Hubungan Pemanfaatan Waktu Luang dan Pergaulan Teman
Sebaya dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN
Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang
Proposal Penelitian
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Skripsi Dosen Pembimbing I :
Fitria Dwi Prasetyaningtyas, S.Pd., M.Pd. Dosen Pembimbing II :
Farid Ahmadi,S.Kom., M.Kom.,P.Hd.
Oleh
Nama : Dias Okwirayanto N NIM : 1401412467
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Halaman Pengesahan
Proposal penelitian berjudul “Hubungan Pemanfaatan Waktu Luang
dan Pergaulan Teman Sebaya dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V
SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang”
telah diseminarkan pada :
Hari
:
Tanggal
:
Semarang, Maret 2016
Disetujui oleh:
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Fitria Dwi Prasetyaningtyas, S.Pd., M.Pd. Farid Ahmadi, M.Kom.,P.Hd. NIP.198506062009122007 NIP.197701262008121003
Mengetahui Ketua Jurusan PGSD
1. JUDUL PENELITIAN
Hubungan Pemanfaatan Waktu Luang dan Pergaulan Teman Sebaya dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang
2. BIDANG KAJIAN
Manajemen Waktu/Psikologi Perkembangan 3. PENDAHULUAN
3.1 Latar Belakang
pendidikan. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik. (Permendikbud No.22 Th.2006).
Dalam mencapai hasil belajar yang maksimal dan melstih peserta didik yang mampu mengembangkan diri sesuai bakat, minat, dan kemampuan, peserta didik harus memperhatikan kegiatan yang terkait pembelajarannya ataupun kegiatan di luar pembelajaran seperti kegiatan diwaktu luang dan kegiatan peserta didik dengan teman sebayanya . Pemanfaatkan waktu luang dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan menjaga pergaulan dengan teman sebaya dari pengaruh yang negatif diharapkan menjadi salah satu cara peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Dalam Permen PPPA No 12 tahun 2011 mengenai Indikator KLA pasal 7 disebutkan bahwa salah satu klaster hak anak adalah pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya. Yang dimaksud dengan pemanfaatan waktu luang tersebut yaitu memastikan anak memiliki waktu untuk beristirahat dan dapat memanfaatkan waktu senggangnya untuk melakukan berbagai kegiatan seni, budaya, olahraga dan aktivitas lainnya. Contoh: penyediaan fasilitas bermain, rekreasi dan mengembangkan kreatifitas anak. (Lampiran Permen PPPA No 12 tahun 2011 tentang Indikator KLA).
minggu mencapai 10,7 jam. Sedangkan untuk anak berumur 9-12 tahun mempunyai waktu luang rata-rata 5,8 jam per hari kerja , dan di akhir minggu mencapai 11 jam. Perhatikan tabel banyak anak yang mengisi aktivitas waktu luangnya dan variasi aktivitasnya dalam jam perminggu berdasarkan time diary data dari the 1997 Child Development Supplement (CDS) of the Panel Study of Income Dynamics (PSID) dalam Sandra L. Hofferth and Sally C. Curtin’s paper (2003) ,sebagai berikut :
Aktivitas di Waktu luang Anak Berumur 6 -8 tahun
Anak Berumur 9 -12 tahun
Menonton Televisi 96% 94%
Bermain 9 dari 10 anak 8 dari 10 anak
Mengerjakan PR 8 dari 10 anak 8 dari 10 anak
Hobi/ Kesenian 2% 4%
Menggunakan Komputer 13% 22%
Kegiatan di Luar Ruangan
(termasuk bermain) 14% 17%
Berikut tabel variasi aktivitas diwaktu luang dalam rata rata jam per minggu :
Menonton Televisi 13 jam per minggu 13 jam per minggu Bermain 12 jam per minggu < 12 jam per minggu Belajar < 2 jam per minggu > 2 jam per minggu Olahraga 5 jam per minggu > 5 jam per minggu
Hobi, Kesenian,
Menggunakan Komputer, Kegiatan di Luar Ruangan
, 1 jam per minggu , 1 jam per minggu
Beribadah + Membaca 1 jam per hari 1 jam per hari Ngobrol, Berkunjung,
Bermalas-malasan
8 jam per minggu 8 jam per minggu
luar. Pergaulan haruslah berkualitas agar mampu menjadikan prestasi belajar optimal. Kualitas tersebut dapat ditilik dari pihak yang terlibat saat bergaul dengan siswa, kegiatan yang dilakukan, serta intensitasnya.
Dari pengamatan peneliti di 5 SDN yang berada di Gugus Nyai Ageng Serang yaitu SDN Mangkangkulon 1, SDN Mangkangkulon 2, SDN Mangkangweran 01 dan SDN Mangkangwetan 02 dan SDN Mangunharjo terutama pada kelas V, jarang sekali siswa yang berkunjung ke perpustakaan saat jam istirahat tiba ataupun membaca materi untuk pelajaran selanjutnya. Siswa jajan di kantin, duduk-duduk di depan kelas dan bermain di lapangan. Setelah peneliti melakukan wawancara pada beberapa siswa, mengenai kegiatan waktu luang , ada yang menonton televisi dan bermain, ada juga siswa yang menyempatkan diri mengulang materi pelajaran yang telsh diajarkan.Oleh karena itu, siswa seharusnya dapat menggunakan waktu luangnya saat jam istirahat dengan hal yang bermanfaat, bahkan setelah siswa jajan di kantin , bisa berkunjung keperpustakaan ataupun membaca buku di kelas. Hal itu disebabkan oleh ajakan dan pengaruh teman sekelompoknya atau sejawatnya, saat berada disekolah siswa selalu melakukan hal-hal yang negatif bersama –sama, karena satu siswa yang melakukan teman-teman yang lain juga mengikuti dan menirukan, saat diluar sekolah, siswa yang menpunyai handphone / smartphone menjadi pusat pergaulan dan interaksi siswa .Kegiatan yang dilakukan hanya untuk internet dan bermain game online, dikhawatirkan dapat menganggu waktu belajar anak. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai UAS Semester 1 kelas Vdari 5 Sekolah Dasar Negeri di Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu (118 siswa) , dengan pedoman skala 5 dengan kualifikasi sangat memuaskan, memuaskan,cukup, kurang, dan sangat kurang serta batas ketuntasan minimal yang disepakati adalah 60 % (Poerwanti,2008:6-18). Dilihat dari rata-rata nilai dari mata pelajaran Pkn, Bahasa Indonesia, Matematika IPA, IPS, SBK,Bahasa Jawa, sebagai berikut :
Tingkat Penguasaan (%)
80 ke atas 10 Siswa Sangat Memuaskan
70-79 54 Siswa Memuaskan
60-69 43 Siswa Cukup
50-59 11 Siswa Kurang
49 ke bawah - Sangat Kurang
Masih banyaknya siswa kelas V yang tingkat penguasaannya belum memuaskan pada mata pelajaran Pkn, Bahasa Indonesia, Matematika IPA, IPS, SBK, Bahasa Jawa bisa disebabkan beberapa faktor pembelajaran seperti cakupan materi yang luas untuk dipelajari, Siswa belum memahami materi yang disampaikan oleh guru ,penggunaan media belajar yang belum maksimal. Selain itu, faktor di luar pembelajaran seperti pengaruh teman sejawat dalam pergaulan sehari-hari , aktivitas di luar jam pelajaran sekolah yang tidak digunakan untuk kegiatan positif karena bermain di lingkungannya ataupun di warnet untuk bermain game online. Saat anak memiliki waktu luang, aktivitas yang dapat menambah pengetahuan ataupun mengembangkan potensi seharusnya dapat digunakan siswa, selain untuk istirahat ataupun rekreasi.
the Rights of the Child and The Dakar Youth Empowerment Strategy juga mengakui , waktu luang merupakan ruang yang kritis dimana orang-orang muda mengekspresikan diri mereka sendiri dengan kreatif, mengambil bagian dalam seni dan aktivitas budaya, dan mengembangkan kepribadiannya. Budaya, kreatifitas, dan identitas merupakan pusat , gambaran corak dari konten pembelajaran selama waktu luang.( Irby dan Talman 2003:222 dalam
World YOUTH Report 2003).Pergaulan sehari-hari yang dilakukan sesorang dengan orang lain ada kalanya setaraf usianya, ilmu pengetahuannya, pengalamannya, dan sebagainya, dan ada kalanya kawan sepergaulan lebih rendah atau lebih tinggi dibidang tertentu. (Ahmadi dan Uhbiyati,2003:13). Pergaulan sehari-hari anak dengan anak dalam masyarakat juga ada yang setaraf dan ada yang lebih dewasa dibidang tertentu. Teguran anak yang lebih dewasa terhadap anak yang nakal, yang jorok , yang melakukan perbuatan berbahaya dan sebagainya. Sesama kawan berkumpul bercerita, bermain dengan displin, tukar menukar pengalaman, mengasah otak dengan cangkriman dsb, yang kesemua itu mengandung gejala pendidikan. (Ahmadi dan Uhbiyati,2003:28). Berawal dari latar belakang diatas peneliti akan melakukan penelitian korelasional. Peneliti mengambil judul penelitian “Hubungan Pemanfaatan Waktu Luang dan Pergaulan Teman Sebaya dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan TuguKota Semarang”.
