• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Produktivitas Parsial Tenaga Ke

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Produktivitas Parsial Tenaga Ke"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I Pendahuluan

A. Sejarah pendirian perusahaan

Pada tahun 1987 Dutapalma sebagai induk perusahaan mendirikan anak perusahaan yang digunakan untuk memproduksi minyak kelapa sawit dari pengolahan CPO. Perusahaan ini dinamakan PT Darmex Oils and Fats .Perusahaan ini berdiri dengan skala internasional. Seperti yang telah diketahui bahwa Dutapalma merupakan satu perusahaan grup terbesar yang bergerak dibidang industri pertanian yaitu kelapa sawit. Bahkan hasil produksi yang dilakukan oleh grub ini tsudah diekspor keluar negeri sejak perusahaan ini didirikan. Perusahaan ini pun semakin berkembanng pesat dengan semakin banyaknya permintaan global akan kelapa sawit baik masih dalam keadaan mentah maupun sudah dalam bentuk minyak.

Pada tahun 1988 kebun kelapa sawit didirikan di Kalimantan Barat, yaitu diwilayah Kuatan Hilir, Kuatan Tengah, Kuantan Mudik, dan sebagian lagi di Indragiri Hulu, dengan cakupan luas mencapa 11.260 ha di Riau.. Disamping membangun budidaya kelapa sawit pada tahun yang sama PT Darmex juga mendirikan pabrik CPO pertama yang didirikan dengan kapasitas produksi mencapa 27.500 ton CPO pertahun. Pada tahun berikutnya grup ini juga mendirikan produksi minyak goreng dengan merek “Palma” dengan nama perusahaan PT Darmex Oils and Fats.

(2)

permintaan dalam negeri dan sebagian produk di ekspor untuk pasar International . Pada tahun 1997 perkebunan telah mencapai 50.000 Ha. Pada tahun 2000 , PT Darmex Oils and Fats memulai operasi pembuatan Palm Kernel dibawah PT . Teluk Kuantan Perkasa di Dumai Riau . Pada Tahun 2002 , PT Darmex Oil adn Fats juga mendirikan pabrik “soap noodle”. Pabrik ini memiliki kapasitas 72 ton per hari dan dimaksudkan untuk memenuhi permintaan dalam negeri . Selain menghasilkan soap noodle dan minyak goreng, PT Darmex Oil and Fats juga menghasilkan glycerine dengan kapasitas 1.200 ton per tahun. Pada tahun 2004 PT Darmex Oils and Fats mendirikan kebun Pembibitan seluas 60 Ha di Pekanbaru. Perusahaan mulai ekspansi perkebunan area di Kalimantan Barat dengan 14.400 Ha. Pada tahun 2006 , PT Darmex biofuels didirikan dengan kapasitas terpasang 150.000 ton / tahun. Pada tahun 2008, dibuat road map untuk melengkapi implementasi SAP dan ISO. Sekarang, pembudidayaan terletak di Riau dan Kalimantan dengan total 8 penggilingan di Pekanbaru , Jambi dan Kalimantan, total produksi dari Crude Palm Oil ( CPO) sekitar 36.000 matrix ton per bulan. Hasil produksi paling banyak diperuntukkan untuk proses lanjutan di kilang minyak untuk membuat turunan lain seperti minyak goreng, soap noodle , RBD Stearin, PFAD dan lain – lain .

B. Tujuan Pendirian Perusahaan

(3)

“The leading sustainable palm oil in Indonesia”, sehingga untuk mencapai visi tersebut maka disusunlah misi sebagai berikut :

 Fokus pada ekspansi bisnis kelapa sawit yang terintegrasi

 Membangun dan mengembangkan produk hilir untuk mendapatkan keuntungan dan produktifitas maksimal

 Menyediakan produk dengan standar kualitas tertinggi

 Mencapai nilai maksimum dan atau pengembalian terhadap shareholder dan stakeholder

 Pengembangan sumber daya manusia dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk orang Indonesia

 Peduli tehadap kesejahteraan dan kebahagian pekerja maupun untuk seluruh rakyat indonesia

C. Lokasi Perusahaan

PT Darmex Oils and Fat berlokasi di Jalan Raya Bekasi KM 27 no 1 , Kali Abang Tengah, Bekasi Utara, Jawa Barat. PT . Darmex Oils and Fat merupakan bagian dari grup usaha Dutapalma.

Gambar 1.1 Peta Kota Bekasi dan Citra Satelit PT. Darmex Oils and Fats

BAB II

(4)

A. Tinjauan Umum Bahan Baku 1. Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis quinensis Jacq) merupakan tumbuhan tropisgolongan plasma yang termasuk tanaman tahunan. Kelapa sawit yang dikenal ialah jenis Dura, Psifera dan Tenera. Ketiga jenis ini dapat dibedakan berdasarkanpenampang irisan buah, yaitu jenis Dura memiliki tempurung yang tebal, jenis Psifera memiliki biji yang kecil dengan tempurung yang tipis, sedangkan tenera yang merupakan hasil perulangan dura dengan Psifera menghasilkan buah bertempurung tipis dan inti yang besar.

Buah sawit berukuran kecil antara 12-18 gr/butir yang duduk pada bulir. Setiapbulir terdiri dari 10-18 butir tergantung pada kesempurnaan penyerbukan. Buah sawityang dipanen dalam bentuk tandan disebut dengan tandan buah sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh dari tandan buah sawit ialah minyak sawit yang terdapat pada daging buah (mesokarp) dan minyak inti sawit yang terdapat padakernel. Kedua jenis minyak ini berbeda dalam hal komposisi asam lemak dan sifatfisika-kimia. Minyak sawit dan minyak inti sawit mulai terbentuk sesudah 100 harisetelah penyerbukan, dan berhenti setelah 180 hari atau setelah dalam buah, minyakyang sudah jenuh. Jika dalam buah tidak ada lagi pembentukan minyak, maka yangterjadi ialah pemecahan trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol.

2. Morfologi Tanaman a. Akar

Biji kelapa sawit berkeping tunggal, sehingga akarnya adalah serabut. Perakarannya sangat kuat. Akar yang tua tetap kuat dan tetap utuh tidak membusuk sekalipun telah mati. Sistem penyebaran akar tersebut terkonsentrasi pada tanah lapisan atas. Karena sistem perakarannya kuat tadi maka jarang ditemukan tanamanyang roboh atau tumbang.

(5)

Batang kelapa sawit tumbuh lurus ke atas, diameternya dapat mencapai 40-60cm. pada tanaman yang masih muda, batangnya tidak terlihat karena tertutup olehpelepah daun yang tumbuh rapat mengelilinginya. Pertumbuhan meninggi batang barujelas terlihat sesudah tanaman berumur 4 tahun. Rata-rata pertumbuhan tinggi batangadalah 25-40 cm per tahun. Namun demikian, hal ini tergantung selain pada jenis,kesuburan lahan serta iklim setempat.

c. Daun

Daun tanaman kelapa sawit bersirip genap, bertulang sejajar, panjangnya dapat mencapai 3-5 meter. Daun mempunyai pelepah yang pada bagian kiri maupun kanannya tumbuh anak-anak daun. Tanaman kelapa sawit yang sudah dewasa mempunyai anak daun yang jumlahnya dapat mencapai 100-160 pasang. Pada bagian pangkal pelepah daun tumbuh duri dan bulu-bulu kasar dan halus. Duduknya pelepah daun pada batang tersusun teratur, melingkari batang membentuk konfigurasi spiral. Daun kelapa sawit tumbuh pada batang, sifatnya bergerombol, roset. Daun yang telah tua berubah warnanya menjadi kuning dan pucat sebelum rontok meninggalkan bekas pada batang. Pertambahan jumlah daun pada kanopi tanaman lebih cepat dibandingkan dengan jumlah daun yang gugur. Oleh karenanya tampakdaun kelapa sawit tumbuh bergerombol dibagian atas tanaman.

d. Bunga

Tanaman kelapa sawit bersifat monoecious atau berumah satu. Monoecious bermakna bahwa bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman. Namun demikian, bunga jantan terpisah dengan tandan bunga betinanya. Bunga kelapa sawit atau yang juga disebut tandan muncul pada ketiak daun. Rumus bunga betina adalah : K3, C3, A0, G(3) sedangkan rumus bunga jantannya adalah K3, C3, A(6), G0. Dimana : K adalah kaliks/kelopak (sepal) ; C corolla (petal) ; A androecioum (bunga jantan) dan G adalah gynoecioum (bunga betina).

(6)

Buah kelapa sawit terbentuk sesudah terjadi penyerbukan (pollination) dan pembuahan (fertilization). Bakal buah (ovary) tumbuh berkembang menjadi buah sedangkan bakal biji (ovule) tumbuh menjadi biji. Buah kelapa sawit memiliki bagian – bagian sebagai berikut :

1. Eksokarp atau kulit luar yang keras dan licin. Ketika buah masih muda, warnanya hitam atau ungu tua atau hijau. Semakin tua, warnanya berubah menjadi orange merah atau kuning orange.

2. Mesokarp atau Sabut

Diantara jaringan – jaringanya ada sel pengisi seperti spons atau karet busa yang sangat banyak mengandung minyak (CPO), jika buah sudah masak. 3. Endokarp atau Tempurung

Ketika buah masih muda endokarp memiliki tekstur lunak dan berwarna putih. Ketika buah sudah tua, endokarp berubah menjadi keras dan berwarna hitam. Ketebalan endokarp tergantung pada varietasnya. Contoh varietas dura memiliki endokarp sangat tebal, sedangkan varietas pisifera sangat tipis,bahkan tanpa endokarp.

