konsumen20
Pertumbuhan digunakan sebagai suatu ungkapan yang umum yang menggambarkan tingkat perkembangan suatu negara atau daerah, yang diukur melalui pertumbuhan (% pertumbuhan output agregat, seperti:
PDRB) dari pendapatan nasional riil. Nilai tersebut dapat dikonstankan berdasarkan tahun dasar tertentu, terutama untuk melihat adanya faktor kenaikan harga-harga atau inflasi .
Sementara itu, menurut beberapa ahli ekonomi, pengertian pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan dalam nilai Produk Domestik Reginal Bruto (PDRB) tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk. Dalam penggunaan yang lebih umum, istilah pertumbuhan ekonomi biasanya digunakan untuk menyatakan kegiatan di negara maju .
Lebih lanjut pertumbuhan ekonomi merupakan perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang berlaku dari tahun ketahun. Oleh sebab itu, untuk
20Adisasmita.”Teori-Teori Pembangunan Ekonomi, Pertumbuhan Ekonomi dan Pertumbuhan Wilayah”. Yogyakarta: Graha Ilmu.2015. Hal. 135
mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi harus diperbandingkan pendapatan nasional yang merujuk pada Produk Domestik Reginal Bruto (PDRB) dari tahun ke tahun. Dalam membandingkannya, perlu didasari bahwa perubahan nilai pendapatan nasional Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dipengaruhi oleh faktor perubahan harga.21
2.4.2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah nilai total atas segenap output akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian di tingkat daerah, baik itu yang dilakukan oleh penduduk daerah maupun penduduk dari daerah lain yang bermukim di daerah tersebut.22 Kemudian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi di suatu daerah/provinsi.
Ada beberapa alasan yang mendasari pemilihan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan bukan indikator lainnya seperti misalnya, Produk Nasional Bruto (PNB) sebagai indikator pertumbuhan. Alasan-alasan tersebut adalah :
1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh aktivitas produksi di dalam perekonomian dalam suatu daerah/provinsi. Hal ini berarti peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga mencerminkan peningkatan balas jasa kepada faktor produksi yang digunakan dalam aktivitas produksi tersebut.
21 Sukirno. Kuncoro. Opcit. Hal 14,19,415
22James, Todaro.”Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Economic Development”.
Jakarta: Ghalia Indonesia.2014 https://doi.org/2003.. Hal.52
2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dihitung atas dasar konsep aliran (flow concept), yaitu perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hanya mencakup nilai produk yang dihasilkan pada satu periode tertentu. Perhitungan ini tidak mencakup nilai produk yang dihasilkan pada periode sebelumnya.
Pemanfaatan konsep guna menghitung PDRB,memungkinkan kita untuk membandingkan jumlah output yang dihasilkan pada tahun ini dengan tahun sebelumnya
3. Batas wilayah perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah suatu provinsi. Hal ini memungkinkan kita untuk mengukur sejauh mana kebijksanaan-kebijaksanaan ekonomi yang diterapkan pemerintah daerah mampu mendorong aktivitas perekonomian domestik.23
2.5. Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti
(Tahun)
Judul Penelitian Hasil Penelitian 1. Kornita & Mayes
(2010)
Analisis Peran Perbankan Dalam
Hasil penelitian in menunjukkan bahwa
23 Sukirno. Kuncoro. Opcit. Hal 23.
Perekonomian di Kabupaten Siak
perbankan melalui kredit yang disalurkan
memiliki pengaruh tidak langsung terhadap perekonomian.
2. Inggrid (2006) Sektor Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia:
Pendekatan Kausalitas dalam Multivariate Vector Error Correction Model (VECM)
Hasil dari Vector Error Correction Model (VECM) cenderung mendukung hipotesis bahwa sistem keuangan dapat menjadi mesin pertumbuhan di negara ini, yang artinya sektor keuangan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
3. Baroroh (2012) Analisis Sektor Keuangan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional di Wilayah Jawa: Pendekatan Model Levine
Hasil penelitian in menunjukkan bahwa sektor keuangan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
4. Ayyubi et al. (2017) Pengaruh Bank Syariah terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia
Hasil penelitian in menunjukkan bahwa bank syariah memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
5. Deltuvaitė &
Sinevičienė (2014)
Investigation of Relationship Between Financial and Economic Development in the Eu Countries
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sektor keuangan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di negara- negara Uni Eropa.
6. Abidova (2015) Influence of Financial Sector Development on Economic Growth
Hasil penelitian in menunjukkan bahwa kredit yang disalurkan sektor keuangan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi
Perbedaan Penelitian terdahulu dengan penelitian penulis di mana dalam penelitian ini penulis berfokus pada sektor perbankan yang terdapat Bank Umum Syari’ah (BUS), Bank Umum Konvesional (BUK), Peneliti melihat sejauh mana pengaruh sektor bank tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia dari
tahun 2012-2021, sedangkan dalam penelitian terdahulu kebanyakan hanya berfokus pada satu sektor perbankan saja ,dan tidak menggunakan perbandingan beberapa tahun seperti dalam penelitian ini.
