Dimana dalam persengketaan waris diatas yang
bersengketa adalah hazekieili marunduri, azamudin marunduri, fangoja marunduri, dan safunaso marunduri dimana mereka telah mengajukan gugatan ke pengadilan negri gunumg sitoli,nias kepada tergugatnya adalah azali marihawan (tergugat 1) dan zakalia marunduri (tergugat 2).
Jika di telusuri para penggugat dan tergugat masih
mempunyai hubungan kekerabatan. Dimana ayah penggugat mempunyai saudara kandung bernama fataya marunduri dan satima marunduri, meskipun besaudara fataya marunduri dan satima marunduri beraga islam sedangkan ayah tergugat beragama kristen.
Tergugat 1 (azali marihawan) adalah anak dari satima marunduri, dan dia merupakan keponakan dari fataya marunduri,
tergugat 2 ( zakalia marunduri) adalah masi sepupu dengan fataya marunduri karena nenek mereka bersaudara kandung dan sama” beragama islam.
Persoalan muncul ketika fataya marunduri dan istrinya meninggal dunia dan ia meninggalkan harta warisan berupa tanah dan kebun kelapa yang sangat luas. Kebun kelapa tersebut di dapat dari warisan ayahnya TETANDROSA MARUNDURI kakek dari penggugat dan tergugat 1.
Para penggugat merasa dia paling berhak atas warisan tersebut di karenakan fataya marunduri tudak mempunyai anak hal itu sesuai dengan hukum adat nias. Dimana para
penggugat adalah merupakan keponakan dari fataya marunduri tepi mereka berbeda agama. Sebaliknya tergugat merasa
merekalah yang paling berhak untuk mewaris karena mereka sama” beragama islam berdasarkan sesuai hukum faraidl.
Sebelumnya upaya perdamaian telah dilakukan oleh kedua belah pihak tetapi menemui jalan buntu. Di pengadilan, penggugat menghadiri 7 orang saksi, empat di antarnya
,enurut hukum adat nias para penggugat ini ah yang berhak mewarisi. di mana pada daerah hinako, tempat tinggal pewaris yang berlaku adalah hukum addat. Meskioun di dalam satu keluarga itu berbeda agama.
Dan para tergugat menghadirkan 6 orang saksi, salah sati dari mereka beragama kristen. Di mana para saksi tergugat ini pada intinya mengatakan di karenakan fataya marunduri
beragama islam, maka pembagian warisan sesuai dengan hukum islam.
Dalam pertimbangan hakim TW siregar melihat bahwa keterangan saksi dari penggugatlah yg kuat dasar
pengetahuannya, dan dapat memberikan contoh yang kongkrit berdasarkan sistem hukum adat di hinako. Di mana pada
sistem waris hukum adat lah yang berlaku. Oleh karena itu hakim dalam menentukan siapa yang berhak menjadi ahli waris dari mendiang fathaya marunduri harus di pakai sistem hukum adat di nias. Misalnya Tergugat 2 (beragama islam)
wafat tanpa meninggalkan anak laki”, hartanya di bagi menurut hukum adat. Tergugat 2 sebagai anak perempuan hanya
mendapatkan peragih (pemberian) saja, bukan sebagai ahli waris.
Hakim juga megaskan dalam hukum adat nias menganut patrilineal (garis keturunan bapak). Yang merupakan ahli waris menurut hukum adat adalah laki-laki berdasarkan garis
keturunan ayah.
Walhasil hakim mengabulkan gugatan para penggugat. Walaupun mereka berbeda agama dari pewaris, mereka tetap berhak mendapatkan harta warisan dari pewaris sesuai dengan hukum adat nias.
Semenjak perkara ini di putus oleh hakim TW siregar pada 13 agustus 1970, dan menjadi salah satu bagian daribputusan dalam buk yurisprudensi indonesia yang di terbitkan