46
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Umum
1. Karakteristik Wilayah
Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu kabupaten yang terletak pada wilayah timur Provinsi Jawa Tengah. Letak astronomisnya antara 110o 40” – 110o 70’ Bujur Timur dan 7o 28” – 7o 46” Lintang Selatan. Batas-batas wilayah Kabupaten Karanganyar sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Sragen
Sebelah Timur : Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan)
Sebelah Selatan : Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Sukoharjo Sebelah Barat : Kota Surakarta dan Kabupaten Boyolali
Berdasarkan data dari enam stasiun pengukur yang ada di Kabupaten Karanganyar, rata-rata curah hujan selama tahun 2018 tercatat 8.390 mm selama 93 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari dan terendah terjadi pada bulan Juli dan Agustus. Pada ketinggian rata-rata 511 m di atas permukaan laut, Kabupaten Karanganyar memiliki luas wilayah 77.378,64 Ha atau 2,38% dari total luas wilayah Provinsi Jawa Tengah.
2. Keadaan Penduduk
Aspek Kependudukan merupakan masalah penting dalam perencanaan pembangunan, baik yang bersifat pembangunan sektoral, lintas sektoral maupun regional. Tahun 2018 jumlah penduduk di Kabupaten Karanganyar tercatat sebesar 877.205 jiwa, dengan luas wilayah 773,78 km2, kepadatan penduduknya mencapai 1.134 jiwa/km2. Hal ini menunjukkan bahwa setiap 1 km2 dihuni oleh 1.134 jiwa.
Jika dilihat komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki pada tahun 2018 berjumlah 433.672 jiwa, sedangkan penduduk perempuan berjumlah 443.533 jiwa. Rasio jenis kelamin (sex ratio) menunjukkan angka 97,78 persen yang berarti diantara 100 orang commit to user
penduduk perempuan terdapat 98 orang laki-laki. Jadi, jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada laki-laki.
Komposisi penduduk menurut usia produktif atau tidak produktif di Kabupaten Karanganyar didapatkan angka ketergantungan sebesar 31,91%. Artinya, setiap 100 orang usia produktif (usia 15 – 64 tahun) harus menanggung 32 orang tidak produktif (usia dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun). Secara persentase, usia 15 – 64 tahun mencapai 68,10%
sedangkan usia tidak produktif 0 – 14 tahun dan diatas 65 tahun masing- masing sebesar 22,79% dan 9,11%. Hasil besaran persentase, dapat dilihat bahwa penduduk di Kabupaten Karanganyar lebih banyak pada usia produktif.
Penduduk yang berprofesi sebagai petani, mayoritas tergabung ke dalam kelompok tani. Terdapat 26 kelompok tani dengan total 627 orang yang berprofesi sebagai petani kopi. Petani-petani tersebut tersebar ke beberapa kecamatan di Kabupaten Karanganyar, seperti Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Jenawi, Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Mojogedang, dan Kecamatan Jatiyoso. Masih terdapat petani kopi yang tidak tergabung dalam kelompok tani dan tidak tercatat dalam data kelompok tani kopi, petani tersebut mengelola lahannya sendri tanpa bantuan kelompok tani. Secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 9.
commit to user
Tabel 9. Data Jumlah Petani Kopi di Kabupaten Karanganyar
No Kelompok Tani Alamat
Jumlah Petani (Orang) 1 Lestari Makmur Tapan-Sepanjang-
Tawangmangu 23
2 Margo Mulyo 05 Sendang-Sepanjang-
Tawangmangu 65
3 Guyub Rukun Ngledoksari-Tawangmangu 62
4 Mulya Sejahtera Nglurag-Tawangmangu 28
5 Lawu Agung Blumbang-Tawangmangu 11
6 Marsudi Tani Gondosuli-Tawangmangu 64
7 Wonotirto Babar-Anggrasmanis-Jenawi 30
8 Rejeki Barokah Sanggrahan-Anggrasmanis-
Jenawi 23
9 Bumi Aji III Anggrasmanis-Jenawi 35
10 Bina Usaha Berjo-Jenawi 33
11 Ngudi Makmur IIIA Jenawi-Jenawi 20
12 Kismo Mulyo I Trengguli-Jenawi 30
13 Madusari III Kemuning-Ngargoyoso 25
14 Sri Rejeki Sewurejo-Mojogedang 1
15 Wonosari Tani VI Gondang-Wonorejo-Jatiyoso 56
16 Wonosari Tani VII Wonorejo-Jatiyoso 10
17 Wonosari Tani VIII Wonorejo-Jatiyoso 10
18 Wonosari Tani IX Pitran-Wonorejo-Jatiyoso 10
19 Wonosari Tani X Wonorejo-Jatiyoso 15
20 Wonosari Tani XI Puntuksari-Wonorejo-
Jatiyoso 10
21 Wonosari Tani XIII Wonorejo-Jatiyoso 16
22 Ngudi Mulyo II Jatiyoso-Jatiyoso 10
23 Ngudi Mulyo III Jatiyoso-Jatiyoso 10
24 Setyo Ngudi Makmur IV Wonokeling-Jatiyoso 10 25 Setyo Ngudi Makmur VII Wonokeling-Jatiyoso 10 26 Setyo Ngudi Makmur VIII Wonokeling-Jatiyoso 10 Sumber: Dinas Pertanian dan Pangan, Bidang Perkebunan Kab.
Karanganyar, 2020
commit to user
B. Hasil dan Pembahasan
1. Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal a. Analisis Lingkungan Internal
Lingkungan internal merupakan segala macam variabel yang terdapat di dalam lingkungan Kabupaten Karanganyar, dimana variabel tersebut masih dapat dikendalikan. Hasil dari analisis lingkungan internal akan menghasilkan kekuatan dan kelemahan yang terdapat dalam agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar.
Faktor-faktor internal yang akan dianalisis antara lain:
1) Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia (SDM) adalah individu atau kelompok yang bekerja dalam lingkup agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar dan dapat mempengaruhi maju atau tidaknya pengembangan kopi. SDM yang dimaksud adalah petani kopi, ahli kopi, pedagang kopi, dan kedai kopi. Setiap SDM tersebut memiliki peranannya masing-masing, petani berperan dalam proses budidaya, ahli kopi berperan dalam membantu petani pada budidaya tanaman serta melakukan panen dan proses pasca panen, pedagang kopi yang membantu menjual ke kedai-kedai kopi ataupun langsung ke konsumen, kedai kopi berperan dalam pengolahan kopi sangrai menjadi kopi bubuk untuk dinikmati tiap konsumen. Beberapa hal yang membuat SDM tersebut berperan penting dalam agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Pertama dengan pengalaman yang dimilikinya, yakni pengalaman dalam budidaya, hingga ke tahap penjualan. Pengalaman ini didapat dari hasil jerih payah mereka terhadap upaya pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar selama bertahun-tahun. Kedua ilmu serta manajemen yang baik dalam pengembangan kopi, yakni memperhatikan setiap tindakan untuk menjaga dan
commit to user
meningkatkan mutu serta kualitas kopi, dan bisa menyelesaikan masalah apabila ada kendala dalam penanganan agribisnis kopi.
Petani kopi di Karanganyar sudah berpengalaman dalam budidaya tanaman, termasuk tanaman kopi. Tanaman kopi termasuk kedalam tanaman yang cukup mudah untuk dibudidayakan karena tidak membutuhkan perawatan yang begitu sulit. Berdasarkan Tabel 9, saat ini jumlah petani kopi di Kabupaten Karanganyar ada 627 orang, belum termasuk petani individu yang tidak tergabung ke dalam kelompok tani. Salah satu hal yang masih menjadi kendala bagi petani adalah lemahnya pengelolaan pasca panen bagi mereka. Petani selalu ingin mendapat keuntungan dari hasil panennya, tanpa melakukan serangkaian proses panen dan pasca panen yang baik dan benar, seperti langsung menjual dalam bentuk cherry, bahkan tanpa melakukan sortasi dan grading. Padahal, harga jual kopi di tiap tingkatan yakni cheery, greenbean dan bubuk itu berbeda-beda.