4. Kernel atau Biji atau Inti

Inti dapat disamakan dengan daging buah dalam kelapa sayur, tetapi bentuknya lebih padat dan tidak berisi air buah. Kernel mengandung minyak (PKO) sebesar 3% dari berat tandan, berwarna jernih dan bermutu sangat tinggi.

f. Biji

Bagian biji kelapa sawit penting artinya bagi eksistensi generasi berikutnya. Bagian biji kelapa sawit terdiri atas kulit biji, tali pusat dan inti biji atau isi biji. Kulit biji yang berasal dari selaput bakal biji (integument) sangat keras seperti batu. Bagian ini berfungsi untuk melindungi biji bagian dalam yang lunak. Tali pusat merupakan bagian biji yang menghubungkannya dengan papan biji. Inti biji merupakan bagian yang penting untuk alih generasi. Bagian inti biji terdiri atas lembaga atau embrio dan cadangan makanan (endosperm).

(7)

Pengolahan kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang menentukan kebehasilan usaha perkebunan kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti sawit, sabut, cangkang dan tandan kosong. Pabrik kelapa sawit (PKS) dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi crude palm oil (CPO) dan inti sawit dari tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. PKS tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia.

Parameter penting produksi seperti efisiensi ekstraksi, rendemen, kualitas produk sangat penting perananya dalam menjamin daya saing industri perkebunan kelapa sawit di banding minyak nabati lainnya. Perlu diketahuibahwa kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah (TBS) yang diolah dalam pabrik. Sedangkan proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi menekan kehilangan dalam pengolahannya, sehingga kualitas CPO yang dihasilkan tidak semata-mata tergantung dari TBS yang masuk ke dalam pabrik.

Pada prinsipnya proses pengolahan kelapa sawit adalah proses ekstraksi CPO secara mekanis dari tandan buah segar kelapa sawit (TBS) yang diikuti dengan proses pemurnian. Secara keseluruhan proses tersebut terdiri dari beberapa tahap proses yang berjalan secara sinambung dan terkait satu sama lain kegagalan pada satu tahap proses akan berpengaruh langsung pada proses berikutnya.

4. Pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi CPO

(8)

TBS mengandung sejumlah zat yang harus dihilangkan terlebih dahulu untuk mencapai pengolahan yang efisien. Suasana lembab dengan suhu tinggi dalam rebusan akan mengaktifkan enzim-enzim lipase dan lipoksidase yang terdapat dalam buah sehingga proses hidrolisis minyak menjadi asam lemak bebas dan proses oksidasi minyak dapat dihentikan. Oleh karena itu tandan yang dipanen harus diusahakan dapat direbus (sterilisasi) secepatnya.

Untuk mencegah oksidasi selama perebusan, udara harus dikosongkan sama sekali dari dalam rebusan. Hal ini juga perlu untuk mencapai suhu yang diperlukan (udara adalah penghantar panas yang jelek). Cara terbaik adalah cara triple peak sterilization. Pemasukan uap harus secara berangsur untuk menghindarkan pemanasan lanjut pada tempat-tempat tertentu. Minyak yang berasal dari air rebusan sangat jelek daya pucatnya dan mengandung banyak besi, maka seharusnya tidak dicampur dengan minyak produksi utama. Buah yang sudah direbus mudah diserang mikroba dan cepat busuk. Karena itu bila tidak selesai diolah, sebaiknya tandan disimpan sebelum perebusan.

Setelah dilakukan perebusan dilanjutkan pada proses pemisahan. Dengan tahapan seperti berikut:

a. Penebahan

(9)

b. Peremasan

Buah diaduk dalam suatu bejana silindris tegak (ketel) selama beberapa waktu sementara dipanaskan pada suhu yang tinggi. Bejana dilengkapi dengan beberapa pasang lengan atau pisau pengaduk sehingga buah yang diaduk di dalamnya menjadi hancur karena diremas akibat gesekan yang timbul antara sesama buah dan di antara massa remasan buah sehingga daging buah lepas dari biji dan menghancurkan sel-sel yang mengandung minyak, agar minyak dapat diperas sebanyaknya pada pengempaan berikutnya.

Untuk memperoleh peremasan yang baik kondisi yang menghasilkan gesekan sebesar-besarnya perlu dipertahankan. Massa dijaga tidak sampai menjadi bubur, maka lubang perforasi dijaga tidak sampai tersumbat (secara terus menerus harus terlihat adanya aliran tirisan yang cukup). Ketel harus dijaga tetap penuh untuk menjaga tekanan (gaya gesekan) yang konstan, dan waktu pengadukan yang cukup. Massa dijaga tidak sampai mendidih agar tidak terbentuk emulsi. Suhu dijaga tetap tinggi untuk mengurangi efek pelumasan dari minyak.

Peremasan yang baik ialah jika dalam massa remasan yang masuk kedalam kempa tidak terdapat satupun buah yang masih utuh atau yang daging buahnya belum terlepas sepenuhnya dari biji. Daging buah tidak boleh diremas sampai halus, seratseratnya harus masih kelihatan utuh. Massa remasan harus homogen, tidak ada biji – biji yang mengumpul di bagian bawah. Penirisan cairan kelihatan lancar. Selama peremasan massa tidak sampai mendidih, namun suhu harus dipertahankan tinggi, yaitu mendekati titik didih air.

c. Pengempaan

(10)

konus dapat dilakukan berdasarkan tekanan dalam kempa atau berdasarkan pemakaian tenaga listrik. Dinding silinder secara terus menerus dibilas dengan semprotan air panas. Juga kedalam massa disemprotkan uap. Kapasitas kempa dapat diatur dengan penyesuaian putaran ulirnya. Makin tinggi tekanan kempa makin rendah kadar minyak dalam ampas kempa, tetapi makin banyak biji yang pecah dalam kempa.

d. Penghembusan Serabut (pemisahan biji dari ampas)

Ampas kempa yang keluar dari kempa berupa bongkahan dan masih terlalu basah untuk mudah dihembus serabutnya oleh angin. Oleh karena itu ularan yang membawa ampas kempa ke kolom pemisah serabut dilengkapi dengan lengan-lengan pemecah yang letaknya pada sumbu ularan sedemikian sehingga membentuk ulir, dan dinding ularan dilengkapi pula dengan mantel uap pemanas. Dengan ularan bergaris tengah lebih besar (700 mm) dan didahului pengempaan yang sempurna tidak diperlukan lagi mantel pemanas.Dengan demikian ampas akan dipecah menjadi longgar dan air yang terkandung dalamnya dapat menguap dengan leluasa sehingga menjadi cukup kering untuk penghembusan dengan angin.

(11)

e. Pengendapan (Pemisahan Minyak dari Air)

Minyak mentah berupa cairan yang ditiriskan dari bejana peremas dan yang sangat tercampur dengan air, terutama berasal dari perasan kempa. Upaya pertama adalah memisahkan serabut dan cangkang halus dengan menyaring minyak mentah pada saringan getar melalui kawat saringan ukuran 30 mesh/inci, atau saringan bertingkat dua, dengan ukuran 16 dan 40 mesh/inci. Zat padat yang tersaring dikemblikan ke bejana peremas. Sebelum atau pada saat penyaringan biasanya ditambahkan air panas (sekaligus pembilas kempa atau saringan) untuk mengurangi viskositas minyak mentah sehingga memudahkan pemisahan minyak dari drab pada pengendapan berikutnya. Pengendapan dilakukan secara bersinambungan dalam suatu bak horizontal yang terdiri atas tiga ruangan. Ruangan pertama tempat pemanasan minyak mentah dengan uap langsung agar kembali mencapai suhu 950 C. Ruangan kedua tempat berlangsungnya

pengendapan. Di sini cairan harus mengalir dengan tenang tanpa ada pemanasan lagi. Waktu pengendapan disini sekitar 1-1,5 jam. Ruangan ketiga tempat pengeluaran drab. Sisa minyak yang masih terdapat dalam drab dikutip lagi dengan pengendapan dalam alat sentrifus dengan gaya sentrifugal.

f. Pengeringan Biji (Pemisahan inti dari biji)

Sebelum inti dapat dilepaskan dari biji, biji perlu dikeringkan terlebih dahulu. Dengan pengeringan ini inti akan lekang dari cangkang dan cangkang menjadi lebih rapuh. Kadar air yang semula sekitar 25 % akan diturunkan menjadi 8-10 %. Pengeringan dilakukan dalam suatu silo pengering. Biji dicurahkan dari bagian atas silo, dan berlawanan arah dengan ini terdapat aliran angin panas yang dihembuskan dari bagian bawah dan dari bagian tengah. Pengeringan berlangsung lambat selama 12-14 jam pada suhu 600C.

g. Pemecahan Biji

(12)

dimasukkan melalui rotor akan terlempar melalui celah ke arah cincin pemecah dengan gaya sentripetal.

h. Pemisahan Cangkang

Campuran pecahan terdiri atas cangkang, inti, dan biji tak pecah. Pemisahan inti dari campuran tersebut dilakukan berdasarkan perbedaan bentuk antara inti dan cangkang atau perbedaan berat jenis inti dari cangkang dan biji. Prinsip pemisahan tersebut dapat diterapkan dalam lingkungan (media) larutan atau suspensi, air jernih, atau angin.

