• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI SERAWAK DAMAI ESTATE

(SDME), PT WINDU NABATINDO LESTARI (WNL), BUMITAMA GUNA JAYA AGRO, KOTAWARINGIN TIMUR,

KALIMANTAN TENGAH

INDRI PERMATA SEVITHA A24080114

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2013

(2)

1 PT Windu Nabatindo Lestari (WNL), Bumitama Gunajaya Agro, Kotawaringin Timur,

Kalimantan Tengah

Analysis of Palm Oil Productivity (Elaeis guineensis Jacq.) at Serawak Damai Estate (SDME), Windu Nabatindo Lestari Corporation, Bumitama Guna Jaya Agro, East Kotawaringin, Central Kalimantan

Indri Permata Sevitha

1

, Iskandar Lubis

2

1

Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB

2

Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB

ABSTRACT

Internship activities carried out at Sarawak Damai Estate (SDME), Windu Nabatindo Lestari Corporation, Central Kalimantan, starting from February 13

th

to May 13

th

, 2012. Implementation of internship aims to analyze the factors that affect the productivity of oil palm which covering factors such as rainfall, air temperature, humidity, wind speed, day length, plant age, and harvest labor. Multiple linear regression analysis model is use for data analysis. Result from analysis of productivity at Sarawak Damai Estate shows that air temperature, plant age and the harvest labor in the 24 months before harvest have significant effect to productivity. The influence of the variables on productivity is similar for 2010 and 2011.

Keywords: Air Temperature, Harvest Labor, Multiple Linear Regression, Palm Oil, Plant Age

ABSTRAK

Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Serawak Damai Estate (SDME), PT Windu Nabatindo Lestari, Kalimantan Tengah, dimulai dari 13 Februari sampai 13 Mei 2012. Pelaksanaan magang ini bertujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit, meliputi faktor curah hujan, suhu, kelembaban, kecepatan angin, lama penyinaran, umur tanaman, dan tenaga kerja panen. Model yang digunakan untuk menganalisis adalah model analisis regresi linear berganda. Analisis produktivitas di Serawak Damai Estate memberikan kesimpulan bahwa variabel suhu, umur tanaman dan tenaga kerja di 24 bulan sebelum panen berpengaruh signifikan. Ketiga variabel tersebut merupakan variabel yang sama yang memberikan pengaruh terhadap produktivitas di tahun 2010 dan 2011.

Kata kunci: Kelapa Sawit, Regresi Linear Berganda, Suhu Udara, Tenaga Kerja Panen, Umur Tanaman

(3)

RINGKASAN

INDRI PERMATA SEVITHA. Analisis Produktivitas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Serawak Damai Estate (SDME), PT Windu Nabatindo Lestari (WNL), Bumitama Gunajaya Agro, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. (Dibimbing oleh ISKANDAR LUBIS).

Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia terus berusaha meningkatkan produktivitasnya. Usaha peningkatan produktivitas kelapa sawit dapat dilakukan dengan menganalisis berbagai faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kelapa sawit. Analisis berbagai faktor produksi kelapa sawit tidak dapat dilakukan secara mudah mengingat banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut diantaranya terdiri dari lama penyinaran matahari, suhu, kecepatan angin, kelembaban, tipe tanah secara fisik maupun kimia, jumlah distribusi curah hujan, topografi, perlakuan agronomi, serta faktor managemen.

Pelaksaan magang yang dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan Mei ini bertujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit, meliputi faktor curah hujan, suhu, kelembaban, kecepatan angin, lama penyinaran, umur tanaman, dan tenaga kerja panen pada perkebunan kelapa sawit di Serawak Damai Estate, PT Bumitama Gunajaya Agro.

Pengamatan dan pengumpulan data serta informasi dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder yang masing-masing terbagi menjadi dua bagian, yaitu data untuk laporan umum dan data untuk laporan khusus. Data sekunder untuk analisis produktivitas yaitu terdiri dari data produktivitas kelapa sawit dan data tenaga kerja panen tahun 2010-2011, data curah hujan dan hari hujan tahun 2008-2011 di SDME, serta data iklim (suhu, kelembaban, kecepatan angin dan lama penyinaran) tahun 2008-2011 yang diperoleh dari BMKG.

Analisis produktivitas kelapa sawit menggunakan model analisis regresi

linear berganda, dan model diuji kelayakannya dengan uji asumsi klasik yang

terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, serta uji

autokorelasi, dengan menggunakan alat bantu Minitab 14 dan Eviews 6.

(4)

Hasil uji t-parsial pada taraf kepercayaan 95% pada produktivitas tahun 2010, terlihat variabel yang berpengaruh pada 0 dan 6 Bulan Sebelum Panen (BSP) adalah tenaga kerja, sedangkan pada 12 dan 18 BSP variabel yang berpengaruh yaitu umur tanaman dan tenaga kerja. Hasil analisis pada 24 BSP terdapat lima variabel yang berpengaruh terhadap produktivitas yaitu suhu, kecepatan angin, hari hujan, umur tanaman, dan tenaga kerja. Variabel pada 24 BSP dianalisis menggunakan regresi linear berganda dan diuji asumsi. Hasil pendugaan model diperoleh nilai F-hitung sebesar 124.45, dan nilai P pada uji ini adalah 0.001.

Nilai P pada uji F secara statistik berpengaruh signifkan pada alpha 5%. Nilai koefisien determinasi (R

2

) setelah diregresi didapat sebesar 99.7 %. Hal ini berarti bahwa 99.7% variasi produktivitas dapat dijelaskan oleh variasi variabel-variabel yang digunakan dan sisanya sebesar 0.3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukan ke dalam model.

Hasil uji t-parsial pada produktivitas tahun 2011 dengan taraf kepercayaan 95% didapatkan hasil yaitu pada 0 BSP sampai 18 BSP tidak terdapat variabel yang berpengaruh. Variabel yang berpengaruh terhadap produktivitas hanya terdapat pada 24 BSP yaitu variabel suhu, kelembaban, lama penyinaran, umur tanaman dan tenaga kerja. Regresi dilakukan pada 24 BSP dan didapatkan nilai F- hitung sebesar 84.08, dan nilai P pada uji ini adalah 0.002, serta nilai koefisien determinasi (R

2

) sebesar 99.6 %.

Hasil yang didapat dari analisis regresi linear berganda memberikan kesimpulan bahwa variabel suhu di 24 bulan sebelum panen, umur tanaman dan tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas. Ketiga variabel tersebut merupakan variabel yang sama yang memberikan pengaruh terhadap produktivitas di tahun 2010 dan 2011 di SDME.

Pengujian asumsi pada model produktivitas 2010 dan 2011 di SDME

sudah dilakukan dan diperoleh bahwa pada setiap model yang digunakan sudah

baik dan model tidak memiliki masalah autokorelasi, multikolinearitas

heteroskedastisitas, dan data sudah terdistribusi normal, sehingga model layak

untuk digunakan.

(5)

ANALISIS PRODUKTIVTAS KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI SERAWAK DAMAI ESTATE

(SDME), PT WINDU NABATINDO LESTARI (WNL), BUMITAMA GUNAJAYA AGRO, KOTAWARINGIN TIMUR,

KALIMANTAN TENGAH

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

INDRI PERMATA SEVITHA A24080114

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2013

(6)

Judul : ANALISIS PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI SERAWAK DAMAI ESTATE (SDME), PT WINDU NABATINDO LESTARI (WNL), BUMITAMA GUNAJAYA AGRO, KOTAWARINGIN TIMUR, KALIMANTAN TENGAH

Nama : INDRI PERMATA SEVITHA NIM : A24080114

Menyetujui : Pembimbing

Dr. Ir. Iskandar Lubis, MS NIP 19610528 198503 1002

Mengetahui :

Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc Agr NIP 19611101 198703 1 003

Tanggal Lulus :

(7)

RIWAYAT HIDUP

Indri Permata Sevitha, lahir di Bekasi 10 Januari 1990. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Sheffied dan Ibu Sri Dwi K.

Pendidikan formal yang dijalani penulis di mulai dari TK Cendrawasih Jaya pada tahun 1994-1996. Pendidikan dilanjutkan di SD Cendrawasih jaya selama 6 tahun, kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Bekasi selama 3 tahun, setelah lulus penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Bekasi dan lulus pada tahun 2008.

