BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Right Issue
Right Issue adalah hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), dimana
merupakan penawaran umum saham terbatas. Penawaran umum saham terbatas ini merupakan saham tambahan yang diterbitkan perusahaan yang telah go public atau sering disebut penawaran tambahan (seasoned offering). Menurut Brealey,
Myers, dan Marcus (2007:421), “Perusahaan publik bisa menerbitkan sekuritas,
baik dengan melakukan penawaran kas umum pada investor secara umum atau
dengan melakukan penawarn umum terbatas (right issue)”.
Menurut Gitman (2009:284), yaitu:
In a rights offering, the firm grants rights to its shareholders. These financial instrument allow stockholders to purchase additional shares at a price below the market price, in direct proportion to their number of owned shares. Rights are used primarily by smaller corporations whose shares are either closely owned or publicly owned and not actively traded. (Dalam rights issue, perusahaan memberikan hak kepada pemegang saham. Instrumen keuangan ini memungkinkan pemegang saham untuk membeli saham tambahan dengan harga di bawah harga pasar, dalam proporsi langsung dengan jumlah saham yang dimiliki mereka. Rights
digunakan terutama oleh perusahaan-perusahaan kecil yang sahamnya baik milik sendiri atau milik publik dan tidak aktif diperdagangkan).
Sedangkan Van Horne dan Wachowicz (2007:327) menyatakan, “Hak
memesan efek terlebih dahulu ; penjualan sekuritas baru dimana pemegang saham lama diberikan keutamaan dalam pembelian sekuritas ini hingga sejumlah bagian saham biasa yang mereka miliki disebut juga rights offering”. Dikatakan
sekuritas membutuhkan hak atas saham dengan jumlah tertentu. Hak tersebut
menunjukkan opsi jangka pendek atas pembelian sekuritas baru dengan harga pendaftaran.
Right issue adalah salah satu tindakan corporate action yang menurut peraturan perdagangan BEI, corporate action merupakan tindakan emiten yang memberikan hak kepada seluruh pemegang saham dari jenis dan kelas yang sama
seperti hak untuk menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), hak untuk memperoleh dividen tunai, saham dividen, saham bonus, Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu, Waran, atau hak-hak lainnya.
Menurut Anoraga dan Kartika (2008:72), Right merupakan “salah satu
jenis opsi yang merupakan derivatif (turunan) dari efek yang sebenarnya dan
mempunyai masa hidup yang singkat. Di Indonesia right issue diatur dalam peraturan Bapepam No. IX.D1 tentang Hak Memesan Efek Terlebih dahulu
khususnya butir 2 disebutkan bahwa “Apabila suatu perusahaan telah melakukan
Penawaran Umum saham atau perusahaan publik bermaksud untuk menambah modal sahamnya, termasuk melalui penerbitan Waran atau Efek Konversi, maka
setiap pemegang saham harus diberi Hak Memesan efek Terlebih Dahulu
sebanding dengan persentase pemilikan mereka”.
Secara umum right issue ditujukan untuk memperkuat permodalan suatu
perusahaan. Dana dari hasil right issue dapat digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya: melakukan ekspansi usaha, melunasi pembayaran utang atau akusisi
Tindakan right issue ini tentu harus memberikan hasil yang sesuai harapan
perusahaan dan para pemegang saham. Didalam memenuhi harapan para pemegang saham right issue sangat terkait dengan pre-emptive right/hak prioritas
(hak yang dimiliki oleh pemegang saham lama untuk mempertahankan porsi kepemilikannya dalam perusahaan).
Berdasarkan pre-emptive right/hak prioritas maka perusahaan harus
memberikan hak atas saham (right) untuk setiap lembar saham biasa yang dimiliki oleh para pemegang saham lama. Hak atas saham bermanfaat bagi para pemegang
saham opsi untuk membeli right issue sesuai dengan klausal penawaran dengan periode umumnya tiga minggu atau kurang. Klausal penawaran adalah hak atas saham yang dibutuhkan untuk membeli right issue dalam jumlah saham
tambahan, harga pembelian per lembar dan tanggal kadaluarsa penawaran tersebut.
Menurut Van Horne dan Wachowicz (2007:328) ada 3 (tiga) pilihan yang
dilakukan para pemilik hak atas right issue, yaitu:
1) Menggunakan haknya dan membeli saham tambahan, 2) Menjual haknya, karena memang dapat dipindahtangankan, 3) Tidak melakukan apapun dan membiarkan hak tersebut kadaluarsa. Di dalam pemilihan tersebut para pemegang saham yang rasional akan memilih pilihan terakhir jika pemegang saham memiliki saham dalam jumlah yang sedikit atau nilai atas saham dapat diabaikan.
Pilihan terakhir bila dilakukan akan memiliki dampak bagi pemegang
saham menurut Anoraga dan Kartika (2008:72–73), yaitu: “1) dilusi (berkurangnya proporsi kepemilikan pemegang saham yang tidak menggunakan haknya), 2) mengurangi ROI (return on onvestment) dengan bertambahnya saham
kepada pemegang saham. Pada hakikatnya right issue tidak terpisahkan dari
strategi perusahaan untuk memperkuat daya saing (competitive position).
Namun, tindakan dalam menawarkan right issue tidak selalu diterima oleh
para pemegang saham, sehingga sering terjadi pro dan kontra di kalangan pemegang saham. Padahal diketahui right issue memiliki keterikatan hubungan yang tidak terpisahkan dengan strategi perusahaan untuk memperkuat daya saing
(competitive position). Untuk itu para pemegang saham akan menelaah setiap tindakan dalam melakukan hak atas right issue. Tindakan tersebut dilihat dari
keuntungan dan kelemahan perusahaan melakukan right issue, menurut Aini (2009:15), yaitu:
1. Keuntungan right issue, yaitu:
a. Salah satu sumber dana bagi perusahaan
b. Tidak memerlukan prosedur dan aturan yang ketat seperti halnya dengan penawaran umum perdana atau go public
c. Right issue dapat dikombinasikan dengan derivatif efek lainnya, seperti warrant atau convertible stock.
2. Kelemahan right issue, yaitu:
a. Belum ada peraturan mengenai penggunaan right issue
b. Adanya perubahaan harga saham setelah dilakukannya right issue
c. Adanya dilusi, yaitu: pengurangan persentasi kepemilikan dari pemegang saham lama jika tidak digunakan right issue tersebut.
Keuntungan dan kelemahan perusahaan melakukan right issue juga harus mempertimbangkan beberapa hal dalam menelah right issue, menurut Fakhruddin
(2008:220–221), sebagai berikut: “latar belakang dilakukannya right issue, tujuan
right issue, rencana penggunaan dana hasil right issue, kinerja keuangan emiten setelah right issue, dan harga pelaksanaan, serta rasio right issue”. Pertimbangan
meningkatkan perdagangan saham. Bagi para pemegang saham tindakan right
issue diharapkan hasilnya sesuai dengan tujuan jangka panjang untuk mempertahankan tingkat kepemilikan saham dengan menggunakan haknya dalam
membeli tambahan saham.