3.2 Perumusan Masalah
Dari permasalahan diatas, peneliti merumuskan dua permasalahan sebagai berikut :
a. Bagaimana tingkat pemanfaatan waktu luang siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang ?
c. Adakah hubungan yang signifikan antara pemanfaatan waktu luang dengan hasil belajar siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang ?
d. Adakah hubungan yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan hasil belajar siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang ?
e. Adakah hubungan yang signifikan antara pemanfaatan waktu luang dengan pergaulan teman sebaya siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang ?
f. Adakah hubungan yang signifikan antara pemanfaatan waktu luang dan pergaulan teman sebaya secara bersama-sama dengan hasil belajar siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang ?
3.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas , tujuan dari penelitian ini sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan waktu luang siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang.
b. Untuk mengetahui tingkat pergaulan teman sebaya siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang
c. Untuk mengetahui adakah hubungan yang signifikan antara pemanfaatan waktu luang dengan hasil belajar siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang.
d. Untuk mengetahui adakah hubungan yang signifikan antara pergaulan teman sebaya dengan hasil belajar siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang
f. Untuk mengetahui adakah hubungan yang signifikan antara pemanfaatan waktu luang dan pergaulan teman sebaya secara bersama-sama dengan hasil belajar siswa kelas V SDN Gugus Nyai Ageng Serang Kecamatan Tugu Kota Semarang.
3.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, baik secara teoritis dan praktis :
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan bagi khalayak umum tentang hubungan pemanfaatan waktu luang dengan hasil belajar di sekolah dasar. Dengan mengetahui hasil hubungan pemanfaatan waktu luang dan pergaulan teman sebaya tersebut diharapkan dapat mengembangkan potensi, bakat, dan minat dalam rangka meningkatkan kualitas belajar siswa serta sebagai bahan masukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya terutama pada aktivitas siswa diwaktu luang. b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu :
1. Bagi Peneliti
Untuk memperoleh deskripsi tentang tingkat pemanfaatan waktu luang siswa dan pergaulan teman sebaya serta mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara pemanfaatan waktu luang dan pergaulan teman sebaya dengan hasil belajar IPS siswa.
2. Bagi Guru dan Orang tua
yang dapat mengembangkan potensi diri dan meningkatkan pengetahuan serta kreativitas anak didik.
3. Bagi Lembaga
Sebagai informasi dan masukan bagi sekolah untuk menyediakan wadah-wadah kegiatan untuk menyalurkan pemikiran dan ketrampilan anak , sehingga anak dapat menghasilkan sesuatu yang produktif dan inovatif di luar jam pelajarannya.
4. Bagi Peneliti lain
Diharapkan dapat menjadi bahan referensi penelitian yang terkait dan memberikan sumbangan penelitian dalam dunia pendidikan.
4. KAJIAN PUSTAKA 4.1 Kajian Teori
4.1.1 Waktu Luang
4.1.1.1 Pengertian Waktu Luang
Waktu luang terdiri dari kata waktu dan luang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , waktu merupakan seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung: lamanya (saat yang tertentu): saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu: kesempatan; tempo; peluang: ketika, saat: hari (keadaan hari): saat yang ditentukan berdasarkan pembagian bola dunia. Sedangkan luang yaitu ;lowong (tidak dihuni, ditempati, dan sebagainya); kosong: senggang; tidak sibuk. Sehingga waktu luang merupakan seluruh rangkaian proses, perbuatan, saat dalam keadaan yang senggang atau tidak sibuk.
Waktu luang sering dipandang sebagai bebas memilih untuk melakukan kegiatansetelah tanggung jawabnya diselesaikan. Kegiatan tersebut menyenangkan, memuaskan, dan santai yang dilakukan selama tidak dimaksudkan untuk pekerjaan lain (McGuire, F., Boyd, R., and Raymond, T., 1996 dalam Petry 2006).
sendiri, untuk menambah pengetahuan atau meningkatkan keterampilan pribadinya atau untuk meningkatkan partisipasi sukarela dalam kehidupan masyarakat setelah melaksanakan pekerjaan, keluarga dan tugas sosialnya. Dumazedier (1960) dalam veal (2004)
Waktu luang dianggap sebagai kesempatan untuk relaksasi dan kesenangan, tetapi sering orang menghabiskan waktu luang mereka di layanan khusus, belajar, pengembangan pribadi atau latihan fisik. Apapun waktu luang itu, yang penting untuk kualitas hidup masyarakat. (Taylor 2005;16)
Taylor (2005,16-19) mendefinisikan waktu luang sebagai berikut : a. Waktu luang sebagai waktu (leisure as time)
Pendekatan ini mengartikan waktu luang sebagai sisa waktu, setelah mengambil semua dari total waktu yang tidak dianggap sebagai waktu luang yaitu pekerjaan yang dibayar dan kegiatan wajib seperti tidur dan kebersihan diri. Namun, beberapa penggunaan waktu yang sulit untuk mengkategorikannya dengan pendekatan ini.. Makan, misalnya, bisa dilihat sebagai aktivitas yang diharuskan, tetapi juga aktivitas waktu luang saat pertemuan sosial dengan keluarga atau teman-teman. Dalam waktu luang memiliki satu pilihan atas cara menghabiskannya yaitu ‘discreationary time‘ dan ‘free time’ telah digunakan untuk menggambarkan pilihan tersebut. Namun, waktu tersebut tidak selalu dilihat sebagai waktu luang. Orang-orang yang dibuat untuk pensiun dini atau dibuat berlebihan dapat menemukan diri mereka merasa terasing, terpencil dan dirampok tujuan hidupnya. Situasi seperti membuat sebuah kesalahan untuk mempertimbangkan 'waktu luang' hanya sebagai waktu bebas dari pekerjaan atau kewajiban.
b. Waktu luang sebagai aktivitas (leisure as activity)
pengalihan, atau memperluas kemampuan pribadinya dan kespontanan partisipasi sosialnya, latihan bebas dalam kapasitasnya untuk berkreatif.
c. Waktu luang sebagai suatu keadaan (leisure as a state of being).
Dalam masyarakat Yunani kuno - setidaknya dalam pendidikan, dalam strata teratas - 'harta dari pikiran ' adalah buah dari waktu luang yang berisi sukacita dan kegembiraan hidup. Oleh karena itu, Aristoteles dalam Taylor (2005,16-19) berpikir bahwa waktu luang sebagai suatu keadaan, bebas dari keharusan bekerja, dan ditandai dengan kegiatan untuk kepentingan sendiri .'Manusia ideal' akan berusaha sempurna dalam bidang seni, musik, olahraga, sekolah dan di dinas militer. Waktu luang yang ideal ini dibuat untuk masyarakat yang maju dan pemerintahan yang baik. Neulinger (1974) dalam Taylor (2005,16-19), juga berpendapat sama, menyatakan: Waktu luang adalah suatu keadaan pikiran; maksudnya cara menjadi damai dengan dirinya sendiri dan apa yang ingin dilakukan {. . .} Waktu luang memiliki satu dan hanya satu kriteria penting, dan itu adalah kondisi dari kebebasan yang dirasakan. Apa saja kegiatan yang dilakukan secara bebas tanpa kendala atau paksaan, dapat dianggap sebagai waktu luang.. Kraus (2001) dalam Taylor (2005,16-19) juga mengidentifikasi dalam dimensi 'spiritual' bahwa waktu luang berarti kebebasan dan pilihan serta lazim digunakan dalam berbagai cara, tapi terutama untuk memenuhi kebutuhan . Meskipun itu biasanya melibatkan beberapa bentuk partisipasi dalam aktivitas yang dipilih secara sukarela mungkin dianggap sebagai suatu keadaan yang holistik atau bahkan pengalaman spiritual.
pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang mengalami gangguan emosi, sebagai selingan dan hiburan, sarana rekreasi, sebagai kompensasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan menghindari sesuatu.
Dengan banyaknya definisi waktu luang, dapat disimpulkan bahwa waktu luang adalah dan waktu yang berada diluar kegiatan rutin sehari-hari dan waktu yang dapat bebas digunakan sehingga bisa dimanfaatkan secara positif guna meningkatkan produktifitas hidup yang efektif dan pengisian waktu luang dapat diisi dengan berbagai macam kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti keinginannya sendiri baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan atau mengembangkan keterampilannya secara objektif. Mengisi waktu luang bagi remaja terutama siswa yaitu waktu yang terdapat pada siswa diluar jam pelajaran sekolah dan dapat diisi dengan kegiatan relaksasi atau istirahat, kegiatan hiburan atau rekreasi, dan kegiatan pengembangan diri sesuai dengan pilihan sendiri.
