• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Geogebra Dalam Mengubah Mindset Rumit Remaja Terhadap Pelajaran Matematika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pemanfaatan Geogebra Dalam Mengubah Mindset Rumit Remaja Terhadap Pelajaran Matematika"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Pemanfaatan Geogebra Dalam Mengubah Mindset Rumit Remaja Terhadap Pelajaran Matematika

Hardiana1, Nurwahidah2, A. Mutahharah3, Prima Mytra4

1 Hardiana, Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIM Sinjai, Snjai, Indonesia, 92612

2 Nurwahidah, Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIM Sinjai, Snjai, Indonesia, 92612

3 A. Mutahharah, Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIM Sinjai, Snjai, Indonesia, 92612

4Prima Mytra,Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIM Sinjai, Snjai, Indonesia, 92612 Email: [email protected]1; [email protected]2, [email protected]3,

[email protected]4 ABSTRACT

Matematika adalah ilmu yang mempelajari besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Matematika merupakan induk dari semua ilmu sains. Berbagai macam persepsi remaja mengatakan matematika merupakan pelajaran yang sulit dipahami karena bersifat abstrak, bahkan ada siswa atau remaja yang memiliki rasa atau penyakit phobia terhadap pelajaran matematika. Persepsi yang seperti ini mengakibatkan minat belajar matematika siswa menjadi rendah. dengan maraknya phobia matematika, penelitian ini mencoba mengurangi rasa takut remaja terhadap matematika dengan memanfaatkan teknologi sesuai era revolusi indutri 4.0 saat ini. Geogebra adalah sebuah aplikasi yang dapat memudahkan siswa dalam belajar matematika. Software ini bisa dimanfaatkan untuk membuat konsep-konsep matematika menjadi dinamik dan lebih mudah untuk dipahami baik untuk menyelesaikan masalah-masalah matematika maupun untuk memebuat media pembelajaran virtual, mengilustrasikan geometri dan menggambarkan bangun - bangun geometri.

Keunggulan inilah yang membuat Geogebra menjadi software yang sangat ampuh untuk membuat persepsi remaja bahwa matematika dapat menjadi lebih mudah dipahami dengan adanya ilustrasi yang ditampilkan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkenalkan aplikasi geogebra pada siswa dan remaja guna mengubah

“Mindset rumit” terhadap pelajaran matematika dengan ilustrasi 3 dimensi yang dapat ditampilkan aplikasi geogebra. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan melakukan penelitian terhadap anak remaja yang berada di Kabupaten Sinjai.

Keywords: teknologi, matematika, phobia, geogebra.

PENDAHULUAN

Di era revolusi industri 4.0 kemudahan dalam mengakses ilmu pengetahuan dari berbagai sumber baik artikel, jurnal, dan berbagai hasil penelitian lainnya (Nursyifa, 2019).

Matematika merupakan salah satu induk dari pengetahuan, dimana penemuan para ilmuannya sangat berkontribusi besar terhadap kemajuan teknologi informasi di berbagai belahan dunia. Geogebra sebagai hasil dari kemajuan tekhnologi informasi pada bidang pendidikan untuk langkah kemajuan media pembelajaran (Nurfitriyanti, 2016).

Menurut Andrew Noyes dalam penelitian Indah L dkk, Matematika merupakan ilmu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari (Nur’aini dkk., 2017).

Pada saat yang sama, dalam pandangan Russeffen, matematika adalah ilmu yang terorganisir. Matematika membahas fakta, hubungan, serta membahas ruang dan

bentuk. Pada hakikatnya matematika merupakan ilmu yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia (Nur’aini dkk., 2017).

Menurut Johnson & Rising pada Halomoan dkk, matematika adalah cara berpikir, cara mengorganisir bukti logis, pengetahuan tentang struktur yang mengandung atribut, penalaran deduktif berdasarkan elemen yang tidak ditentukan, aksioma, atribut, atau teori yang telah terbukti benar (Hasugian dkk., 2013).

Matematika adalah terjemahan dari mathematics. Namun makna atau definisi yang tepat tidak dapat diterapkan secara mutlak karena cabang-cabang matematika semakin lama semakin bertambah banyak dan membingungkan satu sama lain (Hasugian dkk., 2013). Matematika itu terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definesi-definisi, aksioma-aksioma dan dalil-dalil yang dibuktikan kebenarannya, sehingga matematika disebut ilmu deduktif (Hasugian dkk., 2013).