2.2. Struktur Modal
Struktur modal, menurut Van Horne dan Wachowicz (2007:232) adalah
“bauran (atau proporsi) pendanaan permanen jangka panjang perusahaan yang
diwakili oleh utang, saham preferen, dan ekuitas saham biasa”. Jadi struktur
Modal, yaitu keputusan keuangan yang berkaitan dengan komposisi utang, saham
preferen dan saham biasa yang harus digunakan oleh perusahaan. Dimana keputusan penting yang dihadapi oleh manajer keuangan dalam kaitannya dengan operasional perusahaan. Keputusan Struktur Modal yang diambil oleh manajer
tidak hanya berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan, tetapi juga berpengaruh terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan.
Modal menunjukkan dana jangka panjang pada suatu perusahaan yang meliputi semua bagian di sisi kanan neraca perusahaan, kecuali utang jangka pendek. Untuk itu modal, yaitu:
a. Modal Pinjaman
Modal pinjaman didalam struktur modal hanya semua pinjaman jangka
panjang yang diperoleh perusahaan. Menurut Sundjaja dan Barlian (2002:324),
“utang jangka panjang merupakan salah satu dari bentuk pembiayaan jangka
Pemberi dana biasanya meminta return yang paling kecil atas segala jenis modal
jangka panjang menurut Sundjaja dan Barlian (2002:240) karena:
1. Modal pinjaman mempunyai prioritas lebih dahulu bila terjadi tuntutan atas pendapatan/aktiva yang tersedia untuk pembayaran. 2. Modal pinjaman mempunyai kekuatan hukum atas pembayaran dibandingkan dengan pemegang saham prefern atau saham biasa. 3. Bunga pinjaman merupakan biaya yang dapat mengurangi pajak, maka biaya modal pinjaman yang sebenarnya secara substansial menjadi lebih rendah.
b. Modal Sendiri (Ekuitas)
Modal sendiri/ekuitas merupakan dana jangka panjang yang diperoleh dari
pemilik perusahaan (pemegang saham). Menurut Sundjaja dan Barlian
(2002:240), “Modal sendiri atau equity capital adalah dana jangka panjang
perusahaan yang disediakan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham), yang terdiri dari berbagai jenis saham (saham preferen dan saham biasa) serta laba
ditahan”. Pendanaan dengan modal sendiri akan menimbulkan opportunity cost.
Tidak seperti modal pinjaman yang harus dibayar pada tanggal tertentu di masa yang akan datang, modal sendiri diharapkan tetap dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Di dalam penelitian ini perusahaan menggunakan modal sendiri karena mengeluarkan right issue. Perubahan struktur modal dengan penerbitan right issue
diharapkan berpengaruh positif terhadap return perusahaan. Struktur modal merupakan masalah yang penting karena kinerja keuangan didapat dari baik atau
buruknya struktur modal. Struktur modal yang kurang baik dengan jumlah hutang yang sangat tinggi akan membebani perusahaan yang bersangkutan, sedangkan menerbitkan saham baru menyebabkan perubahan struktur modal yang akan
2.3. Kinerja Keuangan
Perkembangan perusahaaan sangat perlu diperhatikan dan diketahui baik oleh perusahaan, pemegang saham, ataupun investor baru. Hal itu diperlukan
untuk mengambil keputusaan untuk perusahaan paling tidak untuk lima tahun terakhir, dimana dilakukan baik perusahaan dalam proses perkenalan, perkembangan, maturity ataupun decline. Kinerja keuangan adalah kinerja yang
dinilai berdasarkan ukuran angka, dimana anggaran disesuaikan dengan realisasi anggarannya. Tindakan tersebut dilakukan dengan membandingkan kinerja secara
internal dan eksternal. Tindakan internal adalah membandingkan perusahaan saat ini dan sebelumnya, sedangkan tindakan eksternal adalah membandingkan kinerja perusahaan dengan pesaing lainnya (competitive benchmarking).
Untuk itu dilakukan analisis laporan keuangan diperusahaan dan juga diperlukan data keuangan masa lalu agar dapat diperkirakan untuk tahun – tahun berikutnya. Analisis laporan keuangan dapat diketahui dengan tingkat keuangan
perusahaan dan hasil perusahaan tersebut, sehingga dapat digunakan untuk mengambil keputusan. Analisis laporan keuangan, menurut Syamsuddin
(2007:37) merupakan “perhitungan rasio – rasio untuk menilai keadaan keuangan
perusahaan di masa lalu, saat ini, dan kemungkinannya di masa depan”.
Sedangkan analisis laporan keuangan menurut Brigham dan Houston (2006:94)
akan melibatkan “1) membandingkan kinerja perusahaan dengan kinerja dari
perusahaan–perusahaan lain dalam industri yang sama dan 2) mengevaluasi tren
Analisis laporan keuangan memerlukan data laporan tahunan (annual
report) sebagai input dalam analisis rasio. Laporan tahunan, menurut Brigham
dan Houston (2006:45) adalah “sebuah laporan yang diterbitkan oleh perusahaan
untuk para pemegang sahamnya. Laporan ini memuat laporan keuangan dasar dan juga analisis manajemen atas operasi tahun lalu dan pendapat mengenai prospek –
prospek perusahaan di masa mendatang”. Di dalam analisis laporan keuangan data
yang paling dibutuhkan dalam laporan tahunan adalah laporan keuangan, seperti : neraca, laporan laba rugi, laporan laba ditahan, dan laporan arus kas. Laporan
keuangan menurut Brealey, Myers, dan Marcus (2007:56–64), yaitu:
1) Neraca menampilkan potret asset (aktiva) dan kewajiban perusahaan pada waktu tertentu. Asset tersebut – mewakili penggunaan kas yang didapatkan – didaftar pada sisi kiri neraca. Kewajiban yang mewakili sumber kas itu – didaftar di sebelah kanan. 2) Laporan laba rugi merupakan laporan keuangan yang memperlihatkan pendapatan, beban, dan laba bersih perusahaan selama periode tertentu. 3) Laporan arus kas memperlihatkan arus kas masuk dan keluar dari operasi serta dari investasi dan aktivitas pendanaan.
Laporan keuangan menurut Brigham dan Houston (2006:46–58), sebagai berikut:
Ada beberapa cara dalam melakukan analisis laporan keuangan tersebut,
tetapi analisis rasio keuangan paling umum dan sering digunakan. Dikarenakan analisis rasio keuangan dapat menunjukkan kekuatan ataupun kelemahan
perusahaan dan juga pengukuran relatif dari operasi perusahaan. Rasio keuangan
menurut Harahap (2008:297) adalah “angka yang diperoleh dari hasil
perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan”. Dengan analisis rasio keuangan dapat membandingkan rasio keuangan perusahaan dengan rasio
keuangan rata – rata industri atau dengan rasio keuangan perusahaan lainnya. Teknik rasio keuangan paling umum digunakan, dimana menyederhanakan informasi hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya. Penyederhanaan
tersebut menilai secara cepat hubungan antara pos dan dapat membandingkannya dengan rasio lain untuk mendapat informasi dan memberikan penilaian. Hal itu dapat dilakukan dengan cross sectional approach untuk mengetahui baik/buruk
operasi yang dilakukan perusahaan dibandingkan perusahaan lain, selain itu dengan time series approach untuk membandingkan rasio perusahaan saat ini
dengan sebelumnya sehingga dapat diketahui perusahaan maju atau mundur. Namun, analisis rasio keuangan memiliki keunggulan dan keterbatasan, menurut Harahap (298 -299), yaitu:
1. Keunggulan analisis rasio
1) Rasio merupakan angka – angka ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.
2) Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
3) Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain.
5) Menstandarisir size perusahaan
6) Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodic atau
“time series”.
7) Lebih mudah melihat tren perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang.
2. Keterbatasan analisis rasio
1) Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya.
2) Keterbatasan yan dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjadi keterbatasan teknik ini seperti.
a. Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung taksiran dan judgment yang dapat dinilai bias atau subjektif
b. Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar.
c. Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio.
d. Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berebeda.
3) Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia, akan menimbulkan kesulitan menghitung rasio.
4) Sulit jika data yang tersedia tidak sinkron.
5) Dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika dilakukan perbandingan bisa menimbulkan kesalahan.
Walaupun analisis rasio memiliki keunggulan dan keterbatasan, analisis rasio merupakan cara yang tepat untuk merangkum sejumlah besar data dari laporan keuangan dan membandingkan kinerja perusahaan agar dapat digunakan
manajemen dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Untuk itu ada beberapa pembagian rasio, tetapi pada umumya rasio dibagi empat, yaitu : rasio likuiditas,
rasio leverage, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas. Di dalam penelitian penggunaan rasio sesuai yang sering digunakan, yaitu rasio likuiditas diproksikan dengan current ratio, rasio leverage diproksikan dengan debt ratio, rasio aktivitas
diproksikan dengan aset turn over, dan rasio profitabilitas diproksikan dengan
2.3.1. Rasio likuiditas
Rasio likuiditas, menurut Harahap (2008:301) menggambarkan
“kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya”.
Likuiditas, menurut Brealey, Myers, dan Marcus (2008:77) adalah “kemampuan
untuk menjual sebuah asset guna mendapatkan kas pada waktu singkat”. Dengan
kata lain rasio ini kas dapat diubah dengan cepat dan murah. Rasio likuiditas ini
menggambarkan perusahaan mampu melunasi utang – utangnya, biasanya dilengkapi dengan anggaran kas. Namun, dengan menghubungkan jumlah kas dan aktiva lancar dengan kewajiban lancar dapat memberikan ukuran likuiditas yang
cepat dan mudah digunakan.
Rasio likuiditas dianalisis bersumber pada sumber informasi tentang modal
kerja yakni pos – pos aktiva lancar dan utang lancar. Beberapa rasio likuiditas yang paling umum digunakan menurut Darsono dan Ashari (2005:52-54), yaitu:
1.Current ratio
Current ratio merupakan kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki. 2.Quick test ratio
Quick test ratio yaitu kemampuan aktiva lancar minus persediaan untuk membayar kewajiban lancar.
3.Net working capital
Net working capital merupakan selisih antara current asset (aktiva lancar) dengan current liabilities (utang lancar). Jumlah net working capital ini akan lebih berguna untuk kepentingan pengawasan intern di dalam suatu perusahaan daripada digunakan sebagai angka pembanding dengan perusahaan lain.
4.Defensive Interval ratio
Pada penelitian rasio likuiditas yang digunakan adalah current ratio (CR)
karena menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansialnya. Hal ini yang paling sering dan umum digunakan para kreditur dalam
mengambil keputusan pemberian pinjaman saat perusahaan mengalami kesulitan keuangan atau membutuhkan dana tambahan dalam operasi perusahaan. Dengan kata lain para kreditur melihat ketepatan waktu perusahaan membayar utangnya
pada saat jatuh tempo.
Current ratio adalah rasio likuiditas yang membandingkan current asset
dengan current liabilities. Current asset umumnya, yaitu: kas, sekuritas, piutang usaha, dan persediaan, sedangkan current liabilities, yaitu: utang usaha, wesel tagih jangka pendek, utang jatuh tempo yang kurang dari satu tahun, akrual pajak,
dan beban – beban akrual lainnya. Di dalam rasio ini apabila current liabilities
meningkat lebih cepat dari current asset maka menyebabkan penurunan yang cepat pada current ratio. Hal ini menunjukkan adanya masalah karena current
ratio merupakan dasar penilaian terbaik dari perubahan current asset menjadi kas dalam pemenuhan current liabilities.
Sebaliknya jika current asset meningkat lebih cepat dari current liabilities
itu juga tidak baik. Hal itu menunjukkan perusahaan tidak menguntungkan karena
current asset tidak dimanfaatkan dengan baik. Untuk itu yang dikatakan perusahaan yang baik dalam current rationya harus dianalisis dengan memperhatikan beberapa faktor seperti: rata – rata rasio industri, frekuensi
2.3.2. Rasio Leverage
Rasio leverage yang dikenal juga dengan pengungkit keuangan (financial leverage), menurut Brealey, Myers, dan Marcus (2008:77) “mengukur seberapa
besar leverage keuangan yang ditanggung perusahaan”. Leverage keuangan dapat berupa utang jangka pendek dan utang jangka panjang. Tingkat leverage
ditunjukkan di dalam neraca yang mana terlihat besarnya modal pinjaman yang
digunakan dalam operasi perusahaan. Perlu diketahui utang dapat meningkatkan pengembalian saham pada pemegang saham pada masa baik dan sebaliknya pada
masa buruk.
Menurut Brigham dan Houston (2006:101) ada 3 (tiga) hal penting dalam
leverage, yaitu:
1) Dengan memperoleh dana melalui utang, para pemegang saham dapat memeprtahankan kendali mereka atas perusahaan tersebut dengan sekaligus membatasi investasi yang mereka berikan. 2) kreditur akan melihat pada ekuitas atau dana yang diperoleh sendiri, sebagai suatu batasan keamanan, sehingga semakin tinggi proprosi dari jumlah modal yang diberikan oleh pemegang saham, maka semakin kecil resiko yang harus dihadapi oleh kreditor. 3) jika perusahaan mendapatkan hasil dari investasi yang didanai dengan dana hasil pinjaman lebih besar daripada bunga yang dibayarkan, maka pengembalian dari modal pemilik akan diperbesar atu diungkit (leveraged).
Pengukuran utang didasarkan pada data–data yang berasal dari neraca dan rasio yang biasanya yang digunakan menurut Syamsuddin (2007:54-55), yaitu:
1. Debt Ratio
2. Debt Equity Ratio
Rasio ini menunjukkan hubungan antara jumlah pinjaman jangka panjang yang diberikan oleh para kreditur dengan jumalah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan.
3. Debt to Total Capitalization Ratio
Rasio ini mengukur berapa besar modal jangka panjang perusahaan (total capitalization) yang dibiayai oleh kreditur jangka panjang.
4. Times Interest Earned
Rasio ini sering juga disebut “the total interest coverage ratio” yang
tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban – kewajiban tetap berupa bunga. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik/mampu suatu perusahaan di dalm membayar bunga – bunga atas segala utang – utangnya.
5. Total Debt Coverage
Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban – kewajiban kepada kreditur baik yang berupa bunga maupun pinjaman pokok (principal) ataupun pembayaran sinking fund.
