JAMAAH ISLAM
EKSKLUSIF:
Studi terhadap
Pola
Interaksi
Sosial
Jamaah
LDII
Kota Jambi
Sya'ronis
Abstracts: This research qualitatively describes the existence
of
JamaahLDII
(The Congregation of The Propagation of Islam in Indones ia) and their interctction patterns, int ernally and externally.For the purpose of this research, the data is taken through depth interviery participant observation and documentation. From the research, it is found that in their social interaction, there are some
social interaction patterns they undergo such as cooperation, competition, and even conflict. These patterns occur internally and internally
with
the surrounding neighbors. Positive social interaction patterns occur internallyand
negative one occursto the neighbors, to people out side their group.
It
is suggested and recommended that both parties organize intent discussion to bridge their gapsfor
a peace and co-existence among them.Kata
Kunci:
Jamaah LDII, Interaksi Sosial, El<sklusifKota
Jambi termasuk salah satuminiaturnya
Indonesia, karena pada saatini
hampir
seluruh suku yang adadi
Indonesia terdapat diKota
Jambi.Hal ini
merupakan konsekuensidari
keberadaan KotaJambi sebagai ibukota Provinsi Jambi. Sebagai pusat pemerintahan,
pendidikan dan pusat perdagangan, arus migrasi penduduk dari
ber-bagai suku dan ras
di
Indonesia menjadi fenomena yangtidak
bisa dielakkan.5 Sya'roni
adalah dosen tetap Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambr.
Karena
begitu
kompleksnya ragam suku dan rasyang
adadi
kota
ini,
tentu berdampak pada keragaman agam4 kepercayaan danaliran yang muncul
di
tengah masyarakat,baik
masyarakatnon-muslim
maupun masyarakatmuslim
itu
sendiri.
Salah satu aliranyang muncul
di
tengah masyarakatKota
Jambi
adalah LembagaDakwah Islam Indonesia
(LDII).
LDII
telah
mengalami
beberapakali
perubahan nama. Pada awalnya,LDII
bernamaLEMKARI
yang didirikan pada tahun 1972, sebagaikelanjutan
dari
pahamDarul Hadits
atauIslam
Jamaah.Selanjutnya
LEMKARI
berganti namamenjadi
JamaahAl-Qur'an
dan
Hadits,
dan berubahlagi
menjadi Yayasan Pondok PesantrenNasional (YAPPENAS). Nama
LDII
sendiri muncul
sejak tahun1990 (Manan, 1980).
Adanya
perubahan-perubahannama tersebut adalah
sebagaiakibat dari pelarangan oleh pemerintah terhadap aliran atau paham
yang
diajarkanoleh pemimpin
organisasi tersebut secara nasional maupun regional, termasuk di Provinsi Jambi.Larangan pertama
oleh
JaksaAgung
Rl
yang
tertuang dalamsurat
keputusanNomor:
089,D.A/101197I
yang
ditetapkan padatanggal29 Oktober
l97l;
larangan kedua dikeluarkan oleh KepalaKejaksaan Negeri Jambi, dengan surat keputusan Nomor: Kep.013/
H.5Illllll978;
dan larangan ketiga oleh PimpinanMajelis
UlamaIndonesia
(MUI)
yang dikeluarkan pada tangg al 22 J uni 1 9 8 9. Alasanpelarangan
oleh
MUI
itu tidak lain
karenaaliran
ini
(LEMKARI)
mengajarkan
tiga
ajaranpokok
yang menyesatkan, yaitu, pertama,tidak
sah beragamakalau
tidak
berbaiat kepada satu-satunyaAl-Amir
yang wajib dipatuhi
secaramutlak.
Al-Amir
itu
diartikansebagai seorang
pemimpin
rohani
agamayang
dipilih
oleh
Allah
SWT.,yaitu
Nur
HasanAl-Llbaidah
di Kediri;
kedua, umat Islam yangtidak
berbaiat kepadaAl-Amir
berarti
akanmati
dengan carajalriliyah
atautidak
sah Islamnya. aliaskafir;
ketiga, semua ajaran agamaIslam
hanya dapatdipelajari
secaralisan melalui
Al-Amir
atau
wakil-wakilnya
(MUI,
1989).Ketiga
surat keputusan yangberisi
tentang pelarangan tesebuthanya
menyebutkannama
lembagaLEMKARI
sebagaiinstituti
keagamaan
yang
dilarang
kegiatannya
di
tengah
masyarakat.Akan tetapi,
berdasarkanhasil
observasiawal, terryata
jamaahyang tergabung dalam
LDII
saatini
adalah orang-orang yang dulutergabung dalam
LEMKARI,
dengam kata lain bahwaLDII
saatini
adalah reinkarnasi dariLEMKARI.
Pada dasamya, belum ada datayang dapat dijadikan acuan untuk
mengetahui secara pasti kapan
LDII
berdiri di Kota
Jambi. Namun,dari
beberapa sumberyang layak
mengatakan bahwa lembagaini
telah ada sejakakhir
tahun 70-an atauawal
tahun 80-an (Manan,1 e80).
Dalam kiprahnyadi tengah masyarakat,
LDII
Kota Jambimemiliki
tempat tersendiri yang
terpisah dengan masyarakat
lingkungan sekitar. Saatini,
LDII
menempati sebidang tanah yangdi
atasnyaberdiri
satu buahMasjid
pernanen dan beberapa gedung penunjang kegiatan, seperti bedeng-bedeng yang ditempati oleh beberapa orang santri yangmirip
dengan pondok pesantren konvensional. Lokasinyaterletak di wilayah Kelurahan Wijayapura Kecamatan Jambi Selatan, sebagai pusat kegiatan
LDII
untuk wilayah Kota
Jambi,di
tambahcabang-cabang
pembantu
yang
tersebar
di
beberapa kelurahan; sepertidi
Kelurahan Pasir Putih, Kelurahan SimpangIV
Sipin
dandi Kelurahan Buluran Kenali.
Berdasarkan
pada
pengamatanawal
di
lokasi
di
manaLDII
berada, dalam menjalankan aktivitas sosial dan keagamaan, Jamaah
LDII
terkesantertutup bagi umat Islam
di
sekitarnya. Dalammenjalankan ibadah shalat misalnya, mereka tidak pemah membaur dengan umat Islam sekitar. Mereka hanya menjalankan ibadah shalat di masjid mereka sendiri (Masjid
LDII).
Sebaliknya, umat Islamnon-jamaah
LDII
bebas melaksanakan ibadah shalatdi
masjid mereka, dengan syaratimamnya
harus berasaldari jamaah
LDII.
Dengan kata lain, masyarakat sekitar selain jamaahLDII
tidak boleh menjadi imamdi
masjidLDII.
Dengan
adanya ketentuan tersebut,pada
tahun
1999
te4'adikonflik
antaraumat Islam
non-jamaahLDII
dengan jamaahLDII.
Hal
ini
dipicu
oleh keiinginan jamaahLDII
mendirikan mushalla diRT.