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang penting untuk dipelajari dalam berbagai tingkatan pendidikan. Hal ini sejalan dengan Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 37 dijelaskan bahwa matematika merupakan salah satu mata pelajaran wajib di kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Tujuan pembelajaran matematika menurut NCTM (2000) yaitu peserta didik harus memiliki lima standar kemampuan matematis, yaitu kemampuan dalam memecahan masalah (problem solving), kemampuan koneksi (connection), kemampuan penalaran (reasoning), kemampuan komunikasi (communication), dan kemampuan representasi (representation) (Anggraenia & Dewi, 2021).

Johnson dan Myklebust (1976: 244) dalam Prima Mytra, matematika adalah bahasa simbolis yang berfungsi untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir (Prima M, 2014)

Dalam dunia pendidikan, mata pelajaran matematika merupakan Salah satu pembelajaran yang sampai saat ini menjadi hal yang dianggap rumit bagi sebagian individu yaitu pembelajaran matematika (Rufayda, 2013). Adanya persepsi tersebut dapat menimbulkan ketidakmampuan dan ketakutan sebagian individu dalam belajar matematika (pobia) sehingga kualitas hasil belajar pada pembelajaran matematika menjadi menurun. Kerumitannya dapat dilihat dari segi penyelesaiannya yang bersifat abstrak sehingga sulit untuk dipahami, namun kenyataanya ketika ditinjau dari jauh, matematika itu sendiri dalam penyelesaiannya terstruktur.

(2)

beberapa alasan tentang sulitnya matematika untuk dipelajari dan diajarkan yaitu matematika merupakan pelajaran yang sangat hierarkis, karena hampir semua mata pelajaran yang diajarkan akan menjadi prasyarat untuk materi selanjutnya, sehingga jika materi sebelumnya tidak dipahami maka akan sulit untuk memahami materi selanjutnya (Safuro dkk., 2020).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang dianggap rumit oleh sebagian individu karena konsep yang dipelajari didalamnya harus betul-betul dipahami sebelum beralih ke materi selanjutnya. Namun pada era Revolusi Indutri 4.0 sekarang ini, kemajuan teknologi menjadikan pendidikan semakin mudah dalam proses belajar dan mengajar, contohnya dalam membangun sketsa geometri dibidang matematika dengan penggunaan aplikasi geogebra.

Dalam penelitian (Majerek, 2014) Salah satu aplikasi terbaik yang dirancang oleh Hohenwarter untuk mengilustrasikan dan membangun beberapa masalah matematika adalah Geogebra. Menurut Hohenwarter, Geogebra adalah perangkat lunak matematika dinamis yang menggabungkan geometri, albajar, dan kalkulus dengan menggunakan program geogebra (Lestari, 2018).

Tanpa pengajaran formal, siswa dapat belajar secara mandiri agar dapat mengeksprolasi kemampuan mereka dengan menggunakan program ini.

Hohenwarter dan Judith Preiner menawarkan software pendidikan matematika yang gratis yaitu geogebra.

Aplikasi geogebra dapat memandu siswa belajar untuk memahami konsep matematika, misalnya materi fungsi, geometri, kalkulus dll (Hohenwarter dkk., 2008). Dengan bantuan internet siswa dapat belajar mengoperasikan aplikasi geogebra dengan video tutorial yang tersedia di internet sehingga siswa dapat belajar secara mandiri.

Geogebra memang khusus dirancang untuk tujuan pendidikan (Lestari, 2018).

Geogebra dapat membantu siswa untuk mengembangkan proses eksperimen, berorientasi pada masalah, dan pembelajaran penemuan pada konsep-konsep matematika.

Hal ini sangat relevan dengan aspek pengetahuan terkait menganalisis dan mengevaluasi serta aspek keterampilan seperti mencoba, menalar, menyaji dan mencipta sehingga siswa akan sampai pada aspek menghayati dan mengimplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, Geogebra sangat sesuai dengan prinsip Kurikulum 2013.

KAJIAN PUSTAKA 1) Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar adalah kesulitan nyata dalam berbagai bentuk kegiatan menyimak, berbicara, membaca, menulis, menalar, dan atau berhitung (Suryani, 2010). Gangguan ini merupakan gangguan bawaan dan diduga disebabkan oleh disfungsi sistem saraf pusat. Kesulitan belajar dapat terjadi bersamaan dengan hambatan lain (seperti gangguan sensorik, sosial, dan emosional) dan pengaruh lingkungan (seperti perbedaan budaya atau proses belajar yang tidak sesuai). Gangguan eksternal tersebut bukan merupakan faktor penyebab kesulitan belajar, meskipun merupakan faktor yang memperburuk kesulitan belajar yang ada.

