Aktualisasi Soft Diplomacy Indonesia Melalui Tari Saman Gayo dalam
Promosi Perdamaian Dunia dan Penguatan Identitas Lokal
(Analisa Pasca Pengakuan Tari Saman oleh UNESCO)
Hardi Alunaza SD & Andika Sanjaya ([email protected])
ABSTRAK
Budaya daerah merupakan kekayaan bangsa yang perlu diperhatikan dan ditangani secara serius. Keberadaan budaya daerah, menjadi penting karena budaya dalam kenyataannya memberi andil yang sangat besar bagi pembentukan jati diri bangsa, dan juga bagi proses regenerasi bangsa. Tari Saman Gayo adalah jati diri atau identitas masyarakat Gayo di Aceh. Tari Saman juga menjadi satu alat dalam promosi perdamaian di dunia. Pasca pengakuan UNESCO, baik di tingkat lokal maupun nasional terjadi kekeliruan bahwa Tari Saman yang diketahui oleh masyarakat luas adalah Tari Saman Aceh bukan Tari Saman Gayo. Dengan kesalahan pemahaman tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses aktualisasi Tari Saman Gayo dalam mempromosikan perdamaian dunia dan penguatan identitas lokal masyarakat Gayo di Aceh.
Penulis menggunakan konsep soft power dan konsep identitas dalam menjelaskan dan menganalisa fenomena terkait. Melalui metode deskriptif dan pendekatan kualitatif, essai ini terbagi menjadi tiga poin penting. Pertama, proses diplomasi budaya oleh Pemerintah Indonesia dalam mendapatkan pengakuan Tari Saman Gayo dari UNESCO. Kedua, proses penguatan identitas masyarakat Gayo melalui Saman Summit dengan fokus penjelasan Tari Saman yang diakui UNESCO adalah Tari Saman Gayo bukan Tari Saman Aceh. Serta, aktualisasi nilai budaya dalam Tari Saman Gayo dalam promosi perdamaian dunia. Penulis hanya ingin menegaskan bahwa Tari Saman adalah budaya lokal dari propinsi Aceh asli masyarakat Gayo bukan Aceh.
Kata Kunci: Tari Saman Gayo, Soft Diplomacy, Penguatan Identitas Lokal
PENDAHULUAN
Kasus klaim budaya seharusnya bisa menjadi peringatan bagi pemerintah maupun seluruh masyarakat Indonesia (Saiman, 2016). Indonesia mempunyai begitu banyak kesenian dan tarian yang memesona, namun tidak banyak dari masyarakatnya yang mau mempelajari dan melestarikan. Oleh karena itu pemerintah Indonesia harus bertindak cepat, tegas, dan juga pintar yaitu dengan mendata dan mendaftarkan hak atas kepemilikan budaya agar tidak hilang di masa depan dan bisa menjadi identitas lokal maupun nasional di kancah internasional.
Masuknya globalisasi di Republik Indonesia dapat mengancam punahnya budaya-budaya tradisional dan digantikan budaya modern yang semakin berkembang. Salah satu budaya Republik Indonesia yang terancam punah adalah Tari Saman. Tari Saman berasal dari dataran tinggi tanah Gayo di Aceh. Tarian ini merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan dakwah yang mencerminkan nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.
Tari saman adalah jati diri atau identitas mereka masyarakat Aceh. Dengan saman sebagai budaya maka nilai-nilai yang terdapat di dalam saman itu sendiri akan selalu dihayati oleh rakyatnya baik nilai agama Islam maupun nilai adat yang bersendikan Islam. Selain itu, Saman juga bermanfaat sebagai media dakwah dan informasi. Sejak dari zaman dulu ketika penyebar agama Islam masuk di Gayo Lues sudah memanfaatkannya dengan menitipkan pesan agama Islam dan pembangunan serta pemersatu kehidupan bangsa (Malikushaleh, 2013).
Dengan keunikan dan pesona yang sarat makna nilai-nilai kultural Indonesia, tari saman memang layak menyandang predikat sebagai warisan budaya dunia. Melalui berbagai penampilan dan promosi, tari saman tidak hanya terkenal di Indonesia tetapi juga hingga dunia internasional. Hal tersebut karena tari saman sangat kental dengan konten keindonesiaan dan budaya kenusantaraan (Putriani, 2012). Dari banyaknya seni budaya milik Indonesia, tentunya hal tersebut bisa menjadi jembatan perdamaian dunia, di mana setiap elemen dari bangsa Indonesia harus turut menjaga kelestarian seni dan budaya yang menjadi identitas bangsa.
kesenjangan akibat tidak adanya pemahaman yang baik mengenai Tari Saman. Sebab adanya dominasi pemerintah provinsi terhadap Tari Saman dan anggapan masyarakat umum bahwa Tari tersebut hanyalah sebagai entitas tunggal masyarakat Aceh. Kedua, di tingkat nasional, Tari Saman mengalami penurunan antusias masyarakat karena hilangnya dukungan atas eksistensi Tari Saman versi asli itu sendiri.
