ANALISIS ISTILAH BAHASA ARAB
DALAM BANK SYARIAH
SKRIPSI SARJANA D
I S U N OLEH :
RAHMATSYAH PUTRA 050704004
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS SASTRA
PROGRAM STUDI BAHASA ARAB
MEDAN
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : Analisis Istilah Bahasa Arab dalam Bank Syariah
Nama : Rahmatsyah Putra
Nim : 050704004
Program studi : Bahasa Arab S1
Disetujui Oleh,
Drs.Aminullah M.A.,Ph.D
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Mahmud Khudri, M.Hum
Mengetahui,
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbi al-‘ālamīn penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas segala karunia dan rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini sebagaimana yang ada di hadapan pembaca.
Shalawat dan salam juga penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, seorang tokoh revolusioner dunia yang memiliki akhlak
Al-Qur’an sehingga menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.
Skripsi ini berjudul “Analisis Istilah Bahasa Arab dalam Bank
Syariah”. Penulis tertarik memilih judul ini karena pada masa sekarang ini perkembangan perbankan syariah di Indonesia cukup menggembirakan.
Kebutuhan masyarakat untuk menggunakan jasa perbankan syariah dari tahun ke
tahun cukup signifikan, sehingga masyarakat dihadapkan kepada istilah-istilah
perbankan Islam yang sebagian besar menggunakan bahasa Arab. Skripsi ini
diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana
Sastra (S.S) pada Program Studi Bahasa Arab, Fakultas Sastra, Universitas
Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, penulis memohon saran dan
kritik yang konstruktif dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.
Medan, Juni 2010
UCAPAN TERIMA KASIH
Berkat ridho dan rahmat Allah SWT, penulis banyak mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu,
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Teristimewa kedua orangtua tercinta, Ayahanda Baharuddin Ahmad,SH
dan Ibunda Rusminah,S.Ag yang telah mengasuh, mendidik, dan selalu
mendoakan penulis hingga penulis menyelesaikan pendidikannya di
perguruan tinggi. Hanya doa yang dapat penulis berikan sebagai balasan
atas ketulusan dan keikhlasan yang tiada terhingga. “Allahumma igfir
żunūba humā wa arhamhumā kamā rabbayanī șagīran, amin”
2. Bapak Prof. Syaifuddin,M.A.,Ph.D selaku Dekan Fakultas Sastra,
Universitas Sumatera Utara beserta Pembantu Dekan I, II, dan III.
3. Ibu Dra. Khairawati, M.A.,Ph.D selaku Ketua Program Studi Bahasa
Arab, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Mahmud Khudri, M.Hum selaku Sekretaris Program Studi
Bahasa Arab, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.
5. Drs.Aminullah M.A.,Ph.D selaku Dosen Pembimbing I dan Drs.
Mahmud Khudri, M.Hum selaku Dosen Pembimbing II yang dengan
ikhlas telah rela meluangkan waktu dan pikirannya sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.
6. Bapak Alm.Prof.Dr.Marjuni Rangkuti,MA selaku Penasehat Akademik
yang telah memberikan berbagai nasehat dalam rutinitas penulis
menjalani kegiatan perkuliahan di Program Studi Bahasa Arab, Fakultas
Sastra, Universitas Sumatera Utara ini, semoga amal ibadahnya diterima
di sisi Allah SWT.
7. Seluruh staf pengajar Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara,
khususnya staf pengajar di Program Studi Bahasa Arab, Fakultas Sastra,
Universitas Sumatera Utara yang telah menambah wawasan penulis
selama masa perkuliahan serta bang Andika sebagai staf tata usaha di
8. Teman-teman stambuk ’05 (Boim, Dawie, Faisal, Fauzi, Habibi, Hafizh,
Izala, Lubis, Mukhlis, Novri, Zuber, Surya, Amah, Ape, Aqmalia, , Elly,
Fitra, Fitri, Hafni, Kak Syam, Lira, Mbak Linda, Puteri, Qie_Qie, Reje,
Sanah, Tini, Yunita. (Jazakumullahu khairan katsiran yach…)
9. Kakanda-kakanda Alumni dan teman-teman di Ikatan Mahasiswa
Bahasa Arab (IMBA) Fakultas Sastra USU, serta adik-adik stambuk
’07-’09 (tetap semangat yach kuliahnya..!)
10.Kawan-kawan seperjuangan Himpunan Mahasiswa Islam terkhusus HMI
Komisariat Fakultas Sastra USU Ketua Umum Dedy Rahmat Sitinjak,
Zulfan Lubis,SS. Kakanda Ansor Harahap,Amd. Izala Abdillah, Sri
Apediani, beserta kakanda Alumni Junaidi, Eko Maulizar,SE, Budi
Alimuddin,SS, dll.
11.Kawan-kawan seperjuangan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang
Medan Dedy Andika (Ketua Umum), Putra Halaomoan, SH, Irwansyah
Nasution, SH, Edi Gunawan,SH,Iwat Banget dll.
12.Sahabat-sahabatku tersayang dan tercinta : Faisal Arbi (syukran y sal
atas pengajarannya) Ahmad Fauzi & Putra Halomoan Hasibuan (syukran
ya penginapan gratisnya coy) Izala Abdillah, Ahmad Zuber,SS,
13.Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu tetapi telah
memberikan bantuan yang tidak terhingga kepada penulis. Syukran
Katsiran.
Terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan semoga Allah SWT
akan membalas semua kebaikan yang telah dilakukan.
Medan, Juni 2010
PEDOMAN TRANSLITERASI
Transliterasi yang digunakan dalam skripsi ini adalah Pedoman Transliterasi berdasarkan SK Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.158 tahun 1987 dan No. 0543b /U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.
A. Konsonan
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama
Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan
Ba b Be
Ta t Te
Sa ś Es (dengan titik di atas)
Jim j Je
Ha ḥ Ha (dengan titik di bawah)
Kha kh Ka dan ha
Dal d De
Zal ż Zet (dengan titik di atas)
Ra r Er
Zai z Zet
Sin s Es
Syin sy Es dan ye
Dad ḍ De (dengan titik di bawah)
Ta ṭ Te (dengan titik di bawah)
Za ẓ Zet (dengan titik di bawah)
‘Ain ‘ Koma terbalik (di atas)
Gain g Ge
Fa f Ef
Qaf q Ki
Kaf k Ka
Lam l El
Mim m Em
Nun n En
Waw w We
Ha h Ha
Hamzah ` Apostrof
Ya y Ye
B. Konsonan Rangkap
Konsonan rangkap (tasydid) ditulis rangkap.
Contoh :
= muqaddimah
= al-Madīnah al-munawwarah
C. Vokal
1. Vokal Tunggal
--- (kasrah) ditulis “i”, contoh :
= raḥima
--- (dammah) ditulis “u”, contoh :
= kutubun
2. Vokal Rangkap
Vokal rangkap
---
(fathah dan ya) ditulis “ai ”Contoh :
= zainab
= kaifa
Vokal rangkap
---
(fathah dan waw) ditulis “au”Contoh :
= ḥaula
= qaulun
D. Vokal Panjang (maddah)
---
dan---
(fathah) ditulis “a”, contoh := qāma
= qaḍā
---
(kasrah) ditulis “i”, contoh : = raḥīmun---
(dammah) ditulis “u”, contoh : = ‘ulūmunE. Ta Marbutah
a. Ta marbutah yang berharkat sukun ditransliterasikan dengan huruf “h”
Contoh : = makkah al-mukarramah
= al-syarī‘ah al-islāmiyyah
b. Ta marbutah yang berharkat hidup ditransliterasikan dengan huruf “t”
Contoh : = al-ḥukūmatu al-islāmiyyah
= al-sunnatu al-mutawātirah
F. Hamzah
Huruf hamzah ( ) di awal kata dengan vokal tanpa didahului oleh tanda apostrof. Contoh
: = imānun
G. Lafzu al-Jalālah
Lafzu al-Jalālah (kata ) yang berbentuk frase nomina ditransliterasi tanpa hamzah.
= ḥablullah
H. Kata Sandang “al”
1. Kata sandang “al” tetap ditulis “al”, baik pada kata yang dimulai dengan huruf
qamariyah maupun syamsiyah.
