KOMUNITAS STAPHYLINIDAE (COLEOPTERA) DI
KEBUN UBI JALAR
DIMAS ADJIE PRASETYO
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Komunitas Staphylinidae (Coleoptera) di Kebun Ubi Jalar adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
DIMAS ADJIE PRASETYO. Komunitas Staphylinidae (Coleoptera) di Kebun Ubi Jalar. Dibimbing oleh TRI ATMOWIDI dan TARUNI SRI PRAWASTI.
Staphylinidae merupakan kumbang yang termasuk dalam ordo Coleoptera. Famili ini memiliki ciri-ciri, yaitu bentuk tubuh langsing memanjang, abdomen yang besar dan meruncing dibagian ujung, dan elitra sangat pendek. Sebagian besar staphylinid berperan sebagai predator, saprofag, polifag, dan bioindikator kesuburan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari komunitas staphylinid di kebun ubi jalar di Bogor. Pengamatan dan koleksi kumbang dilakukan dengan metode road sampling. Sampel kumbang yang dikoleksi dimasukkan kedalam botol sampel yang telah diberi alkohol 70% untuk keperluan identifikasi. Faktor lingkungan, meliputi suhu udara, kelembapan udara, dan intensitas cahaya diukur bersamaan dengan koleksi kumbang. Komunitas staphylinid yang ditemukan di kebun ubi jalar terdiri dari tiga spesies, yaitu Paederus fuscipes (subfamili Paederinae), Medon sp. (subfamili Paederinae), dan Stenus sp. (subfamili Steninae). Spesies staphylinid yang dominan di kebun ubi jalar ialah P. fuscipes.
Kata kunci: Komunitas, Coleoptera, Staphylinidae, ubi jalar.
ABSTRACT
DIMAS ADJIE PRASETYO. The community of Staphylinidae (Coleoptera) in sweet potato fields. Supervised by TRI ATMOWIDI and TARUNI SRI PRAWASTI.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains
pada
Departemen Biologi
KOMUNITAS STAPHYLINIDAE (COLEOPTERA) DI
KEBUN UBI JALAR
DIMAS ADJIE PRASETYO
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Komunitas Staphylinidae (Coleoptera) di Kebun Ubi Jalar Nama : Dimas Adjie Prasetyo
NIM : G34090076
Disetujui oleh
Dr Tri Atmowidi, MSi
Pembimbing I Dra Taruni Sri Prawasti, MSi Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Ir Iman Rusmana, MSi Ketua Departemen
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan
kumbang, dengan judul Komunitas Jalar.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Taruni Sri Prawasti, MSi selaku
Dr Ir Muhadiono MSc selaku dosen penguji yang telah memberi saran atas penulisan karya ilmiah. Di samping itu,
sampaikan kepada ayah (
tercinta, atas segala doa, dukungan, selama ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih Anggraitoningsih, Bapak Sarino,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, Bogor mengidentifikasi spesimen.
kepada Ibu Tini dan Mbak Ani sebagai laboran Biosistematika dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi yang telah ban
penelitian di laboratorium. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Naryo staf Departemen Biologi
lapangan.
