BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Program Adipura merupakan salah satu program kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang berlingkup nasional untuk mewujudkan wilayah yang berwawasan lingkungan menuju pembangunan yang berkelanjutan yang mempunyai maksud dan tujuan untuk mendorong pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan kota yang bersih dan teduh dengan menerapkan prinsip-prinsip Tata Kelola Pemerintahan yang baik (Good Governance) dan Tata Kelola Lingkungan yang baik (Good Environment Governance).
Peserta program Adipura dibagi ke dalam 4 kategori berdasarkan jumlah penduduk, yaitu kategori :
a. Kota metropolitan (lebih dari 1 juta jiwa);
b. Kota besar (500.001 - 1.000.000 jiwa);
c. Kota sedang (100.001 - 500.000 jiwa);
d. Kota kecil (20.000 sampai dengan 100.000 jiwa).
Kota atau ibukota kabupaten yang mengikuti Program Adipura wajib memiliki prasarana dan sarana perkotaan sebagai berikut :
a. Permukiman menengah dan sederhana;
b. Jalan arteri dan kolektor;,
c. Pasar;
d. Pertokoan;
e. Perkantoran;
f. Sekolah;
g. Rumah Sakit dan/atau Puskesmas;
h. Terminal Bus dan/atau Terminal Angkutan Kota, atau pelabuhan sungai dan/atau pelabuhan laut yang menghubungkan antar pulau dalam satu kabupaten/kota;
i. Hutan Kota;
k. Saluran Terbuka;
l. Tempat Pemrosesan Akhir;
m. Bank Sampah atau Model Pengolahan Sampah lainnya; dan
n. Fasilitas Pengolahan Sampah Skala Kota.
Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat, lingkungan hidup yang lestari, serta menjadikan sampah sebagai sumber daya perlu dilaksanakan program adipura di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Barat. Program Adipura bertujuan untuk mendorong kepemimpinan pemerintah kabupaten/kota dan membangun partisipasi aktif masyarakat serta dunia usaha melalui penghargaan adipura untuk mewujudkan wilayah yang berkelanjutan, baik secara ekologis, sosial dan ekonomi melalui penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup demi terciptanya lingkungan yang baik dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Selain kegiatan Adipura, juga dilaksanakan Kegiatan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (LB3). Salah satu sumber pencemar adalah limbah dari usaha/kegiatan baik padat maupun cair, ada yang termasuk limbah B3 atau limbah non B3. Untuk limbah non B3 dapat dikelola atau dibuang langsung ke TPA sampah, tetapi limbah B3 harus ditangani secara khusus sesuai dengan persyaratan teknis dan peraturan yang ada. Untuk itu perlu dilakukan upaya pengendalian pencemaran akibat limbah B3 tersebut dengan mengelola limbah tersebut sebaik-baiknya agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Adapun upaya pengelolaan tersebut adalah mulai dari penyimpanan, pengangkutan, pengumpulan, pengolahan, pemusnahan, penimbunan, penguburan dan pemanfaatan. Semua rangkaian pengelolaan tersebut harus dilengkapi izin yang dikeluarkan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan yang ada.
Kegiatan pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (LB3) untuk tahun 2017 ini ditargetkan 5 (lima) objek kegiatan. Kegiatan/usaha yang menjadi objek adalah rumah sakit yang telah memiliki incenerator tetapi belum memenuhi persyaratan teknis sehingga perlu koordinasi dan pembinaan agar dapat difasilitasi pengurusan izin operasional incenerator ke Kementerian lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Maksud dilaksanakannya kegiatan peningkatan pemulihan kualitas lingkungan hidup perkotaan Provinsi Sumatera Barat (Adipura) adalah mendorong berbagai pihak terkait baik unsur Pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat di kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat agar selalu menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup dengan mewujudkan lingkungan dan perkotaan yang bersih dan teduh.
Tujuan Kegiatan peningkatan pemulihan kualitas lingkungan hidup perkotaan Provinsi Sumatera Barat (Adipura) adalah sebagai berikut :
a. Terwujudnya Provinsi Sumatera Barat yang bersih dan teduh;
b. Terciptanya upaya pemulihan kualitas lingkungan hidup perkotaan melalui kerjasama/koordinasi, keterpaduan rencana, tukar menukar data dan informasi teknis adipura antar instansi provinsi dan kabupaten/kota;
c. Termotivasinya perangkat kabupaten/kota, kecamatan, nagari dan masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga dan mengelola lingkungan.
2. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (LB3)
Maksud kegiatan pengelolaan Limbah B3 adalah :
a. Meningkatnya pengetahuan pihak manajemen rumah sakit tentang pentingnya pengelolaan limbah B3 medis;
b. Mengetahui pengelolaan limbah B3 mulai dari penyimpanan, pengangkutan, pengumpulan, pengolahan, pemusnahan, penguburan, penimbunan ataupun pemanfaatan.
c. Mengkoordinasikan pengurusan izin incenerator rumah sakit dengan instansi lingkungan hidup daerah terkait dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Tujuan dari pengawasan dan pengendalian terhadap pengelolaan lingkungan usaha/kegiatan adalah:
a. Meningkatnya pemahaman tentang pengelolaan limbah B3 medis badi fasyankes, Pemerintah Daerah dan instansi terkait, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.
b. Terkelolanya dengan baik limbah B3 medis di Sumatera Barat.
d. Lokasi
1. Program Adipura
Pada Tahun 2017 ini pelaksanaan Kegiatan Adipura direncanakan dilaksanakan di 15 (lima belas) kabupaten/kota yaitu Padang, Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang, Pariaman, Painan (Ibukota Kabupaten Pesisir Selatan), Lubuk Sikaping (Ibukota Kabupaten Pasaman), Solok, Sawahlunto, Lubuk Basung (Ibukota Kabupaten Agam), Simpang Ampek (Ibukota Kabupaten Pasaman Barat), Batusangkar (Ibukota Kabupaten Tanah Datar) dan Muaro Sijunjung (Ibukota Kabupaten Sijunjung), serta adanya penambahan wilayah yang akan dilakukan pembinaan untuk masuk dalam program penilaian Adipura yaitu Kota Sari Lamak (Ibukota Kabupaten Limapuluh Kota) dan Kota Pulau Punjung (Ibukota Kabupaten Dharmasraya). 2. Pengelolaan Limbah B3
Kegiatan pengelolaan limbah B3 pada objek kegiatan di RSUD Pasaman Barat, RSUD Solok Selatan, RSUD Lubuk Sikaping Pasaman, RSUD Adnan WD Kota Payakumbuh dan RSI Ibnu Sina Kota Bukittinggi.
e. Asal Sumber Dana
Pendanaan kegiatan Peningkatan Pemulihan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Sumatera Barat (Adipura) bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2017.
f. Organisasi Pengguna Jasa
BAB II
DATA PERENCANAAN
A. Data Dasar
1. Program Adipura
Program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986, kemudian terhenti pada tahun 1998. Dalam lima tahun pertama, program Adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi "Kota Bersih dan Teduh". Program Adipura kembali dicanangkan pada tanggal 5 Juni 2002, dan berlanjut hingga sekarang. Pengertian kota dalam penilaian Adipura bukanlah kota otonom, namun bisa juga bagian dari wilayah kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu. Berdasarkan jumlah penduduk kota-kota di Provinsi Sumatera Barat, maka Kota Padang merupakan satu-satunya kota yang termasuk kota besar di Provinsi Sumatera Barat, Kota Bukittinggi dan Kota Payakumbuh termasuk kategori kota sedang, sedangkan ibu kota kabupaten lainnya merupakan kota kecil.
Pemantauan Program Adipura adalah pemantauan terhadap capaian kinerja pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan lingkungan perkotaan selama periode pemantauan. Pemantauan Adipura dilakukan dalam 3 tahap terdiri atas pemantauan pertama (P1), pemantauan kedua (P2) dan pemantauan verifikasi (PV).
Berdasarkan kegiatan Tahun 2016 yang lalu, ada 6 (enam) Kabupaten/Kota yang berhasil masuk dalam pemantauan verifikasi yaitu Kota Padang, Sawahlunto, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Kota Painan (Ibukota Kabupaten Pesisir Selatan). Dari 6 kota yang diverifikasi tersebut Kota Padang Panjang, Payakumbuh dan Bukittinggi berhasil meraih penghargaan Anugerah Adipura, dengan rincian Kota Padang Panjang dan Kota Payakumbuh mendapatkan Penghargaan Adipura Buana, sedangkan Kota Payakumbuh memperoleh penghargaan Adipura Kirana. Untuk penghargaan sertifikat Adipura berhasil diraih oleh Kota Sawahlunto dan Kota Batusangkar (Ibukota Kabupaten Tanah Datar).
2. Pengelolaan Limbah B3.
sakit dan fasyankes lainnya dan Persyaratan teknis incenerator rumah sakit dan fasyankes lainnya yang sesuai dengan PermenLHK No. P.56/MenLHK-Setjen/2015
B. Standar
1. Program Adipura
Standar yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Sumatera Barat (Adipura) ini mengacu kepada standar penilaian yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.53/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2016 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura.