Contoh : = al-amākinu al-muqaddasah
= al-siyāsah al-syar‘iyyah
2. Huruf “a” pada kata sandang “al” tetap ditulis dengan huruf kecil meskipun merupakan nama diri.
Contoh : = al-Māwardi
= al-Azhar
3. Kata sandang “al” di awal kalimat dan pada kata “Allah SWT, Qur’an” ditulis dengan huruf kapital.
DAFTAR ISI
halaman
LEMBAR PENGESAHAN……….i
KATA PENGANTAR………..ii
UCAPAN TERIMAKASIH………iii
PEDOMAN TRANSLITERASI………iv
DAFTAR ISI………v
ABSTRAKSI………vi
BAB I PENDAHULUAN………1
1.1 Latar Belakang………....5
1.2 Perumusan Masalah………4
1.3 Tujuan Penelitian………4
1.4 Metode Penelitian………5
BAB II TINJUAN PUSTAKA……… 2.1 Morfologi……… 2.2 Sintaksis………1
BAB III HASIL DAN PEMBA………..2
3.1 Analisis Pembentukan Istilah Bahasa Arab yang digunakan Dalam Bank Syariah dari Segi Morfolog……… 3.2 Analisis Pembentukan Istilah Bahasa Arab yang digunakan Dalam Bank Syariah dari Segi Sintaksis………3
BAB IV PENUTUP………..
4.1 Kesimpulan……….
4.2 Saran………...
ABSTRAK
Rahmatsyah Putra,2010. Analisis Istilah Bahasa Arab dalam Bank Syariah.
Medan : Program Studi Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
Penelitian ini membahas tentang proses morfologis istilah-istilah bahasa Arab dalam bank syariah melalui proses afiksasi dan proses sintaksis melalui segi
murakkabāt.
Adapun yang menjadi objek penelitian adalah Kamus Perbankan Syariah karya Isriani,SS dan Muh.H.Giharto yang terdiri dari 147 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Marja, dari kamus tersebut terdapat 142 istilah bank syariah.
Permasalahan yang diteliti adalah istilah-istilah bahasa arab apa saja yang digunakan dalam bank syariah,bagaimanakah proses pembentukan istilah bahasa arab yang digunakan dalam bank syariah ditinjau dari segi morfologi pada proses afiksasi dan bagaimanakah proses pembentukan istilah ditinjau dari segi sintaksis pada proses murakkab.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui istilah-istilah bahasa arab yang digunakan dalam bank syariah, mengetahui proses pembentukan istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan dalam bank syariah ditinjau dari segi morfologi pada poses afiksasi dan mengetahui proses pembentukan istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan dalam bank syariah ditinjau dari segi sintaksis pada proses
murakkab.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dan menggunakan metode desktiptif yang bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data. Dalam penelitian ini pada proses morfologis penulis menggunakan teori chaer dan teori Kridalaksana sebagai teori pendukung untuk menganalisis istilah melalui proses afiksasi. Pada proses sintaksis penulis menggunakan teori Al-Gulayaini pada pembahasan
/al-
murakkabāt/.Adapun hasil dari penelitian pada proses afiksasi terdapat enam puluh lima
istilah perbankan syariah yang dikelompokkkan kedalam enam jenis proses afiksasi yaitu sembilan istilah, infiks dua puluh sembilan, suffiks satu istilah, konfiks dua puluh empat istilah, serta transfiks, sedangkan proses interfiks belum dapat ditemukan dan tanpa afiks dua puluh enam istilah. Sedangkan pada proses sintaksis terdapat lima puluh satu istilah perbankan syariah yang dikelompokkan kedalam enam jenis
/al-
murakkabāt/ yaitu/murakkabu
al-isnādī/ lima belas istilah, /murakkabu al-idāfī/ dua puluh istilah , /murakkabu al-bayānī/ sepuluh istilah , /murakkabu
.
ABSTRAK
Rahmatsyah Putra,2010. Analisis Istilah Bahasa Arab dalam Bank Syariah.
Medan : Program Studi Bahasa Arab Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.
Penelitian ini membahas tentang proses morfologis istilah-istilah bahasa Arab dalam bank syariah melalui proses afiksasi dan proses sintaksis melalui segi
murakkabāt.
Adapun yang menjadi objek penelitian adalah Kamus Perbankan Syariah karya Isriani,SS dan Muh.H.Giharto yang terdiri dari 147 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Marja, dari kamus tersebut terdapat 142 istilah bank syariah.
Permasalahan yang diteliti adalah istilah-istilah bahasa arab apa saja yang digunakan dalam bank syariah,bagaimanakah proses pembentukan istilah bahasa arab yang digunakan dalam bank syariah ditinjau dari segi morfologi pada proses afiksasi dan bagaimanakah proses pembentukan istilah ditinjau dari segi sintaksis pada proses murakkab.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui istilah-istilah bahasa arab yang digunakan dalam bank syariah, mengetahui proses pembentukan istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan dalam bank syariah ditinjau dari segi morfologi pada poses afiksasi dan mengetahui proses pembentukan istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan dalam bank syariah ditinjau dari segi sintaksis pada proses
murakkab.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dan menggunakan metode desktiptif yang bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data. Dalam penelitian ini pada proses morfologis penulis menggunakan teori chaer dan teori Kridalaksana sebagai teori pendukung untuk menganalisis istilah melalui proses afiksasi. Pada proses sintaksis penulis menggunakan teori Al-Gulayaini pada pembahasan
/al-
murakkabāt/.Adapun hasil dari penelitian pada proses afiksasi terdapat enam puluh lima
istilah perbankan syariah yang dikelompokkkan kedalam enam jenis proses afiksasi yaitu sembilan istilah, infiks dua puluh sembilan, suffiks satu istilah, konfiks dua puluh empat istilah, serta transfiks, sedangkan proses interfiks belum dapat ditemukan dan tanpa afiks dua puluh enam istilah. Sedangkan pada proses sintaksis terdapat lima puluh satu istilah perbankan syariah yang dikelompokkan kedalam enam jenis
/al-
murakkabāt/ yaitu/murakkabu
al-isnādī/ lima belas istilah, /murakkabu al-idāfī/ dua puluh istilah , /murakkabu al-bayānī/ sepuluh istilah , /murakkabu
.
BAB I
PEDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif antar manusia. Dalam
berbagai macam situasi bahasa dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan
pembicara kepada pendengar atau penulis kepada pembaca. (Sugihastuti, 2000:8).
Kemampuan berbahasa merupakan karunia dari Allah SWT. Kita tidak
dapat membayangkan bagaimana keadaan manusia bila tidak ada bahasa yang
berperan sebagai alat komunikasi. Kebudayaan dan peradaban tentunya tidak akan
dapat berkembang dengan baik bila tidak ada bahasa. (Pratama, 2009 : 1 ).
Bahasa Arab merupakan salah satu dari sekian ribu bahasa yang ada di dunia ini dan merupakan salah satu bahasa mayor di dunia yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 umat manusia. Bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 negara. Karena ia merupakan bahasa kitab suci dan tuntunan agama umat Islam sedunia, maka tentu saja ia merupakan bahasa yang paling besar signifikansinya bagi ratusan juta muslim sedunia, baik yang berkebangsaan Arab maupun bukan. (Arsyad, 2004 : 1).
Allah SWT. secara khusus meletakkan keutamaan bahasa Arab melalui
firman-Nya sebagai berikut :
/Innā anzalnāhu qur ‘ānan ‘arabiyyan la ‘allakum ta’qiluna/
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an dengan berbahasa Arab
agar kamu memahaminya”. (QS. Yusuf/ 12:2)
Bahasa Arab adalah bahasa pemersatu bangsa Arab dan umat Islam yang
telah memberikan kontribusi yang besar dalam memperkaya bahasa lain termasuk
bahasa Indonesia dimana banyak ditemukan kata-kata serapan yang berasal dari
bahasa Arab.
Bahasa digunakan di semua lapangan kehidupan manusia baik dalam
hubungan manusia dengan Tuhannya maupun dalam hubungan sesama manusia
Menurut KBBI (1991: 390) istilah adalah kata atau gabungan kata yang
dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang
khas dalam dibidang tertentu.
Chaer (2007:390) membedakan pengertian istilah dengan kata. Istilah
adalah kata atau gabungan kata yang maknanya sudah tetap dan pasti serta hanya
digunakan dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Sedangkan kata, masih
memiliki makna yang belum pasti sebab sangat tergantung pada konteks
kalimatnya atau konteks situasinya.
Bank secara etimologis berasal dari bahasa Italia, yaitu kata banca yang
berarti bangku atau tempat duduk. Bank disebut demikian karena pada abad
pertengahan orang-orang memberikan pinjaman melakukan usahanya di atas
bangku-bangku (Wibowo,2005:16).
Dilihat dari segi statusnya bank terbagi menjadi dua jenis yaitu bank
berdasarkan prinsip konvensional dan bank berdasarkan prinsip syariah
Bank konvensional berdasarkan pada pasal 1 ayat 3 Undang-Undang
No.10 tahun 1998 adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
Secara konsep menurut Laksamana (2009: 10) Bank syariah adalah bank
yang beroprasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah Islam, yaitu mengedepankan
keadilan, kemitraan, keterbukaan, dan universalitas bagi seluruh kalangan.