10 Kelurahan PasirPutih,
sebagai akibat kegagalan kelompokmereka
menguasaimasjid yang
berada
di
RT
tersebut. Karenamasyarakat
muslim
non-jamaahLDII
menganggap bahwa upaya tersebut sebagai upaya ekspansi misi ajarannya, maka upaya tersebutdihalangi,
sehinggaterjadilah
ketegangan antara kedua kelompokyang bersebrangan. Namun, potensi
konflik
itu
dapat diatasi dengandiadakannya musyawarah
oleh
para ulama,
pemerintah,
tokoh masyarakatdan
pemuda setempat. Pada saatini,
setelah merekamempunyai tempat tersendiri, potensi
konflik
hampirtidak
pernahmuncul ke permukaan. Namun, di sisi lainantaraumat Islam jamaah
LDII
dan non-jamaahLDII
tidak
teqadi interaksi sosial yang wajar. Sehingga, secara sosial, potensikonflik
tersebut akan tetap ada dansewaktu-waktu
bisa muncul kembali. Oleh
sebabitu,
penelitianilmiah
tentang bagaimanapola
interaksi
antara kedua kelompoktersebut merupakan suatu
hal
yang mendesak dan penting, sebagai pemetaan potensikonflik
antar umat Islam. Berangkat dari fenomenatersebutt, maka
peneliti tertarik
untuk mengkaji
masalah tersebut secara mendalam dan komprehensif.RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka yang menj adi pokok-pokok masalah penelitian adalah ( 1 ) bagaimana
bentuk interaksi sosial
jamaahLDII
dengan sesamajamaah
danbagarmanajuga
bentuk
interaksinya dengan masyarakatdi
sekitar komplek jamaahLDII?
(2)
apakahada potensikonflik
antara jamaahLDII
dengan masyarakat non-jamaahLDII
di sekitar komplekLDII?
(3)
apakah terdapat prasangka sosial masyarakat sekitar komplekLDII
terhadap Jamaah
LDII
dan
sebaliknya
serta
bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan sosial masyarakat sekitar komplekLDII
dalam hubungannya dengan warga JamaahLDII?
TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
Tujuan
dari
penelitianini
adalahuntuk
mendeskripsikan lebihjauh
tentang bagaimana pola hubungan antaraJamaahLDII
denganmasyarakat
sekitar
serta potensi-potensikonflik
yang
seharusnyadihilangkan.
Adapun
manfaatdari penelitian
ini,
secarapraktis
diharapkan dapat dijadikan salah satu pedoman bagi pemerintah dalam membuatkebijakan pembamgunan yang berkaitan dengan masalah kehidupan sosial keagamaan
di
tengah masyarakat. Sedangkan secara teoritis,hasil
penelitian
ini
diharapkanmenjadi
perbendaharaan literaturkeilmuan bidang sosial
keagaaman, khususnyadalam
kehidupanbermasyarakat yang terdapat beberapa keragaman keyakinan ataupun mazhab dalam menjalankan ritualitas keagamaan yang direfleksikan
dalam kehidupan sosialnya.
METODE PENELITIAN
Sebagai upaya
untuk
menemukanjawaban
atas permasalahanyang
diteliti,
maka dilakukan penelitian
lapangan(field
research)dengan menggunakan pendekatan
kualitatif.
Penelitian
kualitatiif
menurut Faisal (1990),Muhajir
(1990), Bogdan danTaylor
dalamFurcham (1992), Spradley (1980), dan
William
(1989) memandang sebagaiperilaku, yakni
apayang dikatakan
dandilakukan
orangsebagai
produk
penafsiran
seseorangmenurut
dunianya.
Tugaspeneliti
adalah
mengungkapkan
interpretasi tersebut.
Prosespelaksanaannya
menurut Weber dalam Furchan (1992)
adalah Verstehen, yaitu kemampuan untuk mengeluarkankembali
apayangada dalam
pikiran,
perasaan,motif
dibalik
tindakan orang lain.Situasi sosial yang
dipilih untuk
diteliti
dalampenelitian
ini
adalahjamaah
LDII
dan
masyarakatsekitar komplek
LDII
dantradisi-tradisi
keagamaanyang
adadi
masyarakat tersebut.Agar
dapat mendeskripsikan situasi sosial, ditentukan
latar
penelitian denganmembagi situasi sosial
menjadi
tempat penelitian,
aktor penelitian dan aktivitas penelitian (Spradley, 1980).Teknik
pengumpulan data
yang
digunakan dalam
rangkapengumpulan data
penelitian
ini
adalah sebagaiberikut;
Pertama,observasi
peran
serta(participant
observation/.
Observasi peran serta bertujuan untuk beradaptasi dengan lingkungan komplekLDII
dan masyarakat sekitamya. Setting kegiatan yangpeneliti
ikuti
diantaranya adalah kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan
di
masjidLDII,
serta berbagaiaktivitas
sosial dalam kehidupan masyarakat sekitar komplekLDII.
Kedua, wawancara mendalam. Wawancara mendalam dilakukan dengan jamaah
LDII
dan masyarakat sekitar komplekLDII
sebagaiinforman
kunci.
Kemudian infomman selanjutnya berkembang ataumengalir
bertambahluas
yang
ditetapkan berdasarkanbola
saljubergulir (snow-ball) atas saran dan petumjuk informan kunci sefia atas pertimbangan
peneliti
sendiri, dengan pertimbangan bahwa mereka diperkirakan mengetahui tentang keberadaanLDII
dan aktivitasnya.Wawancara dilakukan terhadap
informan
dengan
tujuanpenggalian informasi tentang
fokus
permasalan
yang
diteliti.
Wawancara dilakukan secara forrnal dengan mengajukan pertanyaantersttruktuq
juga
dilakukan dalam bentuk obrolan yang tidak formal dengan pertanyaanyang tidak
terstruktur.
Wawancara dilakukandalam situasi
yangwajar
dan biasa.Ketiga, Dokumentasi. Dokumentasi adalah mencari data tertulis mengenai
hal-hal
atau fenomena-fenomena, berupa catatan dalam bentuk transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya(Arikunto,
1993:202).
Penggunaan teknikini
bertujuan
untuk
menelusuri
catatan-catatanberkaitan
dengan jamaahLDII,
sejarahberdirinya,
struktur kepengurusanLDII,
danIain-Iain
yang terkait dengan tema penelitianini.
Data yang telah terkumpul
dianalisis
dengan menggunakananalisis
mengaliir
sebagaimanayang
dikembangkanoleh Milles
dan
Hubberman
(1992),
yang
langkah-langkahnyaterdiri
darireduksi
data, kategorisasi,
dan
pemyimpulan.
Langkah-langkahtersebut dilakukan berulang-ulang agar dijperoleh pemahaman dan
kesimpulan
yang
akurat.Untuk
tujuan
tersebuttdilakukan
proses triangulasi baik dengan teori, perpanjangan masa di lokasi penelitian,maupun diskusi dengan para pakar.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Interaksi
SosialInteraksi
sosial
merupakansalah satu
prosessosial.
Bentukinteraksi sosial
dapat berupa kerjasama, persaingan,dan
bahkanpertikaian
(konflik), tetapi
biasanya
konflik
mendapatkanp enyelesaian, walaupun kadangk ala hany a b ersifat sementara, yaitu
dalam bentuk akomodasi.
Gillin
(1954)
membuat
penggolongan prosessosial
sebagaiakibat
adanyainteraksi sosial,
yaitu
prosesyang
assosiatif dan dissosiatif. Assosiatifterdiri
dari akomodasi dan asimilasi.Asimilasi
adalah lanjutam dari akomodasi.Selanjutnya, Soekanto
(1986)
menjelaskanbahwa
asimilasidapat ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi
perbedaan-perbedaan
yang
ada
antar
individu
dalam
kelompok-kelompokmanusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan
tindakan, sikap
dan proses-prosesmental
dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan bersama. Akan tetapi, asimilasisulit
terjadi walaupun telah terjadi pergaulan yang intensif dan luas antara kelompok-kelompok tersebut. Hal ini tercermin dari hubunganantara
orang
Indonesia
(WNI)
dengan
orang China yang
telahterjalin
selamaini,
akan tetapi mereka belum terintegrasi ke dalam masyarakat Indonesia. Sej alan dengan hal ini, dapat ditegaskan bahwa asimilasi merupakan kelanjutan dari adanya interaksi. Interaksi tetap akan terjadi walaupun tidak teq'adi asimilasi.Soekanto
(1986)
menjelaskan
bahwa
sebenarnya interaksi sosialitu
telahdimulai ketika
dua orang ataulebih
saling bertemu,walaupun
antara orang-orang tersebutbelum
terjadi
komunikasi, berjabat tangan, saling menegur atau berbicara, oleh karena masing-masing sadar akan adanyapihak lain yang menyebabkanperubahan-perubahan
dalam
perasaan
maupun syaraf
orang-orang yang
bersangkutan.Kemudian, menurut
S.N.