2.6. Kerangka Konseptual
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Keterangan :
X1 : Dana Pihak Ketiga BUK (Bank Umum Konvesional ) X2 : Dana Pihak Ketiga BUS (Bank Umum Syariah) X3 : Total Kredit BUK (Bank Umum Konvesional) X4 : Total Pembiayaan BUS (Bank Umum Syariah) Y : Pertumbuhan Ekonomi (PDRB)
2.7. Hipotesis Penelitian
Adapun Hipotesis dalam penelitian ini :
1. Terdapat Pengaruh secara parsial Dana pihak ketiga Bank Umum Konvesional terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021
X1
X2
X3
X4
Y
2. Terdapat Pengaruh secara parsial Dana pihak ketiga Bank Umum Syariah terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021
3. Terdapat Pengaruh secara parsial Total Kredit Bank Umum Konvesional terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021
4. Terdapat Pengaruh parsial Total Pembiayaan Bank Umum Syariah terhadap Pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021.
5. Terdapat Pengaruh Secara simultan Dana pihak ketiga BU K,Dana pihak ketiga BUS,Total Kredit BUK,dan Total pembiayaan BUS terhadap Pertumbuhan ekonomi di Indonesia 2012-2021.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder. 24 data sekunder, yaitu data yang didapatkan tidak secara langsung dari objek atau subjek penelitian, yang bisa berupa dokumen, catatan, arsip, dan lain-lain. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah Dana Pihak Ketiga BUK ( Bank Umum Konvesional), Dana Pihak Ketiga BUS (Bank Umum Syarih), Total Kredit BUK (Bank Umum Konvesional),dan Total Pembiayaan BUS (Bank Umum Syariah) yang diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bandan Pusat Statistik (BPS) dan jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) seluruh Provinsi di Indonesia dari Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2012-2021.
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi penelitian pada seluruh Provinsi di Indonesia, yang dilakukan pada bulan Juli 2022 sampai dengan September 2022.
3.3. Definisi Operasional Variabel
Penelitian ini terdiri dari 2 (dua) jenis variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. sebagai berikut:
1. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu: DPK Bank Umum Konvesional ,Bank Umum Syariah ,Total Kredit Bank umum konvesional, dan Total pembiyaan Bank umum syariah, yang dimana keempat faktor tersebut merupakan variabel bebas yang akan diukur atau dianalisis sebagai pengaruh dari variabel terikat itu sendiri.
24Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.Hal.33
2. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan tingkat peningkatan dalam kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi barang dan jasa. Adapun variabel ini diukur berdasarkan jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas harga Konstan.
3.4. Teknik Analisis Data
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
4.1.1. Perbankan Konvesional
Bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya ke masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat .
Terdapat dua jenis bank di Indonesia, yaitu Bank konvesional dan bank syariah. Bank konvesional adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvesional yang dalam kegiatannya memberi jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Pada bank konvesional, sistem bunga digunakan dengan tujuan untuk mengoptimalkan pemenuhan kegiatan pribadi sehingga kurang mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan.25
Untuk memperoleh bunga maka , pihak bank konvesional memberikan penyaluran kredit. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan sebagai representasiperbankan Konvesional adalah total Penyaluran Kredit perbankan Konvesional Serta Jumlah Bank Umum Konvesional.
4.1.2. Perbankan Syariah
Islam Merupakan agama yang universal karena permasalahan yang dibahas menyeluruh pada sendi kehidupan , baik tentang ibadah, syariah, maupun akhlak. Pembahasan dalam islam meliputi semua aspek dalam kehidupan manusia.26
Di negara maju, bank menjadi lembaga yang sangat strategis dan memiliki peran penting dalam perkembangan perekonomian negara. Bank syariah memiliki sistem oprasional yang berbeda dengan bank konvesional .
25 Supiah Ningsih. “Dampak Dana Pihak Ketiga Bank Konvesional dan Bank Syariah Serta Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia”. Bandung :Widina Bhakti Persada Bandung.2021. Hal.2 26Ismail, “Perbankan syariah”, Jakarta: Kencana,2011. Hal.2
bank syariah memberi layanan bebas bunga kepada para nasabahnya.dalam sistem oprasional bank syariah, pembayaran dan penarikan bungadilarang dalam semua bentuk transaksi. Bank Syariah sebagai lembaga intermediasi antara pihak investor yang menginvestasikan dananya di bank kemudian selanjutnya bank syariah menyalurkan dananya kepada pihak lain yang membutuhkan dana.27 Yang dimana dikenal dengan pembiayaan, jika pada bank konvesional terdapat penyaluran dalam bentuk kredit, berbeda Halnya dalam perbankan syariah tidak menggunakan sistem bunga sehingga tidak menerapkan sistem kredit didalamnya.
Dalam penelitian ini variabel yang digunakan sebagai representasi pembiayaan perbankan syariah adalah total pembiayaan perbankan syariah Serta Jumlah Bank Umum Syariah.
