PEMEROLEHAN KATA SAPAAN BAHASA BATAK
TOBA
PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DI
DESA
SIBUNTUON PARTUR
SKRIPSI
OLEH
PAIDUN SIREGAR
080701003
DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PERNYATAAN
Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi dan sepengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang penulis perbuat ini tidak benar, penulis bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang penulis peroleh.
Medan, April 2012
Penulis,
PEMEROLEHAN KATA SAPAAN BAHASA BATAK TOBA PADA PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI (PAUD) DI DESA SIBUNTUON PARTUR
OLEH
PAIDUN SIREGAR
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Pemerolehan Kata Sapaan Bahasa Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Sibuntuon Partur”. Penelitian ini menggunakan teori psikolinguistik behaviorisme Lennberg 1967 dan Krashen 1975. Teori ini menjelaskan perilaku dengan cara mengamati aneka responsi yang berlangsung apabila stimulus tertentu muncul. Stimulus yang berebeda akan menghasilkan respon yang berbeda pula . dalam pandangan behaviorisme sisitem respon diperoleh manusia sistem pembiasan (conditioning) atau pengulangan bentuk-bentuk bahasa sehingga anak tidak lagi membuat kesalahan dalam perlakuan bahasa pertamanya. Metode penelitian menggunakan ancangan Sudaryanto. Metode dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak, dengan teknik dasar teknik rekam dan teknik catat. Metode dan teknik analisis data digunakan metode padan dan teknik dasar teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutannya adalah teknik hubung banding menyamakan dengan bahasa anak seusiannya.
Dari data yang diperoleh, hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemerolehan Kata Sapaan bahasa Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Sibuntuon Partur bahwa kata sapaan yang diperoleh anak usia tiga tahun adalah kata sapaan baik dalam lingkungan keluarga “Bapa”, “Uma”, “Tulang”, “Akkang”, “Namboru”, kata sapaan dalam lingkungan pendidikan, “Guru”, “Ibu”, dan dalam lingkungan upacara adat (pesta), “Tulang” , “Eda” “Ho”, “Ompung”, Uma,. Bentuk kata sapaan yang sering digunakan anak usia tiga tahun adalah kata sapaan“Bapa”, “Uma”, “Tulang”, “Akkang”, “Namboru”, dan digunakan dalam lingkungan keluarga, hal ini terjadi karena anak berada dalam lingkungan keluarga selama dua puluh empat jam, sehingga waktu anak lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga daripada dalam lingkungan upacara adat (pesta) dan lingkungan pendidikan.
DAFTAR ISI
PERNYATAAN
ABSTRAK
DAFTAR ISI ... i
PRAKATA ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Batasan Masalah ... 6
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 7
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 7
1.3.2.1 Manfaat Teoretis ... 8
1.3.2.1 Manfaat Praktis ... 9
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, TINAJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep ... 10
2.1.1 Pemerolehan Bahasa ... 11
2.1.2 Kata Sapaan ... 11
2.1.3 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ... 12
2.2 Landasan Teori ... 13
2.2.2 Pemerolehan Bahasa Pertama ... 13
2.3 Tinjauan Pustaka ... 15
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 17
3.2 Sumber Data ... 17
3.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 18
3.5 Metode dan Teknik Analisis Data ... 19
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pemerolehan Kata Sapaan Bahasa Batak Toba Anak Usia Tiga Tahun ... 23
4.1.1 Pemerolehan Kata Sapaan dalam Lingkungan Keluarga ... 24
4.1.2 Pemerolehan Kata Sapaan dalam Lingkungan Pendidikan... 33
4.1.3 Pemerolehan Kata Sapaan dalam Lingkungan Upacara Adat ... 39
4.2 Bentuk Kata Sapaan yang Sering Digunakan Anak Usia Tiga Tahun ... 45
4.2.1 Hubungan Psikolinguistik Behaviorisme dengan Pemerolehan Kata Sapaan Bahasa Batak Toba dalam Lingkungan Keluarga ... 45
4.2.1.1 Stimulus Negatif atau Motivasi Negatif ... 50
4.2.1.2 Stimulus Positif atau Motivasi Positif ... 53
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 57
5.1 Simpulan ... 57
5.2 Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA
PRAKATA
Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah
memberikan hikmat, karunia, dan berkat yang luar biasa sehingga penulis dapat
menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Atas berkat dan
pertolongan-Nya penulis dapat melalui segala rintangan dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penyususnan skripsi ini dapat diselesaikan tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak baik bantuan secara moral dan material. Oleh sebab itu, penulis
mengucapkan terima kasih dengan setulus hati kepada:
1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara, serta kepada Pembantu Dekan I, Pembantu
dekan II, dan Pembantu Dekan III.
2. Bapak Prof. Dr. Ikwannudin Nasution, M.Si., sebagai Ketua Departemen
Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang
telah memberikan dukungan dan perhatian kepada penulis selama mengikuti
perkuliahan.
3. Bapak Drs. Haris Sutan Lubis M.SP., sebagai Sekertaris Departemen Sastra
Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah
memberikan banyak bantuan kepada penulis selama perkuliahan hingga
selesai skripsi ini.
4. Ibu Dr. Gustianingsih, M.Hum., sebagai dosen pembimbing I yang telah
begitu sabar memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan kepada penulis
selama penyelesaian skripsi ini. Penulis sangat bersyukur dan berterima kasih
menyelesaikan skripsi ini. Ibu adalah sosok orang tua yang selalu mengayomi
anakanya dan bertanggung jawab sekali. Terima kasih Ibu, akan kukenang
ibu dalam hati saya.
5. Bapak Drs. Amhar Kudadiri, M.Hum., sebagai dosen pembimbing II yang
telah banyak membantu penulis dalam memeriksa, mengomentari bahkan
memotivasi penulis untuk menyempurnakan skripsi ini.
6. Bapak Drs Irwansyah, M.S., sebagai dosen wali yang banyak memberikan
nasihat akademik kepada penulis.
7. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu
Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan
bimbingan dan pengajaran selama penulis mengikuti perkuliahan.
8. Kedua orang tua tercinta, bapak Pukka Siregar dan ibu Linda Sihombing
yang telah memberikan dorongan, doa, materi dan tenaga selama masa
perkuliahan hingga selesainya skripsi ini. Penulis mempersembahkan skripsi
ini untuk Bapak dan Ibu tercinta. Penulis sangat menyayangi kalian.
9. Kepada saudaraku, Rohani, Rose mery, Frengki, Devi, Faber, Lusi dan Lenti
Siregar, yang selalu memberikan nasihat bahkan semangat yang luar biasa
hingga skripsi ini selesai
10.Kepada ponakan Patrecia, Putri, Pristy, Erhans, Evan, Margaret, Debi yang
selalu setia mendoakan penulis.
11.Kepada Tika yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis dalam
12.Kepada teman-teman stambuk 2008, khususnya Febri (benjos), Sri Yohanna
(galau), Ayu (chen), Ida (Siamang), Charlie (Mr googel), Hertina (cibu) dan
teman di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
13.Kepada adik-adik stambuk 2010, khsusnya Bimario, Arih Fransisco, Tommy,
Hotma, Rianto, dan Hendra yang telah memberikan semangat dan dorongan
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Kalian
adalah penyemangat penulis dan alasan penulis sering datang ke kampus.
14.Kepada Hendra Faber Cress (Pudan I), Harmin Faber (Pudan jugul),
Sudaryanti (Biber) yang telah memberikan fasilitas transportasi dan konsumsi
kepada penulis hingga skripsi ini selesai. Kalian adalah keluarga kedua bagi
penuli, penulis sangat menyayangi kalian.
15.Kepada alaumni 2005, kak Rapi, kak Hervina, kak Intan, kak Lilis, dan kak
Eny efrida yang selalu mengingatkan penulis untuk serius dalam menjalani
kuliah.
16.Kepada senior-senior penulis stambuk 2007 khususnya untuk bang Reza
fadlansyah, bang Ricardo gorat, bang Jansudin saragih (Sammy), yang sudah
menganggap penulis sebagai adik kandungnya.
17.Buat komunitas penulis, Generasi Muda Lintongnihuta Medan. Kalian adalah
orang–orang yang selalau mengerti penulis dalam setiap saat. Jaya terus
18.Kepala Desa Sibuntuon Partur yang telah memeberikan penelitian di
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Terima kasih buat anak-anak Pendidkan
Usia Dini (PAUD) yang menjadi subjek penelitian, tanpa kalian skripsi ini
tidak akan berarti apa-apa.