Terima kasih penulis ucapkan kepada rekan seperjuangan dalam penelitian;
Elfy sekeluarga, Anis, Arul (alm.), Bunga, Dika, Dilla, Helen dan Nurjaman) doa dan dukungannya, serta
46 atas kebersamaannya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat
saran penulis harapkan untuk hasil yang lebih baik
PRAKATA
syukur penulis panjatkan kepada Allah swt atas nikmat, rahmat, dan penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Desember 201
Komunitas Staphylinidae (Coleoptera) di Kebun Ubi ih penulis ucapkan kepada Dr Tri Atmowidi, MSi
selaku pembimbing atas bimbingan yang diberikan, serta selaku dosen penguji yang telah memberi saran atas
Di samping itu, ucapan terima kasih juga
(Suprapto), ibu (Sri Suwarni), serta seluruh keluarga , dukungan, dan kasih sayangnya yang selalu diberikan Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof Dr Woro Anggraitoningsih, Bapak Sarino, dan mas Anto staf Laboratorium Entomologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, Bogor atas bantuan mengidentifikasi spesimen. Ungkapan terima kasih juga penulis
Ibu Tini dan Mbak Ani sebagai laboran Biosistematika dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi yang telah banyak membantu dalam proses penelitian di laboratorium. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada
Naryo staf Departemen Biologi yang telah membantu selama penelitian ma kasih penulis ucapkan kepada Annisa Sendikia Asri Lubis
dalam penelitian; Hana Putri Pratiwi, keluarga FORUM (Ibu uarga, Anis, Arul (alm.), Bunga, Dika, Dilla, Helen dan Nurjaman)
serta rekan-rekan mahasiswa Departemen Biologi
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk kegiatan selanjutnya, kritik dan saran penulis harapkan untuk hasil yang lebih baik. Amin
Bogor, September penelitian di laboratorium. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Bapak nelitian di Annisa Sendikia Asri Lubis sebagai keluarga FORUM (Ibu uarga, Anis, Arul (alm.), Bunga, Dika, Dilla, Helen dan Nurjaman) atas Biologi angkatan untuk kegiatan selanjutnya, kritik dan
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ... ix
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 2
METODE ... 2
Waktu dan Tempat ... 2
Prosedur Penelitian ... 2
HASIL ... 2
Kondisi Lingkungan di Lokasi Pengamatan ... 2
Komunitas Staphylinidae di Kebun Ubi Jalar ... 3
PEMBAHASAN ... 4
SIMPULAN DAN SARAN ... 6
Simpulan ... 6
Saran ... 6
DAFTAR PUSTAKA ... 7
LAMPIRAN 9
RIWAYAT HIDUP ... 11
DAFTAR TABEL
1 Data kondisi lingkungan di kebun ubi jalar ... 3PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia memiliki sekitar 15% serangga yang ada di dunia (Mc Neely et al. 1990), salah satunya adalah ordo Coleoptera. Coleoptera dicirikan dengan adanya elitra (sayap depan yang mengeras), sedangkan sayap belakang berupa membran yang tipis yang digunakan untuk terbang (Borror et al. 1996), bagian-bagian mulut dan mata majemuk berkembang baik, sedangkan mata tunggal biasanya tidak ada (Gullan dan Cranston 2010). Salah satu famili terbesar dari ordo Coleoptera adalah Staphylinidae.
Staphylinidae merupakan salah satu famili serangga terbesar dan lebih dari 32.000 spesies telah dideskripsikan. Famili Staphylinidae memiliki tubuh memanjang, abdomen besar dan meruncing dibagian ujung, dan elitra yang sangat pendek (Borror et al. 1996). Fase dewasa dan larva staphylinid dapat ditemukan di kotoran hewan dan bangkai, di dekat pinggiran sungai, bawah batu, serasah daun, sisa-sisa sayuran, dan di daun dan batang pohon (Bousquet 1990). Sebagian besar famili staphylinid berperan sebagai predator yang memangsa serangga yang berukuran lebih kecil dari tubuhnya, seperti kutu, nematoda, dan larva serangga. Staphylinid juga dapat bersifat sebagai saprofag (Bohac 1999) atau polifag (Kalshoven 1981). Bohac (1999) melaporkan beberapa spesies dari staphylinid dapat berperan baik sebagai bioindikator kesuburan tanah.