Pada masa sekarang ini perkembangan perbankan syariah di Indonesia
cukup menggembirakan. Kebutuhan masyarakat untuk menggunakan jasa
perbankan syariah dari tahun ke tahun cukup signifikan, sehingga masyarakat
dihadapkan kepada istilah-istilah perbankan Islam yang sebagian menggunakan
bahasa Arab. Hal ini menarik perhatian penulis untuk meneliti dan menganalisis
istilah-istilah tersebut yang berkaitan dalam bidang morfologi dan sintaksis yang
merupakan bagian dari linguistik.
Kata linguistik (berpadanan dengan linguistics dalam bahasa Inggris,
linguistique dalam bahasa Perancis, dan linguistiek dalam bahasa Belanda)
diturunkan dari kata bahasa Latin lingua yang berarti ‘bahasa’. (Chaer, 1994:2).
Linguistik sebagai ilmu dalam mengkaji bahasa tentunya dapat membantu untuk dapat meneliti dan menganalisis bahasa-bahasa yang ada di dunia ini. Fonologi ( /’ilmu wazāifi al-aşwāti/), Morfologi ( /’ilmu
aş-şarfi/), Sintaksis ( /’ilmu an-nahwi/), dan Semantik ( /’ilmu
ad-dilālati), merupakan bagian dari linguistik yang digunakan seorang peneliti dalam mengkaji suatu bahasa dari sisi yang diinginkannya ( Pratama, 2009 : 3).
Dari empat tataran ilmu linguistik di atas yang akan diteliti adalah
morfologi dan sintaksis. (KBBI,1991:666) morfologi adalah cabang linguistik
tentang morfem dan kombinasi-kombinasinya atau bagian dari struktur bahasa
yang mencakup kata dan bagian-bagian kata.
Di dalam bahasa Arab, kajian tentang morfologi dapat disejajarkan
dengan ilmu aş-şarfi/. Sebagaimana Dahdah (1992:2) dalam Nasution
(2006:98), mendefenisikan ilmu aş-şarfi sebagai berikut :
/yubhasu fī siyagi al-kalimati wa tahwīlihā ilā şuwarin mukhtalifatinbihasbi al-ma’nā al-maqşūdi/
“pembahasan tentang proses pembentukan kata dan perubahannya ke
Menurut Chaer (1994: 206) sintaksis adalah membicarakan kata dalam
hubungannya dengan kata lain sebagai satuan ujaran. Hal ini sesuai dengan kata
sintaksis itu sendiri, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti
‘dengan’dan kata tattein yang berarti ‘menempatkan’. Jadi secara etimologi istilah
itu berarti menempatkan bersama-sama, kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
Menurut Nasution (2006:124) dalam bahasa Arab ,pengaturan antar kata
dalam kalimat, atau antar kalimat ( ) dalam klausa atau wacana merupakan
kajian /’ilmu an-nahwu/.
Menurut El-Dahdah dalam Nasution (2006:124) /ilmu an-nahwu/
adalah :
/yubhasu fi ahwāli awākhiri al-kalimāti i’rāban wa binā’, wa fī mauqi’u al-mufradāt fī al-jumlati/
“mengkaji tentang akhiran kata baik berubah atau tidak serta menganalisis
posisi kata dalam kalimat.”
Dalam penelitian ini, objek penelitian dibatasi pada istilah-istilah bahasa
Arab yang digunakan dalam perbankan syariah yang terdapat dalam buku Kamus
Perbankan Syariah karya Isriani Hardini,SS dan Muhammad H. Giharto tahun
2007. Buku ini terdiri dari 147 halaman dan terdapat 142 istilah. Pemilihan objek
penelitian tersebut dilakukan untuk membatasi objek penelitian agar tidak terlalu
luas.
Penelitian tentang istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan bank syariah
dalam operasionalnya belum pernah diteliti di Program Studi Sastra Arab,
1.2 Perumusan Masalah
Agar penyajian suatu karya ilmiah tidak menyimpang dari pokok
bahasan yang dikehendaki, maka perlu adanya rumusan masalah. Adapun
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Istilah-istilah bahasa Arab apa saja yang digunakan dalam bank syariah?
2. Bagaimanakah proses pembentukan istilah bahasa Arab yang digunakan
dalam bank syariah ditinjau dari segi morfologi pada proses afiksasi?
3. Bagaimanakah proses pembentukan istilah bahasa Arab yang digunakan
dalam bank syariah ditinjau dari segi sintaksis pada proses murakkab?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan dalam bank
syariah.
2. Untuk mengetahui proses pembentukan istilah-istilah bahasa Arab yang
digunakan dalam bank syariah ditinjau dari segi morfologi pada poses
afiksasi.
3. Untuk mengetahui proses pembentukan istilah-istilah bahasa Arab yang
digunakan dalam bank syariah ditinjau dari segi sintaksis pada proses
murakkab.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang istilah-istilah bahasa
Arab yang digunakan dalam bank syariah.
2. Menambah kosakata baru yaitu istilah bahasa Arab yang digunakan bank
syariah.
3. Menambah dan memperluas wawasan peneliti khususnya dan para
peminat bahasa Arab pada umumnya dalam istilah yang digunakan oleh
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini berbentuk penelitian kepustakaan (library research). Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif
adalah suatu metode dengan jalan mengumpulkan data, menyusun atau
mengklasifikasi, menganalisis, dan menginterpretasikannya (Pratama,2009:1 ).
Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer dan data sekunder. Peneliti mengambil data untuk diteliti dari Kamus
Istilah Perbankan Syariah sebagai data primer. Sebagai data sekunder, peneliti
mengumpulkan buku-buku dan referensi lainnya yang berhubungan dengan
penelitian ini.
Dalam memindahkan tulisan Arab ke dalam tulisan latin, peneliti
menggunakan Sistem Transliterasi Arab Latin berdasarkan SKB Menteri Agama
dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 158/1987 dan No. 0543
b/U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.
Pengumpulan data melalui perpustakaan, dilakukan dengan menseleksi
sumber data dari buku-buku bahasa Arab yang berhubungan dengan
masalah-masalah yang dikaji dalam penelitian ini yaitu istilah-istilah bahasa Arab yang
digunakan bank syariah yang ditinjau dari segi morfologi dan sintaksis.
Adapun metode pengambilan sampel atau subjek pada penelitian ini
penulis mengutip pendapat Prof.Dr.H.Mukhtar dalam bukunya yang berjudul
”Bimbingan Skripsi, Tesis dan Artikel Ilmiah” halaman 79 yang mengatakan
bahwa secara umum pandangan tentang populasi lebih disepakati untuk sebuah
penelitian di mana populasi yang dipandang relatif homogen, maka populasi dapat
ditarik sejumlah minimal 5% dan maksimal 30%. Jika sebuah penelitian,
populasinya di bawah 150 subjek, maka hampir seluruh pakar penelitian sepakat,
sebaiknya diambil seluruhnya.
Data yang diambil menggunakan metode deskriptif sinkronik (descriptive
synchronic), maksudnya data dikumpulkan seperti kondisi apa adanya kemudian
dideskripsikan sesuai dengan ciri alamiah naskah itu (Djajasudarma, 1993: 6).
1. Mengumpulkan dan mengidentifikasi data-data serta literatur yang
berhubungan dengan istilah-istilah perbankan syariah pada ”Kamus
Perbankan Syariah” karya Isriani Hardini, S.S dan Muh. H. Giharto.
2. Membaca dan memahami buku-buku bahan referensi lainnya yang
berkaitan dengan istilah-istilah bahasa Arab yang ada perbankan syariah
mengklasifikasi data-data yang diperoleh dalam istilah perbankan syariah
pada ”Kamus Perbankan Syariah” karya Isriani Hardini, S.S dan Muh. H.
Giharto dalam bidang ilmu morfologi dan sintaksis.
3. Menganalisis data yang telah diperoleh sebagai hasil laporan awal lalu
menyusunnya kembali secara sistematis dalam bentuk laporan akhir yaitu
BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi
Morfologi merupakan salah satu dari tataran ilmu linguistik yang
mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk serta klasifikasi kata. Di dalam
bahasa Arab kajian dari morfologi ini disebut dengan /taşrīf/ yaitu perubahan satu bentuk kata menjadi bermacam-macam bentukan untuk
mendapatkan makna yang berbeda dan tanpa ada perubahan tersebut makna yang
berbeda itu tidak akan diperoleh (Alwasilah, 1993: 110).
Kridalaksana (2001: 142) morfologi adalah bidang linguistik yang
mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya. Ditambahkannya juga bahwa
morfologi merupakan bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan
bagian-bagiannya.
Syahrin (1980: 80) dalam Nasution (2006: 116), juga menyebutkan bahwa
yang dimaksud dengan morfologi di dalam bahasa Arab adalah:
/akhżu şīgatin ukhrā ma`a infāqihā māddah aşliyyah wa ma`nā/ “Membuat bentuk kata dari kata yang lain dan terjadi perubahan
pada bentuk dan makna”.