Akhir kata, penulis mengucapakan terima kasih kepada semua pihak
yang turu membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis
sebutkan satu per satu. Semoga berkat Tuhan melimpah bagi kita semua.
Medan, April 2012
Paidun Siregar
PEMEROLEHAN KATA SAPAAN BAHASA BATAK TOBA PADA PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI (PAUD) DI DESA SIBUNTUON PARTUR
OLEH
PAIDUN SIREGAR
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Pemerolehan Kata Sapaan Bahasa Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Sibuntuon Partur”. Penelitian ini menggunakan teori psikolinguistik behaviorisme Lennberg 1967 dan Krashen 1975. Teori ini menjelaskan perilaku dengan cara mengamati aneka responsi yang berlangsung apabila stimulus tertentu muncul. Stimulus yang berebeda akan menghasilkan respon yang berbeda pula . dalam pandangan behaviorisme sisitem respon diperoleh manusia sistem pembiasan (conditioning) atau pengulangan bentuk-bentuk bahasa sehingga anak tidak lagi membuat kesalahan dalam perlakuan bahasa pertamanya. Metode penelitian menggunakan ancangan Sudaryanto. Metode dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak, dengan teknik dasar teknik rekam dan teknik catat. Metode dan teknik analisis data digunakan metode padan dan teknik dasar teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutannya adalah teknik hubung banding menyamakan dengan bahasa anak seusiannya.
Dari data yang diperoleh, hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemerolehan Kata Sapaan bahasa Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Sibuntuon Partur bahwa kata sapaan yang diperoleh anak usia tiga tahun adalah kata sapaan baik dalam lingkungan keluarga “Bapa”, “Uma”, “Tulang”, “Akkang”, “Namboru”, kata sapaan dalam lingkungan pendidikan, “Guru”, “Ibu”, dan dalam lingkungan upacara adat (pesta), “Tulang” , “Eda” “Ho”, “Ompung”, Uma,. Bentuk kata sapaan yang sering digunakan anak usia tiga tahun adalah kata sapaan“Bapa”, “Uma”, “Tulang”, “Akkang”, “Namboru”, dan digunakan dalam lingkungan keluarga, hal ini terjadi karena anak berada dalam lingkungan keluarga selama dua puluh empat jam, sehingga waktu anak lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga daripada dalam lingkungan upacara adat (pesta) dan lingkungan pendidikan.
Kata kunci: Pemerolehan Kata Sapaan, Bahasa Batak Toba, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Usia Usia Tahun, Desa Sibuntuon Partur, Psikolinguistik Behaviorisme.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
Bahasa adalah alat komunikasi antaragggota masyarakat berupa lambang
bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Ritonga, 2008:1). Bahasa sebagai alat
komunikasi merupakan sarana perumusan maksud, melahirkan perasaan, dan
memungkinkan kita menciptakan kegiatan. Pada dasarnya bahasa itu sudah dimiliki
manusia sejak lahir, walaupun dalam bentuk ocehan. Ocehan tersebut berkembang
menjadi kata demi kata sampai pada pengucapan kalimat. Bahasa yang dimiliki anak
sejak kecil adalah bahasa pertama yang lebih dikenal dengan sebutan bahasa ibu.
Bahasa ibu atau native language adalah bahasa pertama yang dikuasai atau diperoleh
anak (Dardjowidjojo, 2003:241). Bahasa inilah yang dipergunakan anak dalam
kehidupannya sehari-hari sebagai alat komunikasi.
Proses penguasaan bahasa yang dilakukan anak secara natural pada waktu dia
belajar bahasa ibunya (native language) disebut pemerolehan bahasa. Selanjutnya,
Chaer (2003:167) mengatakan pemerolehan bahasa adalah proses yang berlangsung
di dalam diri anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa
ibunya. Pemerolehan bahasa pertama itu terjadi apabila anak yang sejak semula tanpa
bahasa kini telah memperoleh satu bahasa, yaitu bahasa ibunya. Jadi, pemerolehan
bahasa adalah suatu proses perkembangan dan penguasaan bahasa ibu (native
Semua anak yang normal atau yang mengalami pertumbuhan wajar akan
memperoleh satu bahasa dalam proses perkembangannya yaitu bahasa pertama atau
bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupanya. Pemerolehan bahasa pertama
terjadi pada seorang anak yang semula tanpa bahasa kini memperoleh suatu bahasa.
Hal ini sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognitif dan perkembangan
sosial anak.
Menurut Piaget, seperti dikutip Ginn, mengklasifikasikan perkembangan
bahasa ke dalam tujuh tahap yaitu tahap meraba (pralinguistik I), tahap meraban
kedua (pralinguistik II), tahap linguistik I kalimat satu kata (holoprastik), tahap
lingusitik II kalimat dua kata, tahap linguistik III pengembangan tata bahasa, tahap
lingusistik IV tata bahasa pradewasa dan tahap linguistik V kompetensi penuh.
Pada tahap pralinguistik I anak belum dapat menghasilkan bunyi secara
normal, pada tahap pralinguistik yang II anak sudah dapat mengoceh atau membabel
dengan pola suku kata yang diulang-ulang. Bahkan menjelang usia 1 tahun anak
sudah mengeluarkan pola intonasi dan bunyi - bunyi tiruan.
Pada tahap linguistik I anak sudah mulai menggunakan serangkaian bunyi
ujaran yang menghasilkan bunyi ujaran tunggal yang bermakna. Pada tahap linguistik
II kosa kata anak mulai berkembang dengan pesat, ujaran yang diucapakan terdiri atas
dua kata dan mengandung satu konsep kalimat yang lengkap. Pada tahap lingusitik III
anak mampu menggunakan lebih dari dua kata, kalimat yang diungkapkan biasanya
menyatakan makna khusus yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pada tahap
meskipun masih ada kekurangan pada penggunaan infleksi dan kata fungsi. Pada
tahap lingusitik V anak sudah memiliki kompetensi penuh dalam berbahasa.
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari masyarakat Batak Toba
menggunakan logat Batak Toba (Koetjaraningrat,1980:95). Bahasa Batak Toba cukup
dikenal dengan ciri-ciri intonasi bahasa Batak yang tegas dan keras, sehingga
memiliki keunikan tersendiri diantara bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia .
Humbang Hasundutan adalah salah satu daerah Batak Toba yang baru
dimekarkan dari Kabupaten Tapanuli Utara, pada tanggal 28 juli 2003 sesuai dengan
UU no.9 tahun 2003, yang terletak di wilayah Propinsi Sumatera Utara, dengan luas
wilayah :2.335,33 km2 terdiri dari 10 kecamatan,1 kelurahan dan 117 desa. Jumlah
penduduknya adalah 155.222 jiwa (Biro Pusat Statistik Kabupaten Humbang
Hasundutan).
Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan daerah dataran tinggi yang
mempunyai ketinggian bervariasi antara 330-2075 meter di atas permukaan laut,
dengan perincian :
1. Datar = 260,95 Km2 (0 s/d 2%)
2. Landa = 459,60 Km2(2 s/d 15%)
3. Miring = 993,68 Km2 (15 s/d 40%)
4. Terjal = 621,10 Km2 (40 s/d 44%)
Bahasa Batak Toba merupakan bahasa yang paling dominan digunakan
masyarakat yang tinggal di daerah Humbang Hasundutan. Salah satu kecamatan di
kabupaten ini adalah kecamatan Lintong Nihuta. Kecamatan Lintong Nihuta memiliki
berada di kecamatan Lintong Nihuta adalah desa Sibuntuon Partur, desa Sibuntuon
Partur ini merupakan desa yang memilki program Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD).
Desa Sibuntuon Partur dipilih sebagai lokasi penelitian karena daerah
tersebut merupakan masyarakat tutur, yaitu masyarakat yang menghormati interaksi
antara penutur dengan mitra tutur yang dilandasi atas norma-norma adat istiadat
masyarakatnya, termasuk di dalamnya berinteraksi dengan menggunakan kata sapaan.
Bahasa Batak Toba merupakan bahasa yang digunakan masyarakat Sibuntuon Partur
dalam melangsungkan komunikasi sesama anggota masyarakat. Desa Sibuntuon
Partur merupakan desa yang penduduknya mayoritas suku Batak Toba.
Dalam berkomunikasi, kata sapaan sering digunakan oleh masyarakat desa
Sibuntuon Partur begitu juga dengan anak-anak usia tiga tahun. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) kata sapaan adalah kata ganti yang berfungsi sebagai
teguran dalam suatu percakapan.