Beberapa penelitian tentang keanekaragaman staphylinid telah dilaporkan. Di Taman Nasional Gunung Mulu, Sarawak Borneo, Hanski dan Hammond (1986) melaporkan sembilan subfamili dari Staphylinidae, yaitu Aleocharinae, Euasthetinae, Megalopiniae, Omaliinae, Oxytelinae, Paederinae, Staphylininae, Steninae, dan Tachyporinae. Di daerah sekitar barat laut Iran, Ghahari et al. (2009) melaporkan 10 subfamili dari Staphylinidae, yaitu Aleocharinae, Omaliinae, Oxytelinae, Paederinae, Proteininae, Pselaphinae, Scaphidiinae, Staphylininae, Steninae, dan Tachyporinae dalam 33 genus, dan 45 spesies. Di Colombia, Guiterrez-Chacon et al. (2009) melaporkan tujuh subfamili dari Staphylinidae, yaitu Aleocharinae, Osoriinae, Oxytelinae, Paederinae, Staphylinidae, Steninae, dan Tachyporinae dalam 17 genus. Di Iran, Samin et al. (2011) melaporkan empat subfamili dari Staphylinidae, yaitu Oxyporinae, Paederinae, Staphylininae dan Steninae dalam 27 genus, dan 56 spesies. Di Yunani, Assing (2013) melaporkan 11 subfamili dari Staphylinidae, yaitu Aleocharinae, Habrocerinae, Omaliinae, Oxytelinae, Paederinae, Proteininae, Pselaphinae, Scydmaeninae, Staphylininae, Steninae, dan Tachyporinae.
2
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mempelajari komunitas staphylinid di kebun ubi jalar di Bogor.
METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Desember 2012 sampai dengan Juni 2013 di kebun ubi jalar di Bogor, meliputi desa Leuwikopo, Situgede, dan Cikarawang. Identifikasi spesimen kumbang dilakukan di Laboratorium Biosistematika Hewan, Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Institut Pertanian Bogor dan di Laboratorium Entomologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong, Bogor.
Prosedur Penelitian
Koleksi Staphylinidae. Pengambilan sampel staphylinid dilakukan di kebun ubi jalar di sekitar Bogor, meliputi desa Leuwikopo, Situgede, dan Cikarawang menggunakan metode road sampling. Staphylinid ditangkap langsung dengan menggunakan tangan, selanjutnya diawetkan dengan alkohol 70%. Koleksi Staphylinidae dilakukan tanggal 16 Desember 2012 sampai dengan 30 Mei 2013.
Pengukuran Kondisi Lingkungan. Pengukuran kondisi lingkungan meliputi suhu udara, kelembapan udara, dan intensitas cahaya dilakukan bersamaan dengan koleksi kumbang di lokasi pengamatan. Suhu udara, dan kelembapan udara diukur menggunakan termohigrometer, sedangkan intensitas cahaya diukur menggunakan luxmeter.
Identifikasi spesimen. Identifikasi staphylinid berdasarkan kunci determinasi Borror et al. (1996) sampai tingkat famili dan Cameron (1930; 1931) sampai tingkat spesies.
Analisis data. Spesimen yang telah dikoleksi ditampilkan dalam tabel dan dideskripsikan.
HASIL
Kondisi Lingkungan di Lokasi Pengamatan
3 Tabel 1 Data kondisi lingkungan di kebun ubi jalar
Faktor lingkungan Leuwikopo Situgede Cikarawang
Suhu udara (°C) (27-31) 29,13 (27-30) 27,90 (24-31) 26,74
Kelembapan udara (%) (41-67) 56,33 (56-81) 61,79 (47,5-75) 62,56
Intensitas cahaya (lux) (5.890-15.130) 9.151 (4.130-9.930) 6.835,71 (1.000-10.940) 3.293,33
Nilai di dalam tabel merupakan nilai rata-rata setiap faktor lingkungan dan angka di dalam kurung merupakan nilai kisaran terukur
Komunitas Staphylinidae di Kebun Ubi Jalar
Komunitas staphylinid yang ditemukan selama penelitian di kebun ubi jalar termasuk kedalam dua subfamili dan tiga spesies, yaitu P. fuscipes, Medon sp. (subfamili Paederinae), dan Stenus sp. (subfamili Steninae) (Gambar 1). Jumlah individu staphylinid yang ditemukan di kebun ubi jalar ialah 145 individu. Spesies staphylinid yang dominan di kebun ubi jalar adalah P. fuscipes (138 individu) (Tabel 2). Berdasarkan hasil pengamatan, di kebun ubi jalar Leuwikopo ditemukan satu spesies, yaitu P. fuscipes. Di Situgede ditemukan dua spesies staphylinid, yaitu P. fuscipes dan Stenus sp., dan di Cikarawang ditemukan tiga spesies staphylinid, yaitu P. fuscipes, Medon sp., dan Stenus sp..