4.1.3. Pertumbuhan Ekonomi
Perkembangan dan Pertumbuhan Ekonomi Regionalnya, suatu wilayah, sampai sekarang, parameter yang biasa digunakan adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB adalah Jumlah Barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu daerah yang dihitung berdasarkan harga konstan pada periode tertentu, biasanya 1 tahun. Besarnya PDRB yang dicapai oleh suatu daerah atau wilayah, sangat ditentukan oleh potensi sumber daya yang ada , dan prioritas kebijakan pembangunan. Semakin besar potensi sumber daya alam, sumber daya manusia yang berkualitas, teknologi yang digunakan untuk mengolah sumbe daya alam adalah teknologi tepat guna (canggih), dan kebijakan pembangunan yang tepat, tentu dapat
27Ismail,ibid. Hal.25
meningkatkan PDRB.28Dalam Penelitian ini Variabel yang digunakan adalah PDRB berdasarkan Harga Konstan dari tahun 2012 sampai dengan 2021.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas
Dalam penelitian ini pengujian normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov (Kolmogorov-Smirnov Test) dengan melihat signifikansi dari residual yang dihasilkan dan pendekatan Grafik normal Probability plot. Deteksi normalitas dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Hasil uji normalitas data dari residual yang diperoleh sebagai berikut :
Tabel 4.1
Hasil Uji Normalitas Data
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 10
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
28 Aram Palilu. “Pembangunan Infrastruktur Transportasi Terhadap Produk Domestik Gerional Bruto”. Sumatera Barat: CV. AZKA PUSTAKA.2022. Hal 95
Std. Deviation ,87934075
Most Extreme Differences Absolute ,141
Positive ,141
Negative -,108
Test Statistic ,141
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber : Data Sekunder, Output SPSS Versi 22.0
Berdasarkan hasil pada Tabel.4 diatas, menunjukkan Jika nilai Asymp.Sig lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa residual menyebar normal begitupun sebaliknya. Dari Tabel.4 di atas dapat dilihat bahwa hasil uji normalitas metode Kolmogorov smirnov didapatkan hasil sebesar 0,200 yang artinya terdistribusi normal. Hal Tersebut juga dapat dijelaskan dengan hasil analisis grafik yaitu grafik Normal Probability plot- nya sebagai berikut:
Gambar 4.1
Grafik Normal Probality Plot
Sumber : Data Sekunder, Output SPSS Versi 22.0
Uji Heteroskedastitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda akan disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali,2013).
Untuk menentukan heteroskedastisitas dapat menggunakan uji Glejser. Dasar dalam pengambilan keputusan pada uji ini adalah jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 ( Sig ˃ 0,05), yang disajikan dalam Tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) ,595 3,690 ,878
X1 5,356E-7 ,000 1,652 ,787
X2 -2,072E-5 ,000 -6,111 ,573
X3 -1,378E-6 ,000 -3,340 ,200
Y 3,707E-5 ,000 7,673 ,339
Sumber : Data sekunder, Output SPSS 22.0
Dari Tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model penelitian dikarenakan nilai signifikasi yang di peroleh dari semua variabel independenya lebih dari 0,05 yang artimya tidak terjadinya heteroskedositas . maka hasil diatas dapat dijelaskan dengan hasil analisis grafik yaitu grafik scatterplot, titik-tik yang tetbentuk harus menyebar secara acak, tersebut baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Apabila kondisi ini terpenuhi maka tidak terjadi heteroskedastisitas dan model regresi layak digunakan. Hasil uji heteroskedastisitas dengan menggunakan grafik scatterplot ditunjukkan pada Gambar 4.2 dibawah ini:
Gambar 4.2 Grafik Scatterplot
Sumber : Data Sekunder. Output SPSS 22.0
Uji Multikolonieritas
Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat apakah terdapat dua atau lebih variabel bebas yang berkorelasi secara linier. Apabila terjadi keadaan
ini maka kita akan menghadapi kesulitan untuk membedakan pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikatnya.
Untuk mendeteksi adanya gejala multikolonieritas dalam model penelitian dapat dilihat dari nilai toleransi (tolerance value) atau nilai variance Inflation Factor (VIF). Batas tolerance ˃ 0,10 dan batas VIF ˂
10,00 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat multikolinearitas diantara variabel bebas.Hasil dari pengujian multikolonieritas pada penelitian ini ditunjukkan seperti pada Tabel 4.3 sebagai berikut ini:
Tabel 4,3 Hasil Uji Multikolonieritas
Berdasarkan Tabel.4.3 maka dapat dilihat bahwa Nilai Tolerance dan VIF nya untuk semua variabel independen tidak lebih dari 10 dan nilai tolerance tidak lebih kecil dari 0,10, sehingga dapat ditari kesimpulan bahwa variabel independen yang terdiri dari Dana pihak ketiga BUK (Bank Umum Konvesional), Dana pigak ketiga BUS (Bank Umum Syariah), Total Kredit BUK , Total Pembiayaan BUS tidak terdapat gejala mutikolinieritas.yang artinya telah lolos uji Multikolinearitas karena nilai Tolerance dan VIF telah terpenuhi .
Coefficientsa
Mode l
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 X1 ,740 1,351
X2 ,621 1,611
X3 ,771 1,297
X4 ,842 1,188
a. Dependent Variable: PDRB KONSTAN Sumber: Data Sekunder Output SPSS Versi 22.0