Pendidikan Strata 1 dilanjutkan oleh penulis di Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB) pada tahun 2008. Penulis masuk di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Kegiatan diluar perkuliahan juga diikuti oleh penulis, seperti kegiatan kepanitiaan yang diselenggarakan oleh IPB, diantaranya kegiatan Green Festival IPB yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan BEM KM IPB pada tahun 2009, selanjutnya Kepanitiaan Masa Perkenalan Departemen Agronomi dan Hortikultura tahun 2010 serta kepanitiaan FESTIVAL TANAMAN XXXII 2011 yang diselenggarakan oleh HIMAGRON IPB.

Penulis juga pernah menjadi peserta Program Kreativitas Mahasiswa

(PKM) yang proposalnya didanai oleh DIKTI pada tahun 2010-2011, dengan

judul proposal “PAPARAZI (Paket-paket Sayuran Bergizi)”.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Analisis Produktivitas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Serawak Damai Estate (SDME), PT Windu Nabatindo Lestari (WNL), Bumitama Gunajaya Agro, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah”

dapat penulis selesaikan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Orang tua dan Ambu serta kakak dan adik atas doa, dukungan kepada penulis.

2. Bapak Dr. Ir. Iskandar Lubis, MS selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, arahan, dorongan petunjuk selama pelaksanaan magang dan penyusunan skripsi.

3. Bapak Dr. Ir. Suwarto, Msi selaku pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani studi di departemen Agronomi dan Hortikultura.

4. Bapak Rudi Ismanto selaku Estate Manager, dan Bapak Widiaskoro serta Bapak Sujitno selaku Asisten Kepala.

5. Bapak Najamuddin, Bapak Dwi D A, Bapak Gunawan C W, Bapak Eddwin P, dan Bapak Agus U S selaku asisten dan pembimbing lapang selama kegiatan magang berlangsung dan Bapak Sandhi P P selaku kepala administrasi SDME.

6. Seluruh keluarga besar SDME dan PT Bumitama Gunajaya Agro yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan kegiatan magang skripsi selama tiga bulan.

7. Teman magang Weni Riska O dan Willy Chandra serta Wulandari K, Fajar Utami, Ananda D P, Dira F B, Sugistiawati dan Munandar Irfanda.

8. Teman – teman Agronomi dan Hortikultura INDIGENOUS 45.

Semoga skripsi ini dapat membantu dan berguna bagi departemen Agronomi dan Hortikultura.

Bogor, Januari 2013

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN... vii

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

TINJAUAN PUSTAKA ... 3

Botani Kelapa Sawit ... 3

Kondisi Iklim ... 5

Jenis Tanah dan Topografi... 7

Umur Tanaman ... 7

Tenaga Kerja ... 7

METODE MAGANG ... 9

Tempat dan Waktu ... 9

Metode Pelaksanaan... 9

Pengamatan dan Pengumpulan Data... 10

Analisis Data dan Informasi... 11

KONDISI UMUM KEBUN... 14

Profil Perusahaan ... 14

Keadaan Umum Kebun... 14

Lokasi dan Wilayah Administratif ... 15

Keadaan Iklim dan Tanah ... 15

Luas Areal dan Tata Guna Lahan ... 16

Keadaan Tanaman dan Produksi... 17

Fasilitas kebun ... 18

Struktur organisasi ... 18

Ketenagakerjaan dan Pengupahan ... 18

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG ... 21

Aspek Teknis ... 21

Panen ... 21

Pemupukan ... 32

Pengendalian Hama Tanaman Kelapa Sawit ... 37

Pemeliharaan Tanaman... 40

Konservasi Tanah dan Air ... 44

Internal Meeting ... 46

Kegiatan Simulasi Kebun (Field Visit) ... 46

Aspek Manajerial ... 48

(10)

PEMBAHASAN ... 51

Produksi dan Produktivitas Serawak Damai Estate ... 51

Komponen Produksi... 51

Analisis Produktivitas Serawak Damai Estate... 54

Analisis Produktivitas 2010 di SDME... 55

Uji Asumsi Klasik Pada Model Produktivitas 2010 ... 56

Analisis Produktivitas 2011 di SDME... 57

Uji Asumsi Pada Model Produktivitas 2011... 60

Pengaruh Variabel-Variabel Terhadap Produktivitas ... 62

KESIMPULAN DAN SARAN... 69

Kesimpulan ... 69

Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 71

LAMPIRAN... 73

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Luasan areal tanaman belum menghasilkan dan tanaman

menghasilkan di Serawak Damai Estate ... 16 2. Luasan areal untuk tahun tanam kelapa sawit di Serawak Damai

Estate... 17 3. Perbandingan produktivitas SDME dengan produktivitas standar

Marihat S3 ... 18 4. Jumlah staf dan karyawan di SDME Tahun 2012 ... 19 5. Ketentuan Upah 2012 ... 19 6. Rekapitulasi mutu buah di Serawak Damai Estate pada bulan Juli

-Desember 2011... 26 7. Total produksi dan produktivitas tahun 2010-2011 di Serawak

Damai Estate... 51 8. Komponen produksi kelapa sawit di Serawak Damai Estate ... 52 9. Uji korelasi antar komponen produksi ... 52 10. Pengaruh faktor SPH terhadap produktivitas kelapa sawit di

Serawak Damai Estate ... 54 11. Uji t-parsial faktor produksi pada produktivitas 2010 di 0 BSP, 6

BSP, 12 BSP, 18 BSP, 24 BSP di Serawak Damai Estate ... 55 12. Sidik ragam untuk persamaan regresi linear berganda 24 BSP

pada produktivitas 2010 di Serawak Damai Estate ... 56 13. Hasil pengujian regresi linear berganda 24 BSP pada

produktivitas 2010 di Serawak Damai Estate ... 56 14. Heteroskedasticity test : Breusch-pagan-Godfrey ... 58 15. Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test ... 58 16. Uji t-parsial faktor produksi pada produktivitas 2011 di 0 BSP, 6

BSP, 12 BSP, 18 BSP, 24 BSP di Serawak Damai Estate . ... 58 17. Sidik ragam untuk persamaan regresi linear berganda 24 BSP

pada produktivitas 2011 di Serawak Damai Estate ... 59 18. Hasil pengujian regresi linear berganda 24 BSP pada

produktivitas 2011 di Serawak Damai Estate... 59

19. Persentase selisih antara produksi duga dengan produksi aktual .... 60

20. Heteroskedasticity test : Breusch-pagan-Godfrey ... 61

21. Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test ... 61

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Grading buah yang dilakukan oleh asisten kebun ... 25

2. Kegiatan pencatatan hasil panen oleh kerani panen di TPH... 27

3. Penguntilan pupuk Urea di gudang pupuk divisi... 34

4. Pembuatan Guludan Turnera subulata... 40

5. Rawat piringan manual... 42

6. Penyemprotan piringan dilakukan oleh TUS... 43

7. Sekat air di Serawak Damai Estate... 46

8. Grafik probability plot of residual produktivitas 2010... 57

9. Grafik probability plot of residual produktivitas 2011... 60

10. Grafik suhu kebun Serawak Damai Estate 20108-2012 ... 62

11. Grafik kelembaban kebun Serawak Damai Estate 2008-2012... 63

12. Grafik lama penyinaran kebun Serawak Damai Estate 2008-2012. .. 65

13. Diagram curah hujan tahunan kebun Serawak Damai Estate tahun

2008-2012... 66

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Jurnal harian magang sebagai Karyawan Harian Lepas (KHL) ... 74

2. Jurnal harian magang sebagai pendamping mandor... 75

3. Jurnal harian magang sebagai pendamping asisten ... 76

4. Data produksi dan produktivitas Tahun 2010 – 2011 di Serawak Damai Estate... 78

5. Keadaan curah hujan dan hari hujan bulanan di Serawak Damai Estate (2008-2011)... 79

6. Data temperatur, kelembaban, lama penyinaran, kecepatan angin wilayah Palangkaraya tahun 2008-2011... 80

7. Peta areal kebun Serawak Damai Estate... 82

8. Struktur organisasi Serawak Damai Estate... 83

9. Data pencapaian pemupukan Serawak Damai Estate 2008-2011... 84

10. Neraca air di Serawak Damai Estate tahun 2008-2011. ... 85

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sub sektor perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi yang besar terhadap industri perekonomian di Indonesia. Pertumbuhan permintaan terhadap kelapa sawit terutama minyak sawit (CPO) di dunia untuk pemenuhan kebutuhan pangan, industri dan sumber energi lainnya semakin meningkat tiap tahunnya.

Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia terus berusaha meningkatkan produktivitasnya.

Luas perkebunan kelapa sawit yang dimiliki Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2012) terus meningkat. Tahun 2004 luas penggunaan untuk tanaman kelapa sawit seluas 3 496 700 ha dan sampai tahun 2009 pengunaan lahan meningkat menjadi 4 888 000 ha. Pertambahan luas lahan meningkat selaras dengan produksi yang dihasilkan, berdasarkan data dari index mundi (2013) produksi kelapa sawit di Indonesia tahun 2010 sebesar 23.6 juta ton dan meningkat menjadi 25.9 juta ton pada tahun 2011.