Bahan baku yaitu CPO merupakan bahan utama penyusun suatu produk minyak kelapa sawit. Dalam hal ini PT Darmex Oils and Fats menggunakan bahan baku berupa Crude Palm Oil atau biasa disebut CPO. Bahan baku CPO yang digunakan PT Darmex Oils and Fats didapat dari pengolahan biji kelapa sawit dari kebun milik PT Darmex Oils and Fats. Kebun kelapa sawit berada di wilayah Sumatra dan sebagian Kalimantan, dengan luas kebun 155.000 ha.

CPO ini didistribusikan menggunakan kapal tongkang kemudian dilanjutkan dengan truk tangki minyak. Setelah sampai pabrik CPO ditimbang di stasiun penimbangan sebelum masuk pada penyimpanan dan proses selanjutnya, yaitu pembuatan minyak kelapa sawit.

Sumber:http://4.bp.blogspot.com

Gambar 2.1 Butir Kelapa Sawit dan Bagianya

(13)

Sehingga kapasitasnya tidak stabil. Oleh karenanya PT. Darmex Oils and Fats Oils and Fats mensiasati dengan penyimpanan pada tangki penyimpanan dengan empat belas tangki. Sehingga persediaan bahan baku bisa olah secara kontinyu dengan kapasitas produksi yang sama besar.

Namun produksi pada industri ini masih menggunakan CPO yang mempunyai level di grade dua atau dibawahnya ini dikarenakan produk utamanya yaitu CPO grade pertama langsung diekspor oleh pihak perusahaan. Ini dilakukan karena PT. Darmex Oils and Fats memproduksi dari kebun sendiri. CPO dengan kadar FFA kurang dari 5% digunakan untuk bahan baku minyak goreng kemasan sedangkan CPO dengan kadar FFA lebih dari 5% digunakan untuk bahan baku pembuatan glycerin dan FAME di PT Darmex Biofuels.

Dalam proses produksi minyak goreng dari CPO digunakan bahan tambahan seperti Phosphoric Acid (PA) dan Bleaching Earth (BE). Adapun fungsi penambahan ialah sebagai berikut:

Bleaching Earth digunakan untuk memucatkan warna yang menyerap unsur – unsur pembawa warna yang melekat pada CPO. Zat warna dalam minyak akan diserap oleh permukaan absorben dan juga menyerap suspensi koloid (gum dan resin) serta hasil degradasi minyak seperti peroksida. BE ditambahkan pada saat minyak bersuhu 70 – 800 C. Daya pemucat BE akan lebih efektif bila

adsorben memiliki kadar air tinggi, ukuran partikel halus dan pH mendekati normal. Dosis penggunaan tergantng kualitas CPO yang digunakan. Cara menentukan kualitas CPO tidak ada standar yang pasti.

(14)

Yang dapat dikontrol adalah penambahan BE tidak diijinkan jika langsung dalam jumlah banyak, yang benar adalah dengan menambahkan BE secara perlahan – lahan sampai didapatkan umlah yang optimum.

Bahan yang tidak ikut selama proses namun dibutuhkan selam proses yaitu :

 Air : air ini diperoleh dari PDAM yang digunakan untuk cooler (air bersih) dan proses vakum (air kotor)

 Udara bertekanan : diperoleh dari Compressor yang digunakan untuk proses pengeringan dan untuk membuka katup pipa.

Steam : diperoleh dari High Pressure Boiler yang terdapat di Power Plant PT DOF Bekasi yang digunakan untuk steam boster, steam injection, pengaduk pada deodorizer dan pemanasan pada proses awal serta pengeringan.

 Sumber listrik : diperoleh dari GenSet (Generator Set) yang terdapat pada pada Power Plant.

Jenis-Jenis Bleaching Earth a. Simnit

Simnit merupakan nama dagang untuk sejenis tanah lempung yaitu kaolin. Kaolin adalah mineral lempung berwarna putih, bersusunan kimia Al2O32SiO22H2O (hidrous aluminium silikat) yang merupakan hasil ubahan atau pelapukan dari felspar atau mika. Kaolin memiliki nilai ekonomi cukup besar sebagai bahan keramik, pemutih dan pengisi kertas.

b. Carbon Aktif

Carbon (arang) merupakan adsorben yang paling banyak dipakai untuk menyerap zat-zat dalam larutan. Zat ini dipakai di pabrik untuk menghilangkan zat warna dalam larutan. Aktivasi carbon bertujuan untuk memperbesar luas permukaan arang dsengan membuka poripori yang tertutup, sehingga memperbesar kapasitas adsorbsi terhadap zat warna

c. Bentonite sebagai tanah pemucat

(15)

mikroskopik. Sisa kerangka ini pertama - tama membentuk lumpur yang kemudian termampatkan. Rumus kimia bentonite adalah (MgCa)Oal2O35SiO28

Simnit mempunyai daya serap yang lebih baik dibanding dengan bentonite clay dan karbon aktif dikarenakan simnit mempunyai luas permukaan yang lebih luas atau partikelnya sangat halus, dan dengan penambahan asam phospat sebagai pengaktif akan menyebabkan penyerapan terhadap warna (karoten) dan pengotor-pengotor yang terdapat pada minyak mentah (CPO) itu lebih optimum. Pemucatan dengan asam akan lebih baik jika dibandingkan dengan hasil pemakaian tanah pemucat saja. Karena asam akan merombak struktur tanah dan mengeluarkan air dari partikel tanah pemucat sehingga luas permukaan tanah lebih besar. Selain itu komposisi mineral penyusun bleaching earth juga mempengaruhi kemampuan penyerapannya.

Sumber:www.diytrade.com

Gambar 2.3 Bleaching Earth

(16)

B. Proses Pengolahan

Pada pengolahan CPO ini ditampilkan PPO seperti berikut:

Gambar 2.4 Pembuatan Minyak Goreng

PETA PROSES OPERASI

Nama Obhyek : Pembuatan Minyak Goreng Dipetakan Oleh : Muhammad Robbi Sudarna Tanggal Pemetaan : 17 Mei 2014

No Peta : 01

RINGKASAN

Kegiatan Jumlah Waktu Operasi

Inspeksi Penyimpanan

6 7 1

(17)

Proses secara umum yang terjadi pada CPO (Crude Palm Oil) atau bahan baku selama berada di dalam Refinery Plant adalah :

1. Proses Degumming, adalah proses penambahan Phosphoric Acid (PA) yang berfungsi untuk mengikat getah (gum). Degumming merupakan suatu proses yang bertujuan. Proses penghilangan getah merupakan suatu proses pemisahan getah dan lendirlendir yang terdiri dari fosfatida, protein, residu, karbohidrat, air, resin, tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak. Hasil yang diperoleh dari proses ini adalah Degummed Palm Oil (DPO).

2. Proses Bleaching, adalah proses penambahan Bleaching Earth (BE), pada CPO yang telah diberi Phosporic Acid (PA). Dengan cara pemucatan ini maka standar warna yang diinginkan dapat diupayakan sesuai dengan keinginan konsumen. Dalam proses pemucatan ini digunakan bahan pemucat (bleaching earth) yang sering juga disebut adsorben. Pemakaian bleaching earth ini harus optimum, sesuai dengan standar mutu warna BPO (bleaching palm oil atau minyak yang dihasilkan dari pemucatan). Dimana BPO yang dihasilkan akan memiliki mutu yang berbeda jika menggunakan jenis bleaching earth yang berbeda dan mutu BPO ini perlu untuk diperhatikan.

3. Proses Deodorizing, merupakan proses tahap pemurnian yang bertujuan untuk menghilangkan bau dan rasa tidak enak dalam minyak. Prinsip penghilangan bau yaitu penyulinganminyak dengan uap panas dalam tekanan atmosfer atau keadaan vakum.

Proses pengolahan CPO sebagai feed atau bahan baku dimulai dari CPO yang terdapat pada tangki storage dipanaskan terlebih dahulu hingga mencapai suhu 500 C. Tujuan dilakukan pemanasan adalah agar CPO tidak beku sehingga proses

(18)

Exchanger (PHE2) untuk memanaskan CPO. Namun jika pabrik sudah beroperasi maka pemanas ynag digunakan adalah RBDPO atau minyak panas yang sudah matang. Jadi pemanasan pada CPO dapat dilakukan hanya pada PHE1 yang menggunakan sumber panas RBDPO dan proses pada PHE2 dapat dilewatu. Pemindahahn panas pada PHE1 dilakukan dengan cara CPO dilewatkan pada RBDPO yang shunya lebih tinggi daripada CPO yang keluar dari High TemperatureEconomizer. Selanjutnya CPO dialirkan ke tangki degumming.

CPO yang kemudian ditambahkan asam phospat dengan dosis 0,04% - 0,06% kedalam tangki degumming fungsi penambahan asam phospat untuk mengikat getah (flok) dari kelapa sawit yang bercampur dengan CPO sehingga terbentuk gumpalan – gumpalan yang telah menggumpal dalam tangki degumming dialirkan ke tangki slurry, kemudian ditambahkan Bleaching Earth dengan dosis 1% - 1,2% dari CPO yang diproses. Proses bleaching dilakukan selama 50 menit agar terjadi penyerapan (absorbs) terhadap bahan –bahan yang tidak dibutuhkan. Selain itu proses Bleaching juga bertujuan ntuk mengoksidasi bahan dan memisahkan dari bahan – bahan yang tidak dibutuhkan. Hasil dari proses bleaching ini kemudian disaring dalam proses filtrasi sehingga terpisah antara spent earth (kotoran minyak) dengan Bleach Palm Oil (BPO).

(19)

dengan sempurna. Sebaliknya jika terlalu lama maka PA yang bentuknya cair akan tertarik ke vakum dan kembali ke bentuknya yang semula atau mencair. Hasil yang diperoleh dari proses penambahan PA ini adalah Degummed Palm Oil (DPO).