Keanekaragaman budaya Indonesia tentu menjadikan bangsa ini dikenal dalam pergaulan dunia internasional. Selain sebagai penghubung dengan Negara lain, budaya tersebut juga bis menjadi daya tarik bagi wisatawan asing ke Indonesia. Namun, di sisi lain, kekayaan budaya bisa terancam punah jika tidak dilindungi atau karena dominasi baik di tingkat nasional maupun lokal. Dari dua sisi yang berbeda, Tari Saman seharusnya dilihat sebagai manifestasi kekayaan sejarah dan budaya lokal yang menjadi cerminan identitas masyarakat pemilik aslinya. Di sisi lain, tari yang kerap dijuluki tarian seribu tangan ini harus mendapatkan dukungan dari pemerintah maupun penduduk setempat bukan sebagai entitas tunggal masyarakat Aceh, tetapi lebih kepada sumber aslinya yakni masyarakat Gayo.
Tantangan semangat kebangsaan dan keanekaragaman hidup di tingkat lokal lagi-lagi dibatasi karena adanya globalisasi. Globalisasi telah menjadi tombak dan mengikis semangat cinta tanah air yang membuat banyak kalangan kehilangan kesadaran bahwa dalam beberapa titik tertentu budaya lokal memiliki peran yang sangat strategis untuk menunjukkan eksistensi suatu bangsa. Globalisasi menjadi ancaman disintegrasi dalam kehidupan suatu masyarakat atau bangsa yang ditandai dengan adanya pemisahan atau perpecahan baik berupa konflik maupun kesenjangan (Hendrastomo, 2007). Dan secara perlahan globalisasi juga menjadi penyebab pengikis identitas nasional bangsa (Perwita, 2011).
Budaya lokal adalah kekayaan bangsa yang seharusnya mendapatkan perhatian dan dilindungi secara serius. Di samping menjadi ikon pariwisata, budaya juga memberikan andil yang cukup besar bagi pembentukan jati diri bangsa. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, budaya Indonesia mampu memberikan makna tersendiri bagi citra Indonesia di mata dunia internasional (Manuaba, 1999).
Tulisan ini terbagi menjadi tiga poin penting dalam menjelaskan Aktualisasi Soft Diplomacy Indonesia Melalui Tari Saman Gayo dalam Promosi Perdamaian Dunia dan Penguatan Identitas Lokal. Pertama, proses diplomasi budaya oleh Pemerintah Indonesia dalam mendapatkan pengakuan Tari Saman Gayo dari UNESCO. Kedua, proses penguatan identitas masyarakat Gayo melalui Saman Summit dengan fokus penjelasan Tari Saman yang diakui UNESCO adalah Tari Saman Gayo bukan Tari Saman Aceh. Serta, aktualisasi nilai budaya dalam Tari Saman Gayo dalam promosi perdamaian dunia.
METODOLOGI PENELITIAN
Pada dasarnya sebuah penelitian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan yang ingin diketahui penulis. Penelitian tentang Aktualisasi Soft Diplomacy Indonesia Melalui Tari Saman Gayo dalam Promosi Perdamaian Dunia dan Penguatan Identitas Lokal (Analisa Pasca Pengakuan Tari Saman oleh UNESCO) ini termasuk penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, di mana penulis berusaha untuk memberikan gambaran atau mendeskripsikan keadaan objek serta permasalahan yang ada. Oleh karena itu, metode deskriptif di sini diharapkan dapat mencapai tujuan penelitian, yaitu menggambarkan secara jelas fakta dan karakteristik objek yang diteliti secara tepat.
Penulis menggunakan data sekunder dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, buku-buku, jurnal, laporan penelitian, paper conference, dan data dari reliable website yang terkait dan mendukung data penelitian ini. Dalam tulisan ini digunakan tiga alur untuk mengambil kesimpulan dari data yang diperoleh dan diamati (Sugiono, 2011).
Identitas nasional dalam konteks bangsa Indonesia memiliki penjelasan berupa nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai kehidupan yang merupakan bagian dari kesatuan Indonesia yang menjadi kebudayaan nasional dengan acuan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai dasar dari proses perkembangannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa identitas nasional bangsa Indonesia Pancasila yang aktualisasinya terlihat dalam penataan nilai-nilai budaya yang tercermin dalam identitas nasional dan senantiasa berkembang demi kemajuan (Busrizalti, 2013).
Identitas nasional Indonesia merujuk kepada bangsa yang majemuk yang tergambar dari kemajemukan suku bangsa, agama, kebudayaan, serta bahasa. Kebudayaan merupakan salah satu unsur identitas nasional yang merupakan patokan nilai-nilai etika dan moral baik yang tergolong ideal atau yang seharusnya maupun yang bersifat operasional dan aktual dalam kehidupan sehari-hari. Seperti banyaknya budaya yang ada di Indonesia yang membentuk identitas nasional sebagai bangsa yang kaya akan kemajemukan.
Koento Wibosono menyebutkan bahwa identitas nasional merupakan menifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri khas yang berbeda dengan bangsa lain (Srijanti, 2008). Identitas nasional merupakan identitas yang melekat dalam suatu kelompok yang didasarkan pada adanya kesamaan budaya, agama, bahasa, keinginan, dan cita-cita. Terkait penelitian ini, penulis melihat bahwa identitas nasional suatu bangsa tercermin dari nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh suatu negara. Dimensi budaya merupakan salah satu elemen dalam pembentukan identitas nasional. Identitas nasional bangsa Indonesia dalam hal ini tercermin dari dimensi budaya yang dimiliki oleh Indonesia yakni Tari Saman Gayo.