Chaer (2007: 88) membedakan pengertian istilah dengan kata. Istilah
adalah kata atau gabungan kata yang maknanya sudah tetap dan pasti; serta hanya
digunakan dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Sedangkan kata, masih
memiliki makna yang belum pasti sebab sangat tergantung pada konteks
kalimatnya atau konteks situasinya.
Menurut KBBI (1991: 390) istilah adalah kata atau gabungan kata yang
dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang
khas dalam dibidang tertentu
Dalam bahasa Arab kata disebut dengan /al-kalimah/. Gabungan
Al-Jurjani dalam Nasution (2006: 100) menjelaskan, /al-jumlah/ adalah:
/`ibāratun `an murakkabi min kalimataini usnidat ihdāhumā ila
al-ukhrā sawā'un afāda kaqaulika ”zaidun qāimun”, aw lam yafid, kaqaulika”in yukrimunī”/
"Sebuah ungkapan yang tersusun dari dua kata, yang satu di
isnad-kan kepada yang lain, apakah sempurna, seperti ”si zaid
berdiri” atau belum, seperti “jika ia memuliakan saya”".
Bahasa Arab memiliki sistem yang sangat variatif dalam pembentukan
katanya. Dari satu akar kata dapat dikembangkan menjadi beberapa kata,
sehingga tidak mengherankan jika kosa kata bahasa Arab sangat banyak.
(Pratama, 2009: 17).
Chaer (2003: 159) menyebutkan bahwa sebuah morfem dasar dapat
menjadi sebuah bentuk atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi. Artinya,
bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu proses
reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses
komposisi.
Fuad (1968:12) dalam Ues (1999:12) muncul perbedaan pendapat tentang
asal kata antara ahli bahasa Kufah dan ahli bahasa Basrah. Ahli bahasa dari
Basrah berpendapat bahwa asal kata adalah dari masdar. Sedangkan ahli bahasa
Kufah berpendapat bahwa asal kata berasal dari fi’il. Keduanya memiliki
argument yang kuat.
Adapun pendapat ahli Basrah menyatakan bahwa asal pembentukan kata
itu dari masdar adalah :
1. Masdar merupakan isim, yang menunjukkan zaman mutlak (tanpa waktu).
Sementara fi’il menunjukkaan keterangan waktu tertentu dan terikat. Jadi,
2. Masdar merupakan isim, yang dapat berdiri sendiri tanpa membutuhkan fi’il.
Sementara fi’il tidak dapat berdiri sendiri tapi membutuhkan isim dari lain.
3. Masdar disebut demikian karena fi’il berasal dari masdar.
4. Masdar hanya menunjukkan satu hal yaitu kejadian. Adapun menunjukkan
dua hal kejadian dan waktu. Jadi, satu merupakan asal dari dua, dan masdar
merupakan asal dari fi’il.
5. Masdar mempunyai satu bentuk seperti /darbun/ dan /qatlun/.
Sedangkan fi’il mempunyai berbagai tiga mcam bentuk seperti :
/daraba – yadribu idrib/ , dan /qatala – yaqtilu - uqtul/.
6. Fi’il dengan keutuhannya dapat menunjukkan apa yang ditunjukkan oleh
masdar seperti /daraba/ menunjukkan apa yang ditunjukkan oleh
/darbun/.
Adapun pendapat ahli Kufah antara lain sebagai berikut :
1. Masdar itu sohih karena kesohihan fi’il dari huruf illat dan begitu juga
sebaliknya. Contoh : /qāma wa qiyāman qawama qawāman/, Maka, masdar harus mengikuti fi’il dan hal ini berarti fi’il adalah asal masdar.
2. Sesungguhnya fi’il berpengaruh bagi masdar. Contoh: /darabtu
darban/, lafadz /ad-darbu/ pada contoh tersebut tergantung dari fi’il
/daraba/, Artinya, posisi Āmil lebih asli dan utama dari pada yang
ma’mūl.
3. Masdar merupakan ta’kid (penegasan) bagi fi’il. Contoh: /darabtu
darban/, lafadz /darban/ menegaskan pada fi’il /daraba/
4. Masdar maknanya tidak dapat tergambarkan selama tidak dilakukan oleh
seorang fa’il (subjek). Oleh karena itu masdar selalu tergantung pada fi’il.
Penulis menyimpulkan bahwa asal pembentukan kata adalah dari fi’il dengan
alasan sebagai berikut :
- Kebanyakan dari fi’il mempunyai beragam masdar, tidak logis dikatakan jika
contoh masdar tersebut dapat dilihat dari fi’il /fa’’ala/ masdarnya adalah
/taf’īlān – taf’īlatan – tif’ālān – mufa’’alān/.
- Masdar merupakan isim bagi fi’il. Isim ini sangat sulit muncul tanpa
kehadiran (adanya) fi’il, sebagai contoh lafadz /julūsun/ tidak akan kelihatan tanpa diketahui terlebih dahulu fi’il /jalasa/.
- Pembentukan isim musytaq yang lain terlihat jelas dari fi’il dan lebih mudah
dikatakan mustaqqat berasal dari fi’il ketimbang jika kita menyatakan bahwa
Pembentukan isim musytaq yang lain berasal dari masdar. Apalagi jika fi’il itu
bukan sulasi (ruba’i, khumasi, sudasi) seperti pembentukan isim fa’il dan isim
maf’ul dari fi’il /ijtama’a/ yang fi’il mudari’nya kemudian huruf
mudari’nya diganti dengan huruf mim yang dhammah, dan harkat sebelum
akhir berbaris kasrah isim fa’ilnya menjadi /mujtami’an/, dan baris
huruf sebelum akhir fathah isim maf’ul sehingga menjadi /mujtama’an/.
Proses Morfologis (morphological process): proses yang mengubah
leksem menjadi kata. Dalam hal ini leksem adalah input dan kata merupakan
output. (Kridalaksana, 2001: 180).
Proses Morfemis merupakan proses pembentukan kata bermorfem jamak
baik derivatif maupun inflektif. (Parera, 1994: 18).
Chaer (1994: 177) membagi proses morfemis ke dalam 7 (tujuh) bagian,
yaitu melalui proses:
1. Afiksasi
2. Reduplikasi
3. Komposisi
4. Konversi,
5. Modifikasi Internal,
6. Suplesi
7. Pemendekan
Penulis menggunakan pendapat Chaer sebagai landasan teori untuk
menganalisis proses pembentukan istilah-istilah bahasa Arab yang digunakan
dalam bank syariah ditinjau dari segi morfologi melalui bagian yang pertama saja
Chaer (1994:177) afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah
dasar atau bentuk dasar.
Afiksasi yang di dalam bahasa Arab disebut dengan istilah
/az-zawāid/. Al-Khuli (1982: 8) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Afiksasi dalam istilah bahasa Arab adalah:
––––––– /az-zawāidu: idāfatu zā'idatin qabla al-juzri aw ba`dahu aw
dākhiluhu li isytiqāqi kalimatin jadīdatin/.
"Afiksasi: penambahan satu huruf tambahan yang diletakkan di
awal akar kata atau setelahnya atau diantaranya dengan tujuan
membentuk kata yang baru".
Menurut Chaer (1994:177) dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) Dasar
atau bentuk dasar, (2) Afiks, dan (3) Makna gramatikal yang dihasilkan.
Chaer menyatakan (1994:177) afiks adalah sebuah bentuk biasanya berupa
morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan
kata.
Dalam KBBI (1991: 10) disebutkan bahwa yang dimaksud dengan afiks
adalah bentuk terikat yang apabila ditambahkan pada kata dasar atau bentuk dasar
akan mengubah makna gramatikal (spt. prefiks, konfiks, atau sufiks): imbuhan.
Al-Khuli (1982: 8) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Afiks
dalam istilah bahasa Arab adalah:
prefix
infix suffix
superfix
/az-zāidatu: murfīmun yudāfu qabla al-juzri fayusammā sābiqatan, aw dākhiluhu fayusammā dākhilatan, aw ba`dahu fayusammā lāhiqatan, aw fauqahu fayusammā `āliyatan. Wa hakazā, fainna az
"Afiks: morfem yang ditambahkan atau diletakkan sebelum akar
kata yang asli dinamakan sābiqah, atau tambahan yang dimasukkan ke tengah-tengah akar kata disebut dākhilah, atau tambahan yang diletakkan setelah akar kata disebut lāhiqah, atau yang diletakkan di atasnya disebut `āliyah. Maka afiks ada empat macam, yaitu
sābiqah atau prefiks, dākhilah atau infiks, lāhiqah atau sufiks, dan
`āliyah atau superfiks".
Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar afiksasi biasanya
dibedakan adanya prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks, dan transfiks. (Chaer,
2003: 178).