6. The overall coverage ratio
The overall coverage ratio ini hampir sama dengan total debt coverage
hanya dengan tambahan terhadap kewajiban – kewajiban finansial tetap lainnya seperti pemabayaran lease dan dividen untuk saham preferen. Pada penelitian ini rasio leverage yang digunakan adalah debt ratio (DR)
menggambarkan solvabilitas yang menggambarkan total utang terhadap total aktiva. Debt ratio menunjukkan bahwa semakin tinggi debt ratio semakin besar
jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang sangat diinginkan pemegang saham. Namun, para kreditur lebih menyukai debt ratio yang lebih rendah karena semakin rendah membuat kreditur
tidak mengalami dampak yang cukup besar ketika terjadi likuidasi.
2.3.3. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah kegiatan perusahaan dalam melakukan operasi
tingkat penjualan saat ini dan ke depan. Untuk itu dapat melihat perusahaan
efektif dan efisien atau tidak dalam mengelola aktivanya, sehingga aktiva yang rendah menunjukkan keuntungan yang rendah dan sebaliknya aktiva yang tinggi
menunjukkan biaya modal modal yang terlalu tinggi juga dan menyebabkan keuntungan tertekan.
Rasio aktivitas menurut Harahap (2008:308-309), yaitu:
1. Inventory turnover ratio
Rasio ini menunjukkan berapa cepat perputaran persediaan dalam siklus produksi normal. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap bahwa kegiatan penjualan berjalan cepat.
2. Receivable Turn over
Rasio ini menunjukkan berapa cepat penagihan piutang. Semakin besar semakin baik karena penagihan piutang dilakukan dengan cepat.
3. Fixed Aset Turn Over
Rasio ini menunjukkan berapa kali nilai aktiva berputar bila diukur dari volume penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik. Artinya kemampuan aktiva tetap mencipatakan penjulan yang tinggi.
4. Total asset turn over
Rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik.
5. Average Collection period
Rasio ini menunjukkan berapa lama perusahaan melakukan penagihan piutang. Semakin pendek periodenya semakin baik. Rasio ini sejalan dengan informasi yang digambarkan Receivable Turn Over.
Pada penelitian ini menggunakan rasio perputaran total aktiva (total assets
turnover ratio/TATO) mengukur perputaran dari seluruh aktiva perusahaan. Semakin tinggi rasio maka semakin baik maka seandainya rasio ini rendah maka dapat melakukan langkah – langkah seperti meningkatkan penjualan, menjual
2.3.4. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menunjukkan pada laba perusahaan atau disebut juga dengan rasio rentabilitas. Menurut Brigham dan Houston (2006:107) rasio
profitabilitas adalah “sekelompok rasio yang menunjukkan gabungan efek – efek
dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang pada hasil – hasil operasi”. Untuk mendapatkan laba dapat melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti
kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya. Rasio profitabilitas menurut Brigham dan Houston (2006:107–110), yaitu:
1. Profit margin on sales
Margin laba atas penjualan (Profit margin on sales), yang dihitung dengan membagi laba bersih dengan penjualan. Dimana margin laba yang rendah mungkin akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi atas inivestasinya pemegang saham karena leverage keuangan.
2. Basic earning power
Rasio kemampuan dasar untuk menghasilkan laba (Basic earning power) dihitung dengan membagi keuntungan sebelum beban bunga dan pajak (EBIT) dengan total aktiva. Rasio ini bermanfaat dalam membandingkan perusahaan dengan berbagai situasi pajak dan tingkat pengungkitan keuangan yang berbeda.
3. Return on total assets
Rasio antara laba bersih terhadap total aktiva mengukur tingkat pengembalian total aktiva setelah beban bunga dan pajak.
4. Return on common equity
Rasio laba bersih terhadap ekuitas saham biasa, yang diukur sebagai tingkat pengembalian ekuitas saham biasa (Return on common equity).
Pada penelitian ini menggunakan return on asset (ROA) dan net profit
margin (NPM) dalam melihat kemampuan perusahaan menghasilkan laba. Return on Asset (ROA) sering digunakan manajer dalam mengukur kinerja perushaan dalam menghasilkan laba. Dikarenakan laba bersih mengukur keuntungan setelah
dapat membeli asset yang sama saat ini dan tingkat pengembalian yang tinggi dan
sebaliknya.
Net profit margin menunjukkan pendapatan bersih yang diterima dari
setiap penjualan. Semakin besar NPM semakin baik karena terlihat perusahaan baik dalam mendapatkan laba yang cukup tinggi. Namun, hal itu belum tentu karena margin yang tinggi berarti volume penjualan rendah. Maka margin yang
rendah dan volume penjualan tinggi juga dapat menunjukkan kemampuan perusahaan yang baik.
2.4. Hubungan Right Issue Terhadap Kinerja Perusahaan
Pada dasarnya analisis rasio dalam laporan keuangan dilakukan untuk melakukan tindakan dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Tindakan tersebut salah satunya dalam hal kinerja keuangan, yakni: pendanaan atau pembiayaan
perusahaan untuk menanggulangi kesulitan keuangan (financial distress). Pembiayaan modal banyak dilakukan perusahaan dengan menjadi perusahaan go
public, dimana perusahaan memasuki pasar modal. Hal itu dilakukan untuk lebih mudah dalam mendapatkan modal dengan pasar modal sebagai wadah ataupun alternatif sumber pembiayaan perusahaan. Setelah perusahaan tercatat atau listed
di bursa efek maka perusahaan dapat melakukan penawaran saham, salah satu penawaran perusahaan dengan right issue.
Dana dari hasil right issue dapat digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya: melakukan ekspansi usaha, melunasi pembayaran utang atau akusisi internal. Selain itu right issue juga merupakan tindakan pencegahan terhadap
Tindakan right issue ini tentu harus memberikan hasil yang sesuai harapan
perusahaan dan para pemegang saham. Untuk itu hubungan right issue terhadap kinerja perusahaan haruslah berpengaruh baik pada perusahaan. Dengan kata lain
right issue memberikan peningkatan pada kinerja keuangan dengan melihat pada rasio keuangan baik rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas di dalam penelitian ini.
2.4.1. Hubungan Right Issue Terhadap Current Ratio
Current ratio (CR) merupakan salah satu rasio dalam rasio likuiditas yang mana merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang harus
segera dipenuhi. Current ratio paling sering dan umum digunakan terutama oleh para kreditur karena menunjukkan tingkat keamanan sebuah perusahaan dalam memenuhi kewajibannya saat melakukan peminjaman.
Pada dasarnya apabila current liabilities meningkat lebih cepat dari
current asset maka current ratio mengalami penurunan yang cepat. Hal ini
menunjukkan adanya perubahan current asset menjadi kas menjadi lambat. Sebaliknya jika current asset meningkat lebih cepat dari current liabilities itu juga tidak baik. Hal itu menunjukkan perusahaan tidak menguntungkan karena current
asset tidak dimanfaatkan dengan baik. Perusahaan yang baik dalam current rationya harus dianalisa dengan memperhatikan beberapa faktor seperti rata – rata
rasio industri, frekuensi melakukan kredit, ketepatan waktu dalam pengembalian, dan lainya.
Hubungan right issue dengan current ratio seharusnya memiliki perbedaan
issuer dan perusahaan nonissuer. Pada hasil penelitian yang dilakukan Putra
(2006) menggunakan current ratio membuktikan bahwa pada uji independen untuk mengetahui perbedaan kinerja perusahaan issuer dan nonissuer, terlihat
current ratio signifikan artinya ada perbedaan antara perusahaan issuer dengan
nonissuer.