Usaha peningkatan produktivitas kelapa sawit dapat dilakukan dengan menganalisis berbagai faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kelapa sawit. Analisis berbagai faktor atau penentuan potensi produksi kelapa sawit tidak dapat dilakukan secara mudah mengingat banyak faktor yang mempengaruhinya.

Faktor-faktor tersebut diantaranya terdiri dari lama penyinaran matahari, suhu, kecepatan angin, kelembaban, tipe tanah secara fisik maupun kimia, jumlah distribusi curah hujan, topografi, perlakuan agronomi, serta managemen tenaga kerja.

Pahan (2008) menyatakan terdapat tiga faktor yang berpengaruh terhadap

pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang perlu dipahami untuk mencapai

produksi maksimal. Pertama faktor innate merupakan faktor genetik tanaman

dimana potensi produksi maksimal yang dimiliki oleh bahan tanaman itu sendiri

pada suatu lingkungan tanpa atau sedikit mengalami hambatan baik dari faktor

lingkungan, managemen maupun teknis agronomi. Kedua, faktor induce

merupakan faktor yang mempengaruhi sifat genetik, dengan penerapan kondisi

yang dilakukan oleh manusia untuk memanifestasi faktor lingkungan yang

(15)

mendukung sifat genetik tanaman tersebut. Ketiga, faktor enforce yaitu faktor lingkungan yang bisa bersifat merangsang dan atau menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman, dan faktor-faktor ini tidak dapat dikendalikan oleh manusia secara langsung.

Tujuan

Pelaksanaan kegiatan magang bertujuan untuk memperoleh pangalaman kerja langsung di lapang, menambah wawasan penulis dan meningkatkan profesionalitas kerja dalam hal budidaya dan pengelolaan kelapa sawit, serta mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di lapang.

Pelaksanaan magang bertujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi

produktivitas kelapa sawit, meliputi faktor curah hujan, suhu, kelembaban,

kecepatan angin, lama penyinaran, umur tanaman, dan tenaga kerja panen pada

perkebunan kelapa sawit di Serawak Damai Estate, PT Bumitama Gunajaya Agro.

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Kelapa Sawit

Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan berupa pohon batang lurus dari famili Palmae yang berasal dari Afrika. Kelapa sawit pertama kali diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1848, dan dijadikan sebagai tanaman ornamen yang ditanam di Kebun Raya Bogor. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang sangat penting.

Taksonomi pada kelapa sawit, sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Family : Palmaceae

Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guineensis Jacq

Secara morfologi, kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil yang memiliki batang tumbuh lurus, yang pada umumnya tidak bercabang, serta tidak memiliki kambium. Tanaman ini merupakan tanaman monoecious dimana bunga jantan dan bunga betina berada dalam satu pohon dengan tandan yang terpisah.

Tanaman kelapa sawit dapat dibagi menjadi bagian vegetatif yang terdiri atas akar batang dan daun, sedangkan bagian generatif terdiri atas bunga dan buah.

Akar kelapa sawit merupakan akar serabut yang terdiri atas sistem akar primer, sekunder, tersier, dan kuarter. Akar primer tumbuh vertikal ke dalam tanah dan horizontal ke samping. Akar primer ini berdiameter 4-10 mm. Akar primer ini akan bercabang manjadi akar sekunder yang berdiameter 1-4 mm, dan bercabang lagi menjadi akar tersier yang berdiameter 0.5-1.5 mm. Cabang-cabang ini juga akan bercabang lagi menjadi akar kuarter (Setyamidjaja, 2006).

Batang kelapa sawit bulat panjang tidak bercabang, dan berdiameter 25–

75 cm, serta terus bertambah tinggi selama tanaman hidup (Fauzi, 2007).

Pertumbuhan pada awal setelah fase muda terjadi pembentukan batang yang

melebar tanpa terjadi pemanjangan internodia (ruas). Titik tumbuh batang kelapa

(17)

sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun, berbentuk seperti kubis.

Daun kelapa sawit termasuk daun majemuk yang terdiri atas pelepah dengan panjang 7.5-9 m (Fauzi, 2007). Daun pertama yang tumbuh pada stadium benih berbentuk lanset, dan akan tumbuh berbentuk menyirip pada daun dewasa.

Bagian di pangkal pelepah daun terbentuk dua baris duri yang sangat tajam dan keras di kedua sisinya. Anak-anak daun (foliage leaflet) tersusun berbaris dua, dan di tengah-tengah setiap anak daun terbentuk lidi sebagai tulang daun.

Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat. Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan silang yang artinya bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaraan angin dan atau serangga penyerbuk.

Buah kelapa sawit tersusun atas kulit buah yang licin dan keras (epicrap), daging buah (mesocrap) dari susunan serabut (fibre) dan mengandung minyak, kulit biji (endocrap) atau cangkang atau tempurung yang berwarna hitam dan keras, daging biji (endosperm) yang berwarna putih dan mengandung minyak, serta lembaga (embrio) (Pahan, 2008).

Setiap jenis kelapa sawit memiliki ukuran dan bobot biji yang berbeda.

Biji kelapa sawit umumnya memiliki periode dorman (masa non-aktif).

Perkecambahannya dapat berlangsung lebih dari enam bulan dengan keberhasilan sekitar 50%. Biji kelapa sawit memerlukan pre-treatment, agar perkecambahan dapat berlangsung lebih cepat dan tingkat keberhasilannya lebih tinggi, Berdasarkan ketebalan cangkang dan daging buah, kelapa sawit dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut yakni dura, tenera, dan pisifera. Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera sebagai induk jantan. Hasil persilangan tersebut memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik :

1. Dura memiliki cangkang tebal (3-5 mm), daging buah tipis, dan rendemen

minyak 15-17%.

(18)

2. Tenera memiliki cangkang agak tipis (2-3 mm), daging buah tebal, dan rendemen minyak 21-23%.

3. Pisifera memiliki cangkang yang sangat tipis, tetapi daging buahnya tebal dan bijinya kecil. Rendemen minyaknya tinggi (lebih dari 23%). Tandan buahnya hampir selalu gugur sebelum masak, sehingga jumlah minyak yang dihasilkan sedikit.

Menurut Fauzi (2007) kelapa sawit berdasarkan warna kulit buah dibedakan atas : 1. Nigresens

Nigresens memiliki ciri buah dengan warna kulit ungu sampai hitam saat muda dan berwarna jingga kehitam-hitaman pada waktu matang.

2. Verescens

Verescens adalah jenis kelapa sawit dengan warna kulit buah hijau saat muda dan ketika matang berwarna jingga kemerahan tetapi ujungnya tetap kehijau-hijauan.

3. Albescens

Albesens sesuai dengan namanya adalah kelapa sawit dengan buah yang kulitnya berwarna keputih-putihan saat muda dan berwarna kuning pucat atau kekuning-kuningan dan ujungnya berwarna ungu kehitam-hitaman pada saat matang.

Kondisi Iklim

Kelapa sawit semula merupakan tanaman yang tumbuh liar di hutan–

hutan, lalu dibudidayakan. Tanaman kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan yang baik agar mampu tumbuh dan berproduksi secara optimal. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis, secara umum dapat dikatakan kondisi iklim yang cocok bagi kelapa sawit terletak antara 15° LU - 15° LS (Pahan, 2006).

Daljuni (1983) menyatakan penyebab utama keberhasilan atau kegagalan suatu pertanian di daerah tropis adalah pengaruh iklim setempat. Keadaan iklim dan tanah merupakan faktor utama bagi pertumbuhan kelapa sawit, di samping faktor–

faktor lainnya seperti sifat genetika, dan perlakuan budidaya.

(19)

Suhu Udara dan Lama Penyinaran Matahari

Suhu rata-rata tahunan dalam geografi dimana untuk penyebaran pertanaman kelapa sawit komersial (budidaya) yaitu rata-rata suhu minimum berkisar antara 22

0

C - 24

0

C, dan maksimum antara 29

0

C - 33

0

C (Hardon, Rajanaidu and Vossen, 2002). Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit antara 5-7 jam/hari (Litbangtan, 2008). Rata-rata penyinaran 6 jam/hari, minimum 1600 jam/tahun dengan intensitas di atas 60%.