Eisenstadt(1986), bahwa
interaksisosial
merupakan parametersosial, karena
ia
adalah batas-batas kelembagaan dan sosialisasidari kolektivitas. Atribut-atribut
dasar kesamaan sosial dan kebudayaan menetapkankriteria
keanggotaan berbagaikolektivitas,
terutama mereka yang terlibat dalam kegiatan suatu interaksi.Atribut-atribut
yang ada juga memberikan spesifikasikewajiban, tingkat tujuan, atau keinginan yang memperlahankannya
terlibat dalam setiap interaksi.
Dalam rangka interaksi sosial
itu,
yang terpenting ialahsejauh-mana
individu
atau kelompok
memahami
dirinya
sendiri.
Ada dua kemungkinandari
sikap mereka,yaitu
sebagai penerimayang
pasif
dalam hubungannya dengam tantangan tertentu, atau sebgaipartisipator yang
aktif
dalam interaksi tersebut. Bahkan, sejauhmana mereka berusaha untuk mengubah sikapnya, mengendalikandiri
ataslingkungan
sosialnya,saling
mempengaruhi, dan tanggung jawabmereka untuk memelihar a latanan tersebut.
Bersamaan dengan terciptanya keadaan interaksi, tercipta pula
kondisi
integrasi dalam masyarakat. Dalam halini,
integrasi sosialdimaksudkan sebagai penyatuan kelompok-kelompok yang terpisah (secara budaya, dan norma) dalam melenyapkan perbedaan yang ada
sebelunmnya. Selain
itu
dapatpula
diarlikan
sebagai diterimanyaseorang
individui
oleh
anggota-anggotalain dari
suatu kelompok(Saifuddin, 1986).
Kemudian, menurut
Horton
danHunt
(1992), ada dua hal yang dapat merintangi terjadinyainteraksi
sosial antarkelompok
dalammasyarakat,
yaitu
prasangkasosial dan
diskriminasi.
prasangkasosial
ialah
suatupenilaian yang
dinyatakan sebelum mengetahuifakta sesungguhnya.
Selanjutnya, Sears
(1991)
mengatakan
bahwa
prasangka sosial berkaitan erat dengan persepsi orang tentang seseorang ataukelompok lain,
sikap danperilakunya
terhadap mereka. prasangka terhadap anggota suatukelompok
sosial ternyata merupakanjenis
sikap yang secara sosial sangat merusak hubungan antar kelompok.Hal
ini
tergambardari
enamjuta
jiwa
orangyahudi
Eropa
yang telah dibunuh oleh tentara Nazi pada tahunr94}-andan
lebihdari
1juta
orang Armenia yangtinggal di Turki
dibantai oleh orangTurki
padaawal
abadke
20
yanglalu,
yang disebabkan oleh prasangkasosial dan diskriminasi antar kelompok.
Hal
ini
memperlihatkan betapa prasangkasosial
sangat berpengaruh terhadap hubungan antar kelompok.Kemudian,
Myrdal
sebagaimanadikutip
oleh Horton dan Hunt (1992). mengartikan prasangka sebagai anggapan yang mempunyaitujuan,
yakni
membenarkanperlakuan
yang
membeda-bedakankelompok. Diskriminasi sosial
adalah cara memperlakukan orangberdasarkan
ciri-ciri
individu.
prasangkasosial
disebabkan olehbeberapa hal,
pertama,
sikap etnosentris yang cenderung membuatindividu
menganggapbaik
orang-orang yang dalam kelompoknyasendiri
dan menganggapburuk
orang-orangdi
luar
kelompoknya;kedua, melakukan penilaian terhadap orang yang
tidak
atau belum terlalu dike nal; ke t i g a, membuat generalisasi b erdasarkan p engalaman satuindividu
terhadap satukelompok
keempat, ad,akecenderungan berprasangka terhadap orang yang bersaing dengannya.Landasan
teori
yang diungkapkandi
atas,tidak tidak
menutupkemungkinan terdapat pada jamaah
LDII
serta masyarakatdi
sekitarkomplek
LDII,
khususnya yang adadi
Kota
Jambi.oleh
sebab itu,kerangka teori inilah yang dijadikan acuan dalam pengumpulan data selanjutnya.
Eksistensi Organisasi
LDII
Struktur
Organisasi.Lembaga Dakwah Islam Indonesia Provinsi Jambi pada saat
ini
dipimpin
olehNurhamid Hadi,
S.Pd, salah seorang kepala Sekolah Menengah Atas(SMA)
Negeri di Kota Jambi. Dia menjabat sebagaiketua
untuk
periode yang kedua
berdasarkanhasil
MusyawarahDaerah p ada tahun 2006. Sosok Nurhamid Hadi, S.Pd, sangat popular
di
kalangan jamaahLDII
maupun masyarakatKota
Jambi, karenawajahnya sering muncul
di
TVRI
Jambi
sebagai pengasuh acaraDialog
Islam yang
ditayangkan setiaphari
kamis
sore menjelangacara Jambi Dalam Berita.
Dalam
struktur
kepengurusanLDII,
Nurhamid
Hadi
dibantu oleh beberapa unsurwakil
ketua, sekretaris, bendahara, sertabiro-biro.
Seluruh unsur pembantu ketua tersebutdipilih
dalam kegiatanMusda
LDII,
yangdiikuti
oleh beberapa pengurus daerahtingkat
II
(kabupaten/kota) dalam
Provinsi
Jambi. Namun, Dewan PengurusDaerah
(DPD)
yang
ada
pada saat
ini
belum berjalan
secaramaksimal,
baik
aktivitas organisasinya maupun aktivitas sosialnya, sebagaimana halnyaDPD
II
Kota
Jambi.Hal
ini
disebabkan karenakonsolidasi
organisasi
di
daerah-daerahkabupaten/kota
belumberjalan
dengan
baik,
yang
disebabkan
oleh
beberapa
faktor,diantaranya masalah finansial organisasi dan sumber daya manusia pengurusnya fWawanc ara, I 0 Nopember 2006].
Lain
halnya dengan kepengurusan organisasiLDII
Kota
Jambi,di
mana penelitianini
dilaksanakan, sistem kepengurusanLDII
Kota Jambi pada saatini
berjalan denganbaik.
Ketua dijabat oleh AgusSupamo, SH, yang menjabat sejak tahun 2005 yang lalu.
Ia
dibantu oleh dua orangwakil
ketua, yakniwakil
ketuaI
drjabat oleh Sukimindan wakil ketua
II
dijabat oleh Imam Raharl'o. Sementara itu, sekretaris dijabat oleh Bambang Irawan dan Bendahara dijabat oleh Sutandji.Di
samping itu, sturktur ini juga dilengkapi beberapa biro.