Sosok petani kopi yang sudah berpengalaman adalah Mbah Sukiman. Mbah Sukiman tidak bergabung dengan kelompok tani kopi dengan alasan beliau sudah nyaman dan mampu dalam melakukan budidaya seorang diri. Beliau menjadi salah satu dari beberapa petani kopi di Kabupaten Karanganyar yang memiliki alat pengolahan pasca panen (pulper dan huler), serta mengerti tahap-tahap dalam penanganan pasca panen kopi.
Bertahun-tahun beliau sudah melakukan budidaya kopi, sehingga ilmu dan pengetahuan terkait kopi cukup luas.
Kopi di Kabupaten Karanganyar sudah lama tumbuh, namun tidak berkembang dan hasilnya pun kurang baik. Tahun 2013, Dofi Meihantara dan Harry Saputro, seorang ahli kopi memberikan penyuluhan terkait edukasi dan arahan dalam budidaya hingga pasca panen kopi kepada petani. Edukasi dan commit to user
arahan dimulai dari pemilihan benih saat penanaman, penyesuaian terhadap ketinggian tempat, perawatan tanaman, penanganan saat panen dan penanganan pasca panen semua dilakukan. Mulai saat itu, petani kopi dapat mengerti penanganan budidaya hingga pasca panen kopi yang menyebabkan kualitas dari cita rasa kopi ikut berkembang baik.
2) Produksi
Perawatan tanaman kopi tergolong cukup mudah.
Tanaman kopi tidak membutuhkan banyak air terutama ketika sudah memasuki usia tanaman produktif (> 3 tahun), sehingga sistem pengairan dapat dibuat dengan mudah dan tidak menjadi kendala yang berarti. Pemberian pupuk dilakukan setahun dua kali, yakni pada bulan Maret dan Desember. Jenis pupuk yang digunakan ada NPK Kopi dan pupuk kandang. Pemangkasan juga wajib dilakukan terhadap tanaman kopi. Menurut Tim Karya Tani Mandiri (2018), pemangkasan terdiri dari tiga jenis yaitu pemangkasan bentuk, produksi dan peremajaan.
Tujuannya antara lain untuk menyesuaikan ketinggian pohon agar mudah dirawat petani, memotong cabang-cabang yang tidak produktif, dan memperoleh batang muda yang akan menjadi tempat tumbuh batang leteral yang baru. Jenis kopi robusta dapat ditanam di dataran rendah (<1.000 mdpl) sampai dataran tinggi, sejauh ini hanya Kecamatan Mojogedang, Kemuning dan Jatiyoso yang menjadi areal penanaman kopi robusta. Jenis kopi arabika hanya dapat ditanam di dataran tinggi (> 1.000 mdpl), dan sudah ditanam di Kecamatan Jenawi, Ngargoyoso, Jatiyoso dan Tawangmangu. Perbedaan ketinggian akan mempengaruhi cita rasa yang dihasilkan oleh kopi, meskipun menggunakan benih dan jenis yang sama, karakteristik yang keluar akan berbeda hasilnya. Tiap level ketinggian akan memiliki kondisi cuaca yang berbeda, jenis commit to user
tanahnya pun bisa berbeda. Penanaman benih kopi harus memperhatikan ketinggian, dan kondisi areal lahan sebelum menjadi perkebunan kopi.
Tanaman kopi umumnya mulai menghasilkan buah saat sudah berusia 3 tahun. Usia 3 tahun tersebut merupakan usia dimana tanaman tersebut sudah memasuki usia produktif untuk menghasilkan buah, walaupun ada beberapa tanaman kopi yang masih dibawah usia 3 tahun tetapi sudah menghasilkan buah.
Tanaman kopi hanya dapat berbuah 1 kali tiap tahunnya, umumnya masa panen kopi berada di bulan Juli sampai September.
Hasil budidaya serta penanganan panen dan pasca panen yang baik membuat Kopi Karangnyar memiliki cita rasa khas yang unik. Rasa manis yang tipis, tingkat keasaman yang tipis- kuat, serta aroma fruit keluar dalam cita rasa jenis kopi arabika.
Kopi robusta Karanganyar hampir sama seperti kopi robusta pada umumnya, memiliki cita rasa yang sama seperti daerah- daerah penghasil kopi lainnya, sehingga banyak konsumen yang lebih menyukai arabika Karanganyar. Tahun 2018, Karanganyar mengikuti perlombaan kopi arabika se-Jawa Tengah dan berhasil mendapatkan juara harapan II. Tahun 2019, Karanganyar mengikuti perlombaan yang sama dan mendapatkan juara 3. Mendapatkan juara harapan II dan juara 3 membuat petani kopi makin percaya diri dan semangat dalam melakukan budidaya kopi. Modal ini cukup baik untuk meyakinkan setiap stakeholder agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar agar dapat mengembangkan agribisnis kopi. Tiap tahunnya ahli kopi beserta petani selalu memperbaiki penanganan dan mengevaluasi kinerja untuk meningkatkan kualitas kopi hingga bisa mendapat juara di perlombaan dan yang terpenting bisa dinikmati dan dicintai konsumen. commit to user
Pembentukan cita rasa sebuah kopi sangat ditentukan dari proses pasca panen yang dilakukan. Proses pasca panen kopi di Karanganyar terbagi menjadi empat jenis pengolahan, yakni proses natural, honey, full washed dan semi washed. Keempat proses tersebut dapat menghasilkan rasa yang berbeda-beda.
Mengutip dari (Gustomo, 2020) berikut ini perbedaan proses pengolahan pasca panen pada kopi.
Proses full washed diawali dari sortasi buah kopi yang telah dipanen dengan cara memasukkan ke dalam air, buah yang tenggelam akan dipilih dan yang mengapung dipisahkan (buah cacat). Langkah selanjutnya adalah pengupasan kulit dan daging buah (pulping) menggunakan mesin pulper. Buah dimasukkan ke dalam bak penampung yang sudah diisi air, setelah itu kopi- kopi dibersihkan dan direndam. Perendaman dilakukan selama 12 – 36 jam, dengan suhu ruangan berkisar 30 – 330C. Tahap selanjutnya adalah pengeringan, kopi umumnya dijemur diatas para-para. Terdapat sisa kulit tanduk pada biji kopi, untuk melepaskannya biji kopi dimasukkan kedalam mesin huller. Biji kopi dipilih berdasarkan bentuk dan ukurannya atau disebut juga grading size, setelah itu biji kopi dapat dikemas dan disimpan.
Proses semi washed hampir mirip dengan proses full washed, namun air yang digunakan tidak terlalu banyak.
Langkah pertama, cherry dikupas menggunakan mesin pulper, setelah itu langsung direndam selama 1 – 2 jam. Biji kopi yang telah direndam, harus dikeringkan dengan cara dijemur. Biji kopi yang telah dijemur akan terlihat kulit tanduknya, kemudian dapat dikupas menggunakan mesin huller. Biji yang sudah terlepas dari kulit tanduknya dijemur. Proses penjemuran ini sama dengan proses full washed agar kadar air di dalam kopi mencapai 10 – 12%. Biji dapat dikemas dan disimpan setelah melewati tahap grading size. commit to user
Proses kering atau natural merupakan metode pengolahan kopi yang paling sederhana. Cherry yang telah dipanen harus di sortasi terlebih dahulu, kemudian langsung dijemur dengan kulitnya menggunakan para-para. Penjemuran dilakukan selama 5 – 6 minggu. Biji kopi harus dibalik secara berkala agar proses penjemuran ini bisa merata ke semua sisi. Proses penjemuran sangat bergantung pada cuaca, apabila cuaca berubah-ubah, maka dapat memperlambat pengeringan kopi. Biji yang sudah kering dikupas, dipilih menyesuaikan bentuk dan ukuran, dan dapat dikemas serta disimpan.