Rusmilawati (2006) meneliti kinerja perusahaan terhadap current ratio
dibuktikan beberapa hal, yaitu: (1) di dalam perbedaan perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman right issue dengan uji berpasangan, terlihat current ratio
signifikan artinya ada perbedaan pada perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman dan perusahaan menjadi lebih baik setelah pengumuman right issue. (2) antara perusahaan yang melakukan right issue dan yang tidak melakukan right
issue hasilnya signifikan artinya terdapat perbedaan current ratio antara perusahaan yang melakukan right issue dan perusahaan yang tidak melakukan
right issue.
Andriyani (2008) meneliti pengaruh sikap refleksi oportunistik kinerja perusahaan pada saat perusahaan sebelum dan sesudah right issue, dibuktikan
bahwa baik secara simultan dan parsial current ratio signifikan artinya ada perbedaan sebelum dan sesudah right issue. Tarigan (2011) membuktikan bahwa
current ratio signifikan baik pada saat sebelum dan sesudah right issue, serta pada perusahaan issuer dan nonissuer. Artinya ada perbedaan pada perusahaan setelah
right issue dan ada perbedaan pada perusahaan issuer dan nonissuer. Sedangkan
2.4.2. Hubungan Right Issue Terhadap Debt Ratio
Debt ratio (DR) adalah rasio yang mengukur berapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur. Semakin tinggi debt ratio semakin besar
jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang sangat diinginkan pemegang saham. Namun, para kreditur lebih menyukai debt ratio yang lebih rendah karena semakin rendah membuat kreditur
tidak mengalami dampak yang cukup besar ketika terjadi likuidasi. Rasio ini menekankan pentingnya pendanaan utang bagi perusahaan dengan jalan
menunjukkan persentase aktiva perusahaan yang didukung oleh pendanaan hutang.
Hubungan right issue dengan debt ratio seharusnya memiliki perbedaan
dan pengaruh, hal itu dapat dilihat pada hasil penelitian yang dilakukan, Sukwadi (2006) meneliti tentang debt ratio perusahaan yang melakukan right issue dan hasilnya berbeda dengan perusahaan yang tidak melakukan right issue, di mana
diperoleh hasil debt ratio signifikan dan ternyata debt ratio lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan sejenis yang tidak melakukan right issue.
Yokobus dan Ediningsih (2009) membuktikan, yaitu: 1) Di dalam perbedaan perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman right issue terlihat debt
ratio signifikan artinya ada perbedaan pada perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman. 2) untuk mengetahui perbedaan kinerja perusahaan issuer dan
nonissuer, terlihat debt ratio juga signifikan artinya ada perbedaan antara
pada perusahaan issuer dan nonissuer. Artinya ada perbedaan pada perusahaan
setelah right issue dan ada perbedaan pada perusahaan issuer dan nonissuer.
2.4.3. Hubungan Right Issue Terhadap Total Asset Turnover ratio
Total asset turnover ratio (TATO) menunjukkan perputaran total aktiva
diukur dari volume penjualan. Menunjukkan seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan. Semakin tinggi rasio maka semakin baik maka seandainya rasio ini rendah maka dapat melakukan langkah–langkah seperti
meningkatkan penjualan, menjual beberapa asset, atau dikombinasikan keduanya. Apabila rasio ini rendah akibat perputaran lambat yang menunjukkan aktiva lebih
besar dari penjualannya.
Hubungan right issue terhadap total asset turnover seharusnya memiliki pengaruh dan ada perbedaan, dapat dilihat pada penelitan sebagai berikut:
Rusmilawati (2006) membuktikan bahwa total asset turnover signifikan pada perubahan perusahaan sebelum dan sesudah right issue. Artinya ada perbedaan
yang terjadi pada perusahaan setelah right issue karena adanya peningkatan penjualan setelah right issue. Andriyani (2008) meneliti pengaruh sikap refleksi oportunistik kinerja perusahaan pada saat perusahaan sebelum dan sesudah right
issue, dibuktikan bahwa baik secara simultan dan parsial total asset turnover
signifikan artinya ada perbedaan sebelum dan sesudah right issue.
2.4.4. Hubungan Right Issue Terhadap Return on Asset
diukur antara laba bersih terhadap total aktiva mengukur tingkat pengembalian
total aktiva setelah beban bunga dan pajak. Dikarenakan laba bersih mengukur keuntungan setelah dipotong beban bunga, sehingga profitabilitas terlihat jelas
dari perusahaan sebagai fungsi struktur modalnya. Semakin tinggi ROA menunjukkan perusahaan dapat membeli asset yang sama saat ini dan tingkat pengembalian yang tinggi dan sebaliknya.
Untuk hubungan right issue dengan return on asset harus berpengaruh dan ada perbedaan, dapat dilihat pada hasil penelitian, yaitu: Rusmilawati (2006) yang
menunjukkan ROA cukup signifikan pada perusahaan setelah dilakukannya right issue dan begitu juga pada perusahaan issuer dan nonissuer ROA juga berpengaruh signifikan yang artinya ada perbedaan yang terjadi. Yokobus dan
Ediningsih (2009) menunjukkan ROA memiliki perbedaan yang signifikan pada perusahaan setelah right issue.
2.4.5. Hubungan Right Issue Terhadap Net Profit Margin
Net profit margin (NPM) yang dihitung dengan membagi laba bersih dengan penjualan. Semakin besar NPM semakin baik karena terlihat perusahaan baik dalam mendapatkan laba yang cukup tinggi. Namun, hal itu belum tentu
karena margin yang tinggi berarti volume penjualan rendah. Sebaliknya margin yang rendah dan volume penjualan tinggi mungkin akan mendapatkan tingkat
pengembalian yang lebih tinggi atas investasinya pemegang saham karena leverage keuangan.
Untuk itu hubungan right issue dengan net profit margin (NPM) memiliki
hasil penelitian, berikut: Putra (2006) menggunakan net profit margin
membuktikan bahwa pada uji independen untuk mengetahui perbedaan kinerja perusahaan issuer dan nonissuer, terlihat net profit margin signifikan artinya ada
perbedaan antara perusahaan issuer dengan nonissuer. Rusmilawati (2006) cukup signifikan pada perusahaan setelah dilakukannya right issue dan begitu juga pada perusahaan issuer dan nonissuer net profit margin juga berpengaruh signifikan
yang artinya ada perbedaan yang terjadi, sehingga menunjukkan dana yang diperoleh dapat dikelola dengan baik.