Tabel 2 Jumlah individu Staphylinidae di kebun ubi jalar
Subfamili
Spesies LeuwikopoJumlah individuSitugede Cikarawang Total Persentase (%) Paederinae
Paederus fuscipes 40 57 41 138 95,17
Medon sp. - - 3 3 2,07
Steninae
Stenus sp. - 3 1 4 2,76
Jumlah individu (N) 40 60 45 145
Jumlah spesies (S) 1 2 3 3
4
Gambar 1 Kumbang staphylinid yang ditemukan di kebun ubi jalar: P. fuscipes (a),
Medon sp. (b), dan Stenus sp. (c).
PEMBAHASAN
Spesies staphylinid yang ditemukan pada penelitian ini ialah P. fuscipes, Medon sp, dan Stenus sp.. Berdasarkan pengamatan, ciri-ciri morfologi dari 138 individu kumbang yang ditemukan di kebun ubi jalar adalah kepala menyempit kebelakang, antena filiform dengan 11 ruas; bentuk elitra tidak meluas ke metasternum, dan tarsi beruas lima. Hal ini menunjukkan kumbang tersebut termasuk kedalam subfamili Paederinae. Ciri-ciri kumbang subfamili Paederinae yang ditemukan memiliki ukuran sekitar 10 mm dengan tubuh berbentuk silindris, berwarna cokelat kemerahan, dan kepala hitam, toraks berwarna merah, pronotum oval, berwarna cokelat kemerahan, elitra berwarna biru mengkilap, tungkai memanjang berwarna merah bata, femur memanjang, tibia setose, tarsi dengan lima ruas, dan ujung abdomen meruncing, dan dua segmen terakhir abdomen berwarna hitam. Menurut Cameron (1931) dan Widya (2005) ciri-ciri tersebut merupakan ciri dari spesies P. fuscipes.
Spesies kumbang yang dominan ditemukan di kebun ubi jalar Leuwikopo, Situgede, dan Cikarawang adalah P. fuscipes (95,17%). Hal ini sesuai dengan laporan Taulu (2001) bahwa genus Paederus banyak terdapat di daerah
(a)
(b)
5 persawahan maupun perkebunan yang beriklim tropis. Winasa et al. (2007) melaporkan fenologi tanaman dan ketersediaan mangsa dapat mempengaruhi perkembangan dan kelimpahan P. fuscipes di pertanaman. Populasi kumbang Paederus meningkat pada akhir musim hujan, kemudian menurun setelah musim kering. Perubahan ekosistem dan musim merupakan faktor utama perkembangan kumbang Paederus. Kumbang P. fuscipes menyukai tempat yang memiliki kelembapan cukup tinggi, terutama pada tanah yang banyak mengandung bahan organik (serasah tanaman). Hal ini berkaitan dengan tempat perkembangbiakan dan fase dewasa yang berada di tanah (Clausen 1940).
Kalshoven (1981) melaporkan P. fuscipes berperan sebagai predator yang bersifat polifag. Kumbang P. fuscipes juga berperan sebagai pengendali hayati yang dapat menekan populasi hama wereng di persawahan maupun perkebunan (Widya 2005). Selain memangsa hama wereng cokelat, P. fuscipes juga memangsa larva Spodoptera litura (Aprilizah 2006), telur dan larva Helicoverpa armigera (Winasa et al. 2007), dan Bemisia tabaci (Sudarjat et al. 2009). Siklus hidup Paederus berkisar 38-75 hari. Fase telur berkisar antara 4-7 hari, larva instar I berkisar 4-5 hari, larva instar II berkisar 6-9 hari, prapupa berkisar 2-3 hari, pupa berkisar 3-5 hari, dan fase imago selama 19-46 hari (Sudarjat 2009).