Bila diiihat
dari
latar belakang suku, sebagian besar pengurus organisasiLDII
serta anggota jamaahLDII
adalah berasal dari suku Jawa, hampirtidak
ada suku-sukulain
yang menjadi jamaahLDIL
Akan
tetapi,
pengurus organisasinya(LDII)
berasaldari
berbagaikelompok
suku, baikMelayu,
Minangkabau dan suku-suku lainnya yang ada di Kota Jambi.Setting Lokasi
Aktivitus
LDII
Kota Jambi
Pada saat
ini,
LDII
Kota
Jambi
memiliki
pondok
pesantrenyang terletak
di
KelurahanWijayapura
Kecamatan Jambi Selatan.Pondok
Pesantren beradakira-kira 6 km
dari
pusatKota
Jambi,terletak
di
tengah-tengahpemukiman
penduduk. Pesantrenini
disamping menjadi tempat belajar para santri, juga berfungsi sebagai
tempat pertemuan
(silatturrahmi)
parajamaah
LDII
yang
beradadi
dalam
dandi
sekitarKota
Jambi.
Di
tempatini,
sebagaimanalayaknya
pondok
pesantren,juga memiliki
asramabaik
untuksantri wanita maupun
laki-laki,
namun
keduanya
dipisahkan,baik
tempat aktivitas belajar
maupun tempat
pemondokannya.Akan
tetapi,
ketika
shalat, mereka melaksanakandi
masjid
yang sama sebagaimana layaknyamasjid
di
tempatlain. Namun,
yangagak berbeda dengan pesantren maupun
masjid
di
tengah-tengah masyarakat pada umumnya adalah fi gur imam. Di komplek pesantrenini,
meskipundia
beradadi
tengah-tengah pemukiman pendudukyang non- jamaah
LDII,
akan tetapi ulama yang bukan berasal darijamaahl-Dll
tidak boleh menjadi imam shalat pada masjid komplekLDII ini.
Sebaliknya, warga sekitar yang ingin melaksanakan shalatlima waktu
maupun
shalatJum'at tidak
menjadi
persoalan bagijamaah tetap
LDII.
Prinsip
dasarnya adalah bahwaorang
di
luarjamaah
LDII
tidak diperbolehkan menjadi imam di masjidkomplek
tersebut, namunjika
mau bermakmum denganimam
jamaahLDII,
makahal
tersebuttidak menjadi
persoalan bagi pengums maupunpara jamaah.
Menurut
salah seorang nara sumber yang rumahnyaberbatasan dengan pekarangan
komplek
pesantrenini
mengatakanbahwa bagi jamaah
LDII,
bermakmum kepada orang yang bukan termasuk jamaah atauimam
LDII,
maka shalatnya dianggap tidaksah (Wawancara, 13 Nopember 2006).
Realitas
ini
menggambarkanbahwa pada
dasarnya
terjadieksklusifitas kegiatan maupun paham keagamaan di kalanganjamaah
LDII
Kota Jambi secara sepihak terhadap anggotamasyarakatyang
non-jamaah
LDII,
terutama masyarakat sekitarnya. Mereka hanyamau
menerima masyarakat non-jamaahLDII
masukke
komplekpesantrren untuk melaksanakan shalat berjamaah dengan mengikuti imam mereka, tetapi tidak mau menerima atau bermakmum dengan
imam yang
berasal
dari
orang
di
luar
mereka.
Ketika
alasanpenolakan bermakmum kepada imam non-jamaah
LDII
ditanyakankepada para jamaah
LDII,
peneliti tidak
memperoleh jawabannya,mereka sangat
tertutup
ketika diajak
berdialog
tentang persoalan tersebut.Aktivitas
Sosial danRitual
JamaahLDII
Kota Jambi.Jamaah
LDII
Kota
Jambi
memiliki
kegiatan yang bervariasi,mulai dari kegiatan sosial sampai padakegiatanritual. Kegaitan sosial
jamaah
LDII ini
merupakan bagian terpenting dari seluruh kegiatanatau aktivitas
anggotajamaah.
Aktivitas
sosial
ini
diantaranya adalah kegiatan arisan yang berdimensi waktu singkat dan berjangkapanjang. Kegiatan sosial yang berjangka waktu singkat atau pendek
ini
adalah kegiatan arisan bulanan yang dilaksanakan satu bulan satukali
pertamuan atau putaran. Dalam kegiatan arisanini diikuti
oleh seluruh anggota jamaah. Setiap jamaah dapatikut
dalam beberapanomor. Setiap bulannya mengumpulkan uang sejumlah Rp. 50.000,-per orang atau momor, dansetiap bulannya nomor atau nama dicabut
sebanyak 10 rnomor atau nama. Setiap nama atau nomor yang keluar
namanya pada bulan yang bersangkutan menerima uang sejumlah
Rp.
1.000.000,- (satujuta
rupiah),
dan kepada setiap nama ataunomor yang keluar dipotong uang
sejumlahRp.
10.000 (sepuluhribu
rupiah) untuk uang kas dan pengelolaan orgnisasi arisan.Menurut
salah seorang anggota jamaah, pada dasamya arisanbulanan (yang berjangka pendek)
ini
adalah salah
satu
caramengumpulkan seluruh anggota
jamaah
agar mereka tetap datangsetiap pengajian bulanan diadakan. Dengan
adanya
kegiatanarisan tersebut,
para
anggotajamaah
merasa berkewajiban untukdatang meskipun dalam keadaaan yang sangat sibuk dengan urusan pekerjaan jamaah masing-masing sehari-hari, apalagi bagi jamaah
yang
sudah menerima
uang arisan pada awal kegiatan
arisandimulai.
Jadi dengandemikian,
pada dasarnya kegiatan arisanini
berdimensi sebagai wadah silaturrahmi, dan sekaligus
juga
sebagai wadah kegiatan ekonomi.Dalam
pelaksanaanarisan
bulanan
ini,
jamaah
perempuanselalu membawa makanan
dari
rumahnya masing-masing. Setelahdiadakan acara arrsan dan ceramah keagamaan
dilanjutkan
dengan acara makanbersama, dengan cara saling menukar dan ataumencicipi
makanan jamaah yang lain, sebagai wujud dari persaudaraansesama jamaah
LDII.
Kemudian, arisan yang berdimensi jangka panjang atau tahunan adalah arisan atau tabung haji.
Arisan
ini
bertujuan untuk memberikemudahan bagi setiap jamaah
LDII
untuk menunaikan ibadah hajike
Mekkah.Arisan
ini
tidak diikuti
oleh
seluruh anggota jamaah,melainkan
diikuti
oleh sebagian jamaah, dantidak
ada aturan yangmewcajibkan
dalam kegiatan arisan
ini.
Keikutsertaan
jamaahdalam
arisamini
hanya
bersifat
sukarela, terutamabagi
jamaahyang
memiliki
tingkat
ekonomi yang sudah mapan. Arisan jangka panjangini
tidak
menutup
kesempatanbagi jamaah
yang
secaraekonomi kurang mampu namun mennpunyai keinginan yang kuat
untuk menunaikan ibadah haji. Antrian melaksanakan ibadah haji
ini
tidak
ditentukan dengan cara undian seperti halnya arisan bulanan, akan tetapi ditentukan olehtingkat
lama tidaknyamengikuti
arisan sertatingkat
umur
para jamaahyang
tergabungdalam
arisanini.
Kemudian,
jumlah
uang yang disetor
kepada pengelola
tidakditentukan, melainkan sesuai dengan kemampuan para anggota. Oleh sebab
itu,
antriannaik
haji
juga
ditentukanjumlah
besar kecilnyasumbangan jamaah dalam setiap bulannya.
Adapun
kegiatanritual
keagamaan jamaahLDII
Kota
Jambiterdiri
dari
kegiatan
mingguan dan
bulanan. Kegiatan
tersebut berupa pengajianbaik
yang dilaksanakan pada sianghari
maupun pada malam hari. Kegiatan pengajian sianghari
dilaksanakan pada setiaphari minggu,
sementara pengajian malamhari
dilaksanakanpada
setiaphari Kamis
malam
Jumat.Kedua
pengajian tersebutselalu
diisi
dengan ceramahdan
pengkajian masalah keagamaanyang dipandu oleh
pengumsdan
sesepuh anggotajamaah
LDII.