Proses honey sering disebut juga pulped natural. Langkah awal, cherry yang telah di sortasi dikupas dengan menggunakan sedikit air (lebih sedikit dibandingkan full washed) namun tetap menyisakan lapisan lendir, kemudian baru dikeringkan dengan cara dijemur. Lapisan lendir ini mengandung kandungan gula serta acidity yang menyerupai madu sehingga proses ini dinamakan honey. Perbedaan jumlah lendir dibagi menjadi tiga jenis, yakni yellow (25% lapisan lendir), red (50% lapisan lendir) dan black honey (100% lapisan lendir).
commit to user
Tabel 10. Data Hasil Panen Tanaman Kopi di Kabupaten Karanganyar
No. Kelompok Tani
Produksi (Kg)
Keterangan Buah
Basah
Biji Kering
1 Lestari Makmur 0 0 Arabika
2 Margo Mulyo 05 678 115,26 Arabika
3 Guyub Rukun 1.000 170 Arabika
4 Mulya Sejahtera 200 34 Arabika
5 Lawu Agung 34.521 5.868,57 Arabika
6 Marsudi Tani 100 17 Arabika
7 Wonotirto 0 0 Arabika
8 Rejeki Barokah 3.500 595 Arabika
9 Bumi Aji III 0 0 Arabika
10 Bina Usaha 400 68 Arabika
11 Ngudi Makmur IIIA 0 0 Arabika
12 Kismo Mulyo I 0 0 Arabika
13 Madusari III 1.200 204 Arabika
14 Sri Rejeki 2.800 476 Robusta
15 Wonosari Tani VI 960 163,2 Arabika
16 Wonosari Tani VII 200 34 Arabika
17 Wonosari Tani VIII 100 17 Arabika
18 Wonosari Tani IX 180 30,6 Arabika
19 Wonosari Tani X 1.700 289 Arabika
20 Wonosari Tani XI 300 51 Arabika
21 Wonosari Tani XIII 578 98,26 Arabika
22 Ngudi Mulyo II 350 59,5 Arabika
23 Ngudi Mulyo III 250 42,5 Arabika
24 Setyo Ngudi Makmur IV 30 5,1 Arabika
25 Setyo Ngudi Makmur VII 90 15,3 Robusta
26 Setyo Ngudi Makmur VIII 200 34 Arabika
Jumlah 49.337 8.387,29
Sumber: Dinas Pertanian dan Pangan, Bidang Perkebunan Kab.
Karanganyar, 2020.
Komoditas Kopi di Kabupaten Karanganyar belum menjadi komoditas unggulan di sektor perkebunan. Luas areal tanaman kopi pun masih kecil dan juga hasil panen masih sedikit apabila dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Jawa Tengah. Berdasarkan Tabel 10, per-Februari 2020 commit to user
jumlah panen buah basah (cherry) mencapai 49.337 Kg, sedangkan jumlah panen biji kering (greenbean) mencapai 8.387,29 Kg. Jumlah tersebut belum termasuk hasil panen petani individu (tidak termasuk kelompok tani) yang menanam di kebun pribadi. Mayoritas petani kopi di Kabupaten Karanganyar menanam kopi arabika karena lebih digemari oleh konsumen dan memiliki harga jual yang lebih tinggi daripada kopi robusta.
3) Pemasaran
Pemasaran dilakukan untuk mendistribusikan Kopi Karanganyar kepada konsumen, menentukan harga jual dan mengenalkan Kopi Karanganyar kepada masyarakat luas.
Pemasaran yang dilakukan terhadap Kopi Karanganyar masih kurang gencar, banyak masyarakat bahkan di daerah Karanganyar dan sekitar belum mengenal Kopi Karanganyar.
Pemasaran paling efektif sejauh ini hanya dari kedai-kedai kopi.
Lewat kedai kopi, konsumen dapat memesan kopi dan mengenal karakteristik dari Kopi Karanganyar. Akan tetapi, tidak semua kedai kopi di daerah Karanganyar dan sekitar memakai produk dari Kopi Karanganyar.
Saat ini, Kopi Karanganyar mayoritas dijual ke kedai kopi di daerah Karanganyar dan sekitarnya, ada juga yang dijual ke Jakarta, Yogyakarta, dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah namun dengan jumlah yang sedikit. Produksi Kopi Karanganyar tiap tahunnya belum mencukupi untuk dijual sampai ke seluruh kota di Indonesia. Harga kopi arabika Karanganyar berkisar antara Rp100.000,00 sampai Rp150.000,00 per kilogram.
Sedangkan harga kopi robusta Karanganyar berkisar antara Rp25.000,00 sampai Rp35.000,00 per kilogram.
Perbedaan harga antara kopi arabika dan kopi robusta ini disebabkan karena beberapa hal, yakni dari faktor proses budidaya hingga pasca panen yang berbeda, perawatan yang commit to user
dilakukan berbeda, kopi arabika lebih rentan terkena penyakit daripada kopi robusta, untuk itu perlu perawatan yang lebih baik. Jumlah tenaga kerja yang digunakan, biaya usahatani pun jadi pertimbangan terkait harga jual kopi. Faktor lain yang memicu perbedaan harga, yakni dari pihak pedagang ataupun kedai kopi yang memiliki patokan harga terkait standar dan kualitas masing-masing biji kopi.
4) Keuangan
Faktor keuangan dianalisis untuk melihat bagaimana kemampuan petani dalam menjalankan budidaya kopi, hingga panen dan pasca panen. Dalam faktor keuangan juga melihat dari manakah sumber modal petani berasal, terutama untuk menjalankan usahataninya. Serta melihat berapa keuntungan yang diperoleh petani dalam hasil budidayanya.
Petani umumnya menggunakan dana pribadi dalam hal budidaya kopi. Pola pemikiran petani pun masih sederhana, yakni ingin segera mendapatkan uang atau keuntungan. Alhasil banyak petani yang ingin hasil panennya dijual langsung, tanpa adanya proses pasca panen yang baik. Hal ini menjadikan nilai jual kopi di petani rendah, karena petani jarang melakukan sortasi dan menjual langsung hasilnya setelah di panen.
Petani seringkali mendapatkan kesulitan selama proses budidaya kopi hingga panen dan pasca panen. Petani harus berpikir lebih apakah uang yang mereka miliki cukup untuk perawatan dalam budidaya kopi, mengingat kebutuhan keluarganya pun cukup banyak. Bantuan terkait pupuk, dan bibit sebenarnya dapat mereka dapatkan dari Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pertanian dan Pangan, Bidang Perkebunan Kabupaten Karanganyar. Akan tetapi, pihak dinas hanya memberi bantuan kepada petani kopi yang sudah tergabung dalam kelompok tani kopi. Petani yang bergerak secara individu commit to user
atau tidak tergabung dalam kelompok tani, mencari modalnya sendiri, karena tidak bisa mendapat bantuan dari dinas.
b. Analisis Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal merupakan segala macam variabel yang berada di luar lingkup Kabupaten Karanganyar yang dapat mempengaruhi pilihan arah serta tindakan terhadap agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Hasil dari analisis lingkungan eksternal akan menghasilkan peluang dan ancaman pada agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Faktor-faktor eksternal yang akan dianalisis antara lain:
1) Keadaan alam
Keadaan alam sangat mempengaruhi dalam budidaya kopi di Karanganyar. Faktor keadaan alam meliputi cuaca, suhu, kelembaban udara, intensitas sinar matahari, jenis tanah, curah hujan. Kabupaten Karanganyar memiliki rata-rata ketinggian wilayah yaitu 511 mdpl, dengan Kecamatan Tawangmangu sebagai titik tertinggi yakni 2.000 mdpl. Kopi robusta dapat tumbuh optimal pada ketinggian 300 – 900 mdpl sedangkan kopi arabika dapat tumbuh optimal diatas 1.000 mdpl. Kebun kopi di Jenawi berada di ketinggian 1200 mdpl, memiliki pH tanah 8,0 sehingga kopi arabika dapat tumbuh ideal disana.
Kabupaten Karanganyar memiliki beberapa daerah yang potensial untuk areal tanaman kopi, seperti Kecamatan Tawangmangu, Jenawi, Jatiyoso, dan Ngargoyoso.