Penyebab terjadinya kesulitan belajar yang dialami siswa disebabkan oleh beberapa hal yaitu metode mengajar yang digunakan oleh guru, serta pengetahuan yang telah dimiliki siswa atau kemampuan siswa yang memang kurang memadai. Kesulitan belajar matematika yang dialami siswa berkaitan dengan kemampuan belajar yang kurang sempurna. Kekurangan tersebut dilihat dari penyelesaian persoalan matematika yang tidak tuntas atau tuntas tetapi salah (tidak benar). Ketidaktuntasan tersebut dapat diduga karena kesalahan penggunaan konsep dan prinsip dalam menyelesaikan persoalan matematika yang ada (Nurjannah dkk., 2019).

Menurut Kauffman dan Lloyd dalam penelitian (Suryani, 2010) mengemukakan, kesulitan belajar khusus adalah satu gangguan atau lebih dalam proses mental, termasuk pemahaman dan penggunaan bahasa lisan atau tulisan.

Gangguan ini dapat bermanifestasi sebagai kesulitan dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau berhitung. Kerterbatasan ini termasuk kondisi seperti gangguan persepsi, kerusakan otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan ini tidak termasuk anak-anak dengan masalah belajar alasan utamanya adalah gangguan pengelihatan, pendengaran atau motorik, keterbelakangan mental, gangguan emosional atau hambatan yang disebabkan oleh kemiskinan lingkungan, budaya atau ekonomi.

Kesulitan belajar tidak selalu disebabkan oleh faktor inteligensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi juga disebabkan oleh faktor-faktor noninteligensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin proses keberhasilan dalam belajar. Seperti diungkapkan oleh Syah (1999) bahwa kesulitan belajar tidak hanya dialami oleh siswa yang memiliki kemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Selain pada siswa berkemampuan rendah dan tinggi, kesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata, hal tersebut disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang menjadi penghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai harapan. Jadi bisa dikatakan bahwa belum tentu anak yang mengalami kesulitan belajar menandakan bahwa anak tersebut mempunyai IQ (Intelligence Quotient) rendah (Nurjannah dkk., 2019).

menurut Cooney (dalam Sudia, 1995:15) dikategorikan dalam tiga jenis yaitu: 1) Kesulitan dalam mempelajari materi, 2) kesulitan dalam menerapkan prinsip, dan 3) kesulitan dalam menyelesaikan masalah verbal. Kesulitan siswa dalam memahami konsep ditandai dengan adanya:

1) ketidakmampuan mengingat materi-materi secara sistematis; 2) ketidakmampuan untuk menyatakan makna dan istlah yang menunjukkan pada suatu konsep khusus;

dan 4) ketidakmampuan untuk menarik kesimpulan dari informasi atau konsep.

dalam penelitian (Nurjannah dkk., 2019), Kesulitan belajar matematika siswa dilihat dari adanya hambatan-hambatan tertentu yang dialami dalam mencapai hasil belajar sehingga menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada dibawah rata-rata. Sejalan dengan hal tersebut, Dowker berpendapat bahwa kesulitan belajar adalah kondisi dimana siswa mengalami hambatan dalam proses belajar. Hambatan ini menyebabkan orang tersebut mengalami kegagalan atau setidaknya kurang berhasil dalam mencapai tujuan belajar.

(3)

Menurut Irham & Wiyani, mengemukakan bahwa kesulitan belajar merupakan kondisi saat peserta didik mengalami hambatan-hambatan tertentu dalam mengikuti proses pembelajaran. Kesulitan belajar adalah hal-hal atau gangguan yang menyebabkan kegagalan atau menjadi gangguan yang dialami siswa sehingga menghambat kemajuan belajarnya (Firmansyah, 2017). Faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar siswa berasal dari faktor internal dan eksternal. Dimana faktor internalnya, yaitu minat, motivasi, bakat, dan intelegensi, dari faktor eksternal yaitu kondisi kelas, dalam hal ini suasana dan fasilitas yang belum memadai (Prima M, 2014).

Menurut Djamarah dalam penelitian (Prima M, 2014), kesulitan belajar adalah suatu kondisi di mana siswa tidak dapat belajar secara wajar, hal ini disebabkan adanya gangguan, hambatan ataupun ancaman dalam belajar.

Kesulitan belajar adalah keadaan di mana kemampuan belajar yang tidak sempurna pada siswa atau tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar merupakan bentuk kesulitan yang secara nyata dimiliki oleh setiap individu dimana kemampuan siswa rata-rata atau di atas rata-rata sehingga menyebabkan kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik.

