BAB 1
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara berkembang yang seharusnya banyak mencontoh dari negara lain.
Saat ini Indonesia fokus terhadap pembangunan yang dirasa dapat membantu mewujudkan Indonesia yang makmur. Banyak strategi pembangunan dibidang ekonomi yang dikerjakan oleh pemerintah agar ada peningkatan pertumbuhan ekonomi serta pemerataan ekonomi yang berkeadilan salah satunya dengan cara mengurangi jumlah penduduk miskin, namun kenyataannya masih ditemukan adanya diskrepansi antara ekspektasi dengan realita di lapangan yaitu kemiskinan (Soejoto dan Karisma, 2011).
Tingginya angka pengangguran ialah salah satu gambaran kurang berhasilnya pembangunan di negara karena terjadi ketidakseimbangan antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. Nugroho (2015)
Pengangguran ialah keadaan dimana seseorang yang ternasuk angkatan kerja ingin memperoleh pekerjaan namun belum memilikinya. dan orang yang belum bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan tidak tergolong sebagai pengangguran.(Sukirno 1994)
Pengangguran merupakan salah satu penyebab tingginya angka tindak kejahatan. Orang yang pengangguran berarti orang yang tidak mempunyai pendapatan, sementara kebutuhan atas kehidupannya harus terpenuhi. Maka dari itu orang menganggur bisa melakukan kejahatan seperti pencurian dan penipuan. (Sukirno 2012:332)
Pengangguran adalah masalah besar ekonomi yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung. Untuk banyak orang, kehilangan sebuah pekerjaan menjadi menurunkan standar hidupnya. Jadi itulah mengapa topik tentang pengangguran senang diangkat dalam perdebatan poltik oleh para politisi yang seringkali mengatakan bahwa kebijakan yang mereka buat akan membantu menciptakan lapangan pekerjaan (Mankiw,2000).
Tabel 1.1
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 – 2020
Wilayah Jawa Barat 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Provinsi Jawa Barat 9,16 8,45 8,72 8,89 8,22 8,23 8,04 10,46
Bogor 7,87 7,65 10,01 - 9,55 9,83 9,11 14,29
Sukabumi 10,38 8,09 10,05 - 7,66 7,84 8,05 9,60
Cianjur 14,18 14,87 10,06 - 10,10 10,23 9,81 11,05
Bandung 10,12 8,48 4,03 - 3,92 5,07 5,51 8,58
Garut 8,14 7,71 6,50 - 7,86 7,12 7,35 8,96
Tasikmalaya 6,40 6,93 8,51 - 6,61 6,92 6,31 7,12
Ciamis 5,85 4,92 6,99 - 5,17 4,64 5,16 5,66
Kuningan 8,22 6,88 7,49 - 7,94 9,10 9,68 11,22
Cirebon 14,88 13,32 10,51 - 9,61 10,64 10,35 11,52
Majalengka 7,35 4,47 4,01 - 5,02 5,00 4,37 5,84
Sumedang 6,41 7,51 9,00 - 7,15 7,54 7,70 9,89
Indramayu 9,63 8,01 8,51 - 8,64 8,46 8,35 9,21
Subang 7,34 6,74 10,04 - 8,74 8,71 8,68 9,48
Purwakarta 9,45 7,83 10,00 - 9,11 9,94 9,73 11,07
Karawang 9,80 11,10 11,51 - 9,55 9,12 9,68 11,52
Bekasi 7,17 6,79 10,03 - 10,97 9,74 9,00 11,54
Bandung Barat 9,54 8,15 10,01 - 9,33 8,55 8,24 12,25
Pangandaran - - 4,81 - 3,34 3,59 4,52 5,08
Kota Bogor 9,80 9,48 11,08 - 9,57 9,74 9,16 12,68
Kota Sukabumi 11,18 11,64 9,06 - 8,00 8,57 8,49 12,17 Kota Bandung 10,97 8,05 9,02 - 8,44 8,05 8,18 11,19 Kota Cirebon 9,02 11,02 11,28 - 9,29 9,07 9,04 10,97
Kota Bekasi 9,50 9,36 9,36 - 9,32 9,14 8,30 10,68
Kota Depok 7,69 8,44 7,48 - 7,00 6,66 6,12 9,87
Kota Cimahi 11,43 9,62 9,00 - 8,43 8,00 8,09 13,30
Kota Tasikmalaya 6,52 5,38 5,46 - 6,89 6,89 6,78 7,99
Kota Banjar 7,04 7,38 7,38 - 5,97 5,95 6,16 6,73
Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Barat\ sejak tahun 2013 sampai dengan 2020 selalu meningkat. Hal ini terlihat pada tingkat pengangguran pada tahun 2013 sebanyak 9,16%, kemudian turun pada tahun 2014 menjadi 8,45%, namun terlihat kelonjakan sangat tinggi pada tahun 2019 dari 8,04 %
di Provinsi Jawa Barat telah mengalami penurunan sejak tahun 2017, namun masih lebih tinggi dari angka nasional.