Setiap tanaman memiliki ancaman dari hama maupun penyakit, termasuk tanaman kopi. Hama yang menyerang tanaman kopi biasanya semut ataupun uret. Semut hitam dapat membuat sarang pada tanaman apabila terlalu rimbun. Jenis semut lainnya, yakni semut gading yang menyerang akar tanaman kopi, namun umumnya terjadi saat tanaman masih muda atau belum memasuki usia produktif. Penyakit yang commit to user
menyerang tanaman kopi seperti bercak daun. Salah satu cara untuk mengatasi hama dan penyakit tersebut adalah melakukan pemangkasan secara berkala. Pemangkasan dapat dilakukan umumnya satu bulan sekali, tergantung dengan kondisi tanaman kopi, dan dapat dilakukan suatu waktu untuk mengurangi dampak dari tanaman yang terlalu rimbun.
Keadaan cuaca juga turut mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya tanaman kopi. Kebutuhan tanaman terhadap sinar matahari dan air sangat wajib tersedia di areal kebun.
Apabila cuaca sering berubah seperti hujan yang tidak merata dapat menyebabkan beberapa tanaman kekuarangan air, sama halnya dengan cahaya matahari. Proses pasca panen sama halnya dengan budidaya, membutuhkan sinar matahari pada proses penjemuran biji kopi.
Lahan kebun kopi di Kabupaten Karanganyar masih terbatas, dan umumnya berada di dataran tinggi. Daerah dataran tinggi di Kabupaten Karanganyar seperti Kecamatan Tawangmangu dan Ngargoyoso dikenal juga sebagai daerah yang memiliki obyek wisata. Banyak investor yang melihat potensi tersebut dan membuat mereka tertarik untuk membangun resort, kafe, restoran ataupun warung-warung kecil lainnya. Hal ini dapat menjadi salah satu ancaman bagi lahan- lahan pertanian yang ada di daerah tersebut. Melihat daerah Tawangmangu dan Ngargoyoso, di pinggir jalan hingga masuk ke pemukiman banyak dijumpai tempat-tempat penginapan, serta tempat-tempat makan. Lahan-lahan yang sebelumnya untuk areal pertanian diubah menjadi tempat-tempat penginapan ataupun tempat makan. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin lahan kebun kopi akan berubah fungsi menjadi tempat- tempat tersebut.
commit to user
2) Konsumen
Konsumen yang mengenal Kopi Karanganyar awalnya hanya masyarakat di Kabupaten Karanganyar dan sekitarnya saja. Sejak kedai kopi bertambah banyak, konsumen yang mengenal Kopi Karanganyar juga bertambah banyak. Konsumen bisa mendapatkan Kopi Karanganyar dengan membeli langsung ke petani, ke pedagang ataupun lewat kedai kopi di sekitar Kabupaten Karanganyar. Tiap kedai kopi dapat meracik sendiri kopinya yang mereka sesuaikan dengan standar dan kualitas tinggi. Banyak upaya yang sudah dilakukan kedai-kedai kopi di Kabupaten Karanganyar untuk menarik minat konsumen, seperti contohnya promo. Promo yang ditawarkan pun unik-unik, ada yang menawarkan gratis di hari tertentu, ada yang menawarkan potongan harga, dan sebagainya. Melihat dari sudut pandang kedai-kedai kopi, mayoritas konsumen yang mencicipi Kopi Karanganyar lebih menyukai kopi jenis arabikanya.
Provinsi Jawa Tengah biasanya melakukan perlombaan kopi antar kabupaten atau kota. Tahun 2020 tidak diadakan karena adanya pandemi. Event perlombaan ini dapat menjadi acuan bagi tiap daerah untuk mengenalkan dan meningkatkan kualitas kopinya masing-masing. Setelah mengikuti event perlombaan tahun 2018 dan 2019, nama Kopi Karanganyar langsung terkenal di kalangan konsumen pecinta kopi. Banyak yang penasaran terkait karakteristik dan cita rasa yang dimiliki oleh Kopi Karanganyar. Apabila event ini diadakan lagi di tahun berikutnya, maka bisa menjadi ajang untuk meningkatkan kualitas dari Kopi Karanganyar dan mengenalkan ke masyarakat yang belum pernah mencicipinya.
3) Pesaing
Kopi Karanganyar dalam produksinya masih lemah dari segi kuantitas, namun dari segi kualitas, Kopi Karanganyar commit to user
memiliki kualitas yang baik, terutama dari konsistensi cita rasanya yang menjaga tingkat keasaman, kemanisan, serta aroma. Kualitas Kopi Karanganyar juga dapat dilihat secara fisik dari bijinya, ukuran biji disamakan, berbentuk oval untuk arabika dan bulat untuk robusta tanpa adanya kecacatan pada fisik biji kopi. Biji kopi tersebut dipilih berdasarkan sortasi dan grading size yang telah dilakukan. Persaingan untuk menentukan kopi terbaik dari tiap daerah sebenarnya tidak bisa menjadi patokan. Karena tiap daerah memiliki cita rasa kopi yang khas, dan selera konsumen pun pasti berbeda-beda dalam menikmati minuman kopi. Masing-masing kedai kopi pun, sebagian besar tidak merasakan adanya persaingan antar kedai kopi, karena mereka sudah mengerti terkait kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Konsumen biasanya akan memilih kedai yang menawarkan kopi nikmat sesuai keinginan mereka dan juga tempat yang nyaman untuk meminumnya.
Perkembangan kopi-kopi dari daerah lain pun juga pasti mengalami peningkatan. Seperti Kabupaten Temanggung yang sudah menjadikan kopi sebagai salah satu komoditas primadona mereka. Bahkan ketika ada perlombaan kopi se-Jawa Tengah, Kabupaten Temanggung bisa menjadi juara nomor satu ataupun dua. Hal-hal positif dari perkembangan agribisnis kopi di Temanggung dapat dipelajari dan diambil oleh Kabupaten Karanganyar, terkait luas lahannya, pengelolaan saat budidaya, panen hingga pasca panen dan juga dari segi pemasarannya yang menjadi salah satu kelemahan Kabupaten Karanganyar saat ini.
4) Teknologi informasi
Teknologi informasi semakin berkembang tiap tahunnya, dan turut mempengaruhi dalam agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Teknologi informasi membantu para ahli kopi, petani dalam melakukan budidaya hingga ke pasca panen. commit to user
Proses pasca panen kopi membutuhkan alat seperti pulper dan huler untuk memudahkan kerja petani. Pulper digunakan untuk mengupas kulit basah kopi, sedangkan huler digunakan untuk mengupas kulit kering. Kedai-kedai kopi juga terbantu terutama dalam hal pemasaran. Berbagai unggahan di sosial media turut mengenalkan dan memberi informasi tentang Kopi Karanganyar. Lewat kedai-kedai kopi inilah masyarakat umum mengenal Kopi Karanganyar.
Sosial media memudahkan pihak kedai kopi dalam memberikan informasi kepada konsumen. Media sosial yang paling populer digunakan saat ini adalah Instagram. Pembuatan konten-konten terkait kopi yang mereka gunakan, metode dan alat yang digunakan untuk menyeduh secangkir kopi, dapat menambah ketertarikan dan keyakinan konsumen untuk datang ke kedai-kedai kopi. Hal lain yang menjadi daya tarik untuk konsumen adalah adanya promo yang diberikan oleh tiap kedai kopi. Promo memudahkan konsumen untuk dapat menikmati kopi dengan harga yang minim, seperti promo potongan harga, promo bebas pilih di hari tertentu, hingga promo buy one get one umumnya digunakan oleh pihak kedai-kedai kopi.
5) Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Karanganyar melalui Dinas Pertanian dan Pangan, Bidang Perkebunan memiliki peranan penting dalam membantu mengembangkan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Pihak dinas kerap kali memberi bantuan kepada petani berupa pupuk dan bibit, bantuan berasal dari Provinsi Jawa Tengah, ataupun dari alokasi dana pihak dinas. Terkadang dinas juga melakukan kontrol terkait hasil panen yang diperoleh serta melakukan pencatatan data. Salah satu target dinas yang belum tercapai yaitu membuat Kampung Kopi. Kampung Kopi merupakan area atau wilayah yang telah commit to user
didesain khusus untuk menjadi tempat rekreasi sekaligus wisata bagi masyarakat yang ingin belajar kopi dan menikmati keindahan alam areal perkebunan kopi. Hadirnya Kampung Kopi dapat meningkatkan pendapatan untuk petani kopi dan masyarakat sekitar dalam pengembangan ekonomi. Kampung kopi ini diharapkan bisa menjadi sentra percontohan Kopi Karanganyar, sekaligus obyek wisata.
