• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas sosiologi umum kelembagaan sosia (7)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tugas sosiologi umum kelembagaan sosia (7)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH SOSIOLOGI

TENTANG “LOCAL WISDOM” SEBAGAI PENGENDALIAN SOSIAL

Oleh:

Nama : Dwi Handoko NIM : 130910101003

Program Studi : Hubungan Internasional

(2)

A. Pengertian Kearifan lokal

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia terdapat nilai-nilai sosial yang membentuk kearifan lokal (local wisdom) dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, gotong royong, kekeluargaan, musyawarah untuk mufakat dan tepa selira

(toleransi). Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup, pandangan hidup yang mengakomodasi kebijakan dan kearifan hidup. Di Indonesia yang kita kenal sebagai Nusantara,kearifan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat nasional. Sebagai contoh, hampir di setiap budaya lokal di Nusantara dikenal kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong, toleransi, etos kerja, dan seterusnya. Pada umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah dan peribahasa, (folklore), dan manuskrip.Walaupun ada upaya pewarisan kearifan lokal dari generasi ke generasi, tidak ada jaminan bahwa kearifan lokal akan tetap kukuh menghadapi globalisasi yang menawarkan gaya hidup yang makin pragmatis dan konsumtif. Secara faktual dapat kita saksikan bagaimana kearifan lokal yang sarat kebijakan dan filosofi hidup nyaris tidak terimplementasikan dalam praktik hidup yang makin pragmatis. Korupsi yang merajalela hampir di semua level adalah bukti nyata pengingkaran terhadap kearifan lokal yang mengajarkan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”; “hemat pangkal kaya”.

A.

Pengendalian berbasis kearifan lokal dan berbasis kebijakan formal

(3)

nilai-nilai religi yang dianut masyarakat Indonesia, sehingga nilai-nilai kearifan lokal ini makin melekat pada diri mereka. Dan tak heran jika nilai-nilai kearifan lokal ini dijalankan tak semata-mata untuk menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi bentuk pengabdian manusia kepada Sang Pencipta. Hal ini lah yang menyebabkan masyarakat kebanyakan lebih patuh terhadap aturan yang tertuang dalam kearifan lokal (local wisdom) karena mereka menganggap dengan menaati kearifan local maka mereka juga taat terhadap tuhan atau sang pencipta, sebaliknya jika mereka melanggar maka mereka akan mendapatkan sanksi dari sang pencipta, sementara pengendalian sosial melalu kebijakan formal yang dibuat oleh pemerintah terkadang kurang efektif dan sering diabaikan oleh masyarakat karena sifat kebijakan formal yang terlalu umum dan tidak dapat secara spesifik mencakup semua jenis masyarakat, kita tahu bahwa masyarakat di Indonesia mempunyai keanekaragaman budaya dan mereka mempunyai kearifan lokal masing-masing.sehingga kebijakan formal kurang mampu mencakup atau mengakomodasi semua nilai yang terkandung dalam masyarakat, hal ini berbeda dengan konsep kearifan local atau local wisdom yang bersifat khusus atau spesifik dalam mengatur kehidupan suatu masysarakat karena nilai yang terkandung berdasarkan nilai-nilai yang dipercaya oleh masyarakat sekitar.

Contoh local wisdom lebih mampu mengontrol kehidupan sosial dibanding kebijakan formal:

Larangan pemerintah untuk tidak menebang pohon sembarangan di kawasan hutan lindung,terkadang sering diabaikan dan dilanggar dengan maraknya pembalakan liar, kemudian tentang kepercayaan masyarakat suku Dayak tentang hutan lindung sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur maka mereka akan menjaga dan melestarikan hutan tersebut,karena mereka percaya menjaga hutan berarti menjaga hubungan mereka dengan leluhur mereka.

(4)

1. Kearifan lokal dapat berfungsi sebagai kontrol atau pengendali kehidupan dan perilaku masyarakat misalnya dalam hal konservasi lingkungan contoh :

a. Nyabuk Gunung

Nyabuk gunung merupakan cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur. Cara ini banyak dilakukan di lereng bukit sumbing dan sindoro. Cara ini merupakan suatu bentuk konservasi lahan dalam bercocok tanam karena menurut garis kontur. Hal ini berbeda dengan yang banyak dilakukan di Dieng yang bercocok tanam dengan membuat teras yang memotong kontur sehingga mempermudah terjadinya longsor.

b. Mitos Menganggap Suatu Tempat Keramat Khususnya Pada Pohon Besar (Beringin)

Menganggap suatu tempat keramat berarti akan membuat orang tidak merusak tempat tersebut, tetapi memeliharanya dan tidak berbuat sembarangan di tempat tersebut, karena merasa takut kalau akan berbuat sesuatu nanti akan menerima akibatnya. Misalnya untuk pohon beringin besar, hal ini sebenarnya merupakan bentuk konservasi juga karena dengan memelihara pohon tersebut berarti menjaga sumber air, dimana beringin akarnya sangat banyak dan biasanya didekat pohon tersebut ada sumber air.

(5)

hidupnya sangat dipengaruhi oleh kehidupan modern. Maka dari itu kearifan lokal penting untuk dilestarikan dalam suatu masyarakat guna menjaga keseimbangan dengan lingkungannya dan sekaligus dapat melestarikan lingkungannya.

2. Contoh local wisdom sebagai control perilaku sosial dalam kehidupan bermasyarakat

(6)

KESIMPULAN

Referensi

Dokumen terkait

Penekanan Comte’s pada saling behubungan tentang unsur-unsur sosial adalah suatu pertanda modern functionalism , unsur-unsur tertentu dari pekerjaan nya kini dipandang sebagai

Kerja sama adalah suatu usaha bersama antarindividu ataupun kelompok untuk mencapai kepentingan dan tujuan yang serupa, serta menyadarinya bermanfaat untuk dirinya atau orang

dia juga tertarik pada fungsi masing-masing bagian dari sistem sosial memenuhi sebagai serta bagaimana masyarakat mengelola untuk tetap stabil atau perubahan.. Dengan kata

[DK] ipsuri mallado halmareun haeyageseo Baby ([Seungkwan] Oh~) [Woozi] akkyeo neol akkyeoneol heonggijeuk nal jeongdoro akkinda ([Seungkwan] Whoa oh~). [Hoshi] yojeum mallya

[r]

Meskipun demikian di provinsi ini ada pula suku bangsa lain yang memiliki budaya yang berbeda dengan suku Jawa seperti suku Sunda di daerah perbatasan dengan Jawa Barat.. Selain

Perkembangan teknologi media massa akhir-akhir ini, serta perubahan social yang terjadi begitu cepat, maka bidang soskom ini ikut pula berkembang sangat pesat di berbagai setting

Mbah Sulimah : “Menurut saya, harapan mengenai pemerintahan yang baru yaitu memperbaiki fasilitas transportasi seperti memperbaiki jalan raya yang rusak parah, bisa dekat