Bahasa Indonesia mengenal kata sapaan yang sering digunakan dalam
percakapan sehari-hari di antaranya kata kakek, nenek, bapak (ayah), ibu, paman,
bibi, abang, kakak, adik, ananda, mas, dan mbak. Sama halnya dengan bahasa Batak
Toba, Serepina (2010:3) masyarakat Batak Toba memiliki kata sapaan antara lain:
1. Bapa adalah sapaan untuk orang tua laki-laki.
2. Uma adalah sapaan untuk orang tua perempuan.
3. Ompung adalah sapaan untuk orang tua dari bapa atau ibu.
4. Tulang adalah sapaan untuk saudara laki-laki dari ibu .
6. Amang boru adalah sapaan untuk suami saudara perempuan dari
ayah/bapak.
7. Namboru adalah sapaan untuk saudara perempuan dari ayah/bapak
atau isteri dari amang boru.
8. Eda adalah sapaan untuk isteri saudaranya laki-laki dan saudara
perempuan suaminya, saudara sepupu perempuan, sapaaan
kekerabatan antara sesama perempuan yang beripar.
9. Lae adalah sapaan untuk saudra laki-laki dari isteri, suami saudara
perempuan, anak laki-laki dari tulang, anak laki-laki amang boru.
10.Ho adalah sapaan kepada orang yang lebih muda dan sebaya.
11.Ampara adalah sapaan kepda orang sebaya dan teman semarga.
12.Akkang adalah sapaan kepada saudara laki-laki atau yang lebih tua.
Kata sapaan di atas dapat saja sudah diperoleh atau belum pada Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) khususnya anak yang berumur tiga tahun yang
menggunakan bahasa pertama bahasa Batak Toba. Oleh karena itu penulis ingin
melihat perkembangan bahasa khususnya kata sapaan dalam bahasa Batak Toba.
Contohnya:
Anak -1 Nunga mulak Uma sian pesta. Lingkungan Keluarga
“sudah pulang mama dari pesta”
Anak -2 Manurat dohami dibaen guru. Lingkungan Pendidikan
“menulis kami disuruh guru”
‘ Kami disuruh guru menulis’
Anak-3 Dilean Namboru au hepeng di pesta. Lingkungan Adat
“dikasih bibi aku uang di pesta”
‘Bibi memberikan uang pada saya di pesta’
Ketiga anak ini dapat menggunakan sapaan baik dalam lingkungan keluarga,
lingkungan pendidikan, lingkungan adat atau pesta. Akan tetapi ada anak yang
berusia 3 tahun di luar situasi ini menggunakan kata sapaan ‘Ho’ baik dalam
lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan upacara adat (pesta). Itulah
yang menjadi ketertarikan peneliti untuk meneliti pemerolehan kata sapaan bahasa
Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di desa Sibuntuon Partur.
1.1.2 Masalah
Berdasarkan atas latar belakang penelitian yang telah dipaparkan, pokok
masalah yang dibicarakan dalam penelitian ini adalah:
1. Bentuk kata sapaan Bahasa Batak Toba apa saja yang diperoleh anak usia tiga
tahun pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di desa Sibuntuon Partur ?
2. Bentuk kata sapaan dan dalam lingkungan apakah yang sering digunakan anak
usia tiga tahun pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di desa Sibuntuon
1.2Batasan Masalah
Batasan masalah merupakan uraian terhadap masalah yang akan diteliti, sehingga
penelitian yang dilakukan dapat efektif dan efisien. Dalam penelitian ini, peneliti
membatasi masalah yang akan diteliti yaitu, kata sapaan bahasa Batak Toba dan
bentuk kata sapaan dalam lingkungan Bahasa Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) dan berumur tiga tahun. Di samping itu, daerah penelitianya juga
dibatasi yaitu desa Sibuntuon Partur, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang
Hasundutan. Anak usia tiga tahun ini sehat jasmani dan rohani serta menggunakan
bahasa Batak Toba di rumah dan di sekolah sebagai bahasa pertama (bahasa ibu).
1.3Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Pada dasarnya setiap penelitian itu mempunyai tujuan tertentu yang
memberikan arah dan pelaksanaan penelitian. Hal ini dilakukan agar tujuan dapat
tercapai dengan baik.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menjelaskan beberapa bentuk kata sapaan bahasa Batak Toba yang diperoleh
anak usia tiga tahun pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di desa
Sibuntuon Partur, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang
Hasundutan.
2. Menjelaskan bentuk kata sapaan dalam lingkungan apa saja yang sering
digunakan anak usia tiga tahun pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di
desa Sibuntuon Partur, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang
1.3.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagi berikut:
1.3.2.1Manfaat Teoretis
1. Memberikan masukan tentang pemerolehan kata sapaan dan bentuk kata
sapaan bahasa Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
khususnya anak usia tiga tahun.
2. Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang pemerolehan kata
sapaan bahasa Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
khususnya anak usia tiga tahun
3. Memberikan sumbangan untuk perkembangan dan penerapan teori-teori
pemerolehan kata sapaan bahasa Batak Toba khusunya anak usia tiga tahun,
serta menjadi referensi penelitian selanjutnya yang berhubungan tentang
pemerolehan bahasa.
1.3.2.2Manfaat Praktis
1. Untuk kepentingan daerah, khususnya di desa Sibuntuon Partur, kecamatan
Lintongnihuta Kabupaten Humbang Hasundutan.
2. Sumbangan di perpustakaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) desa
Sibuntuon Partur.
3. Untuk keperluan orang tua khususnya Ibu rumah tangga, yang memiliki anak
BAB II
KONSEP,LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Konsep adalah gambaran mental dari obyek, proses atau apapun yang ada di
luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain
(Kridaklaksana,2001:117) .
2.1.1 Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di
dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa
ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa.
Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang
kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya.
Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama sedangkan pembelajaran
bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167).
Pada hakekatnya, proses pemerolehan bahasa itu pada setiap anak yang sama,
yaitu melalui pembentukan dan pengujian hipotesis tentang kaidah bahasa.
Pembentukan kaidah itu dimungkinkan oleh adanya kemampuan bawaan atau struktur
bawaan yang secara mental dimiliki oleh anak. Inilah yang disebut dengan alat
pemerolehan bahasa (Language Acquisition Devical/LAD). Dengan alat ini setiap
anak dapat memperoleh bahasa apa saja serta didukung oleh faktor lain yang turut
Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh
bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses
ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata
bahasa yang berlangsung secara alami. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk
terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses yakni proses
pemahaman dan proses penerbitan atau proses yang menghasilkan kalimat-kalimat.
Proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau
kemampuan memeroleh kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan
melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimat-kalimat sendiri.
Kedua proses kompetensi ini apabila telah dikuasai kanak-kanak akan menjadi
kemampuan linguistik kanak-kanak itu. Jadi kemampuan linguistik terdiri dari
kemampuan memahami dan kemampuan melahirkan atau menerbitkan
kalimat-kalimat baru yang dalam linguistik disebut sebagai perlakuan atau pelaksanaan
bahasa.
2.1.2 Kata Sapaan
Kata sapaan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati
bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi
persyaratan yang disepakati oleh perilaku sosial. Kata sapaan adalah kata ganti yang
berfungsi sebagai teguran dalam percakapan.
Kata sapaan merupakan sapaan yang digunakan ketika seseorang ingin
berinteraksi dengan yang lainnya ketika sedang melakukan interaksi atau komunikasi.
Tata cara berbahasa harus sesuai dengan budaya yang ada dalam masyarakat tempat
tidak sesuai dengan norma-norma budaya maka seseorang itu akan mendapatkan
nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois,
tidak beradat, bahkan tidak berbudaya (Sibarani,2004:170).
2.1.3 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Depdiknas No 17 tahun 2010)
Fungsi dan tujuan PAUD berdasarkan PP 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan
dan Penyelenggaraan Pendidikan, fungsi dan tujuan PAUD diatur dalam Pasal 61.
Pendidikan anak usia dini berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan
seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan
kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan
untuk memasuki pendidikan selanjutnya. Pendidikan anak usia dini bertujuan
membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia,
berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya
diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab dan
mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, dan sosial
peserta didik pada masa pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa pertama terjadi apabila anak yang belum pernah belajar
bahasa apapun sampai mulai belajar bahasa untuk pertama kali (Nababan,1992:73).
Pemerolehan bahasa pertama adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang
kanak-kanak ketika anak memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.
Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa. Pembelajaran
bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak-anak
mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi
pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama sedangkan pembelajaran
bahasa berkenaan dengan bahasa kedua
Dalam proses perkembangan semua anak manusia yang normal atau
mengalami pertumbuhan yang wajar, memperoleh sesuatu bahasa yaitu bahasa
pertama atau bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupannya, kecuali ada
gangguan psikologi, seperti tuli atau alasan-alasan sosial lainnya, hanya anak telah
dapat berkomunikasi secara bebas pada saat anak sudah menduduki bangku sekolah
(Tarigan, 1987:83).