Angka pengangguran tinggi ialah pengaruh dari tingginya juga peningkatan jumlah angkatan kerja yang tidak disertai dengan peningkatan jumlah lapangan pekerjaan. Yang dimaksud dari Panjang3 kerja ialah jumlah dari tenaga kerja yang terdapat pada suatu perekonomian dalam waktu tertentu (Al Arif, 2010: 36).
Menurut BPS Angkatan Kerja ialah orang yang berusia 15-64 tahun yang bekerja dan tidak bekerja tetapi sedang atau siap untuk mencari pekerjaan. Jadi yang termasuk sebagai Panjang3 kerja ialah orang yang bekerja dan orang yang menganggur dan juga orang yang mencari pekerjaan.
Menurut Sukirno dalam Yogatama (2010:34), Pengangguran dengan kemiskinan sangat erat sekali hubungannya, jika orang yang sudah bekerja pasti orang tersebut memiliki pendapatan yang cukup atau kesejahterannya tinggi, namun di masyarakat juga ada yang belum memiliki pekerjaan atau menganggur, maka penganguran secara otomatis akan berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan.
Menurut Arsyad (1997), Pengaruh buruk dari pengangguran ialah mengurangi tingkat pendapatan pada masyarakat yang juga akan mempengaruhi tingkat kemakmuran yang dicapai seseorang. Semakin turunnya tingkat kesejahteraan masyarakat yang diakibatkan karena pengangguran, maka tentunya akan membuat tingginya angka tingkat kemiskinan. Apabila tingkat pengangguran disuatu negara sangat buruk, kekacauan politik dan Panjan selalu berlaku dan menimbulkan efek yang buruk bagi kepada kesejahteraan masyarakat dan prospek pembangun ekonomi dalam jangka Panjang.
Tabel 1.2
Jumlah Penduduk Miskin (Ribu Jiwa), 2013-2020 Provinsi Jawa Barat Wilayah Jawa Barat 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Bogor 499,1 479,1 487,1 490,8 487,3 415,0 395,0 465,7
Sukabumi 222,8 213,5 217,9 198,7 197,1 166,3 153,3 175,1
Cianjur 267,9 256,6 273,9 261,4 257,4 221,6 207,1 234,5
Bandung 271,7 266,8 281,0 272,7 268,0 246,1 223,2 263,6
Garut 320,9 315,6 325,7 298,5 291,2 241,3 235,2 262,8
Tasikmalaya 199,3 194,8 208,1 195,6 189,4 172,4 159,9 181,5
Ciamis 133,0 130,0 104,9 98,8 96,8 85,7 79,4 91,4
Kuningan 139,4 133,6 147,2 144,1 141,6 131,2 123,2 139,2
Cirebon 307,2 300,5 313,2 288,5 279,6 232,4 217,6 247,9
Majalengka 164,9 158,0 167,5 152,5 150,3 129,3 121,1 138,2 Sumedang 127,4 122,0 129,0 120,6 120,6 112,1 104,2 118,4 Indramayu 251,1 240,7 253,1 237,0 233,4 204,2 191,9 220,3
Subang 185,4 177,9 187,2 170,4 167,8 136,6 129,2 149,8
Purwakarta 83,6 80,3 83,9 83,6 85,3 75,9 71,9 80,2
Karawang 238,6 229,0 235,0 230,6 236,8 188,0 173,7 195,4
Bekasi 157,7 156,6 169,2 164,4 164,0 157,2 149,4 186,3
Bandung Barat 206,0 197,9 205,7 192,5 190,9 169,0 159,0 179,5
Pangandaran - - 42,0 40,1 39,5 32,2 30,7 36,1
Kota Bogor 83,3 80,1 79,2 77,3 76,5 64,9 64,0 75,0
Kota Sukabumi 25,2 24,1 27,8 27,5 27,4 23,2 21,9 25,4
Kota Bandung 117,7 115,0 114,1 107,6 104,0 89,4 84,7 100,0
Kota Cirebon 31,9 30,6 31,7 30,2 30,2 28,0 26,8 30,6
Kota Bekasi 137,8 139,7 146,9 140,0 136,0 119,8 113,7 134,0
Kota Depok 45,9 47,5 50,0 50,6 52,3 49,4 49,4 60,4
Kota Cimahi 32,3 31,8 34,1 35,1 34,5 29,9 26,9 31,6
Kota Tasikmalaya 112,2 104,5 106,8 102,8 97,9 84,2 77,0 86,1
Kota Banjar 12,8 12,7 13,4 12,7 12,9 10,4 10,1 11,2
Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, jumlah penduduk miskin di Jawa Barat sejak tahun 2013-2020 sempat mengalami penurunan dan kenaikan yang tidak stabil.