Kumbang ini dapat mengeluarkan toksin (racun) sebagai alat untuk pertahanan diri. Pada saat terganggu kumbang ini mengangkat bagian belakang abdomennya ke atas apabila merasa terganggu (Clausen 1940). Toksin yang dihasilkan disebut paederin yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit (Mammino et al. 2007). Paederin merupakan senyawa toksin yang dihasilkan oleh bakteri simbion Pseudomonas yang berada di saluran hemolimfe serangga tersebut. Kumbang Paederus ini memiliki hampir 600 spesies yang tersebar di seluruh dunia (Mammino et al. 2007). Menurut Cameron (1931), P. fuscipes memiliki daerah penyebaran yang sangat luas, seperti Sri Langka, Birma, Malaysia, Filipina, India, sebagian besar benua Amerika dan Indonesia terutama pulau Jawa dan Sumatera.
Tiga individu kumbang yang ditemukan di kebun ubi jalar Cikarawang dengan ciri-ciri kepala menyempit kebelakang, antena filiform dengan 11 ruas; bentuk elitra tidak meluas ke metasternum, dan tarsi beruas lima. Menurut Cameron (1931) ciri-ciri tersebut merupakan ciri dari subfamili Paederinae. Ciri-ciri dari kumbang yang ditemukan ialah kepala kehitaman, mata kecil atau sedang, toraks berbentuk trapesium berwarna hitam, elitra berwarna coklat kemerahan, abdomen coklat tua kehitaman, dan tarsi beruas lima. Menurut Cameron (1931) ciri-ciri tersebut merupakan ciri dari kumbang Medon sp.
6
bahwa di kebun ubi jalar Cikarawang memilki iklim yang lebih lembap dan tanah yang subur sehingga kumbang Medon sp. dapat ditemukan. Persebaran genus Medon di dunia meliputi, Mesir (Abdel-Dayem 2007), Afghanistan (Feldman 2007), pulau Samos (Assing 2009), Korea, China, Jepang (Kim et al. 2011).
Tiga individu kumbang yang ditemukan di kebun ubi Situgede dan satu individu yang ditemukan di kebun ubi Cikarawang dengan ciri-ciri kepala menyempit kebelakang, leher tebal, mata besar dan menonjol, antena dengan 11 ruas, tibia tanpa duri atau rambut eksternal, tarsi beruas lima, dan ruas keempat bidentate. Menurut Cameron (1930) ciri-ciri tersebut merupakan ciri dari subfamili Steninae. Berdasar ciri-ciri bahwa mata yang besar, antena dengan 11 ruas; warna tubuh hitam bersinar, tarsi beruas lima, menurut Cameron (1930) ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari kumbang Stenus sp..
Menurut Betz (1998) kumbang Stenus sp. sering ditemukan di tanah dan sekitar perairan daripada di vegetasi tanaman. Tiga individu kumbang Stenus sp. di kebun ubi jalar Situgede dan satu individu di kebun ubi jalar Cikarawang yang ditemukan memiliki persentase sebesar 2,76%. Pada penelitian ini, kumbang Stenus sp. memiliki kelimpahan yang rendah di kebun ubi jalar. Kelimpahan yang rendah ini kemungkinan karena habitat kumbang Stenus sp. di daratan yang dekat perairan. Kumbang Stenus ditemukan sebagai predator di sekitar perairan khususnya pada tanaman akuatik (Betz 2002). Berdasarkan hasil pengamatan kondisi lingkungan di kebun ubi jalar Situgede dan Cikarawang memiliki kisaran suhu udara, kelembapan udara, dan intensitas cahaya yang rendah. Lahan ubi jalar tersebut dekat dengan sumber air sehingga memungkinkan ditemukannya kumbang Stenus sp.. Kumbang ini terdistribusi secara luas di Eropa tengah, Jerman, Amerika, Rusia, Eropa (Betz 1998), Indonesia, Burma, Vietnam, dan China (Cai dan Hong 2008).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Komunitas Staphylinidae yang ditemukan di kebun ubi jalar di Bogor yaitu P. fuscipes (subfamili Paederinae), Medon sp. (subfamili Paederinae), dan Stenus sp. (subfamili Steninae). Spesies staphylinid dominan yang ditemukan di kebun ubi ialah P. fuscipes. Kumbang Medon sp. dan Stenus sp. ditemukan dalam jumlah sedikit.