Proses selanjutnya, DPO dibawa menuju Slurry Tank (ST) kemudian dilakukan penambahan Bleaching Earth (BE) yang berbentuk bubuk ntuk memucatkan warna dari DPO. Penambahan BE tergantung dari kualitas minyak itu sendiri dimana penambahan Bleaching Earth (BE) tergantung dari kualitas minyak itu sendiri dimana penambahannya akan semakin sedikit jika FFA-nya tinggi (produksi minyak curah) dan penambahannya akan semakin banyak jika FFA-nya rendah (produksi minyak Palma Stand Pouchl). Rata – rata ditambahkan Bleaching Earth dengan dosis 1% - 1,2% dari CPO yang diproses. Proses bleaching dilakukan selama 50 menit agar terjadi penyerapan (absorbs) terhadap bahan –bahan yang tidak dibutuhkan. Pada Slurry tank (ST) ini selain terjadi penambahan BE, dibawah tangki terdapat sparger steam yang berfungsi untuk memanaskan dan proses pengadukan. Hasil yang diperoleh disebut Degummed Bleached Palm Oil (DBPO). DBPO yang dihasilkan ini mengandung aldehida, keton, alkohol, asam lemak berberat molekul ringan, hidrokarbon, dan bahan lain hasil dekomposisi peroksida dan pigmen. Walaupun konsentrasi bahan-bahan tersebut kecil, bahan-bahan tersebut dapat terdeteksi oleh rasa dan aroma minyaknya. Bahan-bahan tersebut lebih volatil pada tekanan rendah dan temperatur tinggi

(20)

kotoran dapat tersaring. Kotoran yang tersaring ini berupa BE yang sudah tidak terpakai lagi. Proses yang terjadi dalam Filter adalah :

1. Vakum.

2. Filling, merupakan proses pengisian minyak ke dalam filter. 3. Blask Run atau Pemurnian

4. Filtration

5. Circulation, proses ini dapat terjadi pada da kondisi yaitu : a. Posisi Bleacher Low Level.

b. Posisi Tanki Filtrat High Level.

6. Emptying atau proses pengosongan filter. Proses ini dilakukan dengan meninggalkan kotoran pada filter.

7. Drying, merupakan proses pengeringan kotoran yang basah menjadi blotong yang kering (Spent Earth) yang menempel pada lempengan filter. Blotong atau Spent Earth ini dirontokkan lalu dikeluarkan. Untuk pengeringan BE dan penggerak vibrator digunakan udara.

Minyak yang lolos dari Filter difiltrasi lagi dengan menggunakan 4 filter yaitu 2 Cartridge Filter (FC) dan 2 Bag Filter (FB). Hasil samping dari kedua filter ini masih berupa BE yang ukurannya lebih kecil dari yang dihasilkan di Filter Niagara. Setelah lolos maka DBPO akan masuk ke dalam tanki filtrat (TF) lalu dipompa dengan menggunakan pompa masuk ke Plate Heat Exchanger lalu masuk kedalam Final Heater (FH) untuk dipanaskan dengan pemanas yang disuplai dari High Pressure Boiler yang berbahan bakar solar. Setelah itu masuk ke dalam Separator (S) dan dilanjutkan ke deodorizer, dimana pada deodorizer terdapat 17 tray untuk menghilangkan warna, odor dan mengurangi kandungan FFA.

(21)

mentah. Pada deodorizer, kondisi minyak panas dan tentu saja dalam kondisi sepertimitu akan ada minyak yang menguap di mana uap tersebut divakum dan dikondensasikan pada Tanki Splash Oil (TSO) untuk menjadi cair kembali. Jika TSO tersebut penuh maka akan secara otomatis terpompa ke tanki tampung (TT) sebagai by product. By Product ini disebut sebagai PFAD atau Palm Fatty Acid Destilate. PFAD ini disimpan di tanki penampung untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan biofuel oleh PT Darmex Bio Fuel (DBF) yang terletak disamping refinery plant PT DOF. Minyak yang matang hasil deodorisasi masuk ke dalam High Temperature Economizer (E) lalu ke Plate Heat Exchanger (PHE). Hasil proses deodorizing yang bersuhu sangat tinggi mencapai 180°C didinginkan dalam Cooler dengan menggunakan air hingga mencapai 60°C. Lalu kemudian difiltrasi dengan F1 dan F2. Hasil yang diperoleh dari rafinasi setelah didinginkan dan difilter disebut sebagai Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) sebanyak ±93,5% (menyusut 6,5 %). RBDPO ini kemudian dikirim ke Plant Fraksinasi untuk diolah lebih lanjut menjadi minyak goreng.

Seluruh alat yang digunakan pada Refinery Plant ini dioperasikan dalam keadaan vakum yang bertujuan untuk menghilangkan kelembaban dan mencegah minyak teroksidasi dengan oksigen (O2). Prinsip vakum ini digunakan dengan

(22)

Fractination Plant

Dalam plant fraksinasi pada intinya terdapat 2 proses yaitu kristalisasi dan filtrasi dengan 2 jenis alat utama yaitu Crystalizer dan Filter Press. Kapasitas proses pada plant ini dibedakan berdasarkan kulitas masing – masing jenis minyak goreng yang diproduksi PT DOF. Flow Rate terbesar apabila sedang mempross minyak curah, sedangkan yang terkecil adalah jenis Palma Stand Pouch.

Proses yang terjadi pada plant fraksinasi adalah sebagai berikut :

Minyak yang telah diproses di Plant Refinery yakni RBDPO kemudian dibawa ke Plant fraksinasi untuk diolah lebih lanjut. RBDPO diambil dari storage tank atau dialirkan langsung dari Refinery Plant. Sistem yang digunakan pada plant ini adalah sistem semi continous. Proses pertama yang dilakukan adalah RBDPO dialirkan ke Bufffer Tank. Pada buffer tank ini terjadi proses preheating yang digunakan untuk menghomogenkan olein yang diolah menjadi minyak goreng. Setelah tangki buffer sudah terisi penuh oleh RBDPO maka 85-90 % dari volume tangki ini dialirkan ke Crystalizer Tank. Crystalizer tank berfungsi untuk mengkristalkan fraksi cair RBDPO yaitu Olein yang akan dipisahkan dari Stearin-nya (Fraksi padat). Tangki ini dilengkapi dengan pipa-pipa di sekeliling dinding tangki yang berguna untuk memanaskan ataupun mendinginkan, selain itu terdapat juga pengaduk yang berfungsi untuk meratakan pemanasan ataupun pendinginan dan menyeragamkan ukuran kristal yang terbentuk.

Pada proses ini minyak didinginkan pada kondisi dan temperatur yang terkontrol sehingga kandungan sterin dalam minyak berubah menjadi kristal sedangkan olein tetap cair. Hal ini disebabkan perbedaan fraksi dari zat yang terkandung dalam minyak fraksi padat (sterin).

(23)

Selanjutnya dijalankan alat untuk pengatur distribusi steam berdasarkan tekanan yang bekerja secara konstan yaitu alat stema reducing valve. Fungsi dari alat ini adalah untuk memanaskan minyak di dalam crystalyzer sampai suhu yang ditentukan.

Tahapan proses yang terjadi di dalam tangki adalah :

1. Loading : Tahap memasukkan RBDPO ke dalam crystalizer tank , jika ketinggian liquid sudah mencapai batas tertentu maka tahap selanjutnya dapat dilakukan. Saat pengisian dilakukan tidak sampai memenuhi crystalizer tank untuk mengantisipasi melubernya liquid.

2. Heating : Tahap pemanasan sampai tertentu yang berfungsi untuk mencairkan kristal – kristal yang sudah terbentuk sebelumnya. Media pemanas yang digunakan adalah air yang dipanaskan dengan steam. Kecepatan putaran pengaduk diset pada putaran paling cepat. Tahap ini dilakukan jika RBDPO yang dimasukkan ke buffer tank mempunyai suhu yang rendah, jika RBDPO mempunyai suhu di atas suhu pemanasan maka proses ini tidak perlu dilakukan.

3. Delay Before Cooling : Tahap mendiamkan beberapa saat RBDPO sambil diaduk (suhu tetap dipertahanakan dengan pemanasan) hal ini berfngsi untuk menghomogenkan RBDPO yang sudahpanas. Selain itu juga berfngsi dalam pengaturan waktu proses antara crystalizer tank yang satu dengan yang lain sehingga tidak terjadi waktu filtrasiyang bersamaan.

(24)

masuk air pendingin ini ditentukan oleh hasil analisa Iodine value (IV) dari RBDPO yang diperiksa pada saat tahap cooling delay berlangsung. Dari hasil pemeriksaan didapatkan semakin besar nilai IV maka kemampuan penurunan suhu minyak menuju ke suhu kristalisasi makin besar sedangkan semakin kecil nilai IV maka kemampuan penurunan suhu minyak semakin kecil. Sehingga delta T1 dan delta T2 diatur sedemikian rupa melalui sirkulasi air pendingin agar shu yang diinginkan dapat tercapai. Pada tahap pendinginan kecepatan putaran pengaduk diperlambat bersamaan dengan mulai terbentuknya butir – butir kristal stearin yang semakin lama semakin besar dan semakin banyak jumlahnya. Pada tahap awal pembentukan kristal maka deta T2 ini membatasi suplai air pendingin sehingga suhu minyak tidak semakin dingin, tetapi dapat diperlambat.

