BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut Stuart (2016) gangguan jiwa adalah kumpulan gejala terhadap individu yang berdampak pada kognitif dan psikologis. Individu yang mengalami gangguan jiwa merasa bahwa dirinya tertekan, merasa tidak nyaman dan merasa bahwa dirinya diasingkan oleh lingkungan (Maulana et al.,2019). Kondisi kesehatan jiwa individu yang cenderung lambat dalam merespon suatu permasalahan terhadap lingkungan disebut dengan gangguan jiwa (Azizah et al.,2017).
Gangguan jiwa adalah sindrom pola perilaku seseorang yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan distress di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia, yaitu fungsi psikologi, perilaku, biologi, dan gangguan itu tidak hanya terletak di dalam hubungan antara orang itu tetapi juga dengan masyarakat (Yusuf, A.H.,Rizky, F., dan Hanik, E.N. 2015).
Menurut data WHO (2017) sekitar 450 juta orang mengalami gangguan jiwa. Menurut data Kemenkes RI (2017) berbagai jenis gangguan jiwa di Indonesia meningkat antaranya adalah skizofrenia, gangguan perilaku dan cacat intelektual. Setiap tahunnya gangguan jiwa di Indonesia selalu mengalami peningkatan, meskipun presentase 0,14% hal tersebut menjadi permasalahan dalam dunia kesehatan jiwa Indonsesia.
Peningkatan tersebut terlihat dari Riset Kesehatan Dasar (2018) setiap 1
rumah tangga meningkat 7 permil, artinya dalam 1000 rumah tangga terdapat 7 rumah tangga yang mengalami ODGJ, sehingga jumlah tersebut bisa diperkirakan sekitar 450 ribu ODGJ berat (Kemenkes RI,2019).
Berdasarkan data dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pasien rawat inap psikiatri di Ruang Adenium periode januari sampai Desember 2018 terdapat 167 orang, dengan klasifikasi tipe, yaitu Skizofrenia hebefrenik 49 orang, skizofrenia paranoid 32 orang, skizofrenia tipe manik 27 orang, skizofrenia unspecified 11 orang, episode hypomanic dengan gejala psikotik 11 orang, skizoafektif 11 orang, skizofrenia tak terinci 10 orang, episode depresi berat dengan gejala psikotik 6 orang, gangguan psikotik akut dan sementara yang di tentukan 5 orang, dan skizofrenia akut dengan gangguan psikotik 5 orang. Skizofrenia hebefrenik merupakan tipe yang lebih sering terkajadi dari pada tipe yang lain. Berdasarkan distribusi dari ruang adenium tahun 2018, diantara berbagai masalah skizofrenia sebagain besar mengalami gangguan Resiko Perilaku Kekerasan dan gangguan Halusinasi (Ariyanti,2019).
Skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai fungsi individu, termasuk berfikir, berkomunikasi, merasakan dan menunjukkan emosi serta gangguan otak yang ditandai dengan pikiran kacau, waham, halusinasi, dan perilaku aneh (Rhoad, 2011; Pardede, Silitonga & Laia, 2020). Skizofrenia yaitu gangguan mental berat dan kronis yang menyerang 20 juta orang di seluruh dunia (WHO, 2019). Hasil Riset kesehatan dasar (2018)
didapatkan bahwa prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia sebesar 1,8 per 1000 penduduk. Skizofrenia adalah gangguan yang terjadi pada fungsi otak. Skizofrenia Sekitar 50% dari klien dengan gangguans kizofrenia memiliki gangguan penggunaan zat, paling sering disebabkan oleh alcohol dan ganja (Stuart,2016).
Isolasi sosial sebagai salah satu respon perilaku negatif yang muncul pada klirn skizofrenia. Isolasi sosial dapat muncul dari kegagalan yang terjadi secara terus menerus dalam menghadpi stresor dan penolakan dari lingkungan akan mengakibatkan individu tidak mampu berpikir logis dimana individu akan berpikir bahwa dirinya gagal menjalankan fungsi perannya. Tanda dan gejala yang muncul dapat dilihat dari berbagai respon yaitu respon kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan sosial. Respon kognitif berupa merasa kesepian, merasa ditolak orang lain/lingkungan, dan merasa tidak dimengerti oleh orang lain, merasa tidak berguna, merasa putus asa dan tidak memiliki tujuan hidup, merasa tidak aman berada diantara orang lain, serta tidak mampu konsentrasi dan membuat keputusan (Townsand, 2009; NANDA 2012).
Isolasi sosial tidak langsung mengganggu klien, namun jika tidak diatasi akan beresiko munculnya masalah keperawatan lainnya seperti resiko gangguan persepsi sensori halusinasi, resiko perilaku kekerasaan, resiko mencederai diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu diperlukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan resiko yang akan ditimbulkan.Intevensi keperawatan yang diberikan pada klien skizofrenia
dengan masalah isolasi sosial ditujukan agar klien dapat memulai interaksi dengan orang lain dapat mengrmbangkan dan meningkatkan interaksi sosial dengan orang lain dan mengikuti program pengobatan secara optimal.
Berdasarkan masalah yang ada, maka penulis menganggap ini pentinguntuk dijadikankarya tulis ilmiah dengan judul :”Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Ny.S Dengan Gangguan Isolasi Sosial Akibat Skizofrenia”.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan dengan cara pendekatan proses keperawatan secara langsung dan komprehensif, yang meliputi aspek bio- psiko-sosio-spiritual pada klien dengan gangguan isolasi sosial akibat gangguan skizofrenia.
2. Tujuan khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan jiwa pada Ny.Sdengan gangguan dengan gangguan isolasi sosial akibat gangguan skizofrenia.
diharapkan penulis mampu:
a. Melakukan pengkajian terhadap klien gangguan isolasi sosial
b. Menentukan diagnosa keperawatan terhadap klien dengan gangguan skizofrenia
c. Menyusun rencana asuhan keperawatan terhadap klien dengan gangguan isolasi sosial akibat gangguan skizofrenia.
d. Melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang telah dibuat terhadap klien gangguan isolasi sosial
e. Membuat evaluasi dari setiap tindakan yang sudah dilakukan kepada klien dengan gangguan isolasi sosial.
C. Metode Telaah dan Teknik Pengambilan Data
Metode telaah studikasus. Adapun tekhnik pengambilan data yang digunakan yaitu, studi kepustakaan dengan mengumpulkan informasi dari bahan-bahan bacaan sebagai literatur yang relevan dengan kasus yang diambil sebagai bahan dalam pembuatan karya tulis.
D. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan karya tulis ini dibagi menjadi empat bab, yaitu : BAB I : PENDAHULUAN
Menjelaskan latar belakang masalah, tujuan penulis, metode penulis dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN TEORITIS
Menguraikan konsep dasar tentang penyakit skizofrenia asuhan keperawatan pada klien dengan Isolasi Sosial akibat skizofrenia meliputi pengertian, faktor penyebab, tanda dan gejala, asuhan keperawatan, diagnosa keperawatan, rencana asuhan keperawatan dan penatalaksanaan kolaboratif.
BAB III : TINJAUAN KASUS dan PEMBAHASAN
Menguraikan proses keperawatan pada Ny.SIsolasi Sosial akibat skizofrenia serta menjelaskan tentang kesenjangan dan kesamaan antara teori yang ada dengan kasus dilapangan.
BAB IV : KESIMPULAN dan REKOMENDASI
Menguraikan kesimpulan dan rekomendasi seluruh kegiatan asuhan keperawatan DAFTAR PUSTAKA