Berikut diuraikan bagian-bagian dari afiksasi beserta contohnya:
a. Prefiks
Menurut Chaer (1994:178) prefiks adalah afiks yang diimbuhkan di
muka bentuk dasar.
Al-Khuli (1982: 224) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Prefiks
dalam istilah bahasa Arab adalah:
un-unkind
suffix infix
superfix
/fī -un as-sābiqatu: murfīmun muqaiyyadun yasbiqu al-jizri wa yukawwinu ma`ahu kalimatan wāhidatan, mislu -`āliyati infix wa ad-dākhilati suffix. . Wa hiyā takhtalifu `an al-lāhiqati unkind
superfix/.
"Prefiks: morfem yang terikat dan mendahului akar kata dan
membentuk bersamanya satu kata yang baru, seperti penambahan –
un pada unkind. Hal ini berbeda dengan lāhiqah sufiks, dākhilah
infiks, dan `āliyah superfiks".
Dalam bahasa Arab prefiks dinamai dengan istilah ( /as-sābiqah/) Contoh :
- /musqā/ ‘yang diberi minum’
Pada contoh yang pertama kata /muflis/ bentuk dasarnya adalah
dengan pola /af’ala/ yaitu kata /aflasa/ yang merupakan fi’il şulāşī
mujarrad dengan kata /falasa/. Kemudian hamzah yang berada pada awal
kata tersebut diganti dengan konsonan /mim/ yang berharkat dammah dan
konsonan ketiga (huruf sebelum akhir) diberi harkat kasrah sehingga membentuk
kata /muflis/ berupa nomina pelaku ( /isim fā’il/). Dengan demikian konsonan /mim/ merupakan prefiks pada kata /muflis/ tersebut.
Pada contoh kedua kata /musqā/ bentuk dasarnya adalah /asqā/ dengan pola /af’ala/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata /saqiya/. Huruf hamzah diawal kata tersebut diganti dengan konsonan /mim/
(prefiks) yang berharkat dammah dan konsonan ketiga (huruf sebelum akhir)
diberi harkat fathah sehingga membentuk kata /musqā/ dengan mengikuti pola /muf’al/ berupa nomina yang menyatakan sesuau yang dikenai pekerjaan
( /isim maf’ūl/).
b. Infiks
Menurut Chaer (1994:178) infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah
bentuk dasar.
Al-Khuli (1982: 131) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan Infiks
dalam istilah bahasa Arab adalah:
ee feet a ran
prefix suffix
/ad-dākhilatu: murfīmun yudāfu wasaţa al-kalimati, mislu ee fī feet
wa a fī ran. Wa ad-dākhilatu nau`un min az-zawāidi. Wa 'ammā anwa`u al-ukhrā fahiya as-sābiqatu prefix wa al-lāhiqatu suffix/. "Infiks: morfem yang ditambahkan ditengah kata, seperti ee di
dalam feet dan a di dalam ran. Infiks merupakan salah satu dari
bagian afiksasi. Adapun bagian dari afiksasi yang lain ialah
as-sābiqah prefiks dan al-lāhiqah sufiks".
Contoh :
- /rāhinun/ ‘yang menggadaikan’ - /kafīlun/ ‘yang menjamin’
Pada contoh yang pertama kata /rāhinun/ bentuk dasarnya adalah /rāhana/ dengan pola /fā’ala/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata /rahana/. Kata /rahana/ diberi infiks /alif/,dan konsonan ketiga
(huruf sebelum akhir) diberi harkat kasrah sehingga menjadi
/rāhinun/dengan mengikuti pola /fā’ilun/. Kemudian infiks ini membentuk nomina pelaku /isim fā’il/.
Pada contoh kedua kata /kafīlun/, kata dasarnya adalah /kafula/ yang yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata /kafala/. Kemudian kata /kafula/ dengan pola /fa’ula/ diberi infiks /ya/ dengan mengikuti
pola /fa’īl/ sehingga menjadi /kafīlun/ yang merupakan bagian dari /şifatu al-musyabbahah/.
c. Sufiks
Menurut Chaer (1994:178) sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada
posisi akhir bentuk dasar.
Al-Khuli (1982: 273) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sufiks
dalam istilah bahasa Arab adalah:
–en blacken
affixes
prefixes infixes
inflectional
derivational
boys
–ment movement
/al-lāhiqatu: murfīmun muqaiyyadun yudāfu ilā ākhiri al-kalimati
litakwīni kalimatin musytaqqatin zāti ma`nā mukhtalifin mislu –en
fī blacken. Wa al-lāhiqatu nau`un min az-zawāidi affixes, wa al
-anwā`u al-ukhrā hiya as-sawābiq prefixes wa ad-dawākhil infixes. Wa al-lāhiqatu immā taşrīfiyyah aw isytiqāqiyyah. Wa al -farqu
al-kalimatu wa lā tugayyiru nau`ahā, mislu lāhiqatu al-jam`u fī
boys. Fī hina anna lāhiqata al-isytiqāqiyyata tugayyiru ma`na al
-kalimatu wa tugayyiru nau`ahā, mislu al-lāhiqatu –ment fi movement/.
"Sufiks: morfem terikat yang ditambahkan di akhir kata untuk
membentuk kata yang berbeda seperti –en pada kata blacken.
Adapun sufiks merupakan bagian dari afiksasi affixes, adapun jenis
yang lain dari afiksasi adalah as-sawābiq prefiks, dan ad-dawākhil infiks. Sufiks bisa berbentuk infleksi dan derivasi. Adapun
perbedaan antara keduanya adalah bahwa infleksi bisa merubah
makna tetapi tidak dapat merubah kategorinya, seperti bentuk
sufiks pada kata boys, adapun derivasi merubah makna kata dan
merubah kategorinya, seperti halnya sufiks –ment pada kata
movement.
Menurut Kridalaksana (2001: 205) sufiks yaitu afiks yang ditambahkan
pada bagian belakang kata. Sufiks sering disebut dengan akhiran, misalnya
morfem -an pada kata ajaran, morfem -kan pada kata usahakan dan morfem -i
pada kata datangi merupakan bentuk-bentuk sufiks.
Dalam bahasa Arab sufiks dinamai dengan istilah ( /al-lāhiqah/). Contoh :
- /kufalā’/ “yang menjamin”
Pada contoh yang pertama kata /kufalā’/ merupakan bentuk jama’ dari kata /kafīlun/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata /kafula/. Kata /kafula/ dengan pola /fa’ula/ diberi suffiks /alif/ dan
d. Konfiks
Menurut Chaer (1994:179) konfiks adalah afiks yang berupa morfem
terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang
kedua berposisi pada akhir bentuk dasar.
Kridalaksana (2008:130) konfiks adalah afiks tunggal yang terjadi dari dua
bagian terpisah.
Contoh :
- /takāful/ “pertanggungan yang saling berbalasan atau salin menanggung”
- /musāhamah/ “saling memberikan saham/bagian” Pada contoh yang pertama kata /takāful/, bentuk dasarnya adalah /takāfala/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata /kafula/. Kata
/kafula/ mendapat konfiks /ta/ dan /alif/ sehingga menjadi /takāful/ dengan mengikuti pola /tafā’ula/. Kemudian konfiks ini membentuk masdar.
Pada contoh yang kedua kata /musāhamah/, bentuk adasarnya adalah kata /tasāhama/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata
/sahama/. Kemudian kata /sahama/ mendapat konfiks /mim/ dan /alif/,
sehingga menjadi /musāhamah/ dengan mengikuti pola /mufā’alatu/ dan konfiks tersebut membentuk masdar.
.
e. Interfiks
Chaer (1994:181) interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyambung
yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur. Interfiks banyak
dijumpai dalam bahasa-bahasa Indo German.
Contoh: Unsur 1 Unsur 2 Gabungan Makna
Tag Reise Tag.e.reise day’s journey
Menurut Kridalaksana (2001: 84) yang dimaksud dengan interfiks
(interfix) adalah afiks yang muncul di antara dua dasar; mis -o- dalam
f. Transfik
Chaer (1994:181) transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang
diimbuhkan pada keseluruhan dasar.
Dalam bahasa Arab transfiks dinamai dengan istilah (
/al-'idāfatu al-harakāti/). Proses transfiks dalam bahasa Arab yaitu dengan meletakkan harakat (baris) yang berupa vokal di antara huruf konsonan.