5. Crystal time : Merupakan waktu yang diperlukan untuk mempertahankan atau memperlambat penurunan suhu RBDPO kristal. Pada tahap ini dengan waktu yang ditentukan diperoleh pembentkan kristal yang baik, seragam, kecil, dan keras. Crystal time ini berbeda – beda untuk tiap jenis minyak goreng yang dihasilkan oleh PT DOF, untuk pembuatan Palma Stand Pouch misalnya waktu pembentukan kristal dilakukan paling lama, agar seluruh stearin dapat dibentuk menjadi kristal.

(25)

perlahan – lahan mencapai suhu akhir dari pendinginan ini (sesuai dengan suhu filtrasi).

7. End of Cooling : Tahap ini adalah tahapan akhir dari pendinginan pada proses kristalisasi yang diatur sedemikian rupa (dengan cara pengaturan debit air pendingin) sehingga suhu akhir pendinginan dapat tercapai. Suhu akhir ini berbeda – beda sesuai masing – masing jenis minyak (misalnya untuk Palma Stand Pouch end of cooling paling rendah).

8. Holding : Merupakan waktu tunggu dari tahap kristalisasi menuju ke tahap filtras. Holding ini berfungsi untuk memperbaiki mutu minyak. Bagian QC menguji mutu minyak yang dihasilkan selama proses kristalisasi dengan melakukan pengambilan sampel untuk analisa kandungan IV pada bagian awal proses. Kandungan IV jika belum sesuai maka holding time diperpanjang sambil terus didinginkan dan diaduk. Bagian QC juga memberikan hasil analisa waktu yang dibutuhkan untk tahap filtrasi.

(26)

(pemasukkan stearin ke tanki stearin). Jika filter press tidak kotor maka proses berlanjut (load) tetapi jika kotor maka akan dicuci terlebih dahulu. Hasil yang diperoleh disebt sebagai Olein dan Stearin.

Gambar 2.5 Storage tank

Di dalam plant fraksinasi ini pada intinya terdapat dua proses kristalisasi dan filtrasi dengan 2 jenis alat utama yaitu:

Setelah terbentuk kristal sterin secara optimal kemudian fraksi padat dan fraksi cair dipisahkan dengan Rotary Vacuum Drum Filter (RVDF) dengan pelindung yang sekaligus berfungsi sebagai pengumpul fraksi padat. Hasil dari proses ini adalah RBDPL (Olein) sebanyak 79% dari RBDPO yang diolah dengan hasil samping RBDPS (Stearin) dengan temperatur 18 – 240 C.

C. Spesifikasi produk / standar mutu / pengembangan produk

(27)

serta untuk kegiatan bakti sosial yang diadakan pemerintah saat terjadi bencana alam.

D. Sistem kendali mutu produk

Sistem kendali mutu merupakan kumpulan dari kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk demi tercapainya kepuasan konsumen. Sistem kendali mutu pada PT Darnex Oil & Fats tidak hanya mengacu pada hasil produk akhir semata, namun dilakukan secara menyelruh dimulai dari penerimaan bahan baku sampai distribusi produk ke konsumen. diterapkan dengan selalu menguji sampel pada tiap tahapan proses produksi minyak goreng.

Sistem kendali mutu dapat dilaksanakan dengan tiga tindakan utama yaitu : 1. Tindakan Pencegahan

Tindakan pencegahan dilakukan dengan metode Total Productive Maintenance. TPM dilakukan dengan cara melakukan maintenance rutin pada mesin dan alat sesuai dengan jadwal periode maintenance, sehingga tidak terjadi kerusakan mesin di saat produksi berjalan. Selain itu juga selalu di sediakan mesin cadangan yang siap menggantikan mesin yang mengalami kerusakan total. Akan tetapi pada kenyataannya penerapan TPM pada PT Darmex Oil & Fats masih diabaikan. Hal ini terbukti dengan ditemukannya kerusakan mesin pada saat melakukan produksi. Maintenance alat dan mesin juga belum terjadwal dengan teratur sehingga mesin yang rusak tidak langsung ditangani. Sehingga dapat menggangg proses produksi yang berjalan. Tindakan pencegahan dilakukan dengan tujuan menjamin kelancaran proses produksi sehingga didapatkan produk akhir sesuai dengan yang telah ditargetkan.

2. Tindakan Pengawasan

(28)

PT Darmex Oil and Fats melakukan pengawasan mutu selama 24 jam dalam sehari untuk menjaga agar kualitas produk yang dihasilkan memenuhi spesifikasi atau standar yang ditetapkan sehingga produk yang dihasilkan tetap terjaga kualitasnya. Selain itu juga untuk dapat mencapai kapasitas produksi yang maksimal. Pengawasan dilakukan oleh staff yang bekerja di bagian QC yang mengawasi proses produksi dengan sistem shift yang terbagi dalam 3 shift. Pemeriksaan ini dilakukan mulai dari pengiriman bahan baku di kapal yakni CPO yang berasal dari kebun di Riau dan Kalimantan Barat, CPO ini sudah diperiksa dan dianalisa mutu CPO dan juga selama proses produksi CPO berlangsung. Analisa terhadap mutu dalam proses produksi minyak goreng dilakukan secara periodik agar minyak yang diproduksi terjaga kualitasnya dan sampai ke tangan konsumen dengan hasil yang terbaik. Tujuan analisa adalah untuk memastikan spesifikasi dari mutu dapat terpenuhi. Semua kegiatan di bagian QC adalah untuk memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan pada produk-prodk perusahaan yang diperuntukkan untuk konsumen.

Pengendalian mutu dilakukan pada laboratorium ini meliputi uji mutu bahan baku, bahan setengah jadi dan juga bahan jadi. Laboratorium atau yang lebih dikenal sebagai Quality Control atau QC ini merupakan sebuah departemen yang berwewenang untuk :

(29)

setiap periode waktu tertentu. CPO diambil dari CPO tanker, di mana sebelum dilakukan proses produksi pada plant – plant maka CPO disimpan dalam tempat yang disebut CPO storage tank. Jika CPO tidak lagi memenuhi persyaratan maka sebanyak apapun CPO yang ada tetap tidak diperbolehkan untuk diproduksi.

Bahan baku lain seperti asam fosfat dan bleaching earth yang masuk sebelum diterima diuji dulu spesifikasi bahan apakah sudah sesuai dengan Certificate of Analysis (CoA) yang dilampirkan bersama dengan bahan yang dikirimkan oleh bagian quality control. Jika bahan yang diterima sesuai dengan CoA yang dilampirkan maka bahan akan diterima oleh PT Darmex Oil and Fats untuk selanjutnya ditangani oleh bagian gdang bahan baku. Jika spesifikasi bahan yang diuji tidak sesuai dengan CoA yang ada maka pihak PT Darmex Oil and Fats tidak akan menerima bahan yang dikirimkan tersebut.

CPO yang telah lulus uji, maka dilakukan proses produksi di plant refinery untuk kemudian diolah menjadi RBDPO. Prosesnya meliputi degumming, bleaching dan deodorizing. Pada proses degumming CPO diolah menjadi DPO, DPO mengalami proses bleaching menjadi DBPO. Sebelum DBPO difilter, diambil sampelnya terlebih dahulu untuk dilakukan uji warna dan PV. Sedangkan pada proses deodorizing yang diambil sampelnya untuk diperiksa adalah RBDPO. Pada proses selanjutnya, yaitu di plant fraksinasi, yang dikontrol adalah proses kristalisasi dan filtrasi. Pada proses kristalisasi ini yang dikendalikan adalah meliputi suhu, waktu, speed agitator, steam, volume. Pada filtrasi dihasilkan 2 macam produk yaitu stearin dan olein, yang keduanya diperiksa juga mutunya. Jika produk minyak goreng yang dihasilkan tidak sesuai untuk spesifikasi minyak goreng dalam kemasan (grade 1). Maka minyak yang dihasilkan akan dipasarkan dalam bentuk curah yang memiliki spesifikasi mutu dibawah minyak goreng dalam kemasan. Semua proses pengawasan dan pengendalian mutu dilakukan oleh bagian Quality Control yang menguji mutu produk secara kimiawi.

(30)

STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN

Struktur organisasi PT. Darmex Oils and Fats akan ditunjukkan pada Gambar 3.1. Jenis struktur organisasi yang digunakan adalah struktur organisasi campuran antara struktur organisasi lini dan fungsional. Struktur organisasi lini adalah suatu struktur organisasi di mana wewenang dan kebijakan pimpinan atau atasan dilimpahkan pada satuan-satuan organisasi di bawahnya menurut garis vertikal. Sedangkan struktur organisasi fungsional adalah struktur organisasi di mana organisasi diatur berdasarkan pengelompokan aktivitas dan tugas yang sama untuk membentuk unit-unit kerja seperti produksi, operasi, pemasaran, keuangan, personalia, dan sebagainya yang memiliki fungsi yang terspesialisasi. Spesialisasi di sini akan memberikan efisiensi kerja yang lebih tinggi lagi. Disebut juga fungsional karena suatu bagian dapat berhubungan dengan anggota maupun kepala bagian secara langsung.

Dari Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa struktur organisasi perusahaan ini mengharuskan kebijakan pimpinan atau atasan dilimpahkan pada satuan-satuan organisasi di bawahnya menurut garis vertikal. Selain itu, dilakukan juga pengelompokan secara terpisah yang didasarkan pada fungsi yang berbeda dari masing-masing aktivitas. Sebagai contoh, bagian maintenance dibuat terpisah dengan bagian laboratorium.