2.2.2 Psikoliguistik Behaviorisme
Secara etimologi psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata
lingusitik. Psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa sedangkan
linguistik mengkaji struktur bahasa (Chaer,2002:5). Psikolinguistik mencoba
menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan
bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia. Maka secara teoretis
tujuan utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik
dapat diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan
pemerolehannya.
Dengan kata lain psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur
bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur dan
memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu. Dalam prakteknya psikolinguistik
mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada masalah-masalah
seperti pengajaran dan pembelajaran bahasa, pengajaran membaca permulaan,
membaca lanjut, kedwibahasaan dan kemultibahasaan, penyakit bertutur, seperti
afasia, gagap dan sebagainya.
Penelitian tentang pemerolehan bahasa anak merupakan kajian menarik bagi
para psikolog dan linguis. Menurut pandangan psikologi behavioris Lennberg 1967
dan Krashen 1975 dalam (Cahyono 1995:268-269) anak belajar bicara dengan cara
meniru pola bunyi yang didengar dari lingkungannya melalui rangsangan dan
tanggapan serta penguatan dan ganjaran. Dengan cara-cara itu anak akan mencapai
tahap kemampuan mengahasilkan bahasa seperti model- model bahasa orang dewasa
yang didengar
Psikologi behaviorisme menjelaskan perilaku dengan cara mengamati aneka
responsi yang berlangsung apabila stimulus tertentu muncul. Stimulus yang berbeda
akan menghasilkan respons yang berbeda pula. Dalam pandangan behaveorisme
pengulangan bentuk-bentuk bahasa sehingga anak tidak lagi membuat kesalahan
dalam perlakuan bahasa pertamanya
Menurut Tarigan (1984:261), asumsi behaviorisme adalah bahwa pengetahuan
linguistik yanag terdiri atas rangkaian asosiasi yang berupa persyaratan instrumental
adalah perilaku berbahasa seorang individu ditentukan oleh urutan ganjaran-ganjaran
yang berbeda dalam lingkungannya. Ganjaran dan hadiah akan memberi semangat
kepada anak untuk berbahasa yang banyak sehingga perbendaharaan kosa katanya
menjadi luas dan berkembang.
2.3 Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang pemerolehan bahasa sudah pernah diteliti sebelumnya,
seperti Kiparsky,1968 (dalam Tarigan ,1987) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa
adalah suatu proses yang digunakan anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian
hipotesis dengan ucapan orang tua sampai anak dapat memilih kaidah tata bahasa
yang paling baik dan yang paling sederhana dari bahasa yang bersangkutan.
Dardjowidjojo (2000) dalam bukunya Psikolinguistik tentang penelitian
longitudinalnya yang menggunakan waktu lima tahun terhadapa cucunya Echa
mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa itu sendiri atas pemerolehan fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. Pemerolehan bahasa juga tidak dapat
terjadi karena hanya ada bekal kodrati (innate properties) belaka. Pemerolehan
bahasa juga tidak mungkin karena adanya faktor lingkungan saja, keduanya
Menurut Tarigan(1987), dalam bukunya Psikolinguistik mengatakan bahwa
pemerolehan bahasa itu adalah suatu proses yang digunakan anak-anak untuk
serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai anak dapat memilih kaidah
tata bahasa yang paling baik dan yanag paling sederhana dari bahasa yang
bersangkutan. Tarigan juga membahas tentang tahap-tahap pemerolehan prasekolah,
ujaran kombinasi, masa sekolah.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Kaseng (1984) dalam bukunya yang
berjudul Pemerolehan Struktur Bahasa Anak-Anak Prasekolah membahas
pemerolehan tata bentuk dan tata kalimat anak-anak prasekolah dalam bahasa Bugis.
Tata bentuk terdiri dari monomorfem dan polimorfem.
Selain itu Gustianingsih (2002) dalam tesisnya yang berjudul Pemerolehan
Kalimat Majemuk Bahasa Indonesia Anak Usia Taman Kanak-Kanak mengatakan kemampuan anak akan kalimat majemuk merupakan parameter untuk mengukur
keberhasilan dan sekaligus dasar pengajaran di sekolah dasar.
Susanti (2005) dalam skripsinya yang berjudul Pemerolehan Bahasa Jawa
Anak Usia 3-4 Tahun, membahas tahap-tahap pemerolehan bahasa yang terdiri atas
tahap perkembangan tata bahasa dan tahap tata bahasa menjelang dewasa. Susanti
juga membahas kalimat sederhana yang dihasilkan oleh anak usia 3-5 tahun dalam
bahasa Jawa, yaitu kalimat S-P,S-P-K,K-S-P.
Fauzi (2000) dalam skripsinya yang berjudul Pemerolehan Bahasa
Anak-Anak Usia 0-5 Tahun: Analisis Psikolinguistik, membahas tentang tahap-tahap
pemerolehan bahasa yang terdiri atas tahap perkembangan prasekolah dan tahap
tahap holofrastik, tahap kalimat dua kata tahap perkembangan tata bahasa dan tahap
kombinasi penuh. Tahap perkembangan kombinaton meliputi perkembangan negatif,
perkembangan interogatif, dan perkembangan sistem bunyi. Fauzi juga membahas
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berada di
desa Sibuntuon Partur, Kecamatan Lintongnihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Penelitian ini dilakukan mulai bulan Desember 2011 sampai dengan Januari 2012.
3.2 Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data itu diperoleh ( KBBI,2003: 994).
Sumber data dalam penelitian ini adalah anak-anak dari Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD), anak usia tiga tahun di desa Sibuntuon Partur, kecamatan Lintongnihuta
Kabupaten Humbang Hasundutan. Penulis mengambil delapan orang anak untuk
dijadikan sebagai narasumber, lima orang berjenis kelamin perempuan dan tiga orang
berjenis kelamin laki-laki. Akan tetapi setiap narasumber yang akan diteliti harus
memenuhi kriteria-kriteria di antaranya, berusia maksimum tiga tahun, merupakan
penduduk setempat, sehat jasmani dan rohani, bahasa pertamanya adalah bahasa
Batak Toba.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode adalah cara yang harus dilaksanakan, dan teknik adalah cara
melaksanakan metode. Sebuah penelitian ilmiah haruslah berdasarkan fakta-fakta
untuk mendukung kebenaran, sedangkan metode adalah cara kerja untuk memahami
objek yang menjadi sasaran dari ilmu yang bersangkutan. Metode yang digunakan
di sini adalah menyimak kata sapaan bahasa Batak Toba dari anak yang berasal dari
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan berusia tiga tahun di desa Sibuntuon Partur.
Kata sapaan yang diperoleh dari tuturan anak tersebut kemudian dijabarkan dalam
suatu teknik rekam, yaitu merekam semua kata sapaan bahasa Batak Toba yang
terdapat dalam tuturan pada anak usia tiga tahun tersebut dengan menggunakan alat
perekam HP Nokia X2-01. Setelah itu dilanjutkan dengan teknik catat, yaitu mencatat
semua data yang telah terkumpul.
Metode simak memiliki teknik lanjutan yaitu teknik simak bebas libat cakap
(Sudaryanto, 1993:134). Peneliti tidak terlibat dalam dialog, konversasi, imbal wicara
atau tidak ikut serta dalam proses pembicaraan anak-anak yang saling berbicara,
antara anak dengan anak seusianya, ( lingkungan sekolah atau lingkungan bermain),
anak dengan orang tuanya (lingkungan keluarga) antara anak dengan orang-orang di
sekelilingnya (lingkungan pesta adat). Peneliti hanya sebagai pemerhati dan
menyimak apa yang dikatakan (apa yang dibicarakan) oleh anak-anak yang saling
berbicara. Selanjutnya teknik catat adalah teknik lanjutan yang dilakukan peneliti
ketika menerapkan metode simak dengan teknik lanjutan di atas.
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode adalah cara kerja yang teratur dengan berpikir baik untuk mencapai
suatu maksud. Dapat juga dikatakan bahwa metode adalah cara kerja yang bersistem
untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna menghasilkan tujuan yang
sempurna (Sudaryanto, 1993:26). Dalam mengkaji data digunakan teknik dasar
yaitu daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh penelitinya. Unsur penentu
dalam penelitian ini adalah penggunaan kata sapaan bahasa Batak Toba pada
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) anak usia tiga tahun di desa sibuntuon Partur.