4.1.1.2 Manfaat Mengisi Waktu Luang
Manfaat mengisi waktu luang yaitu menurut Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yaitu:
a. Bisa meningkatkan kesejahteraan jasmani. b. Meningkatkan kesegaran mental dan emosional. c. Membuat kita mengenali kemampuan diri sendiri. d. Mendukung konsep diri serta harga diri.
e. Sarana belajar dan pengembangan kemampuan.
f. Pelampiasan ekspresi dan keseimbangan jasmani, mental, intelektual, spiritual, maupun estetika.
g. Melakukan penghayatan terhadap apa yang anda sukai tanpa tidak mempedulikan segi materi.
Selain itu mengisi waktu luang juga berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan sosial, seperti :
b. Menambah konsumsi sehingga meningkatkan lapangan kerja. c. Mengurangi kriminalitas dan kenakalan.
d. Meningkatkan kehidupan bermasyarakat.
Sedangkan (Pretty,2006 :6), Banyak manfaat waktu luang. Manfaat utama meliputi :
a. Meningkatkan kesehatan b. Meningkatkan hubungan sosial c. Meningkatkan kebugaran fisik d. Meningkatkan kesehatan mental
e. Meningkatkan kepuasan hidup dan kenikmatan ( dan ) f. Sebagai pengembangan diri
Manfaat waktu luang memiliki dampak ekonomis , fisiologis , lingkungan , psikologis , dan sosial ,berikut pemaparannya berdasarkan The Academy of Leisure Sciences dalam (www.fritidsvetarna.com/1_Kultur_och_fritid) yaitu ; a. Manfaat ekonomi
kualitas produktivitas pekerja dan dapat mengurangi ketidakhadiran dari pekerjaan.
b. Manfaat fisiologis
Manfaat fisiologis dari olahraga teratur telah didokumentasikan secara ilmiah, mungkin lebih baik daripada manfaat ekonomi yang diuraikan di atas adalah. Latihan aerobik yang teratur menawarkan manfaat kardiovaskular dengan mengurangi kolesterol serum dan trigliserida serta pengusutan lipid dengan kepadatan tinggi dalam aliran darah dan membantu mencegah dan mengendalikan hipertensi. Latihan juga mengurangi masalah tulang belakang, meningkatkan fungsi neuropsikologi, meningkatkan massa tulang dan kekuatan pada anak-anak, meningkatkan otot kekuatan dan menciptakan jaringan ikat yang lebih baik, meningkatkan kapasitas paru-paru, mengurangi insiden penyakit, dan memelihara rasa holistik kesehatan. Walaupun semua manfaat latihan tidak bisa dikaitkan dengan perilaku di waktu luang, banyak dari tujuan kita berolahraga selama waktu luang kita, dan aktivitas fisik diperlukan juga banyak kegiatan rekreasi yang dimotivasi oleh tujuan pribadi selain untuk kebugaran. Fisik.
c. Manfaat lingkungan
Penciptaan dan pelestarian kesempatan untuk rekreasi adalah salah satu kekuatan pendorong untuk melindungi lingkungan tidak hanya alami (termasuk hutan kota dan ruang hijau lainnya di kota-kota) tetapi juga budaya, sejarah, dan situs warisan.Selain itu, logis untuk mengasumsikan bahwa penggunaan tempat rekreasi dan belajar diluar ruangan dan penghargaan daerah yang mempromosikan pembelajaran lingkungan, memelihara etika lingkungan berorientasi menuju keberlanjutan, dan bahkan membantu menyebabkan perilaku yang ramah lingkungan seperti daur ulang..
d. Manfaat psikologis
kemandirian, dan kepercayaan diri; peningkatan skill kepemimpinan; kemampuan yang lebih baik untuk berhubungan dengan orang lain, termasuk toleransi yang lebih besar dan pemahaman serta peningkatkankemampuan untuk menjadi anggota tim; menghargai perbedaan; meningkatkan kemampuan kreatif; ekspresi dari dan refleksi pada personal spiritual - dan bukan hanya agama - nilai dan orientasi; peningkatan efisiensi kognitif, termasuk pemecahan masalah yang lebih baik kemampuan; adaptasi yang lebih besar dan ketahanan; meningkatkan rasa humor; sukacita yang lebih besar dari kehidupan dan peningkatkan kualitas yang dirasakan dari kehidupan; keseimbangan daya saing; petingkatkan kesehatan dan suasana pribadi, meningkatkan belajar tentang sejarah, budaya, alam, kota, dll .; pandangan yang lebih positif; pengasuhan dari sikap bisa-melakukan; dan mengurangi rasa pribadi dalam keterasingan sosial.
Sedangkan menurut World Leisure Organization’s 2006 Hangzhou Consensus dalam Heinztman (2015) menyatakan manfaat waktu luang bisa menjadi hasil dari waktu luang, yang didalamnya bisa mencakup manfaat dan kerugiannya serta hasilnya dibagi dalam beberapa lingkup yaitu :
a. Manfaat Sosial
Waktu luang menyediakan peluang untuk pengembangan keluarga, membangun suatu hubungan dan mengikat komunitas. Waktu luang menyediakan kesempatan untuk berbagi pengalaman bersama, keakraban, dan kedekatan emosional. Waktu luang juga menyediakan peluang untuk kooperasi dan kerja sama/kolaborasi.
b. Kesehatan dan Kesejahteraan
atau negatif dan mengeser perilaku yang menyokong untuk kesehatan dan kesejahteraan.
c. Keluarga dan masyarakat
Waktu luang adalah suatu komponen yang menonjol dalam kehidupan berkeluarga dan konteks utama untuk pengembangan aspirasi waktu luang, pengalaman, dan kompetensi.
d. Pengembangan Anak Muda
Untuk kaum muda, waktu luang bisa menjadi konteks kuat untuk pengembangan manusia, tetapi pada waktu yang sama bisa menjadi konteks untuk perilaku yang beresiko.
e. Ekonomi
Waktu luang merupakan komponen yang berpengaruh dalam pengembangan ekonomi, akuntansi untuk di sekitar seperempat pembelanjaan konsumen dan berpengaruh pada kuantitas sumber daya sektor publik.
f. Lingkungan
Waktu luang, rekreasi, dan pariwisata berkontribusi kepada pengembangan yang pro lingkungan, sikap, nilai-nilai, etika, dan perilaku. Waktu luang, rekreasi, dan pariwisata merupakan dasar yang penting ( sebagai keadilan ekonomi dan politik dan pengerahan massa) untuk melindungi alam, sejarah, sumber daya budaya serta taman.
Manfaat waktu luang dapat mempunyai dampak terhadap sosial, fisik, ekonomi, lingkungan,kesehatan, dan keluarga/masyarakat yang semua bertujuan untuk mengembangkan kemampuan individu agar lebih baik dan dapat menjadikan hidup yang lebih berkualitas.
4.1.1.3 Kegiatan Waktu Luang
melepaskan diri dari segala pekerjaan rutinnya, keluarga dan lingkungan sosial dan waktu luang sebagai relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Beberapa kegiatan mengisi waktu luang menurut (Pettry, 2006:6) diantaranya:
a. Social Activity
Aktivitas yang dilakukan dengan orang lain. Seperti Pergi kepesta , permainan papan , piknik dan diskusi, berkumpul, menghabiskan waktu bersama teman (bermain),kegiatan kemanusiaan
b. Creative Activity
Aktivitas , di mana seseorang membuat atau menciptakan sesuatu, membuat kesenian dan kerajinan, mendekorasi rumah
c. Physical Activity
Aktivitas yang membutuhkan gerakan tubuh. Aktivitas yang dilakukan seseorang untuk tetap fit . Tenis, golf , basket , voli dan sepak bola, senam
d. Cognitive Activity
Aktivitas yang membutuhkan seseorang untuk berpikir. Menulis , membaca , dan mengunjungi museum,mengikuti kursus
e. Relaxation Activity
Aktivitas , di mana seseorang merasa tenang, bersantai, rekrasi, liburan ,berwisata
f. Spiritual Activity
Aktivitas , di mana seseorang tunduk kepada kekuatan yang lebih tinggi (Tuhan), seperti beribadah, ikut pengaian/ bimbingan rohani
Robert Stebbins dalam Heinztman (2015:9) mengembangkan konsep waktu luang yang serius , waktu luang yang santai , dan waktu luang berbasis proyek yang didasarkan pada pemahaman waktu luang sebagai aktivitas.
a. Serious Leisure
dengan belajar dan mengekspresikannya pada keterampilan yang khusus pengetahuan , dan pengalaman . " Dia mengidentifikasi tiga jenis waktu luang yang serius : amatir ( misalnya, seniman yang amatir ) , penggemar ( misalnya , kolektor ) ,dan relawan ( misalnya, relawan kesejahteraan sosial ) .
b. Casual Leisure
Stebbins dalam Heinztman (2015:9) mendefinisikan waktu luang yang santai sebagai kesegeraan, hakekatnya bermanfaat, relatif berumur pendek, nyaman, aktivitas yang membutuhkan sedikit latihan atau tidak khusus untuk menikmatinya. Waktu luang yang santai mungkin meliputi bermain ,relaksasi , pasif atau hiburan aktif , percakapan , stimulasi sensorik , atau kegiatan sukarela . Karakteristik utama dari waktu luang yang santai adalah kesenangan.
c. Project Based Leisure
Waktu luang berbasis proyek merupakan waktu luang dengan jangka waktu pendek yang kompleks meskipun jarang, usaha kreatif yang dilakukan di waktu luang, yang melibatkan banyak upaya dan perencanaan , dan kadang-kadang pengetahuan dan keterampilan . Ini mungkin proyek satu tujuan seperti menyelidiki silsilah seseorang atau kadang-kadang proyek seperti mendekorasi rumah untuk hari Natal setiap tahun.