2.5. Penelitian Terdahulu
Ada beberapa penelitian yang telah dilakukan dalam melihat pengaruh
right issue terhadap kinerja perusahaan, yaitu:
Kabir dan Roosenboom (2002) meneliti tentang dapatkah pasar saham
mengantisipasi kinerja operasi masa depan dengan menggunakan bukti dari ekuitas right issue. Penelitian menggunakan pengumuman right issue dan
mengamati bahwa penurunan harga saham yang signifikan secara statistik terjadi ketika perusahaan mengumumkan right issue. Sampel diambil dari daftar perusahaan industri yang melakukan right issue yang terdaftar di bursa
Amsterdam antara Januari 1984 dan Desember 1995. Namun sampel akhir terdiri dari 58 perusahaan issuer. Data laporan keuangan dikumpulkan dari tahunan
perusahaan selama lima tahun setelah right issue. Data ini dikumpulkan dari REACH (database Belanda tersedia di CD-ROM), dan buku tahunan perusahaan Belanda dengan periode penelitian dari 60 hari sebelum pengumuman sampai 30
Metode penelitian yang digunakan adalah event study yang digunakan
untuk mengukur reaksi harga saham menjadi pengumuman rights issue. Untuk menguji apakah pengembalian kelebihan kumulatif rata-rata secara signifikan
berbeda dari nol. Penelitian dilakukan dengan konvensional t-test berdasarkan pengembalian kelebihan standar dan juga melakukan non-parametrik tes seperti uji tanda dan uji Wilcoxon signed Ranks Test. Variabel yang digunakan return on
sales yang mirip dengan return on asset, yaitu: laba bersih dibagi dengan rata-rata awal dan nilai akhir buku total aset, arus kas dibagi dengan nilai rata-rata total
aset, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dibagi dengan nilai rata-rata total aset, dan laba sebelum bunga dan pajak ditambah depresiasi dan amortisasi (EBITDA) dibagi dengan nilai rata-rata total aset.
Analisis empiris menunjukkan bahwa harga saham menurun secara signifikan pada pengumuman right issue. Hal ini menunjukkan bahwa pemegang saham menafsirkan ekuitas rights issue sebagai berita negatif. Efek dari right
issue tidak kualitatif berbeda dari non-right issue. Analisis menyampaikan informasi kualitatif sama dan menghasilkan perubahan kualitatif serupa dalam
harga saham dan kinerja operasi. Selain itu disimpulkan juga bahwa besarnya penurunan harga saham dan kinerja perusahaan yang lebih kecil untuk perusahaan yang melakukan right issue.
Lukose dan Rao (2003) meneliti tentang operasi kinerja perusahaan penerbitan ekuitas melalui penawaran right issue. Penelitian menggunakan
Wilcoxon Signed-jajaran Uji yang menguji nol hipotesis bahwa kinerja normal
median sama dengan nol. Variabel yang digunakan adalah arus kas operasi untuk mengukur operasi kinerja, laba sebelum bunga dan pajak untuk memeriksa
kinerja, nilai buku aktiva bersih untuk skala pendapatan operasional untuk membandingkan kinerja di perusahaan, penjualan bersih didefinisikan sebagai penjualan dikurangi tidak langsung pajak, market book ratio terhadap total asset,
market book ratio terhadap net worth, dan price earning ratio.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan kinerja yang lebih besar bagi
perusahaan-perusahaan besar, rendahnya market book ratio nilai perusahaan, dan perusahaan dengan direksi rendah kepemilikan. Namun, penurunan kinerja operasi terutama karena pemanfaatan aset yang tidak efisien ini berbeda dengan
hasil dari pasar AS. Demikian pula, Perusahaan India tanpa afiliasi dengan kelompok-kelompok bisnis menunjukkan penurunan yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan dengan afiliasi kelompok dan perusahaan asing.
Di antara emiten issuer, perusahaan swasta dengan kepemilikan managerial rendah yang menunjukkan besar penurunan kinerja. Selanjutnya, mengukur nilai
pasar juga menurun selama pasca-isu periode setelah run-up pada periode pra-masalah. Secara keseluruhan, penelitian mendukung model agency biaya dan investasi peluang hipotesis.
Putra (2006) meneliti pengaruh yang diakibatkan oleh adanya issue
terhadap kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan diproksikan dengan
issuer 43 perusahaan dan non-issuer 43 perusahaan. Penelitian menggunakan
pengamatan periode tahun 1996–1999 yang menggunakan size effect, yakni pengaruh right issue diteliti berdasarkan size perusahaan. Metode pengambilan
sampel dengan kriteria (purposive sampling) dan menggunakan window dua tahun sebelum dan dua tahun sesudah periode right issue.
Metode pengujian yang digunakan adalah Wilcoxon Signed Ranks Test
karena data tidak berdistribusi normal. Hasil yang diperoleh adalah sejumlah rasio tidak mengalami perubahan, sedangkan rasio lain mengalami perubahan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kinerja keuangan menjadi menurun setelah perusahaan melakukan right issue dilihatdari rasio total assets turnover ratio dan
return on assets. Tidak ada perbedaan signifikan untuk rasio-rasio lainnya.
Sementara kinerja keuangan perusahaan yang melakukan right issue lebih baik daripada perusahaan yang tidak melakukan right issue untuk sebagian besar rasio keuangan yang diteliti.
Sukwadi (2006) adalah penelitian yang bertujuan untuk menganalisis perbedaan kinerja keuangan antara perusahaan yang melakukan right issue dan
perusahaan yang tidak melakukan right issue serta menganalisis rasio keuangan yang mempengaruhi probabilitas perusahaan melakukan right issue. Variabel dependen menggunakan rasio-rasio keuangan, yaitu: current ratio, debt ratio, debt
to equity ratio, ROA, ROE, Total assets turnover dan variable independen adalah
right issue. Penelitian diuji dengan metode SPSS yaitu menggunakan Independent
yaitu 34 untuk perusahaan yang melakukan right issue dan 47 perusahaan yang
tidak melakukan right issue.
Hasil analisis penelitian ini, yaitu: debt ratio dan debt to equity ratio
memiliki perbedaan yang signifikan dengan nilai signifikansi untuk debt ratio
(DR) sebesar 0,011 dan nilai signifikansi untuk debt toequity ratio (DER) sebesar
0,011 pada α = 5 % yang menggunakan Independent sample t Test. Sedangkan
hasil analisis menggunakan LogisticRegression diketahui bahwa hanya debt ratio
dan debt to equity ratio yang berpengaruh signifikan terhadap probabilitas
perusahaan yang melakukan right issue dengan nilai signifikansi untuk debt ratio
(DR) sebesar 0,033 dan nilai signifikansi untuk debt to equity ratio (DER) sebesar
0,047 pada α = 5 %.
Dengan kata lain penelitian ini menunjukkan perusahaan yang melakukan
right issue menginginkan adanya perubahan struktur modal, yaitu perbaikan kinerja solvabilitas perusahaan. Perubahan struktur modal akan mempengaruhi
perusahaan dalam kemampuan perusahaan untuk membayar kembali hutang atau kewajiban-kewajiban jangka panjang. Perbaikan struktur modal atau kinerja
solvabilitas akan membantu tercapainya stabilitas finansial dan jaminan akan kelangsungan hidup perusahaan.
Rusmilawati (2006) meneliti tentang pengaruh penawaran terbatas
terhadap kinerja keuangan perusahaan go public. Penelitian menggunakan sampel perusahaan yang melakukan right issue tahun 2001–2004 dengan sampel
sampling dan menggunakan pengujian dengan uji t sampel berpasangan (paired
sample t-test) untuk menguji perbedaan kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah right issue dan uji t sampel bebas (independent sample t-test) untuk
menguji perbedaan kinerja keuangan perusahaan yang melakukan right issue
dengan perusahaan yang tidak melakukan right issue. Hasil penelitian adalah
current ratio, return on assets, total assets turnover ratio lebih baik setelah
melakukan right issue, tetapi solvabilitas tidak ada perubahan. Sedangkan rasio likuiditas dan solvabilitas memiliki perbedaaan antara perusahaan yang
melakukan right issue dan perusahaan yang tidak melakukan right issue.