2) Bahan Ajar

Menurut Oktaviyanthi & Dahlan dalam penelitian (Lestari, 2018), bahan ajar adalah semua jenis bahan ajar yang digunakan untuk membantu guru atau dosen dalam proses pembelajaran di kelas sesuai dengan peraturan National Centre for Competency Based Training. Guru harus memilih bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum, karakteristik tujuan, dan kebutuhan untuk memecahkan masalah pembelajaran. Bahan ajar yang dikembangkan oleh guru di harapkan dapat mencapai tujuan dan manfaatnya baik bagi guru itu sendiri maupun peserta didik. Berikut ini penjelasan tujuan dan manfaat bahan ajar:

• menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik, yaitu bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan lingkungan sosial siswa.

• manfaat bahan ajar bagi tenaga pendidik yaitu:

a) memperoleh bahan ajar yang sesuai kurikulum dan kebutuhan belajar siswa

b) tidak lagi mengacu pada buku yang terkadang sulit untuk didapatkan

c) menambah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar

d) membangun dan memperbaiki komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan guru sehingga siswa akan merasa lebih percaya kepada gurunya

e) menambah referensi di perpustakaan jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.

• Manfaat bahan ajar bagi siswa yaitu:

a) Proses belajar mengajar menjadi lebih menarik

b) Memberikan kesempatan siswa untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru

c) Memudahkan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasai. Selain itu, dengan adanya bahan ajar dapat mengarahkan siswa dalam memahami suatu konsep dan memberikan gambaran utuh mengenai suatu materi.

Bahan ajar adalah sekumpulan materi yang dirancang secara sistematis untuk menciptakan suasana yang kondusif dan memungkinkan peserta didik untuk belajar.

Dengan adanya bahan ajar, peserta didik dapat mempelajari suatu kompetensi secara tepat dan sistematis sehingga peserta didik mampu menguasai semua kompetensi dan tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan ketentuan yang ada.

Bahan ajar merupakan petunjuk belajar bagi guru dalam kompetensi yang akan dicapai, content atau isi materi pembelajaran berupa informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja (dapat berupa Lembar Kerja), evaluasi, dan respon atau balikan terhadap hasil evaluasi (Anggraenia &

Dewi, 2021)

Bahan ajar yaitu segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau dosen dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kemudian Prastowo menyatakan bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran (Aan Subhan Pamungkas, 2017).

Bahan ajar memiliki fungsi, tujuan, dan manfaat yang menunjang untuk mendukung keberhasilan terwujudnya tujuan pembelajaran. Menurut departemen pendidikan nasional, bahan ajar merupakan pedoman bagi guru dan siswa dalam segala kegiatan dalam proses pembelajaran, dan juga sebagai saranan evaluasi hasil belajar atau penguasaan hasil belajar. Penyusunan bahan ajar adalah untuk meyediakan bahan ajar yang memenuhi persyaratan kurikulum, memperhatikan kebutuhan peserta didik, dan membantu peserta didik untuk memperoleh bahan ajar alternatif. Selain buku teks yang terkadang sulit diperoleh dan memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Selain fungsi dan tujuan bahan ajar diatas, bahan ajar juga memiliki berbagai manfaat.

Menurut departemen pendidikan nasional, jika guru bisa mengembangkan bahan ajar sendiri, banyak manfaat yang bisa didapat, termasuk mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan persyaratan kurikulum dan kebutuhan peserta didik tidak lagi ketergantungan terhadap buku teks yang terkadang sulit didapatkan.

bahan ajar menjadi lebih mudah karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi, menambah pengalaman dan pengetahuan guru dalam menulis bahan ajar, dan bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan peserta didik. Selain itu, dengan adanya bahan ajar yang bervariasi, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.

Peserta didik akan lebih giat dalam belajar, tidak mudah bosan, dan memudahkan peserta didik dalam mempelajari

(4)

setiap kompetensi yang harus dikuasainya, serta mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri dengan memanfaatkan bahan ajar yang tersedia.

3) Geogebra

Menurut kusumah, memaparkan berbagai manfaat program komputer dalam pembelajaran metematika.

Menurutnya, program komputer sangat cocok untuk memperlajari konsep matematika yang membutuhkan ketelitian tinggi, pengulangan konsep atau prinsip, dan melengkapi grafik secara akurat dan program geogebra.