Dalam hal ini peneliti akan memilah kata sapaan seperti uma, tulang, bapa, namboru,
lae dan lain-lain dan dilanjutakan dengan teknik hubung banding menyamakan
dengan bahasa anak seusianya. Kemudian peneliti juga memilah kata sapaan dalam
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah atau pendidikan, dan lingkungan pesta
adat, setelah itu peneliti memilah unsur kata sapaan yang sering digunakan anak
Pendidikan Usia Dini (PAUD) yang berumur 3 tahun , apakah di lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah atau pendidikan, maupun lingkungan upacara adat
(pesta). Berikut adalah contohnya:
Contoh : Lingkungan Keluarga
Taruli Nababan, anak dari pasangan Bapak R.Nababan dan L.Br hombing
keluarga ini memiliki tiga orang anak. Taruli adalah anak nomor dua dan berjenis
kelamin perempuan, Anak yang pertama berumur tiga tahun dan berjenis kelamin
laki-laki, sedangkan anak kedua berumur satu tahun berjenis kelamin laki-laki. Dalam
berkomunikasi keluarga ini menggunakan bahasa ibu yaitu Batak Toba. Keluarga ini
sedang melakukan kegiatan yaitu makan malam bersama.
4. Bapa : Lean ikkan on tu si Taruli
‘Berikan lauk ini kepada Taruli’
Uma : Nion ikkan on Taruli
“ini ikan ya Taruli”
‘Ini lauk Taruli’
Taruli : Olo uma , olo Bapa gok dope ikkanhu
“ ia Mama, ia Bapa banyak masih ikanku” ‘Mama, Bapak laukku masih banyak’
Dari contoh ( 4) kata sapaan uma ‘Mama’ dan Bapa ‘Bapak’ yang digunakan Taruli
benar, hal ini dilakukan karena Taruli sering melakukan interaksi kepada kedua orang
tuanya, dan anggota keluarga lainnya dengan menggunakan kata sapaan seperti itu.
Lingkungan Pendidikan (Sekolah):
Dalam hal ini anak (Taruli) berusia tiga tahun mengikuti pendidikan taman bermain( play
group) atau yang lebih sering kita kenal Pendidikan Anak Usia Dini. Guru menyuruh tugas
di rumah menggambar.
7. Pengajar (Ibu) : Adong nantuari tugas dibaen Ibu ?
“ada semalam tugas dibuat Ibu”
Taruli : Adong guru ,nunga sae hugobbar
“ada Ibu sudah siap di gambar”
‘Ada Ibu, saya sudah siap menggambar’
Ibu : Buan ma Jolo tuson asa Ibu bereng.
“bawakan dulu ke sini biar Ibu periksa”
‘Antar ke depan agar Ibu periksa’
Taruli : Nion guru ( sambil membawa tugas)
“Ini guru”
‘Ini tugas saya Ibu’
Dari percakapan di atas Taruli mampu menguasai kata sapaan yang digunakan dalam
lingkungan sekolah guru ‘Ibu’, akan tetapi kata sapaan tersebut bukanlah kata sapaan dalam
bahasa Batak Toba, melainkan Bahasa Indonesia.
Lingkungan Upacara Adat (Pesta):
Dalam hal ini Taruli mengenal kata sapaan tulang ‘paman’untuk adik ibu yang
kebetulan bertettangga dengan ibu Taruli. Pada saat upacara adat perkawinan Taruli dan
tulang hadir. Berikut percakapan antara Tulang dan Taruli.
8. Taruli : Tulang, ijo hepeng mi manuhor karupuk.
‘Paman,saya minta duit membeli kerupuk’
. Tulang : Dang adong hepeng ni Tulang doba.
“Tidak ada duit Tulang ini”
‘Tulang tidak punya duit.’
Taruli : saribu jalo onhu Tulang.
“ Seribu kuminta Tulang.”
‘Seribu sajaTulang’.
Dari percakapan di atas terlihat jelas bahwa kata sapaan Tulang ‘paman’ yang
digunakan tepat, akan tetapi Taruli hanya dapat menggunakan kata sapaan Tulang’ Paman’
apabila sudah sering melakukan interaksi dan terbiasa dan mengenal wajah Tulang ‘Paman’
tersebut. Dengan kata lain apabila ada orang yang sama jenis kelaminnya Tulang (laki-laki)
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pemerolehan Kata Sapaan Bahasa Batak Toba Anak Usia Tiga Tahun
Dalam proses perkembangan, semua anak yang normal sudah pasti akan
memperoleh suatu bahasa ilmiah. Dengan kata lain, setiap anak yang normal atau
pertumbuhan yang wajar, memperoleh suatau bahasa yaitu “ bahasa pertama” atau
“bahasa asli”, “bahasa ibu” dalam tahun-tahun pertama kehidupannya di dunia.
Semua anak yang normal, terlepas dari latar belakang budaya yang dia
miliki,mengembangkan bahasa pada waktu yang hampir bersamaan dan melewatkan
tahap-tahap pemerolehan yang sama. Tahap-tahap bahasa anak memiliki dasar yang
sama dengan perkembangan ketrampilan motor yang ditentukan secara biologis.
Tahap-tahap secara biologis itu berkaitan dengan pematanagn otak anak. Dalam
perkembangan berikutnya, pemerolehan bahasa dipengaruhi oleh faktor sosial yang
berasal dari lingkungan anak.
Proses pemerolehan bahasa pertama terjadi apabila pada awalnya tidak
berbahasa dan kini dia memperoleh bahasa pertama ekabahasa. Apabila seorang anak
mempelajari dua bahasa secara serentak dan sejajar dengan semula, hal ini sebagai
pemerolehan bahasa pertama dwibahasa. Penelitian ini menganut jenis yang pertama
bahwa berkomunikasi dengan orangtua ,keluarga dan lingkungan bermain
menggunakan bahasa batak Toba.
Bahasa Batak Toba sebagai bahasa pertama merupakan media yang dapat
dipergunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai lainya dari masyarakat Indonesia.
seorang pun anak mampu berbicara secara langsung. Dengan potensi yang dibawanya
sejak lahir itu seorang anak secara alamiah memperoleh prinsip-prinsip bahasa dari
masyarakat bahasa yang ada di sekelilingnya.
Pemerolehan kata sapaan bahasa batak Toba anak usia tiga tahun akan dipilah
berdasarkan lingkungan keluarga, lingkungan sekolah (pendidikan) maupun
lingkungan upacara adat (pesta).
4.1.1 Pemerolehan Kata Sapaan Bahasa Batak Toba dalam Lingkungan
Keluarga
A. Kata Sapaan Uma ‘mama’
Kata sapaan Uma ‘mama’ adalah kata sapaan yang sering digunakan anak usia
tiga tahu dalam melakukan interaksi bersama orang tuanya yaitu Ibu ata Mama.
Lingkungan keluarga juga sangat mempengaruhi tentang pemerolehan bahasa anak
terutama pemerolehan kata sapaan bahasa batak Toba dalam lingkungan keluarga.
Dalam penelitian ini pemerolehan kata sapaaan bahasa batak Toba anak usia tiga
tahun ditemukan beberapa kata sapaan sebagai berikut:
9. Radot : nunga male hian au uma!
“sudah lapar sekali aku mama”
‘Aku sudah lapar Mama’
Uma : jolo sae huloppa majo indahanmu
‘Tunggu Mama masak dulu ya’
Dari percakapan (9) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
anak usia tiga tahun merupakan kata sapaan bahasa batak Toba dalam lingkungan
keluarga. Dalam hal ini kata sapaan “uma” (mama) merupakan kata sapaan yang
diperoleh anak usia 3 tahun melalui lingkungan keluarga. Dalam hal ini Radot hanya
memiliki satu orang tua yaitu “Uma” , anak tersebut tidak mengenal kata sapaan
“Bapa” karena ketika Radot masih di dalam kandungan Ibunya, Bapaknya meninggal
dunia, itulah sebabnya anak tersebut tidak mengenal kata sapaan “Bapa”.
B. Kata Sapaan Bapa ‘bapak’
Kata sapaan Bapa ‘bapak adalah kata sapaan dalam bahasa Batak Toba yang
sering digunakan anak usia tiga tahun dalam lingkungan keluarga. Kata sapaan Bapa
adalah kata sapaan yang digunakan anak-anak dalam menyapa orang tua laki-laki.
Berikut contoh percakapannya
10.Bapa : sapu jo annong alaman jabui rita
“sapu dulu nanti halaman rumah rita”
‘Sapu dulu halaman rumah kita Rita’
Rita : didia dibaen bapa sapu lili?