Andriyani (2008) meneliti tentang refleksi oportunistik manajemen pada kinerja perusahaan setelah dan sesudah right issue. Teknik penelitian ini
dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel perusahaan digunakan 16 sampel yang melakukan right issue selama periode 2003–2005 dan bukan perusahaaan sektor keuangan. Penelitian dengan menggunakan rasio current ratio,
ROI, NPM, DER, total of asset turnover, dan return serta abnormal return. Hasil analisis secara simultan menunjukkan oportunistik manajemen dan waktu right
issue terhadap kinerja keuangan signifikan, sedangkan secara parsial menunjukkan current ratio, DER, dan total of asset turnover terbukti signifikan terhadap kinerja saham dan waktu right issue terhadap kinerja keuangan dan
saham tidak signifikan.
Setiajaya (2009) meneliti tentang pengaruh right issue terhadap kinerja
tidak melakukan right issue. Penelitian ini menggunakan 39 sampel perusahaan
yang melakukan right issue dan 35 perusahaan yang tidak melakukan right issue
dengan menggunakan window 2 tahun sebelum dan 2 tahun sesudah right issue.
Metode pengujian menggunakan pengujian statistik parametric, yaitu: uji t untuk dua sampel independen (independent sample t-test). Hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan kinerja pada current ratio, return
on assets dan total assets turnover ratio antara perusahaan yang melakukan right issue dan perusahaan yang tidak melakukan right issue.
Yokobus dan Ediningsih (2009) meneliti tentang pengaruh right issue
terhadap kinerja keuangan pada perusahaan. Penelitian dengan event study yang menjadi peristiwa adalah right issue dengan dampaknya dilihat dari kinerja
keuangan yang diproksikan melalui rasio–rasio keuangan ROA, ROE, NPM, DR, dan DER. Sampel penelitian adalah 14 issuer dan 33 non issuer ayng melalakukan right issue antara tahun 2001 sampai dengan 2003.
Pengujian dilakukan dengan uji-t berpasangan (paired t – test) untuk melihat signifikansi perbedaan rata – rata rasio keuangan sebelum dan sesudah
right issue dan uji-t sample bebas (independent sample t – test) untuk melihat perbedaan yang signifikan pada kinerja keuangan perusahaan yang melakukan
right issue dan perusahaan yang tidak melakukan right issue. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kinerja keuangan sebelum dan sesudah right issue. Selain itu tidak ada perbedaan kinerja keuangan
issue yang menggunakan rasio ROA, ROE, NPM, Debt ratio, dan DER yang
menghasilkan perbedaaan yang signifikaan.
Shahid, Xia, Mahmood, dan Usman (2010) meneliti tentang pengumuman
pengaruh Seasoned Equity Offerings (SEO) di Cina. Penelitian menggunakan laporan keuangan selama tahun 1998 sampai dengan 2008. Penelitian ini meneliti reaksi harga saham terhadap pengumuman right issue di Cina. Penelitian
mendokumentasikan efek pengumuman masalah right dan penawaran umum (SEO). Periode pengamatan, yakni: pengumuman tanggal untuk SEO sebagai
acara tanggal rapat direksi (BOD), tanggal rapat pemegang saham dan pengumuman tanggal kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan sampel 565 melakukan right issue dan 152 pengamatan dari seasoned public offerings.
Sampel secara keseluruhan 717 dengan penarikan sampel 302 dari Shanghai dan Shenzhen bursa, 263 di bursa saham dan SEO ditarik 152 dengan 87 diterbitkan di shanghai dan 65 di Shenzhen bursa. Variable penelitian dengan menggunakan
abnormal return dan harga saham.
Metode penelitian yang digunakan adalah dua model yang berbeda
digunakan untuk menghasilkan pengembalian yang diharapkan dari surat berharga, yaitu: Market Adjusted Return Model dan Mean Adjusted Return Model. Semua penelitian lain pada seasoned equity offerings mendokumentasikan reaksi
pasar pada saat tanggal pengumuman rights. Namun disebabkan sifat yang berbeda regulasi di Cina, tanggal pengumuman tersedia beberapa, yaitu: tanggal
menunjukkan bahwa right issue berhubungan dengan reaksi pasar positif
sementara pengumuman SEO menyampaikan sinyal negatif ke pasar.
Tarigan (2011) yang meneliti tentang analisis kinerja keuangan perusahaan
sebelum dan sesudah right issue. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah perusahaan melakukan right issue, serta untuk menganalisis perbedaan kinerja keuangan antara perusahaan
yang melakukan right issue dan perusahaan yang tidak melakukan right issue dan untuk menganalisis pengaruh right issue terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Variabel dependen adalah kinerja keuangan yang diproksi dengan current ratio, debt ratio, return on assets, dan total asset turnover, sedangkan varibel independen adalah right issue. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif,
jenis penelitian deskriptif dan sifat penelitian adalah komparatif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 28 perusahaan yang melakukan right issue, dan 31 perusahaan yang tidak melakukan right issue. Metode pengujian yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah uji t sampel berpasangan untuk hipotesis pertama, uji t sampel bebas untuk hipotesis kedua, dan regresi sederhana untuk
hipotesis ketiga.
Hasil pengujian pertama menunjukkan bahwa current ratio meningkat dan
debt ratio menurun setelah right issue. Hasil pengujian kedua menunjukkan bahwa antara perusahaan yang melakukan right issue dengan perusahaan yang tidak melakukan right issue terdapat perbedaan pada current ratio dan debt ratio.
dari penelitian ini adalah terdapat perubahan setelah right issue pada current ratio
dan debt ratio. Terdapat perbedaan pada current ratio dan debt ratio antara perusahaan yang melakukan right issue dengan perusahaan yang tidak melakukan
right issue. Juga disimpulkan bahwa right issue berpengaruh terhadap current ratio dan debt ratio.
Variabel Alat Analisis Hasil
1. Rezaul issue sebagai berita negatif. Efek dari right issue tidak kualitatif berbeda dari non-right issue. Selain itu disimpulkan juga bahwa besarnya penurunan harga saham dan kinerja
Lanjutan Tabel 2.1
Lanjutan Tabel 2.1
melakukan right issue dan perusahaan yang tidak melakukan right issue.
2.6. Kerangka Konseptual
Keputusan struktur modal di dalam perusahaan dapat menggunakan modal sendiri atau pinjaman. Perusahaan dalam mengambil keputusan struktur modal ini
tidak hanya berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan, tetapi juga berpengaruh terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan. Perusahaan membuat keputusan sturktur modal ini dengan memperhatikan beberapa alasan, yaitu:
memperluas operasi, mengganti atau memperbarui aktiva tetap, atau untuk mendapatkan beberapa manfaat lainnya dalam jangka panjang (Gitman, 2009).
Salah satu keputusan struktur modal yang digunakan perusahaan adalah dengan menawarkan right issue. Right issue dapat menjadi solusi potensial untuk penyeleksian buruk yang terkait dengan masalah modal dan memiliki biaya
langsung yang relatif rendah (Lukose dan Rao, 2003). Namun biaya tidak langsung juga mempengaruhi masalah right issue, seperti: pajak dari penolakan
right issue, biaya transaksi dari penjualan kembali right issue, dilusi kepemilikan saham, dan masalah keagenan (Hansen, 1988 dan Eckbo dan Masulis, 1995).