(31)

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Perusahaan

Manajer pabrik ini mempunyai beberapa bawahan guna membantu kelancaran pekerjaaan manajer seperti:

a. Kepala produksi

Kepala produksi bertugas mengawasi proses proses produksi untuk memastikan semua proses yang terjadi sesuai dengan prosedur dan terkendali. Pengawasan dilakukan dengan menyesuaikan antara input yang digunakan dengan output yang dihasilkan harus sesuai dengan target dari perusahaa.

b. Kepala Maintenance

(32)

c. Kepala Pengepakan (Packaging)

Kepala pengepakan bertugas untuk melakukan pengawasan untuk memastikan produk yang dihasilkan oleh PT Darmex Oil & Fats terkemas dengan baik. Kepala pengepakan juga memastikan tersedinya bahan bahan yang digunakan seperti untuk pengemasan.

d. Kepala Logistik

Kepala logistik bertugas untuk memastikan ketersediaan bahanbaku, mengawasi setiap kegiatan bongkar muat bahan baku, memastikan kuantitas dan kualitas bahan baku yang datang sesuai dengan order yang dilakukan perusahaan.

e. Kepala Gudang

Kepala gudang bertugas untuk mengawasi aktivitas pergudangan. Melakukan pencatatan terhadap terhadap barang yang keluar dan masuk gudang. Memastikan berjalannya sistem pergudangan dengan baik.

f. Quality Control

Divisi quality control bertugas melakukan pengujian mutu terhadap setiap bahan baku yang digunakan serta setiap produk yang dihasilkan. Memastikan mutu bahan baku yang datang di perusahaan sesuai spesifikasinya dengan Certificate of Analysis dengan menguji sampel bahan baku yang diterima perusahaan.

g. Manajer keuangan

Manajer keuangan mempunyai tugas untuk mengurus segala urusan keuangan perusahaan, menentukan keputusan investasi, mngambil keputusan pembelanjaan dan mengawasi lalu lintas keuangan perusahaan.

h. Manajer Akunting

Manajer akunting mempunyai tanggung jawab melakukan pengecekan bukti – bukti akutansi, pencatatannya, pembukuan hingga laporan keuangan diterbitkan maupun pencatatan penjualan.

i. Manajer Personalia

Manajer personalia bertugas untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan karyawan, seperti disipplin kerja karyawan, pembinaan karyawan, gaji karyawan, perekrutan karyawan serta hubungan dengan serikat pekerja yang ada di perusahaan tersebut.

(33)

Manajer marketing mempunyai tugas untuk melakukan pemasaran dan melakukan pemesanan kebutuhan perusahaan.Manajer marketing melakukan pemesanan kebutuhan perusahaan yang didasarkan pada laporan dari divisi lainnya.

BAB IV

(34)

A. MESIN DAN PERALATAN INDUSTRI

Istilah Mesin dan Peralatan secara garis besar dapat diartikan sebagai seperangkat peralatan, lengkap dengan instalasi serta perlengkapan pendukungnya yang diperlukan untuk dapat beroperasi didalam suatu kegiatan industri, menghasilkan sesuatu sesuai dengan fungsinya seperti yang direncanakan. Mesin merupakan alat yang memberi tenaga atau daya dipakai secara mekanis pada setiap pesawat yang dapat memperbesar tenaga yang bekerja, mengubah suatu gerak menjadi tenaga lain atau mengubah arah gerak. Sedangkan peralatan merupakan alat yang dijalankan oleh manusia atau dijalankan secara mekanis oleh mesin untuk melakukan pekerjaan (Anonim, 2014).

Mesin dan peralatan produksi yang digunakan pada proses produksi minyak goreng kelapa sawit di PT. Darmex Agro Oils and Fats telah menggunakan mesin. Mesin dan peralatan produksi tersebut meliputi:

A. Proses Produksi Minyak Goreng 1. Rafinasi CPO

Mesin rafinasi ini merupakan mesin yang digunakan untuk memproduksi minyak goreng. mesin ini meliputi:

a. Heat exchanger: merupakan mesin pertukaran panas . panas yang diperoleh pada mesin H/E diperoleh dari steam yang berasal dari ketel uap.

b. Tangki degumming: mesin ini merupakan mesin yang digunakan untuk tahap pemurnian berupa penghilangan gum (getah). Mesin ini berupa tangki yang didalamnya terjadi proses pemurnian. Penghilangan getah ini menggunakan asam fosfat untuk mengangkat getah yang terdapat didalam CPO.

c. Tanki slurry: merupakan tangki yang digunakan untuk proses filtrasi CPO sebelum menjadi menjadi RBDO

(35)

bleaching earth yaitu berupa bubuk hiogrokopis yang merupakan bahan pemucatnya.

e. Alat filtasi: alat ini digunakanuntuk memisahkan antara minyak dan spent earth atau kotoran minyak menjadi minyak yang lebih jernih

f. Deodorizer: mesin ini digunakan untuk menghilangkan bau minyak yang telah diolah sehingga bau sudah tidak tercium atau hanya beraroma minyak.

g. Boiler: merupakan alat yang digunakan sebagai pemanas ketel yang nantinya digunakan uapnya dimanfaatkan sebagai steam.

h. Vaccum: unit ialah alam kedap udara yang digunakan pada aliran minyak

i. Pompa: ialah alat yangdigunakan untuk mengalirkan minyak, air kedalam alat . selai itu pompa digunakan untuk memutar pengaduk pada tangki tangki mesin rafinasi.

j. Cooling: tower merupakan bak penampung yang digunakan untuk menaampung air untuk mendinginkan suhu dan untuk proses destilasi.

k. Dissolve air floatation: alat penanganan limbah yang mempunyai prinsip sentrifugal yang akan memisahkan minyak dengan air beserta campuran lain.

l. Fat trapper : fat trapper merupakan alat yang digunakan untuk menangkat sterin yang terbentuk dari cooling. Alat ini berupa saringan dengan ukuran mesh tertentu yang mampu menahan butiran strerin yang tadi telah terbentuk. Sterrin akan terkumpul dan akan ditekan atau dipres dengan alat yang sudah disesuaikan. Alat ini bekerja sesuai otomatis.

(36)

a. Pompa: alat ini digunakan untuk memompa minyaak dan air sekaligus sebagai penggerak mesin

b. Kristaliser: merupakan alat yang digunakan untuk mengkristalkan sterimn sehingga terbentuk kristal – kristal strerin pada minyak dengan bantuan air.

c. Alat filtrasi: alat ini digunakan untuk filtrasi memisahkan antara sterin dan minyak goreng yang biasa disebut olein. Prosesnya dengan cara pengepresan.

d. Chiller: merupakan salah satu alat pendingin untuk mendinginkan minyak saat kristalisasi.

Gambar 4.1 Crystalizer tank dan Filter Press PT. Darmex Oils and Fats

3. Pengemasan

Pada proses pengemasan ini alat yang digunakan meliputi:

a. Alat pengemas: merupakan alat pengemas semi automatis yang dapat mengemas kemasan 1 liter, 2 liter , 5 liter dan 18 liter.

b. Konveyor: merupakan alat pengantar barang atau kemasan menuju tempat pengepakan

(37)

Gambar 4.2 Alat pengemas PT. Darmex Oils and Fats

4.Alat penanganan bahan

a. Truk: alat ini digunakan untuk mendistribusikan produk kepada suplyer

b. Forklift: alat ini digunakan untuk memindahkan barang ke sehingga pemindahan menjadi lebih mudah

c. Timbangan: digunakan untuk menimbang berat dalam satuan ton. Biasanya untuk menimbang truk baik saat kosong maupun saat ini.

B. Proses Produksi Noodle Soap

1. Mesin produksi

a. Pre heater: merupakan alat yang digunakan untuk memanaskan bahan sebelum dimulainya proses.

b. Strainers

(38)

d. Cooling mixer: mesin pengaduk yang digunakan untuk menurunkan suhu bahan baku sabun sebelum dicetak menjadi noodles.

e. Statis separator: pemisahan statis antara bahan sabun yang telah diturunkan suhunya dengan bahan bahan yang tidak digunakan secara statis

f. Constant level tank: alat berbentuk tank yang digunakan untuk menampung bahan baku sabun.

g. Washing column: merupakan kolom pembersih yang digunakan untuk menampung cairan yang digunakan untuk membersihkan sisa sisa produksi sabun didalam pipa.

h. Heat exchanger: merupakan peralatan pertukaran panas yang digunakan untuk menukarkan panas dalam cairan sabun baik meninggikan suhu maupun menurunkan suhu.

i. Centrifuge: merupakan bagian mesin dalam pembentukan sabun untuk memisahkan antara cairan sabun dan cairan lain yang tidak diperlukan

j. Turbo dispenser: merupakan mesin pembentuk sabun

k. Neutralizing mixer: mesin ini digunakan untuk menetralisasi kadar sabun. Menjadi lebih basa sesuai dengan sifat asli sabun.

l. Homogenizing: merupakan suatu alat yang menjadikan homogen sabun.

m. Boiler: mesin pemanas

2. Mesin Pengering

a. Filter: alat penyaring untuk memisahkan antara sabun dan kotoran

(39)

c. Heat exchanger: mesin untuk menurunkan dan menaikan suhu dalam sabun

d. Vacuum spray chamber: salat satu mesin pengering selain dengan heat exchanger

e. Cyclone untuk memompakan angin keluar dari feed tank

3. Mesin Pengemasan

a. Pillow Pack Machine: merupakan mesin yang digunakan untuk mengemas noodle soap berbentuk karung

b. Sewing machine: mesin yang digunakan untuk memotong noodle soap menjadi potongan kecil yang siap kemas.