Indonesia. Seperti mengakui bahwa Tari Saman pada hakikatnya adalah milik masyarakat Gayo bukan masyarakat Aceh. Hal yang perlu menjadi perhatian dalam tulisan ini adalah pada fakta yang ada, sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mengetahui bahwa Tari Saman adalah milik Aceh, padahal itu adalah hal yang keliru.
Konsep Soft Power
Power adalah kemampuan suatu aktor baik individu kelompok atau negara-bangsa untuk mempengaruhi pikiran dan tingkah laku aktor lain sehingga mau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak disukainya (Mas’oed, 1990). Secara Sederhana power merupakan kemampuan untuk mengontrol atau menguasai sesuatu. Tujuan berdirinya suatu negara sendiri ialah mengutamakan pencapaian powernya kepada negara lain. Soft power menekankan pada penguasaan terhadap bentuk-bentuk kekuatan nasional suatu negara yang tidak terlihat seperti ideologi, kebudayaan, dan nilai-nilai moral (Lum, 2008).
Soft power diartikan sebagai kemampuan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dengan cara menarik perhatian pihak lain, daripada mempermainkan mereka dengan dorongan materi, kemampuan ini lebih kepada mengajak membujuk daripada memaksa. Soft power merupakan kemampuan untuk menarik dan mempengaruhi aktor lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tidak melalui pemaksaan yang bersifat kekerasan.
Maka perkembangan diplomasi membawa aktor hubungan internasional untuk membahas isu-isu yang lebih luas seperti isu non tradisional seperti Hak Asasi Manusia, kebudayaan, ataupun perdagangan (Nye, 2004). Begitu pun juga dengan aktor hubungan internasional yang dahulu hanya didominasi oleh negara, maka para era diplomasi modern, kegiatan diplomasi juga dilakukan oleh aktor non-negara.
Dalam konteks Indonesia, daya tarik budaya merupakan salah satu sumber soft power bangsa ini. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar namun beraliran moderat, Indonesia memiliki modal ini. Selain itu, keanekaragaman budaya dan kearifan lokal juga turut berkontribusi memperkuat soft power bangsa ini. Soft power yang dimiliki oleh suatu Negara pada dasarnya bergantung pada tiga sumber penting, yakni budaya, nilai politis, dan kebijakan luar negeri (Nye, 1990: 15).
Soft power dapat diaktualisasikan sebagai kekuatan nasional suatu negara, yang didasarkan pada nilai-nilai, ideologi dan ciri-ciri budaya yang secara konkret dapat diperlihatkan melalui kebijakan dan perilaku negara atau produk-produk yang dihasilkan oleh negara tersebut seperti gaya hidup, musik, film, dan makanan yang dikonsumsi secara luas.
Terdapat berbagai sumber daya yang luas untuk dikonversikan menjadi soft power melalui strategi konversi yang tepat. Sumber daya tersebut mencakup budaya, nilai-nilai, kebijakan yang tepat, model domestik yang baik, dll. Berkaitan pula dengan pembahasan penulis, bahwa apabila kemampuan, potensi atau modal budaya yang dimiliki oleh Indonesia dapat dikembangkan dengan baik dan optimal melalui langkah positif seperti diplomasi budaya, maka potensi tersebut akan mampu menjadi soft power yang memberikan dampak positif bagi Indonesia itu sendiri (Anugrahaningtyas, 2012).
Dalam hal mengembangkan soft power nya, Indonesia mengutamakan kebudayaan dan kebijakan luar negeri sebagai kekuatan utama dalam menarik simpati dan kepercayaan masyarakat internasional. Kultur atau Kebudayaan dapat diartikan sebagai satu unit interpretasi, ingatan dan makna yang ada di dalam manusia dan bukan sekedar dalam kata-kata (Liliweri, 2002). Kebudayaan itu mempengaruhi nilai-nilai yang dimiliki manusia, bahkan sikap dan perilaku manusia. Aktor kebudayaan itu sendiri adalah manusia, karena setiap tindakan yang dilakukan manusia selalu dalam ruang lingkup kebudayaan. Kemampuan kebudayaan yang bisa mempengaruhi sikap dan perilaku individu/masyarakat tidak menutup kemungkinan kebudayaan juga dapat mempengaruhi sikap dan perilaku suatu negara.
Pengembangan sayap diplomasi budaya Indonesia melalui diplomasi budaya Tari Saman menjadi cara cerdas Pemerintah Indonesia untuk merangkul dunia. Tari Saman merupakan sarana diplomasi budaya lintas negara yang sangat efektif bagi Indonesia untuk mampu mendapatkan identitas nasionalnya. Strategi penggunaan media massa di bidang komunikasi televisi juga banyak memberikan keuntungan bagi pengembangan soft power yang dilancarkan oleh Pemerintah Indonesia melalui penampilan Tari Saman tersebut di luar negeri.
SOFT DIPLOMASI TARI SAMAN DAN PENGUATAN IDENTITAS LOKAL Pengakuan Unesco Atas Tari Saman Gayo
Fungsi Tari Saman antara lain (Putriani, 2012):
Pertama, hiburan dan keindahan karena dalam gerakan Tari Saman tergambarkan keindahan dan estetika yang mampu memukau siapa pun yang melihatnya. Hal tersebut disebabkan karena setiap liriknya terdengar berirama khas, ditambah lagi dengan gerakannya yang memiliki banyak variasi. Hal lain yang menyebabkan Tari Saman indah adalah karena selang seling gerakannya yang cepat, sepintas terlihat seakan-akan bisa berbenturan, namun hal itu tidak terjadi karena setiap penarinya menempatkan diri pada posisi yang tepat.