Al-Khuli (1982: 303) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
transfiks dalam istilah bahasa Arab adalah:
/idāfatu al-harakāti: idāfatu rumūzi aş-şawā'itu al-qaşīratu ilā al-kalimāti al-maktūbati, ay idāfatu fathati wa ad-dammati wa al-kasrati ilā al-kalimāti al-maktūbati, kamāfī al-`arabiyyati/
"penambahan harakat (baris): penambahan bunyi yang pendek ke
dalam kata yang tertulis, atau penambahan fathah, dhammah, dan
kasrah ke dalam kata yang tertulis, sebagaimana yang terdapat di
dalam bahasa Arab"
Menurut Kridalaksana (2008: 245) yang dimaksud dengan transfiks
(transfix) adalah afiks terbagi yang muncul tersebar dalam dasar: misalnya Ar.
a-a-a , a-i-a, a-u-a 'persona ketiga', jantan, perfektum, muncul dalam leksem
k-t-b, sy-r-b; h-s-n, menjadi kataba 'ia menulis', syariba 'ia minum' hasuna 'ia bagus'.
Adapun beberapa contoh istilah bahasa Arab yang digunakan bank syariah
pada bagian transfiks antara lain sebagai berikut :
No. Transfiks
Contoh
1. a-a-a , , /’aqada/
/ajara/
(memberi upah)
2. a-i-a , ,
/dhamina/
(menjamin / menanggung)
/syarika/
(bersekutu/berserikat)
3. a-u-a , ,
/’adula/
(Berlaku adil)
/amuna/
(jujur/dapat dipercaya)
4. u-i-a , ,
/duriba/
(dipukul)
/fusikha/
(dibatalkan)
2.2 Sintaksis
Menurut Chaer (1994:206) sintaksis adalah membicarakan kata dalam
hubungannya dengan kata lain sebagai satuan ujaran.
Menurut Nasution (2006:124) dalam bahasa Arab pengaturan kata dalam
kalimat, atau antar kalimat ( ) dalam klausa atau wacana merupakan kajian
Menurut El-Dahdah dalam Nasution (2006:124) /ilmu an-nahwu/
adalah
/yubhasu fi ahwāli awākhiri al-kalimāti i’rāban wa binā’, wa fi mauqi’I al-jumlatu/
“Mengkaji tentang akhiran kata baik berubah atau tidak serta menganalisis
kata dalam kalimat”
Kridalaksana (2008:223) sintaksis adalah pengaturan dan hubungan antara
kata dengan kata, atau dengan satuan-satuan yang lebih besar, atau satuan-satuan
yang lebih besar itu dalam bahasa. Satuan terkecil dalam bidang ini adalah kata.
Pada kajian bidang ilmu sintaksis penulis menggunakan teori Al-Gulayaini
pada pembahasan /al-murakkabāt/. Gulayaini (1992:10) menyebutkan /al-murakkabu/ adalah :
/al-murakkabu : qaulun muallafun min kalimataini aw aksar lifāidati, sawāun
akānat al-faidatu tammatan, mislu : an-najātu fi as-sidqi/
“ al-murakkabu : perkataan yang terdiri dari dua kata atau lebih, karena adanya
faidah (dalam pembicaraan), baik faidah itu sempurna seperti : keselamatan itu
terletak dalam kejujuran”.
Al-murakkab terbagi menjadi enam macam yaitu :
1. /murakkabu al-isnādī/ 2. /murakkabu al-idāfī/ 3. /murakkabu al-bayāni/ 4. /murakkabu al-‘atfi/
5. /murakkabu al-mazajī/ 6. /murakkabu al-adadī /
Dari enam jenis murakkab di atas penulis hanya menemukan empat jenis
murakkab yang ada yang kaitannya dengan istilah bahasa Arab dalam perbankan
syariah yaitu /murakkabu al-isnādī/, /murakkabu
al-idāfī/, /murakkabu al-bayāni/, /murakkabu al-‘atfi/.
/al-isnādī hua al-hukmu bisyaiin ‘alā syaiin, kā al-hukmu ‘alā “zuhair” bi il-ijtihadi fīqaulika :zuhair mujtahid/
“isnad adalah menghukumi atas sesuatu dengan sesuatu yanglain. Seperti :
menghukum atas diri Zuhair dengan rajin dalam ucapanmu: Zuahir adalah
orang yang rajin”
Sesuatu yang untuk menghukum/mengenakan itu namanya musnad, dan
sesuatu yang dihukumi/dikenakan dengan sesuatu itu namanya musnad ilaih.
Maka yang dimaksud dengan musnad adalah sesuatu yang dengan kamu
menghukumi atas sesuatu yang lain. Dan musnad ilaih adalah sesuatu yang kamu
menghukumi atasnya, dengan sesuatu.
Contoh :
- /kafālatu bi an-nafsi/ “aqad memberikan jaminan atas diri ”
- /bai’u bi samanin ājilin/ “pembelian barang dengan pembayaran cicilan”
Pada contoh pertama istilah /kafālatu bi an-nafsi/ merupakan
bentuk yang tersusun dari unsur /mubtadā’/ dan /khabar/ yang terdiri dari kata /kafālatu/, harfu jar /ba/ dan /an-nafsu/, kata /kafālatu/ adalah /mubtadā’/, khabarnya menjadi /syibhu al-jumlah/ yang merupakan /jar wa majrūr/ pada kata /bi an-nafsi/ sehingga istilah ini merupakan bagian dari /murakkabu al-isnādī/.
Pada contoh kedua istilah /bai’u bi samanin ājilin/ merupakan bentuk yang tersusun dari unsur /mubtadā’/ dan /khabar/ yang terdiri dari kata kata /bai’u/ harfu jar /ba/, /tsaman/ dan /ājilin/, kata /bai’u/ adalah /mubtadā’/, khabarnya menjadi /syibhu al-jumlah/ yang merupakan /jar wa majrūr/ pada kata /bitsaman/ sedangkan kata /ājilin/ merupakan /na’at majrūr/ dari kata /tsaman/ sehingga istilah ini merupakan bagian dari /murakkabu al-isnādī/.
/murakkabu al-idāfī : mā tarkabu min al-mudāfun wa al-mudhafun ilaihi, mislu : “kitābu at-tilmīji”/
“murakkabu al-idāfī : kata yang tersusun dari mudhaf dan mudhafun
ilaihi. Seperti : Buku murid, cincin perak,”
Lafadz kata yang kedua dari contoh tersebut di atas adalah : bahwa sanya
kata itu di-jar-kan untuk selama-lamanya, sebagai mana contoh di atas.
Contoh :
- /baitu al-māl/ “ rumah harta/bank” - /baitu at-ta’jīr/ “sewa guna usaha”
Istilah /baitu al-māl/, kata /baitu/ adalah /mudhāf/ sedangkan kata /al-māl/ merupakan /mudhāf ilaih/ sehingga bagian istilah ini merupakan bagian dari murakkabu al-idāfī,
Istilah /baitu at-ta’jīr/, kata /bai’u/ adalah adalah
/mudhāf/ sedangkan kata merupakan /mudhāf ilaih/ sehingga bagian istilah ini merupakan bagian dari murakkabu al-idāfī,
c. /murakkabu al-bayānī/ Ghulayaini (1992: 12)
/Murakkabu al-bayānī : kullu kalimataini kānat sāniatuhumā muwaddhatan
ma’nā al-ūlā. Wa hua salasatu aqsāmin : - murakkabu washfī :wa hua mā ta allafa min al shifati wa al-mausūf, mislu “fā ja at-tilmīja al-mujtahida”, “akramtu at-tilmīja al-mujtahida”. – murakkabu taukidī : mā ta allafa min
muakkidu wal muakkaidu minhu, mislu “jā’a al-qaumu kulluhum” , “ahsantu
al-qaumu kulluhum”. Murakkabu badalī : huwa mā ta allafu min badali wal
“Murakkabu al-bayānī :tiap dua kata, dimana kata yang kedua berfungsi sebagai penjelasan atau menerangkan makna kalimat yang pertama. terbagi menjadi tiga
macam yaitu murakkabu washfī : adalah kata yang tersusun dari sifat dan yang disifati, seperti “beruntung murid yang bersungguh-sunggu”, “aku memuliakan
murid yang rajin”. - murakkabu taukidī : kata yang tersusun dari muakkad (yang dikuatkan) dan muakkid (yang menguatkan), seperti “kaum itu sudah dating
keseluruhannya”, “aku memuliakan kaum itu keseluruhannya”. Murakkabu badalī
: kata yang tersusun dari badal (kata pengganti) dan mubaddal minhu (yang
digantikannya), seperti : “Khalil telah tiba, yaitu saudara lelakimu” , “aku melihat
Khalil, yaitu saudara lelakimu”
Contoh :
- /hawālatun muqayyadatun/ “pemindahan utang yang saling mengikat”
- /hawālatun mutlaqatun/ “pemindahan utang kepada yang berutang”
Pada contoh yang pertama istilah /hawālatun muqayyadatun/,
kata /hawālatun/ adalah bentuk masdar yang merupakan /man’ūt/ yang /marfū’/, sedangkan kata sesudah /hawālatun/ tersebut yaitu kata /muqayyadatun/ berbentuk isim maf’ūl dan berada pada posisi /na’at/. Oleh karena itu maka kata /muqayyadatun/ haruslah sesuai dengan
/man’ūt/ dalam hal gender (jenis) yaitu berbentuk muannas. Selain itu, karena kata /hawālatun/ berada pada posisi rafa’ dengan tanda rafa’nya
dammah, maka kata /muqayyadatun/ juga menyesuaikan harkat akhirnya
dengan dammah sehinnga istilah ini merupakan bagian dari
/murakkab bayāni ‘alā qismi murakkab waşfi/.