Geogebra dikembangkan oleh Markus Hohenwarter pada tahun 2001. Menurut Hohenwarter, geogebra adalah perangkat lunak matematika dinamis yang menggunakan geometri, aljabar dan kalkulus. (Lestari, 2018)

Geogebra adalah sumber perangkat lunak terbuka untuk pengajaran dan pembelajaran matematika yang menawarkan berbagai fitur seperti geometri, aljabar, dan kalkulus dalam lingkungan perangkat lunak yang sepenuhnya terhubungan dan mudah digunakan (Hohenwarter dkk., 2008)

Menurut Hohenwarter & Fuchs, geogebra sebagai media pembelajaran matematika dengan beragam aktivitas memiliki manfaat diantaranya sebagai berikut:

1) sebagai media penyajian dan visualisasi, yaitu dalam pembelajaran tradisional, guru menggunakan geogebra untuk mendemonstrasikan dan memvisualisasikan konsep-konsep matematika tertentu.

2) sebagai alat bantu konstruksi, geogebra digunakan untuk konstruksi visual. Menu utama Geogebra adalah: File, Edit, View, Option, Tools, Windows, dan Help untuk menggambar objek-objek geometri.

Menu File digunakan untuk membuat, membuka, menyimpan, dan mengekspor file, serta keluar program. Menu Edit digunakan untuk mengedit gambar. Menu View digunakan untuk mengatur tampilan. Menu Opsi dapat mengatur berbagai fitur tampilan, seperti pengaturan ukuran font, pengaturan jenis (style) objek-objek geometri, dan sebagainya.

Meskipun menu bantuan menyediakan intruksi teknis untuk menggunakan program geogebra.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini ialah remaja yang berada di kabupaten Sinjai, adapun objek penelitiannya mengubah mindset rumit remaja terhadap pelajaran matematika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkenalkan aplikasi geogebra pada siswa dan remaja guna mengubah “Mindset rumit” terhadap pelajaran matematika dengan ilustrasi 3 dimensi yang dapat ditampilkan pada aplikasi geogebra.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini wawancara dengan instrumen penelitian berupa lembar wawancara, data dianalisis menggunakan triangulasi sumber.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang pemanfaatan geogebra dalam mengubah mindset rumit remaja terhadap pelajaran matematika dengan melakukan penelitian

terhadap remaja yang berada di Kabupaten Sinjai. Maka hasil penelitian berupa wawancara langsung pada 6 dari 10 responden memberikan tanggapan pada pelajaran matematika menggunaan aplikasi geogebra mengatakan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk dipahami sebelum mereka melihat media geogebra.

Setelah melihat media geogebra, responden menjadi tertarik untuk belajar matematika karena media yang di gunakan membuat pelajaran matematika menjadi lebih menarik dan mudah dicerna serta dipahami sehingga tidak membuat proses pembelajaran menjadi jenuh dan membosankan. Berikut kutipan wawancara subjek : Subjek A.

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika”?

A: “Matematika merupakan pelajaran yang sulit dan menantang”.

P: “Menurut anda apakah yang menyebabkan pelajaran matematika sangat sulit dipahami”?

A: “Dalam pelajaran matematika terdapat banyak rumus dan konsep-konsep yang sulit untuk dimengerti”.

P: “Apa yang anda lakukan untuk berusaha mengerti dan memahami pelajaran matematika”?

A: “Berusaha untuk memahami rumus dan konsep atau materi matematika itu sendiri”.

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika setelah melihat video pada media geogebra”?

A: “Matematika menjadi menarik karena menggunakan media yang mudah dipahami”.

Dari hasil wawancara Subjek A memberikan jawaban bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit karena dalam pelajaran matematika terdapat banyak rumus dan konsep-konsep yang sulit untuk dimengerti. Namun, setelah melihat media geogebra Subjek A menjadi tertarik untuk belajar matematika karena media yang digunakan mudah dipahami.

Subjek B

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika”?

B: “Matematika itu seru tapi terkadang membuat pusing karena sulit mengerjakan soal”.

P: “Menurut anda apakah yang menyebabkan pelajaran matematika sangat sulit dipahami”?

B: “Pelajaran matematika sulit dipahami karena kurangnya kemauan untuk belajar matematika”.

P: “Apa yang anda lakukan untuk berusaha mengerti dan memahami pelajaran matematika”?

B: “Terus berlatih mengerjakan soal-soal dan memahami rumus-rumus dalam matematika”.

P: “Apakah anda memperhatikan dengan baik pada saat guru menjelaskan materi pada mata pelajaran matematika”?

B: “Kadang-kadang”.

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika setelah melihat video pada media geogebra”?

(5)

B: “Belajar matematika menjadi lebih mudah dan menyenangkan”.