Kedua, jati diri masyarakat Gayo Lues, saman diyakini adalah identitas diri mereka. Dengan Tari Saman sebagai budaya maka nilai-nilai yang terdapat di dalam saman itu sendiri akan selalu dihayati oleh masyarakatnya baik nilai agama Islam maupun nilai adat yang bernuansa Islam.
Ketiga, penegakan hukum. Tari Saman memiliki nilai yang mencerminkan penegakan hukum terutama pada saman pesta rakyat, di dalam saman tersebut jelas sekali berlakunya penegakan hukum. Upaya penegakan hukum itu tergambar ketika pemuka adat dari tuan rumah menyampaikan nasihat yang disebut keketar. Maknanya adalah apabila terdapat kesalahan maka akan dikenakan sanksi berdasarkan tingkat pelanggarannya.
Keempat, media dakwah dan informasi, saman berfungsi sebagai media penyampaian pesan dakwah dan suatu informasi.
Kelima, sebagai sarana pemersatu masyarakat Gayo Lues.
Keenam, Tari Saman sebagai sarana pelestarian budaya.
Ketujuh, Terselenggaranya Tari Saman dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk berjualan (Peluang Pasar).
yang keliru dan kurangnya pemahaman atas keanekaragaman sejati kebudayaan, pikiran nasionalisme yang sempit dan adanya kompetisi yang berlebihan antar negara dalam mendahulukan kepentingan mereka sendiri menimbulkan kontroversi dan kesalahpahaman yang sebenarnya tidak perlu terjadi yang dapat berakibat terciptanya ketegangan bahkan juga konflik (www.koreana.or.kr).
Untuk dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia, situs harus memilik nilai universal yang luar biasa dan memenuhi setidaknya satu dari sepuluh kriteria seleksi. Kriteria ini dijelaskan dalam Pedoman Operasional untuk Pelaksanaan Konvensi Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Kriteria tersebut secara teratur direvisi oleh Komite Khusus yang mencerminkan evolusi konsep Warisan Dunia itu sendiri (whc.unesco.org). Outstanding Universal Value menunjukkan signifikansi budaya dan/atau alam yang begitu luar biasa sehingga melampaui batas nasional dan menjadi penting untuk generasi sekarang dan masa depan seluruh umat manusia. Dengan demikian, perlindungan permanen terhadap warisan ini adalah sangat penting bagi masyarakat internasional secara keseluruhan. Warisan dunia minimal harus mempunyai satu dari kriteria sebagai berikut (sosbud.kompasiana.com): 1) Merupakan karya jenius kreatif dari manusia. 2) Berisi nilai-nilai kemanusiaan. 3) Mengandung kesaksian yang unik dari sebuah tradisi budaya atau peradaban yang hidup. 4) Menjadi contoh yang luar biasa yang menggambarkan tahap signifikan dalam sejarah manusia. 5) Merupakan representasi dari budaya atau interaksi manusia dengan lingkungan. 6) Secara nyata dikaitkan dengan tradisi atau peristiwa dalam hidup, ide-ide atau dengan keyakinan. 7) Memiliki keindahan dan estetika yang luar biasa. 8) Menjadi contoh yang luar biasa
warisan budaya dan alam, serta berkomitmen untuk melestarikan warisan dunia untuk generasi mendatang (unesco.org).
Namun adanya rasa ketidakpuasan dari negara-negara berkembang, dari negara-negara berkembang menganggap bahwa konvensi warisan budaya tahun 1972 ini terlalu berpihak kepada negara-negara maju, sehingga negara-negara berkembang merasa adanya sulit sekali mendapatkan perlindungan dan perlu adanya perubahan dalam konvensi tersebut. Maka dari itu pada tahun 2003 adanya peratifikasian kembali konvensi perlindungan terhadap warisan budaya. Dengan adanya perubahan dalam kriteria, definisi serta penambahan protokol. Konvensi ini mempunyai tujuan yang sama sebagai bentuk perlindungan terhadap keberagaman budaya dan menjamin akan ada keberlanjutan kreativitas dari budaya yang tersebut sehingga tidak menjadi punah. Sehingga pada dewasa ini peran UNESCO dalam melindungi warisan budaya mengacu kepada konvensi warisan budaya tak benda tahun 2003.
Sesuai Konvensi 2003 UNESCO, dalam Pasal 2, Ayat 1 disebutkan bahwa warisan budaya tak benda meliputi segala praktek, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan serta alat-alat, benda, artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengannya yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok, dan dalam hal tertentu perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka. Warisan Budaya Tak benda dikenal lebih akrab sebagai warisan budaya hidup. Bandingannya adalah situs alam dan situs budaya, yang dikenal sebagai warisan benda (www.kompas.com).
UNESCO telah mengadopsi Konvensi tentang Pelindungan Warisan Budaya Tak benda pada Sesi ke-32 Konferensi Umum yang dilaksanakan di Paris, pada 17 Oktober 2003. Konvensi 2003 mulai beroperasi sejak April 2006 yang bertujuan meningkatkan visibilitas atau kesadaran umum, mendorong penghormatan dan pelindungan beraneka ragam warisan budaya tak benda atau budaya hidup melalui kerja sama antara pemerintah dan komunitas pada tingkat nasional, sub regional, regional maupun internasional.
anggota Komite Antar Pemerintah beranggota 24 Negara, dengan masa bakti empat tahun, pada Sidang Umum para Negara Pihak di Paris, Juni 2010 (www.republika.co.id).