Petani kopi memiliki pandangan yang berbeda terkait dinas (pemerintah). Peran dari dinas belum terlihat menonjol, karena tidak ada kelanjutan atau mengontrol keberjalanan budidaya kopi. Bantuan yang diberikan masih kurang tepat sasaran. Beberapa petani yang memiliki lahan lebih luas dari petani lainnya, tetapi mendapatkan bantuan pupuk yang sedikit.
Petani kopi yang bergerak secara individu tidak bisa menerima bantuan dari dinas, dan seringkali membuat sulit petani tersebut untuk mencari modal. Bantuan lain yang diberikan, yakni alat pengolahan pasca panen yang diberikan kepada kelompok tani, namun pihak dinas tidak menjelaskan secara detail terkait kegunaan dan cara pemakaiannya. Para petani berharap dinas selaku perwakilan dari pemerintahan Kabupaten Karanganyar bisa lebih aktif dalam pengembangan agribisnis kopi.
Bantuan kepada petani jarang dilakukan, karena adanya pandemi Covid-19 hampir di sepanjang tahun 2020. Pandemi membuat alokasi anggaran menjadi terbatas dan membuat perubahan prioritas yang telah disusun sebelumnya. Dampak ini dirasakan langsung dari Dinas Pertanian dan Pangan, Bidang Perkebunan yang tidak dapat memberikan bantuan kepada petani-petani yang membutuhkan. Apabila pandemi sudah berakhir, maka pihak dinas dapat memberikan bantuan dengan baik untuk membantu petani dan mengawasi pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. commit to user
2. Faktor Internal dan Faktor Eksternal Agribisnis Kopi di Kabupaten Karanganyar
a. Faktor Kekuatan dan Kelemahan
Hasil dari analisis lingkungan internal pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar menghasilkan faktor kekuatan dan kelemahan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, berikut ini merupakan faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar.
Tabel 11. Faktor Kekuatan dan Kelemahan Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Karanganyar
Kekuatan Kelemahan
1. Kopi Karanganyar memiliki cita rasa khas yang unik.
1. Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola masih sedikit.
2. Kabupaten Karanganyar pernah mengikuti lomba kopi se-Jawa Tengah dan mendapat bermacam juara.
2. Pengelolaan pasca panen masih lemah di kalangan petani.
3. Adanya ahli kopi yang turut membantu pengembangan kopi.
3. Hasil Panen masih sedikit.
4. Petani memiliki kemampuan yang baik dalam budidaya.
4. Kurangnya permodalan untuk petani.
5. Perawatan tanaman kopi di Karanganyar cukup mudah.
5. Pemasaran masih kurang gencar.
Sumber: Analisis Data Primer, 2020 b. Faktor Peluang dan Ancaman
Hasil dari analisis lingkungan eksternal pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar menghasilkan faktor peluang dan ancaman. Berdasarkan analisis yang dilakukan, berikut ini merupakan faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar.
commit to user
Tabel 12. Faktor Peluang dan Ancaman Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Karanganyar
Peluang Ancaman
1. Harga jual bisa meningkat dari tahun ke tahun, seiring peningkatan kualitas.
1. Adanya tengkulak yang menawar harga secara asal- asalan.
2. Menjadi pasar baru bagi pecinta kopi.
2. Hama dan penyakit yang menyerang tanaman kopi.
3. Bertambah banyaknya kedai kopi.
3. Alihfungsi lahan di areal perkebunan kopi.
4. Beberapa daerah di Kabupaten Karanganyar cocok untuk budidaya kopi.
4. Berkembangnya kopi-kopi dari daerah lain.
5. Adanya event perlombaan maupun sharing terkait kopi untuk mengenalkan Kopi Karanganyar ke masyarakat luas.
5. Efek cuaca yang tidak menentu.
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
3. Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal Agribisnis Kopi di Karanganyar Evaluasi faktor internal dan eksternal menggunakan matriks IFE (Internal Factors Evaluation) dan matriks EFE (External Factors Evaluation). Evaluasi ini berfungsi untuk mengetahui faktor-faktor kunci dari lingkungan internal maupun eksternal pada agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar.
a. Evaluasi Faktor Internal dengan Matriks IFE
Hasil analisis faktor-faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan. Maka faktor-faktor dari kekuatan dan kelemahan tersebut di evaluasi menggunakan matriks IFE (Internal Factors Evaluation).
Matriks IFE terdiri dari beberapa bagian, yaitu kolom faktor dimana faktor-faktor kekuatan dan kelemahan mana yang akan dianalisis.
Pembobotan dan rating dilakukan untuk mengetahui seberapa kuat pengaruh faktor-faktor internal terhadap agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Matriks IFE pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada Tabel 13.
commit to user
Tabel 13. Matriks IFE (Internal Factors Evaluation) Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Karanganyar
Faktor Internal Kunci Bobot Rating Skor Kekuatan
1. Kopi Karanganyar memiliki cita
rasa khas yang unik. 0,113 4 0,452
2. Kabupaten Karanganyar pernah mengikuti lomba kopi se-Jawa Tengah dan mendapat bermacam juara
0,083 3 0,250
3. Adanya ahli kopi yang turut
membantu pengembangan kopi. 0,124 3 0,372 4. Petani memiliki kemampuan yang
baik dalam budidaya. 0,122 3 0,367
5. Perawatan tanaman kopi di
Karanganyar cukup mudah. 0,113 3 0,339 Kelemahan
1. Sumber Daya Manusia (SDM) yang
mengelola masih sedikit. 0,096 1 0,096 2. Pengelolaan pasca panen masih
lemah di kalangan petani. 0,106 1 0,106 3. Hasil panen masih sedikit. 0,083 2 0,167 4. Kurangnya permodalan untuk
petani. 0,081 1 0,081
5. Pemasaran masih kurang gencar. 0,078 2 0,156
Total 1 2,385
Sumber: Analisis Data Primer, 2021
Berdasarkan Tabel 13, dapat diketahui bahwa total skor faktor internal yang didapat sebesar 2,385. Menurut David (2016), total skor tertimbang berada dibawah 2,5 mengindikasikan organisasi memiliki kelemahan internal. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang dimiliki Kabupaten Karanganyar dalam agribisnis kopi belum cukup kuat untuk mengatasi kelemahan yang ada. Faktor internal yang paling penting agar pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar berhasil ada dua, yaitu adanya ahli kopi yang turut membantu dalam pengembangan kopi karena memiliki bobot tertinggi (kekuatan) yaitu sebesar 0,124 dan pengelolaan pasca panen masih lemah di kalangan petani dengan bobot tertinggi (kelemahan) sebesar
0,106. commit to user
Ahli kopi senantiasa membantu petani kopi di Kabupaten Karanganyar dalam melakukan penanganan yang baik dan benar, dimulai dari budidaya, panen, pasca panen, roasting hingga menjadi kopi bubuk siap seduh. Ahli kopi berperan sebagai penyuluh yang memberikan ilmu dan pengetahuan kepada petani, serta melakukan pendampingan pada pelaksanaan di lapang. Keaktifan dari ahli kopi membantu secara signifikan terhadap pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar.
Penanganan pasca panen perlu dilakukan untuk mengeluarkan cita rasa dari Kopi Karanganyar. Pasca panen merupakan salah satu kelemahan bagi petani kopi di Kabupaten Karanganyar. Sebagian besar petani belum mengerti terkait macam-macam proses pasca panen, dan bagaimana melakukannya. Sifat petani yang malas belajar terkait penanganan pasca panen, keinginan langsung menjual hasil panen membuat nilai jual yang rendah bagi mereka. Ahli kopi pun sudah memberikan penyuluhan dan pendampingan terkait penanganan pasca panen, namun hanya beberapa petani saja yang giat dan semangat dalam melakukannya.
b. Evaluasi Faktor Eksternal dengan Matriks EFE
Hasil analisis faktor-faktor eksternal berupa peluang dan ancaman. Maka faktor-faktor dari peluang dan ancaman tersebut di evaluasi menggunakan matriks EFE (External Factors Evaluation).