Pada contoh yang kedua istilah /hawālatun mutlaqatun/, kata /hawālatun/ adalah bentuk masdar yang merupakan /man’ūt/ yang
/marfū’/, sedangkan kata sesudah /hawālatun/ tersebut yaitu kata /muthlaqatun/ berbentuk isim maf’ūl dan berada pada posisi /na’at/. Oleh karena itu maka kata /muthlaqatun/ haruslah sesuai dengan /man’ūt/ dalam hal gender (jenis) yaitu berbentuk muannas. Selain itu, karena kata
juga menyesuaikan harkat akhirnya dengan dammah sehinga istilah ini
merupakan bagian dari /murakkab bayāni ‘alā qismi
murakkab waşfi/.
d. /murakkabu al-‘athfi/ Ghulayaini (1992:12)
/murakkabu al-athfī : mā ta allaa min al-ma’thūfun wa al-ma’thūfun
ilaihi, bitawaşşuti harfu al-ma’thūf bainahumā, mislu : yanālu at
-tilmījatu al-hamda wa as-sinā’ /
“murakkabu al-athfī : kata yang tersusun dari ma’tuf (yang di ‘athafkan), dan ma’thuf ‘alaih (yang diathafi) dengan diselingi dengan
huruf ‘athaf keduanya, seperti : “murid laki-laki dan perempuan
mendapat pujian, dan sanjungan bila mereka tabah, dan
bersungguh-sungguh dalam belajar”
Contoh :
- /ījābu wa al-qabūl/ “pernyataan melakukan ikatan”
- /ijāratu wa iqtinā’/ “akad sewa yang diakhiri dengan kepemilikan barang ditangan si penyewa”
Pada contoh yang pertama istilah /ījābu wa al-qabūl/, kata /ījābu/ merupakan /ma’thuf ‘alaih/, huruf /waw/ adalah /harfu ’athaf/ sedangkan kata /qabūl/ /ma’thūf/ sehingga istilah ini merupakan bagian dari /murakkabu al-‘athfi/.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data representatif yang diperoleh dari Kamus Perbankan Syariah karya Isriani Hardini, S.S dan Muh.H.Giharto, peneliti membedakan istilah-istilah tersebut menjadi dua bagian yang sesuai dengan bidang ilmu yang akan dikaji yaitu morfologi dan sintaksis. Adapun istilah-istilah Perbankan Syariah tersebut antara lain sebagai berikut :
A. Istilah Bahasa Arab dalam Bank Syariah melalui proses morfologi yaitu : a. Prefiks
1.
/muajjir/ “pemilik barang”
2.
/muflis/ “bangkrut”
3.
/
muhāl/ “pihak yang dialihkan piutangnya” 4./muqidh/ “pemberi pinjaman”
5.
/
musqā/ “bentuk yang lebih sederhana dari muzāra’ah, yaitu si penggarap hanya bertanggungjawab atas penyiraman danpemeliharaan”
6.
/muslam/ “pembeli”
7.
/muwakkil/ “yang memeberi kuasa”
8.
/musta’jir/ “penyewa”
9.
/
mustaşni’/ “pemesan”b. Infiks
1. /’ādil/ "yang adil"
2.
/
fāsid/ “rusak”3.
/
salām/ “penyerahan” 4./
şāni’/ “pekerja/buruh”7.
/
rāhin/ “pihak yang menyerahkan barang jaminan” 8./
bātil/ “yang batil”9.
/b
āi’/ “penjual”10. /jawāj/ ”kebolehan bank meminta uang muka kepada nasabah dalam aqad jual beli”
11.
/
khiyār/ “pilihan”12. /qirādh/ “pemberian modal untuk berdagang dengan memperoleh bagian laba”
13.
/
simsār/ “makelar” 14./
kafīl/ “penjamin”15.
/
wadī’/ “yang menerima titipan”16.
/
wakīl/ “mempercayakan menjadi wakil” 17./syari’ah/ “peraturan”
18. /wadī’ah/ “titipan murni dari satu pihak kepihak lain yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki”
19.
/
şukūk/ “surat berharga” 20./
buyū’/ “jual beli”21.
/
’urbūn/ “uang muka” 22./’
āriyah/ “pinjaman”23. amānah/ “dapat dipercaya”
24.
/
hawālah/ “pengalihan hutang”25. /ijārah/ “aqad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui pemabayaran upa sewa tanpa diikuti dengan pemindahan
kepemilikan atas barang itu sendiri”
26.
/
iqālah/ “pembatalan28.
/
kafālah/ “mengalihkan tanggungjawab seseorang yang dijamin dengan berpegang kepada tanggungjawab orang lain sebagaipenjamin”
29. /wakālah/ “perjanjian pemberian kepercayaan dan hak dari lembaga/sesorang kepada pihak lain sebagai wakil dalam
melaksanakan urusan tertentu”
c. Suffiks
1.
/
kufalā’/ “yang menjamin”d. Konfiks
1.
/amw
āl/ “kekayaan”2. /ihtikār/ “monopoli” 3.
/
iqtişād/ “ekonomi”4.
/
istişnā’/ “meminta dibuatkan”5.
/
mubī’/ “barang yang akan diperjual belikan” 6./
maisīr/ “sesuatu yang mengandung unsure judi” 7./
ma’jūr/ “barang atau obyek sewaan”8.
/
makfūl/ “hak yang boleh diwakilkan kepada orang lain” 9./
marhūn/ “barang yang digadaikan”10.
/
maşnū’/ “proyek atau usaha atau barang yang dipesan” 11. /mudārabah/ “aqad kerjasama antara pemilik modal denganorang yang ahli dalam mengelola uang perdagangan/usaha”
12.
/
mudārib/ “pengusaha”13.
/
mudī’/ “orang yang menitipkan harta (nasabah)” 14./
muhīl/ “pihak yang melakukan pengalihan piutang”15. /mukhābarah/ “kerjasama di bidang pertanian antara pemilik lahan dengan petani penggarap ”
17. /murābahah/ “akad jual-beli atas barang tertentu, di mana penjual menyebutkaan harga pembelian barang kepada pembeli
kemudian ia mensyaratkan atasnya laba/keuntungan dalam jumlah
tertentu”
18.
/murtahin/ “yang menerima gadai”
19.
/
musāhamah/ “saling memeberikan saham/bagian”20. /musyārakah/ “akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, yang masing-masing pihak memberikan
kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dari resiko
akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan”
21.
/
musytarī/ “pembeli”22.
/
muzāra’ah/ “kerjasama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap.”23. /takāful/ “pertanggungan yang saling berbalasan atau salin menanggung”
24.
/
taukīlan/ “hal atau perkara yang diwakilkan”e. Tanpa Afiks
1.
/’aqad/ “perjanjian”
2.
/bai’/ “penjualan”
3.
/barakah/ “kebahagian”
4.
/dain/ “hutang”
5.
/faskh/ “membatalkan”
6.
/ghabn/ “penipuan dalam jual beli”
7.
/gharar/ “penjualan sesuatu yang tidak terang rupa dansifatnya”
8.
/hisbah/ “menghitung”
9.
/
māl/ “harta”10.
/nafaqah/ “”
12.
/nisbah/ “porsi pembagian”
13.
/qardh/ “pinjaman”
14.
/rahn/ “penyerahan barang/harta nasabah kepada bank sebagaijaminan atau gadai”
15.
/
ribā/ “kelebihan atau tambahan”16.
/
ridhā/ “rela”17.
/risywah/ “sogokan”
18.
/salaf/ “pinjaman tanpa bunga”
19.
/
şarf/ “penukaran mata uang dengan mata uang yang lain”20.
/
şīghah/ “ucapan”21.
/bai’/ “penjualan”
22.
/syirkah/ “perserikatan dagang”
23.
/saman/ “harga/nilai suatu barang”
24.
/ujrah/ “upah/gaji”
25.
/waqaf/ “sesuatu pemberian yang diberikan dengan ikhlas”
26.
/qīmah/ “nilai tukar suatu barang atau jasa yang diukur secara kuantitatif dengan jumlah satuan barang atau uang”B. Istilah-Istilah Bahasa Arab dalam Bank Syariah melalui proses sintaksis yaitu :
a.
/murakkabu al-
isnādī/1.
/bai’atan fi bai’atin/ “harga ansur lebih tinggi dari pada
harga tunai”
2. /bai’u bidamanin ājilin/ “jual beli dengan pembayaran cicilan”
3. /ijāratu muntahiyyah bi at-tamlīk/ “sewa guna usaha”
4.