Selaindiisi
dengan ceramah dan pengkajian masalah keagamaan,pada malam-malam
Jumat
tertentu,juga
diadakan kegiatanzikir
bersama, yang
juga
dipaimdu oleh salah seorang pengurusLDII.
Sedangkan
kegiatan pengajian
bulanan
dilaksanakan
diminggu terakhir
setiap bulannya. Pada kegiatan pengajianini,
disamping
diisi
dengan ceramahdan dialog
masalah keagamaan,juga
disandingkan dengan kegiatan arisan,baik
arisan sosial yang uangnya dapatditerima
langsungoleh
anggota pengajian, maupun arisain haji yang penerimanya ditentukan sekali setahun. Arisan hajiini,
di
samping sebagai apayauntuk mencapai tujuan melaksanakan ibadah haji ke Mekkah, juga bermakna sebagai sikap solidaritas dankerjasama yang dibangun
di
atas niat ikhlas untuk saling membantusesama jamaah
LDII.
Karena dengankondisi
ekonomi yangrelatif
sama,
yakni
pada
taraf eknomi
menengahke
bawah,
sehinggasulit
untuk
dapat melaksanakan ibadahhaji
secara sendiri-sendiri. Maka, dengan kebersamaan itulah mereka dapat meraih kesempatan melaksanakan ibadahhaji ke
tanah suciMekkah,
meskipun harus menunggu giliran.Bagi
jamaah
LDII,
dengancara
arisanhaji
tersebut, merekamendapat dua pahala,
yakni
pahala menunaikan ibadahhaji
sertapahala membantu orang
yang
akan melaksanakan ibadahhaji itu
sendiri. Dengan dua alasan inilah mereka mempunyai motivasi yangi
kuat untuk masuk dalam arisan
haji
tersebut.Pola
Interaksi
SesamaJamaah
LDII
Kota
Jambi
Sebagaimana
telah
disinggung pada
pembahasan terdahulu,bahwa
interaksi
sosial rmerupakan salah satu proses sosial, setiap ada pertemuan antara dua orang atau kelompok yang berbeda maka akan terjadi interaksi. Bentuk interaksi sosial dapat berupa kerjasama, persaingan, dan bahkan pertikanan(konflik),
tetapi biasanyakonflik
mendapatkan penyelesaian,walaupun
kadangkalahanya
bersifat sementara,yaitu
dalam bentuk
akomodasi,
begitu
juga
halnyadengan jamaah
LDII
Kota
Jambi, Dalam kegiatan interaksi jamaahLDII
dapat dikategorikan ke dalam interaksi dengan sesama anggotajamaah
LDII
dan dengan warga sekitar komplekLDII.
Kompetisi.Sebagaimana telah disinggung
di
atas, bahwa salah satu muatandari
interaksi adalah terjadinya kompetsisi atau
perlombaan. Berdasarkan wawancara dan pengamatan,baik
di
lokasi penelitian(komplek)
pondok pesantrenLDII
Kota
Jambi, maupundi
tempat para jamaahLDII
berdomisili,
tergambar adanya persaiangan antara sesama anggotajamaah
LDII,
terutama dalam konotasi positif,
mi salnya masin g-masing ang go ta j amaah b erus aha untuk memb ayararisan
haji
denganjumlah
yang
besar.Begitu
juga
dalam
arisanbulanan, setiap anggota jamaah berusaha menyisihkan uang yang
diterima
dari
setiap arisanuntuk
dimasukkanke
dalamkas
serta kotak amal yang disediakan, baik untuk pembangunan sarana ibadah,pendidikan dan sosial lainnya.
Begitujugahalnya
dalam urusan ibadah, masing-masingjamaahLDII
berusahauntuk
melaksanakanibadah
secara berjamaah dikomplek pondok
pesantren
LDII,
meskipun mereka
bertempattinggal
jauh dari komplek
tersebut.
Selanjutnya,kompetisi
atauberlomba-lomba dalam berbuat baik
juga
dapat disaksikan padakegiatan-kegiatan penggalangan dana,
baik untuk
pembangunantempat ibadah mauipun
sarana pendidikan.
Mereka
saling berlombauntuk
mernyumbanglebih
banyak darijamaah
lainnya. Faktaini
didapatoleh
peneliti
pada saatikut
berpartisipasi dalampenggalangan
dana untuk
menambah
lokal
belajar
di
pondok pesantrenLDII.
Kegaitan
penggalangandana
ini
dilaksanakanpada
hari
jumat, yakni
setelah selesai pelaksanaan shalatjumat.
Kegiatan
tersebut seperti pasar
lelang,
setiap peserta
fiamaah)silih
berganti
menawarkan sumbangannya, dan mereka berusahauntuk
menyumbang
lebih besar dan
jamaahlainnya.
Sehinggasetiap ada
informasi
kegiatan penggalangan dana selalu dinantikanoleh
setiapjamaah.
Motivasi
ini,
di
samping
dilatarbelakangioleh
keinginan memperoleh pahala
di
sisi
Tuhan,juga
sebagaiperwujudan
dari
kesetiaanpara
jamaah terhadapkelompok
danpemimpin
kelompoknya.Selanjutnya,
kompetisi
juga terlihat
padapara
jamaahyang
memiliki
anak,
di
mana
jamaahyang lain
akan
merasairi
bila
melihatjamaahyang
lainnya selalu membawa keluarga pada setiap acara pengajian. Jikajamaah yang
lain
membawakeluarga
pada setiap kegiatan sosial maupun keagamaan, maka cenderung akandiikuti
oleh jamaah yang lain.Kerjasama.
Bentuk
interaksi
selanjutnya
adalah
kerjasama.
Dalam kehidupan organisasi maupun jamaahLDII
Kota Jambi, kerjasamamerupakan
bagian
integral
dari
seluruh
aktivitas
jamaahLDII,
dan
merupakan dasar
dari
seluruh
nadi
kehidupan
oraganisasi maupun jamaahLDII.
Seluruh kegiatan yang ada dalam organisasi maupun jamaahLDII
diilhami
oleh semangat kerjasama, misalnyat07
membangun
masjid
adalahhasil
dari
sumbanganpara
pengurusorganisasi
danjamaah
LDII,,
begitu
juga
halnya
pembangunanpondok pesantren.
Semangat
kerjasama
bagi
mereka
tidak
hanya
disebabkanoleh
spirit
keagamaanyang
menganjurkan agar
umat
manusiasaling
Bantu-membantu, terutama
sesamaumat
muslim,
tetapijuga
dilatarbelakangi
oleh spirit
kesukuan,di
mana seperti telahdijelaskan
bawahjamaah
LDII
yang
sebagian besar berasal darisuku
Jawa, membawa dampak terhadap
semangatuntuk
salingtolong menolong
antara sesame,terutama
sahabatatau
kerabatdekat yang sedang dalam keadaan kesulitan.
Gambaran
kongkrit
kerjasama antara sesama anggota jamaahLDII
adalahberupa
arisanbulanan dan
arisanhaji. Arisan
yangterakhir
ini
merupakanbentuk kerjasama yang
tidak
ada dalamwadah organisasi manapun di
Kota
Jambi. Arisanhaji
ini
menuntut setiap anggotajamaah
LDII
untuk
bisa bersabar dantidak
iri
hatikepada sesama anggota jamaah yang
lebih
dahulu mendapatjatah
memunaikan ibadah
haji
atau umroh.Kerjasama antar sesama jamaah
LDII
Kota
Jambitidak
hanya terbatas padaaktivitas
organisasi dan kegiatan keagamaan jamaahLDIII
saja,tetapi kerjasama juga
sampai padakehidupan
sosialsehari-hari.