“dimana diletakkan bapa sapu lidi?”
‘Dimana Bapak letakkan sapu lidi?’
“tanya mama , dia terakhir pakai”
‘Tanya sama Mama, mama terakhir yang pakai’
Rita : uma? Didia sapu lili, asa husapu alaman jabu on
“mama? dimana sapulidi biar disapu halaman rumah ini”
‘dimana sapu lidi Mama?Saya membersihkan halaman rumah’
Uma : jonok balatuki do hubaen
dekat tangga kuletkkan”
‘Saya meletakkan dekat tangga’
Dari data percakapan (10) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang
diperoleh Rita adalah kata sapaan Uma ‘mama’, Bapa ‘bapak’ dan diperolehnya dari lingkungan keluarga. Rita melakukan interaksi terhadap kedua orangtuanya selama
dua puluh empat jam dan menggunakan kata sapaan dengan baik, dan kedua
orangtuanya juga merespon bahasa Rita dengan baik. Hal ini yang menyebabkan Rita
mamapu menggunakan kata sapaan “Uma” dan “Bapa” .
C. Kata Sapaan Omppung doli ‘kakek’
Kata sapaan Ompung doli ‘ kakek’ adalah kata sapaan dalam bahasa Batak Toba
yang diperoleh anak usia tiga tahun dalam lingkungan keluarga. Ompung doli adalah
kata sapaan yang digunakan anak-anak untuk menyapa orang tua laki-laki dari Bapak
11.Ramot : didia ompug doli uma?
“dimana kakek mama”
‘Kakek dimana mama?’
Uma : lao mambuat duhut tuladang
“pergi mengambil rumput keladang”
‘Kakek mengambil rumput di ladang’
Ramot : narappak lao do Bapa dohot Ompung doli tu ladang
“sama pergi bapa dan kakek ke ladang”
“Bapak dan kakek pergi bersama ke ladang”
Uma : olo amang
“ia nak”
‘Ia anakku’
Dari data percakapan (11) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang
diperoleh Ramot tahun merupakan kata sapaan Uma ‘mama’, Bapa ‘bapak’ dan
Ompung doli ‘kakek‘ yang diperoleh dari lingkungan keluarg. Kedua orang tua Radot
masih hidup, itulah sebabnya Ramot sering melakukan interaksi terhadap kedua orang
Oleh karena itu Ramot memperoleh kata sapaan tiga sekaligus yaitu kata sapaan
“Uma”, “Bapa” dan “Ompung doli.
D. Kata Sapaan Ompung boru ‘nenek’
Kata sapaan Ompung boru ‘nenek’ merupakan kata sapaaan yang digunakan
dalam bahasa Batak Toba dan diperoleh anak usia tiga tahun dalam lingkungan
keluarga. Ompung boru adalah kata sapaan yang digunakan untuk menyapa orangtua
(Ibu) Bapak dan Mama. Berikut adalah contoh percakapannya
12.Bapa : naso mangan dope ho Jakkob?
“belum makan kau jakkob?”
‘Jakkob belum makan ?’
Jakkob: dangadong ikkan Bapa.
“habis ikan bapak”
‘Ikannya habis bapak’
Uma : dilamari do hubaen buatma
“dilemari tempatnya ambillah”
‘Ikannya ada di lemari’
“belum makan tadi kakek sama nenek mama?”
‘Kakek sama nenek belum makan ya mama?’
Uma : daong dope tadinghon dinasida
“belum makan , sisakan buat mereka”
‘Belum makan, jangan dihabiskan’
Jakkob : olo uma
“ia mama”
‘Ia mama’
Dari percakapan (12) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
Jakkob adalah “Bapa”, “Uma”, “Ompungdoli” dan “ Ompungboru”. Berbeda dengan
data (11) data (12) ini Jakkob mampu menggunakan kata sapaan “Ompung boru”
dengan baik, hal ini terjadi karena Jakkob masih memiliki keluarga yang lengkap
yaitu memilki “Uma”, “Bapa”, “Ompung doli” dan “Ompung boru”. Penggunaan
kata sapaan yang digunakan oleh Jakkob adalah benar, hal ini terjadi karena Jakkob
sering melakukan interaksi dan berkomunikasi sesama anggota keluarganya.
E. Kata Sapaaan Tulang ‘paman’
Kata sapaan Tulang ‘paman’ merupakan kata sapaan bahasa Batak Toba yang
adalah kata sapaan yang digunakan untuk menyapa saudara laki-laki dari Uma
‘mama’. Berikut contoh percakapannya
13.Jenti : tudia lao tulang uma?
“pergi kemana paman mama?”
‘Mama , di manakah tulang?’
Uma : lao tu saba mangombak halak i.
“pergi ke sawah mencangkul dia”
‘Pergi ke sawah mencangkul’
Jenti : naso diingot tulang manginum kopina
“tidak ingat paman meminum kopi”
‘Paman lupa meminum kopi’
Dari percakapan (13) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
Jenti adalah kata sapaan”Uma” ,dan “Tulang”. Jenti memperoleh kata sapaan “
Tulang “ dan “Uma” ketika jenti sering melakukan interaksi dan berkomunikasi
dengan keduanya. Jenti hanya memiliki satu orang tua yaitu” Uma”, Bapaknya sudah
lama meninggal dunia sewaktu jenti masih dalam kandungan. Itulah sebabnya Jenti
tidak menggunakan kata sapaan “Bapa”. Akan tetapi Jenti tinggal satu rumah dengan
dengan “Tulang”. jadi kata sapaan yang diperoleh Jenti adalah kata sapaan “Uma”
dan “Tulang”.
F. Kata Sapaan Namboru, Bou ‘bibi’
Kata sapaan Namboru, Bou ‘bibi’ merupakan kata sapaan bahasa Batak Toba
yang diperoleh anak usia tiga tahun dalam lingkungan keluarga. “Namboru”
digunakan sebagai sapaan untuk saudara perempuan dari Bapak. Berikut contoh
percakapannya
14.Bapa : tudia lao umamu Ria?
“kemana pergi mama ria?”
‘Mama pergi kemana Ria?’
Ria : lao maronan inna Bou.
“pergi ke pajak kata bibi”
‘Kata bibi , mama pergi ke pajak’
Dari percakapan (14) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
Ria adalah kata sapaan “Uma”, dan “Namboru” dan “Bapa. dalam percakapan di atas
adanya interaksi yang dilakukan oleh “Bapa” kepada Ria. Selain kata sapaan
“Uma”dan “Bapa” Kata sapaan yang digunakan Ria adalah kata sapaan “Namboru”,
akan tetapi Ria mengucapakannya dengan kata “Bou”. Hal ini terjadi karena adanya
kesepatakatan masayarakat setempat didalam penggunaan kata sapaan “Namboru”
dapat digunakan dengan kata “Bou” khususnya bagi anak-anak yang berumur
orang-orang sekelilingnya mengajarkan panggilan untuk kaka dan adik bapak yang
perempuan dengan “Bou” .
G. Kata Sapaan Akkang baoa ‘abang’ dan Akkang boru ‘kakak’
Kata sapaan Akkang baoa ‘abang’ dan Akkang boru ‘kakak’ merupakan kata
sapaan bahasa Batak Toba yang diperoleh anak usia tiga tahun dalam lingkungan
keluarga. Kata sapaan “Akkang baoa” digunakan untuk menyapa Abang dan kata
sapaan Akkang boru digunakan untuk menyapa kakak. Berikut adalah cntoh
percakapannya.
15.Tulang : ise donganmu d ijabu Lamminar?
“siapa kawanmu di rumah Lamminar?”
‘Bersama siapa Lamminar di rumah?’
Lamminar : rap Akkang baoa dohot Akkang boru Tulang.
“bersama abang dan kakak Tulang”
‘di rumah ada Abang dan Kakak, Tulang’
Tulang : Uma dohot Bapa tudia lao?
“mama dan bapak pergi kemana”
‘Di mana Bapak dan Mama?’
Laminar : di gareja Tulang
‘Pergi ke gereja Tulang’
Dari percakapan (15) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
Lamminar adalah “Akkang” dan “Tulang”. pemerolehan kata sapaan “Akkang baoa”
dan “Akkang boru” terjadi akibat adanya interaksi dan komunikasi yang dilakukan
Lamminar terhadap keluarganya, sapaan untuk saudaranya yang lebih tua dari
Lamminar. Disamping itu kata sapaan “Tulang” merupakan kata sapaan yang
diperoleh Lamminar dalam lingkungan keluarganya. Kata sapaan yang digunakan
Lamminar merupakan kata sapaan yang sudah benar yaitu kata sapaan “ Akkang” dan
kata sapaan “Tulang”.