Konsep UNESCO dalam warisan budaya secara luas menerapkan definisi antropologi budaya, yang telah memainkan peran sentral dalam membuat orang sadar akan pentingnya warisan budaya masyarakat non Barat yang sampai pada dewasa ini kurang dihargai. Pada inti dari konsep ini, yang menyokong misi UNESCO adalah pemahaman bahwa esensi dari budaya tidak begitu banyak produk sebagai kegiatan budaya dan ekspresi simbolik yang dianut oleh orang-orang. Selain itu, konsep budaya UNESCO membuat penjelasan bahwa warisan budaya tak benda dimiliki bukan hanya oleh negara tetapi oleh individu-individu, kelompok, dan masyarakat terkait dengan asal-usul dan penggunaan.
Terkait hubungan berbagai kebudayaan yang terus berubah, diperlukan hampir lebih dari tujuh dekade dalam abad ke-20 sebelum kebudayaan mulai dipahami sebagai sesuatu yang terus berubah. Sebelumnya, ada kecenderungan untuk memandangnya sebagai sesuatu yang tidak berubah, di mana konten budaya diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui berbagai cara, seperti pendidikan atau berbagai jenis kegiatan pengenalan. Pada saat ini yang diperlukan selanjutnya adalah menentukan berbagai kebijakan yang menempatkan perbedaan budaya pada sisi positif sehingga kelompok dan individu yang saling berhubungan memahami bahwa dalam perbedaan ini perlu adanya suatu dorongan untuk terus berevolusi dan berubah serta tidak menutup diri.
Indonesia mengajukan Tari Saman Gayo ke UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia tak benda sejak Maret 2010 yang disertai dengan proposal kertas akademis. Menurut Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Arief Rachman mengungkapkan bahwa Tari Saman Gayo telah memenuhi empat kriteria yang ditetapkan oleh UNESCO. Empat kriteria tersebut meliputi keaslian atau originalitas, keunikan, filosofi yang bersifat universal, serta memiliki daya tular terhadap kehidupan masyarakat Indonesia secara meluas (www.bbc.co.ok).
“Yang pertama originilitas, yang kedua keunikan dan yang ketiga apakah dia mempunyai nilai-nilai filosofi yang universal atau tidak, dan yang keempat apakah dia mempunyai daya tular ke masyarakat Indonesia secara meluas. Lalu yang kedua UNESCO juga harus memastikan bahwa program-program yang diajukan itu mempunyai program-program proteksi atau pelestarian dan mempunyai program promosi, program yang sifatnya edukasi yang bisa ditangkap oleh generasi muda yang lain-lainnya (www.unesco.org).”
Terkait kriteria yang ditetapkan UNESCO, Indonesia telah memenuhi untuk keempat kriteria tersebut:
U.1 Elemen merupakan warisan budaya dunia yang bersifat asli dan diwariskan dari generasi ke generasi, memiliki filosofi sebagai penyambung kekerabatan, diciptakan oleh masyarakat dan kelompok untuk menunjukkan identitas komunitas. Di dalamnya terdapat nilai-nilai ketuhanan, patriotisme, kekuatan, dan sejarah masyarakat Gayo Lues yang berkelanjutan.
U.2 Unsur ini membutuhkan perlindungan yang mendesak. Karena memiliki risiko terhadap kelangsungan hidup, meskipun sudah ada upaya dari masyarakat, kelompok, individu, atau negara yang bersangkutan. Dalam hal ini, negara-negara harus bisa memperlihatkan dan menjelaskan secara spesifik bahwa unsur yang didaftarkan benar-benar membutuhkan perlindungan dan unsur yang didaftarkan juga mempunyai kriteria yang unik.
U.3 Langkah-langkah perlindungan yang diuraikan dapat memungkinkan masyarakat, kelompok, atau individu yang bersangkutan untuk melanjutkan praktek dan transmisi unsur. Negara yang bersangkutan harus bisa menguraikan strategi pengamanan yang koheren dan sistematis. Dengan anggaran dan jadwal yang sesuai. Langkah-langkah ini juga harus bisa meningkatkan kapasitas dan memberikan pengetahuan terhadap masyarakat.
Tari Saman Gayo yang berasal dari Daerah Gayo Lues Aceh itu disahkan sebagai warisan budaya dunia dalam sidang UNESCO pada 24 November 2011 di Bali International Convention Center. Berkas nominasi Tari Saman disusun secara teliti dan diajukan kepada UNESCO pada bulan Maret 2010 oleh pihak Pemerintah Indonesia. Pengajuan berkas tersebut setelah mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, Bupati Gayo Lues, dan masyarakat Gayo. Setelah berkas diperiksa oleh Sekretaris UNESCO dan Pakar Internasional untuk selanjutnya diajukan dalam sidang di Bali. Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono menyebutkan bahwa Tari Saman Gayo masuk dalam daftar warisan budaya Tak Benda yang memerlukan perlindungan mendesak (detik.com).