Matriks EFE terdiri dari beberapa bagian, yaitu kolom faktor dimana faktor-faktor peluang dan ancaman mana yang akan dianalisis.
Pembobotan dan rating dilakukan untuk mengetahui seberapa kuat pengaruh faktor-faktor eksternal terhadap agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Matriks EFE pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada Tabel 14.
commit to user
Tabel 14. Matriks EFE (External Factors Evaluation) Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Karanganyar
Faktor Eksternal Kunci Bobot Rating Skor Peluang
1. Harga jual bisa meningkat dari tahun ke tahun, seiring peningkatan kualitas
0,115 3 0,344
2. Menjadi pasar baru bagi pecinta
kopi 0,113 3 0,339
3. Bertambah banyak kedai kopi 0,104 2 0,207 4. Beberapa daerah di Kabupaten
Karanganyar cocok untuk budidaya kopi
0,122 3 0,367
5. Adanya event perlombaan maupun sharing terkait kopi untuk mengenalkan Kopi Karanganyar ke masyarakat luas
0,104 3 0,311
Ancaman
1. Adanya tengkulak yang menawar
harga secara asal-asalan 0,067 1 0,067 2. Hama dan penyakit yang menyerang
tanaman kopi 0,109 2 0,219
3. Alihfungsi lahan di areal
perkebunan kopi 0,091 1 0,091
4. Berkembangnya kopi-kopi dari
daerah lain 0,085 2 0,170
5. Efek cuaca yang tidak menentu 0,091 2 0,181
Total 1 2,296
Sumber: Analisis Data Primer, 2021
Berdasarkan Tabel 14, dapat diketahui bahwa total skor yang didapat pada matriks EFE sebesar 2,296. Total skor berada dibawah 2,5 berarti Kabupaten Karanganyar belum mampu secara efektif memanfaatkan peluang yang ada dan meminimalisir potensi dari ancaman yang ada. Faktor eksternal yang paling penting agar pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar berhasil ada dua, yaitu beberapa daerah di Kabupaten Karanganyar cocok untuk budidaya kopi karena memiliki bobot (peluang) tertinggi sebesar 0,122 dan faktor hama dan penyakit yang menyerang tanaman kopi dengan bobot (ancaman) tertinggi sebesar 0,109. commit to user
Kabupaten Karanganyar memiliki beberapa daerah dataran tinggi yang cocok untuk budidaya kopi, umumnya masih banyak lahan-lahan kosong yang dapat dimaksimalkan untuk perkebunan kopi. Ketinggian yang tepat, iklim yang bagus dapat menjadi areal yang baik untuk membuka lahan perkebunan kopi yang baru. Apabila lahan-lahan kosong (belum dimanfaatkan dengan baik) bisa ditanami pohon kopi baru, maka dapat meningkatkan produktivitas Kopi Karanganyar. Upaya ini harus dilakukan bersama dari petani, ahli kopi dan juga pihak Dinas Pertanian dan Pangan, Bidang Perkebunan.
Hama dan penyakit menjadi musuh dari semua tanaman, tak terkecuali tanaman kopi. Kopi arabika pada khususnya membutuhkan perawatan yang baik, agar tidak mudah terkena penyakit karat daun.
Penyakit karat daun dapat membunuh sebuah tanaman kopi apabila tidak segera diberantas. Petani harus senantiasa menjaga lingkungan perkebunan kopi agar hama dan penyakit tidak mudah menyerang tanaman kopi.
4. Analisis Posisi Strategi
Hasil evaluasi faktor internal dan eksternal selanjutnya dianalisis dengan menggunakan matriks IE (Internal-External). Matriks IE berguna untuk mengetahui posisi strategi pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Matriks IE menggunakan output dari matriks IFE dan EFE yakni total nilai skor. Total nilai skor IFE akan menjadi sumbu X dan total nilai skor EFE akan menjadi sumbu Y, dapat dilihat pada Gambar 5.
commit to user
Gambar 5. Matriks IE (Internal-External) Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Karanganyar.
Berdasarkan Gambar 5, diketahui bahwa posisi matriks IE pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar berada di sel V, yaitu wilayah penerapan strategi menjaga dan mempertahankan.
Posisi sel V didapatkan hasil dari total skor IFE yakni sebesar 2,385 dan total skor EFE yakni sebesar 2,296. Strategi yang umum digunakan untuk sel V ini adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk. Menurut (David, 2016) strategi penetrasi pasar berusaha untuk meningkatkan pangsa pasar untuk produk dan jasa di pasar saat ini lewat usaha pemasaran yang lebih besar. Pengembangan produk adalah strategi yang mencari kenaikan penjualan dengan meningkatkan atau memodifikasi produk atau jasa saat ini.
Strategi penetrasi pasar yang bisa diterapkan Kabupaten Karanganyar adalah melalui pendeketan dari satu kedai kopi ke kedai kopi lain untuk mengenalkan produk. Selain itu, dapat memanfaatkan media online untuk mengenalkan produk lebih luas lagi lewat sosial media ataupun e-commerce. Strategi terkait pengembangan produk yang commit to user
dapat diterapkan Kabupaten Karanganyar adalah membuat kemasan produk Kopi Karanganyar, agar memudahkan konsumen untuk mengenali dan membeli, serta menjaga kualitas kopi sampai ke tangan konsumen.
5. Analisis Alternatif Strategi
Analisis alternatif strategi menggunakan matriks SWOT. Matriks SWOT dibuat berdasarkan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) yang telah disusun sebelumnya.
Menurut (David, 2016) tujuan setiap alat pencocokkan tahap kedua (SWOT) untuk menghasilkan alternatif strategi yang layak, bukan untuk memilih atau menentukan strategi yang terbaik. Hasil analisis matriks SWOT menghasilkan empat jenis strategi, yaitu strategi SO (Strength- Opportunity), strategi WO (Weaknesses-Opportunity), strategi ST (Strength-Threats) dan strategi WT (Weaknesses-Threat). Hasil lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15.
commit to user
Tabel 15. Matriks SWOT Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Karanganyar
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
1. Kopi Karanganyar memiliki cita rasa khas yang unik
2. Kabupaten Karanganyar pernah mengikuti lomba kopi se-Jawa Tengah dan mendapat bermacam juara
3. Adanya ahli kopi yang turut membantu pengembangan kopi 4. Petani memiliki
kemampuan yang baik dalam budidaya
5. Perawatan tanaman kopi di Karanganyar cukup mudah
1. Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola masih sedikit
2. Pengelolaan pasca panen masih lemah di kalangan petani 3. Hasil panen masih
sedikit 4. Kurangnya
permodalan untuk petani
5. Pemasaran masih kurang gencar
Peluang (O) Strategi SO Strategi WO
1. Harga jual bisa meningkat dari tahun ke tahun, seiring peningkatan kualitas 2. Menjadi pasar baru
bagi pecinta kopi 3. Bertambah banyaknya
kedai kopi
4. Beberapa daerah di Kabupaten
Karanganyar cocok untuk budidaya kopi 5. Adanya event
perlombaan maupun sharing terkait kopi untuk mengenalkan Kopi Karanganyar ke masyarakat luas.