Kriteria Adipura terdiri dari 2 indikator pokok, yaitu:
a. Indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota;
b. Indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap.
2. Pengelolaan Limbah B3.
Untuk pelaksanaan kegiatan pengelolaan limbah B3 berdasarkan pada dokumen yang ada, Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun serta PermenLHK No. P.56/MenLHK-Setjen/2015 tentang Tata cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasyankes.
C. Teknis Pelaksanaan 1. Sosialisasi
2. Pembinaan dan Evaluasi
Kegiatan pembinaan dilakukan dalam bentuk koordinasi / tinjauan langsung ke kabupaten/kota berupa pembinaan teknis dan sharing informasi terkait dengan pelaksanaan program Adipura dan pengelolaan Limbah B3. Pelaksanaan pengelolaan limbah B3 dilakukan dengan Verifikasi persyaratan teknis dan non teknis incenerator langsung ke rumah sakit bersama dengan instansi pengelola lingkungan hidup dan instansi teknis terkait Kabupaten/Kota dan sebagai tindak lanjutnya dibuat surat follow up terkait dengan hasil verifikasi yang telah dilakukan terhadap rumah sakit yang menjadi objek kegiatan
Kepedulian setiap Pemerintah daerah kabupaten/kota sangat penting dalam menjalankan kebijakan/aturan, menyediakan anggaran, sarana dan prasarana dalam pemulihan lingkungan perkotaan, mengajak/memberi motivasi masyarakat dan dunia usaha untuk berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, teduh dan berkelanjutan.
Terhadap objek titik pantau Adipura yang akan dinilai, akan dievaluasi terlebih dahulu melalui koordinasi atau peninjauan langsung ke lokasi objek titik pantau/kabupaten/kota dalam rangka melihat sejauh mana kesiapan pemerintah kabupaten/kota dalam menghadapi penilaian/pemantauan Adipura oleh Tim Penilai/Pemantau Adipura. Kegiatan pembinaan/evaluasi dilakukan terhadap kabupaten/kota peserta Adipura dan ditambah dengan 2 (dua) kabupaten/kota yang akan dilakukan pembinaan yang direncanakan untuk diusulkan masuk dalam peserta program penilaian/pemantauan Adipura yaitu Kota Sarilamak (Ibukota Kabupaten Limapuluh Kota) dan Kota Pulau Punjung (Ibukota Kabupaten Dharmasraya).
Kualitas objek titik pantau Adipura sangat tergantung kepada peran para Kepala institusi yang terlibat langsung dalam mengelola objek titik pantau seperti Dinas Pekerjaan Umum, Kepala Rumah sakit/Puskesmas, Kepala Sekolah, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Kebersihan/Pasar/Pertamanan dan instansi terkait lainnya.
3. Penilaian/Pemantauan
Penilaian/Pemantauan Adipura dilakukan oleh Tim Pemantau Adipura berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor ….. tanggal ….. Tentang Pembentukan Tim Pemantau Program Adipura Provinsi Sumatera Barat Tahun 2017 bersama dengan Tim KLHK/P3E Sumatera.
Penilaian/pemantauan Adipura dilakukan terhadap 13 (tiga belas) kabupaten/kota yakni Kota Padang, Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang, Pariaman, Painan (Ibukota Kabupaten Pesisir Selatan), Lubuk Sikaping (Ibukota Kabupaten Pasaman), Solok, Sawahlunto, Lubuk Basung (Ibukota Kabupaten Agam), Simpang Ampek (Ibukota Kabupaten Pasaman Barat), Batusangkar (Ibukota Kabupaten Tanah Datar) dan Muaro Sijunjung (Ibukota Kabupaten Sijunjung). Tim Penilaian/Pemantau Adipura dalam melakukan penilaian capaian kinerja berpedoman pada Lampiran II Kriteria, Indikator, dan Skala Nilai, Capaian Kinerja di Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.53/Menlhk/ Setjen/Kum.1/6/2016 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura.
4. Perjalanan Dinas Luar Provinsi dalam rangka menghadiri undangan rapat/pertemuan/sosialisasi dan/atau koordinasi permasalahan terkait pelaksanaan Program Adipura.
Perjalanan dinas luar provinsi dalam rangka menghadiri undangan rapat/pertemuan/sosialisasi dilaksanakan dengan didasarkan atas undangan yang ditujukan kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat.