Kelembaban Udara, dan Kecepatan Angin

Kelembaban udara yang baik untuk tanaman kelapa sawit yaitu 80-90%

(Risza, 2010). Kelembaban udara optimum bagi pertumbuhan kelapa sawit adalah 80%. Kecepatan angin pada kelapa sawit memberikan dua pengaruh yaitu bila angin dengan kecepatan 5-6 km/jam akan membantu dalam proses penyerbukan (Fauzi, 2007). Kecepatan angin yang lebih dari 160 km/jam (badai tropis) akan merusak tanaman.

Curah Hujan

Tanaman kelapa sawit umumnya dikembangkan pada daerah yang

memiliki curah hujan yang tinggi, yaitu lebih dari 2 000 mm/tahun, serta

optimalnya 2 000-3 000 mm yang merata sepanjang tahun (Murtilaksono, Siregar,

dan Darmosarkoro, 2007). Kebutuhan efektif tanaman kelapa sawit terhadap curah

hujan hanya berkisar antara 1 300-1 500 mm/tahun atau rata-rata 108-125

mm/bulan atau 3 – 4 mm/hari (Risza, 2010). Curah hujan yang rendah dapat

menyebabkan water deficit. Water deficit mulai berpengaruh terhadap produksi

jika mencapai tingkat 300 mm/tahun atau <60 mm/bulan dan terjadi secara terus

menerus, serta tidak hujan selama beberapa bulan. Curah hujan yang terlalu tinggi

akan mengakibatkan sulitnya upaya peningkatan kualitas jalan, pembukaan lahan,

pemeliharaan, pemupukan, dan pencegahan erosi.

(20)

Jenis Tanah dan Topografi

Tanah merupakan suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair, gas, dan mempunyai sifat perilaku yang dinamik. Jenis tanah diantaranya untuk budidaya kelapa sawit seperti podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, organosol dan alluvial (Tambunan, 2008). Sifat fisik tanah pada kelapa sawit yaitu bersolum >80 cm tanpa ada lapisan padas, serta memiliki tekstur lempung atau liat dengan komposisi pasir 20–60%, debu 10–40 %, liat 20–50%. Sifat kimia tanahnya yaitu dilihat dari tingkat keasaman dan komposisi hara mineralnya. Drainase pada kelapa sawit harus baik, kondisi tanah tergenang akan menyebabkan kelapa sawit kekurangan oksigen dan menghambat penyerapan unsur hara. Sifat kimia tanah mempunyai arti penting dalam menentukan dosis pemupukan dan kelas kesuburan tanah.

Tanah yang mengandung unsur hara dalam jumlah besar sangat baik untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, sedangkan keasaman tanah menentukan ketersediaan dan keseimbangan unsur-unsur hara dalam tanah.

Kondisi lahan yang sesuai untuk pertanaman kelapa sawit adalah lahan dengan topografi datar sampai berombak, dengan lereng 0-15% dan tumbuh di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut.

Umur Tanaman

Rata-rata berat tandan akan meningkat sejalan dengan umur tanaman, sedangkan jumlah tandan akan menurun dengan bertambahnya umur tanaman (Siregar, 1998). Produktivitas tanaman akan meningkat secara tajam dari umur 3-7 tahun dan mencapai puncaknya ketika tanaman berusia sekitar 15 tahun dan akan mulai menurun hingga tiba saatnya untuk di tanam ulang pada umur tanaman 25 tahun. Tanaman kelapa sawit rata-rata menghasilkan buah 20-22 tandan/tahun.

Untuk tanaman yang semakin tua produktivitasnya akan menurun menjadi 12-14 tandan/tahun.

Tenaga Kerja

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 pasal 1 menyatakan bahwa tenaga

kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam

maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk

(21)

memenuhi kebutuhan masyarakat. Tenaga kerja panen kelapa sawit adalah tenaga

kerja yang bertugas memanen atau menurunkan tandan buah segar dari pokok

kelapa sawit dengan kriteria tingkat kematangan tertentu. Keberadaan tenaga kerja

panen dalam perkebunan kelapa sawit menentukan produksi yang dapat dihasilkan

oleh perkebunan, sehingga tenaga kerja merupakan sumber daya, dimana

kebutuhan yang besar terhadap tenaga kerja menjadi salah satu faktor produksi

yang berperan sangat besar terhadap perkembangan ekonomi di sektor

perkebunan.

(22)

METODE MAGANG

Tempat dan Waktu

Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Serawak Damai Estate (SDME), PT Windu Nabatindo Lestari. Bumitama Gunajaya Agro, Kabupaten Kotawaringin, Kalimantan Tengah selama 3 bulan yang dimulai dari 13 Februari 2012 sampai 13 Mei 2012.

Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan kegiatan magang adalah mempelajari dan melaksanakan praktik kerja langsung di lapang selama tiga bulan baik aspek teknis maupun manejerial kebun, serta melakukan wawancara, dan diskusi dengan karyawan dan staf di kebun. Kegiatan lapang yang dilakukan selama tiga bulan adalah menjadi Karyawan Harian Lepas (KHL) selama tiga minggu, pendamping mandor selama tiga minggu, serta menjadi pendamping asisten selama enam minggu.

Kegiatan sebagai karyawan harian lepas dilakukan selama tiga minggu

dengan mengikuti kegiatan di kebun dari mulai kegiatan pemupukan,

penyemprotan, panen, dan perawatan serta membuat jurnal kegiatan sebagai

karyawan harian lepas (Lampiran 1). Kegiatan pendamping mandor dilakukan

dengan menjadi pendamping mandor satu, mandor panen, mandor perawatan,

mandor semprot, mandor pupuk, dan kerani panen serta kerani divisi

(Lampiran 2). Kegiatan sebagai pendamping mandor yang dilakukan penulis yaitu

membantu mengawasi kegiatan yang berlangsung di lapang, membuat Laporan

Harian Mandor (LHM), serta membuat mutu hancak mandor. Kegiatan sebagai

kerani panen yaitu menggrading buah, menentukan basis per seksi panen,

sedangkan sebagai kerani divisi yaitu membantu mengabsensi karyawan, dan

memasukan data. Kegiatan sebagai pendamping asisten yaitu membantu asisten

dalam hal merencanakan kegiatan, mengorganisasi karyawan dalam melakukan

pekerjaan, dan mengawasi kegiatan yang sedang berlangsung (Lampiran 3).

(23)

Pengamatan dan Pengumpulan Data

Pengamatan dan pengumpulan data serta informasi dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder yang masing-masing terbagi menjadi dua bagian, yaitu data untuk laporan umum dan data untuk laporan khusus atau terkait dengan analisis produktivitas. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan terhadap semua kegiatan yang berlangsung di kebun. Data primer untuk laporan umum terdiri atas data prestasi kerja penulis selama tiga bulan, sedangkan data primer untuk analisis produktivitas yaitu data taksasi panen harian yang dilakukan penulis.

Pengumpulan data sekunder untuk laporan umum diperoleh dari arsip perkebunan, antara lain letak gografis, tata guna lahan, kondisi tanaman dan lahan, struktur organisasi, dan data manajemen perusahaan. Data sekunder untuk analisis produktivitas yaitu terdiri dari data produktivitas kelapa sawit (Lampiran 4) dan data tenaga kerja panen tahun 2010-2011, serta data curah hujan dan hari hujan tahun 2008-2011 di SDME (Lampiran 5). Data iklim yang digunakan terdiri dari data suhu, kelembaban, kecepatan angin dan lama penyinaran di wilayah Palangkaraya tahun 2008-2011 yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) (Lampiran 6).

Teknik pengambilan data untuk sensus produksi harian atau taksasi panen dilakukan dengan mengambil luasan tiga hektar dari tiap-tiap blok, sehingga terdapat enam pasar pikul tiap blok. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah janjang/pokok yang dapat dipanen pada esok hari dengan kriteria tiga brondolan di piringan dan jumlah pokok produktif. Kegiatan estimasi produksi dilakukan untuk melihat berapa perkiraan buah yang akan di panen, data tersebut juga berguna untuk menghitung kapasitas olah pabrik.

Teknik pengambilan data untuk komponen produksi dilakukan dengan

mengambil luasan satu hektar dari tiap-tiap blok contoh, blok contoh yang

dijadikan sampel merupakan blok yang mewakili tiap tahun tanam di Serawak

Damai Estate Divisi 1, yaitu blok dengan tahun tanam 2004, 2005, 2006, 2007,

dan 2008. Pengambilan sampel baris dilakukan pada nomor baris 10 untuk baris

sampel pertama dan selang 10 baris untuk baris selanjutnya, sehingga nomor baris

sampel yaitu baris 10, 20, 30 dan 40.

