BAB II
KONSEP,LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Konsep adalah gambaran mental dari obyek, proses atau apapun yang ada di
luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Kridaklaksana,2001:117) .
2.1.1 Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa
ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya.
Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167).
Pada hakekatnya, proses pemerolehan bahasa itu pada setiap anak yang sama, yaitu melalui pembentukan dan pengujian hipotesis tentang kaidah bahasa. Pembentukan kaidah itu dimungkinkan oleh adanya kemampuan bawaan atau struktur
bawaan yang secara mental dimiliki oleh anak. Inilah yang disebut dengan alat pemerolehan bahasa (Language Acquisition Devical/LAD). Dengan alat ini setiap
Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh
bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata
bahasa yang berlangsung secara alami. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses yakni proses pemahaman dan proses penerbitan atau proses yang menghasilkan kalimat-kalimat.
Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau kemampuan memeroleh kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan
melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri. Kedua proses kompetensi ini apabila telah dikuasai kanak-kanak akan menjadi kemampuan linguistik kanak-kanak itu. Jadi kemampuan linguistik terdiri dari
kemampuan memahami dan kemampuan melahirkan atau menerbitkan kalimat-kalimat baru yang dalam linguistik disebut sebagai perlakuan atau pelaksanaan bahasa.
2.1.2 Kata Sapaan
Kata sapaan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati
bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi persyaratan yang disepakati oleh perilaku sosial. Kata sapaan adalah kata ganti yang berfungsi sebagai teguran dalam percakapan.
Kata sapaan merupakan sapaan yang digunakan ketika seseorang ingin berinteraksi dengan yang lainnya ketika sedang melakukan interaksi atau komunikasi.
tidak sesuai dengan norma-norma budaya maka seseorang itu akan mendapatkan
nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya (Sibarani,2004:170).
2.1.3 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Depdiknas No 17 tahun 2010) Fungsi dan tujuan PAUD berdasarkan PP 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, fungsi dan tujuan PAUD diatur dalam Pasal 61.
Pendidikan anak usia dini berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan
untuk memasuki pendidikan selanjutnya. Pendidikan anak usia dini bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab dan
mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, dan sosial peserta didik pada masa pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa pertama terjadi apabila anak yang belum pernah belajar
bahasa apapun sampai mulai belajar bahasa untuk pertama kali (Nababan,1992:73). Pemerolehan bahasa pertama adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang kanak-kanak ketika anak memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.
Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak-anak
mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua
Dalam proses perkembangan semua anak manusia yang normal atau mengalami pertumbuhan yang wajar, memperoleh sesuatu bahasa yaitu bahasa pertama atau bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupannya, kecuali ada
gangguan psikologi, seperti tuli atau alasan-alasan sosial lainnya, hanya anak telah dapat berkomunikasi secara bebas pada saat anak sudah menduduki bangku sekolah
(Tarigan, 1987:83).
2.2.2 Psikoliguistik Behaviorisme
Secara etimologi psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata
lingusitik. Psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa sedangkan linguistik mengkaji struktur bahasa (Chaer,2002:5). Psikolinguistik mencoba
bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia. Maka secara teoretis
tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik dapat diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan
pemerolehannya.
Dengan kata lain psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur dan
memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu. Dalam prakteknya psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada masalah-masalah
seperti pengajaran dan pembelajaran bahasa, pengajaran membaca permulaan, membaca lanjut, kedwibahasaan dan kemultibahasaan, penyakit bertutur, seperti afasia, gagap dan sebagainya.
Penelitian tentang pemerolehan bahasa anak merupakan kajian menarik bagi para psikolog dan linguis. Menurut pandangan psikologi behavioris Lennberg 1967 dan Krashen 1975 dalam (Cahyono 1995:268-269) anak belajar bicara dengan cara
meniru pola bunyi yang didengar dari lingkungannya melalui rangsangan dan tanggapan serta penguatan dan ganjaran. Dengan cara-cara itu anak akan mencapai
tahap kemampuan mengahasilkan bahasa seperti model- model bahasa orang dewasa yang didengar
Psikologi behaviorisme menjelaskan perilaku dengan cara mengamati aneka
responsi yang berlangsung apabila stimulus tertentu muncul. Stimulus yang berbeda akan menghasilkan respons yang berbeda pula. Dalam pandangan behaveorisme
pengulangan bentuk-bentuk bahasa sehingga anak tidak lagi membuat kesalahan
dalam perlakuan bahasa pertamanya
Menurut Tarigan (1984:261), asumsi behaviorisme adalah bahwa pengetahuan
linguistik yanag terdiri atas rangkaian asosiasi yang berupa persyaratan instrumental adalah perilaku berbahasa seorang individu ditentukan oleh urutan ganjaran-ganjaran yang berbeda dalam lingkungannya. Ganjaran dan hadiah akan memberi semangat
kepada anak untuk berbahasa yang banyak sehingga perbendaharaan kosa katanya menjadi luas dan berkembang.
2.3 Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang pemerolehan bahasa sudah pernah diteliti sebelumnya, seperti Kiparsky,1968 (dalam Tarigan ,1987) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa
adalah suatu proses yang digunakan anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai anak dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan yang paling sederhana dari bahasa yang bersangkutan.
Dardjowidjojo (2000) dalam bukunya Psikolinguistik tentang penelitian longitudinalnya yang menggunakan waktu lima tahun terhadapa cucunya Echa
mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa itu sendiri atas pemerolehan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Pemerolehan bahasa juga tidak dapat terjadi karena hanya ada bekal kodrati (innate properties) belaka. Pemerolehan
Menurut Tarigan(1987), dalam bukunya Psikolinguistik mengatakan bahwa
pemerolehan bahasa itu adalah suatu proses yang digunakan anak-anak untuk serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai anak dapat memilih kaidah
tata bahasa yang paling baik dan yanag paling sederhana dari bahasa yang bersangkutan. Tarigan juga membahas tentang tahap-tahap pemerolehan prasekolah, ujaran kombinasi, masa sekolah.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Kaseng (1984) dalam bukunya yang berjudul Pemerolehan Struktur Bahasa Anak-Anak Prasekolah membahas
pemerolehan tata bentuk dan tata kalimat anak-anak prasekolah dalam bahasa Bugis. Tata bentuk terdiri dari monomorfem dan polimorfem.
Selain itu Gustianingsih (2002) dalam tesisnya yang berjudul Pemerolehan
Kalimat Majemuk Bahasa Indonesia Anak Usia Taman Kanak-Kanak mengatakan
kemampuan anak akan kalimat majemuk merupakan parameter untuk mengukur keberhasilan dan sekaligus dasar pengajaran di sekolah dasar.
Susanti (2005) dalam skripsinya yang berjudul Pemerolehan Bahasa Jawa
Anak Usia 3-4 Tahun, membahas tahap-tahap pemerolehan bahasa yang terdiri atas
tahap perkembangan tata bahasa dan tahap tata bahasa menjelang dewasa. Susanti juga membahas kalimat sederhana yang dihasilkan oleh anak usia 3-5 tahun dalam bahasa Jawa, yaitu kalimat S-P,S-P-K,K-S-P.
Fauzi (2000) dalam skripsinya yang berjudul Pemerolehan Bahasa Anak-Anak Usia 0-5 Tahun: Analisis Psikolinguistik, membahas tentang tahap-tahap
tahap holofrastik, tahap kalimat dua kata tahap perkembangan tata bahasa dan tahap
kombinasi penuh. Tahap perkembangan kombinaton meliputi perkembangan negatif, perkembangan interogatif, dan perkembangan sistem bunyi. Fauzi juga membahas