BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Aplikasi psikoterapi sudah mulai banyak digunakan dalam membantu menyelesaikan permasalahan klien, terutama untuk mengubah perilaku menjadi lebih baik. Salah satu pendekatan dalam melakukan terapi adalah pendekatan behavioristik. Penekanan pada pedekatan ini adalah perilaku akan berubah bila diberi penguatan positif maupun negatif.
Salah satu metode yang dikembangkan berdasarkan pendekatan ini adalah terapi kognitif-behavioral. Model ini turut menjadikan faktor kognitif menjadi peran utama dalam mengatasi permasalahan klien. Dengan memahami pandangan yang dipakai oleh diri sendiri, akan membuat klien mengerti dengan apa yang harus dilakukan untuk berubah.
Dalam makalah ini yang akan dibahas adalah aplikasi terapi kognitif-behavioral yang dapat digunakan bukan hanya pada satu bidang saja, tetapi dapat digunakan pada bermacam-macam bidang psikologi. Meskipun itu bersifat klinis, terapi kognitif-behavioral pun dapat digunakan untuk merubah perilaku.
II. Tujuan
- Untuk memahami apakah itu terapi kognitif-behavioral
- Untuk melihat aplikasi terapi kognitif-behavioral digunakan
BAB II
TEORI
Pendekatan Terapi Perilaku
a. Latar Belakang Sejarah
Pendekatan behavioral sudah ada sejak tahun 1950-1n dan 1960-an awal sebagai bentuk pemisahan diri dari perspektif psikoanalisis yang lebih dominan. Selama kurun waktu sekarang ini, gerakan terapi perilaku berbeda dengan pendekatan terapeutik lainnya dalam pengaplikasian prinsip kondisioning operan dan klasik pada perlakuan terhadap beraneka perilaku menghadapi problema.
Pada masa awal kelahiran pendekatan behavioral, sekitar tahun 1950-an awal, terapi perilaku mampu bertah1950-an hidup dari “trauma kelahir1950-annya”, meskipun mendapat kritikan tajam dari pengikut terapi aliran lain. Kemudian pada tahun 1960-an pendekatan ini ditantang untuk menciptakan identitasnya sendiri. Dalam kurun waktu 1970-an itulah terapi perilaku muncul sebagai kekuatan besar dalam psikoterapi dan pendidikan mengalami gerak pertumbuhan yang signifikan.
b. Tiga Kawasan Pengukuran
Pendekatan yang kedua adalah kondisioning operan. Perilaku operan terdiri dari perbuatan yang beroperasi dalam lingkungan untuk menghasilkan konsekuensi. Contohnya adalah membaca, menulis, mengemudi mobil, dan makan menggunakan alat makan. Perilaku semacam itu mencakup sebagian besar dari tanggapan signifikansi yang kita berikan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila perubahan lingkungan yang dihasilkan oleh perilaku tersebut memberi penguatan, kemungkinannya makin kuat bahwa perilaku tersebut akan terulang kembali apabila perubahan lingkungan itu tidak menghasilkan penguatan, kemungkinan kecil bahwa perilaku itu akan terulang lagi.
Pandangan Skinner akan pengendalian perilaku berdasarkan prinsip kondisioning operan, yang bertumpu pada suatu asumsi bahwa perubahan perilaku tercipta manakala perilaku itu diikuti oleh konsekuensi khusus. Skinner berpendapat bahwa kegiatan belajar tidak akan terjadi kalau tidak ada suatu penguatan tertentu, positif maupun negatif. Bila dorongan penuatan bersifat positif makan perilaku tersebut akan cenderung diulang, sebaliknya bila negatif maka perilaku tersebut akan cenderung dihilangkan.
Ketiga, adalah kecenderungan kognitif dalam terapi perilaku. Bagian inilah yang akan banyak dibahas dalam makalah ini. pelaku perilaku baik dari model kondisioning klasik maupun yang operan tidak memasukkan referensi pada konsep mediator (seperti perana proses berpikir, sikap, dan nilai), mungkin sebagai reaksi terhadap pendekatan psikodinamika yang berorientasi pada pemahaman. Sejak tahun 1970-an gerakan behavioral telah mengakui adanya tempat untuk berpikir, bahkan sampai ke tingkat pemberian kepada faktor kognitif peran sentral dalam memahami dan memperlakukan problem-problem behavioral.
Menurut Franks (1987), terapi behavioral kognitif sekarang ini diadakan sebagai bagian dari arus utama terapi behavioral. Beberapa orang penulis percaya bahwa “mengabaikan peranan faktor kognitif dalam mengkonseptualisasi dan memodifikasi perilaku manusia akan secara serius mengganggu kemampuan terpis behavioral dalam usahanya menangani banyak problema yang ia hadapi secara klinis” (Goldfried & Davison, 1976, hal 12).