Saran
7
DAFTAR PUSTAKA
Abdel-Dayem MS, Orabi GM, Semida FM. 2007. Assesing the potensial role of beetles as bioindicators in South Sinai, Egypt. Proc 2 Inter Conf Ent Soc Egypt. 1:147-168.
Aprilizah T. 2006. Pengaruh kerapatan predator terhadap pemangsaan larva Spodoptera litura F. (Lepidoptera: Noctuidae) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Assing V. 2009. Two new species of Paederinae from the Greek Island Samos (Coleoptera: Staphylinidae). Linzer boil Beitr. 41:437-443.
Assing V. 2013. On the Staphylinidae (Coleoptera) of Crete, Greece. Stuttgarter Beitr zur Naturkunde A. 6:83-102.
Betz O. 1998. Life forms and hunting behaviour of some Central European Stenus species (Coleoptera, Staphylinidae). Applied Soil Ecol. 9:69-74. Betz O. 2002. Performance and adaptive value of tarsal morphology in rove
beetles of the genus Stenus (Coleoptera, Staphylinidae). J Experiment Biol. 205:1097-1113.
Bohac J. 1999. Staphylinids beetles as bioindicators. Agricult Ecosys and Envir. 74:357-372.
Bosquet Y. 1990. Beetles Associated with Stored Products in Canada: an Identification Guide. Canada (US): Canadian Government.
Borror DJ, Triplehorn CA, Johnson NF. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga Ed. ke-6. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada Univ Pr.
Cai YZ, Hong ZZ. 2008. Taxonomy on the Cicideloides group of the Stenus Latreille (Coleoptera: Staphylinidae: Steninae). Ann Soc Entomol Fr. 44:87-91.
Cameron M. 1930. The Fauna of British India. Di dalam: Ceylon dan Burma, editor. Coleoptera. Staphylinidae - Vol. I. London (GB): Taylor and Francis Red Lion Court, Fleet Street.
Cameron M. 1931. The Fauna of British India. Di dalam: Ceylon dan Burma, editor. Coleoptera. Staphylinidae - Vol. II. London (GB): Taylor and Francis Red Lion Court, Fleet Street.
Clausen CP. 1940. Entomophagous Insect. London (GB): McGraw-Hill.
Feldman B. 2007. A new Medon species from Afghanistan (Coleoptera: Staphylinidae, Paederinae). Linzer biol Beitr. 39:853-856.
Ghahari H, Anlas S, Sakenin H, Ostovan H, Havaskary M. 2009. Biodiversity of rove beetles (Coleoptera: Staphylinoidea: Staphylinidea) from the Arasbaran biosphere reserve and vicinity, northwestern Iran. Linzer boil Beitr. 41:1949-1958.
8
Gullan PJ, Cranston PS. 2010. The Insect: an Outline of Entomology 4th Ed.
California (US): J Willey.
Hanski I, Hammond PM. 1986. Assemblages of carrion and dung Staphylinidae in tropical rain forests in Sarawak, Borneo. Ann Entomol Fennici. 52:1-19. Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van der,
penerjemah. Jakarta (ID): Ichtiar Baru-van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie.
Kim TK, Cho YB, Ahn KJ. 2011. Two littoral species of the Genus Medon (Coleoptera: Staphylinidae: Paederinae) new to Korea. Korean J Syst. Zool. 27:69-73.
Mammino JJ, DO, FAOCD. 2007. Paederus dermatitis: an outbreak on a medical mission boat in the Amazon. JAOCD. 8:57-60.