Dari hasil wawancara Subjek B memberikan jawaban bahwa matematika itu seru tapi terkadang membuat pusing karena sulit mengerjakan soal dan kurangnya kemauan untuk belajar matematika. Namun, setelah melihat media geogebra Subjek B mengatakan bahwa belajar matematika menjadi lebih mudah dan menyenangkan dengan adanya media tersebut.

Subjek C

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika”?

C: “Matematika terkadang mudah dan sulit untuk dipahami”.

P: “Menurut anda apakah yang menyebabkan pelajaran matematika sangat sulit dipahami”?

C: “Pelajaran matematika terlalu banyak rumus yang sulit dipahami”.

P: “Apa yang anda lakukan untuk berusaha mengerti dan memahami pelajaran matematika”?

C: “Berusaha memahami rumus dan berlatih mengerjakan soal-soal matematika terutama soal cerita”.

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika setelah melihat video pada media geogebra”?

C: “Belajar matematika menjadi lebih mudah”.

Dari hasil wawancara Subjek C memberikan jawaban bahwa matematika terkadang mudah dan sulit karena terlalu banyak rumus yang sulit dipahami. Namun, setelah melihat media geogebra Subjek C mengatakan bahwa dengan adanya media ini, belajar matematika menjadi lebih mudah.

Subjek D

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika”?

D: “Menurut saya, pelajaran matematika itu mudah apabila kita tahu cara penyelesaiannya dan susah apabila kita tidak tahu cara penyelesaiannya”.

P: “Menurut anda apakah yang menyebabkan pelajaran matematika sangat sulit dipahami”?

D: “Yaitu tidak fokus pada saat belajar dan tidak melatih diri untuk mengerjakan soal-soal matematika”.

P: “Apa yang anda lakukan untuk berusaha mengerti dan memahami pelajaran matematika”?

D: “Yaitu memahami konsep dan menghafal rumus, rajin mengerjakan soal-soal matematika, bertanya apabila ada yang tidak dipahami serta tekun dalam memepelajari matematika”.

P: “Masalah apa saja yang membuat anda malas untuk belajar matematika”?

D: “Yaitu karena tidak paham dengan materinya dan banyak tugas yang lain”.

P: “Apakah anda memiliki antusias yang tinggi dalam belajar matematika”?

D: “Iya, karena pelajaran matematika sangat menyenangkan”.

P: “Bagaimana kesan anda selama mengikuti pelajaran matematika”?

D: “Kesan saya belajar matematika itu menyenangkan dan menantang karena melatih kita untuk berpikir dengan baik dalam mengerjakan soal-soal”.

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika setelah melihat video pada media geogebra”?

D: “itu akan membantu kita dalam menyelesaikan soal- soal matematika yang tidak kita pahami”.

Dari hasil wawancara Subjek D memberikan jawaban bahwa pelajaran matematika itu mudah apabila kita tahu cara penyelesaiannya dan susah apabila kita tidak tahu cara penyelesaiannya, hal itu disebabkan oleh kurangnya fokus pada saat belajar dan tidak melatih diri untuk mengerjakan soal-soal matematika. Namun, setelah melihat media geogebra Subjek D mengatakan bahwa media geogebra sangat membantu dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang tidak dipahami.

Subjek E

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika”?

E: “Menurut saya, pelajaran matematika itu susah-susah gampang”.

P: “Menurut anda apakah yang menyebabkan pelajaran matematika sangat sulit dipahami”?

E: “Karena rumusnya susah dipahami”.

P: “Apa yang anda lakukan untuk berusaha mengerti dan memahami pelajaran matematika”?

E: “Terus belajar dan mencari tahu bagaimana cara menyelesaikan soal-soal matematika”.

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika setelah melihat video pada media geogebra”?

E: “Belajar matematika menjadi lebih mudah karena terbantu dengan adanya aplikasi tersebut”.

Dari hasil wawancara Subjek E memberikan jawaban bahwa pelajaran matematika itu susah-susah gampang, hal itu disebabkan oleh banyaknya rumus yang sulit dipahami.

Namun, setelah melihat media geogebra Subjek E mengatakan bahwa Belajar matematika menjadi lebih mudah karena terbantu dengan adanya aplikasi tersebut.

Subjek F

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika”?

F: “Menurut saya, pelajaran matematika itu menyenangkan karena pada saat kita menyelesaikan soal matematika ada rasa kepuasan tersendiri”.

P: “Menurut anda apakah yang menyebabkan pelajaran matematika sangat sulit dipahami”?