Perjalanan dinas luar provinsi dalam rangka berkoordinasi/berkonsultasi dengan pejabat di Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan atau sektor lainnya di Jakarta dilaksanakan untuk mendapatkan kejelasan mengenai permasalahan teknis terkait Program Adipura dan Limbah B3 dimana dibutuhkan penjelasan khusus yang tidak tertuang secara eksplisit dalam ketentuan peraturan perundangan-undangan yang ada ataupun yang masih ditemui keragu-raguan dalam pengimplementasian peraturan dimaksud di daerah. Bentuk pelaksanaan adalah diskusi langsung dengan pejabat / staf teknis di Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan atau sektor lainnya sesuai dengan topik/permasalahan yang akan dikonsultasikan.
D. Studi – Studi Terdahulu Yang Pernah Dilaksanakan
E. Peraturan Perundang-Undangan
1. Undang undang nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;
2. Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Hidup;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
9. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 02 Tahun 2008 tentang Pemanfaatan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
10. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 03 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan Label Bahan Berbahaya dan Beracun;
11. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 30 Tahun 2009 Tata Laksana Perizinan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun serta Pengawasan Pemulihan Akibat Pencemaran Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun oleh Pemerintah Daerah;
12. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 33 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pemulihan Lahan Terkontaminasi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
13. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 19 dan 20 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal di Bidang Lingkungan Hidup;
14. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.56/MenLHK-Setjen/2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
16. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.53/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2016 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adipura;
17. Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990 tentang Kawasan Lindung;
18. Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Barat Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan dan Lembaga Teknis Daerah Propinsi Sumatera Barat sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Daerah nomor 10 Tahun 2012;
19. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 14 tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
20. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 10 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017;
21. Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 75 Tahun 2016 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017
22. Keputusan Kepala Bapedal Nomor : KEP-01/BAPEDAL/09/1995 ugtentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
23. Keputusan Kepala Bapedal Nomor : KEP-02/BAPEDAL/09/1995 tentang Dokumen Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
BAB III RUANG LINGKUP
A. Capaian Tujuan
Capaian tujuan dari Kegiatan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Sumatera Barat (Adipura) adalah terwujudnya kota-kota di Provinsi Sumatera Barat yang bersih dan teduh melalui penerapan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu juga terlaksananya rangkaian pengelolaan Limbah B3 mulai dari sumber LB3 atau penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan LB3 dan perizinannya, terlaksananya pengelolaan limbah B3 medis dengan incenerator yang sesuai persyaratan teknis dan memiliki izin operasional, meningkatnya pengetahuan manajemen pihak rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya tentang pentingnya pengelolaan limbah B3 medis
B. Keluaran Yang Dihasilkan
Keluaran/output dari Kegiatan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Sumatera Barat (Adipura) adalah terbina, terevaluasinya dan terpantaunya program peningkatan kualitas lingkungan hidup perkotaan di 15 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat dan meningkatnya jumlah rumah sakit yang mengelola limbah B3 medis yang memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan peraturan yang berlaku. serta tersosialisasikannya program Adipura dan LB3.
C. Lingkup Kewenangan
Pelaksanaan kegiatan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan (Adipura) dilakukan di 15 (Lima Belas) kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan hidup perkotaan untuk mewujudkan kota-kota yang bersih dan teduh. Melakukan pembinaan terhadap pengelolaan limbah B3 dan koordinasi dengan kabupaten/kota serta konsultasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
P R O D U K
A. Jenis Laporan
Laporan Kegiatan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan di Provinsi Sumatera Barat (Adipura), yaitu:
1. Laporan perjalanan dinas;
2. Laporan hasil penilaian/pemantauan adipura;
3. Laporan akhir kegiatan tahunan.
B. Jumlah Laporan
Jumlah laporan untuk masing-masing jenis laporan dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1 Jenis dan Jumlah Laporan Kegiatan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Provinsi Sumatera Barat (Adipura)
No Jenis Laporan Jumlah
1 Laporan perjalanan dinas dan atau sosialisasi
Sejumlah perjalanan dan atau sosialisasi 2 Laporan hasil penilaian/pemantauan
adipura
2 kali
3 Laporan akhir pelaksanaan kegiatan 1 kali
C. Frekuensi Pelaporan
Pelaporan perjalanan dinas dan atau sosialisasi dilakukan pada setiap pelaksanaan kegiatan, sedangkan laporan penilaian/pemantauan adipura sejumlah kegiatan penilaian/pemantauan, dan laporan akhir pelaksanaan kegiatan dilakukan 1 kali dalam setahun.
Demikian Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini dibuat untuk dapat menjadi acuan/pedoman bagi pihak-pihak terkait dalam pelaksanaan Kegiatan Peningkatan Pemulihan Kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan Sumatera Barat (Adipura) Tahun 2017.
Mengetahui,
Ka. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat
Drs. ASRIZAL ASNAN, MM NIP. 19570803 198503 1 005
Padang, Januari 2017
Kabid. Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas
Petriawaty, SE, MM