Dalam sidang yang dihadiri oleh 69 negara tersebut, Indonesia dipercaya oleh 137 negara anggota konvensi UNESCO 2003 sebagai tuan rumah dan Tari Saman Gayo secara resmi menjadi warisan budaya dunia bersama Hezhen Yimakan Storytelling dari China, Iranian Dramatic Storytelling dari Iran, dan beberapa nominasi lainnya. Penominasian tersebut juga dihadiri oleh Direktur Jenderal UNESCO Madame Irina Bokova, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, dan Wakil Direktur Jenderal Bidang Kebudayaan UNESCO, Frenceso Bandarin.
Upaya Republik Indonesia Melestarikan Tari Saman Melalui Saman Summit 2012
Saman Summit merupakan wadah untuk menjaga berbagai keragaman budaya yang ada di Indonesia dan memastikan bahwa Tari Saman Gayo masih terjaga keasliannya karena berhadapan dengan hakikat kebudayaan yang melihat bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan. Saman Summit juga menyoroti sejumlah seni tradisi lain yang berkait dengan adat dan agama Islam yang berkembang di seluruh Indonesia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa adanya pelaksanaan Saman Summit merupakan ajang untuk menggerakkan banyak pihak agar dapat melihat kebudayaan apa saja yang dimiliki Indonesia serta cara untuk menjaga dan melestarikan serta mengembangkannya.
Pasca deklarasi UNESCO dan pengakuan terhadap Tari Saman sebagai warisan budaya dunia tak benda asli Indonesia, Saman Summit hadir sebagai berkah yang membanggakan, karena bisa dipandang sebagai amanah global untuk turut memiliki, memperhatikan, dan bertanggung jawab dalam memelihara dan mengembangkan Tari Saman sebagai ikon budaya Indonesia yang mendunia dalam platform global sebagai tarian yang mendapatkan apresiasi publik.
Saman Summit merupakan salah satu upaya Pemerintah Indonesia dalam melestarikan Tari Saman. Setelah diakui oleh UNESCO dan masuk dalam daftar warisan budaya dunia tak benda asli Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman menggelar Saman Summit pada 14-16 Desember pada tahun 2012. Acara yang berlangsung di lapangan Meseum Fatahillah Jakarta itu merupakan agenda pertama kali yang diselenggarakan dan disebut sebagai bentuk penghargaan terhadap Tari Saman Gayo yang pada 24 November 2011 telah masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO.
Jiwa dan semangat Saman Summit 2012 tersebut berasal dari Bejamu Besaman di Daerah Gayo Lues Aceh yang merupakan adat untuk membangun jalinan persaudaraan melalui kegiatan Tari Saman. Saman Summit diharapkan mampu mendapatkan tiga sasaran. Pertama, pertunjukkan kesenian yang terjalin oleh Saman sebagai tari musik yang berkembang di masyarakat Gayo Lues. Kedua, kajian analitis akan Tari Saman beserta kesenian lain yang terkait baik dari aspek teknis (gerak, musik, sastra) maupun konteks sosial budaya serta sejarah. Ketiga, apresiasi terhadap visual auditif melalui rekaman video dan jepretan foto dalam hal kaitannya dengan Tari Saman Gayo.
Summit diharapkan dapat menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa Saman merupakan sebagai pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan tanah air Indonesia khususnya masyarakat Gayo yang ada di Aceh.
Saman sudah menjadi salah satu ikon budaya Indonesia yang menunjukkan identitas bangsa. Tidak hanya di Indonesia, tetapi dunia juga telah mengenal Tari Saman. Dengan Saman Summit, masyarakat Indonesia diharapkan bisa lebih mencintai Saman sebagai bagian budaya bangsa. Dalam agenda tersebut, Wamendikbud Wiendhu Nuryati menyatakan bahwa semua elemen bangsa harus turut melestarikan Saman dan semua budaya yang dimiliki Indonesia. Itu berarti bahwa Bangsa Indonesia harus melindungi, memproteksi ciri dan prinsip Tari Saman sekaligus mengembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Penyelenggaraan Saman Summit merupakan harapan dari masyarakat Gayo Lues kepada Pemerintah Pusat untuk menjaga kelestarian Tari Saman Gayo.
Pada dewasa ini, Tari Saman yang ada di Republik Indonesia mempunyai banyak versi. Hal tersebut terjadi, Tari Saman yang asli dari Gayo Lues ini dikembangkan oleh Syekh-syekh yang pindah kota ataupun wilayah sehingga muncul banyaknya Tari Saman versi baru. Munculnya Tari Saman versi baru ini muncul secara perlahan-lahan, dari perubahan gerakan, nyanyian, kostum dan jumlah penari.
Tari Saman ini sebenarnya hanya dimainkan oleh laki-laki, namun seiring berjalannya waktu, Tari Saman ini dimainkan oleh perempuan juga, dengan nyanyian yang berbeda, dan kostum yang berbeda. Hal ini muncul karena Tari Saman telah dikembangkan dan telah disebarluaskan melalui acara-acara keagamaan atau acara yang bukan merupakan hari raya agama. Menurut para responden, pada dewasa ini Tari Saman versi baru ini semakin berkembang dan diperhatikan oleh masyarakat Republik Indonesia. Sehingga Tari Saman yang asli berasal dari Gayo Lues ini mulai tertutupi dengan Tari Saman versi baru ini. Banyak masyarakat republik Indonesia lebih tertarik dengan Tari Saman versi baru dibandingkan Tari Saman aslinya. Masyarakat Republik Indonesia juga lebih mengetahui bahwa Tari Saman yang asli ialah Tari Saman yang merupakan versi baru ini. Sehingga Tari Saman yang asli dari Gayo Lues ini mulai punah dengan munculnya tarian-tarian Saman versi baru ini. Maka dari itu, para responden merasa perlu adanya upaya untuk melakukan perlindungan terhadap Tari Saman ini.