Misalnya
bila
salah
satujamaah
mendapat musibah berupa musibah kematian, maka jamaah yanglain
ikut
membantumeringankan
segalamusibah yang
dialami
olehjamaah
lainnya.Kepedulian
atau solidaritas sesama jamaahLDII
juga ditunjukkan
ketika
salah
seorang anggota mempunyai
hajatan,
sepertipernikahan, khitanan
dan lainnya,
maka anggota jamaah
selalumendatangi
hajatan
yang
diadakan
oleh
kerabat
sesama jamaahtersebut,
yang
diikuti
dengan pemberian
sedekahdan
bantuan terhadap jamaah yang mempunyai hajatan itu.Kerjasama
antar
sesama anggotajamaah
ini
pada
dasarnyatidak diatur
oleh organisasi, akantetapi
ikatan solidaritasini
lahir
secara spontan sebagai
akibat
dari
lamanyaterjadi
pergaulan daninteraksi yang baik antar sesama jamaah selama
mengikuti aktivitas
organisasi
dan
pengajian
jamaah, yang
pada
akhirnya
menjadi solidartias sosial antar sesama kelompok.Konflik
dan Prssungka Sosial.Konflik
atau pertentangan merupakan salah satu proses sosial sebagaiakibat
adanyainteraksi sosial
antara berbagai kelompokmaupun
individu.
Konflik
dapatterjadi
secaraterbuka
danjuga
dapat
terjadi
secara tersembunyi (laten). Sementaraitu,
prasangkasosial adalah proses
penilaian
atau persepsi suatukelompok
atauindividu
terhadapkelompok
atauindividu
lainnya,
tanpa terlebih dahulu mengenallebih
dekatkelompok
atauindividu
yang diberi penilaian. Persepsi atau penilaian tersebut pada umumnya bercoraknegatif,
sehingga prasangka sosial dapat merusak hubungan sosial antarindiwidu
dalam masyarakat.Di
kalanganjamaah
LDII
Kota
Jambi, pada dasamyakonflik
terbuka
tidak
pernah te4'adi.
Hal
ini
disebabkanoleh
landasankeorganisasian
LDII
dan
keikutsertaanjamaah dalam
kelompokpengajian maupun dalam organisasi bersifat suka rela serta dilandasi oleh spirit k eagamaan,sehingga konfl ik terbuka tidak mungkin terj adi
antar
sesama jamaahLDII,
hal
ini
sebagaimana ungkapkan oleh seorang responden dan diiyakan oleh yang lainnya: "Kami merasakan keberadaan kami dalam jamaahLDII
ini
lebih dari sekedar anggotajamaah,
tetapi terasa sama dengan saudara sendiri, yang namanyasaudara rasanya
tidak
mungkin
terlibat
dalam perseteruanyang
berujung padapertikaian"
(Wawancara,I3 Nopember 2006).Dengan dilandasi
oleh
semangat kekeluargaaninilah,
makasegala
sesuatuyang menjurus
kepada
pertikaian
tidak
pemah teq'adi. Kalaupuan ada,tidak
akan dibiarkan berkembang menjadipertikaian
yang berujung pada
perpecahan.Namun
demikian,konflik
laten (tersembunyi) pada dasamya tetap ada.Akan
tetapi, karenabegitu
rapatnyakontrol
kebersamaan dalam keberagamaankonflik
laten dapat dihilangkan.Konflik
latenini
umuimnya terjadidijajaran pengurus organisasi
LDII,
yaknikonflik
kepentingan untukmemperoleh posisi dalam struktur organisasi
LDII.
Di
kalangan
jamaah
LDII,
konflik
laten
terjadi pada
saatpenentuan
siapa
di
antarajamaah yang
mendapat
kesempatanmenunaikan ibadah
haji
pada tahun yang bersangkutan. Pasa saatitu
ada rasa cemburu(dalam
artian negative)di
kalangan sasamajamaah terhadap
jamaah yang
terpilih
menjadi
calon jamaah hajiyang akan diberangkatkan atas biaya arisan tersebut. Namun,
konflik
laten
tersebuttidak
muncul
ke
permukaan yang disebabkan oleh landasan keikutsertaandalam
berjamaahyang
disandarkan pada kesadaran sendiri akan rasa keimanan kepada Tuhan, di mana setiapperistiwa yang terjadi dan
dialami
manusiadi
duniaini
berasal dariTuhan, termasuk peluang atau kesempatan menunaikan ibadah haji.
Hal
ini
sejalan dengan ungkapan seorang jamaah wanita dandiikuti
oleh jamaah yang
lain
dalam sebuah Focus GroupDiscution
(FGD)dengan pen eliti: " Saya rasanya
iri
melihat kerabat kami telah duluan mendapat kesempatannaik
haji
dari fasilitas
jamaah, tapi
untukapa terus-terusan
iri
dengan orang lain yang beruntung, tohiri
hati
itu
tidak
baik, dapat merusakibadah"
(Wawancara dalamFGD,
14Nopember 2006).
Kemudian, salah seorang jamaah
laki-laki
mengatakan:"untuk
apa
iri
hati
dengan kawanyang
duluan mendapatkanjatah
ibadahhaji,
itu
kan
sudah
nasib dan rizkinya,
lebih baik
mendoakan semoga dia selamatpergi
dan selamat pulang, dan mudah-mudahankita
dapat menyusul tahunberikutnya"
(Wawancara dalamFGD,
14Nopember 2004).
Kedua petikan
wawancaraini
melambangkan bahwa,konflik
laten antar sesama jamaah
LDII
pada dasamya tetap ada, akan tetapi dapat diredam sendiri oleh masing-masing yangberkonflik
denganbantuan semangat kebersamaan dan keberagamaan yang terangkul
dalam wadah organisasi
LDII.
Selanjutnya,
di
antara sesama jamaahLDII
maupun pengurus orgamisasiLDII
tidak terdapat prasangka sosial. Halini
disebabkan karena antar mereka telah terjadijalinan
yang sangat erat dan dekat, sehimgga mereka dapatsaling
mengenal antarapribadi yang
satu dengan yang lainnya.Akibatnya
prasyarat (belum mengenal secara dekat) untuk terjadi prasangka sosial tidak terpenuhi, dan berikutnya tidak tidak terjadidiskriminasi
antarindividu
dalam kelompok.Interaksi
denganMasyarakat Sekitar
Sebagaimana
telah
dipaparkan,muatan interaksi sosial
antar sesama jamaahLDII
meliputi;
kompetisi
(perlombaan), keq'asama,konflik,
dan prasangka sosial. Selanjutnya dalam bingkai kehidupan bermasyarakat, salah satu hal terpenting dari kehidupan umat manusia adalah terjadinya integrasi. Integrasi merupakan wadah kehidupansosial
yang lebih luas yang
diisi
oleh
berbagaikelompok,
baik kelompok yang didasarkan pada keyakinan, maupun kelompok yang didasarkan pada ideologi serta kelompok yang didasarkan pada suku.Integrasi merupakan syarat mutlak untuk berdirinya masyarakat yang kuat yang akan menopang kehidupan berbangsa dan bemegara.