4. Alat Penaganan Bahan

a. Forklift: alat ini digunakan untuk memindahkan barang ke sehingga pemindahan menjadi lebih mudah

b. Pallet: bantalan kayu untuk mengangkat dan menata bahan yang akan dibawa dengan forklift. Biasanya terbuat dari kayu.

(40)

Gambar 4.3 Mesin Pembuatan Noodle Soap

B. TATA LETAK DAN PENANGANAN BAHAN 1. Tata Letak

Pada PT. Darmex Oils and Fats tipe tata letak yang digunakan adalah product layout, tipe ini didasarkan pada aliran produk selama proses produksi. Hal ini dapat terlihat dari mesin yang diletakkan berdasarkan urutan proses pembuatan minyak sayur. Dalam tipe ini hasil dari suatu proses akan menjadi bahan untuk proses berikutnya sehingga pengurutan tata letak mesin dipengaruhi oleh urutan proses tersebut. Tata letak pabrik ini juga sudah bagus namun masih terdapat beberapa letak yang kurang seperti tata letak penyimpanan minyak dan CPO yang masih terpencar walaupun prosesnya sudah urut. Ini karena prosesnya sudah otomatis sehingga tinggal mengkontrol di ruang kontrol saja untuk menjalankan prosesnya

(41)

Penanganan bahan di PT. Darmex Oils and Fats hamper semuanya masih dilakukan secara otomatis, hanya beberapa saja yang masih dilakukan secara manual, seperti pengukuran ketinggian minyak untuk mencari kapasitas minyak yang tersedia yang sering disebut sounding. Sounding merupakan pengukuran kapasitas atau volume tersimpan dari bahan atau produk minyak. Sounding ini didapat dari pengukuran kedalaman silo. Dengan kata lain penanganan bahan di PT Darmex Agro Oils and Fats cukup efisien karena alat yang sudah otomatis . Selain itu penanganan manual lainya ialah pada pembongkaran CPO terkadang masih banyak CPO yang tercecer membuat kapasitasnya manurun walaupun masih dapat dikatakan normal.

C. SANITASI

1. Sanitasi Bahan Baku

PT. Darmex Oils and Fats menerapkan sanitasi terhadap bahan baku, penerapannya dengan menekankan pada kebersihan dan mutu bahan baku, yaitu CPO. Untuk mendapatkan bahan baku yang sesuai dilakukan langkah - langkah tertentu, yaitu :

1. Pada saat pembongkaran dilakukan dengan pembongkara rapat sehingga diharapkan tidak ada ceceran CPO dan juga bahan lain dari luar

2. Menjaga kebersihan alat produksi sehingga tidak menimbulkan kontaminan terhadap produk

3. Kebersihan truk pengangkut dijaga dengan melakukan pencucian bak truk sekali setiap hari.

4. Kondisi alat produksi yang selalu dibersihkan dan dikontrol kondisi dan keefektifanya.

(42)

Tata ruang produksi sudah cukup bagus, yang perlu diperhatikan berkaitan dengan sanitasi lingkungan produksi adalah pada proses pembuatan minyak plant masih banyak debu ini karena alat yang tertutup sehingga pekerja menganggap lingkungan tidak begitu pengaruh padahal lingkungan ini cukup pengaruh seperti ketika saat sounding maupun uji kualitas. Ketika alat atau tanki dibuka bisa saja debu ataupun partikel lain masuk sehingga menimbulkan kotoran maupun kontaminan terhadap produk. Seharusnya ruangan ini selalu dijaga kebersihanya dari debu agar nantinya tidak ada hal hal yang tidak diinginkan tersebut muncul dan akan mengganggu proses produksi.

2. Konstruksi bangunan a. Lantai

PT. Darmex Oils and Fats menggunakan lantai keramik dengan pertimbangan mudah dibersihkan, tahan terhadap bahan kimia dan rapat terhadap air. Akan tetapi memang masih ada kelemahan pada lantai PT. Darmex Oils and Fats, yaitu ujung lantai dengan tembok masih membentuk sudut sehingga menyulitkan dalam pembersihannya. Sementara pada bagian plant kontruksi terbuat dari baja dengan laintai juga baja yang ditutup atau dilapisi semen.. baja lempengan kasar agar pekerja tidak terpeleset.

b. Dinding

Dinding yang digunakan di PT. Darmex Oils and Fats sebagian besar telah menggunakan tembok permanen dengan konstruksi batu bata. Dengan ditambahkan kontruksi baja disetiap bagian . Begitu pula untuk bagian kantor produksi yang juga menjadi satu baguan dengan pabrik juga menggunakan tembok permanen.

(43)

Atap pabrik menggunakan seng bergelombang dengan rangka baja sebagai penahannya. Penggunaan rangka baja ini cukup bagus karena baja sangat kuat dan tahan lama akan tetapi penggunaan atap dari seng kurang menguntungkan sebab ruangan menjadi cepat panas apabila menggunakan atap seng. d. Ventilasi dan pencahayaan.

PT. Darmex Oils and Fats membuat cukup banyak ventilasi untuk ruang produksinya, hampir disetiap tembok terdapat

Hampir semua mesin dan peralatan di PT. Darmex Oils and Fats menggunakan bahan dasar berupa besi berlapiskan stainless steel yang anti karat, untuk bagian planta berupa tanki – tanki penampung dan silo. bahan ini tidak menimbulkan pencemaran terhadap produk,

Kegiatan sanitasi yang telah dilakukan antara lain dengan melakukan pengecekan rutin setiap kali akan melakukan produksi terhadap mesin-mesin, membersihkan mesin - mesin setiap dan setelah produksi, karena setelah produksi banyak sisa bahan yang tertinggal dalam mesin. Selain itu dilakukan pencucian terhadap mesin – mesin produksi ketika hari libur. Yaitu pada hari raya.

4. Sanitasi pekerja

Beberapa langkah yang ditempuh PT. Darmex Oils and Fats untuk menjaga sanitasi pekerja agar tetap terjaga antara lain :

1. Pemberian perlengkapan pekerja bagian plant dan pengemasan. 2. Pemberian perlengkapan pekerja bagian produksi.

(44)

5. Memberlakukan peraturan dilarang merokok di lingkungan pabrik serta larangan membuang sampah sembarangan dan meludah sembarangan.

D. PENANGANAN LIMBAH

Pengolahan CPO menjadi minyak goreng sawit dan soap noodles menghasilkan zat sisa atau yang biasa kita sebut dengan limbah. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi minyak goreng sawit dan soap noodles adalah limbah padat, cair dan gas.

Limbah padat yang dihasilkan adalah Spent earth, jerigen bekas, sisa kemasan makanan, ranting dan daun pohon. Sistim pengelolaan yang dilakukan terhadap limbah sisa kemasan makanan dan sisa kemasan untuk packing dengan cara ditampung dibak penampungan sementara. Dampak dari limbah padat tersebut berupa kotoran /sampah dan tidak berpengaruh terhadap kualitas air tanah. Limbah cair yang berasal dari pencucian lantai, sisa air laboratorium, blow down boiler dan ceceran CPO pada saat bongkar muat dialirkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebelum dibuang ke saluran drainase kota limbah cair rumah tangga dan MCK dialirkan ke saluran drainase disekitar pabrik. Sedangkan limbah cair berupa olie ditampng didalam drm dan dikumpulkan dibelakang pabrik.

Limbah gas yang dihasilkan relatif tidak terasa dan tidak menyebar keluar. Sistim pengelolaan yang dilakukan terhadap limbah gas adalah dengan udara dan pemakaian masker pelindung pernapasan terhadap karyawan, dengan cara kerja sistim sirkulasi udara dan menyaring gas masuk kedalam pernapasan. Sedangkan sistim pengelolaan terhadap limbah gas diluar ruangan yang dilakkan adalah penghijauandengan cara kerja sistim penanaman pohon pelindung dan penghijauan disekitar pabrik. Dampak dari limbah gas berupa gangguan pernapasan.

(45)
(46)
(47)

BAB V PEMASARAN

(48)

menjual dalam bentuk curah literan. Yang diambil oleh para distributor menggunakan truk tanki dengan kapasitas tertentu.

Gambar 5.1 Proses Pengemasan Minyak PALMA

Selain dijual di Indonesia minyak palma juga mulai didistribusikan ke luar negeri. Ini karena kualitas palma yang memiliki standar tinggi dalam pengolahanya. Namun penjualan di luar negerei baru sebatas jika terdapat pesanan. Biasanya dijual belum dalam kemasan, dengan cara minyak dimasukan pada balon khusus yang disiapkan didalam tanker. Yang nantinya akan diisi oleh minyak tersebut. minyak tersebut biasanya dipesan diantaranya dari Singapura dan Turki.

(49)

untuk minyak ini ialah pada middle point. Yaitu dimana harga ini ialah harga di bawah harga minyak atas atau grade 1 dan di atas grade 3. Dengan harapan minyak ini menjadi minyak subtitusi dan komplementer untuk minyak grade 1. Berikutnya ialah promosi, minyak palma tidak terlalu banyak promosi hanya saja minyak ini langsung menuju konsumen akhir seperti pasar dan swalayan. Promosi hanya sebatas iklan kecil tidak sampai iklan di media elektronik. Walaupun begitu minyak ini mempunyai pasar yang besar. P berikutnya ialah placement. Penempatan atau penentuan lokasi sangat berpengaruh, palma dalam hal ini mengguakkan pasar tradisional dan swalayan sebagai basis penjualanya.

Gambar 5.2 Minyak Palma

(50)

tidak terlalu jauh. Sehingga dengan tujuan seperti itu minyak palma ini dapat diterima semua kalangan.