KESIMPULAN
Aktualisasi soft diplomacy Indonesia melalui Tari Saman Gayo dalam promosi perdamaian dunia dipandang sebagai proses bagaimana Indonesia mampu mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Melalui berbagai proses dari pengajuan dokumen, kerjasama berbagai pihak, hingga hadirnya kepercayaan bahwa budaya tersebut layak diakui oleh dunai. Promosi perdamaian yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pernyataan bagaimana menjaga agar tidak terjadi konflik antara masyarakat Gayo dan Aceh karena persoalan Tari Saman yang terus berkembang.
Di sisi lain konflik internal di Aceh juga terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat Indonesia mengenai Tari Saman Gayo itu sendiri. Dimensi lain dari makna perdamaian dunia adalah agar tidak terulang kembali kasus klaim budaya seperti yang dialami oleh Indonesia beberapa tahun terakhir, khususnya dengan Malaysia. Penguatan identitas lokal yang dimaksud dalam paparan tulisan ini adalah bahwa memang Tari Saman merupakan identitas yang dimiliki oleh masyarakat Gayo yang ada di Aceh. Meski Saman terus berkembang, Tarian versi aslinya merupakan penunjukkan identitas lokal terhadap suku Gayo sebagai pemilik asli tarian ini.
Pasca pengakuan UNESCO, pemerintah nasional maupun daerah belum mengambil tindakan nyata untuk mempromosikan Tari Saman ini sebagai hasil budaya lokal milik masyarakat Gayo. Inilah yang menjadi alasan mengapa banyak masyarakat Indonesia tidak paham hakikat Tari Saman yang sesungguhnya, Karena dalam pandangan mereka Tari Saman adalah identitas dan brand Aceh, padahal itu hal yang keliru. Tari Saman adalah brand masyarakat Gayo yang ada di Aceh, bukan brand Aceh. Mengingat Gayo dan Aceh sendiri merupakan dua suku yang berbeda dan tinggal di tempat yang berbeda. Jika tidak ada tindakan nyata dari pemerintah baik daerah maupun nasional, dikhawatirkan akan terjadi konflik internal di Aceh karena masing-masing saling klaim bahwa Tari Saman adalah branding mereka.
hadir kesimpulan berbeda seperti yang ada dalam paparan tulisan ini, jika peneliti lain melihat dari sudut pandang yang berbeda dan dengan alat analisa yang berbeda pula.
REFERENSI
Buku
Perwita, Agung. 2011. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Bandung : Rosdakarya
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & B, Bandung : Alfabeta.
Srijanti, et al. 2008. Etika Berwarga Negara Jilid 2, Jakarta : Salemba Empat
Busrizalti. 2013. Negara Kesatuan, HAM & Demokrasi serta Ketahanan Nasional, Yogyakarta : Total Media.
Mas’oed, Mohtar. 1990. Ilmu Hubungan Internasional Disiplin dan Metodologi, Jakarta : LP3ES. Nye, Joseph. 2004. Soft Power, the Means to Success in World Politics,
---. 1990. Soft Power, New York: Harvard University.
Liliweri. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar budaya, Yogyakarata: LKIS
Rudy, May. 2003. Hubungan Internasional Kontemporer dan Masalah-masalah Global, Bandung :Refika Aditama.
Mallisan, Jan. 2005. Wileding Soft Power; The New Public Diplomacy, Hague: Netherland Institute of International Relations.
Jurnal, Laporan Penelitian, Paper Conference
Alunaza, Hardi. (2015). Analisa Diplomasi Budaya Melalui Tari Saman Gayo dalam
Mengukuhkan Identitas Nasional Bangsa, Jurnal Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Vol. IV No. (1), 88
Anugrahaningtyas, Prima. 2012. Kepentingan Indonesia dalam Diplomasi Publik Melalui Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia BSBI dan Indonesia channel 2011, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang
Christopher. 2008. Soft Power in Asia, The Chicago Council on Global Affairs in partnership with East Asia Institute.
Hendrastomo, Grendi. 2007. Nasionalisme VS Globalisasi, Hilangnya Semangat Kebangsaan. Jurnal Dimensia, Vol 1 No.1
Heniwaty, Yusnizar. (2015). Tari Saman pada Masyarakat Aceh; Identitas dan Aktualisasi. Medan: Universitas Negeri Medan.
Lum, Thomas, at all. 2008. China’s Soft Power in Southeast Asia, CRS Report for Congress. Malikusshaleh. (2013). Tari Saman dalam Pembangunan Pariwisata di Kabupaten Gayo Lues,
Universitas Sumatera Utara.