F: “Adanya mindset individu yang mengatakan bahwa matematika itu sulit sehingga menyebabkan minat siswa berkurang dalam pelajaran matematika”.

P: “Apa yang anda lakukan untuk berusaha mengerti dan memahami pelajaran matematika”?

F: “Yaitu berusaha untuk memahami konsep dari pembelajaran matematika”.

P: “Masalah apa saja yang membuat anda malas untuk belajar matematika”?

F: “Tenaga pendidik kurang mampu meningkatkan minat belajar siswa, kurang bervariasi dalam penggunaan

(6)

media pembelajaran, dan suasana lingkungan atau tempat belajar yang kurang nyaman”.

P: “Bagaimana kesan anda selama mengikuti pelajaran matematika”?

F: “Kesan saya belajar matematika itu menyenangkan”.

P: “Menurut anda seberapa penting pelajaran matematika bagi kehidupan”?

F: “Pelajaran matematika sangat penting karena hampir seluruh kegiatan kita membutuhkan ilmu matematika dan semua ilmu membutuhkan ilmu matematika”.

P: “Bagaimana pendapat anda tentang pelajaran matematika setelah melihat video pada media geogebra”?

F: “Belajar matematika menjadi lebih mudah, terutama dalam pembelajaran geometri dan aljabar”.

Dari hasil wawancara Subjek F memberikan jawaban bahwa pelajaran matematika itu menyenangkan karena pada saat menyelesaikan soal matematika ada rasa kepuasan tersendiri. Akan tetapi, Adanya mindset individu yang mengatakan bahwa matematika itu sulit sehingga menyebabkan minat siswa berkurang dalam pelajaran matematika. Namun, setelah melihat media geogebra Subjek F mengatakan bahwa belajar matematika menjadi lebih mudah, terutama dalam pembelajaran geometri dan aljabar.

Hasil penelusuran 6 dari 10 tanggapan responden melalui wawancara mengungkapkan beberapa fakta bahwa pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dipahami namun membuat sebagian orang menjadi tertantang akan kesulitan yang dialaminya. Hal ini dianggap sulit karena konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran matematika tidak mudah dipahami apalagi soal- soal yang berbentuk cerita membuat siswa terkadang bingung mengerjakan dan menyelesaikan masalah tersebut. Hal lain yang menjadi kesulitan bagi siswa dalam mengerjakan soal yaitu banyaknya rumus-rumus dalam matematika sehingga menjadi penghambat bagi siswa itu sendiri.

Meskipun dianggap sulit, tetapi ada beberapa solusi yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan hambatan yang dialaminya yaitu berusaha untuk memahami konsep atau materi, terus berlatih mengerjakan soal-soal matematika terutama soal matematika yang berbentuk cerita, bertanya apabila ada yang kurang dipahami serta tekun dalam mempelajari matematika. Setelah melihat media geogebra, minat belajar siswa pada pelajaran matematika menjadi meningkat karena fitur yang disediakan dalam media geogebra sangat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dialami pada pelajaran matematika terutama pada materi geometri, kalkulus dan aljabar.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai macam persepsi remaja mengatakan matematika merupakan pelajaran yang sulit dipahami karena bersifat abstrak yang terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, terbukti bahwa siswa atau remaja memiliki penyakit phobia terhadap pelajaran matematika. Persepsi yang seperti ini mengakibatkan minat belajar matematika siswa menjadi rendah. Penelitian ini meberikan salah satu solusi untuk mengurangi rasa takut remaja terhadap pelajaran

matematika dengan memanfaatkan teknologi sesuai era revolusi indutri 4.0 saat ini.

Geogebra merupakan hasil dari perkembangan teknologi yang memberikan manfaat bagi pembelajaran matematika.

Salah satunya adalah sebagai media untuk mempelajari geometri, kalkulus dan aljabar. Geometri merupakan salah satu bidang matematika yang mempelajari titik, garis, bidang dan ruang serta sifat-sifat, ukuran-ukuran, dan keterkaitannya satu dengan yang lain sehingga memudahkan penggunaan dalam menggambar dan menganalisis geometri dalam matematika pada aplikasi geogebra. Transformasi geometri dapat dilakukan melalui geogebra yang mencakup translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi. Melalui geogebra, peserta didik mendapatkan pengalaman visual yang lebih detail dan terperinci mengenai grafik fungsi sehingga dapat membuat analisa yang lebih dalam dan lebih mudah dalam memahami konsep-konsep pada matematika.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Aan Subhan Pamungkas, A. (2017). PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS LITERASI PADA MATERI BILANGAN BAGI MAHASISWA CALON GURU SD. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 3(2), 228–240.