Berikut
ini
akan dijjelaskan bagaimana pola interaksi sosial jamaahLDII
dengan masyarakatdi
sekitar pondok pesantrenLDII
yangdijadikan tempat berkumpulnya jamaah
LDII
Kota Jambi.Kompetisi
Dalam kehidupan sehari-hari,
anlarajamaah
LDII
denganmasyarakat sekitar
komplek pondok
pesantrenLDII
tidak terjalin
hubungan yang intens. Halini
disebabkan karena jamaahLDII
yang datang ketika pengajianrutin
diadakan maupun jamaahLDII
yangtinggal
sebagai pengasuh pengajian dan pembina pesantren tinggal menjalankanaktivitasnya
di
dalam komplek yang
agak tertutup, sehingga masyarakat sekitar bisa masuk ke lokasi pesantren pada saatmereka
ingin
melaksanakan shalat berjamaahdi
masjid
pesantren,itupun tidak seluruhnya masyarakat mau
ikut
serta shalat berjamaah di masjid pesantren tersebut. Halini
sebagaimana telah disampaikan oleh salah seorang ketua RT di sekiitar lingkungan pesantren: "Wargasekitar komplek
LDII
ini
sebagian kecil sajayang
mauikut
shalatdi
masjidLDII
ini,
sebagian besamya shalatdi
masjidyang
adadi
sekitar
Persijam
ini,
dan bahkan ada yang shalat Jumatdi
masjidNurus s a' adah Sukorej
o"
(Waw ancara, 1 0 Nopemb er 2006).Masyarakat sekitar komplek
LDII
yang rutin mendatangi masjiddi
dalamkomplek ketika
shalatlima
waktu pada umumnya adalahpara Lansia,
baik laki-laki
maupun wanita.Hal
ini
sesuai denganhasil observasi partisipasi peneliti pada waktu shalat Ashar, di mana seluruh jamaah shalat Ashar yang berasal dafr warga sekitar adalah
para
oralng tua
kira-kira
berusia
antara65
-
70
tahun, sementarajamaah yang tergolong
relatif
muda seluruhnya berasaldari
dalamkomplek
pesantren,yang
terdiri
dari
para santri dan pengasuhnya (Observasi Partisipasi, 30 Oktober 2006).Ketika
ditanya alasan mengapa hanya orang-orang warga lanjut usia yangikut
shalat berjamaahdi
masjid
LDII
tersebut, seorangkakek menjawab:
"Kami ini
sudah tua,jadi
tidak mungkin sangguppergi
ke masjjid yangjauh,
danbagi
kami semua masjiditu
sama, semuanya rumahAllah,
jadi
tidakperiu
dibeda-bedakan, apalagibagi
kami
yang
sudah
tua
ini,
yang
penting
shalat.
Apalagi di
sini
shalat
berjamaah dilaksanakan setiaplima
waktu,jadi
di
sini
sajalah"
(Wawancara, 30 Oktober 2006).Jadi, dengan
kondisi
sosial dan lingkungan seperti disebutkan diatas, maka intensitas pergaulan antarawarga sekitar dengan jamaah
LDIII
tidak terjadi
dengan intens, sehingga kompetisi hampir tidak terjadi. Namun, dalam hal membangun rumah ibadah pada dasarnyaterjadi
kompetisi,hal
ini
terjadi
sebagai akibat penolakan sebagian besar warga sekitar untuk bersama-sama berj amaah di dalam komplekLDII.
Akibatnya warga
sekitar berusaha membangun langgar danmushalla
di
RT
masing-masing
secarabergotong
royong,
sertaberupaya membuat
langgar dan
mushalla tersebutlebih
semarak melaksanakan ibadah shalat berjamaah untuk menandingi kegiatan keagamaandi
masjjid komplek
LDII.
Dengan demikianjadi
dapatdiungkapkan
bahwa kompetisi
secara
personal
antara jamaahLDII
dengan warga sekitartidak
te{adi,
tetapi yangterjadi
adalahkompetisi secara kelompok.
Kerjasama.
Manusia
adalahmakhluk
sosial,
oleh
sebabitu
memerlukankerjasama dengan orang lain dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Secara sosial ke4'asama
memiliki
dimensi dan bidang yang sangatluas
diantaranyaekonomi,
politik,
dan ideologi.
Secara ekonomiorang
membutuhkan
orang
lain
dalam
pemenuhan
kebutuhan dasamya, karenaketika
seseorang membutuhkan daging, maka ia harusmembelinya
dengan pedagangdaging.
Begitu pula
dalambidang
politik,
seorangindividu
membutuhkanorang
lain
dalamrangka menuju tampuk
kekuasaanpolitis,
dan
seseorangjuga
membutuhkan orang lain ketikaingin
mengembangkan ideloginya.Antara jamaah
LDII
dengan warga sekitarnya, selamaini
tidakpemah terjadi kerjasama langsung. Hal ini disebabkan karena kondisi
komplek
LDII
yang
terkesantertutup,
sehinggauntuk
terjadinya interaksi sosial yangwajar
antara kedua kelompokitu
sulit
terjadi,sehingga kerjasama sulit terjadi.
Namun demikian, keq'asama secara tidak langsung tetap terjadi,
hal
ini
terjadi
dalam urusanjual beli
kebutuhanhidup
sehari-hari.Misalnya, jamaah
sertasantri
pesantrenLDII
yang bermukim
dikomplek
LDII
tetap
melakukan transaksijual beli
seperli
sayur-sayuran dengan warga sekitar yang membuka warungdi
rumahnya.Hal
ini
sesuai dengan ungkapan seorangibu
rumah
tangga yangmembuka warung di rumahnya serta hasil observasi
peneliti,"Anak-anak pesantren dalam komplekLDII
setiappaginya
belanjadi
toko kamiinilah,
tapi kalau tidak belanja mereka tidakpemah main-mainkeluar
di
luar
komplek pesantren,apolagi
duduk-dudukdi
sekitartoko
ini"
(Wawancara, 30 Oktober 2006).Hasil
obervasi dan wawancaradi
atas mengagambarkan bahwa karena situasi lingkungankomplekLDII
yang cenderung tertutup serta sikap jamaahnya yangjuga
tertutup, maka dapat ditegaskan bahwa kerjasama antarawarga sekitar dengan jamaahLDII
yang bermukimdi
dalam komplekLDII
tidak terjadi dengan baik. Kerjasama hanyabersifat
tidak
langsung. Kerjasama langsunghampir tidak
pemahterjadi.
Konflik.
Konflik
atau
pertentanganpada
dasarnyaselalu
mengiringisetiap
adanyainteraksi sosial antar kelompok.
Konflik
biasanyateq'adi
karena
adanya perbedaan kepentingandi
antara kelompokatau
individu.
Namun demikian,tidak
semuakonflik
menghasilkanpertikaian,
ada jugakonflik
(pertentangan) yang menghasilkan hal yangpositif.
Di kalanganjamaah
LDII
dan warga sekitarnya, selama ini belumperah
terjadi
konflik
terbuka atau dalam bentuk pertentangan fisik..Namun demikian, ketika jamaah
LDII
belum
memiliki
komplekkhusus seperli saat ini,
konflik
fisik hampir terjadi yaitu ketika mereka masih menumpangdi
salah satu langgardi
wilayah kelurahan PasirPutih. Namun,
konflik itu
berhasil diredam olehtokoh
masyarakatdi sekitar langgar tersebut. Alasan inilah yang menyebabkan mereka pindah ke wilayah kelurahan Wijayapura saat
ini.
Di tempat yang mereka tempati saat ini.
konflik
seperti di wilayah PasirPutih
sebelumnya memangbelum
pernahterjadi,
namun diawal-awal
mereka menempatikomplek
ini,
pernahterjadi
proteswarga sekitar terhadap
jamaahLDII.