1. Membuat kemasan jual yang menarik dengan menggunakan trademark terkait Kopi
Karanganyar (S1, S2, O2, O3)
2. Mengadakan bazar ataupun perlombaan kopi antar kedai kopi untuk menarik minat masyarakat terhadap Kopi Karanganyar (S1, S2, S3, O1, O2, O3, O5)
1. Mengadakan pelatihan manajemen pasca panen secara berkelanjutan kepada petani (W1, W2, O5) 2. Pengenalan produk
dan mengintensifkan pasar dengan distribusi yang baik dan tepat (W5, O3) 3. Mencari dan
membuat lahan baru untuk perkebunan kopi di wilayah- wilayah potensial (W3, O4)
Ancaman (T) Strategi ST Strategi WT
1. Adanya tengkulak yang menawar harga secara asal-asalan 2. Hama dan penyakit
yang menyerang tanaman kopi 3. Alihfungsi lahan di
areal perkebunan kopi 4. Berkembangnya kopi-
kopi dari daerah lain 5. Efek cuaca yang tidak
menentu
1. Mengoptimalkan budidaya dan mencegah hama serta penyakit yang bisa membahaya- kan tanaman kopi (S3, S4, S5, T2, T5)
1. Mengadakan pendampingan terhadap petani terkait teknis penjualan kopi baik dari Dinas Pertanian dan Pangan maupun dari ahli kopi (W2, W3, T1)
2. Meningkatkan pemasaran Kopi Karanganyar lewat digital marketing (W5, T4)
Sumber: Analisis Data Primer, 2021 commit to user
Berdasarkan Tabel 15, telah disusun bahwa terdapat beberapa alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Terdapat delapan alternatif strategi yang telah disusun berdasarkan faktor internal dan eksternal agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar. Alternatif strategi yang dihasilkan dari Matriks SWOT antara lain:
a. Strategi SO (Strength-Opportunity)
Strategi SO (Strength-Opportunity) adalah strategi yang menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Strategi yang dapat dihasilkan dari memanfaatkan kekuatan dan peluang pada agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar sebagai berikut:
1) Membuat kemasan jual yang menarik dengan menggunakan trademark terkait Kopi Karanganyar
Pembuatan kemasan atau packing yang menarik serta mempunyai trademark khusus membuat sebuah produk dapat mudah dikenali oleh konsumen. Menurut Shinta (2011), packing adalah pengemasan atau pembungkusan barang-barang dengan tujuan melindungi barang agar tidak rusak dan tetap utuh, selain itu dapat menarik konsumen untuk membeli apabila dikemas dengan baik. Strategi ini dapat meningkatkan ketertarikan konsumen dan nilai jual Kopi Karanganyar. Kemasan jual dapat memudahkan konsumen untuk membeli Kopi Karanganyar baik dalam jumlah yang kecil ataupun besar, untuk konsumen yang jarang mendatangi kedai kopi lebih baik membuat kemasan untuk kopi bubuk. Kopi Karanganyar dapat dikemas dalam bentuk bubuk, menggunakan kemasan berbentuk standing pouch, memiliki desain yang rapih dan eyecatching. Menurut (Firdaus dan Abidin, 2019) desain kemasan berbentuk pouch adalah plastik pengemas suatu produk yang dapat berdiri sendiri atau kaku. Standing pouch sebagai plastik pengemas suatu produk sangat efisien dan tak terlepas dari commit to user
peran utamanya sebagai packing. Tiap kemasan dapat diisi dengan kisaran 200 – 250 gr bubuk kopi. Kopi yang telah melewati proses roasting tidak bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama, karena akan menurunkan aroma serta cita rasa kopi seiring berjalannya waktu, untuk itu dalam penjualan kopi kemasan dapat disesuaikan dengan permintaan yang ada.
2) Mengadakan bazar ataupun perlombaan kopi antar kedai kopi untuk menarik minat masyarakat terhadap Kopi Karanganyar
Bazar merupakan pasar non permanen yang biasanya hanya datang sekali atau beberapa saat saja di suatu tempat. Hadirnya bazar ditengah masyarakat dapat menjadi sebuah pasar baru untuk penjualan Kopi Karanganyar, serta memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa Kopi Karanganyar terus berkembang dengan baik, disamping itu perlombaan kopi antar kedai kopi dapat memicu semangat untuk membuat dan meningkatkan kualitas Kopi Karanganyar. Pihak kedai kopi yang diwakilkan oleh barista- baristanya akan berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam mengolah Kopi Karanganyar. Mengadakan event besar seperti bazar maupun perlombaan kopi dapat memicu kerumunan masyarakat. Tentu saja, dimasa pandemi Covid-19 ini semua harus mengedepankan protokol kesehatan untuk menjaga keamanan serta kesehatan masyarakat. Strategi ini belum tepat dilaksanakan ditengah kondisi pandemi seperti saat ini, sehingga harus menunggu waktu yang tepat hingga pandemi ini berakhir.
b. Strategi WO
Strategi WO bertujuan untuk meningkatkan kelemahan internal dengan mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Kabupaten Karanganyar memiliki peluang eksternal kunci, namun di sisi lain kelemahan internal yang dimiliki menghalangi untuk mengambil peluang-peluang tersebut. Strategi yang dapat dihasilkan dari
commit to user
meningkatkan kelemahan dan mengambil keuntungan peluang pada agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar sebagai berikut:
1) Mengadakan pelatihan manajemen pasca panen secara berkelanjutan kepada petani
Saat ini, peningkatan produksi kopi di Indonesia masih terhambat oleh rendahnya mutu biji kopi yang dihasilkan, sehingga mempengaruhi pengembangan produksi akhir kopi. Hal ini disebabkan, karena penanganan pasca panen yang tidak tepat yakni, proses fermentasi, pencucian, sortasi, pengeringan, dan sangrai.
Spesifikasi alat/mesin yang digunakan dapat mempengaruhi dalam setiap tahapan pengolahan biji kopi (Sembiring et al, 2020). Proses pengolahan biji kopi dimulai dari hasil panen yaitu buah basah (Cherry) kemudian menjadi biji kering (greenbean) hingga di roasting dan diolah menjadi kopi bubuk. Semakin tinggi tingkat pengolahanya, maka harga jual pun bisa menjadi tinggi, dengan syarat harus diimbangi dengan kualitas yang dihasilkan. Perlu disadari juga, bahwa petani masih kurang menguasai terkait pasca panen kopi. Hampir seluruh proses pasca panen dilakukan oleh ahli kopi, pedagang dan orang-orang dari kedai kopi. Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola kopi masih terbilang sedikit.
Setidaknya perlu adanya pelatihan manajemen pasca panen baik kepada petani maupun masyarakat yang ingin belajar kopi.
Pelatihannya berupa tatacara panen yang baik dan benar, melakukan sortasi dan grading, belajar mengenai proses pasca panen (honey, natural, fullwash, semiwash), roasting greenbean, hingga kopi menjadi bubuk. Apabila strategi ini dilakukan secara baik dan berkelanjutan, maka kopi bisa menjadi primadona di sektor perkebunan yang bisa membawa keuntungan untuk petani dan seluruh stakeholder yang berkecimpung.
commit to user
2) Pengenalan produk dan mengintensifkan pasar dengan distribusi yang baik dan tepat.
Pengenalan produk penting dilakukan untuk mengenalkan karakteristik Kopi Karanganyar ke konsumen. Produk yang dikenalkan bisa dalam bentuk kemasan. Tujuan pembuatan produk kemasan adalah untuk menambah minat konsumen agar dapat mengonsumsinya di rumah masing-masing, tanpa perlu datang ke kedai-kedai kopi. Intensifikasi pasar juga penting untuk dilakukan, untuk menjangkau konsumen secara luas, salah satu caranya dengan menitipkan/menjual produk Kopi Karanganyar ke kedai- kedai kopi ataupun toko oleh-oleh di Kabupaten Karanganyar.
Bertambahnya kedai-kedai kopi di daerah Kabupaten Karanganyar dapat membantu dalam mempromosikan dan menjual produk Kopi Karanganyar. Toko oleh-oleh juga memiliki peran yang sama, karena Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu tempat destinasi wisata yang dituju oleh masyarakat. Masyarakat yang mengunjungi toko oleh-oleh pun dapat membeli untuk menikmati Kopi Karanganyar di rumah masing-masing.