Anggraenia, E. D., & Dewi, N. R. (2021). Kajian Teori:

Pengembangan Bahan Ajar Matematika Berbantuan GeoGebra untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Melalui Model Pembelajaran Preprospec Berbantuan TIK pada Materi Bangun Ruang Sisi Datar. PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika, 4, 179–188.

Firmansyah, M. A. (2017). ANALISIS HAMBATAN BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH STATISTIKA. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran Matematika, 10(2), 115–127.

Hasugian, H., Tampubolon, B., & Margiati., K. Y. (2013).

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Dengan Metode Discovery Learning Pada Anak Kelas Vi Sekolah Dasar Negeri 02 Sejaruk Param. Jurnal

Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 2(9), 1–32.

Hohenwarter, M., Hohenwarter, J., Kreis, Y., & Lavicza, Z. (2008). Teaching and Learning Calculus with Free Dynamic Ma- thematics Software

GeoGebra. 10.

Lestari, I. (2018). PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA DENGAN

MEMANFAATKAN GEOGEBRA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP.

GAUSS: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 01 No. 01 Mei 2018, 01(01), 26–36.

Majerek, D. (2014). APPLICATION OF GEOGEBRA FOR TEACHING MATHEMATICS. Advances in Science and Technology Research Journal, 8(24), 51–54.

https://doi.org/10.12913/22998624/567 Nur’aini, I. L., Harahap, E., Badruzzaman, F. H., &

Darmawan, D. (2017). Pembelajaran Matematika Geometri Secara Realistis Dengan GeoGebra.

Jurnal Matematika, 16(2), 1–6.

Nurfitriyanti, M. (2016). MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Acta Farmaceutica Bonaerense, 6(2), 149–160.

Nurjannah, Danial, & Fitriani. (2019). DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA SISWA SEKOLAH DASAR PADA MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT NEGATIF. Didaktika jurnal kependidikan, 13(1), 68–79.

Nursyifa, A. (2019). Transformasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6(1), 51–64.

http://dx.doi.org/10.32493/jpkn.v6i1.y2019.p51- 64

Prima M. (2014). Profil Kesulitan Siswa Dalam

Mehamami Materi Teorema Pythagoras Di Kelas VIII SMP Negeri 1 Salomekko. Dalam Doctoral Dissertation. Universitas Negeri Makassar.

(8)

Rufayda, I. (2013). PENGEMBANGAN PERMAINAN MONOPOLI SEBAGAI MEDIA

PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA MATERI HUBUNGAN ANTAR SATUAN SISWA KELAS III DI MI. ATTARAQQIE KOTA MALANG. 1–161.

Safuro, A. S., Yandari, I. A. V., & Alamsyah, T. P. (2020).

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PAPAN BILANGAN BULAT TERHADAP KEMAMPUAN BERHITUNG MATEMATIKA PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR.

8(1), 19–26.

Suryani, Y. E. (2010). Kesulitan belajar. 73, 33–47.

Referensi

Dokumen terkait

Uspešno opravljeno delo je ustrezno nagrajeno Neposredni vodje ocenjujejo količino in ne kvalitete dela Podjetje potrebuje korenite spremembe Obveščenost zaposlenih je dobra Odnosi

bergerak melewati medium, gelombang yang dihasilkan adalah penjumlahan masing-masing perpindahan dari tiap gelombang pada setiap titik.  Sebenarnya hanya berlaku

c. Manusia adalah he#an berakal budi d. Manusia tahu bah#a dia tidak tahu.. ristoteles menolak dualisme plato yang mempertentangkan &i#a dan tubuh> dan

Kepuasan pasien terhadap waktu tunggu pelayanan resep merupakan pengalaman yang akan mengendap di dalam ingatan pasien sehingga mempengaruhi proses

Vibrator adalah alat perojok atau alat penggetar pada saat pengecoran, yang Vibrator adalah alat perojok atau alat penggetar pada saat pengecoran, yang berfungsi

Voltage Converter agar nada yang dihasilkan oleh VCO terdengar linear di telinga manusia.. IC VCO CEM3340 banyak digunakan ada alat musik synthesizer ternama karena pada 1

Untuk itu pada penelitian kali ini akan mencoba membangun Portal sebagai wadah aplikasi Flash sehingga dapat menjadi Portal E-learning Interaktif.. Diharapkan dengan adanya

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahnya serta atas segala rahmat-Nya berupa ketekunan dan kemampuan serta