16.Ratna : boasa dang maradi Tulang uma?
“mengapa tidak singgah Tulang itu mama”
‘Mama, mengapa Tulang tidak singgah’
Uma : adong nanilumbani nasida
“ada pekerjaan mereka”
‘Mereka terburu-buru’
Ratna : Ompung doli manuru au umbahen husughun Uma?
“kakek disuruh aku makanya kutanya mama”
Dari percakapan (16) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
Ratna adalah kata sapaan “Uma”, “Ompung”dan “Tulang”. Dalam hal ini Ratna
merupakan anak yang aktif, dan Ratna memiliki rasa ingin tahu yang besar kepada
seluruh anggota keluarganya. Dalam situasi ini Ratna tinggal dekatan dengan
“Ompung” dan “Tulang”. Hal ini juga yang mendorong Ratna melakukan interaksi
dan komunikasi.Kata sapaan yang diperoleh Ratna adalah kata sapaan
“Uma”,“Ompung doli” dan “Tulang.
4.1.2 Pemerolehan Kata sapaan Bahasa Batak Toba dalam Lingkungan
Pendidikan (Sekolah)
Lingkungan pendidikan juga mempengaruhi tentang pemerolehan bahasa,
khususnya pemerolehan kata sapaan dalam lingkungan pendidikan. Dalam hal ini
lingkungan pendidikan sangat berperan aktif dalam pemerolehan bahasa anak.
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan sarana tempat seorang anak mampu belajar
memperoleh sebuah bahasa. lingkungan pendidikan ini merupakan tempat anak didik
menuntuntut pelajaran dari seorang guru sambil bermain. Hal ini akan menimbulkan
rasa ingin tahu anak yang besar untuk memroses apa yang dilakukan dan dilihat
seorang anak (Barbara wasik, 2008: 1). Salah satu diantaranya adalah pemerolehan
bahasa atau pemerolehan bahasa pertama.
Ada dua proses yang terjadi ketika seorang anak-anak sedang memperoleh
bahasa pertamanya, yaitu proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses
ini meruapakan proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses penguasaan tata
bahasa yang berlangsung secara tidak alami. Proses kompetensi ini menjadi syarat
pemahaman dan proses penerbitan atau proses menghasilkan kalimat-kalimat, salah
satu diantaranya adalah tentang pemerolehan kata sapaan. Bagaimana anak-anak usia
tiga tahun pada Pendidikan Anak Usia Dini di desa Sibuntuon Partur menerbitkan dan
menghasilkan kata sapaan dalam ujaran kalimatnya Berikut ini adalah contoh
percakapan pemerolehan kata sapaan di lingkungan pendidikan.
17.Guru : boasa dang manurat ho Ramot
“mengapa tidak mencatat ramot”
‘Ramot, mengapa tidak mencatat’
Ramot : dang adong pitolot Guru, dang dilean Uma hepeng manuhor
“tidak ada pensil ibu, tidak dikasih mama uang membeli”
‘Mama belum memberikan uang untuk membeli pensil Ibu’
Guru : marsogot suru di tuhor Uma .
“besok suruh debelikan mama”
‘Besok suruh Mama membelikannya’
Dari percakapan (17) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
anak usia tiga tahun merupakan kata sapaan bahasa batak Toba dalam lingkungan
pendidikan (sekolah). Kata sapaan yang diperoleh Ramot adalah “Uma” dan “Guru”,
akan tetapi kata sapaan “guru” tidak terdapat dalam kata sapaan bahasa batak Toba.
Dalam hal ini setiap staf pengajar dalam pendidikan tersebut Ramot menyapanya
dengan kata sapaan “Guru” baik itu guru yang berjenis kelamin laki-laki maupun
perempuan. Dalam hal ini Ramot memperoleh kata sapaan dalam bahasa Batak Toba
yaitu “Uma”, sedangkan kata sapaan “ Guru” yang diperoleh Ramot adalah kata
sapaan dalam bahasa Indonesia yang penggunaannya sebenarnya kurag tepat.
18.Ibu : aha digobbar ho Ria ?
“menggambar apa kau ?”
‘ Apa yang Ria gambar?’
Ratna : manggombar bittang do au Ibu
“menggambar bintang aku Ibu”
‘saya sedang menggambar bintang Ibu’
19.Ibu : boasa tarlambat ho Jakob ?
“kenapa terlambat Jakkob”
‘Mengapa kamu terlambat Jakkob?’
Jakkob : tarlambat au dungo Ibu
“Saya terlambat bangun Ibu’
20.Ria : Ibu parmisi jo au naeng pause
“ibu pemisi dulu aku mau kebelakang”
‘Saya permisi Ibu, saya mau kekamar mandi’
Ibu : molo dung sae pause sappat pakke aek .
“kalau sudah siap dari kamar mandi siram pakai air”
‘Setiap dari kamar mandi harus di siram dengan air’
21.Ratna : tudia do alapon kapur i Ibu?
“darimana di ambil kapur Ibu”
‘darimana diambil kapurnya Ibu’
Ibu : jalo sian Ibu sinaga
“minta dari ibu sinaga”
‘Kapurnya minta dari Ibu Sinaga’
22.Ibu : boasa marsala on bohimi Radot?
‘Mengapa pucat mukamu Radot’
Radot : ngalian au Ibu?
“kedinginan aku ibu”
‘Saya kedinginan Ibu’
23.Jenti : dang huboan bukku gobbar hu Ibu.
“tidak kubawa buku gambar ibu”
‘Saya tidak bawa buku gambar Ibu’
Ibu : sogot unang lupa mambuan bukku gobbar mu.
“besok jangan lupa membawa buku gambarmu”
‘Jangan lupa membawa buku gambar besok’
Jenti : olo Ibu
“ ia ibu”
‘Ia Ibu’
24. Ibu : boasa dang ro ho nantuari Lamminar?
‘Mengapa semalam kamu tidak hadir Laminar’
Laminar: marsahit au Ibu
“sakit saya ibu”
‘Saya sedang sakit Ibu’
Dari percakapan (18-24) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang
diperoleh anak usia tiga tahun dari lingkungan pendidikan ini adalah “Ibu”. Interaksi
dan komunikasi yang dilakukan anak tersebut menunjukkan anak kepada Ibu guru
menunjukkan adanya adanya hubungan mampu memperoleh kata sapaan. Kata
sapaan yang diperoleh anak tersebut adalah kata sapaan “Ibu”. Kata sapaan tersebut
tidak termasuk ke dalam kata sapaan bahasa Batak Toba, akan tetapi kata sapaan
tersebut sudah termasuk kedalam kata sapaan bahasa Indonesia. Dalam bahasa Batak
Toba ada kata sapaan, Bapa, Uma, Omppung, Namboru, Amang Boru dan lain
sebagainya, tetapi dalam bidang pendidiikan, terutama ketika berada di kelas semua
murid menyapa seorang guru dengan Bapak atau Ibu guru meskipun guru tersebut
masih memiliki hubungan kekerabatan dengan murid. Kata sapaan pada lingkungan
pendidikan dalam bahasa Batak Toba berarti tidak ada, yang ada hanyalah sapaan Ibu
4.1.3 Pemerolehan Kata Sapaan Bahasa Batak Toba dalam Lingkungan
Upacara adat (Pesta).
Berbicara mengenai pemerolehan bahasa, maka kita tidak dapat melepaskan diri
dari perlengkapan pemerolehan atau acquisition device. Dalam hal ini adanya model
pemerolehan, yang dimaksud dengan model pemerolehan adalah suatu teori siasat
yang dipergunakan oleh anak-anak untuk menyusun suatu tata bahasa yang tepat bagi
bahasany (Chomsky; 1965:25-30). Dalam hal ini lingkungan juga sangat
mempengaruhi kemampuan seorang anak dalam memperoleh bahasa. Salah satu
diantaranya adalah lingkungan upacara adat (pesta)
Lingkungan upacara adat (pesta) juga sangat memepengaruhi bagaimana seorang
anak yang berusia tiga tahun mampu memperoleh kata sapaan. Kata sapaan yang
diperoleh anak yang satu dengan anak yang lainya dapat berbeda- beda. Dalam
penelitian ini ditemukan beberapa tuturan kata sapaaan dalam bahasa Batak Toba
dalam lingkungan upacara adat (pesta) .
25. Uma : sian dia hepengmi Radot?
“dari mana uangmu radot?”