(24)

Analisis Data Dan Informasi

Model yang digunakan untuk menganalisis produktivitas kelapa sawit adalah model analisis regresi linear berganda. Alat bantu untuk mengolah data menggunakan Minitab 14 dan Eviews. Regresi linear berganda adalah regresi yang meramalkan hubungan antara satu variabel tidak bebas (Y), berdasarkan hasil pengukuran lebih dari satu variabel bebas (X) (Walpole, 1997). Model analisis regresi linear berganda merupakan model yang bertujuan untuk mempresentasikan pola hubungan fungsional, satu variabel tidak bebas yang dipengaruhi oleh lebih dari satu variable bebas.

Variabel tidak bebas adalah variabel yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas dan dinotasikan dengan Y. Variabel tidak bebas dalam penelitian ini adalah produktivitas kelapa sawit, sedangkan variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya variabel tidak bebas dan dinotasikan dengan X. Variabel bebas pada penelitian ini adalah suhu, kelembaban, kecepatan angin, lama penyinaran, curah hujan, hari hujan, umur tanaman, dan tenaga kerja.

Model persamaan untuk analisis faktor-faktor produktivitas kelapa sawit sebagai berikut :

Y = β

0

+ β

1

X

1

+ β

2

X

2

+ β

3

X

3

+ β

4

X

4

+ β

5

X

5

+ β

6

X

6

+ β

7

X

7

+ β

8

X

8

Y = Produktivitas kelapa sawit

β

0

= Titik potong Y, merupakan nilai perkiraan bagi Y ketika X=0 (garis Y memotong sumbu X)

β

1,

β

2,..,

β

8

= Koefisien regresi atau perubahan rata-rata Y untuk setiap satu unit

perubahan (naik atau turun) pada variabel X, dengan menganggap variabel independen lainnya konstan.

X

1

= Suhu (

0

C)

X

2

= Kelembaban (%)

X

3

= Kecepatan Angin (knots)

X

4

= Lama penyinaran (%)

X

5

= Curah hujan (mm)

X

6

= Hari hujan (hari)

(25)

X

7

= Umur tanaman (bulan) X

8

= Tenaga kerja (hok)

Model yang digunakan dalam membuat suatu persamaan regresi linier berganda ini, dapat terjadi beberapa keadaan yang dapat menyebabkan estimasi koefisien regresi tidak lagi menjadi penduga koefisien tak bias terbaik, sehingga diperlukan beberapa asumsi mendasar yang perlu diperhatikan. Uji Asumsi klasik digunakan untuk menguji kelayakan model regresi yang digunakan. Kelayakan model regresi dapat terlihat dari data yang dihasilkan terdistribusi normal, dan tidak terdapat multikolinearitas, heteroskedastisitas, autokorelasi dalam model yang digunakan. Keseluruhan syarat tersebut bila terpenuhi berarti model analisis telah layak digunakan.

Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel tidak bebas dan variabel bebas memiliki data yang terdistribusi normal atau tidak. Data yang terdistribusi normal menunjukkan bahwa tidak terdapat nilai ekstrim yang nantinya dapat mengganggu hasil data penelitian. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.

Kriteria Uji :

H0 diterima : distribusi data normal, bila p-value > α 5%

H0 ditolak : distribusi data tidak normal, bila p-value < α 5%

Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas adalah kondisi terdapatnya hubungan linier atau korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Adanya korelasi yang tinggi diantara variabel-variabel bebasnya, menyebabkan hubungan antara variabel bebas terhadap variabel tidak bebasnya menjadi terganggu.

Alat statistik yang sering dipergunakan untuk menguji gangguan

multikolinearitas adalah dengan melihat pada nilai Variance Inflation Factor (VIF). Nilai

VIF <10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar

(26)

variabel bebas dalam model regresi. Nilai VIF >10, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat multikolinearitas antar variabel bebas dalam model regresi

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji Breusch-pagan- Godfrey. Model yang baik didapatkan jika p-value lebih besar dari alpha yang digunakan.

Kriteria uji :

Terima H0 : terjadi Homoskedastisitas, bila p-value > α 5%

Tolak H0 : terjadi Heteroskedastisitas, bila p-value < α 5%

Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 yang dapat menyebabkan parameter menjadi bias. Uji Breusch-pagan-Godfrey merupakan salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dan dapat dilihat dari p-value.

Kriteria uji :

Terima H0 : tidak ada autokorelasi, bila p-value > α 5

Tolak H0 : terdapat autokorelasi, bila p-value < α 5%

(27)

KONDISI UMUM KEBUN

Profil Perusahaan

PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) merupakan perusahaan agribisnis yang mengelola perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit. BGA memiliki visi yaitu World Class Company dan misi yaitu kemakmuran perusahaan, karyawan,dan masyarakat. Nilai yang dijunjung oleh BGA adalah moralitas yaitu etika profesi, etika sosial, etika lingkungan. Kapabilitas yaitu kemampuan profesi, kemampuan team work, kemampuan adaptasi. Integritas yaitu profesi, perusahaan dan lingkungan.

Perkembangan perkebunan BGA Group sangat pesat. Perkembangan dimulai pada tahun 1998 dengan dibangunnya PT Karya Makmur Bahagia (KMB) di Kalimantan Tengah, seluas 255 ha, kemudian dilanjutkan akuisisi PT Windu dan PT Surya Barokah sebagai langkah percepatan ekspansi sehingga sampai dengan tahun 2003 dicapai luasan tanam 13 420 ha yang saat ini sudah memasuki masa tanaman menghasilkan. Percepatan tanam yang spektakuler dimulai sejak tahun 2004 dengan pencapaian luasan tanam 7 718 ha tahun 2005 dengan pencapaian luasan tanam 12 040 ha dan tahun tanam 2006 dengan pencapaian luasan tanam 12 371 ha. Total luasan tanam sampai dengan akhir tahun 2006 mencapai 45 549 ha.

Keadaan Umum Kebun

Wilayah kerja PT BGA ada di Provinsi Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan dibagi menjadi sembilan areal. Areal satu sampai lima berada di Provinsi Kalimantan Tengah. Areal enam sampai delapan di Provinsi Kalimantan Barat, dan areal sembilan di Provinsi Riau.

Areal empat yang terletak di Seluncing, Kalimantan Tengah terdapat dua perusahaan yaitu PT Windu Nabatindo Abadi dan PT Windu Nabatindo Lestari.

Masing-masing perusahaan terdapat tiga estate yaitu pada PT Windu Nabatindo

Abadi terdiri dari Sungai Behaur Estate (SBHE), Sungai Cempaga Estate

(SCME), serta Bangun Koling Estate (BKLE). PT Windu Nabatindo Lestari

terdapat tiga kebun yaitu Pelantaran Agro Estate (PAGE), Selucing Agro Estate

(SAGE), dan Serawak Damai Estate (SDME).

(28)

Lokasi dan Wilayah Administratif

Lokasi Serawak Damai Estate terletak di Desa Pundu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Batas wilayah Serawak Damai Estate bagian utara berbatasan langsung dengan PT Bisma Darma Kencana. Bagian selatan berbatasan dengan Selucing Agro Estate dan kebun masyarakat. Bagian sebelah timur berbatasan langsung dengan kebun masyarakat, dan sebelah barat berbatasan dengan Selucing Agro Estate (Lampiran 7).

Keadaan Iklim dan Tanah

Keadaan iklim di Serawak Damai Estate yaitu memiliki lama penyinaran rata-rata 5 jam/hari. Rata-rata suhu di SDME ini 26.7

0

C. Serawak Damai Estate merupakan estate dengan kategori lahan marginal. Tanah terdiri dari inceptisol, entisol, ultisol.

Tanah inceptisol merupakan tanah muda tetapi lebih berkembang daripada entisol. Umumnya mempunyai horizon kambik, karena tanah belum berkembang lanjut kebanyakan tanah ini cukup subur (Hardjowigeno, 2007). Inceptisol dapat terbentuk hampir di semua tempat kecuali daerah kering mulai dari kutub tropika.

Tanah ultisol berasal dari proses pelapukan yang sangat intensif karena berlangsung pada daerah tropika dan tropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi. Tanah ulitisol dicirikan oleh adanya horison argilik yaitu horizon yang terbentuk akibat penimbunan liat di horizon bawah, dan bersifat masam, serta kejunuhan basa (berdasarkan jumlah kation) pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah <35% (Hardjowigeno, 2007). Sebagian tanah ini merupakan tanah low activity clay (LAC) yaitu tanah dengan dominasi koloid liat beraktivitas rendah ang tergolong tanah mineral marginal.