/
kafālatu bi an-nafsi/ “jaminan diri sendiri”6.
/
kafālatu bi al-māl/ “jaminan harta”7.
/
makfūl ‘anhu/ “orang yang dituntut atas jaminan” 8./
marhūn bihi/ “utang yang disebabkan pegadaian”9.
/
dāribu fī al-māl/ “kerja sama dalam harta” 10./
ihtāla ‘alaihi bi ad-dain/ “pemindahan utang”11. /muhālun ‘alaihi/ “orang yang bertanggung jawab untuk mengembalikan utang/piutang”
12.
/
muhālun bihi/ “objek pengalihan utang/piutang” 13./
muslam fīhi/ “barang yang dipesan”14.
/muslam ilaihi/ “penjual”
15.
/
wakālatu fī al-bai’/ “mewakilkan dalam jual beli”b. /murakkabu al-idāfī/
1.
/
bai’u al murābahah/ “jual beli dengan kesepakatan” 2./bai’u al-salam/ “jual beli pesanan umum”
3. /bai’u al-istişnā’/ “jual beli pesanan dengan pembayaran diawal”
4. /bai’u al-wafā/ “kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang”
5.
/bai’u at-
ta’jīr/ “sewa guna usaha” 6./baitu al-
māl/ “rumah harta / bank”7.
/
hawālatu al-haq/ “pemindahan utang dengan hak”8.
/
hawālatu ad-dīn/ “pemindahan utang”9.
/qardu al-hasan/ “pinjaman untuk kebaikan”
10.
/
ribā al-qard/ “tambahan dari pinjaman”11.
/
ribā al-jāhiliyyah/ “tambahan melebihi jangka waktu” 12./
ribā al-fadl/ “tambahan surplus”13.
/
ribā an-nasīah/ “tambahan pembelian secara kredit”15.
/
şāhibu al-māl/ “pemilik modal”16.
/syirkatu al-amlak/ “persekutuan kepemilikan ”
17. /syirkatu al-‘uqūd/ “kerjasama antara dua orang atau lebih dengan kontrak atau perjanjian”
18. /syirkatu al-‘inān/ “kerjasama antara dua orang atau lebih yang setiap pihak memberikan kontribusi berupa dana keahlian
dan tenaga akan tetapi porsi masing-masing pihak, baik dalam dana
maupun kerja tidak harus sama dengan bagi hasil sesuai dengan
kesepakatan”
19.
/syirkatu al-
a’māl/ “Asosiasi pekerja/buruh”20. /syirkatu al-abdān/ “kerja sama antara dua orang atau lebih yang seprofesi untuk menerima pekerjaan secara bersama dan
berbagi keuntungan dari pekerjaan itu”
21. /syirkatu al-wujūh/ “kerja sama antara dua orang atau lebih untuk memebeli sesuatu tanpa modal uang tapi hanya
berdasarkan kepercayaan para penguasa dengan perjanjian yang
disepakati”
22. /wadī’atu yadi ad-damānah/ “titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya menghendaki, pihak yang
menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan dana atau
barang yang dititipkan”
23. /wadī’atu al-amānah/ “titipan dimana si penerima titipan tidak bertanggungjawab atas kehilangan dan kerusakan yang
terjadi pada barang titipan selama hal ini bukan akibat dari kelalaian
atau kecerobohan penerima titipan dalam memelihara titipan
tersebut”
c. /murakkabu al-bayānī/
3. /kafālatu al-munjazah/ “jaminan yang tidak ada masa
waktu tertentu”
4.
/
kafālatu al-mu’allaqah/ “jaminan yang tidak terikat”5.
/
mudāribu al-mu’allaqah/ “kerja sama dalam harta”6.
/
mudāribu al-muqayyadah/ “kerja sama yang terikat”7. /syirkatu al-mufāwadah/ “kerjasama antara dua orang atau lebih dimana setiap pihak memberikan kontribusi yang sama baik
berupa dana, tenaga dan keahlian, sehingga porsi bagi hasil
didistribusikan secara merata kepada setiap pihak”
8.
/
wakālatu mutlaqah/ “mewakilkan tanpa batasan” 9./
wakālatu miqayyadah/ “perwakilan yang terikat” 10./
wakālatu ‘ammah/ “perwakilan yang bersifat umum”d. /murakkabu al-‘athfi/
1.
/baitu al-māl wa at-tamwīl/ “lembaga keuangan mikro yang operasionalnya berdasarkan syariah Islam dan bertujuanuntuk pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil/golongan ekonomi
lemah.”
3.1. Proses Pembentukan Istilah Bahasa Arab yang Digunakan dalam Bank Syariah Ditinjau dari Segi Morfologi Pada Proses Afiksasi
a. Prefiks
Adapun beberapa istilah bahasa Arab yang digunakan bank syariah pada
bagian prefiks antara lain sebagai berikut :
-
/muflis/ ‘bangkrut’
-
/
musqā/ ‘yang diberi minum’ -/muwakkil/ ‘pemberi kuasa’
-
/muslam/ ‘pembeli’
-
/
mustaşni’/ “pemesan”Pada contoh yang pertama kata /muflis/ bentuk dasarnya adalah
dengan pola /af’ala/ yaitu kata /aflasa/ yang merupakan fi’il şulāşī
mujarrad dengan kata /falasa/. Kemudian hamzah yang berada pada awal
kata tersebut diganti dengan konsonan /mim/ yang berharkat dammah dan
konsonan ketiga (huruf sebelum akhir) diberi harkat kasrah sehingga membentuk
kata
/muflis/ berupa nomina pelaku (
/
isim fā’il/). Dengan demikian konsonan /mim/ merupakan prefiks pada kata/muflis/ tersebut.
Pada contoh kedua kata
/
musqā/ bentuk dasarnya adalah/
asqā/ dengan pola /af’ala/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata /saqiya/. Huruf hamzah diawal kata tersebut diganti dengan konsonan /mim/(prefiks) yang berharkat dammah dan konsonan ketiga (huruf sebelum akhir)
pola /muf’al/ berupa nomina yang menyatakan sesuau yang dikenai
pekerjaan (
/
isim maf’ūl/).Pada contoh ketiga kata /muwakkil/ bentuk dasarnya adalah kata
/wakkala/ dengan pola /fa’’ala/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata /wakala/. Prefiks /mim/ yang berharkat dammah dan
konsonan ketiga (huruf sebelum akhir) diberi harkat kasrah sehingga membentuk
kata /muwakkil/ dengan mengikuti pola /mufa’’il/ yang merupakan
nomina pelaku ( )
Pada contoh keempat kata /muslam/ bentuk dasarnya adalah
/aslama/ dengan pola /af’ala/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata . /salima/. Kemudian hamzah yang berada pada awal kata
/aslama/diganti dengan konsonan
/mim/ yang berharkat dammah dan konsonan
ketiga (huruf sebelum akhir) diberi harkat fathah sehinnga membentuk kata
/muslam/ berupa nomina yang menyatakan sesuatu yang dikenai pekerjaan (
/isim maf’ūl/). Huruf /mim/ yang terdapat pada kata /muslam/ tersebut merupakan prefiks.
Pada contoh kelima kata /mustaşni’/ bentuk dasarnya adalah /istaşna’a/ dengan pola /istaf’ala/ yang merupakan fi’il şulāşī
mujarrad dengan kata /şana’a/ . Hamzah yang berada pada awal kata /istaşna’a/ diganti dengan konsonan /mim/ yang berharkat dammah, dan konsonan kelima (huruf sebelum akhir) diberi harkat kasrah sehinnga
membentuk kata
/
mustaşni’/ berupa nomina pelaku (/
isim fā’il/). Huruf,
dan
/mim, sin dan ta/ yang terdapat pada kata/mustaşni’/ tersebut merupakan prefiks.
b. Infiks
Adapun beberapa istilah bahasa Arab yang digunakan bank syariah pada
bagian infiks antara lain sebagai berikut :
-
/
kafīlun/ ‘yang menjamin’ -/
simsārun/ ‘makelar’ -/di
mān/ “jaminan hutang”- /ju’ālah/ “memberi imbalan atau bayaran kepada seseorang sesuai dengan jasa yang diberikan”
Pada contoh yang pertama kata /rāhinun/ bentuk dasarnya adalah /rāhana/ dengan pola /fā’ala/ yang merupakan fi’il şulāşī mujarrad dengan kata
/rahana/. Kata
/rahana/ diberi infiks /alif/,dan konsonanketiga (huruf sebelum akhir) diberi harkat kasrah sehingga menjadi
/rāhinun/dengan mengikuti pola /fā’ilun/. Kemudian infiks ini membentuk nomina pelaku
/
isim fā’il/.