Hal
ini
disebabkan karenajamaah
LDII
sering melakukanwirid
hingga larut malam
dengan memakai alat pengeras suara, sehingga sebagian warga terutam a y angmemiliki
anakkecil
merasa terganggu dengan alat pengeras suara tersebut. Maka, secara bersama-sama dan didampingi oleh ketua RT,mereka mendatangi
komplek
LDII
untuk
memprotes penggunaan alat pengeras suara untukwirid
yang hingga larut malam.Setelah mengadakan pertemuan itu, lalu jamaah
LDII jika
ingim
melakukan
wirid
padamalam
hari tidak
diperbolehkan memakai alat pengeras suara.Hal
ini
dikuatkan oleh keterangan salah seorang ketua RTdi
sekitarkomplek
LDII:
"Dulu,
ketika orang-orangLDII
ini
baru pindah dari Pasir Putih, memang ada warga yang keberatan dengan keberadaan mereka, apalagijika
mereka berkumpul untukwirid
hinggalarut
malam, apalagi dengan memakai pengeras suara, sehingga warga sini merasa terganggu, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka merekasayafasilitasi
untuk bertemu.Dalam pertemuan
itu
disepakati,jika
jamaah
LDII
melakkanwirid
hingga
larut
malam,
tidak
boleh
memakaialat
pengeras suara"
fWawancara, 3 Nopember 2006].Setelah
peristiwa
tersebut,hingga
saattidak
adalagi
proteswarga terhadap keberadaan jamaah
LDII
dan aktivitasnya, namundemikian di antaira mereka terlihat saling acuh, tidak mempedulikan
apa aktivitas mereka masing-masing.
Hal
ini
terutama diperlihatkanoleh warga sekitar terhadap jamaah
LDII.
Prasangka Sosial dunIntegrasi.
Sebagaimana
telah
disinggung dalam
landasanterori
bahwa prasangka sosial adalah pemberian gambaran tentang sifat-sifat atau watak dari kelompok tertentu oleh kelompok lainnya, tanpa mengenal lebih mendalam atau belum memperoleh informasi yang utuh tentang anggota kelompok tersebut, namun telah mempersepsikan sifat-sifatatau
watak kelompok
itu.
Prasangka sosial dapatberisi
yang baik apabiladitujukan
kepadaikelompk sendiri
(in group),
sedangkan kebanyakan prasangka terhadapkelompok
lain
(out group)
dalam corak yang negatif(Horton
danHunt,
1992).Dalam kehidupan kelompok sosial warga sekitar dengan j amaah
LDII
Kota Jambi, terdapat prasangka sosial terurama warga sekitarterhadap
jamaahLDII
yang
menghuni pondok
pesantrenLDII.
Prasangka
sosial
ini
diduga
disebabkan intensitasinteraksi
yangkurang intens
yaing
disebabkan karenatidak
membaurnya jamaahdan penghuni
pesantren
LDII
dengan
warga sekitar,
sehinggaberpeluang
terjadinya
prasangjka
sosial dalam
bentuk
negatif
terhadap jamaah dan menghuni pesantrenLDII.
Selain rendahnya intensitas
pergaulan, prasangkan
sosial yangditujukan
kepada jamaahLDII
juga
disebabkandoktrin
yangditerima oleh j amaah
LDII,
b ahwa b ermakmum shalat dengan warga sekitaryang bukan
jamaahLDII
maka
shalatnya dianggap tidaksah, telah melahirkan bukan hanya sekedar prasangka sosial tetapi
juga
sikap penolakan warga
terhadapjamaah
LDII.
Akibatnya,antara
warga sekitar
dengan jamaahLDII
mampunyai prasangkasosial
terhadapkelompok
masing-masing.Hal
ini
sebagaimanadijelaskan
oleh
seorang responden'."Orang
LDII
itu
tidak
maushalat berjamaah dengan kami, warga di sini,
jika
imamnya bukan orangLDII.
P adahal kami tidak mempermasalahkan imamnya mau berasaldari
mana,jadi
warga
di sini
beranggapanbaltwa
orangLDII
itu
menganggap kamidi
sini
bukanmuslim"
(Wawancara,27 Oktober 20061.Dengan
adanya
prasangka
sosial,
apalagr
sama-samaberprasangka
sosial,
maka jarak sosial
antarakedua
kelompokini
semakinjauh.
Di
samping semakin jauhnyajarak
sosial antarakeompok-kelompok
yang
berprasangka,prasangka sosial juga
dapat
menjadi pemicu timbulnya
konflik
terbuka,yang
sewaktu-waktu dapat muncul
ke
permukaan.
Kondisi
ini
sangat
tidakmenguntungkan bagi usaha membangun integrasi masyarakat, tidak
bisa dibiarkan
berlarut-lamt
danmenjadi
api
dalam
sekam yangsewaktu-waktu dalam membesar. Untuk rmenghindari hal tersebut,
harus
adaupaya
dari
kedua kelompok
untuk
dapatbergaul
dansaling menyelami
dan memahamikultur tradisi
masing-imasing.Dengan memahami
kultur
masing-masingkelompok
tersebut akan dapat mengurangi prasangka sosial, sehingga potensikonflik
bisahilang,
dan upayamenjadi
masyarakat Indonesia yang terintegrasiakan dapat diwujudkan.
PENUTUP
Kesimpulan.
Berdasarkan
temuan
penelitian yang telah diuraikan,
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Antar sesama jamaah dan pengurus organisasiLDII
telah terjadi perlombaan (kompetisi) dalam artianpositif,
baikdi
lingkungan perkumpulan maupun dalam arenakehidupan
di
luar
aktivitas jamaah dan organisasiLDII.
Kerjasamaantar
sesama anggotajamaah
dan
pengurusLDII
telah
terjalin
denganbaik, baik
di
dalam kehidupan organisasi dan jamaahLDII
maupun dalam kehidupan sosial pada umumnya. Sesama anggotajamaah pengajian
LDII
pada dasarnyatidak terjadi
konflik,
apalagikonflik
terbuka.Namun
konflik
latentetap
ada, akantetapi
dapat dihilangkan dengan semangat berorganisasi dan semangat keagamaanyang diajarkan
melalui doktrin-doktrin
keagamaanjamaah
LDII.
Dengan warga sekitar te4'adi kompetisi, terirtama kompetisi tersebut
berasal
dari kelompok warga
sekitar.
Ke4'asama dengan warga sekitar hanya sebatas kerjasamatidak
langsung, misalnya dalam haljual
beli.
Pernahterjadi
konflik
dengan warga sekitar namun dapatdiselesaikan
melalui
akmodasi, namun
dari pihak
warga
sekitar masih mempunyai prasangka sosial terhadap jamaahLDII.
Rekomendasi
Berdasarkan
kesimpulan
sebagai mana disebutkan, makahal-hal
yang
perlu
direkomendasikanadalah
sebagaiberikut:
Bagijamaah
LDII,
agar membukadiri
danproaktif
untuk
berinteraksisecara
intens
denganwarga
sekitarkomplek.
Bagi
warga
sekitarkomplek
LDII,
agar dapat memahami keyakinan seseorang dalammenjalankan
praktek
ibadahnya sehari-hari. Kepada
pemerintahdaerah
dan
departemenagamq
agar
dapat mernperhatikan atau mengelola potensikonflik
negatifini
menjadi sesuatu yangpositif.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,
Suharsimi, Manajemen
Penelitian,
Jakarta:P2lPTK,
t993
Bogdan, Robert and Steven J. Taylor, Pengantar Metode Penelitian
Kualitatif,
Suatu
PendekatanFenomenologis terhadap
llmuSosial, terj.
Arief
Furchan, Surabaya: Usaha Nasional, 1992Faisal, Sanafiah,
Penelitian
Kualitatif:
Dasar-Dasar
dan Aplikasi, Malang: Yayasan Asah AsihAsuh,
1 990Manan, Mahmud, Pokok-Pokok
Ajaran
Islam Jamaah, Jambi: PusatPenelitian
IAIN
STS Jambi, 1980Muhajir, Noeng, Metodologi Penelitian
Kualitatif,
Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990Spradley, J.P.,
Participant
Interview, NewYork: Holt,
Reinhart andWinston, 1980