BAB 1 PENDAHULUAN A. Pengantar
Seorang awam yang untuk pertama kali mempelajari sosiologi, sesungguhnya secara tidak sadar telah mengetahui sedikit tentang sosiologi. Selama hidupnya, dia telah menjadi anggota masyarakat dan sudah mempunyai pengalaman-pengalaman dalam hubungan sosial atau hubungan antarmanusia.
Sosiologi merupakan suatu ilmu yang masih muda, walau telah mengalami perkembangan yang cukup lama. Sejak manusia mengenal kebudayaan dan peradaban, masyarakat manusia sebagai proses pergaulan hidup telah menarik perhatian. Awal mulanya,orang-orang yang meninjau masyarakat hanya tertarik pada masalah-masalah yang menarik perhatian umum, seperti kejahatan,perang.kekuasaan golongan yang berkuasa, keagamaan, dan lain sebagainya, dari pemikiran serta penilaian yang demikian itu, orang kemudian meningkat pada filsafat kemasyarakatan, dimana orang menguraikan harapan tentang susunan serta kehidupan masyarakat yang diingini atau yang ideal. Dengan demikian, timbullah perumusan nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang seharusnya ditaati oleh setiap manusia dalam hubungannya dengan manusia lain dalam suatu masyarakat . perbedaan yang tidak jarang menimbulkan pertentangan antara harapan dengan kenyataan memaksa para ahli pikir untuk mencari penyebab-penyebabnya.
Filsafat biasanya dipandang sebagai induk ilmu pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang menduga kenyataan yang terpenting. Kala itu, filsafat adalah ilmu tentang, ilmu pengetahuan, kritik dan sistematika pengetahuan, penyimpulan ilmu pengetahuan empiris, pengajaran rasional,akal pengalaman dan seterusnya. Dengan demikian filsafat mencakup ontologi, deontologi, epistomologi, dan aksiologi. Ontologi yang menjadi cabang filsafat tentang sifat kenyataan rill dan deontologi adalah sifat kenyataan idiil. Epistemologi merupakan dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan. Sementara itu, aksikologi adalah evaluasi atau penilaian dasar-dasar dan kenyataan. Pemikiran terhadap masyarakat lambat laun mendapat bentuk sebagai suatu ilmu pengetahuan yang kemudian dinamakan sosiologi, pertama kali terjadi di benua eropa banyak usaha baik yang bersifat ilmiah maupun bersifat nonilmiah, yang membentuk sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.
B. Ilmu Pengetahuan dan sosiologi 1. Apakah Ilmu pengetahuan?
Apakah sosiologi benar- benar merupakan suatu ilmu pengetahuan? Dikatakan bahwa ilmu sosiologi sebagai pengetahuan itu dikarenakan bahwa ilmu pengetahuan secara sistematis menggunakan kekuatan pemikiran yang selalu dapat diperiksa dan telah di kontrol dengan kritis oleh orang yang lain yang ingin mengetahuinya. Ada bagian-bagian yang tergabung dalam unsur kebulatan:
a. Pengetahuan ( knowledge). b. Tersusun secara sistematis c. Menggunakan pemikiran
d. Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum ( objektif).
Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang tersususn secara sistematis dengan penggunaan kekuatan pemikiran, dimana pengetahuan tersebut dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis. Tujuan ilmun pengetahuan adalah untuk lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan timbul karena adanya hasrat ingin tahu dari manusia. Setelah manusia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, kepuasannya tadi segera di susul lagi oleh suatu kecendrungan tersebut, yang dapat ditempuh melalui cara berikut :
a. Penemuan secara kebetulan, artinya penemuan yang sifatnya tanpa direncanakan dan diperhitungkan terlebih dahulu. Penemuan semacam ini, walaupun kadang-kadang bermanfaat, tidak dapat dipakai dalam suatu cara yang ilmiah karena keadaannya yang tidak pasti atau kurang mendekati kepastian.
b. Hal untung-untungnya, artinya penemuan melalui cara percobaan-percobaan dan kesalahan-kesalahan. Perbedaan dengan penemuan secara kebetulan adalah pada manusia lebih bersikap aktif untuk mengadakan percobaan. Walaupun tdak ada pengetahuan yang pasti tentang hasilnya.
c. Kewibawaan, yaitu berdasarkan penghormatan terhadap pendapat atau penemuan yang dihasilkan oleh seseorang atau lembaga tertentu yang dianggap mempunyai kewibawaan atau wewenang. Dalam hal ini mungkin tidak diusah akan untuk menguji kebenaran pendapat atau penemuan tersebut yang lazimnya tidak didasarkan pada suatu penelitian atau penyelidikan yang mendalam.
d. Usaha-usaha yang bersifat spekulatif walaupun agak teratur, artinya dari sekian banyak kemungkinan, dipilihlah salah satu kemungkinan,walaupun pilihan tersebut tidaklah didasarkan pada keyakinan apakah pilihan tersebut merupakan cara setepat-tepatnya. e. Pengalaman, artinya berdasarkan pikiran kritis. Akan tetapi pengalaman belum tentu
teratur dan bertujuan.
f. Penelitian ilmiah, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala dengan jalan analisis dan pemeriksaan yang mendalam fakta-fakta masalah yang disoroti.
2. Ilmu-ilmu sosial dan sosiologi
Ilmu-ilmu sosial dinamakan demikian karena ilmu-ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai obyek yang dipelajarinya. Ilmu-ilmu sosial belum mempunyai kaidah-kaidah dan dalil-dalil tetap yang diterima oleh bagian terbesar dimasyarakat karena ilomu-ilmu tersebut belum lama berkembang. Sedangkan yang menjadi objek adalah masyarakat dan manusia yang berubah-ubah.