Berbagai aktivitas /kegiatan di waktu luang bermacam-macam jenisnya. Baik berhubungan dengan fisik ataupun non fisik ,yang berada didalam ruangan atau diluar ruangan yang dipih sesuai keinginan sendiri dalam rangka mengembangkan kepribadian, pengetahuan dan ketrampilannya.
4.1.1.4 Permasalahan dalam Pemanfaatan Waktu Luang
Menurut The Academy of Leisure Sciences dalam
(www.fritidsvetarna.com/1_Kultur_och_fritid). Masalah waktu digunakan dalam
merata di siklus kehidupan; dan (3) kerusakan pendidikan dalam penggunaan waktu luang.
Di luar dari jam sekolah dapat menjadi masa dimana sesuatu yang buruk dapat terjadi, meliputi mabuk, merokok, aktivitas seksual yang bahaya, kenakalan dan kekerasan. Meskipun begitu, alasan yang mendekati dan berhubungan dengan kemauan untuk mendukung kesempatan saat diluar sekolah adalah kemunculan yang sering terlihat dari keprihatinan mengenai risiko dan masalah yang berkaitan dengan jam diluar sekolah. Pandangan ini dicerminkan melalui suara lewat media yang populer dengan fokus pada aktivitas waktu luang orang-orang muda.
Permasalahan yang biasa ditemukan dalam pemanfaatan waktu luang ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: Waktu luang dianggap oleh anak-anak sebagai waktu untuk melakukan apapun yang disenanginya semata. Anak-anak cenderung tidak menyukai pemanfaatan wakru luang dengan sesuatu yang menurutnya menuntut pemikiran dan beban target. Bagi orang tua waktu luang adalah waktu yang harus dimanfaatkan untuk sesuatu yang bermanfaat dan produktif dari sudut pandang orang tua, bukan dari sudut pandang anak. Strategi yang bisa diambil oleh orang tua atau guru adalah dengan memberikan kegiatan yang diminati oleh anak tersebut. Sekolah bisa menyiapkan saran prasarana (ekstrakurikuler) dan permainan yang bisa dimanfaatkan siswa untuk bermain. Di rumah, orang tua bisa juga menyediakan alat permainan yang disukai anak. Orang tua menganggap bahwa waktu luang adalah waktu sia-sia sehingga rehatnya anak diwaktu luang dianggap tidak memanfaatkan waktu secara maksimal. Ketika anak selonjoran ditempat tidur dengan membaca buku komik atau novel, sedang main game, jalan-jalan atau sekedar menonton televisi, maka cenderung kita menganggap mereka telah membuang waktu.
4.1.1.5 Pemanfaatan Waktu Luang Siswa SD
usia kritis dalam dorongan berprestasi. Dorongan berprestasi membentuk kebiasaan pada anak untuk mencapai sukses ini cenderung menetap hingga dewasa. Apabila anak mengembangkan kebiasaan untuk belajar atau bekerja sesuai, di bawah, atau di atas kemampuannya, maka kebiasaan ini akan menetap dan cenderung mengenai semua bidang kehidupan anak, baik dalam bidang akademik maupun bidang lainnya. Periode ini juga disebut usia kreatif sebagai kelanjutan dan penyempurnaan perilaku kreatif yang mulai terbentuk pada masa anak awal. Kecenderungan kreatif ini perlu mendapat bimbingan dan dukungan dari guru maupun orang tua sehingga bekembang menjadi tindakan kreatif yang positif dan orisinal, tidak negatif dan sekedar meniru tindakan kreatif orang atau anak yang lain. Selain itu, periode ini disebut juga dengan usia bermain, karena minat dan kegiatan bermain anak semakin meluas dengan lingkungan yang lebih bervariasi. Mereka bermain tidak lagi hanya di lingkungan keluarga dan teman di sekitar rumah saja, tapi meluas dengan lingkungan dan teman-teman di sekolah.
Siswa SD biasanya menghabiskan waktunya dengan bermain teman-teman diwaktu luang, karena siswa sudah tidak menjalani kewajiban di sekolah. Namun harus diperhatikan, bahwa guru dan orang tua harus memberi pengarahan dan bimbingan agar saat waktu luang bisa digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi siswa.Walaupun tetap tidak mengurangi anak-anak untuk bermain. Saat istirahat, dapat mengunjungi perpustakaan bersama teman-temannya dengan membaca buku bersama-sama, sehingga anak cepat bosan. Selain itu, siswa dapat mencari tugas bersama-sama , baik bersumber dari lingkungan ataupun mencari di warnet. Selain anak dapat mengembangkan cara berpikirnya dapat mengembangkan kreativitas anak saat waktu luang sehingga muncul dorongan untuk berprestasi lebih baik.
Sedangkan menurut Adhiyasa (2013). Ada beberapa hal yang dapat dilakukan siswa siswi pelajar sekolah dalam mengisi waktu luangnya yaitu :
Sepulang sekolah sebaiknya seorang siswa sekolah mengistirahatkan dirinya dengan tidur siang. Tidur dua atau tiga jam sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan stamina dan konsentrasi untuk melanjutkan aktivitas hingga malam hari. Jika tidak tidur siang, maka seseorang bisa terkena serangan kantuk di malam hari sebelum waktu tidur tiba serta memiliki daya konsentrasi yang kurang maksimal.
2. Mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah)
Sekolah memang biasanya memberikan berbagai tugas tambahan kepada para siswa agar para siswa pelajar mau belajar di rumah. PR biasanya bertujuan agar seorang murid sekolah mau mengingat pelajaran yang telah diberikan oleh Bapak Ibu gurunya maupun sekedar mempersiapkan para murid dalam menghadapi materi pelajaran berikutnya. Namun terkadang PR yang diberikan terlalu banyak sehingga menyita waktu, tenaga, dan pikiran dari seorang murid. Jika waktu telah banyak tersita untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah, maka agenda kegiatan lainnya pun terbengkalai termasuk kegiatan bercengkrama dengan keluarga
3. Mempelajari Keahlian Baru
Setiap siswa tidak boleh lengah karena terlalu mengandalkan materi pendidikan dari sekolah untuk dijadikan bekal masa depannya. Padahal materi pelajaran yang diberikan sekolah hanya bersifat pengetahuan dasar dan umum sehingga kurang begitu digunakan dalam dunia kerja yang sebenarnya. Untuk itulah para siswa dituntut untuk dapat menguasai berbagai keahlian dan keterampilan yang dapat dijadikan modal dasar untuk bekerja di perusahaan maupun untuk berwirausaha membangun bisnis sendiri.
4. Wirausaha
bisa dilakukan sesegera mungkin setelah seseorang memasuki kedewasaan pada usia kurang lebih 15 tahun (secara agama islam). Budaya kita yang selalu menganggap usia di bawah 17 tahun atau bahkan 21 tahun sebagai anak-anak dan abg menjadikan banyak generasi muda kita belum dapat dewasa dan mandiri ketika memasuki usia 15 s/d 17 tahun. Bahkan sebagian generasi muda ada yang belum bisa mandiri dan berpikiran dewasa ketika memasuki usia 30 tahun. Padahal pada usia produktif itulah para remaja sudah gelisah dengan masa depannya karena sudah memiliki berbagai keinginan layaknya orang dewasa. 5. Magang
Kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia di pasar tenaga kerja indonesia menyebabkan para pelajar pada umumnya tidak bisa ikut bergabung bekerja paruh waktu di perusahaan maupun di institusi negara. Padahal magang sangat penting untuk mencari pengalaman bekerja sekaligus untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar untuk membantu memenuhi kebutuhan seorang pelajar maupun keluarganya. Penghasilan seorang pelajar magang sangat penting artinya bagi pelajar yang berasal dari golongan kurang mampu. Para pekerja magang yang berusia muda pun rata-rata dianggap sebelah mata dan tidak diberikan pekerjaan yang bermanfaat untuk masa depan oleh para seniornya.