Seperti dapat dilihat pada tahun 2019 ada pada angka 3.399 ribu jiwa naik di 2020 menjadi 3.920 ribu jiwa, meskipun di tahun tahun sebelumnya mengalami penurunan.
Secara umum, banyak teori-teori yang mengatakan bahwa pembangunan ekonomi akan mencapai hasil yang optimal jika peningkatan pendapatan nasional disertai dengan pemerataan pendapatan bagi seluruh kelompok masyarakat (Tambunan dalam Dian Octaviani, 2001).
terhadap kondisi sosial manusia. Permasalahan dan tantangan pembangunan daerah pada lima tahun ke depan masih berputar pada masalah-masalah sosial yang mendasar, yaitu tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.
Tabel 1.3
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas Dasar Harga Konstan (Milyar Rupiah) dan Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 – 2020
No. Tahun PDRB atas dasar harga
konstan (Milyar Rupiah)
1 2013 1 093 543,55
2 2014 -
3 2015 1 206 891,27
4 2016 1 277 312,17
5 2017 1 350 879,84
6 2018 1 430 710,19
7 2019 1 504 776,35
8 2020 1 472 826,14
Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat memberikan gambaran dari kinerja ekonomi dari tahun ke tahun, sehingga terlihat bahwa perekonomian akan lebih jelas. Produk domestic regional bruto atas dasar harga konstan Jawa Barat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dari waktu ke waktu.
Angka pertumbuhan angkatan kerja yang tidak diimbangi dengan adanya lapangan pekerjaan membuat lapangan pekerjaan yang ada menjadi sangat minim dan mengakibatkan lebih banyak pengangguran (Anggoro dan Soesatyo 2015:2).
Berdasarkan paparan latar belakang tersebut, maka pengaruh pengangguran, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan kesempatan kerja terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 - 2020.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka yang akan menjadi rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah pengangguran berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 - 2020?
2. Apakah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013 - 2020?
3. Apakah kesempatan kerja berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Barat Tahun 2013 - 2020?
1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus dan menghindari pembahasan menjadi terlalu luas, maka batasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Data yang diambil untuk penelitian hanya dari BPS Provinsi Jawa Barat . 2. Angka kemiskinan dilihat berdasarkan data statistik.
3. Data yang diambil untuk penelitian ialah dari tahun 2013-2020.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang serta rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Barat tahun 2013 -2020.
2. Untuk mengetahui pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Barat tahun 2013 -2020.
3. Untuk mengetahui pengaruh kesempatan kerja terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Barat tahun 2013 -2020.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharap dapat memberikan manfaat diantaranya:
1. Memberikan suatu pemikiran pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat dalam mengambil keputusan untuk mengatasi angka pengangguran yang ada di Provinsi Jawa Barat demi mendorong produktivitas sumber daya manusia di Jawa Barat yang lebih baik lagi.
2. Sebagai bahan referensi untuk penelitian lain dengan tema yang sejenis dan sebagai tambahan pengetahuan yang berkaitan dengan pengangguran di Jawa Barat.