‘Uangmu darimana Radot’
Radot : dilean Tulang nakaning Uma nadipesta i
“diberikan tulang tadi mama di pesta”
Uma : pamasuk tusakku mi annong mago
“masukkan kekantong mu, nanti hilang”
‘Masukkan kekantong uangmu ,nanti hilang’
Dari percakapan (20) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
anak usia tiga tahun tersebut merupakan kata sapaan yang diperoleh dalam
lingkungan upacara adat (pesta). Kata sapaan yang diperoleh adalah kata sapaan
“Uma”, dan “Tulang”. Dalam lingkungan keluarga bisa saja Radot tidak mengenal
kata sapaan “Tulang” akan tetapi ketika “Uma’ mengajak Radot ke uapacara adat
(pesta) , Radot berinteraksi langsung dengan Tulang. Hal itu lah yang menyebabkan
Radot mampu memperoleh kata sapaan dalam lingkungan uapacara adat (pesta).
26.Jakkob : di lean Namboru au jagal nakaning.
“diberikan bibi aku daging tadi”
‘ Bibi memberikan kepada saya daging’
Bapak: godang do dilean tuho?
“banyak diberikan Bibi itu?”
‘Banyak diberikan Bibi tadi?’
Jakkob : godang, ale di tambai amang boru tu pangana hu.
“banyak, tapi diberikan amang boru ke piringku”
Dari percakapan (26) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh anak
usia tiga tahun tersebut merupakan kata sapaan yang diperoleh dalam lingkungan
upacara adat (pesta). Kata sapaan yang diperoleh adalah kata sapaan “Namboru”, dan
“Amangboru”. Ketika Jakkob di bawa orang tuanya ke upacara adat (pesta), Jakkob
langsung mengenali “ Namboru” dan “Amang boru” yang sebelumnya mereka sudah
saling mengenal. Kemampuan Jakkob dalam memperoleh bahasa khusnya
pemerolehan kata sapaan tergolong baik. Hal ini dapat dibuktikan ketika Jakkob
bertemu langsung dengan “Namboru” dan “Amang boru”
27.Bapa : jalang jo Eda mi Lamminar
“salam dulu kakak ipar itu”
‘Bersalaman dulu dengan Kakak ipar’
Laminar : ise ho, dang hutanda
‘siapa kamu, saya tidak kenal’
‘Saya tidak mengenali dia”
Bapa : akora ni Akkang baoa mu do i
“isteri dari Abangmu itu”
‘ itu isteri Abangmu’
Dari percakapan (27) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
anak usia tiga tahun tersebut merupakan kata sapaan yang diperoleh anak usia tiga
adalah kata sapaan “Akang baoa”dan “Ho”. Ketika Bapak menuyurh Lamminar
bersalaman dengan “Eda” Lamminar menggunakan kata sapaan “Ho” yang dimana
pengguanaan kata sapaan tersebut diguanakn untuk orang yang sebaya. akan tetapi
Lamminar dalam menggunakan kata sapaan “Ho” kurang tepat, hal ini diakibatkan
Lamminar tidak pernah melakukan interaksi dengan “Eda”. Itulah yang menyebabkan
penggunaan kata sapaan “Ho” tidak tepat.
28.Bapa :ditada hodo namangalean hepeng i tuho?
“kenal kamu yang memeberikan uang itu”
‘ Apakah kamu mengenal yang memberikan uang itu?’
Ria : na dipesta ni Tulang i do!
“ tadi yang di pesta tulang “
‘ Yang di pesta Tulang tadi’
Bapa : olo ria.
“ ia ria”
‘ Ia ria’
Ria : Namboru do mangalean ahu hepeng
“ Bibi yang memberikan aku uang”
Bapa : hurippu dang ditadda ho
“kukira tidak kenal kamu”
‘Bapak kira kamu tidak mengenalinya’
Dari percakapan (28) di atas dapat dijelaskan bahwa kata sapaan yang diperoleh
anak usia tiga tahun tersebut merupakan kata sapaan yang diperoleh dalam
lingkungan upacara adat (pesta). Kata sapaan yang diperoleh anak tersebut di atas
adalah kata sapaan “Namboru”. Dari percakapan kepada Ria “Namboru” nya, yang
memberikan uang kepada Ria adalah “Namboru”. Ria mampu mengenali “Namboru”
nya dan menggunakan kata sapaan “Namboru” dengan benar. Hal ini karena telah
terjadi interaksi dan komunikasi antara Ria dan “Namboru”. Orangtua sering
mengajak Ria dalam mengikuti upacara adat (pesta). Ria selalu melihat “Namboru”
itu ketika berada dalam upacara adata (pesta) itu.
29.Rita : boasa tangis Ompung doli i Uma?
“mama, kakek mengapa menagis?”
‘Mengapa menangis kakek itu Mama?’
Uma : nga monding be ompung boru mi?
“sudah meninggal nenek mu”
Rita : mabiar au mamereng ompung boru i
“ takut aku melihat nenek itu”
‘Aku ketakutan melihat mayat Nenek itu’
Dari percakapan (29) dapat disimpulkan bahwa kata sapaan yang diperoleh Rita
kata sapaan “Ompung”. Sebelumnya Rita belum mengenal “Ompung doli” dan
“Ompung boru” akan tetapi ketika orang tua Rita mengajaknya hadir dalam upacara
adat, Ritaa memperoleh kata sapaan tersebut. Hal ini terjadi karena tempat tinggal
4.2 Bentuk Kata Sapaan Yang Sering Digunakan Anak Usia Tiga Tahun
Kata sapaan adalah seperangkat kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang
dipakai untuk menyebut ata memanggil para pelaku dalam suatu peristiwa bahasa
(Kridalaksana, 2008:14). Kata sapaan digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk
menempatkan posisi yang tepat. Dalam berinteraksi kata sapaan digunakan sebagai
bagian dari tutur sapa. Kata sapaan menjadi sebutan yang menandakan penghargaan
terhadap derajat maupun martabat seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.
Penggunaan kata sapaan yang baik dan benar merupakan norma norma yang
melambangkan masyarakat yang berbudaya. Kiparsky (dalam Tarigan, 1968:194)
anak-anak melihat dengan pandangan yang cerah akan kenyataan-kenyataan bahasa
yang dipelajarinya dengan melihat tata bahasa asli orang tuanya, serta
pembaharuan-pembaharuan yang telah mereka perbuat sebagai tata bahasa tunggal. Kemudian dia
menyusun atau membangun tata bahasa yang baru serta di sederhanakan dengan
pembaharuan-pembaharuan yang dibuatnya sendiri.
Berbicara tentang pemerolehan bahasa kita dapat mengacu kedalam dua
perkemabangan yang berbeda, yakni belajar bahasa yang pertama atau bahasa ibu dan
bahasa kedua. Hal ini berkaitan dengan kematangan dan sosialisai anak dan
perkembangan belajar bahasa kedua. Pada umumnya, anak yang normal memperoleh
kecakapan berbahasa melalui bunyi bunyi bahasa yang anak dengar dari sekelilingnya
secara alami tanpa diperintah. Kecakapan berbahasa itu berkembang karena
inteligensi dan latar belakang sosial budaya yang membentuknya.
Pemerolehan kata sapaan yang diperoleh anak usia tiga tahun berbeda-beda
anak usia tiga tahun di lingkungan keluarga. Pada Bab 4.1 telah dipaparkan bentuk
kata sapaan bahasa Batak Toba yang digunakan anak usia tiga tahun pada Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan,
lingkungan upacara adat (pesta). Dari ketiga lingkungan yang berbeda yang
ditampilkan di atas memberikan informasi bahwa penggunaan kata sapaan bahasa
Batak Toba pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), usia tiga tahun di diesa
Sibuntuon Partur adalah kata sapaan yang digunakan dalam lingkungan keluarga.
Hal ini terjadi karena lingkungan ini akrab dengan anak usia tiga tahun. Selama satu
hari penuh anak bersama keluarganya, bersama ibu, bapak, abang, dan kakak bahkan
ada pula anak yang tinggal serumah dengan “Opung doli” ‘kakek’ atau Opung boru
‘nenek’ seperti yang dialami Jakkob. Kata sapaan yang sering digunakan anak usia
tiga tahun dalam lingkungan keluarga adalah Uma, Bapa, Ompung doli, Ompung boru, Tulang, Namboru, Akkang baoa, Akkang boru.
30. Radot : maridi jo au tu paccur Uma
“mandi dulu aku ke sumur mama”
‘Mama, saya mandi dulu ke sumur ‘
Uma : unang leleng maridi radot
“jangan lama mandi radot”
‘Jangan telalu lama mandinya’