Manuaba, Putera. Budaya Daerah dan Jati Diri Bangsa : Pemberdayaan Cerita Rakyat dalam Memasuki Otonomi Daerah dan Globalisasi, Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Th XII, No 4, Oktober 1999
Putriani, el al. 2012. Pertunjukan Saman Di Blangkejeren Aceh: Analisis Makna Gerak Tari Dan Teks, Fungsi Sosio Budaya, Serta Struktur Musik, Universitas Sumatera Utara
Putriani. 2012. Universitas Sumatera Utara. Pertunjukan Saman Di Blangkejeren Aceh: Analisis Makna Gerak Tari Dan Teks, Fungsi Sosio Budaya, Serta Struktur Musik.
Saiman. (2016). Tantangan Pelestarian Budaya Nasional di Era Globalisasi diakses via
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/bestari/article/view/105/109 pada tanggal 16/09/2016 pukul 16.37 WIB
Samsuri. 2011. Identitas Nasional Indonesia di Tengah Pergaulan Internasional, Yogyakarta: UNY.
Wandasari. 2015. Aktualisasi Budaya Daerah Sebagai Kearifan Lokal Untuk Memantapkan Jatidiri Bangsa. Makalah disampaikan pada Konferensi Internasional Budaya Daerah di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo.
Website
BBC Indonesia. Unesco Tetapkan Tari Saman sebagai Budaya Dunia dalam
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/11/111124_samanunesco.shtml
Berinvestasi dalam Keanekaragaman Budaya dan Dialog Antar Budaya dalam
https://www.google.com/#q=http%3A%2F%2Fwww.unesco.org%2Fnew%2Ffileadmin %2FMULTIMEDIA%2FHQ%2FCLT%2Fpdf%2Findonesie.pdf) diakses pada (10/02/2014, 09.32 WIB)
Bersama Saman Menjadi Indonesia dalam http://samansummit.lpsn.name/news/bersama-saman-menjadi-indonesia diakses pada (26/02/2014, 08.56 WIB)
Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage 2003 dalam
http://unesdoc.unesco.org/images/0013/001325/132540e.pdf diakses pada (09/02/2014, 08.46 WIB)
Goenawan Mohammad pada keynote speech Saman Summit 2012 dalam
http://samansummit.lpsn.name/news/-makalah-tentang-komunitas-dan-identitas diakses pada (10/02/2014, 20.38 WIB)
Kompas.com. Tari Saman Resmi Diakui UNESCO dalam
http://oase.kompas.com/read/2011/11/24/20173320/Tari.Saman.Resmi.Diakui.UNESCO
diakses pada (20/02/2014, 05.17 WIB)
Menko Kesra Bersyukur Tari Saman Diakui UNESCO dalam
http://www.republika.co.id/berita/senggang/seni-budaya/11/11/24/lv5gnk-menko-kesra-bersyukur-tari-saman-diakui-unesco diakses pada (26/02/2014, 09.09 WIB)
Muhammad Ramdan, Dadan. Keunikan Tari Seribu Tangan dalam
http://www.wisatamelayu.com/id//294-Saman-Keunikan-si-Tari-Tangan-Seribu diakses pada (02/12/2013, 18.34 WIB)
Op. Cit melalui Bersama Saman Menjadi Indonesia dalam
http://samansummit.lpsn.name/news/bersama-saman-menjadi-indonesia diakses pada (11/02/2014, 09.45 WIB)
Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention dalam
http://sosbud.kompasiana.com/2012/06/19/warisan-dunia-asal-indonesia-471676.html
diakses pada (09/02/2014, 08.25 WIB)
Pelestarian Budaya Tak Benda dalam http://www.koreana.or.kr/months/news_view.asp? b_idx=2652&lang=in&page_type=list diakses pada (09/02/2014, 08.02 WIB) Saman Summit : Bentuk Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda dalam
Saman Summit 2012 dalam http://proximaconvex.com/home/?portfoliocpt=saman-summit-2012
diakses pada (26/02/2014, 08.58 WIB)
Saman Summit dihelat di Taman Fatahillah dalam http://kultur-majalah.com/index.php/tari/379-saman-summit-2012-dihelat-di-taman-fatahillah diakses pada (10/02/2014, 16.53 WIB) Selection Criteria of UNESCO dalam http://whc.unesco.org/en/criteria/ diakses pada
(09/02/2014, 21.26 WIB)
Substance Programming Report CAP Thematic Outline: Protecting, conserving and safeguarding cultural heritage (395) dalam http://sister36c5.unesco.org/Report.aspx?
activity=395&report=1&mnret=1 diakses pada (10/02/2014, 08.54 WIB) Tari Saman Gayo dan Tari Saman Baru Dijembatani dalam
http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/tari-saman-gayo-dan-saman-baru-dijembatani diakses pada (11/02/2014, 17.06)
Tari Saman Mengalami Dilema Meski Sudah Mendunia dalam http://m.jpnn.com/news.php? id=150595 diakses pada (10/02/2014, 20.01 WIB)
Tari Saman Resmi Diakui UNESCO dalam http://www.thecrowdvoice.com/post/tari-saman-resmi-diakui-unesco-992670.html diakses pada (10/02/2014, 10.54 WIB)
UNESCO tetapkan Tari Saman sebagai Budaya Dunia dalam
http://news.detik.com/read/2011/11/24/191151/1775119/10/unesco-tetapkan-tari-saman-sebagai-warisan-budaya-dunia diakses pada (10/02/2014, 10.41 WIB)
UNESCO. Convention: Saman Dance (Indonesia) Urgent Safeguarding List-2011 p; 25 dalam