Mc Neely JA, Miller KR, Reid WV, Mittermeier RA, Werner TB. 1990. Conserving The World’s Biological Diversity. Switzerland (CH): IUCN, WRI, CI, WWF-US & The World Bank.
Samin N, Zhou H, Ezzatpanah S. 2011. A contribution to the Staphylinine group of rove beetles (Coleoptera: Staphylinoidea: Staphylinidea) from Iran. Calodema. 141:1-9.
Sudarjat, Utomo A, Dono D. 2009. Biologi dan kemampuan memangsa Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae) terhadap Bemisia tabaci Gennadius (Homoptera: Aleyrodidae). J Agrikult. 2:204-209.
Taulu LA. 2001. Kompleks artropoda predator penghuni tajuk kedelai dan peranannya dengan perhatian utama pada Paederus fuscipes Curt. (Coleoptera: Staphylinidae) [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Topan. 2002. Studi fenologi bunga untuk penentuan masa reseptif kepala putik dan waktu fisiologis benih ubi jalar (Ipomea batatas L.) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Widya WA. 2005. Kelimpahan kumbang jelajah Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae) pada empat ekosistem pertanaman di Kecamatan Ciranjang, Cianjur [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Winasa IW, Hindayana D, Santoso S. 2007. Pelepasa dan pemangsaan kumbang jelajah Paederus fuscipes (Coleoptera: Staphylinidae) terhadap telur dan larva Helicoverpa armigera (Lepidoptera: Noctuidae) pada pertanaman kedelai. JIPI. 12:147-153.
9 Lampiran 1 Istilah-istilah yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini
Abdomen : bagian posterior atau tagmata ketiga dari tubuh serangga.
Antena : sepasang embelan beruas pada kepala dan umumnya berfungsi sebagai reseptor.
Bidentate : embelan pada ruas tubuh yang bergigi atau bercabang dua.
Filiform : struktur antena seperti benang atau rambut.
Kepala : bagian anterior tubuh serangga yang mendukung mata, antenna, dan bagian-bagian mulut.
Mata majemuk : mata pada serangga yang tersusun dari banyak omatidium.
Metasternum : sternum metatoraks, sklerit pada ruas ketiga ventral atau posterior toraks.
Polifag : organisme pemakan berbagai jenis atau spesies tanaman.
Saprofag : organisme pemakan organism mati atau busuk.
Setose : rambut-rambut halus atau seta.
Tarsi : bentuk jamak dari tarsus, ruas kelima tungkai setelah tibia.
Tibia : ruas keempat tungkai, diantara femur dan tarsus.
Toraks : bagian tubuh pada seranga dibelakang kepala yang mendukung tungkai-tungkai dan sayap.
11
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 07 November 1991 dari pasangan Suprapto dan Sri Suwarni. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan TK Melati Jakarta Timur pada tahun 1996, SDN 05 Pagi Jakarta Timur pada tahun 2003, SLTPN 268 Jakarta Timur pada tahun 2006, dan SMA ANGKASA 2 Jakarta Timur pada tahun 2009. Setelah itu penulis melanjutkan pendidikan tinggi di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
Penulis memiliki pengalaman sebagai asisten praktikum pada mata kuliah Avertebrata pada tahun 2013. Penulis juga aktif dalam Organisasi UKM Seni Gentra Kaheman tahun 2010 dan badan Himpunan Profesional Mahasiswa Biologi sebagai Anggota Observasi Wahana Alam tahun 2010 dan 2011.
Selama menempuh studi di Departemen Biologi, penulis melakukan penelitian dalam studi lapang mengenai Keanekaragaman Tanaman Pekarangan di Desa-Desa Sekitar Gunung Walat pada tahun 2011 dan praktik lapang di Satker Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Ngrajek Magelang, Jawa Tengah mengenai Strategi Pembesaran dalam Budidaya Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.) dan Lele Phyton (Clarias sp.) pada tahun 2012.