3) Mencari dan membuat lahan baru untuk perkebunan kopi di wilayah-wilayah potensial
Hasil panen kopi di Kabupaten Karanganyar masih terbilang sedikit apabila dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Tengah. Banyak permintaan yang datang untuk membeli Kopi Karanganyar, tetapi masih dibatasi karena hasil panen belum cukup jumlahnya dalam memenuhi kebutuhan dari konsumen di luar Kabupaten Karanganyar. Hal ini disebabkan karena kopi belum menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Karanganyar, sebagian besar didominasi oleh tanaman holtikultura. Salah satu strategi untuk meningkatkan kuantitas panen adalah dengan mencari dan membuat lahan kopi baru. Kabupaten Karanganyar memiliki beberapa daerah potensial yang mendukung tumbuh dan commit to user
berkembangnya tanaman kopi. Terdapat banyak daerah di dataran tinggi yang masih belum dimanfaatkan untuk budidaya apapun, kondisi seperti ini dapat mendukung penambahan lahan baru untuk tanaman kopi di Kabupaten Karanganyar.
c. Strategi ST
Strategi ST menggunakan kekuatan internal untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal. Strategi yang dapat dihasilkan dari menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman pada agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar sebagai berikut:
1) Mengoptimalkan budidaya dan mencegah hama serta penyakit yang bisa membahayakan tanaman kopi
Pengoptimalan budidaya tanaman kopi perlu dilakukan, seperti pengaturan jarak tanaman, pemberian pupuk setahun dua kali, pengairan, pemangkasan daun, dan perawatan tanaman terhadap hama dan penyakit. Adanya ancaman yang dapat menghalangi tumbuh dan berkembangnya tanaman kopi di Kabupaten Karanganyar harus dapat dihindari. Ancaman seperti hama dan penyakit serta cuaca yang tidak menentu dapat menyebabkan tanaman mati dan tidak berbuah. Hama yang menyerang tanaman kopi seperti uret dapat diberi obat Metarizi, dan hama semut dapat diatasi dengan beragam pestisida semut. Penyakit yang menyerang tanaman kopi seperti karat daun, untuk mengatasinya dapat melakukan pemangkasan daun secara berkala ataupun pemberian fungisida Benlate. Pengaruh cuaca dapat mempengaruhi tanaman kopi seperti curah hujan yang tidak merata dapat menyebabkan pohon kekurangan air, angin yang terlalu kencang dapat mempertinggi penguapan air pada permukaan dan dapat merubuhkan pohon apabila intensitasnya tinggi, serta ketersediaan sinar matahari yang minim dapat menghambat proses fotosintesis dan penjemuran hasil panen kopi. Strategi pengoptimalan budidaya dapat diterapkan karena kemampuan petani kopi di Kabupaten commit to user
Karanganyar dalam budidaya sudah tidak perlu diragukan lagi.
Hadirnya ahli kopi dapat membantu mengidentifikasi apabila ada masalah dalam budidaya dan melakukan penanganan yang tepat untuk menanggulanginya.
d. Strategi WT
Strategi WT adalah taktik defensif yang dilakukan untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal.
Apabila Kabupaten Karanganyar tidak mengatasi kelemahan dan ancaman, bisa jadi berada dalam posisi yang tidak aman. Strategi yang dapat dihasilkan dari mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman pada agribisnis kopi di Kabupaten Karanganyar sebagai berikut:
1) Mengadakan pendampingan terhadap petani terkait teknis penjualan kopi baik dari Dinas Pertanian dan Pangan maupun ahli kopi
Petani merupakan salah satu pihak yang kurang menguntungkan. Belum semua petani mengerti bagaimana pengolahan pasca panen kopi yang semestinya. Petani seringkali menjual dalam bentuk buah basah (cherry) tanpa sortasi. Tentu saja harga jual kopi dalam bentuk buah basah jauh lebih kecil dibanding dalam bentuk greenbean ataupun dalam bentuk bubuk. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh tengkulak yang dapat membeli atau memborong semua hasil panen dalam bentuk apapun. Jika tengkulak membayar sesuai kualitas dan tingkatannya maka sah- sah saja, namun apabila tengkulak tidak membayar dengan harga yang semestinya, itu yang patut diwaspadai. Strategi ini berguna agar petani tidak dirugikan dalam urusan tawar menawar harga.
Baik dari pihak ahli kopi maupun Dinas Pertanian dan Pangan, harus memberi edukasi dan pendampingan, dengan cara sosialisasi tiap kelompok tani maupun petani individu dan juga kontrol secara berkelanjutan dimulai sejak panen hingga proses pasca panen untuk commit to user
memeriksa kuantitas dan kualitas Kopi Karanganyar yang sesuai dengan harga pasar. Kedepannya petani dapat menentukan sendiri harga jual yang pas dan memaksimalkan hasil panen yang terbatas.
2) Meningkatkan pemasaran Kopi Karanganyar lewat digital marketing
Perkembangan kopi-kopi dari daerah lain turut menjadi ancaman bagi pengembangan kopi di Karanganyar. Langkah demi langkah sudah diterapkan masing-masing daerah untuk memaksimalkan budidaya dan penjualan kopinya. Penjualan yang dilakukan oleh masing-masing daerah kini sudah menjangkau pasar lewat digital marketing. Menurut (Pradiani, 2017) digital marketing adalah salah satu media pemasaran yang saat ini sedang banyak diminati oleh masyarakat. Manfaat dari hadirnya digital marketing adalah komunikasi dan transaksi dapat dilakukan setiap waktu atau real time dan bisa dilakukan secara global. Kemudahan transaksi dalam digital marketing dapat memudahkan konsumen untuk membeli produk tanpa harus jauh-jauh keluar rumah dan membuang energi. Kabupaten Karanganyar sejauh ini belum memaksimalkan pemasaran kopi melalui digital marketing, contoh penggunaan digital marketing seperti media sosial (Instagram, Facebook, Whatsapp, dsb) dan e-commerce (Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dsb). Pemanfaatan teknologi harus dapat ditingkatkan lagi baik untuk petani maupun pedagang kopi, melalui digital marketing ini pemasaran Kopi Karanganyar dapat lebih baik lagi sehingga bisa menjangkau konsumen dari seluruh wilayah di Indonesia.
6. Pencocokkan Posisi Strategi dengan Alternatif Strategi
Hasil dari matriks IE menghasilkan posisi strategi, sedangkan hasil dari matriks SWOT menghasilkan alternatif strategi. Alternatif strategi yang telah disusun kemudian dicocokkan dengan posisi strategi yang telah didapatkan. Posisi strategi berada di sel V yang berarti strategi commit to user
umum yang bisa diterapkan adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk. Maka alternatif strategi yang berdasarkan dengan kriteria posisi strategi adalah sebagai berikut:
a. Membuat kemasan jual yang menarik dengan menggunakan trademark terkait Kopi Karanganyar, SO 1 (Strategi 1)
b. Mengadakan bazar ataupun perlombaan kopi antar kedai untuk menarik minat masyarakat akan Kopi Karanganyar, SO 2 (Strategi 2) c. Pengenalan produk dan mengintensifkan pasar dengan distribusi
yang baik dan tepat, WO 2 (Strategi 3)
d. Meningkatkan pemasaran kopi Karanganyar lewat digital marketing, WT 2 (Strategi 4)
7. Analisis Prioritas Strategi
Analisis prioritas strategi berguna untuk memilih satu dari beberapa alternatif strategi yang telah disusun sebelumnya. Menurut Ischak (2017), strategi secara khusus adalah tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Alat analisis yang digunakan adalah QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). QSPM akan mengevaluasi alternatif-alternatif strategi secara objektif, berdasarkan faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman).
Dalam pemilihan alternatif strategi yang diprioritaskan, analisis ini bertujuan untuk mencari nilai TAS (Total Attractiveness Scores) yang tertinggi. Nilai TAS didapat dari hasil perkalian antara bobot dengan nilai AS (Attractiveness Score). Nilai AS didefinisikan sebagai nilai numerik yang mengindikasikan daya tarik relatif faktor-faktor intenal dan eksternal dari setiap alternatif strategi. Kisaran nilai AS yaitu 1 = tidak menarik; 2 = agak menarik; 3 = cukup menarik; dan 4 = sangat menarik.
Hasil pada analisis prioritas strategi ini dapat dilihat pada Tabel 16.
commit to user