Right issue adalah keputusan struktur modal yang merupakan pembiayaan
atau sumber dana jangka panjang yang digunakan untuk investasi agar mendapatkan keuntungan. Bila manajemen gagal dalam mencocokan dana tersebut atau dana jangka panjang digunakan untuk jangka pendek dan sebaliknya
maka akan membawa akibat fatal bagi perusahaan. Dengan kata lain akan mempengaruhi keteraturan tentang kinerja security price dan pendapatan dalam
dengan kemampuan usaha dalam menghasilkan keuntungan untuk menjaga
kinerja keuangan perusahaan (Noer, 2009). Masalah kinerja keuangan perusahaan diklasifikasikan menjadi 3 (tiga), yaitu: efek pengumuman, jangka panjang kinerja
operasi, dan jangka panjang kinerja security price (Lukose dan Rao, 2003).
Penilaian kinerja keuangan perusahaan salah satunya dengan analisis rasio. Hal itu dapat dilakukan dengan cross sectional approach untuk mengetahui
baik/buruk operasi yang dilakukan perusahaan dibandingkan perusahaan lain, selain itu dengan time series approach untuk membandingkan rasio perusahaan
saat ini dengan sebelumnya sehingga dapat diketahui perusahaan maju atau mundur (Brigham dan Houston, 2006).
Analisis rasio keuangan sering digunakan karena memberikan interpretasi
yang sesuai dengan kondisi perusahaan yang menjelaskan hubungan yang saling terkait antara variabel. Rasio keuangan dapat terbagi empat, yaitu: rasio leverage (leverage ratio), rasio likuiditas (liquidity ratio), rasio tingkat perputaran
(turnover ratio), dan Rasio profitabilitas (profitability ratio) (Brealey, Myers, dan Marcus, 2008). Penelitian ini menggunakan rasio keuangan, yaitu: current ratio,
debt ratio, totalassets turnover, return on asset, dan net profit margin.
Current ratio merupakan kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki (Darsono
dan Ashari, 2005). Apabila current liabilities meningkat lebih cepat dari current asset maka menyebabkan penurunan yang cepat pada current ratio. Sebaliknya
Hal itu menunjukkan perusahaan tidak menguntungkan karena current asset tidak
dimanfaatkan dengan baik (Brigham dan Houston, 2006).
Debt ratio adalah rasio yang mengukur berapa besar aktiva perusahaan
yang dibiayai oleh kreditur. Apabila semakin tinggi debt ratio semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang sangat diinginkan pemegang saham. Namun, para kreditur lebih
menyukai debt ratio yang lebih rendah karena semakin rendah membuat kreditur tidak mengalami dampak yang cukup besar ketika terjadi likuidasi (Syamsuddin,
2007).
Total asset turnover digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan penjualan (Darsono
dan Ashari, 2005). Apabila semakin tinggi rasio maka semakin baik maka seandainya rasio ini rendah maka dapat melakukan langkah – langkah seperti meningkatkan penjualan, menjual beberapa asset, atau dikombinasikan keduanya
(Harahap, 2008).
Return on Asset adalah rasio antara laba bersih terhadap total aktiva
mengukur tingkat pengembalian total aktiva setelah beban bunga dan pajak (Brigham dan Houston, 2006). Apabila semakin tinggi ROA menunjukkan perusahaan dapat membeli asset yang sama saat ini dan tingkat pengembalian
yang tinggi dan sebaliknya. Net profit margin merupakan gambaran persentase keuntungan bersih yang diperoleh perushaaan untuk setiap penjualan karena
mendapatkan laba yang cukup tinggi. Namun, hal itu belum tentu karena margin
yang tinggi berarti volume penjualan rendah. Sebaliknya margin yang rendah dan volume penjualan tinggi juga dapat menunjukkan kemampuan perusahaan yang
baik (Brigham dan Houston, 2006).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kerangka konseptual pada penelitian adalah:
1. Perbedaan right issue terhadap kinerja perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman dan pengaruh right issue.
Dibandingkan
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Hipotesis Pertama Kinerja perusahaan
sebelum pengumuman (Y1)
Kinerja perusahaan setelah pengumuman
(Y2)
Right Issue
(X)
Rasio Keuangan :
1. Current ratio 2. Debt ratio 3. Total Asset
Turnover 4. Return on Asset 5. Net Profit
Margin
Rasio Keuangan :
1. Current ratio 2. Debt ratio 3. Total Asset
Turnover 4. Return on Asset 5. Net Profit
Berdasarkan kerangka konseptual hipotesis pertama diketahui bahwa
kinerja perusahaan sebelum right issue akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan setelah right issue. Kinerja perusahaan diproksikan dengan rasio,
yaitu: current ratio, debt ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin.
2. Perbedaan right issue terhadap kinerja perusahaan yang issuer dan nonissuer.
Dibandingkan
Gambar 2.2
Kerangka Konseptual Hipotesis Kedua
Right Issue
(X)
Perusahaan Issuer
(Y1)
Rasio Keuangan :
1. Current ratio 2. Debt ratio 3. Total Asset
TurnOver 4. Return On Asset 5. Net Profit Margin
Rasio Keuangan :
1. Current ratio 2. Debt ratio 3. Total Asset
TurnOver 4. Return On Asset 5. Net Profit Margin
Perusahaan Nonissuer
Berdasarkan kerangka konseptual hipotesis kedua diketahui bahwa akan
ada perbedaan kinerja perusahaan issuer dan nonissuer. Kerangka konseptual diatas dibuat dengan penyesuain dari hasil penelitian, dengan kinerja perusahaan
diproksikan dengan rasio, yaitu : current ratio, debt ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin.
3. Pengaruh right issue terhadap kinerja perusahaan yang dilihat pada current
ratio, debt ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin.
Gambar 2.3
Kerangka Konseptual Hipotesis Ketiga
Kerangka konseptual pada hipotesis ketiga menunujukkan adanya pengaruh right issue terhadap kinerja perusahaan. Right issue akan mempengaruhi
kinerja perusahaan secara parsial. Kinerja perusahaan dianalisa berdasarkan rasio,
Right Issue
(X)
Current ratio
(Y1)
Debt ratio
(Y2)
Total Asset Turnover
(Y3)
Return on Asset
(Y4)
Net Profit Margin
yaitu: current ratio, debt ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit
margin. Untuk itu right issue harus berpengaruh signifikan pada current ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin, dan berpengaruh
negatif pada debt ratio.
2.7. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan kinerja keuangan perusahaan yang dilihat dari current ratio
(CR), debt ratio (DR), total assets turnover ratio (TATO), return on assets
(ROA) dan net profit margin (NPM) sebelum dan sesudah perusahaan melakukan right issue yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
2. Terdapat perbedaan kinerja keuangan perusahaan yang dilihat dari current ratio
(CR), debt ratio (DR), total assets turnover ratio (TATO), return on assets
(ROA) dan net profit margin (NPM) antara perusahaan issuer dan nonissuer
yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
3. Right issue berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan yang dilihat dari
current ratio (CR), debt ratio (DR), total assets turnover ratio (TATO), return