Tanah entisol adalah tanah-tanah dengan regolit dalam. Entisol dicirikan oleh bahan mineral tanah yang belum membentuk horison pedogenik yang nyata.

Karakteristik atau sifat tanah entisol mempunyai kejenuhan basa yang bervariasi,

pH dari asam, netral sampai alkalin, KTK juga bervariasi baik untuk horizon A

maupun C, mempunyai nisbah C/N <20% di mana tanah yang mempunyai tekstur

kasar berkadar bahan organik dan nitrogen lebih rendah dibandingkan dengan

(29)

tanah yang bertekstur lebih halus. Hal ini disebabkan oleh kadar air yang lebih rendah dan kemungkinan oksidasi yang lebih baik dalam tanah yang bertekstur kasar juga penambahan alamiah dari sisa bahan organik kurang daripada tanah yang lebih halus. Pencucian hara tanaman meskipun tidak ada dan relatif subur, untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi biasanya membutuhkan pupuk N, P dan K.

Luas Areal dan Tata Guna Lahan

Areal empat memiliki enam estate dengan total luas areal 19 479 ha.

Pelantaran Agro Estate (PAGE) memiliki luasan kebun 2 801 ha, Selucing Agro Estate (SAGE) memiliki luasan 3 324 ha, dan Serawak Damai Estate (SDME) luasan kebun 3 765 ha. PT Windu Nabatindo Abadi terdiri dari tiga kebun juga yaitu Sungai Behaur Estate (SBHE) dengan luasan kebun 3 987 ha, Sungai Cempaga Estate (SCME) dengan luasan kebun 3 097 ha, serta Bangun Koling Estate (BKLE) dengan luasan kebun 2 505 ha.

Serawak Damai Estate (SDME) merupakan kebun yang hanya terdiri dari kebun inti saja, dan tidak terdapat perkebunan plasma. SDME mempunyai 5 divisi masing-masing divisi mempunyai luasan yang berbeda. Divisi 1 mempunyai luasan kebun 850 ha, dengan jumlah blok 23, Divisi 2 mempunyai luasan kebun 756 ha, dengan jumlah blok 24, Divisi 3 dengan luasan 705 ha, jumlah blok 23, Divisi 4 dengan luasan 725 ha, mempunyai jumlah blok 17, Divisi 5 dengan luasan divisi 730 ha, mempunyai 18 blok. Luasan areal di SDME untuk tanaman belum menghasilkan yaitu seluas 893.24 ha, dan untuk luasan tanaman menghasilkan yaitu 2871.91 ha (Tabel 1).

Tabel 1. Luasan areal tanaman belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan di Serawak Damai Estate

Sumber : kantor kebun Serawak Damai Estate

Tanaman Luasan Areal (ha)

Divisi 1 Divisi 2 Divisi 3 Divisi 4 Divisi 5 Estate

TM 825.4 512.9 351.5 492.5 689.7 2 871.9

TBM 24.8 242.7 353.0 232.6 40.3 893.2

Estate 849.2 755.6 704.5 724.1 729.0 3764.1

(30)

Data luasan areal tanaman kelapa sawit di SDME juga dikelompokan berdasarkan tahun tanam (Tabel 2). Data tersebut berguna untuk membantu mengetahui luasan areal yang akan dilakukan kegiatan panen.

Tabel 2. Luasan areal untuk tahun tanam kelapa sawit di Serawak Damai Estate

Tahun Tanam

Luasan areal (ha)

Divisi 1 Divisi 2 Divisi 3 Divisi 4 Divisi 5 Estate

2004 200.5 70.0 0.0 0.0 114.8 385.3

2005 328.1 220.3 59.9 458.5 493.3 1560.1

2006 19.3 63.3 136.7 0.0 50.9 270.2

2007 237.1 136.0 154.9 34.0 30.7 592.7

2008 40.4 192.3 200.0 172.0 40.3 645

2009 24.8 73.6 141.7 0.0 0.0 240.1

2010 0.0 0.0 11.3 60.6 0.0 71.9

Estate 850.2 755.5 704.5 725.1 730 3765.3

Sumber : kantor kebun Serawak Damai Estate

Keadaan Tanaman dan Produksi

Tanaman di kebun SDME dimulai dari tahun tanam 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010. Jumlah tanaman tahun 2004 yaitu sebanyak 51 832 pokok produktif dengan BJR 9.6, tahun tanam 2005 sebanyak 202 286 pokok produktif dengan BJR 7.2, dan tahun tanam 2006 sebanyak 35 031 pokok produktif dengan BJR 5.1. Tahun tanam 2007 sebanyak 72 369 pokok produktif dengan BJR 5.1, tahun tanam 2008 sebanyak 79 524 pokok produktif dengan BJR 4.5, dan tahun tanam 2009 yaitu sebanyak 24 273 pokok produktif dengan BJR 3.4, serta tahun tanam 2010 sebanyak 19 552.

Kelas kesesuaian lahan aktual Serawak Damai Estate termasuk kelas S3,

dan untuk kelas kesesuaian lahan potensialnya masuk kelas S2. Berdasarkan

Tabel 3 realisasi produktivitas Serawak Damai Estate untuk beberapa tahun tanam

pada tahun 2011 sudah mencapai potensi produktivitas standar marihat kelas S3,

yaitu tahun tanam 2004, 2006 dan 2007 dan sudah masuk potensi produktivitas

kelas S2.

(31)

Tabel 3. Perbandingan produktivitas SDME dengan produktivitas standar Marihat S3

Tahun Tanam

Produktivitas (ton/ha/tahun)

2010 2011

Umur

(tahun) Real. Std.Mar

S3 Umur

(tahun) Real. Std.Mar S3

2004 6 16.58 19 7 20.07 23

2005 5 13.90 16 6 17.55 19

2006 4 12.26 13 5 18.71 16

2007 3 5.93 6 4 15.49 13

2008 2 - - 3 5.17 6 2009 1 - - 2 - -

Rata-rata 12.68 13.5 15.65 15.4

Fasilitas Kebun

Fasiltas kebun di Serawak Damai Estate terdiri atas satu kantor estate dengan perumahan untuk manager, asisten dan staf dan pekerja, kantor divisi, gudang, bangunan bengkel, gudang pupuk divisi, poliklinik, rumah ibadah, Tempat Penitipan Anak, jalan akses, main road, collection road, jembatan permanen, jembatan papan, serta genset.

Struktur Organisasi

Serawak Damai Estate dipimpin oleh seorang Estate Manager (EM) yang dibantu oleh seorang Asisten Kepala (ASKEP). Asisten kepala dibantu oleh lima orang asisten divisi. Asisten divisi dibantu oleh mandor 1, kerani divisi, dua sampai tiga orang mandor panen dan kerani buah, mandor chemist divisi dan mandor chemist TUS (Tim Unit Semprot), dan mandor pemupukan. Administrasi estate dipegang oleh seorang kepala administrasi yang dibantu accounting, kasir serta personalia, dan secara fungsional kepala administrasi juga dibantu oleh seorang kerani divisi, mantri tanaman dan admin tanaman (Lampiran 8.).

Ketenagakerjaan dan Pengupahan

Ketenagakerjaan di Serawak Damai Estate terdiri dari staf, karyawan

bulanan, Karyawan Harian Tetap (KHT), dan Karyawan Harian Lepas (KHL).

(32)

(Tabel 4). Staf di SDME terdiri dari manager, asisten kepala, asisten, dan kepala administrasi.

Tabel 4. Jumlah staf dan karyawan di SDME Tahun 2012

No Status Pegawai SDME

(Karyawan)

1 Staf 8

2 Karyawan Bulanan 21

3 Karyawan Harian Tetap 337

4 Karyawan Harian Lepas 270

Jumlah 636

ITK 0.17

Sumber : kantor kebun Serawak Damai Estate (Maret, 2012)

Pahan (2008) menyatakan Indeks Tenaga Kerja standar sebuah perkebunan adalah 0.2 HOK/ha. Indeks tenaga kerja Serawak Damai Estate masih di bawah standar ITK perkebunan, namun kebutuhan karyawan di SDME dapat dikatakan sudah memenuhi, karena sudah mendekati nilai standar ITK perkebunan. ITK yang dibawah standar di SDME disebabkan masih kurangnya kebutuhan tenaga kerja dalam kegiatan panen, dan pemeliharaan. Pemenuhan terhadap kebutuhan tenaga kerja hingga mencapai ITK

Perbedaan antara karyawan bulanan, KHT dan KHL yaitu pada besarnya upah atau gaji serta tunjangan yang diterima tiap bulannya (Tabel 5), sedangkan perbedaan antara KHT dan KHL yaitu tunjangan.