6. Bersosialisasi
Setiap siswa pelajar harus dapat bersosialisasi dengan baik dengan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Perlu adanya suatu wadah bagi generasi muda untuk bisa eksis di tengah masyarakat yang rata-rata telah berusia dewasa. Dengan demikian para siswa pelajar dapat dapat ikut terlibat langsung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti kepengurusan rt rw, kegiatan sosial, kegiatan kepemudaan, kegiatan usaha bersama, kegiatan kerja bakti, kegiatan gotong royong, kegiatan pemberdayaan masyarakat, kegiatan pendidikan pelatihan, kegiatan keagamaan, kegiatan perayaan / peringatan hari tertentu, dan lain sebagainya.
Anak yang baik adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya. Setiap anak harus menuruti perintah orangtuanya kecuali yang bertentangan dengan ajaran agama. Apabila orangtua mengalami kesulitan, maka sudah seharusnya seorang anak membantu semampunya untuk membantu meringankan beban orangtuanya.
Masih ada begitu banyak hal yang bisa dikerjakan oleh seorang pelajar sekolah di luar jam pelajaran sekolahnya. Waktu adalah sesuatu yang berharga yang harus dipergunakan sebijaksana mungkin agar bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dinikmati di masa mendatang. Ada begitu banyak pelajar yang gagal memanfaatkan waktu luangnya dengan baik sehingga hanya mendatangkan sesal di kemudian hari. Pihak sekolah bersama pemerintah seharusnya dapat menjadi pembimbing yang baik dalam rangka memberi bekal dan peluang untuk bisa maju tanpa harus menjalani proses yang sangat panjang dan melelahkan. Bukan hanya sebagai fasilitator dalam meraih secarik kertas bertuliskan angka-angka yang tidak berarti banyak di dalam dunia nyata yang penuh dengan persaingan. Dengan demikian para murid siswa siswi sekolah bersekolah tidak hanya untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga untuk mempraktekkannya dalam dunia nyata di saat yang bersamaan.
4.1.2 Pergaulan
4.1.2.1 Pengertian Pergaulan
keprigelannya, dedikasinya, dan sebaliknya. Saling mengetahui karena pergaulan ini memudahkan usaha bimbingan dan pertolongan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kesempatan bergaul wajib diadakan dan dipergunakan sebaik-baiknya, karena kontak langsung ini menimbulkan hubungan yang wajar antara kekuasaan pendidik dan ketaatan anak didik. (Ahmadi dan Uhbiyati, 2003:1-2)
Menurut Izarwisma Mazarnas (1989: 20) dalam Okky Wicaksono (2014) mendefinisikan bahwa pergaulan adalah suatu gejala yang lahir karena adanya interaksi antara individu-individu di dalam suatu kelompok masyarakat berdasarkan status sosial yang dipunyai oleh seseorang.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pergaulan adalah gejala yang timbul sebagai akibat adanya hubungan atau interaksi antara individu dengan individu yang lain dalam kehidupan bermasyarakat.
4.1.2.2 Macam-macam Pergaulan
Menurut Ahmadi dan Uhbiyati (2003:3) Pergaulan dapat dibedakan dalam berbagai dasar :
a. Menurut siapa yang terlihat dalam pergaulan itu maka pergaulan dapat dibedakan menjadi:
1) Pergaulan anak dengan anak
2) Pergaulan anak dengan orang dewasa
3) Pergaulan orang dewasa dengan orang dewasa
b. Dipandang dari bidangnya, maka pergaulan dapat dibedakan menjadi: 1) pergaulan yang bersifat ekonomis
2) Pergaulan yang bersifat seni
3) Pergaulan yang bersifat paedagogis
c. Ditinjau dari pergaulan itu, dapat digunakan rentangan-rentangan untuk membedakan menjadi :
3) Pergaulan paedagogis dan tidak paedagogis
Didalam hal pergaulan yang tidak paedagogis kita masih dapat membedakannya menjadi dua, yaitu :
- Pergaulan biasa - Pergaulan paedagogis
Pergaulan biasa ialah dapat diubah menjadi pergaulan yang pedagogis. Hanya cara mengubah pergaulan biasa mejadi pergaulan pendidikan harus dengan perlahan-lahan, agar jangan memberi kesan kepada anak didik sebagai perubahan yang sekaligus
Berdasarkan pemaparan diatas, pergaulan di kehidupan manusia itu bermacam-macam jenisnya, tergantung dengan siapa kita bergaul dan pada bidang apa yang kita punya.
4.1.2.3 Faedah Pergaulan
Kalau kita kaji kembali mengenai pergaulan dapatkah kita katakan bahwa pergaulan itu mempunyai peranan sangat penting di dalam pembentukan pribadi anak didik, faedah dari pergaulan menurut (Ahmadi dan Uhbiyati, 2003:6-7) adalah
a. Pergaulan memungkinkan terjadinya pendidikan
Karena dengan pengaulan memberi dasar pertama kepada anak didik , memberi pengenalan yang pertama tentang cara menghadapi sesamanya. Lewat pergaulan itulah dapat diterima dan kemudian ditirukan oleh anak mengenai bermacam-macam hal, baik itu secara sengaja atau tidak sengajadiberikan oleh orang dewasa disekitar anak didik, yang kemudian ditirunya.
b. Pergaulan merupakan sarana untuk mawas diri.
anak bertanya, apakah itu ada pada dirinya.Disinilah terjadi mawas diri , dengan bercermin pada lingkungan pergaulannya.
c. Pergaulan dapat menimbulkan cita-cita.
Dalam ajaran Freud pada ilmu jiwa dalam , dikatakan bahwa pada tiap-tiap individu terdapat apa yang disebut Ego Ideal : adanya keinginan untuk menjadi dokter, polisi, presiden, ahli pidato dan lain-lain, ini berkat adanya kekaguman terhadap orang dewasa yang ada disekitarnya, yang menjadi dokter, polisi atau lain-lain yag dijumpai dalam pergaulan.
d. Pergaulan itu memberi pengaruh secara diam-diam
Anak itu mempunyai sifat suka dan gampang meniru. Apa saja yang dia temukan, dia lihat dia dengar didalam pergaulan entah itu baik-atau buruk , seaka-akan secara spontan abak menirunya.
Itulah sebabnya, maka pergaulan anak itu harus terus menerus dikontrol, tujuan melakukan pengontrolan itu adalah utuk menjaga agar tidak mendapatkan pengaruh yang jelek dari pergaulannya..Pengontrolan itu hendaknya dilakukan sccara bijaksana supaya tidak mendapatkan akibat sampingan, yang kurang, kita perhitungan. Misal kita secara tidak bijaksana memberi nasihat kepada anak agar dalam pergaulan memilih teman yang baik-baik tujuan nasihat itu baik, namun bila disertai pengarahan selanjutnya, anak hanya akan mau bergaul dengan orang tertentu saja. Pilih-pilih dan tidak dapat bergaul secara supel didalam masyarakat. Bila pegawasan dapat berlangsung dengan baik, pengaruh positif akan didapat dari pergaulan seperti : lewat pergaulan anak-anak belajar mengekang diri menghargai orang lain, toleransi, dan dapat menenmpatkan diri serta mampu berperan serta dalam kerja bersama.
4.1.2.4 Pergaulan dalam Keluarga, Sekolah, Masyarakat a. Pergaulan dalam keluarga
orang tua dan orang tua membutuhkan rasa kebahagian dengan kelahiran anak. Anak makin besar dibutuhkan tenaga da pkiranya untuk membantu orang tua, lebih-lebih bila orang tua makin tidak berdaya karena usia tua dan sering terganggu kesehatanya.
Hubungan anak dengan anak dalam keluarga itu sendiri satu sama lain saling berinteraksi, saling pengaruh-mempengaruhi dan tidak lepas dari adanya faktor-faktor interaksi. Setiap anak secara tidak langsug bergur kepada saudara-saudaramya sehigga anka itu sendiri menjadi tahu bahwa dia merasa wajib memberi sebagaimana dia merasa perlu pemberian, baik materi non materi. Antar anak-anak dalam keluarga belajar tukar-menukar pengalaman sehingga makin banyaklah hal-hal yang diketahui tetang baik dan buruk, tentang hak dan kewajiban, tentang salig menyayangi dan sebagainya dengan adanya hubungan satu sama lain. Dengan cara pergaulan atara orang tua terhadap anaknya dan terhadap adikya usaha mendewasaka, menunjukkan bahwa pergaulan dalam keluarga mengandung gejala-gejala pendidikan.
b. Pergaulan dalam sekolah
Sekolah sebagaya lembaga pendidikan formal, terdiri dari guru (pendidik) da murid/anak-anak didik. Anatara mereka sudah barang tentu terjadi adanya salinghuubungan, baik antara guru/pendidik dengan murid-muridnya maupun antara murid dengan murid.
ketentuan-ketetuan yang berlaku, saling mengajak diajak, saling bercerita , saling mendisplin diri agar tidak menyinggung perasaa temannya.
c. Pergaulan dalam masyarakat
Masyarakat merupakan tempat pergaulan sesama manusia dan merupakan lapangan pendidikan yang luas dan meluas, yaitu adanya hubungan antara dua orang atau lebih tak terbatas. Ajaran Tonnis membedakan pergaulan hidup dalam Gemeinschaft (persekutuan) dan Gesselschaft (perbuatan). Hubungan yang dibentuk oleh kodrat disebut Gemeinschaft, seperti hubungan antara seseorang dan orang tua. Hubungan yang dibentuk oleh ikatan organisasi disebut Gesselschaft, seperti hubungan seseorang dengan pimpinan organisasi massa. Pergaulan sehari-hari antara anak dengan anak dalam masyarakat juga ada yang setaraf dan ada yang lebih dewasa di bidang tertentu. Sesama kawan berkumpul untuk bercerita, bermain dengan disiplin, tukar menukar pengalaman, mengasah otak dengan cangkriman dsb, yang kesemuanya itu tidak lepas mengandung gejala pendidikan.
Dipandang dari segi berlangsung atau tempat terjadinya pergaulan , dapat terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Antara 3 lingkungan tersebut saling berkesinambungan dan mempunyai pengaruh yang kuat antara lingkungan pergaulan yang dialami anak.
4.1.2.5 Teman Sebaya
Menurut Santrock (2011: 82) sebaya adalah anak-anak yang kira-kira umur atau kedewasaan pada level yang sama yang juga memainkan peran kuat dalam perkembangan dan sekolahnya anak-anak.
(Rita Eka Izzaty, dkk., 2007: 125), Teman sebaya pada umumnya adalah teman sekolah dan atau teman bermain di luar sekolah. Pengaruh teman sebaya sangat besar bagi arahperkembangan anak baik yang bersifat positif maupun negatif. Pengaruh positif terlihat pada pengembangan konsep diri dan pembentukan harga diri. Hanya ditengah-tengah teman sebaya anak bisa merasakan dan menyadari bagaimana dan dimana kedudukan atau posisi dirinya. Teman sebaya juga memberikan pelajaran bagaimana cara bergaul di masyarakat. Sebaliknya teman sebaya juga memungkinkan untuk membawa pengaruh negatif, seperti merokok, mencuri, membolos, menipu serta perbuatan-perbuatan antisocial lainnya. Bahkan tidak jarang pengaruh negatif itu diikuti dengan ancaman dan pemerasan. Ada kecenderngan bahwa anak laki-laki memiliki hubungan teman sebaya yang lebih luas daripada anak perempuan.
tinggi/rendah), atau perpindahan lokasi tempat tinggal. Melalui pergantian teman, anak dapat belajar hal-hal yang penting dalam perkembangan sosial. Penerimaan dan status sosial anak dalam kelompok teman sebaya atau sekelas antara lain dapat diketahui dengan menggunakan sosiometri.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa teman sebaya adalah orang yang memiliki status, pemikiran, usia, dan tingkat kedewasaan yang hampir sama. Orang yang memiliki usia yang hampir sama dengan temannya biasanya juga mempunyai tingkat perkembangan atau tingkat kedewasaan yang tidak jauh berbeda. Teman sebaya yang dipilih biasanya adalah teman yang memiliki kesamaan status sosial dengan dirinya. Misalnya siswa yang duduk di bangku SD kebanyakan temannya juga sesama siswa, baik yang satu sekolah maupun berbeda sekolah. Jarang ditemui seorang siswa SD berteman akrab dengan orang yang berbeda status sosial dengan dirinya. Teman sebaya tersebut merupakan orang yang sering terlibat dalam melakukan tindakan secara bersama-sama dalam pergaulan.
4.1.2.6 Pergaulan dengan Teman Sebaya
teman baik tetapi tidak dibenci oleh teman sebayanya. Anak yang ditolak jarang yang dinominasikan sebagai salah satu teman baik dan sering kali dibenci oleh teman sebayanya. anak-ana yang kontrobersial sering dinominasikan baik sebagai salah satu teman baik dan juga menjadi teman yang dibenci. (Santrock ,2011: 83) teman dan sebagai hal yang membenci.
Rita Eka Izzaty, dkk.,( 2007: 126 ) mengemukakan bahwa minat anak usia SD terhadap kegiatan kelompok sebaya mulai timbul. Mereka memiliki teman-teman sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. Integritas dengan kelompoknya cukup tinggi, ada keterikatan satu sama lain, sehingga mereka merasa perlunya untuk selalu bersama-sama. Keinginan untuk berada ditengah-tengah temannya membawa anak untuk keluar rumah menemuinya sepulang sekolah. Anak merasa kesepian di rumah, tiada teman. Kegiatan dengan teman sebaya ini meliputi belajar bersama, melihat pertunjukan, bermain, masak memasak dan sebagainya. Mereka sering melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Sedangkan Desmita (2014:224) menyebutkan bahwa interaksi teman sebaya dari kebanyakan anak usia sekolah ini terjadi dalam grup atau kelompok, sehingga periode ini disebut usia kelompok. Pada masa ini, anak tidak lagi puas bermain sendirian di rumah atau melakukan kegiatan-kegiatan dengan anggota keluarga. Hal ini adalah karena anak memiliki keinginan kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok, serta merasa tidak puas bila tidak bermain bersama teman-temannya.
atas dasar kesamaan kebiasaan, 3) Persahabatan dibangun atas dasar hubungan timbal balik.
Menurut Hurlock (1980:157), teman pada masa akhir kanak-kanak (usia anak SD) terdiri dari rekan, teman bermain, dan teman baik. Berbeda dengan masa anak yang lebih muda, anak-anak yang lebih besar jarang puas dengan rekannya. Untuk memenuhi kebutuhan sosial, teman harus berperan sebagai teman bermain atau teman baik. Meskipun anak mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa anggota kelompok tertentu, namun ia menganggap semua anggota kelompok sebagai “teman”, walaupun ia juga berperan sebagai teman bermain.
Anak laki-laki cenderung mempunyai hubungan teman sebaya yang lebih luas daripada anak perempuan . Ia lebih suka bermain berkelompok daripada hanya satu atau dua anak. Sebaliknya, hubungan sosial anak perempuan lebih intensif dalam arti bahwa ia lebih sering bermain dengan satu atau dua daripada dengan seluruh kelompok. Banyak faktor yang menentukan pemilihan teman .Biasanya yang dipilih adalah yang dianggap serupa dengan dirinya sendiri dan memenuhi kebutuhan. Karena daya tarik mempengaruhi kesan pertama, anak cenderung memilih mereka yang berpenampilan menarik menjadi teman bermain dan sebagai teman baik. Keakraban disekolah atau dilingkungan tetangga adalah penting karena untuk memilih teman lingkungan anak-anak terbatas pada daerah yang relatif sempit. Terdapat kecenderungan yang kuat bagi anak-anak untuk memilih teman dari kelasnya sendiri di sekolah. Dan yang lebih dipilih adalah teman sejenis daripada lawan jenis.
kegiatan yang dapat memfasilitasi anak agar mau dan dapat bergaul dengan teman sebaya dan orang-orang di sekitarnya( Ingridwati Kurnia, dkk.2007:1-31), 4.1.3 Peserta Didik
4.1.3.1 Pengertian Peserta Didik
Peserta didik dalam arti luas adalah setiap orang yang terkait dengan proses pendidikan sepanjang hayat, sedangkan dalam arti sempit adalah setiap siswa yang belajar di sekolah (Sinolungan, 1997). Departemen Pendidikan Nasional (2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6 -12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI. (Ingridwati Kurnia, dkk.2007:1-4)
Menurut Ahmadi dan Uhbiyati (2003:39) , peserta didik sebagai individu / pribadi (manusia seutuhnya) maksudnyaorang seseorang tidak bergantung dari orang lain, dalam arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan tidak dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan keinginan sendiri. Jenis peserta didik dibagi menjadi dua yaitu menurut tahap perkembangan dan umur (masa kanak-kanak, masa sekolah , masa pubertas) dan menurut status dan tingkat kemampuan (peserta didik super normal, peserta didik normal, peserta didik sub normal).
4.1.3.2 Karakteristik Perkembangan Peserta Didik Usia SD
Permulaan awal masa anak akhir ditandai dengan masuknya anak ke sekolah formal di SD kelas satu. Masuk SD kelas 1 merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak, sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap dan perilakunya. Sementara anak menyesuaikan diri dengan tuntutan dan harapan sosial di sekolah, kebanyakan anak berada dalam keadaan tidak seimbang
tua menyebut masa anak akhir sebagai usia yang menyulitkan karena anak pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya sehingga sulit bahkan tidak mau lagi menuruti perintah orang tuanya.
Kebanyakan anak pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya, sehingga orang tua menyebutnya usia tidak rapi. Anak tidak terlalu memperdulikan penampilannya. Mereka cenderung ceroboh, semaunya, dan tidak rapi dalam memelihara kamar dan barang-barangnya. Pada masa ini, anak juga sering kelihatan saling mengejek dan bertengkar dengan saudara-saudaranya sehingga orang tua menyebutnya sebagai usiabertengkar.
Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar. Di sekolah dasar, anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dianggappenting untuk keberhasilan melanjutkan studi dan penyesuaian diri dalam kehidupannya kelak. Para pendidik juga memandang periode ini sebagai
usia kritis dalam dorongan berprestasi. Dorongan berprestasi membentuk kebiasaan pada anak untuk mencapai sukses ini cenderung menetap hingga dewasa. Apabila anak mengembangkan kebiasaan untuk belajar atau bekerja sesuai, di bawah, atau di atas kemampuannya, maka kebiasaan ini akan menetap dan cenderung mengenai semua bidang kehidupan anak, baik dalam bidang akademik maupun bidang lainnya.
Psikolog perkembangan anak memberi sebutan anak pada masa ini sebagai
kelompok, misalnya dalam berbicara, penampilan dan berpakaian, dan berperilaku.
Periode ini juga disebut usia kreatif sebagai kelanjutan dan penyempurnaan perilaku kreatif yang mulai terbentuk pada masa anak awal. Kecenderungan kreatif ini perlu mendapat bimbingan dan dukungan dari guru maupun orang tua sehingga bekembang menjadi tindakan kreatif yang positif dan orisinal, tidak negatif dan sekedar meniru tindakan kreatif orang atau anak yang lain. Selain itu, periode ini disebut juga dengan usia bermain, karena minat dan kegiatan bermain anak semakin meluas dengan lingkungan yang lebih bervariasi. Mereka bermain tidak lagi hanya di lingkungan keluarga dan teman di sekitar rumah saja, tapi meluas dengan lingkungan dan teman-teman di sekolah. Secara singkat, perkembangan pada masa anak akhir meliputi perkembangan berbagai aspek baik fisik maupun psikis (berbicara, emosi, sosial, dll). Pertumbuhan fisik pada periode anak akhir berjalan lambat dan relatif seragam. Bentuk tubuh mempengaruhi tinggi dan berat badan anak, yang dipengaruhi oleh faktor genetik, kesehatan dan gizi, serta perbedaan seks atau jenis kelamin. Keterampilan motorik seperti pilihan penggunaan tangan (kanan atau kidal) dan keterampilan bermain (melempar dan menangkap bola, naik sepeda, bermain sepatu roda, berenang, dll) mempengaruhi perkembangan sosial, emosional, dan konsep diri anak. Kemampuan anak usia SD untuk dapat menolong dirinya sendiri (makan dan mandi sendiri, membereskan tempat tidur dan buku sendiri) dan orang ;ain, baik di rumah maupun di sekolah, perlu untuk mulai dikembangkan. Perkembangan bahasa terutama berbicara dan penguasaan kosa kata mengalami peningkatan yang pesat.
mulai meluas dari lingkungan sosial di sekitar rumah manjadi lingkungan dan teman-teman di sekolah. Kelompok anak usia sekolah biasanya merupakan kelompok bermain yang terdiri atas anggota dari jenis kelamin yang sama, serta ada aturan dan pemimpinnya yang mempunyai keunggulan dibandingkan anggota kelompok lainnya. Selain teman bermain, pada akhir masa anak SD ini pemilihan teman bukan sekedar teman bermain, tetapi juga menjadi teman baik/akrab atau sahabat yang dikarenakan adanya kemiripan dan kesesuaian minat dan sifat dengan dirinya. Status sosial anak yang diperoleh dari sosiometri mengenai kedudukan anak dalam kelompoknya dapat dimanfaatkan untuk pembentukan kelompok belajar atau kerja kelompok sehingga dapat mendorong anak untuk berprestasi. Perkembangan moral untuk berperilaku baik atau buruk tidak hanya berdasarkan respon senang atau tidak senang dari orang lain. Melainkan, mulai berkembang konsep-konsep moral yang umum dan berkembangnya suara hati yang mulai mengendalikan perilakunya. Anak mulai mencari konsep diri ideal dengan cara mengagumi tokoh-tokoh yang memiliki sifat keunggulan yang dibanggakan sebagai gambaran jatidiri yang ikut menentukan perilakunya.
Anak pada usia SD senang bermain dalam kelompoknya dengan melakukan permainan yang konstruktif dan olahraga. Mereka senang permainan olahraga, menjelajah daerah-daerah baru, mengumpulkan benda-benda tertentu, menikmati hiburan seperti membaca buku atau komik, menonton film dan televisi, juga melamun pada anak yang kesepian dan sedikit mempunyai teman bermain. Minat dan kegiatan bermain anak yang memposisikan kedudukan anak dan penerimaan serta pengakuan dari teman-teman sebaya, ikut berperan dalam menciptakan kebahagian anak pada periode anak akhir.
pengakuan dari orang lain dan teman sebaya. Kegiatan dan kepuasan berprestasi di sekolah baik secara akademik maupun nonakademik dapat menjadi sumber kepuasan dan kebahagiaan pada anak. .(Ingridwati Kurnia, dkk.2007:1-20-1-22) 4.1.3.3 Kebutuhan Peserta Didik
Menurut Sardiman (2012;112-113) bahwa pemenuhan kebutuhan siswa/peserta didik, disamping bertujuan untuk memberikan materi kegiatan setepat mungkin, juga materi pelajaran yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya menjadi lebih menarik. Dengan demikian, akan membantu pelaksanaan proses belajar-mengajar. Adapun yang menjadi kebutuhan siswa antara lain : a. Kebutuhan Jasmaniah
Hal ini berkaitan dengan tuntutan siswa yang bersifat jasmaniah, entah yang menyangkut kesehatan jasmani yang dalam hal ini olahraga menjadi materi utama, di samping itu kebutuhan-kebutuhan lain seperti makan, minum, tidur, pakaian dan sebagainya, perlu mendapat perhatian
b. Kebutuhan Sosial
Pemenuhan keinginan untuk saling bergaul sesama siswa dan guru serta orang lain, merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan sosial anak didik/siswa. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai lembaga tempat para siswa belajar, bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan, seperti bergaul sesame teman yang berbeda jenis kelamin , suku bangsa, agama, status social dan kecakapan. Guru dalam hal ini harus dapat menciptakan suasana kerja sama antar siswa dengan suatu harapan dapat melahirkan suatu pengalaman belajar yang lebih baik. Sebab kalua tidak hati-hati , justru akibat pergaulan dengan lingkungan dapat pula membawa kegagalan dalam proses belajar-mengajar. Guru harus dapat membangkitkan semangat kerja sama, sehingga dapat dikembangkan sebagai metode untuk mengajarkan sesuatu, misalnya metode belajar kelompok.
c. Kebutuhan Intelektual
atau yang lain-lain. Minat semacam ini tidak dapat dipaksakan, kalau ingin mencapai hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, yang penting, bagaimana guru dapat menciptakan program yang dapat menyalurkan minat masing-masing. Misalnya dalam kelompok IPS diberi kesempatan untuk mengambil minor yang lain, atau mungkin ada pelajaran pilihan (misalnya dalam soal keterampilan), atau mungkin diciptakan pelajaran-pelajaran ekstrakurikuler, yang dapat dipilih oleh siswa.
4.1.4 Belajar 4.1.4.1 Pengertian
Sardiman A.M. (2003 : 22) menyatakan: “Belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi , fakta,konsep ataupun teori”.
Menurut Gagne dalam Rifa’i dan Anni (2012:66), belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan.
Morgan dalam (Suprijono 2009:3), belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman.
Jadi belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan dan perubahan itu disebabkan karena ada dukungan dari lingkungan positif yang menyebabkan terjadinya interaksi edukatif. Perubahan tersebut terjadi secara menyeluruh meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 4.1.4.2 Unsur-Unsur Belajar
Belajar merupakan sebuah system yang didalamnya terdapat pelbagai unsur yang saling kait-mengait sehingga menghasilkan perubahan perilaku (Gagne,1977:4 dalam Rifa’i dan Anni 2012:66). Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut :
mentransformasikan hasil penginderaan ke dalam memori yang kompleks; dan syaraf atau otot yang digunakan untuk menampilkan kinerja yang menunjukkan apa yang telah dipelajari. Dalam proses belajar, rangsangan (stimulus) yang diterima oleh peserta didik diorganisir didalam syaraf, dan ada beberapa rangsangan yang disimpan didalam memori. Kemudian memori tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan yang dapat diamati seperti gerakan syaraf atau otot dalam merespon stimulus.
2. Rangsangan (stimulus). Peristiwa yang merangsang penginderaan peserta didik disebut stimulus. Banyak stimulus yang berada di lingkungan seseorang. Suara, sinar, warna, panas, dingin, tanaman, gedung, dan orang adalah stimulus yang selalu berada di lingkungan seseorang. Agar peserta didik mampu belajar optimal, ia harus memfokuskan pada stimulus tertentu yang diminati.
3. Memori. Memori yang ada pada peserta didik berisi pelbagai kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dihasilkan dari kegiatan belajar sebelumnya.