(51)

BAB VI

ANALISIS PRODUKTIVITAS PARSIAL TENAGA KERJA PENGOLAHAN CPO PADA STASIUN KERJA PENGEMASAN DI PT. DARMEX OILS AND FATS KOTA BEKASI, JAWA BARAT

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang

Di era pasar bebas dimana persaingan pasar semakin ketat, setiap industri dituntut untuk selalu meningkatkan performansinya agar dapat tetap bersaing di pasar persaingan bebas tersebut. Perusahaan agroindustri memiliki tujuan untuk membuat bahan baku mempunyai nilai tambah atau melakukan proses transformasi. Dalam proses ini diperlukan bebagai sumber daya pendukung yang mencukupi agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Indikasi yang dapat dilihat dari pencapaian hasil produksi ditentukan salah satunya oleh keefektifan dan keefesienan proses produksi itu sendiri. Efisiensi serta keefektifan suatu proses produksi dapat terlihat dari produktivitas yang dicapai oleh elemen sumber daya yang berpengaruh terhadap suatu proses produksi tersebut.

(52)

terhadap input total (semua input yang digunakan terhadap proses produksi). Input yang digunakan dalam produksi dapat berupa modal, tenaga kerja, energi, dan sumber daya lain yang mendukung proses produksi. Alasan yang mendasari penelitian di PT. Darmex Oils and Fats ini karena tenaga kerja merupakan salah satu input produksi yang menjadi faktor kritis dalam penentu produktivitas PT. Darmex Oils and Fats.

Tenaga kerja sangat berpengaruh dalam proses produksi yang dilakukan oleh sebuah industri, terutama pada proses produksi bagian pengemasan minyak kelapa yang dilakukan dengan cara semi otomatis bahkan jika dilakukan secara otomatis masih memerlukan tenaga kerja untuk pengontrol mesin yang beroperasi. Dalam penentuan produktivitas perusahaan, peran bagian pengemasan PT. Darmex Oils and Fats juga sangat penting. Bagian pengemasan PT. Darmex Oils and Fats memiliki jumlah permintaan produk minyak kelapa sawit yang tinggi setiap bulannya sehingga memaksa produksi untuk terus meningkat. Sedangkan jumlah tenaga kerja (input) di stasiun pengemasan PT. Darmex Oils and Fats tetap dengan jumlah jam kerja yang terbatas, sehingga mengakibatkan jumlah produksi (output) menjadi tidak stabil.

(53)

Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran produktivitas tenaga kerja pada stasiun kerja pengemasan di PT. Darmex Oils and Fats karena akan memberikan gambaran tentang tingkat produktivitas tenaga kerja yang nantinya dapat digunakan untuk evaluasi dan perbaikan mengenai efektivitas tenaga kerja.

Pengukuran produktivitas tenaga kerja di PT. Darmex Oils and Fats menggunakan metode Marvin E. Mundel yang menggunakan rasio antara indeks performansi pada periode pengukuran dan indeks performansi pada periode dasar. Menurut Gaspersz (2000), pada dasarnya model Mundel merupakan suatu model pengukuran produktivitas yang berdasarkan konsep-konsep dalam ilmu dan manajemen industri pada perusahaan. Model ini mensyaratkan bahwa perusahaan yang akan diukur produktivitasnya itu mempunyai waktu standard untuk operasi (operating time standard). Selain itu, didasarkan pada pengukuran indeks produktivitas dimana indeks produktivitas ini akan memperlihatkan perubahan tingkat produktivitas baik penurunan maupun kenaikan produktivitas secara signifikan.

2. Perumusan Masalah

Permasalahan yang akan diteliti adalah masalah produktivitas tenaga kerja yang ada dibagian pengolahan minyak kelapa sawit di stasiun kerja pengemasan untuk (produksi) per bulan. Produktivitas yang akan dibahas mengenai perubahan yang terjadi tiap periode berdasarkan data jumlah produksi dan jumlah tenaga kerja dengan menggunakan indeks produktifitas seta dilihat perkembangan produktivitas tenaga kerja selama periode pengukuran dan usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dimasa yang akan datang.

3. Batasan Masalah

(54)

a. Pengukuran produktivitas dilakukan menggunakan elemen output berupa jumlah produksi minyak kelapa sawit yang dihasilkan bagian pengemasan dalam satuan liter dengan elemen input berupa jumlah jam kerja karyawan/pekerja yang digunakan untuk menghasilkan output setiap bulan selama periode pengukuran.

b. Pengukuran produktivitas dilakukan berdasarkan data selama satu tahun produksi, yaitu bulan Januari 2012 sampai dengan bulan Desember 2013 dengan periode pengukuran setiap bulan.

c. Periode dasar yang digunakan dalam pengukuran indeks produktivitas adalah periode yang mempunyai nilai rasio mendekati rata-rata.

d. Penelitian ini tidak memasukkan pertimbangan harga dan biaya. 4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan tugas khusus ini adalah :

a. Mengukur indeks produktivitas tenaga kerja bagian pengemasan minyak kelapa sawit PT. Darmex Oils and Fats.

b. Melakukan analisa produktivitas tenaga kerja bagian pengemasan minyak kelapa sawit PT. Darmex Oils and Fats.

5. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penulisan tugas khusus ini adalah :

a. Perusahaan akan memperoleh informasi dalam bentuk bahasan, metode pengukuran produktivitas perusahaan dan saran-saran terhadap masalah yang berhubungan dengan perhitungan produktivitas untuk bagian pengolahan minyak kelapa sawit.

(55)

B. Landasan Teori

1. Konsep Produktivitas

Pada dasarnya produktivitas merupakan ukuran yang menunjukkan perbandingan antara besar keluaran yang dihasilkan dari setiap satuan masukan yang digunakan. Dalam arti sebenarnya produktivitas adalah rasio antara keluaran dan masukan yang biasanya dinyatakan dalam indeks (Bain, 1982).

Produktivas = Keluaran yang dih asilkanMasukan yang Digunakan

Dari rumus diatas dapat dilihat bahwa yang diperhatikan bukan saja jumlah yang dihasilkan (output), tetapi juga masukan yang dipakai. Output dari proses dalam sistem produksi dapat berbentuk barang dan/atau jasa, yang biasa disebut dengan produk. Pengukuran karakteristik output mengacu kepada kebutuhan atau keinginan pelanggan dalam pasar yang sangat kompetitif sekarang ini. Pada dasarnya konsep siklus produktivitas terdiri atas empat tahap utama, yaitu (Gaspersz, 2000) :

a. Pengukuran produktivitas b. Evaluasi produktivitas c. Perencanaan produktivitas d. Peningkatan produktivitas

Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya dipandang dari sisi output, maka produktivitas dipandang dari dua sisi sekaligus, yaitu sisi input dan sisi output. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa).

2. Pengukuran Produktivitas

(56)

produktivitas tersebut dihasilkan. Macam – macam produktivitas tersebut, antara lain :

a. Produktivitas parsial

Merupakan perbandingan antara keluaran terhadap salah satu faktor masukan. Sebagai contoh, produktivitas tenaga kerja (perbandingan antara keluaran dengan masukan tenaga kerja)

b. Produktivitas faktor total

Merupakan perbandingan antara keluaran bersih terhadap jumlah masukan tenaga kerja dan modal. Keluaran bersih adalah keluaran total dikurangi jumlah barang dan jasa yang dibeli. Faktor pembagi dari perbandingan tersebut adalah tenaga kerja dan modal. c. Produktivitas total

Merupakan perbandingan antara keluaran dengan jumlah seluruh faktor masukan. Pengukuran produktivitas total mencerminkan pengaruh bersama seluruh masukan dalam menghasilkan keluaran.

Menurut Riggs (1987), pada industri dengan pekerja intensif, produktivitas tenaga kerja merupakan suatu hal yang kritis. Metode konvensional untuk menentukan produktivitas tenaga kerja adalah dengan pembobotan produk yang dihasilkan dengan waktu standar produktivitasnya mempunyai waktu standar untuk operasi (Gaspersz, 2000).

Gambar

Gambar 1.1 Peta Kota Bekasi dan Citra Satelit PT. Darmex Oils and Fats
Gambar 2.1 Butir Kelapa Sawit dan Bagianya
Gambar 2.2 Phosphoric Acid
Gambar 2.3 Bleaching Earth
+7

Referensi

Dokumen terkait

Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah (CPO atau crude palm oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau palm

Material tanam kelapa sawit tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas minyak sawit perusahaan mencapai lebih dari 10 ton per hektar per tahun di usia dewasa (10-18

Untuk memperbaiki produktivitas di masa mendatang dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran produktivitas, pengukuran ini dapat dilakukan dengan memperhatikan

Sehingga pengukuran kandungan β -karoten pada minyak kelapa sawit juga dapat digunakan sebagai parameter untuk menentukan kualitas minyak sawit (CPO) selain dari besarnya

Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap penurunan produktivitas tanaman kelapa sawit di Kebun Sei Lala, PT Tunggal Perkasa Plantations adalah curah hujan,

21 378 0,0556 Sumber: Hasil pengolahan data 2021 3 Nilai produktivitas output produksi Nilai produktivitas output produksi diperoleh dari perbandingan total output produk dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur, tanggungan keluarga, pengalaman kerja, sarana & prasarana, dan gaji berpengaruh nyata pada produktivitas tenaga kerja panen kelapa sawit di PT

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap produktivitas tenaga kerja panen di perkebunan kelapa sawit Perkebunan Nusatara V kebun Sei Garo Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar Provinsi