Ada kecenderungan yang meningkat ,enuju ke pengintegrasian metode behavioral dan kognitif untuk menolong klien mengelola masalah mereka sendiri (Kanfer & Goldstein, 1986). Trend yang terkait, menuju ke memberikan cara psikologi” mencakup psikolog yang mau berbagi pengetahuan mereka sehingga klien dapat makin sanggup menjalani hidup yang diarahkan sendiri dan tidak bergantung lagi pada pakar untuk berurusan dengan masalah mereka.
Mengelola diri sendiri adalah fenomena yang relatif baru dalam konseling dan terapi, dan laporan dari aplikasi klinis telah berkembang sejak tahun 1970. Strategi mengelola-diri sendiri mencakup tetapi tidak terbatas pada, memantau diri sendiri, memberi imbala sendiri, mengadakan kontrak sendiri, dan pengendalian stimulus. Strategi ini telaha banyak diaplikasikan pada banyak orang dan banyak pada kasus kecemasan, depresi dan kepedihan. Gagasan pokok dari penilaian pengelolaan diri dan intervensi adalah perubahan bisa dihadirkan dengan mengajar orang menggunakan keterampilan menangani situasi bermasalah. Generalisasi dan tetap mempertahankan hasil akhir terpacu dengan jalan mendorong klien untuk menerima tanggung jawab menjalankan strategi ini dalam kehidupan sehari-hari (Rehm & Rokke, 1988).
Dalam program mengelola diri sendiri ini orang mengambil keputusan tentang hal yang berhubungan dengan perilaku khusus yang ingin dikendalikan atau ingin diubah. Misalnya pada pengendalian merokok, minum alkhol, dan lain-lain. Seringkali seseorang menemukan bahwa alasan utama dari orang yang tidak bisa mencapai sasaran adalah tidak dimilikinya keterampilan. Dari hal yang seperti itulah pendekatan pengarahan bisa memberi garis besar bagaimana bisa didapat perubahan dan sebuah rencana yang dapat membawa perubahan.
Empat model yang dapat digunakan menurut Watson dan Tharp (1989), Cormier dan Cormier (1985), Knafer dan Gaelick (1986), dan Williams dan Long (1983) diantaranya:
2. Menerjemahkan sasaran menjadi perilaku yang diinginkan.
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah “perilaku spesifik apa yang inginsaya tingkatkan atau kurangi? Dan perilaku apa yang dapat mengahsilkan sasaran saya itu?”
3. Memantau perkembangan diri sendiri. Pemantauan ini mungkinmembawa ke kesadaran, difokuskan pada perilaku yang bisa diamati dan kongkrit, bukan pada peristiwa yang berlatar belakang sejarah ataupun pengalaman dari perasaan. Dengan memantau diri sendiri, merupakan alat pengukur yang harus digunakan untuk mendefinisikan masalah dan mengumpulkan data evaluatif (Cormier dan Cormier (1985)).
4. Menyelesaikan rencana perubahan. Dimulai dengan membandingkan antara informasi yang didapat dari pemantauan sendiri dan standar seseorang akan perilaku spesifik. Setelah dievaluasi tentang perubahan perilaku yang klien inginkan, mereka perlu menyusun program aksi untuk melakukan perubahan yang sesungguhnya.
BAB III
PEMBAHASAN
Pembahasan
Ada dua jurnal penelitian yang dipakai sebagai referensi untuk melihat bagaimana terapi kognitif-behavioral dipakai untuk menyelesaikan permasalahan klien. Kedua kasus yang ada dalam jurnal ini menunjukkan bahwa terapi kognitif-behavioral dapat digunakan pada beberapa bidang kajian psikologi. Yang dibahas pada kedua jurnal ini adalah pada bidan klinis yaitu terapi kognitif-behavioral untuk pasien yang mengalami depresi pasca stroke dan sementara yang satunya membahas mengenai masalah pendidikan yaitu menangani mahasiswa yang memiliki perilaku prokastinasi akademik.
Kedua jurnal tersebut adalah:
1. Depresi pasca-stroke : epidemiologi, rehabilitasi dan psikoterapi, oleh Jeanette R.
Suwantara (Bagian Klinis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia)
Fenomena yang terjadi dalam jurnal ini adalah perilaku depresi pasca-stroke yang dialami oleh pasien dapat menyebabkan proses penyembuhan yang berjalan lambat dari yang seharusnya. Dengan bantuan terapi kognitif-behavioral, ternyata mampu mengurangi gejala depresi pasien secara lebih efektif dan lebih cepat.