4. Respon. Tindakan yang dihasilkan dari aktualisasi memori dosebut respon. Peserta didik yang sedang mengamati stimulus akan mendorong memori memberikan respon terhadap stimulus tersebut. Respon dalam peserta didikan diamati pada akhir proses belajar yang disebut dengan perubahan perilaku atau perubahan kinerja (performance)
4.1.4.3 Prinsip-Prinsip Belajar
harus ada pada diri pembelajar. Ketiga prinsip itu harus dimiliki oleh pembelajar sebelum melakukan kegiatan belajar baru. Ketiga prinsip itu adalah (1) Informasi verbal, Informasi ini dapat diperoleh melalui tiga cara , yaitu : (a) dikomunikasikan dengan pembelajar; (b) dipelajari oleh pembelajar sebelum memulai belajar baru; dan (c) dilacak dari memori, karena informasi itu telah dipelajari dan disimpan didalam memori selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang lalu. (2) Kemahiran intelektual. Pembelajar harus memiliki pelbagai cara dalam mengerjakan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan simbol-simbol bahasa dan lainnya, untuk mempelajari hal-hal baru. Pertama, mungkin ada stimulasi untuk mengingat kemahiran intelektual itu dengan bantuan beberapa petunjuk verbal. Misalnya pembelajar diminta belajar kaidah tentang mekanika, pendidik menyatakan: kamu harus ingat tentang cara menemukan nilai variabel dalam suatu persamaan. (3) Strategi. Settiap aktivitas belajar memerlukan pengaktifkan strategi belajar dan mengingat. Pembelajar harus mampu menggunakan strategi untuk menghadirkan stimulus yang kompleks; memilih dan membuat kode bagian-bagian stimulus; memcahkan masalah; dan melacak kembali informasi yang telah dipelajari . Pembelajar yang telah dewasa dalam melakukan aktivitas belajar umumnya dibantu oleh kemampuan pengelolaan diri. Kemampuan mengelola diri dalam belajar ini pada akhirnya menjadikan pembelajar sebagai pembelajar diri.
4.1.4.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar
didalam belajar melukis, atau belajar yang menggunakan bahan-bahan berwarna. Peserta didik yang sedang mengalami ketengan emosional, misalnya takut dengan pendidik, akan mengalami kesulitan didalam mempersiapkan diri untuk memulai belajar baru karena selalu teringat oleh perilaku pendidik yang ditakuti.
Sama kompleksnya pada kondisi internal adalah kondisi eksternal yang ada di lingkungan peserta didik . beberapa faktor eksternal seperti variasi dan tingkat kesulitan materi belajar (stimulus) yang dipelajari (direspon), tempat belajar, iklim, suasana lingkungan, dan budaya belajar masyarakat akan mempengaruhi kesiapan belajar, proses, dan hasil belajar. Peserta didik yang akan mempelajari materi belajar yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, misalnya, sementara itu dia belum memiliki kemampuan internal yang dipersyaratkannya untuk mempelajarinya, maka dia akan mengalami kesulitan belajar. Oleh karena itu agar peserta didik berhasil dalam mempelajari materi belajar yang baru, dia harus memiliki kemampuan internal yang dipersyaratkan. Tempat belajar yang kurang memenuhi syarat, iklim atau cuaca yang panas dan menyengat, dan suasana lingkungan bising akan menganggu konsentrasi belajar. (Rifai’i dan Tri Anni, 2012:80-81)
4.1.4.5 Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik. Oleh karena itu apabila peserta didik mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam peserta didikan, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melaksanakan kegiatan belajar dirumuskan dalam tujuan peserta didikan. Tujuan peserta didikan merupakan bentuk harapan yang dikomunikasikan melalui pernyataan dengan cara menggambarkan perubahan yang diinginkan pada diri peserta didik, yakni pernyataan tentang apa yang diinginkan pada diri peserta didik setelah menyelesaikan pengalaman belajar.(Rifai’i dan Tri Anni, 2012:69)
(Sri Anitah W, dkk, 2009, 2.19) Hasil belajar merupakan kulminasi dari suatu proses yang telah dilakukan dalam belajar. Kulminasi akan selalu diiringi dengan kegiatan tindak lanjut. Hasil belajar menunjukkan suatu perubahan tingkah laku atau perolehan perilaku yang baru dari siswa yang bersifat menetap, fungsional, positif, dan disadari. Bentuk perubahan tingkah laku harus menyeluruh secara komprehensif sehingga menunjukkan perubahan tingkah laku seperti contoh diatas. Untuk melihat hasil belajar yang berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan ilmiah pada siswa Sekolah Dasar, dapat dikaji proses maupun hasil berdasarkan : 1) kemampuan membaca, mengamati, dan atau menyimak apa yang dijelaskan atau diinformasikan; 2) kemampuan mengidentifikasi atau membuat sejumlah (sub-sub) pertanyaan berdasarkan substansi yang dibaca, diamati dana tau didengar; 3) kemampuan mengorganisasi hasil-hasil identifikasi dan mengkaji dari sudut persamaan dan perbedaan; 4) kemampuan melakukan kajian secara menyeluruh. Kemampuan tersebut sudah dapat diterapkan disekolah dasar khususnya pada kelas tinggi.
Menurut Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) , dari sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang dimanfaatkan sebagai sarana mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang mengalami gangguan emosi, sebagai selingan dan hiburan, sarana rekreasi, sebagai kompensasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan menghindari sesuatu.
hanya untuk belajar, melainkan digunakan juga untuk kegiatan lain, seperti menonton televisi, bermain bersama teman, mengikuti kegiatan organisasi, dan lain-lain. Di antara kegiatan tersebut tentunya ada yang lebih dominan yang mereka lakukan, yang akhirnya dapat mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.
memberikan contoh bagaimana cara berpartisipasi dan bergabung dalam kelompoknya.
Pemanfaatan waktu luang dan pergaulan dengan teman siswa, keduanya berkaitan dengan suatu kondisi dan aktivitas pada lingkungan terdekat siswa. Hubungan siswa dengan lingkungan terdekatnya akan menciptakan aktivitas belajar yang dapat merangsang perkembangan kecerdasan , keterampilan dan sikap siswa sehingga dapat berpengaruh pada motivasi dan hasil belajar siswa. 4.2 Kajian Empiris
Penelitian ini juga didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan megenai pemanfaatan waktu luang. Beberapa penelitian yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelitian yang akan penulis lakukan adalah sebagai berikut : 1. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyono dan Rispantyo pada tahun 2012 yang berjudul Pengaruh pemanfaatan waktu luang, intensitas interaksi guru dan keluarga terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan hasil uji t menunjukkanbahwa terdapat pengaruh signifikan secara parsial pemanfaatan waktu luang, intensitas interaksi guru, intensitas interaksi keluarga diperoleh p value (ρ3 = 0,000) < 0,05 dan ρ1 = 0,104; ρ2 = 0,933 > 0,05; berarti pemanfaatan waktu luang dan intensitas interaksi guru mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap prestasi belajar siswa, namun pada variable intensitas interaksi keluarga yang mempunyai nilai ρ3 < 0,05, dengan demikian hipotesis ketiga terbukti kebenarannya, namun hipotesis pertama dan kedua yang menyatakan bahwa pemanfaatan waktu luang dan intensitas interaksi guru berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar, tidak terbukti kebenarannya.
tuntas sebanyak 53% (41), dan 3) Terdapat hubungan positif yang signifikansi antara pemanfaatan waktu luang di luar jam pelajaran dengan prestasi belajar siswa, dengan hasil analisis korelasi rxy sebesar 0,862 > dari rtabel sebesar 0,2227 , signifikasi 5%.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Asnawati Matondang pada tahun 2014 yang berjudul Korelasi penggunaan waktu senggang terhadap prestasi belajar bidang studi PPKN pada siswa SMP swasta Medan Putri Kecamatan Medan Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai rata-rata penggunaan waktu senggang siswa adalah 88.38% dikategorikan A (baik sekali) artinya waktu senggang siswa dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan positif. Berdasarkan ketiga aspek penilaian tentang prestasi belajar bidang studi PPKn, amak secara keseluruhan siswa memperoleh nilai rata-rata 72.80% kriteria B (baik). Akan tetapi sebanyak 27.14% harus mendapat perhatian yang lebih serius dari guru agar siswa tersebut dapat meningkatkan prestasi belajar. Hubungan korelasi penggunaan waktu senggang dengan prestasi belajar bidang studi PPKn menunjukkan korelasi positif dan signifikan dengan koefisien korelasi. Artinya semakin baik siswa menggunakan waktu senggangnya, maka semakin tinggi pula prestasi belajar bidang studi PPKn siswa tersebut. Waktu senggang digunakan siswa berpengaruh terhadap prestasi belajar bidang studi PPKn siswa tersebut. Pengaruhnya sebesar 28.30% artinya apabila waktu senggang digunakan dengan berbagai kegiatan positif dengan konsep yang sebenarnya maka 28.30% kemungkinan prestasi belajar bidang studi PPKn siswa akan lebih baik.