Tabel 5. Ketentuan upah di Serawak Damai Estate tahun 2012

Status Upah

Tunjangan Beras Pekerja

(KG/hari)

Istri (*(Kg/Hari)

Anak (**(Kg/Hari)

KHL Rp 58 240-,/hari - - -

KHT Rp 1 456 000/ bulan 0.50 0.30 0.25

Bulanan Berdasarkan Golongan 0.50 0.30 0.25

Keterangan :

*) istri sah pekerja dan tidak bekerja, tinggal di perkebunan (unit usaha)

**) yang berhak adalah anak yang tinggal di perkebunan (unit usaha) maksimal 2 anak

KHT mendapatkan tunjangan beras, tunjangan THR, tunjangan bonus,

tunjangan perumahan, pengobatan dan JAMSOSTEK sama seperti karyawan

(33)

bulanan. Golongan untuk karaywan bulan terdiri dari golongan satu sampai

golongan delapan dengan upah sesuai dengan ketetapan kebijakan perusahaan.

(34)

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

Aspek Teknis Panen

Kualitas dan kuantitas minyak sawit yang dihasilkan bergantung pada tingkat kematangan buah saat dipanen. Panen adalah serangkaian kegiatan yang dimulai dari memotong buah sesuai dengan kriteria matang panen, mengutip brondolan dan mengumpulkan serta menyusun Tandan Buah Segar (TBS) di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH). Panen harus menghasilkan TBS pada tingkat kematangan yang optimum, sehingga potensi produksi minyak dan inti sawit dapat dicapai.

Persiapan Panen

Kegiatan persiapan panen ada dua yaitu kegiatan persiapan panen dari TBM-3 ke TM-1 dan persiapan panen yang akan dilakukan pada hari yang akan dilakukan kegiatan panen. Persiapan sebelum mulai panen pada umur 30 bulan, yang meliputi kondisi gawangan normal, dan pembuatan pasar pikul. Pasar pikul dari pola 8:1 menjadi pola 4:1 pada TBM-2 yang artinya dalam empat jalur terdiri dari satu pasar pikul, dan pada TBM-3 semester dua menjadi 2:1. Persiapan lainnya yaitu akses panen yang berupa titi panen, jalan bantu angkong atau guludan pasar pikul, kegiatan perawatan piringan manual dari kacangan dan gulma, serta pada semester dua di TBM-3 dibuat TPH (Tempat Pengumpulan Hasil). Luas TPH yaitu 4m x 7m, dimana tiap tiga pasar pikul dibuat satu TPH dan dilengkapi dengan pembuatan blok informasi yang meliputi no blok, no TPH, dan teller pokok.

Persiapan juga dilakukan untuk sanitasi dan kastrasi pada TBM umur

tanaman 18 bulan, 24 bulan dan 30 bulan. Kastrasi adalah kegiatan membuang

semua produk generatif yang terdiri atas pembuangan bunga jantan, bunga betina

dan buah baik dalam kondisi segar maupun kering. Kastrasi merupakan salah satu

pekerjaan yang dilakukan sebelum tanaman memasuki peralihan dari TBM ke

TM.

(35)

Pekerjaan kastrasi di Serawak Damai Estate memiliki tujuan yaitu mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang tidak ekonomis ke pertumbuhan vegetatif, pokok sawit yang telah dikastrasi cenderung lebih kuat dan seragam dalam pertumbuhannya, pertumbuhan buah yang lebih besar dan seragam beratnya, menghambat pekembangan hama dan penyakit.

Kastrasi mulai dilaksanakan jika dalam satu blok terdapat lebih dari 50%

pokok kelapa sawit yang telah mengeluarkan bunga (jantan dan betina). Kastrasi mulai dilakukan pada saat tanaman berumur 15 bulan di lapangan. Pelaksanaan kastrasi terakhir dilakukan enam bulan sebelum rencana pokok dipanen.

Ketentuan kastrasi rotasi terakhir di SDME yaitu bunga jantan tidak dibuang karena akan digunakan sebagai media pengembangan Elaeidobius camerunicus.

Kegiatan lainnya yaitu sanitasi. Sanitasi merupakan kegiatan membersihkan pokok dari pelepah yang sudah kering dan menyentuh ke tanah, dan buah yang terserang penyakit serta sampah-sampah di sekitar pokok. Sanitasi di Serawak Damai Estate bertujuan untuk mempermudah proses panen dan mendapatkan kondisi tanaman dan buah yang sehat. Sanitasi pada tanaman muda sampai dengan TM-2 dilakukan penunasan secara periodik dengan rotasi sembilan bulan sekali, sedangkan pada tanaman diatas TM-2 penunasan dilakukan secara korektif.

Penunasan dilakukan secara langsung oleh tenaga panen dan dilakukan bersamaan setiap melakukan kegiatan panen dengan tetap mengacu pada prinsip dasar jumlah pelepah produktif yang masih harus dipertahankan berdasarkan umur tanaman. Tujuan pekerjaan penunasan pokok adalah memelihara pelepah produktif dengan cara mengurangi jumlah pelepah sampai pada batas tertentu yang tidak menyebabkan terganggunya kemampuan daun melakukan fotosintesis secara optimal untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif.

Jumlah pelepah yang optimum untuk mendapatkan produksi maksimal diperlukan 48-56 pelepah (tanaman muda) dan 40-48 pelepah (tanaman tua).

Pelepah yang sudah dipotong disusun diantara pokok dalam barisan atau di tengah

gawangan mati sehingga membentuk huruf U dengan lebar 1.5 m, serta harus

dipastikan tidak ada pelepah di piringan, pasar pikul, parit dan sungai.

(36)

Persiapan panen lainnya yaitu sensus produksi. Sensus produksi adalah kegiatan mengestimasi produksi TBS untuk satu semester (6 bulan), yang dilakukan dua kali setahun. Kegiatan sensus produksi dilakukan dengan melihat jumlah bunga betina, jumlah janjang, dan berat janjang rata-rata.

Penentuan masa peralihan TBM ke TM dapat dilihat dari kerapatan panen (sebaran pokok panen) >60%, Berat Tandan Rata-rata (BJR) >3 kg, angka penyebaran panen kurang dari lima (artinya dari tiap pokok minimal dapat dipanen satu janjang) atau persenan matang panen.

Kegiatan pada awal tahun sebelum dilakukan kegiatan panen dilakukan penetapan seksi panen yaitu pengelompokan blok-blok panen per hari, dengan pertimbangan luasan blok, jam kerja, dan arah seksi panen (searah jarum jam) dengan tujuan bila ada panen yang belum terselesaikan pada hari kemarin maka jarak seksi panen tidak terlalu jauh. Bahan pertimbangan yang lain yaitu jumlah frekuensi panen per tahun dan umur rotasi normal, juga hasil identifikasi blok dalam hal luas areal blok TM, potensi produksi (ton/ha) per blok, jumlah dan sebaran pokok produktif, kondisi topografi, posisi blok terhadap blok lain, jam kerja dalam satu minggu sesuai ketentuan pemerintah, sehingga seksi panen dibagi menjadi enam seksi. Perimbangan antara seksi satu dengan yang lain dalam hal luas areal per seksi serta potensi produksi (ton/ha).

Contoh Perhitungan perencanaan seksi panen :

Sebuah divisi dengan luas areal TM 1 148 Ha, dengan estimasi produksi 25.0 ton/ha/tahun, maka untuk pembagian area tersebut dalam enam seksi dapat di hitung sebagai berikut :

Penetapan luas area produksi per seksi per frekuensi (ha/seksi/frekuensi) Luas rata-rata per seksi (A) 1 148 ha/6 seksi = 191.3 ha

Luas rata-rata per 5 jam kerja (B) 5/7 x 191.3 ha =136 ha

Koefisien penambah luas area (C) = (A-B)/6 --- (191-136)/6 = 9.1 ha Luas rata-rata seksi hari biasa (7 jam kerja)

= A+C

=191.3 ha + 9.1 ha = 200 ha

Luas seksi hari jumat (5 jam kerja)

(37)

=B+C

=136.6 ha + 9.1 ha

= 146 ha

Persiapan untuk panen yang akan dilakukan harian yaitu melakukan taksasi panen, menghitung angka kerapatan panen, angka kerapatan panen digunakan untuk menentukan berapa ton buah yang akan di panen serta tenaga kerja pemanen yang dibutuhkan, dimana tiap kemandoran jumlah tenaga kerja maksimal dua puluh orang. Hal ini sesuai dengan ratio ideal pekerja dan mandor (1:20 TK), selanjutnya pembagian luasan hancak pemanen per kemandoran, serta pembagian hancak tetap pemanen.

Luas hancak tetap mandor per seksi dapat dihitung dengan cara :

Luas hancak tetap mandor = Luas area (ha) per seksi panen /jumlah mandor.

Mandor panen di tiap divisi di SDME berjumlah dua sampai tiga mandor.

Tiap kemandoran di SDME sudah sesuai dengan ratio ideal pekerja dan mandor, yaitu tiap kemandoran mengepalai tidak lebih dari dua puluh pekerja.

Persiapan panen lainnya yaitu ketersediaan peralatan panen. Peralatan panen merupakan salah satu keperluan dalam kegiatan panen. Peralatan panen yang perlu disiapkan yaitu Alat Pelindung Diri (APD) serta dodos, angkong, gancu, sogrok, karung goni, stempel dan tinta. APD panen di kebun Serawak Damai Estate baru sebatas sepatu boot, sarung tangan dan sarung dodos.

Kriteria Panen

Kriteria panen yang sudah ditetapkan kebun harus diperhatikan ketika kegiatan panen, hal ini dikarenakan akan berakibat pada mutu atau kualitas buah yang dipanen. Pengawasan terhadap kegiatan panen baik untuk kriteria maupun mutu buah dilakukan mulai dari kerani buah, mandor panen hingga asisten kebun (Gambar 1).

Kegiatan panen di Serawak Damai Estate memilki ketentuan kriteria panen

yaitu brondol lima secara alami, bila BJR <5 kg dan jumlah brondolan sepuluh

(38)

ketika sampai di TPH. BJR >10 kg menggunakan rumus BJR x 2, yaitu janjang yang beratnya lebih dari 10 kg harus memiliki jumlah brondolan dua kali dari berat janjang rata-rata. Misalnya berat janjang 12 kg, maka jumlah brondolan minimal 24 brondol ketika sampai di TPH yaitu (12 x 2 = 24).

Kriteria panen akan berbeda untuk buah abnormal seperti buah hermaprodit, apabila lebih dominan buah yang membentuk brondolan dan matang maka tetap dipanen dan diangkut. Penentuan untuk buah batu atau hard bunch dikatakan matang dan dapat dipanen bila buah sudah pecah di bagian ujung buah atau terbelah di bagian ujung brondolan dan tekstur sudah remah. Buah batu merupakan buah yang sulit untuk membrondol dikarenakan faktor genetik. Buah landak adalah buah yang mempunyai banyak duri pada satu tandan, kriteria matang buah landak yaitu buah sudah membrondol lima.

Gambar 1. Grading buah yang dilakukan oleh asisten kebun

Kualitas Buah

Serawak Damai Estate memiliki standar untuk kualitas buah dan dibagi menjadi 7 kriteria kualiatas buah. Standar minimal yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kualiatas buah yang baik yaitu janjang yang mentah dan janjang kosong memiliki ketentuan target yaitu 0%, sedangkan untuk janjang yang kurang matang <8%, janjang matang >85%, janjang lewat matang <7%, dan tangkai panjang serta kontaminasi sampah kurang dari 3%.

Kualitas buah semester dua tahun 2011 di Serawak Damai Estate

berdasarkan Tabel 6 sudah baik, hal tersebut dapat dilihat dari persentase untuk

rata-rata buah matang yaitu sudah >85 %, dan buah lewat matang <7 %.

(39)

Tabel 6. Rekapitulasi mutu buah di Serawak Damai Estate pada bulan Juli - Desember 2011

Sumber kantor kebun Serawak Damai Estate

Kehilangan Hasil Panen

Kehilangan hasil atau losses fruit dapat menurunkan nilai BJR. Kehilangan hasil dapat bersumber dari janjang yang tertinggal di pokok atau tidak terpanen sehingga buah akan menjadi over ripe hingga dapat menjadi busuk di pokok, selain itu sumber kehilangan buah yang paling besar dan dapat menyebabkan berat janjang rata-rata turun yaitu brondolan di ketiak pelepah, dan brondolan di piringan serta brondolan di TPH yang tidak dikutip bersih. Kehilangan hasil pada kegiatan panen lainnya yaitu buah mentah yang ikut terpanen.

Kehilangan hasil di kebun Serawak Damai Estate tidak signifikan bila dilihat dari data rekapitulasi mutu buah, tetapi kehilangan hasil ini harus diminimalisir dengan memperhatikan kriteria panen yang berlaku.

Sistem Panen

Sistem panen yang digunakan di Serawak Damai Estate yaitu Block Harvesting System (BHS). Tujuan penggunaan sistem panen ini yaitu agar kegiatan panen dapat berjalan secara optimum dan mengefektifkan sistem organisasi panen. Block harvesting system adalah sistem panen yang penyelesaian kegiatan panennya setiap hari kerja dan terkonsentrasi pada satu seksi tetap per kebun atau per divisi berdasarkan interval yang telah ditentukan.

Kualitas Target Bulan

Jul Agu Sep Okt Nov Des

………… (%)…………

Mentah 0 0 0 0.01 0.01 0 0.04

Kurang matang <8 7.75 7.50 8.40 8.26 7.91 7.79

Matang >85 88.94 89.61 87.76 87.88 88.18 88.16

Lewat matang <7 2.86 2.41 3.10 3.20 3.39 3.62

Janjang kosong 0 0.45 0.48 0.73 0.65 0.51 0.40

Tangkai panjang <3 0.22 0.20 0.35 0.57 0.41 0.65

Kontaminasi <3 9.17 6.64 6.36 5.73 4.99 3.22

(40)

Block Harvesting System mempunyai enam seksi panen, atau setiap hari kerja, sehingga divisi hanya diperbolehkan mempunyai satu seksi harian per harinya, dimana setiap pemanen sudah mendapatkan hancak tetap masing-masing.

Sistem hancak tetap ini bertujuan mempermudah pengontrolan dan pengawasan terhadap kualitas panen dari setiap pemanen. Tujuan lain dari penggunaan BHS ini yaitu mempermudah transport TBS, karena pada sistem ini kegiatan panen dimulai dan diakhiri dengan arah yang sama, selain itu mempermudah kerani panen dalam mendata kualitas buah dari pemanen.

Pelaksanaan block harvesting system membuat jumlah tenaga kerja antar seksi sama, dengan maksud memberikan kesempatan perolehan pendapatan pemanen antar seksi relatif sama. Seluruh kemandoran panen dalam divisi harus melakukan potong buah pada seksi yang sama pada setiap harinya dan dalam satu harinya diupayakan satu seksi selesai pada hari itu juga. Kegiatan panen dan penguntipan brondolan harus dimulai dan diakhiri dengan arah yang sama, yaitu penyelesaian hancak panen harus blok per blok secara bersambung ke arah Collection Road (CR) atau searah dengan Main Road (MR). Tata batas hancak pemanen dan mandoran harus jelas dan bersifat tetap.

Pemanen dibentuk lagi menjadi sistem Kelompok Kecil Pemanen (KKP).

Satu KKP terdiri atas 3 orang pemanen. Tujuan pembuatan KKP ini adalah bila ada pemanen yang tidak masuk, maka hancak pemanen akan dikerjakan oleh dua pemanen lainnya, karena sistem hancak tetap.

Semua hasil panen dicatat oleh kerani panen, pencatatan terdiri atas jumlah output pemanen, kualitas buah yang di panen, basis dan denda pemanen (Gambar 2.).

Gambar 2. Kegiatan pencatatan hasil panen oleh kerani panen di TPH

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian bertujuan untuk menganalisis resiko- resiko yang dihadapi pelaku agribisnis kelapa sawit baik Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat maupun Perkebunan Kelapa Sawit

Judul yang dipilih dalam magang yang dilaksanakan dari bulan Februari hingga bulan Juni 2015 adalah Manajemen Panen dan Sistem Pengangkutan Tandan Buah Segar Kelapa Sawit (

mempengaruhi alih fungsi lahan persawahan menjadi perkebunan kelapa sawit. rakyat menunjukkan bahwa faktor pengeluaran keluarga petani,

Variabel tenaga kerja panen berpengaruh nyata terhadap produktivitas kelapa sawit dan memiliki nilai koefisien regresi yang positif sebesar 0.0015 yang berarti

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha perkebunan kelapa sawit rakyat di daerah penelitian, menganalisis korelasi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh lingkungan kerja dan insentif terhadap produktivitas kerja karyawan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh produktivitas kelapa sawit, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)

Produktivitas kelapa sawit petani responden lebih rendah dari produktivitas kelapa sawit petani yang juga menggunakan kombinasi pupuk organik di Kecamatan Lubuk Dalam Kabupaten Siak