Menurut jurnal ini juga, penelitian eksperimental secara acak menggunakan kontrol membandingkan dua metode psikoterapi yaitu nondirective counselling
dan cognitive-behavioral therapy pada penderita depresi. Hasil penelitian menunjukkan kedua metode sama efektifnya meskipun pada suatu tatanan khusus (special settings) cognitive-behavioral therapy terbukti memberikan hasil yang lebih efektif dan lebih cepat.
2. Profil Perilaku Prokrastinasi Akademik berbasis Cognitive-Behavioral Therapy (CBT) Pada Mahasiswa oleh Farida Coralia, Umar Yusuf dan Milda Yanuvianti (Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung)
berdasarkan proses nalar, tetapi lebih otomatis dan spontan sifatnya. Pikiran-pikiran otomatis ini biasanya muncul dalam waktu singkat dan cepat, sehingga individu jarang menyadari keberadaannya. Justru yang lebih disadari oleh individu adalah emosi atau perasaan yang mengikuti pikiran otomatis tersebut. Oleh karena jarang disadari, maka pikiran otomatis sering diterima sebagai sesuatu kebenaran. Sebegitu disadari bahwa interpretasi yang terbentuk salah dan dikoreksi, maka besar kemungkinan suasana hati atau perasaan yang mengiringi juga akan berubah. Dalam istilah kognitif, saat pikiran-pikiran yang disfungsional direfleksikan kembali secara rasional, maka akan terjadi perubahan secara umum dalam emosi atau perasaan individu.
Kedua, keyakinan-keyakinan (beliefs), yang terdiri dari core belief dan
intermediate beliefs. Penjelasan tentang core belief adalah sebagai berikut: Sejak masa kanak-kanak, individu membentuk dan mengembangkan keyakinan-keyakinan tentang dirinya sendiri, orang lain, dan dunia yang berada di sekitarnya.
Core beliefs atau keyakinan yang paling utama terbentuk atau merupakan kumpulan dari berbagai pemahaman yang sifatnya sangat fundamental dan mendalam, sehingga seringkali tidak dapat diekspresikan atau terucapkan oleh individu, bahkan terhadap dirinya sendiri. Keyakinan mendasar ini dipandang individu sebagai suatu kebenaran yang absolut tidak terbantahkan, demikianlah apa adanya. Keyakinan ini hanya beroperasi terutama saat individu berada dalam kondisi tertekan. Sementara intermediate beliefs mempengaruhi bagaimana individu memandang suatu situasi, yang pada gilirannya mempengaruhi bagaimana pikiran, perasaan dan perilakunya.
Sedangkan pada hasil penelitiannya sendiri disimpulkan bahwa CBT menekankan pada pentingnya peran isi kognitif seseorang terhadap perilaku maupun suasana hatinya. Jadi bagaimana seseorang memaknakan suatu stimulus yang terjadi di lingkungan, maka hal itulah yang akan menentukan perilaku dan atau emosi apa yang akan muncul. Menurut penelitinya pun terapi kognitif-behavior mampu untuk mengubah persepsi yang salah ini agar berganti menjadi perilaku yang sehat.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan jurnal yang telah ditelaah mengenai terapi kognitif-behavior dapat disimpulkan bahwa terapi ini dapat digunakan pada lebih dari satu bidang dalam psikologi. Contoh yang didapatkan ada yang berasal dari bidang klinis, yaitu untuk mengatasi masalah depresi pasca stroke dan pada bidang pendidikan yaitu perilaku prokastinasi yang banyak melekat pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi.
Pada kedua aplikasi psikoterapi ini terbukti secara efektif membuat perilaku yang ingin dirubah berhasil diubah menjadi perilaku yang lebih positif. Dengan memberikan pemahaman kognitif untuk merubah perilaku, akan membuat perubahan yang dilakukan menjadi lebih mudah dilksanakan.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi edisi ke 4.
Semarang: IKIP Semarang Press
Suwantara, Jeanette R. (2004). Depresi pasca-stroke : epidemiologi, rehabilitasi dan psikoterapi. Jurnal Kedokteran Trisakti Oktober-Desember 2004 Volume 23 No. 4.
Jakarta: Universitas Indonesia
Aplikasi Cognitive-Behaviour Therapy sebagai Teknik
Perubahan Perilaku
Disusun sebagai tugas UTS take home mata kuliah Pengantar Psikoterapi Kelas 2B Dosen Pengampu: Farida Hidayati S.Psi, M.Psi
Disusun oleh: